Anda di halaman 1dari 15

TUGAS AKHIR SEMESTER

ESTETIKA TARI BADUI

MATA KULIAH
ESTETIKA SENI
DOSEN PEMBIMBING
Dr. I Nengah Mariayasa, M.Hum

Oleh:

Gesti Manggarrani Pratiwi (19070865001)


Rubiyantika Astutiningtyas (19070865014)

PASCASARJANA SENI BUDAYA


UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2019/2020

1
PENDAHULUAN
Seni Tari adalah salah satu bagian dari kesenian dan kesenian adalah bagian dari
kebudayaan. Seni tari mengungkapkan kreatifitas dan tidak terlepas dari masyarakat yang
mengapresiasinya, meskipun masyararakat memiliki perbedaan cara berfikir yang berbeda,
kehidupan di daerah yang berbeda, apresia oleh mereka lah yang akan membuat kesenia tetap
lestaridan terjaga. Karena sejatinya kreativitas seni muncul karena adanya perbedaan itu
sendiri. Adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah berkembang, mulailah
seni tradisional berkembang dengan baik. Mulai dari bentuknya, tata rias, tata busana, fungsi,
yang mana tidak mengurangi kebakuan yang sudah menjadi patokan. Salah satu tujuannya
agar seni tari tidak tergeser karena perubahan zaman. Seni tradisional yang dianggap tidak
sejalan dengan kemajuan globalisasi, membuat regenerasi tidak mampu mempertahankannya
dan akhirnya punah.
Cabang kesenian didalamnya ada beberapa bentuk seni pertunjukan, antara lain dari pola
garapnya terbagi jadi dua, pertama tari tradisional kerakyatan, kedua tari tradisional klasik.
Tari tradisonal kerakyatan yaitu sebuah tari yang sudah mengalami masa sejarah panjang.
Berbeda dengan Tari tradisonal klasik yang selalu bertumpu pada patokan tradisi klasik yang
sudah ada. Selain itu terdapat juga tari kreasi yang merupakan hasil dari pengembangan tari
tradisional kerakyatan dan tari tradisional klasik.
Seni tradisional kerakyatan adalah kesenian rakyat yang tumbuh dan berkembang
diseluruh pelosok daerah dan pedesaan. Hal itu berhubungan dan tergantung dari cara
berkehidupan serta kepercayaan masyarakat tentang animisme dan dinamisme. Salah satu
contoh yang saya ambil dalam penelitian ini adalah kesenian rakyat di Desa Dukuh,
Margoagung, Seyegang, Sleman Yogyakarta. Disana terdapat kesenian Jathilan, Kuntulan,
serta Tari Badui. Beberapa kesenia tersebut penulis hanya ingin mengkaji satu kesenian, yaitu
memilih Tari Badui, karena Tari Badui yang sampai saat ini masih dilestarikan dan
berkembang di desa tersebut. Demikian adalah alasan utama peniliti memilih tari badui untuk
dikaji bentuk estetikanya.
Tari Badui adalah termasuk jenis tari tradisional kerakyatan yang mengisahkan dua
kelompok prajurit yang sedang berperang dan diiringi syair-syair shalawat. Tari Badui
berawal dari suku Badui yang sedang berlatih perang di Negara Arab Saudi. Warga indonesia
yang sedang melakukan Ziarah di Negara Arab dan melihat proses latihat perang tersebut,
kemudian dibawa pulang ke Negara Indonesia tepatnya di Desa Dukuh Seyegalan
Margoagong Sleman Yogyakarta (Hasil wawancara dengan Ahmad 20 Desember 2015).
Setelah warga indonesia tersebut kembali ke tanah air, di desanya itu ia mengembangkan tari

2
Badui, bentuk tari Badui dibuat sama dengan asal dari Negara Arab, tepi ada bagian yang
dirubah dengan tujuan disesuaikan dengan kondisi dan keadaan masyarakat setempat. Bagian
yang dirubah adalah iringan Syair dan kata yang dilagukan saat diucapkan.
Tari Badui sudah hadir di Dukuh Margoagung Seyegan Sleman Yogyakarta sejak tahun
1958, yang dipelopori oleh Bapak Muhroji dan Khusen yang menjadi penerus setelah warga
indonesia yang mengadopsi dari Negara Arab. Tari Badui termasuk jenis tari kolosal,
ditarikan minimal 10 penari dan harus berjumlah genap. Iringan musiknya menggunakan tiga
Genjring, satu Peluit, dan satu Bedug. Fungsi peluit sebagai peberi aba-aba disetiap
perubahan gerak). Estetika keunika Tari Badui ini yang utama ada dibagian fungsi, artinya
sebagai sistem nilai serta media dakwah untuk membantu penyebaran agama islam pada masa
itu.
Kesenian Tari Badui berawal untuk menyebarkan nilai-nilai keagamaan dan syariat
keislaman. Unsur yang terdapat diagama islam bisa terlihat dari Syair yang diucapkan pada
iringan Tari Badui. Aspek agama lain pada kesenia Badui mengandung nilai kepahlawanan
yang terlihat dari gerak heroik atau kepahlawanan pada Tari Badui. Terdapat juga nilai
pendidikan pada gerak, tata busana, dan syair-syair. Pendidikan adalah faktor penting dan
bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat.
Kondisi di lapangan sekarang menjelaskan bahwa tari Badui dulunya sempat mengalami
kefakuman, hal itu terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat setempat tentang
pentingnya melestarikan tari yang sudah ada, alasan lain karena kurangnya apresiasi dan
dukungan dari pemerintah daerah. Padahal Tari Badui di Dukuh Margoagung Seyegan
Sleman Yogyakarta adalah hasil dari karya kreativitas masyarakat sendiri yang sudah
diwariskan secara turun temurun untuk generasi baru. Maka dari itu guna untuk tetap
menjaga kelestarian tari ini agar bisa tetap dikenal oleh masyarakat dan generasi muda
sekarang maka dari itu Muhroji dan Khusen mengadakan pengenalan tari Badui ini melalui
adanya latian bersama di balai desa Margoagung setiap satu minggu sekali.

Setelah penulis mengkaji estetika Tari Badui, bahwa Tari Badui memiliki system nilai
estetika yang positif bagi masyarakat,. Dengan demikian muncullah rumusan masalah yang
ingin dipecahkan, yaitu bagaimana unsur nilai estetika yang terkandung dalam Tari Badui,
dari rumusan masalah tersebut peneliti bertujuan ingin mendeskripsikan unsur nilai estetika
yang terkandung dalam tarian ini. Langkah untuk mengetahui nilai dalam estetika tari Badui
perlu mengetahui pengertian nilai estetika dalam tari Badui, antara lain:

3
1. Nilai
Nilai yaitu kegunaan dan kebaikan yang sudah ada pada setiap diri seseorang. Nilai
bersifat penting sebagai upaya mempernaiki kebajikan untuk manusia. Nilai sangat berkaitan
dengan kebaikan, ungkapan tersebut sesuai dengan pendapat (Mardiatmaja, 19:54) yang
menjelaskan bahwa perbedaan nilai dan kebaikan yaitu jika nilai lebih dekat pada sikap
seseorang tentang suatu hal yang lebih baik, sedangkan kebaikan yaitu lebih dekat pada hati.
Point utama Pendapat Mardiatmaja adalah berbicara tentang kebaikan, norma dan sikap,
ketiga hal itu adalah penjabaran dari sebuah nilai.
3. Kesenian
Kesenian berawal dari bahasa sansekerta yaitu disebut “sani” maknanya adalah
persembahan, pemberian, pelayanan, donasi, pemujaan, pencarian atau permintaan secara
jujur dan hormat. Jazuli (1981:9) menjelaskan bahwa tari adalah bentuk seni yang merupakan
salah satu sajian estetis manusia. Estetika atau keindahan tari tercipta untuk sebuah kepuasan,
harapan dan kebahagiaan dalam batin manusia, baik untuk pencipta atau penikmat. Oleh
karena itu tari akan menghasilkan daya tarik serta pesona untuk membahagiakan penonton
dan penciptanya.
Penelitian tentang Estetika Tari Badui ini menggunakan metode deskriptif kualitatif.
Tujuannya adalah mendeskripsikan analisis estetika pada tari badui. Alasan peneliti
menggunaan pendekatan kualitatif deskriptif adalah karena penelitian estetika ini berusaha
menerapkan teoriyang sesuai untuk menjelaskan secara lebih lengkap mengenai unsur dan
aspek yang ada di dalam estetika tari badui.
Data yang dikumpulakan berbentuk kalimat deskripsi yang menggambarkan kegiatan dan
kejadian secara sistematis juga akurat. Data hasil penelitian estetika tari badui ini diperoleh
dari proses observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan narasumber dan informan yang
terlibat didalam proses berkesian tari Badui. Setelah melakukan observasi dan wawancara,
peneliti mendeskripsikan serta memberi kesimpulan dari data yang sudah diperoleh.
Penelitian ini diharapkan dapat mendeskripsikan nilai estetika yang terkandung dalam tari
Badui.
Lokasi Penelitian estetika tari badui ini dilakukan di desa dukuh, Margoagung, Seyegan,
Sleman Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan beberapa usaha untuk menjalin kekerabatan
dengan para narasumber serta informan. Usaha yang dilkukan peneliti adalah pertama datang
ke lokasi penelitian, memperkenalkan diri pada informan, menyampaikan maksud dan tujuan
kedatangan, sekaligus meminta izin untuk melakukan penelitian dan apa saja yang akan
dilakukan saat dilokasi penelitian.

4
Objek Penelitian ingin mengkaji objek penelitian dan memfokuskan pada estetika
didalam taribadui. Cara mengkajinya dengan melakukan studi lapangan untuk menghasilkan
data. Setelah itu medeskripsikan estetika tari badui yang meliputi struktur, bentuk, gaya,
koreografi, sistem nilai, keutuhan, penonjolan, dan keseimbangan dalam kesenian tari badui.
Dalam melakukan proses penelitian penuis membutuhkan narasumber serta informan dalam
memperoleh data dengan akurat. Narasumbernya adalah dari masyarakat yang mengetahui
dan terlibat dalam tari badui. Berikut adalah narasumber dan informan yang ikut mendukung
penelitian estetika tari badui antara lain, masyarakat desa dukuh, dinas pariwisata dan
kebudayaan, kepala desa dukuh Bapak Ahmad basori, ketua paguyuban kesenian tari badui
Bapak Kusnul, salah satu penari Badui Ibu Suharti, dan Masyarakat desa dukuh.
Data hasil analisis diperoleh dari berbagai sumber, sumber langsung dari wawancara
secara mendalam dengan narasumber yang mengetahui taru badui, hasil rekaman, foto, dan
data berupa dokumen desa setempat. Metode pengumpulan data menggunakan beberapa cara,
pertama adalah observasi dan pengamatan. Meninjau lapangan dahulu dengan tujuan
mendapat data lokasiyang akurat. Penulis membuat catatan secara selektif terhadap latar
belakang dan proses latihan kesenian tari badui.
Wawancara penelitian ini dilakukan untuk mencari tau sajian dan unsur apa saja yang
diperlukan tari badui. Wawancara dilakukan kepada penari, seniman, pemusik, tokoh desa,
dan masyarakat yang terlibat dengan tari badui. Dokumentasi didapatkan berupa pengambilan
gambar dan video menggunakan camera digital. Dalam mendekripsikan hasil dari
pengamatan, akan dilakukan pengecekan informasi kepada pihak-pihak yang mengetahi
secara keseluruhan mengenai tari badui, sehingga data yang diperoleh dari pengamatan dapat
dipertanggung jawabkan.
Sekilas tentang penduduk desa yang terlibat dalam tari badui dari hasil pengamatan,
Terakhir pada tahun 2013 jumlah penduduk di desa dukuh, kecamatan margoagung,
kabupaten sleman, yogyakarta berjumlah total 550 jiwa yang terdiri dari 310 penduduk
wanita, dan 240 penduduk laki-laki. Di dalamnya terdiri dari 6 RT, dan 3 RW. Setiap RT
maupun RW jumlah penduduknya tidak sama.Tabel presentase kependudukan:

NO KETERANGAN PROSENTASE

1 Tahun 2013 550 JIWA

2 Laki-laki 240 JIWA

5
3 Wanita 310 JIWA

4 RT 6 RT

5 RW 3 RW

6 KK 266 KK

( Sumber : Kepala desa dukuh margoagung, 2015)


Dari data tabel di atas, menyebutkan bahwa adanya kesenian badui di desa Dukuh,
Margoagung, Sleman, Yogyakarta berfungsi sebagai perekat tali persaudaraan antar warga
RT satu dengan RT lainya. Tari badui pun juga dapat beranggotakan anak-anak hingga orang
tua. Para penarinya adalah dari anak-anak, remaja dan orang tua. Para pemain musi dari
kalangan orang tua. Dalam kebiasanyaanya kelompok tari badui melakukan latihan rutin 2
minggu 1 kali jika tidak terkendala dalam cuaca atau keadaan lain.
Pada saat akan ada acara atau undangan dari seseorang untuk mempertunjukan tari
badui, kesenian tari badui akan melakukan latian setiap hari rutin. Untuk melestarikan tari
badui agar tidak punah, masyarakat desa dukuh berupaya untuk melatih anak-anak sebagai
generasi penerus tari badui.
Tingkat pendidikan di masyarakat di desa dukuh, margoagung, sampai saat ini tingkat
pendidikan masih sangat terbatas. Hanya terdapat 1 taman kanak-kanak, dan 1 sekolah dasar.
Tidak ada sekolah menengah pertama atau sekolah menengah atas di desa setempat. Dengan
terbatasnya tingkat pendidikan di desa dukuh ini, maka warga yang ingin melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi harus keluar dari desah dukuh. Berikut ini tabel
prosentasi tingkat pendidikan di desa dukuh, Margoagung.
NO PENDIDIKAN PROSENTASE

1 SD Paling banyak

2 SMP Sedang

3 SMA/SMK/MA Sedikit

4 Perguruan Tinggi Hanya sedikit

( Sumber : Kepala Desa Dukuh, Margoagung, sleman)


Dari hasil prosentase tabel di atas, jumlah penduduk yang memiliki pendidikan
minim, setelah lulus sekolah dasar para warga langsung bekerja. Minimnya pendidikan
pendidikan akan mempengaruhi pola pikir, daya cipta, dan kreativitas dalam membuat karya
akan pengetahuan yang terbatas. Tari badui sejauh ini di desa dukuh tidak mnegalami

6
perubahan dari awal proses transformasi.
Mata Pencaharian Masyarakat desa dukuh Marogoagung, berwilayahkan sawah, tegal,
dan perumahan penduduk. Pada saat akan memasuki wilayah desah dukuh terdapt banyak
hamparan sawah di setiap pinggair kanan dan kiri jalan sebelum memasuki pemukiman
penduduk. Data Tabel tentang mata pencaharian dapat dilihat pada tabel berikut.
NO MATA PENCAHARIAN JUMLAH
1 Petani 97
2 Buruh tani 57
3 Buruh 59
4 Karyawan swasta 74

5 POLRI 6

6 PNS 16

7 Pensiunan veteran 13

8 Wiraswasta 59

9 Pedagang 9

10 Sopir 5

11 Tukang kayu 19

( Sumber : Kepala Desa Dukuh, Margoagung, 2015)


Berdasar tabel diatas dapat dilihat, bahwa sebagian besar warga masyarakt memilki
pekerjaan sebagai petani, dan karyawan swasta. Banyaknya warga yang menjadi petani
dipengaruhi oleh luasnya lahan pertanian. Sebagian warga juga memiliki pekerjaan industri
rumah tangga yaitu anyaman besek.
Agama yang dianut dari hasil pengamatan, sebagian besar penduduk beragama islam.
Sementara agama lain yang ada sejauh ini terdapat agama kristen, dan tidak ada ada agama
ian lagi.Jumlah penduduk menurut agama :
NO AGAMA JUMLAH

1 Islam 542

2 Kristen 8

( sumber : kepala desa dukuh margoagung, 2015)


Hampir seluruh warga desa dukuh adalah memeluk agama islma. Hal tersebut
disebabkan oleh awal mula fungsi dari tari badui adalah sebagai penyebaran dan dakwah
agama islam. Dimana syair lagu badui yang bernafaskan islam serta terdapat doa-doa

7
menurut agama islam. Namun walaupun warga ada yang tidak beragama islma, hal itu tidak
menghalangi untuk warga saling rukun dan turut saling membantu dalam penampilan tari
badui.

PEMBAHASAN
ANALISIS ESTETIKA TARI BADUI
Sumandyo Hadi menjelaskan bahwa ‘’gaya’’ atau style dalam pemahaman ini lebih
mengarah ke bentuk, ciri, khas, atau corak yang terdapat pada gaya gerakan dalam komposisi
tari atau bentuk koreografi, terutama menyangkut pembawaan pribadi atau individual,
kelompok maupun ciri dari kesepesifikan dari sosial budaya tertentuk yang melatar belakangi
kehadiran koreagrafi sebagai bentuk. Gaya adalah pembawaan, maka dalam pengertian
berikut akan dibahas menjadi dua yaitu gaya yang mencakup faktor internal atau bisa juga
disebut dengan hubungan yang terkait ke gerak ( Teknik) dan factor eksternal atau juga bisa
disebut dengan elemen bentuk merupakan wujud luar yang merupakan hasil pengaturan dan
pelaksaan elemen-elemen motorik yang teramati dengan kata lain bentuk luar yang
berkepentingan dengan bagaimana kita mengolah bahan dasar dan menentukan hubungan
saling mempengaruhi antara elemen yang digunakan. Dalam hal ini Soedarsono menjelaskan
bahwa elemen-elemen dasar tari meliputi; (1) gerak sebagai bahan baku (2) desain lantai (3)
musik (4) busana. Dari paparan diatas maka dapat dijelaskan pada penjelasan dibawah ini;
Bentuk gerak menganalisis proses mewujudkan atau mengembangkan suatu bentuk dengan
berbagai pertimbangan prinsip-prinsip bentuk menjadi sebuah wujud gerak.

Faktor Internal
a. Bentuk
Bentuk siswa saat menarikan Tari Badui memiliki bentuk posisi kaki umumnya yaitu
terbuka, sedangkan posisi lengan rendah dan tinggi. Properti yang digunakan digunakan
siswa dalam menari tari badui ini menggunakan pedang atau berupa tongkat yang terbuat dari
kayu menyerupai pedang dengan panjang ± 50cm. Durasi waktu untuk menarikan Tari Badui
ini biasanya dilakukan ± 10 menit. Tari Badui merupakan sebuah tarian kelompok atau
berpasangan yang biasanya ditarikan oleh 2 orang atau juga bisa lebih asalkan jumlah penari
harus genap. Namun seiring perkembanganya tarian ini sekarang dapat ditarikan lebih banyak
lagi namun jumlahnya harus genap namun di sekolah SMA Negeri 1 Babat proses
pembelajran tari badui dilaksanakan dengan jumlah siswa 36 yang berasal dari kelas X IPA.

b. Struktur

8
Bagian awal Tari Badui merupakan bagian pembuka pada tarian yang diawali dengan
munculnyapara siswa yang menarikan Tari Badui ini masuk ke dalam panggung masuk
menuju ke dalam arena panggung dengan posisi menari membuat dua garis ke
belakang(berpasang-pasangan). Siswa melakukan gerak tari berjalan maju menuju tempat
pentas dengan tangan kanan sudah memegang pedang dan tangan kiri mengayun, dan diiringi
dengan musik shalawatan. Musik penggiring berpatokan dengan mendengarkan aba-aba yang
terdapat pada peluit. Peluit berbunyi kemudian disambung dengan bunyi bedug yang dipukul
sebanyak 3 kali, terbangan mengikuti, dan diikuti dengan suara lantunan suarasyair, adapun
syair pembuka sebagai berikut;
Kasih tabek
Kasih tabek
Dengan hormat yang punya rumah
Sekalian anak badui islam
Pemuda pemudi prapak
Jangan sampai orang lihat bikin marah kepada kami
Asli muda mudi prapak
Bagian tengah/ inti Tari Badui
Bagian inti kesenian ini adalah siswamulai melakukan menari dengan beberapa
ragam gerak tari dan diiringi beberapa syair sebagai berikut;
Lekas main di rumah sini
Sungguh kami senang di tempat ini
Lekas main d irumah sini
Sungguh kami senang di dalam hati
Pukul lapan kami mulai
Pukul lapan kami mulai
Setengah satu baru berhenti
Setengah satu baru berhenti
Habis permainan di tempat ini

Tangau bina bina nas tole


Wababu ridho ridlo kafote
Watau fua fua daladi
Watau fua fua daladi
Bisofil ala ala gajuri

9
Ya muhaimul yasalam
Wanubalil muslimin
Ya nabi khairil anam
Wa biulil mukminin

Wahai teman-teman ku sekalian


Wahai teman teman ku sekalian
Mari mengabdi kepada tuhan
Yang menciptakan semua alam
Yang menciptakan semua alam
Mudah-mudahan tuhan melindungi
Mudah-mudahan tuhan melindungi
Dari segala godaan shaiton
Yang meresap dalam hati sanubari
Yang meresap dalam hati sanubari

Quroisol bala kifa


Quroisol bala kifa
Quroba dinamu siapa lihatan
Jawo-jawo natan
Jawo-jawo natan
Qufi janati fisuyu firijal
Fisuyu fiha badan suyufiha
Wahua –hua- hua- hua- hua

Bagian penutup Tari Badui


Bagian penutup Tari Badui ini memiliki syair lagunya tidak pakem. Siswa melakukan
menari dengan mengikuti syair yang dilantunkan oleh pengisi syair pada Tari Badui ini. Pada
bagian penutup gerak tarinya dapat dikreasikan sesuai kesepakatan kelompok penari Tari
Badui sendiri.

Faktor Eksternal

10
Desain Lantai
Gerakan yang paling sering diulang adalah gerak vertikal, gerak horizontal, gerak
lurus, dan gerak statis. Pola lantai Tari Badui yang pertama adalah lurus dengan menghadap
ke depan. Selanjutnya pola lantai memanjang kebelakang dengan dua orang penari di depan
sebagai pemimpin. Kedua pola lantai tersebut di ulang-ulang dengan gerakan berpasangan
antar siswa. Begitupun saat berpindah tempat para siswa secara bersama ikut berpindah
tempat dengan membentuk pola yang lurus. Setelah adanya perpindahan posisi gerakan
selanjutnya yaitu akan digabung dengan gerakan berpasangan antar siswa untuk menarikan
Tari Badui ini.
Musik
Alat musik yang digunakan untuk mengiringi Tari Badui ini juga sangat sederhana
yaitu mengunakan bedug, genjring, serta diiringi dengan musik shalawatan dengan formasi
dua berbanjar. Serta ditambahi dengan suara peluiit yang berfungsi untuk memberi aba-aba
sebagai tanda awal dimulainya pertunjukan dan untuk memberikan kode disetiap perpindahan
gerak dan pola lantai.
Busana
Tata Busana yang digunakan siswa dalam menarikan Tari Badui ini dimulai bagian
atas kepala, mengunakan topi berwarna cerah modelnya seperti topi pengantin putra. Baju
memakai bahan satin warna yang digunakan juga warna yang cerah. Kemudian ditambah
dengan pemakaian celana pendek selutut kemudian pemakaian jarit dengan panjang selutut
juga. Jarit dipakai diluar baju kemudian diikat dengan stagen dan sabuk. Kaos kaki menjadi
kostum terunik dalam tari badui ini, kaos kaki dipakai harus panjang sejajar dengan lutut.
Kemudian memakai sampur di pinggang dan diselempangkan dibagian sabuk.
Tata Rias
Tata Rias wajah yang digunakan siswa dalam menari Tari Badui adalah jika yang
menjadi penari wanita maka tata rias yang dipakai adalah rias cantik namun natural.
Sedangkan jika yang menjadi penari laki-laki maka rias yang digunakan adalah rias tampan
namun juga harus terlihat natural. Dalam rias wajah ini tidak mengunakan rias yang tebal
karena hal itu untuk menyeimbangkan antara musik, gerak, kostum dari Tari Badui yang
dalam penampilannya sangat sederhana mulai dari music, gerak dan kostumnya.
Tata Pentas
Tari Badui inidipertunjukan dilapangan sekolah karena jumlah penarinya banyak dan
berkelompok. Tari Badui memiliki ciri khas pada pola geraknya yang selalu berpasang-
pasangan dan ada Gerakan yang mengharuskan siswa untuk menarikan dengan memukul

11
tongkat yang dimiliki pasanganya, ditambah pola lantai yang berbentuk sering memanjang
kebelakang.
Sistem Nilai
Nilai yang terkandung dalam Tari Badui yang dimaksud adalah suatu yang ingin
disampaikan sebagai proses pengubahan sikap dan tingkah laku seseorang dan menjadi dasar
untuk mengembangkan diri. Untuk mencapai kedewasaan baik perilaku maupun sikap sehari-
hari. Pesan tersebut berupa moral, budi pekerti, serta Pendidikan ketaqwaan. Mendidika
siswa agar tau mana yang baik dan mana yang buruk.
Dengan demikian nilai Pendidikan pada Tari Badui dapat dilihat dari ragam gerak
sembahan yang mengambarkan siswa untuk melakukan penghormatan kepada setiap orang
yang lebih. Melalui iringan tatarias dan busana dapat memberikan kesan Pendidikan kepada
siswa untuk selalu sederhana dalam perilaku keseharian.
Nilai Estetika
Terlihat adanya keselarasan unsur, kesederhanaan, kebersamaan, , dalam gerak yang
dilakukan oleh semua siswa yang menarikan Tari Badui ini. Sehingga hal itu dapet
menciptakan rasa indah untuk dilihat. Penjelasan adanya 3 unsur dalam nilai estetika yaitu
keselarasan, kesederhanaan, kebersamaan, yang menghasilkan keindahan dalam tari badui,
antara lain:
1. Keselarasan
Merupakan sifat alami manusia, bahwa dalam menempatkan dirinya terhadap alam
lingkungan hidupnya selalu menghendaki keseimbangan mulai saa baru belajar
berdiri danbediri sendiri, ia memerlukan rasa keselarasan agar tidak jatuh dan untuk
mempertahankan tegak tubuhnya. Rasa seimbang pada tubuhnya sendiri. Selaras
dengan lingkungannya merupakan kehendak naluriah yang kekal dalamjiwa manusia.
Kebutuhan naluriah yang mendasar iniberperan dalam pencitaan karya seni oleh
manusia. Sejak terbentuknya kebudayaan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, keselarasan tetap merupakan syarat estetik yang mendasar pada semua
karya seni.
Keselarasan dalam karya seni memiliki unsur-unsur penunjang bentuk seperti
gerak,sinar dan warna dapatdiberi peranan yang penting dalam penyusunan segala
macam keselarasan. Disamping permainan dengan garis-garis, bidang dan ruang,
permainan gerak, permainan sinar, pemilihan dan penempatan warna, misalnya corak,
nada, kecerahan, kesan jarak, kesan suku, suasananya semua perlu,diperhatikan oleh
seorang koreografer.

12
Keselarasan dalam tari badui ditunjukan pada pola gerak kaki dan tangan yang
statis, artinya banyak melakukan pengulangan karena seringkali bergerak ditempat,
tidak memiliki banyak pola lantai. Keselaran juga tergambar pada iringan musik dan
lagu yang bergenre religi, lirik lagu shalawatan diiringi oleh genjring, beduk dan
rebana menggambarkan keselarasan yang menghasilkan keindahan dalam estetik tari
badui.
2. Kesederhanaan
Kesederhanaan memiliki arti tidak berlebih lebihan, dari sini bisa dijelaskan
kesederhanaan yang terlihat pada tari badui yaitu terdapat pada semua unsur dari
mulai gerak badan penari meliputi kaki dan tangan yang tidak memiliki variasi atau
level gerak yang banyak, rias yang sederhana, musik yang hanya mengunakan alat
beduk, genjring, rebana, dan pluit, busana hanya memakai celana panji, kemeja
Panjang, topi turki memiliki kuncir dan kaos kaki yang panjangnya selutut, dan tata
pentas yang hanya membutuhkan ruang yang lebar bisa di dalam maupun di
luarruangan.
3. Kebersamaan
Merupakan yang utuh, Tari Badui ini memiliki kebersamaan bentuk yang utuh
dari beberapa elemen baik elemen pokok yaitu gerak tubuh, maupun elemen
pendukung mulai dari elemen musik pengiring, tata rias, dan busana. Masing-masing
elemen tersebut saling melengkapi hingga membentuk satu kesatuan utuh dan
mengekspresikan maksud sebagai tari yang mengambarkan seseorang yang sedang
berperang.

SIMPULAN
Seni Tari Badui merupakan tarian rakyat yang mengambarkan sekelompok prajurit yang
sederhana berlatih perang dan diiringi dengan syair-syair yang mengambarkan sekelompok
prajurit yang sedang berlatih perang dan diiringi dengan syair-syair shalawat. Tari Badui
merupakan tari yang terinspirasi dari negara Arab kemudian dibawah oleh warga Indonesia
untuk di terapkan di tanah air.
Fungsi dari Tari Badui sendiri adalah untuk penyebaran agama islam. Dimana di
dalamnya mengandung nilai-nilai pendidikan yang berguna untuk melatih siswa berbuat
kebaikan dalam menjalani hidup. Nilai tersebut terdiri dari, nilai kebersamaan, nilai

13
persatuan, nilai religious, nilai pendidikan, nilai kedisiplinan, nilai kesatuan dan persatuan,
nilai estetika, nilai moral, noilai ekonomis, nilai tata karma.
1. Perlunya penelitian lanjutan agar hasil yang berkaitan dengan tari badui lebih lengkap
lagi.
2. Pemerintah daerah hendaknya lebih memperhatihan karya yang berkembang di
masyarakat seperti Tari Badui. atau mengadakan even untuk mengenalkan Tari Badui
kepada masyarakat dan generasi muda agar dapat dikenal lebih luas.
3. Agar masyarakat dan generasi muda bisa tetap menjaga dan melestarikan nilai dan
warisan budaya setempat.
4. Perlunya pendokumentasian agar ragam gerak yang sudah ada tetap terjaga keaslianya
walaupun sudah banyak yang dikreasikan
5. Perlunya pengembangan ragam gerak dan kostum tari badui. agar sesuai dengan
perkembangan zaman.

Bagaimanakah karakteristik tokoh bapang, jelaskan synopsis tari bapang


kedungmonggo?
Bagaimana cara berbusana tari bapang kedungmonggo dengan runtut?
Sebutkan nama-nama busana yang digunakan pada tari bapang?
Tentukan gerak-gerak dasar dari ragam gerak tari bapang kedungmonggo ?

14
DAFTAR PUSTAKA

Salim Muqador. 2014. Eksitensi Tari Badui di Tengan Budaya Masa Kini’’. Skripsi
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sugiharti Deni. 2013. Nilai-nilai Religius dalam Seni Badui di Segeyan Sleman Yogyakarta.
Skripsi UNY.

Yuni Sari. 2015. Peran Pendidikan dalam Kesenian Desa Sendang Kecamatan Minggir.
Skripsi UNY.

Hadi, Y. Sumandiyo. 2014. Koreografi Bentuk Teknik Isi. Yogyakarta: Cipta Media Bekerja
sama dengan Isi Yogyakarta. James P. Spradley. 2006. Metode Etnografi. Terjemahan
misbah Zulfah Elizabeth. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Soedarsono. tt.Tari-Tarian Indonesia I. Jakarta. Proyek Pengembangan Media Kebudayaan


Direktorat Jendral Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

15