Anda di halaman 1dari 18

1

2
BAB II

ISI

2.1 Pengertian Financial Technology

Financial technology adalah sebuah sebutan yang disingkat dari kata


‘financial’ dan ‘technology’, di mana artinya adalah sebuah gagasan di bidang
jasa keuangan. Fintech menggambarkan penggunaan
teknologi keuangan yang inovatif dan kreatif untuk merancang dan
memberikan produk dan layanan keuangan secara efisien. Gagasan utama
fintech adalah membuat layanan keuangan lebih baik bagi pelanggan akhir
(konsumen)

2.1.1 Pengertian Financial Technology Syariah

Fintech syariah adalah kombinasi inovasi di bidang financial


(keuangan) dan technology (teknologi) dalam memudahkan proses transaksi
dan investasi yang didasarkan pada nilai-nilai hukum islam (syariah). Islam
yang merupakah sumber hukum menjadi dasar dari tata cara pelaksanaan
fintech syariah.

2.2 Perbedaan Financial Technology Konvensional dan Syariah


1. Dasar-dasar yang Dianut

Perbedaan pertama antara fintech Syariah dan fintech konvensional adalah


pada dasar-dasar yang dianut. Kalau fintech Syariah menggunakan syariat Islam
sebagai dasar layanan keuangan mereka. Dalam menjalani kegiatan
usahanya, fintech Syariah harus menaati peraturan dari OJK Nomor

3
77/POJK.01/2016 pada tanggal 26 Desember 2016 tentang Layanan Pinjam
Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi.

Selain itu, fintech berbasis Syariah juga harus menaati Fatwa Dewan Syariah


Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) No: 117/DSN-MUI/II/2018
tentang Layanan Pembiayaan Berbasis Teknologi Informasi Berdasarkan Prinsip
Syariah.

2. Suku Bunga

Dalam pembiayaan konvensional, kredit yang diberikan kepada konsumen


dibuat sebagai akad pinjaman sehingga nasabah nantinya memiliki kewajiban
untuk mengembalikan pinjaman tersebut beserta bunga yang ditentukan oleh
peminjam (fintech konvensional), tergantung pada besarnya pinjaman yang
diambil.

Hal ini yang akan sedikit berbeda pada pembiayaan keuangan syariah, dimana
bunga merupakan hal yang tidak diperbolehkan karena dalam bunga terdapat
unsur riba. Dalam pembiayaan syariah, tidak akan menjumpai kredit yang
diberikan akad sebagai pinjaman melainkan dengan akad murabahah, ijarah wa
iqtina, serta musyarakah mutanaqishah.

Masing-masing akad tersebut pastinya memiliki tata cara pengaturan yang


berbeda. Akad murabahah bisa diartikan sebagai akad jual beli penyelenggara
atau Fintech akan bertindak sebagai pembeli atas benda ataupun produk yang
diinginkan nasabah. Kemudian peminjam akan menjual produk tersebut kepada
nasabah dengan margin tertentu. Margin tersebut akan menjadi keuntungan dan
bukan sebagai bunga sebagaimana pada pembiayaan keuangan konvensional.

4
Sedangkan pada akad ijarah wa iqtina merupakan akad sewa menyewa. Artinya
Fintech  bertindak untuk membeli benda yang diinginkan nasabah, selanjutnya
Fintech menyewakan benda tersebut kepada nasabah dalam kurun waktu tertentu.

Nantinya nasabah bisa membeli benda tersebut sehingga berganti


kepemilikan. Sementara musyarakah mutanaqishah, baik Fintech ataupun nasabah
bersama-sama menaruh modal untuk sesuatu hal yang nantinya nasabah bisa
membeli bagian dari Fintech untuk memiliki benda tersebut sepenuhnya. Dengan
melihat beberapa akad dalam pembiyaan syariah, tidak menggunakan akad
pinjaman serta tidak adanya bunga.

3. Resiko dan Cicilan

Ketika nasabah mengajukan pinjaman secara konvensional, nasabah akan


menanggung sepenuhnya resiko ketika nasabah tidak memiliki kemampuan untuk
membayar cicilannya. Hal ini berbeda dengan sistem pembiayaan dengan akad
syariah kedua belah pihak baik Fintech ataupun nasabah akan menanggung resiko
tersebut.

4. Ketersediaan Pinjaman

Dalam proses pengajuan pinjaman bila dilihat dari aspek dokumen yang
dibutuhkan, baik dengan sistem konvensional ataupun syariah. Keduanya
membutuhkan dokumen seperti fotokopi KTP dan bukti penghasilan. Besar dana
pinjaman yang tersedia keduanya pun bervariasi yaitu sekitar Rp5 juta hingga
Rp250 juta.

Namun, ada sedikit perbedaan antara pembiayaan syariah dan konvensional


dalam hal menyediakan dana pinjaman. Pada pembiayaan syariah menggunakan

5
penawaran produk untuk keperluan tertentu. Dalam hal ini tidak ada dalam
pembiayaan keuangan konvensional seperti untuk pendidikan, haji dan umroh,
ataupun lainnya.

2.3 Cara Kerja Financial Technology Dalam Hal Pembiayaan

Perusahaan adalah penyedia platform yang melakukan kegiatan pembiayaan


secara peer-to-peer, dan memberikan jasa konsultasi bisnis kepada pengguna
platform. Dalam hal ini, pengguna secara bersama-sama membiayai objek usaha
yang diberikan oleh mitra kepada investor yang difasilitasi oleh perusahaan
sebagai penyedia platform.

Layanan adalah jasa penyediaan ruang virtual yang disediakan


perusahaan fintech pada platform untuk mempertemukan investor dan mitra
dalam rangka melaksanakan kegiatan pembiayaan secara peer-to-peer. Sementara
platform adalah teknologi, sistem elektronik, laman dan/atau aplikasi mobile yang
disediakan perusahaan kepada pengguna untuk dapat mengunjungi dan
mengakses layanan.

Berdasarkan penjelasan tersebut, ini berarti layanannya adalah


mempertemukan investor, mitra dan pelaku usaha. Perusahaan penyedia platform
adalah penjual jasa, yang bertransaki usaha adalah investor, mitra dan pengelola,
dan transaksi dilakukan secara digital.

Produk fintech ini dibolehkan menurut syariah jika memenuhi rambu-rambu,


di antaranya transaksi harus menjelaskan ketentuan akad sesuai syariah, transaksi
digital ini diketahui dan disepakati, dan objek usahanya halal. Begitu pula ada ijab
kabul sesuai 'urf-nya, terjadi perpindahan kepemilikan, ada perlindungan
konsumen, dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, ada
pengawasan syariah yang memastikan prinsip syariah diterapkan.

6
Menurut Fatwa DSN MUI No.117/DSN-MUI/II/2018 tentang Layanan
Pembiayaan Berbasis Teknologi Informasi Berdasarkan Prinsip Syariah, model
layanan pembiayaan yang dapat dilakukan oleh penyelenggara antara lain, yaitu :

1. Pembiayaan anjak piutang yaitu pembiayaan dalam bentuk jasa


pengurusan penagihan piutang berdasarkan bukti tagihan, baik disertai
atau tanpa disertai talangan yang diberikan kepada pelaku usaha yang
memiliki tagihan kepada pihak ketiga.

2. Pembiayaan pengadaan barang pesanan pihak ketiga yaitu pembiayaan


yang diberikan kepada pelaku usaha yang telah memperoleh pesanan
atau surat perintah kerja pengadaan barang dari pihak ketiga.

3. Pembiayaan pengadaan barang untuk pelaku usaha yang berjualan


secara daring (online seller) yaitu pembiayaan yang diberikan kepada
pelaku usaha yang melakukan transaksi jual beli daring pada penyedia
layanan perdagangan berbasis teknologi informasi
(platform marketplace) yang telah menjalin kerja sama dengan
penyelenggara.

4. Pembiayaan pengadaan barang untuk pelaku usaha yang berjualan


secara daring dengan pembayaran melalui penyelenggara jasa
pembayaran (payment gateway), yaitu pembiayaan yang diberikan
kepada pelaku usaha (seller) yang aktif berjualan secara daring melalui
saluran distribusi yang dikelolanya sendiri dan pembayarannya
dilakukan melalui penyedia jasa otorisasi pembayaran secara daring
(payment gateway) yang bekerja sama dengan pihak penyelenggara.

5. Pembiayaan untuk pegawai (employee), yaitu pembiayaan yang


diberikan kepada pegawai yang membutuhkan pembiayaan konsumtif
dengan skema kerja sama potong gaji melalui institusi pemberi kerja.

7
Keenam, pembiayaan berbasis komunitas, yaitu pembiayaan yang
diberikan kepada anggota komunitas yang membutuhkan pembiayaan
dengan skema pembayarannya dikoordinasikan melalui pengurus
komunitas. 

2.4 Regulasi Financial Technology Syariah


1. MUI No. 67/DSN-MUI/III/2008
2. MUI No. 117/DSN-MUI/II/2018 tentang Layanan Pembiayaan Berbasis
Teknologi Informasi Berdasarkan Prinsip Syariah
3. MUI No. 116/DSN-MUI/IX/2017 tentang uang elektronik syariah, merupakan
regulasi yang dibua oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia
dalam mengkaji Financial Technology

2.5 Regulasi Financial Technology Konvensional


1. Terdapat hubungan antara POJK dengan Peraturan Bank Indonesia dan
Peraturan Anggota Dewan Gubernur Hubungan dari Peraturan Otoritas Jasa
Keuangan Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam
Uang Berbasis Teknologi Informasi dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor
19/12/PBI/2017 tentang penyelenggaraan teknologi finansial adalah di mana
Peraturan yang dikeluarkan Otoritas Jasa Keuangan itu secara khusus hanya
mengatur layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi yang tertera
pada Pasal 1 ayat (3)
2. Peraturan Bank Indonesia Nomor 19/12/PBI/2017 pada Pasal 3 menyatakan
bahwa teknologi finansial di kategorikan ke dalam lima macam tidak hanya
layanan pinjam meminjam yang berbasis teknologi. Pada Peraturan Bank
Indonesia Nomor 19/12/PBI/2017 ini juga ditambah dengan Peraturan

8
Anggota Dewan Gubernur yang berfungsi sebagai peraturan tambahan untuk
menjelaskan beberapa hal secara lebih rinci seperti yang tertera pada Pasal 7
mengenai tata cara pendaftaran, tertera pada ayat 4 yang berbunyi “ketentuan
lebih lanjut mengenai tata cara pendaftaran diatur dalam Peraturan Anggota
Dewan Gubernur. Dengan munculnya kedua aturan ini bisa dikatakan bahwa
seluruh perusahaan Financial Technology sudah mempunyai sebuah payung
hukum untuk melindungi. Berikut adalah informasi tambahan mengenai
Financial Technology :
1. Definisi Teknologi Finansial/Fintech berdasarkan regulasi (Pasal 1):
Teknologi Finansial adalah penggunaan teknologi dalam sistem
keuangan yang menghasilkan produk, layanan, teknologi, dan/atau model
bisnis baru serta dapat berdampak pada stabilitas moneter, stabilitas sistem
keuangan, dan/atau efisiensi, kelancaran, keamanan, dan keandalan sistem
pembayaran.

2. Kategori Penyelenggaraan Teknologi Finansial/Fintech (Pasal 3 ayat 1) :


1. Sistem pembayaran;
2. Pendukung pasar;
3. Manajemen investasi dan manajemen risiko;
4. Pinjaman, pembiayaan, dan penyediaan modal; dan
5. Jasa finansial lainnya.

3. Kriteria Teknologi Finansial/Fintech (Pasal 3 ayat 2):


1.  Bersifat inovatif;
2. Dapat berdampak pada produk, layanan, teknologi, dan/atau model bisnis
finansial yang telah eksis;
3. Dapat memberikan manfaat bagi masyarakat;
4. Dapat digunakan secara luas; dan
5. Kriteria lain yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

9
Sejauh ini sebenarnya sudah ada enam kegiatan fintech yang diatur dalam
rezim sistem pembayaran dan sistem jasa keuangan di Indonesia sebagai berikut:
 

Kategori Dasar Hukum Penjelasan

E-Money PBI No.11/12/PBI/2009 Uang Elektronik (Electronic


jo. Money) adalah alat pembayaran
PBI No.16/8/PBI/2014 yang
jo. memenuhi unsur-unsur sebagai
PBI No. 18/ 17 berikut:
/PBI/2016 a. diterbitkan atas dasar nilai uang
tentang Uang Elektronik yang disetor terlebih dahulu oleh
(Electronic Money) pemegang kepada penerbit;
b. nilai uang disimpan secara
elektronik dalam suatu media
seperti server
atau chip;
c. digunakan sebagai alat
pembayaran kepada pedagang
yang bukan
merupakan penerbit uang
elektronik tersebut; dan
d. nilai uang elektronik yang
disetor oleh pemegang dan

10
dikelola oleh
penerbit bukan merupakan
simpanan sebagaimana dimaksud
dalam
undang-undang yang mengatur
mengenai perbankan.

Dompet Elektronik (Electronic


Wallet) yang selanjutnya disebut
Dompet Elektronik adalah
PBI No.18/40/PBI/2016 layanan elektronik untuk
tentang menyimpan data instrumen
E-Wallet Penyelenggaraan pembayaran antara lain alat
Pemrosesan Transaksi pembayaran dengan
Pembayaran menggunakan kartu dan/atau uang
elektronik, yang dapat juga
menampung dana, untuk
melakukan pembayaran.

Payment Gateway adalah layanan


elektronik yang memungkinkan
PBI No.18/40/PBI/2016
pedagang untuk memproses
tentang
Payment transaksi pembayaran dengan
Penyelenggaraan
Gateway menggunakan alat pembayaran
Pemrosesan Transaksi
dengan menggunakan kartu, uang
Pembayaran
elektronik, dan/atau Proprietary
Channel.

11
Layanan Pinjam Meminjam Uang
Berbasis Teknologi Informasi
adalah penyelenggaraan layanan
POJK jasa keuangan untuk
No.77/POJK.01/2016 mempertemukan pemberi
Peer to Peer
tentang Layanan Pinjam pinjaman dengan penerima
(P2P)
Meminjam Uang pinjaman dalam rangka
Lending
Berbasis Teknologi melakukan perjanjian pinjam
Informasi meminjam dalam mata uang
rupiah secara langsung melalui
sistem elektronik dengan
menggunakan jaringan internet.

Agen Penjual Efek Reksa Dana


POJK No. adalah Pihak yang melakukan
Marketplace 39/POJK.04/2014 penjualan Efek Reksa Dana
Reksadana tentang Agen Penjual berdasarkan kontrak kerja sama
Efek Reksadana dengan Manajer Investasi
pengelola Reksa Dana.

Marketplace POJK No. Perusahaan Pialang Asuransi


Asuransi 69/POJK.05/2016 adalah perusahaan yang
tentang Penyelenggaraan menyelenggarakan usaha jasa
Usaha Perusahaan konsultasi dan/atau keperantaraan
Asuransi dalam penutupan asuransi atau
asuransi syariah serta penanganan
penyelesaian klaimnya dengan

12
bertindak untuk dan atas nama
pemegang polis, tertanggung, atau
peserta.

2.6 Tantangan Fintech Syariah di Indonesia


1. Rendahnya Literasi Keuangan di Indonesia
Salah satu tantangan yang dihadapi oleh fintech Syariah di Indonesia adalah
literasi keuangan di Indonesia yang masih rendah. Padahal, menurut Direktur
Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Horas V. M Tarihoran mengatakan bahwa
literasi keuangan penting untuk dilakukan karena indeks literasi dan inklusi
keuangan di Indonesia masih tergolong relatif rendah. Bahkan, berdasarkan
Survei Nasional Literasi Keuangan pada tahun 2016, angka literasi keuangan di
Indonesia baru mencapai 29.6% saja. Sedangkan inklusi keuangan mencapai
67,8%. 
 Literasi keuangan sangat penting, dengan tingginya tingkat literasi keuangan
maka dapat melindungi masyarakat itu sendiri untuk terhindar dari transaksi-
transaksi palsu yang dapat merugikan mereka. Terdapat 2 hal penting yang bisa
dilakukan untuk meningkatkan literasi keuangan. Di antaranya adalah
meningkatkan ketrampilan serta keyakinan masyarakat tentang layanan keuangan
dan infrastruktur. Dengan tingginya literasi keuangan maka dapat menciptakan
kesejahteraan keuangan yang berkelanjutan di Indonesia.

 
2. Kurang Menunjangnya Syarat dan Infrastruktur

13
Salah satu hambatan yang dihadapi oleh fintech Syariah adalah keharusan
memiliki DPS (Dewan Pengawas Syariah) pada masing- masing perusahaan.
Keharusan memiliki DPS ini memberatkan beberapa pihak yang mau
mendirikan fintech Syariah dikarenakan membutuhkan biaya yang besar.

Sedangkan perusahaan-perusahaan yang baru merintis (start–up) pada


umumnya belum memiliki modal yang cukup besar untuk bisa memenuhi
kebutuhan tersebut.Oleh karena itu, Ronald Wijaya mendorong pemerintah untuk
membantu memberikan fasilitas perkembangan fintech terutama yang berbasis
Syariah di Indonesia.

Ada sebuah alternatif seperti satu orang dewan pengawas untuk


beberapa fintech Syariah yang masih belum terdaftar. Dengan begitu, maka dapat
membantu mereka untuk mendapatkan infrastruktur yang sesuai dengan
aturan OJK. Hambatan lainnya yang berkaitan dengan perizinan yang memakan
waktu yang lama. Selain itu, literasi masyarakat tentang fintech Syariah juga
menjadi hambatan juga. Hal ini sangat disayangkan karena mayoritas penduduk di
Indonesia adalah muslim.

 
3. Indonesia Perlu Kebijakan yang Matang

Di Indonesia, kebijakan untuk fintech Syariah belum mencakup keamanan


nasabah. Padahal, layanan jasa keuangan mampu meningkatkan kesejahteraan
keuangan masyarakat jika dikelola dengan baik. Tentunya, untuk pengelolaan
yang baik maka membutuhkan kebijakan yang matang. Dikarenakan layanan P2P
(Peer to Peer) Lending memiliki peluang yang besar di Indonesia, maka sangat
diperlukan adanya peran dari regulator yang sehat.

Kebijakan-kebijakan yang dimaksud adalah hal- hal yang berkaitan dengan


syarat pendirian dan operasi fintech, inovasi layanan yang aman untuk nasabah,

14
serta kompetisi antar fintech yang sehat. Dengan ada kebijakan yang matang,
maka juga membantu mengurangi risiko untuk kepentingan nasabah. Sehingga,
penyelenggara fintech juga harus memastikan keamanan dana dan data publik,
serta mengatur keuangan masyarakat dan memberikan bunga yang wajar.

 
2.7 Peran Fintech Syariah bagi UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah)

Dengan adanya fintech Syariah di Indonesia juga turut


menunjang UMKM yang ada di Indonesia. Berikut peran fintech Syariah bagi
UMKM di Indonesia, yaitu:

1. Memberikan Pinjaman Modal yang Relatif Mudah


Jika dibandingkan dengan pinjaman modal ke lembaga keuangan
konvensional, maka dapat dikatakan bahwa peminjaman modal
melalui fintech lebih mudah. Hal ini dikarenakan fintech hanya memerlukan
peminjam untuk melengkapi beberapa dokumen saja. Selain itu, waktu pencairan
dana juga lebih cepat dari pada lembaga konvensional. Tapi, pada beberapa
lembaga konvensional kini sudah tersedia layanan online yang mempercepat
peminjaman modal.

2. Menyediakan Layanan Pembayaran Digital


Proses pembayaran dapat lebih mudah dan cepat dengan layanan pembayaran
digital. Jadi, tanpa harus repot menarik uang di ATM, maka Anda sudah bisa
melakukan pembayaran terhadap produk yang Anda beli atau jasa yang Anda
pakai hanya dengan menggunakan fintech.

 
3. Menyediakan Layanan Pengaturan Keuangan

15
Layanan pengaturan keuangan merupakan salah satu peran fintech yang
paling penting. Layanan pengaturan keuangan yang ditawarkan adalah seperti
pencatatan pengeluaran, pemantauan kinerja investasi, serta konsultasi keuangan
secara gratis. Tentunya bagi UMKM yang baru saja merintis maka layanan-
layanan tersebut dapat sangat membantu keuangan UMKM.

BAB III

16
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Financial Technology merupakan sebuah gagasan di bidang keuangan
yang memberikan layanan dan produk keuangan yang efisien melalui
penggunaan teknologi dalam menunjang kegiatannya. Dengan adanya fintech,
munculah sebuah inovasi baru yang bermanfaat dalam berbagai bidang.
Diantaranya yaitu dapat menghemat waktu dan biaya dari adanya sebuah
transaksi bisnis.
Manfaat fintech akan lebih terasa baik dan berkah jika kita beralih dari
fintech konvensional menuju ke fintech syariah. Hal ini dikarenakan kebaikan
fintech syariah lebih menyeluruh dan semakin memudahkan customer karena
dilandasi dengan prinsip dan akad yang berbasis syariah.

3.2 Saran

Penulis menyarankan kepada pemerintah dan DSN-MUI agar


menambah jumlah peraturan mengenai Financial Technology syariah, karena
secara tidak langsung dapat memperkuat keberadaan Fintech syariah serta
membantu kelancaran siklus perekonomian Indonesia

DAFTAR PUSTAKA

17
https://selular.id/2018/02/ini-perbedaan-fintech-syariah-dan-konvensional/

https://www.finansialku.com/fintech-syariah/

https://kliklegal.com/aspek-hukum-financial-technology-di-indonesia-ailrc/

https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5a97b394460ec/aspek-hukum-fintech-
di-indonesia-yang-wajib-diketahui-lawyer/

18