Anda di halaman 1dari 21

ABSTRAK

Rumput perimping berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku industri


kimia. Metode fraksionasi biomassa dapat mengkonversi rumput perimping
menjadi produk yang lebih bernilai ekonomis, karena rumput perimping
merupakan bahan yang berlignoselulosa. Percobaan ini bertujuan untuk
memahami pengaruh variabel terhadap produk fraksionasi biomassa, menghitung
yield serta persentase recovery komponen-komponen utama biomassa.
Fraksionasi rumput perimping dilakukan dengan variasi waktu pemanasan 1, 2
dan 3 jam, serta variasi rasio black liquor terhadap air sebesar 1:10; 1:15 dan 1:20
untuk setiap waktunya. Dari hasil percobaan, didapat perolehan selulosa terbesar
pada waktu 1 jam yaitu sebesar 54% dan perolehan lignin terbesar pada waktu 3
jam dengan perbandingan black liquor terhadap air 1:20 yaitu sebesar 0,036 gram.

Kata kunci : Black liquor, fraksionasi biomassa, lignin, rumput perimping,


selulosa

ii
DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PENGESAHAN....................................................................................i
ABSTRAK..............................................................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................iv
DAFTAR TABEL..................................................................................................v
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Pernyataan Masalah.................................................................................1
1.2 Tujuan Percobaan ...................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Biomassa...............................................................................3
2.2 Karakteristik Biomassa............................................................................3
2.2.1 Selulosa .......................................................................................3
2.2.2 Hemiselulosa ..............................................................................4
2.2.3 Lignin .........................................................................................4
2.3 Proses Pembuatan Pulp dengan Pelarut Organik....................................5
2.4 Rumput Perimping .................................................................................6
2.5 Faktor yang Mempengaruhi Pembuatan Pulp.........................................6
BAB III METODE PERCOBAAN
3.1 Bahan-bahan yang Digunakan.................................................................8
3.2 Alat-alat yang Digunakan........................................................................8
3.3 Prosedur Percobaan.................................................................................8
3.3.1 Pemrosesan Bahan Baku.............................................................8
3.3.2 Recovery Lignin..........................................................................9
3.4 Rangkaian Alat......................................................................................9
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Perolehan pulp/selulosa.........................................................................11
4.2 Perolehan Lignin ...................................................................................12
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ...........................................................................................14
5.2 Saran .....................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................15
LAMPIRAN A PERHITUNGAN
LAMPIRAN B DOKUMENTASI
LAPORAN SINGKAT

iii
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 3.1 Rangkaian Alat ................................................................................9
Gambar 3.2 Alat Sentrifugal ..............................................................................10
Gambar 4.1 Hubungan Waktu Proses Fraksionasi Biomassa dan Persentase
Perolehan Pulp................................................................................11
Gambar 4.2 Hubungan Waktu Proses Fraksionasi Biomassa dan Persentase
Perolehan Lignin.............................................................................12

iv
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 2.1 Perbedaan Antara Lignin, Selulosa, dan Hemiselulosa....................... 5

v
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Peryataan Masalah


Pengolahan biomassa secara fraksionasi dengan menggunakan pelarut
organik didasarkan pada perbedaan sifat kimia-fisik dari komponen penyusunnya.
Metode fraksionasi biomassa dengan pelarut organik telah banyak dikembangkan
karena memiliki beberapa keunggulan yaitu tidak menggunakan unsur belerang
dalam produksinya sehingga tidak menimbulkan odour problem, daur ulang bahan
kimia dapat dilakukan dengan cara yang sangat sederhana dan dapat
menghasilkan produk samping (by-products) (Fitri et al., 2014).

Proses organosolv merupakan salah satu metode fraksionasi biomassa yang


menggunakan pelarut organik sebagai media pemrosesan. Pelarut organik yang
bisa digunakan adalah fenol, glikol, ester, asam organik, aseton, amonia dan
amina. Asam organik yang banyak dikembangkan dalam proses organosolv
adalah asam formiat. Keunggulan asam formiat sebagai media pemroresan adalah
memiliki selektifitas yang tinggi terhadap proses delignifikasi, harga relatif
murah, dapat dilakukan pada suhu rendah dan tekanan atmosfir (Oktarizona et al.,
2016).

Rumput perimping berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku


industri kimia. Metode fraksionasi biomassa dapat mengkonversi rumput
perimping menjadi produk yang lebih bernilai ekonomis, karena rumput
perimping merupakan bahan yang berlignoselulosa. Pemanfaatan rumput
perimping sebagai bahan baku fraksionasi biomassa (organosolv) belum pernah
dilakukan. Oleh karena itu, kajian mengenai fraksionasi rumput perimping perlu
dipelajari lebih lanjut untuk pengembangan asam formiat sebagai media
fraksionasi. Perlakuan kondisi proses yang sesuai diharapkan dapat menghasilkan
produk dengan kualitas yang sesuai standar. Dengan metode RSM diyakini akan
diperoleh kondisi yang dapat menghasilkan pemilahan biomassa secara selektif.
Sehingga, upaya pemanfaatan rumput perimping dengan metode fraksionasi
diketahui kehandalannya (Oktarizona et al.,2016).

1
1.2 Tujuan Percobaan
Setelah mengikuti praktikum ini, mahasiswa mampu :
1. Menjelaskan pengaruh variabel terhadap produk fraksionasi biomassa
2. Menghitung neraca massa pada sistem fraksionasi biomassa
3. Menghitung yield sistem fraksionasi biomassa
4. Menghitung persentase recovery komponen-komponen biomassa.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Karakteristik Biomassa


Biomassa merupakan sebuah istilah untuk semua bahan organik

yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, termasuk limbah tanaman

budidaya, algae dan juga sampah organik. Biomassa dapat dibedakan

dalam tiga kelompok besar, yaitu biomassa kayu, biomassa bukan kayu,

dan biomassa sekunder. Energy Europe Insitute membagi biomassa ke

dalam empat kategori yaitu: limbah pertanian, limbah kehutanan,

tanaman kebun energi, limbah organik.

Biomassa sangat beragam dan berbeda dalam hal sifat kimia, sifat

fisis, kadar air, kekuatan mekanis dan sebagainya. Biomassa merupakan

sumber energi terbarukan, tetapi kualitasnya rendah, sehingga teknologi

konversi termal biomassa beragam tergantung pemanfaatannya dan relatif

rumit. Kadar air dalam biomassa terdiri dari kadar air bebas (surface

moisture containt) dan kadar air terikat (inherent moisture containt). Kadar

air bebas akan hilang pada pengeringan dan berubah dengan kelembaban

udara. Sedangkan kadar air terikat berada di dalam pori-pori biomassa

dan dapat dihilangkan dengan teknik pengeringan (Susanto, 2018).

2.2 Fraksionasi Biomassa


Biomassa merupakan campuran kompleks material organik seperti

karbohidrat, lemak, dan protein, serta dengan mineral dalam jumlah yang

sedikit seperti natrium, fosfor, kalsium, dan besi. Senyawa utama

biomassa adalah: selulosa, hemi-selulosa, dan lignin (Susanto, 2018).

2.2.1 Selulosa
Selulosa terdapat pada sebagian besar dalam dinding sel dan bagian-bagian
berkayu dari tumbuh-tumbuhan. Selulosa mempunyai peran yang menentukan

3
karakter serat dan memungkinkan penggunaannya dalam pembuatan kertas.
Dalam pembuatan pulp diharapkan serat-serat mempunyai kadar selulosa yang
tinggi. Sifat-sifat bahan yang mengandung selulosa berhubungan dengan derajat
polimerisasi molekul selulosa. Berkurangnya berat molekul di bawah tingkat
tertentu akan menyebabkan berkurangnya ketangguhan. Serat selulosa
menunjukkan sejumlah sifat yang memenuhi kebutuhan pembuatan kertas.
Kesetimbangan terbaik sifat-sifat pembuatan kertas terjadi ketika kebanyakan
lignin tersisih dari serat. Ketangguhan serat terutama ditentukan oleh bahan
mentah dan proses yang digunakan dalam pembuatan pulp.
Molekul selulosa seluruhnya berbentuk linier dan mempunyai
kecenderungan kuat membentuk ikatan-ikatan hidrogen, baik dalam satu rantai
polimer selulosa maupun antar rantai polimer yang berdampingan. Ikatan
hidrogen ini menyebabkan selulosa bisa terdapat dalam ukuran besar, dan
memiliki sifat kekuatan tarik yang tinggi (Dewi et al., 2009).

2.2.2 Hemiselulosa
Hemiselulosa merupakan polimer dari sejumlah sakarida-sakarida yang
berbeda-beda yaitu D-glukosa, L-arabinosa, D-silosa, D-glukorunat. Susunan dari
bahan-bahan tersebut di dalam rantai hemiselulosa sangat tidak teratur (heterogen)
Beberapa sifat kimia penting dari hemiselulosa yang berhubungan dengan
pengolahan biomassa, anatara lain adalah sedikit larut dalam air, larut dalam
alkali, larut dan terhidrolisis oleh asam. Dibanding dengan selulosa, hidrolisis
asam terhadap hemiselulosa lebih mudah terjadi. Larutan basa dingin dapat
melarutkan hemiselulosa, larutan yang biasanya dipakai ialah larutan KOH 24%
atau NaOH 17,5% (Dewi et al.,2009).

2.2.3 Lignin
Pulp akan mempunyai sifat fisik atau kekuatan yang baik apabila
mengandung sedikit lignin. Hal ini karena lignin bersifat menolak air dan kaku
sehingga menyulitkan dalam proses penggilingan. Kadar lignin untuk bahan baku
kayu 20-35%, sedangkan untuk bahan non-kayu lebih kecil lagi (Dewi et
al.,2009).

4
Tabel 2.1 Perbedaan Antara Lignin, Selulosa, dan Hemiselulosa
Selulosa Hemiselulosa Lignin

- Tidak larut dalam pelarut -Sedikit larut dalam air - Tidak larut dalam air
organik dan air dan asam mineral kuat.

- Larut dalam pelarut


- Tidak larut dalam alkali - Larut dalam alkali
organik dan larutan
alkali encer
- Larut dalam asam pekat -Terhidrolisis dan larut
oleh asam

- Terhidrolisis relatif lebih -Lebih mudah


cepat pada temperatur terhidrolisis
tinggi dibandingkan
selulosa

2.3 Proses Pembuatan Pulp dengan Pelarut Organik


Myerly dkk, (1981), menyatakan bahwa pemanfaatan biomassa secara
efisien dapat dilakukan dengan menerapkan konsep biomass refining yaitu
pemrosesan dengan menggunakan pelarut organik (organosolv processes), dengan
cara melakukan fraksionasi biomassa menjadi komponen-komponen utama
penyusunnya : selulosa, hemiselulosa dan lignin, tanpa banyak merusak ataupun
mengubahnya.
Kelebihan dari organosolv dibandingkan dengan proses konvensional
adalah:
1. Tidak menyebabkan timbulnya pencemaran gas-gas berbau
2. Pelarut organik yang sudah dipakai dapat digunakan kembali setelah
dilakukan pemurnian terlebih dahulu.
3. Proses dapat dilakukan dengan temperatur dan tekanan rendah

5
Pelarut organik yang banyak dikembangkan para peneliti salah satunya
adalah asam asetat, baik digunakan dengan katalis maupun tanpa katalis telah
dapat memisahkan secara selektif selulosa, hemiselulosa dan lignin dari berbagai
biomassa misalnya ampas tebu, kayu lunak dan kayu keras. Pembuatan pulp dari
jerami padi akan dikatakan berhasil baik apabila didapatkan pulp dengan
kandungan lignin rendah dan kandungan selulosa tinggi. Untuk menghasilkan
pulp yang baik yang perlu diperhatikan disamping tipe dan macam pelarut organik
yang digunakan adalah: Delignifikasi berlangsung semaksimal mungkin serta
menghindari terjadinya reaksi-reaksi repolimerisasi lignin yang telah larut.
Degradasi polisakarida dijaga agar hanya terjadi pada hemiselulosa dan tidak
sampai terjadi pada selulosa.

2.4 Rumput Perimping


Rumput perimping berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku
industri kimia. Metode fraksionasi biomassa dapat mengkonversi rumput
perimping menjadi produk yang lebih bernilai ekonomis, karena rumput
perimping merupakan bahan yang berlignoselulosa. Pemanfaatan rumput
perimping sebagai bahan baku fraksionasi biomassa (organosolv) belum pernah
dilakukan. Oleh karena itu, kajian mengenai fraksionasi rumput perimping perlu
dipelajari lebih lanjut untuk pengembangan asam formiat sebagai media
fraksionasi. Perlakuan kondisi proses yang sesuai diharapkan dapat menghasilkan
produk dengan kualitas yang sesuai standar. Dengan metode RSM diyakini akan
diperoleh kondisi yang dapat menghasilkan pemilahan biomassa secara selektif.
Sehingga, upaya pemanfaatan rumput perimping dengan metode fraksionasi
diketahui kehandalannya (Oktarizona et al.,2016).

2.5 Faktor yang Mempengaruhi Pembuatan Pulp


Arita (2005) menyatakan bahwa faktor yang berpengaruh dalam pembuatan
pulp sebagai berikut :
1. Konsentrasi Pelarut
Semakin tinggi konsentrasi larutan alkali, akan semakin banyak selulosa
yang larut (Shere B. Noris, 1959). Menurut Casei, J.P.,(1961), larutan NaOH

6
dapat berpengaruh dalam pemisahan dan penguraian serat selulosa dan
nonselulosa.
2. Perbandingan Cairan Pemasak terhadap Bahan Baku
Perbandingan cairan pemasak terhadap bahan baku haruslah memadai agar
pecahan-pecahan lignin sempurna dalam proses degradasi dan dapat larut
sempurna dalam cairan pemasak. Perbandingan yang terlalu kecil dapat
menyebabkan terjadinya redeposisi lignin sehingga dapat meningkatkan bilangan
kappa (kualitas pulp menurun). Perbandingan yang dianjurkan lebih dari 8 : 1.
3. Temperatur Pemasakan
Temperatur pemasakan berhubungan dengan laju reaksi. Temperatur yang
tinggi dapat menyebabkan terjadinya pemecahan makromolekul yang semakin
banyak, sehingga produk yang larut dalam alkali pun akan semakin banyak.
4. Lama Pemasakan
Lama pemasakan yang optimum pada proses delignifikasi adalah sekitar 60-
120 menit dengan kandungan lignin konstan setelah rentang waktu tersebut.
Semakin lama waktu pemasakan, maka kandungan lignin di dalam pulp tinggi,
karena lignin yang tadi telah terpisah dari raw pulp dengan berkurangnya
konsentrasi NaOH akan kembali menyatu dengan raw pulp dan sulit untuk
memisahkannya lagi (Shere B. Noris, 1959).

7
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Bahan-bahan yang Digunakan

1. Asam formiat
2. Akuades
3. Biomassa kering
4. HCl

3.2 Alat-alat yang Digunakan

1. Corong kaca
2. Erlenmeyer
3. Gelas piala
4. Gelas ukur
5. Pemanas
6. Pipet tetes
7. Tabung reaksi

3.3 Prosedur Percobaan

3.3.1 Pemrosesan Bahan Baku


1. Biomassa sebanyak 10 gram dan cairan pemasak (asam formiat) sebanyak
88 ml dimasukkan ke dalam reaktor (erlenmeyer).
2. Pemanas dioperasikan pada saat cairan mulai mendidih dan dimasukkan 1
tetes katalis HCl ke dalam reaktor, waktu dicatat sebagai waktu awal proses
fraksionasi terjadi.
3. Setelah 1 jam pemanas dimatikan dan reaktor didinginkan.
4. Padatan dan cairan pemasak di dalam reaktor dipisahkan menggunakan
penyaring dengan cara diperas hingga filtrat benar-benar tersaring (volume
filtrat hampir sama dengan volume cairan pemasak sebelum digunakan).
Volume filtrat yang didapat dicatat.
5. Langkah yang sama diulangi pada variabel waktu 2 dan 3 jam.

8
6. Padatan yang dipeoleh dicuci dengan asam organik dan filtratnya
ditampung.
7. Filtrat yang diperoleh digunakan untuk percobaan recovery lignin.

9
9

8. Padatan yang telah dicuci, dibilas kembali dengan akuades sampai filtrat
kalihatan jernih.
9. Padatan dikeringkan dan ditimbang sebagai berat pulp.
Perhitungan perolehan pulp (selulosa)
Berat Pulp Kering
Perolehan pulp= x 100%
Berat Biomassa

3.3.2 Recovery Lignin


1. Sejumlah black liquor dimasukkan ke dalam kuvet sentrifugal dan
ditambahkan air dengan perbandingan 1:10; 1:15 dan 1:20.
2. Campuran didalam kuvet di sentrifugasi pada kecepatan 500 rpm dengan
waktu 15 menit.
3. Supernatan yang terbentuk dipisahkan dan padatan yang terbentuk
dikeluarkan dari kuvet dengan kertas saring.
4. Padatan yang diperoleh dikeringkan dalam oven sampai berat konstan dan
diperoleh berat lignin yang direcovery dari sampel black liquor.

Perhitungan perolehan lignin

Berat Lignin Sampel Volume ¿ Liquor ¿


Perolehanlignin= x 100 %
Volume Sampel Berat Lignin dalam Bahan Baku

3.5 Rangkaian Alat

1. Eelemeyer 250 ml (penutup)


2. Erlemeyer 1000 ml (reaktor)
3. Kabel penghubung daya listrik
4. Pemanas
1 5. Bahan

4 2

3
10

Gambar 3.1 Rangkaian Alat Fraksionasi


10

Gambar 3.2 Alat Sentrifugasi


11

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Perolehan pulp/selulosa

Praktikum ini bertujuan untuk mengamati pengaruh variabel terhadap pulp


yang diperoleh dari rumput perimping. Variabel yang diamati adalah waktu
pemasakan. Menurut Oktarizona et al (2016), rumput perimping memiliki
kandungan selulosa sebesar 43%. Sedangkan dari praktikum yang kami lakukan
pulp yang diperoleh sesuai dengan Gambar 4.1.

55

54
Perolehan Pulp (%)

53

52

51

50

49
1 2 3

Waktu Pemasakan

Gambar 4.1 Pengaruh Waktu Pemasakan Terhadap Perolehan Pulp

Gambar 4.1, menunjukkan bahwa lamanya waktu pemasakan


mempengaruhi hasil perolehan pulp, terlihat bahwa persentase perolehan pulp
semakin berkurang seiring bertambahnya waktu premasakan. Semakin lama
proses pemasakan, kontak bahan dengan larutan pemasaknya akan semakin lama,
dan menyebabkan proses pemisahan biomassa-biomassa yang terkandung pada
bahan tersebut semakin optimal. Hal ini juga menandakan lignin ataupun
hemiselulosa yang terkandung pada bahan semakin banyak yang terlarut dan
terpisah dari bahan. Menurut Susanto (1998), lignin dan hemiselulosa larut dalam
asam organik pekat sedangkan pulp atau selulosa tidak larut dalam asam organik.
Larutan pemasak yang digunakan dalam praktikum ini adalah larutan asam
12

formiat 98%. Larutan asam formiat tergolong kedalam larutan asam organik.
Sehingga lignin dan hemiselulosa dapat larut dalam asam formiat, sedangkan pulp
atau selulosa tidak larut ke dalam asam formiat.

4.2 Recovery Lignin


Selama proses pemasakan, lignin dan hemiselulosa akan terlarut bersama
larutan pemasak dalam black liquor. Selanjutnya lignin akan dipisahkan dengan
hemiselulosa. Menurut Susanto (1998), lignin bersifat tidak larut dalam air. Oleh
karena itu, proses pemisahan dapat dilakukan dengan penambahan aquadest.
Menurut Oktarizona et al (2016), rumput perimping memiliki kandungan lignin
sebesar 18%. Perolehan lignin dalam praktikum ini ditunjukkan pada Gambar 4.2.
0.04
0.04
0.03
0.03
Berat (gram)

0.02
1/10
0.02 1/15
0.01 1,20

0.01
0
1 2 3
Waktu (jam)

Gambar 4.3 Pengaruh Konsentrasi Asam Asetat terhadap Perolehan Lignin

Recovery lignin diawali dengan pengambilan sampel black liquor dan


aquadest dengan variasi perbandingan 1/10, 1/15, 1/20. Kedua larutan tersebut
dimasukkan ke dalam tabung reaksi, dan tabung reaksi yang berisi campuran
sampel dan aquadest disentrifus dengan kecepatan 500 rpm selama 15 menit.
Setelah disentrifus, di dalam tabung reaksi terbentuk endapan dan cairan. Endapan
kemudian disaring menggunakan kertas saring yang telah diketahui beratnya, dan
kertas saring dioven hingga beratnya konstan. Endapan yang terbentuk setelah
campuran disentrifus merupakan lignin hasil fraksionasi biomassa, lignin
13

membentuk endapan dikarenakan sifatnya yang tidak dapat larut didalam air,
sehingga dapat terpisah dengan hemiselulosa yang sifatnya dapat larut dalam air.

Setelah diketahui berat lignin hasil recovery, selanjutnya dilakukan


perhitungan untuk mengetahui persentase persentase perolehan lignin untuk setiap
variasi waktu proses dan variasi perbandingan black liquor dengan aquadest.

Selanjutnya dari Gambar 4.2, terlihat bahwa persentase perolehan lignin


semakin meningkat seiring bertambahnya waktu pemasakan. Waktu pemasakan
yang lama akan menyebabkan pemutusan ikatan lignin yang semakin banyak,
karena larutan pemasak yang berupa asam organik akan semakin lama bereaksi
dengan lignin. Hal ini semakin menguatkan pembahasan sebelumnya, dimana
semakin lama proses terjadi, menyebabkan proses pemisahan biomassa-biomassa
yang terkandung pada bahan tersebut semakin optimal. Hal ini juga menandakan
lignin yang terkandung pada bahan semakin banyak terpisah dan terlarut di dalam
black liquor.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Semakin lama waktu reaksi maka semakin sedikit selulosa yang diperoleh
dan semakin banyak lignin yang didapatkan.
2. Selulosa yang didapatkan berkisar antara 50-54 % dengan perolehan
terbesar yaitu pada saat waktu reaksi 1 jam.
3. Perolehan lignin dalam percobaan ini berkisar antara 23,55-42,5 % dengan
perolehan lignin terbesar pada sampel 3 jam dengan rata-rata 42,5 %.

5.2 Saran
1. Praktikan seharusnya menggunakan masker yang sesuai standar agar bau
asam tidak terhirup.
2. Praktikum sebaiknya tidak dilakukan di ruang terbuka atau sebaiknya
dilakukan di dalam ruangan asam agar bau asam tidak menyebar.
3. Dalam praktikum ini sebaiknya menggunakan kondensor agar hasil yang
didapat lebih bagus.

14
DAFTAR PUSTAKA

Dewi, K., Wulandari, A., dan Romy. 2009. “Pengaruh Temperatur, Lama
Pemasakan, Dan Konsentrasi Etanol Pada Pembuatan Pulp Berbahan Baku
Jerami Padi Dengan Larutan Pemasak Naoh-Etanol” Jurnal Teknik Kimia,
No. 3, Vol. 16, Agustus 2009 Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik
Palembang: Universitas Sriwijaya.

Dizikri., Helwani, Z., Rionaldo, H., Zulfansyah. 2019. “Pengaruh


Kondisi Proses Terhadap Karakteristik Pulp Pada Fraksinasi Rumput Gajah
Menggunakan Asam Formiat” JOM FTEKNIK Volume 6 Edisi 1 Januari s/d
Juni 2019 Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik. Pekanbaru: Universitas
Riau.

Fitri, A., Octarya Z. 2014. “Pemanfaatan Batang Pisang (Musa Paradisiaca L)


Dalam Pembuatan Pulp Dengan Menggunakan Metode Acetosolv Serta
Implementasinya Di Sekolah” Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Riau:
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim.

Oktarizona, S., Zulfansyah., Helwani, Z. 2016. “Pengaruh Kondisi Proses


terhadap Yield dan Kadar Lignin Pulp pada Fraksionasi Rumput Perimping
dalam Media Asam Formiat” Jom FTEKNIK Volume 3 No. 1. Februari 2016
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik. Pekanbaru: Universitas Riau.

Susanto, H. 2018. “Pengembangan Teknologi Gasifikasi Untuk Mendukung


Kemandirian Energi Dan Industri Kimia” 24 November 2018 . Bandung:
Institut Teknologi Bandung.

17