Anda di halaman 1dari 15

Tugas

Oleh:

Madeleine Nadya W. Senduk


18014101060
Masa KKM: 2 Maret – 29 Maret 2020

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SAM RATULANGI

MANADO

2020
TINEA KORPORIS
Etiologi
Golongan jamur yang memiliki sifat mencernakan keratin. Golongan jamur ini dibagi
menjadi Microsporum, Tricophyton, dan Epidermophyton. Penyebab paling sering yaitu
Tricophyton rubrum. Penyebab lainnya yaitu M. canis, T. tonsurans.

Anamnesis
Penderita mengeluhkan gatal dan timbulnya lesi-lesi pada kulit yang berbatas tegas dengan
bagian pinggir yang lebih kemerahan. Gatal biasanya meningkat saat berkeringat. Infeksi
tinea sering terjadi pada orang dengan higiene yang kurang, sering kontak dengan hewan-
hewan dan sering berjalan di tanah tanpa alas kaki.

Pemeriksaan Fisik
Didapatkan lesi-lesi pada kulit tubuh yang tidak berambut (glabrous skin). Lesi berupa
makula eritematosa berbentuk anular atau lonjong, berbatas tegas, terdapat skuama, kadang-
kadang dengan vesikel dan papul di tepi. Daerah tengahnya biasa tenang (central clearing).
Kadang-kadang terlihat erosi dan krusta akibat garukan. Lesi-lesi pada umumnya merupakan
bercak-bercak terpisah satu dengan yang lain. Kelainan kulit dapat pula terlihat sebagai lesi-
lesi dengan pinggir yang polisiklik, karena beberapa lesi kulit yang menjadi satu.
 Tinea korporis menahun: Tanda radang akut tidak terlihat lagi
 Tinea imbrikata: Bentuk khas tinea korporis yang disebabkan oleh Tricophyton
concentrikum. Dimulai dengan papul berwarna cokelat, yang perlahan-lahan menjadi
besar. Stratum korneum bagian tengah terlepas dari dasarnya dan melebar. Proses ini
setelah beberapa waktu mulai lagi dari bagian tengah sehingga terbentuk lingkaran-
lingkaran skuama yang konsentris. Terbentuk lingkaran konsentris tersusun seperti
susunan genting. Tidak mengenai rambut. Pada permulaan infeksi, penderita merasa
gatal. Bila kronis, peradangan sangat ringan dan asimtomatik.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan mikologi yaitu pemeriksaan langsung sediaan basah dan biakan. Bahan yang
dibutuhkan yaitu kulit yang terdapat lesi pada bagian tepi dikerok dengan bisturi steril.
Sediaan kemudian ditetesi dengan KOH 20% dan dilihat di bawah mikroskop. Gambaran
yang terlihat yaitu hifa panjang, bersekat dan bercabang, spora berderet (artrospora).
Pemeriksaan penunjang lainnya yaitu pemeriksaan lampu wood akan ditemukan fluoresensi
berwarna kuning kehijauan.

Diagnosis Banding
Psoriasis, pitiriasis rosea, MH, eritema annulare centrifugum, dermatitis numularis

Terapi
 Griseofulvin 500 mg/hari (2-4 minggu)
 Terbinafine 250 mg/hari (2-4 minggu)
 Itraconazole 100 mg/hari (1 minggu)
 Fluconazole 150-300 mg/minggu (4-6 minggu)
 Topikal : Miconazole 2%, Ketoconazole 2%

SKABIES
Etiologi
Sarcoptes scabiei van hominis. Penularan terjadi melalui kontak langusng (skin to skin)
seperti berjabat tangan, tidur bersama, dan hubungan seksual; maupun kontak tidak langsung
(melalui benda), misalnya pakaian, handuk, sprei, bantal, dan lain-lain

Anamnesis
Keluhan gatal yang semakin memberat pada malam hari, terjadi pada sekelompok orang,
misalnya menyerang seluruh anggota keluarga di rumah, teman asrama, atau pondokan.
Keluhan lain yaitu terdapatnya lesi atau kemerahan pada sela-sela jari tangan, pergelangan
tangan, siku bagian luar, lipat ketiak, daerah sekitar puting susu, bokong dan pada sekitar alat
kelamin.

Pemeriksaan Fisik
Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau
keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1 cm, pada ujung
terowongan didapatkan papul atau vesikel. Jika timbul infeksi sekunder, ruam kulit menjadi
polimorf (pustul, ekskoriasi, dan lain-lain). Tempat predileksi yaitu tempat dengan stratum
korneum yang tipis, yaitu sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian
luar, lipat ketiak bagian depan, areola mammae, umbilikus, bokong, genitalia eksterna, dan
perut bagian belakang.
Pemeriksaan penunjang
Menemukan tungau:
 Carilah mula-mula terowongan kemudian pada ujung yang terlihat papul atau vesikel
dicongkel dengan jarum dan diletakkan di atas sebuah objek, lalu ditutup dengan kaca
penutup dan dilihat dengan mikroskop
 Dengan cara menyikat dengan sikat dan ditampung di atas selembar kertas putih dan
dilihat dengan kaca pembesar
 Kerokan kulit
 Dengan membuat biopsi irisan: lesi dijepit dengan 2 jari kemudian dibuat irisan tipis
dengan pisau dan diperiksa dibawah mikroskop
 Dengan biopsi eksisional dan diperiksa dengan pewarnaan hematoksilin eosin
 Ink burrow test: mengoleskn tinta atau gentian violet ke permukaan kulit yang
terdapat lesi, tinta akan terabsorpsi dan kemudian akan terlihat terowongan

Diagnosis Banding
Prurigo, pedikulosis korporis, dermatitis atopik, dermatitis kontak, urtikaria, insect bite,
pioderma

Terapi
Obati seluruh anggota keluarga
Sistemik: Antihistamin
Topikal:
 Sulfur presipitatum 4-20% salep atau krim selama 3 hari
 Benzil benzoas 20-25% diberikan setiap malam selama 3 hari
 Gamma benzena heksa klorida 1% krim atau losio
 Krotamiton 10% krim atau losio
 Permetrin 5% krim, aplikasi sekali, dibersihkan dengan mandi setelah 8-10 jam.
Pengobatan diulangi setelah seminggu. (DRUG OF CHOICE)

HERPES ZOSTER
Etiologi
Varicella zoster
Anamnesis
Didahului oleh gejala awal seperti sensai abnormal, nyeri otot lokal, nyeri tulang, pegal,
gatal, rasa terbakar. Gejala ini berlangsung 1 – 10 hari, rata-rata 2 hari. Gejala dapat disertai
nyeri kepala, lemah tubuh, demam. Setelah itu, akan timbul lesi kemerahan pada kulit yang
gatal dan nyeri. Lesi ini hanya terbatas pada satu tempat. Bila mengenai bagian wajah dan
telinga, akan timbul gejala kelumpuhan otot wajah, gangguan produksi air mata, gangguan
pengecapan, vertigo, tuli.

Pemeriksaan Fisik
Erupsi kulit yang biasanya gatal atau nyeri terlokalisata (terbatas di satu dermatom) berupa
makula eritematous. Kemudian berkembang menjadi papul, vesikel jernih berkelompok
selama 3-5 hari. Selanjutnya isi vesikel menjadi keruh dan akhirnya pecah menjadi krusta
(berlangsung selama 7-10 hari). Erupsi kulit mengalami involusi setelah 2-4 minggu. Bila
menyerang nervus fasialis dan nervus auditorius terjadi Sindrom Ramsay-Hunt, yaitu erupsi
kulit timbul di liang telinga luar atau membrane timpani disertai paresis fasialis, gangguan
lakrimasi, gangguan pengecap 2/3 bagian depan lidah, tinnitus, vertigo dan tuli.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan dengan teknik polymerase chain reaction (PCR), kultur virus, direct
immunofluorecent antigen-staining

Diagnosis Banding
Herpes zoster awal: dermatitis venenata, dermatitis kontak
Herpes zoster di daerah genital: herpes simpleks
Herpes zoster diseminata: varisela
Terapi
Sistemik:
1. Obat antivirus
 Famciclovir 3x500 mg/hari
 Valacyclovir 3x1000 mg/hari
 Acyclovir 5x800 mg/hari
Diberikan 72 jam sebelum awitan lesi, selama 7 hari
2. Analgetik
 Nyeri ringan: Paracetamol 3x500 mg/hari atau NSAID
 Nyeri sedang-berat: kombinasi dengan tramadol atau opioid ringan
 Pada pasien dengan kemungkinan terjadinya neuralgia pasca herpes zoster selain
diberi acyclovir pada fase akut, dapat diberikan:
- Antidepresan trisiklik
- Gabapentin
- Pregabalin
Topikal
1. Stadium vesikular: bedak salisil 2% untuk mencegah vesikel pecah atau bedak kocok
kalamin untuk mengurangi nyeri dan gatal
2. Kompres: kompres terbuka dengan solusio burowi dan solusio calamine dapat digunakan
pada lesi akut untuk mengurangi nyeri dan pruritus. Kompres dengan solusio burowi
dilakukan 4-6 kali/hari selama 30-60 menit. Kompres dingin juga sering digunakan
3. Jika timbul luka dengan tanda infeksi sekunder dapat diberikan krim/salep antibiotik

DERMATITIS ATOPIK
Etiologi
Faktor yang berperan dalam terjadinya atopi: faktor genetik, lingkungan, sawar kulit,
imunologik, psikologis

Anamnesis
Keluhan berbeda-beda bergantung pada fase-fasenya. Umumnya pasien mengeluhkan gatal,
kulit kering, timbul lesi yang gatal dan kemerahan, ada riwayat keluarga yang memiliki
alergi, riwayat timbul keluhan jika terpajan suatu allergen.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik berbeda-beda bergantung pada fase-fasenya.
 Fase infantil (usia 2 bulan sampai 2 tahun). Tempat predileksi utama di wajah diikuti
kedua pipi dan tersebar simetris. Lesi dapat meluas ke dahi, kulit kepala, telinga, leher,
pergelangan tangan, dan tungkai terutamadi bagian volar atau fleksor. Gambaran klinis
pada fase ini lebih mirip dermatitis akut, eksudatif, erosi, dan ekskoriasi. Karena gatal dan
garukan lesi mudah mengalami infeksi sekunder. Lesi beryoa eritema, papulovesikel yang
halus dan gatal. Bila digaruk akan pecah, mengeluarkan eksudat, dan terbentuk krusta.
 Fase anak (usia 2 tahun sampai 10 tahun). Predileksi lebih sering di fosa kubiti dan
popliteal, felksor pergelangan tangan, kelopak mata dan leher, dan tersebar simetris. Kulit
pasien dan kulit pada lesi cenderung kering. Lesi cenderung menjadi kronis, disertai
hiperkeratosis, hiperpigmentasi, erosi, ekskoriasi, krusta, dan skuama.
 Fase remaja dan dewasa. Predileksi mirip fase anak, dapat meluas mengenai kedua
telapak tangan, jari, pergelangan tangan, bibir, leher bagian anterior, kulit kepala dan
puting susu. Lesi bersifat kronis berupa plak hiperpigmentasi, hiperkeratosis, erosi,
ekskoriasi, krusta dan skuama. Rasa gatal lebih hebat saat beristirahat, udara panas,
berkeringat

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang hanya dilakukan bila ada keraguan klinis. Peningkatan kadar IgE
dalam serum juga dapat teradi pada sekitar 15% orang sehat, demikian pula kadar eosinofil,
sehingga tidak patognomonik. Uji kulit dilakukan bila ada dugaan pasien alergik terhadap
debu atau makanan tertentu, bukan untuk diagnostik.

Diagnosis Banding
Fase bayi: dermatitis seboroik, dermatitis popok, psoriasis
Fase anak: dermatitis numularis, dermatitis intertriginosa, dermatitis kontak, dermatitis
traumatika
Fase dewasa: neurodermatitis

Terapi
Masalah dermatitis atopic sangat kompleks sehingga dalam penatalaksanaannya perlu
dipertimbangkan berbagai faktor yang memengaruhi, upaya preventif, atau terapi kausal
sesuai etiologi dan sebagian pathogenesis penyakit yang telah diketahui.

Kongres Konsensus Internasional Dermatitis Atopik ke II di New Orleans tahun 2002 telah
menyepakati pedoman terapi DA dengan memperhatikan:
1. Efektivitas obat sistemik yang aman, bertujuan untuk mengurangi rasa gatal, reaksi
alergik dan inflamasi. Sebagian besar terapi sistemik dapat diberikan antihistamin
(generasi sedatif atau non-sedatif sesuai kebutuhan) dan kortikosteroid. Pemberian
kortikosteroid sistemik bukan merupakan hal yang rutin, digunakan terutama pada kasus
yang parah atau rekalsitrans, dengan memperhatikan efek samping jangka panjang.
2. Jenis terapi topikal berupa:
 Kortikosteroid (sebagai antiinflamasi, antipruritus dan imunosupresif, dipilih yang
aman untuk dipakai jangka panjang)
 Pelembab (untuk mengatasi gangguan sawar kulit)
 Obat penghambat kalsineurin (pimekrolimus atau takrolimus)
3. Kualitas kehidupan dan tumbuh kembang anak

SSJ-NET OVERLAP
SSJ dan NET merupakan reaksi mukokutan akut yang mengancam jiwa, ditandai dengan
nekrosis luas dan pengelupasan epidermis. Keduanya memiliki kesamaan dalam gambaran
klinis, gambaran histopatologis, faktor resiko, etiologi, dan patogenesisnya. Perbedaan hanya
terletak pada luas permukaan tubuh yang terkena. Pada SSJ, epidermolisis hanya ditemukan
pada < 10% LPB, NET bila epidermolisis > 30% LPB dan overlap SSJ-NET bila
epidermolisis 10-30% LPB.

Etiologi
Mekanisme pasti belum sepenuhnya diketahui. Sebagian besar kasus SSJ-NET disebabkan
karena alergi obat.

Anamnesis
Didapatkan keluhan seperti gejala non spesifik sebelum timbul lesi kulit berupa demam, sakit
kepala, batuk/pilek, rasa lemah badan. Setelah itu akan muncul lesi kulit seperti melepuh dan
terkelupas. Keluhan diawali oleh adanya riwayat konsumsi obat tertentu yang belum pernah
dikonsumsi sebelumnya dan dicurigai adaya alergi.

Pemeriksaan Fisik
Lesi kulit: makula eritematosa atau purpurik, dapat dijumpai lesi target. Lesi kulit meluas da
berkembang menjadi nekrotik sehingga terjadi bula kendu dengan tanda Nikolsky positif. Lesi
tersebar secara simetris pada wajah, badan, dan bagian proksimal ekstremitas.
Lesi mukosa: eritema dan erosi pada minimal 2 lokasi yaitu mulut dan konjungtiva, dapat
pula ditemukan erosi di daerah genital.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk evaluasi keparahan penyakit dan untuk
tatalaksana pasien. Pemeriksaan yang perlu dilakukan adalah darah lengkap, analisis gas
darah, kadar elektrolit, albumin dan protein darah, fungsi ginjal, fungsi hepar, gula darah
sewaktu, dan foto rontgen paru.
Diagnosis Banding
Eritema multiforme, staphylococcal scalded skin syndrome, generalized bullous fixed drug
eruption, acute generalized exanthematous pustulosis, dan lupus eritematous bulosa.

Terapi
Deteksi dini dan pengentian segera obat tersangka, serta perawatan suportif di rumah sakit.
Perawatan suportif mencakup mempertahankan keseimbangan cairan, elektrolit, suhu
lingkungan yang optimal 28-300C, nutrisi sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan asupan
makanan, perawatan kulit secara aseptik tanpa debridement, perawatan mata dan mukosa
mulut, penggunaan kortikosteroid sistemik.

PITIRIASIS ROSEA
Etiologi
Tidak diketahui secara pasti. Diduga berkaitan dengan reaktivasi virus HHV-7 dan HHV-6

Anamnesis
Pasien mengeluh rasa gatal, timbul lesi pertama di badan diikuti timbul lesi lainnya di tubuh.
Keluhan dapat disertai dengan gejala flu, rasa lemah badan, nyeri kepala, mual, hilang nafsu
makan, demam, nyeri sendi.

Pemeriksaan Fisik
Timbul lesi pertama (herald patch) di badan, soliter, berbentuk oval dan anular, diameter
kurang lebih 3 cm. Ruam terdiri atas eritema dan skuama halus di pinggir. Lesi berikutnya
lebih khas, lebih kecil dari lesi awal, susunan sejajar kosta menyerupai pohon cemara
terbalik. Tempat predileksi pada batang tubuh, lengan bagian atas bagian proksimal dan
tungkai atas, sehingga menyerupai pakaian renang perempuan zaman dahulu. Lesi ini muncul
4-10 hari setelah lesi pertama

Diganosis Banding
 Tinea korporis: skuama pada tine korporis lebih kasar, keluhan gatal lebih berat dan
pemeriksaan KOH hasilnya positif
 Sifilis sekunder: pada sifilis sekunder terdapat riwayat chancre dan tidak terdapat riwayat
herald patch
 Dermatitis numularis: pada dermatitis numularis, plak biasanya berbentuk sirkular. Lesi
lebih banyak ditemukan di tungkai bawah atau punggung tangan
 Psoriasis guttata: psoriasis gutata biasanya berukuran lebih kecil dan tidak tersusun seusai
lipatan kulit, dan skuamanya tebal.

Terapi
Pengobatan bersifat simtomatik. Dapat diberikan antihistamin. Untuk pengobatan topikal
dapat diberikan bedak asam salisilat yang dibubuhi mentol 0,5% - 1%. Bila terdapat gejala
menyerupai flu dan/atau kelainan kulit luas, dapat diberikan asiklovir 5x800 mg/hari selama
7 hari. Pada kelainan kulit yang luas dapat diberikan terapi sinar UVB.

SELULITIS
Etiologi
Streptococcus B hemolyticus

Anamnesis
Adanya keluhan gejala seperti demam, menggigil, rasa lemah badan. Tampak kelainan kulit
berupa kemerahan, bengkak, dan nyeri tekan.

Pemeriksaan Fisik
Lesi eritema, hangat, edema, terdapat nyeri tekan. Lesi difus, tidak berbatas tegas, disertai
tanda radang akut. Predileks umumnya mengenai ekstremitas bawah.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaand darah lengkap menunjukkan leukositosis

Diagnosis Banding
Erisipelas: Pada erisipelas, peradangan lebih superfisial, serta mengenai kelenjar limfe
dermis. Lesi tampak eritema berwarna merah cerah, berbatas tegas.

Terapi
Istirahat, tungkai bawah dan kaki yang diserang ditinggikan (elevasi), sedikit lebih tinggi dari
letak jantung. Pengobatan sistemik dengan antibiotik; topikal diberikan kompres terbuka
dengan larutan antiseptik. Jika terdapat edema diberikan diuretika.
MORBUS HANSEN MULTIBASILER
Etiologi
Mycobacterium leprae

Anamnesis
Timbulnya lesi pada kulit yang mati rasa. Pada MH Multibasiler, lesi kulit lebih dari 5.
Pasien juga memiliki riwayat kontak erat dan lama dengan pasien kusta. Biasanya pasien
memiliki latar belakang keluarga dengan riwayat tinggal di daerah endemis, dan keadaan
sosial ekonomi rendah.

Pemeriksaan Fisik
1. Inspeksi kulit (lokasi dan morfologi)
2. Palpasi
 Kelainan kulit: nodus, infiltrat, jaringan parut, ulkus, khususnya pada tangan dan kaki
 Kelainan saraf: pemeriksaan saraf tepi (pembesaran, konsistensi, nyeri tekan, dan
nyeri spontan)
3. Tes fungsi saraf
 Tes sensoris: rasa raba, nyeri, dan suhu
 Tes otonom
 Tes motorik: voluntary muscle test (VMT)

Lokasi pemeriksaan saraf tepi:


N. facialis, N. auricularis magnus, N. radialis, N. ulnaris, N. medianus, N. cutaneous radialis,
N. peroneus communis (popliteal lateralis), N. tibialis posterior.

Gejala-gejala kerusakan saraf


1. Nervus ulnaris
 Anestesia pada ujung jari anterior kelingking dan jari manis
 Clawing kelingking dan jari manis
 Atrofi hipotenar dan otot inerosseus serta kedua otot lumbrikalis medial
2. Nervus medianus
 Anestesia pada ujung jari bagian anterior ibu jari, telunjuk, dan jari tengah
 Tidak mampu adduksi ibu jari
 Clawing ibu jari, telunjuk, dan jari tengah
 Ibu jari kontraktur
 Atrofi otot tenar dan kedua otot lumbrikalis lateral
3. Nervus radialis
 Anestesia dorsum manus dan ujung proksimal jari telunjuk
 Wrist drop
 Tidak mampu ekstensi jari-jari atau pergelangan tangan
4. Nervus poplitea lateralis
 Anestesia tungkai bawah, bagian lateral dan dorsum pedis
 Foot drop
 Kelemahan otot peroneus
5. Nervus tibialis posterior
 Anestesia telapak kaki
 Claw toes
 Paralisis otot intrinsik kaki dan kolaps arkus pedis
6. Nervus fasialis
 Gangguan pada cabang temporal dan zigomatik menyebabkan lagoftalmus
 Gangguan pada cabang bukal, mandibular, dan servikal menyebabkan kehilangan
ekspresi wajah dan kegagalan mengatupkan bibir
7. Nervus trigeminus
 Anestesia kulit wajah, kornea, dan konjungtiva mata

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan bakterioskopik untuk menilai BTA. Sediaan dibuat dari kerokan jaringan kulit
atau usapan dan kerokan mukosa hidung yang diwarnai dengan pewarnaan terhadap basil
tahan asam antara lain ZIEHL-NEELSEN. Pada MHMB, didapatkan BTA positif. Pada
pemeriksaan bakterioskopik, dinilai indeks bakteri (IB) yaitu kepadatan BTA tanpa
membedakan solid dan non solid; morfologi indeks (MI) yaitu persentase bentuk solid
dibandingkan jumlah solid dan non solid. Pemeriksaan lainnya yang dapat dilakukan yaitu
pemeriksaan histopatologik, pemeriksaan serologik seperti uji MLPA (Mycobacterium
Leprae Particle Aglutination), uji ELISA, ML dipstick, ML Flow test
Diagnosis Banding
Lesi makular: vitiligo, pitiriasis versikolor, pitiriasis alba
Lesi meninggi: granuloma annulare, tinea circinata, psoriasis
Lesi noduler: penyakit Von Recklinghausen

Terapi
Rifampicin 600 mg/bulan
DDS 100 mg/bulan  minum di rumah DDS 100 mg/hari
Clofazimine 300 mg/bulan  minum di rumah Clofazimine 50 mg/hari
Jangka waktu pengobatan: 12-18 bulan

GONORE
Etiologi
Neisseria gonorrhoeae

Anamnesis
Keluhan pasien yaitu rasa gatal dan panas di kemaluan tempat keluar urin, keluar cairan dari
kelamin yang berwarna putih kekuningan kental dan kadang-kadang disertai darah. Pasien
juga mengeluhkan nyeri saat berkemih, nyeri saat berhubungan seksual dan nyeri saat ereksi.
Dari riwayat kehidupan pribadi, ditemukan pasien sering gonta-ganti pasangan, atau sering
berhubungan dengan PSK. Gonore pada wanita 50% asimpotamis. Keluhan dapat berupa
keluar cairan dari vagina yang berwarna putih kental dan gatal, nyeri saat berkemih.

Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik ditemukan Orifisium Uretra Eksterna (OUE) hiperemis, edema,
ektropion. Pada beberapa kasus dapat terjadi pembesaran kelenjar getah bening inguinal
medial unilateral atau bilateral.

Pemeriksaan Penunjang
 Sediaan langsung dengan pewarnaan gram ditemukan Gonokokkus gram negative,
intraseluler dan ekstraseluler.
 Kultur. Untuk identifikasi spesies perlu dilakukan pemeriksaan kultur. Dapat digunakan 2
macam media yaitu media transport dan media pertumbuhan. Contoh media transpor
yaitu media stuart, media transgrow. Contoh media pertumbuhan yaitu Mc. Leod’s
chocolate agar, media Thayer martin, Modified Thayer martin agar.
 Tes idnetifikasi presumtif dan konfirmasi (definitif)
- Tes oksidase. Reagen oksidase ditambahkan pada koloni gonokok. Smua Neisseria
memberi reaksi positif dengan perubahan warna koloni yang semula bening berubah
menjadi merah muda sampai merah lembayung
- Tes fermentasi. Jika tes oksidase positif dilanjutkan dengan fermentasi memakai
glukosa, maltosa, dan sukrosa. N. Gonorrhoeae hanya meragikan glukosa
 Tes beta lactamase
 Tes Thomson. Tes ini berfungsi untuk mengetahui sampai di mana infeksi sudah
berlangsung
 Pemeriksaan lain: ELISA, imunifluoresensi,dll
 Darah lengkap

Diagnosis Banding
Infeksi Genital Non Spesifik

Terapi
Cefixime 400 mg per oral dosis tunggal; atau
Kanamycin 2 gr IM dosis tunggal; atau
Ceftriaxone 250 mg IM dosis tunggal

BACTERIAL VAGINOSIS
Etiologi
Bertambah banyaknya organisme komensal dalam vagina (Gardnerella vaginalis, Prevotella,
Mobilincus spp), serta berkurangnya organisme Lactobacillus yang menghasilkan hydrogen
peroksida. Pada vagina yang sehat, Lactobacillus mempertahankan suasana asam dan aerob.
Penyakit ini sering ditemukan pada wanita usia reproduktif, aktif seksual, pengguna AKDR,
dan melakukan bilas vagina.

Anamnesis
Biasanya 50% asimtomatik. Pasien datang dengan keluhan keluar cairan atau keputihan yang
berbau amis. Keluhan disertai gatal, nyeri saat berkemih.
Pemeriksaan Fisik
Duh vagina berwarna abu-abu homogen, viskositas rendah atau normal, berbau amis, melekat
di dinding vagina seringkali terlihat d labia, pH sekret berkisar 4,5-5,5. Tidak ditemukan
tanda peradangan, gambaran serviks normal.

Pemeriksaan Penunjang
 Sediaan basah dari duh vagina dengan NaCl fisiologis yang dilihat dibawah mikroskop
didapatkan adanya clue cells
 Tes amin. Duh vagina ditetesi KOH 10%, hasilnya positif jika timbul bau amis

Terapi
Metronidazole 2 gram per oral dosis tunggal
Metronidazole 2x500 mg per hari selama 7 hari
Klindamisin 2x300 mg per hari selama 7 hari