Anda di halaman 1dari 5

ABSTRAK

Rumput perimping berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku industri


kimia. Metode fraksionasi biomassa dapat mengkonversi rumput perimping
menjadi produk yang lebih bernilai ekonomis, karena rumput perimping
merupakan bahan yang berlignoselulosa. Percobaan ini bertujuan untuk
memahami pengaruh variabel terhadap produk fraksionasi biomassa, menghitung
yield serta persentase recovery komponen-komponen utama biomassa.
Fraksionasi rumput perimping dilakukan dengan variasi waktu pemanasan 1, 2
dan 3 jam, serta variasi rasio black liquor terhadap air sebesar 1:10; 1:15 dan 1:20
untuk setiap waktunya. Dari hasil percobaan, didapat perolehan selulosa terbesar
pada waktu 1 jam yaitu sebesar 54% dan perolehan lignin terbesar pada waktu 3
jam dengan perbandingan black liquor terhadap air 1:20 yaitu sebesar 0,036 gram.

Kata kunci : Black liquor, fraksionasi biomassa, lignin, rumput perimping,


selulosa

iii
12

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Peryataan Masalah


Pengolahan biomassa secara fraksionasi dengan menggunakan pelarut
organik didasarkan pada perbedaan sifat kimia-fisik dari komponen penyusunnya.
Metode fraksionasi biomassa dengan pelarut organik telah banyak dikembangkan
karena memiliki beberapa keunggulan yaitu tidak menggunakan unsur belerang
dalam produksinya sehingga tidak menimbulkan odour problem, daur ulang bahan
kimia dapat dilakukan dengan cara yang sangat sederhana dan dapat
menghasilkan produk samping (by-products) (Fitri et al., 2014).

Proses organosolv merupakan salah satu metode fraksionasi biomassa yang


menggunakan pelarut organik sebagai media pemrosesan. Pelarut organik yang
bisa digunakan adalah fenol, glikol, ester, asam organik, aseton, amonia dan
amina. Asam organik yang banyak dikembangkan dalam proses organosolv
adalah asam formiat. Keunggulan asam formiat sebagai media pemroresan adalah
memiliki selektifitas yang tinggi terhadap proses delignifikasi, harga relatif
murah, dapat dilakukan pada suhu rendah dan tekanan atmosfir (Oktarizona et al.,
2016).

Rumput perimping berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku


industri kimia. Metode fraksionasi biomassa dapat mengkonversi rumput
perimping menjadi produk yang lebih bernilai ekonomis, karena rumput
perimping merupakan bahan yang berlignoselulosa. Pemanfaatan rumput
perimping sebagai bahan baku fraksionasi biomassa (organosolv) belum pernah
dilakukan. Oleh karena itu, kajian mengenai fraksionasi rumput perimping perlu
dipelajari lebih lanjut untuk pengembangan asam formiat sebagai media
fraksionasi. Perlakuan kondisi proses yang sesuai diharapkan dapat menghasilkan
produk dengan kualitas yang sesuai standar. Dengan metode RSM diyakini akan
diperoleh kondisi yang dapat menghasilkan pemilahan biomassa secara selektif.
Sehingga, upaya pemanfaatan rumput perimping dengan metode fraksionasi
diketahui kehandalannya (Oktarizona et al.,2016).
13

1.2 Tujuan Percobaan


Setelah mengikuti praktikum ini, mahasiswa mampu :
1. Menjelaskan pengaruh variabel terhadap produk fraksionasi biomassa
2. Menghitung neraca massa pada sistem fraksionasi biomassa
3. Menghitung yield sistem fraksionasi biomassa
4. Menghitung persentase recovery komponen-komponen biomassa.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Semakin lama waktu reaksi maka semakin sedikit selulosa yang diperoleh
dan semakin banyak lignin yang didapatkan.
2. Selulosa yang didapatkan berkisar antara 50-54 % dengan perolehan
terbesar yaitu pada saat waktu reaksi 1 jam.
3. Perolehan lignin dalam percobaan ini berkisar antara 23,55-42,5 % dengan
perolehan lignin terbesar pada sampel 3 jam dengan rata-rata 42,5 %.

5.2 Saran
1. Praktikan seharusnya menggunakan masker yang sesuai standar agar bau
asam tidak terhirup.
2. Praktikum sebaiknya tidak dilakukan di ruang terbuka atau sebaiknya
dilakukan di dalam ruangan asam agar bau asam tidak menyebar.
3. Dalam praktikum ini sebaiknya menggunakan kondensor agar hasil yang
didapat lebih bagus.

15