Anda di halaman 1dari 63

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di zaman moderen seperti sekarang ini, selain untuk meringankan kerja manusia, alat-alat

yang digunakan diharapkan mempunyai nilai lebih untuk mempermudah aktifitas manusia.

Nilai lebih itu, antara lain adalah kemampuan alat tersebutuntuk lebih menghemat tenaga dan

waktuyang diperlukan manusia dalam melakukan sebuah kegiatan.

Sudah menjadi sifat manusia tidak ingin direpotkan dengan hal-hal kecil seperti

mengayunkan ayunan bayi saat bayi menangis dikarenakan kepanasan. bagi orang tua yang

memiliki bayi, menginginkan segala sesuatu yang serba praktis agar dapat meringankan

pekerjaannya tanpa mengganggu bayinya. Untuk mempermudah aktifitas diperlukan sesuatu

sistem yang otomatis dalam menjaga kondisi suhu pada area ayunan bayi yang mampu

membantu orang tua untuk menenangkan bayi saat menangis.

Perkembangan teknologi memungkinkan manusia untuk membuat alat yang dapat

memudahkan aktifitas. Alat tersebut diharapkan mempunyai nilai lebih dari sekedar untuk

meringankan kerja manusia. Nilai lebih itu antara lain adalah kemampuan alat untuk bisa

lebih menghemat waktu yang di perlukan manusia dalam melakukan suatu kegiatan atau

pekerjaan.

Sering sekali ibu rumah tangga kelelahan dalam mengipas untuk menidurkan anaknya dan

setelah itu meninggalkan anaknya dalam keadaan tertidur diranjang untuk melakukan aktifitas

yang lain dan kadang kala seorang anak susah untuk tidur dikarenakan suhu yang tidak stabil

atau anak kepanasan. Maka perlu adanya alat yang mampu atau bisa mengubah suhu pada

ayunan bayi menjadi sejuk agar bayi dapat tidur dengan nyenyak.

1
Dengan dilakukannya perancangan alat ayunan bayi dengan pengatur suhu yang stabil
sesuai yang diinginkan, diharapkan dapat membantu ibu dalam menidurkan anaknya sehingga
para ibu dapat melakukan pekerjaan yang lain ketika anak tertidur di ayunan. Pada penelitian
ini, maka penulis mencoba untuk merancang sebuah alat yang bisa mengontrol suhu pada area
ayunan bayi dengan menggunakan kipas dan sensor suhu LM35 sebagai pengontrol suhunnya.
(Andika Framudia Mapanji, 2015)

B. Batasan Masalah

1). Alat ini hanya menggunakan kipas untuk pengaturan suhu

2). Pada alat ini hanya menggunakan satu kipas

3). Alat ayunan bayi ini menggunakan sensor LM 35 untuk pengukur suhu pada area

ayunan bayi.

4). Berat maksimal yang bisa ditampung ayunan ini 8 kg

C. Rumusan Masalah

1). Bagaimana cara merancang alat ayunan bayi yang menggunakan pengatur suhu?

2). Bagaimana cara menjaga kondisi suhu disekitar ayunan bayi agar tetap stabil.?

D. Tujuan

1). Merancang alat ayunan bayi yang menggunakan pengatur suhu

2). Menjaga kondisi suhu disekitar ayunan bayi agar tetap stabil

E. Manfat

Pengayun bayi otomatis ini digunakan untuk membantu para ibu yang memiliki bayi

dan kesulitan untuk menenangkan bayinya untuk tidur.Selain itu dengan adanya rancangan

ini orang tua bayi dapat tetap dapat melakukan aktivitas lainnya tanpa perlu kawatir sang

bayi tidak tidur dalam waktu yang cukup karena sistem yang dirancang dapat memberikan

informasi kondisi sang bayi dalam ayunan

2
BAB II

LANDASAN TEORI

A. Gerak Harmonik Sederhana

Gerak Harmonik Sederhana adalah gerak bolak balik secarateratur melalui titikkeseimban

gannya dengan banyaknya getaran benda dalam setiap sekon selalu sama atau konstan.

Setiapgerak yang terjadi secara berulang dalam selang waktu yang sama disebut gerak

periodik. Karena gerak ini terjadi secara teratur maka disebut juga sebagai gerakharmonik.

Apa bila suatu partikel melakukan gerak periodic pada lintasan yang sama maka geraknya

disebut gerak osilasi/getaran. Bentuk yang sederhana darigerak periodic adalah benda yang

berosilasi pada ujung pegas. Karenanya kita menyebutnya gerak harmonis sederhana.

Apabila dibuatkan grafik, gerak harmonis akan membentuk grafik sinus atau sinusoidal

sepertipada gambar 2. 1 dibawah berikut:

Gambar2.1,GelombangSinusoidal Gerak Harmonis Sederhana

Dalam gerak harmonik terdapat beberapa besaran fisika yang dimiliki benda diantaranya:

1. Simpangan (y): jarak benda dari titik keseimbangan

2. Amplitudo (A): simpangan maksimum atau jarak terjauh

3. Frekuensi (f): banyaknya getaran setiap waktu

4. Perioda(T):banyaknya waktu dalam satu getaran

3
GerakHarmonik Sederhanadapat dibedakan menjadi 2 bagian,yaitu:

1. Gerak Harmonik Sederhana (GHS) Linier, misalnya penghisap dalam silinder gas, gerak

osilasiair raksa /air dalam pipa U, gerak horizontal/ vertikal dari pegas, dan sebagainya.

2. Gerak Harmonik Sederhana (GHS) Angular, misalnya gerak bandul/bandul fisis, osilasi

ayunan torsi, dan sebagainya. Beberapa Contoh Gerak Harmonik Sederhana:

1. Gerak harmonik padabandul

Gambar2.2,GerakHarmonik padaBandul

Berdasarkan gambar 2.2, diatas ketika beban digantungkan pada ayunan dan tidak

diberikan gaya, maka benda akan diam dititik keseimbangan B. Jika beban ditarik ketitik A

dan dilepaskan, maka beban akan bergerak ke B, C, lalu kembali lagike A. 1 getaran adalah

gerakan bolakbalik dari A-B-C-B-A. Gerakan beban akan terjadi berulang secara periodik,

dengan katalain beban pada ayunan diatas melakukan gerak harmonik sederhana.(Nando

Agustina Purba, 2013)

4
2. Gerak harmonik padapegas

Gambar2.3,GerakVertikalpadaPegas

Semua pegas memiliki panjang alami sebagaimana tampak pada gambar 2.3, diatas.

Ketika sebuah benda dihubungkan keujung sebuah pegas, maka pegas akan meregang

(bertambahpanjang) sejauh y. Pegas akan mencapai titik kesetimbangan jika tidak diberikan

gayaluar. (Nando Agustina Purba, 2013)

B. Ayunan Bayi

Ayunan elektrik ini merupakan ayunan yang dapat mengayun secara otomatis

menggunakan sumber tegangan dari baterai atau adaptor pada saat ayunan dinyalakan.

Ayunan ini menggunakan rangkaian mikrokontroller yang berasal dari pabrik pembuatan

ayunan tersebut. Ayunan ini berfugsi untuk membantu bayi tertidur dan membantu ibu dalam

menenangkan sang bayi.(Sitanggang Restu, 2018)

5
Adapun gambar ayuna bayi elektrik sebagai berikut:

Gambar 2.4,Ayunan Bayi Elektrik. ( find complete detail about 2018 )

Kecepatan pada kipas DC dihasilkan dari analisa rotary oleh mikrokontroller untuk

kecepatan kipas sesuai dengan input kecepatan yang diinginkan,dengan spesifikasi ayunan

sebagai berikut:

1. Kecepatan kipas pada ayunan bisadiatur.

2. Kipas bisa diatur sampai 3 jenis kecepatan.

3. Dilengkapai dengan kipas angin.

4. Dilengkapi dengan sensor suhu LM 35.

5. Bisa menahan berat sampai 8 kilogram.

C. Mikrokontroler

Mikrokontroler (bahasa Inggris : microcontroller) menurut wikipedia. org adalah sistem

mikroprosesor lengkap yang terkandung di dalam sebuah chip. Mikrokontroller berbeda dari

mikroprosesor serba guna yang di gunakan dalam sebuah PC, karena didalam sebuah

6
mikrokontroler umumnya juga telah berisi komponen pendukung sistem minimal

mikroprosesor, yakni memori dan antarmuka I/O, sedangkan didalam mikroprosesor

umumnya hanya berisi CPU saja. (Angga Khalifa Tsuki, 2016)

Sistem computer dewasainipaling banyak justru terdapat didalam peralatan lain, seperti

telepon, jam, perangkat rumah tangga, kendaraan, dan bangunan. Sistem embedded biasanya

mengandung syarat minimal sebuah sistem mikroprosesor yaitu memori untuk data dan

program, sertasistem antarmuka input/outputyang sederhana. Antarmuka seperti keyboard,

display, disket, atau printeryang umumnya ada pada sebuah computer pribadi justru tidak

adapada sistem mikrokontroler. Sistemmikrokontroler lebih banyak melakukan pekerjaan-

pekerjaan sederhana yang penting seperti mengendalikan motor, saklar, resistor variabel, atau

perangkat elektronik lain.(Angga Khalifa Tsuki, 2016)

Berbeda dengan CPU serbaguna, mikrokontroller tidak selalu memerlukan memori

eksternal, sehingga mikrokontroller dapat dibuat lebih murah dalam kemasan yang lebih kecil

dengan jumlah pin yang lebih sedikit.(Angga Khalifa Tsuki, 2016)

Mikrokontroler umumnya memilikifitur :

1. CPU (Central Processing Unit), mulai dari prosesor 4-bit yang sederhana hingga

prosesor kinerja tinggi 64-bit.

2. RAM (Random Access Memory) untuk menyimpan data.

3. EEPROM / EPROM / PROM / ROM atau flashmemory untuk menyimpan program

komputer.

4. Input / output antarmuka jaringan seperti portserial(UART).

5. Antarmuka komunikasi serial seperti Serial Peripheral Interface dan

7
6. Control Area Network untuk sambungan sistem.

7. Timer.

1. Interupt Controller.

2. ADC sebagai pengubah analogkedigital.

 ATMega328

Gambar2.5,Bentuk mikrokontroler IC atmega 328(Angga Khalifa Tsuki, 2016)

ATMega328 merupakan mikrokontroler keluarga AVR 8 bit. Beberapa

tipe mikrokontroler yang sama dengan ATMega8 ini antara lain ATMega8535, ATMega16,

ATMega32, ATmega328, yang membedakan antara mikrokontroler antara lain adalah,

ukuran memori, banyaknya (pin input/output), (USART, timer, counter, dll). Dari segi ukuran

fisik, ATMega328 memiliki ukuran fisik lebih kecil dibandingkan dengan beberapa

mikrokontroler yang telah dijelaskan dalam ukurun atau bentuk yang lebih kecil juga

mempunyai keuntungan Namun untuk segi memori dan periperial lainnya ATMega328 tidak

kalah dengan yang lainnya karena ukuran memori dan periperialnya relatif sama dengan

ATMega8535, ATMega32, hanya saja jumlah GPIO lebih sedikit dibandingkan

mikrokontroler yang lainnya.( Angga Khalifa Tsuki, 2016)

8
Gambar 2.6,ATMega328

ATMega 328 telah memiliki 3 buah PORT utama yaitu PORT B, PORT C, dan

dengan  pin input/output sebanyak 23 pin. PORT tersebut dapat difungsikan sebagai input/out

put digital atau difungsikan sebagai peripheral lainnya. (Angga Khalifa Tsuki, 2016)

1. Port B

Port B merupakan jalur data 8 bit yang dapat difungsikan sebagai input/output. Selain itu

PORTB juga dapat memiliki fungsi alternatif seperti di bawah ini.

a. ICP1 (PB0), berfungsi sebagai Timer Counter 1 input capture pin.

b. OC1A (PB1), OC1B (PB2) dan OC2 (PB3) dapat difungsikan sebagai keluaran PWM

(Pulse Width Modulation).

c. MOSI (PB3), MISO (PB4), SCK (PB5), SS (PB2) merupakan jalur komunikasi SPI.

d. Selain itu pin ini juga berfungsi sebagai jalur pemograman serial (ISP).

e. TOSC1 (PB6) dan TOSC2 (PB7) dapat difungsikan sebagai sumber clock external

untuk timer.

f. XTAL1 (PB6) dan XTAL2 (PB7) merupakan sumber clock utama mikrokontroler. 

9
2. Port C

Port C merupakan jalur data 7 bit yang dapat difungsikan sebagai input/output digital.

Fungsi alternatif PORTC antara lain sebagai berikut:

a. ADC6 channel (PC0,PC1,PC2,PC3,PC4,PC5) dengan resolusi sebesar 10 bit. ADC

dapat kita gunakan untuk mengubah input yang berupa tegangan analog menjadi data

digital

b. I2C (SDA dan SDL) merupakan salah satu fitur yang terdapat pada PORTC. I2C

digunakan untuk komunikasi dengan sensor atau device lain yang memiliki komunikasi

data tipe I2C seperti sensor kompas, accelerometer nunchuck.

3. Port D

Port D merupakan jalur data 8 bit yang masing-masing pinnya juga dapat difungsikan

sebagai input/output. Sama seperti Port B dan Port C, Port D juga memiliki fungsi

alternatif sebagai berikut:

a. USART (TXD dan RXD) merupakan jalur data komunikasi serial dengan level sinyal

TTL. Pin TXD berfungsi untuk mengirimkan data serial, sedangkan RXD

kebalikannya yaitu sebagai pin yang berfungsi untuk menerima data serial.

b. Interrupt (INT0 dan INT1) merupakan pin dengan fungsi khusus sebagai interupsi

hardware. Interupsi biasanya digunakan sebagai selaan dari program, misalkan pada

saat program berjalan kemudian terjadi interupsi hardware/software maka program

utama akan berhenti dan akan menjalankan program interupsi.

10
c. XCK dapat difungsikan sebagai sumber clock external untuk USART, namun kita juga

dapat memanfaatkan clock dari CPU, sehingga tidak perlu membutuhkan external

clock.

T0 dan T1 berfungsi sebagai masukan counter external untuk timer 1 dan timer 0.

(Angga Khalifa Tsuki, 2016)

D. Tombol ON/OFF

Gamb2016 ar 2.7, Saklar ON/OFF. (99 elektrik)

Saklar adalah pemutus dsan penyambungaliran arus listrik. Komponen listrik ini

sengaja untuk memiliki dua keadaa, yaitu keadaan menutup (terhubung) dan keadaan

terbuka(tidak terhubung). Dua keadaan tersebut dapat diganti-ganti sehingga rangkaian

dapat di ubah dar derbuka menjadi tertutup, atau sebaliknya, sesuai dengan keadaan kita.

Gambar 2.8, Rangkaian sederhana dengan saklar

11
E. Adaptor

Adaptor adalah sebuah perangkat berupa rangkaian elektronika untukmengubahtegangan

listrik yang besar menjadi tegangan listrik lebih kecil, ataurangkaian untukmengubah arus

bolak-balik (arus AC) menjadi arus searah (arusDC). Adaptor /power supplay merupakan

komponen inti dari peralatan elektronik.Adaptordigunakan untuk menurunkan tegangan AC

22 Volt menjadi kecil antara 3volt sampai 12 volt sesuai kebutuhan alat elektronika. Terdapat

2 jenis adaptorberdasarkan sistem kerjanya, adaptor sistem trafo step down dan adaptor

systemswitching.

Dalam prinsip kerjanya kedua sistem adaptor tersebut berbeda, adaptor

stepdownmenggunakan teknik induksi medan magnet, komponen utamanya adalah

kawatemail yang dililit pada teras besi, terdapat 2 lilitan yaitu lilitan primer dan lilitanskunder,

ketika listrikmasuk kelilitan primer maka akan terjadi induksi pada kawatemail sehingga akan

teerjadigaya medan magnet pada teras besi kemudian akanmenginduksi lilitan

skunder.Sedangkansistem switching menggunakan teknik transistor maupun ICswitching,

adaptor ini lebih baikdari pada adaptor teknik induksi, tegangan yang dikeluarkan lebih stabil

dan komponennyasuhunya tidak terlalu panas sehinggamengurangi tingkat resiko kerusakan

karena suhu berlebih, biasanya regulator ini digunakan pada peralatan elektronik digital.

Adaptor dapat dibagi menjadi empat macam, diantaranya adalah sebagaiberikut :

1. Adaptor DC Converter,adalah sebuah adaptor yang dapat mengubah tegangan DCyang

besar menjadi tegangan DC yang kecil. Misalnya : Dari tegangan 12vmenjadi tegangan 6v.

2. Adaptor Step Up dan Step Down. Adaptor Step Up adalah sebuah adaptor

yangdapatmengubah tegangan AC yang kecil menjadi tegangan AC yang besar.Misalnya :

12
DariTegangan 110v menjadi tegangan 220v. Sedangkan Adaptor StepDown adalah adaptor

yangdapat mengubah tegangan AC yang besar menjaditegangan AC yang kecil. Misalnya :

Daritegangan 220v menjadi tegangan 110v.

3. Adaptor Inverter, adalah adaptor yang`1 dapat mengubah tegangan DC yang

kecilmenjaditegangan AC yang besar. Misalnya : Dari tegangan 12v DC menjadi220v AC.

4. Adaptor Power Supply, adalah adaptor yang dapat mengubah tegangan listrik ACyang

besar menjadi tegangan DC yang kecil. Misalnya : Dari tegangan 220v ACmenjadi

tegangan 6v, 9v, atau 12v DC. (Damayanti, 2017)

Gambar 2.9, Bentuk fisik adaptor(Damayanti, 2017)

F. Sensor Suhu

LM35adalah komponen sensor suhu berukuran kecil seperti transistor (TO-92). Komponen yang

sangat mudah digunakan ini mampu mengukur suhu hingga 100°C. Dengan tegangan keluaran yang

terskala linear dengan suhu terukur, yakni 10 mV/1⁰C. LM35 dapat disuplai dengan tegangan mulai

4V-30 V DC dengan arus pengurasan 60 mikroampere sehingga sangat mudah di aplikasikan pada

sistem berbasis tegangan digital maupun analog. LM35 memiliki tingkat efek self-heating yang rendah

yakni 0,08 ⁰C. (Sasongko, B. 2011)

13
Gambar 2.10, Sensor suhu dan skema sensor suhu LM35(fiftymediasarsi,2016)

LM35 ini tidak memerlukan pengkalibrasian atau penyetelan dari luar karena

ketelitiannya sampai ± ¼ ⁰C pada temperature ruang. Jangka sensor mulai dari -55⁰C

sampai dengan 150⁰C.

Karakteristik dari sensor LM35 yaitu:

1) Memiliki sensitivitas suhu, sengann faktor skala linear antara tegangan dan suhu 10

mVolt/⁰C

2) Memiliki ketepatan atau akurasi kalibrasi yaitu 0,5⁰C pada suhu 25⁰C

3) Memiliki jangkauan maksimal operasi suhu antara -55⁰C sampai +150⁰C

4) Bekerja pada tegangan 4 sampai 30 Volt

5) Memiliki arus rendah yaitu kurang dari 60 µA

6) Memiliki pemanasan sendiri yang rendah (low-heating) yaitu kurang dari 0,1⁰C

pada udara diam

7) Memiliki impedansi keluaran yang rendah yaitu 0,1 W untuk beban 1 mA

8) Memiliki ketidak linearan hanya sekitar ± ¼ ⁰C

G. pulse width modulaction(PWM)

14
Prinsip dasar dari PWM adalah dengan cara memodulasi besarnya siklus kerja (Duty cycle) untuk

mendapatkan sebuah tegangan keluaran yang bervariasi yang merupakan nilai rata-rata dari gelombang

tersebut. Metode ini banyak digunankan dalam mengontrol kecepatan motor, tegangan dan arus pada

power supply, mengatur gerak motor servo, mengatur terang redupnya suatu sumber cahaya

(lampu/LED) dan lain-lain. Sinyal PWM dapat dihasilkan menggunakan alat yaitu fuction generator,

namun sinyal ini juga dapat dihasilkan menggunakan mikrokontroler yang telah diprogram terlebih

dahulu. (Muhamad Sainal Abidin 2017)

Besarnya tegangan keluaran dari PWM merupakan nilai rata-rata dari antara lebar pulsa Ton dan

lebar pulsa Tff dikali dengan tegangan input yang dapat ditulis sebagai berikut:

T on
V out =1+ ×V¿
T on T ff

Pulsa PWM dapat dihasilkan dengan menggunakan Mikrokontroller. Pada Arduino terdapat 6 pin

yang dapat digunakan sebagai pin PWM, yaitu 3, 5, 6, 9, 10, dan 11. Frekuensi sinyal PWM pada

arduino uno dalam kondisi default sebesar 500 Hz. Frekuensi ini dapat diubah dengan melakukan

modifikasi pada saat dilakukan pemrograman. Pulsa PWM yang dapat dihasilkan oleh arduino uno

sebesar 10 bit(2¿¿ 10)¿ atau 256. (Muhamad Sainal Abidin 2017)

Gambar 2.11rangkaian dasar PWM dengan mikrokontroller

15
Pada mikrokontroller, tidak semua pin digunakan sebagai outup PWM. Pada board arduino,

terdapat beberapa pin yang dapat digunakan sebagai pi PWM bergantung pada jenis mikrokontroller

yang digunakan. (Muhamad Sainal Abidin 2017)

H. LCD ( Liquid Crystal Display ) 16x2

LCD merupakan layar digital yang dapat menampilkan nilai yang dihasilkan oleh sensor

dan dapat menampilkan menu yang terdapat pada aplikasi yang bernama mikrokontroller dan

dapat juga menampilkan teks.

Gambar 2.14, Bentuk fisik LCD 16x2(klinikrobot.com)

LCD dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian depan panel LCD yang terdiri dari

banyak dot atau titik LCD dan mikrokontroler yang menempel pada bagian belakang panel

LCDyang berfungsi untuk mengatur titik-titik LCDsehingga dapat menampilkan huruf, angka,

dan simbol khusus yang dapat terbaca (Utari, 2017).

a. Fungsi Pin – pin LCD

Modul LCDberukuran 16 karakter x 2 baris dengan fasilitas backlighting memiliki 16

pin yang terdiri dari 8 jalur data, 3 jalur kontrol dan jalur-jalur catu daya, dengan fasilitas pin

yang tersedia maka lcd 16 x 2 dapat digunakan secara maksimal untuk menampilkan data

yang dikeluarkan oleh mikrokontroler (Utari, 2017). Secara ringkas fungsi pin-pin pada LCD

dituliskan pada Tabel2.1(Baskara, 2016)

16
Tabel 2.1 Konfigurasi Pin LCD 16x2
PIN NUMBER SYMBOL FUNCTION
1 Vss GND
2 Vdd + 3V or + 5V
3 Vo Contrast Adjustment
4 RS H/L Register Select Signal
5 R√W H/L Read/White
6 E H-L Enable Signal
7 DBO H/L Data Bus Line
8 DB1 H/L Data Bus Line
9 DB2 H/L Data Bus Line
10 DB3 H/L Data Bus Line
11 DB4 H/L Data Bus Line
12 DB5 H/L Data Bus Line
13 DB6 H/L Data Bus Line
14 DB7 H/L Data Bus Line
15 A/Vee H/L Data Bus Line
16 K Power supply for B/L (OV)
(Baskara, 2016)

17
b. Konfigurasi Pin LCD

1. Pin 1 dan 2

Merupakan sambungan catu daya, Vss dan Vdd. Pin Vdd dihubungkan dengan

tegangan positif catu daya, dan Vss pada 0V atau ground. Meskipun data menentukan

catu 5 Vdc (hanya pada beberapa mA), menyediakan 6V dan 4.5V yang keduanya

bekerja dengan baik, bahkan 3V cukup untuk beberapa modul.(Utari, 2017),

2. Pin 3

Pin 3 merupakan pin kontrol Vee, yang digunakan untuk mengatur kontras display.

Idealnya pin ini dihubungkan dengan tegangan yang bisa dirubah untuk

memungkinkan pengaturan terhadap tingkatan kontras display sesuai dengan

kebutuhan, pin ini dapat dihubungkan dengan variable resistor sebagai pengatur

kontras (Utari, 2017).

3. Pin 4

Pin 4 merupakan Register Select (RS), masukan yang pertama dari tiga command

control input. Dengan membuat RS menjadi high, data karakter dapat ditransfer dari

dan menuju modulnya (Utari, 2017).

4. Pin 5

Read/Write (R/W), untuk memfungsikan sebagai perintah write maka R/W low atau

menulis karakter ke modul. R/W high untuk membaca data karakter atau informasi

status dari register-nya (Utari, 2017).

5. Pin 6

Enable (E), input ini digunakan untuk transfer aktual dari perintah-perintah atau

karakter antara modul dengan hubungan data. Ketika menulis ke display, data

18
ditransfer hanya pada perpindahan high atau low. Tetapi ketika membaca dari display,

data akan menjadi lebih cepat tersedia setelah perpindahan dari low ke high dan tetap

tersedia hingga sinyal low lagi (Utari, 2017).

6. Pin 7-14

Pin 7 sampai 14 adalah delapan jalur data/data bus (D0 sampai D7) dimana data

dapat ditransfer ke dan dari display (Utari, 2017).

7. Pin 16

Pin 16 dihubungkan kedalam tegangan 5 Volt untuk memberi tegangan dan

menghidupkan lampu latar/Back Light LCD (Utari, 2017).

I. Kipas Angin

Perkembangan kipas angin semakin bervariasi dari segi ukuran, penempatan posisi, serta

fungsinya. Fungsi yang umum adalah untuk pendingin udarah, penyegar udarah ventilasi.

(exhaus fan), pengering (umumnya memakai komponen penghasil panas). Ukuran kipas

angin mulai bervariasi ada kipas angin mini (kipas angin listrik yang dipegang tangan

menggunakan energi baterai), kipas angin digunakan juga didalam unit CPU komputer

seperti kipas angin untuk mendinginkan processor, power supply dan cassingc. Kipas angin

juga di pasang juga pada alas laptopuntuk menghantarkan udara dan membantu kipas laptop

mendinginkan suhu labtop tersebut.( Shendi Irenne Langi , 2014)

19
Gambar 2.15, kipas angin DC

J. Sistem Pengelasan

Pengelasan adalah proses penyambungan antara dua bagian logam atau lebih dengan

menggunakan energi panas, maka logam yang disekitar daerah las mengalami perubahan

struktur metalurgi, deformasi dan tegangan formal.Untuk mengurangi pengaruh tersebut, maka

dalam proses pengelasan perlu di perhatikan metode dan prosedur pengelasan yang benar dan

tepat, termaksut pemilihan bahan pengisi(filler) yang digunakan. (Sukaini, 2015)

1. Las listrik

Las listrik atau las busur adalah cara pengelasan dengan menggunakan tenaga

listrik sebagai sumber panasnya. Beberapa macam proses las yang termasuk pada

kelompok las listrik. (Sukaini 2005).

20
Gambar 2.16, Mesin las (sukaini 2015 )

Las busur listrik atau umumnya disebut dengan las listrik adalah termasuk suatu proses

penyambungan logam dengan menggunakan tenaga listrik sebagai sumber panas. Jenis

sambungan dengan las Iistrik ini adalah merupakan sambungan tetap. Ada beberapa macam

proses yang dapat digolongkan kadalam proses Ias Iistrik antara lain (Sukaini 2005).

1. Las listrik dengan elektroda karbon:

a. Las listrik dengan elektroda karbon tunggal.

b. Las listrik dengan elektroda karbon ganda.

2. Las listrik dengan elektroda logam:

a. Las-listrik dengan elektroda berselaput

b. Las iistrik TIG (Tungsten Inert Gas)

c. Las Iiarik submerged

21
2. Prinsip-prinsip las listrik

Pada dasarnya las listrik yang menggunakan elektroda karbon maupun logam

menggunakan tenaga listrik sebagai sumber panas. Busur listrik yang terjadi antara ujung

elektroda dan benda kerja dapat mancapai temperatur tinggi yang dapat melelehkan

sebagian bahan merupakan perkalian antara tegangan listrik (E) dangan kuat arus (I) dan

waktu (t) yang dinyatakan dalam satuan, panas joule atau kalori seperti rumus 2.1:

H = E x I x t (2.1)

dimana :

H = panas dalam satuan joule.

E = tegangan listrik dalam volt.

I = kuat arus dalam amper.

t = waktu dalam detik.

3. Macam –macam proses las busur listrik

Panas yang di gunakan pada las busur listrik di peroleh dari busur api listrik antara

elektroda las dan benda kerja. Elektroda sebagai bahan pengisi, mencair bersama-sama dengan

benda kerja dan setelah dingin menjadi satu kesatuan yang sukar di pisahkan.(Sukaini, 2005)

Beberapa macam proses pengelasan yang dapat di golongkan pada las busur listrik yang

banyak di gunakan dalam praktek, antara lain:

a. Las listrik dengan elektroda karbon (Arc Welding)

Busur listrik yang terjadi diantara ujung elektroda karbon dan logam atau diantara dua

ujung elektroda karbon akan memanaskan dan mencairkan logam yang akan dilas. Sebagai

22
bahan tambah dapat dipakai elektroda dengan fluksi atau elektroda yang berselaput

fluksi.Seperti pada gambar 2.16.

Gambar 2.17, Arc Welding (Siswanto dan Amri 2011)

b. Las listrik dengan ekktroda berselaput

Las tistrik ini menggunakan elektroda berselaput sebagai bahan tambah. Busur listrik

yang terjadi diantara ujung elektroda dan bahan dasar akan mencairkan ujung elektroda dan

sebagian bahan dasar. Selaput elektroda yang turut terbakar akan mencair dan menghasilkan

gas yang melindungi ujung elektroda, kawah Ias, busur Iistrik dan daerah Ias di sekitar busur

listrik terhadap pengaruh udara luar. Cairan selaput elektroda yang membeku akan menutupi

permukaan Ias yang juga berfungsi sebagai pelindung terhadap pengaruh luar.

Gambar 2.17, ini adalah sirkuit Ias listrik dengan elektroda berselaput dimana G adalah

sumber tenaga arus searah dan elektroda dihubungkan ke terminal negetif sedang bahan ke

terminal positif.

23
Gambar 2.18, Sirkuit Las Listrik (Suratno, 2013)

Dalam Gambar 2.18, ditunjukkan pemindahan cairan logam dari elektroda ke bahan

dasar dimana gas dari pembakaran selaput elektroda melindungi daerah ini.

Gambar 2.19, Pemindahan Cairan Logam dari Elektroda ke Base Metal (Suratno,2013)

Las Iistrik TIG menggunakan elektroda wolfram yang bukan merupakan bahan

tambah. Busur listrik yang terjadi antara ujung elektroda wolfram dan bahan dasar adalah

marupakan sumber panas untuk pengelasan. Titik cair dari elektroda wolfram sedemikian

24
tingginya sampai 3410o sehingga tidak ikut mencair pada saat terjadi busur listrik. Tangkai Ias

dilengkapi dangan nosel keramik untuk penyembur gas pelindung yang melindungi daerah Ias

dari pengaruh luar pada saat pangelasan.

Sebagai bahan tambah dipakai elektroda tanpa selaput yang digerakkan dan didekatkan

ke busur lirtrik yang terjadi antara elektroda wolfram dengan bahan dasar. Gas pelindung yang

dipakai adalah argon, helium ateau campuran dari kedua gas tersebut yang pemakaiannya

tergantung dari jenis logem yang akan dilas.

Tangkai las TIG biasanya didinginkan dengan air yang bersirkulasi. Proses Ias listrik

TIG ditunjukkan pada Gambar 2.19.

Gambar 2.20, Las SMAW (Suratman, 2007)

c. Las listrik GMAW/MIG

Las listrik GMAW/ MIG adalah las busur listrik dimana panas yang ditimbulkan oleh

busur listrik antara ujung elektroda dan bahan dasar, karena adanya Arus Listrik. Elektrodanya

25
adalah merupakan gulungan kawat yang berbentuk rol yang gerakannya diatur oleh pasangan

roda gigi yang digerakkan oleh motorl listrik. Kecepatan gerakan elektroda dapat diatur sesuai

dengan keperluan. Tangkai Ias dilengkapi dengan nosal logam untuk menyemburkan gas

pelindung yang dialirkan dari botol gas malalui selang gas. Gas yang dipakai adalah C02

untuk pengelasan baja lunak dan baja, argon atau campuran argon dan helium untuk

pengelasan Aluminium dan baja tahan karat. Proses pengelasan MIG ini dapat secara semi

otomatik dan otomatik. Semi otomatik dimaksudkan pengelasan secara manual sedangkan

otomatik adalah pengelasan di mana seluruh pekerjaan Ias dilaksanakan secara otomatik.

Proses Ias MIG ditunjukkan pada Gambar 2.20, dimana elektroda keluar melalui tangkai las

bersama dengan gas pelindung.

Gambar 2.21, Las GMAW (Suratman, 2007)

d. Las listrik submerged

Las listrik submerged yang umumnya otamatik atau semi otomatik menggunakan

fluksi serbuk untuk pelindung dari pengaruh udara luar. Busur listrik diantara ujung elektroda

26
dan bahan dasar berada didalam timbunan fluksi serbuk sehingga tidak terjadi sinar las keluar

separti biasanya pada Ias listrik lainnya. Dalam hal ini operator Ias tidak perlu menggunakan

kaca pelindung mata (helm Ias). Pada waktu pengelasan, fluksi serbuk akan mencair dan

membeku menutup Iapisan Ias. Sebagian fluksi serbuk yang tidak mencair dapat dipakai lagi

setelah dibersihkan dari terak-terak Ias. Elektroda yang merupakan kawat tanpa selaput

berbentuk gulungan (rol) digerakkan maju oleh pasangan roda gigi. pasangan roda gigi yang

diputar oleh motor listrik dapat diatur kecepatannya sesuai dengan kebutuhan pengelasan

dapat dilihat pada gambar 2.21.

Gambar 2.22, Las Submerged (Suratman, 2007)

4. Posisi Pengelasan

a. Posisi di Bawah Tangan

Posisi di bawah tangan yaitu suatu cara pengelasan yang dilakukan pada permukaan

rata/datar dan dilakukan dibawah tangan. Kemiringan elektroda las sekitar 10º– 20º terhada

garis vertikal dan 70º – 80º terhadap benda kerja.dapat dilihat pada gambar 2.22

27
Gambar 2.23, Posisi di Bawah Tangan (Sukaini, 2005)

b. Posisi Tegak (Vertikal)

Mengelas posisi tegak adalah apabila dilakukan arah pengelasannya keatas atau

kebawah. Pengelasan ini termasuk pengelasan yang paling sulit karena bahan cair yang

mengalir atau menumpuk diarah bawah dapat diperkecil dengan kemiringan elektroda sekitar

10º – 15º terhada garis vertikal dan 70º – 85º terhadap benda kerja.seperti yang terlihat pada

gambar dibawah 2.23.

Gambar 2.24, Posisi Tegak (Sukaini, 2005)

28
c. Posisi Datar (Horisontal)

Mengelas dengan horisontal biasa disebut juga mengelas merata dimana kedudukan

benda kerja dibuat tegak dan arah elektroda mengikuti horisontal. Sewaktu mengelas elektroda

dibuat miring sekitar 5º – 10º terhada garis vertikal dan 70º – 80º kearah benda kerja seperti

yang di tunjukan pada gambar 2.24.

Gambar 2.25, Posisi Datar (Sukaini, 2005)

d. Posisi di Atas Kepala (Over Head)

Posisi pengelasan ini sangat sukar dan berbahaya karena bahan cair banyak berjatuhan

dapat mengenai juru las, oleh karena itu diperlukan perlengkapan yang serba lengkap antara

lain: Baju las, sarung tangan, sepatu kulit dan sebagainya. Mengelas dengan posisi ini benda

kerja terletak pada bagian atas juru las dan kedudukan elektroda sekitar 5º – 20º terhada garis

vertikal dan 75º – 85º terhadap benda kerja. yang ditunjukan pada gambar 2.25.

29
Gambar 2.26, Posisi di Atas Kepala (Sukaini, 2005)

5. Jenis-Jenis Sambungan Dalam Pengelasan

Wiryosumarto dan Okumura( 2008), menyatakan bahwa sambungan las dalam

konstruksi baja pada dasarnya dibagi dalam sambungan tumpul, sambungan T, sambungan

sudut dan sambungan tumpang. Seperti yang di tunjukan pada gambar 2.26.

Gambar 2.27, Jenis-jenis sambungan (Wiryosumarto dan Okumura, 2008)

Pada proses pengelasan terdapat lima jenis desain dasar sambungan las. Kelima jenis

dasar sambungan tersebut adalah sambungan Tumpul (Butt), Sudut (Corner), T (Tee),

Tumpang (Lap), dan Sisi (Edge). Lima jenis dasar sambungan las dapat dibuat dalam empat

30
posisi pengelasan yang berbeda, yaitu posisi flat (datar), vertical, horizontal, dan diatas kepala

seperti ditunjukkan pada gambar 2.27.

Gambar 2.28 Posisi pengelasan pada kelima jenis sambungan las (Wiryosumarto dan

Okumura, 2008)

Dalam merencanakan konstruksi yang memiliki sambungan pengelasan, harus dipilih

secara benar dan tepat mengenai jenis-jenis sambungan las, yang disesuaikan dengan fungsi

dan kegunaannya. Yang perlu dipertimbangkan bahwa sambungan pengelasan harus mampu

menerima beban dinamis maupun beban statis.

31
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat

Desain Proposal Karya Tulis Ilmiah (KTI) ini direncanakan akan dilaksanakan

di Workshop Teknologi Elektro-Medis Stikes Mandala Waluya Kendari. Penelitian

alat ini dimulai pada bulan Agustus 2019 sampai Oktober 2019.

B. Alat dan Bahan

Dibawah ini adalah tabel alat yang digunakan untuk merancang ayunan bayi

yang dilengkapi dengan pengatur suhu dan sistem pembuatan ayunan yaitu:

1. Blok diagram sebagai langka awal dari pembuatan tugas akhir

2. Desain alat pembuatan ayunan bayi

3. Rancang pelaksanaan alir pembuatan ayunan bayi

4. Alir sistem pengontrol suhu pada area ayunan bayi

5. Skematik rangkaian komponen yang digunakan

32
Tabel 3.1 Alat yang digunakan
NO Alat Spesifikasi Fungsi

1 Las Falacon 161 GE Melakukan penyambungan pada logam


220V(50 Hz)
2 Gerinda Hitachi G10SS2 Untuk memotong pada besi
600 Watt penyambungan

3 Gergaji besi Crome 8-12 1pc Untuk memotong besi yang digunakan

4 Meter 5 meter/ 197 Untuk mengukur jarak besi


inchi

5 Solder 60 WATT Untuk menempelkan timah pada PCB

6 Atraktor E121B832 Menyedot timah dari PCB

7 Asus tipe : Membuat program aplikasi


A455L
8 Single siden Tempat merangkai komponen
PCB
9 Obeng Obeng set 15 Untuk membuka baut yang digunakan
Bunga Dan pcs jk-0285 untuk membuat alat
Obeng Plat
10 Mesin Bor Westling 16 Untuk membuat lubang pada papan PCB
Duduk mm

33
Tabel 3.2,Bahan Yang Digunakan
N Bahan Spesifikasi Fungsi
O
1 Besi siku Siku berlubang Untuk membuat kontruksi rangka
ayunan bayi
40×40×4mm
Tebal 1,4 mm
2 Mikrokontroller ATMega328 Pengendali dan pengontrol sistem
3 Tombol ON/OOF 99 elektrik pemutus dsan penyambungaliran arus
listrik
AC 220V
4 Box panel Plat mild steel Sebagai tempat penyimpanan sistem
1,2mm- elektrinika
2,00mm
5 Sensor Suhu IC LM35 Sebagai pengukur suhu pada area
ayunan bayi
6 Kipas angin Fan DC 12V. Untuk mengubah suhu pada area
1.35A, 8cm ayunan bayi
7 Kawat las AWS A5.1 Sebagai pembakar pada proses
E6013/JIS Z penyambungan
3211 D4313
8 Adaptor DelCell Store- Untukmengubahtegangan listrik yang
DAC2031A-P besar menjadi tegangan listrik lebih
12 volt kecil, ataurangkaian untukmengubah
arus bolak-balik (arus AC) menjadi
arus searah (arusDC).
9 LCD LCD 16x2 Untuk menampilkan suhu setingan
(Ts) dan menampilkan suhu yang
diukur (Tn)

34
C. Tahapan dan cara kerja

1. BlokDiagramSistem

Sebagai langkah awal dari pembuatan tugas akhir, terlebih dahulu dibuat

perancangan system yaitu blokdiagram sistem. Diagramblok menggambarkan secara umum

bagaimana cara kerja rangkaian secara keseluruhan. Gambar1 berikut adalah blok diagram

sistem secara keseluruhan

Mikro PWM Kipas DC


Adaptor kontroller

LCD
PLN Tombol
ON OFF

Sensor Suhu

Gambar 3.1, blok diagram

Berdasarkanblokdiagram sistem pada gambar1diatas makadapatfungsidarimasing-

masingbagian blok diagramyaitu sebagai berikut:

a. Tombol ON/OFF

Tombol ON/OFF adalah pemutus dsan penyambungaliran arus listrik

b. Adaptor

Adaptor adalah sebuah perangkat berupa rangkaian elektronika untuk mengubah tegangan
listrik yang besar menjadi tegangan listrik lebih kecil

35
c. Mikrokontroller

Mikrokontroller yang digunakan adalah mikrokontroller atmega328 yang digunakan untuk

membaca serta memproses data dari sensor, dan sebagai komunikasi data antarainputdan

output

d. Kipas DC

Kipas angin tersebut berfungsi untuk menjaga suhu udara agar tidak melewati batas suhu

yang ditetapkan

e. PWM

PWM adalah suatu teknik modulasi yang mengubah lebar pulsa ( pulse width ) dengan

nilai frekuensi dan ampli tudo yang tetap.

f. LCD

Untuk menampilkan suhu setingan ( Ts ) dan suhu yang di ukur (Tn)

g. Sensor suhu

Sensor suhu LM 35 adalah komponen elektronik yang memiliki fungsi untuk mengubah

besaran suhu menjadi besaran listrik dalam bentuk tegangan

Prinsip kerja dari ayunan bayi ini yaitu berdasarkan ada tidaknya suhu yang tidak sesuae

yang di inginkan didalam ayunan. Untuk dapat mengetahui atau mendeteksi ada tidaknya

suhu panas yang berlebihan didalam ayunan maka ayunan ini di lengkapi dengan sensor suhu

dan kipas DC. Sistem ayunan bayi akan dikontrol oleh mikrokontroller untuk menjalankan

motor, data yang dikirimkan oleh mikrokontroller akan dikirimkan ke tombol kontrol untuk

mengatur kecepatan kipas DC.

36
2. Desain Alat

Besi penyangga Kipas DC


keranjang
ayunan
Box panel
Keranjang
ayunan
Sensor LM35

Kaki
ayun
LCD
Gambar 3.2, Desain alat ayunan bayi

Penjelasan komponen-komponen pada gambar 2:

1. Sensor suhu LM35 digunakan untuk mengukur suhu pada area ayunan bayi

2. Kipas DC untuk mengubah suhu panas menjadi sejuk pada area ayunan bayi

3. LCD untuk menampilkan suhu setingan (Ts) dan suhu pengukuran (Tn)

4. Box panel sebagai penyimpanan komponen yang digunakan

5. Kaki ayunan sebagai tiang penyangga ayunan

6. Besi penyangga keranjang bayi sebagai penyangga keranjang

7. Keranjang ayunan sebagai tempat tidur bayi

D. Rancangan Pelaksanaan Alir

37
Diagram alir dalam perancangan sistem perangkat keras (mekanik) pada ayunan bayi

elektrik adalah sebagai berikut :

Mulai

Siapkan alat dan bahan

Uji fungsi alat dan bahan

tidak
Memenuhi syarat

Perancangan model ayunan bayi

Uji kekuatan bahan

Memenuhi syarat tidak

Uji kapasitas alat, kapasitas beban


8 kg, daya motor

tidak
Memenuhi syarat

Selesai

Gambar 3.3,Rancang pelaksanaan alir

Perancangan dimulai dengan menyiapkan alat dan bahan dan selanjutnya alat dan

bahan tersebut dilakukan pengujian fungsi satu per satu jika ada beberapa bahan yang tidak

38
berfungsi atau mungkin semuanya maka bahan-bahan tesebut disiapkan ulang atau diganti

serta di uji spesifikasinya sesuai kebutuhan yang di perlukan setelah itu merancang model

ayunan abyi sesuai dengn kapasitas yang diinginkan setelah itu dilakukan pengujian kekuatan

bahan dan setelah pengujian kekuatan bahan tersebut memenuhi syarat maka dilakukan uji

kapasitas alat dan uji kapasitas beban 8 kg serta jika tidak memenuhi syarat maka dilakukan

perancangan ayunan bayi kembali jika pengujian kapasitas alat dan kapasitas beban 8 kg

memenuhi syarat maka perancangan telah selasai.

E. Flowchart Sistem/Diagram Alir Sistem

start

39
Inisialisasi
program

Seting Suhu (Ts)

Cek Kondisi
Ayunan

tidakApakah ayunan terbebani

iya

Cek suhu pada


ayunan bayi (Tn)

Ts > Tn iya
Mode 1

tidak iya
Ts = Tn Mode 2 perbaharui
suhu(Tn)

tidak iya
Ts < Tn
Mode 3
stop

tidak

Gambar 3.4, diagram alir sistem

40
Perancangan dimulai dengan start (menekan tombol ON/OFF ) lalu inisialisasi

program dan selanjutnya seting suhu (Ts) lalu cek kondisi ayunan apakah ayunan terbebani

jika tidak maka cek kembali kondisi ayunan dan jika terbebani maka cek suhu pada ayunan

bayi ( Tn ), jika Ts > Tn maka kipas akan berputar dengan cepat ( Mode 1 ), jika Ts = Tn maka

kipas akan berputar sedang ( Mode 2 ), dan jika Ts < Tn maka kipas akan berhenti berputar

atau melambat jika mode 1,mode 2 dan mode 3 tidak stabil atu eror maka cek kembali suhu

bada ayunan bayi ( Tn ) jika semuanya aman terkendali maka sistem akan selesai atau stop.

F. Skematik Rangkaian

a). Sistem Minimum Rangkaian Mikrokontroler Atmega328

Gambar 3.5, Sistem Minimum Rangkaian Mikrokontroller ATmega328

b). Rangkaian LCD16x2

41
Gambar 3.6, Rangkaian LCD 16x2

c). Rangkaian dasra PWM

Gambar 3.7, Rangkaian dasar PWM dengan mikrokontroller

d). Skema Sensor Suhu LM35

Gambar 3.8, Sensor suhu LM35

e). Skematik Rangkaian Adaptor

42
Gambar 3.9, Adaptor 12 Volt 20 Amper

43
G. Uji fungsi alat

1. Alat ini akan di uji coba di ruangan laboratorium elektronika bertempat di stikes

mandala waluya kendari.

2. Alat ini akan di uji dengan beban berat badan maksimum 8 kg.

3. Menentukan pasien yang akan menguji coba

4. Mengukur berat badan pasien untuk memastikan bahwa beratnya pas dengan kapasitas

yang di harapkan.

5. Menjalankan ayunannya.

6. Mengukur kecepatan ayunannya menggunakan stopwatch.

7. Membandingkan kecepatan antara beban berat dan beban ringan

44
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil pengukuran

1. Pengujian modul
Setelah melakukan pembuatan Modul Karya Tulis Ilmiah maka perlu diadakan

pengujian dan pengambilan data. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian dan

pengambilan data dengan tujuan untuk mengetahui ketepatan dan keakuratan sistem

dan prinsip kerja alat serta memastikan fungsi dan bagian-bagian komponen dari

rangkaian modul yang telah dirancang.

Langkah-langkah untuk melakukan pengukuran dan pengujian modul ini dapat

diuraikan sebagai betrikut :

a. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan

b. Menyiapkan termometer untuk mengukur suhu pada area ayunan bayi

c. Melakukan pengecekan pada komponen-komponen yang digunakan dan

memastikan komponen terhubung dengan baik

d. Melakukan pengecekan pada kabel power dan memastikan tegangannya masuk

pada rangkaian

e. Melakukan pengecekan pada sensor dan kipas apakah berfungsi dengan baik atau

tidak

f. Menyiapkan daftar tabel yang akan digunakan untuk mencatat data dari hasil

pengujian alat

g. Melakukan uji coba pada alat

45
h. Mencatat data hasil uji coba pada tabel yang sudah disiapkan

2. Pengambilan Data

2.1 pengambilan data pertama

Pengambilan data suhu yang telah dilakukan, maka diperoleh beberapa data suhu pada alat

ayunan bayi dengan menggunakan alat pengatur suhu. Adapun data suhu pada alat ayunan

bayi dapat dilihat pada tabel 4.1.

Tabel 4.1, pengambilan data pertama

N Waktu To Ts Tn Et
O
1 1 menit 35,16 oC 31 oC 35,13 oC 4,13 oC
2 2 menit 35,16 oC 31 oC 34,64 oC 3,64 oC
3 3 menit 35,16 oC 31 oC 34,13 oC 3,13 oC
4 4 menit 35,16 oC 31 oC 33,29 oC 2,29 oC
5 5 menit 35,16 oC 31 oC 33,21 oC 2,21 oC
6 6 menit 35,16 oC 31 oC 32,69 oC 1,69 oC
7 7 menit 35,16 oC 31 oC 32,29 oC 1,29 oC

Dari pengambilan data yang dilakukan maka diperoleh data hasil pengukuran dengan

parameter ( waktu ) yang di lakukan dari menit ke-1 sampai menit ke-7 lalu dilakukan

pengukuran suhu pada kondisi suhu awal area ayunan bayi ( To) dimana dari setiap pengukuran

diperoleh nilai To sebesar 35,16 oC. Setelah dilakukan pengukuran suhu awal maka dilakukan

pengaturan suhu setting (Ts) dimana nilainya sebesar 31 oC. Mengambil data suhu pada area

ayunan bayi yang telah dipapari oleh kipas (Tn) dimana dalam setiap menit pengukuran suhu

yang terbaca itu berbeda. Dimana pengambilan data dilakukan dari menit pertama sampai menit

ke tujuh. Terlihat bahwa pada data pengukuran pertama, ke dua, dan ke tiga nilai erornya masi

46
sangat besar namun pada saat menit ke empat dan kelima nilai suhu eror berkurang hingga

mencapai 2,29 oC dan 2,21 oC, pada menit ke enam dan ketuju nilai suhu mulai mendekati stabil

dengan nilai eror sebesar 1,69 oC dan 1,29 oC. Jika suhu awal tidak mencapai suhu seting

setelah di papari oleh kipas dikarenakan kipas di buat 2 kondisi kecepata dimana kecepatannya

yaitu kecepatan penuh dan sedang, kipas akan berputar dengan kecepatan penuh jika suhu

mencapai 34 oC dan akan ber kecepatan sedang jika suhu 33-32 oC jika suhunya mencapai 31 oC

maka kipas akan mati.

2.1.1 Perhitungan nilai eror

Untuk mengetahui nilai eror yang terjadi dari pembacaan suhu pada sensor suhu LM 35

terhadap suhu settingannya dapat diketahui dengan persamaan berikut:

Et = ( Tn-Ts )

Keterangan :

Et = Tn - Ts

Et = Nilai eror / selisi disetiap percobaan

Ts = suhu seting

Tn = suhu yang terbaca oleh sensor

a. Data perhitungan nilai eror pada menit pertama

Et = Tn - Ts

Et = 35,13 oC – 31 oC

Et = 4,13 oC

b. Data perhitungan nilai eror pada menit kedua

47
Et = Tn - Ts

Et = 34, 64 oC – 31 oC

Et = 3,64 oC

c. Data perhitungan nilai eror pada menit ketiga

Et = Tn - Ts

Et = 34,13 oC – 31 oC

Et = 3,13 oC

d. Data perhitungan nilai eror pada menit keempat

Et = Tn - Ts

Et = 33,29 oC – 31 oC

Et = 2,29 oC

e. Data perhitungan nilai eror pada menit kelima

Et = Tn - Ts

Et = 33,21 oC – 31 oC

Et = 2,21 oC

f. Data perhitungan nilai eror pada menit kelima

Et = Tn - Ts

Et = 32,69 oC – 31 oC

Et = 1,69 oC

g. Data perhitungan nilai eror pada menit kelima

Et = Tn - Ts

Et = 32,29 oC – 31 oC

Et = 1,29 oC

48
2.1.2. Efisiensi alat pengatur suhu pada area ayunan bayi.

Untuk mengetahui kinerja dari alat pengontrol suhu pada area ayunan bayi maka perlu

diketahui efisiensi dari alat tersebut. Adapun rumus yang digunakan untuk memperoleh

nilai efisiensi yaitu.

Et
E t=
7

Keterangan :

a. E = nilai eror rata-rata

b.  Et = nilai eror keseluruhan

c. 7 = banyaknya pengambilan data

E1+ E 2+ E 3+ E 4+ E 5+ E 6+ E7
E t=
7

4,13+3,64+ 3,13+2,29+2,21+1,69+1,29
E t=
7

18,38
E t=
7

E t=¿2,62

E
E= .100 %
Ts

2,62
E= 100 %
31

49
262
E=
31

E=8,45%

Setelah nilai eror diketahu maka langkah selanjutnya adalah mencari nilai efisiensi.

Pada rumus persamaan yang digunakan untuk memperoleh nilai efisiensi yaitu seperti

pada persamaan berikut:

Efisiensi % = 100 % - E
Efisiensi = 100% - 8,45%

= 91,55 %

Jadi nilai efisiensi pada pengambilan data ke 1 yaitu sebesar 91,55 %

2.1.3 Nilai eror pada suhu yang terbaca

50
4.5
4
3.5
3
2.5
2
1.5
1
0.5
0
1menit 2 menit 3 menit 4 menit 5 menit 6 menit 7 menit

Gambar 4.1, diagram batang nilai eror pada suhu

Diagram batang pada pada gambar 4.1, merupakan nilai eror dari menit pertama

sampai menit ke tujuh. Dari menit pertama, kedua dan ketiga nilai eror pada suhu sangat tinggi

dimana selisi suhu mencapai 4,13 oC, 3,64 oC dan 3,13 oC, dan pada saat menit ke empat dan

ke lima nilai eror berkurang mencapai 2,29 oC dan 2,21 oC, setelah menit ke enam dan ke tujuh

suhu mulai mendekati suhu seting dengan nilai eror sebesar 1,69 oC dan 1,29 oC.

2.1.3. Perbandingan data suhu pertama

36
35
34
33
32
31
30
29
28
1 2 3 4 5 6 7

Gambar 4.2, grafik suhu

51
Keterangan:

a. Warna biru menunjukan nilai suhu awal yang terbaca

b. Warna ijo menunjukan nilai suhu yang terpapar oleh kipas

c. Warna merah yaitu nilai seting suhu

Pada gambar 4.2, menunjukan grafik nilai suhu awal, suhu seting dan suhu yang

dijaga. Dimana suhu awalnya yaitu 35,16 oC, suhu yang diseting adalah 31 oC sedangkan suhu

yang telah dijaga selama 7 menit yaitu sebesar 32,29 oC

2.2. Pengambilan data kedua

Untuk memvalidasi data yang sudah diperoleh, maka perlu dilakukan pengambilan

data yang kedua yaitu dengan nilai suhu awal yang berbeda. maka diperoleh beberapa data

suhu pada alat ayunan bayi dengan menggunakan alat pengatur suhu. Adapun data suhu pada

alat ayunan bayi dapat dilihat pada tabel 4.2.

Tabel 4.2, pengambilan data kedua

N Timer To Ts Tn Et
O
1 1 menit 34,19 oC 31 oC 34,17 oC 3,17 oC
2 2 menit 34,19 oC 31 oC 34,13 oC 3,13 oC
3 3 menit 34,19 oC 31 oC 33,65 oC 2,65 oC
4 4 menit 34,19 oC 31 oC 33,29 oC 2,29 oC
5 5 menit 34,19 oC 31 oC 33,21 oC 2,21 oC
6 6 menit 34,19 oC 31 oC 32,71 oC 1,71 oC
7 7 menit 34,19 oC 31 oC 32,25 oC 1,25 oC

52
Dari pengambilan data yang dilakukan maka diperoleh data hasil pengukuran dengan

parameter ( waktu ) yang di lakukan dari menit ke-1 sampai menit ke-7 lalu dilakukan

pengukuran suhu pada kondisi suhu awal area ayunan bayi ( To) dimana dari setiap

pengukuran diperoleh nilai To sebesar 34,19oC. Setelah dilakukan pengukuran suhu awal

maka dilakukan pengaturan suhu setting (Ts) dimana nilainya sebesar 31 oC. Mengambil data

suhu pada area ayunan bayi yang telah dipapari oleh kipas (Tn) dimana dalam setiap menit

pengukuran suhu yang terbaca itu berbeda. Diman dari menit pertama sampai menit ke tuju.

Terlihat bahwa pada data pengukuran pertama, ke dua, dan ke tiga nilai erornya masi sangat

besar namun pada saat menit ke empat dan kelima nilai suhu eror berkurang hingga mencapai

2,29 oC dan 2,21 oC, pada menit ke enam dan ketuju nilai suhu mulai mendekati stabil dengan

nilai eror sebesar 1,71 C dan 1,25 oC. Jika suhu awal tidak mencapai suhu seting setelah di

papari oleh kipas dikarenakan kipas di buat 2 kondisi kecepata dimana kecepatannya yaitu

kecepatan penuh dan sedang, kipas akan berputar dengan kecepatan penu jikah suhu mencapai

34 oC dan akan ber kecepatan sedang jika suhu 33-32 oC jika suhunya mencapai 31 oC maka

kipas akan berhenti ber putar ( kipas akan mati ).

53
2.2.1. Perhitungan nilai eror

Untuk mengetahui nilai eror yang terjadi dari pembacaan suhu pada sensor suhu LM 35

ter hadap suhu settingannya dapat diketahui dengan persamaan berikut:

Et ( Tn-Ts )

a. Data perhitungan nilai eror pada menit pertama

Et = 34,17 oC – 31 oC

Et = 3,17 oC

b. Data perhitungan nilai eror pada menit kedua

Et = Tn - Ts

Et = 34, 13 oC – 31 oC

Et = 3,13 oC

c. Data perhitungan nilai eror pada menit ketiga

Et = Tn - Ts

Et = 33,65 oC – 31 oC

Et = 2,65 oC

d. Data perhitungan nilai eror pada menit keempat

Et = Tn - Ts

Et = 33,29 oC – 31 oC

Et = 2,29 oC

e. Data perhitungan nilai eror pada menit kelima

Et = Tn - Ts

54
Et = 33,25 oC – 31 oC

Et = 2,25 oC

f. Data perhitungan nilai eror pada menit kelima

Et = Tn - Ts

Et = 32,71 oC – 31 oC

Et = 1,71 oC

g. Data perhitungan nilai eror pada menit kelima

Et = Tn - Ts

Et = 32,29 oC – 31 oC

Et = 1,25 oC

2.2.2. Efisiensi alat pengatur suhu pada area ayunan bayi.

Untuk mengetahui kinerja dari alat pengontrol suhu pada area ayunan bayi maka perlu

diketahui efisiensi dari alat tersebut. Adapun rumus yang digunakan untuk merai nilai efisiensi

yaitu.

Et
E t=
7

Keterangan :

d. Et = nilai eror rata-rata

e.  Et = nilai eror keseluryhan

f. 7 = banyaknya pengambilan data

E1+ E 2+ E 3+ E 4+ E 5+ E 6+ E7
E t=
7

55
3,17+3,13+2,65+2,29+2,21+1,71+1,25
E t=
7

16,41
E t=
7

E t=¿2,34

Et
E= . 100 %
Ts

Et
E= . 100 %
Ts

2,34
E= . 100 %
31

234
E=
31

E=7,54%

( Efisiensi alat )

Efisiensi % = 100 % - E

Efisiensi = 100% - 7,54%

= 92,46 %

Jadi nilai efisiensi pada pengambilan data ke 2 yaitu sebesare 92,46 %

56
3.1.2 Nilai eror pada suhu yang terbaca

3.5

2.5

1.5

0.5

0
1 menit 2 menit 3 menit 4 menit 5 menit 6 menit 7 menit

Gambar, 4.3, diagram batang nilai eror pada suhu

Diagram batang pada 4.2, merupakan nilai eror dari menit pertama sampai menit ke tuju.

Dari menit pertama, kedua dan ketiga nilai eror pada suhu sangat tinggi dimana suhu

perselisihanya mencapai 3,17 oC, 3,13 oC dan 2,65 oC, pada saat menit ke empat dan ke lima

nilai eror berkurang mencapai 2,29 oC dan 2,21 oC, setelah menit ke enam dan ke tuju suhu

mulai mendekati stabila deng an nilai erorsebesar 1,71 oC dan 1,25 oC.

57
2.2.3, Perbandingan data suhu

35

34

33

32

31

30

29
1 2 3 4 5 6 7

Gambar 4.4, grafik suhu

Keterangan:

d. Warna biru menunjukan nilai suhu awal yang terbaca

e. Warna ijo menunjukan nilai suhu yang terpapar oleh kipas

f. Warna merah yaitu nilai seting suhu

Pada gambar grafi 4.2, menunjukan nilai suhu awal, suhu seting dan suhu yang dijaga.

Dimana suhu awal itu 34,19 oC, suhu yang diseting adalah 31 oC sedangkan suhu yang telah

dijaga selama 7 menit yaitu sebesar 32,25 oC.

B. Pembahasan

Sistem pengontrol suhu merupakan suatu alat yang berfungsi untuk mengontrol suhu

pada area ayunan bayi. Alat ini bekerja menjaga suhu pada area ayunan bayi agar bayi bisa

beristrahat (tidur) dengan nyenyak tanpa terganggu dengan suhu yang hangat atau panas

dimana kipas diatur secara otomatis oleh mikrokontroller. Proses pengoprasian alat ini dimulai

58
setela menekan tombol ON/OFF maka pada layar LCD akan muncul sebua tulisan nama

mahasiswa, nim dan suhu yang di deteksi oleh LM 35. Berikut gambar tampilan LCD :

Gambar 4.5, Tampilan LCD Nama Mahasiswa Dan Nim

Gambar 4.6, Tampilan LCD Suhu Yang Di Deteksi

Pada pengambilan data dilakukan sebanyak 2 kali, dimana pada pengambilan data

pertama suhu awal itu sebesar 35,16 oC dan data pengambilan kedua dengan suhu awal sebesar

34,19 oC. Pengambilan data dilakukan 2 kali dengan masing-masing waktu 7 menit, dimana

pada pengambilan data pertama menit ke 1 dengan suhu setingan 31 oC dan suhu dibaca

setelah di papari oleh kipas yaitu sebesar 35,13 oC dengan eror sebesar 4,13 oC, menit ke 2

suhu yang dibaca setelah di papari oleh kipas yaitu 34,64 oC, menit ke 3 suhu sebesar 34,13 oC

dengan eror sebesar 3,13 oC, menit ke 4 dan ke 5 suhu sebesar 33,29 oC dengan eror 2,29 oC,

menit ke 6 suhu sebesar 32,69 oC dengan eror 1,69 oC, dan menit ke 7 suhu sebesar 32,29 oC

dengan eror sebesar 1,29 oC sedangkan efisiensi pada alat dengan pengmbilan data ke 1 yaitu

sebesar. Pengambilan data ke dua menit ke 1 dengan suhu setingan 31 oC dan suhu dibaca

59
setelah dipapari oleh kipas yaitu sebesar 34,17 oC dengan eror sebesar 3,13 oC, menit ke 2

dengan suhu sebesar 34,13 oC dengan eror 3,13 oC, menit ke 3 suhu sebesar 33,65 oC dengan

eror 2,65 oC, menit ke 4 suhu sebesar 33, 29 oC dengan eror 2,29 oC, menit ke 5 suhu sebesar

33,25 oC dengan eror 2,25 oC, menit ke 6 suhu sebesar 32,71 oC dengan nilai eror sebesar 1,71
o
C dan pada menit ke 7 suhu yang dibaca sebesar 22,25 oC dengan nilai eror sebesar 1,25,

sedangkan efisiensi pada alat dengan pengmbilan data ke 2 yaitu sebesar 93,65%. Disini kita

tidak bisa mendapatkan nilai eror dikarenakan kecepatan kipas diatur dengan 2 mode

kecepatan sehingga kipasnya melambat jika masuk ke suhu 32 oC dan akan berputar maksimal

dengan suhu sebesar 34 oC.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

60
A. Kesimpulan

Kesimpulan dari hasil penulisan modul karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut:

1. Dalam pembuatan alat pengatur suhu pada ayunan bayi secara otomatis berbasis

mikrokontroller atmega 328 telah berhasil dibuat berdasarkan urutan langka-langka

kerja dan hasilnya bekerja dengan baik

2. Alat ayunan bayi yang telah dibuat dilengkapi dengan pengatur suhu dan Liquid

Crystal Dsplay ( LCD ) untuk menampilkan suhu yang dibaca.

B. Saran

Adapun saran untuk pengembangan pada modul ini dapat dilakukan pada :

- Menambahkan speaker agar bayi lebih gampang atau muda ditenangkan pada saat

menangis.

- Menambahkan hiter untuk menghangatkan bayi pada saat suhu tidak stabil (sangat

dingin).

TINJAUAN PUSTAKA

Andika Framudya Mapanji, Anang Sulasra, Marlindia Ike Sri. 2015, Prototype Ayunan Bayi Otomatis

Berbasis Raspberry PI. Fakultas Ilmu Terapan-Telkom University Andhika.

61
Nando Agustinus Purba,Drs.Elia Kandok Allo,Msc. Sherwin R.U.A.Sompie,ST,MT,Drs

Bahrun,M.Kes.2013, Jurusan Teknik Elektro-FT, UNSRAT, Manado-95115

Aangga Khalifa Tsuqi, Murtehezha Hadujaya el, Invander Manuel, Venas Miftah Hasan, Annisa

Tsalsabila, Fadhila Chandra, Titin Yuliana, Putri Tarigan, irzaman. Oktober 2016, Saklar

Otomatis Berbasis Light Dependent Resistor (LDR) Pada Mikrokontroler Arduino Uno. Fisika

FMIPA IPB, Jalan MerantiKampus IPB Dramaga Bogor 16680

Sitanggang Restu. 2018, Sistem Ayunan Bayi Otomatis Dengan Kendali Remot Control.Universitas

Sumatra Utara.htt://repositori.usu.ac.id

Shendi Irenne Langi, Janny O.Wuwung, Arie S.M.Lumenta.2014,Kipas Angin Otomatis Dengan

Menggunakan Sensor Suhu.Jurusan Teknik Elektro-FT UUNSRAT,Manado-95115

Baskara. 2016. Liquid Crystal Display (LCD) 2x16.

Http://baskarapunya.blogspot.co.id/2013/01/liquid-crystal-display-lcd-16-x

2.htmldiakses pada 12 November 2018

Utari, Evrita Lusiana. 2017. simulasi alat elektrostimulator akupuntur berbasis

mikrokontroler atmega16.

Jaena Arifin, Intan Erlita Dewanti, Danny Kurnianto.1juni 2017, Prototipe Pendingin Perangkat

Telikomunikasi SumberArus DC Menggunakan Smartpphone, program studi D3 Teknik

Telekomunukasi Sekola Tinggi Teknologi Telematika telkom Purwekerto

Siswanto dan Amri S. 2011, Konsep Dasar Teknik Las. Edisi 1. PT.Prestasi Pustakaraya. Jakarta

Sukaini, 2005. Teknik Las Busur Listrik Manual/SMAW. PPPTK VEDC MALANG. Malang.

62
Dwi Whayu Saputro. 2014, Instrumentasi Pengontrol kipas angin FakultasTeknik Jurusan Teknik

Elektro Universitas Muhamadiyah Surakarta.

Bambang Sujanarko. 2013, Desain kontrol PWM pengatur kecepatan motor BLDC untuk mobil listrik

jurusan teknik elektro, fakultas teknik, universitas jember.

Sasongko, B. 2011. Sensor Suhu LM35. Diakses 18 September 2015.

http://etekno.blogspot.com/2011/06/membuat-sensor-suhu-dengan-lm35-dan.html

63