Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

PEMISAHAN ANALITK
“KROMTOGRAFI”

DI SUSUN OLEH :
NAMA : NOVALISA SULEMAN
STAMBUK : A25118109
KELAS :A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TADULAKO
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat-
Nya kepada kami semua sehingga kami bisa menyelesaikan tugas yang menjadi
tanggung jawab kami dengan tanpa suatu halangan apapun.

Makalah ini kami buat untuk mata kuliah pemisahan analitik tentang
kromatografi. Harapan kami semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi kami
pribadi dan bagi para mahasiswa untuk lebih mengetahui lebih dalam makalah
pemisahan analitik Kami sadar bahwa kami hanya manusia biasa yang tidak luput
dari lupa dan kesalahan, dalam makalah ini mungkin masih ada kekurangan dan
kekeliruan, untuk itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami
harapkan dari semua pihak demi karya yang lebih baik.

ii
Daftar Isi

KATA PENGANTAR.................................................................................................i

DAFTAR ISI.................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................................1

1.1 LATAR BELAKANG ...........................................................................................1

1.2 RUMUSAN MASALAH.......................................................................................2

1.3 TUJUAN MAKALAH ..........................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................1

2.1 PENGERTIAN KROMOTOGRAFI......................................................................1

2.2 PEMBAGIAN KROMOTOGRAFI.......................................................................5

2.3 CARA MEMBEDAKAN FASE GERAK DAN FASE DIAM...........................12

2.4 PENERAPAN PEMISAHAN DENGAN CARA KROMOTOGRAFI...............12

BAB III PENUTUP....................................................................................................15

KESIMPULAN...........................................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................17

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar  belakang

Kromatografi merupakan suatu metode pemisahan yang dewasa ini


telah banyak digunakan, dibandingkan dengan metode yang lainnya seperti
detilasi, kristalisasi, pengendapan, ekstraksi, dan lain-lain mempunyai
keuntungan dalam pelaksanaan yang lebih sederhana, penggunaan waktu yang
sangat singkat terutama mempunyai kepekaan yang tinggi serta mempunyai
kemampuan memisahkan yang tinggi, Metode ini digunakan, jika dengan
metode lain tidak dapat di lakukan misalnya karena jumlah cuplikan sangat
sedikit atau campurannya kompleks.

Meskipun dasar kromatografi adalah suatu proses pemisahan namun


banyak diantara cara ini dapat digunakan untuk analisi kuatitatif. Jenis-jenis
kromatografi yang bermanfaat dalam analisi kualitatif dan analisis kuantitatif
adalah kromatografi kertas, kromatigrafi lapis tipis (KLT), kromatografi
kolom, kromatografi gas, dan kromatografi cair kinerja tinggi. Kromatografi
kertas dan KLT pada umunya lebih bermanfaat untuk tujuan indentifikasi,
karena lebih mudah dan sederhana.

Kromatografi kolom memberikan pemilihan fase diam yang lebih luas


dan berguna untuk pemisahan campuran secara kuantitatif. Dalam indutri
metode inibanyak dipakaiuntuk menghilangkan zat-zat yang tidak
diinginkandalam hasil, misalnya pada pemurnian minyak tanah atau minyak
goring dan pemurnian hidroksidayang dihasilkan dari proses elektrolisis.

1
Teknik pemisahan kromatografi dilakukan untuk mendapatkan
pemisahan campuran diantara dua fase.Fase tersebut adalah fase diam dan
fase gerak.Fase diam dapat berupa zat cair dan zat padat, sedangkan fase
gerak dapat berupa zat cair atau gas.

Latar belakang dari makalah ini adalah menghadirkan materi dasar


yang akan memperkenalkan dengan berbagai aspek dari proses kromatografi,
menjelaskan dalam istilah yang sederhana bagaimana prinsip kerja kromato
grafi, dan menunjukan beberapa penerapan yang telah membuat kromatografi
tidak dapat diabaikan dalam berbagai bidang kehidupan.

1.2 Rumusan masalah


1.      Apa pengertian dari kromatografi?
2.      Bagaimana pembagian kromatografi?
3.      Bagaimana cara membedakan fase gerak dan fase diam?
4. Bagaimana penerapan pemisahan dengan cara kromatografi ?

1.3 Tujuan
1. Untuk Mengetahui dan memahami pengertian kromatografi.
2. Untuk Mengetahui dan memahami pembagian kromatografi.
3. Untuk Mengetahui dan memahami cara membedakan fase gerak dan fase
diam.
4. Untuk mengetahui cara penerapan pemisahan dengan cara kromatografi

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kromatografi

Kromatografi pertama kali dikembangkan oleh seorang ahli botani


RusiaMichael Tsweet pada tahun 1903 untuk memisahkan pigmen berwarna
dalam tanaman dengan cara perkolasi esktrak petroleum eter dalam kolom
gelas yangberisi kalsium karbonat (CaCo3). Saat ini kromatografi merupakan
teknik pemisahan yang paling umum dan paling sering digunakan dalam
bidang kimia analisis dan dapat dimanfaatkan untuk melakukan analisis, baik
analisis kualitatif, kuantitatif, atau preparative dalam bidang farmasi,
lingkungan, industri, dan sebagainya. Kromatografi suatu teknik pemisahan
yang menggunakan fase diam (stationary phase) dan fase gerak (mobile
phase)(Rohman, 2007).

Kromatografi adalah salah satu metode pemisahan kimia yang


didasarkan pada adanya perbedaan partisi zat pada fasa diam (stationary
phase) dan fasa gerak (mobile phase).Kromatografi berasal dari bahasa
Yunani yaitu χρῶμα yang berarti warna dan γράφειν yang berarti menulis.
Kromatografi dapat bersifat preparatif maupun analitik.Tujuan kromatografi
preparatif biasanya adalah untuk memisahkan senyawa dalam campuran
(biasanya digunakan untuk pemurnian).Kromatografi analitik digunakan
untuk mengetahui perbandingan senyawa dalam campuran.

3
Dalam kromatografi, dikenal beberapa istilah, antara lain:
1.    Analit adalah zat yang dipisahkan.
2.    Kromatogram adalah output visual yang diperoleh dari hasil
pemisahan. Adanya puncak karakterisitik yang berbeda
menunjukkan adanya senyawa yang berbeda.
3.   Eluen adalah pelarut yang digunakan untuk memisahkan analit.
4.  Fasa gerak adalah fasa zat yang bergerak pada arah tertentu.
5.  Fasa diam adalah fasa yang tetap pada tempatnya.
6.  Waktu retensi adalah waktu yang diperlukan analit untuk melewati
sistem.
7.  Volume retensi adalah volume fasa gerak yang dibutuhkan untuk
mengelusi komponen analit.

4
2.2 Pembagian/penggolongan kromatografi

Penggolongan kromatografi ada 3 yaitu :

1. Kromatografi Berdasarkan prinsip/mekanisme pemisahannya, kromatografi


dapat dibedakan menjadi lima yaitu :

a) Kromatografi Adsorpsi
Adsorpsi merupakan penyerapan pada permukaannya saja dan
jangan sekali-kali dikacaukan dengan proses absorpsi yang berarti
penyerapan keseluruhan. Adsorpsi pada permukaan melibatkan
interaksi-interaksi elektrostatik seperti ikatan hidrogen, penarikan
dipol-dipol, dan penarikan yang diinduksi oleh dipole.Silika gel
merupakan jenis absorben (fase diam) yang penggunaannya paling
luas.Permukaan silika gel terdiri atas gugus Si-O-Si dan gugus silanol
(Si-OH). Kromatografi Adsorpsi seperti:
 Kromatografi Kertas
Pada kromatografi kertas sebagai penjerap digunakan sehelai
kertas dengan susunan serabut dan tebal yang sesuai.Sebagai
alternatif dapat juga digunakan sistem dua fase.Kertas
diimpregnasi dengan salah satu fase yang kemudianmenjadi fase
diam (umumnya fase yang lebih polar dalam hal kertas yang
dimodifikasi).Kromatogram dilakukan dengan merambatkan fase
gerak, melalui kertas. Dapat dilakukan kromatografi menaik,
pelarut merambat naik pada kertas ditarik oleh gaya kapiler

5
ataupun kromatografi menurun, pelarutnya mengalir oleh gaya
gravitasi.
 Kromatografi Lapis Tipis
Pada KLT, zat penjerap merupakan lapis tipis serbuk halus
yang dilapiskan pada lempeng kaca. Plastik atau logam secara
merata, umumnya digunakan lempeng kaca. Pemisahan yang
tercapai dapat didasarkan pada adsorpsi, partisi atau kombinasi
dari kedua efek, tergantung jenis penyangga, cara pembuatan, dan
jenis pelarut yang digunakan. Perkiraan identifikasi diperoleh
dengan pengamatan bercak dengan harga Rf yang identik dan
ukuran yang hamper sama. Dengan menotolkan zat uji dan baku
pembanding pada lempeng yang sama. Bercak dapat dikerok dari
lempeng, kemudian diekstraksi dengan pelarut yang sesuai dan
diukur secara spektrofotometri.
Kromatografi kertas termasuk kromatografi partisi.Fasa
diamnya air dan fasa penyokongnya adalah selulosa.Fasa geraknya
biasanya merupakan campuran dari salah satu pelarut-pelarut
organik atau air.Setelah elusi selesai, noda ditandai dengan
penanda.Bila noda tidak berwarna maka harus dideteksi secara
fisika dan kimia.
a. Secara fisika dengan menggunakan uap iodium, lampu UV
b. Secara kimia dengan menggunakan pereaksi cerium sulfat,
dragendrof, liberman burchard. 
Kecepatan elusi pada kromatografi kertas dipengaruhi oleh:
a.    Ketebalan kertas
b.    Kekentalan eluen
c.    Pelarut, jangan menggunakan pelarut yang terlalu cepat
       menguap.

6
  Pada kromatografi kertas, eluen bergerak berdasarkan gaya
kapiler dari bawah keatas (ascending) sama dengan KLT. Tetapi
bisa juga dengan gaya gravitasi bila elusinya dari atas ke bawah
(descending). Eluen yang digunakan pada kromatografi kertas
umumnya adalah campuran berbagai pelarut terutama air.
Kertas kromatografi yang sering digunakan adalah kertas
whatmann yang beredar bermacam-macam seperti ukuran 20 x 20
cm, 5 x 100 cm dan 50 x 50 cm.
Kromatografi kertas serat fasa penyokongnya lebih pendek,
bercaknya lebih kecil dari pada KLT (kromatografi lapis tipis),
waktunya lebih lama dari pada adsorben lain, tapi lebih singkat
dari pada KLTtidak bisa menggunakan pereaksi H2SO4 karena
selulosa akan terdekomposisi.
b) Kromatografi Partisi
Partisi merupakan analog dengan ekstraksi pelarut.Fase diam
diikatkan pada padatan lapis tipis yang lembam (inert). Karena fase
diam cair diikatkan pada padatan pendukung maka masih
diperdebatkan apakah proses adsorpsinya merupakan partisi murni
atau partisi yang dimodifikasi karena absorpsi juga mungkin terjadi
(Rohman,2007).
Cara ini didasarkan pada partisi linarut antara dua pelarut yang tak
bercampur, salah satunya diam (fase diam) dan yang lainnya bergerak
(fase gerak). Pada tahap awal KC, fase diam dibuat dengan cara yang
sama seperti membuat penyangga kromatografi gas (Johnson,
Stevenson,1991).
c) Pertukaran Ion
Cara ini didasarkan pada pertukaran (penjerapan) ion antara fase
gerak dan titik ion pada kemasan.Banyak dammar diperoleh dari
kopolimer stirena divinilbenzena yang telah ditambahi gugus

7
fungsi.Dammar jenis asam sulfonat dan jenis amin kuartener
merupakan pilihan terbaik untuk sebagian besar pemakaian.Baik fase
terikat maupun dammar telah digunakan. Cara tersebut banyak dipakai
dalam ilmu hayat, contohnya pemisahan asam amino, dan dapat pula
dipakai untuk pemisahan kation dan anion (Jonhson, Stevenson,1991)
d) Kromatografi Eksklusi
Eksklusi berbeda dari mekanisme sorpsi yang lain, yakni dalam
eksklusi tidak ada interaksi spesifik antara solute dengan fase diam.
Teknik ini unik karena dalam pemisahan didasarkan pada ukuran
molekul dari zat padat pengepak (fase diam). Pengepak adalah suatu
gel dengan permukaan berlubang-lubang sangat kecil (porous) yang
inert.Sebagai fase gerak digunakan cairan. Kromatografi jenis ini
sangat dipengaruhi oleh perbedaan bentuk struktur dan ukuran molekul
(Rohman,2007).
e) Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
Kromatografi cair kinerja tinggi atau KCKT atau biasa juga
disebut dengan HPLC (High Performance Liquid Chromatography)
dikembangkan pada akhir tahun 1960an dan awal tahun 1970an. Saat
ini, KCKT merupakan teknik pemisahan yang diterima secara luas
untuk analisis dan pemurnian senyawa tertentu dalam suatu sampel
tertentu seperti asam-asam amino, asam-asam nukleat, dan protein-
protein dalam cairanfisiologis;menentukan kadarsenyawa-senyawa
aktif obat, produk hasil samping proses sintesis.
2. Kromatografi berdasarkan fase yang digunakan dapat dibedakan menjadi
empat yaitu:
a. bila fase geraknya berupa air sedangkan fase diamnya berupa padatan
yang amorf yang dapat menyerap. 
b. Kromatografi gas-padat, bila fase geraknya berupa gas dan fase
diamnya berupa padatan yang dapat menyerap/mengadsorp. 

8
c. Kromatografi cair-cair, bila fase gerak dan diamnya berupa cairan,
dimana fase diamnya dilapisi pada permukaan padatan pendukung
yang inert.
d. Kromatografi gas-cair, bila fase geraknya berupa gas dan fase diamnya
berupa cairan yang dilapiskanpada padatan pendukung yang inert.
3. Kromatografi Berdasarkan alat yang digunakan dapat dibedakan menjadi
lima:
a. Kromatografi kolom
apabila komponen yang akan dipisahkan bergerak bersama fase
gerak melalui sebuah kolom kemudian setiap komponen terpisahkan
berupa zona-zona pita. Pada kromatografi analitik setiap komponen
yang keluar dari kolom akan dicatat oleh rekorder dan disajikan dalam
bentuk puncak (peak) yang menunjukkan konsentrasi eluen sebagai
fungsi waktu. Untuk suatu senyawa yang mengandung komponen
tunggal akan ditandai dengan waktu elusi yang tampak pada
konsentrasi eluen maksimum. Tinggi atau luasan puncak sebanding
dengan konsentrasi komponen sampel. Pada kromatografi preparatif,
akan diperoleh sejumlah fraksi isolate dari komponen sampel dalam
fase gerak.
b. Kromatografi planar (kromatografi lapis tipis dan kromatogafi kertas)
apabila komponen yang akan dipisahkan bergerak bersama fase
gerak dalam sebuah bidang datar. Senyawa yang bergerak berupa
bentuk noda (spot) yang dapat dikenali dengan bantuan metode fisika,
kimia, maupun biologis. Posisi noda menunjukkan identitas suatu
komponen / senyawa, sedangkan besar atau intensitasnya
menunjukkan konsentrasinya. Pada kromatografi planar beberapa
komponen dapat dipisahkan secara bersamaan maupun dipisahkan
dengan dua langkah yang pertama, Cara ini dikenal dengan metode
kromatografi dua dimensi.

9
c. Kromatografi cair
kinerja tinggi atau KCKT atau biasa juga disebut dengan HPLC
(High Performance Liquid Chromatography) dikembangkan pada
akhir tahun 1960an dan awal tahun 1970an. Saat ini, KCKT
merupakan teknik pemisahan yang diterima secara luas untuk analisis
dan pemurnian senyawa tertentu dalam suatu sampel tertentu seperti
asam-asam amino, asam-asam nukleat, dan protein-protein dalam
cairanfisiologis;menentukan kadar senyawa-senyawa aktif obat,
produk hasil samping proses sintesis.
d. Kromatografi cair vakum (KCV)
Kromatografi Cair Vakum (KCV) merupakan salah satu metode
fraksinasi yaitu dengan memisahkan crude extract menjadi fraksi-
fraksinya yang lebih sederhana. Pemisahan tersebut memanfaatkan
kolom yang berisi fasa diam dan aliran fasa geraknya dibantu dengan
pompa vakum.Fasa diam yang digunakan dapat berupa silika gel atau
alumunium oksida (Ghisalberti, 2008).
Fasa diam yang digunakan dikemas dalam kolom yang digunakan
dalam KCV. Proses penyiapan fasa diam dalam kolom terbagi menjadi
dua macam, yaitu:
a. Cara Basah      
Preparasi fasa diam dengan cara basah dilakukan dengan
melarutkan fasa diam dalam fase gerak yang akan digunakan.
Campuran kemudian dimasukkan ke dalam kolom dan dibuat
merata.Fase gerak dibiarkan mengalir hingga terbentuk lapisan
fase diam yang tetap dan rata, kemudian aliran dihentikan.
b. Cara kering

Preparasi fasa diam dengan cara kering dilakukan dengan cara


memasukkan fase diam yang digunakan ke dalam kolom

10
kromatografi. Fase diam tersebut selanjutnya dibasahi dengan
pelarut yang akan digunakan (Sarker et al., 2006).
Preparasi sampel saat akan dielusi dengan KCV juga memiliki
berbagai metode seperti preparasi fasa diam. Metode tersebut
yaitu cara basah dan cara kering (Canell, 1998). Preparasi sampel
cara basah dilakukan dengan melarutkan sampel dalam pelarut
yang akan digunakan sebagai fasa gerak dalam KCV. Larutan
dimasukkan dalam kolom kromatografi yang telah terisi fasa
diam. Bagian atas dari sampel ditutupi kembali dengan fasa diam
yang sama. Sedangkan cara kering dilakukan dengan
mencampurkan sampel dengan sebagian kecil fase diam yang akan
digunakan hingga terbentuk serbuk. Campuran tersebut diletakkan
dalam kolom yang telah terisi dengan fasa diam dan ditutup
kembali dengan fase diam yang sama.
e. HPLC (High Performance Liquid Chromatography)
Teknik pemisahan HPLC memiliki banyak keunggulan dibanding
dengan kromatografi lainnya, diantaranya adalah: cepat dalam proses
analisa, resolusi yang lebih tinggi, sensitivitas detektor yang lebih
tinggi, kolom yang dipakai dapat digunakan kembali, ideal dan cocok
untuk zat bermolekul besar dan berionik dan mudah untuk rekoveri
sampel. HPLC boleh dibilang sebagai teknik tercanggih dalam metode
kromatografi. HPLC juga menggunakan sistem instrumen seperti pada
kromatogarfi gas. Di dalam teknik ini juga digunakan tekanan dan
kecepatan yang cukup tinggi sehingga mampu dihasilkan resolusi yang
lebih baik.
Jenis kromatografi yang bermanfaat dalam analisa kualitatif dan
kuantitatif yang digunakan dalam penetapan kadar dan pengujian
Farmakope Indonesia adalah kromatografi Kolom, Kromatografi Gas,
Kromatografi Kertas, Kromatografi Lapis Tipis dan KCKT.

11
2.3 Cara membedakan fase gerak dan fase diam

1. Fase diam (Stationary phase) 


merupakan salah satu komponen yang penting dalam proses
pemisahan dengan kromatografi karena dengan adanya interaksi dengan
fase diamlah terjadi perbedaan waktu retensi (tR) dan terpisahnya
komponen suatu senyawa analit termasuk asam amino. Fase diam dapat
berupa bahan padat atau porous (berpori) dalam bentuk molekul
kecil atau cairan yang umumnya dilapiskan pada padatan pendukung.
2. Fase gerak (Mobile phase) 
merupakan pembawa analit (asam amino), dapat bersifat inert
maupun berinteraksi dengan analit tersebut. Fase gerak dapat berupa
bahan cair dan dapat juga berupa gas inert yang umumnya dapat dipakai
sebagai carrier gas senyawa mudah menguap (volatil).

2.4 Penerapan Pemisahan Dengan Cara Kromatografi

Salah satu contoh pemisahan dengan cara kromatografi adalah


pemisahan Pemisahan ekstrak purwoceng dapat menggunakan teknik
kromatografi lapis tipis (KLT). Teknik ini merupakan suatu cara
pemisahan komponen senyawa kimia di antara dua fase, yaitu fase gerak
dan fase diam (Kartasubrata, 1987). Teknik tersebut hingga saat ini masih
digunakan untuk mengidentifikasi senyawa-senyawa kimia, karena
murah, sederhana, serta dapat menganalisis beberapa komponen secara
serempak (Hernani, 1999). Teknik standar dalam melaksanakan

12
pemisahan dengan KLT diawali dengan pembuatan lapisan tipis adsorben
pada permukaan plat kaca (Institut Teknologi Bandung 1995). Tebal
lapisan bervariasi, bergantung pada analisis yang akan dilakukan
(kualitatif atau kuantitatif).
Pemisahan komponen kimia dari ekstrak purwoceng secara KLT
bertujuan untuk mengetahui komponen-komponen yang terdapat dalam
ekstrak tersebut. Percobaan dibuat dengan berbagai pereaksi (eluen) untuk
mengetahui eluen atau pereaksi yang dapat memperoleh komponen
terbanyak dari ekstrak purwoceng.
Purwoceng yang diamati berasal dari ekstrak metanol akar dan daun.
Tanaman purwoceng yang telah digiling, ditimbang 100 g lalu
dimasukkan ke dalam gelas piala, ditambahkan 300 ml metanol, dan
dikocok selama 2 jam.
Campuran lalu didiamkan semalam dan disaring. Ampasnya
ditambah metanol 100 ml lalu dikocok selama 2 jam, didiamkan
semalam, filtratnya disatukan, ampasnya ditambahkan lagi 100 ml
metanol, dikocok selama 2 jam, didiamkan semalam, filtratnya disatukan
kemudian seluruh filtrat dipekatkan dengan menggunakan evaporator.
Beberapa pereaksi atau eluen digunakan untuk memperoleh eluen
yang tepat untuk pemisahan komponen dari ekstrak purwoceng. Eluen
yang digunakan adalah: (1) heksana : diklorometan (DCM) : metanol
(MeOH)=20:10 :1; (2) sikloheksana : etil asetat = 4:1; (3) toluen : eter =
1:1; (4)sikloheksana : aseton = 2:1; (5) eter : sikloheksana = 1:1; (6) etil
asetat :toluen = 4:6; (7) sikloheksana : aseton : toluen = 2:1:0,5; serta (8)
toluen : etilasetat : sikloheksana = 3:1:1.
Eluen yang diperlukan adalah 30 ml larutan pereaksi dalam bejana
pengembang untuk memisahkan komponen dalam ekstrak yang telah
diteteskan pada plat kaca silica gel. Sebagai contoh penggunaan pereaksi
sikloheksan : etil asetat = 4 : 1 adalah campuran 24 ml sikloheksan dan 6

13
ml etil asetat yang terdapat dalam bejana pengembang. Begitu pula
campuran beberapa pereaksi untuk keperluan proses pengembangan
dalam bejana.
Adsorben sebagai fase diam yang digunakan yaitu silica gel 60
GF254 yang ketebalan pada plat 250µm. Pendeteksi komponen adalah H2
SO4 50% dan KOH 10% dalam alcohol.
Pada media fase diam (plat kaca) yang telah dilapisi silica gel 60 GF254
setebal 250 µm diteteskan contoh ekstrak purwoceng dengan
menggunakan pipet kapiler pada jarak 1,5 cm dari bagian bawah plat.
Selanjutnya plat dimasukkan ke dalam bejana pengembang yang telah
berisi pereaksi atau eluen jenuh, didiamkan sehingga batas eluen sekitar
15 cm dari awal penetesan pada plat kaca atau media fase diam yang
berukuran 20 cm x 20 cm. Plat kaca lalu diangkat hingga pereaksi atau
eluen menguap semua pada suhu kamar. Komponen atau spot yang
terdapat pada plat diamati di bawah lampu ultra violet atau disemprot
pereaksi penampak noda, dipanaskan dalam oven pada suhu 105o C
selama 10 menit. Setelah dingin diukur harga Rf dari masing-masing
komponen. Harga Rf adalah perbandingan tinggi eluen pada plat silica gel
dengan tinggi spot.
Pemisahan komponen dengan KLTdipengaruhi oleh beberapa faktor,
antara lain suhu ruang, kejenuhan uap pereaksi, ketebalan fase diam, dan
cara penetesan contoh ekstrak. Kromatografi adsorbsi umumnya lebih
mudah dilaksanakan karena polaritas adsorbennya tetap, sehingga
pemisahan dapat dilaksanakan dengan memanipulasi polaritas pelarutnya.

14
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kromatografi merupakan suatu metode pemisahan yang dewasa ini telah


banyak digunakan, dibandingkan dengan metode yang lainnya seperti detilasi,
kristalisasi, pengendapan, ekstraksi, dan lain-lain mempunyai keuntungan
dalam pelaksanaan yang lebih sederhana, penggunaan waktu yang sangat
singkat terutama mempunyai kepekaan yang tinggi serta mempunyai
kemampuan memisahkan yang tinggi, Metode ini digunakan, jika dengan
metode lain tidak dapat di lakukan misalnya karena jumlah cuplikan sangat
sedikit atau campurannya kompleks.
Penggolongan Kromatografi:
1. Berdasarkan prinsip/mekanisme pemisahan
2. Berdasarkan fase yang digunakan
3. Berdasarkan alat yang digunakan
Cara membedakan fase gerak dan fase diam:
1. Fase diam (Stationary phase) merupakan salah satu komponen yang
penting dalam proses pemisahan dengan kromatografi karena dengan
adanya interaksi dengan fase diamlah terjadi perbedaan waktu retensi (tR)
dan terpisahnya komponen suatu senyawa analit termasuk asam amino.
Fase diam dapat berupa bahan padat atau porous (berpori) dalam bentuk
molekul kecil atau cairan yang umumnya dilapiskan pada padatan
pendukung.

15
2. Fase gerak (Mobile phase) merupakan pembawa analit (asam amino),
dapat bersifat inert maupun berinteraksi dengan analit tersebut. Fase gerak
dapat berupa bahan cair dan dapat juga berupa gas inert yang umumnya
dapat dipakai sebagai carrier gas senyawa mudah menguap (volatil).
3.2 Saran
Sebaiknya dalam melakukan metode kromatografi hendaknya harus
dipahami terlebih dahulu prinsip kerja dari kromatografi dan pengetahuan
tentang cara penggunaan metode kromatografi.

16
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Rohman. (2007). Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Adnan, M. 1997. Teknik Kromatografi untuk Analisis Bahan Makanan. ANDI,


Yogyakarta. hlm. 6.

Eni Hayani dan May. S. 2005. Teknik Pemisahan Komponen Ekstrak Purwoceng
Secara Kromatografi Lapis Tipis. Jurnal Teknik Pertanian. Volume 10 (2) : 83-85.

Ghisalberti, E.L. 2008. Detection and Isolation of Bioactive Natural Products in


Bioactive Natural Products: Detection, Isolation, and Structural Determination,
Taylor & Francis Group Inc. , U.S.A.

Hernani. 1999. Teknik identifikasi bahan aktif pada tumbuhan obat. Makalah pada
Seminar  Pendalaman  Materi  di  Balai  Penelitian  Tanaman  Rempah  dan
Obat, Bogor. 13 hlm.

Institut Teknologi Bandung. 1995. Analisis Obat secara Kromatografi dan


Mikroskopi (Terjemahan). Institut Teknologi Bandung. hlm. 256.

Johnson, E.L., dan Stevenson, R., 1991, Dasar Kromatografi Cair Kinerja Tinggi,
Penerbit ITB Bandung.

17
Kartasubrata, Y. 1987. Dasar-dasar kromatografi. Makalah pada Kursus Metode
Analisis Instrumental. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kimia Terapan,
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bandung. 17 hlm.

Sastrohamodjojo Harddjono. 1985. Kromatografi. IPB Press. Bogor


Sudjadi.1988.Metode Pemisahan.: Yogyakarta: Konsius.

18