Anda di halaman 1dari 8

Lex Privatum Vol. V/No.

10/Des/2017

BENTUK-BENTUK KERJASAMA DALAM Kata kunci: Bentuk-bentuk, Kerjasama, Kegiatan


KEGIATAN BISNIS DITINJAU DARI PERSPEKTIF Bisnis, Hukum Bisnis
HUKUM BISNIS1
Oleh : Kathleen C. Pontoh2 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
ABSTRAK Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk masih menghadapi tantangan dan sejumlah
mengetahui bagaimana aturan hukum terhadap keterbatasan dalam pengembangannya. Meski
perjanjian kerjasama dalam kegiatan bisnis demikian bangsa Indonesia sebagai negara
ditinjau dari perspektif hukum bisnis dan berkembang saat ini, ekonomi pada dekade
bagaimana bentuk-bentuk kerjasama dalam terakhir ini mengalami kemajuan yang cukup
kegiatan perdagangan yang dapat dilakukan pesat, meskipun kemajuan tersebut ditandai
manajemen perusahaan. Dengan menggunakan masa cukup sulit karena baru saja bangkit dari
metode penelitian yuridis normatif, krisis ekonomi yang berkepanjangan, yang
disimpulkan: 1. Aturan hukum terhadap menyebabkan pemanasan dan pelambatan
perjanjian kerjasama dalam kegiatan bisnis ekonomi di Indonesia. Secara umum kemajuan
ditinjau dari perspektif hukum bisnis, mengacu yang dicapai oleh bangsa Indonesia dalam
kepada hukum Perdata khususnya Pasal 1313 berbagai bidang kehidupan tidak diraih begitu
KUH Perdata, yang menyatakan bahwa “Suatu saja akan tetapi merupakan hasil kerja keras
perjanjian adalah suatu perbuatan di mana satu serta kerjasama segenap lapisan masyarakat,
orang atau lebih mengikatkan diri terhadap satu termasuk pihak pemerintah dan perusahaan
orang lain atau lebih”. Sehingga jelas bahwa secara terus menerus secara
perjanjian melahirkan perikatan, demikian juga berkesinambungan.
KUH Dagang dan peraturan perundangan- Dalam konteks ekonomi Indonesia saat ini,
undangan Indonesia dalam berbagai bentuk dimana sedang memasuki era free trade, maka
badan usaha. 2. Bentuk-bentuk kerjasama Pemerintah Indonesia melakukan beberapa
dalam kegiatan perdagangan yang dapat kebijakan di bidang hukum sebagaimana
dilakukan manajemen perusahaan seperti dituangkan dalam Garis-Garis Besar Haluan
Merger, Kosolidasi, Joint Ventura dan Waralaba. Negara (GBHN) tahun 1999, di mana salah satu
Merger adalah suatu penggabungan satu atau kebijakan tersebut adalah amanat untuk
beberapa badan usaha sehingga dari sudut mengembangkan peraturan perundang-
ekonomi merupakan satu kesatuan, tanpa undangan yang diarahkan guna untuk
melebur badan usaha yang bergabung. mendukung kegiatan perekonomian dalam
Konsolidasi/penggabungan antara dua atau menghadapi era perdagangan bebas tanpa
lebih badan usaha yang menggabungkan diri merugikan kepentingan nasional.
saling melebur menjadi satu dan membentuk Salah satu kegiatan perekonomian sesuai
satu badan usaha yang baru (peleburan). Hal ini dengan arah kebijakan ekonomi dalam GBHN
bertujuan untuk “menyehatkan” badan usaha 1999, adalah mengembangkan kebijakan
yang bersangkutan atau biasa disebut industri, perdagangan dan investasi dalam
restrukturisasi. Joint Ventura sebagai suatu rangka meningkatkan daya saing global dengan
persetujuan di antara dua pihak atau lebih, membuka aksesibilitas yang sama terhadap
untuk melakuklan kerjasama dalam suatu kesempatan kerja dan berusaha bagi segenap
kegiatan. Waralaba Perikatan di mana salah rakyat dan seluruh daerah melalui keunggulan
satu pihak diberikan hak untuk memanfaatkan kompetitif terutama berbasis keunggulan
dan/atau menggunkan hak atas kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya
intelektual atau penemuan, atau ciri khas usaha Manusia (SDM) dengan menghapus segala
yang dimiliki pihak lain dengan imbalan bentuk perlakuan diskriminasi dan hambatan
berdasarkan persyaratan dan atau penjualan bagi investasi baik di pusat maupun di daerah.
barang dan jasa. Disisi lain adanya fakta bahwa kebijakan-
kebijakan hukum di bidang ekonomi
1
Artikel. tersebut, seringkali terhambat oleh belum
2
Dosen Pada Fakultas Hukum Unsrat, Manado. Magister berfungsinya hukum sebagai Law in action
Ilmu Hukum.

147
Lex Privatum Vol. V/No. 10/Des/2017

dalam mengantisipasi berbagai perubahan di memang benar bahwa ilmu pengetahuan


bidang ekonomi. Asia Free Trade Area (AFTA) dan teknologi adalah tiang-tiang penopang
telah merubah tatanan sistem kegiatan kemajuan suatu bangsa, namun tidak dapat
ekonomi dari ekonomi terpusat menjadi disangkal bahwa hukum merupakan pranata
ekonomi pasar (market economy) dimana yang pada akhirnya menentukan bagaimana
standar pasarlah yang menentukan kegiatan kesejahteraan yang dicapai tersebut dapat
ekonomi. Hal ini sesuai dengan teori yang dinikmati secara merata, bagaimana
dikembangkan oleh Adam Smith (1774) keadilan sosial dapat diwujudkan dalam
dalam Daniels (1987), dalam bukunya kehidupan masyarakat, dan bagaimana
Wealth of Nation.3 kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
Hukum seharusnya dapat berfungsi sebagai dapat membawa kebahagiaan bagi rakyat
social engineering dimana hukum sebagai banyak”.
penggerak untuk mengubah pola pikir serta Disisi lain pembangunan perekonomian yang
pola tindak masyarakat di bidang ekonomi. dibina serta dikembangkan tanpa
Tuntutan pasar mengharuskan penyesuaian memperhatikan keseimbangan serta ketertiban
standar-standar hukum baik dalam akan menciptakan ketidakseimbangan. Oleh
perdagangan (trade) maupun investasi karena itu, cukup perlu dibangun serta dibina
(investation). Pembangunan pada bidang dengan baik sehingga dapat memberikan
ekonomi merupakan penggerak utama sumbangan positif bagi kemajuan bangsa
pembangunan, namun pembangunan ekonomi Indonesia. Kemajuan ekonomi bangsa
ini harus disertai upaya saling memperkuat, Indonesia, tidak terlepas dari pengaruh
terkait, serta terpadu dengan pembangunan ekonomi global.
bidang lainnya. Pemberlakuan AFTA, telah membuka
Pembangunan ekonomi dengan hukum wacana baru dalam sistem hukum dan ekonomi
mempunyai hubungan timbal balik dan erat. khususnya di Asia Tenggara. Indonesia yang
Bahkan Hartono4 menyatakan : diperhadapkan pada sistem tersebut mau tidak
“... pembaharuan dasar-dasar pemikiran di mau harus mengikutinya supaya tidak
bidang ekonomi ikut mengubah dan ketinggalan di dalam persaingan antar negara
menentukan dasar-dasar system hukum ASEAN.
yang bersangkutan, maka penegakkan asas- Area Perdagangan Bebas Asean (AFTA)
asas hukum yang sesuai juga akan merupakan suatu bentuk kerja sama regional di
memperlancar terbentuknya struktur Asia Tenggara yang bertujuan untuk
ekonomi yang dikehendaki, tetapi sebaliknya menghapuskan trade barriers antar negara
penegakkan asas-asas hukum yang tidak anggota ASEAN. Munculnya kerja sama regional
sesuai justru akan menghambat terciptanya di bidang ekonomi merupakan fenomena global
struktur ekonomi yang dicita-citakan”. yang terjadi diberbagai belahan dunia.
Hukum merupakan salah satu bidang yang Terjadinya blok-blok ekonomi sebagai respons
perlu dibangun untuk memperkokoh bangsa terhadap globalisasi dan perdagangan bebas
Indonesia di dalam menghadapi kemajuan serta yang menjadi trend di dunia saat ini. Melalui
perkembangan ilmu, teknologi, dan seni yang KTT Asean di Singapura pada bulan Januari
sangat pesat. Masalah hukum bukanlah tahun 1992 secara Formal menyetujui
masalah yang berdiri sendiri, akan tetapi pembentukan Asean Free Trade Area (AFTA)
berkaitan erat dengan masalah-masalah dengan melahirkan Common Effective
kemasyarakatan lainnya. Saleh5 menyatakan : Preferential Tariff (CEPT).
“Memang benar ekonomi merupakan tulang Diberlakukannya AFTA bertujuan untuk
punggung kesejahteraan masyarakat, dan mengurangi hambatan tarif/ nontarif di antara
sepuluh negara Asean, guna melakukan
3
Daniels, Undang-Undang No. 1 Tahun 1967 Dalam economic recovery serta meningkatkan
Perspektif Hukum Investasi, Airlangga, Bandung, 1987, hal. bargaining position di mata masyarakat
4.
4
Budi Hartono, S, Hukum Ekonomi Pembangunan Indonesia,
internasional. Dari sisi keanggotaan AFTA terdiri
Cetakan Pertama, Bina Cipta, Bandung, 1982, hal. 6-7. atas sepuluh negara anggota dan terbagi
5
I. Saleh, Hukum dan Ekonomi, Cetakan Pertama, PT. menjadi dua kelompok, yaitu enam negara
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1990, hal. 27.

148
Lex Privatum Vol. V/No. 10/Des/2017

penandatangan CEPT (Indonesia, Malaysia, keberhasilan Indonesia dalam bersaing di era


Singapura, Filipina, Thailand, Brunei perdagangan bebas ASEAN.
Darussalam) pada tahun 1992 dan empat Kebijakan pemerintahan saat ini, adalah
negara yang bergabung kemudian (Vietnam, melakukan berbagai upaya untuk mendorong
Kamboja, Myanmar, dan Laos) pada tahun 1995 investasi baik yang berasal dari dalam maupun
pada waktu KTT Asean yang diselenggarakan di luar negeri antara lain melalui penyederhanaan
Bangkok. Laos dan Myanmar bergabung pada prosedur investasi, desentralisasi beberapa
tahun 1997; serta Kamboja pada tahun 1999. kewenangan penanaman modal, walaupun
Adapun tujuan dibentuknya AFTA, yaitu : masih terdapat beberapa kelemahan yang perlu
a. Meningkatkan keunggulan kompetitif disempurnakan. Kelemahan tersebut
sebagai basis produksi pasar dunia. diantaranya masih kurang konsisten dan
b. Liberalisai perdagangan mengurangi transparannya pemberian sistem insentif bagi
kendala tarif dan nontarif antar negara kegiatan investasi dan rumitnya sistem
anggota. perizinan usaha yang akibatnya menciptakan
c. Efisiensi produksi dalam meningkatkan ekonomi biaya tinggi, khususnya bagi
daya saing jangka panjang. perusahaan kecil dan menengah. Dalam masa
d. Ekspansi perdagangan interregional krisis, tingkat investasi menurun tajam
memberikan konsumen di ASEAN lebih dibandingkan dengan masa sebelum krisis.
banyak pilihan serta kualitas produk lebih Penurunan investasi ini secara langsung
baik (Suherman, 2002). berakibat pada rendahnya pertumbuhan
Target diberlakukannya AFTA yaitu untuk ekonomi. Dari sisi lintas modal, masih terjadi
mengurangi tarif, bahkan menuju zero tariffs pelarian modal dimana arus keluar oleh swasta
rate sebelum tahun 2023. Pemberlakuan masih lebih besar dibandingkan arus modal
kesepakatan AFTA terhadap enam negara swasta yang masuk.
penanda tangan secara serentak berlaku efektif Bisnis yang dilakukan lazimnya bisa
sejak tahun 2010, sedangkan untuk Vietnam dilakukan oleh perseorangan dan bisa juga
tahun 2013, Laos dan Myanmar 2015, dan dengan suatu perkumpulan, dalam arti
Kamboja pada tahun 2017. Pada waktu yang perkumpulan yang berbentuk badan hukum
ditentukan tersebut semua produk harus masuk maupun perkumpulan yang bukan berbentuk
dalam skema CEPT. badan hukum. Dalam melaksanakan kegiatan
Ibrahim dan Lindawaty6 menyatakan AFTA bisnis, dapat dilakukan dengan berbagai cara,
merupakan sebuah bentuk kesepakatan diantaranya melalui kerjasama usaha/bisnis
Inter governmental Agreement yang baik dengan pihak lokal maupun pihak asing.
bertujuan khusus untuk menciptakan era Ada yang melakukan untuk kepentingan pribadi,
perdagangan bebas di wilayah Asean. dan ada juga yang melakukannya untuk
Kesepakatan AFTA yang dibuat pada bulan kepentingan perusahaan.
Januari 1992 di Singapura diterima secara Pada manajemen perusahaan tujuan
bulat dan utuh oleh negara-negara Asean, dilakukannya kerjasama tersebut adalah untuk
untuk selanjutnya diterapkan di masing- mencari laba atau keuntungan satu sama lain.
masing negara, tanpa memerlukan Juga terdapat tujuan lainnya, seperti untuk
instrument hukum dalam pelaksanaannya. mempercepat proses pemasaran produk
Hal yang sangat penting adalah bagaimana kepada masyarakat luas. Ada juga yang
kesiapan bangsa Indonesia, terutama sistem bertujuan seperti untuk membantu pihak lain,
hukum kita dalam mengantisipasi karena tidak diizinkannya pihak lain
perkembangan tersebut. Peranan hukum dan memasarkan produknya secara langsung ke
kesiapan perangkat hukum Indonesia di bidang suatu negara. Dengan demikian bentuk-bentuk
investasi terasa sangat dominan saat ini. Upaya kerjasama yang dapat dilakukan dalam praktik,
optimalisasi peranan hukum dalam investasi, meliputi : joint venture, waralaba, merger,
merupakan satu hal yang menentukan konsolidasi, kontrak karya, dll.
Selain itu karena adanya interaksi antar
6
Ibrahim J. dan S. Lindawaty, Hukum Bisnis Dalam pelaku usaha dalam melaksanakan kerjasama
Persepsi Manusia Modern, Cetakan Pertama, PT. Refika bisnis tersebut, tidak jarang menimbulkan
Aditama, Bandung, 2003, hal. 23.

149
Lex Privatum Vol. V/No. 10/Des/2017

sengketa bisnis yang harus mendapatkan dianalisis dengan menggunakan metode analisa
penyelesaian segera, tuntas dan memiliki kualitatif
keadilan hukum. Sutiyoso menyatakan bahwa
dunia bisnis tidak pernah sepi dari sengketa, PEMBAHASAN
karena dalam dunia bisnis terkadang sulit A. Aturan Hukum Terhadap Bentuk-bentuk
dihindarkan adanya potensi konflik di antara Perjanjian Kerjasama Dalam Kegiatan Bisnis
para pelakunya.7 Meskipun demikian dunia Ditinjau Dari Perspektif Hukum Bisnis
bisnis tetap menjadi primadona dan diminati Perjanjian dalam pengelolaan suatu usaha
oleh banyak orang, karena melalui kerjasama memiliki peran yang sangat penting. Dalam
bisnis yang dilakukan dapat mempermudah dunia bisnis setiap perjanjian akan dituangkan
untuk mengembangkan usaha, cakupan pasar, secara formal melalui sebuah perikatan,
meningkatkan laba usaha, dll. Bahkan melalui sehingga perjanjian tersebut akan memiliki
kerjasama bisnis yang dilakuakn dapat menjadi kekuatan hukum dan kekuatan yang memaksa
penopang kemajuan perekonomian suatu para pihak untuk dipatuhi dan dilaksanakan.
bangsa. Perjanjian dalam bidang Hukum Perdata,
Uraian sebelumnya, menggambarkan bahwa akan melahirkan hukum perjanjian. Bab III
perlu adanya perhatian yang serius mengenai Kitab Undang-undang Hukum Perdata
pelaksanaan dan bentuk-bentuk kerjasama berjudul Perikatan (Van Verbintenissen). Di
dalam kegiatan bisnis, yang dapat dilakukan sini, istilah “perikatan” (Verbintenis)
manajemen perusahaan, serta perlunya aturan mengandung pengertian yang lebih luas
hukum terhadap perjanjian kerjasama dalam daripada istilah perjanjian (overeenkomst),
kegiatan bisnis ditinjau dari perspektif hukum sebab dalam Buku III KUH Perdata diatur
bisnis yang dapat memberikan kepastian hukum juga tentang persetujuan (atau perjanjian)
bagi para pelaku usaha. yaitu perihal perikatan yang timbul dari
perbuatan melanggar hukum
B. Permasalahan (onrechtimatige daad) dan perikatan yang
Bertitik tolak pada latar belakang di atas, timbul oleh undang-undang karena
maka permasalahannya sebagai berikut: perbuatan manusia yang layak
1. Bagaimanakah aturan hukum terhadap (zaakwaarneming). Tetapi sebagian besar
perjanjian kerjasama dalam kegiatan Buku III KUH Perdata ditujukan pada
bisnis ditinjau dari perspektif hukum perikatan-perikatan yang timbul dari
bisnis ? persetujuan atau perjanjian. Jadi, menurut
2. Bagaimanakah bentuk-bentuk kerjasama R. Subekti, Buku III KUH Perdata, “Berisikan
dalam kegiatan perdagangan yang dapat hukum perjanjian”.8
dilakukan manajemen perusahaan ? Achmad Ichsan memberikan perumusan
perjanjian sebagai berikut : “suatu hubungan
C. Metode Penelitian atas dasar hukum kekayaan (Vermogen
Penelitian ini merupakan penelitian rechtelijke betreking) antara dua pihak atau
normatif, yaitu dengan melihat hukum sebagai lebih dalam mana pihak yang satu
kaidah (norma). Untuk menghimpun bahan berkewajiban memberikan sesuatu prestasi atas
digunakan metode penelitian kepustakaan nama pihak yang lain mempunyai hak terhadap
(library research), yaitu dengan mempelajari prestasi itu.9
kepustakaan hukum yang berkaitan dengan Melihat hal-hal yang diatur dalam Buku III
pokok permasalahan, himpunan peraturan KUH Perdata, maka dapat dikatakan bahwa KUH
perundang-undangan, artikel-artikel hukum, Perdata Buku III berisi tentang hukum
dan berbagai sumber tertulis lainnya. Bahan- perjanjian, ditambah dengan beberapa
bahan yang telah dihimpun selanjutnya ketentuan yang mengatur perikatan yang lahir
karena undang-undang, baik karena perbuatan

7 8
Bambang Sutiyoso, Penyelesaian Sengketa Bisnis: Solusi R. Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, Intermasa,
dan Antisipasi bagi Peminat Bisnis Dalam Menghadapi Jakarta, 1984, hal. 22.
9
Sengketa Kini dan Mendatang, Citra Media Hukum, Achmad Ichsan, Hukum Perdata IB, PT. Pembimbing
Yogyakarta, 2006, hal. 58. Masa, Jakarta, 1969, hal. 15.

150
Lex Privatum Vol. V/No. 10/Des/2017

manusia yang sah maupun perbuatan manusia perjanjian tersebut berkewajiban untuk
yang tidak sah. mengajukan bukti-bukti yang dipergunakan
Eksistensi perjanjian sebagai salah satu untuk membuktikan bahwa keberatan
sumber perikatan dapat kita temui landasannya pihak ketiga dimaksud adalah tidak
pada ketentuan Pasal 1233 Kitab Undang- berdasar dan tidak dapat dibenarkan.
undang hukum Perdata yang menyatakan 2. Perjanjian yang disahkan notaris dengan
bahwa : “Tiap-tiap perikatan dilahirkan, baik melegalisir tanda tangan para pihak
karena perjanjian baik karena undang-undang”. Fungsi kesaksian notaris atas suatu
Ketentuan tersebut dipertegas lagi dengan dokumen semata-mata hanya untuk
rumusan ketentuan Pasal 1313 Kitab Undang- melegalisir kebenaran tandatangan para
undang hukum Perdata, yang menyatakan pihak. Akan tetapi kesaksian tersebut
bahwa “Suatu perjanjian adalah suatu tidaklah mempengaruhi kekuatan hukum
perbuatan di mana satu orang atau lebih dari isi perjanjian. Jadi walau para pihak
mengikatkan diri terhadap satu orang lain atau tidak dapat menyangkal bahwa ia
lebih”. Dengan demikian jelaslah bahwa menandatangani perjanjian itu; ia mungkin
perjanjian melahirkan perikatan. saja menyangkal isi perjanjiannya. Namun
Syarat-syarat untuk sahnya suatu perjanjian pihak yang menyangkal tersebut adalah
dalam KUH Perdata di Indonesia, diatur dalam pihak yang harus membuktikan
Buku III Pasal 1320 KUH Perdata yang berbunyi penyangkalannya.
sebagai berikut : 3. Perjanjian yang dibuat di hadapan dan oleh
“Untuk sahnya persetujuan-persetujuan, notaris dalam bentuk akta notariel. Jenis
diperlukan empat syarat :10 dokumen ini merupakan alat bukti yang
1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya; sempurna bagi para pihak yang
2. Kecakapan untuk membuat suatu bersangkutan maupun pihak ketiga.
perikatan; Bentuk kerjasama dalam bisnis bukanlah hal
3. Suatu hal tertentu; yang baru, dari zaman dulu sudah banyak
4. Suatu sebab yang halal”. bekerjasama dalam bisnis terutama yang
Di sini istilah “persetujuan” dipakai untuk bersifat sederhana dengan tujuannya masing-
pengertian yang sama dengan “perjanjian” masing.11 Saat ini ada banyak sekali bentuk
sebagai hasil terjemahan “overeenkomst” kerjasama dalam kegiatan bisnis yang
dalam bahasa Belanda. Dari keempat syarat- dituangkan dalam suatu akta hukum seperti:
syarat untuk sahnya suatu perjanjian, maka dua Merger, Kosolidasi, Joint Ventura dan Waralaba
syarat yang pertama (sepakat dan kecakapan) yang berkembang pesat, sesuai perkembangan
disebut syarat-syarat subyektif, sedang dua ekonomi suatu daerah.124 Karena
syarat yang kedua (hal tertentu dan causa) pertimbangannya, dalam melakukan suatu
adalah syarat-syarat obyektif. kegiatan bisnis, kadangkala suatu badan usaha
Secara hukum bentuk-bentuk perjanjian kurang mampu menjalankan sendiri, sehingga
tertulis yang dibuat dunia bisnis, khususnya perlu untuk mengadakan kerja sama dengan
berhubungan dengan kekuatan pembuktian, badan usah lain.
meliputi :
1. Perjanjian di bawah tangan yang B. Bentuk-bentuk Kerjasama Dalam Kegiatan
ditandatangani para pihak yang Perdagangan Yang Dapat Dilakukan
bersangkutan saja Manajemen Perusahaan
Perjanjian semacam itu hanya mengikat Melakukan suatu kegiatan bisnis kadangkala
para pihak dalam perjanjian tetapi tidak suatu badan usaha kurang mampu menjalankan
mempunyai kekuatan mengikat pihak
ketiga. Dengan kata lain, jika perjanjian
tersebut disangkal oleh pihak ketiga, maka
11
para pihak atau salah satu pihak dari Suwardi, 2014. Bentuk-Bentuk Kerjasama Dalam
Kegiatan Usaha. https://suwardi73.wordpress.com/, Hal. 1
Diakses tanggal 3 Oktober 2017.
10 12
R. Subekti, R. Tjitrosudibio, Kitab Undang-undang Ashibly, 2012. Bentuk-Bentuk Kerjasama Dalam
Hukum Perdata (terjemahan dari BW), Pradnya Paramita, Kegiatan Bisnis. http://ashibly.blogspot.co.id/ Hal. 2
Jakarta, 1980, hal. 307. Diakses tanggal 3 Oktober 2017.

151
Lex Privatum Vol. V/No. 10/Des/2017

sendiri tanpa mengadakan kerja sama dengan Hanya dapat dilakukan apabila telah
badan usaha lain, beberapa bentuk kerjasama : mendapat persetujuan Rapat Umum
a. Merger Pemegang sahan (RUPS) masing-masing
Merger atau fusi adalah suatu badan usaha yang terlibat.
penggabungan satu atau beberapa badan d. Joint Venture
usaha sehingga dari sudut ekonomi Secara umum diartikan sebagai suatu
merupakan satu kesatuan, tanpa melebur persetujuan di antara dua pihak atau lebih,
badan usaha yang bergabung. untuk melakuklan kerjasama dalam suatu
Dipandang dari segi ekonomi, ada dua jenis kegiatan. Persetujuan yang dimaksud adalah
merger, yaitu : kesepakatan yang didasari atas satu
1. Mergen horizontal perjanjian sebagaimana diatur dalam Pasal
Penggabungan satu atau beberapa KUH Perdata.
perusahaan yang masing-masing kegiatan e. Waralaba/franchise
bisnis (produksinya) berbeda satu sama Perikatan di mana salah satu pihak diberikan
lain sehingga yang satu dengan yang hak untuk memanfaatkan dan/atau
lainnya merupakan kelanjutan dari menggunkan hak atas kekayaan intelektual
masing-masing produk. atau penemuan, atau ciri khas usaha yang
2. Merger vertical dimiliki pihak lain dengan imbalan
Penggabungan satu atau beberapa berdasarkan persyaratan dan atau penjualan
perusahaan yang masing-masing kegiatan barang dan jasa.
bisnis berbeda satu sama lain, namun Pada dasarnya suatu franchise atau
tidak saling mendukung dalam waralaba, adalah suatu bentuk perjanjian,
penggabungan produk. Hal ini akan yang isinya memberikan hak dan
menjurus pada pembentukan suatu kewenangan khusus kepada pihak penerima
kerjasama yang menuju ke arah konsern. waralaba, yang dapat terwujud dalam
Konsern adalah suatu susunan dari bentuk :
perusahaan-perusahaan yang secara 1. Hak untuk melakukan penjualan atas
yuridis tetap mandiri dan yang satu produk berupa barang dan atau jasa
dengan yang lain merupakan satu dengan mempergunakan nama dagang
kesatuan ekonomi yang dipimpin oleh atau merek dagang tertentu;
suatu perusahaan induk. 2. Hak untuk melaksanakan kegiatan usaha
b. Konsolidasi dengan atau berdasarkan pada suatu
Penggabungan antara dua atau lebih badan format bisnis yang telah ditentukan oleh
usaha yang menggabungkan diri saling pemberi waralaba.
melebur menjadi satu dan membentuk satu Hal ini berarti sebagai suatu perjanjian,
badan usaha yang baru (peleburan). Hal ini waralaba tunduk pada ketentuan umum
bertujuan untuk “menyehatkan” badan yang berlaku bagi sahnya suatu perjanjian
usaha yang bersangkutan atau biasa disebut sebagaimana diatur dalam Buku III KUH
restrukturisasi. Perdata.
Restrukturisasi badan usaha tidak hanya Waralaba sebagai suatu bentuk perjanjian,
menyangkut aspek bisnis, tetapi menyangkut dapat dilihat dari perjanjian itu sendiri
usaha, organisasi, manajemen, keuangan sebagai berikut; Perjanjian, menurut
maupun aspek hukum. rumusan Pasal 1313 KUH Perdata,
Dengan demikian pengertian restrukturisasi didefinisikan sebagai : “suatu perbuatan
badan usaha adalah suatu kerjasama antara dengan mana satu orang atau lebih
dua atau beberapa badan usaha yang mengikatkan dirinya terhadap satu orang
dilakukan secara terencana, dengan jalan lain atau lebih”.13
mengubah pola badan usaha dalam Secara khusus pengaturan mengenai
melaksanakan kegiatannya agar dapat waralaba di Indonesia dapat kita temukan
mencapai tujuan dengan baik. dalam Peraturan Pemerintah Nomor 16
c. Pelaksanaan merger Bagi Badan Usaha yang
13
berbentuk Perseroan Terbatas (PT) Gunawan Widjaja, Waralaba, PT. Raja Grafindo
Persada, Jakarta, 2001, hal. 76.

152
Lex Privatum Vol. V/No. 10/Des/2017

Tahun 1997 yang dijabarkan pada Keputusan perjanjian kerjasama dalam kegiatan
Menteri perindustrian dan Perdagangan bisnis, sehingga dalam menjalankan
Nomor 359/MPP/KEP/7/1997 tentang Tata kegiatan usahanya dapat berjalan lancar,
Cara Pelaksanaan Pendaftaran Usaha dan memiliki kekuatan hukum yang
Waralaba dan. mengikat seperti dalam perjanjian atau
kontrak yang dibuat oleh pihak yang
PENUTUP terlibat dalam perjanjian bisnis yang
A. Kesimpulan dilakukan.
1. Aturan hukum terhadap perjanjian 2. Untuk lebih mempercepat pertumbuhan
kerjasama dalam kegiatan bisnis ditinjau usaha, maka manajemen sebaiknya
dari perspektif hukum bisnis, mengacu mempertimbangkan untuk membuat
kepada hukum Perdata khususnya Pasal kontrak bisnis bagi pengembangan usaha
1313 KUH Perdata, yang menyatakan melalui Merger, Kosolidasi, Joint Ventura
bahwa “Suatu perjanjian adalah suatu dan Waralaba sesuai dengan kebutuhan
perbuatan di mana satu orang atau lebih dan spesifikasi usaha dan bentuk hukum
mengikatkan diri terhadap satu orang lain perusahaan yang ingin dikembangkan.
atau lebih”. Sehingga jelas bahwa
perjanjian melahirkan perikatan, DAFTAR PUSTAKA
demikian juga KUH Dagang dan peraturan Achmad Ichsan, Hukum Perdata IB, PT.
perundangan-undangan Indonesia dalam Pembimbing Masa, Jakarta, 1969.
berbagai bentuk badan usaha. Daniels, Undang-Undang No. 1 Tahun 1967
2. Bentuk-bentuk kerjasama dalam kegiatan Dalam Perspektif Hukum Investasi,
perdagangan yang dapat dilakukan Airlangga, Bandung, 1987.
manajemen perusahaan seperti Merger, Bambang Sutiyoso, Penyelesaian Sengketa
Kosolidasi, Joint Ventura dan Waralaba. Bisnis: Solusi dan Antisipasi bagi Peminat
Merger adalah suatu penggabungan satu Bisnis Dalam Menghadapi Sengketa Kini
atau beberapa badan usaha sehingga dari dan Mendatang, Citra Media Hukum,
sudut ekonomi merupakan satu Yogyakarta, 2006
kesatuan, tanpa melebur badan usaha Budi Hartono, S, Hukum Ekonomi
yang bergabung. Pembangunan Indonesia, Cetakan
Konsolidasi/penggabungan antara dua Pertama, Bina Cipta, Bandung, 1982.
atau lebih badan usaha yang Gunawan Widjaja, Waralaba, PT. Raja Grafindo
menggabungkan diri saling melebur Persada, Jakarta, 2001.
menjadi satu dan membentuk satu badan HMN. Purwosutjipto, Pengertian Pokok Hukum
usaha yang baru (peleburan). Hal ini Dagang Indonesia, Hukum Surat
bertujuan untuk “menyehatkan” badan Berharga, Djambatan, Jakarta, 1987.
usaha yang bersangkutan atau biasa Hartono Hadisoeprapto, Pokok-pokok Hukum
disebut restrukturisasi. Joint Ventura Perikatan Dan Hukum Jaminan, Liberty,
sebagai suatu persetujuan di antara dua Yogyakarta, 1984.
pihak atau lebih, untuk melakuklan Ibrahim J. dan S. Lindawaty, Hukum Bisnis
kerjasama dalam suatu kegiatan. Dalam Persepsi Manusia Modern,
Waralaba Perikatan di mana salah satu Cetakan Pertama, PT. Refika Aditama,
pihak diberikan hak untuk memanfaatkan Bandung, 2003.
dan/atau menggunkan hak atas kekayaan Saleh, Hukum dan Ekonomi, Cetakan Pertama
intelektual atau penemuan, atau ciri khas PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,
usaha yang dimiliki pihak lain dengan 1990.
imbalan berdasarkan persyaratan dan Munir Fuady, Pengantar Hukum Bisnis, Menata
atau penjualan barang dan jasa. Bisnis Modern di Era Global, Citra Aditya
Bakti, Bandung, 2005.
B. Saran R. Subekti, R. Tjitrosudibio, Kitab Undang-
1. Sebaiknya manajemen perusahaan undang Hukum Perdata (terjemahan dari
mengikuti aturan hukum terhadap BW), Pradnya Paramita, Jakarta, 1980

153
Lex Privatum Vol. V/No. 10/Des/2017

R. Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata,


Intermasa, Jakarta, 1984.
Soedharyo Soimin, Kitab Undang-undang
Hukum Perdata, Sinar Grafika, Jakarta,
1998.
Wirjono Prodjodikoro, Asas-asas Hukum
Perjanjian, Sumur, Bandung, 1973.

Sumber Lain :
Suwardi, 2014. Bentuk-Bentuk Kerjasama Dalam
Kegiatan Usaha.
https://suwardi73.wordpress.com/, Hal. 1
Diakses tanggal 3 Oktober 2017.
Ashibly, 2012. Bentuk-Bentuk Kerjasama Dalam
Kegiatan Bisnis.
http://ashibly.blogspot.co.id/ Hal. 2
Diakses tanggal 3 Oktober 2017.

154