Anda di halaman 1dari 13

NAMA : ZALSHA BELLA VIRGINIA

NPM : 19071010124
KELAS : A071
HUKUM TATA NEGARA

KEDUDUKAN HUKUM TATA NEGARA DALAM SISTEM HUKUM INDONESIA

Untuk mempelajari Hukum Tata Negara kita harus mengetahui terlebih dahulu definisi
dari Hukum Tata Negara. Hukum Tata Negara memiliki banyak pengertian dari para ahli.
Beberapa contoh definisi Hukum Tata Negara menurut para ahli adalah sebagai berikut :
1. Menurut Kusumadi Pudjosewojo Hukum Tata Negara adalah hukum yang mengatur
bentuk negara dan bentuk pemerintahan, yang menunjukkan masyarakat hukum yang
atasan maupun yang bawahan, beserta tingkatan-tingkatannya yang selanjutannya
menegaskan wilayah dan lingkungan rakyat dari masyarakat-masyarakat hukum itu
dan akhirnya menunjukkan alat-alat perlengkapan yang memegang kekuasaan dari
masyarakat hukum itu, beserta susunan, wewenang, tingkatan imbangan dari dan
antara alat perlengkapan negara itu.
2. Menurut Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim
Hukum Tata Negara dapat dirumuskan sebagai sekumpulan peraturan hukum yang
mengatur organisasi dari pada negara, hubungan antar alat perlengkapan negara
dalam garis vertikal dan horizontal, serta kedudukan warga negara dan hak azasinya.
3. Menurut J. H. A. Logemann
Hukum Tata Negara adalah hukum yang mengatur organisasi negara. Negara adalah
organisasi jabatan-jabatan. Jabatan merupakan pengertian yuridis dan fungsi,
sedangkan fungsi merupakan pengertian yang bersifat sosiologis. Karena negara
merupakan organisasi yang terdiri dari fungsi-fungsi dalam hubungannya satu dengan
yang lain maupun dalam keseluruhannya, maka dalam pengertian yuridis, negara
merupakan organisasi jabatan.
4. Menurut Cristian Van Vollenhoven
Hukum Tata Negara mengatur semua masyarakat hukum atasan dan masyarakat
hukum bawahan menurut tingkatan-tingkatannya, yang masing-masing menentukan
wilayah atau lingkungan rakyatnya sendiri-sendiri, dan menentukan badan-badan
dalam lingkungan masyarakat hukum yang bersangkutan beserta fungsinya masing-
masing, serta menentukan pula susunan dan wewenangnya dari badan-badan
tersebut.
5. Menurut Jimly Asshiddqie sendiri pengertian Ilmu Hukum Tata Negara dapat
dirumuskan sebagai cabang ilmu hukum yang mempelajari prinsip-prinsip dan norma-
norma hukum yang tertuang secara tertulis ataupun yang hidup dalam kenyataan
praktik kenegaraan berkenaan dengan (i) konstitusi yang berisi kesepakatan kolektif
suatu komunitas rakyat mengenai cita-cita untuk hidup bersama dalam suatu Negara,
(ii) institusi-institusi kekuasaan  Negara beserta fungsinya, (iii) mekanisme hubungan
antar institusi itu, serta (iv) prinsip-prinsip hubungan antara institusi kekuasaan Negara
dengan warga Negara.
6. Menurut Paton George Whitecross Hukum Tata Negara adalah hukum yang mengatur
alat-alat perlengkapan negara, tugasnya, wewenang dan hubungan antara alat
pelengkap negara itu, dengan bukunya “textbook of jurisprudence” yang menyatakan
bahwa Constutional Law deals with the ultimate question of distribution of legal power
and the fungctions of the organ of the state.
Keragaman pengertian Hukum Tata Negara berakar pada pemahaman cara berpikir
yang berbeda dan lingkungan sejarah yang melatarbelakangi pemikiran-pemikiran tersebut.
Hukum Tata Negara dapat dilihat sebagai cabang keilmuan hukum maka Kata ‘ilmu’ tidak
ditempatkan didepan Hukum Tata Negara. Hukum Tata Negara bisa juga disebut hukum
konstitusi yang tentunya mempelajari segala ketentuan dan aturan tentang ketatanegaraan
(undang-undang dasar dan sebagainya).
Hukum Tata Negara di Belanda umumnya memakai istilah “staatsrech” yang dibagi
menjadi staatsrecht in ruimere zin (dalam arti sempit yaitu yang hanya membicarakan Hukum
Negara) dan staatsrech In engere zin (dalam arti luas yaitu kajian yang membedakan Hukum
Tata Negara dari Hukum Administrasi Negara, Hukum Tata Usaha Negara atau Hukum Tata
Pemerintah). Dalam kepustakaan hukum Belanda, perkataan staatrecht (Hukum Tata Negara)
mempunyai dua macam arti: pertama, sebagai staatrechtwetenschap (ilmu hukum tata
negara); dan kedua, positief staatrecht (hukum tata negara positif). Di Inggris pada umumnya
memakai istilah “Contitusional law”, penggunaan istilah tersebut didasarkan atas alasan bahwa
dalam Hukum Tata Negara unsur konstitusi yang lebih menonjol. Di Perancis orang
mempergunakan istilah “Droit Constitutionnel” yang ditandingkan dengan “Droit
Administrative”, dimana titik beratnya adalah untuk membedakan antara Hukum Tata Negara
dan Hukum Administrasi Negara. Sedangkan di Jerman mempergunakan istilah Verfas-
sungsrect yang berarti Hukum Tata Negara dan Verwassungsrecht yang berarti Hukum
Administrasi negara.

Konstitusi
Istilah konstitusi dari sudut sejarah telah lama dikenal, yaitu sejak zaman Yunani Kuno.
Diduga "Konstitusi Athena" yang ditulis oleh seorang Xenophon (abad ke-425 SM) merupakan
konstitusi pertama, konstitusi Athena dipandang sebagai alat demokrasi yang sempurna. Dapat
diduga bahwa pemahaman orang tentang apa yang diartikan Konsitusi, sejalan dengan
pemikiran orang-orang Yunani Kuno tentang Negara. Hal ini dapat diketahui dari paham
Socrates yang kemudian dikembangkan oleh muridnya Plato, dalam bukunya Politea atau
Negara, yang memuat ajaran-ajaran Plato tentang Negara atau hukum, dan bukunya Nomoi
atau undang-undang, dan juga tulisan Aristoteles dalam bukunya Politica yang membicarakan
tentang Negara dan hukum (keadilan).
Dalam masyarakat Yunani Purba dikatakan, bahwa Politea diartikan sebagai konstitusi,
sedangkan Nomoi adalah undang-undang biasa. Perbedaan dari istilah tersebut adalah politea
mengandung kekuasaan lebih tinggi daripada nomoi, karena mempunyai kekuatan membentuk
agar tidak becerai-berai. Dalam kebudayaan Yunani istilah konstitusi berhubungan erat dengan
ucapan Resublica Constituere. Sehingga lahirlah semboyan yang berbunyi “Princep Legibus
solutus est, Salus Publica Suprema lex" yang berarti rajalah yang berhak menentukan
organisasi/struktur daripada Negara, oleh karena itu adalah satu-satunya pembuat undang-
undang. Dengan demikian, istilah konstitusi pada zaman Yunani Purba, baru diartikan secara
materiel, karena konstitusi saat itu belum diletkan dalam suatu naskah yang tertulis.
Menurut sejarah Yunani Kuno, negara Yunani pernah menjadi jajahan Romawi. Akibat
dari penjajahan itu banyak dari kebudayaan Yunani Kuno yang ditiru oleh bangsa Romawi,
seperti ajaran tentang Polis dan ajaran Kedaulatan Rakyat (Ecclesia) yang dipraktikkan di
negerinya sendiri. Penerapannya ternyata tidak sama dengan ajaran yang dibawa dari Yunani,
karena sifat, keadaan serta pembawaan bangsa Romawi yang lain. Melalui ajaran kedaulatan
rakyat yang ditirukannya dari bangsa Yunani, orang Romawi mencoba menyusun suatu
pemerintahan dengan seorang raja yang berkuasa mutlak. Menurut orang Romawi pada suatu
ketika rakyat mengadakan perjanjian dengan Caesar. Dalam perjanjian itu terjadi perpindahan
kekuasaan dari tangan Rakyat ke tangan Caesar secara mutlak (tranlatio empirii) yang
kemudian diletakkan dalam Lex Regia. Karena translatio empiri itu rakyat sudah tidak dapat
meminta pertanggungjawaban Caesar lagi dan lahirlah paham Caesarismus (perwakilan mutlak
berada ditangan Caesar).
Pengertian kita sekarang tentang istilah konstitusi berkaitan erat dengan dua
perkataan Yunani Kuno politea dan bahasa Latin constitutio. Dari dua perkataan itulah awal
mula gagasan konstitusi diekspresikan. Di Inggris, peraturan yang pertama kali dikaitkan
dengan istilah konstitusi adalah Constitusion of Clarendon 1164 yang disebut oleh Henry I
sebagai consitution, aviate constitution or leges, a recordation vel recognition, menyangkut
hubungan antara gereja dan pemerintahan Negara pada masa pemerintahan kakeknya, yaitu
Henry I. Glanvill sering menggunakan kata constitution untuk a royal edict (titah raja atau ratu).
Perkembangan-perkembangan demikian itulah yang pada akhirnya mengantarkan
Imodern. Dalam Oxford Dictionary, perkataan constitution dikaitkan dengan beberapa arti,
yaitu: “... the act of establishing or of ordaining, or the ordinance or regulation so established."
Selain itu, kata constitution juga diartikan sebagai pembuatan atau penyusunan hakikat
sesuatu (the “make" or compositionwich determines the natur of anything). Oleh karena itu,
constitution dapat pula dipakai untuk menyebut “... the body or the mind of man as well as to
external objects".
Konstitusi atau Constitution atau Verfassung berbeda dengan Undang-Undang Dasar
atau Grundgesetz. Bila kita memperhatikan adanya Lex Regia ataupun Leges Fundamentalis
nampak bahwa dalam perkembangan sejarah, perjanjian-perjanjian antara pemerintah dan
yang diperintah mulai dinaskahkan. Tujuan menaskahkan adalah untuk memudahkan pihak-
pihak mematuhi hak dan kewajibannya. Analisis teori konstitusi yang menentukan dapat
ditinjau dari sisi hukum (yuridis) dan tertulis atau grundgesetz atau grondswet.
Konstitusi yang ditinjau dari sisi hukum disebut Constitutional Recht, yang diperhatikan
ditekankan kepada faktor-faktor kekuasaan nyata dalam masyarakat, sedangkan Grondswet
yang diperhatikan semata-mata konstitusi dalam arti sempit yaitu yang tertulis atau Undang-
Undang Dasar saja. Berarti ikhwal konstitusi lebih luas daripada grondswet.
Konstitusi selalu dihubungkan dengan hukum dasar suatu Negara. Hukum dasar yang
dimaksud bisa berupa hukum tertulis, tetapi bisa juga hukum yang tidak tertulis. Dalam hal ini,
konstitusi merupakan norma dasar yang mengatur Negara secara umum yang di dalamnya
mencakup kekuasaan Negara, bentuk negara dan bentuk pemerintahan, lembaga negara dan
mekanisme pembagian kekuasaan antara lembaga negara, warga negara, dan juga hak asasi
manusia.
Istilah konstitusi dari sudut sejarah telah lama dikenal, yaitu sejak zaman Yunani Kuno.
Diduga “Konstitusi Athena" yang ditulis oleh seorang Xenophon (abad ke-425 SM) merupakan
konstitusi pertama, konstitusi Athena dipandang sebagai alat demokrasi yang sempurna. Dapat
diduga bahwa pemahaman orang tentang apa yang diartikan Konsitusi, sejalan dengan
pemikiran orang-orang Yunani Kuno tentang Negara. Hal ini dapat diketahui dari paham
Socrates yang kemudian dikembangkan oleh muridnya Plato, dalam bukunya Politea atau
Negara, yang memuat ajaran-ajaran Plato tentang Negara atau hukum, dan bukunya Nomoi
atau undang-undang, dan juga tulisan Aristoteles dalam bukunya Politica yang membicarakan
tentang Negara dan hukum (keadilan).
Nilai konstitusi, sebagai penilaian atas pelaksanaan norma-norma dalam suatu
konstitusi dalam kenyataan praktik. Sehubungan dengan hal itu, Karl Loewanstein dalam
bukunya Reflection on the Value of Contitution membedakan nilai konstitusi menjadi tiga,
yaitu: (i) normative value; (ii) nominal value; (iii) semantical value. Menurut pandangan Karl
Loewenstein, dalam setiap konstitusi selalu terdapat dua aspek penting, yaitu sifat idealnya
sebagai teori dan sifat nyatanya selalu dalam praktik. Artinya, sebagai hukum tertinggi di
dalam konstitusi itu selalu terkandung nilai-nilai ideal sebagai das sollen yang tidak selalu
identik dengan das sein atau keadaan nyatanya di lapangan. Jika antara norma yang terdapat
dalam konstitusi yang bersifat mengikat itu dipahami, diakui, diterima, dan dipatuhi oleh
subjek hukum yang terikat padanya, konstitusi itu dinamakan sebagai konstitusi yang
mempunyai nilai normatif. Akan tetapi, apabila suatu Undang-Undang Dasar, sebagian atau
seluruh materi muatannya, dalam kenyataannya tidak dipakai sama sekali sebagai referensi
atau rujukan dalam pengambilan keputusan dalam penyelenggaraan kegiatan bernegara,
konstitusi tersebut dapat dikatakan sebagai konstitusi yang bernilai nominal.
Konstitusi yang bernilai semantik adalah konstitusi yang norma-norma yang
terkandung di dalamnya hanya dihargai di atas kertas yang indah dan dijadikan jargon,
semboyan, ataupun “gincu-gincu ketatanegaraan" yang berfungsi sebagai pemanis dan
sekaligus sebagai alat pembenaran belaka.
Sebagai suatu cabang ilmu hukum, ada banyak pendapat mengenai konstitusi. Berikut
beberapa pandangan para ahli terkait konstitusi, yaitu:
1. K.C. Wheare
K.C. Wheare adalah seorang pakar hukum konstitusi, beliau mengaitkan
pentingnya konstitusi dengan pengertian hukum dalam arti sempit, di mana konstitusi
dibuat oleh badan yang mempunyai wewenang hukum, yaitu sebuah badan yang
diakui sah untuk memberikan kekuatan hukum pada konstitusi. Tapi dalam
kenyataannya tidak menutup kemungkinan adanya konstitusi yang sama sekali hampa,
karena tidak ada pertalia yang nyata antara pihak yang merumuskan dan membuat
konstitusi dengan pihak yang benar-benar menjalankan pemerintahan negara.
K.C. Wheare mengartikan konstitusi sebagai “keseluruhan sistem
ketatanegraan dari suatu negara berupa kumpulan peraturan yang membentuk,
mengatur, atau memerintah dalam pemerintahan satu negara."
Pandangan K.C. Wheare ini memberikan gambaran bahwa konstitusi memiliki
kedudukan tertinggi dalam sebuah negara. Dengan pemikiran seperti itu, timbul suatu
jaminan bahwa:
"Konstitusi itu akan diperhatikan dan ditaati dan menjamin agar konstitusi
tidak akan dirusak dan diubah begitu saja secara sembarangan.”

2. E.C.S. Wade
E.C.S. Wade menjelaskan bahwa: “A document having a special legal
sancity which sets out the framework and the principal function of the organs
of government of a state and declares the principles governing the operation
of those organs" (Undang-Undang Dasar adalah naskah yang memaparkan
rangka dan tugas pokok dari badan-badan pemerintahan suatu negara
dan menentukan pokok-pokok cara kerja badan-badan tersebut).
E.C.S. Wade dalam bukunya Constitutional Law mengatakan Undang-
Undang Dasar adalah naskah yang memaparkan rangka dan tugas-tugas
pokok dari badan-badan pemerintahan suatu negara dan menentukan
pokok-pokoknya cara kerja badan-badan tersebut. Jadi, pada pokok-
nya dasar dari setiap sistem pemerintahan diatur dalam suatu Undang-
Undang Dasar.
Bagi mereka yang memandang negara dari sudut kekuasaan dan
menganggapnya sebagai organisasi kekuasaan, maka Undang-Undang
Dasar dapat dipandang sebagai lembaga atau kumpulan asas yang me-
netapkan begaimana kekuasaan dibagi antara beberapa lembaga kenega-
raan, misalnya antara badan legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Undang-
Undang Dasar menentukan cara-cara bagaimana pusat-pusat kekuasaan
ini bekerja sama dan menyesuaikan diri satu sama lain, Undang-Undang Dasar
merekam hubungan-hubungan kekuasaan dalam suatu negara.

3. Hans Kelsen
Hans Kelsen (1 Oktober 1881-19 April 1973) adalah seorang ahli
hukum Austria, filsuf hukum dan filsafat politik. Semasa hidupnya, Hans Kelsen
memberikan banyak teori berkaitan dengan ilmu hukum. Tak hanya itu, pendapat-
pendapat yang ia kemukakan pun banyak dijadikan rujukan bagi perkembangan ilmu
hukum. Hans Kelsen menyatakan bahwa konstitusi negara biasanya juga disebut
sebagai hukum fundamental negara, yaitu dasar dari tata hukum nasional. Konstitusi
secara yuridis dapat pula bermakna norma-norma yang mengatur proses
pembentukan undang-undang, di samping mengatur pembentukan dan kompetensi
dari organ-organ eksekutif dan yudikatif.

Sejarah Ketatanegaraan Indonesia


Sejak pemerintah Bala tentara Jepang menguasai Indonesia melalui perang Asia Pasifik
yang menyingkirkan kekuasaan pemerintah Hindia Belanda yang sebelumnya menjajah
Indonesia, maka sejak saat itu terjadi pergantian kekuasaan di Indonesia. Untuk melawan
sekutu dalam perang Asia Pasifik, pemerintah Bala tentara Jepang menjanjikan akan
memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia apabila berhasil menjadi pemenang
dalam perang tersebut, dan tentunya Jepang mengharapkan bantuan dan dukungan dari
seluruh rakyat Indonesia. Sebagai bentuk keseriusan Jepang terhadap kemerdekaan bangsa
yang bertugas untuk mempersiapkan segala sesuatu hal yang berhubungan dengan
kemerdekaan Indonesia, sehingga pada masanya nanti Indonesia telah siap menjadi bangsa
yang merdeka.
Pada tanggal 29 April 1945, pemerintah Jepang yang berada di Jakarta mendirikan
Badang Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang diketuai
oleh Dr. KRT Radjiman Wediodiningrat dengan anggota berjumlah sebanyak 62 orang yang
dilantik pada tanggal 28 Mei 1945. BPUPKI bertujuan untuk menyelidiki hal-hal yang penting
mengenai kemerdekaan Indonesia serta menyusun berbagai rencana yang penting dengan
mempersiapkan serta memberikan segala sesuatu sebagai badan untuk diperbincangkan oleh
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) sebagai badan yang bertugas mengambil
keputusan tentang bahan yang mengenai kemerdekaan itu. BPUPKI bertugas mempersiapkan
segala sesuatu yang diperlukan bagi negara Indonesia merdeka yang akan lahir kelak termasuk
soal-soal yang menyangkut dasar negara, undang-undang dasar, dan pembelaan tanah air.
Selanjutnya, BPUPKI membentuk panitia perumus yakni panitia kecil dengan anggota 9
orang yang disebut sebagai panitia sembilan untuk merumuskan hasil-hasil perundingan yang
melaksanakan sidang pada tanggal 22 Juni 1945 di rumah kediaman Ir. Soekarno di Jln.
Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta, dan mencapai persetujuan bersama yang dituangkan
dalam naskah Rancangan Pembukaan Hukum Dasar yang kemudian dikenal dengan nama
Piagam Jakarta. Adapun rumusan dasar negara di dalam mukadimah sebagai hasil kerja
kolektif panitia 9 terdiri dari 5 dasar yaitu:
a. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya;
b. Kemanusiaan yang adil dan beradab;
c. Persatuan Indonesia;
d. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu,
e. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pada tanggal 16 Juli 1945, Rancangan Undang-Undang Dasar 1945 dengan perubahan-
perubahannya diterima oleh BPUPKI, kemudian BPUPKI dibubarkan dan digantikan dengan
sebuah badan baru bernama Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 7 Agustus
1945. PPKI beranggotakan 21 orang dengan ketua Ir. Soekarno dan wakil ketuanya Drs.
Muhammad Hatta yang kemudian jumlah anggotanya bertambah menjadi 27 orang. Susunan
keanggotaan PPKI berasal dari rakyat Indonesia yang mewakili masing-masing daerah sehingga
PPKI dianggap sebagai badan perwakilan seluruh rakyat Indonesia, yang kemudian PPKI
menyaksikan pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh Bung Karno pada
tanggal 17 Agustus 1945 yang mengandung makna sebagai berikut:
a. Lenyapnya penjajahan di Indonesia dan terciptanya kemerdekaan Indonesia atas
kekuatan sendiri;
b. Puncak perjuangan pergerakan kemerdekaan, setelah berjuang berpuluh-puluh tahun
sejak tanggal 20 Mei 1908;
c. Deklarasi kemerdekaan (pencerminan kehendak bangsa Indonesia untuk bebas,
merdeka, tidak mau lagi dikuasai oleh bangsa lain);
d. Berdirinya negara Indonesia baru secara defacto oleh pembentuk negara (the founding
fathers);
e. Sumber dari segala sumber tertib hukum yang berlaku di Indonesia dan peralihan
hukum kolonial ke dalam hukum nasional.

Pada tanggal 18 Agustus 1945 atau sehari setelah Indonesia merdeka, PPKI
mengadakan sidang pertama yang dihadiri oleh 27 orang anggota dan menghasilkan
keputusan-keputusan atau ketetapan yaitu Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, Undang-
Undang Dasar 1945 sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia, Ir. Soekarno
dan Drs. Muhammad Hatta masing-masing sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik
Indonesia, dan pekerjaan Presiden untuk sementara waktu dibantu oleh sebuah Komite
Nasional. Kemudian PPKI mengadakan sidang kedua tanggal 19 Agustus 1945 dengan
keputusan yaitu tentang pembagian daerah Provinsi menjadi 8 wilayah yaitu Jawa Barat, Jawa
Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Borneo, Sulawesi, Maluku dan Sunda Kecil atau Bali, dan
pembentukan 12 Departemen.
Berdasarkan hasil sidang PPKI tanggal 18 dan 19 Agustus 1945 tersebut maka secara
formal negara Indonesia telah memenuhi semua unsur-unsur terbentuknya suatu negara yaitu
adanya rakyat, wilayah, pemerintahan yang berdaulat serta mempunyai tujuan negara.
Dengan kata lain bahwa sejak tanggal 18 Agustus 1945 pada saat ditetapkannya Undang-
Undang Dasar 1945 dan ditetapkannya Ir. Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia dan
Drs. Muhammad Hatta sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia, maka sejak tanggal
tersebut, Negara Indonesia telah memiliki Undang-Undang Dasar sebagai pelaksanaan
pemerintahan dan memiliki Presiden sebagai puncak pimpinan pemerintahan negara Republik
Indonesia.
Dengan demikian, sejak tanggal 19 Agustus 1945 berdasarkan hasil sidang Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), maka negara Indonesia telah memenuhi syarat-
syarat berdirinya suatu negara yaitu adanya pemerintahan dalam hal ini Presiden dan Wakil
Presiden beserta alat-alat perlengkapannya dalam hal ini pembentukan departemen-
departemen yang dipimpin oleh seorang Menteri sebagai alat-alat perlengkapan negara dan
pembagian wilayah kekuasaan Indonesia menjadi 8 wilayah Provinsi sebagai pelaksana tugas
pemerintahan di daerah, dan syarat adanya rakyat dalam hal ini seluruh rakyat bangsa
Indonesia yang mendiami pulau-pulau yang berada di Indonesia sebagai satu kesatuan negara
Indonesia.

Objek Kajian Hukum Tata Negara


Sebagai ilmu, Hukum Tata Negara memiliki objek kajian yang berbeda dengan ilmu
politik, hukum pidana, hukum internasional, hukum perdata maupun hukum administrasi
negara. Objek kajian Hukum Tata Negara sebenarnya tertuang dalam konstitusi suatu negara.
Hal ini dapat dipahami, konstitusi sebagai hukum dasar dapat dipastikan mengatur berbagai
sendi kehidupan bernegara.
Dalam bukunya yang berjudul “Hukum Tata Negara Indonesia”, Fajlurrahman Jurdi
mengemukakan secara umum, objek kajian Hukum Tata Negara adalah:
- pertama, hukum tata negara mengkaji mengenai organisasi negara, baik secara vertikal
maupun secara horizontal.
- Kedua, selain organisasi negara, hukum tata negara juga meletakkan objek kajiannya pada
alat kelengkapan negara. Hal ini berhubungan langsung dengan bagaimana struktur alat
perlengkapan negara yang dimaksud serta seperti apa pembagian tugas dan wewenang dari
alat perlengkapan negara itu. Artinya jelas ada tugas dan kewenangan yang diberikan kepada
alat kelengkapan negara dalam menjalankan fungsinya guna melayani kepentingan masyarakat
dalam negara itu.
- Ketiga, setiap alat kelengkapan negara yang satu dengan yang lainnya tentu memiliki
hubungan kelembagaan yang tidak bisa dihindari. Dalam hal ini, konsep trias politica dapat
menjadi acuan. Hubungan alat kelengkapan negara ini memastikan bahwa antara lembaga
negara yang satu dan lembaga negara yang lainnya saling menguatkan dalam menjalankan
tugas dan wewenangnya. Antara kekuasaan badan eksekutif, legislatif, dan yudikatif masing-
masing memiliki kewenangan yang berbeda, namun dalam menjalankan kewenangannya,
ketiga alat kelengkapan negara tersebut saling menguatkan.
- Keempat, salah satu yang paling penting juga yang menjadi objek kajian hukum tata negara
adalah bentuk negara dan bentuk pemerintahan. Bentuk negara, baik kesatuan maupun
federal merupakan bagian penting yang dipelajari dalam hukum tata negara. Begitu pula
dengan bentuk pemerintahan, demokrasi, monarki, aristokrasi, oligarki, tirani, dan sebagainya.
Oleh karena semua itu berkaitan dengan hal-hal yang paling fundamen dalam kehidupan
bernegara, maka hukum tata negara menjadikannya sebaga objek kajiannya.
- Kelima, setiap negara memiliki sistem pemerintahan yang berbedabeda. Karena itu, objek
kajian hukum tata negara adalah mengkaji mengenai sistem pemerintahan suatu negara serta
menghubungkannya dengan alat-alat kelengkapan negara tersebut. Dalam hal ini, sistem
pemerintahan, baik presidensial maupun parlementer menjadi objek kajian hukum tata
negara.
- Keenam, setiap negara memiliki wilayah dengan batas-batas yang telah ditentukan. Adanya
batas-batas ini berhubungan dengan negara lain dan berkaitan erat dengan kedaulatan. Setiap
negara memiliki batas-batas wilayah yang berdaulat, di mana dalam wilayah tersebut berlaku
sepenuhnya kekuasaan negara tersebut. Hukum tata negara memiliki konsen kajian pada
wilayah negara karena berkaitan dengan kedaulatan.
- Ketujuh, dalam menjaga hubungan antara rakyat dan negara, maka ada hak-hak yang perlu
dilindungi. Salah satu hak yang dilindungi adalah hak asasi manusia. Hukum tata negara
menjadikan hak asasi manusia sebagai salah satu objek kajiannya. Hal ini juga tidak terlepas
dari pentingnya perlindungan hak ini oleh negara. Jaminan perlindungan hak asasi manusia
diatur oleh konstitusi negara, sehingga dapat dipastikan bahwa eksistensi hak ini hadir
bersamaan dengan eksistensi negara.
- Kedelapan, oleh karena hak asasi manusia dilindungi oleh negara, maka ada hubungan antara
warga negara dan pemerintah yang berkaitan dengan pemenuhan hak dan kewajiban masing-
masing pihak, baik oleh warga negara terhadap pemerintah, maupun oleh pemerintah
terhadap warga negara. Konten permasalahan ini merupakan objek kajian hokum tata negara.
- Kesembilan, sebagai norma dasar yang membentuk semua yang telah diuraikan di atas,
hukum tata negara juga menjadikan konstitusi sebagai objek kajiannya. Karena di dalam
konstitusi, bentuk negara, bentuk pemerintahan, sistem pemerintahan, lembaga-lembaga
negara, hubungan kewenangan antar-lembaga negara, warga negara, perlindungan terhadap
hak asasi manusia, dan hal-hal fundamental lainnya ditentukan. Konstitusi merupakan hukum
dasar yang membentuk negara sebagai jaminan hukum terhadap kehidupan bernegara.
B. Hestu Cipto Handoyo dalam bukunya yang berjudul “Hukum Tata Negara Indonesia”
juga mengemukakan hal yang serupa mengenai objek kajian hukum tata negara. Hal serupa
yang dimaksud sebagai “pokok kajian Hukum Tata Negara", yakni:
1) Bentuk dan cara pembentukan atau penyusunan alat-alat perlengkapan negara. Dalam
hal ini juga menyangkut bentuk organisasi negara yang dikehendaki.
2) Wewenang, fungsi, tugas, kewajiban dan tanggung jawab dari masing-masing alat
perlengkapan negara.
3) Hubungan antara alat perlengkapan negara, baik yang bersifat vertikal maupun
horizontal.
4) Hubungan antara warga negara termasuk hak-hak asasi dari warga negara sebagai
anggota organisasi.

Ruang Lingkup Hukum Tata Negara


Menurut Logemann, ilmu Hukum Tata Negara dalam arti sempit menyelidiki hal-hal
sebagai berikut:
1) Jabatan-jabatan apa yang terdapat di dalam kenegaraan tertentu;
2) Siapa yang mengadakannya;
3) Bagaimana cara memperlengkapi mereka dengan pejabat- pejabat;
4) Apa yang menjadi tugasnya (lingkungan pekerjaannya);
5) Apa yang menjadi wewenangnya;
6) Perhubungan kekuasaannya satu sama lain;
7) Dalam batasan-batasan apa organisasi negara (dan bagian-bagiannya) menjalankan
tugasnya.
Ruang lingkup ilmu Hukum Tata Negara yang dikemukakan oleh Logemann tersebut
memperlihatkan bahwa hanya dua hal utama yang dibicarakan dalam Hukum Tata Negara,
yaitu: pertama, mengenai alat kelengkapan atau organisasi negara dan kedua mengenai tugas,
wewenang dan hubungan antar organisasi negara itu. Hal penting yang tidak dibicarakan oleh
Logemann adalah mengenai hubungan negara dengan rakyatnya yang dalam hal ini disebut
warga negara dan penduduk.
Sehubungan dengan pengertian Hukum Tata Negara di atas, maka yang dimaksud
dengan unsur-unsur Hukum Tata Negara adalah sebagai berikut:
a. Organisasi negara adalah susunan organisasi Negara; bentuk negara, sistem
pemerintahan, pembagian wilayah/daerah; macam-macam lembaga negara, baik di
pusat maupun dalam bagian wilayah/daerahnya;
b. Hubungan antarorganisasi negara adalah mengenai tugas dan wewenang lembaga
negara baik di tingkat pusat melalui pembagian kekuasaan horisontal (Eksekutif,
Legislatif dan Yudikatif, serta lembaga kenegaraan lainnya) maupun ditingkat wilayah/
daerah (pembagian vertical) serta hubungan antar lembaga negara yang satu dengan
yang lain. Termasuk dalam kategori ini bahasan tentang Pemerintahan Daerah;
c. Hubungan antar negara dengan penduduk dan warga negaranya adalah hubungan
antar negara/ pemerintah dengan warga dan penduduknya. Misalnya pengaturan
tentang hak dan kewajiban warga negara, dan hak penduduknya. Termasuk dalam
pembahasan ini adalah syarat-syarat warga negara, civic hukum (kewarganegaraan),
sistem kepartaian (partai politik), dan sistem pemilihan umum.
Berdasarkan pembidangan unsur-unsur di atas, maka Hukum Tata Negara akan
membahas hal-hal sebagai berikut:
1. Istilah dan Pengertian Hukum Tata Negara
2. Sumber-sumber Hukum Tata Negara
3. Teori dan Hukum Konstitusi
4. Sejarah Perkembangan Ketatanegaraan Indonesia
5. Bentuk Negara, Bentuk Pemerintahan dan Sistem Pemerintahan
6. Pemerintahan Daerah
7. Partai Politik dan Pemilihan Umum
8. Lembaga-Lembaga Negara
9. Hak Asasi Manusia
10. Penduduk dan warga negara
11. Kekuasaan Kehakiman yang Bebas.
Dengan demikian, ruang lingkup hukum tata negara berkaitan dengan organisasi
negara yang dapat berupa susunan negara yang meliputi bentuk negara dan pemerintahan,
sistem pemerintahan, pembagian kekuasaan, badan-badan atau organ-organ negara sebagai
alat perlengkapan negara dalam menyelenggarakan tugas-tugas negara dan pemerintahan
beserta berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan, juga berkaitan dengan
kedudukan warga negara beserta hak dan kewajibannya, termasuk bagaimana kehidupan
politik dalam suatu negara dalam penyelenggaraan kekuasaan serta tentang sejarah
ketatanegaraan suatu negara yang membahas tentang asal mula berdirinya negara pada masa
lalu hingga perkembangan negara pada saat ini.

Asas-Asas Hukum Tata Negara


Satjipto Rahardjo menyebutkan ketika pembicaraan mengenai asas hukum maka pada
saat itu kita sedang membicarakan unsur yang penting dan pokok dari peraturan-peraturan
hukum, sehingga tidak berlebihan ketika dikatakan bahwa hukum merupakan Asas
"jantungnya" peraturan-peraturan hukum. Asas hokum juga kadang-kadang didudukkan
sebagai ratio legis dari sebuah peraturan hukum, yang tidak akan habis kekuatannya dalam
melahirkan peraturan hukum dan justru melahirkan peraturan-peraturan hukum selanjutnya.
Dari segi teoritis, asas hukum merupakan "teori" bagi ilmu hukum sekaligus meta teori
bagi hokum doktrinal. Asas hukum berfungsi sebagai kaidah berpikir bilamana dalam
penerapan-penerapan hukum ditemukan masalah-masalah baik dari segi peraturan hukum
maupun penerapan dari peraturan-peraturan hukum. Namun demikian, asas hukum bukanlah
peraturan hukum meski tidak ada aturan-aturan hukum yang dapat dipahami tanpa adanya
asas hukum. Asas hukum pada dasarnya cenderung mengandung makna etis maupun moral.
Gagasan mengenai asas hukum sebagai kaidah fundamental dalam system menurut
Paul Scholten, sebagaimana dikutip oleh J. J. H. Bruggink", asas ialah pikiran-pikiran dasar yang
terdapat di dalam dan dibelakang sistem hukum masing-masing dirumuskan dalam aturan-
aturan perundang-undangan dan putusan-putusan hakim, yang berkenaan dengannya
ketentuan-ketentuan dan keputusan-keputusan individual dapat dipandang sebagai
penjabarannya. Definisi yang dipaparkan oleh Paul Scholten mengenai peranan asas hukum
sebagai meta kaidah, dipertanyakan oleh J. J. H. Bruggink, apakah asas hukum tersebut harus
dipandang sebagai bentuk yang kuat atau bentuk yang lemah dari meta-kaidah hukum.
Asas sebagai pikiran-pikiran dasar sangat beragam jumlahnya. Dalam hukum Pidana
misalnya dikenal asas equality before the law yang apabila dilacak embrionya sangat dekat
dengan tradisi common law system. Dalam dunia peradilan ada pula asas yang berbunyi
“nullus/ nemo commodum capere potest de injuria sua propia" (tidak seorangpun boleh
diuntungkan oleh penyimpangan dan pelanggaran yang dilakukannya sendiri dan tidak
seorangpun boleh dirugikan oleh penyimpangan dan pelanggaran yang dilakukan oleh orang
lain). Di Indonesia, asas hukum tata Negara menurut Moh. Kusnardi & Harmaily Ibrahim antara
lain terdiri dari:
1. Asas Pancasila. Sebagai sumber hukum materil, Pancasila berkedudukan sebagai asas
Hukum Tata Negara Indonesia yang terdiri dari 5 (lima) sila, antara lain yaitu:
a. Ketuhanan yang Maha Esa;
b. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab;
c. Persatuan Indonesia;
d. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan
dalam Permusyawaratan Perwakilan; dan
e. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
2. Asas Kekeluargaan. Ide asas kekeluargaan ini berasal dariSoepomo dalampidatonya
padatanggal31 Mei 1945 ketika diadakan rapat BPUPK di gedung Chuoo Sangi-in.
Antara lain oleh Soepomo dikemukakan bahwa untuk mengetahui dasar sistem
pemerintahan yang hendak kita pakai untuk Negara Indonesia, maka dasar system
pemerintahan itu tergantung kepada Staatside untuk membangun Negara Indonesia,
sehingga pengambilan keputusan mesti dilekati dengan musyawarah sebagai satu
keluarga yaitu bangsa Indonesia.
3. Asas Kedaulatan Rakyat. Asas ini identik dengan makna demokrasi dimana dalam
penyelenggaraan Negara, rakyatlah yang berdaulat.
4. Asas Pembagian Kekuasaan. Asas ini menekan pentingnya pembagian/pemisahan
kekuasaan Negara.
5. Asas Negara Hukum. Asas ini berkaitan dengan makna istilah Negara hukum itu sendiri
yakni Negara yang berdiri di atas hukum yang menjamin keadilan kepada warga
negaranya. Di samping itu, asas-asas hukum tata Negara juga diuraikan oleh I Gede
Yusa, et.al, yang tidak berbeda jauh dari segi istilah dengan Moh. Kusnardi & Harmaily
Ibrahim di atas, antara lain yaitu:
1. Asas Kekeluargaan;
2. Asas Kedaulatan Rakyat;
3. Asas Pembagian Kekuasaan; dan
4. Asas Negara Hukum.

Peran Hukum Tata Negara dalam Pembangunan Hukum Indonesia


Hukum tata negara memiliki tujuan tersendiri, yaitu:
1. Mendeskripsikan pengertian yang terkandung dalam konstitusi atau Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pasca amandemen keempat.
2. Menciptakan kesadaran masyarakat Indonesia terhadap hak dan kewajiban asasi
sebagai subjek hukum dalam tata negara Indonesia.
3. Membantu para pemuda agar dapat memahami secara garis besar dalam ruang
lingkup ilmu pengetahuan tata negara.
4. Menyatukan masyarakat Indonesia dalam pengetahuan hukum dalam lingkup tata
negara.
5. Mendorong perkembangan lebih dalam tentang hukum tata negara yang eksis di
Indonesia.

Adapun fungsinya hukum tersebut dapat digunakan sebagai alat ketertiban dan
keteraturan dalam masyarakat. Selain itu, menjadi sarana perwujudan keadilan sosial dan lahir
batin, wadah penggerak pembangunan.

Dalam konsep negara hukum, tujuan negara adalah keadilan dan kesejahteraan.
Dengan kata lain, negara dalam memerintah berdasarkan atas keadilan dan hukum memberi
kepada setiap manusia apa yang sebenarnya berhak ia terima sehingga kesejahteraan pun
dapat tercapai.

Sumber hukum materil Hukum Tata Negara adalah Pancasila. Sumber hukum materiel
menjelaskan mengenai substansi dari hukum atau substansi hukum dari suatu masyarakat.
Sedangkan sumber hukum formil Hukum Tata Negara salah satunya adalah Undang-undang
Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Pancasila bukan termasuk hierarki perundang-
undangan, tetapi merupakan sumber utama dari pembuatan peraturan perundang-undangan
tersebut. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 (UUD NRI tahun 1945)
adalah konstitusi atau aturan tertinggi dalam peraturan perundang-undangan. Undang-undang
atau aturan yang dibawah UUD NRI tahun 1945 tidak boleh bertentangan dengan UUD NRI
1945 itu sendiri. Jadi, peran Hukum Tata Negara dalam Pembangunan Hukum Indonesia
sangatlah penting dan berpengaruh untuk membatasi kekuasaan pemerintah agar tidak terjadi
kesewenang-wenangan yang dapat dilakukan oleh pemerintah, sehingga hak-hak bagi warga
negara dapat terlindungi dan tersalurkan; Konstitusi berfungsi sebagai piagam kelahiran suatu
negara; sebagai sumber hukum tertinggi; sebagai alat membatasi kekuasaan; sebagai identitas
nasional dan lambang; dan pelindung hak asasi manusia dan kebebasan warga suatu negara.

I. Membatasi kekuasaan pemerintah agar tidak terjadi kesewenang-wenangan yang


dapat dilakukan oleh pemerintah, sehingga hak-hak bagi warga negara dapat
terlindungi dan tersalurkan
Penjelasan : Menciptakan hukum atau undang-undang (dibawah UUD NRI tahun 1945)
yang berpihak kepada kepentingan-kepentingan rakyat dan aspek keadilan,
perlindungan, dan aspirasi hak asasi manusia.

II. Sebagai sumber hukum tertinggi


Penjelasan : Termasuk pengaruh utama dalam menciptakan hukum atau undang-
undang (dibawah UUD NRI tahun 1945) yang hubungannya dengan perkembangan
pembangunan hukum di Indonesia.

III. Sebagai alat membatasi kekuasaan


Penjelasan : Menciptakan hukum atau undang-undang (dibawah UUD NRI tahun 1945)
dengan aspek kedaulatan rakyat seperti yang tercantum dalam UUD NRI tahun 1945
pasal 1 ayat 2.

IV. Pelindung hak asasi manusia dan kebebasan warga suatu negara
Penjelasan : Menciptakan hukum atau undang-undang (dibawah UUD NRI tahun 1945)
yang melindungi hak-hak warga negara sekaligus membatasinya karena negara kita
adalah negara demokrasi konstitusi. Ada pada UUD NRI tahun 1945 pasal 1 ayat 3.

Dari pemaparan-pemaparan di atas sudah dijelaskan mengenai pengertian, konstitusi,


sejarah, objek kajian, ruang lingkup, asas-asas, dan pembangunan hukum indonesia yang
mencakup atau mengenai kedudukan hukum tata negara dalam sistem hukum di Indonesia.

Berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun


1945, para ahli, badan eksekutif dan legislatif seharusnya menciptakan Rancangan Undang-
undang yang berpihak kepada rakyat yang merupakan peran hukum tata negara. Sesuai
konstitusi, rakyat dan pemerintah harus memenuhi hak dan kewajiban. Pemberantasan
korupsi, penghapusan kekerasan seksual, keadilan, kesetaraan, pemerataan, dan jaminan
hidup yang layak (sesuai kemampuan) harus lebih dikedepankan. Rakyat atau warga
negarapun harus taat pada aturan hukum yang ada.