Anda di halaman 1dari 73

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Aborsi merupakan tindakan mengakhiri


kehamilan. Menggugurkan kandungan atau aborsi
memiliki berbagai risiko yang perlu
dipertimbangkan. Bahaya aborsi akan semakin besar
jika tidak dilakukan oleh dokter. Menurut Herianto
(2011), kasus aborsi ilegal masih banyak dilakukan
di negara ini, berdasarkan data yang dikumpulkan
oleh litbang Kompas, selama tahun 2011 terdapat 5
tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter dan bidan
yang ditangkap karena melaksanakan praktek aborsi
ilegal.

Aborsi dapat membawa dampak negatif yang


cukup signifikan baik secara fisik dan psikologis.
Terdapat dua macam resiko kesehatan wanita yang
melakukan aborsi yaitu resiko kesehatan dan

UNWANTED PREGNANCY 1
1
keselamatan secara fisik yaitu sebagaimana oleh
Edmundson (2009) yang meyatakan bahwa aborsi
memiliki dampak yang potensial yaitu memiliki
resiko yang tinggi terhadap kesehatan maupun
keselamatan seorang wanita. Ada beberapa resiko
yang akan dihadapi oleh seorang wanita, antara lain
kematian mendadak karena pendarahan yang hebat.

Kematian karena pembiusan yang gagal, infeksi


serius disekitar kandungan, rahim yang sobek
(uterine peoration), kerusakan leher rahim (cervical
lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada
anak berikutnya, kanker payudara, kanker indung
telur, kanker leher rahim (cervical cancer), kanker
hati, kelainan placenta, kemandulan, infeksi
panggul, infeksi rongga dan infeksi pada lapisan
rahim (endometris). Selain dampak fisik, wanita
yang melakukan aborsi juga akan mengalami resiko
berupa gejala psikologis yang dikenal sebagai “Post-
Abotion Syndrome” (PAS) yang dikarakteristikkan
dengan perasaan bersalah yang mendalam dan
dalam jangka waktu yang lama, depresi, dan

UNWANTED PREGNANCY 2
2
mengakibatkan ketidakberfungsian secara sosial dan
seksual (Coleman, Rue & Spenser, 2007.
Edmundson, S. 2009).
Kurangnya pengetahuan tentang resiko
hubungan seks pra nikah serta permasalahan yang
dihadapi setelah pelaksanaan aborsi mendorong
remaja tetap melaksanakan hubungan seksual pra
nikah dan cenderung untuk melaksanakan aborsi
saat mengalami permasalahan kehamilan di luar
lembaga pernikahan (Azhari, 2007). Menurut Azwar
(2005) bahwa faktor pendidikan juga ikut
memengaruhi pembentukan sikap seseorang.
Mereka yang berpendidikan tinggi seperti
mahasiswa memiliki wawasan pengetahuan yang
komprehensif, besar kemungkinan akan dapat
menilai aborsi dari sudut pandang yang lebih luas,
me-reka yang berpandangan positif akan menilai
aborsi sebagai pilihan perempuan, mereka dapat
lebih bertoleransi dengan keputusan perempuan
untuk melakukan aborsi bahkan ada yang akan
mendukung atau mensupport teman yang aborsi
(Fitri, Zakiyatul. 2009).

UNWANTED PREGNANCY 3
3
UNWANTED PREGNANCY 4
4
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang masalah, maka
dihasilkan beberapa rumusan masalah :
1. Apa itu aborsi?
2. Apa saja jenis-jenis aborsi?
3. Apa alasan dan motivasi seseorang melakukan
aborsi?
4. Apa saja resiko kesehatan terhadap pelaku
aborsi?
5. Bagaimana kebijakan pemerintah dalam
mengatur aborsi ?
6. Bagaimana hubungan antara kehamilan yang
tidak diinginkan dengan aborsi?
7. Bagaimana fakta aborsi di Indonesia?
1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mengetahui apa itu aborsi.
2. Mengetahui jenis-jenis aborsi.
3. Mengetahui alasan dan motivasi seseorang
melakukan aborsi.
4. Mengetahui resiko kesehatan terhadap pelaku
aborsi.

UNWANTED PREGNANCY 5
5
5. Mengetahui kebijakan pemerintah dalam
mengatur aborsi.
6. Mengetahui hubungan antara kehamilan yang
tidak diinginkan dengan aborsi.
7. Mengetahui fakta aborsi di Indonesia

1.4. Manfaat Penulisan


Penulisan makalah ini bertujuan untuk melatih
keterampilan, kecermatan, ketelitian, dan kerja sama
kita dalam memecahkan masalah-masalah yang
terkait dengan aborsi dan pembaca dapat
mengetahui kontribusi pengetahuan remaja tentang
aborsi dengan sikap pencegahan aborsi serta
beberapa contoh kejadian yang pernah terjadi.

UNWANTED PREGNANCY 6
6
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Aborsi


Aborsi diserap dari bahasa Inggris yaitu abortion
yang berasal daribahasa latin yang berarti
pengguguran kandungan atau keguguran.
Namun, aborsi dalam literatur fikih berasal dari
bahasa Arab al-ijhahd, merupakan mashdar dari
ajhadha atau juga dalam istilah lain bisa disebut
dengan isqath al-haml, keduanya mempunyai arti
perempuan yang melahirkan secara paksa dalam
keadaan belum sempurna penciptaanya.
Secara bahasa disebut juga lahirnya janin karena
dipaksa atau dengan sendirinya sebelum waktunya.
Sedangkan makna gugurnya kandungan, menurut
ahli fikih tidak keluar dari makna bahasa,
diungkapkan dengan istilah menjatuhkan (isqath),
membuang (tharh), melempar (ilqaa’), dan
melahirkan dalam keadaan mati (imlaash).

UNWANTED PREGNANCY 7
7
Sementara dalam kamus besar Bahasa Indonesia
sendiri aborsia dalah terpencarnya embrio yang tidak
mungkin lagi hidup sebelum habisbulan keempat dari
kehamilan atau aborsi bisa didenfinisikan
pengguguran janin atau embrio setelah melebihi masa
dua bulan kehamilan.
Sedangkan definisi aborsi menurut kedokteran
sebagaimana dikatakan Dr. Gulardi: ”Aborsi ialah
berhentinya (mati) dan dikeluarkannya kehamilan
sebelum 20 minggu (dihitung dari haid terakhir) atau
berat janin kurang dari 500 gram atau panjang janin
kurang dari 25 cm. Pada umumnya abortus terjadi
sebelum kehamilan tiga bulan.
Dalam pengertian medis, aborsi adalah
terhentinya kehamilan dengan kematian dan
pengeluaran janin pada usia kurang dari 20 minggu
dengan berat janin kurang dari 500 gram, yaitu
sebelum janin dapat hidup di luar kandungan secara
mandiri.
Definisi lain tentang aborsi adalah suatu proses
pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi
kesempatan untuk bertumbuh.

UNWANTED PREGNANCY 8
8
Selain itu, berikut adalah definisi aborsi menurut
para ahli tentang, yaitu :
a. Eastman : Aborsi adalah keadaan terputusnya
suatu kehamilan dimana fetus belum sanggup
berdiri sendiri di luar uterus. Belum sanggup
diartikan apabila fetus itu beratnya terletak antara
400 - 1000 gram atau kehamilan kurang dari 28
minggu;
b. Jeffcoat : Aborsi yaitu pengeluaran dari hasil
konsepsi sebelum 28 minggu, yaitu fetus belum
viable by llaous;
c. Holmer : Aborsi yaitu terputusnya kehamilan
sebelum minggu ke-16 dimana plasentasi belum
selesai.
Menurut Suryono Ekotama,dkk mengatakan
bahwa dari segi medis, tidak ada batasan pasti kapan
kandungan bisa digugurkan. Kandungan perempuan
bisa digugurkan kapan saja sepanjang ada indikasi
medis untuk menggugurkan kandungan itu. Misalnya
jika diketahui anak yang akan lahir mengalami cacat
berat atau si ibu menderita penyakit jantung yang
akan sangat berbahaya sekali untuk keselamatan

UNWANTED PREGNANCY 9
9
jiwanya pada saat melahirkan nanti. Sekalipun janin
itu sudah berusia lima bulan atau enam bulan,
pertimbangan medis masih membolehkan dilakukan
abortus provocatus.
Abortus provocatus yang dikenal di Indonesia
dengan istilah aborsi berasal dari bahasa latin yang
berarti pengguguran kandungan karena kesengajaan.
Abortus Provocatus merupakan salah satu dari
berbagai macam jenis abortus. Dalam kamus Latin
Indonesia sendiri, abortus diartikan sebagai wiladah
sebelum waktunya atau keguguran. Pengertian aborsi
atau Abortus Provocatus adalah penghentian atau
pengeluaran hasil kehamilan dari rahim sebelum
waktunya. Dengan kata lain “pengeluaran” itu
dimaksudkan bahwa keluarnya janin disengaja
dengan campur tangan manusia, baik melalui cara
mekanik, obat atau cara lainnya.

2.2. Jenis-Jenis Aborsi


Proses abortus dapat berlangsung dengan cara:
1. Spontan/alamiah (terjadi secara alami, tanpa
tindakan apapun);

UNWANTED PREGNANCY 10
10
2. Buatan/sengaja (aborsi yang dilakukan secara
sengaja);
3. Terapeutik/medis (aborsi yang dilakukan atas
indikasi medis karena terdapatnya suatu
permasalahan/komplikasi).
Abortus secara medis dapat dibagi menjadi dua
macam:
1. Abortus spontaneous, adalah aborsi yang terjadi
dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis
ataupun medicinalis semata-mata disebabkan
oleh faktor alamiah. Rustam Mochtar dalam
Muhdiono menyebutkan macam-macam aborsi
spontan :
a. Abortus completes, (keguguran lengkap)
artinya seluruh hasil konsepsi dikeluarkan
sehingga rongga rahim kosong.
b. Abortus inkopletus, (keguguran bersisa)
artinya hanya ada sebagian dari hasil
konsepsi yang dikeluarkan yang tertinggal
adalah deci dua dan plasenta.
c. Abortus iminen, yaitu keguguran yang
membakat dan akan terjadi dalam hal ini

UNWANTED PREGNANCY 11
11
keluarnya fetus masih dapat dicegah dengan
memberikan obat-obat hormonal dan anti
pasmodica.
d. Missed abortion, keadan di mana janin
sudah mati tetapi tetap berada dalam rahim
dan tidak dikeluarkan selama dua bulan atau
lebih.
e. Abortus habitulis atau keguguran berulang
adalah keadaan dimana penderita
mengalami keguguran berturut-turut 3 kali
atau lebih.
f. Abortus infeksious dan abortus septic,
adalah abortus yang disertai infeksi genital.
Kehilangan janin tidak disengaja biasanya
terjadi pada kehamilan usia muda (satu sampai
dengan tiga bulan). Ini dapat terjadi karena
penyakit antara lain: demam; panas tinggi;
ginjal TBC, Sipilis atau karena kesalahan
genetik. Pada aborsi spontan tidak jarang janin
keluar dalam keadaan utuh. Kadang kala
kehamilan seorang wanita dapat gugur dengan
sendirinya tanpa adanya suatu tindakan ataupun

UNWANTED PREGNANCY 12
12
perbuatan yang disengaja. Hal ini sering disebut
dengan “keguguran” atau aborsi spontan. Ini
sering terjadi pada ibu-ibu yang masih hamil
muda, dikarenakan suatu akibat yang tidak
disengaja dan diinginkan ataupun karena suatu
penyakit yang dideritanya.
2. Abortus provokatus, adalah aborsi yang
disengaja baik dengan memakai obat-obatan
maupun alat-alat. Aborsi yang dilakukan secara
sengaja (abortus provocatus) ini terbagi
menjadi dua:
a. Abortus provocatus medicinalis. Adalah
aborsi yang dilakukan oleh dokter atas
dasar indikasi medis, yaitu apabila tindakan
aborsi tidak diambil akan membahayakan
jiwa ibu. Abortus provokatus medisinalis
/artificialis/ therapeuticus adalah aborsi
yang dilakukan dengan disertai indikasi
medis. Adapun syarat-syarat yang
ditentukan sebagai indikasi medis adalah :
1. Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang
memiliki keahlian dan kewenangan

UNWANTED PREGNANCY 13
13
untuk melakukannya (yaitu seorang
dokter ahli kebidanan dan penyakit
kandungan) sesuai dengan tanggung
jawab profesi.
2. Harus meminta pertimbangan tim ahli
(ahli medis lain, agama, hukum,
psikologi).
3. Harus ada persetujuan tertulis dari
penderita atau suaminya atau keluarga
terdekat.
4. Dilakukan di sarana kesehatan yang
memiliki tenaga/peralatan yang
memadai, yang ditunjuk oleh
pemerintah.
5. Prosedur tidak dirahasiakan.
6. Dokumen medis harus lengkap.
b. Abortus provocatus criminalis. Adalah
aborsi yang terjadi oleh karena tindakan-
tindakan yang tidak legal atau tidak
berdasarkan indikasi medis, sebagai contoh
aborsi yang dilakukan dalam rangka
melenyapkan janin sebagai akibat

UNWANTED PREGNANCY 14
14
hubungan seksual di luar perkawinan.
Secara umum pengertian abortus
provokatus criminalis adalah suatu
kelahiran dini sebelum bayi itu pada
waktunya dapat hidup sendiri di luar
kandungan. Pada umumnya janin yang
keluar itu sudah tidak bernyawa lagi.
Sedangkan secara yuridis abortus
provokatus criminalis adalah setiap
penghentian kehamilan sebelum hasil
konsepsi dilahirkan, tanpa
memperhitungkan umur bayi dalam
kandungan dan janin dilahirkan dalam
keadaan mati atau hidup.
Berdasarkan pengertian tersebut, pada abortus
provocatus ini ada unsur kesengajaan. Artinya,
suatu perbuatan atau tindakan yang dilakukan
agar kandungan lahir sebelum tiba waktunya.
Menurut kebiasaan maka bayi dalam kandungan
seorang wanita akan lahir setelah jangka waktu
9 bulan 10 hari. Hanya dalam hal tertentu saja
seorang bayi dalam kandungan dapat lahir pada

UNWANTED PREGNANCY 15
15
saat usia kandungan baru mencapai 7 bulan
ataupun 8 bulan. Dalam hal ini perbuatan aborsi
ini biasanya dilakukan sebelum kandungan
berusia 7 bulan. Menurut pengertian kedokteran
yang dikemukakan oleh Lilien Eka Chandra,
aborsi (baik keguguran maupun pengguguran
kandungan) berarti terhentinya kehamilan yang
terjadi di antara saat tertanamnya sel telur yang
sudah (blastosit) dirahim sampai kehamilan 28
minggu. Batas 28 minggu dihitung sejak haid
terakhir itu diambil karena sebelum 28 minggu,
janin belum dapat hidup (viable di luar rahim).

Kajian Maria Ulfah Anshor terhadap beberapa


literatur fiqih menunjukkan bahwa aborsi dalam
perspektif fikih dapat diklasifikasikan dalam 5
kategori, yaitu :
a. Aborsi spontan, aborsi alamiah yang terjadi
tanpa ada sebab/pengaruh dari luar atau dengan
bahasa lain gugur dengan sendirinya.
b. Aborsi karena dharurat/pengobatan, aborsi jenis
ini adalah aborsi yang dilakukan karena ada

UNWANTED PREGNANCY 16
16
alasan fisik yang mengancam keselamatan ibu
bila kehamilannya dilanjutkan.
c. Aborsi karena kesalahan, aborsi ini terjadi tanpa
unsur kesengajaan, tanpa bermaksud
menggugurkan kandungan namun terjadi.
d. Aborsi yang mirip sengaja.
e. Aborsi sengaja/terencana, aborsi yang dilakukan
dengan niat untuk menggugurkan kandungan
dengan cara mengkonsumsi makanan/minuman
atau dengan melakukan tindakan tertentu yang
mengakibatkan keguguran.

Jika ditelaah lebih dalam, kategorisasi ulama


mengenai aborsi cenderung menggunakan
pendekatan fisik, dengan ukuran-ukuran yang dapat
dilihat dan diukur. Sementara indikator psikis tidak
dibincang secara memadai oleh ulama.
Berkaitan dengan cara dan pelaku tindakan
aborsi, ada beberapa cara yang biasa dilakukan yang
sesungguhnya mengandung resiko yang cukup
tinggi bila dilakukan tidak sesuai standar profesi

UNWANTED PREGNANCY 17
17
medis. Berikut beberapa cara tindakan aborsi yang
dipraktekkan :
1. Tindakan sendiri, biasanya dilakukan akibat
Kehamilan Tak Dikehendaki (KTD) dengan
melakukan usaha-usaha yang dapat
menggugurkan kandungan berdasarkan bacaan
dan pengetahuan yang didapatkannya. Biasanya
teknik yang digunakan adalah dengan meminum
obat-obatan atau ramuan tertentu yang justru
tidak diperbolehkan bagi ibu hamil, seperti air
tape ketan hitam, meica giling, jamu-jamu
peluntur, aspirin campur sprite, dan lain-lain.
2. Menggunakan bantuan orang lain, seperti :
a. Dukun; pertolongan aborsi secara
tradisional bisa sangat beragam. Cara yang
paling banyak dilakukan adalah dengan
manipulasi fisik; yaitu dengan melakukan
pijatan pada rahim agar janin terlepas
dengan efek rasa sakit yang luar biasa.
Tindakan ini biasanya dimodifikasi dengan
ramuan atau dalam beberapa kasus dengan
bantuan magic.

UNWANTED PREGNANCY 18
18
b. Akupunktur; teknik akupunktur juga dapat
meluruhkan menstruasi.
c. Tindakan bidan/dokter; pada umumnya
bidan atau dokter melakukan pengguguran
kandungan dengan cara suntik ‘terlambat
bulan’. Jika cara ini tidak berhasil, baru
digunakan kuretase atau penyedotan
(suction). Pada usia 1-3 bulan, bagian tubuh
janin yang sudah terbentuk dihancurkan
dengan tang khusus aborsi (cunan abortus).
Untuk usia kehamilan lebih lanjut, (3-6
bulan) pada saat janin sudah tumbuh
sempurna anggota fisiknya dengan syaraf
yang sudah berfungsi, maka janin dibunuh
terlebih dahulu dalam rahim dengan cairan,
untuk kemudian dikeluarkan.

UNWANTED PREGNANCY 19
19
2.3. Alasan dan Motivasi Aborsi
1. Alasan Aborsi
Menurut Husein Muhammad, Pengguguran
kandungan hanya dapat dibolehkan karena
sejumlah alasan. Beberapa di antaranya adalah
keringnya air susu ibu yang disebabkan
kehamilan, sementara ia sendiri sedang
menyusui bayinya. Dalam keadaan demikian,
dia atau suaminya tidak mampu membayar air
susu lain. Alasan lain adalah ketidakmampuan
ibu menanggung beban hamil, karena tubuhnya
yang kurus dan rapuh.
Pada kalangan wanita yang sudah menikah,
alasan melakukan aborsi juga bermacam-
macam, diantaranya adalah karena kegagalan
KB/alat kontrasepsi, jarak kelahiran yang terlalu
rapat, jumlah anak yang terlalu banyak, terlalu
tua untuk melahirkan, faktor sosial-ekonomi
(tidak sanggup membiayai lagi anak-
anaknya/khawatir masa depan anak tak
terjamin), alasan medis, sedang dalam proses
perceraian dengan suaminya, ataupun karena

UNWANTED PREGNANCY 20
20
berstatus sebagai istri kedua dan suaminya tidak
menginginkan kelahiran anak dari istri kedua
tersebut. Prof. Sudraji Supraja menyatakan
”99,7% perempuan yang melakukan aborsi
adalah ibu-ibu yang sudah menikah”.
Sedangkan pada wanita yang belum/ tidak
menikah ditemukan bahwa alasan-alasan
mereka melakukan aborsi adalah diantaranya
karena masih berusia remaja, pacar tidak mau
bertanggung jawab, takut pada orang tua,
berstatus janda yang hamil di luar nikah,
berstatus sebagai simpanan seseorang dan
dilarang hamil oleh pasangannya.
Menurut Lysa Angrayni, Aborsi sebagai
suatu pengguguran kandungan yang dilakukan
oleh wanita akhir-akhir ini mempunyai
sejumlah alasan yang berbeda-beda. Banyak
alasan mengapa wanita melakukan aborsi,
diantaranya disebabkan oleh hal-hal yaitu :
a. Alasan sosial ekonomi untuk mengakhiri
kehamilan dikarenakan tidak mampu
membiayai atau membesarkan anak.

UNWANTED PREGNANCY 21
21
b. Adanya alasan bahwa seorang wanita
tersebut ingin membatasi atau
menangguhkan perawatan anak karena
ingin melanjutkan pendidikan atau ingin
mencapai suatu karir tertentu.
c. Alasan usia terlalu muda atau terlalu tua
untuk mempunyai bayi.
d. Akibat adanya hubungan yang bermasalah
(hamil diluar nikah) atau kehamilan karena
perkosaan dan incest sehingga seorang
wanita melakukan aborsi karena
menganggap kehamilan tersebut merupakan
aib yang harus ditutupi.
e. Alasan bahwa kehamilan akan dapat
mempengaruhi kesehatan baik bagi si ibu
maupun bayinya. Mungkin untuk alasan ini
aborsi dapat dibenarkan.

2. Motivasi Aborsi
Dalam hal ini yang akan dilihat dari perspektif
hukum Islam adalah hanya aborsi yang
disengaja yaitu abortus provocatus, lebih

UNWANTED PREGNANCY 22
22
khusus lagi mengacu pada abortus provocatus
criminalis karena dapat menimbulkan
konsekuensi hukum, sementara aborsi spontan
kita anggap sebagai kejadian di luar
kemampuan manusia. Alasan-alasan seseorang
perempuan melakukan abortus provocatus
criminalis. Menurut HuzaemahT. Yanggo
abortus provocatus criminalis ini didorong oleh
beberapa hal, antara lain :
a. Dorongan ekonomi/ dorongan individual :
Dorongan ini timbul karena kekhawatiran
terhadap kemiskinan, tidak ingin
mempunyai keluarga besar. Hal ini
biasanya terjadi juga pada banyak pasangan
muda yang tergesa-gesa menikah tanpa
persiapan terlebih dahulu. Akibat banyak
diantara mereka yang hidup masih
menumpang pada orang tuanya apalagi
ekonomi orang tuanya kurang. Padahal
konsekuensi logis dari sebuah perkawinan
adalah lahirnya anak. Lahirnya anak
tentunya meperberat tanggung jawab

UNWANTED PREGNANCY 23
23
orangtuanya. Oleh karena itu mereka
sepakat untuk tidak mempunyai anak
terlebih dulu dalam jangka waktu tertentu.
Jika sudah terlanjur hamil dan betul-betul
tidak ada persiapan untuk menyambut
kelahiran sang anak, mereka menempuh
jalan pintas dengan cara menggurkan
kandungan.
b. Dorongan fisik : Dorongan ini seperti
memelihara kecantikan dan
mempertahankan status sebagai perempuan
karir dan sebagainya yang aktifitasnya
harus menampilkan kecantikan dan
kemolekan tubuhnya.
c. Indikasi psikologis : Jika kehamilan
diteruskan akan memberatkan penyakit
jiwa yang dibawa ibu, seperti : perempuan
yang hamil akibat perkosaan, hamil
sebelum nikah atau hamil sebab kena guna-
guna.
d. Indikasi eugenetik : Dorongan ini timbul
jika khawatir akan penyakit bawaan pada

UNWANTED PREGNANCY 24
24
keturunan seperti adanya kelainandari buah
kehamilan, sebab trauma mekanis (benturan
aktifitas fisik yang berlebihan), maupun
karena kecelakaan, kelainan pada alat
kandungan, pendarahan, penyakit yang
berhubungan dengan kondisi ibu seperti
penyakit syphilis, virus toxoplasma,
anemia, demam yang tinggi, penyakit
ginjal, TBC, dan sebagainya.
e. Dorongan kecantikan : Dorongan ini timbul
biasanya bila ada kekhawatiran bahwa janin
dalam kandungan akan lahir dalam keadaan
cacat, akibat radiasi, obat-obatan,
keracunan dan sebagainya. Keadaan yang
terjadi di dalam kandungan ibu yang
menandung janin adalah sudah ketentuan
dari Allah, baik itu keadaan yang baik dan
sempurna ataupun dalam keadaan cacat
tubuhnya. Cacat dari janin yang dikandung
wanita tersebut apabila tidak mengganggu
kesehatan ibu, maka aborsi dilarang, tetapi
apabila cacat tubuh tersebut mengganggu

UNWANTED PREGNANCY 25
25
kesehatan ibu, maka aborsi semacam ini
merupakan termasuk abortus provocatus
mecicialis sehingga diperbolehkan.
f. Dorongan Sanksi moral : Dorongan ini
muncul biasanya karena perempuan yang
hamil tidak sanggup menerima sanksi sosial
masyarakat, disebabkan hubungan biologis
yang tidak memperhatikan moral dan
agama, seperti kumpul kebo dan hamil di
luar nikah.
g. Dorongan lingkungan : Faktor lingkungan
juga mempengaruhi insiden pengguguran
kehamilan muda, misalnya kemudahan
fasilitas, sikap dari penolong (Dokter,
bidan, dukun dan yang lainnya), pemakaian
kontrasepsi, norma tentang aktifitas sexual
dan hubungan sexual di luar pernikahan,
norma agama dan moral.

2.4. Resiko Kesehatan Bagi Pelaku Aborsi

UNWANTED PREGNANCY 26
26
Menurut Dadang Hawari, statistik membuktikan
resiko bagi perempuan jika melakukan Aborsi
adalah
1. Kematian Perempuan karena aborsi jauh lebih
besar dari kematian ibu karena melahirkan
(bersalin) secara normal.
2. Perempuan yang melakukan aborsi berlatar
belakang kriminal biasanya banyak
pertimbangan. Antara lain karena hamil akibat
hubungan yang tidak sah, lalu pacar atau
keluarganya mendesaknya untuk menggurkan
kandungan, karena malu menanggung aib.
Padahal perempuan yang bersangkutan sama
sekali tidak menghendakinya. Akibatnya dirinya
menjadi serba salah dan pasrah.
3. Perempuan yang melakukan aborsi akan
mengalami gangguan kejiwaan seperti stres
pasca trauma aborsi.

Aborsi memiliki resiko yang tinggi terhadap


kesehatan dan keselamatan seorang wanita bahkan
bisa beresiko fatal berupa kematian. Tidak benar jika

UNWANTED PREGNANCY 27
27
dikatakan bahwa seseorang yang melakukan aborsi
tidak merasakan apa apa dan langsung boleh pulang.
Ini adalah informasi yang salah dan sangat
menyesatkan bagi setiap wanita, terutama mereka
yang sedang kebingungan karena tidak
menginginkan kehamilan yang sudah terjadi,
sehingga mereka tanpa berfikir panjang untuk segera
melakukan aborsi tanpa berfikir resikonya.
Dalam buku Facts of Life yang ditulis oleh
Brian Clowes, Ph.d, dijelaskan bahwa pada saat dan
setelah melakukan aborsi ada beberapa resiko yang
akan dihadapi seorang wanita, yang secara garis
besarnya terdapat dua macam resiko, yaitu:
1. Resiko kesehatan dan keselamatan secara fisik
Pada saat dan setelah melakukan aborsi, maka
wanita ada kemungkinan besar mengalami
resiko kesehatan dan keselamatan terhadap
tubuh atau fisiknya diantaranya berupa :
a. Kematian mendadak karena pendarahan
hebat,
b. Kematian mendadak karena pembiusan
yang gagal,

UNWANTED PREGNANCY 28
28
c. Kematian secara lambat akibat infeksi
serius disekitar kandungan,
d. Rahim yang sobek (uterine perforation),
e. Kerusakan leher rahim (carvical
lacerations) yang akan menyebabkan cacat
pada anak berikutnya,
f. Kanker payudara (karena ketidak
seimbangan hormon estrogen pada wanita),
g. Kanker indung telur ( ovarian cancer)
h. Kanker leher rahim (cervical cancer),
i. Kanker hati (Liver cancer),
j. Kelainan pada plasenta atau ari-ari yang
akan menyebabkan cacat pada anak
berikutnya dan pendarahan hebat pada saat
kehamilan berikutnya,
k. Menjadi mandul atau tidak mampu memiliki
keturunan lagi,
l. Infeksi rongga panggul,
m. Infeksi pada lapisan rahim.

2. Resiko gangguan psikologis atau kejiwaan

UNWANTED PREGNANCY 29
29
Proses aborsi bukan saja suatu proses yang
memiliki resiko tinggi dari segi kesehatan dan
keselamatan seorang wanita secara fisik, tetapi
juga memiliki dampak yang sangat hebat
terhadap mental atau kejiwaan seorang wanita.
Gejala ini di kenal di dunia psikologi sebagai
Post abortion syindrome (sindrom pasca aborsi)
atau PAS. Gejala-gejala ini dicatat dalam
Psychological Reactions Reported After
Abortion yang diterbitkan oleh The Post
Abortion Review (1994).
Diantara gejala-gejala kejiwaan tersebut
adalah sebagai berikut:
a. Kehilangan harga diri (82 %),
b. Teriak-teriak- histeris (51 %),
c. Mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi
(63 %),
d. Ingin melakukan bunuh diri (28 %),
e. Mulai menggunakan obat-obat terlarang
(41 %),
f. Tidak bisa menikmati lagi hubungan
seksual (59 %),

UNWANTED PREGNANCY 30
30
g. Disamping gejala tersebut di atas, para
wanita yang melakukan aborsi akan
dipenuhi atau dihantui perasaan bersalah
yang tidak pernah hilang selama bertahun-
tahun dalam hidupnya.

UNWANTED PREGNANCY 31
31
2.5. Legislasi dan Hukum Aborsi di Indonesia
Dalam menyikapi masalah aborsi, pada awalnya
Indonesia termasuk Negara yang menentang
legalisasi aborsi. Aborsi atau pengguguran
kandungan dikategorikan sebagai kejahatan pidana.
Namun pada perkembangan berikutnya aborsi
diperbolehkan dengan alasan demi menyelamatkan
ibu. Terlepas dari persoalan hukum yang rigid
mengaturnya, aborsi merupakan fenomena yang
sarat dengan nilai moralitas, nilai sosial, budaya,
agama, atau bahkan nilai politis. Aturan normatif
legal formal secara umum melarang tindakan aborsi
dengan memberikan ruang darurat untuk kasus-
kasus tertentu.
Legislasi tentang aborsi dalam KUHP yang
menganggap aborsi dengan berbagai alasan
dianggap sebagai pelanggaran pidana. Aturan ini
justru menimbulkan masalah baru dengan
banyaknya praktek aborsi yang dilakukan secara
illegal. Padahal, praktek aborsi illegal sering kali
berdampak pada sakit, komplikasi, pendarahan dan
berujung pada kematian ibu. KUHP membincang

UNWANTED PREGNANCY 32
32
soal aborsi dalam 4 pasal (299, 346, 347, dan 348)
yang secara rigid mengatur hukuman bukan hanya
bagi pelaku namun juga para penolong tindakan
aborsi termasuk di dalamnya dokter, perawat, dan
bidan. Demikian halnya dengan KUH Perdata.
Dalam UU no. 23 tahun 1992 tentang
kesehatan, persoalan ini coba diselesaikan dengan
memberikan peluang tindakan aborsi dalam kondisi
darurat untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil.
Namun, pasal ini tidak detil dan multi-tafsir karena
menggunakan istilah ‘kondisi darurat’ dan ‘tindakan
medis tertentu’. Kedua istilah ini berpeluang untuk
ditafsirkan bermacam-macam.
Dalam UU No. 36 tahun 2009 persolan aborsi
masuk dalam bahasan kesehatan reproduksi, yaitu
pasal 75-77. Aturan umum dari aborsi adalah
dilarang, “Setiap orang dilarang melakukan aborsi”
(psl 75 [1]), dengan pengecualian darurat medis
yang membahayakan janin dan atau ibu (psl 75
[2.a]) dan kehamilan akibat perkosaan yang dapat
menyebabkan trauma psikologis bagi korban (psl 75
[2.b]).

UNWANTED PREGNANCY 33
33
[2] Larangan sebagaimana dimaksud pada
ayat [1] dapat dikecualikan berdasarkan:
a. Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak
usia dini kehamilan, baik yang mengancam
nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita
penyakit genetic berat dan/atau cacat bawaan,
maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga
menyulitkan bayi tersebut hidup di luar
kandungan; atau
b. Kehamilan akibat perkosaan yang dapat
menyebabkan trauma psikologis bagi korban
perkosaan.
Pada ayat [3 & 4] diatur bahwa tindakan aborsi
dilakukan setelah melalui konseling dan identifikasi
darurat medis berdasarkan Peraturan Pemerintah.
Lebih lanjut, pasal 76 secara detil mengatur
tindakan aborsi hanya boleh dilakukan pada batas
maksimal usia kehamilan (6 minggu), dilakukan
oleh tenaga medis bersertifikat pada penyedia
layanan yang memenuhi syarat, atas persetujuan ibu
hamil dan suami (kecuali pada korban perkosaan).
Persoalannya, tindakan aborsi juga berkaitan dengan

UNWANTED PREGNANCY 34
34
sumpah dokter Indonesia yang di antaranya
menyatakan bahwa dokter akan menghormati setiap
kehidupan.
Persoalan tindakan aborsi dijelaskan lebih lanjut
melalui PP No. 61 tahun 2014 tentang Kesehatan
Reproduksi tertanggal 21 Juli 2014. Publisitas PP ini
relatif cukup tinggi mengingat aborsi masih saja
menjadi persoalan kontroversial yang menarik untuk
diperdebatkan. PP ini lebih populer dengan sebutan
PP aborsi daripada kespro. Aborsi yang diizinkan
dalam PP ini adalah aborsi karena adanya indikasi
kedaruratan medis dan aborsi atas kehamilan akibat
perkosaan. Ketentuan ini memperjelas pasal 7576
UU Kesehatan, dengan ketentuan :
1. Harus dilakukan oleh tim yang layak melakukan
tindakan aborsi minimal terdiri dari 2 orang
tenaga kesehatan;
2. Dilakukan di klinik pelayanan kesehatan yang
memenuhi syarat dan ketentuan Menteri;
3. Atas permintaan dan persetujuan perempuan
hamil;
4. Dengan izin suami, kecuali korban perkosaan;

UNWANTED PREGNANCY 35
35
5. Tidak diskriminatif;
6. Dan tidak mengutamakan imbalan.
Aturan normatif sosial-budaya-agama secara
‘informal dan formal’ pada umumnya juga
mengarah pada pelarangan aborsi dengan variasi
pendapat dan kelonggaran tertentu. Sebelum UU
Kesehatan disahkan, Mei 2005 Majelis Ulama
Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa No. 4
tahun 2005 tentang aborsi. Berdasarkan beberapa
dalil Qs. Al-An’am [6]: 161, Qs. Al-Furqan [25]:
63-71, Qs. Al-Hajj [22]: 5, Qs. Al-Mukminun [23]:
12-14, dan beberapa dalil dari hadis, MUI
membolehkan aborsi atas dua indikasi; darurah dan
hajat. Keadaan darurat karena perempuan yang
hamil menderita sakit fisik yang berat seperti TBC
dan keadaan kehamilan yang mengancam nyawa
ibu. Keadaan hajat berkaitan dengan janin yang
dideteksi menderita cacat yang sulit disembuhkan
dan kehamilan akibat perkosaan setelah ditetapkan
oleh tim yang berwenang dari keluarga korban,
dokter, dan ulama.

UNWANTED PREGNANCY 36
36
Berikut adalah keputusan fatwa MUI tentang
Aborsi:
Pertama: Ketentuan Umum
a. Darurat adalah suatu keadaan di mana
seseorang apabila tidak melakukan sesuatu yang
diharamkan maka ia akan mati atau hampir
mati.
b. Hajat adalah suatu keadaan di mana seseorang
apabila tidak melakukan sesuatu yang
diharamkan maka ia akan mengalami kesulitan
besar.

Kedua: Ketentuan Hukum


a. Aborsi haram hukumnya sejak terjadinya
implantasi blastosis pada dinding rahim ibu
(nidasi).
b. Aborsi dibolehkan karena adanya uzur, baik
yang bersifat darurat ataupun hajat.
Keadaan darurat yang berkaitan dengan
kehamilan yang membolehkan aborsi adalah:
1. Perempuan hamil menderita sakit fisik berat
seperti kanker stadium lanjut, TBC dengan

UNWANTED PREGNANCY 37
37
caverna dan penyakit-penyakit fisik berat
lainnya yang harus ditetapkan oleh Tim Dokter.
2. Dalam keadaan di mana kehamilan mengancam
nyawa si ibu.
Keadaan hajat yang berkaitan dengan kehamilan
yang dapat membolehkan aborsi adalah :
1. Janin yang dikandung dideteksi menderita cacat
genetic yang kalau lahir kelak sulit
disembuhkan.
2. Kehamilan akibat perkosaan yang ditetapkan
oleh Tim yang berwenang yang di dalamnya
terdapat antara lain keluarga korban, dokter, dan
ulama.
Kebolehan aborsi sebagaimana dimaksud huruf
b harus dilakukan sebelum janin berusia 40 hari.
Aborsi haram hukumnya dilakukan pada
kehamilan yang terjadi akibat zina.
November 2014 tidak lama berselang dari
waktu pengesahan PP No. 61 tahun 2014 tentang
Kesehatan Reproduksi, Pengurus Besar Nahdhatul
Ulama melalui Munas Alim Ulama memutuskan
keharaman aborsi dengan mengambil pendapat yang

UNWANTED PREGNANCY 38
38
paling ketat di antara pendapat ulama yang
bertentangan. NU menyatakan bahwa hukum aborsi
selain dalam rangka darurat medis adalah haram,
termasuk aborsi akibat pemerkosaan yang
diperbolehkan oleh MUI dan PP No. 61 tahun 2014.
Keputusan ini dikukuhkan pada tanggal 1-2
November 2014.
Mengenai Hukum Aborsi di Indonesia, terdapat
beberapa Undang-Undang yang berkaitan dengan
masalah aborsi yang masih berlaku hingga saat ini,
diantara Undang-Undang tersebut yang paling
berkaitan adalah :
1. Undang-Undang nomor 1 tahun 1946 tentang
Kitab Undang-undang Hukum Pidana Pada
Pasal 346-349 KUHP tersebut mengkategorikan
aborsi sebagai tindak pidana, sebagaimana
bunyi lengkap pasal-pasal tersebut di bawah
ini :
a. Pasal 346 : “Seorang wanita yang dengan
sengaja menggugurkan kandungan atau
mematikan kandungannya atau menyuruh

UNWANTED PREGNANCY 39
39
orang lain untuk itu, diancam dengan
pidana paling lama empat tahun”
b. Pasal 347 :
1) Barangsiapa dengan sengaja
mengggugurkan kandungan atau
mematikan kandungan seorang wanita
tanpa persetujuannya, diancam dengan
penjara pidana paling lama dua belas
tahun.
2) Jika perbuatan itu mengakibatkan
matinya wanita tersebut, diancam
dengan pidana paling lama limabelas
tahun.
c. Pasal 348 :
1) Barangsiapa dengan sengaja
menggugurkan atau mematikan
kandungan seorang wanita dengan
persetujuannya, diancam dengan
pidana penjara paling lama lima tahun
enam bulan.
2) Jika perbuatan itu mengakibatkan
matinya wanita tersebut, diancam

UNWANTED PREGNANCY 40
40
dengan pidana penjara paling lama
tujuh tahun.
d. Pasal 349 : “Jika seorang tabib, dukun
beranak atau tukang obat membantu
melakukan salah satu kejahatan yang
diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka
pidana yang ditentukan dalam pasal itu
dapat ditambah dengan sepertiga dan ia
dapat dipecat dari jabatan yang digunakan
untuk melakukan kejahatan”.
2. Undang-Undang nomor 23 tahun 1992 tentang
Kesehatan. Meskipun aborsi secara teknis ilegal
dalam Hukum Pidana tapi pada tahun 1992,
muncul Undang-Undang yang lebih liberal yaitu
: Undang-Undang nomor 23 tahun 1992.
Although abortion was tecnically ilegal under
the criminal code, a judcial interpretation in
the early 1970s permitted medical professionals
to offer the procedure so long as they
werediscreet and careful. The numbers of
medical abortions carried out in Indonesia rose
dramatically, and there was evidence

UNWANTED PREGNANCY 41
41
ofmatching declines in the incedence of
morbidity and mortalitycaused by dangerous
illegal procedures. Medical andcommunity
groups campaigned for a more liberal abortion
law toprotect legal pratitioners and stamp out
illegal traditional practices (Studies In Family
Planning, 1993; 24, 4 : 241-251). Dalam Pasal
15 ayat 1,2, dan 3 Undang-Undang ini
yangberkaitan dengan aborsi berbunyi sebagai
berikut :
a) Dalam keadaan darurat sebagai upaya
untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dan
atau janinnya, dapat dilakukan tindakan
medis tertentu.
b) Tindakan medis tertentu sebagaimana
dimaksud dalam Ayat 1 hanya dapat
dilakukan :
1) Berdasarkan indikasi medis yang
mengaharuskan diambil tindakan
tersebut.
2) Oleh tenaga kesehatan yang
mempunyai keahlian dan kewenangan

UNWANTED PREGNANCY 42
42
untuk itu dan dilakukan sesuai dengan
tanggung jawab profesi serta
berdasarkan pertimbangan tim ahli.
3) Dengan persetujuan ibu hamil yang
bersangkutan atau suami atau keluarga.
4) Ada sarana kesehatan tertentu.
5) Ketentuan lebih lanjut mengenaI
tindakan medistertentu sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) dan (2)
ditetapkan dengan peraturan
pemerintah.

2.6. Aborsi dan Kehamilan yang Tidak Diinginkan


Jika kehamilan yang terjadi pada perempuan
merupakan suatu hal yang tidak diharapkan atau
diinginkan, itu yang dimaksud dengan KTD. Bisa
saja KTD dialami oleh perempuan yang sudah
menikah, karena kegagalan KB, karena jumlah anak
sudah banyak, atau kondisi dimana anak masih
kecil, atau memang belum ingin memiliki anak,
kemudian terjadi kehamilan.

UNWANTED PREGNANCY 43
43
Secara konseptual, istilah KTD juga bisa
diartikan sebagai Kehamilan Tidak Dikehendaki
(Unintended Pregnancy). Kehamilan yang tidak
dikehendaki adalah kehamilan yang terjadi baik
karena alasan waktu yang tidak tepat (mistimed) tau
karena kehamilan tersebut tidak diinginkan
(unwanted).
Ketika seorang perempuan tidak menginginkan
kehamilan ketika terjadi pembuahan (konsepsi), tapi
masih menginginkan kehamilan di masa mendatang,
maka kehamilan tersebut bisa dikategorikan sebagai
kehamilan yang terjadi tidak pada waktu yang
direncanakan (mistimed / unplanned) .
Ketika seorang perempuan tidak menginginkan
kehamilan yang terjadi dengan berbagai alasan dan
tidak ingin ada kehamilan di kemudian hari, maka
kehamilan tersebut bisa dikategorikan sebagai
kehamilan yang tidak diinginkan (Unwanted).

Jika demikian, kehamilan yang dikehendaki


(intended) adalah kehamilan yang kejadiannya
diinginkan atau kehamilan yang diharapkan akan

UNWANTED PREGNANCY 44
44
terjadi karena sedang direncanakan. (Guttmacher,
2012. Hlm. 4)
Bisa juga ketika suatu kehamilan harus dialami
oleh seorang perempuan, pada suatu kondisi dimana
perempuan tersebut belum melakukan suatu ikatan
yang sah menurut norma-norma yang ada (baik
norma agama maupun norma hukum yang berlaku),
maupun secara psikis belum siap menerima
kehamilan yang dialaminya. Kejadian semacam ini
sering kita dengar atau jumpai baik di kalangan
Mahasiwi atau kalangan Pelajar sekolah.
Adapun faktor yang menyebabkan terjadinya
kehamilan yang tidak diinginkan yaitu :
1. Psikis perempuan yang belum siap untuk
mengalami kehamilan.
2. Kegagalan alat kontrasepsi.
3. Pada Remaja, disebabkan karena Remaja
kurang informasi (masih banyak mitos seksual
yang beredar di kalangan remaja, informasi
yang disebarkan media cenderung permisif,
kurang proporsional dalam menjelaskan
seksualitas).

UNWANTED PREGNANCY 45
45
4. Tidak diberikannya hak informasi dan
pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi
kepada remaja sehingga mereka tidak memiliki
ketrampilan dalam pengambilan keputusan yang
tepat dan aman dari risiko seksual dan
reproduksi.

Apa yang terjadi jika remaja sampai mengalami


kehamilan yang tidak diinginkan? Dalam hal ini,
pihak yang paling banyak dirugikan adalah dari
kalangan perempuan. Seorang perempuan harus
menghadapi kenyataan bahwa dirinya mengalami
kehamilan sebelum waktunya.
Bagaimana ia harus berusaha menyembunyikan
kehamilannya dari orang lain, dan ketika nanti
bayinya telah lahir, akan menjadi beban baru bagi
dirinya. Hal ini akan mendorong para remaja
melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan
dengan menggugurkan kandungannya secara
sengaja. Mereka mengalami ketakutan akibat
tekanan-tekanan yang akan dihadapinya nanti.

UNWANTED PREGNANCY 46
46
Mereka lebih memilih jalan keluar dengan cara
seperti itu.
Kehamilan yang tidak diinginkan acapkali
berkaitan erat dengan prak pengguguran kandungan.
Sementara ini, data yang ada masih sporadis dan
menggambar kan kondisi di kota besar. Kompas
(16/2/2009) menyebutkan angka 2,3 juga kasus per
tahun. Dengan menggunakan data Riskesdas 2010,
studi ini bertujuan menggambarkan kondisi nasional
tentang bagaimana kejadian keguguran, kehamilan
yang tidak direncakan dan upaya pengguguran
kandungan di Indonesia. Metode. Unit analisis
dalam studi ini adalah sampel individu RISKESDAS
2010, yakni perempuan pernah kawin, usia 10–59
tahun, yang berada di seluruh provinsi se-Indonesia.
Data yang digunakan adalah hasil survei dengan
menggunakan instrumen kuensioner RKD10RT dan
RKD10.IND. Angka kejadian keguguran secara
naisonal adalah 4%. Dari semua kejadian
keguguran, ada 6,54% di antaranya aborsi.
Aborsi lebih besar dilakukan oleh ibu berusia di
atas 35 tahun, berpendidikan tamat SMA, tidak

UNWANTED PREGNANCY 47
47
bekerja dan tinggal di perkotaan. Cara yang
dominan digunakan untuk menghentkan kehamilan
adalah kuret. Jamu, pil dan suntik merupakan
tindakan alternatifnya.
Terkait dengan kejadian kehamilan yang tidak
direncanakan, kasus yang ditemukan berkisar antara
1,6% dan 5,8%. Dari semua kejadian kehamilan
tidak direncakan, 6,71% di antaranya sengaja
digugurkan. Berdasarkan karakteristik, aborsi
banyak dilakukan oleh ibu berusia di atas 35 tahun,
berpendidikan SD, tidak bekerja, dari status sosial
ekonomi kuatil ke 2 dan tinggal di perkotaan.
Aborsi. Dilakukan secara sendiri dengan jamu dan
pil.
Keinginan untuk tidak mempunyai anak
menjadi kekuatiran tatkala ibu yang sedang hamil
terdorong untuk menghentikan kehamilan dengan
sengaja. Kehamilan yang tidak diinginkan acapkali
berkaitan erat dengan praktik pengguguran
kandungan yang tidak aman (unsafe aborti on).
Wanita yang tidak menginginkan kehamilan tentu
akan berusaha untuk menggugurkan kandungannya.

UNWANTED PREGNANCY 48
48
Sedangkan kehamilan yang tidak direncanakan
terjadi di saat yang dinilai kurang tepat. Secara
terminologi istilah tersebut, kehamilan yang tidak
direncanakan ini tidak berarti bahwa pasangan
suami istri tidak menginginkan kehamilan nya.
Kehamilan yang tidak direncanakan lebih mengarah
pada keadaan belum meng inginkan karena alasan
tertentu, antara lain menjarangkan jarak usia anak
yang satu dengan yang lain. Tidak selalu kehamilan
itu tidak diinginkan oleh kedua belah pihak, bisa jadi
hanya satu pihak. Ketidakinginan dan anggapan
tidak berada dalam waktu yang tepat, lebih
dirasakan oleh pihak pasangan laki-laki.
Sebagai konsekwensi dari kondisi kehamilan
yang tidak direncanakan, ada dua pilihan. Pertama,
tetap melanjutkan kehamilannya. Kedua, tidak
melanjutkan kehamilannya atau melakukan upaya
menggugurkan kandungannya. Kehamilan tidak
dikehendaki ini bisa berakibat pada usaha-usaha
menghentikan proses kehamilan (dengan sengaja).
Kehamilan tidak dikehendaki ini dibedakan menjadi
mistimed pregnancy (kehamilan tidak berada dalam

UNWANTED PREGNANCY 49
49
waktu yang tepat) dan unwanted pregnancy
(kehamilan yang tidak diinginkan). Kehamilan tidak
pada waktu yang tepat ini dikenal sebagai kehamilan
yang tidak direncanakan (unplanned pregnancy).
Yang membedakan kedua kehamilan itu adalah
alasannya. Kehamilan jenis pertama adalah bukan
persoalan tidak menghendaki kehamilan, tetapi
waktunya yang tepat. Ada kebutuhan ruang dan
waktu yang diperlukan untuk si ibu hamil dan
melahirkan. Sementara itu, kehamilan tidak
diinginkan sebenarnya lebih pada persoalan
keberadaan kehamilan itu. Bila tidak ada hambatan
sosial-kultural (dan agama), maka bisa saja seorang
ibu akan memilih menghentikan kehamilan.
Lain halnya dengan keguguran yaitu dalam
Riskesdas 2010 diterjemahkan sebagai kejadian
berakhirnya kehamilan pada usia kurang dari 22
minggu. Kondisi ini tentunya berbeda ketika ada
upaya yang sengaja dilakukan untuk menjadikan
keguguran atau aborsi. Keguguran terjadi karena
perkembangan janin yang tidak normal akibat
kelainan genetik atau masalah di plasenta.

UNWANTED PREGNANCY 50
50
Keguguran adalah sesuatu hal yang tidak disengaja
karena terkait dengan kondisi kesehatan seorang
wanita. Untuk mengatasi hal seperti itu, wanita atau
ibu harus memperhatikan lebih baik kandungannya.
Mewaspadai penggunaan obat-obatan yang dapat
mengakibatkan terjadinya keguguran.
Oleh karena itu, untuk mencegah hal tersebut
KB ( Keluarga Berencana ) memberikan pelayanan
yaitu pengetahuan dan kesadaran bagi para ibu (dan
keluarga) tentang perencanaan, perhatian pada ibu
yang hamil, serta per baikan kualitas gizi rumah
tangganya. Hal itu seiring dengan pendapat dari
John B. Carteline dan Steven W. Sinding (2000)
dengan menganalisis sejumlah penelitian pada
negara-negara sedang di Asia dan Afrika. Hasil
menunjukkan bahwa peningkatan pelayanan
kesehatan akan membantu tiga hambatan utama
dalam penggunaan alat kontrasepsi, yaitu
pengetahuan yang kurang tentang metode
kontrasepsi, sikap sosial yang menentang
penggunaannya, serta perhatian kesehatan tentang
dampak dari penggunaannya.

UNWANTED PREGNANCY 51
51
Oleh karena itu, pada kasus kehamilan yang
berakhir kurang dari 22 minggu dan kehamilan yang
tidak direncanakan dari hasil penelitian ini
menunjukkan pada wilayah yang diduga fasilitas
kesehatan yang terbatas dan tidak merata akibat
kondisi geografi dan masa pemulihan bencana alam
di satu pihak. Di pihak lain, menarik dicermati pada
wilayah yang dalam konteks pembangunan berada
pada kawasan industri, seperti yang terjadi di DKI
Jakarta, Banten dan Jawa Barat, dan ditunjukkan
pula kejadian lebih pada wilayah perkotaan daripada
wilayah pedesaan.
Pernyataan yang terakhir ini merujuk bukan
pada masalah fasilitas ke sehatan, tetapi lebih pada
masalah akses fasilitas dan kesadaran untuk meng
aksesnya. Menjadi lebih kecil lagi bila dirunut dari
kehamilan yang kurang dari 22 minggu yang sengaja
digugurkan dan ditambah dengan ke hamilan yang
tidak direncanakan.

2.7. Fakta Aborsi di Indonesia

UNWANTED PREGNANCY 52
52
Terlepas dari riuhnya kontroversi tentang
aborsi, kita tidak bisa menutup mata bahwa
tingginya angka kematian ibu hamil adalah sebuah
fakta yang memprihatinkan. Pada level Negara
ASEAN Angka Kematian Ibu (AKI) Indonesia
menduduki rangking pertama yaitu mencapai
373/100.000 kelahiran (survey Kesehatan Rumah
Tangga-2005), 11 % di antaranya karena
pertolongan aborsi yang tidak aman.
Beragamnya data statistik yang dikeluarkan
oleh beberapa lembaga mengenai frekuensi tindakan
aborsi, mengindikasikan realitas aborsi sebagai
fenomena gunung es. Data yang dilansir adalah data
yang tampak dan terekam di atas permukaan,
sementara realitas yang sesungguhnya terjadi justru
jauh lebih banyak dari yang terdata. Tahun 1999
WHO melakukan penelitian di 4 provinsi di
Indonesia (Sumatra Utara, Jakarta, ogyakarta, dan
Sulawesi Utara) menunjukkan angka 2,3 juta kasus
aborsi dengan kategori 600.000 gagal KB, 700.000
kondisi ekonomi, 1.000.000 karena keguguran
dengan berbagai faktor. Berdasarkan Penelitian ini

UNWANTED PREGNANCY 53
53
WHO menaksir 10-50 % jumlah kematian ibu
disebabkan oleh aborsi.
Data ini terkonfirmasi oleh data BKKBN yang
mencatat jumlah kejadian aborsi mencapai 2,4 jt
jiwa pada tahun 2012.30 Bahkan dalam catatan
Maria Ulfah, ada 37-43 kasus aborsi dari 1000
kelahiran. Pada perkembangan berikutnya, angka ini
cenderung meningkat, meskipun lagi-lagi angka
yang muncul bukanlah angka yang sesungguhnya.
Karena aborsi seringkali ditutupi oleh pelaku,
keluarga, masyarakat, atau bahkan oleh Negara.
Aborsi lebih dipandang sebagai aib sosial daripada
manifestasi kehendak dan pilihan individu.
Dari tingginya angka aborsi yang dicatat oleh
berbagai lembaga, Maria Ulfa memberikan data
terpilah bahwa lebih dari 60 % dari perempuan yang
melakukan tindakan aborsi adalah perempuan yang
telah menikah. Pilihan aborsi dilakukan karena
beragam faktor di antaranya adalah faktor kegagalan
pemakaian alat kontrasepsi, terlalu banyak anak, dan
faktor kemiskinan.33 Sementara kurang dari 40 %
aborsi dilakukan oleh orang yang belum menikah

UNWANTED PREGNANCY 54
54
(remaja), karena pergaulan bebas, perkosaan, incest,
dan konsekuensi “profesi” PSK.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa sebagian
besar aborsi dilakukan akibat dari kehamilan tak
diinginkan (KTD). Seberapapun angka survey dan
penelitian yang dipublikasikan -besar atau kecil,
tinggi atau rendah- menjadi kurang relevan ketika
yang dibincang adalah hak hidup seseorang baik ibu
maupun anak. 1 nyawa terbunuh secara zalim sama
saja dengan terbunuhnya seluruh manusia (Qs. al-
Ma`idah [5]: 32). Maka, wacana yang harus
dikembangkan tidak lagi pada persolaan legalitas
aborsi, namun harus beranjak pada tawaran solusi
yang memadai untuk menyelamatkan kehidupan
perempuan dan anak.
Dalam Penelitian Kebutuhan atas Layanan
Aborsi Telemedis di Indonesia dan Malaysia:
Kajian pada Women on Web, menjelaskan tentang
peran kader Keluarga Berencana (KB) di Kota
Surakarta. Program KB adalah program unggulan
pemerintah Orde Baru untuk menekan pertumbuhan

UNWANTED PREGNANCY 55
55
jumlah penduduk dengan cepat. Program tersebut
awalnya sulit untuk diterima oleh semua golongan.
Hal ini disebabkan oleh nilai-nilai dan norma-
norma masyarakat yang menentang adanya
pembatasan kelahiran. Oleh sebab itu, pemerintah
menggunakan strategi pendekatan masyarakat
melalui pembentukan kader KB. Penelitian ini
menggunakan metode sejarah yang terdiri dari
heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan
historiografi. Penelitian ini menunjukkan bahwa KB
adalah sebuah politik seksualitas yang dikonstruksi
oleh pemerintah.
Kader KB menjadi agen wacana pengetahuan
pemerintah Orde Baru untuk meraih legitimasi.
Namun, para kader KB menganggap bahwa aktivitas
mereka adalah pengabdian kepada negara.
Keberadaan mereka menunjukkan bahwa kaum
perempuan memiliki kekuatan besar dalam ranah
sosial di tengah hegemoni patriarki dalam
masyarakat Jawa.
Kompleksitas alasan pilihan aborsi bagi
perempuan hamil tidak lepas dari norma agama,

UNWANTED PREGNANCY 56
56
sosial, dan kebijakan pemerintah. Kampanye KB
melalui norma keluarga kecil bahagia sejahtera
memang telah mampu mengubah pengetahuan dan
perilaku mayarakat dalam pengambilan keputusan
mempunyai anak. Indonesia termasuk Negara yang
sukses dengan program KB untuk menekan laju
pertumbuhan penduduk tanpa aborsi. Namun
program ini tidak diikuti dengan pelayanan KB dan
penyuluhan yang memadai kepada masyarakat,
sehingga berakibat pada banyaknya kasus kehamilan
yang tak direncanakan.
Untuk kasus remaja pelaku aborsi, faktor
perubahan gaya hidup akibat kemajuan teknologi
informasi, serta pergaulan yang tidak dilengkapi
dengan pengetahuan dan pemahaman mengenai
kesehatan reproduksi menjadi faktor determinan
kehamilan yang tak diinginkan di usia pra nikah.
Faktanya, pengetahuan tentang proses reproduksi
yang diperoleh dari sekolah/kampus kurang
komprehensif atau sepotong-sepotong saja, bahkan
tercampur dengan pengetahuan popular atau mitos
yang diperolehnya dari teman sebaya, orang tua,

UNWANTED PREGNANCY 57
57
media massa; majalah, blue film, ataupun dari media
internet. Kondisi ini tentu saja berimplikasi pada
sikap dan prilaku yang tidak bertanggungjawab
mengenai proses reproduksi seperti pernikahan yang
tak direncanakan (married by accident), pergaulan
bebas (seks pra-nikah), dan kekerasaan seksual pada
masa pacaran. Budaya tabu untuk membincang
persoalan seksualitas dan reproduksi juga turut andil
dalam kasus ini.
Berikut salah satu kisah seorang remaja yang
terpaksa harus menggugurkan kandungannya.
JAKARTA, Indonesia — Andini (bukan nama
sebenarnya) baru menginjak usia 16 tahun ketika ia
dinyatakan positif hamil. Gadis yang saat itu masih
duduk di bangku kelas 3 SMA, terpaksa harus
berhenti dari sekolah.

“Saya masih SMA ketika positif hamil,” kata


Andini kepada Rappler. Kini usianya telah 22 tahun.
“Saat itu saya berpacaran dengan seorang pria
yang lebih tua kurang lebih 6 tahun. Orangtua saya

UNWANTED PREGNANCY 58
58
tidak menyetujuinya, jadi saya berpacaran diam-
diam,” akunya.
Karena tidak mendapat restu dari orangtua,
Andini mengiyakan ajakan pria untuk meninggalkan
rumah dan memulai kehidupan baru bersama
kekasih masa mudanya itu. Ia mengaku saat itu
masih polos dan terbuai janji-janji manis yang
ternyata berbuah kekosongan.
“Saya sempat melarikan diri dari rumah. Hingga
ketika akhirnya pulang ke rumah, orangtua meminta
saya untuk melakukan tes urine, dan dinyatakan
positif,” ujar Andini.
Orangtua Andini panik, apalagi ia hanya tinggal
beberapa bulan lagi menyelesaikan pendidikannya.
Tapi Andini memohon kepada orangtuanya untuk
mempertahankan calon bayinya. Ia berjanji untuk
mengurus anaknya sendiri meski seorang diri.
“Orangtua saya panik. Mereka mencoba cari
tahu informasi bagaimana cara menggugurkan
kandungan tanpa jalan haram. Saya disuruh makan
nanas setiap hari,” akunya.

UNWANTED PREGNANCY 59
59
Tapi setelah beberapa hari, pada akhirnya
mereka memilih jalan pintas. “Khawatir terlambat
dan kehamilan saya semakin membesar, orangtua
mencari tahu tentang klinik aborsi yang bisa
dilakukan saat itu juga, sebelum keluarga besar
mengetahuinya,” ucapnya.
“Saya lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga
yang konservatif, bahwa kehamilan di luar nikah
merupakan sesuatu yang dapat membawa nama
buruk bagi keluarga,” kata Andini.
Pada malam itu juga, Andini diantar oleh
kakaknya ke sebuah klinik ginekologi di bilangan
Senen, Jakarta Pusat.
“Saya berharap saya bisa melanjutkan
kehamilan, melahirkan, dan membesarkan bayi saya.
Saya percaya saya bisa merawatnya. Tapi karena
saya masih di bawah umur, saya tidak bisa
menentukan sendiri. Orangtua masih memiliki hak
veto terhadap keputusan saya. Mereka selalu
meyakinkan saya bahwa mereka tahu yang terbaik,”
ujarnya.

UNWANTED PREGNANCY 60
60
Andini mengaku tidak mengingat persis lokasi
klinik tempat ia menggugurkan kandungan, namun
ia masih ingat perasaan yang menghampirinya pada
malam itu.
“Saya mencoba menghapus memori buruk itu
dari pikiran. Perasaan saya beku malam itu,”
katanya.
“Saya tidak ingat jelas apa yang terjadi atau
prosedur apa yang dilakukan, tapi saya ingat
prosesnya yang menyakitkan. Saya sampai berteriak
dan menangis.
“Sesudahnya saya merasakan rasa sakit di
bagian bawah tubuh saya. Saya berjalan ke luar
ruangan terpincang-pincang, disambut kakak saya
yang menunggu di luar,” ucapnya lirih.
Lalu ke mana pacar Andini yang berjanji akan
menikahinya? “Ia sudah menghilang tak ada kabar.
Lagi pula orangtua saya menolak mentah-mentah
untuk menikahi saya dengan dia.
“Pernikahan bukan solusi dari masalah ini,”
katanya.

UNWANTED PREGNANCY 61
61
Kisah Andini bukan kasus yang terisolasi di
Indonesia. Data terbaru dari Pusat Studi
Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) Universitas
Gadjah Mada menyebutkan 58 persen remaja
perempuan yang hamil secara tidak diinginkan
berupaya menggugurkan kandungannya dengan
jalan aborsi.
“Tingkat remaja yang hamil dan berupaya
aborsi itu cukup tinggi, mencapai 58 persen. Ini
angka yang mengkhawatirkan," ujar peneliti PSKK
UGM, Sri Purwatiningsih, pada awal Oktober 2016.
Menurutnya, persoalan ini harus menjadi
perhatian yang serius dari negara, sebab para remaja
perempuan yang belum punya surat nikah kerap
kesulitan mengakses layanan kesehatan.
Mereka berisiko terhadap masalah-masalah
kesehatan reproduksi akibat perilaku seksual
pranikah dan penggunaan obat-obatan terlarang
yang bisa berujung pada HIV/AIDS.

“Tidak banyak remaja yang mendapatkan


informasi cukup tentang kesehatan reproduksi dan

UNWANTED PREGNANCY 62
62
kesehatan seksual. Keterbatasan informasi ditambah
perilaku seksual aktif yang berisiko kerap
menimbulkan kasus kehamilan dan perkawinan pada
usia remaja,” kata Sri.
Hal tersebut diakui oleh Andini. “Saya tidak
tahu risikonya, karena tidak ada informasi, atau
tempat bertanya. Saya takut bertanya kepada
orangtua,” akunya. “Kalau membicarakan hal ini ke
orangtua, atau anggota keluarga lain, takut
dihakimi.”
Sementara itu, Kepala Seksi Kesehatan Usia
Sekolah dan Remaja di Luar Sekolah, Direktorat
Kesehatan Keluarga dari Kementerian Kesehatan,
dr. Linda Siti Rohaeti, mengatakan pihaknya tetap
berkomitmen agar para remaja yang mengalami
kehamilan bisa mendapatkan pelayanan kesehatan
yang baik.
Linda mengatakan, Kementerian Kesehatan
sejak 2003 telah memiliki program Pelayanan
Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) untuk melayani
kesehatan remaja.

UNWANTED PREGNANCY 63
63
Selain berfungsi untuk memberikan layanan
pencegahan seperti pemberian informasi dan edukasi
tentang kesehatan reproduksi, PKPR juga memiliki
layanan pengobatan seperti konseling, pemeriksaan
kehamilan bagi remaja, penanganan remaja dengan
kasus HIV/AIDS, hingga penyakit menular seksual.
Target Kementerian Kesehatan tahun ini adalah
sebanyak 30% dari 10 ribu puskesmas di Indonesia
sudah merupakan puskesmas PKPR. Menurut Linda,
meski masih terbatas secara fasilitas, minimal
kebutuhan remaja untuk bisa hadir secara privat,
aman, dan nyaman bisa terpenuhi.

UNWANTED PREGNANCY 64
64
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Tindakan abortus atau dalam bahasa kuesioner
adalah upaya mengakhiri kehamilan baik unwanted
maupun unplanned pregnancy dilakukan dalam
jumlah yang kecil bila dibandingkan dengan jumlah
keseluruhan kehamilan yang berakhir kurang dari 22
minggu.
Adapun yang menjadi alasan mengapa
seseorang berkeinginan untuk melakukan aborsi
yaitu pertama, upaya mengakhiri tersebut lebih
terjadi pada wilayah provinsi yang mengalami
transisi menuju ke industri dan secara antropologis
ber budaya patriakhi.
Kedua, dilakukan oleh ibu yang memiliki peker
jaan, baik di sek tor swasta maupun sebagai
pegawai negeri. Hal itu menandakan bahwa
kehamilan baik unwanted maupun unplanned
disadari dapat mengganggu aktivitas ekonomi. Ada
dugaan bahwa kondisi ekonomi secara makro yang

UNWANTED PREGNANCY 65
65
kurang stabil berpengaruh pada “kenyamanan”
dalam memiliki anak.
Ketiga, ada kecenderungan yang berbeda pada
siapa yang membantu mengakhiri, pada kehamilan
yang tidak dikehendaki lebih menggunakan tenaga
medik, daripada tidak direncanakan. Hal itu terkait
dengan masalah kesehatan, jumlah anak dan usia.
Dan yang keempat kehamilan di luar nikah yang
terjadi pada remaja yang juga mendorong seseorang
bertindak aborsi. Dikarenakan karena tidak ingin
menanggung malu yang akan ditanggung oleh pihak
keluarga, Sementara itu, ada kesamaan dalam cara
yang digunakan, yaitu penggunaan jamu dan pil
sebagai langkah awal.
Baik pada kasus unwanted dan unplanned
pregancy, dalam kerangka kesehatan reproduksi
merupakan unmet need. Penggunaan alat
kontrasepsi sebenarnya tidak saja menjarangkan
dalam kasus unplanned, tetapi juga membatasi
jumlah anak (need for limiting) sesuai dengan
kemampuan ekonomi dan usia ibu.

UNWANTED PREGNANCY 66
66
Pada kenyataannya, hal itu tetap terjadi karena
bukan berarti pelaksanaan program KB yang
bermasalah, tetapi lebih pada ke mampuan akses ibu
yang terbatas akibat aktivitas ekonomi atau budaya
patriakhi. Karena kesibukan ekonominya, ibu tidak
bisa mengakses pusat-pusat pelayanan kesehatan. Di
pihak lain, sebagaimana diketahui, ditengarai
penurunan aktivitas posyandu turut berperan dalam
kejadian tersebut.
Pemerintah telah mengeluarkan beberapa
kebijakan mengenai tindakan aborsi dimana
seseorang tidak boleh melakukan hal itu semena-
mena. Aborsi dapat dilakukan jika dapat
mengganggu kondisi kesehatan ibu dan bahkan
dapat merenggut nyawa jika aborsi tidak dilakukan.

3.2. Saran
Seperti yang sudah diuraikan pada bab sebelumnya,
bahwa tindakan aborsi mungkin dapat menjadi
pilihan yang tepat untuk beberapa wanita dengan
kondisi tertentu, namun bagi sebagian lainnya,
mengasuh atau menyerahkan bayi tersebut untuk

UNWANTED PREGNANCY 67
67
diadopsi adalah cara yang terbaik. Mengenai cara
mencegah kehamilan tidak diinginkan yang memicu
aborsi, hal terbaik yang bisa Anda lakukan adalah
dengan bersikap proaktif dalam menggunakan
berbagai metode kontrasepsi. Dan untuk para
remaja, sebaiknya bersikap lebih berhati-hati dalam
memilih lingkungan sekitar sehingga tidak memicu
terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan yang
akan memicu tindakan aborsi. Adapun cara
mengatasi atau mencegah kehamilan yang tidak
diinginkan yaitu :
1. Didik diri sendiri. Memiliki informasi medis
akurat tentang seks dapat menurunkan
kemungkinan kehamilan yang tidak diinginkan.
2. Buatlah sebuah rencana. Apa pun cara Anda
menentukan pilihan untuk mencegah kehamilan
yang tidak diinginkan, penting bagi Anda untuk
memiliki rencana yang solid. Pikirkan tentang
metode apa yang paling mudah untuk Anda
gunakan dan mana yang paling efektif.
3. Pertimbangkanlah untuk melakukan
abstinensi. Bagi yang sudah berkeluarga,

UNWANTED PREGNANCY 68
68
abstinensi dari hubungan seksual adalah satu-
satunya cara agar Anda tidak hamil. Tidak
semua orang menganggap pilihan ini tepat untuk
mereka, karena membutuhkan disiplin tinggi.

UNWANTED PREGNANCY 69
69
DAFTAR PUSTAKA

Sodik, Ali, Muhammad. 2014. Sikap Pencegahan Aborsi


Ditinjau dari Pengetahuan tentang Bahaya dan Resiko
Kesehatan. Strada Jurnal Ilmiah Kesehatan.

Susanti, Yuli. 2012. Perlindungan Hukum Bagi Pelaku


Tindak Pidana Aborsi ( Abortus Provocatus ) Korban
Pemerkosaan. Jurnal Artikel Syiar Hukum.

Wijayati, Mufliha. 2015. Aborsi Akibat Kehamilan yang


Tidak Diinginkan ( KTD ) : Kontestasi Antara Pro-Live
dan Pro-Choice.

Pranata, Setia dan Sadewo, Sri, FX. 2012. Kejadian


Keguguran, Kehamilan Tidak Direncanakan, dan
Pengguguran di Indonesia.

UNWANTED PREGNANCY 70
70
Bastian, Qowi, Abdul. 2016. Sebelum 40 Hari : Proses
Aborsi di Indonesia. [Internet]. Tersedia di:
https://www.rappler.com/indonesia/149384-sebelum-40-
hari-proses-aborsi-indonesia

Kehamilan yang Tidak Diinginkan. [Internet]. Tersedia


di: https://pkbi-diy.info/kehamilan-yang-tidak-
diinginkan/

Cara Menghindari Aborsi. [Internet]. Tersedia di:


https://id.wikihow.com/Menghindari-Aborsi

UNWANTED PREGNANCY 71
71
RIWAYAT PENULIS

Rhania Ismaniar Ismail biasa dipangil


Rhania lahir di Bungoro, 28 Maret 2000,
anak pertama dari dua bersaudara dari
pasangan suami istri Bapak Muh. Ismail
dan Ibu Sumarni. Hidup dalam lingkungan sederhana di
salah satu bagian daerah Wajo.
Pendidikan yang telah di tempuh yaitu Taman
Kanak-Kanak Aisyiah Bustanul Athfal lulus pada tahun
2005, Sekolah Dasar Negeri 2 Maddukelleng lulus pada
tahun 2011, Sekolah Menengah Pertama Negeri 1
Sengkang lulus pada tahun 2014, Sekolah Menengah
Atas Negeri 7 Wajo lulus pada tahun 2017, dan sekarang
sedang menjalani studi di Politeknik Negeri Ujung
Pandang pada jurusan Teknik Sipil, program studi D4
Jasa Konstruksi.

UNWANTED PREGNANCY 72
72
UNWANTED PREGNANCY 73
73