Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH MATERNITAS : “HIPERTENSI PADA KEHAMILAN”

Dosen pengampu : Maulida Rahmawati Ehma, M.Kes.

SELASA 10.00-11.40 WIB

Kelompok 1:

1. FAIQ FAISAL MAJID (M18010002)


2. FARHAN NIZAR TAUFANI (M18010003)
3. OKY JUMADIL TSANIYAH (M18010004)
4. TINGGA JABBA MURTI (M18010006)
5. SYAIFUL LATIF (M18010033)
6. UBAIDILLAH (M18010034)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MADANI YOGYAKARTA


PRODI SI ILMU KEPERAWATAN

2020
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Penyakit hipertensi dalam kehamilan adalah komplikasi yang


serius trimester kedua-ketiga dengan gejala klinis seperti: odema
hipertensi, proteinuria, kejang sampai koma dengan umur kehamilan di
atas 20 minggu, dan dapat terjadi antepartum, intrapartum, pascapartus
(Cuninghem, 2006).
Ganguan hipertensi yang menjadi penyulit dalam kehamilan
sering dijumpai dan termasuk salah satu diantara 3 trias yang mematikan
bersama dengan perdarahan dan infeksi yang banyak menimbulkan
mortalitas dan morbiditas ibu karena kehamilan. Menurut the National
Center for Health Statistics pada tahun 1998 penyakit ini ditemukan pada
146.320 wanita,atau 3,7 % diantara semua kehamilan yang berakhir
dengan kelahiran hidup Berg dkk.(1996)melaporkan bahwa hampir 18 %
diantara 1450 kematian di Amerika Serikat dari tahun 1987 sampai 1990
terjadi akibat penyulit hipertensi dalam kehamilan (Cuninghem,2006).

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan pemaparan dari latar belakang diatas penulis
menarik rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa pengertian dari Hipertensi Obstetric dan preeklamsia?
2. Bagaimana penanganan penilaian pada hipertensi dalam obstetric
3. Bagaimana penanganan umum pada hipertensi dalam obstetric?
C. TUJUAN PENULISAN
Tujuan saya membuat makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengertian dari Hipertensi Obstetric dan
preeklamsia.
2. Untuk mengetahui bagaimana penanganan penilaian pada hipertensi
dalam obstetric
3. Untuk mengetahui penanganan umum pada hipertensi dalam
obstetric.
BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN


Penyakit hipertensi dalam kehamilan adalah komplikasi yang
serius trimester kedua-ketiga dengan gejala klinis seperti: odema
hipertensi ,proteinuria, kejang sampai koma dengan umur kehamilan di
atas 20 minggu, dan dapat terjadi antepartum, intrapartum, pascapartus
(Manuaba, 2001)

Hipertensi adalah tekanan darah sekurang-kurangnya 140 mmHg


sistolik atau 90 mmHg diastolik pada dua kali pemeriksaan berjarak 4-6
jam pada wanita yang sebelumnya normotensi.

Bila ditemukan tekanan darah tinggi (≥140/90 mmHg) pada ibu


hamil, lakukan pemeriksaan kadar protein urin dengan tes celup urin atau
protein urin 24 jam dan tentukan diagnosis.

B. PENANGANAN PENILAIAN

Dalam menentukan kondisi kasus obstetri yang dihadapi apakah


dalam keadaan gawat darurat atau tidak, secara prinsip harus dilakukan
pemeriksaan secara sistematis meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik
umum, dan pemeriksaan obstetrik. Dalam praktik, oleh karena
pemeriksaan sistematis yang lengkap membutuhkan waktu agak lama,
padahal penilaian harus dilakukan secara cepat, maka dilakukan
penilaian awal.

Penilaian awal ialah langkah pertama untuk menentukan dengan


cepat kasus obstetri yang dicurigai dalam keadaan gawat darurat dan
membutuhkan pertolongan segera dengan mengidentifikasi penyulit
(komplikasi) yang dihadapi. Dalam penilaian awal ini, anamnesis
lengkap belum dilakukan. Anamnesis awal dilakukan bersama-sama
periksa pandang, periksa raba, dan penilaian tanda vital dan hanya untuk
mendapatkan informasi yang sangat penting berkaitan dengan kasus.
Misalnya, apakah kasus mengalami perdarahan, demam, tidak sadar,
kejang, sudah mengejan atau bersalin berapa lama, dan sebagainya.
Fokus utama penilaian apakah ibu memiliki riwayat hipertensi atau tidak,
dan menilai apakah ada tanda-tanda dan data lab yang menunjukkan
bahwa ibu akan mengalami preeklamsia. Hipertensi tanpa proteinuria
yang timbul setelah kehamilan 20 minggu dan menghilang setelah
persalinan

1. PENILAIAN HIPERTENSI

Saat melakukan penilaian, apabila hasil menunjukkan:

 Tekanan darah ≥140/90 mmHg


 Sudah ada riwayat hipertensi sebelum hamil, atau diketahui adanya
hipertensi pada usia kehamilan <20 minggu
 Tidak ada proteinuria (diperiksa dengan tes celup urin)
 Dapat disertai keterlibatan organ lain, seperti mata, jantung, dan
ginjal

Maka ibu mengalami hipertensi kronik.

Saat melakukan penilaian, apabila hasil menunjukkan:

 Tekanan darah ≥140/90 mmHg

 Tidak ada riwayat hipertensi sebelum hamil, tekanan darah normal


di usia kehamilan <12 minggu

 Tidak ada proteinuria (diperiksa dengan tes celup urin)

 Dapat disertai tanda dan gejala preeklampsia, seperti nyeri ulu hati
di trombositopenia
 Diagnosis pasti ditegakkan pascapersalinan

Maka ibu mengalami hipertensi gestasional.

Penyakit ini cukup sering dijumpai dan masih merupakan salah


satu satu sebab dari kematian ibu. Di U.S.A, misalnya 1/3 dari kematian
ibu disebabkan penyakit ini. Hipertensi dalam kehamilan menjadi juga
penyebab yang penting dari kelahiran mati dan kematian neonatal
Kematian bayi ini terutama disebabkan partus prematurus yang
merupakan akibat dari penyakit hipertensi (Manuaba, 1998).

Menurut WHO, tekanan darah diangap normal bila kurang dari


135/85 mmHg, sedangkan dikatakan hipertensi bila lebih dari 140
mmHg dan diantara nilai tersebut dikatakan normal tinggi (Adib, 2009)

C. PENANGANAN HIPERTENSI DALAM OBSTETRIC

Penanganan hipertensi dalam kehamilan bertujuan untuk


mencegah terjadinya hipertensi dalam kehamilan yang lebih parah yaitu
eklampsia ibu hamil diharapkan mampu melahirkan bayi hidup dengan
trauma seminimal mungkin pada bayi maupun ibu sendiri.

Penanganan hipertensi dalam kehamilan yaitu dengan


mengajukan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi, rendah
lemak, karbohidrat, mengurangi garam dan memperbanyak sayuran serta
buah segar. Jika hal ini kondisi ibu tidak membaik walau sudah diberi
obat-obatan, kehamilan harus segera diakhiri meskipun janin masih
belum mencukupi (Murbawi, 2003).

1. PENANGANAN HIPERTENSI KRONIK

 Anjurkan istirahat lebih banyak.


 Pada hipertensi kronik, penurunan tekanan darah ibu akan
mengganggu perfusi serta tidak ada bukti-bukti bahwa tekanan
darah yang normal akan memperbaiki keadaan janin dan ibu.

 Jika pasien sebelum hamil sudah mendapat obat antihipertensi, dan


terkontrol dengan baik, lanjutkan pengobatan tersebut
 Jika tekanan diastolik >110 mmHg atau tekanan sistolik >160
mmHg, berikan antihipertensi
 Jika terdapat proteinuria atau tanda-tanda dan gejala lain,
pikirkan superimposedpreeklampsia dan tangani seperti
preeklampsia

Bila sebelumnya ibu sudah mengkonsumsi antihipertensi, berikan


penjelasan bahwa antihipertensi golongan ACE inhibitor (misalnya
kaptopril), ARB (misalnya valsartan), dan klorotiazid
dikontraindikasikan pada ibu hamil. Untuk itu, ibu harus berdiskusi
dengan dokternya mengenai jenis antihipertensi yang cocok selama
kehamilan.

 Berikan suplementasi kalsium1,5-2 g/hari dan aspirin 75 mg/hari


mulai dari usia kehamilan 20 minggu
 Pantau pertumbuhan dan kondisi janin.
 Jika tidak ada komplikasi, tunggu sampai aterm.
 Jika denyut jantung janin <100 kali/menit atau >180 kali/menit,
tangani seperti gawat janin.
 Jika terdapat pertumbuhan janin terhambat, pertimbangkan
terminasi kehamilan.

2. PENANGANAN UMUM HIPERTENSI GESTASIONAL

 Pantau tekanan darah, urin (untuk proteinuria), dan kondisi janin


setiap minggu.
 Jika tekanan darah meningkat, tangani sebagai preeklampsia
ringan.
 Jika kondisi janin memburuk atau terjadi pertumbuhan janin
terhambat, rawat untuk penilaian kesehatan janin.
 Beri tahu pasien dan keluarga tanda bahaya dan gejala
preeklampsia dan eklampsia.
 Jika tekanan darah stabil, janin dapat dilahirkan secara normal.

D. ASUHAN KEPERAWATAN

Perawat memerlukan metode ilmiah dalam melakukan proses terapeutik


yaitu proses keperawatan. Proses keperawatan dipakai untuk membantu
perawat dalam melakukan praktek keperawatan secara sistematis dalam
mengatasi masalah keperawatan yang ada (Budianna Keliat, 1994, 2 ).

Pemberian asuhan keperawatan merupakan proses terapeutik yang


melibatkan hubungan kerja sama dengan klien, keluarga atau masyarakat
untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal ( Carpenito, 2000, 2 ).

E. PENGKAJIAN

Pengumpulan data

Data-data yang dikumpulkan atau dikaji meliputi :

1. Identitas pasien

Pada wanita hamil berusia kurang dari 25 tahun insiden lebih tiga
kali lipat. Pada wanita hamil berusia lebih dari 35 tahun dapat terjadi
hipertensi laten.

Meskipun proporsi kehamilan dengan hipertensi kehamilan di


Amerika Serikat pada dasawarsa yang lalu meningkat hampir sepertiga.
Peningkatan ini sebagian diakibatkan oleh peningkatan jumlah ibu yang
lebih tua dan kelahiran kembar. Sebagai contoh, pada tahun 1998 tingkat
kelahiran di kalangan wanita usia 30-44 dan jumlah kelahiran untuk
wanita usia 45 dan lebih tua berada pada tingkat tertinggi dalam 3
dekade, menurut National Center for Health Statistics. Lebih jauh lagi,
antara 1980 dan 1998, tingkat kelahiran kembar meningkat sekitar 50
persen secara keseluruhan dan 1.000 persen di kalangan wanita usia 45-
49; tingkat triplet dan orde yang lebih tinggi kelahiran kembar melompat
lebih dari 400 persen secara keseluruhan, dan 1.000 persen di kalangan
wanita di mereka 40-an.

2. Keluhan utama

Pasien dengan hipertensi pada kehamilan didapatkan keluhan


berupa seperti sakit kepala terutama area kuduk bahkan mata dapat
berkunang-kunang, pandangan mata kabur, proteinuria (protein dalam
urin), peka terhadap cahaya, nyeri ulu hati.

3. Riwayat  penyakit sekarang

Pada pasien jantung hipertensi dalam kehamilan, biasanya akan


diawali dengan tanda-tanda mudah letih, nyeri kepala (tidak hilang
dengan analgesik biasa ), diplopia, nyeri abdomen atas (epigastrium),
oliguria (<400 ml/ 24 jam)serta nokturia dan sebagainya. Perlu juga
ditanyakan  apakah klien menderita diabetes, penyakit ginjal, rheumatoid
arthritis, lupus atau skleroderma, perlu ditanyakan juga mulai kapan
keluhan itu muncul. Apa tindakan yang telah dilakukan untuk
menurunkan atau menghilangkan keluhan-keluhan tersebut.

4. Riwayat penyakit dahulu

Perlu ditanyakan apakah pasien pernah menderita penyakit


seperti kronis hipertensi (tekanan darah tinggi sebelum hamil), Obesitas,
ansietas, angina, dispnea, ortopnea, hematuria, nokturia dan sebagainya.
Ibu beresiko dua kali lebih besar bila hamil dari pasangan yang
sebelumnya menjadi bapak dari satu kehamilan yang menderita penyakit
ini. Pasangan suami baru mengembalikan resiko ibu sama seperti
primigravida. Hal ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya
faktor predisposisi.

5. Riwayat penyakit keluarga

Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita


penyakit-penyakit yang disinyalir sebagai penyebab jantung  hipertensi
dalam kehamilannya. Ada hubungan genetik yang telah diteliti. Riwayat
keluarga ibu atau saudara perempuan meningkatkan resiko empat sampai
delapan kali

6. Riwayat psikososial
Meliputi perasaan pasien terhadap penyakitnya, bagaimana cara
mengatasinya serta bagaimana perilaku pasien terhadap tindakan yang
dilakukan terhadap dirinya.

7. Riwayat maternal

Kehamilan ganda memiliki resiko lebih dari dua kali lipat.

8. Pengkajian sistem tubuh

B1 (Breathing)

Pernafasan meliputi sesak nafas sehabis aktifitas, batuk dengan


atau tanpa sputum, riwayat merokok, penggunaan obat bantu pernafasan,
bunyi nafas tambahan, sianosis.

B2 (Blood)

Gangguan fungsi kardiovaskular pada dasarnya berkaitan dengan


meningkatnya afterload jantung akibat hipertensi. Selain itu terdapat
perubahan hemodinamik, perubahan volume darah berupa
hemokonsentrasi. Pembekuan darah terganggu waktu trombin menjadi
memanjang. Yang paling khas adalah trombositopenia dan gangguan
faktor pembekuan lain seperti menurunnya kadar antitrombin III.
Sirkulasi meliputi adanya riwayat hipertensi, penyakit jantung coroner,
episodepalpitasi, kenaikan tekanan darah, takhicardi, kadang bunyi
jantung terdengar S2 pada dasar , S3 dan S4, kenaikan TD, nadi
denyutan jelas dari karotis, jugularis, radialis, takikardi, murmur stenosis
valvular, distensi vena jugularis, kulit pucat, sianosis, suhu dingin.

B3 (Brain)

Lesi ini sering karena pecahnya pembuluh darah otak akibat


hipertensi. Kelainan radiologis otak dapat diperlihatkan dengan CT-Scan
atau MRI. Otak dapat mengalami edema vasogenik dan hipoperfusi.
Pemeriksaan EEG juga memperlihatkan adanya kelainan EEG terutama
setelah kejang yang dapat bertahan dalam jangka waktu
seminggu.Integritas ego meliputi cemas, depresi, euphoria, mudah
marah, otot muka tegang, gelisah, pernafasan menghela, peningkatan
pola bicara. Neurosensori meliputi keluhan kepala pusing, berdenyut ,
sakit kepala sub oksipital, kelemahan pada salah satu sisi tubuh,
gangguan penglihatan (diplopia, pandangan kabur), epitaksis, kenaikan
terkanan pada pembuluh darah cerebral.

B4 (Bladder)

Riwayat penyakit ginjal dan diabetes mellitus, riwayat


penggunaan obat diuretic juga perlu dikaji. Seperti pada glomerulopati
lainnya terdapat peningkatan permeabilitas terhadap sebagian besar
protein dengan berat molekul tinggi. Sebagian besar penelitian biopsy
ginjal menunjukkan pembengkakan endotel kapiler glomerulus yang
disebut endoteliosis kapiler glomerulus. Nekrosis hemoragik periporta
dibagian perifer lobulus hepar kemungkinan besar merupakan penyebab
meningkatnya kadar enzim hati dalam serum.

B5 (Bowel)

Makanan/cairan meliputi makanan yang disukai terutama yang


mengandung tinggi garam, protein,  tinggi lemak, dan kolesterol, mual,
muntah, perubahan berat badan,  adanya edema.

B6 (Bone)

Nyeri/ketidaknyamanan meliputi nyeri hilang timbul pada


tungkai,sakit kepala sub oksipital berat, nyeri abdomen, nyeri dada, nyeri
ulu hati. Keamanan meliputi gangguan cara berjalan, parestesia,
hipotensi postural

F. DIAGNOSA

Diagnosa keperawatan ditegakkan melalui analisis cermat


terhadap hasil pengkajian. Diagnosa keperawatan yang umum untuk
orang tua dengan gangguan hipertensi pada kehamilan meliputi hal-hal
berikut.

1. Perubahan perfusi jaringan/organ, menurun, b.d

1) Hipertensi
2) Vasospasme siklik
3) Edema serebral
4) Perdarahan

2. Risiko tinggi gangguan pertukaran gas b.d


1) Terapi magnesium sulfat
2) Edema paru

3. Risiko tinggi perubahan curah jantung, menurun b.d

1) Terapi antihipertensi yang berlebihan


2) Jantung terkena dalam proses penyakit

1. Risiko tinggi mengalami solusio plasenta b.d

1) Vasospasme sistemik
2) Hipertensi
3) Penurunan perfusi uteroplasenta

2. Risiko tinggi cedera ibu b.d

1) Iritabilitas SSP akibat edema otak, vasospasme, penurunan


perfusi ginjal
2) Terapi magnesium sulfat dan antihipertensi

3. Risiko tinggi cedera pada janin b.d

1) Insufisiensi uteroplasenta
2) Kelahiran premature
3) Solusio plasenta

4. Ansietas b.d efeknya pada ibu dan janin

G. INTERVENSI
1. Perubahan perfusi jaringan b.d. Hipertensi, Vasospasme siklik,
Edema serebral, Perdarahan

 Tujuan : tidak terjadi vasospasme dan perfusi jaringan tidak terjadi


 Kriteria hasil : klien akan mengalami vasodilatasi ditandai dengan
diuresis, penurunan tekanan darah, edema

Implementasi Rasional

1. Memantau asupan oral dan 1. MGSO4 adalah obat anti kejang


ifus IV MGSO4 yang bekerja pada sambungan
2. Memantau urin yang kluar mioneural dan merelaksasi 
3. Memantau edema yang vasospasme  sehingga
terlihat menyebabkan peningkatan perfusi
4. Mempertahankan tirah ginjal, mobilisasi cairan ekstra
baring total dengan posisi seluler  (edema dan diuresis
miring 2. Tirah baring menyebabkan aliran
darah urtero plasenta, yang sering
kali menurunkan tekanan darah
dan meningkatkan dieresis

2. Resiko cedera tinggi pada ibu b.d. iritabilitas SSP

 Tujuan : gangguan SSP akan menurun mencapai tingkat normal


 Kriteria hasil  : klien tidak mengalami kejang

Implementasi Rasional

1. Mendapatkan data-data dasar  data-data dasar  dugunakan untuk


(misal DTRs,klonus) memantau hasil terapi
1. Memantau pemberian IV
MgSO4 dan kadar serum MGSO4 adalah obat anti kejang
MgSO4
yang bekerja pada sambungan
1. mengkaji adanya kemungkinan mioneural dan merelaksasi 
keracunan  MgSO4 vasospasme

1. mempertahankan lingkungan Dosis yang berlebih akan


yang tenang, gelap dan nyaman membuat kerja otot menurun
sehingga dapat menyebabkan
depresi pernapasan berat

Rangsangan kuat, misalnya


cahaya terang dan suara keras
dapat menimbulkan kejang

3. Resiko tinggi cedera pada janin b.d fetal distress

 Tujuan     : Setelah dilakukan tindakan perawatan tidak terjadi fetal


distress pada janin
 Kriteria hasil : – DJJ ( + ) : 12-12-12

Implementasi Rasional

1. Monitor DJJ sesuai indikasi Peningkatan DJJ sebagai indikasi


terjadinya hipoxia, prematur dan solusio
2. Kaji tentang pertumbuhan janin plasenta

3. Jelaskan adanya tanda-tanda solutio Penurunan fungsi plasenta mungkin


plasenta ( nyeri perut, perdarahan, diakibatkan karena hipertensi sehingga
rahim tegang, aktifitas janin turun ) timbul IUGR

4. Kaji respon janin pada ibu yang Ibu dapat mengetahui tanda dan gejala
diberi SM solutio plasenta dan tahu akibat hipoxia
5. Kolaborasi dengan medis dalam bagi janin
pemeriksaan USG dan NST
Reaksi terapi dapat menurunkan
pernafasan janin dan fungsi jantung
serta aktifitas janin

USG dan NST untuk mengetahui


keadaan/kesejahteraan janin

4. Kecemasan berhubungan dengan ancaman cedera pada bayi sebelum


lahir

 Tujuan: ansietas dapat teratasi


 Kriteria hasil:

1. Tampak rileks, dapat istirahat dengan tepat


2. Menuujukkan ketrampilan pemecahan masalah

Intervensi Rasional

Mandiri Mandiri

1. Kaji tingkat ansietas pasien. 1. Membantu menentukan jenis


Perhatikan tanda depresi dan intervensi yang diperlukan
pengingkaran 2. Membuat perasaan terbuka dan
2. Dorong dan berikan kesempatan bekerja sama untuk
untuk pasien atau orang memberikan informasi yang
terdekat mengajukan akan membantu mengatasi
pertanyaan dan menyatakan masalah
masalah
3. Dorong orang terdekat 1. Keterlibatan meningkatka
berpartisipasi dalam asuhan, perasaan berbagi, manguatkan
sesuai indikasi perasaan berguna, memberikan
kesempatan untuk mengakui
kamampuan individu dan
memperkecil rasa takut karena
ketidaktahuan
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Penyakit hipertensi dalam kehamilan adalah komplikasi yang


serius trimester kedua-ketiga dengan gejala klinis seperti: odema
hipertensi, proteinuria, kejang sampai koma dengan umur kehamilan di
atas 20 minggu, dan dapat terjadi antepartum, intrapartum, pascapartus
(Cuninghem, 2006).

Ganguan hipertensi yang menjadi penyulit dalam kehamilan


sering dijumpai dan termasuk salah satu diantara 3 trias yang mematikan
bersama dengan perdarahan dan infeksi yang banyak menimbulkan
mortalitas dan morbiditas ibu karena kehamilan. Menurut the National
Center for Health Statistics pada tahun 1998 penyakit ini ditemukan pada
146.320 wanita,atau 3,7 % diantara semua kehamilan yang berakhir
dengan kelahiran hidup Berg dkk.(1996)melaporkan bahwa hampir 18 %
diantara 1450 kematian di Amerika Serikat dari tahun 1987 sampai 1990
terjadi akibat penyulit hipertensi dalam kehamilan (Cuninghem,2006).

Hipertensi karena kehamilan yaitu : tekanan darah yang lebih


tinggi dari 140/90mmHg yang disebabkan karena kehamilan itu sendiri,
memiliki potensi yang menyebabkan gangguan serius pada kehamilan.
(Sumber: SANFORD,MD tahun 2006).

Nilai normal tekanan darah seseorang yang disesuaikan tingkat


aktifitas dan keseatan secara umum adalah 120/80mmHg. Tetapi secara
umum, angka pemeriksaan  tekanan darah menurun saat tidur dan
meningkat saat beraktifitas atau berolahraga
DAFTAR PUSTAKA
Manuaba IBG,dkk.2007.  Pengantar Kuliah Obstetri . Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC.

Manuaba,Chandranita,dkk. 2008. Gawat Darurat Obstetri-Ginekologi dan


Obstetri –Ginekologi Sosial Untuk Profesi Bidan. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Sirait, Ana Maria. 2012. Prevalensi Hipertensi pada Kehamilan di Indonesia.
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, Vol. 15 (2), April 2012: 103–109,
Jakarta.

Yudasmara, Kusuma. 2013. Hipertensi dalam Kehamilan.