Anda di halaman 1dari 13

BAB II

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Analisis
SKENARIO I
MALNUTRISI dan CAMPAK DI PAPUA
Papua adalah ropinsi di ujung timur Indonesia, pada bulan September 2017 dua dari
kabupaten yang ada di Papua mengalami bencana kelaparan. Hingga bulan Januari
2018 tercatat 68 orang meninggal oleh karena gizi buruk disertai penyakit campak
atau diare. Kabupaten Bintang terletak di pegunungan Bintang dengan jarak 286 km
dari Agatas ibukota Asmat. Kabupaten Bintang memiliki 23 distrik dan selama bulan
Januari telah ditemukan 28 orang meninggal oleh karena gizi buruk yang terdiri dari
10 anak perempuan, 12 anak laki-laki, 2 dewasa pria dan 4 wanita. Dinas kesehatan
telah melakukan penyisiran di Kabupaten Bintang dan ditemukan 57 orang gizi buruk
dan 586 orang menderita campak. Lokasi Kabupaten Bintang yang bergunung-
gunung, transportasi yang sulit karena beberapa wilayah hanaya daat ditempuh
melalui transportasi air, dimana transportasi air yang ada adalah erahu yang dikayuh
hingga memerlukan menginap di perjalanan untuk mencapai rumah sakit terdekat.
Sementara diketahui pustu terdekat sudah beberapa bulan oetugasnya tidak hadir oleh
karena komitmen yang rendah. Masyarakat di kabupaten ini masih hidup
berpindah-pindah dengan mata pencaharian sebagai pemburu. Dengan
pembukaan hutan untuk tempat tinggal menyebabkan hewan buruan semakin
berkurang. Sebagai petugas kesehatan yang bertugas di Dinas Kesehatan di
Kabupaten Bintang apa yang dapat anda lakukan untuk mengatasi bencana kelaparan
ini.

I. Learning objective
a. Campak
Campak merupakan penyakit infeksi yang menular (infeksius) yang
disebabkan oleh virus campak golongan Paramyxovirus genus
Morbillivirus berada di dalam secret nasofaring dan di dalam darah, pada
umumnya menyerang anak-anak serta merupakan penyakit endemis di
belahan dunia. Penyakit ini ditandai dengan demam, batuk, konjungtivitis
(peradangan selaput ikat mata/konjungtiva) dan ruam kulit. Dapat menular
sejak awal masa prodromal sampai lebih kurang 4 hari setelah munculnya
ruam. Penularan penyakit campak yaitu dari orang ke orang melalui
droplet respiration atau dapat pula secara air borne sebagai nucleus
droplet aerosol.
b. Gejala Campak
Tanda dan gejala campak terdiri dari tiga stadium diantaranya stadium
kataral yang ditandai dengan demam lebih dari 38 derajat celcius selama
3-7 hari, sakit kepala, batuk, pilek, mata merah. Stadium kedua yaitu
stadium erupsi yang ditandai dengan batuk dan pilek yang bertambah
parah, suhu demam semakin meningkat, timbul bercak kemerahan atau
rash dimulai dari belakang telinga pada tubuh yang berbentuk makulo
popular. Stadium ketiga yaitu stadium konvalensi yang ditandai dengan
berubahnya bercak kemerahan menjadi kehitaman (hiperpigmentasi)
disertai dengan kulit bersisik. Komplikasi campak sangat beragam
tergantung dari status gizi dan daya imunitas tubuh seseorang. Komplikasi
yang sering terjadi yaitu bronchopneumonia, gastroenteritis dan otitis
media, ensefalitis hingga kematian (Kemenkes, 2016).
c. Diagnosis dan pengobatan
Pemeriksaan antibodi IgM merupakan cara tercepat untuk memastikan
adanya infeksi campak akut. Karena IgM mungkin belum dapat dideteksi
pada 2 hari pertama munculnya rash, maka untuk mengambil darah
pemeriksaan IgM dilakukan pada hari ketiga untuk menghindari
adanya false negative. Titer IgM mulai sulit diukur pada 4 minggu setelah
muncul rash. Sedangkan IgG antibodi dapat dideteksi 4 hari setelah rash
muncul, terbanyak IgG dapat dideteksi 1 minggu setelah onset sampai 3
minggu setelah onset. IgG masih dapat ditemukan sampai beberapa tahun
kemudian. Virus measles dapat diisolasi dari urine, nasofaringeal aspirat,
darah yang diberi heparin, dan swab tenggorok selama masa prodromal
sampai 24 jam setelah timbul bercak-bercak. Virus dapat tetap aktif selama
sekurang-kurangnya 34 jam dalam suhu kamar.
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), anak harus diberikan
cukup cairan dan kalori, sedangkan pengobatan bersifat simtomatik,
dengan pemberian antipiretik, antitusif, ekspektoran dan antikonvulsan
bila diperlukan. Pasien morbili diupayakan untuk memperbaiki keadaan
umum dengan pemberian cairan dan nutrisi yang adekuat.Pada kasus ini
cairan yang dibutuhkan adalah cairan maintenance yang fungsinya adalah
untuk menggantikan air yang hilang lewat urine, tinja, paru dan kulit.
Karena cairan yang keluar sedikitsekali mengandung elektrolit, maka
cairan pengganti terbaik adalah cairan hipotonik seperti N4D5. Pada pasien
ini jenis pemberian cairan hipotonik sudah tepat dengan jumlah tetesan 25
tetes/menit.Pemberian antibiotik dapat dilakukan jika ada indikas infeksi
sekunder Selain itu pemberian antibiotik sebagai profilaksis dari infeksi
sekunder tidak bermanfaat dan tidak dianjurkan. Pemberian antibiotik
golongan cephalosporin berupa ceftriaxone dapat digunakan pada infeksi
saluran nafas dan dengan dosis 50-75 mg/kgBB/kali sehari atau
dibagi menjadi 2 dosis. Dosis yang dapat diberikan pada pasien ini adalah
1300–1950 mg sehingga pemberian antibiotik pada pasien ini dirasa
kurang tepat karena pada pasien ini tidak didapatkan tanda-tanda infeksi.

Pengobatan simtomatik seperti pemberian antipiretik berupa


paracetamol pada pasien ini dikarenakan pasien mengeluhkan demam.
Dosis paracetamol pada anak yaitu 10-15 mg/kgBB/dosis. Dosis anjuran
pada pasien ini adalah 260–390 mg/satu kali pemberian namun pada
pasien ini diberikan 500 mg sehingga dosis yangdiberikan kurang tepat
dan melebihi dari dosis yang ditentukan. Terapi Vitamin A terbukti
menurunkan angka morbiditas dan mortalitas sehingga World Health
Organization (WHO) menganjurkan pemberian vitamin A kepada semua
anak dengan campak, dimana elemen nutrisi utama yang menyebabkan
kegawatan morbili bukanlah protein dan kalori melainkan vitamin A.
Ketika terjadi defisiensi vitamin A pada kasus morbili maka akan
menyebabkan kebutaan dan kematian.Oleh karena itu vitamin A diberikan
dalam dosis yang tinggi. American Academy of Pediatrics(AAP)
merekomendasikan pemberian dosis tunggal vitamin A dengan dosis
200.000 IU untuk anak usia >12 bulan dan 100.000 IU untuk usia <12
bulan.
d. Pencegahan campak
Pencegahan dilakukan dengan vaksinasi campak ataupun vaksinasi
MMR (Measles, Mumps, Rubella). Sesuai jadwal imunisasi rekomendasi
IDAI tahun 2014, vaksin campak diberikan pada usia 9 bulan. Selanjutnya,
vaksin penguat dapat diberikan pada usia 2 tahun. Apabila vaksin MMR
diberikan pada usia 15 bulan, tidak perlu vaksinasi campak pada usia 2
tahun. Selanjutnya, MMR ulangan diberikan pada usia 5-6 tahun.13 Dosis
vaksin campak ataupun vaksin MMR 0,5 mL subkutan.
Imunisasi ini tidak dianjurkan pada ibu hamil, anak dengan
imunodefisiensi primer, pasien tuberkulosis yang tidak diobati, pasien
kanker atau transplantasi organ, pengobatan imunosupresif jangka panjang
atau anak immunocompromised yang terinfeksi HIV. Anak terinfeksi HIV
tanpa imunosupresi berat dan tanpa bukti kekebalan terhadap campak, bisa
mendapat imunisasi campak.
Reaksi KIPI (Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi) yang dapat terjadi
pasca-vaksinasi campak berupa demam pada 5-15% kasus, yang dimulai
pada hari ke 5-6 sesudah imunisasi, dan berlangsung selama 5 hari. Ruam
dapat dijumpai pada 5% resipien, yang timbul pada hari ke 7 s/d 10
sesudah imunisasi dan berlangsung selama 2-4 hari. Reaksi KIPI dianggap
berat jika ditemukan gangguan sistem saraf pusat, seperti ensefalitis dan
ensefalopati pasca-imunisasi. Risiko kedua efek samping tersebut dalam
30 hari sesudah imunisasi diperkirakan 1 di antara 1.000.000 dosis vaksin.
Reaksi KIPI vaksinasi MMR yang dilaporkan pada penelitian mencakup
6000 anak berusia 1-2 tahun berupa malaise, demam, atau ruam 1 minggu
setelah imunisasi dan berlangsung 2-3 hari.Vaksinasi MMR dapat
menyebabkan efek samping demam, terutama karena komponen campak.
Kurang lebih 5-15% anak akan mengalami demam >39,40C setelah
imunisasi MMR.6,8,14 Reaksi demam tersebut biasanya berlangsung 7-12
hari setelah imunisasi, ada yang selama 1-2 hari. Dalam 6-11 hari setelah
imunisasi, dapat terjadi kejang demam pada 0,1% anak, ensefalitis pasca-
imunisasi terjadi pada <1/1.000.000 dosis (Ricky, 2016).
e. Gizi Buruk
Pengertian gizi buruk adalah status gizi yang didasarkan pada indeks
Berat Badan menurut Umur (BB/U) < -3 SD yang merupakan padanan
istilah severely underweight. Terdapat 3 jenis gizi buruk yang sering
dijumpai yaitu kwashiorkor, marasmus dan gabungan dari keduanya
marasmus-kwashiorkor.
Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya gizi buruk,diantaranya
adalah status sosial ekonomi, ketidaktahuan ibu tentang pemberian gizi
yang baik untuk anak, dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Sosial
adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat sedangkan ekonomi
adalah segala usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan untuk mencapai
kemakmuran hidup. Sumber lain menyebutkan asupan makanan keluarga,
faktor infeksi, dan pendidikan ibu menjadi penyebab kasus gizi buruk.
Status gizi adalah kondisi tubuh yang dipengaruhi oleh diet; kadar
nutrisi dalam tubuh dan kemampuan untuk menjaga integritas metabolik
normal. Salah satu faktor yang dianggap memengaruhi imunitas seseorang.
Kondisi dengan malnutrisi dan defisiensi vitamin A membuat lebih rentan
terhadap infeksi dan infeksi juga berkontribusi dalam kekurangan gizi.
Kaitan penyakit infeksi dengan keadaan gizi kurang merupakan
hubungan timbal balik, yaitu hubungan sebab-akibat. Penyakit infeksi
dapat memperburuk keadaan gizi dan keadaan gizi yang jelek
mempermudah terkena infeksi. Penyakit yang umumnya terkait dengan
masalah gizi adalah campak.
Input
Proses

Kurangnya petugas

Tidak
Tersedia pustu
ada RS
Dukungan dari Dinkes

Komitmen
Rendah
Tingginya
kejadian
campak dan gizi
buruk di
Kabupaten
Bintang
Lokasi sulit dijangkau
Transportasi tak
menentu
Masyarakat hidup
berpindah-pindah

Lingkungan
A. Pembahasan
Penjelasan Fish Bone

a. Kelompok masukan ( Input )


1. Kurangnya Petugas
Diketahui pustu terdekat sudah beberapa bulan petugasnya tidak hadir oleh
karena komitmen yang rendah.
2. Tidak ada RS
Tidak tersedia rumah sakit yang dekat dengan Kabupaten Bintang
3. Tersedia Pustu
Pustu tersedia di Kabupaten Bintang
b. Kelompok Proses ( Process )
1. Komitmen Rendah
Petugas Pustu memiliki komitmen yang rendah, sehingga berakibat terhadap
kesehatan masyarakat
2. Dukungan dari dinkes
Dinas kesehatan telah melakukan penyisiran di Kabupaten Bintang dan
ditemukan 57 orang gizi buruk dan 586 orang menderita campak

c. Kelompok Lingkungan ( Environment )


1. Lokasi sulit dijangkau
Lokasi Kabupaten Bintang yang bergunung-gunung
2. Transportasi tak menentu
Transportasi yang sulit karena beberapa wilayah hanaya daat ditempuh
melalui transportasi air, dimana transportasi air yang ada adalah erahu yang
dikayuh hingga memerlukan menginap di perjalanan untuk mencapai rumah
sakit terdekat.
3. Masyarkat hidup berpindah-pindah
Masyarakat di kabupaten ini masih hidup berpindah-pindah dengan mata
pencaharian sebagai pemburu. Dengan pembukaan hutan untuk tempat
tinggal menyebabkan hewan buruan semakin berkurang.
TABEL SCORING
Tabel scoring prioritas pemecahan masalah

Keterangan:
P : Prioritas pemecahan masalah
M : Maknitude, besarnya masalah yang bisa diatasi apabila solusi/kegiatan ini
dilaksanakan (turunnya prevelensi dan besarnya masalah ini).
I : Implementasi ,kelanggenganselesainnyamasalah
V : Viliability ,sensitifnya dalam mengatur masalah
C : Cost, Biaya yang diperlukan

NO Kegiatan Efektivitas Efisiensi Hasil


M I V C P=MxIxV

1 Imunisasi keliling 2 3 4 5 P=2x3x4 = 4,8


5
2 Penyuluhan rutin 3 2 3 3 P=3x2x3= 6
3
3 Pengobatan dan perbaikan 5 4 2 5 P=5x4x2= 8
gizi 5

PEMBAHASAN :

Untuk mengatasi masalah campak dan gizi buruk maka tindakan yang akan
kami lakukan adalah dengan melakukan pengobatan dan pemberian makanan secara
bertahap. Diharapkan dengan dilakukannya kegiatan ini maka dapat mengatasi
masalah yang ada pada Kabupaten Bintang.
BAB III
RENCANA PROGRAM

no Kegiatan Rencana Sasaran/p Target Lokasi Tenaga Jadwal Kebutuhan indikator


kegiatan eserta pelaksanaan pelaksana pelaksanaan
kegiatan
1. Perencanaan Koordinasi -Dinkes Permohonan Ruangan di Panitia Senin Ruangan,meja,kur 95% panitia ikut
program dengan - kerjasama Dinas penyelenggar si,dan papan tulis hadir dalam rapat.
pengobatan dan stakeholder Puskesma dapat Kesehatan a
perbaikan gizi s disetujui dan
-Nakes dipahami oleh
(Dokter,p semua pihak
erawat,bid yang terlibat
an)
2. Perijinan program Mempersi Panitia Surat Kantor aparat Panitia Rabu Surat perijinan 100% surat
apkan dan
pengobatan dan penyeleng tersampaikan yang penyelenggar dan transport disetujui
mengajuka
perbaikan gizi gara dan disetujui bersangkutan a
n perijinan
pada
oleh aparat
pejabat desa yang
daerah bertugas
yang
bertugas
( Camat,
Lurah, RT,
RW)

3. Mendata Melakukan Masyarak Masyarakat Balai desa Panitia Jumat Meja,microphone. 95% warga hadir
masyarakat yang pendataan at yang dapat penyelenggar kursi,papan serta mengetahui
sakit campak dan kepada akan memberikan a pengumuman,lapt isi dari
gizi buruk di seluruh berpartisi data informasi op pemberitahuan
Kabupaten masyarakat pasi yang akurat tersebut
Bintang Kabupaten dalam tentang
Bintang program jumlah pasien
ini yang sedang
sakit campak
dan gizi buruk
4. Pelaksanaan Memberikan Panitia Pengobatan Pustu Dokter,peraw Minggu Obat- 90% masyarakat
program obat dan penyeleng serta at,bidan dan obatan,makanan, ikut
pengobatan dan makanan garan dan pemberian tenaga meja,kursi,kasur berpartisipasi,
perbaikan gizi serta edukasi masyarak makanan kesehatan pasien,microphon pada kegiatan
kepada at yang dapat lainnya e,laptop dan pengobatan dan
pasien yang sudah terlaksana kupon kegiatan perbaikan gizi
sakit campak terdata dengan baik
dan gizi dan teratur
buruk
5. Evaluasi Melakukan Panitia Masyarakat Balai desa Panitia Minggu kedua Laptop dan data Jumlah pasien
pengecekkan penyeleng yang sudah dan rumah penyelenggar pasien yang sudah yang terdata sakit
ulang pada gara berpartisipasi warga a didata berkurang, 90%
waktu sebelumnya sebelumnya pendataan
tertentu terlaksana
setelah
pengobatan
untuk
melihat
apakah
pasien
sembuh atau
tidak dan
dibandingka
n dengan
data sakit
pasien
sebelumnya
KESIMPULAN

1. Untuk mengatasi masalah campak tidak bisa dengan sekali pengobatan, tetapi
harus dilakukan secara berkala
2. Untuk mengatasi masalah gizi buruk dengan cara perbaikan gizi dari pemberian
nutrisi yang seharusnya cukup didapatkan dan harus dilakukan secara berkala,
tidak bisa hanya dilakukan sekali
3. Kegiatan yang tepat dilakukan untuk mengatasi campak dan kurang gizi denga
pengobatan dan perbaikan gizi secara berkala tdak hanya sekali saja

SARAN

1. Menerapkan pola hidup sehat utamanya untuk anak dan balita perlu mendapatkan
asupan gizi yang cukup, sehingga status gizi anak pun menjadi lebih baik
2. Meningkatkan peran tim medis untuk mengarahkan masyarakat pada campak dan
perbaikan gizi
3. Melakukan pengobatan pada anak-anak yang terkena campak
Daftar Pustaka

Halim, Ricky Gustian. 2016. Campak Pada Anak. Cikarang. RS Hosana Medica Lippo
Cikarang. vol.43 no.3.

Giarsawan, Nyoman dkk. 2014. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Campak Di


Wilayah Puskesmas Tejakula I Kecamatan Tejakula Kabupaten Buleleng Tahun 2012.
Denpasar. Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 4 No. 2.

Mariz, Donna Rozalia. 2016. Diagnosis dan Tatalaksana Morbili. Lampung. J Medula Unila
Vol. 4 No. 3.