Anda di halaman 1dari 44

PEMBELAJARAN DAN KOGNISI

DI AREA ISI

Mata Kuliah : Psikologi Pendidikan

Dosen Pengampu : Riza Noviana Khoirunnisa

Disusun Oleh Kelompok 8 :

1. Ditya Yuda Pratama (19010664202)

2. Dwi Rara Amanatin (19010664122)

3. Anisa Salsabila Zahwa (19010664207)

Kelas 2019D
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT


yang telah mengguyurkan segala nikmat sehingga kami
mampu menyelesaikan pembuatan makalah sebagai
tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan dengan judul
“Proses Pembelajaran dan Kognisi di Area Isi”.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari


kata sempurna dan banyak kekurangan di dalamnya.
Untuk itu, kritik dan saran sangat kami butuhkan. Tak
lupa, kami juga mengucapkan terimakasih kepada semua
pihak yang turut berpartisipasi dalam pembuatan
makalah ini. Demikian kata pengantar dari kami, semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi khalayak umum.
Terima kasih.

Surabaya, 08 Februari 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………ii

DAFTAR ISI…………………………………….…….iii

BAB I : PENDAHULUAN…………………….………1

A. Latar belakang……………...………………………1
BAB II : PEMBAHASAN………...…………………...3

A. Pengetahuan Ahli dan Pengetahuan Isi


Pendagogis…………………………….…….……..3
B. Membaca…………………………………………...4
C. Menulis……………………….….…………..…....12
D. Matematika………………….…………………….18
E. Sains…………………...………………....….……24
F. Studi Sosial…………………….……...……..……31
BAB III : PENUTUP………………..……………...…39

A. Kesimpulan……………………..…………………39
DAFTAR PUSTAKA…………………………………40

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Mengajar adalah suatu proses yang menuntun
seseorang pada aktivitas pembelajaran. Mengajar
memiliki tanggung jawab moral yang cukup besar.
Nasution (1982, dalam Rasto 2015) mengemukakan
bahwa kegiatan mengajar merupakan segenap aktivitas
kompleks yang dilakukan guru dalam mengorganisasi
atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan
menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses
belajar.
Berdasarkan pemaparan tersebut, maka para guru
harus meningkatkan kualitas dirinya sebagai pendidik
yang baik dan unggul. Untuk mendukung peningkatan
kualitas guru tersebut, maka guru diharapkan memiliki
expert knowledge dan Pedagogical Content Knowledge.
Dalam bab ini, kita juga akan mengeksplorasi tentang
proses belajar membaca, pembelajaran dan kognisi anak

1
dalam bidang menulis, matematika, sains, dan studi
sosial.

2
BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengetahuan Ahli dan Pengetahuan Isi


Pendagogis
Untuk menjadi guru yang ahli (expert teacher),
penguasaan bidang pelajaran tertentu sekaligus
kemampuan untuk mengajarkannya kepada orang lain
harus seimbang. Maka dari itu, guru dituntut untuk
memiliki expert knowledge (pengetahuan ahli) dan
pedagogical content knowledge (pengetahuan isi
pedagogis).
Expert knowledge (pengetahuan ahli) adalah sebuah
pengetahuan unggul yang dimiliki oleh seseorang dalam
isi atau materi dari suatu pelajaran atau disiplin ilmu
tertentu. Sedangkan pedagogical content knowledge
(pengetahuan isi pedagogis) adalah pengetahuan tentang
cara mengajarkan disiplin ilmu tertentu secara efektif.
Kedua pengetahuan ini sangat diperlukan untuk menjadi
guru yang ahli.
Kita akan membahas lima area isi atau mata
pelajaran—membaca, menulis, matematika, sains, dan

3
studi sosial—dan menunjukkan strategi yang efektif
untuk masing-masing bidang studi tersebut.

2. MEMBACA
Ahli membaca, Steve Stahl (dalam Psikologi
Pendidikan, Santrock, 2013) percaya bahwa tujuan
instruksi membaca seharusnya dapat membantu murid
untuk mengenali kata secara otomatis, memahami teks,
dan termotivasi untuk membaca dan mengapresiasi
bacaan. Ketiga tujuan instruksi membaca tersebut saling
berhubungan. Jika satu tujuan tidak tercapai, maka
tujuan yang lainnya juga tidak akan tercapai.

Model Membaca Developmental


Ada lima tahap membaca yang disebut sebagai
tahap-tahap Chall. Tahap-tahap membaca ini
memberikan pemahaman umum tetang perubahan
developmental dalam proses belajar membaca. Berikut
ulasannya.
 Tahap 0. Dari kelahiran sampai grade satu, anak
mulai menguasai beberapa prasyarat untuk membaca.

4
 Tahap 1. Di grade satu dan dua, anak mulai belajar
membaca dan mampu menguasai nama dan suara
huruf.
 Tahap 2. Di grade dua dan tiga, anak semakin lancar
dalam membaca namun belum bisa memahami isi
bacaannya.
 Tahap 3. Di grade empat sampai delapan, anak
mampu mendapatkan informasi dari bacaannya. Jika
anak belum menguasai tahap membaca pada tahap
ini, maka mereka akan kesulitan dalam bidang
akademik.
 Tahap 4. Di sekolah menengah atas, anak sudah
mampu memahami materi tertulis dari berbagai
perspektif sehingga mereka sudah mampu untuk
berdiskusi terkait isu-isu yang lumayan berat.

Pendekatan untuk Membaca


Membaca adalah kemampuan memahami bacaan
sehingga membutuhkan penguasaan dasar dalam
fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik.
 Pendekatan fonetik-dan-keahlian-dasar,
menggunakan pengajaran phonemic awareness

5
(membagi dan mengolah suara dalam kata) dan
phonics (mempelajari bahwa suara diwakili oleh
huruf yang dapat dipadukan untuk membentuk kata).
 Pendekatan bahasa-keseluruhan, menyatakan
bahwa intruksi membaca harus sejajar dengan bahasa
alamiah anak. Anak harus dibiasakan dengan bacaan
dalam bentuk yang komplet untuk memahami fungsi
komunikasi dari bahasa. Dalam pendekatan ini,
membaca dikorelasikan dengan kemampuan menulis
dan membaca dengan menggunakan materi yang
relevan dengan kenyataan seperti koran dan buku.

Para periset menyatakan bahwa kedua pendekatan ini


sangat berguna untuk anak. Pendekatan fonetik-dan-
keahlian-dasar dapat dipakai untuk membaca, sedangkan
pendekatan bahasa-menyeluruh dapat dipakai untuk
membaca tulisan tentang fakta-fakta.
Dalam sebuah studi yang meneliti intruksi
membaca di lima kelas di USA, ditemukan satu
kesimpulan penting bahwa intruksi membaca yang
efektif melibatkan banyak komponen dan tidak hanya
bergantung pada satu pendekatan saja. Salah satu cara

6
untuk meningkatkan keahlian membaca anak adalah
dengan menyuruh mereka membaca bacaan atau tulisan
secara rutin setiap harinya.

Pendekatan Kognitif
1) Decoding dan Pemahaman Kata. Keahlian
metakognitif dan keotomatisan pemrosesan informasi
sangat penting dalam hal decoding (penguraian) dan
pemahaman kata dalam kegiatan membaca. Pembaca
yang baik akan memiliki kontrol dan pemahaman
tentang membaca yang efektif.
Berikut adalah beberapa strategi metakognitif
yang bisa digunakan untuk meningkatkan
kemampuan membaca murid (Miholic, 1994;
Pressley & Afflerbach, 1995; Singhal, 2001; dalam
Psikologi Pendidikan, Santrock, 2013) :
a) Mengulas teks sebelum membaca
b) Fokus pada informasi yang penting
c) Memahami kata yang memiliki makna asing
d) Memonitor pemahaman atas teks
e) Memahami hubungan antarbagian teks

7
f) Memahami waktu untuk membaca ulang
informasi
g) Menyesuaikan kecepatan membaca sesuai
dengan tingkat kesulitan materi

Keotomatisan pemrosesan informasi terjadi saat


anak dapat memahami makna bacaan secara cepat.
Keotomatisan pemrosesan masih terbilang buruk
pada pembaca pemula karena mereka masih belajar
untuk mengenali kata, bukan memahami makna.
Salah satu faktor yang membatasi pemahaman
membaca anak adalah jumlah informasi yang mereka
simpan dalam “working memory” pada satu waktu
(Bjorklund dalam Psikologi Pendidikan, Santrock,
2013). Kapasitas “working memory” akan meningkat
seiring dengan bertambahnya usia, baik bagi anak
normal maupun anak yang bermasalah. Namun, anak
yang mempunya masalah pada membaca akan
memiliki kapasitas “working memory” yang lebih
rendah disbanding anak yang normal dalam setiap
tingkatan usia.

8
Dalam pendekatan kognitif juga ditemukan
bahwa anak yang belajar membaca akan mempunyai
phonemic awareness dibanding anak yang tidak
belajar membaca.

2) Menyusun Makna. Pembaca yang baik akan


berusaha untuk memahami makna bacaan
berdasarkan pengetahuan yang sudah mereka punya.

3) Mengembangkan Strategi Membaca Ahli. Periset


dalam pendekatan kognitif lebih menitikberatkan
pada proses kognitif dasar yang bisa menjelaskan
proses membaca. Pendekatan instruksi strategi
transaksional adalah sebuah pendekatan kognitif
yang menekankan pada instruksi dalam strategi
(terutama trategi metakognitif). Strategi ini akan
mengontrol murid untuk mengingat apa yang mereka
baca.

Pendekatan Konstruktivis Sosial


Dua asumsi konstruktivis sosial tentang
membaca adalah bahwa konteks sosial membawa
9
pengaruh penting dalam proses belajar membaca dan
bahwa pembaca yang memiliki wawasan luas dapat
membantu pembaca yang kurang berpengetahuan dalam
proses belajar membaca.
Beberapa konteks sosial yang berpengaruh pada
proses belajar membaca anak adalah besarnya tekanan
budaya pada kegiatan membaca, pengenalan buku sejak
dini, dan keahlian guru dalam berkomunikasi. Penganut
konstruktivis sosial menekankan bahwa makna bacaan
dapat dipengaruhi oleh tempat dan tujuan dari kegiatan
membaca tersebut.

Pengajaran Resiprokal. Menurut Aziz (dalam Bara


Wahyu, Gatot Darmawan, 2019:3) menjelaskan bahwa
pengajaran resiprokal adalah metode pembelajan dimana
siswa dibagi dalam kelompok-kelompok secara
berpasangan dan diberikan tugas. Para siswa akan
bergantian memimpin diskusi dalam kelompok tersebut.
Dengan metode ini, maka siswa akan dituntut
lebih aktif dan lebih mengeksplorasi proses
pembelajaran. Guru hanya sebagai fasilitator saja. Hal ini
sangat berdampak dalam proses belajar membaca siswa.

10
Klub Buku adalah pembelajaran bersama teman sebaya
dan menggunakan diskusi atas literatur yang dipandu
oleh murid (Mcmahon, Raphael, & Goatley, dalam
Psikologi Pendidikan, Santrock, 2013). Dengan metode
ini, maka murid akan banyak berdiskusi tentang teks dari
literature yang mereka baca.

Koneksi Sekolah/Keluarga/Komunitas. Sekolah,


keluarga, dan komunitas memegang peranan penting
dalam proses belajar anak. Ketiga unsur tersebut harus
saling mendukung, tidak hanya mengandalkan satu unsur
saja.
Anak yang berasal dari keluarga kaya lebih
berpengalaman dengan bahasa dibandingkan dengan
anak dari keluarga tidak mampu. Orang tua yang
bermasalah juga menjadi penghambat proses belajar
membaca anak.

11
3. MENULIS
Perubahan Developmental

Kemampuan menulis anak sudah muncul sejak usia


dua atau tiga tahun, kemampuan itu muncul sejak
mereka bisa mencoret-coret sesuatu. Di Amerika Serikat,
anak usia empat tahun dapat menulis nama mereka
sendiri sedangkan anak usia lima tahun dapat menyalin
beberapa kata dan menulis huruf. Guru dan orangtua
harus mulai mendorong anak-anak untuk menulis namun
tanpa memaksa anak tersebut harus selalu benar menulis
huruf atau ejaan hanya dibimbing agar anak tersebut
berkembang dalam menulis

 Menurut Hughey dan Slack (dalam Psikologi


Pendidikan, Santrock, 2013) : Kesalahan tulisan itu
harus dianggap sebagai bagian alamiah dari
perkembangan anak dan tidak seharusnya dikritik
atau diteliti kaku,dapat dikoreksi secara positif tanpa
mengurangi kesenangan anak dalam menulis.
 Menurut Bruning dan Horn (dalam Psikologi
Pendidikan, Santrock, 2013): Menjadi penulis yang
baik membutuhkan banyak waktu dan latihan.

12
Pada masa SD dan SMP, anak harus banyak berlatih
dalam menulis agar kemampuan menulisnya meningkat.
Jika kemampuan bahasa dan kognitif anak tersebut
meningkat, maka kemampuan menulis pun ikut
meningkat karena memberi pemahaman dengan
menggunakan tata bahasa yang baik sehingga dapat
membantu memperkuat kemampuan menulis anak,maka
pada saat masa SMA anak mampu memberi penjelasan
yang tidak bergantung pada struktur narasi saja.

Pendekatan Kognitif

Untuk menulis, menekankan banyak tema yang


sama dengan yang kita diskusikan dalam aktivitas
membaca. Pendekatan kognitif memiliki empat bagian
dalam meningkatkan kemampuan menulis siswa yaitu :

1) Perencanaan

Siswa perlu diberitahu cara membuat garis besar dan


menata suatu makalah dan perlu diberikan umpan balik
tentang kompetensi dari usaha mereka, Karena

13
mencakup dari bagian perencaan yang mencakup
penyusunan dan penataan informasi isi.

2) Pemecahan Masalah

Menulis bukan hanya sekadar menghindari kalimat


yang “bertele-tele” tetapi menulis juga sejenis
pemecahan masalah, sebagai pemecah masalah penulis
perlu menyusun tujuan dan berusaha mencapainya dan
dibatasi pemahaman tentang subjek dan tata bahasa serta
problem penulisan itu sendiri. Problem penulisan
biasanya adalah tujuan dari makalah,audien serta peran
penulis dalam paper.

3) Revisi

Melibatkan pendeteksian dan pengoreksian


kesalahan, seperti mengkoreksi suatu kalimat yang salah
pada salah satu tugas yang dibuat dan diperbaiki
kemudian melakukan revisi lagi untuk hasil yang sesuai
dan maksimal. Jika sudah tidak ada problem dalam
penulisan maka tidak perlu melakukan revisi.

14
4) Metakognisi

Memantau kemajuan tulisan seseorang adalah


penting untuk menjadi penulis yang baik. Aktivitas
tersebut membutuhkan umpan balik dan
mengaplikasikan apa yang dipelajari dalam menulis esai
untuk membuat esai menjadi lebih baik, hal ini termasuk
ke dalam pengetahuan strategi penulisan.

Pendekatan Konstruktivis Sosial

Menekankan bahwa menulis paling baik


dipahami sebagai sesuatu yang dikonstruksi ketimbang
muncul begitu saja dalam diri sendiri. Strategi
konstruktivis sosial dapat diaplikasikan untuk pelajaran
menulis dengan guru yang membantu meningkatkan
perkembangan siswa dalam menulis serta bantuan dari
teman sebayanya.

Konteks Sosial dari Penulisan. Siswa perlu


berpartisipasi dalam komunitas penulisan untuk

15
memahami hubungan penulis atau pembaca agar mereka
belajar mengenali perspektif mereka bisa berbeda dari
perspektif orang lain. Konteks sosial memainkan peran
penting dalam menulis seperti contohnya terdapat guru
yang mendorong siswanya untuk menulis dan
bersemangat membuat karakter dari siswa tersebut untuk
menyukai menulis, sedangkan di satu sisi terdapat guru
yang menganggap menulis kurang penting sehingga
siswa tidak dapat pengalaman menulis dan tidak
menyukai menulis.

Penulisan Bermakna dan Konferensi Menulis Guru-


Murid. Konferensi atau pertemuan guru-murid untuk
membahas penulisan akan memainkan peran penting
dalam membantu murid untuk menjadi penulis yang
baik.

Kolaborasi Teman Sebaya. Saat mereka melakukan


kolaborasi dengan menulis suatu makalah secara
bersama-sama maka mereka dapat menemukan sesuatu

16
yang baru tentang apa yang harus ditulis dan bagaimana
menuliskan secara bersama-sama dan dapat menambah
wawasan antar teman, sedangkan jika menulis yang
hanya sekedar memenuhi tugas guru sering kali hanya
akan menghasilkan tulisan yang terbatas.

Koneksi Sekolah/Keluarga/Teman. Guru perlu


membantu siswa mengekspresikan apa yang ingin ia
ungkapkan melalui tulisan seperti mengirim surat kabar
kepada keluarga atau teman dengan menggunakan surat
kabar lalu mengirimkan melalui pos atau melalui email
dengan cara guru dapat membantu mengembangkan
kemampuan menulis mereka dengan baik dan melatih
kemampuannya dalam menulis melalui keluarga atau
temannya.

17
4. MATEMATIKA

Perubahan Developmental

 Taman kanak-kanak sampai grade 2.

Kebanyakan anak TK dari keluarga menengah keatas


mampu meghitung sampai 20 atau lebih dan dapat
menambah dan mengurangi angka satu digit dan tahu
besaran relatif angka satu digit seperti 10 lebih besar dari
2. Pada saat anak-anak memasuki SD kemampuan
pemahaman matematika terkadang berbeda-beda maka
dari itu anak-anak pada saat mulai memasuki sekolah
perlu diajarkan sistem penghitungan berbasis sepuluh
dan belajar keahlian numerik yang lebih tinggi seperti
penambahan dan pengurangan.

 Grade 3 sampai 5

Terdapat tiga tema utama dari matematika di grade 3


sampai 5 yaitu :

a) Penalaran Multiplikatif : Anak perlu


mengembangkan pemahaman mereka tentang fraksi

18
sebagai bagian dari keseluruhan dan sebagai sebuah
divisi atau bagian.
b) Ekuivalensi : Membantu murid untuk mempelajari
representasi yang berbeda-beda dan memberi
kesempatan untuk mengeksplorasi ide-ide aljabar.
c) Kelancaran penghitungan : Murid harus belajar
metode berhitung yang efisien dan akurat yang
didasarkan pada pemahaman angka yang benar.

 Grade 6 sampai 8

Murid mendapat manfaat dari pelajaran matematika


karena memasukkan pelajaran aljabar dan geometri,
murid mengembangkan penalaran matematika lebih kuat
apabila mereka mempelajari aljabar. Akan tetapi, banyak
murid yang mendapatkan nilai baik di pelajaran aljabar,
mengerjakan tanpa memahami apa yang mereka pelajari
karena mereka sekedar mengingat persamaan
matematika dan ini berisiko karena dapat membatasi
kemampuan murid menggunakan aljabar di dalam
konteks dunia nyata.

19
 Grade 9 sampai 12

Pada saat memasuki SMA murid mungkin


mendapatkan manfaat dari pelajaran matematika, karena
mereka harus mengalami kemampuan belajar aljabar,
geometri, statistik, dan probabilitas. Mereka harus
pandai dalam memvisualkan dan mendiskripsikan
matematika.

Kontroversi dalam Pendidikan Matematika

Kebanyakan orang menganggap bahwa matematika


adalah bidang hitung-menghitung, namun para ahli
matematika memandang perhitungan hanyalah alat
dalam matematika yang sesungguhnya. Hingga kini para
pendidik dewasa berdebat tentang metode pengajaran
matematika yang perlu dipakai untuk mengajar murid
dengan menggunakan pendekatan kognitif atau
pendekatan latihan komputasional. Apa pun pendekatan
yang dianut adalah jelas bahwa pendidikan matematika
sedang mengalami perubahan dramatis.

20
NCTM (2000, dalam Psikologi Pendidikan,
Santrock, 2013) mengembangkan sejumlah standar
pendidikan matematika antara lain :

 Memahami angka dan operasi perhitungan.


 Mempelajari prinsip aljabar dan geometri.
 Memahami cara mengukur atribut dari objek dan unit
pengukuran.
 Mengumpulkan, mengorganisir, menganalisis, dan
menampilkan data, serta memahami konsep dasar
dari probabilitas.
 Memecahkan problem.

Beberapa Prinsip Konstruktivis

1. Menjadikan Matematika Realistis dan Menarik.


Seperti menghubungkan matematika dengan
pelajaran yang lain,contohnya
sains,geografi,membaca dan menulis,juga sangat
dianjurkan.
2. Mempertimbangkan Pengetahuan Murid yang Sudah
Ada. Memberikan informasi yang cukup kepada

21
murid agar mampu menguasai metode dan
memecahkan soal matematika tetapi simpan
informasi secukupnya agar murid dapat mengeksplor
sendiri dengan pemikirannya untuk memecahkan
problem.
3. Buatlah Kurikulum Matematika Interaktif Secara
Sosial. Membuat proyek matematika yang memicu
diskusi, argumen, dan kompromi.
4. Proyek Matematika Inovatif. Seperti membuat
program yang inovatif tentang matematika agar
menambah waawasan siswa serta tidak membuat
siswa jenuh dalam mempelajari matematika.

Teknologi dan Instruksi Matematika

NCTM merekomendasikan agar kalkulator


dipakai untuk semua level instruksi matematika dan
beberapa akses ke komputer juga perlu agar murid
mendapatkan pendidikan yang memadai untuk masa
depannya. Namun, di negara Jepang dan Cina tidak
mengizinkan penggunaan komputer dan kalkulator sebab

22
mereka ingin murid memahami konsep dan operasi
perhitungan untuk memecahkan problem.

Sedangkan murid di Asia Timur baru


diperbolehkan menggunakan kalkulator untuk pelajaran
matematika pada saat memasuki SMA dan memahami
konsep-konsep matematika secara jelas.

Berhubungan dengan Orang Tua

Coba untuk mengadakan family math atau malam


matematika bersama orang tua dengan mempelajari
matematika secara bersama-sama, kegunaan family math
ini adalah untuk membantu anak mempelajari
matematika dengan baik karena bantuan dari orang tua
serta membuat anak menjadi lebih aktif dalam bertanya
tentang sesuatu yang tidak diketahui dalam pelajaran
matematika kepada orang tua dan lebih efektif.

23
5. SAINS

Sains berasal dari kata latin scientia memiliki arti


“saya tahu”. Sedangkan dalam pengertian inggrisnya
berarti “pengetahuan”. Berdasarkan pengertian tersebut,
dapat disimpulkan bahwa sains merupakan sebuah ilmu
yang mempelajari segala gejala alam dan sebab
akibatnya. Setiap anak memiliki pemahaman yang
berbeda dalam pemikiran ilmiah (scientific) dan sifat dari
pendidikan sains (science).

Pemikiran ilmiah

Dalam proses pemecahan masalah seorang anak


kerap dibandingkan dengan seorang ilmuwan. Anak dan
ilmuwan sama-sama mengajukan pertanyaan tentang
kebenaran yang terjadi dan apa yang mendasarinya.
Keduanya sering kali menanyakan pertanyaan yang tabu
dan sukar untuk dijawab orang lain (seperti, dimana
letak Tuhan?). Setelah bertanya, mereka mendapat
kebebasan dalam mencari jawaban atas pertanyaan yang
dianggap menarik.

24
Penalaran ilmiah sering dilakukan dengan
meninjau hubungan dari kausal atau sebab- akibat.
Seperti ilmuwan, anak-anak sering menekankan
mekanisme sebab-akibat. (Frye dkk., 1996, dalam
Santrock “Psikologi Pendidikan”, 2013). Anak-anak
mendapatkan kesulitan yang lebih tinggi dalam memilah
antara teori yang dicetuskan dengan bukti realitas yang
mereka peroleh. Sering kali disaat mempelajari
fenomena baru, mereka cenderung bertahan pada teori
lama tanpa peduli bukti. (Kuhn, Schauble, & Garcia
Mila, 1992 dalam Santrock “Psikologi Pendidikan”,
2013).

Perbedaan antara anak-anak dan ilmuwan


terdapat pada beberapa pola kejadian pada waktu
tertentu, ketimbang seluruh pola kejadian. Anak-anak
kesulitan untuk membuat percobaan baru untuk
alternatife dari sebab. Mereka terkadang beranggapan
bahwa hasil eksperimen tersebut mendukung
hipotesisnya, walaupun sebenarnya berlawanan. Jadi
walaupun anak-anak dan ilmuwan relatif mirip dalam
segi pemikiran dan keingin tahuan, terdapat perbedaan

25
dalam hal memproses teori dan bukti dalam kemampuan
mendesain eksperimen yang konklusif.

Pendidikan Sains

Ilmuwan memiliki kebiasaan tertentu dalam


menyikapi suatu permasalahan. Tidak semata-mata
hanya dengan menebaknya saja, tetapi juga memerlukan
pertimbangan, pengujian, dan pengaplikasian
pengetahuan untuk memecahkan suatu permasalahan.
Keahlian yang penting ini belum banyak diajarkan secara
rutin pada siswa, sehingga banyak siswa yang tidak
pandai keahlian ini. Banyak ilmuwan dan pendidik yang
beranggapan pentingnya pembelajaran dengan
menerapkan pemikiran yang kritis terhadap suatu
permasalahan.

Anak memiliki banyak miskonsepsi yang tidak


berkesinambungan dengan sains dan kenyataan. Mereka
berusaha menyeleraskan yang tampak bertentangan
dengan keyakinan mereka. Seorang guru yang baik
seharusnya memahami konsep dari siswanya dan

26
mengaplikasikannya untuk pembelajaran kedepan.
Pembelajaran sains yang efektif menciptakan keahlian
untuk siswa dapat membedakan antara kesalahan yang
berguna dan kesalahan dalam penafsiran konsep,
membedakan kesalahan yang ada di jalur benar dengan
pemahaman yang tidak lengkap, dan mengganti ide yang
benar-benar salah dengan konsep yang lebih akurat.

Strategi efektif mengatasi kesalahan penafsiran


konsep adalah dengan strategi demontrasi interaktif
(Sokoloff & Thornton, 1997 dalam Santrock “Psikologi
Pendidikan”, 2013) Strategi demontrasi interaktif ialah
teknik pembelajaran dimana guru mendemonstrasikan
suatu kejadian dengan tujuan pengenalan dan meminta
siswa berdiskusi dengan sesama siswa kemudian
mempredisikan akibat dan mendemonstrasikannya.

Strategi Pengajaran Konstruktivis

Strategi pengajaran konstruktivis mengajarkan


bahwa siswa harus membangun pengetahuan dan
pemahaman sains mereka sendiri. Pada setiap langkah

27
dalam mempelajari sains, mereka harus mampu
menerapkan pengetahuan baru mereka dalam konteks
apa yang mereka telah pahami.

Beberapa pendekatan konstruktivis dalam


pengajaran sains dewasa menggunakan cara eksplorasi
problem sains sehari-hari, seperti aktivitas yang
membuat siswa berpikir bagaimana cara kerja sains dan
kontak sosial dari sains (Linn, Songer, & Eylon, 1996
dalam Santrock “Psikologi Pendidikan”, 2013).

Mengeksplorasi Problem Sehari-hari. Kebanyakan


siswa lebih tertarik kepada ilmu pengetahuan yang
membahas permasalahan sehari-hari yang sejalan dengan
aktivitas mereka daripada berdiskusi teori-teori yang
abstrak. Banyak kritik terhadap pendekatan konstruktivis
menyatakan pendekatan tersebut memberi perhatian
terlalu banyak pada keahlian penelitian dan kurang
mengamati penyajian informasi disiplin tertentu. Sebagai
jawabannya, penganut pendekatan konstrutivis dalam
pelajaran biologi berkata bahwa pendekatan ini membuat

28
siswa lebih memahami sains dan bisa berpikir secara
ilmiah, bukan hanya mengingat fakta ilmiah.

Aktivitas yang Membantu Murid Mempelajari Cara


Sains Bekerja. Beberapa tugas sanggup membuat siswa
berpikir tentang prinsip ilmiah dan cara
memvisualisasikannya. Misalnya, proyek STAR
(Science Teaching through Astronomical Roots) yang
memakai astronomi sebagai dasar pembelajaran prinsip
fisika kompleks pada murid SMA (Schneps & Sadler,
1989 dalam Santrock “Psikologi Pendidikan”, 2013).

Konteks Sosial Sains. Proyek Fostering a Community


of Learners (Brown, 1997; Brown & Campione, 1996
dalam Santrock “Psikologi Pendidikan”, 2013)
menekankan pada konteks sosial dari sains. Proyek ini
berfokus pada interaksi kolaboratif antara guru ke murid
dan murid ke murid.

29
Kurikulum Sains Kehidupan Sekolah Menengah
yang Inovatif. Perlunya kurikulum sekolah yang baru
mendiskusikan tentang perkembangan bahasa dan
kognitif. Karena, pada sekolah menengah kurang
informasi tentang keahlian dan motivasi sebagai remaja
untuk mempelajari diri sendiri dan dunianya.

Human Biology Middle Grades Curriculum


(HumBio) dikembangkan oleh para ilmuwan Stanford
University bekerjasama dengan guru sekolah menengah
diseluruh AS (Carnegie Council on Adeolescent
Development, 1995;Heller, 1993 dalam Santrock
“Psikologi Pendidikan”, 2013). Kurikulum tersebut
menggabungkan beberapa studi seperti ekologi, evolusi,
genetika, fisiologi, perkembangan manusia, kultur,
kesehatan, dan keamanan. Dalam penerapan HumBio,
guru bekerja berlandaskan perspektif disiplin individual
menuju ke pelajaran sentral.

30
Sains di SMA. Di beberapa SMA, sains diberikan dalam
urutan pembelajaran seperti ini: biologi, kimia, fisika.
Banyak murid yang hanya mempelajari biologi atau
biologi-fisika tanpa mau mempelajari kimia. Sedangkan
semua aspek sains memiliki kesinambungan yang
kompleks. Salah satunya seperti sebelum memahami
pelajaran biologi layaknya mempelajari kimia terlebih
dahulu, dikarenakan semua makhluk hidup tidak lepas
dari molekul-molekul atom unsur.

Begitu pula memahami kimia tanpa mempelajari


fisika akan mengalami kesulitan dikarenakan kimia
berlandaskan pada perubahan enenrgi dan daya antar
atom yang merupakan pembelajaran dalam fisika.

6. STUDI SOSIAL

Studi sosial adalah ilmu yang memperkenalkan


kemampuan warga sipil. Bertujuan untuk membantu
siswa sebagai warga negara demokratis yang memiliki
beranekaragam kultural, agar dapat merumuskan
keputusan yang rasional dan berlandaskan informasi atau

31
pengetahuan yang luas demi kebaikan umum dalam
dunia yang ketergantungan.

National Council for the Social Sciences (2000,


dalam Santrock “Psikologi Pendidikan”, 2013) memberi
usulan sepuluh tema yang dianggap harus ada dalam
pelajaran ilmu sosial :

 Waktu, kontinuitas, dan perubahan. Penting bagi


seorang siswa mengerti tentang sejarahnya. Para
pakar sejarah mengklaim bahwa sejarah tidak hanya
sekedar daftar fakta-fakta. Guru sejarah yang ahli
tidak hanya mengajarkan siswanya menghafal daftar
fakta-fakta tentang sejarah, tetapi juga mengajarkan
dan membimbing siswanya untuk menganalisis,
memahami peristiwa-peristiwa dalam sejarah, dan
mendorong siswanya untuk berpikir kritis mengenai
peristiwa-peristiwa tersebut. Sehingga siswa dapat
memahami makna alternative suatu peristiwa dalam
sejarah, dan menanggapinya dengan cara yang
berbeda-beda.
 Orang, tempat, dan lingkungan. Studi tersebut
biaanya terdapat pada pembelajaran geografi. Studi

32
ini membantu siswa untuk mengembangkan
prespektif tentang dunia dan mempermudah
pengambilan keputusan yang memiliki dasar dan
berkompeten tentang manusia dan lingkungannya.
 Perkembangan individual dan identitas. Identitas
pribadi dari seseorang siswa terbentuk berdasarkan
kultur, kelompok, dan institusi. Adanya kultur dapat
menyebabkan variasi dari berbagai individu.
Pelajaran yang sesuai dengan tema ini adalah
psikologi dan antropologi.
 Individu, kelompok, dan institusi. Penting bagi siswa
untuk belajar bagaimana sebuah lembaga dalam
berperan dan memahami perannya. Contohnya
seperti lembaga kepolisian, lembaga peradilan,
masjid, gereja, keluarga, sekolah, dan pemerintahan
yang memiliki peranan penting untuk kehidupan
manusia. Biasanya studi ini dimuat dalam pelajaran
antropologi, psikologi, ilmu politik, dan sejarah.
 Kekuasaan, otoritas, dan tata pemerintahan. Penting
bagi seorang warga negara untuk memahami tentang
kekuasaan, otoritas, dan tata pemerintahan dari
negaranya. Dengan mempelajari hal tersebut maka

33
akan menimbulkan rasa kepedulian terhadap tanah
air dan juga mengembangkan kompetensi
masyarakat sipil. Tema seperti ini, diajarkan dalam
pelajaran tentang pemerintahan, politik, sejarah, dan
ilmu sosial yang lain.
 Produksi, distribusi, dan konsumsi. Setiap manusia
memiliki keinginan yang cenderung berlebihan,
sehingga melebihi batas kapasitas dari SDA yang
tersedia. Sehingga diperluakan SDM untuk
mengelola suatu produksi yang mencukupi tetapi
tidak merusak alam. Pelajaran tersebut biasanya
muncul pada pembahasan yang menitik beratkan
pada persoalan ekonomi.
 Sains, teknologi, dan masyarakat. Kehidupan
masyarakat modern tidak bisa lepas dari yang
namanya teknologi. Perkembangan dari teknologi
didukung dengan kemajuan sains yang pesat.
Kemajuan sains yang pesat ini membawa beberapa
dampak pada kehidupan masyarakat. Pembahasan
seperti ini biasanya di muat pada pelajaran sejarah,
geografi, ekonomi, kewarganegaraan, dan ilmu
pemerintahan. Selain itu, juga bisa berasal dari ilmu

34
alam dan fisika, ilmu sosial, dan ilmu humaniora
yang membahas isu perkembangan teknologi.
 Koneksi global. Hubungan antara bangsa-bangsa di
seluruh dunia semakin nyata, sehingga dibutuhkan
pemahaman tentang bangsa-bangsa diseluruh dunia
dan kultur-kulturnya. Dengan adanya konektivitas
dari bangsa di seluruh dunia maka akan muncul
agenda-agenda dunia seperti perawatan kesehatan,
hak asasi manusia, kualitas lingkungan, dan agenda
yang lainnya. Pemahaman tentang analisis ekonomi,
territorial, keadaan etnis, membantu siswa untuk
lebih mengerti mengapa terdapat kebijakan yang
berbeda-beda. Pembahasan seperti ini masuk dalam
pelajaran geografi, kebudayaan, ekonomi, dan ilmu
sosial lainnya.
 Cita-cita dan praktik kewarganegaraan. Tujuan dan
cita-cita dari sebuah bangsa penting untuk dipahami
terlebih dahulu sebelum terjun ke masyarakat. Agar
dapat berperan sebagai semestinya dikalangan
masyarakat, maka perlu diketahui dan memahami
tentang keinginan negara tersebut dan
pengaplikasiannya saat bermasyarakat. Tema

35
tersebut biasanya mucul pada pelajaran sejarah, ilmu
politik, dan antropologi.
 Kultur. Kultur membentuk sebuah kepribadian
karena perilaku yang diwariskan turun-temurun dari
nenek moyang. Siswa harus memahami indahnya
keberagaman dalam berdemokratis. Sehingga
munculah derajat yang sejajar didalamnya tanpa
pilih-pilih. Biasanya pembahasan ini muncul pada
pelajaran geografi, sejarah, dan antropologi.

Pendekatan Konstruktivis

Dalam pembelajaran studi sosial beberapa


diajarkan secara tradisional yaitu dengan menggunakan
buku pegangan dan guru sebagai pusat pembelajaran di
kelas. Beberapa pendidik percaya bahwa pembelajaran
yang baik adalah dengan pendekatan kontruktivis yaitu
dengan memberikan gambaran kepada siswa dan
menuntut siswa berpikiran luas, bervariasi, dan
mengasah siswa dalam berkolaborasi antar sesama
teman.

36
Di dalam pendekatan kontruktivis seorang siswa
harus dapat menginterpretasikan sendiri bukti-bukti dan
membuat ulasan sendiri. Dalam hal ini siswa memiliki
kebebasan dalam berpikir dan memahami isu-isu sosial
secara mendalam.

Pendekatan kontruktivis juga menekankan pada


studi sosial yang lebih bermakna (Ellis, 2002 dalam
Santrock “Psikologi Pendidikan”, 2013). Seorang siswa
akan mendapatkan manfaat yang besar jika dapat
memahami bahwa ilmunya sangat berguna di dalam
maupun di luar sekolah. Pendekatan kontruktivis
menekankan bahwasanya siswa harus berpikir kritis
dalam segala hal yang menjadi medan pemikiran dan
pehaman reflektif adalah dimensi etis dari topic dan isu-
isu yang kontroversial. Dari perspektif konstruktivis
guru yang baik adalah yang membimbing siswanya
untuk memahami dan mengerti dengan sendirinya bukan
memberitahu secara langsung.

Teacher’s Curriculum Institute (2001, dalam


Santrock “Psikologi Pendidikan”, 2013) merupakan
salah satu pendekatan konstruktivis yang mengajarkan

37
studi sosial dengan strategi pembelajaran untuk membuat
murid “merasakan” sejarah. Strategi tersebut adalah :

 Pengajaran interaktif dengan menggunakan slide.


Dalam hal ini murid mempresentasikan segala hasil
tugasnya dan berpartisipasi aktif di dalam kelas.
Sedangkan guru tidak lagi menjadi pusat
pembelajaran.
 Pencipta keahlian studi sosial. Siswa berkelompok
untuk melengkapi beberapa tugas seperti analisis
kartun politik dan menggambar grafik perekonomian.
 Menulis untuk pehamaman. Siswa diberi tantangan
untuk menulis demi sebuah tujuan.
 Kelompok respon. Diadakannya diskusi kelas
mengenai topic-topik yang kontroversial dan siswa
memperhatikan serangkaian presentasi untuk
merespon pertanyaan kritis yang berkaitan dengan
slide presentasi tersebut.

38
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Pembelajaran yang efektif bisa tercapai jika guru
memiliki keahlian yang unggul yaitu expert knowledge
(pengetahuan ahli) dan pedagogical content knowledge
(pengetahuan isi pedagogis). Kedua pengetahuan ini
sangat menunjang guru untuk menjadi pengajar yang
ahli untuk para siswanya.
Strategi pembelajaran yang baik juga harus
dipersiapkan oleh para guru dalam proses belajar
membaca, pembelajaran dan kognisi anak dalam bidang
menulis, matematika, sains, dan studi sosial. Masing-
masing bidang memiliki pendekatan dalam
pengelolaannya. Dengan menggunakan strategi belajar
yang tepat dan efektif, maka siswa akan dengan mudah
melewati masa belajarnya.

39
DAFTAR PUSTAKA

Santrock, JW. 2013. Psikologi Pendidikan, terj. Jakarta :


Penerbit Salemba Humanika

Ramadhan, Bara Wahyu dan Gatot Darmawan. 2019.


Penerapan Metode Pembelajaran Mandiri Berstruktur
dan Metode Resiprokal Terhadap Hasil Belajar Servis
Pendek Bulutangkis. Volume 07, Nomor 03, 2019.
Dalam
https://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/jurnal-
pendidikan-jasmani/article/view/30931/0 diakses pada
08 Februari 2020.

Rasto. 2015. Pengertian Mengajar. Dalam


http://rasto.staf.upi.edu/2015/08/08/pengertian-mengajar/
diakses pada 08 Februari 2020.

40