Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Osteoarthritis berasal dari bahasa Yunani yaitu osteo yang berarti
tulang, arthro yang berarti sendi dan itis yang berarti inflamasi.
Osteoarthritis tergolong penyakit degeneratif yang menyerang persendian
yang bersifat kronik, berjalan progresif lambat, namun seringkali tidak
menimbulkan reaksi radang atau hanya menyebabkan inflamasi ringan dan
ditandai dengan adanya deteriorasi serta abrasi tulang rawan sendi, juga
diikuti dengan pembentukan tulang baru pada permukaan sendi.
Osteoarthritis diderita oleh 151 juta jiwa di seluruh dunia, dengan
penderita mencapai 24 juta jiwa di kawasan Asia Tenggara. Prevalensi OA
juga terus meningkat secara dramatis mengikuti pertambahan usia
penderita. Berdasarkan temuan radiologis, didapatkan bahwa 70% dari
penderita yang 2 berumur lebih dari 65 tahun menderita OA. Prevalensi
OA lutut pada penderita wanita berumur 75 tahun ke atas dapat mencapai
35% dari jumlah kasus yang ada. Diperkirakan juga bahwa satu sampai
dua juta lanjut usia di Indonesia menjadi cacat karena OA
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian osteoartritis?
2. Apa saja klasifikasi osteoartritis?
3. Apa etiologi dari osteoartritis?
4. Bagaimana manifestasi klinis dari osteoartritis?
5. Bagaimana patofisiologi dari osteoartritis?
6. Apa saja pemeriksaan penunjang dari osteoartritis?
7. Bagaimana penatalaksanaan dari osteoartritis?
8. Bagaimana konsep asuhan keperawatan osteoartritis?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian osteoartritis
2. Untuk mengetahui klasifikasi osteoartritis
3. Untuk mengetahui etiologi dari osteoartritis
4. Untuk mengetahui bagaimana manifestasi klinis dari osteoartritis
5. Untuk mengetahui bagaimana patofisiologi dari osteoartritis
6. Untuk menegtahui pemeriksaan penunjang osteoartritis
7. Untuk menegtahui bagaimana penatalaksanaan dari osteoartritis
8. Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan osteoartritis
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Osteoartritis adalah penyakit tulang degeneratif yang ditandai oleh
pengeroposan kartilago artikular (sendi). Tanpa adanya kartilago sebagai
penyanga, tulang dibawahnya mengalami iritasi, yang menyebabkan
degenerasi sendi. Osteoartritis dapat terjadi secara idiopatik (tanpa
diketahui sebabnya) atau dapat terjadi setelah trauma dengan stress
berulang seperti yang dialami oleh pelari jarak jauh atau balerina, atau
berkaitan dengan deformitas kongenital. Individu yang mengalami
hemofilia atau kondisi lain yang ditandai oleh pembengkakan sendi
kronis dan edema, dapat mengalami osteoartritis.
Osteoartritis berasal dari bahasa Yunani yaitu osteo yang berarti
tulang, arthro yang berarti sendi, dan itis yang berarti inflamasi meskipun
sebenarnya penderita osteoartritis tidak mengalami inflamasi atau hanya
mengalami inflamasi ringan (Koentjoro, 2010).
Osteoarthritis ialah suatu penyakit sendi menahun yang ditandai
oleh adanya kelainan pada tulang rawan (kartilago) sendi dan tulang di
dekatnya. Tulang rawan (kartilago) adalah bagian dari sendi yang melapisi
ujung dari tulang, untuk memudahkan pergerakan dari sendi. Kelainan
pada kartilago akan berakibat tulang bergesekan satu sama lain, sehingga
timbul gejala kekakuan, nyeri dan pembatasan gerakan pada sendi.
B. Klasifikasi
Pada umumnya diagnosis osteoarthritis didasarkan pada gabungan
gejala klinik dan perubahan radiografi. Gejala klinik perlu diperhatikan,
oleh karena tidak semua pasien dengan perubahan radiografi osteoarthritis
mempunyai keluhan pada sendi. Terdapat 4 kelainan radiografi utama
pada osteoarthritis, yaitu: penyempitan rongga sendi, pengerasan tulang
bawah rawan sendi, pembentukan kista di bawah rawan sendi dan
pembentukan osteofit, sendi yang dapat terkena osteoarthritis antara lain:
1. Osteoarthritis sendi lutut.
2. Osteoarthritis sendi panggul.
3. Osteoarthritis sendi-sendi kaki.
4. Osteoarthritis sendi bahu. 12
5. Osteoarthritis sendi-sendi tangan.
6. Osteoarthritis tulang belakang (Nur, 2009).
Namun ada pula yang membagi klasifikasi osteoarthritis
berdasarkan primer dan sekunder. Pembagian osteoarthritis berdasarkan
patogenesisnya dibagi menjadi osteoarthritis primer yang disebut juga
osteoarthritis idiopatik adalah osteoarthritis yang kausanya tidak diketahui
dan tidak ada hubungannya dengan penyakit sistemik maupun proses
perubahan lokal pada sendi. Sedangkan osteoarthritis sekunder adalah
osteoarthritis yang didasari oleh adanya kelainan endokrin, inflamasi,
metabolik, pertumbuhan dan imobilisasi yang lama. osteoarthritis primer
lebih sering ditemukan dari pada osteoarthritis sekunder (Arissa, 2012).
C. Etiologi
1 Faktor Predisposisi
Beberapa faktor pencetus dari Osteoartritis yang banyak meyebabkan
gejala, meliputi:
a) Umur
Perubahan fisik dan biokimia yang terjadi sejalan dengan
bertambahnya usia dengan penurunan jumlah kolagen dan kadar
air, dan endapannya berbentuk pigmen yang berwarna kuning.
b) Pengausan
Pemakaian sendi yang berlebihan secara teoritis dapat merusak
rawan sendi melalui 2 mekanisme yaitu pengikisan dan proses
degenerasi karena bahan yang harus dikandungnya.
c) Kegemukan
Faktor kegemukan akan menambah beban pada sendi penopang
berat badan, sebaliknya nyeri atau cacat yang disebabkan oleh
osteoartritis mengakibatkan seseorang menjadi tidak aktif dan
dapat menambah kegemukan
d) Trauma
Kegiatan fisik yang dapat menyebabkan osteoartritis adalah
trauma yang menimbulkan kerusakan pada integritas struktur
dan biomekanik sendi tersebut.
e) Keturunan
Herbeden node merupakan salah satu bentuk osteortritis yang
biasa ditemukan pada pria yang kedua orang tuanya terkena
osteoartritis sedangkan wanita, hanya salah satu dari orang
tuanya yang terkena.
f) Akibat penyakit radang sendi lain
Infeksi (artritis rematoid, infeksi akut, infeksi kronis)
menimbulkan reaksi peradangan dan pengeluaran enzim perusak
matrik rawan sendi oleh membran synovial dan sel- sel radang.
g) Joint mallignment
Pada akromegali karena pengaruh hormone pertumbuhan, maka
rawan sendi akan menebal dan menyebabkan sendi menjadi
tidak stabil/ seimbang sehingga memperceat proses degenerasi
h) Penyakit Endokrin
Pada hipertiroidisme terjadi produksi air dan garam- garam
proteglikan yang berlebihan pada seluruh jaringan penyokong
sehinggga merusak sifat fisik rawan sendi, ligament. Tendon,
synovial, dan kulit pada diabetes melitus, glukosa akan
menyebabkan produksi proteaglandin menurun.
i) Deposit pada rawan sendi
Hemokromatosis,penyakit wilson, akronotis, kalsium pirofosfat
dapat mengendapkan homosiderin, tembaga polimer, asam
hemogentisis, kristal monosodium urat/ pirofosfat dalam rawan
sendi.
2 Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi osteoartritis yaitu Demografi :
Mereka yang terdiagnosis osteoartritis, sangatlah diperlukan
adanya perhatian lebih mengenai keadaan lingkungan. Ketika
lingkungan sekitarnya yang tidak mendukung. Maka kemungkinan
besar klien akan merasakan gejala penyakit ini. Banyak diantaranya
ketika keadaan suhu lingkungan sekitar klien yang cukup dingin, maka
klien akan merasa ngilu, kekakuan sendi pada area- area yang biasa
terpapar, sulit untuk mobilisasi dan bahkan kelumpuhan.
D. Patofisiologi
Penyakit sendi degeneratif merupakan suatu penyakit kronik, tidak
meradang, dan progresif lambat, yang seakan-akan merupakan proses
penuaan, rawan sendi mengalami kemunduran dan degenerasi disertai
dengan pertumbuhan tulang baru pada bagian tepi sendi. Proses degenerasi
ini disebabkan oleh proses pemecahan kondrosit yang merupakan unsur
penting rawan sendi. Pemecahan tersebut diduga diawali oleh stress
biomekanik tertentu. Pengeluaran enzim lisosom menyebabkan
dipecahnya polisakarida protein yang membentuk matriks di sekeliling
kondrosit sehingga mengakibatkan kerusakan tulang rawan. Sendi yang
paling sering terkena adalah sendi yang harus menanggung berat badan,
seperti panggul lutut dan kolumna vertebralis. Sendi interfalanga distal dan
proksimasi.
Osteoartritis pada beberapa kejadian akan mengakibatkan
terbatasnya gerakan. Hal ini disebabkan oleh adanya rasa nyeri yang
dialami atau diakibatkan penyempitan ruang sendi atau kurang
digunakannya sendi tersebut. Perubahan-perubahan degeneratif yang
mengakibatkan karena peristiwa-peristiwa tertentu misalnya cedera sendi
infeksi sendi deformitas congenital dan penyakit peradangan sendi lainnya
akan menyebabkan trauma pada kartilago yang bersifat intrinsik dan
ekstrinsik sehingga menyebabkan fraktur ada ligamen atau adanya
perubahan metabolisme sendi yang pada akhirnya mengakibatkan tulang
rawan mengalami erosi dan kehancuran, tulang menjadi tebal dan terjadi
penyempitan rongga sendi yang menyebabkan nyeri, kaki kripitasi,
deformitas, adanya hipertropi atau nodulus.
WOC
E. Manifestasi Klinis
1 Nyeri sendi,kaku, kerusakan/gangguan fungsional merupakan
manifestasi klinis primer
2 Hambatan gerak sendi, gangguan ini biasanya semakin berat dengan
pelan- pelan sejalan dengan bertambahnya rasa nyeri.
3 Kaku paling sering terjadi dipagi hari setelah bangun tidur.
4 Krepitasi, rasa gemeretak (kadang- kadang dapat terdengar) pada
sendi yang sakit.
5 Pembesaran sendi (deformitas)
6 Perubahan gaya berjalan
7 Tanda- tanda peradangan, tanda- tanda peradangan pada sendi ( nyeri
ekan, gangguan gerak, rasa hangat yang merata dan warna kemerahan)
F. Pemeriksaan Penunjang
1. Foto sinar X pada sendi- sendi yang terkena. Perubahan-perubahan
yang dapat ditemukan adalah
 Pembengkakan jaringan lunak
 Penyempitan rongga sendi
 Erosi sendi
 Osteoporosis juksta artikuler
2. Tes Serologi
 BSE Positif
 Darah, bisa terjadi anemia dan leukositosis
3. Pemeriksaan radiologi
 Periarticular osteopororsis, permulaan persendian erosi
 Kelanjutan penyakit: ruang sendi menyempit, sub luksasi dan
ankilosis
4. Aspirasi sendi : Cairan sinovial menunjukkan adanya kekurangan
serta proses radang aseptik, cairan dari sendi dikultur dan bisa
diperiksa secara makroskopik.
G. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan berfokus pada upaya memperlambat dan
menangani gejala karena tidak ada terapi untuk menghentikan proses
penyakit degeneratif sendi.
a) Pencegahan
 Penurunan berat badan
 Pencegahan cedera
 Skrining perinatal untuk penyakit pinggul kongenital
 Modifikaasi ergonomi
b) Tindakan konservatif
 Panas, menurunkan berat badan, mengistirahatkan
sendi, dan menghindari penggunaan sendi secara
berlebihan
 Alat ortotik untuk menopang sendiyang mengaami
inflamasi
 Latihan isometrik dan postural, dan senam aerobik
 Terapi okupasional dan fisik
c) Terapi farmakologis
 Asetaminofen;obat antiinflamasi non steroid (NSAID)
 Penyekat Enzim COX-2 (untuk pasiem yang beresiko
tinggi mengalami perdarahan GI)
 Opioid dan kortikosteroid intra-artikular
 Analgesik topikal seperti kapsaisin dan metil salisilat
 Pendekatan teraupetik lain; glukosamin dan
kondroitin;viskosuplementasi(injeksi asam hialuronat
perintra artikular)
2. Penatalaksanaan Bedah
Dilakukan ketika nyeri bersifat hebat dan fungsi telah hilang
 Osteotomi
 Artroplasti (pengganti) sendi
3. Penatalaksanaan Keperawatan
Menangani nyeri dan mengoptimalkan kemampuan fungsional
adalah tujuan utama intervensi keperawatan, dan membantu pasien
memahami proses penyakit dan polagejala sangat penting dalam
asuhan keperawatan.
 Bantu pasien dalam obesitas (penurunan berat badan dan
peningkatan aktivitas aerob) dan masalah atau penyakit
kesehatan lainnya, jika relevan
 Rujuk pasien untuk mendapat terapi fisik atau program latihan
fisik, latihan seperti berjalan harus dimulai pada level sedang
dan ditingkatkan secara bertahap
 Sediakan dan dorong penggunaan alat bantu berjalan seperti
tongkat dan alat berjalan lain sesuai indikasi.

H.
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN OSTEOATRITIS
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Osteoartritis adalah penyakit tulang degeneratif yang ditandai oleh
pengeroposan kartilago artikular (sendi). Tanpa adanya kartilago sebagai
penyanga, tulang dibawahnya mengalami iritasi, yang menyebabkan
degenerasi sendi. Osteoartritis dapat terjadi secara idiopatik (tanpa
diketahui sebabnya) atau dapat terjadi setelah trauma dengan stress
berulang. Banyaknya faktor yang berperan menyebabkan resiko terkena
penyakit ini tinggi. Dalam penatalaksanaan pada pasien osteoartritis,
menangani nyeri dan mengoptimalkan kemampuan fungsional adalah
tujuan utama intervensi keperawatan, dan membantu pasien memahami
proses penyakit dan pola gejala sangat penting dalam asuhan keperawatan.
B. Saran
Diharapkan dengan adanya Konsep Asuhan Keperawatan
Osteoaartritis ini semoga dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi
para pembaca khususnya mahasiswa keperawatan. Semoga dengan
dibuatnya tugas ini dapat dijadikan sumber literatur yang layak digunakan
untuk mahasiswa.