Anda di halaman 1dari 18

PENGERTIAN PENDIDIKAN KESEHATAN

Pendidikan kesehatan adalah suatu proses pembelajaran yang dilakukan kepada individu,
keluarga, kelompok, dan masyarakat yang dilakukan untuk merubah perilakunya yang tidak
sehat ke pola yang lebih sehat. Proses pendidikan kesehatan ini melibatkan beberapa komponen,
antara lain menggunakan strategi belajar mengajar, mempertahankan keputusan untuk membuat
perubahan tindakan/perilaku, dan pendidikan kesehatan berfokus kepada perubahan perilaku
untuk meningkatkan status kesehatan mereka (Aisyah, 2010).
Pendidikan kesehatan adalah suatu upaya atau kegiatan untuk menciptakan perilaku
masyarakat yang kondusif untuk kesehatan. Artinya pendidikan kesehatan berupaya agar
masyarakat menyadari bagaimana cara memelihara kesehatan mereka, bagaimana menghindari
atau mencegah hal-hal yang merugikan kesehatan dirinya dan kesehatan orang lain, kemana
seharusnya mencari pengobatan jika sakit dan sebagainya (Windasari, 2014).

TUJUAN PENDIDIKAN KESEHATAN


Tujuan utama pendidikan kesehtan (Mubarak dan Chayati, 2009) yaitu
a. Menetapkan masalah dan kebutuhan mereka sendiri.  
b. Memahami apa yang dapat mereka lakukan terhadap masalahnya, dengan sumber daya yang ada
pada mereka ditambah dengan dukungan dari luar.
c. Memutuskan kegiatan yang paling tepat guna untuk meningkatkan tara$ hidup sehat dan
kesejahteraan masyarakat

SASARAN PENDIDIKAN KESEHATAN


Menurut Kemenkes (2011), menyatakan dalam pelaksanaan promosi kesehatan dikenal
adanya 3 (tiga) jenis sasaran, yaitu:
1. Sasaran Primer
Sasaran primer (utama) upaya pendidikan kesehatan sesungguhnya adalah pasien, individu
sehat dan keluarga (rumah tangga) sebagai komponen dari masyarakat. Mereka ini diharapkan
mengubah perilaku hidup mereka yang tidak bersih dan tidak sehat menjadi perilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS). Akan tetapi disadari bahwa mengubah perilaku bukanlah sesuatu yang
mudah.
2. Sasaran Sekunder
Sasaran sekunder adalah para pemuka masyarakat, baik pemuka informal (misalnya pemuka
adat, pemuka agama dan lain- lain) maupun pemuka formal (misalnya petugas kesehatan, pejabat
pemerintahan dan lain-lain), organisasi kemasyarakatan dan media massa.
3. Sasaran Tersier
Sasaran tersier adalah para pembuat kebijakan publik yang berupa peraturan perundang-
undangan di bidang kesehatan dan bidang-bidang lain yang berkaitan serta mereka yangdapat
memfasilitasi atau menyediakan sumber daya.

METODE PENDIDIKAN KESEHATAN


Metode yang digunakan dalam pendidikan kesehatan didasarkan pada tujuan yang akan
dicapai. Ada beberapa metode dalam memberikan pendidikan kesehatan, yaitu (Windasari,
2014):
1. Metode Ceramah
Ceramah adalah pidato yang disampaikan oleh seseorang pembicara didepan sekelompok
pengunjung. Ada beberapa keunggulan metode ceramah :
 Dapat digunakan pada orang dewasa.
 Penggunaan waktu yang efisien.
 Dapat dipakai pada kelompok yang besar.
 Tidak terlalu banyak melibatkan alat bantu pengajaran.
 Dapat dipakai untuk memberi pengantar pada pelajaran atau suatu kegiatan.
2. Metode Diskusi Kelompok
Diskusi kelompok adalah percakapan yang direncanakan atau dipersiapkan di antara tiga
orang atau lebih tentang topik tertentu dengan seseorang pemimpin. Ada beberapa keunggulan
metode kelompok:
 Memberi kemungkinan untuk saling mengemukakan pendapat.
 Merupakan pendekatan yang demokratis, mendorong rasa kesatuan.
 Dapat memperluas pandangan atau wawasan.
 Problem kesehatan yang dihadapi akan lebih menarik untuk dibahas karena proses
diskusi melibatkan semua anggota termasuk orang-orang yang tidak suka berbicara.
3. Metode panel
Panel adalah pembicaraan yang sudah direncanakan di depan pengunjung tentang sebuah
topik dan diperlukan tiga panelis atau lebih serta diperlukan seorang pemimpin. Beberapa
keunggulan metode panel:
 Dapat membangkitkan pemikiran.
 Dapat mengemukakan pandangan yang berbeda-beda.
 Mendorong para anggota untuk melakukan analisis.
 Memberdayakan orang yang berpotensi.
4. Metode Forum Panel
Forum panel adalah panel yang didalamnya individu ikut berpartisipasi dalam diskusi. Ada
beberapa keunggulan metode forum panel :
 Memungkinkan setiap anggota berpartisipasi.
 Memungkinkan peserta menyatakan reaksinya terhadap materi yang sedang didiskusikan.
 Membuat peserta mendengar dengan penuh perhatian.
 Memungkinkan tanggapan terhadap pendapat panelis.
5. Metode permainan Peran
Permainan peran adalah pemeran sebuah situasi dalam kehidupan manusia dengan tanpa
diadakan latihan, dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk dipakai sebagai bahan analisa oleh
kelompok. Ada beberapa keunggulan dari metode permainan peran:
 Dapat dipakai pada kelompok besar dan kecil.
 Membantu anggota untuk menganalisa situasi/masalah.
 Menambah rasa percaya diri peserta.
 Membantu anggota mendapat pengalaman yang ada pada pikiran orang lain.
 Membangkitkan semangat untuk pemecahan masalah.
6. Metode symposium
Symposium adalah serangkaian pidato pendek di depan pengunjung dengan seorang
pemimpin. Pidato-pidato tersebut mengemukakan aspek-aspek yang berbeda dari topik tertentu.
Ada beberapa keunggulan metode ini yaitu :
 Dapat dipakai pada kelompok besar maupun kecil.
 Dapat mengemukakan banyak informasi dalam waktu singkat.
 Pergantian pembicara menambah variasi dan menjadikan lebih menarik.
7. Metode demonstrasi
Metode demonstrasi adalah metode pembelajaran yang menyajikan suara prosedur atau
tugas, cara menggunakan alat, dan cara berinteraksi. Demonstrasi dapat dilakukan secara
langsung atau menggunakan media, seperti radio dan film. Keunggulan metode demonstrasi
adalah :
 Dapat membuat proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan lebih konkret.
 Lebih mudah memahami sesuatu karena proses pembelajaran menggunakan prosedur
atau tugas dengan dibantu dengan alat peraga.
 Peserta didik dirangsang untuk mengamati.
 Menyesuaikan teori dengan kenyataan dan dapat melakukan sendiri (rekomendasi).

Setelah melakukan pendidikan kesehatan, untuk menilai apakah pendidikan kesehatan


yang diberikan berhasil atau tidak maka dilakukan evaluasi. Menurut Rankin dan Stallings
(2001) dalam Aisyah (2010) menyatakan beberapa metode evaluasi, yaitu:
1. Observasi langsung
Melihat atau mengobservasi tindakan yang dilakukan oleh sasaran terkait dengan promosi
kesehatan yang diberikan.
2. Catatan pasien atau observasi
Setiap kemajuan yang dialami oleh sasaran dicatat sehingga perawat dapat menilai apakah
promosi kesehatan yang telah diberikan berhasil atau tidak.
3. Laporan Pasien
Laporan pasien dan keluarganya dapat digunakan sebagai sumber data meskipun
objektifitasnya dipertanyakan.
4. Test
Test dilakukan sebelum dan sesudah promosi kesehatan dilakukan untuk mengetahui
kemajuan sasaran secara kognitif.
5. Wawancara dan Pembagian Kuesioner
Pasien atau keluarganya diwawancara atau diberikan kuesioner untuk mengkaji harapan, opini,
dan tingkat pengetahuannya.

LATAR BELAKANG
Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) adalah penurunan kemampuan pertahanan alami
jalan nafas dalam menghadapi organisme asing yang terjadi secara tiba-tiba, menyerang hidung,
tenggorokan, telinga bagian tengah serta saluran napas bagian dalam sampai ke paru-paru.
Biasanya menyerang anak usia 2 bulan-5 tahun. (Whaley and Wong; 1991; 1418). 
ISPA banyak diderita oleh anak- anak, baik dinegara berkembang maupun dinegara maju
dan sudah mampu dan banyak dari mereka perlu masuk rumah sakit karena penyakitnya cukup
gawat. Penyakit-penyakit saluran pernapasan pada masa bayi dan anak-anak dapat pula memberi
kecacatan sampai pada masa dewasa. ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang
penting dan cukup berbahaya karena menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi
yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian yang terjadi. Berdasarkan hasil survei ke setiap keluarga di desa
sengon didapatkan tungkat pendidikan terbanyak SD sebesar 54%, pekerjaan terbanyak
pedagang 40%, penghasilan rata rata perbulan terbanyak antara 500.000 s.d 700.000 perbulan,
suku bangsa jawa 80% dan agama islam 89%. Kasus penyakit yang prevalensinya palinh tinggi
yaitu pada kelompok balita antara lain ISPA 43% dan juga kasus penyakit yang prevalensinya
tertinggi pada anak usia sekolah SD yaitu ISPA 30%
Cara penularan virus influenza ini melalui air ludah, darah, bersin, udara pernapasan yang
mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernapasannya.Tiga hari setelah
itu, bilamana daya tahan tubuh menurun maka suhu badan naik (suhu badan dapat meningkat
dari 39,50C sampai 40,50C). Terasalah badan panas/demam dan bersin-bersin. Hidung
mengeluarkan cairan (ingus), sakit tenggorokan, batuk-batuk (mula-mula tidak berdahak tapi
kemudian berdahak), pusing, badan terasa lemah, mual, muntah, sakit perut, serta diare.
Kebetulan, ciri-ciri tersebut dirasakan pula oleh warga masyarakat Desa Sengon. Namun, warga
masyarakat tidak mengetahui penyakit apa yang dideritanya. Selain itu, warga masyarakat hanya
beberapa orang yang sudah berkonsultasi ke pelayanan kesehatan untuk mengetahui penyakit
yang dideritanya, sisanya belum. Hal ini juga berdampak pada kegiatan rutinitas dari setiap
orang, yang semestinya harus bekerja namun karena sedang sakit terpaksa harus beristirahat di
rumah. Oleh karena itu, penting sekali membekali pengetahuan bagi masyarakat untuk
memahami tentang ruang lingkup bahkan informasi lainnya mengenai ISPA. Maka dari itu, akan
diadakannya promosi kesehatan ataupun pendidikan kesehatan bagi masyarakat untuk
mengembangkan pola pikir mengenai kesehatan khususnya mengenai penyakit ISPA agar ISPA
bisa dicegah ataupun diatasi.

TUJUAN UMUM
Setelah dilakukan penyuluhan tentang ini diharapkan masyarakat mengetahui tentang ISPA
TUJUAN KHUSUS
Setelah mengikuti kegiatan ini masyarakat dapat
1. Menjelaskan pengertian ISPA dengan bahasa sederhana. 
2. Menjelaskan faktor – faktor penyebab ISPA. 
3. Memahami dan menjelaskan tanda dan gejala dari ISPA. 
4. Memahamiklasifikasi dari ISPA.
5. Menjelaskan cara pencegahan terhadap ISPA. 
6. Menjelaskan dan mendemonstrasikan penatalaksanaan terhadap ISPA.

3. RANCANGAN KEGIATAN
a. Topik : ISPA
b. Sasaran : sasaran pada masyarakat desa sengon
c. Hari/ tgl : Senin, 6 April 2020
d. Tempat : Balai desa sengon
1. Media :
 LCD / Flipchart
 Power Point (ppt)
 Laptop/Notebook
e. Metode : Diskusi dan tanya jawab
f. Pengorganisasian :
Leader : Vila vidia lestari
Co leader : Selvy Quthrotun Nada
Fasilitator :
1. Dwi Anggraeni
2. Ngatianingrum Rindi
3. Suwandanu
4. Nur Laily
5. Yuninda A
6. Marlina Batmomolin
Observer :
1. Rizky arika
2. Wa uci lauda

g. SUSUNAN ACARA
Pukul Kegiatan Penanggung jawab
08.00 Pembukaan Selvy
a)membuka kegiatan dengan
mengucapkan salam
b)Memperkenalkan diri
c)  Menjelaskan tujuan dari
penyuluhan
d)Menyebutkan materi yang akan
diberikan
e) Menyampaikan kontrak waktu
08.15 Pelaksanaan Penyampaian materi Rizky Arika
oleh pemateri:
a)  Menggali pengetahuan
peserta tentang ISPA
b) Menjelaskan tentang
pengertian ISPA c) Menyebutkan
penyebab ISPA d) Menyebutkan
tanda dan gejala ISPA
e) Menjelaskan tentang
pencegahan ISPA
08.40 Tanya jawab Memberikan Vila
kesempatan kepada peserta
untuk bertanya tentang materi
yang kurang dipahami
08.55 Evaluasi Menanyakan kembali Nur laily
kepada peserta tentang materi
yang telah diberikan
dan reinforcement  kepada
peserta yang dapat menjawab
pertanyaan
09.10 Penutup Rindi
a) Mempersilahkan fasilitator
untuk menambahkan ataupun
menjelaskan kembali jawaban
pertanyaan peserta yang
belum terjawab.
b) Menjelaskan kesimpulan dari
materi penyuluhan
c) Ucapan terima kasih
d) Salam penutup

EVALUASI
Evaluasi struktur :
 Peserta hadir ditempat penyuluhan
 Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan diposyandu
 Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelumnya
Evaluasi proses
 Peserta antusias terhadap materi penyuluhan
 Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat penyuluhan
 Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan yang benar
Evaluasi hasil
 Ibu mengetahui tentang jenis nutrisi yang diperlukan
 Jumlah hadir dalam penyuluhan minimal 20 orang

LAMPIRAN
Pengertian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)
ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut, istilah ini
diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI). Penyakit
infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai
dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya
seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura.
Penyakit ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak, karena sistem
pertahanan tubuh anak masih rendah. Kejadian penyakit batuk pilek pada balita di
Indonesia diperkirakan 3 sampai 6 kali per tahun, yang berarti seorang balita ratarata
mendapat serangan batuk pilek sebanyak 3 sampai 6 kali setahun (Nur, dalam Rizki,
2014)
Menurut Darmawan dalam Rusnaini(2013), Istilah Infeksi Saluran Pernapasan
Akut (ISPA) meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernafasan, dan akut, dimana
pengertiannya sebagai berikut :
1. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan
berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
2. Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ
adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura.
3. Infeksi Akut adalah Infeksi yang langsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari
diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat
digolongkan dalam Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) proses ini dapat berlangsung
lebih dari 14 hari
Etiologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).
Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dapat disebabkan oleh berbagai
penyebab seperti bakteri, virus, micoplasma, jamur, dan lain-lain. Infeksi Saluran
Pernafasan Akut (ISPA) bagian atas umumnya disebabkan oleh virus, sedangkan ISPA
bagian bawah dapat disebabkan oleh bakteri, virus, dan micoplasma. Umumnya Infeksi
Saluran Pernafasan Akut (ISPA) bagian bawah disebabkan oleh bakteri, keadaan tersebut
mempunyai manifestasi klinis yang berat sehingga menimbulkan beberapa masalah
dalam penanganannya. Bakteri penyebab Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) antara
lain genus StreptococcusStaphylococcusPneumococcusHemofilus, Bordetella, dan
Corynebacterium. Virus penyebab ISPA antara lain golongan Mexovirus,Adenovirus,
Coronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus, dan lain-lain (Rusnaini, 2013).
Secara umum, efek pencemaran udara terhadap saluran pernafasan dapat
menyebabkan pergerakan silia hidung menjadi lambat dan kaku bahkan dapat berhenti
sehingga tidak dapat membersihkan saluran pernafasan akibat iritasi oleh bahan
pencemar. Produksi lendir akan meningkat sehingga menyebabkan penyempitan saluran
pernafasan dan rusaknya sel pembunuh bakteri di saluran pernafasan. Akibat dari hal
tersebut akan menyebabkan kesulitan bernafas sehingga benda asing tertarik dan bakteri
lain tidak dapat dikeluarkan dari saluran pernafasan, hal ini akan memudahkan terjadinya
infeksi saluran pernafasan (Almatseir, 2011).
Tanda-tanda bahaya secara umum (Rusnaini, 2013).
1. Pada sistem pernafasan : napas cepat dan tak teratur, sesak, kulit wajah kebiruan, suara
napas lemah atau hilang, mengi, suara nafas seperti ada cairannya sehingga terdengar
keras
2. Pada sistem peredaran darah dan jantung : denyut jantung cepat dan lemah, tekanan
darah tinggi, tekanan darah rendah dan gagal jantung.
3. Pada sistem saraf : gelisah, mudah terangsang, sakit kepala, bingung, kejang, dan
koma.
4. Gangguan umum : letih dan berkeringat banyak.
Pencegahan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)
dapat dilakukan (Rusnaini, 2013), dengan :
1. Menjaga keadaan gizi agar tetap baik.
2. Imunisasi.
3. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan.
4. Mencegah kontak dengan penderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).
Faktor Risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Secara umum terdapat tiga faktor risiko ISPA (Rusnaini, 2013), yaitu :
1. Faktor lingkungan rumah
a. Pencemaran udara dalam rumah
b. Ventilasi rumah
c. Kepadatan hunian rumah
2. Faktor individu anak
a. Umur anak
b. Berat badan lahir
c. Status gizi
d. Status imunisasi
3. Perilaku
Klasifikasi Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)
Klasifikasi Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dibedakan atas dua kelompok yaitu
(Kemenkes RI, 2002 dalam Rusnaini, 2013) :
1. Untuk kelompok umur kurang 2 bulan terdiri dari :
a. Pneumonia berat ditandai dengan adanya napas cepat yaitu frekuensi pernafasan sama
atau lebih dari 60 kali per menit atau adanya tarikan yang kuat pada dinding dada bagian
bawah. b. Bukan pneumonia yaitu penderita balita dengan batuk dan pilek disertai atau
tidak dengan gejala lain seperti berdahak atau berlendir dan demam, yang tidak
menunjukkan gejala peningkatan frekuensi nafas dan tidak ada tarikan dinding dada. 2.
Untuk kelompok umur 2 bulan sampai kurang 5 tahun terdiri dari : a. Pneumonia berat
yaitu berdasarkan pada adanya batuk atau kesukaran bernafas disertai nafas sesak atau
tarikan dinding dada bagian bawah. Dikenal pula diagnosis pneumonia sangat berat yaitu
batuk atau kesukaran bernafas yang disertai adanya gejala diagnosis sentral dan anak
tidak dapat minum.
b. Pneumonia yaitu berdasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran bernafas disertai
adanya nafas cepat sesuai umur. Batas nafas cepat pada anak usia 2 bulan sampai < 1
tahun adalah 50 kali atau lebih permenit sedangkan untuk anak usia 1 sampai < 5 tahun
adalah 40 kali atau lebih per menit. c. Bukan pneumonia. Mencakup kelompok penderita
balita dengan batuk dan pilek disertai atau tidak dengan gejala lain seperti berdahak atau
berlendir dan demam, tidak menunjukkan gejala peningkatan frekuensi nafas dan tidak
menunjukkan adanya tarikan dinding dada bagian bawah. Klasifikasi bukan pneumonia
mencakup penyakit-penyakit ISPA lain diluar pneumonia seperti batuk pilek biasa
(common cold, faringitis, tonsilitis) 3. Kelompok umur dewasa yang mempunyai faktor
risiko lebih tinggi untuk terkena pneumonia (Kurniawan dan Israr, 2009), yaitu :
a) Usia lebih dari 65 tahun
b) Merokok
c) Malnutrisi baik karena kurangnya asupan makan ataupun dikarenakan penyakit kronis
lain.
d) Kelompok dengan penyakit paru, termasuk kista fibrosis, asma, PPOK, dan emfisema.
e) Kelompok dengan masalah-masalah medis lain, termasuk diabetes dan penyakit
jantung.
f) Kelompok dengan sistem imunitas dikarenakan HIV, transplantasi organ, kemoterapi
atau penggunaan steroid lama.
g) Kelompok dengan ketidakmampuan untuk batuk karena stroke, obatobatan sedatif atau
alkohol, atau mobilitas yang terbatas.
h) Kelompok yang sedang menderita infeksi traktus respiratorius atas oleh virus.
Klasifikasi berdasarkan lokasi anatomi (Kemenkes RI, 2010), sebagai berikut :
a) Infeksi Saluran Pernapasan atas Akut (ISPaA) Infeksi yang menyerang hidung sampai
bagian faring, seperti pilek, otitis media, faringitis.
b) Infeksi Saluran Pernapasan bawah Akut (ISPbA) Infeksi yang menyerang mulai dari
bagian epiglotis atau laring sampai dengan alveoli, dinamakan sesuai dengan organ
saluran napas, seperti epiglotitis, laringitis, laringotrakeitis, bronkitis, bronkiolitis,
pneumonia.
Jenis-jenis ISPA Klasifikasi berdasarkan lokasi anatomi (Depkes RI, 2005), sebagai berikut :
a. Infeksi Saluran Pernapasan atas Akut (ISPA) Infeksi yang menyerang hidung sampai
bagian faring, seperti pilek, otitis media, faringitis.
b. Infeksi Saluran Pernapasan bawah Akut (ISPbA) Dinamakan sesuai dengan organ
saluran pernafasan mulai dari bagian bawah epiglotis sampai alveoli paru misalnya
trakhetis, bronkhitis akut, pneumoni dan sebagainya. Infeksi ini menyerang mulai dari
bagian epiglotis atau laring sampai dengan alveoli, dinamakan sesuai dengan organ
saluran napas, seperti epiglotitis, laringitis, laringotrakeitis, bronkitis, bronkiolitis,
pneumonia. Infeksi Saluran Pernapasan bawah Akut (ISPbA) dikelompokkan dalam dua
kelompok umur yaitu
(1) pneumonia pada anak umur 2 bulan hingga 5 tahun dan
(2) pneumonia pada bayi muda yang berumur kurang dari dua bulan.

DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, Sunita, dkk. 2011. Gizi Seimbang Dalam Daur Kehidupan. Jakarta, PT.
Gramedia Pustaka Utama.
Budiarto, B. 2012. Metodologi Penelitian Kedokteran. Jakarta: EGC
Kemenkes RI, 2010. Sistem Kesehatan Nasional. Depkes RI, Jakarta Dinkes Aceh Barat.
2015. Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Barat Tahun 2014. Aceh Barat Daya.
Dinkes Aceh. 2014. Profil Kesehatan Provinsi Aceh Tahun 2013. Aceh.
Hurlock, E. B. 2010. Psikologi Perkembangan. Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang
Kehidupan. Jakarta: Erlangga. Irga, A. 2009. Penyakit Paru Akibat Gangguan Kerja di
Kota Medan. Skripsi. Universitas Sumatera Utara.
Israr. 2009. Pneumonia pada Dewasa. Artikel Kesehatan. Fakultas Kesehatan Pekan Baru
Riau.
Kandung, 2013. Hubungan Antara Karakteristik Pekerja Dan Pemakaian Alat Pelindung
Pernapasan (Masker) Dengan Kapasitas Fungsi ParuPada Pekerja Wanita Bagian
Pengampelasan Di Industri Mebel “X” Wonogiri.
Jurnal Kesehatan Masyarakat 2013, volume 2, nomor 1, tahun 2013.
Kemenkes RI. 2011. Penyakit ISPA dan Penaggulangannya. Jakarta.
Kemenkes RI. 2013. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta.
Kemenkes RI. 2015. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta.
Notoatmodjo, S. 2010.Metodologi penelitian kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

Proses keperawatan
 Kondisi klien

Orang tua mengatakan bahwa anaknya mengalami demam tinggi, bersin-bersin. Hidung
mengeluarkan cairan (ingus), sakit tenggorokan, batuk-batuk (mula-mula tidak berdahak
tapi kemudian berdahak), pusing, badan terasa lemah, mual, muntah, sakit perut, serta diare
Orang tua klien mengatakan tidak tahu cara pengobatannya. Riwayat imunisasi lengkap.

 Diagnosa kperawatan

Ketidakmampuan keluarga merawat anaknya b.d kurangnya informasi tentang penyakit ISPA.
 Tujuan khusus

Setelah dilakukan pendidikan kesehatan selama 25 menit diharapkan keluarga mampu:


1. Menjelaskan pengertian ISPA.
2. Menyebutkan penyebab dari ISPA.
3. Menyebutkan tanda dan gejala dari ISPA.
4. Menyebutkan akibat penyakit ISPA.
5. Menyebutkan cara pencegahan ISPA.

 Tindakan keperawatan

Pendidikan kesehatan tentang penyakit ISPA

STRATEGI PELAKSANAAN PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PENYAKIT


ISPA

A. Fase orientasi
1. Salam terapeutik

Assalamualaikum Wr. Wb. Selamat pagi bapak dan ibu. Perkenalkan saya Villa Vidia
Lestari mahasiswa S1 keperawatan STIKes Bina Sehat PPNI Mojokerto. Saya akan
berdinas di RW ini selama 2 minggu. Tujuan saya hari ini adalah untuk berbagi
informasi kesehatan pada keluarga Bapak dan Ibu.
2. Evaluasi/validasi

“Bagaimana kabarnya hari ini pak?”


“Semalam Anaknya bisa tidur pak?”
“Bagaimana dengan batuk dan pilek Anaknya ?”
“Apa yang ibu tentang penyakit ISPA?”
“Apa yang biasa dilakukan keluarga bila ada anggota keluarga yang sedang sakit?”

3. Kontrak
a. Topik : “ Baiklah, untuk topik hari ini saya akan memberikan pendidikan
kesehatan tentang penyakit ISPA”
b. Waktu : “ Saya akan memberikan pendidikan kesehatan tentang penyakit
ISPA ± 25 menit saja”
c. Tempat : “ Untuk tempatnya di balai desa Sengon ”
d. Tujuan : “ Tujuan dari pendidikan kesehatan ini adalah agar keluarga
Bapak dan Ibu dapat mengetahui tentang penyakit ISPA, tanda dan gejala,
pencegahan, penanganan serta pengobatan penyakit ISPA”

B. Fase kerja

“ Baiklah Bpk/Ibu kita mulai saja ya, ISPA adalah penyakit yang menyerang salah satu
bagian atau lebih pada saluran pernapasan mulai dari hidung sampai ke paru, penyebab
seseorang terkena ISPA karena virus, bakteri atau kurang gizi. Faktor resiko dari ISPA
imunisasi tidak lengkap, kurang gizi, alergi, dan lingkungan yang tidak sehat. Tanda dan
gejala dari penyakit ISPA batuk, sakit tenggorokan, sulit menelan, demam, pilek,
hingga sesak napas. Akibat yang ditimbulkan dari penyakit ISPA peradangan pada paru,
peradangan pada hidung, bisa menularkan pada orang lain, penurunan daya tahan tubuh,
biaya pengobatan semakin tinggi bila tidak teratasi, Berat badan menurun hingga tidak
nafsu makan. Cara pencegahan ISPA dengan Imunisasi yang baik, jauhkan anak dari
asap rokok, jauhkan anggota keluarga dari orang yang sedang menderita ISPA, jaga
kebersihan lingkungan sekitar, buka jendela rumah agar sinar matahari dapat masuk,
makan-makanan yang bergizi seperti susu, daging, buah-buahan dan sayur. Cara
pencegahan ISPA beri anak banyak minum air putih lebih dari biasanya, istirahat yang
cukup, jika anak demam berikan kompres air hangat. Kunjungilah fasilitas kesehatan
terdekat seperti klinik, puskesmas, atau Rumah Sakit. Demikan penjelasan dari saya
mengenai penyakit ISPA”

C. Fase terminasi
1. Evaluasi respon
a. Subjektif

“Bagaimana perasaan Bpk/Ibu sudah mengerti dan pahamkah mengenai penyakit


ISPA?
“Apakah Bpk/Ibu ada yang ingin ditanyakan mengenai penyakit ISPA?”

b. Objektif

“Baiklah bila Bpk/Ibu tidak ada peertanyaan, saya yang akan bertanya.”
“Sebutkan pengertian dari ISPA?”
“Apa saja penyebab dari ISPA?”
“Apa tanda dan gejala dari ISPA?”
“Apa yang harus dilakukan bila anggota keluarga terkena ISPA?”
“Bagaimana pencegahan dan pengobatan penyakit ISPA?”

2. Tindak lanjut

“Baiklah karena keluarga sudah paham dan mengerti mengenai penyakit ISPA, saya
harap Bpk/Ibu dapat mengingat cara mencegah dan mengobati penyakit ISPA serta
dapat mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.”

3. Kontrak yang akan datang


a. Topik :

“Sesuai janji diawal sudah 25 menit pertemuan hari ini kita sudahi sampai disini.
Untuk pertemuan selanjutnya kita akan membahas cara penanganan pada ISPA”

b. Waktu :

“Karena pertemuan berikutnya tanggal 20 desember 2019, untuk jam nya


bagaimana kalau jam 09.00 wib, setuju ?”

c. Tempat:

“Untuk tempat demonstrasinya seperti saat ini ya di balai desa ? Baiklah kalau
begitu sampai jumpa lagi besok ya pak/bu”