Anda di halaman 1dari 2

Pertanyaan :

Ada beberapa permasalahan yang biasanya dihadapi oleh pihak perusahaan dalam
hubungannya dengan utang lancar (current liabilities), coba anda jelaskan beberapa masalah
yang seringkali terjadi tersebut dan sebagai langkah antisipasi, apa solusinya sehingga
operasional usaha/bisnisnya tidak terganggu
Jawaban :
Kewajiban lancar dapat diartikan sebagai kemungkinan pengorbanan masa depanatas manfaat
ekonomi yang muncul dari kewajiban perusahaan pada masa sekaranguntuk mentransfer
aktiva atau menyediakan jasa kepada entitas lainnya di masa depansebagai hasil dari transaksi
atau kejadian pada masa lalu. Suatu hal dapat dikategorikan sebagai sebuah kewajiban
apabila memenuhi tiga karakteristik utama, yaitu:
1. Merupakan kewajiban saat ini yang memerlukan penyelesaian dengan kemungkinan
transfer masa depan atau penggunaan kas, barang, atau jasa.
2. Merupakan kewajiban yang tidak dapat dihindari.
3. Transaksi atau kejadian lainnya yang menciptakan kewajiban itu harus telah terjadi dimasa
lalu.
Pengertian dari hutang lancar menurut Standar Akuntansi Keuangan atau SAK, hutang lancar
adalah “hutang yang pelunasannya menggunakan sumber-sumber aktiva lancar atau dengan
menciptakan hutang lancar baru.” Karena pembayaran atau pelunasan hutang lancar
biasanya mengggunakan aktiva lancar, dalam akuntansi terdapat istilah rasio lancar (current
ratio). Rasio lancar adalah perbandingan ukuran antara hutang lancar dengan aktiva lancar,
yang digunakan para kreditur atau pemberi pinjaman untuk menilai apakah pihak yang akan
diberi pinjaman memiliki kemampuan untuk melunasi hutang lancar mereka atau tidak.
Hutang lancar dikelompokkan pada dua kelompok, yaitu hutang dapat ditentukan jumlahnya
dan hutang yang dapat ditaksir jumlahnya.
A. Hutang yang Dapat Ditentukan Jumlahnya
Yang dimaksud dengan hutang ini adalah segala hutang atau kewajiban yang jumlah
nominal hutang dan waktu jatuh tempo sudah diketahuhi dengan pasti oleh kedua belah
pihak. Yaitu :
- Hutang Dagang
- Hutang Dividen
- Biaya yang harus dibayar
- Uang Muka dan Jaminan yang Dapat Diminta Kembali
- Hutang Gaji dan Upah
- Hutang Bonus
B. Hutang yang Dapat Ditaksir Jumlahnya
Hutang ini merupakan hutang yang tidak dapat ditentukan dengan pasti, namun dapat
ditaksir jumlah atau nominalnya. Hutang dalam kelompok ini hanya dapat ditaksir jumlahnya
meskipun transaksi atau peristiwa yang terkait sudah terjadi.
- Hutang Pajak Penghasilan
- Hutang Hadiah
- Hutang Garansi
Mengingat utang lancar (current liabilities) memiliki jatuh tempo yang tidak lama (setahun
atau kurang dari setahun), maka perusahaan harus mengelola risiko likuiditas dengan
memastikan tersedianya kas dan setara kas yang cukup dan tersedianya pendanaan dari
sejumlah fasilitas kredit yang mengikat untuk melunasi utang ini. Ketidakmampuan
perusahaan dalam melunasi utang lancar akan berdampak pada operasional perusahaan, yaitu
sampai dengan likuidasi apabila dinyatakan pailit. Perusahaan harus selalu memperhatikan
rasio lancar perusahaan.
Semakin tinggi rasio lancarnya, semakin likuid perusahaannya. Hasil Current Ratio atau
Rasio Lancar yang diterima pada umumnya adalah 2 kali. Rasio Lancar sebesar 2 kali ini
dianggap sebagai posisi nyaman dalam keuangan bagi kebanyakan perusahaan. Namun pada
dasarnya, Rasio Lancar yang dapat diterima ini bervariasi antara satu industri dengan industri
lainnya. Bagi kebanyakan industri, Rasio Lancar sebesar 2 kali sudah dianggap dapat
diterima atau “Acceptable“.
Nilai rendah pada Rasio Lancar (nilai yang kurang dari 1 kali) menunjukan bahwa
perusahaan mungkin mengalami kesulitan untuk memenuhi kewajiban lancarnya. Namun
Investor atau calon kreditur juga harus memperhatikan arus kas operasi perusahaan agar bisa
lebih memahami tingkat likuiditas perusahaannya. Apabila Rasio Lancar Perusahaan rendah,
para Investor atau calon kreditur dapat menilai kesehatan keuangan perusahaan yang
bersangkutan dengan kondisi arus kas (cash flow) operasional pada perusahaan tersebut.
Jika rasio lancar terlalu tinggi (nilai yang lebih dari 2 kali), maka perusahaan tersebut
mungkin tidak menggunakan aset lancar atau fasilitas pembiayaan jangka pendeknya secara
efisien. Hal ini juga menunjukkan mungkin adanya masalah dalam pengelolaan modal kerja.
Namun bagi Kreditur, Current Ratio yang tinggi lebih baik daripada current ratio yang
rendah, karena dengan current ratio yang tinggi berarti perusahaan cenderung lebih dapat
memenuhi kewajiban hutang yang jatuh tempo dalam 12 bulan ke depan.