Anda di halaman 1dari 15

 BAB II  PRODUKTIVITAS SALAH SATU FAKTOR PENENTUAN BAGI

PEMBANGUNAN SOSIAL DAN EKONOMI1. Peranan dan Pentingnya


ProduktivitasPentingnya produktivitas kerja mencakup banyak hal, dimulai dari produktivitas
tenaga kerja, produktivitas organisasi, produktivitas modal, produktivitas pemasaran,
produktivitas produksi, produktivitas keuangan dan produktivitas produk. Pada tahap awal
revolusi industri di negara-negara Eropah, perhatian lebih banyak tertuju pada bidang
produktivitas tenaga kerja, produktivitas produksi dan produktivitas pemasaran. Sedangkan di
negara Jepang, perhatian peningkatan produktivitas tertuju pada produktivitas tenaga kerja dan
produktivitas organisasi, sehingga keharmonisan kepentingan buruh dan majikan dipelihara
dengan baik.   Pentingnya arti produktivitas dalam meningkatkan kesejahteraan telah disadari
secara universal, tidak ada jenis kegiatan manusia yang tidak mendapatkan keuntungan dari
produktivitas yang ditingkatkan sebagai kekuatan untuk menghasilkan lebih banyak barang-
barang maupun jasa, peningkatan produktivitas juga menghasilkan peningkatan langsung pada
standar hidup yang berada dibawah kondisi distribusi yang sama dari perolehan produktivitas
yang sesuai dengan masukan tenaga kerja.Sayang sekali produktivitas sering dikaitkan secara
paksa, acuh tak acuh terhadap kualitas hidup dan pengaruh yang membahakan bagi lingkungan.
Misalnya, nasionalisasi tidak manusiawi. Bagi banyak orang meningkatkan  produktivitas berarti
bekerja lebih giat dan cepat, mengurangi mutu barang, kerja dan kehidupan, meningkatkan
penganguran dan semacmnya. Kita tidak memberikan andil dengan pandangan-pandangan yang
pesimistis ini. Secara umum diyakini bahwa untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, upah
yang wajar serta untuk meningkatkan kondisi-kodisi kerja perlulah mempertimbangkan
produktivitas sebagai faktor penyumbang terbesar.Karena manusia adalah sumber penting dan
tujuan dari pembangunan kita harus meningkatkan produktivitas bukan atas beban biaya mereka
tapi atas beban biaya dari waktu yang terbuang, pengurangan pegawai, birokrasi yang tidak perlu
dan
sebagainya.                                                                                                                                          
                                      2. Pengertian Produktivitas

Jika membicarakan masalah produktivitas muncullah satu situasi yang pradoksial


(bertentangan), karena belum ada kesepakatan umum tentang maksud pengertian produktivitas
serta kriterianya dalam mengukur petunjuk-petunjuk produktivitas. Dan tak ada konsepsi,
metode penerapan maupun cara pengukuran yang bebas kritik.

Secara umum, produktivitas diartikan sebagai hubungan antara hasil nyata maupun fisik dengan
masukan yang sebenarnya (ILO, 1979). Greenberg yang dikutip oleh Sinungan (1985)
mengartikan produktivitas sebagai perbandingan antara totalitas pengeluaran pada waktu tertentu
dibagi totalitas masukan selama periode tersebut.

Pengertian lain produktivitas  adalah sebagai tingkatan efisiensi dalam memproduksi


barang-barang atau jasa-jasa: “Produktivitas mengutarakan cara pemanfaatan secara baik
terhadap sumber-sumber dalam memproduksi barang-barang.”
Produktivitas juga diartikan sebagai :
a.       perbandingan ukuran harga bagi masukan dan hasil.
b.      Perbedaan antara  kumpulan jumlah pengeluaran dan masukan yang dinyatakan
dalam satu-satuan (unit) umum.
Ukuran produktivitas yang paling terkenal berkaitan dengan tenaga kerja yang dapat
dihitung dengan membagi pengeluaran oleh jumlah yang digunakan atau jam-jam kerja orang.
Kita telah menyebutkan beberapa definisi, namun cukuplah mampu mengetahui
perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaan. Dapatkah kita menganggapnya sebagai
pertentangan?
Persoalan pencapaian suatu definisi “produktivitas” yang mendetail bukanlah masalah
produktivitas itu sendiri, namun suatu masalah diluar produktivitas yang merupakan tujuan-
tujuan dan sasaran-sasaran manajemen dalam sistem dan organisasinya dimana tujuan yang
berbeda memerlukan pendekatan yang berbeda pula untuk mendefinisikan produktivitas.
Misalnya, hasil-hasil penelitian diantara menejer dan ahli serikat buruh beberapa
perusahaan Amerika menunjukkan bahwa menejer-menejernya (78%) dan pimpinan-pimpinan
serikat buruh (70%) sebagian besar tidak hanya menerapkan definisi produktivitas yang
kuantitatif. Dilain pihak banyakl mengaitkan produktivitas dengan organisasi-organisasi
individual dan meliputi konsepsi yang lebih luas dan kualitatif. Pada hakikatnya, melalui
produktivitas, manajemen dan para penentu kebijakan serikat buruh mengarhkan efektifitas dan
pelaksanaan organisasi perseorangan secara menyeluruh, yang mencakup sedikit gambaran jelas
seperti tidak adanya rintangan dan kesulitan tingkatan pembalikan, ketidak hadiran dan bahkan
kepuasan langganan. Dengan dikemukakan konsepsi produktivitas yang lebih luas ini maka
dapatlah dipahami bahwa para pembuat kebijaksanaan mengetahui batas antara pekerja,
kepuasan para langganan dan produktivitas.
Namun demikian para pemimpin serikat buruh terlebih dahulu memperhatikan
pengeluaran yang nyata, yang menjelaskan alasan kerugian usaha peningkatan produktivitas
yang mungkin menguntungkan manajemennya bukannya pekerja yang diperlukan.
Dalam berbagai referensi terdapat banyak sekali pengertian mengenai produktivitas,
yang dapat kita kelompokkan menjadi tiga, yaitu :
a.       Rumusan tradisional bagi keseluruhan produktivitas tidak lain ialah ratio dari
pada apa yang dihasilkan (out put) terhadap keseluruhan peralatan produksi yang
dipergunakan (input).
b.      Produktivitas pada dasarnya adalah suatu sikap mental yang selalu mempunyai
pandangan bahwa mutu kehidupan hari ini lebih baik dari pada kemarin, dan hari
esok lebih baik dari hari ini.

c.       Produktivitas merupakan interaksi terpadu  secara serasi dari tiga faktor esensial, yakni:
investasi termasuk penggunaan pengetahuan dan teknologi serta riset; manajemen; dan tenaga
kerja.

Disamping ketiga pengertian tersebut dalam doktrin pada konferensi Oslo, 1984,
tercantum definisi umum produktivitas semesta yaitu:
Produktivitas adalah suatu konsep yang bersifat universal yang bertujuan untuk
menyediakan lebih banyak barang dan jasa untuk lebih banyak manusia, dengan menggunakan
sumber-sumber riil yang makin sedikit.”
Produktivitas adalah suatu pendekatan interdisipliner untuk menentukan tujuan yang
efektif, pembuatan rencana, aplikasi penggunaan cara yang produktivitas untuk menggunakan
sumber-sumber secara efisien, dam tetap menjaga adanya kualitas yang tinggi. Produktivitas
mengikutsertakan pendayagunaan  secara terpadu sumber daya manusia dan keterampilan,
barang modal teknologi, manajemen, informasi, energi, dan sumber-sumber lain menuju kepada
pengembangan dan peningkatan standar hidup untuk seluruh masyarakat, melalui konsep
produktivitas semesta total.
Produktivitas mempunyai pengertiannya lebih luas dari ilmu pengetahuan, teknologi
dan teknik manajemen, yaitu sebagai suatu philosopi dan sikap mental yang timbul dari motivasi
yang kuat dari masyarakat, yang secara terus menerus berusaha meningkatkan kualitas
kehidupan.

    BAB III KONSEPSI PRODUKTIVITASPeningkatan produktivitas dan efisiensi merupakan


sumber pertumbuhan utama untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Sebaliknya,
pertumbuhan yang tinggi dan berkelanjutan juga merupakan unsur penting dalam menjaga
kesinambungan peningkatan produktivitas jangka panjang. Dengan demikian, pertumbuhan dan
produktivitas bukan dua hal yang terpisah atau memiliki hubungan satu arah, melainkan
keduanya adalah saling tergantung dengan pola hubungan yang dinamis, tidak mekanistik, non
linear dan kompleks.Secara makro, sumber pertumbuhan dapat dikelompokkan kedalam unsur
berikut:.Pertama, peningkatan stok modal sebagai hasil akumulasi dari proses pembangunan
yang terus berlangsung. Proses akumulasi ini merupakan hasil dari proses
investasi.Kedua,     peningkatan jumlah tenaga kerja juga memberikan kontribusi terhadap
pertumbuhan ekonomi.Ketiga,     peningkatan produktivitas merupakan sumber pertumbuhan
yang bukan disebabkan oleh peningkatan penggunaan jumlah dari input atau sumber daya,
melainkan disebabkan oleh peningkatan kualitasnya. Dengan jumlah tenaga kerja dan modal
yang sama, pertumbuhan output akan meningkat lebih cepat apabila kualitas dari kedua sumber
daya tersebut meningkat.Walaupun secara teoritis faktor produksi dapat dirinci, pengukuran
kontribusinya terhadap output dari suatu proses produksi sering dihadapkan pada berbagai
kesulitan. Disamping itu, kedudukan manusia, baik sebagai tenaga kerja kasar maupun sebagai
manajer, dari suatu aktivitas produksi tentunya juga tidak sama dengan mesin atau alat produksi
lainnya. Seperti diketahui bahwa output dari setiap aktivitas ekonomi tergantung pada manusia
yang melaksanakan aktivitas tersebut, maka sumber daya manusia merupakan sumber daya
utama dalam pembangunan. Sejalan dengan fenomena ini, konsep produktivitas yang dimaksud
adalah produktivitas tenaga kerja. Tentu saja, produktivitas tenaga kerja ini dipengaruhi,
dikondisikan atau bahkan ditentukan oleh ketersediaan faktor produksi komplementernya seperti
alat dan mesin. Namun demikian konsep produktivitas adalah mengacu pada konsep
produktivitas sumber daya manusia.Secara umum konsep produktivitas adalah suatu
perbandingan antara keluaran (out put) dan masukan (input) persatuan waktu. Produktivitas
dapat dikatakan meningkat apabila:1.      Jumlah produksi/keluaran meningkat dengan jumlah
masukan/sumber daya yang sama.2.      Jumlah produksi/keluaran sama atau meningkat dengan
jumlah masukan/sumber daya lebih kecil dan,3.      Produksi/keluaran meningkat diperoleh
dengan penambahan sumber daya yang relatif kecil (soeripto, 1989; Chew, 1991 dan pheasant,
1991).

Konsep tersebut tentunya dapat dipakai didalam menghitung produktivitas disemua


sektor kegiatan. Menurut Manuaba (1992a) peningkatan produktivitas dapat dicapai dengan
menekan sekecil-kecilnya segala macam biaya termasuk dalam memanfaatkan sumber daya
manusia (do the right thing) dan meningkatkan keluaran sebesar-besarnya (do the thing right).
Dengan kata lain bahwa produktivitas merupakan pencerminan dari tingkat efisiensi dan
efektifitas kerja secara total.
 BAB IV PENGUKURAN PRODUKTIVITAS

Pengukuran produktivitas merupakan suatu alat manajemen yang penting disemua


tingkatan ekonomi. Dibeberapa  Negara maupun perusahaan pada akhir-akhir ini telah terjadi
kenaikan minat pada pengukuran produktivitas. Karena itu sudah saatnya kita membicarakan
alasan mengapa kita harus mengukur produktivitas.

1.      Mengapa Mengukur Produktivitas

Pada tingkat sektoral dan nasional, produktivitas menunjukkan kegunaannya dalam


membantu evaluasi penampilan, perncanaan, kebijakan pendapatan, upah dan harga melalui
identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi pendapatan, membandingkan sektor-
sektor ekonomi yang berbeda untuk menentukan prioritas kebijakan bantuan, menentukan
tingkar pertumbuhan suatu sektor atau ekonomi, mengetahui pengaruh perdagangan internasional
terhadap perkembangan ekonomi dan seterusnya.
Pada tingkat perusahaan, pengukuran produktivitas terutama digunakan sebagai sarana
manajemen untuk menganalisa dan memdorong efisiensi produksi.
Pertama,  dengan pemberitahuan awal, instalasi dan pelaksanaan suatu sistem
pengukuran, akan meninggikan kesadaran pegawai dan minatnya pada tingkat dan rangkaian
produktivitas.
Kedua,  diskusi tentang gambaran-gambaran yang berasal dari metode-metode yang
relatif kasar ataupun dari data yang kurang memenuhi syarat sekalipun, ternyata memberi dasar
bagi penganalisaan proses yang konstruktif atas produktif.
Manfaat lain yang diperoleh dari pengukuran produktivitas mungkin terlihat pada
penempatan perusahaan yang tetap seperti dalam menentukan target/sasaran tujuan  yang nyata
dan pertukaran informasi antara tenaga kerja dan manajemen secara periodik terhadap masalah-
masalah yang saling berkaitan. Pengamatan atas perubahan-perubahan dari gambaran data yang
diperoleh sering nilai diagnostik yang menunjuk pada kemacetan dan rintangan dalam
meningkatkan penampilan oraganisasi. Satu keuntungan dari pengukuran produktivitas adalah
pembayaran staf. Gambaran data melengkapi suatu dasar bagi andil manfaat atas penmpilan yang
ditingkatkan.

2. Metode-Metode Pokok Pengukuran Produktivitas

Secara umum pengukuran produktivitas berarti perbandingan yang dapat dibedakan


dalam tiga jenis yang sangat berbeda:
1.      Perbandingan-perbandingan antara pelaksanaan sekarang dengan pelaksanaan
secara historis yang tidak menunjukkan apakah pelaksanaan sekarang ini
memuaskan, namun hanya mengetengahkan apakah meningkat atau berkurang serta
tingkatannya.
2.      Perbandingan pelakasanaan antara satu unit (perorangan tugas, seksi, proses)
dengan lainnya. Pengukuran seperti itu menunjukkan pencapaian relatif.
3.      perbandingan pelaksanaan sekarang dengan targetnya, dan inilah yang terbaik
sebagai memusatkan perhatian pada sasaran/tujuan.
Untuk menyusun perbandingan-perbandingan ini perlulah mempertimbangkan
tingkatan daftar susunan dan perbandingan pengukuran produktivitas.
Paling sedikit ada 2 jenis tingkat perbandingan yang berbeda, yakni produktivitas total
dan produktivitas parsial.
1.      Produktivitas Total adalah perbandingan antara total keluaran (output) dengan
total masukan (input) persatuan waktu. Dalam penghitungan produktivitas total,
semua faktor masukan (tenaga kerja, kapital, bahan, energi) tehadap total keluaran
harus diperhitungkan.

                                                                        Hasil Total
                            Prouktivitas Parsial =
                                                                     Masukan Total

                                       
                                        
2.      Produktivitas parsial adalah perbandingan dari keluaran dengan satu jenis
masukan atau input persatuan waktu, seperti upah tenaga kerja, kapital, bahan,
energi, beban kerja, dll.  

                                                                       Hasil parsial
                            Prouktivitas Parsial =
                                                                     Masukan Total

  BAB V  PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KERJA

Sebuah perusahaan atau sistem produksi lainnya menerapkan kombinasi kebijakan,


rencana sumber-sumber dan metodenya dalam memenuhi kebutuhan dan tujuan khususnya.
Kombinasi-kombinasi kebijakan ini dituangkan melalui dan dengan bentuan faktor-faktor
produktivitas internal dan eksternal. Pada tingkat perusahaan, faktor-faktor tersebut hampir
seluruhnya direflesikan dalam sumber pokok, yakni: manusia dan bahan-bahan atau melalui :

§         

Sumber manusia.
Energi sumber mineral

Tenaga kerja

§          Manajemen dan organisasi


§          Modal pokok, bahan mentah

 
Contoh: Pengaruh faktor-faktor seperti pendidikan dan latihan terlihat pada keahlian
dan sikap pekerja. Kemajuan teknologi dan litbang jika direalisasikan pada tingkat perusahaan
hanyalah melalui tenaga kerja trampil, perlengkapan serta manajemen yang lebih baik, dengan
kata lain melalui sumber-sumber manusia dan material. Faktor-faktor lingkungan seperti siklus
perdagangan, ekonomi skala serta kondisi melalui tenaga kerja (pekerja lapangan dan pekerja
kantor tata usaha maupun manajemennya) dan modal.
Jadi peningkatan produktivitas terutama berkaitan dengan tiga jenis sumber:
ü   modal (Perlengkapan, material, energi, tanah dan bangunan)
ü   Tenaga kerja.
ü   Manjemen dan organisasi.

1.  Perlengkapan, Material, Dan Tenaga/Energi

Sebuah perbandingan dari hasil perjam kerja manusia melalui waktu dipengaruhi
oleh volume, variasi dan hasil tahunan modal tetap. Kualitas, unsur peralatan serta tingkat
keseragamannya seringkali berat timbangannya dalam mengukur produktivitas organisasi.
Pada  umumnya metode-metode perintah kerja untuk penggunaan yang lebih baik
dari peralatan, dapat disarankan:
ü   Pemilihan daya guna peralatan yang cocok.
ü   Penjadwalan daya guna mesin.
ü   Pengaturan pelayanan dan perawatan mesin.
ü   Melatih dan memberikan pelajaran pada pekerja operasional.
Faktor pertumbuhan produktivitas yang sangat penting adalah material dan tenaga.
Penggunaan bahan baku yang terbuang rata-rata mencapai sekitar 40% dari biaya produksi
nasional secara keseluruhan, jika kita mempertimbangkan tenaga maupun bahan baku, maka
gambaran ini meningkat dalam jumlah yang besar.
Latihan operator yang sedikit, penataan yang kurang baik serta ruang gedung yang
tidak cukup, dapat memperburuk masalah penanganan bahan-bahan dan mengarah kepada
perubahan gerak dan berakibat.
Tujuan yang paling penting haruslah  dengan merancang metode-metode untuk
memproduksi jumlah hasil produksi yang sama dengan energi material yang sedikit serta
mengganti material maupun alat-alat dengan biaya lebih rendah atau mungkin lebih
memproduksi barang lebih dari jumlah bahan yang sama.
Menngkatkan produtivitas juga tegantung pada pemilihan bahan-bahan maupun
daya guna secara optimal. Setiap material mempunyai harga dan kualitas sendiri yang
pemilihan yang tepat akan mempengruhi produkitivitas.

2.   Angkatan Kerja

Salah satu area potensial tertinggi dalam peningkatan produktivitas adalah


mengurangi jam kerja yang tidak efektif. Lamanya buruh bekerja, dan proporsi penempatan
waktu yang produktif sangat tergantung kepada cara pengaturan, latihan, pengaturan dan
motivasinya.
Beberapa penyelidikan menunjukkan bahwa waktu yang produktif berkisar 25%
sampai 30% sedangkan yang tidak produktif karena kejelekan manajemennya kadang-kadang
mencapai 50% lebih dan sisanya disebabkan adanya pekerjaan yang sia-sia ataupun karena
sikap pekerjaannya.
a. Struktur Waktu Kerja
Analisa dan studi yang  berhati-hati terhadap semua komponen dan penggunaan
waktu  yang tidak efektif  menyebabkan manajemen dan pengawasan mampu mengurangi
sebab-sebab utama dari kerugian waktu serta membantu merencanakan teknik-teknik
peningkatan produktivitas bagi kepentingan individu atau kelompok pelaksanaan.
b. Peningkatan Efektifitas Dari Waktu Kerja
Masalah berikutnya adalah cara melaksanakan teknik peningkatan produktivitas
menggunakan manajemen, penambahan material, perencanaan dan organisasi kerja yang
lebih baik, latihan dan pendidikan, kepuasan tugas serta faktor-faktor lain yang
mempengaruhi kualitas tenaga kerja maupun memanfaatkan cadangan-cadangan.
Kesempatan utama dalam meningkatkan produktivitas manusia terletak pada
kemampuan individu sikap individu dalam bekerja serta manajemen maupun organisasi
kerja dengan kata lain, dalam mengkaji produktivitas pekerja individual paling sedikit kita
harus menjawab dari pertanyaan pokoknya: mampukah buruh bekerja lebih baik dan
tertarikkah pekerja untuk bekerja lebih giat?
Untuk menjawab kita harus mengecek dua kelompok syarat bagi produktivitas
perorangan yang tinggi.

Yang pertama sedikitnya meliputi:

ü       Tingkat pendidikan dan keahlian.


ü       Jenis teknologi dan hasil produksi.
ü       Kondisi kerja.
ü       Kesehatan, kemampuan fisik dan mental.

Kelompok kedua mencakup:

ü       Sikap (terhadap tugas), teman sejawat dan pengawas).


ü       Keaneka ragaman tugas.
ü       Sistem insentif (sistem upah dan bonus).
ü       Kepuasan kerja keamanan kerja.
ü       Kepastian pekerjaan.
ü       Perspektif dari ambisi dan promosi.
Jadi setiap tindakan perencanaan peningkatan produktivitas individual paling
sedikit mencakup tiga tahap berikut ini:
1.      Mengenai faktor makro utama bagi peningkatan produktivitas.
2.      mengukur pentingnya setiap faktor dan menentukan prioritasnya.
3.      merncanakan sistem tahap-tahap untuk meningkatkan kemampuan pekerja dan
memperbaiki sikap mereka sebagai sumber utama produktivitas.
c.  Insentif (Perangsang)
Yang paling penting, program peningkatan produktivitas yang berhasil itu ditandai
dengan adanya andil yang luas dari keuangan dan tunjangan-tunjangan lain diseluruh organisasi.
Setiap pembayaran kepada perorangan harus ditentukan oleh andilnya bagi produktivitas,
sedangkan kenaikan pembayaran harus dianugerahkan teruatama berdasarkan hasil produktivitas.
Untuk menjadi seorang motivator yang efektif pemberian bonus haruslah dihubungkan
secara langsung dengan tujuan pencapaian malalui cara yang sederhana mungkin, sehingga
penerima segera dapat mengetahui berapa rupiah yag dia peroleh dari upayanya. Bentuk
pemberian bonus yang berorientasi pada penampilan adalah proyek pemberian bonus, dimana
hasil kerja yang baik segera diberi hadiah dengan bonus yang sesuai. Hal tersebut lebih aktif
dibandingkan menunggu berapa bulan tanpa pemberitahuan yang nyata sampai saat pemberian
bonus diakhir tahun ketika suasana “semua menrima” akan membuang semua pengaruh motivasi
selama tahun berjalan.
Penghargaan serta penggunaan motivator yang tepat akan menimbulkan suasana
kondutif atau berakibat kepada produktivitas yang lebih tinggi. Semua itu mencakup sistem
pemberian insentif dan usaha-usaha manambah kepuasab kerja melalui sarana yang beraneka
macam.

 BAB VI FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIVITAS KERJA.

Banyak faktor yang dapat mempengruhi tinggi rendahnya produktivitas kerja.


Soedirman (1986) dan tarwaka (1991) merinci faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas
kerja secara umum.

1. Motivasi.

Motivasi merupakan keuatan atau motor pendorong kegiatan seseorang kearah tujuan
tertentu dan melibatkan segala kemampuan yang didmiliki untuk mencapainya.
Karyawan didalam proses produksi adalah sebagai manusia (individu) sudah barang tentu
memiliki identifikasi tersendiri antara lain sebagai berikut:
ü   Tabiat/watak
ü   Siakap laku/penampilan
ü   Kebutuhan
ü   Keinginan
ü   Cita-cita/kepentingan-kepentingan lainnya
ü   Kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk oleh keadaan aslinya
ü   Keadaan lingkungan dan pengalaman karyawan itu sendiri
Karena setiap karyawan memiliki identifikasi yang berlainan sebagai akibat dari latar
belakang pendidikan, pengalaman dan lingkungan masyarakat yang beranekan ragam, maka ini
akan terbawa juga dalam hubungan kerjanya sehingga akan mempengaruhi sikap dan tingkah
laku karyawan tersebut dalam melaksanakan pekerjaannya.
Demikian pula pengusaha juga mempunyai latar belakang budaya dan pandangan
falsafah serta pengalaman dalam menjalankan perusahaan yang berlain-lainan sehingga
berpengaruh di dalam melaksanakan pola hubungan kerja dengan karyawan.
Pada hakikatnya motivasi karyawan dan pengusaha berbeda karena adanya perbedaan
kepantingan maka perlu diciptakan motivasi yang searah untuk mencpai tujuan bersama dalam
rangka kelangsungan usaha dan ketenaga kerjaan, sehingga apa yang menajdi kehendak dan cita-
cita kedua belah pihak dapat diwujudkan.
Dengan demikian karyawan akan mengetahui fungsi, peranan dana tanggung jawab
dilingkungan kerjanya dan dilain pihak pengusaha perlu menumbuhkan iklim kerja yang sehat
dimana hak dan kewajiban karyawan diatur sedemikian rupa selaras dengan fungsi, peranan dan
tanggung jawab karyawan sehingga dapat mendorong motivasi kerja kearah partisipasi karyawan
terhadap perusahaan.
Iklim kerja yang sehat dapat mendorong sikap keterbukaan baik dari pihak karyawan
maupun dari pihak pengusaha sehingga mampu menumbuhkan motivasi kerja yang searah antara
karyawan dan pengusaha dalam rangka menciptakan ketentraman kerja dan kelangsungan usaha
kearah peningkatan produksi dan prosuktivitas kerja.
a.        Faktor-faktor Motivasi Kerja
Untuk mendapatkan motivasi kerja yang dibutuhkan suatu landasan yaitu terdaptnya
suatu motivator. Dan hal ini merupakan hasil suatu pemikiran dan kebijaksanaan yang tertuang
dalam perencanaan dan program yang terpadu dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi sesuai
dengan keadaan eksteren dan interen.
Adapun yang dibutuhkan oleh motivator adalah sebagai berikut:
ü         Pencapain penyelesaian tugas yang berhasil berdasarkan tujuan dan sasaran.
ü         Penghargaan terhadap pencapaian tugas dan sasaran yang telah ditetapkan.
ü         Sifat dan ruang lingkup pekerjaan itu sendiri (pekerjaan yang menarik dan
memberi  harapan ).
ü         Adanya peningkatan (kemajuan).
ü         Adanya tanggung jawab.
ü         Adanya administrasi dan manajemen serta kebijaksanaan pemerintah.
ü         Supervisi.
ü         Hubungan antara perseorangan.
ü         Kondisi kerja
ü         Gaji
ü         Status
ü         Keselamatan dan Kesehatan kerja.

b.  Usaha-usaha Peningkatan Motivasi Kerja

untuk pencapaian tujuan diatas, maka perlu adanya pembinaan sikap laku yang meliputi
seluruh pelaku produksi. Pemerintah, pengusaha/organisasi pengusaha, karyawan/organisasi
karyawan dengan cara sebagai berikut:
1)      Intern Perusahaan
a.    penjabaran dan penanaman pengertian serta tumbuhnya sikap laku dan pengamalan
konsep Tri Dharma.
ü         Rumongso handarbeni (saling ikut memiliki).
ü         Melu Hangrungkebi (ikut serta memelihara, mempertahankan dan melestarikan).
ü         Mulat seriro hangroso wani (terus menerus mawasdiri).
b. Secara fisik, maka sarana-sarana motivatif yang langsung berkaitan dengan kerja dan
tenaga kerja diusahakan peningkatan menurut kemampuan dan situasi-situasi perusahaan
2) ekstern perusahaan
penanaman kesadaran bermasyarakat dan kesadaran bernegara antara lain melalui
penataran P4.

2. Kedisplinan
Disiplin merupakan sikap mental yang tecermin dalam perbuatan tingkah laku
perorangan, kelompok atau masyarakat berupa kepatuhan atau ketaatan terhadap peraturan,
ketentuan, etika, norma dan kaidah yang berlaku.
Disiplin dapat pula diartikan sebagai pengendalian diri agar tidak melakukan sesuatu yang
bertentangan dengan falsafah dan moral Pancasila
Dari pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa disiplin mengacu pada pola tingkah laku
dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Adanya hasrat yang kuat untuk melaksanakan sepenuhnya apa yang sudah menjadi
norma, etik, dan kaidah yang berlaku dalam masyarakat.
2. Adanya prilaku yang dikendalikan.
3. adanya ketaatan (obedience)
Dari ciri-ciri pola tingkah laku pribadi disiplin, jelaslah bahwa disiplin membutuhkan
pengorbanan, baik itu perasaan, waktu, kenikmatan dan lain-lain. Disiplin bukanlah tujuan,
melainkan sarana yang ikut memainkan peranan dalam pencapaian tujuan.
Manusia sukses adalah manusia yang mampu mengatur, mengendalikan diri yang
menyangkut pengaturan cara hidup dan mengatur cara kerja. Maka erat hubungannya antara
manusia sukses dengan pribadi disiplin. Mengingat eratnya hubungan disiplin dengan
produktivitas maka disiplin mempunyai peran sentral dalam membentuk pola kerja dan etos kerja
produktif.
Disiplin mempunyai pengertian yang berbeda-beda dan dari berbagai pengertian itu
dapat kita sarikan beberapa hal sebagai berikut:
a.      Kata  disiplin (terminologis) berasal dari kata latin: disciplina yang berarti pengajaran,
latihan  dan sebagainya (berawal dari kata discipulus yaitu sorang yang belajar). Jadi secara
etimologis ada hubungan pengertian antara discipline dengan disciple (Inggris) yang berarti
murid, pengikut yang setia, ajaran atau aliran.
b.      Latihan yang mengembangkan pengedalian diri, watak atau ketertiban dan efisiensi.
c.      Kepatuhan atau ketaatan (obedience) terhadap ketentuan dan peraturan pemerintah atau
etik, norma dan kaidah yang berlaku dala masyarakat.
d.      Penghukuman (punishment) yang dilakukan melalui koreksi dan latihan untuk mencapai
prilaku yang dikendalikan (controlled behaviour).
Dengan rumusan-rumusan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa, disiplin adalah
sikap mental yang tercermin dalam perbuatan atau tingkah laku perorangan, kelompok atau
masyarakat berupa kepatuhan atau ketaatan (obedience) terhadap peraturan-peraturan dan
ketentuan-ketentuan yang ditetapkan baik oleh pemerintah atau etik, norma dan kaidah yang
berlaku dalam masyarakat untu tujuan tertentu.
Disiplin dapat pula diartikan pengendalian diri agar tidak melakukan sesuatu yang
bertentangan dengan falsafah dan moral Pancasila. Disiplin nasional adalah suatu kondisi yang
merupakan perwujudan sikap mental dan perilaku suatu bangsa ditinjau dari aspek kepatuhan
dan ketaatan terhadap ketentuan, peraturan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

3. Etos Kerja.

Etos kerja merupakan salah satu faktor penentu produktivitas, karena etos kerja
merupakan pandangan untuk menilai sejauh mana kita melakukan suatu pekerjaan dan terus
berupaya untuk mencapai hasil yang terbaik dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan.
Usaha untuk mengembangkan etos kerja yang produktif pada dasarnya mengarah pada
peningkatan produktivitas yang bykan saja produktivitas individu melainkan juga produktivitas
masyarakat secara keseluruhan. Untuk itu dapat ditempuh berbagai langkah seperti:
a.              Peningkatan produktivitas melalui penumbuhan etos kerja, dapat dilakukan lewat
pendidikan yang terarah. Pendidikan harus mengarah kepada pembentukan sikap mental
pembangunan, sikap atau watak positif sebagai manusia pemabangunan bercirikan inisiatif,
kreatif, berani mengambil resiko, sistematis dan skeptis.
b.             Sistem pendidikan perlu disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan yang
memerlukan berbagai keahlian dan keterampilan serta sekaligus dapat meningkatkan
kreativitas, produktivitas, kualitas dan efisiensi kerja. Berbagai pendidikan kejuruan dan
politeknik perlu diperluas dan ditingkatkan mutunya.
c.              Dalam melanjutkan dan meningkatkan pembangunan sebaiknya nilai budaya
Indonesia terus dikembangkan dan dibina guna mempertebal rasa harga diri dan
kebangsaan dan memperkokoh kesatuan.
d.             Disiplin nasional harus terus dibina dan dikembangkan untuk memperoleh rasa sikap
mental manusia yang produtif .
e.              Menggalakkan partisipasi masyarakat, maningkatkan dan mendorong agar terjadi
perubahan dalam masyarakat tentang tingkah laku, sikap serta psikologi masyarakat.
f.               Menumbuhkan motivasi kerja, dari sudut pandang pekerja, kerja berarti
pengorbanan \, baik untuk pengorbanan waktu senggang dan kenikmatan hidup lainnya,
sementara itu upah merupakan ganti rugi dari segala pengorbanannya itu.
Usaha-usaha diatas harus terus dilakukan secara teratur dan berkesinambungan untuk
mendapatkan hasil seperti yang diharapkan langkah ini perlu direalisasikan apabila tujuan-tujuan
yang diahrapkan untuk membentuk sikap mental dan etos kerja yang produktif sebagai faktor
dominan masyarakat pembangunan dalam menuju tahap tinggal landas.

4. Keterampilan.

Faktor keterampilan baik keterampilan teknis maupun manajerial sangat menentukan


tingkat pencapaian produktivitas. Dengan demikian setiap individu selalu dituntut untuk terampil
dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) teruatama dalam perubahan
teknologi mutakhir.
Seseorang dinyatakan terampil dan produktif apabila yang bersangkutan dalam satuan
waktu tertentu dapat menyelesaikan sejumlah hasil tertentu. Dengan demikian menjadi faktor
penentu suatu keberhasilan dan produktivitas, karena dari waktu itulah dapat dimunculkan
kecepatan dan percepatan yang akan sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan kehidupan
termasuk kehidupan masyarakat, bangsa dan negara.
Haruslah disadari sedalam-dalamnya bahwa era tinggal landas hanya dapat kita
wujudkan bila kita benar-benar memiliki konspe waktu yang tepat serta mampu menguasai dan
memanfaatkan waktu, dan dengan demikian dapat meningkatkan produktivitas, sebagai
perwujudan dari eksistensi bangsa yang maju dan modern.

5. Pendidikan.
Tingkat pendidikan harus selalu dikembangkan baik melalui jalur pendidikan formal
maupun informal. Karena setiap penggunaan teknologi hanya akan dapat kita kuasai dengan
pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang handal.
Disamping faktor tersebut diatas, manuaba (1992) mengemukakan bahwa faktor alat,
cara dan lingkungan kerja sangat berpengaruh terhadap produktivitas yang tinggi, maka faktor
tersebut harus betul-betul serasi terhadap kemampuan, kebolehan dan batasan manusia pekerja.
Dalam pendidikan maka kita mengenal tiga faktor yang memberikan dasar penting
untuk pengembangan disiplin ialah sebagai berikut:
a.        Pendidikan umum dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi.
b.        Pendidikan politik guna membudayakan kehidupan berdasarkan konstitusi, dwmokrasi
pancasila dan hukum kesadaran hukum kunci penting untuk menegakkan disiplin.
c.        Pendidikan Agama yang menuju kepada pengendalian diri (self control) yang merupakan
hakikat disiplin, nilai agama tidak boleh dipisahkan dari setiap aktivitas manusia peranan
nilai-nilai keagamaan itu juga dijadikan bagian penting dalam kehidupan keluarga,
masyarakat, bangsa dan negara, mengamalkan nilai kebenaran agama yang diarahkan
membina disiplin nasional itu wajib, sebagaimana manusia Indonesia mengamalkan
Pancasila.
Kesehatan, Keselamatan dan keamanan kerja biasa disingkat K3 adalah suatu
upaya guna memperkembangkan kerja sama, saling pengertian, dan partisipasi efektif
dari pengusaha atau pengurus dan tenaga kerja dalam tempat-tempat kerja untuk
melaksanakan tugas dan kewajiban bersama dibidang Kesehatan, Keselamatan dan
Keamanan Kerja dalam rangka melancarkan usaha berproduksi. Melalui pelaksanaan
Kesehatan, Keselamatan dan Keamanan Kerja ini diharapkan tercipta tempat kerja
yang aman, sehat, bebas dari pencermaran lingkungan sehingga dapat mengurangi
atau terbebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Jadi, pelaksanaan
Kesehatan, Keselamatan dan Keamanan Kerja dapat meningkatkan efisiensi dan
produktivitas kerja.
Kesehatan, Keselamatan dan Keamanan Kerja atau K3 ini dibuat tentu mempunyai
tujuan. Tujuan dibuatnya K3 secara tersirat tertera dalam UU No. 1 Tahun 1970 tentang
Keselamatan Kerja, tepatnya BAB III tentang syarat-syarat K3, yaitu :
1.      Mencegah dan mengurangi kecelakaan
2.      Mencegah, mengurangi dan memandamkan kebakaran
3.      Mencegah dan mengurahi bahaya peledakan
4.      Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau
kejadian-  kejadian lain yang berbahaya
5.      Memberi pertolongan pada kecelakaan
6.      Memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja
7.      Mencegah dan mengendalikan timbul atau meyebarluasnya suhu, kelembapan, debu,
kotoran, asap, gas, uap, hembudan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara dan getaran
8.      Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja, baik fisik maupun
psikis, peracunan, infeksi, dan penularan.
9.      Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai
10.  Menyelenggarakan suhu dan kelembaban udara yang baik
11.  Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup
12.  Memelihara kebersihan, kesehatan, dan ketertipan
13.  Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses
kerjanya.
14.  Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang, tanaman atau
barang
15.  Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan
16.  Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya
17.  Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya
kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.

Jadi, berdasarkan syart-syarat keselamatan kerja diatas, dapat disimpulkan


bahwa tujuan K3, antara lain sbb :
1.      Untuk mencapai derajat kesehatan kerja yang setinggi-tingginya, baik buruh, petani,
nelayan, pegawai negeri, maupun pekerja-pekerja bebas.
2.      Untuk mencegah dan memberantas penyakit dan kecelakaan-kecelakaan akibat
kerja, memelihara dan meningkatkan kesehatan, mempertinggi efisiensi dan daya
produkltivitas kerja, serta meningkatkan kegairahan dan kenikmatan kerja.
Di Indonesia K3 sudah ada sejak pemerintahan colonial Belanda. Pada tahun
1908 parlemen Belanda memberlakukan K3 di Hindia Belanda yang ditandai
denganpenerbitanVeiligheids Reglement Staatsblad No. 406 tahun 1910. Kemudian
pemerintah Kolonial Belanda menerbitkan beberapa produk hokum yang memberikan
perlindungan bagi keselamatan dan kesehatan kerja yang diatur secara terpisah
berdasarkan masing-masing sector ekonomi.