Anda di halaman 1dari 10

BAB.

I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Penyempurnaan ejaan Bahasa Indonesia mengalami berbagai tahap sejak sebelum
sumpah pemuda tahun 1928 hingga sekarang.perkembangan yang dimaksud antara lain
adanya penerapan ejaan oleh Ch.A.Van Ophujsen,atas nama pemerintah belanda,penetapan
ejaan republik soewandi(1947),ejaan pembaharuan prijono (1957), ejaan melindo
slametmuljana(1959),ejaan baru bahasa indonesia anton moeliono (1967), ejaan yang
disempurnakan 1.B mantra (1972),yang akhirnya EYD ini disahkan oleh Presiden Soeharto
pada tanggal 17 agustus dan dalam setiap perkembangannya selalu mengalami pembaharuan
di dalamnya.

B.Rumusan Masalah
1.Apa yang dimaksud dengan ejaan ?

2.Bagaimana sejarah perkembangan ejaan bahasa Indonesia ?

3.Apa perbedaan EYD dan EBI ?

C.Tujuan Makalah
1.Untuk menambah wawasan tentang ejaan bahasa indonesia

2.Untuk mengetahui cara penulisan huruf yang baik dan benar

D.Manfaat Makalah
Manfaat dari penyusunan makalah ini adalah kita dapat mempelajari dan menganalisis
sejarah dan perkembangan ejaan bahasa Indonesia dan penulisan huruf yang baik dan benar

1|Page
BAB. II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Ejaan Bahasa Indonesia

Ejaan adalah seperangkat aturan tentang cara menuliskan bahasa dengan


menggunakan huruf, kata, dan tanda baca sebagai sarananya. Batasan tersebut
menunjukan pengertian kata ejaan berbeda dengan kata mengeja. Mengeja adalah
kegiatan melafalkan huruf, suku kata, atau kata. Sedangkan ejaan adalah suatu
sistem aturan yang jauh lebih luas dari sekedar masalah pelafalan. Ejaan mengatur
keseluruhan cara menuliskan bahasa.

Ejaan merupakan kaidah yang harus dipatuhi oleh pemakai bahasa demi
keteraturan dan keseragaman bentuk terutama dalam bahasa tulis. Keteraturan
bentuk akan berimplikasi pada ketepatan dan kejelasan makna. Ibarat sedang
mengemudi kendaraan, ejaan adalah rambu lalu lintas yang harus dipatuhi oleh
setiap pengemudi. Jika para pengemudi mematuhi rambu-rambu yang ada, maka
terciptalah lalu lintas yang tertib dan teratur. Seperti itulah kira-kira bentuk
hubungan antara pemakai bahasa dengan ejaan.

Ejaan yang berlaku sekarang dinamakan Ejaan yang disempurnakan (EYD).


EYD mulai diberlakukan pada tanggal 16 Agustus 1972. Ejaan ketiga dalam
sejarah bahasa Indonesia ini memang merupakan upaya penyempurnaan ejaan
sebelumnya yang sudah dipakai selama dua puluh lima tahun yang dikenal dengan
Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi (Menteri PP dan K Republik Indonesia pada
saat Ejaan itu diresmikan pada tahun 1947).

Ejaan pertama bahasa Indonesia adalah Ejaan van Ophuijsen (nama seorang
guru besar Belanda yang juga pemerhati bahasa), diberlakukan pada tahun 1901
oleh Pemerintah Belanda yang berkuasa di Indonesia pada masa itu. Ejaan van
Ophuijsen dipakai selama 46 tahun, lebih lama dari Ejaan Republik, dan baru
diganti setelah dua tahun Indonesia merdeka.

2|Page
B. Fungsi Ejaan

Fungsi ejaan yang utama adalah untuk menunjang pembakuan tata bahasa
Indonesia baik kaitannya dengan kosa kata maupun dengan peristilahan. Ejaan sangat
penting dan perlu untuk diprioritaskan. Adapun fungsi ejaan secara khusus adalah
sebagai berikut:
a. Sebagai landasan pembakuan tata bahasa
b. Sebagai landasan pembakuan kosa kata dan peristilahan
c. Sebagai alat penyaring dari masuknya unsur-unsur bahasa lain baik secara kosa kata
maupun istilah ke dalam Bahasa Indonesia

C. Sejarah Perkembangan
Bicara tentang kaidah ejaan, tidak terlepas dari perkembangan tata bahasa
Indonesia sejak dulu hingga sekarang. Sistem ejaan yang ada saat ini merupakan
bentuk yang paling mutakhir dan disempurnakan dari ejaan pada masa-masa
sebelumnya. Berikut adalah perkembangan dan sejarah ejaan Bahasa Indonesia secara
singkat :

1. Ejaan Van Ophuijsen


Ejaan Van Ophuijsen ditetapkan tahun 1901. Ejaan ini menetapkan Bahasa
Melayu dengan huruf latin. Dirancang oleh Ch. A. Van Ophuijsen yang dibantu oleh
Engku Nawawi Gelar Soetan Ma’moer dan Moehammad Thaib Soetan. Aturan dan
contoh mengenai ejaan ini dijelaskan lebih rinci pada sub bab contoh.

2. Ejaan Suwandi
Ejaan Soewandi atau dikenal sebagai ejaan republik diresmikan pada tanggal 19
Maret 1947 untuk menggantikan ejaan Van Ophuijsen. Aturan dan contoh mengenai
ejaan ini dijelaskan lebih rinci pada sub bab contoh

3. Ejaan Pembaruan
Diprakarsai oleh Prof. M. Yamin, ejaan pembaruan diresmikan pada tahun 1954
untuk menggantikan ejaan sebelumnya. Pada waktu itu disarankan agar satu bunyi
satu huruf, penetapan hendaknya dilakukan oleh badan yang kompeten, serta ejaan
hendaknya praktis namun tetap ilmiah. Aturan dan contoh mengenai ejaan ini
dijelaskan lebih rinci pada sub bab contoh.

4. Ejaan Melindo
Kongres Bahasa Indonesia II Medan pada tahun 1959 memutuskan konsep ejaan
bersama yang kemudian dikenal dengan ejaan Melindo (Melayu-Indonesia). Perumus
pada sidang ini adalah Slamet Mulyana dan Syed Nasir bin Ismail. Aturan dan contoh
mengenai ejaan ini dijelaskan lebih rinci pada sub bab contoh.

5. Ejaan LBK
3|Page
Tahun 1966 adalah puncak dari perkembangan politik selama bertahun-tahun
yang mengurungkan peresmian ejaan Melindo. Seminar sastra 1968 membentuk
konsep ejaan Lembaga Bahasa dan Kesusastraan (LBK). Aturan dan contoh mengenai
ejaan ini dijelaskan lebih rinci pada sub bab contoh.

6. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD)


Berlaku sejak 23 Mei 1972, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
merupakan ejaan yang paling masyhur dan awet digunakan. Beberapa
pertimbangan sejak era awal adalah sebagai berikut :
a. Pertimbangan teknis, setiap fonem dilambangkan satu huruf
b. Pertimbangan praktis, disesuaikan dengan keperluan
c. Pertimbangan ilmiah, perlambangan mencerminkan studi yang
mendalam tentang kenyataan sosial linguistik yang berlaku
d. Pertimbangan konotatif, bunyi menunjukkan perbedaan makna
e. Pertimbangan politis, keterlibatan pemerintah menghendaki penertiban
tata istilah yang ada

D. Pemakaian Huruf

Sistem penghurufan atau pemakaian huruf adalah submateri dalam kaidah ejaan
Bahasa Indonesia yang penting untuk diperhatikan.

1. Huruf Kapital

Huruf kapital digunakan pada beberapa aspek, yaitu:


a. Huruf pertama pada awal kalimat harus kapital.
b. Lambang pada unsur-unsur kimia seperti pH dan pOH harus diperhatikan huruf
kapitalnya dan tidak boleh diletakkan di awal kalimat.
c. Setiap kata dalam judul buku atau terbitan berkala diawali dengan huruf kapital,
kecuali kata penghubung atau kata tugas: dan, dengan, yang, ke, di, untuk, dari,
terhadap, sebagai, tetapi, dalam, berdasarkan, antara, melalui, secara yang tidak
terletak pada awal kalimat.
d. Nama bangsa, bahasa, orang, hari, bulan, tarikh atau ketentuan waktu, peristiwa
sejarah, dokumen resmi, takson makhluk di atas genus, lembaga, gelar, jabatan, serta
pangkat yang diikuti dengan nama orang atau tempat juga diawali huruf kapital.
e. Setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada judul buku dan nama bangsa,
dan lain-lain seperti yang dimaksud pada poin ke 2) dan 3) di atas diawali dengan
huruf kapital. Contoh: Undang-Undang Dasar 1945, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia.
f. Nama-nama geografi, yakni sungai, kota, provinsi, negara, dan pulau menggunakan
huruf kapital. Contoh: Sungai Nil, Danau Kelimutu, Pulau Sumatera, Gunung
Semeru. Adapun untuk nama istilah atau jenis seperti bakso malang, badak lampung,
gula jawa tidak menggunakan huruf kapital. Kemudian bentuk dasar kata turunan juga
tidak menggunakan huruf kapital seperti kearab-araban dan mengindonesiakan.

4|Page
g. Penulisan nama orang pada hukum, dalil, uji, dan metode menggunakan huruf kapital.
Contoh: hukum Newton, uji Duncan, atau analisis Fourier.
h. Untuk penamaan rancangan, proses, uji, atau metode yang tidak diikuti nama orang
ditulis dengan huruf kecil, misalnya: uji kelayakan. Apabila penamaan disingkat,
singkatannya ditulis dengan huruf kapital, misalnya: air susu ibu (ASI).

2. Huruf Miring

Huruf miring atau huruf italik disebut dengan kursif. Jika diketik atau ditulis tangan,
kemiringannya ditandai dengan garis bawah tunggal. Huruf miring digunakan pada
aspek berikut:

a. Kata dan ungkapan asing yang belum dibakukan. Contoh: ad hoc, et al, in vitro,
status quo.
b. Konstanta dan peubah yang tidak diketahui dalam matematika. Contoh: n, i.
c. Penegasan atau mengkhususkan bagian kata atau kepala kata. Contoh: “Dia
tidak ditikung, tetapi menikung” dan “Bab ini tidak akan membicarakan tentang
aljabar”
d. Kata atau istilah yang diperkenalkan untuk diskusi khusus menggunakan huruf
miring, misalnya kakas atau citraan.
e. Kata atau frase yang diberi penekanan. Contoh: Buat kalimat dengan kata cinta.
f. Pernyataan rujukan silang dalam indeks. Contoh: lihat dan lihat juga.
g. Judul buku atau terbitan berkala yang disebutkan dalam tubuh tulisan dan daftar
pustaka. Contoh: majalah Bobo, buku Dilan 1991, surat kabar Jawa Pos.
h. Nama istilah seperti genus, spesies, varietas, dan forma makhluk. Contoh:
bakteri Escherichia coli. Akan tetapi, nama ilmiah takson di atas tingkat genus tidak
ditulis dengan huruf miring. Contoh: Felidae, Moraceae.

E. Contoh Ejaan
Adapun aturan beserta contoh-contoh ejaan menurut perkembangan dan sejarah
Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:

a. Contoh Ejaan Van Ophuijesen

1. Kata koe (akoe), kau, ke, se, dan di ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
Contoh: koepakai, kaulihat, seekor, kemasjid, diambil.
2. Kata poen- dihubungkan dengan kata sebelumnya. Contoh: Sekalipoen akoe tiada
sudi datang keroemah kau.
3. Ke- dan se- merupakan awalan. Contoh: kedua, sesungguhnja.
4. Awalan ber-, ter-, per- yang dirangkai dengan kata dasar berawalan huruf r akan
luluh. Contoh: beroending, terasa.
5. Akhiran -i diberi tanda ~ jika bertemu dengan kata berakhiran huruf a. Contoh:
mewarnaĩ

b. Contoh Ejaan Suwandi

5|Page
1. Huruf oe diganti u. Contoh: atoeran menjadi aturan
2. Bunyi hamzah dan bunyi sentak diganti huruf k. Contoh: tidak, rakjat
3. Pengulangan diberi angka 2. Contoh: ikan2, tjinta2an
4. Kata dasar huruf e (e pepet dalam Bahasa Jawa) boleh dihilangkan. Contoh: menteri
menjadi mentri. Namun untuk kata berimbuhan tidak dihilangkan. Contoh: perangkap
tidak boleh menjadi prangkap.

c. Contoh Ejaan Pembaruan

1. Bunyi ai, oi, au, berubah penulisannya menjadi ay, oy, aw. Contoh: santai menjadi
santay.
2. Huruf baru mulai muncul yakni dj menjadi j, tj menjadi ts, ng menjadi ŋ, nj menjadi ń,
sj menjadi š. Contoh: Sarung menjadi saruŋ
3. Fonem h yang terletak di depan dihilangkan dan dapat pula dihilangkan jika terdapat
di antara dua vokal yang berbeda. Contoh: hutang menjadi utang, tahun menjadi ta-un
4. Konsonan rangkap pada akhir kata dihilangkan. Contoh: president menjadi presiden
5. Partikel -pun ditulis terpisah. Contoh: sekalipun = sekali pun = satu kali saja
6. Kata berulang yang memiliki arti tunggal ditulis tanpa tanda hubung sedangkan yang
jamak menggunakan tanda hubung. Contoh: alunalun, bapak-bapak

d. Contoh Ejaan Melindo

1. Muncul huruf baru yakni c menggantikan tj, dan nc menggantikan nj. Contoh: tjinta
menjadi cinta
2. Muncul fonem f, ś, z. Contoh: fikiran, śair, zakat.
3. Ejaan kata yang menggunakan tanda fonem lain dari yang sudah ditetapkan sebagai
fonem Melindo dianggap kata asing. Contoh: varia, universitas

e. Contoh Ejaan LBK

1. Ada enam vokal (i, u, e, ɘ, o, a)


2. Diftong tetap
3. Di- dan ke- dibedakan preposisi dan imbuhan. Contoh: Di masjid dilaksanakan acara
akad nikah.
4. Kata ulang ditulis secara lengkap menggunakan tanda hubung. Contoh: kupu-kupu,
murid-murid
5. Beberapa istilah asing diubah. Contoh: guerilla menjadi gerilya, extra menjadi ekstra,
qalb menjadi kalbu

f. Contoh Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD)

6|Page
1. Diresmikan pemakaian huruf f, v, z, q, x. Contoh: frustasi, variabel, zakar, quran,
xenofil
2. Diresmikan pemakaian huruf kapital dan huruf miring. Contoh: Kantor Urusan
Agama (KUA)
3. Diresmikan penggunaan kata dasar, kata turunan, kata ulang, kata majemuk, kata
ganti (ku, mu, -nya), kata depan (di-, ke-, dan, dari), kata si dan sang, partikel dan
akronim, angka, dan lambang bilangan.
4. Diresmikan penulisan unsur serapan. Contoh: editor
5. Diresmikan penggunaan tanda baca (, . ; : – _ ? ! ” ” /). Contoh: Hai! Apa kabar?

F. Perbedaan EYD dan EBI

Pedoman Umum EYD adalah ejaan dalam bahasa Indonesia yang sudah
digunakan sejak tahun 1972. Sedangkan EBI ditetapkan pada tanggal 26 November
2015 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Anies Baswedan yang menjabat
saat itu dan resmi diundangkan pada tanggal 30 November 2015 oleh Direktur
Jenderal Peraturan Perundang-Undangan Kementerian Hukum dan Hak Asasi
Manusia RI. Penetapan tersebut memberikan arti, bahwa EYD sudah tidak berlaku
untuk dijadikan sebagai pedoman penulisan. Maka dari itu, perubahan ini harus kita
pahami secara saksama agar bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa yang bisa bersaing
secara global.

Adapun yang menjadi alasan sehingga dilakukan perubahan yaitu dampak


kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, penggunaan bahasa Indonesia dalam
beragam ranah pemakaian, baik secara lisan maupun tulisan semakin luas. Meski
sudah berlalu dua tahun masih banyak juga yang belum tahu. Baik itu dilingkungan
akademik ataupun non akademik. Untuk itu bagi kita yang sudah mengetahuinya,
sudah selayaknya kita memberitahukan dan menyebar luaskan ilmu pengetahuan baru
ini. Agar hasil karya tulis yang dibuat, baik karya tulis ilmiah ataupun nonilmiah
dapat diterima dan diakui sesuai dengan perkembangan zaman dan aturan baku
pemerintah saat ini.

Perubahan EYD menjadi PUEBI dirilis oleh Badan Pengembangan dan


Pembinaan Bahasa Indonesia. Perubahan ini ditetapkan dalam Peraturan Menteri dan
Kebudayaan (Permendikbud) RI Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum
Ejaan bahasa Indonesia. Selain mengubah sistem ejaan bahasa Indonesia dari EYD
menjadi PUEBI, Badan pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia juga sudah
mencetak Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi yang kelima.

Perubahan ejaan ini bukan berarti mengubah secara keseluruhan isi dari EYD.
Adapun perbedaan yang mendasar dari Ejaan yang Disempurnakan dengan Ejaan

7|Page
Bahasa Indonesia: Penambahan huruf vokal diftong ei,di EYD hanya ada tiga yaitu ai,
au, dan ao;

Penulisan huruf kapital pada EYD digunakan dalam penulisan nama orang
tidak termasuk julukan, sedangkan pada EBI huruf kapital digunakan sebagai huruf
pertama unsur nama orang termasuk julukan. Penulisan huruf tebal tidak dipakai
dalam cetakan untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau
kelompok kata; untuk keperluan itu digunakan huruf miring pada EYD, sedangkan
pada EBI Huruf tebal dipakai untuk menegaskan bagian tulisan yang sudah ditulis
miring.

Penggunaan partikel pun, pada EYD ditulis terpisah kecuali yang sudah lazim
digunakan, maka penulisannya ditulis serangkai, sedangkan pada EBI partikel pun
tetap ditulis terpisah, kecuali mengikuti unsur kata penghubung, maka ditulis
serangkai.

Penggunaan bilangan, pada EBI, bilangan yang digunakan sebagai unsur nama
geografi ditulis dengan huruf, sesangkan pada EYD tidak ada hal yang mengaturnya.
Penggunaan titik koma (;) pada EYD digunakan dalam perincian tanpa penggunaan
kata dan, sedangkan dalam EBI penggunaan titik koma (;) tetap menggunakan kata
dan. Penggunaan tanda titik koma (;) pada EBI dipakai pada akhir perincian yang
berupa klausa, sedangkan pada EYD tidak ada hal yang mengaturnya.

Penggunaan tanda hubung (-) pada EBI tidak dipakai di antara huruf dan
angka, jika angka tersebut melambangkan jumlah huruf, sedangkan pada EYD tidak
ada hal yang mengaturnya. Misalnya: LP2M LP3I. Tanda hubung (-) pada EBI
digunakan untuk menandai bentuk terikat yang menjadi objek bahasan, sedangkan
pada EYD tidak ada hal yang mengaturnya Misalnya:……pasca-, -isasi

Penggunaan tanda kurung [( )] dalam perincian pada EYD hanya digunakan


pada perincian ke kanan atau dalam paragraf, tidak dalam perincian ke bawah,
sedangkan pada EBI tidak ada hal yang mengaturnya. Penggunaan tanda elipsis ( … )
dalam EYD dipakai dalam kalimat yang terputus-putus, sedangkan dalam EBI tanda
elipsis digunakan untuk menulis ujaran yang tidak selesai dalam dialog.

BAB. III

8|Page
PENUTUP
A.Kesimpulan
Ejaan Bahasa indonesia

1. Ejaan bahasa Indonesia telah mengalami perkembangan. Perkembangan tersebut


diantaranya ejaan Ophujsen, ejaan Soewandi, ejaan Pembaharuan, ejaan Melindo, ejaan Baru,
dan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

2. Ejaan adalah sebuah ilmu yang mempelajari bagaimana ucapan atau apa yang dilisankan
oleh seseorang ditulis dengan perantaraan lambang-lambang atau gambar-gambar bunyi.

3. Ejaan memiliki komponen-komponen penulisan huruf, penulisan kata, penggunaan tanda


baca, serta unsur serapan.

4. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) merupakan seperangkat aturan atau kaidah


penggunaan Bahasa Indonesia dalam konteks resmi, baik lisan maupun tulisan

5. Penulisan huruf yang terdapat dalam ejaan yaitu penulisan hurf miring dan huruf kapital.

6. Penulisan kata yang terdapat dalam sebuah ejaan yakni kata dasar, kata ulang, kata ganti,
gabungan kata, dll.

7. Pemakaian tanda baca yang terdapat dalam ejaan diantaranya tanda titik, tanda koma, tanda
seru, tanda tanya, titik dua, tanda petik, tanda miring, dll.

8. Dari penjabaran diatas, ejaan sangat dibutuhkan dalam hal kepenulisan. Misalnya dalam
penulisan karya ilmiah, skripsi, dan thesis.

B. Saran
Penulis menyadari bahwa makalah diatas banyak sekali kesalahan dan jauh dari
kesempurnaan. Penulis akan memperbaiki makalah tersebut dengan banyak sumber yang
dapat dipertanggungjawabkan. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran
mengenai pembahasan makalah dalam kesimpulan di atas.

DAFTAR PUSTAKA
9|Page
https://bahasa.foresteract.com/kaidah-ejaan/3/ (diakses pada tanggal 08 September 2019)

https://fachmycasofa.com/pedoman-umum-ejaan-bahasa-indonesia-puebi/ (diakses pada tanggal


08 September 2019)
https://duniakampus7.blogspot.com/2014/03/pengertian-ejaan-bahasa-indonesia.html (diakses
pada tanggal 08 September 2019)

10 | P a g e