Anda di halaman 1dari 19

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah

Dewasa ini, dunia berada dalam ambang batas kehancuran. Berbagai macam
permasalahan muncul pada setiap bagian kehidupan masyarakat global. Mulai dari
masalah kesehatan, keamanan, sosial dan budaya, serta ideologi negatif yang tersebar
di seluruh belahan dunia. Salah satu masalah yang terbesar pada saat ini adalah
kesehatan.
Tidak bisa dipungkiri bahwa masalah kesehatan telah memakan sangat banyak
korban jiwa. Salah satu contoh dari masalah tersebut, yaitu ketika kota Minamata,
Jepang terkena wabah penyakit yang berasal dari limbah logam berat yang
menyebabkan banyak korban jiwa. Berdasarkan permasalahan tersebut, kami ingin
membuat produk dari bahan yang mudah didapatkan untuk mengatasi masalah yang
sulit diselesaikan. Untuk itu, kami memulai penelitian pada kota tempat tinggal kami,
yaitu Kota Makassar.
Kota Makassar merupakan salah satu kota yang sibuk di Indonesia. Hal ini
dikarenakan oleh beberapa faktor, yang pertama dari peningkatan penduduk kota
Makassar yang semakin meningkat. Peningkatan pertumbuhan penduduk berdasarkan
sensus penduduk pada tahun 2010 terdapat 1.339.347 jiwa dengan laju pertumbuhan
penduduk rata – rata yakni sebesar 1,65% tiap tahunnya. Selain itu terdapat kawasan
industri di Kota 1Makassar, yaitu KIMA atau Kawasan Industri Makassar.
Adanya peningkatan jumlah penduduk yang signifikan dan juga kawasan
industri dapat memberikan keuntungan bagi Kota Makassar dalam hal Sumber Daya
Manusia (SDM) dan kemajuan pada sektor ekonomi. Tetapi, disisi lain terdapat pula
kerugian yang dapat mengganggu keseimbangan lingkungan dan aktivitas
masyarakat. Kerugian tersebut berupa adanya limbah logam berat yang dihasilkan
dari hasil limbah rumah tangga dan juga berbagai pabrik yang ada di Kawasan
Industri Makassar. Keberadaan limbah logam berat yang dihasilkan dari rumah

1
tangga dan kawasan industri menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan di kota
Makassar.
Bukti dari hal tersebut terdapat pada kawasan muara sungai Tallo, Makassar.
Kawasan muara sungai ini tercemar oleh logam berat dan Bahan Berbahaya dan
Beracun (B3) karena lokasinya dekat dengan kawasan industri. Probabilitas utama
adalah tidak adanya proses IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) yang baik dari
industri tersebut. Logam berat adalah unsur – unsur kimia dengan berat jenis lebih
besar dari 5 g/cm3.
Logam berat yang berbahaya di perairan diantaranya adalah antimony (Sb),
arsenic (As), berilium (Be), cadmium (Cd), kromium (Cr), tembaga (Cu), timbal (Pb),
merkuri (Hg), nikel (Ni), selenium (Se), kobalt (Co), dan seng (Zn) (Padudaru, 2008).
Logam berat tersebut tidak dapat didegredasi oleh tubuh, memiliki sifat toksisitas
(racun) pada makhluk hidup walaupun pada konsentrasi yang rendah, dan dapat
terakumulasi dalam jangka waktu tertentu. Daya racun yang dimiliki akan bekerja
sebagai penghalang kerja enzim, sehingga proses metabolisme tubuh terputus. Efek
selanjutnya, logam berat ini akan bertindak sebagai penyebab alergi, mutagen,
teratogen, atau karsinogen bagi manusia. Jalur masuk logam berat adalah melalui
kulit, pernapasan, dan pencernaan (Sembiring, 2008; Mahopatra 2009).
Dalam penelitian sebelumya mengenai kandungan logam berat di kawasan
Muara Sungai Tallo, Makassar, terdeteksi tiga logam berat utama yaitu Cadmium
(Cd), Tembaga/Cuprum (Cu) dan Timbal/Plumbum Pb). Pada penelitian tersebut,
dilakukan metode spektrofotometer untuk menganalisis data kandungan logam berat
pada sampel air sungai Tallo. Ternyata, didapati kandungan Pb sebesar 0,097 ppm,
Cd sebesar 0,729 ppm dan Cu sebesar 0,165 ppm.1 Padahal, berdasarkan pedoman
baku mutu lingkungan menurut Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor :
51 Tahun 2004 tentang baku mutu air laut, ambang batas Pb pada air laut untuk
wisata bahari adalah 0,005 ppm, untuk biota laut 0,008 ppm dan untuk perairan
pelabuhan 0,05 ppm.
Secara nilai kandungan, air pada Muara Sungai Tallo, Makassar telah

2
melebihi ambang batas kewajaran dan berbahaya untuk dikonsumsi. Berdasarkan
masalah tersebut kami terdorong untuk membuat material adsorben ion logam berat
pada kawasan sungai tallo, Makassar. Berdasarkan penelitian bahwa selulosa dapat
menyerap ion logam berat. Dari hal tersebut kami tertarik untuk membuat selulosa
yang berbahan dasar bakteri Acetobacter xylinum yang terdapat dalam medium air
buah kelapa.
Alasan kami menggunakan selulosa bakterial karena bakteri mengasilkan
selulosa bakterial dalam waktu beberapa hari, sedangkan tanaman memerlukan 30
tahun pada usia produktif sehingga menjadikan selulosa bakterial merupakan bahan
kunci untuk mencegah pemanasan global dan pelestarian alam (Suharjono dkk,
2011). Oleh karena itu, dengan semangat yang besar kami berusaha untuk membuat
produk yang dapat mengurangi atau bahkan jika produk ini dikembangkan atas izin
yang maha kuasa masalah limbah logam berat ini dapat diselesaikan.

1 Heru, 2013, Akumulasi dan Distribusi Logam Berat pada Vegetasi Mangrove di Perairan Pesisir
Sulawesi Selatan, Jurnal Penelitian, Makassar, Balai Penelitian Kehutanan Makassar

3
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disusun rumusan masalah
seperti berikut :

1. Bagaimana cara mengurangi kandungan logam berat pada kawasan Muara Sungai
Tallo, Makassar?

1.3 Batasan Masalah

Penelitian ini kami fokuskan pada kemampuan material adsorben berupa selulosa
bakterial pada medium air buah kelapa dalam menyerap ion logam berat serta
menganalisis kandungan logam berat pada air pra (sebelum) dan pasca (setelah)
penelitian sebagai bahan analisis penelitian.

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian


1.4.1 Tujuan Penelitian
1. Mengetahui kemampuan selulosa bakterial pada medium air kelapa dalam
menyerap ion logam berat Cd(II) yang terdeteksi pada kandungan air serta
mengetahui kondisi optimum dari konsentrasi awal larutan, waktu kontak,
dan PH larutan.
2. Mengetahui pengaruh konsentrasi sukrosa 5% dan urea 0,25% sebagai
peningkat jumlah selulosa bakterial dalam proses penyerapan ion logam
berat.
1.4.2 Manfaat Penelitian
1. Membantu pemerintah Kota Makassar serta industri dan masyarakat di
kawasan Muara Sungai Tallo, Makassar untuk mengatasi limbah
logam berat pada sungai dengan mengandalkan material adsorben
selulosa mikrobial yang kami buat sebagai pembantu teknologi IPAL

4
(Instalasi Pengolahan Air Limbah) sehingga layak konsumsi.
2. Membantu mengatasi masalah lingkungan dan kesehatan yang terkait
dengan limbah logam berat di seluruh dunia.

5
BAB 2

KAJIAN PUSTAKA
2.1 Hasil Penelitian Relevan
Pada penelitian kali ini, kami mencoba untuk menggabungkan beberapa
penelitian sebelumnya tentang peningkatan jumlah selulosa dengan penambahan
sukrosa dan urea3, dan pemanfaatan bakteri Acetobacter xylinum sebagai adsorben
ion logam berat kromium(III)4. Pertimbangan kami menggunakan air kelapa adalah
karena Indonesia memiliki lahan perkebunan kelapa terluas di dunia yakni 3,88 juta
ha (31,2 persen) dari total areal dunia sekitar 12 juta ha (Astawan, 2007; Sunny,
2007; Faozi, 2009). Kelapa memberikan banyak hasil bagi manusia, tetapi airnya
yang dihasilkan di Indonesia mencapai lebih dari 900 juta liter per tahun terbuang
percuma sebagai limbah. Selain itu, Produksi selulosa bakterial yang dapat dilakukan
secara intensif merupakan alternatif selulosa tanaman, karena bakteri menghasilkan
selulosa bakterial dalam waktu beberapa hari sedangkan tanaman memerlukan waktu
30 tahun pada usia produktif sehingga menjadikan selulosa bakterial merupakan
bahan kunci untuk mencegah pemanasan global dan pelestarian alam.(Suharjono
dkk,2011).

3.Suharjono, dkk.2011.Produksi Selulosa Bakterial dari Air Buah Kelapa dalam Berbagai Konsentrasi
Sukrosa dan Urea.Malang:Universitas Brawijaya (di dalam Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi)

6
4.Afrizal.2007.Selulosa Bakterial Nata de Coco sebagai Adsorban pada Proses Adsorbsi Logam
Cr(III).Jakarta:Universitas Negeri Jakarta

2.2 Kajian Pustaka

2.2.1 Air Kelapa

Air kelapa adalah sebuah cairan yang berada di dalam kelapa hijau muda (buah
dari pohon kelapa). Berikut ini beberapa unsur kimia di dalam air kelapa adalah
:
1. Nitrogen, pada unsur ini air kelapa memiliki kandungan sendiri
diantaranya protein yang terdiri dari asam amino, seperti alanin,
sistin, arginin, alin, dan serin. Kandungan asam amino buah kelapa
lebih tinggi dibanding asam amino yang terdapat pada susu sapi.
2. Karbon, pada air kelapa unsur ini berbentuk karbohidrat, seperti
glukosa, sukrosa, fruktosa, sorbitol, inositol.5

2.2.2 Sungai Tallo Makassar


Sungai Tallo secara administrasi termasuk dalam kelurahan Parangloa, Kota
Makassar dan secara geografis terletak pada titik koordinat 07° 70’ 90,7” LS
dan 94° 34’ 87,8”BT. Dalam penelitian sebelumnya oleh Heru (2013), didapati
kandungan Pb sebesar 0,097 ppm, Cd sebesar 0,792 ppm dan Cu sebesar
0,165 ppm. Data tersebut menunjukkan bahwa pencemaran logam berat di
Sungai Tallo sangat berat. Kondisi muara sungai yang terletak dekat dengan
kawasan 8ectin8e merupakan pemicu utama terjadinya pencemaran berat.

2.2.3 Logam Berat


Logam berat adalah unsur-unsur kimia dengan densitas lebih besar dari 5
g/cm3, terletak di sudut kanan bawah pada sistem periodik unsur, mempunyai
afinitas yang tinggi terhadap S dan biasanya bernomor atom 22 sampai 92,
dari periode 4 sampai 7 (Miettinen, 1997 dalam Ernawati, 2010). Logam berat

7
merupakan bahan pencemar yang berbahaya karena bersifat toksik. Logam
berat yang ada dalam perairan akan mengalami proses pengendapan dan
terakumulasi sedimen, kemudian terakumulasi dalam tubuh biota laut yang ada
dalam perairan, baik melalui insang maupun melalui rantai makanan dan
akhirnya sampai pada manusia (Subowo dkk, 1999).

2.2.4 Selulosa
Selulosa (C6H10O5)n adalah polimer berantai panjang polisakarida karbohidrat,
dari β-glukosa. Selulosa merupakan karbohidrat utama yang disintesis oleh
tanaman dan menempati hampir 60% komponen penyusun struktur tanaman.
Selulosa tidak dapat dicerna oleh manusia dan tidak larut dalam air dan
pelarut organic, tetapi larut dalam kuprik hidroksida berammonia (bahan uji
Schweitzer), larutan zink klorida, asam hidroklorik. Selulosa tidak
memberikan warna biru dengan iodin (Artati, 2009).

2.2.5 Selulosa bakterial


Selulosa bakterial merupakan selulosa yang diproduksi oleh mikroorganisme terutama
genus Acetobacter, mempunyai sifat kemurnian yang lebih unggul
dibaningkan selulosa kayu, antara lain bersifat hidrofilik, sifat fisik mekanik
yang tinggi dalam keadaan basah dan kering, berbentuk anyaman halus yang
unik dan kuat serta diproduksi dari berbagai macam substrat yang relatif
murah ( Suryani dkk, 2000).

8
2.2.6 Bakteri Acetobacter xylinum
Acetobacter xylinum adalah salah satu jenis bakteri yang banyak
bermanfaat dalam dunia industri seperti nata de coco, nata de cassava, nata de soya,
tepung mocaf, dan lain-lain. Acetobacter xylinum merupakan bakteri yang
menguntungkan dan tidak berbahaya. Bakteri ini mampu memfermentasi bahan
menghasilkan bahan selulosa. Acetobacter xylinum telah banyak berjasa
menghasilkan produk bernilai ekonomis sehingga perlu dikembangkan terus
pemanfaatannya dalam bioeteknologi diberbagai bidang. Bakteri ini merupakan jenis
bakteri asam yang mudah pertumbuhannya dan mudah pengembangbiakannya.
Acetobacter xylinum merupakan bakteri berbentuk batang pendek,
mempunyai panjang kurang lebih 2 mikron dan permukaan dindingnya berlendir.
Acetobacter xylinum mampu mengoksidasi glukosa menjadi asam glukonat dan
asam asetat lain pada waktu yang sama, dan mempolimerisasi glukosa sehingga
terbentuk selulosa. Acetobacter xylinum memiliki ciri - ciri antara lain merupakan
gram negatif pada kultur yang masih muda, sedangkan pada kultur yang sudah tua
merupakan gram positif, bersifat obligat aerobic artinya membutuhkan oksigen
untuk bernafas, membentuk batang dalam medium asam, sedangkan dalam medium
alkali berbentuk oval, bersifat non mortal dan tidak membentuk spora, tidak mampu
mencairkan gelatin, tidak memproduksi H2S, tidak mereduksi nitrat dan termal

death point pada suhu 65-70°C.6

2.2.7 Kadmium (Cd)


Kadmium berwarna putih keperakan menyerupai aluminium. Logam ini
digunakan untuk melapisi logam seperti halnya seng, sehingga kualitasnya
menjadi lebih baik walaupun harganya lebih mahal. Logam ini juga dapat 9
digunakan dalam elektrolisis dimana logam tersebut direndam atau disemprot.
Seperti halnya Pb, Cd juga banyak digunakan sebagai pigmen untuk industri
cat, enamel dan plastik, biasanya dalam bentuk sulfida yang dapat memberi
warna kuning sampai coklat sawo matang.
Sifat kimia dan kegunaan logam ini :

a) Mempunyai sifat tahan panas sehingga sangat bagus untuk


campuran bahanbahan keramik, enamel dan plastik.
b) Sangat tahan terhadap korosi, sehingga sangat bagus untuk
melapisi pelat besi dan baja.
c) Kadmium tidak larut dalam basa dan dalam asam kelarutannya
lebih kecil daripada seng. Kadmium banyak digunakan dalam
elektroplating, sebagai elektroda dan sebagai campuran
konduktor.
Sifat kimia yang lain yaitu kadmium dapat membentuk
persenyawaaan, antara lain CdO, Cd(OH)2, CdS, CdF2. Persenyawaan
kadmium sangat beracun, kemungkinan karena substitusi kadmium
untuk Zn atau logam lain dalam suatu enzim atau protein lain
sehingga sangat berbahaya terhadap manusia (Widowati, 2008).

Tabel 2. Karakteristik Fisik Kadmium (www.cadmium.or.html)


Massa Atom 112,40 g.mol-1
Elektron Valensi 4d105s2
Jari-jari 0,156 nm
Jari-jari ion Cd2+ 0,099 nm
Kelimpahan 7,9.1016
Densitas 8,7 g.cm-3
Logam berat kadmium dapat masuk ke dalam tubuh melalui berbagai cara,

diantaranya dari udara yang tercemar, kontaminasi perairan, jalur rantai makanan

dan wadah makanan/minuman yang berlapis kadmium. Kadmium dalam tubuh

dapat merusak sistem fisiologis tubuh antara lain sistem urinaria, sistem respirasi

(paru-paru), sistem sirkulasi darah dan jantung, kerapuhan tulang dan sistem

reproduksi (Widowati, 2008). 7

2.3 Kerangka Berpikir


Dengan adanya berbagai masalah yang ditimbulkan oleh limbah logam berat seperti

masalah lingkungan dan kesehatan yang sangat membahayakan kelangsungan hidup

berbagai jenis makhluk hidup, maka kami berinisiatif untuk merancang dan

membuat suatu produk sebagai solusi dari masalah tersebut. Adapun produk yang

kami rancang ialah selulosa bakterial sebagai adsorben ion logam berat.Alasan kami

menggunakan selulosa bakterial karena karena bakteri mengasilkan selulosa

bakterial dalam waktu beberapa hari, sedangkan tanaman memerlukan 30 tahun


pada usia produktif sehingga menjadikan selulosa bakterial merupakan bahan kunci

untuk mencegah pemanasan global dan pelestarian alam (Suharjono dkk, 2011).

1. Data diakses pada laman http://www.biojanna.org/unsur-kimia-dalam-buah-kelapa/ (data diakses


pada tanggal 26 Juni 2017, pada pukul 11.46 WITA)
2. Data diakses pada laman http://www.agrotekno-lab.com/2015/04/karakteristik-dan-pemanfaatan-
bakteri.html
(data diakses pada tanggal 20 Juni 2017 , pada pukul 22.02 WITA)
3. Handayani, Aries Wiwit. 2010. Penggunaan Selulosa Daun Nanas Sebagai Adsorben
Logam Berat Cd(II). Surakarta:Universitas Sebelas Maret
Selain itu, selulosa bakterial secara kimiawi lebih murni karena bebas dari lignin,
12ectin, dan hemiselulosa, memiliki derajat kristalinitas polimer dan derajat
polimerisasi yang lebih tinggi serta kekuatan mekanik dan kapasitas menyimpan air
juga lebih tinggi dibandingkan serat selulosa tanaman (Tsuchida & Yoshinaga,
1997).
Dalam pembuatannya kami menggunakan bakteri Acetobacter xylinum.
Pertimbangan kami menggunakan bakteri tersebut karena Acetobacter xylinum
merupakan bakteri asam asetat yang tidak menyebabkan penyakit dan ramah bagi
manusia (Tsuchida & Yoshinaga, 1997). Selain itu, bakteri ini merupakan jenis
bakteri asam yang mudah pertumbuhannya dan mudah pengembangbiakannya,
sehingga kami berasumsi bahwa bakteri tersebut mudah diperoleh dan
dikembangbiakkan.

2.4 Hipotesis Penelitian

Adapun hipotesis penelitian yang akan kami jalankan pada penelitian kali ini, yaitu:

1. H0: Selulosa bakterial dengan penambahan 5% sukrosa dan 0,25% urea


berbahan dasar Acetobacter xylinum tidak dapat menyerap ion logam
berat pada kawasan muara Sungai Tallo, Makassar.
2. H1: Selulosa bakterial dengan penambahan 5% sukrosa dan 0,25% urea
berbahan dasar Acetobacter xylinum dapat menyerap ion logam berat
pada kawasan muara Sungai Tallo, Makassar.
BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian

Desain penelitian yang akan kami jalankan adalah desain experimental


laboratorium. Yaitu, dengan memanfaatkan laboratorium sebagai tempat
pengambilan dan analisis data. Pada pendekatan penelitian kami menggunakan
metode campuran, yaitu metode campuran antara kualitatif dan kuantitatif.
Untuk data kualitatif, kami memperolehnya dengan cara studi kepustakaan.
Sedangkan, pada data kuantitatif kami memperolehnya melalui analisis data
yang kami peroleh dari setiap percobaan.

3.2 Metode Penelitian

Berikut ini adalah metode penelitian yang akan kami jalankan kedepannya.

3.2.1 Alat dan Bahan Penelitian

3.2.1.1 Alat

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain;


pengaduk, oven (Memmert), blender, pH indikator, dan alat-alat gelas
yang biasa digunakan dalam laboratorium kimia (pyrex).
Instrumentasi yang digunakan adalah Spektrofotometer FTIR,
spektrofotometer UV-vis, SEM, kain kasa, tupperware bening ukuran
9 x 13 x 4,5 cm3

3.2.1.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
nata de coco. Cd(NO3)2.4H2O (Merck), larutan NaOH 0,1 M, larutan
HNO3 0,1 M, kertas Whatman No.42, dan akuademin.
3.2.1.3 Metode
Metode pada penelitian kami mengacu pada dua penelitian
sebelumnya, tentang peningkatan jumlah selulosa bakterial dengan
penambahan sukrosa dan urea3, serta penelitian tentang pemanfaatan
bakteri Acetobacter xylinum sebagai adsorben ion logam berat Cr(III)4.
a. Penambahan Sukrosa dan Urea pada Air Kelapa
Air buah kelapa disaring dengan menggunakan kain kasa, kemudian
direbus sampai mendidih selama 15 menit. Suspensi air buah kelapa
kemudian dibuat formula medium yang mengandung sukrosa sebagai
sumber karbon dengan konsentrasi 5% dan urea sebagai sumber nitrogen
dengan konsentrasi 0,25% formula suspensi medium sebanyak 150 mL
dalam labu Erlenmeyer diatur pada pH 4,5 kemudian direbus sampai
mendidih selama 15 menit. Suspensi medium tersebut kemudian dituang
secara aseptis ke dalam kotak tupperware bening ukuran 9 x 13 x 4,5 cm3.
Lalu air kelapa difermentasi untuk memperolah nata de coco.

b. Pembuatan Adsorben nata de coco


Nata de coco yang dihasilkan dari proses fermentasi limbah air kelapa,
sebanyak ± 40 kg, ditiriskan dan dipotong-potong kecil. Kemudian nata de
coco dihancurkan sampai menjadi bubur dan dikeringkan pada pada suhu
sekitar 950C selama 8 jam dalam plat kaca.

c. Optimasi konsentrasi awal larutan pada adsorpsi Cadmium oleh nata de


coco
Ditimbang ± 10 gram serbuk selulosa3 nata de coco, dan dimasukkan dalam
erlenmeyer 250 mL. Selanjutnya ditambahkan 25,0 mL larutan Cadmium
dengan konsentrasi yang bervariasi yaitu : 50,0; 100; 150,0; 200 dan 250
ppm, kemudian aduk dengan stirer selama 50 menit. Selanjutnya suspensi
disaring dengan kertas Whatman No.42. Filtratnya diukur dengan
Spektrofotometer UV-vis.
d. Optimasi konsentrasi awal larutan pada adsorpsi Cadmium oleh nata de
coco
Ditimbang ± 10 gram serbuk selulosa3 nata de coco, dan dimasukkan dalam
erlenmeyer 250 mL. Selanjutnya ditambahkan 25,0 mL larutan Cadmium
dengan konsentrasi yang bervariasi yaitu : 50,0; 100; 150,0; 200 dan 250
ppm, kemudian aduk dengan stirer selama 50 menit. Selanjutnya suspensi
disaring dengan kertas Whatman No.42. Filtratnya diukur dengan
Spektrofotometer UV-vis.

e. Optimasi pH larutan pada adsorpsi Cadmium oleh nata de coco


Disiapkan 4 buah erlenmeyer 250 ml dan dimasukkan ± 10 gram serbuk
selulosa nata de coco untuk setiap erlenmeyer. Selanjutnya ke dalam
masing- masing erlenmeyer ditambahkan 25,0 mL larutan Cadmium
dengan pH yang bervariasi yaitu : 3, 4, 5 dan 6 dengan konsentrasi awal
larutan 150 ppm, kemudian diaduk dengan stirer selama 50 menit (waktu
kontak optimum). Pengaturan pH dilakukan dengan penambahan larutan
NaOH 0,1 M atau HNO3 0,1 M. Selanjutnya saring suspensi dengan kertas
Whatman No.42. Filtrat diukur dengan Spektrofotometer UV-vis.

f. Identifikasi gugus fungsi nata de coco dengan FT-IR


Untuk analis permukaan serbuk selulosa nata de coco sebelum dan setelah
proses adsorpsi digunakan SEM.

3.3 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini akan kami jalankan sesuai dengan waktu yang ditentukan
oleh pihak penyelenggara Olimpiade Penelitian Siswa Indonehsia (OPSI) Tahun
2017. Adapun kisaran waktu yang kami butuhkan sekitar 12-14 minggu.
Penelitian ini akan kami fokuskan di Laboratorium Kimia, Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam di Universitas Negeri Hasanuddin, Makassar atau
Laboratorium Kimia, SMA Negeri 17 Makassar.
DAFTAR PUSTAKA
Afrizal.2007.Selulosa Bakterial Nata de Coco sebagai Adsorban pada Proses
Adsorbsi Logam Cr(III).Jakarta:Universitas Negeri Jakarta

Artati, E.K., Effendi, A., Haryanto, T., 2009, Pengaruh Konsentrasi Larutan
pemassak pada Proses Delignifikasi Eceng Gondok dengan Proses
Organosolv, Ekuilibrium, Vol. 8 No. 1, hal 25-28.

Astawan, Made. 2007. Nata De Coco. Departemen Teknologi


Pangan dan Gizi – IPB.
http://kulinerkita.multiply.com/reviews/item/137

Ernawati. 2010. Kerang Bulu (Anadara inflata) sebagai bioindikator


pencemaran logam berat timbal (Pb) dan Cadmium (Cd) di muara Sungai
Asahan. Tesis. Universitas Sumatera Utara. Medan. (Tidak diterbitkan)

Faozi, M. M. 2009. Peluang Pasar Produk dari Kelapa Indonesia: Analisa


Dampak dari Menipisnya Cadangan Minyak Bumi dan Perubahan
Iklim http://www.mmfaozi.com/peluang-pasar-produk-dari-kelapa-
indonesia-analisa-dampak- dari-menipisnyacadangan-minyak-bumi-
dan-perubahan-iklim.html

Handayani, Aries Wiwit. 2010. Penggunaan Selulosa Daun Nanas Sebagai


Adsorben Logam Berat Cd(II). Surakarta:Universitas Sebelas Maret

Heru, 2013, Akumulasi dan Distribusi Logam Berat pada Vegetasi Mangrove di
Perairan Pesisir Sulawesi Selatan, Jurnal Penelitian, Makassar, Balai
Penelitian Kehutanan Makassar.

Mohapatra, M., Khatun, S., Anand, S., 2009, Adsorption Behaviour of Pb(II),
Cd(II) and Zn(II) on NALCO Plant Sand, Indian Journal of Chemical
Technology, Vol. 16, pp. 291-300.

Paduraru, C., Tofan, L., 2008, Investigations on The Possibility of Natural


Hemp Fibres use for Zn (II) Ions Removal From Wastewaters,
Environment Engineering and Management Journal, Vol.7, 687-693.
Sembiring, Z., Suharso, Regina, Faradila, M., Murniyarti, 2008, Studi Proses
Adsorbsi – Desorbsi Ion Logam Pb (II), Cu (II), dan Cd (II) terhadap
Pengaruh Waktu dan Konsentrasi pada Biomasssa Nannochloropsis sp.
Yang Terenkapsuli Aqua-Gel Silika dengan Metode Kontinyu, Prosiding
Seminar Nasional Sains dan Teknologi-11. 591-607.

Subowo, E. Tuberkih, A.M. Kurniawansyah, dan I. Nasution. 1999. Identifikasi


dan pencemaran kadmium (Cd) untuk padi gogo. Hlm. 105-123. Dalam
Prosiding Seminar Nasional Sumber Daya Lahan. Pusat Penelitian
Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Suharjono, dkk.2011.Produksi Selulosa Bakterial dari Air Buah Kelapa dalam


Berbagai Konsentrasi Sukrosa dan Urea.Malang:Universitas Brawijaya
(dalam Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi)

Sunny. 2007. Indonesia Masih Abaikan Potensi Kelapa. SUARA PEMBARUAN


DAILY. Wed, 28 Mar 2007 08:21:39 -0800.

Suryani, dkk.2000.Proses Produksi dan Pemurnian Selulosa Mikrobial untuk


Membran Mikrofiltrasi.

Tsuchida, T. And F. Yoshinaga. 1997. Production of Bacterial Celluose by


Agitation Culture System. Pure & Appl. Chem. 69(11): 2453 – 2458.

Widowati, W., Astiana, S., Raymond, J.R., 2008, Efek Toksik Logam, Andi
Offset, Yogyakarta.

http://www.antarasulsel.com/berita/55131/bkkbn-paparkan-laju-
pertumbuhan-penduduk- makassar

www.cadmium.or.html

http://www.biojanna.org/unsur-kimia-dalam-buah-kelapa/ (data diakses


pada tanggal 26 Juni 2017, pada pukul 11.46 WITA)

http://www.agrotekno-lab.com/2015/04/karakteristik-dan-
pemanfaatan-bakteri.html (data diakses pada tanggal 20 Juni
2017 , pada pukul 22.02 WITA)