Anda di halaman 1dari 9

TEORI ATRIBUSI DAN TEORI INTERAKSI

IMAJINER

Oleh :
Nama : Hasni
Nim : 50700118007
Kelas : IKOM A/IV

ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM ALAUDDIN MAKASSAR
2020
A. TEORI ATRIBUSI
Teori atribusi adalah teori yang menjelaskan tentang perilaku seseorang. Teori
ini mengacu tentang bagaimana seseorang menjelaskan penyebab perilaku orang lain
atau dirinya sendiri yang disebabkan pihak internal misalnya sifat, karakter, sikap dan
lain-lain. Ataupun eksternal misalnya tekanan situasi atau keadaan tertentu yang akan
memberikan pengaruh terhadap perilaku individu dalam hidupnya, seseorang akan
membentuk ide tentang orang lain dan situasi disekitarnya yang menyebabkan
perilaku seseorang dalam persepsi sosial yang disebut dengan dispositional
attributions dan situationalattributions.
Dispositional attributions atau penyebab internal yang mengacu pada perilaku
individual yang ada dalam diri seseorang seperti kepribadian, persepsi diri,
kemampuan dan motivasi sedangkan Situationalattributions atau penyebab eksternal
yang mengacu pada lingkungan sekitar yang dapat mempengaruhi perilaku seperti
kondisi sosial, nilai-nilai sosial, dan pandangan masyarakat dengan kata lain setiap
tindakan atau ide yang akan dilakukan oleh seseorang atau dipengaruhi oleh faktor
internal atau faktor eksternal individu tersebut.1
Teori atribusi mengembangkan konsep cara-cara penilaian manusia yang
berbeda, bergantung pada makna yang dihubungkan dengan perilaku tertentu.
perilaku disebabkan secara internal atau eksternal dipengaruhi oleh tiga faktor berikut
ini:
1. Kekhususan merujuk pada apakah seorang individu memperlihatkan perilaku.
Perilaku yang berbeda dalam situasi-situasi yang berbeda. Apabila perilaku
dianggap biasa maka perilaku tersebut disebabkan secara internal. Sebaliknya,
apabila perilaku dianggap tidak biasa maka perilaku tersebut disebabkan secara
eksternal.

2. Konsensus merujuk pada apakah semua individu yang menghadapi situasi yang
serupa merespon dengan cara yang sama. Apabila konsensus rendah, maka
perilaku tersebut disebabkan secara internal. Sebaliknya, apabila consensus tinggi
maka perilaku tersebut disebabkan secara eksternal.

1
Muhammad Budyatna, Teori-Teori Mengenai Komunikasi Antarpribadi, (Jakarta : PrenadaMedia Group,
2015), hal 42.
3. Konsistensi merujuk pada apakah individu selalu merespons dalam cara yang
sama. Semakin konsisten perilaku, maka perilaku tersebut disebabkan secara
internal. Sebaliknya, semakin tidak konsisten perilaku, maka perilaku tersebut
disebabkan secara eksternal. 2
Teori atribusi memberikan pemahaman akan reaksi seseorang terhadap
peristiwa di sekitar mereka untuk mengetahui alasan-alasan mereka atas kejadian
yang di alami. Teori atribusi dijelaskan bahwa terdapat perilaku yang berhubungan
dengan sikap dan karakteri individu, maka dapat dikatakan bahwa hanya melihat
perilaku seseorang dapat diketahui sikap atau karakter orang tersebut serta dapat
memprediksi perilaku seseorang dalam menghadapi situasi tertentu.
kekuatan internal (atribut personal seperti kemampuan, usaha dan kelelahan)
dan kekuatan eksternal (atribut lingkungan seperti aturan dan cuaca) bersama-sama
menentukan perilaku manusia. Dia menentukan bahwa merasakan secara tidak
langsung adalah determinan paling penting untuk perilaku. Atribusi internal maupun
eksternal telah dinyatakan dapat mempengaruhi terhadap evaluasi kinerja individu.3

Atribusi merupakan proses yang dilakukan untuk mencari sebuah jawaban atau
pertanyaan mengapa atau apa sebabnya perilaku orang lain ataupun diri sendiri. Proses
atribusi ini sangat berguna untuk membantu pemahaman kita akan penyebab perilaku dan
merupakan mediator penting bagi reaksi kita terhadap dunia sosial. Atribusi berarti upaya kita
udntuk memahami penyebab di balik perilaku orang lain, dan dalam beberapa kasus, juga
penyebab dibalik perilaku kita sendiri.

Atribusi terdiri dari 3 dimensi yaitu;

2
Alo Liliweri. Komunikasi Antarpersonal. (Jakarta : PrenadaMedia Group, 2017, hal 170.
3
Semy Pasireron, JURNAL MANEKSI VOL 5, NO. 1, JUNI 2016.
1. Lokasi penyebab, masalah pokok yang paling umum dalam persepsi sebab akibat
adalah apakah suatu peristiwa atau tindakan tertentu disebabkan oleh keadaan internal
(hal ini disebut sebagai atribusi internal) atau kekuatan eksternal (atribusi eksternal).
2. Stabilitas, dimensi sebab akibat yang kedua adalah berkaitan dengan pertanyaan
apakah penyebab dari suatu peristiwa atau perilaku tertentu itu stabil atau tidak stabil.
Dengan kata lain stabilitas mengandung makna seberapa permanen atau berubah-
ubahnya suatu sebab.
3. Pengendalian, dimensi ini berkaitan dengan pertanyaan apakah suatu penyebab dapat
dikendalikan atau tidak dapat dikendalikan oleh seorang individu. Terdapat dua tujuan
utama melakukan proses atribusi yaitu :
a.) Proses atribusi mempunyai tujuan untuk memperoleh pemahaman terhadap dunia.
Kesimpulan-kesimpulan dibuat untuk memahami lingkungan dan memprediksi
kejadian-kejadian di masa yang akan datang .
b). Proses atribusi yang dipelajari secara alami dan mempunyai tujuan untuk
menjelaskan tindakan-tindakannya sendiri serta berusaha untuk mengendalikan
tindakan-tindakan orang lain yang mempunyai hubungan interpersonal dekat dengan
dirinya..4

B. TEORI INTERAKSI IMAJINER

Teori interaksi imajiner mengacu pada proses kognisi sosial dimana


para individu membayangkan dan oleh karena itu secara tidak langsung mereka
sendiri mengalami dalam pertemuan-pertemuan yang diharapkan dengan orang
lain. Teori ini memiliki banyak karakteristik yang sama dengan percakapan
yang sesungguhnya bahwa karakteristik tersebut mungkin tidak lengkap, luas
ataupun bertalian secara logis.

Teori interaksi imajiner juga menjalankan fungsi-fungsi multipel,


termasuk memelihara hubungan-hubungan dan mengelolah konflik yang

4
Samsuar, Jurnal Network Media Vol: 2 No. 1 Februari 2019.
terjadi di masyarakat. Dalam lingkungan mahasiswa tentu konflik-konflik yang
terjadi juga tidak mungkin dapat dihindari. Teori interaksi imajiner berfungsi
untuk menyelesaikan persoalan ini secara baik, dengan melakukan
pembicaraan-pembicaraan individual terhadap orang yang terlibat didalam
masalah ini.Teori ini merupakan salah satu cara menyelesaikan masalah dengan
memperkenankan individu berfikir melalui masalah itu, teori ini juga dapat
membantu orang dalam merencanakan pesan-pesan dan dalam meningkatkan
efektivitas komunikasi.5

Jadi apabila seseorang yang mengalami interaksi imajiner mereka mungkin


mengalami sebuah gambaran mengenai pengetahuan yang tertulis atau sebagian tertulis,
dengan informasi yang secara langsung dibawa ke dalam kesadaran eksplisit untuk dibicaran.
Oleh karena itu, ingatan kita mengenai hubungan-hubungan yang kemudian membentuk
naskah-naskah atau pengalaman-pengalaman bagi perilaku-perilaku yang sesuai dalam
hubungan-hubungan.

Harus dicatat bahwa istilah interaksi imajiner digunakan secara strategis sebagai
pengganti percakapan imajiner atau dialog internal, karena interaksi imajiner merupakan
istilah yang lebih luas termasuk pula imajiner verbal dan non verbal. Imajiner visual
mencerminkan suasana interaksi (seperti, kantor, ruang kecil dan mobil). Imajiner verbal
mencerminkan macam-macam dialog yang dikhayalkan diri sendiri oleh orang lain.

Konseptualisasi komunikasi dalam teori ini dapat dilihat dari pengolahan sikap
mahasiswa terhadap informasi, ciri-ciri inti mengenai teori interaksi imajiner ialah
ketergantungannya pada komunikasi antarpribadi sebagai dasar di mana bentuk-bentuk
lainnya mengenai komunikasi. Bagaimanapun juga bila seseorang berbicara mengenai
kelompok kecil, organisasi, budaya atau komunikasi massa, pemrosesan individual mengenai
informasi yang didapat dikumpulkan untuk dapat menyatukan pemikiran yang berbeda
menjadi satu kerukunan untuk mencapai sebuah persatuan dalam kekerabatan yang erat
diantara individu.

5
Edi Harapan dan Syarwani Ahmad, Komunikasi AntarPribadi Perilaku Insani Dalam
Organisasi Pendidikan, (Jakarta : Rajawali Pers, 2016), hal 45.
Mengelola konflik, fungsi pengelolaan konflik ini menyoroti peran perenungan
dimana setiap orang memiliki pemikiran-pemikiran yang berulang tentang konflik dan
berdebat yang membuat sulit untuk fokus pada hal-hal lain, misalnya seperti mendiskusikan
sebuah topik atau makalah didepan teman-teman atau ketika rapat dalam organisasi tentu
konflik atau perdebatan tidak akan dapat dihindari, karena setiap orang atau dalam hal ini
mahasiswa memiliki pandangan tersendiri terhadap apa yang dibahas, tentu jiwa mudanya
akan kelihatan dengan mengeluarkan trobosan dari hasil perenungannya ssehingga
terbentuklah sebuah pemikiran kedepan umum, agar apa yang telah ia renungi dapat diterima
oleh orang lain. Disini fungsi pengelolaan konflik dalam interaksi imajiner di perlukan, jika
pendapatnya tidak diterima oleh orang lain tentu ia harus bisa menerima dengan lapang dada
terhadap hasil yang telah ditentukan dari diskusi dan dialog-dialog yang telah dilakukan. 6

Penelitian interaksi imajiner telah menghabiskan banyak waktu menelaah dan


perenungan pesan. Penggunaan teori ini dikaitkan juga kepada penelitian kognitif yang
memungkinkan penyesuaian kepada pesan-pesan setelah efek potensial mereka pada
hubungan tertentu telah dinilai. Implikasinya bahwa individu-individu mengulang pesan,
rupanya melalui penggunaan interaksi imajiner, dan melakukan perubahan seperlunya untuk
mencapai hasil-hasil yang diinginkan.

Fungsi pemahaman diri interaksi imajiner menekankan bagaimana teori ini digunakan
untuk memahami diri kita secara lebih baik. Teori interaksi imajiner juga dapat membuka
aspek-aspek perlawanan atau perbedaan mengenai diri. Berikutnya teori ini berfungsi untuk
berhubungan dengan kemampuan untuk meredakan ketegangan dan mengurangi ketidak
pastian mengenai tindakan-tindakan orang lain. Sebagaimana dengan apa yang telah
diungkapkan studi kasus diatas bahwa dengan teori interaksi imajiner mampu membuat
mahasiswa mengontrol emosi-emosi yang berada didalam dirinya untuk mengendalikan
suasana yang terjadi disekitarnya, seperti hasil pemikirannya tidak diterima ketika rapat atau
melakukan interaksi dengan orang lain, sehingga dengan demikian ia telah mempunyai
kemampuan untuk meredakan ketegangan yang ada dengan sikap yang lebih tenang sehingga
konflik bisa di selesaikan dengan baik.

Teori interaksi imajiner menjelaskan bagaimana konflik-konflik bukan merupakan


peristiwa yang berdiri sendiri tetapi agaknya dihubungkan kepada pengalaman-pengalaman
sebelumnya dari para komunikator. Misalnya, dengan tidak adanya konflik yang sebenarnya,
6
Muhammad Budyatna, Teori-Teori Mengenai Komunikasi Antarpribadi, (Jakarta : PrenadaMedia Group,
2015), hal 75.
interaksi imajiner yang retroaktif ini dapat digunakan untuk memelihara konflik dengan
menghidupkan kembali baik isu-isu yang ditujukan maupun emosi-emosi yang dirasakan
selama pertemuan-pertemuan sebelumnnya. Meskipun demikian fungsi pengelolaan konflik
dari interaksi imajiner tidak memisahkan pertemuan konflik lainnya didalam hubungan, maka
fungsi pengelolaaan konflik menciptakan keadaan yang lebih dalam mengenai konflik dari
pada yang ditemukan pada banyak teori mengenai konflik itu sendiri.

Kritik terhadap teori interaksi imajiner mengenai kemampuan para peneliti kognitif
untuk mengidentifikasi atau menyimpulkan keberadaan mengenai keadaan kognitif internal
dari perilaku eksternal. Yang dikritik adalah cara peneliti dalam menafsirkan masalah dan
konflik yang terjadi dalam realita kehidupan banyak yang tidak sinkron dengan apa yang
diungkapkan oleh para peneliti dari bidang komunikasi.7

7
Silfia Hanani, Teori-teori Antarpribadi, (Yogyakarta : Ar-ruzz Media, 2017), hal 97.
Kesimpulan

Teori atribusi yaitu bahwa setiap individu mencoba untuk memahami perilaku
mereka sendiri dan orang lain dengan mengamati bagaimana sesungguhnya setiap individu
berperilaku. Teori Atribusi lebih menekankan pada upaya untuk memahami penyebab di
balik perilaku orang lain, dan dalam beberapa kasus juga penyebab di balik perilaku kita
sendiri.

Teori interaksi imajiner ini sangat diperlukan untuk memahami dan menjelaskan
konflik yang sering terjadi ditengah masyarakat, dimana konflik yang terjadi tidak akan
pernah terlepas dari Toleransi dan Intoleransi terhadap perbedaan keyakinan dan paham
keagamaan. Oleh karena itu, diperlukannya interaksi imajiner untuk menjelaskan kepada
masyarakat awam yang berada diluar lingkungan agar mendapat pencerahan terhadap
perbedaan untuk mencapai kesepakatan dan saling bertoleransi dalam berbagai perbedaan.
DAFTAR PUSTAKA

Budyatna, Muhammad. 2015. Teori-Teori Mengenai Komunikasi Antarpribadi. Jakarta :


PrenadaMedia Group.

Hanani, Silfia. 2017. Teori-teori Antarpribadi. Yogyakarta : Ar-ruzz Media.

Harapan, Edi dan Syarwani Ahmad. 2016. Komunikasi Antarpribadi Perilaku Insani Dalam
Organisasi Pendidikan. Jakarta : Rajawali Pers.

Liliweri, Alo. 2017. Komunikasi Antarpersonal. Jakarta : PrenadaMedia Group.

Muhammad Iksan. JURNAL PSIKOLOGI TABULARASA VOLUME 10, NO.2, OKTOBER 2015.

Pasireron, Semy. JURNAL MANEKSI VOL 5, NO. 1, JUNI 2016.

Samsuar, Jurnal Network Media Vol: 2 No. 1 Februari 2019.