Anda di halaman 1dari 3

Nama : Salma Safitri

Nim : 170204072

Kelas : PSIK D3.1

Analisa teori psychodinamic, behavioral therapy dan solution oriented therapy dalam
keperawatan keluarga

1. Psikodinamika

Tujuan dari terapi psikodinamika ini adalah pertumbuhan, pemenuhan lebih banyak pada pola
interaksi yang lebih. Psikodinamikan memandang keluarga sebagai system dari interaksi
kepribadian, dimana setiap individu mempunyai sub-sistem yang penting dalam keluarga,
sebagaimana keluarga sebagai sebuah sub-sistem dalam sebuah komunitas. Terapis menjadi
fasilitator yang menolong keluarga untuk menentukan tujuannya sendiri dan bergerak kearah
mereka sebagaimana sebuah kelompok. Kerangka umum adalah masa lalu, sejarah dari
pengalaman terdekat yang perlu diungkap. Aturan dari ketidaksadaran adalah konflik dari masa
lalu yang tidak terselesaikan akan Nampak pada perilaku sadar seseorang secara kontineu untuk
mrnghadapi situasi dan obyek yang ada sekarang. Fungsi utama dari terapis bersikap netral
artinya membuat intepretasi tehadap pola perilaku individu dan keluarga.

2. Behavioral Therapy

Tujuan dari terapi behavioral adalah merubah konsekuaensi perilaku antar pribadi yang
mengarah pada penghilangan perilaku maladaptif atau problemnya. Kerangka umum dari
pendekatan behavioral adalah masa kini yang lebih memfokuskan pada lingkungan interpersonal
yang terpelihara dan muncul terus dalam pola perilaku terkini. Fungsi utama dari terapis adalah
direktif, mengarahkan, membimbing atau model dari perilaku yang diinginkan dan negosiasi
kontrak Jenis terapi keluarga yang biasa digunakan dalam pendekatan behavioral guna menyusun
kembali sebuah keutuhan keluarga adalah:
a. Behavioral marital therapy
b. Behavioral parent training
beberapa jenis terapi yang dilakukan dengan teori ini yakni,
1. Relaksasi, pengaturan berupa gerak motorik untuk mengendurkan tegangan yang ada
yang kemudaian dapat mengendurkan ketegangan jiwa juga. Misalnya : dengan
menarik nafas.
2. Disentisasi sistematis, membuat tidak sensitifnya seseorang terhadap suatu hal,
keadaan, atau pendapat dan sistematis. Misalnya, menangani seseorang yang takut
ular. Disini klien diperlihatkan gambar ular  dari jarak jauh, jika klien tidak
menunjukkan ketegangan, maka jaraknya akan diperdekat, begitu seterusnya sampai
pada penunjukkan ular yang asli.
3. Operant conditioning, yakni aplikasi penguatan positif dan penguatan negatif.
Penguatan positif diberikan jika perilaku sesuai dalam membentuk kebiasaan yang
diinginkan. Sedangkan penguatan negative diberikan apabila terdapat tingkah laku
yang tidak diinginkan.
4. Modeling, belajar melalui pengamatan. Disini klien diperlihatkan model yang tepat
agar klien dapat meniru bagaimana upaya yang dilakukan model tersebut dalam
mengatasi masalahnya.
5. Pelatihan asersi, pelatihan sikap dan kemampuan asertif. Kemampuan asertif adalah
kemampuan untuk mengekspresikan apa yang ada dalam diri dedeoarang secara
mandiri dan tegas, serta memuaskan, rasional dan juaga tanpa meng-agresi maupun
mengikuti orang lain.
6. Biofeedback, pembiasaan perilaku otomatis manusia. Perlibatan alat perekam secara
terus menerus memantau respon fisik subjek dan tampilan respon tersebut kepada
subjek. Misalnya pencatatan detak jantung, dan subjek mengamati dan menerima
umpan balik.

3. Solution Oriented Therapy


Solution oriented therapy berbagi prinsip-prinsip umum seperti penekanan pada apa yang
berhasil, masa depan fokus, dan pencarian pengecualian untuk masalah. Pengecualian
mewakili saat hal-hal sudah berjalan dalam kehidupan orang dan / atau kapan
masalah tidak terlalu mengganggu atau tidak ada sama sekali. Pengecualiannya adalah
disorot melalui "solusi bicara," percakapan di mana terapis melibatkan klien dalam
percakapan tentang solusi dan berubah sebagai lawan untuk masalah dan penjelasan. Cara
untuk mendorong perubahan adalah dengan membangkitkan dan membangun solusi
dalam bentuk kekuatan internal klien dansumber daya dalam sistem sosial mereka.
asumsi SOT meliputi:
 Klien memiliki sumber daya dan kekuatan untuk menyelesaikan keluhan
 Perubahan konstan
 Pekerjaan terapis adalah mengidentifikasi dan memperkuat perubahan
 Biasanya tidak perlu mengetahui banyak tentang keluhan untuk mengatasinya
 Tidak perlu mengetahui penyebab atau fungsi suatu masalah atas itu
 Hanya diperlukan sedikit perubahan; perubahan dalam satu bagian dari
sistem dapat menyebabkan perubahan di bagian lain dari sistem
 Klien menentukan tujuan
 Perubahan cepat atau penyelesaian masalah dimungkinkan
 Tidak ada satu cara "benar" untuk melihat sesuatu; pandangan yang berbeda
mungkin sama valid dan mungkin sesuai dengan fakta juga
 Fokus adalah pada apa yang mungkin dan dapat berubah, bukan apa yang tidak
mungkin dan tidak bisa dipecahkan.

SOT adalah pendekatan kolaboratif yang melibatkan bekerja dengan klien


tentukan apa yang mereka lihat sebagai masalah dan apa yang ingin mereka miliki
mengubah atau berbeda dalam kehidupan mereka. SOT berkaitan dengan
membantu klien untuk mengeksplorasi kedua pola masalah dan solusi dalam satu
atau lebih tiga domain: melihat, melakukan, dan konteks. Melihat termasuk klien
asumsi dan evaluasi, apa yang klien perhatikan dan fokuskan pada, dan cerita
yang klien miliki tentang diri mereka sendiri atau orang lain miliki tentang
mereka yang dilakukan berkaitan dengan pola aksi dan interaksi dengan klien.