Anda di halaman 1dari 6

Nama : Yuni Laili Puspita Sari

Nim : 201802057

Kelas : Famasi B

Semester : IV (Empat )

Prodi : DIII FARMASI

RANGKUMAN MATERI

EKSTRASI DAN PELARUT

Ekstasi adalah proses penyaringan zat aktif dari tanaman obat bertujuan untuk
menarik komponen kimia yang terdapat di bagian tanaman obat. atau suatu usaha untuk
mengisolasi senyawa yang terdapat dalam campuran larutan atau ccampuran padatan dengan
menggunakan pelarut yang cocok.adapun cara untuk memperoleh sediaan yang mengandung
senyawa aktif dari suatu bahan alam menggunakan pelarut yang sesuai.

Pemilihan Metode Ekstarsi Harus Mempertimbangkan Faktor-Faktor Sebagai


Berikut :

1. sifat kandungan zat aktif


2. kelarutan zat aktif dalam pelarut yang dipakai
3. bahan yang akan diekstrasi
4. tujuan ekstrasi
Tujuan Ekstrasi
1. untuk menarik semua zat aktif yang :
2. memiliki identitas pasti (prosedur melihat dipustaka)
3. termasuk kelompok senyawa tertentu ( studi pustaka)
4. terkandung dalam organisme (sederhana)
5. baru ditemukan ( random dan valid )
Hal-Hal Yang Penting Dalam Ekstasi :
1. simplisia yang ekstra
2. derajat kehalusan simplisia
3. jenis pelarut
4. waktu ekstrasi
5. metode ekstasi
6. kondisi saat ekstrasi.

Jenis-Jenis Ekstasi

A. berdasarkan bentuk subtansi dalam campuran :


1. ekstasi padat cair yang banyak ditemukan, substansi padat dalam cairan (butuh kontak
lama dengan pelarut, kesempurnaan ekstrasi ditentukan sifat tumbuhan dan bagian
tumbuhan yang digunakan.
2. Ekstrasi cair-cair , jarang dilakukan karena kebanyakaan substansi padatan.
B. berdasarkan penggunaan panas :
1. Ekstrasi secara dingin ( senyawa termolabil ) yaitu :
a. Maserasi Metode maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana yang
dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari
selama beberapa hari pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya.
b. metode perkolasi ,Perkolasi adalah cara penyarian dengan mengalirkan
penyaring melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. 
2. ekstrasi secara panas (Ekstraksi secara panas dilakukan untuk
mengekstraksi  komponen kimia yang tahan terhadap pemanasan) :
a. Seduhan (direndam air panas 5-10 menit.
b. Coque (pengodokan) menggdok dengan api langsung.
c. infusa : simplisia pada panci infusa dan air (dipanaskan dengan penangas air
selama 15 menit ) mulai suhu 90ºC dan sesekali diaduk lalu serkai dengan
flanel dan air panas sedikit-sedkit lalu volume ttt.
d. Digestasi (maserasi dengan pemanasan 30-40ºC )
e. Dekokta (infusa pemanasan lebih dari 30".
f. Refluks (pemanasan =titik didih pelarut )
g. Soxhletasi (suhu pemanasan < refluks )
C. Berdasarkan proses pelaksaanan :
1. ekstrasi berkesinambungan (continues extraction) pelarut yang sama dipakai
berulang-ulang hingga proses selesai.( Maserasi )
2. ekstrasi bertahap (bath ekstraction ) dipakai pelarut yang selalu baru pada
setiap tahap. (Frakinasi)
D. Berdasarkan metode ekstrasi :
1. ekstrasi tunggal (pencampuran bahan sebanyak satu kali dengan pelarut, sebagian zat
akan terlarut sampai tercapai kesetimbangan (+) hemat pelarut (-) rendemen sedikit
2. ekstrasi multi tahap (pencampuran bahan beberapa kali dengan pelarut baru dalam
jumlah yang sama . (+) rendemen banyak (-)pelarut membutuhkan lebih banyak.

Rendemen adalah perbandingan jumlah (kuantitas) ekstrak yang dihasilkan dari


ekstraksi tanaman.
Ekstrak adalah zat yang dihasilkan dari ekstraksi bahan mentah secara kimiawi.
Senyawa kimia yang diekstrak meliputi senyawa aromatik, minyak atsiri, ester, dan
sebagainya yang kemudian menjadi bahan baku proses industri atau digunakan secara
langsung oleh masyarakat.atau suatu produk hasil pengambilan zat aktif melalui proses
ekstrasi menggunakan pelarut , dimana pelarut yang digunakan diuapkan kembali sehingga
zat aktif ekstrak menjadi pekat.

Pembagian Ekstrak :
A. Menurut Farmakope Indonesia
1. ekstrak cair ( ekstrak hasil penyarian bahan alam dan masih mengandung
pelarut )
2. ekstrak kental ( ekstrak yang telah mengalami proses penguapan dan sudah
tidak mengandung cairan
3. ekstrak kering ( ekstrak yang telah mengalami proses penguapan dan tidak
mengandung pelarut )
B. Menurut Konsistensi
1. ekstrak cair ( extracta liquida)
2. ekstrak semisolida ( extracta spissa)
3. ekstrasi kering ( ekstracta sicca )
C. Menurut Kandungan Ekstrak
1. ekstrak alami
ekstrak murni yang mengandung bahan obat herbal alami kering , berminyak,
tidak mengandung solvent dan eksipien.
2. non alami
sediaan ekstrak herbal yang tidak mengandung bahan alami, biasanya
berbentuk ekstrak kering (campuran gliserin dan propilenglikol), ektrak cair
tinctura , sediaan cair non alkohol (gliserin, air ) , dan maserat berminyak.
D. Menurut Komposisi yang ada dalam ekstrak
1. ekstraksi alami , ekstrak yang tidak mengandung pelarut maupun bahan
tambahan lainnya, merupakan produk antara, bersifat higrokopis dan perlu
proses lebih lanjut untuk menjadi sediaan
2. sediaan ekstrak , hasil pengolahan lebih lanjut dari ekstrak murni, dapat
berupa kental dan serbuk kering yang selanjutnya dapat dibuat sediaan lain
(kapsul, tablet, cairan, dll)
E. Menurut Kandungan Senyawa aktif
1. standardized extracts
 ekstrak yang diperolh dengan menambah zat aktif yang telah diketahui
terapinya untuk mencapai komposisi.
 ekstrak dan bahan pembantu
 ekstrak dengan kandungan zat aktif lebih tinggi dan yang lebih rendah
sehingga memenuhi persyaratan baku yang ditetapkan (ekstrak kering
daun belladona)
2. quantified extracts , pencampuran 2 ekstrak dengan spesifikasi sama dan
jumlah konstan , (ekstrak daun ginkobiloba)
F. Menurut Pelarut yang digunakan dan hasil akhir ekstrasi
1. ekstrasi air (ekstrak yang menggunakan air sebagai pelarut )
2. tinkur ( ekstrak yang menghasilkan dengan metode maserasi/ perkolasi
dengan pelarut etanol 1:2-10 )
3. ekstak cair ( seperti tinktur tetapi telah melalui proses pemekatan sesuai
persyaratan
4. ekstrak encer /ekstrak tineus ( ekstrak seperti ekstrak cair namun perlu
diproses lebih lanjut )
5. ekstrak kental ( ekstrak yang telah dipekatkan menjadi lembab dan mudah
ditumbuhi kapang )
6. ekstrak kering / sicca ( ekstrak kental yang dikeringkan
7. ekstrak minyak ( ekstrak yang dibuat dengan mensuspensikan simplisia
dengan perbandingan tertentu dengan minyak yang telah dikeringkan
8. oleoresin ( ekstrak yang diperleh bahan oleoresin cntoh zingiberis rhizoma )

Pelarut adalah suatu zat yang melarutkan zat terlarut (cairan, padat atau gas yang
berbeda secara kimiawi), menghasilkan suatu larutan. Pelarut biasanya berupa cairan tetapi
juga bisa menjadi padat, gas. dan zat yang berada dalam larutan dalam jumlah besar .

Sifat-Sifat Pelarut Yang Penting Dalam Proses Ekstraksi :

1. kemampuan melarutkan
2. kecepatan menguap
3. titik didih
4. berat jenis
5. flash pont
Macam-Macam Pelarut :
1. Air
 pelarut yang baik untuk (garam alkolaida , glikosida , asam tumbuh-tumbuhan, zat
warna, dan gara mineral)
 bakteri mudah tumbuh dan mengembangkan simplisia sehingga menyulitkan pada
perkolasi
2. etanol
 hanya dapat melarutkan zat aktif (alkolaida , glikosida, damar, dan minyak atsiri)
 tidak dapat digunakan pada (gom,gula,dan albumin menghambat kerja enzim)
 menghalangi pertumbuhan jamur dan bakteriuntuk pengawet, ekstrak yang
dihasilakan lebih spesifik.
3. Gliserin
pelarut yang baik untuk (simplisia zat samak tanin dan hasil oksidasi
4. Eter
mudah menguap , tidak disarankan untuk sedian obat yang disimpan lebih lama
5. Heksana
hasil penyulinan minyak bumi digunakan untuk lemak dan minyak (menghilangkan
lemak pengotor pada simplisia sebelum menjadi galenik )
6. Aseton
untuk berbagai macam lemak (minyak atsiri ,damar ) dan tidak dapat diguanakan
sediaan gelanik pemakaian dalam serta baunya menyengat dan sukar hlang.
7. Kloroform
basa alkolaida , damar , lemak dan minyak atsiri dan kurangnya toksik secara
farmakologi dan tidak menggunakan lagi
Pengelompokan Pelarut :
1. Berdasarkan Fungsinya
a. True Solvent , berfungsi melarutkan zat aktif saat ekstraksi , pemurnian,
pembuatan emulsi /suspensi.
b. Diluent berfungsi pengenceran
c. Latent Solvent , meningkatkan kelarutan oleh pelarut
d. Media Reaksi , berfungsi sebagai media dimana reaksi terjadi
e. Paint Remover , pelarut sebagai pembersih/ penghilang cat
2. Bedasarkan Kepolaran
a. pelarut polar, pelarut universal , menarik senyawa polar dan kepolaran lebih
rendah , adanya ikatan hidrogen
b. pelarut semipolar, pelarut yang memiliki dipol yang besar ikatan rangkap C
dengan O,N,S serta ikatan tunggal dengan halogen , kepolaran diantaranya
diantara pelarut polar dan non polar.
c. pelarut non polar
pelarut yang punya konstanta dielektrik rendah dan tidak larut dalam air.
3. Berdasarkan Densitas
a. pelarut punya densitas lebih rendah dari air (dietilester, etil asetat, dan
hidokarbon )
b. pelarut yang punya densitas lebih tinggi dari air (pelarut mengandung klorin,
seperti diklorometan toksisitas rendah menjadi mudah membentuk emulsi.
Persyaratan Pelarut Untuk Ekstraksi
1. selektif
2. titik rendah dan seragam
3. tidak toksik dan ramah lingkungan
4. dapat mengekstrak semua senyawa dalam simplisia
5. stabil secara fisik dan kimia
6. inert dan tidak mudah terbakar
7. mudah dihilangkan
8. tidak bereaksi
9. murah dan ekonomis
Dasar Pemilihan Pelarut
A. menurut tabel robin (cahart )
1. bedasarkan interaksi kelompok solu dan pelarut
2. sistem pemilihan pelarut bagi suatu solut bedasarkan komposisi kimianya
3. menyajikan deviasi negatif, positif , atau netral dari interaksi slut pelarut
terhadap larutan ideal
4. deviasi negatif dan netral mengindifikasikan interaksi yang bagus diantara
kelompok solut pelarut sehingga kelarutan solut dalam pelarut adalah tinggi.
B. perameter kelarutan hildebrand
1. bedasarkan like dissolve like
2. gaya antar molekul anatara molekul dan zat terlarut
3. mirip
4. parameter kelarutan total hildbrand didefinisifikan sebagai akar dari densisitas
energi kohesif , yang dinyatakan dalam persamaan
5. kemudian dicocokan dengan parameter kelarutan pelarut yang mirip
C. pertimbangan kriteria
1. selektivitas , hanya melarutkan senyawa yang diinginkan
2. rekoveri pelarut , meningkatkan nilai ekonomis (biasanya dipilih titik didih
lebih rendah )
3. kestabilan kimia dan panas
4. kecocokan dengan zat terlarut
5. viskosit