Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH FARMAKOLOGI I

OBAT MATA

Disusun oleh:

KELOMPOK : 12

NAMA ANGGOTA KELOMPOK :

1. Satria Krisna Mukti 1604102


2. Nabila Arweni Putri 1804138
3. Fatia Larucy 1804159
4. Listania Zurianti Syaputri 1804176

DOSEN PEMBIMBING : Nessa, S.Farm, M.Biomed, Apt

SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA

YAYASAN PERINTIS

PADANG

2020
OBAT MATA

Sediaan obat mata adalah sediaan steril berupa salep, larutan atau suspensi digunakan untuk
mata dengan jalan meneteskan, mengoleskan pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata
dan bola mata.
A. KONJUTIVITIS

Konjungtivitis adalah mata merah akibat peradangan pada selaput yang melapisi permukaan
bola mata dan kelopak mata bagian dalam (konjungtiva mata). Selain mata merah, conjunctivitis
atau konjungtivitis dapat disertai dengan rasa gatal pada mata dan mata berair. Konjungtiva
mengandung pembuluh darah yang akan melebar saat terjadi konjungtivitis. Pelebaran pembuluh
darah tersebutlah yang menyebabkan gejala mata merah.

1. Etiologi
a. Konjungtivitis Bakteri
Terutama disebabkan oleh Staphylococcus aureus, Streptococcuspneumoniae,
Haemophilus influenzae, dan Moraxella catarrhalis. Konjungtivitis bakteri sangat menular,
menyebar melalui kontak langsung dengan pasien dan sekresinya atau dengan objek yang
terkontaminasi.
b. Konjungtivitis Viral
Jenis konjungtivitis ini adalah akibat infeksi human adenovirus( yang paling sering adalah
keratokonjungtivitis epidermika ) atau daripenyakit virus sistemik seperti mumps dan
mononukleosis. Biasanya disertai dengan pembentukan folikel sehingga disebut
jugakonjungtivitis folikularis. Mata yang lain biasanya tertular dalam 24-48 jam. 
c. Konjungtivitis Alergi
Konjungtivitis alergi biasanya timbul pada musim semi dan panas,dan disebabkan oleh
pajanan dengan alergen misalnya polen (serbuk sari). Pasien akan mengeluh rasa tidak
enak dan iritasi yang berlebihan.Terbentuk papilla yang dapat dikonjungtiva, dan kornea
bias terlibat.Konjungtivitis alergi dapat terjadi bersama dengan reaksi alergi yang lain,
Misalnya astma dan “hay fever”.
d. Konjungtivitis Gonore
Konjungtivitis hiper akut dengan sekret purulen yang disebabkanoleh Neisseria gonorrhea.
Sedangkan infeksi gonokokus pada matapada neonatus (bayi baru lahir) disebabkan oleh
infeksi tidak langsungselama keluar melewati jalan lahir pada ibu yang menderita
gonore,konjungtivitis yang berat disebut oftalmia neonatorum.
e. Trachoma
Trachoma merupakan konjungtivitis folikular kronik yang disebabkan Chlamydia
trachomatis. Masa inkubasi dari trachoma adalah 7 hari ( 5 – 14 hari ). Trachoma dapat
mengenai segala umur terutama dewasa muda dan anak-anak, yang akut atau sub akut.
Cara penularannya melalui kontak langsung dengan sekret atau alat-alat pribadi.
2. Obat tetes
Emedastine
Obat ini adalah antihistamin. Umumnya digunakan untuk meredakan kemerahan, gatal,
dan pembengkakan pada mata Anda yang disebabkan oleh alergi seperti alergi
konjungtivitis.
 Farmakokinetik obat emesdatine
Ketersediaan hayati oral manusia sekitar 50% dan konsentrasi plasma maksimum
dicapai dalam 1-2 jam setelah pemberian dosis. Emedastine terutama dimetabolisme oleh
hati. Ada dua metabolit utama: 5-hydroxyemedastine dan 6- hydroxyemedastine. 
Mereka diekskresikan dalam urin sebagai bentuk bebas dan terkonjugasi. 5'-oxoanalogs
dari 5-hydroxyemedastine, 6-hydroxyemedastine dan N -oxide juga terbentuk sebagai
metabolit minor. Waktu paruh eliminasi emedastine oral dalam plasma adalah 3-4 jam,
sedangkan emedastine topikal adalah 10 jam.
 Dosis
- Untuk dewasa : berikan 1 tetes pada mata yang sakit 4 kali sehari.
- Untuk anak-anak : berikan 1 tetes pada mata yang sakit 4 kali sehari.
 Bentuk sediaan : obat tetes mata
 Mekanisme kerja
Obat bekerja dengan menghalangi zat alami tertentu misalnya antihistamin yang
menyebabkan gejala alergi pada mata.
 Efek samping
Efek samping yang ditimbulkan obat ini biasanya tidak terlalu serius. Umumnya, efek
samping yang muncul adalah rasa terbakar di bagian mata, iritasi, gatal, mata kering,
dan penglihatan kabur
B. GLAUKOMA

Glaukoma adalah penyakit mata yang merusak saraf optik mata. Saraf optik dapat
dibayangkan sebagai suatu kabel listrik yang terdiri dari jutaan dawai, di mana masing-masing
dawai membawa citra dari retina ke otak melalui saraf optik yang peka terhadap cahaya. Dengan
demikian, perubahan atau kerusakan pada saraf optik akan mempengaruhi penglihatan.

Glaukoma biasanya ditandai dengan peningkatan tekanan bola mata sebagai akibat dari
ketidakseimbangan antara produksi cairan di dalam mata dan pengeluaran cairan tersebut dari
mata, atau terjadinya penumpukan cairan di dalam mata. Ini dapat mengakibatkan kerusakan
permanen pada saraf optik dan hilangnya penglihatan perifer, yang dapat berakhir dengan
kebutaan. Kerusakan penglihatan yang disebabkan oleh glaukoma bersifat permanen.

Glaukoma disebabkan oleh kegagalan mata untuk memelihara keseimbangan antara jumlah
cairan yang diproduksi di dalam mata dan jumlah cairan yang dikeluarkan dari mata. Terdapat
dua jenis glaukoma: Glaukoma Sudut Terbuka dan Glaukoma Sudut Tertutup. Glaukoma sudut
terbuka adalah bentuk glaukoma yang paling umum dijumpai, yang disebabkan oleh
ketidakseimbangan antara produksi cairan dan pengeluaran cairan dari mata. Glaukoma sudut
tertutup disebabkan oleh penyumbatan aliran cairan di dalam mata. Bila glaukoma bersifat kronis
pada kedua jenis tersebut, maka tidak ada gejala, namun hilangnya lapang pandang perifer akan
terjadi perlahan-lahan dan menyebabkan penglihatan seperti melihat dari terowongan (tunnel
vision).

Glaukoma terutama diobati dengan menurunkan tekanan mata hingga pada tingkat dimana
perusakan saraf optic dapat dihentikan. Pengendalian glaukoma dapat dicapai melalui sejumlah
metode yang meliputi obat tetes mata, leser, atau operasi.

 Obat tetes

Pemberian obat tetes merupakan penanganan yang paling awal dilakukan. Beberapa obat
tetes yang biasa digunakan untuk menangani glaukoma adalah:

1. Penghambat beta (beta blocker), seperti timolol dan betaxolol. Pemberian beta blocker
bertujuan untuk mengurangi produksi cairan aqueous humour pada mata.
a. Farmakokinetik timolol
Farmakologi timolol adalah sebagai obat antiglaukoma golongan beta bloker nonselektif.
Timolol yang diberikan secara topikal juga akan diabsorpsi secara sistemik. Obat ini
dieliminasi melalui urine.
 Absorbsi
Timolol topikal tidak hanya dia absorbsi pada mata tapi juga secara sistemik pada
konsentrasi rendah di plasma. Sekitar 80% sediaan topikal mengalir melalui saluran
nasolakrimal dan diserap secara sistemik. Bioavailabilitas timolol sedian topikal okular
<10%. Pada sediaan oral, timolol diabsorpsi hingga 90%. Absorpsi terjadi di saluran
gastrointestinal dengan bioavailabilitas 50% dan konsentrasi plasma puncak sekitar 1-2
jam.
 Distribusi
Timolol dapat melewati sawar plasenta dan masuk ke dalam ASI. Volume distribusi
timolol yaitu 1,7 L/kg dan pengikatan protein plasma sekitar 60%.
 Metabolisme
Metabolisme timolol terutama pada hepar oleh enzim sitokrom P450 2D6, dan sebagian
kecil oleh CYP2C19. Sekitar 15-20% dosis mengalami first-pass metabolism.
Hydroxymetabolite merupakan metabolit utama timolol. Pada sediaan oftalmik,
metabolisme timolol mungkin sudah terjadi pada jaringan ocular. Namun, kapasitas
metabolisme pada jaringan tersebut belum diketahui sepenuhnya.
 Eliminasi
Timolol diekskresikan dalam bentuk unchanged drug dan metabolitnya melalui urin.

b. Dosis
Obat tetes mata timolol umumnya tersedia dalam dua kemasan, yaitu yang kandungannya
0,25% dan 0,5%. Teteskan timolol 0,25% dua kali sehari pada mata yang terkena. Jika dokter
menilai dampak obat ini kurang efektif, dokter dapat menyarankan timolol 0,5%, dengan
frekuensi pemberian yang sama.

c. Bentuk sediaan : obat tetes mata

d. Mekanisme kerja
Mekanisme kerja timolol mengurangi peningkatan tekanan intraokular pada glaukoma sudut
terbuka belum diketahui sepenuhnya. Timolol diperkirakan menghambat reseptor beta pada
epitel siliaris sehingga menurunkan produksi aqueous humor.

e. Efek samping

 Sakit kepala

 Pusing

 Mual

 Depresi

 Iritasi mata

 Penglihatan ganda

 Kesulitan bernapas

 Berat badan bertambah

C. ANESTESI LOKAL
Anastesi lokal merupakan tindakan memanfaatkan obat bius yang cara kerjanya hanya
menghilangkan rasa di area tertentu yang akan dilakukan tindakan. Anestesi local adalah obat
yang menghasilkan blockade konduksi pada dinding saraf yang bersifat sementara. Setelah
kerja obat habis maka obat akan keluar dari sel saraf tanpa menimbulkan kerusakan pada
struktur sel saraf tersebut. Anestesi local atau zat-zat penghalang rasa setempat adalah obat
yang pada penggunaan local merintangi secara revesibel penerusan impuls-impuls syaraf ke
SSP dan demikian menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri, gatal-gatal, rasa panas, atau
dingin.
Anestesi artinya adalah pembiusan,bersal dari bahsa yunani AN artinya “tidak atau
tanpa” dan AESTHETOS “artinya persepsi atau kemampuan untuk merasa”. Secara umum
berarti anestesi adalah suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan
pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh.
Umumnya obat anestesi local terdiri dari sebuah gugus lipofit (biasanya sebuah cincin
aromatic) yang diberikatan dengan sebuah rantai perantara (umumnya termasuk suatu ester
atau sebuah amida) yang terikat pada satu gugus terionisasi.

1. Pantocain (Tetracain)

Pantocain adalah obat tetes mata yang digunakan untuk anastesi lokal. Anestesi lokal
adalah obat yang di gunakan pada jaringan agar mati rasa. Anestesi lokal bekerja dengan
menghentikan kerja saraf untuk sementara sehingga Anda tidak merasakan sakit.
Pantocain mengandung Tetrakaina yang merupakan golongan anastesi yang dapat bekerja
lokal maupun sistemik. Tetes mata tetracaine hidroklorida diberikan pada mata sebelum
menjalani prosedur yang membutuhkan anestesi kerja cepat dengan durasi yang pendek
seperti tonometri, gonioskopi, ekstraksi benda asing di kornea, pemulasan konjungtiva,
pelepasan jahitan dari kornea atau konjungtiva, operasi katarak, pterigium, strabismus
dan lain-lain

 Farmakologi Pantocain (Tetracain)


Farmakologi tetracaine sebagai obat anestesi lokal tipe ester dan farmakokinetiknya
terdiri dari aspek absorpsi, distribusi, metabolisme, dan eliminasinya.
Tetracaine hidroklorida berbentuk bubuk halus, berwarna putih, seperti kristal, tidak
berbau dengan berat molekul 300,82 g/mol. Obat ini merupakan obat anestesi lokal tipe
ester dan turunan asam aminobenzoik. Tetes mata tetracaine hidroklorida 0,5% (setara
0,44% tetracaine) memiliki pH 3,7-5,5. Selain mengandung bahan aktif tetracaine
hidroklorida, tetes mata ini juga mengandung natrium klorida, natrium asetat trihidrat,
asam asetat, dan air sebagai bahan tidak aktif.
 Farmakokinetik
1. Absorpsi
Penyerapan anestesi sistemik dari kombinasi krim berhubungan langsung dengan
durasi dan luas permukaan aplikasi. Meskipun konsentrasi plasma puncak untuk
lidokain diukur, kadar plasma untuk tetracaine tidak dapat ditentukan karena kadar
yang rendah (<0,9 ng / mL)
2. Distribusi
Volume Distribusi
Tetracaine cepat terhidrolisis dalam plasma; oleh karena itu, volume distribusi tidak
dapat ditentukan.

3. Metabolisme
tetrakain dihidrolisis dengan cepat oleh plasma esterase ke metabolit primer, yaitu :
asam para-aminobenzoat dan dietilaminoethanol. Aktivitas kedua metabolit tidak
ditentukan.

 Dosis obat :
Dosis suntikan tetracaine disesuaikan dengan letak injeksi. Tetracaine biasanya
diberikan dengan dosis 0,5 ml  hingga 2ml pada interkostal ketiga atau keempat.
Pemberian injeksi ini hanya diberikan oleh dokter spesialis anestesi sebelum prosedur
operasi dilakukan. 
Dosis tetracaine hidroklorida tetes yaitu sebanyak 0,5% konsentrasi dalam botol
berukuran 5 ml. Dosis diberikan sebanyak 1 hingga 2 tetes pada mata yang dilakukan
prosedur tindakan. 
Tetracaine bekerja cepat melumpuhkan persarafan mata. Apabila diperlukan, pemberian
dapat diulang 10 menit setelah pemberian pertama. Pemberian obat tetracaine tetes hanya
boleh diberikan oleh dokter spesialis mata terkait.

 Mekanisme Kerja Obat


Dalam penelitian biomedis , tetracaine digunakan untuk mengubah fungsi saluran
pelepasan kalsium ( reseptor ryanodine ) yang mengontrol pelepasan kalsium dari
simpanan intraseluler. Tetracaine adalah pemblokir alosterik fungsi saluran. Pada
konsentrasi rendah, tetracaine menyebabkan penghambatan awal dari peristiwa
pelepasan kalsium spontan, sedangkan pada konsentrasi tinggi, blok tetracaine
melepaskan sepenuhnya.
 Efek Samping
Tetracaine juga memiliki efek samping serta kontraindikasi pada beberapa orang.
Kontraindikasi yang paling sering terjadi adalah timbulnya hipersensitivitas pada jenis
obat anestesi seperti pada turunan asam aminobenzoic.

Efek samping yang dapat muncul pada penggunaan tetracaine antara lain:
1. Mengantuk
2. Kepala pusing
3. Nyeri kepala
4. Pandangan buram
5. Mual muntah
6. Muncul perasaan tegang

D. KATARAK

Katarak adalah suatu penyakit ketika lensa mata menjadi keruh dan berawan. Penderita
katarak akan merasa seperti melihat jendela berasap. Kondisi ini biasanya terjadi pada laki-laki
dan perempuan yang berusia lanjut.

 Gejala katarak

Beberapa tanda dan gejala katarak, antara lain:

 Pandangan kabur seperti berkabut.


 Melihat lingkaran di sekeliling cahaya.
 Pandangan ganda.
 Penurunan penglihatan pada malam hari.
 Rasa silau saat melihat lampu mobil, matahari, atau lampu.
 Sering mengganti ukuran kacamata.
 Warna di sekitar terlihat memudar.

 Penyebab Katarak
Penyebab katarak yang paling umum ditemui adalah akibat proses penuaan atau trauma
yang menyebabkan perubahan pada jaringan mata. Lensa mata sebagian besar terdiri dari air dan
protein. Dengan bertambahnya usia, lensa menjadi semakin tebal dan tidak fleksibel. Hal ini
menyebabkan gumpalan protein dan mengurangi cahaya yang masuk ke retina, sebuah lapisan
yang sensitif terhadap cahaya yang terletak di belakang dalam mata, yang pada akhirnya
menyebabkan pandangan kabur dan tidak tajam. Perubahan lensa diawali dengan warna kuning
kecokelatan ringan, tetapi semakin memburuk seiring dengan bertambahnya waktu.

Farmakokinetik Obat Cendo Catarlent.

 Absorpsi
- Biovaibilitas
Yodium diet baik (>90%) diserap dalam kondisi normal.
- Onset
Efek pada fungsi tiroid biasanya diamati dalam 24 jam setelah dosis kalium iodida dan
maksimal setelah 10-15 hari terapi berkelanjutan.
- Durasi
Ketika di berikan selama darurat radiasi, efek perlindungan tiroid terhadap paparan inhalasi
atau konsumsi berlangsung sekitar 24 jam
 Distribusi
Didistribusikan secara selektif ke kelenjar tiroid dalam jumlah yang dibutuhkan untuk sintesis
hormon tiroid yang memadai. Juga menyebar sedikit ke kelenjar ludah, payudara, pleksus
koroid, dan mukosa lambung.
 Eliminasi
Iodida yang tidak terkonsentrasi dalam kelenjar tiroid diekskresikan terutama dalam urin.
Jumlah kecil diekskresikan dalam feses dan keringat.

Farmakodinamik

Cendo Catarlent

 Dosis : penggunaan obat ini harus sesuai dengan petunjuk dokter. 1-2 tetes 3 kali sehari
pada mata yang sakit atau sesuai dengan petunjuk dokter.
 Bentuk sediaan : tetes mata
 Efek samping : rasa terbakar pada mata atau iritasi yang dapat terjadi beberapa saat
setelah obat diteteskan, kadang-kadang juga terjadi peningkatan aliran air mata.

E. MATA KERING

Penyakit mata kering adalah kondisi saat mata tidak mendapat pelumasan yang memadai
dari air mata. Kondisi ini membuat mata tidak bisa menghilangkan debu atau benda asing
yang mengganggu mata. Akibatnya, mata terasa sangat tidak nyaman. Pada mata yang sehat,
kornea akan terus dialiri oleh air mata ketika mata berkedip, untuk memberi nutrisi pada sel
kornea dan melindungi kornea dari lingkungan luar. Air mata merupakan senyawa campuran
dari lemak, air, lendir, serta lebih dari 1500 protein yang membuat permukaan mata tetap
halus dan terlindungi dari lingkungan sekitar, unsur yang mengganggu, atau kuman yang
menimbulkan infeksi. Saat kelenjar di sekitar mata tidak bisa memproduksi air mata yang
cukup atau saat komposisi air mata berubah, maka permukaan luar mata yang berperan
untuk meneruskan cahaya ke dalam mata juga dapat terganggu. Nama lain dari penyakit mata
kering adalah keratoconjunctivitis sicca atau sindrom mata kering. Penyebab sindrom mata
kering yang mempengaruhi lebih dari satu komponen film air mata atau berakibat pada
perubahan permukaan mata yang secara sekunder menyebabkan film air mata menjadi tidak
stabil. Mata kering lebih banyak dialami wanita dibandingkan pria, dan risiko mata kering
juga makin meningkat pada usia lanjut.

1. Etiologi

Banyak penyebab sindrom mata kering yang mempengaruhi lebih dari satu komponen film air
mata atau berakibat pada perubahan permukaan mata yang secara sekunder menyebabkan film
air mata menjadi tidak stabil. Kelainan-kelainan ini terjadi pada penyakit yang mengakibatkan :

 Defisiensi komponen lemak air mata. Misalnya : blefaritis menahun, distikiasis dan
akibat pembedahan kelopak mata.
 Defisiensi kelenjar air mata : sindrom Sjogren, sindrom Riley Day, alakrimia kongenital,
aplasia kongenital saraf trigeminus, sarkoidosis, limfoma kelenjar air mata, obatobat
diuretik, atropin dan usia tua.
 Defisiensi komponen musin : benign ocular pempigoid, defisiensi vitamin A, trauma
kimia, sindrom Stevens Johnson, penyakit yang menyebabkan cacatnya konjungtiva.
 Penguapan yang berlebihan seperti pada keratitis neuropatik, hidup di gurun pasin atau
keratitis lagoftalmus.
 Karena parut atau menghilangnya mikrovili kornea.
 Penyebaran film air mata yang kurang sempurna yang disebabkan oleh kelainan
palpebra, kelainan konjungtiva, atau proptosis (Riordan, et al., 2010).
 Idiopatik, umumnya ditemukan pada masa menopause dan post menopause pada wanita
(Kunimoto, et al., 2004).

2. Pengobatan Mata Kering

Untuk mata kering yang tergolong ringan atau hanya sesekali terjadi, maka penderita
dapat menggunakan obat pelumas mata atau dikenal dengan air mata buatan, dalam bentuk tetes
mata, gel, atau salep yang dijual bebas di apotik. Obat-obatan tersebut dapat melembabkan mata
dan berfungsi sebagai pengganti air mata. Selain itu, upaya lain juga bisa dilakukan di rumah
untuk meredakan gejala atau mencegah sindrom mata kering, yaitu:

a. Melindungi mata dari lingkungan yang menyebabkan mata kering, seperti cuaca
berangin, panas, berasap, atau berdebu. Hindari lingkungan tersebut atau gunakan
kacamata sebagai pelindung, serta gunakan pelembab atau penyaring udara di dalam
ruangan.
b. Menghindari pemakaian riasan pada mata.
c. Berhenti merokok.
d. Mengatur lama kerja di depan layar komputer.
e. Menjaga kebersihan mata dengan menggunakan kompres hangat pada kelenjar di sektar
mata, dan menghilangkan kotoran atau minyak pada kelopak mata.
f. Banyak mengonsumsi asam lemak omega-3 yang dapat memperbaiki kondisi mata
kering. Omega-3 banyak terdapat pada beberapa jenis ikan, seperti makarel, tuna, sardine,
atau salmon.

Jika penanganan di rumah belum berhasil, maka dokter dapat melakukan beberapa pilihan terapi,
antara lain:

a. Obat-obatan.
Salah satu obat yang biasa diberikan untuk mengatasi mata kering adalah obat antibiotik
untuk meredakan peradangan di ujung kelopak mata dan obat penekan imunitas tubuh
(misalnya ciclosporine atau kortikosteroid) yang berkhasiat mengurangi peradangan pada
kornea mata. Kendati demikian, konsumsi obat kortikosteroid dalam waktu lama dapat
menimbulkan efek samping. Sedangkan untuk mendorong produksi air mata, maka
dokter dapat memberi obat kolinergik, seperti pilocarpine. Bila mata kering masih belum
teratasi, dokter dapat menyarankan untuk menggunakan tetes mata yang dibuat dan
diproses dari darah orang tersebut (tetes mata serum autologous).

 Obat tetes

Cendo Lyteers

Cendo Lyteers adalah obat untuk mengobati mata kering dan iritasi mata. Obat ini
mengandung tiga senyawa kimia aktif, yaitu sodium klorida, kalium klorida, dan
benzalkonium klorida. Ketiga bahan tersebut membantu melumasi mata yang kering akibat
kekurangan air mata, penggunaan lensa kontak, atau iritasi mata ringan.

 Dosis
Dewasa : 1-2 tetes sebanyak 3-4 kali sehari
Anak-anak : Penggunaan obat ini sebaiknya dibawah pengawasan dokter.
 Bentuk sediaan : tetes mata.
 Efek samping

Gatal, kemerahan, bengkak, nyeri, mata buram, sensasi hangat atau panas pada mata

b. LipiFlow thermal pulsation.


Alat ini bertujuan untuk membuka hambatan kelenjar minyak yang menjadi penyebab
mata kering. Selama terapi ini, alat berbentuk seperti mangkok akan dipasang di mata,
dan memberi pijatan yang lembut serta hangat pada kelopak mata bawah.
c. Intensed-pulsed light therapy.
Terapi cahaya yang diikuti dengan pijatan pada kelopak mata dapat membantu penderita
mata kering yang parah.
d. Lensa kontak khusus.
Lensa kontak yang disebut scleral lens ini dianjurkan dipakai penderita agar bisa
melindungi permukaan mata dan mempertahankan kelembapan mata.
e. Operasi.
Prosedur ini bisa dilakukan untuk kasus mata kering yang parah dan tidak bisa diatasi
dengan terapi lainnya. Operasi dilakukan dengan menyumbat saluran pembuangan air
mata secara permanen, sehingga permukaan mata akan selalu lembap. Operasi lainnya
adalah autotransplantasi kelenjar ludah. Dalam prosedur ini, kelenjar air ludah dari
bagian bawah bibir diangkat untuk ditempatkan di dalam kulit sekitar mata untuk
berperan sebagai pengganti kelenjar air mata.