Anda di halaman 1dari 17

ASUHAN KEPERAWATAN VERTIGO

Dosen Pembimbing : Arum.,M.Kep

Disusun Oleh kelompok 3 :


1. Maskurniawan (201701178)
2. Lailatul Rizqiyah (201701181)
3. Firdatul Shakdiah (201701186)
4. Nadya Wina W. (201701194)
5. Halimatus Sakdiyah (201701197)
6. Eka Windasari (201701199)
7. Anggi Luthfiyatul A. (201701201)
8. Dina Rohmadoni (201701202)
9. Kusmawatun (201701205)
10. Vira Aisah (201701217)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


STIKES BINA SEHAT PPNI
MOJOKERTO
[Type text] Page 1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas nikmat dan karunia-
Nya lah kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik. Setiap konsep dalam
makalah ini juga memerlukan bahasa dan rincian serta berbagai penjelasan yang dapat
memudahkan untuk mempelajari dan memahaminya.Makalah yang berjudul “ KONSEP
ASUHAN KEPERAWATAN VERTIGO “. Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima
kasih kepada para pendukung yang memberikan motivasi sehingga makalah ini dapat
terselesaikan. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih juga kepada para pembaca terutama bagi
mahasiswa, Dan tidak lupa pula kepada para dosen yang telah membimbing kami menjadi
manusia yang berpotensi.Kritik dan saran pembaca merupakan sumbangan yang sangat
berarti bagi kami dalam menyempurnakan isi makalah ini. Semoga makalah ini dapat
menjadi panduan bagi mahasiswa.

Mojokerto, 2 oktober 2019

Penulis

[Type text] Page 2


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………...................... ii
DAFTAR ISI……………………………………………………………………… iii

BAB I PEMBAHASAN
A.Definisi .................................................................................................................. 4
B.Etiologi .................................................................................................................. 4
C.Patofisiologi .......................................................................................................... 5
D.Manifestasi Klinis ................................................................................................. 6
E. Phatway………………………………………………………………....………. 7
F.Komplikasi……………………………………………………………….............. 8
G.Pemeriksaan Diagnostik......................................................................................... 8
H.Penatalaksanaan..................................................................................................... 8

BAB II KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


A.Pengkajian ............................................................................................................ 9
B.Diagnosa Keperawatan ........................................................................................ 10
C.Intervensi Keperawatan ....................................................................................... 10

BAB IV PENUTUP
A.Kesimpulan .......................................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 18

[Type text] Page 3


BAB 1

Laporan Pendahuluan

A. Definisi

Vertigo adalah suatu istilah yang berasal dari bahasa latin “vertere” yang
bebrarti memutar. Vertigo didefinisikan berbagai macam namun pada garis besarnya
terdapat dua kelompok aliran yaitu kelompok yang menganggap vestibulum sebagai
dasar kelainan dan kelompok yang menganggap alat keseimbangan tubuh sebagai satu
kesatuan sumber kelainan. Kelompok yang pertama, mendefinisikan vertigo adalah
rasa berputar tubuhnya atau sekitarnya yang disebabkan oleh gangguan labirin.
Menurut kelompok yang kedua, vertigo adalah gerakan sebenarnya atau hanya rasa
gerakan yang disebabkan oleh gangguan alat keseimbangan tubuh di tingkat perifer
atau sentral.

Vertigo adalah sensasi berputar atau pusing yang merupakan suatu gejala
dimana penderitanya akan merasakan benda – benda disekitarnya bergerak memutar
atau bergerak naik turun karena gangguan pada system keseimbangan. (Arsyad
Soepardi Efiaty dan Nurbaiti, 2002)

B. Etiologi

1. Otologi 24 – 61 %

a. Benigna Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)

b. Meniere Desease

c. Parese N. VIII Uni / bilateral

d. Otitis media

2. Neurologic 23 – 30 %

a. Gangguan serebrovaskular batang otak atau sereblum

b. Ataksia karena neuropati

c. Gangguan visus

d. Gangguan sereblum

[Type text] Page 4


e. Gangguan sirkulasi LCS

f. Multiple sclerosis

g. Vertigo servikal

3. Interna kurang lebih 33% karena gangguan kardiovaskular

a. TD naik turun

b. Aritmia kordis

c. Intoksikasi obat : Nifedipin, Benzoadiazepin, Xanax

d. Tumor

4. Psikiatrik >50% kasus

a. Depresi

b. Pobia

c. Ansietas

d. Psikosomatis

5. Fisiologik : melihat ke bawah dari ketinggan

C. Patofisiologi

Dalam kondisi normal informasi yang tiba di pusat integrasi alat keseimbangan tubuh
yang berasal dari reseptor vestibular, visual, dan propioseptik kanan dan kiri akan
diperbandingkan. Jika semuanya sinkron dan wajar akan diproses lebih lanjut secara
normal akan direspon. Respon yang muncul beberapa penyesuaian dari otot – otot
mata dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak. Disamping itu orang menyadari
posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitarnya. Tidak ada tanda gejala
kegawatan (alam reaction) dalam bentuk vertigo dan gejala dari jaringan otonomik.
Namun jika dalam keadaan tidak normal dari fungsi alat keseimbangan tubuh
dibagian tepi atau sentral maupun rangsangan gerakan yang aneh atau berlebihan,
maka proses pengolahan informasi yang wajar tidak berlangsung dan muncul tanda –
tanda kegawatan dalam bentuk vertigo dan gejala dari jaringan otonomik. Disamping

[Type text] Page 5


itu, respon penyesuaian otot – otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan
abnormal dari mata disebut nystagmus.

D. Manifestasi Klinis

1) Vertigo Sentral :

 Gangguan dibatang otak (diplopia, paratesia, perubahan serisibilitas dan


fungsi motoric)

 Lemah, gangguan koordinasi, kesulitan dalam gerak supinasi dan pronasi


(dysdiadochokinesia)

 Ataksia.

2) Vertigo Perifer :

 Episode vertigo berlangsung beberapa detik : vertigo posisional berigna


(VPB). Terjadi karena perubahan posisi kepala misalnya berguling
sewaktu tidur atau menengadah mengambil barang di tempat yang tinggi.
Berlangsung beberapa detik kemudian mereda.

 Episode vertigo berlangsung beberapa menit atau jam : dapat dijumpai


pada penyakit meniere atau vestibulopati secara berulang, kurangnya
pendengaran, berjalan tandem (berjalan dengan kaki lurus ke depan, jika
menapak tumit kaki yang satu menyentuh jari kaki lainnya dan membentuk
garis lurus ke depan) dan mata tertutup, terjadi pada usia 30 sampai 60
tahun pada permulaan munculnya penyakit karena adanya penurunan
fungsi vestibular perifer.

3) Serangan vertigo berlangsung beberapa hari atau minggu :

 disebut dengan neuronitis vestibular . Bermula dengan adanya vertigo,


nausea, dan disertai dengan muntah secara mendadak selama beberapa hari
bahkan beberapa minggu.

 Pendengaran tidak terganggu

 Nistagmus menjadi lebih besar

E. Pathway

[Type text] Page 6


Gangguan Gangguan pada Neuroma
telinga nerves vestibularis Akustik

Vertigo

Otak kecil Gangguan Kurangnya


system syaraf pengetahuan
pusat

Terjadi gangguan
keseimbangan
pusing Cemas

Resiko Cidera
Mual muntah

Gangguan
nutrisi

F. Komplikasi

[Type text] Page 7


1. Cidera Fisik : Pasien dengan vertigo ditandai dengan kehilangan keseimbangan
akibat terganggunya syaraf vestibularis sehingga pasien tidak mampu
mempertahankan diri untuk tetap berdiri dan berjalan.

2. Kelemahan otot : Pasien yang mengalami vertigo seringkali tidak melakukan


aktivitas, mereka lebih sering untuk berbaring atau tiduran sehingga menjadikan
gerak yang terbatas dapat menyebabkan kelemahan otot.

G. Pemeriksaan penunjang

a) Tes Romberg (penderita vertigo melakukannya dengan waktu < 30 detik)

b) Stepping Test (berjalan ditempat dengan mata tertutup sebanyak 50 langkah.


Dianggap abnormal jika penderita beranjak > 1 m atau badan berputar > 30
derajat).

c) Post – Pointing (merentangkan lengannya, angkat lengan setinggi – tingginya


kemudian kembali seperti semula).

d) Manuver Hallpike (duduk ditempat tidur kemudian direbahkan sampai kepala


pasien bergantung di pinggir tempat tidur dengan sudut 30 derajat dengan
posisi kepala menoleh ke kiri lalu posisi kepala lurus, kemudian menoleh lagi
ke kanan pada keadaan abnormal akan terjadi nystagmus).

e) Elektronistagmografi (mencatat lama dan cepatnya nystagmus yang muncul)

f) Pusturografi (mengevaluasi system visual, vestibular, dan somatosensorik)

H. Penatalaksanaan

1) VPB : latihan posisional, pemberian obat seperti miklisin, betahistin, dan


fenergen.

2) Neurotis Vestibular : pemberian anti biotika dan terapi simtomatik.

3) Meniere : belum ditemukan obatnya, terapi dengan tujuan meringankan vertigo,


mengusahakan agar serangan tidak kambuh atau masa kambuh menjadi lebih
berkurang, dan terapi bedah diindikasikan bila serangan sering terjadi, tidak dapat
diredakan dengan obat atau tindakan konservatif.

BAB II

[Type text] Page 8


Konsep Asuhan Keperawatan

A. Pengkajian Data Keperawatan

Biodata :

- Vertigo lebih sering menimpa kaum wanita. Juga bisa menyerang siapa saja
pada rentan usia berapa pun. Tetapi lebih banyak terjadi pada usia 50 tahun ke
atas.

Riwayat kesehatan :

- Keluhan utama :

Biasanya klien mengalami pusing seperti diputar-putar

- Riwayat kesehatan sekarang :

tanyakan adakah pengaruh sikap atau perubahan sikap terhadap


munculnya vertigo, posisi mana yang dapat memicu vertigo

- Riwayat kesehatan yang lalu :

adakah riwayat trauma kepala, penyakit infeksi dan inflamasi d a n p e n y a k i t


t u m o r o t a k . R i w a y a t penggunaan obat vestibulotoksik missal antibiotik,
aminoglikosid, antikonvulsan dan salisilat

- Riwayat kesehatan keluarga :

adakah riwayat penyakit yang sama diderita oleh anggota keluarga lain atau
riwayat penyakit lain baik bersifat genetic maupun tidak

Pemeriksaan fisik .

Keadaan Umum :

a) Sistem persepsi sensori


adakah rasa tidak stabil,disorientasi, osilopsia yaitu suatu ilusi bahwa benda yang
diam tampak bergerak maju mundur.
b) System persarafan

[Type text] Page 9


adakah nistagmus berdasarkan beberapa pemeriksaan baik manual maupun
dengan alat
c) Aktivitas / istirahat : letih, lemah, keterbatasan gerak, insomnia, ketegangan pada
mata
d) Sirkulasi : riwayat hipertensi, denyutan vascular (daerah temporal, pucat, wajah
tampak kemerahan)

e) Integritas Ego : faktor emosional / lingkungan tertentu, perubahan


ketidakmampuan, keputusasaan, kekawatiran.

f) Makanan dan Cairan : mual dan muntah, anoreksia, penuruan BB

g) Neurosensoris : pening atau pusing, disorientasi (selama sakit kepala), trauma


kepala, penurunan reflek tendon dalam.

h) Nyaman Nyeri : ketegangan otot, pascatrauma, pucat pada daerah wajah, frigiditas
vocal.

i) Interaksi Sosial : perubahan peran interaksi yang berhubungan dengan penyakit

B. Diagnosa :

1. Resiko cedera dibuktikan dengan perubahan fungsi psikomotor

2. Gangguan nutrisi berhubungan dengan faktor psikologis

3. Cemas berhubungan dengan kurang terpapar informasi

C. Intervensi

No. Diagnosa Tujuan Intervensi


Keperawatan
1. Resiko cedera Setelah dilakukan Environment
dibuktikan dengan tindakan kepeawatan Management :
perubahan fungsi selama ….x 24 jam, px
awasi dan gunakan
psikomotor diharapkan tidak jatuh.
lingkungan fisik untuk
a. Safety status : meningkatkan keamanan.
falls occurrence.
Falls Prevention :

[Type text] Page 10


b. Falls prevention : kaji penurunan kognitif
knowledge dan fisik px yang
personal safety. mungkin dapat
meningkatkan resiko
c. Safety behavior :
jatuh, kaji tingkat
falls prevention
keseimbangan dan
KH : kelelahan dengan

a. Px mampu ambulasi.

berdiri, duduk, Teaching : disease


berjalan tanpa Proles :
pusing.
Jelaskan pada px tanda
b. Px mampu dan gejala dari penyakit
menjelaskan jika yang diderita, anjurkan
terjadi serangan px untuk bedrest pada
dan cara fase akut, jelaskan pada
mengantisipasiny px tentang terapi
a. rehabilitative pada px
vertigo.
2. Gangguan nutrisi Setelah dilakukan Patient / family
berhubungan dengan tindakan kepeawatan teaching :
faktor psikologis selama ….x 24 jam,
Anjurkan px agar pelan –
nausea berkurang /
pelan nafas dalam dan
hilang.
menelan untuk
a. Comfort level menurunkan rasa mual
dan muntah. Ajarkan px
b. Hidration
untuk tidak minum 1 jam
c. Nutritional Status sebelum, 1 jam setelah
Food Finid Intake dan sewaktu makan.

KH : Nutritional Monitoring :

a. Terdapat tanda – - Monitor tipe


tanda fisik dan kehilangan BB

[Type text] Page 11


psikologik dan pertumbuhan.
membaik.
- Monitor
b. Turgor kulit, kelembapan,
mukosa mulut turgor kulit, dan
baik, tidak depigmentasi.
terdapat odema
- Monitor tingkat
perifer.
energi, malaise,
c. Intake makanan fatigue, dan
dan minuman kelemahan px.
baik.
- Monitor asupan
kalori dan nutrisi

- Kelola pemberian
anticmetic
sebelum makan
atau sesuai jadwal

Fluid Managemen :

- Awasi secara
akurat intake dan
output.

- Monitor vital
sign.

- Monitor status
nutrisi px.

- Monitor status
hydrasi, missal
kelembapan
membrane
mukosa, TD dan
orthostatic BP.

[Type text] Page 12


Kelola pemberian terapi
IV

3. Cemas berhubungan Setelah dilakukan Teaching Individual :


dengan kurang penjelasan selama …..x
- Tentukan
terpaparnya informasi pertemuan, pengetahuan
kebutuhan
px tentang penyakit,
pembelajaran px.
pengobatan dan
perawatan px meningkat. - Kaji tingkat
pengetahuan dan
a. Knowledge :
pemahaman px
Disease procces
tentang vertigo.
b. Knowledge :
- Kaji tingkat
Illnes care
Pendidikan.
KH :
- Kaji kesiapan px
Klien dan keluarga dalam
mampu menjelaskan mempelajari
pengertian, proses informasi
penyakit, penyebab, spesifik.
tanda dan gejala, efek
- Atur agar realita
penyakit, tindakan
tujuan
pencegahan, pengobatan
pembelajaran
dan perawatan vertigo.
dengan pasien
saling
menguntungkan.

- Sediakan
lingkungan yang
kondusif

- Koreksi adanya
kesalahan
informasi.

[Type text] Page 13


- Sediakan waktu
untuk bertanya
pada px.

Teaching : Disease
Proccess

- Nilai tingkat
pengetahuan px
tentang
penyakitnya.

- Jelaskan
patofisiologi
vertigo.

- Jelaskan tanda
dan gejala
vertigo.

- Jelaskan
kemungkinan
penyebabnya.

- Diskusikan
perubahan gaya
hidup yang
mungkin dapat
mencegah
komplikasi
dimasa yang akan
datang.

- Diskusikan
pilihan – pilihan
terapi pengobatan
yang

[Type text] Page 14


direkomendasikan
.

- Jelaskan alas an
rasional dari
terapi pengobatan
yang
direkomendasikan
.

- Kaji sumber –
sumber
pendukung yang
memungkinkan.

[Type text] Page 15


BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Vertigo adalah suatu istilah yang berasal dari bahasa latin “vertere” yang bebrarti memutar.
Vertigo adalah sensasi berputar atau pusing yang merupakan suatu gejala dimana
penderitanya akan merasakan benda – benda disekitarnya bergerak memutar atau bergerak
naik turun karena gangguan pada system keseimbangan. (Arsyad Soepardi Efiaty dan
Nurbaiti, 2002).

Dalam kondisi normal informasi yang tiba di pusat integrasi alat keseimbangan tubuh yang
berasal dari reseptor vestibular, visual, dan propioseptik kanan dan kiri akan
diperbandingkan. Jika semuanya sinkron dan wajar akan diproses lebih lanjut secara normal
akan direspon. Respon yang muncul beberapa penyesuaian dari otot – otot mata dan
penggerak tubuh dalam keadaan bergerak. Disamping itu orang menyadari posisi kepala dan
tubuhnya terhadap lingkungan sekitarnya. Tidak ada tanda gejala kegawatan (alam reaction)
dalam bentuk vertigo dan gejala dari jaringan otonomik. Namun jika dalam keadaan tidak
normal dari fungsi alat keseimbangan tubuh dibagian tepi atau sentral maupun rangsangan
gerakan yang aneh atau berlebihan, maka proses pengolahan informasi yang wajar tidak
berlangsung dan muncul tanda – tanda kegawatan dalam bentuk vertigo dan gejala dari
jaringan otonomik.

[Type text] Page 16


DAFTAR PUSTAKA

Arsyad soepardi, efiaty dan Nurbaiti.2002. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung
tenggorokan kepala leher edisi ke lima. Jakarta : Gaya Baru
Parham K.,2014. Benign Paroxysmal Positional Vertigo : An Integrated Perspective.
Advances in Otolaryngology. Article ID 792635, 17 pages, 2014
Santosa, Budi.2005. Panduan Diagnosa keperawatan NANDA 2005 – 2006. Alih Bahasa.
Jakarta : Prima Medika
Strup M., Brandt T.2012. Central Vertigo. Otorhinolaryngology Clinics : An International
Journal.4(2):71 – 76
Wilkinson, Judith M.2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan
Kriteria Hasil NOC.Jakarta : EGC

[Type text] Page 17