Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) merupakan penyebab gangguan dan
sumbatan aliran kemih paling banyak dijumpai pada pria lanjut usia. Sebagian
pasien BPH mengalami penyakit ini ketika berusia di atas 50 tahun dan lebih dari
80% yang mengalami penyakit ini pada usia di atas 80 tahun. Penatalaksanaan
jangka panjang yang terbaik pada pasien BPH adalah dengan pembedahan, karena
pemberian obat-obatan atau terapi non invasif lainnya membutuhkan waktu sangat
lama untuk melihat keberhasilannya.

Salah satu tindakan pembedahan yang paling banyak dilakukan pada pasien
dengan BPH adalah pembedahan Transurethral Resection of Prostate (TURP).
TURP merupakan prosedur pembedahan dengan memasukan resektoskopi melalui
uretra untuk mengeksisi dan mengkauterisasi atau mereseksi kelenjar prostat yang
obstruksi. Pada pembedahan TUR Prostat sebelumnya perlu dilakukan tindakan
anestesi untuk menghilangkan rasa nyeri pada pasien saat operasi sehingga
memudahkan operator untuk melakukan tindakan. Anestesi yang tepat untuk
tindakan bedah urologi termasuk pembedahan TURP Prostat adalah anestesi
spinal.

Anastesi spinal adalah pemberian obat anestetik lokal ke dalam ruang


subarachnoid dengan tujuan untuk mendapatkan blokade sensorik, relaksasi otot
rangka, dan blokade saraf simpatis. Indikasi dilakukannya anestesi spinal adalah
bedah panggul, bedah obstetric-ginekologi, bedah urologi, bedah abdomen bawah,
tindakan sekitar rectum-perineum dan bedah ektremitas bawah.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimakasud BPH?
2. Apakah definisi dari anastesi spinal?
3. Bagaimana mekanisme obat anastesi local dalam penggunaanya sebagai
anastesi spinal?
4. Apa saja faktor yang mempengaruhi anestesi spinal?

1
5. Bagaimana pengaruh anestesi spinal pada sistem tubuh?
6. Bagaimana teknik analgesia spinal?

1.3 Tujuan
Penulisan laporan kasus ini bertujuan untuk :
a. Meningkatkan kemampuan dalam penulisan ilmiah di bidang kedokteran.
b. Memenuhi salah satu tugas Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Anestesi
dan Reanimasi RSUD Kanjuruhan Kepanjen Fakultas Kedokteran
Universitas Islam Malang.
1.4 Manfaat
Sebagai proses pembelajaran bagi dokter muda yang sedang mengikuti
kepaniteraan klinik bagian ilmu anastesiologi dan reanimasi.

2
BAB II
STATUS PASIEN

2.1 Identitas Pasien


Nama : Tn. S
Umur : 71 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Petani
Agama : Islam
Alamat : Turen
Status Perkawinan : Menikah
Suku : Jawa
Tanggal operasi : 07 November 2019
No. RM : 480***

2.2 Anamnesa
1. Keluhan Utama :
Tidak bisa kencing
2. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke Poli Urologi RSUD Kanjuruhan Kepanjen dengan
keluhan tidak bisa kencing sejak ± 1 minggu yll. Selain itu pasien
mengeluh mengejan saat kencing. Sebelumnya pasien mengaku sudah
pernah mengalami keluhan serupa sekitar 6 bulan yang lalu dan membaik
setelah mendapatkan obat dari dokter.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
 Riwayat Operasi :-
 Riwayat Diabetes Melitus : -
 Riwayat Penyakit Jantung : -
 Riwayat Hipertensi :-
 Riwayat asma :-
 Riwayat Kejang :-

3
4. Riwayat Pengobatan : sudah berobat sekitar 6 bulan yang lalu.
5. Penyakit Keluarga : DM (-), hipertesi (-), penyakit jantug (-), asma (-)
6. Riwayat alergi : obat (-), makanan (-), suhu (-)
7. Riwayat Kebiasaan :-
8. Riwayat psikologi : Tenang

2.3 Pemeriksaan Fisik


1. Keadaan Umum : baik
2. Kesadaran : compos mentis, GCS 456
3. Tanda Vital :
 TD : 120/70 mmHg
 Nadi : 84x/menit
 RR : 16x/menit
 Suhu : 36 0C
4. Kulit : Berwarna sawo matang, tidak pucat, tidak ada gatal, kulit tidak
kering, turgor baik.
5. Kepala : Bentuk kepala normal, rambut kepala tidak rontok, tidak ada luka
maupun benjolan.
6. Mata : Anemia -/-, Ikterik -/-, pupil isokor, refleks cahaya +/+, mata
tidak cowong.
7. Hidung: Tidak ada deformitas, tidak ada sekret dan krusta, tidak ada
obstruksi.
8. Mulut : tidak ada stomatitis, gigi normal, kelainan lidah tidak ada,
mukosa faring tidak hiperemi, tidak ada pembesaran tonsil.
9. Telinga: Tidak ada sekret, tidak ada serumen, tidak ada benda asing,
membran timpani intake, pendengaran normal.
10. Tenggorokan : Simetris, tidak ada pembesaran kel.tiroid
11. Leher : Tidak ada kaku, JVP tidak dievaluasi, tidak ada pembesaran KGB
12. Thoraks:
Pulmo :
Statis (depan dan belakang)
 Inspeksi : bentuk normal, pengembangan dada kanan dan kiri sama.

4
 Palpasi : fremitus raba kiri sama dengan kanan
 Perkusi : sonor/sonor
 Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+), suara tambahan : wheezing
(-/-), ronkhi (-/-).
Cor :
 Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
 Palpasi : ictus cordis kuat angkat,
 Perkusi :
 Batas kiri atas : ICS II para sternal line sinistra
 Batas kanan atas : ICS II para sternal line dekstra
 Batas kiri bawah : ICS V midclavicular line sinistra
 Batas kanan bawah : ICS IV para sternal linea dekstra
 Auskultasi : bunyi jantung I-II intensitas normal, regular, suara
tambahan jantung : gallop (-), murmur (-)
13. Abdomen :
 Inspeksi : dalam batas normal
 Auskultasi: Bising usus (+) normal
 Perkusi : Timpani
 Palpasi : Shuffle, tidak ada asites, tidak ada defans muskuler, tidak
ada pembesaran hepar maupun lien, nyeri ketok ginjal kanan (+).
14. Ekstremitas
Atas : Akral dingin(-/-), Edema (-/-), Ilkus (-/-)
Bawah : Akral dingin (-/-), Edema (-/-), Ilkus (-/-)

5
2.4 Pemeriksaan Penunjang

 Darah Lengkap (31 Oktober 2019)


Jenis Hasil Normal Satuan
Pemeriksaan

Hemoglobin 13,8 L.13,5-18 P.12-16 g/dl

Hitung Lekosit 11.800 4.300 - 10.300 sel/cmm

Hitung Eritrosit 4,36 L 4,0-5,5; P 3-6 jt/mm3

Hitung 341.000 142.000 – 424.000 sel/cmm


Trombosit

Hematokrit 41,0 L. 40-47 P. 35-47 %

GDS 90 <200 mg/dL

Ureum 24 10-20 mg/dL

Creatinin 0,97 <1,2 mg/dL

 EKG : Irama sinus, dalam batas normal


 Ultrasonografi : - pembesaran kelenjar prostat (grade 1-2), volume 0,79cc
2.5 Resume
Pasien datang ke Poli Urologi RSUD Kanjuruhan Kepanjen dengan
keluhan tidak bisa kencing sejak ± 1 minggu yll, mengejan saat kencing dan
nyeri. Sebelumnya sudah pernah mengalami keluhan serupa sekitar 6 bulan
yang lalu dan membaik setelah mendapatkan obat dari dokter.
Kesadaran CM, GCS 456, TD: 120/70 mmHg, nadi: 84x/menit, Tax: 36°C,
RR : 16x/menit. Pada colok dubur/rectal touche prostat teraba membesar.
Pada pemeriksaan darah lengkap terdapat peningkatan leukosit dan ureum.
Pada USG didapatkan pembesaran kelenjar prostat dengan volume 0,79cc dan
grade 1-2.
2.6 Diagnosa
Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)
2.7 Terapi
 IVFD NS 0,9% 7 tpm

6
 Pro TURP
 Informed Consent dan KIE Operasi

2.8 Status Anestesi

ASSESMENT PRA INDUKSI / PRA SEDASI


B1 : batuk/pilek/sesak/rhonci-wheezing (-)
RR : 16x/menit
B2 : Tensi : 120/70 mmHg
Nadi : 84x/menit
Perfusi : kering, hangat, kemerahan
B3 : GCS : 456
Status Mental : CM, tenang
B4 : Produksi Urin : (+)
Warna : Kuning, jernih
B5 : Puasa : (+)
Lavement : (-)
B6 :-
Layak induksi anestesi

KETERANGAN UMUM
Nama penderita : Tn.S

Umur : 71 tahun

Ahli bedah : dr. A, Sp.U

Ahli anastesi : dr. W, Sp.An (K)

Diagnose Pra bedah : BPH

Jenis pembedahan : TURP

Diagnose pasca bedah : BPH

Jenis anastesi : Regional Anestesi (Sub Arachnoid Block/SAB)

7
KEADAAN PRA BEDAH

Keadaan umum : gizi cukup

TD : 150/94 mmHg, N : 100 kali/menit, RR : 20 x/mnt, Tax : 36°C

Hb : 13,8 gr%, Leukosit : 11.800/cmm, PVC : ... %

Penyakit-penyakit lain: -

STATUS FISIK: ASA 1, operasi elektif

PREMEDIKASI : S. Atropin (-) mg Midazolam (-) mg Petidin (25) mg


Metochlopramide (10) mg. Lain-lain (-) Jam : (-) IMIV Lain-lain Efek: (-)

POSISI : Litotomi

TEKNIK ANASTESI : Anestesi Spinal (Sub Arachnoid Block/SAB)


Prosedur anastesi :
- Pasien berbaring dalam posisi supine. Terpasang infus dengan iv cateter
no. 18 G di tangan kanan dengan cairan maintenance RL, oksigenasi O2 via
nasal kanul, catheter foley No.16, serta monitor standar.
- Premedikasi : inj metoclopramide 10 mg, inj Pethidine 25 mg, inj
Ketorolac 30mg
- Prosedur SAB : pasien posisi tidur lateral decubitus, identifikasi interspace
L3 – L4, asepsis dan desinfeksi dengan betadine dan alkohol 70%, insersi
jarum spinocaine 25G dengan paramedia approach, LCS (+) mengalir,
darah (-). Injeksi bupivacaine 0.5% 15 mg
Maintenance O2 3 lpm dengan nasal kanul
PERNAPASAN : Spontan

OBAT ANASTESI

1. Bupivacain HCL 15 mg
2. Pethidine 25 mg
3. Metoclopramide 10 mg
4. Ketorolac 30 mg

8
Jumlah cairan didapat: Jumlah perdarahan:

Pre Op = NS ±500 cc ± 50 cc

Durante Op = NS ± 1000 cc.

DURANTE OPERASI

1. Pasien mulai masuk ke ruang operasi pada jam 9.25 WIB. Selanjutnya,
dipasang alat-alat monitoring pasien yaitu tensimeter dan pulse oximetri
untuk menilai tekanan darah, nadi, dan saturasi O2. Status monitoring yang
didapatkan (jam 9.30) yaitu TD 150/94; Nadi 100x/menit; Sat.O2 99%

2. Pasien diberikan oksigenasi O2 3 lpm via nasal canule dan resusitasi cairan
NS 500 mL secara IV

3. Sebelum dilakukan anastesi spinal, pasien diberikan obat premedikasi


Metochlopramide 20 mg IV bolus sebagai anti-emetik. Pethidine 25mg iv
sebagai analgetik dan sedatif

4. Selanjutnya, pada jam 9.30 dilakukan anastesi spinal menggunakan obat


Bupivikain 0,5% 15 mg dengan teknik sebagai berikut:

Pasien posisi tidur lateral decubitus  identifikasi interspace L3 – L4 


asepsis dan desinfeksi dengan betadine dan alkohol 70%  insersi jarum
spinocaine jenis Quincke ukuran 25G + stylet dengan paramedia approach
 ambil stylet pada jarum  LCS (+) mengalir, darah (-)  injeksi
bupivacaine 0.5% 15 mg
5. Setelah efek anastesia bekerja, operasi dimulai pada jam 9.35 Status
monitoring (10.00) yang didapatkan yaitu TD 120/70; Nadi 74x/menit;
Sat.O2 99%
6. Pada jam 10.15, injeksi Ketorolac 30 mg IV bolus sebagai analgetik
7. Jam 10.20 operasi telah selesai

PASCA BEDAH DI RUANG PEMULIHAN / RECOVERY ROOM


Masuk : 11.00 WIB

9
Tek. Darah : 128/75 mmHg
Nadi : 78 x/menit
Rr : Baik, 18x/menit
SpO2 : 98%
Alat kesehatan yang dipakai : Infus, kateter, nasal canule

BROMAGE SCORE

Jika skor <2 pasien boleh pindah ruang perawatan

Total skor : 1

INSTRUKSI PASCA BEDAH

Awasi : Keadaan Umum, Tensi, Nadi, Pernapasan, Suhu, Perdarahan


tiap 5 menit

Posisi : Tidur terlentang dengan bantal

Infus : NS 1000 cc dalam 24 jam

Obat-obatan : Inj. Ketorolac 3x30mg

Lain-lain : Lapor Dokter

10
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Benign Prostat Hiperplasi (BPH)


BPH adalah pembesaran dari kelenjar prostat. BPH merupakan penyebab
gangguan dan sumbatan aliran kemih paling banyak dijumpai pada pria lanjut
usia. Sebagian pasien BPH mengalami penyakit ini ketika berusia di atas 50 tahun
dan lebih dari 80% yang mengalami penyakit ini pada usia di atas 80 tahun.
Gejala klinis yang timbul adalah berupa gejala Lower Urinary Track
Syndrome (LUTS) yang terdiri dari gejala obstruksi dan iritatif. Pada pemeriksaan
fisik terutama pada colok dubur akan teraba kelenjar prostat yang membesar,
konsistensi kenyal seperti ujung hidung, sisi kanan dan kiri simetris dan tidak
didapatkan nodul. Selain dari pemeriksaan fisik untuk mendiagnosisnya dapat
dilakukan pemeriksaan penunjang salah satunya adalah Ultrasonografi.

Penatalaksanaan jangka panjang yang terbaik pada pasien BPH adalah dengan
pembedahan salah satunya TURP, karena pemberian obat-obatan atau terapi non
invasif lainnya membutuhkan waktu sangat lama untuk melihat keberhasilannya.
(Purnomo,2003)

3.2 Anastesi Spinal (Sub Arachnoid Block/SAB)


Anastesi spinal adalah pemberian obat anestetik lokal ke dalam ruang
subarachnoid dengan tujuan untuk mendapatkan blokade sensorik, relaksasi otot
rangka, dan blokade saraf simpatis (Wirawan, 2011).

11
Indikasi (Latief et al., 2010):

1. Bedah panggul
2. Bedah obstetric-ginekologi
3. Bedah urologi
4. Bedah abdomen bawah
5. Tindakan sekitar rectum-perineum
6. Bedah ektremitas bawah

Kontra indikasi absolut (Latief et al., 2010)


1. Pasien menolak
2. Infeksi pada tempat suntikan
3. Hipovolemia berat; syok
4. Koagulopati atau mendapat terapi antikoagulan
5. Tekanan intrakranial meninggi
6. Fasilitas resusitasi minimal
7. Kurang pengalaman atau tanpa didampingi konsultan anestesia

Kontra indikasi relatif


1. Infeksi sistemik (sepsis, bakteremi)
2. Infeksi sekitar tempat suntikan
3. Kelainan neurologis
4. Kelainan psikis
5. Bedah lama
6. Penyakit jantung
7. Hipovolemia ringan
8. Nyeri punggung kronis

 Blokade saddle (injeksi di L4-L5) = mati rasa inguinal. Pada operasi


hemoroid dan kemaluan
 Blokade di L3-L4 = mati rasa setinggi pusar. Pada operasi SC, hernia,
appendicitis (Pramono, 2016)

12
Obat Analgetik Lokal untuk Anastesi Spinal
Obat analgetik lokal adalah suatu ikatan kimia yang mampu menghambat
konduksi saraf perifer jika obat ini disuntikkan di daerah perjalanan serabut saraf
dengan dosis tertentu tanpa menimbulkan kerusakan permanen pada serabut saraf
tersebut. Obat analgetik local dapat mencegah terjadinya depolarisasi membrane
saraf pada tempat suntikan sehingga membrane akson tidak dapat bereaksi dengan
Ach, sehingga membrane tetap dalam keadaan semipermeable dan tidak terjadi
perubahan potensial. Keadaan ini akan menyebabkan aliran impuls yang melewati
saraf tersebut terhenti, sehingga segala macam rangsang/sensasi tidak sampai ke
susunan saraf. Selanjutnya dapat timbul keadaan paresthesia sampai analgesia,
paresis sampai paralisis, dan vasodilatasi pembuluh darah pada daerah yang
terblok (Mangku & Tjokorda, 2017).

Berat jenis CSF pada suhu 37°C adalah 1.003-1.008. Anastetik local dengan
berat jenis sama dengan CSF disebut isobaric, jika berat jenis lebih besar dari CSF
disebut hiperbarik, sedangkan jika berat jenis lebih kecil dari CSF disebut
hipobarik (konsentrasi obat yaitu separuh dari konsentrasi isobaric). Obat anastesi
local untuk anastesi spinal yang sering digunakan adalah jenis hiperbarik yang
diperoleh dengan mencampur anastetik local dengan dextrose. Cara kerja larutan
hiperbarik adalah melalui mekanisme hukum gravitasi, yaitu suatu zat yang berat
jenisnya lebih besar daripada larutan sekitarnya, maka akan bergerak ke tempat
yang lebih rendah sehingga mempercepat penyebaran larutan tersebut (Latief et
al., 2010; Mangku & Tjokorda, 2017; Mangku & Tjokorda, 2017).

Anastetik local Berat jenis Sifat Dosis

Lidokain (Xylobain, Lignokain) 1.006 Isobaric 20-100 mg (2-5


- 2% plain 1.033 Hiperbarik ml)
- 5% dalam dextrose 7.5% 20-50 mg (21-2
ml)
Bupivikain (Markain)
- 0.5% dalam air 1.005 Isobaric 5-20 mg (1-4 ml)

13
- 0.5% dalam dextrose 1.027 Hiperbarik 5-15 mg (1-3 ml)
8.25%

Lidokain dan bupivikain merupakan jenis obat analgesia local dari derivate
amida. Berdasarkan besar potensi dan lama kerja/durasi nya, lidokain termasuk
dalam potensi dan durasi sedang, yaitu dengan durasi 90-200 menit. Sedangkan
untuk bupivikain termasuk dalam potensi kuat dan durasi panjang yaitu 180-600
menit (Mangku & Tjokorda, 2017).

Bupivikain Hidroklorida
Adalah obat anastesi lokal golongan amida. Memiliki lama kerja yang
panjang sehingga sangat mungkin menggunakan obat ini dengan teknik 1x
suntikan.

Farmakologi : Obat bekerja pada reseptor spesifik pada kanal sodium yang akan
mencegah peningkatan permeabilitas sel saraf terhadap ion natrium dan kalium
sehingga depolarisasi tidak terjadi dan konduksi saraf terhambat

Mula kerja : 5-10 dengan analgesia kuat dicapai antara 15-20 menit

Durasi kerja : bupivikain termasuk dalam potensi kuat dan durasi panjang karena
obati ini lebih larut dalam lemak dibandingkan obat anastesi local lain. Durasi
kerja yaitu 180-600 menit

Faktor yang Mempengaruhi Efek Anastesi Spinal


Anestesi spinal dipengaruhi oleh beberapa faktor. Diantaranya adalah :

1. Gravitasi : larutan hiperbarik akan menyebar ke tempat yang lebih rendah,


larutan hipobarik akan bergerak melawan gravitasi, larutan isobaric tetap dan
sesuai dengan tempat injeksi
2. Tinggi pasien : makin tinggi makin panjang kolumna vertebralis makin besar
dosis yang diperlukan. (BB tidak berpengaruh terhadap dosis obat)
3. Tekanan intraabdomen : peningkatan intraabdomen  bendungan vena
abdomen dan pelebaran vena epidural bawah  ruang epidural menyempit 
penekanan ruang suarachnoid  penyebaran obat anastesi local ke kranial
lebih cepat. Perlu pengurangan dosis pada keadaan seperti ini

14
4. Tempat penyuntikan : makin tinggi tempat penyuntikan, maka batas daerah
analgesia semakin tinggi juga. Pengaruhnya besar pada L4-5 obat hiperbarik
cenderung berkumpul ke kaudal (saddle blok), pungsi L2-3 atau L3-4 obat
cenderung menyebar ke cranial.
5. Volume obat analgetik lokal: makin besar makin tinggi daerah analgesia
6. Konsentrasi obat: makin pekat makin tinggi batas daerah analgesia
7. Barbotase: penyuntikan dan aspirasi berulang-ulang meninggikan batas
daerah analgetik
8. Kecepatan: penyuntikan yang cepat menghasilkan batas analgesia yang
tinggi. Kecepatan penyuntikan yang dianjurkan: 3 detik untuk 1 ml larutan.
9. Maneuver valsava: mengejan meninggikan tekanan liquor serebrospinal
sehingga batas analgesia bertambah tinggi.
10. Waktu: setelah 15 menit dari saat penyuntikan, umumnya larutan analgetik
sudah menetap sehingga batas analgesia tidak dapat lagi diubah dengan posisi
pasien.
11. Posisi tubuh : larutan hiperbarik pada posisi terlentang bias mencapai level
blok T4

Persiapan
Persiapan yang dilakukan sebelum penentuan pilihan anastesi spinal adalah
(Latief et al., 2010):

1. Informed consent
Kita tidak boleh memaksa pasien untuk menyetujui anastesi spinal
2. Pemeriksaan fisik
Pastikan tidak dijumpai penyulit penusukan seperti pasien yang terlalu gemuk
sehingga prosesus spinosus sukar diraba atau terdapat kelainan spesifik
seperti kelainan anatomis tulang
3. Pemeriksaan laboratorium anjuran
Hemoglobin, hematocrit, PT (prothrombine time), PTT (partial
thromboplastine time)

15
Sedangkan untuk persiapan peralatan anastesi spinal antara lain (Latief et al.,
2010; Mangku & Tjokorda, 2017):

1. Peralatan monitoring
Tekanan darah, nadi, pulse oximeter, EKG
2. Peralatan resusitasi/anastesi umum
3. Kit emergensi
4. Infus tetesan cepat (hidrasi akut) sebanyak 500-1000 ml dengan kristaloid
atau koloid
5. Jarum spinal
Jarum spinal dengan ujung tajam (ujung bamboo runcing: Quinke-Babcock)
atau ujung pensil (pencil point: Whitecare)
6. Obat anastetik local lidokain 5% atau bupivikain 0,5%

Teknik Anastesi Spinal


Sebelum melakukan penusukan jarum, perlu diingat bahwa untuk mencapai
ruang subarachnoid, jarum suntik spinal akan menembus beberapa struktur yaitu
(Samodro et al., 2011):

1. Kulit
2. Lemak subcutan dengan ketebalan berbeda dan lebih mudah
mengidentifikasi ruang intervertebra pada pasien kurus
3. Ligament supraspinosa
4. Ligament interspinosa yang merupakan ligament yang tipis diantara
prosesus spinosus
5. Ligamentum Flavum yang sebagian besar terdiri dari jaringan elastic yang
berjalan secara vertical dari lamina ke lamina
6. Ruang epidural yang terdiri dari lemak dan pembuluh darah
7. Duramater
8. Subdural space
9. Arachnoid mater
10. Ruang Subarachnoid yang terdiri dari spinal cord dan akar saraf yang
dikelilingi oleh CSF. Injeksi dari anestesi local akan bercampur dengan CSF
dan secara cepat memblok akar syaraf yang berkontak.

16
Selanjutnya, untuk langkah-langkah melakukan anastesi spinal adalah sebagai
berikut (Latief et al., 2010; Mangku & Tjokorda, 2017; Pramono, 2016):

1. Pasang peralatan monitor


2. Posisikan pasien dalam posisi duduk (sitting position) atau tidur miring
(lateral decubitus position).
Sitting position : Anatomi midline tubuh lebih mudah dikenali
dibandingkan lateral decubitus position. Pasien
duduk, lalu siku bertumpu pada paha atau
pasien memeluk bantal agar tulang vertebra
dapat terfleksi, sehingga area diantara prosesus
spinosus lebih terbuka lebar.
Lateral Decubitus Position: Pasien tidur miring di bed, lalu lutut difleksikan
dan ditarik tinggi kearah abdomen atau dada
seperti “fetal position”.

3. Tentukan daerah penusukan jarum misalnya pada L2-L3, L3-L4, atau L4-L5.
Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua spina iliaca anterior
superior (SIAS) dengan tulang punggung adalah L4 atau L4-L5. Tusukan
pada L1-L2 atau diatasnya beresiko trauma terhadap medulla spinalis
4. Desinfeksi area tusukan dengan betadine dan alcohol, lalu tutup dengan duk
lubang steril

17
5. Lakukan pungsi lumbal pada area yang sudah ditandai menggunakan jarum
spinal dengan tanda tercapainya ruang subarachnoid adalah keluarnya CSF.
Tusukan dapat menggunakan pendekatan midline atau paramedian. Jarak
kulit-ligamentum flavum dewasa adalah ±6 cm. Untuk jarum spinal besar 22
G, 23 G, atau 25 G dapat langsung digunakan. Sedangkan untuk yang kecil
27 G atau 29 G dianjurkan menggunakan penuntun jarum (introducer), yaitu
jarum suntik biasa spuit 10cc. Tusukkan introducer sedalam kira-kira 2 cm
agak sedikit kearah sefal, kemudian masukkan jarum spinal beserta
introducernya ke lubang jarum tersebut. Jika menggunakan jarum tajam
(Quincke-Babcok), irisan jarum (bevel) harus sejajar dengan serat duramater,
yaitu pada posisi tidur miring, bavel mengarah ke atas atau ke bawah untuk
menghindari kebocoran CSF yang dapat berakibat timbulnya nyeri kepala
post spinal. Setelah resistensi menghilang, introducer jarum spinal dicabut
dan akan keluar CSF. Jika yakin ujung jarum spinal pada posisi yang benar
dan CSF tidak keluar, putar arah jarum 90°, biasanya CSF akan keluar. Lalu
pasang spuit berisi obat.
6. Masukkan obat anastetik local yang dipilih sambil melakukan barbotase. Obat
dapat dimasukkan dengan kecepatan 0,5 ml/detik diselingi aspirasi sedikit
hanya untuk meyakinkan posisi jarum tetap baik.

18
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Persiapan Pre Anestesi


Sebelum anestesi dan operasi ada beberapa hal yang perlu disiapkan. Hal itu
antara lain meliputi penilaian pasien, persiapan pasien, persiapan obat anestesi
dan peralatan yang diperlukan. Penilaian dan persiapan penderita diantaranya
meliputi penilaian klinis, penanggulangan keadaan darurat, penyulit anestesi,
serta informasi penyakit yang berupa :

- Anamnesis/alloanamnesis kejadian penyakit


- Kondisi pasien saat ini yang dapat mempersulit proses anestesi, misalnya
batuk, pilek, sesak dan adanya gigi palsu
- Keadaan B6 (Breath, Blood, Brain, Bladder, Bowell, Bone)
- Riwayat alergi, asma, hipertensi, diabetes mellitus, operasi sebelumnya,
komplikasi transfusi darah (bila pernah mendapatkan transfusi)
- Waktu dimulainya puasa (mencegah regurgitasi atau muntah)
Anamnesa ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan pasien untuk di
anastesi dan adanya penyulit yang dapat menyebabkan keadaan darurat saat
diberikan obat anestesi. Pada kasus ini, pasien digolongkan pada ASA 3 karena
terdapat penyakit diabetes mellitus yang tidak terkontrol.

4.2 Dasar Pemilihan Jenis Anestesi


Rencana jenis anestesi yang akan dilakukan yaitu regional anestesia karena
lokasi operasi berada pada ekstremitas inferior. Selain itu, pada pasien ini
memiliki psikologis yang tenang dan kooperatif, sehingga memungkinkan
untuk dilakukan anestesi regional. Pada pasien ini juga tidak terdapat gangguan
jalan nafas, sehingga memungkinkan pasien tetap bisa bernafas spontan saat
tindakan anestesi dan tidak memerlukan tindakan anestesi general.

4.3 Pemberian Premedikasi dan Induksi


Premedikasi

19
Pasien diberikan obat premedikasi yaitu sedasi berupa:

a. Pethidine 25 mg: untuk premedikasi sebelum operasi. Pethidine memiliki


efek sedatif dan analgetik.
b. Metoclopramide 10 mg: sebagai anti emetic. Metoclopramide menghambat
relaksasi otot polos gaster akibat dopamine, meningkatkan respon
kolinergik dari oto polos GIT. Dapat meningkatkan kontraksi sfingter
esofagus bawah sehingga menurunkan resiko reflux.
Induksi

Menggunakan regional anestesi, injeksi dengan Bupivacain 0,5% 15 mg.


Mekanisme kerja obat ini dengan memblokade saluran natrium, sehingga
memperlambat dan menghentikan perambatan potensial aksi. Durasi obat ini
sekitar 2-3 jam. Efek samping obat ini adalah hipotensi, bradikardi, sakit
kepala pasca anestesi spinal. Dosis yang digunakan adalah dosis individual,
misalnya Bunascan 0,5% untuk anestesi spinal menggunakan 1 ampul (4 ml),
dengan sediaan 5 mg/ml.

4.4 Post Operatif


Setelah operasi selesai, pasien dipindahkan ke recovery room dan
diobservasi berdasarkan Bromage Score karena anestesinya merupakan
anestesi regional. Jika Bromage Score ≤ 2, maka pasien dapat dipindahkan ke
bangsal ruang pasien semula. Pada pasien ini didapatkan Bromage Score 1,
maka pasien bisa dipindahkan ke ruangan.

Selain itu, dapat diberikan Ketorolac 30 mg IV yang merupakan golongan


NSAID dan memiliki efek analgesic, antipiretik, dan anti-inflamasi. penggunaan
ketorolac dapat diindikasikan untuk short-term management of acute pain. Hal ini
dapat digunakan sebagai analgesic post operative pain.

20
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan

Tn. S dengan BPH dengan status ASA 1 karena tidak ada penyakit
sistemik. Dilakukan TURP selama 1 jam 25 menit. Selama operasi baik pada saat
premedikasi maupun medikasi, sampai proses anestesi selesai tidak ditemukan
masalah yang berarti. Efek samping pemberian obat minimal tanpa ada
permasalahan yang berarti. Selama operasi tidak terjadi ketidakseimbangan cairan
yang dapat mengancam keselamatan pasien. Setelah selesai proses anestesi pasien
langsung pindah ke ruang recovery, kesadaran pasien compos mentis tanpa
disertai delirium dan tanda vital baik.

21