Anda di halaman 1dari 9

SILABUS MATERI

SEJARAH PERJUANGAN HMI

Alokasi Waktu : 8 Jam

Tujuan Pembelajaran Umum :


Peserta dapat memahami sejarah dan dinamika perjuangan HMI

Tujuan Pembelajaran Khusus :


1. Peserta dapat menjelaskan latar belakang berdirinya HMI.
2. Peserta dapat menjelaskan gagasan dan visi pendiri HMI.
3. Peserta dapat mengklafisikasikan fase-fase perjuangan HMI.

Pokok Bahasan / Sub Pokok Bahasan :


1. Pengantar Ilmu Sejarah
1.1. Pengertian Ilmu Sejarah
1.2. Manfaat dan Kegunaan Mempelajari Sejarah
2. Misi Kelahiran Islam
2.1. Masyarakat Arab Pra Islam
2.2. Periode Kenabian Muhammad
2.2.1. Fase Makkah
2.2.2. Fase Madinah
3. Latar Belakang Berdirinya HMI
3.1. Kondisi Islam di Dunia
3.2. Kondisi Islam di Indonesia
3.3. Kondisi Perguruan Tinggi dan Mahasiswa Islam
3.4. Saat Berdirinya HMI
4. Gagasan dan Visi Pendiri HMI
4.1. Sosok Lafran Pane
4.2. Gagasan Pembaruan Pemikiran Ke-Islaman
4.3. Gagasan dan Visi Perjuangan Sosial-Budaya
4.4. Komitmen Ke-Islaman dan Kebangsaan Sebagai Dasar Perjuangan HMI
5. Dinamika Sejarah Perjuangan HMI dalam Sejarah Perjuangan Bangsa
5.1. HMI Dalam Fase Perjuangan Fisik
5.2. HMI Dalam Fase Pertumbuhan dan Konsolidasi Bangsa
5.3. HMI Dalam Fase Transisi Orde Lama dan Order Baru
5.4. HMI Dalam Fase Pembangunan dan Modernisasi Bangsa
5.5. HMI Dalam Fase Pasca Order Baru

Metode Penyampaian :
1. Membagikan Handbook
2. Menyaksikan Film Dokumenter
3. Presentasi Slide
4. Diskusi
5. Brainstorming (Jajak Pendapat)

Evaluasi :
1. Test Obyektif/Subyektif
2. Membuat Resume
Materi Terurai :

PENGANTAR ILMU SEJARAH

Pengertian
Sejarah adalah suatu kebetulan terjadi di masa yang telah lalu dan benar-benar terjadi,
dan kebetulan pula dicatat, biasanya kebenaran sejarah didukung bukti-bukti yang
membenarkan peristiwa itu benar-benar terjadi. Menurut kamus besar bahasa Indonesia,
ilmu sejarah adalah suatu pengetahuan atau uraian mengenai peristiwa-peristiwa dan
kejadian-kejadian yang benar-benar terjadi di masa lampau. Dari pengertian atau definisi
di atas maka dapatlah dibedakan antara sejarah dan ilmu sejarah, sejarah adalah kejadian
atau peristiwanya, sedangkan ilmu sejarah adalah ilmu yang mempelajari kejadian atau
peristiwa tersebut.

Manfaat dan Kegunaan Mempelajari Ilmu Sejarah


Manfaat dan kegunaan yang dapat diambil dari kejadian yang telah lampau adalah
pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada saat itu, dan dengan
mempelajari maka dapat diambil hikmah/pelajaran dari peristiwa tersebut. Pada peristiwa
yang terjadi dapat dianalisis kelebihan dan kekurangan yang ada dari peristiwa itu, dan
pengetahuan tersebut dapat meningkatkan kehati-hatian dalam mengambil keputusan
pada masa saat ini dengan mempertimbangkan prinsip nilai yang terjadi di masa lalu,
karena pada dasarnya peristiwa masa lalu linear dengan masa saat ini dan yang akan
datang.

MISI KELAHIRAN ISLAM

Masyarakat Arab Pra Islam


Masyarakat Arab pra Islam atau yang lebih dikenal dengan masyarakat jahiliyah hidup
dalam keterbelakangan, baik pengetahuan, sosial budaya maupun peradaban.
Masyarakat arab pra Islam tidak mengenal tulis dan baca, walaupun ada yang dapat
menulis dan membaca itu hanya sebagian kecil saja, namun pemahaman atau
kebanggaan akan sastra demikian tingginya, jadi dapat disimpulkan bahwa masyarakat
Arab pada masa itu hidup dalam kebodohan. Posisi wanita pada saat itu tidak dihargai,
mereka hanya dipandang sebagai benda bergerak yang menyenangkan, bahkan wanita
dianggap sebagai beban dan sumber bencana, implikasinya adalah ada anggapan jika
memiliki anak wanita akan mengakibatkan kemiskinan. Dampak dari pandangan itu, maka
tak heran jika mereka sering mengubur bayi wanita hidup-hidup (kalau sekarang, belum
lahir sudah dibunuh). Selain itu masyarakat Arab pra Islam hidup dalam perpecahan klan
(keluarga besar), karena mereka lebih menonjolkan ego kesukuan atau kabilah, ini
menyebabkan masyarakat Arab sering berperang antar kabilah dan tidak memiliki rasa
kebangsaan yang menyebabkan bangsa Arab menjadi lemah dan terpecah-pecah.

Periode Kenabian Muhammad


# Fase Makkah
Muhammad lahir di Makkah pada masa keadaam masyarakat yang buruk sekali.
Muhammad lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah, bertepatan dengan tanggal 20
April 571 M. Muhammad putra tunggal dari pasangan Abdullah dan Aminah. Sejak kecil
Muhammad memiliki sifat yang terpuji sehingga kemudian ia dijuluki “al-amin” atau orang
yang dapat dipercaya. Pada usia yang ke-25 Muhammad menikah dengan seorang janda
kaya yang bernama Khadijah. Dalam masa pernikahannya ini Muhammad sering
melakukan perenungan/kontemplasi di luar kota Makkah, tepatnya di sebuah gua yang
bernama Hira, beliau selalu memikirkan keadaan masyarakatnya yang demikian rusak.

Pada saat Muhammad mendekati usia 40 tahun, beliau makin sering stress memikirkan
bangsanya, sehingga pelariannya dengan menyepi di gua Hira semakin sering
kuantitasnya. Suatu malam di bulan Ramadhan tepatnya tanggal 17 Ramadhan yang
bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 610, datanglah suatu penampakan yang ternyata
adalah malaikat Jibril yang menyampaikan wahyu pertama (Al-Alaq : 1 – 5), dan ini
pertanda bahwa Muhammad telah dilantik menjadi rasul dan nabi walaupun tanpa berita
acara. Pasca wahyu di gua Hira, Muhammad s.a.w. mendapat wahyu-wahyu berikutnya
yang memerintahkan kepada Muhammad s.a.w untuk menyampaikan dakwah. Isi
dakwahnya adalah ajakan untuk melakukan perubahan-perubahan yang revolusioner,
perubahan yang dibawa antara lain perubahan akhlak, karena Islam mengajarkan akhlak
yang baik. Perubahan lain adalah nilai persamaan, yang dimaksud adalah kesetaraan
antar umat manusia, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, antar ras,
bangsa, dan lain sebagainya, di mata Allah yang berbeda adalah ketaqwaan. Selain itu,
ilmu pengetahuan menjadi sesuatu yang penting untuk dilakukan, serta membangun
solidaritas persaudaraan yang berimplikasi pada penguatan nasionalisme atau keutuhan
dalam berbangsa dan beragama.

Pada fase Makkah ajaran yang disampaikan Muhammad s.a.w berkaitan atau
berhubungan pada nilai ketauhidan atau iman, karena pada saat itu jaran Islam baru tegak
kembali, sehingga yang harus dibangun pertama-tama adalah fondasi aqidah atau iman
yang dijadikan landasan fundamental.

Tiap tahun kota Makkah selalu didatangi oleh kabilah-kabilah dari seluruh Arab yang
datang untuk untuk melakukan shoping atau ibadah haji. Muhammad s.a.w melakukan
dakwah terhadap orang-orang tersebut, dan usaha ini tidak sia-sia karena dari kalangan
yang berasal dari daerah-daerah tersebut ada yang menyatakan keimanannya,
diantaranya dari Yastrib. Konsekuensi logis dari gerakan revolusioner berdampak pada
peningkatan konstelasi politik masyarakat Makkah, yang pada akhirnya memberikan satu
pilihan kepada Muhammad s.a.w untuk meninggalkan Makkah. Pada hijrah yang kedua,
Muhammad s.a.w. menginstruksikan kepada para pendukungnya untuk meninggalkan
kota Makkah menuju Yastrib yang dikemudian hari dikenal dengan Madinah. Muhammad
s.a.w pun pada akhirnya terpaksa harus meninggalkan Makkah menuju Madinah, maka
dimulailah babak baru dalam Islam, fase Madinah.

# Fase Madinah
Fase Madinah dimulai sejak hijrahnya Muhammad s.a.w dari Makkah ke Madinah, karena
Madinah dianggap baik untuk pembenihan Islam. Kaum muslimin yang berada di Madinah
terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Anshar (kaum muslimin tuan rumah) dan Muhajirin
(kaum muslimin pendatang dari Makkah), maka langkah pertama yang dilakukan adalah
mempertalikan hubungan kekeluargaan atau hubungan persaudaraan antara kaum
Anshar dan Muhajirin, karena hanya dengan persatuanlah, maka umat Islam akan kuat.
Selanjutnya dilakukan lobi-lobi politik atau perjanjian dengan kelompok diluar Islam yang
ada di Madinah, karena pada saat itu telah ada kelompok lain yang tinggal di sana, antara
lain Yahudi.

Dimadinahlah Muhammad s.a.w. melakukan pembinaan masyarakat Islam. Pembinaan


masyarakat ini tidak hanya di bidang aqidah, tetapi juga menyangkut masalah politik,
ekonomi, dan sosial budaya. Di Madinah perkembangan ajaran Islam maju dengan pesat,
pada fase ini ajaran lebih ditekankan pada hukum kemasyarakatan atau lebih kepada
muamallah. Dengan semakin besarnya kamum muslimin, dianggap merupakan ancaman
bagi kelompok lain, maka semakin benci pula orang-orang Quraisy kepada Muhammad
s.a.w. dan para pendukungnya. Konstelasi kebencian makin meningkat sehingga
mengakibatkan timbulnya peperangan, antara lain Badr, Uhud, Ahzab, Khandaq, dan
beberapa perang lainnya. Pada prinsipnya bagi kaum muslimin peperangan ini adalah
upaya defensif dan dalam rangka menegakkan kalimah tauhid.

Muhammad s.a.w. mangkat dan dimakamkan di Madinah di usia 63 tahun, pada tanggal
12 Rabiul Awal 11 H, bertepatan dengan tanggal 8 Juni 632.

LATAR BELAKANG BERDIRINYA HMI

Kondisi Islam di Dunia


Kondisi umat Islam dunia pada saat menjelang kelahiran HMI dapat dikatakan ketinggalan
dibandingkan masyarakat Eropa dengan Reinasance-nya. Ini dapat dilihat dari
penguasaan teknologi maupun pengetahuan, bahkan sebagain besar umat Islam berada
di bawah ketiak penindasan nekolim barat yang notabene dimotori oleh kelompok Kristen.
Umat Islam hanya terpaku, terlena oleh kejayaan masa lampau atau pada zaman
keemasan Islam. Umat Islam pada umumnya tidak memahami ajaran Islam secara
komprehensif, sehingga mereka hanya berkutat seputar ubudiyah atau ritual semata tanpa
memahami bahwa ajaran Islam adalah ajaran paripurna yang tidak hanya mengajarkan
hubungan manusia dengan Tuhan, namun lebih jauh daripada itu menderivasikan
hubungan transenden ke dalam seluruh aspek kehidupan.

Berangkat dari pemahaman ajaran Islam yang kurang, umat berada dalam
keterbelakangan dan fenomena ini terjadi dapat dikatakan di seluruh dunia. Hal tersebut
mengakibatkan terpuruknya umat Islam yang dijanjikan Allah untuk dipusakai alam
semesta. Lebih ironis lagi ketika umat terbagi menjadi berbagai golongan yang hanya
berangkat dari masalah khilafiyah, yang bedampak pada melemahnya kekuatan Islam.

Kondisi Islam di Indonesia


Tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di dunia saat itu, umat Islam berada dalam
cengkaraman nekolim barat. Penjajah memperlakukan umat Islam sebagai masyarakat
kelas bawah dan diperlakukan tidak adil, serta hanya menguntungkan kelompok mereka
sendiri atau rakyat yang sudah seideologi dengan mereka.

Umat Islam Indonesia hanya mementingkan kehidupan akhirat (katanya sich), dengan
penonjolan simbolisasi Isalam dalam ubudiyah, sebagai upaya kompensasi atas
ketidakberdayaan untuk melawan nekolim, sehingga pemahaman umat tidak secara benar
dan kaffah. Bahkan ada sebagian ulama yang menyatakan bahwa pintu ijtihad telah
ditutup, hal ini menyebabkan umat hidup dalam suasana taqlid dan jumud. Selain itu umat
Islam Indonesia berada dalam perpecahan berbagai macam aliran/firqah dan masing-
masing golongan melakukan truth claim, hal ini menyebabkan umat Islam Indonesia tidak
kuat akibat kurang persatuan di kalangan umat Islam di Indonesia.

Kondisi Perguruan Tinggi dan Mahasiswa Islam


Perguruan tinggi adalah tempat untuk menuntut ilmu yang akan menghasilkan para
pemimpin untuk masa sekarang dan masa yang akan datang. Selain itu perguruan tinggi
adalah motor penggerak perubahan, dan perubahan tersebut diharapkan menuju sesuatu
yang lebih baik. Begitu pentingnya perguruan tinggi, maka banyak golongan yang ingin
menguasainya demi untuk kepentingan golongan tersebut.
Sejalan dengan perguruan tinggi dan dunia kemahasiswaan yang strategis tersebut, ada
beberapa faktor dominan yang menguasai dan mewarnai perguruan tinggi dan dunia
kemahasiswaan, antara lain sistem yang diterapkan khususnya di perguruan tinggi adalah
sistem pendidikan barat yang mengarah pada sekularisme dan dapat menyebabkan
dangkalnya agama atau aqidah dalam kehidupan. Selain itu adanya organisasi
kemahasiswaan yang berhaluan komunis dan ini menyebabkan aspirasi Islam dan umat
Islam kurang terakomodir.

Faktor-faktor di atas adalah ancaman yang serius, karena menyebabkan masalah dalam
hidup dan kehidupan serta keberadaan Islam dan umat Islam. Mahasiswa Islam kurang
memiliki ruang gerak karena berada dalam sistem yang sekuler dan tidak sesuai dengan
ajaran Islam, dan harus menghadapi tantangan dari mahasiswa komunis yang sangat
bertentangan dengan fitrah manusia dan bertentangan pula dengan ajaran Islam. Jelas
sudah bahwa mahasiswa Islam sangat sulit untuk bergerak memperjuangkan aspirasi
umat Islam.

Saat Berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)


HMI lahir pada saat umat Islam Indonesia berada dalam kondisi yang memprihatinkan,
yaitu terjadinya kesenjangan dan kejumudan pengetahuan, pemahaman, penghayatan
ajaran Islam sehingga tidak tercermin dalam kehidupan nyata.

Pada saat HMI berdiri, sudah ada organisasi kemahasiswaan, yaitu Perserikatan
Mahasiswa Yogyakarta (PMY), namun PMY didominasi oleh partai sosialis yang
berpaham komunis. Akibat didominasi oleh partai sosialis maka PMY tidak independen
untuk memperjuangkan aspirasi mahasiswa, maka banyak mahasiswa yang tidak sepakat
dan tidak bisa membiarkan mahasiswa terlbatdalam polarisasi politik. Sebagai realisasi
dari keinginan tersebut maka di Yogyakarta pada tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H,
bertepatan dengan tanggal 5 Februari 1947 sebuah organisasi kemahasiswaan, yaitu
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi independen dan sebagai anak umat
dan anak bangsa.

GAGASAN DAN VISI PENDIRI HMI


Sosok Lafran Pane
Berdasarkan penelusuran dan penelitian sejarah, maka Kongres XI HMI tahun 1974 di
Bogor menetapkan Lafran Pane sebagai pemrakarsa berdirinya HMI, dan disebut sebagai
pendiri HMI.

Lafran Pane adalah anak keenam dari Sutan Pangurabaan Pane, lahir di Padang
Sidempuan, 5 Februari 1922, pendidikan Lafran Pane tidak berjalan “normal” dan “lurus”.
Lafran Pane mengalami perubahan kejiwaan yang radikal sehingga mendorong dirinya
untuk mencari hakikat hidup sebenarnya. Desember 1945 Lafran Pane pindah ke
Yogyakarta, karena Sekolah Tinggi Islam (STI) tempat ia menimba ilmu pindah dari
Jakarta ke Yogyakarta. Pendidikan agama Islam yang lebih intensif ia peroleh dari dosen-
dosen STI, mengubur masa lampau yang kelam.

Bagi Lafran Pane, Islam merupakan satu-satunya pedoman hidup yang sempurna, karena
Islam menjadikan manusia sejahtera dan selamat di dunia dan akhirat. Pada tahun 1948,
Lafran Pane pindah studi ke Akademi Ilmu Politik (AIP). Saat Balai Perguruan Tinggi
Gadjah Mada dan fakultas kedokteran di Klaten, serta AIP Yogyakarta dinegerikan pada
tanggal 19 Desember 1949 menjadi Universitas Gadjah Mada (UGM), secara otomatis
Lafran Pane termasuk mahasiswa pertama UGM. Setelah bergabung menjadi UGM, AIP
berubah menjadi Fakultas Hukum Ekonomi Sosial Politik, dan Lafran Pane menjadi
sarjana pertama dalam ilmu politik dari fakultas tersebut pada tanggal 26 Januari 1953.

Gagasan Pembaharuan Pemikiran Keislaman


Untuk melakukan pembaharuan dalam Islam, maka pengetahuan, pemahaman,
penghayatan dan pengamalanumat Islam akan agamanya harus ditingkatkan, sehingga
dapat mengetahui dan memahami ajaran Islam secara benar dan utuh. Kebenaran Islam
memiliki jaminan kesempurnaannya sebagai peraturan untuk kehidupan yang dapat
menghantarkan manusia kepada kebahagian dunia dan akhirat.

Tugas suci umat Islam dalah mengajak umat manusia kepada kebenaran Illahi dan
kewajiban umat Islam adalah menciptakan masyarakat adil makmur material dan spiritual.
Dengan adanya gagasan pembaharuan pemikiran keislaman, diharapkan kesenjangan
dan kejumudan pengetahuan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran Islam
dalpat dilakukan dan dilaksanakan sesuai dengan ajaran Islam. Kebekuan pemikiran umat
Islam telah membawa pada arti agama yang kaku dan sempit, tidak lebih dari agama yang
hanya melakukan peribadatan. Al-Qur’an hanya dijadikan sebatas bahan bacaan, Islam
tidak ditempatkan sebagai agama universal. Gagasan pembaharuan pemikiran Islam ini
pun hendaknya dapat menyadarkan umat Islam yang terlena dengan kebesaran dan
kejayaan masa lalu.

Gagasan dan Visi Perjuangan Sosial Budaya


Ciri utama masyarakat Indonesia adalah kemajemukan sosial budaya, kemajemukan
tersebut merupakan sumber kekayaan bangsa yang tidak ternilai, tetapi keberagaman
yang tidak terorganisir akan mengakibatkan perpecahan dalam Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

Tujuan awal saat HMI berdiri juga tidak terlepas pada gagasan dan visi perjuangan sosial
budaya, yaitu :
1. Mempertahankan negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat
Indonesia
2. Menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam
Dari tujuan tersebut jelaslah bahwa HMI ingin agar kehidupan sosial budaya yang ada
menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia guna mempertahankan
kemerdekaan yang baru diraih. Untuk menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam
pun harus dipelajari kondisi sosial budaya gara tidak terjadi benturan kultur.

Masyarakat muslim Indonesia yang hanya memahami ajaran Islam sebatas ritual harus
diubah pemahamannya dan keadaan sosial budaya yang telah mengakar ini tidak dapat
diubah serta merta, tetapi melalui proses panjang dan bertahap.

Komitmen Keislaman dan Kebangsaan sebagai Dasar Perjuangan HMI


Dari awal terbentuknya HMI telah ada komitmen keumatan dan kebangsaan yang bersatu
secara integral sebagai dasar perjuangan HMI yang dirumuskan dalam tujuan HMI yaitu :
a) Mempertahankan negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat
Indonesia yang didalamnya terkandung wawasan atau pemikiran kebangsaan atau ke-
Indonesiaan
b) Menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam yang didalamnya terkandung
pemikiran ke-Islaman
Komitmen tersebut menjadi dasar perjuangan HMI didalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Sebagai organisasi kader, wujud nyata perjuangan HMI dalam komitmen
keumatan dan kebangsaan adalah melakukan proses perkaderan yang ingin menciptakan
kader berkualitas insan cita yang mampu menjadi pemimpin yang amanah untuk
membawa bangsa Indonesia mencapai asanya.

Komitmen keislaman dan kebangsaan sebagai dasar perjuangan masih melekat dalam
gerakan HMI. Kedua komitmen ini secara jelas tersurat dalam rumusan tujuan HMI (hasil
Kongres IX HMI di Malang tahun 1969) sampai sekarang, “Terbinanya insan akademis,
pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya
masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”. Namun kedua komitmen itu tidak
dilakukan secara institusional, melainkan dampak dari proses pembentukan kader yang
dilakukan oleh HMI.

DINAMIKA SEJARAH PERJUANGAN HMI


DALAM SEJARAH PERJUANGAN BANGSA

HMI dalam Fase Perjuangan Fisik


HMI ikut berjuang dalam perjuangan fisik ketika terjadi pemberontakan PKI di Madiun
pada tahun 1948. Pemberontakan tersebut bertujuan mengambil alih kekuasaan
pemerintahan yang sah dan ingin mendirikan “Soviet Republik Indonesia”. Menghadapi hal
tersebut, HMI menggalang seluruh kekuatan mahasiswa dengan membentuk Corps
Mahasiswa. Selama waktu krisis tersebut anggota HMI terpaksa meninggalkan bangku
kuliah untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari pengkhianatan
PKI, selain itu HMI pun terlibat dalam perjuangan fisik menghadapi agresi militer Belanda.

Sebagai anak umat dan anak bangsa, HMI selalu ikut dalam perjuangan fisik demi
mempertahankan negara Republik Indonesia. Dalam mempertahakan NKRI, anggota-
anggota HMI mengganti pena dengan memanggul senjata, HMI merasa ikut bertanggung
jawab dalam mempertahankan kedaulatan NKRI. HMI berkeyakinan bahwa dalam
masyarakat yang berdaulat dan merdeka akan tercipta keadilan dan kesejahteraan rakyat.
Oleh karena itu HMI selalu berusaha untuk memperthankan dan mempersatukan bangsa.

HMI dalam Fase Pertumbuhan dan Konsolidasi Bangsa


Saat HMI baru saja berdiri, terjadi pemberontakan PKI di Madiun yang merupakan
ancaman terhadap kedaulatan bangsa, umat Islam, dan HMI sendiri. Kekuatan PKI ini
makin memuncak pada era 60-an, PKI menjadi salah satu kekuatan sosial politik besar di
Indonesia. Posisi HMI saat itu adalah menentang ajaran komunis dan mengajak semua
pihak yang ada untuk menentang komunis. Persoalan komunis bukan hanya persoalan
bangsa dan negara, tetapi juga persoalan HMI, akibat sikap HMI tersebut maka PKI
menempatkan HMI sebagai salah satu musuh utama yang harus diberangus. HMI
menggalang konsolidasi dengan semua pihak yang non komunis, karena komunis
bertentangan dengan dasar negara, yaitu Pancasila. Selain itu PKI selalu berusaha untuk
merebut pemerintahan dan kekuasaan yang sah.

Untuk menghadapi pemilu 1955, HMI mengadakan Konferensi Akbar di Kaliuarang


Yogyakarta paa tanggal 9 – 11 April 1955, keputusan yang diambil adalah :
1) Menyerukan kepada khalayak ramai untuk memilih partai-partai Islam dalam pemilu
yang akan datang
2) Menyerukan kepada partai-partai Islam supaya mengurangi keruncingankeruncingan,
tidak saling menyerang
3) Kepada warga dan anggota HMI supaya :
a) Wajib aktif dalam pemilu
b) Wajib aktif memilih salah satu partai Islam
c) Mempunyai hak dan kebebasan untuk membantu dan memilih partai Islam yang
disenangi
Dalam menghadapi sidang pleno Majelis Konstituante, PB HMI mengirimkan seruan
kepada seluruh anggota fraksi partai-partai Islam di konstituante agar dapat memikul
amanah umat Islam di Indonesia.

Ketika Demokrasi Terpimpin berjalan, HMI mendapat tekanan kuat, karena ada tuduhan
bahwa HMI kontra revolusi, dan lain-lain. Oleh karena itu HMI menggelar Musyawarah
Nasional Ekonomi HMI se-Indonesia di Jakarta padatahun 1962. Ada beberapa
pertanyaan yang diajukan kepada HMI saat itu menyangkut sikap yang diambil HMI, yaitu
(1) Apakah HMI mendukung Manipol/Usdek atau tidak ? (2) HMI setuju pancasila atau
tidak ? dan (3) HMI setuju sosialisme Indonesia atau tidak ?
Munas memberikan jawaban sebagai berikut :
1) Ya, HMI mendukung Manipol/Usdek sebagai haluan negara yang ditetapkan oleh
MPRS
2) Ya, HMI setuju Pancasila yang merupakan rancangan kesatuan dengan Piagam
Jakarta
3) Ya, HMI setuju sosialisme Indonesia, yaitu masyarakat adil makmur yang diridhoi
Tuhan Yang Maha Esa

Dengan melakukan pendekatan-pendekatan itu maka HMI dapat terselamatkan, isu dan
tuduhan yang dilancarkan terhadap HMI tidak berhasil untuk mengubur HMI dalam
percaturan sejarah.

HMI dalam Transisi Orde Lama dan Orde Baru


Tahun 1965, HMI mengalami tantangan yang berat, HMI terancam dibubarkan, dan lagi-
lagi HMI lulus dalam ujian sejarah sehingga HMI dapat mempertahankan eksistensinya
hingga saat ini (entah esok hari, entah lusa nanti, entah……). HMI adalah salah satu
komponen bangsa yang menentang faham dan ajaran komunis, sedangkan PKI saat itu
merupakan kekuatan sosial politik yang besar di negara Republik Indonesia. PKI
berkeinginan untuk membubarkan HMI karena merupakan salah satu musuh utamanya,
usaha untuk membubarkan HMI dilakukan PKI dengan gencar (Kalau tidak mampu
membubarkan HMI, lebih baik pakai sarung saja), apalagi menjelang Gestapu atau Gestok
(istilah Pemimpin Besar Revolusi Soekarno). Masalah pembubaran HMI bukan hanya
menjadi masalah internal, tapi lebih jauh daripada itu, hal tersebut merupakan masalah
umat Islam dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Puncak dari usaha PKI untuk merebut kekuasaan dan kedaulatan Negara Republik
Indonesia adalah dengan melakukan pemberontakan Gerakan 30 Sepetember/PKI tahun
1965. Pemberontakan tersebut dimulai melalui cara penculikan terhadap para perwira
tinggi TNI-AD (kecuali Pangkostrad yang merupakan jabatan strategis, why ?), dan
menghabisi para perwira itu. Menyikapi hal ini, HMI mengutuk Gestapu dan menyatakan
bahwa gerakan tersebut dilakukan oleh PKI (pernyataan bahwa G30S/PKI diotaki oleh
PKI pertama kali dilontarkan oleh HMI –sumber Agussalim Sitompul), HMI ikut membantu
pemerintah dalam menumpas G30S/PKI dan kerelaan HMI untuk membantu sepenuhnya
ABRI. Setelah turunnya Soekarno dan naiknya Soeharto sebagai Presiden Republik
Indonesia, HMI bersikap mendukung pemerintahan baru yang ingin menjalankan
Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen (katanya sih gitu waktu naik) dan
HMI ikut dalam usaha-usaha untuk menumpas sisa-sisa PKI serta organisasi underbouw
PKI.

HMI dalam Fase Pembangunan dan Modernisasi Bangsa


Berdasarkan tujuan HMI, maka kader HMI harus memiliki kualitas insan cita, yang
karenanya akan tercipta kader yang memiliki intelektual tinggi yang dilandasi oleh iman
serta diabdikan kepada umat dan bangsa. Pengabdian para kader ini akan dapat dijadikan
penopang dalam pembangunan bangsa dan negara Republik Indonesia.

Peran HMI dalam pembangunan bangsa dapat dijabarkan sebagai berikut :


1) Partisipasi dalam pembentukan situasi dan iklim
2) Partisipasi dalam pemberian konsep
3) Partisipasi dalam bentuk pelaksanaan
Dalam menjalani peran tersebut, banyak halangan dan rintangan yang justru sebenarnya
lebih dominan faktor internal, misalnya pergeseran nilai yang berdampak pada hilangnya
ruh perjuangan HMI. Selain itu faktor eksternal memaksa HMI untuk terbawa pusaran
kekuasaan, misal masalah asas tunggal yang mengakibatkan perpecahan HMI menjadi
dua yaitu HMI yang bermarkas di Diponegoro dan HMI yang menamakan dirinya Majelis
Penyelamat Organisasi.

HMI dan Fase Pasca Orde Baru


Setelah runtuhnya Orde Baru, dimulailah babak baru perjalanan bangsa yang dikenal
dengan sebutan Reformasi. Namun ternyata sampai saat ini reformasi masih berupa
angan yang belum dapat terealisir, ironisnya kehilangan arah, karena banyak komponen
bangsa yang ingin merasakan sesuatu yang instan, tetapi dengan harapan berumur
panjang.

Peran HMI dalam reformasi banyak dipertanyakan orang, analisa sementara ini
diakibatkan penempatan peran HMI yang “salah” pada fase pembangunan. Bahkan
gerakan mahasiswa di luar HMI seringkali menempatkan HMI sebagai common enemy.

Dinamika organisasi di manapun akan selalu mengalami fluktuasi, akankah HMI tetap
bertahan ?

Anda mungkin juga menyukai