Anda di halaman 1dari 6

SILABUS MATERI

MISSION HMI

Alokasi Waktu : 8 Jam

Tujuan Pembelajaran Umum :


Peserta Dapat Memahami Misi HMI Dan Hubungannya Dengan Status, Sifat, Asas,
Tujuan, Fungsi Dan Peran Organisasi HMI Secara Intergral.

Tujuan Pembelajaran Khusus :


1. Peserta dapat menjelaskan fungsi dan peranannya sebagai mahasiswa
2. Peserta dapat menjelaskan tafsir tujuan HMI
3. Peserta dapat menjelaskan hakikat fungsi dan peran HMI
4. Peserta dapat menjelaskan hubungan Status, Sifat, Asas, Tujuan, Fungsi dan Peran
HMI secara integral

Pokok Bahasan / Sub Pokok Bahasan :


1. Makna HMI sebagai Organisasi Mahasiswa
1.1. Pengertian Mahasiswa
1.2. Mahasiswa sebagai inti Kekuatan Perubahan
1.3. Dinamika Gerakan Mahasiswa
2. Hakikat keberadaan HMI
2.1. Makna HMI sebagai organisasi yang berasaskan Islam
2.2. Makna Independensi HMI
3. Tujuan HMI
3.1. Arti insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam
3.2. Arti masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT
4. Fungsi dan peran HMI
4.1. Pengertian Fungsi HMI sebagai organisasi kader
4.2. Pengertian peran HMI sebagai organisasi perjuangan
4.3. Totalitas fungsi dan peran sebagai perwujudan dari tujuan HMI
5. Hubungan antara Status, sifat,asas tujuan, fungsi dan peran HMI secara Integral

Metode Penyampaian :
1. Presentasi Slide
2. Menjunjung Tinggi Kearifan Lokal

Evaluasi :
1. Test Obyektif/Subyektif
2. Membuat Resume
3. Membuat Kuisioner
Materi Terurai :

Pengantar

Mission merupakan tugas dan tanggung jawab yang diemban, sehingga mission HMI
dapat diartikan sebagai tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh kader HMI.
Sebagai organisasi kader yang memiliki platform yang jelas, sejak awal berdirinya HMI
mempunyai komitmen asasi yang disebut dengan dua komitmen asasi, yakni (1)
Mempertahankan negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat bangsa Indonesia,
yang dikenal dengan komitmen kebangsaan, dan (2) Menegakkan dan mengembangkan
ajaran Islam, yang dikenal dengan wawasan keislaman/keumatan.

Kesatuan dari kedua wawasan ini disebut dengan wawasan integralistik, yakni cara
pandang yang utuh melihat bangsa Indonesia terhadap tugas dan tanggung jawab yang
harus dilakukan sebagai warga negara dan umat Islam Indonesia. Penerjemahan
komitmen HMI ini disesuaikan dengan konteks jaman, sehingga HMI selalu aktual dan
mampu tampil di garda terdepan dalam setiap even.

Bila dicermati belakangan ini bisa dikatakan bahwa HMI mengalami stagnasi, untuk tidak
dikatakan degradasi. Hampir tidak ada gagasan cerdas yang disumbangkan oleh HMI di
tengah carut marut dan tunggang langgangnya tatanan republik ini, dimana masalah
disintegrasi perlu segera diatasi, masalah ekonomi mendesak untuk segera diperbaiki,
masalah supremasi hukum yang harus ditegakkan, masalah pendidikan mendesak untuk
diperhatikan, dan masalah-masalah lain yang melingkari, seperti budaya, pertahanan
keamanan, yang kesemuanya membutuhkan penanganan secepatnya. Singkatnya,
Indonesia sekarang sedang diterma krisis multi dimensional. Di tengah kondisi ini,
komitmen HMI tidak lebih dari sebatas slogan tanpa jiwa.

Oleh sebab itu untuk mendongkrak kembali ghirah kader HMI dalam berperan serta untuk
penyelesaian problematika bangsa dan umat perlu adanya reaktualisasi mission HMI
dalam jiwa kader HMI melalui proses perkaderan yang selama ini perjalanannya tidak
lebih hanya sebagai proses pencapaian status dengan meninggalkan makna
sesungguhnya, yaitu sebagai proses pembentukan kader yang memiliki karakter, nilai dan
kemampuan, yang berusaha melakukan transformasi watak dan kepribadian seorang
muslim yang utuh (kaffah), sehingga kader HMI memiliki keberpihakan yang jelas
terhadap kaum tertindas (mustad’afin) dan melawan kaum penindas (mustakbirin).

HMI sebagai organisasi berbasis mahasiswa yang merupakan kaum intelektual, generasi
kritis, dan memiliki profesionalisme harus mampu menjadi agen pembaharu di tengah
masyarakat dan kehidupan bangsa. Karena mahasiswa memiliki kekuatan yang luar biasa
dalam tatanan kehidupan bangsa dan negara, maka seluruh gerak perubahan yang terjadi
di bangsa ini dimotori oleh kelompok mahasiswa dan pemuda, mulai dari proklamasi,
revolusi, hingga reformasi, selalu ada andil mahasiswa. Namun demikian arah perubahan
harus sesuai dengan usaha untuk mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi
Allah SWT sebagaimana termaktub dalam penggalan tujuan HMI.

Dalam perjalanannaya, gerakan mahasiswa begitu dimanis, mengikuti perkembangan


jaman dan selalu eksis dalam setiap momen penting kebangsaan. Kekonsistenan itu
harus diiringi oleh pegangan yang teguh terhadap idealisme dan menjaga sikap hanif
sehingga kehadiran mahasiswa sebagai kaum intelektual yang dalam tatanan sosial
masyarakat mendapat tempat yang penting sebagai embun penyejuk. Untuk itulah HMI
sebagai organisasi mahasiswa harus mampu menetaskan kader-kader yang berkualitas
insan cita sebagaimana yang tersurat dalam tujuan HMI “Terbinanya insan akademis,
pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya
masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT” (pasal 4 AD HMI).

HAKEKAT KEBERADAAN HMI

HMI sebagai Organisasi Mahasiswa (pasal 7 AD HMI) Makna HMI sebagai organisasi
mahasiswa adalah organisasi yang menghimpun mahasiswa yang menuntut ilmu
pengetahuan di perguruan tinggi (Universitas/Akademi/Institut/Sekolah Tinggi) atau yang
sederajat, dan memilki ciri-ciri kemahasiswaan. Adapun ciri-ciri kemahasiswaan tersebut
adalah ilmiah, kritis dan analitis, rasional, obyektif, serta sistematis.

HMI sebagai Organisasi berasaskan Islam (pasal 3 AD HMI) HMI sebagai organisasi
berasaskan Islam maksudnya adalah organisasi yang menghimpun mahasiswa yang
beragama Islam, dimana secara individu dan organisatoris memiliki ciri-ciri keislaman,
menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber norma, sumber nilai, sumber
inspirasi, dan sumber aspirasi dalam setiap aktivitas dan dinamika organisasi.

HMI sebagai Organisasi yang Bersifat Independen (pasal 6 AD HMI) HMI yang bersifat
independen adalah waktak organisasi yang selalu tunduk danberorientasi pada kebenaran
(hanif), sehingga kiprah setiap individu dan dinamika organisasi dalam bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara mempunyai pola pikir, pola sikap, dan pola tindak tidak terikat
dan tidak mengikatkan diri secara organisatoris dengan kepentingan atau organisasi mana
pun, segala sesuatu tidak didasarkan atas kehendak atau paksaan pihak lain.

Independensi dilihat dari dua dimensi, yakni :


1) Indepndensi Etis
Sikap dan watak HMI yang termanifestasikan secara individu dan organisasi dalam
dinamika berfikir, bersikap, dan bertindak, baik dalam hubungan terhadap Sang Rab,
ataupun hubungan terhadap sesama, sesuai dengan fitrah kemanusiaannya, yakni
tunduk dan patuh kepada kebenaran (hanif).
2) Independensi Organisatoris
Sikap dan watak HMI yang teraktualisasikan secara organisatoris di dalam kiprah
dinamika intern organisasi maupun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara dalam keutuhan kehidupan nasional melakukan partisipasi aktif, konstruktif
secara konstitusional terhadap perjuangan bangsa dan pencapaian cita-cita nasional,
hanya komit kepada kebenaran, dan tidak tunduk atau komit terhadap kepentingan
atau organisasi tertentu.

Prinsip-prinsip independensi HMI dalam implementasi dirumuskan sebagai berikut :


a) Kader HMI terutama aktivitasnya dalam melakukan tugas dan tanggung jawab
organisasi harus tunduk pada ketentuan-ketentuan organisasi dalam melaksanakan
program-program organisasi, oleh karena itu tidak diperkenankan melakukan
kegiatan-kegiatan yang membawa organisasi atas kehendak pihak luar manapun.
b) Kader HMI terutama aktivitasnya tidak dibenarkan mengadakan komitmen dalam
bentuk apapun dengan pihak luar selain segala sesuatu yang telah ditetapkan dan
diputuskan secara organisatoris.
c) Alumni HMI senantiasa diharapkan untuk aktif berjuang meneruskan dan
mengembangkan watak independensi etis dimanpun mereka berada dan berfungsi
sesuai dengan profesinya dalam rangka membawa hakekat misi HMI, menganjurkan
serta mendorong alumni HMI untuk menyalurkan aspirasinya secara tepat melalui
semua jalur pengabdian, baik jalur organisasi profesi, instansi pemerintah, wadah
aspirasi politik, dan jalur lainnya yang semata-mata karena hak dan tanggung jawab
dalam rangka merealisasikan kehidupan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah
SWT.

Aplikasi dan dinamika berfikir, bersikap dan bertindak secara keseluruhan dari watak asasi
kader HMI terumus dalam bentuk :
a) Cenderung kepada kebenaran
b) Bebas, merdeka dan terbuka
c) Obyektif, rasional, dan kritis
d) Progresif dan dinamis
e) Demokratis, jujur dan adil

TUJUAN HMI

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, tujuan HMI adalah “Terbinanya insan
akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertangung jawab atas
terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT” (pasal 4 AD HMI). Dari
tujuan tersebut dapat dirumuskan menjadi lima kualitas insan cita, yakni kualitas insan
akademis, kualitas insan pencipta, kualitas insan pengabdi, kualitas insan bernafaskan
Islam, dan kualitas insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil
makmur yang diridhoi Allah SWT.

Kualitas insan cita HMI adalah merupakan dunia cita yang terwujud oleh HMI di dalam
pribadi seorang manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan serta mampu
melaksanakan tugas kerja kemanusiaan. Kualitas tersebut sebagaimana dalam pasal
tujuan (pasal 4 AD HMI) adalah sebagai berikut :
1. Kualitas Insan Akademis
 Berpendidikan Tinggi, berpengetahuan luas, berfikir rasional, obyektif, dan kritis.
 Memiliki kemampuan teoritis, mampu memformulasikan apa yang diketahui dan
dirahasiakan. Dia selalu berlaku dan menghadapi suasana sekelilingnya dengan
kesadaran.
 Sanggung berdiri sendiri dengan lapangan ilmu pengetahuan sesuai dengan ilmu
pilihannya, baik secara teoritis maupun tekhnis dan sanggup bekerja secara ilmiah
yaitu secara bertahap, teratur, mengarah pada tujuan sesuai dengan prinsip-prinsip
perkembangan.
2. Kualitas Insan Pencipta : Insan Akademis, Pencipta
 Sanggup melihat kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih dari sekedar yang ada
dan bergairah besar untuk menciptakan bentuk-bentuk baru yang lebih baik dan
bersikap dengan bertolak dari apa yang ada (yaitu Allah). Berjiwa penuh dengan
gagasan-gagasan kemajuan, selalu mencari perbaikan dan pembaharuan.
 Bersifat independen dan terbuka, tidak isolatif, insan yang menyadari dengan sikap
demikian potensi, kreatifnya dapat berkembang dan menentukan bentuk yang
indah-indah.
 Dengan ditopang kemampuan akademisnya dia mampu melaksanakan kerja
kemanusiaan yang disemangati ajaran islam.
3. Kualitas Insan Pengabdi : Insan Akdemis, Pencipta, Pengabdi
 Ikhlas dan sanggup berkarya demi kepentingan orang banyak atau untuk sesama
umat.
 Sadar membawa tugas insan pengabdi, bukannya hanya membuat dirinya baik
tetapi juga membuat kondisi sekelilingnya menajdi baik.
 Insan akdemis, pencipta dan mengabdi adalah yang bersungguh-sungguh
mewujudkan cita-cita dan ikhlas mengamalkan ilmunya untuk kepentingan
sesamanya.
4. Kualitas Insan yang bernafaskan islam : Insan Akademis, pencipta dan pengabdi yang
bernafaskan Islam
 Islam yang telah menjiwai dan memberi pedoman pola fikir dan pola lakunya tanpa
memakai merk Islam. Islam akan menajdi pedoman dalam berkarya dan mencipta
sejalan dengan nilai-nilai universal Islam. Dengan demikian Islam telah menapasi
dan menjiwai karyanya.
 Ajaran Islam telah berhasil membentuk “unity personality” dalam dirinya. Nafas
Islam telah membentuk pribadinya yang utuh tercegah dari split personality tidak
pernah ada dilema pada dirinya sebagai warga Negara dan dirinya sebagai muslim
insan ini telah mengintegrasikan masalah suksesnya dalam pembangunan nasional
bangsa kedalam suksesnya perjuangan umat islam Indonesia dan sebaliknya.
5. Kualitas Insan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang
diridhoi oleh Allah SWT :
 Insan akademis, pencipta dan pengabdi yang ber nafaskan islam dan
bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh
Allah SWT.
 Berwatak, sanggup memikul akibat-akibat yang dari perbuatannya sadar bahwa
menempuh jalan yang benar diperlukan adanya keberanian moral.
 Spontan dalam menghadapi tugas, responsip dalam menghadapi persoalan-
persoalan dan jauh dari sikap apatis.
 Rasa tanggungjawab, takwa kepada Allah SWT, yang menggugah untuk
mengambil peran aktif dalam suatu bidang dalam me wujudkan masyarakat adil
dan makmur yang diridhoi Allah SWT.
 Korektif terhadap setiap langkah yang berlawanan dengan usaha mewujudkan
masyarakat yang adil dan makmur.
 Percaya pada diri sendiri dan sadar akan kedudukannya sebagai “khallifah fil ard”
yang harus melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan.

Pada pokoknya insan cita HMI merupakan “Man of future” insan pelopor yaitu insan yang
berfikiran luas dan berpandangan jauh, bersikap terbuka, terampil atau ahli dalam
bidangnya, dia sadar apa yang menjadi cita-citanya dan tahu bagaimana mencari ilmu
perjuangan untuk secara kooferatif bekerja sesuai dengan yang dicita-citakan. Ideal type
dari hasil perkaderan HMI adalah “man of inovator” (duta-duta pembantu). Penyuara “Idea
of Progress” insan yang berkeperibadian imbang dan padu, kritis, dinamis, adil dan jujur
tidak takabur dan bertaqwa kepada Allah Allah SWT. Mereka itu manusia-manusia uang
beriman berilmu dan mampu beramal saleh dalam kualitas yang maksimal (insan kamil)

Dari liam kualitas lima insan cita tersebut pada dasarnya harus memahami dalam tiga
kualitas insan Cita yaitu kualitas insan akademis, kualitas insan pencipta dan kualitas
insan pengabdi. Ketiga insan kualitas pengabdi tersebut merupakan insan islam yang
terefleksi dalam sikap senantiasa bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil
dan makmur yang ridhoi Allah SWT.

Yang dimaksud dengan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT adalah
masyarakat yang menjalankan kehidupannya selalu berlandaskan atas asas keadilan
sehingga tercapai kemakmuran dan dalam perjalanan pencapaian masyarakat adil
makmur tersebut tidak mendobrak aturan Allah yang tertuang dalam Al-Qur’an sehingga
adil makmur yang dicapai oleh masyarakat meruapak adil makmur yang dikehendaki oleh
Allah SWT. Jadi setiap usaha dalam pencapaian masyarakat adil makmur harus
berpedoman pada ajaran Islam yang tertuang dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

FUNGSI DAN PERAN HMI

HMI berfungsi sebagai Organisasi Kader (pasal 8 AD HMI)


HMI sebagai organisasi kader adalah organisasi mahasiswa yang berorientasikan Islam
yang melakukan perkaderan, dimana seluruh aktivitas yang dilakukan pada dasarnya
merupakan proses kaderisasi, sehingga HMI berfungsi dan hanya selalu membentuk
kader-kader muslim intelektual yang profesional.

HMI berperan sebagai Organisasi Perjuangan (pasal 9 AD HMI)


HMI berperan sebagai organisasi perjuangan adalah organisasi yang selalu berjuang
melakukan dan membentuk kader bangsa yang muslim, intelektual, dan profesional
dimana outputnya ditujukan untuk kepentingan bangsa secara keseluruhan, sehingga
insan HMI siap dan dapat bermanfaat bagi seluruh golongan yang ada di masyarakat
selama tidak bertentangan dengan koridor misi HMI.

HUBUNGAN MISSION SECARA INTEGRAL

Hubungan antara asas, tujuan, sifat, status, fungsi dan peran HMI secara integral adalah
dalam pencapaian dan memperjuangkan mission HMI harus dilakukan secara utuh dan
menyeluruh, dan satu sama lain saling mempengaruhi, dan menentukan sehingga tidak
bisa ditinjau secara parsial.

Dalam diri kader HMI harus :


a) Senantiasa memperdalam kehidupan rohani agar menjadi luhur dan bertaqwa pada
Allah SWT
b) Selalu tidak puas dan berkemauan keras untuk mencari kebenaran, HMI hanya komit
pada kebenaran
c) Jujur pada dirinya dan pada orang lain dan tidak mengingkari hati nuraninya
d) Teguh dalam pendirian dan obyektif rasional jika berhadapan dengan orang yang
berbeda pendirian
e) Bersikap kritis dan berfikir bebas kreatif.

Anda mungkin juga menyukai