Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

KENAIKAN TITIK DIDIH DAN PENURUNAN TITIK BEKU

Makalah disusun untuk memenuhi tugas : Praktikum Kimia Fisika

DISUSUN OLEH : KELOMPOK 2A

DESY SONYA PUTRI 40040119650028

M.IQBAL SETYA WARDANA 40040119650074

SALSABILA 40040119650096

JURUSAN TEKNOLOGI REKAYASA KIMIA INDUSTRI

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI

SEKOLAH VOKASI

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2020

i
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan rasa puji syukur atas berkat dan rahmat Tuhan YME, karena
atas segala limpahan rahmat, karunia serta hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan
Makalah Praktikum Kimia Fisika ini tepat pada waktunya. Makalah praktikum Kimia
Fisika yang berjudul “Kenaikan Titik Didih dan Penurunan Titik Beku” ini kami
susun untuk memenuhi tugas Praktikum Kimia Fisika. Serta tak lupa kami sampaikan
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya tugas ini,
maka dalam kesempatan ini kami ingin mengucapkan terimakasih kepada:

1. Anggraito Putra T sebagai Asisten Laboratorium Kimia Fisika materi


Kenaikan Titik Didih dan Penurunan Titik Beku Sekolah Vokasi Universitas
Diponegoro yang telah memberikan arahan, bimbingan serta dukungan
kepada kami dalam menulis dan menyelesaikan makalah ini.
2. Teman – teman kelompok praktikum 2A kelas B yang selalu memberikan
masukan dalam menyelesaikan tugas makalah ini. Kami menyadari
sepenuhnya bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan.
Walaupun kami telah mengerahkan segala kemampuan untuk lebih teliti,
tetapi kami masih merasakan adanya kekurangan-kekurangan dalam
penyusunan Makalah Praktikum Kimia Fisika ini. Untuk itu, kami selalu
mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi selangkah lebih maju.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembacanya.

Semarang, 3 April 2020

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................................ii
DAFTAR ISI................................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR....................................................................................................iv
RINGKASAN................................................................................................................v
SUMMARY.................................................................................................................vi
BAB I.............................................................................................................................1
PENDAHULUAN.........................................................................................................1
1.1 Latar Belakang.....................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................................1
1.3 Tujuan..................................................................................................................2
BAB II...........................................................................................................................3
TINJAUAN PUSTAKA................................................................................................3
2.1 Pengertian Larutan...............................................................................................3
2.2 Jenis jenis larutan.................................................................................................3
2.2 Sifat Koligatif.......................................................................................................5
2.3 Jenis Jenis Sifat Koligatif.....................................................................................5
2.4 Hukum Hukum yang Mendasari penurunan titik beku dan kenaikan titik didih. 8
2.5 Satuan Konsentrasi.............................................................................................10
2.6 Pelarut................................................................................................................12
2.7 Penerapan Sifat Koligatif dalam Kehidupan Sehari-hari...................................13
2.8 Konsentrasi........................................................................................................15
2.9 Diagram Fasa Air dan Koligatif.........................................................................16
2.10 Pengaruh bahan terhadap Vapor Pressure Larutan dan Pelarut Murni............19
BAB III........................................................................................................................21
PENUTUP...................................................................................................................21
3.1 Kesimpulan........................................................................................................21
HALAMAN PENGESAHAN.....................................................................................23

iii
DAFTAR GAMBAR

GAMBAR 1...................................................................................................................6

GAMBAR 2.................................................................................................................16

GAMBAR 3.................................................................................................................18

iv
RINGKASAN

Larutan adalah suatu campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat dalam
komposisi yang berbeda beda. Larutan ideal merupakan larutan yang ion-ionnya
bergerak bebas satu sama lain, dan baku tarik hanya terjadi dengan molekul pelarut.
Jenis larutan yaitu antara lain larutan polar dan nonpolar, larutan elektrolit dan non
elektrolit, dan larutan jenuh,tak jenuh, dan lewat jenuh. Sifat koligatif merupakan
sifan dari suatu larutab dimana larutan tersebut tidak bergantung pada jenis zat
terlarut tetapi bergantung pada banyaknya partikel zat terlarut yang ada dalam
larutan. Jenis jenis sifat koligatif antara lain tekanan uap jenuh, Tekanan
Osmotik,Penurunan titik beku, Kenaikan Titik Didih. Hukum Hukum yang
Mendasari penurunan titik beku dan kenaikan titik didih antara lain hukum
raoult,huum blackman dan raoult, hukum asas black, hukum Vant Hoff. Komposisi
Larutan antara lain Molaritas, molalitas, normalitas, persen massa, pengenceran, dan
ppm. Pelarut adalah benda cair atau gas yang melarutkan benda padat, cair atau gas,
yang menghasilkan sebuah larutan. Penerapan sifat koligatif pada kehidupan sehari
hari antara lain Membuat Campuran Pendingin, proses cuci darah, desalinasi, proses
penyerapan air. Konsentrasi larutan cara untuk menunjukkan banyaknya zat terlarut
dalam suatu larutan atau dalam sejumlah pelarut. Diagram fasa adalah diagram yang
menggambarkan keadaan sistem (komponen dan fasa) yang dinyatakan dalam 2
dimensi. tekanan uap jenuh larutan lebih rendah daripada tekanan uap jenuh pelarut
murni. Semakin lemah gaya tarik-menarik molekul zat cair maka semakin mudah zat
cair tersebut menguap dan semakin besar pula tekanan uap jenuhnya

v
SUMMARY

Solution is a homogeneous mixture consisting of two or more substances in different


compositions. The ideal solution is a solution in which the ions move freely with each
other, and the standard of attraction only occurs with solvent molecules. Types of
solutions include polar and nonpolar solutions, electrolyte and non-electrolyte
solutions, and saturated, unsaturated, and saturated solutions. Colligative properties
are the properties of a soluble place where the source cannot be used in the type of
solute but depends on the solute particles present in the solution. Types of colligative
properties include saturated vapor pressure, Osmotic pressure, freezing point
reduction, boiling point increase. Laws of Law Underlying the decrease in freezing
and boiling points include raoult's law, black law and law, black law as law, Vant
Hoff's law. Solution compositions include molarity, molality, normality, mass
percent, dilution, and ppm. A solvent is a liquid or gas that dissolves a solid, liquid or
gas object, which produces a solution. The application of the colligative nature of
daily life includes making a cooling mixture, dialysis, and desalination. Solution
concentration means to show the amount of solute in a solution or in a number of
solvents. A phase diagram is a diagram that illustrates the state of the system
(components and phases) expressed in 2 dimensions. the saturated vapor pressure of
the solution is lower than the saturated vapor pressure of pure solvents. The weaker
the attraction force of liquid molecules, the easier it is to evaporate and the greater the
saturated vapor pressure.

vi
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sifat koligatif merupakan sifat larutan yang ditentukan oleh jumlah molekul
atau ion yang terdapat di dalam larutan. Hubungan antar sifat koligatif dapat
dikaji berdasarkan berat jenis larutan.(Rusdiani et al., 2019)

Dalam ilmu kimia perlu diketahui tentang sifat-sifat suatu larutan.


Pengetahuan ini sangat penting mengingat sebagian besar reaksi yang terjadi
dalam bentuk larutan dengan pelarut air. Oleh pengetahuan mengenai sifat
koligatif larutan sangat diperlukan. Selama ini kita ketahui dalam sifat
koligatif larutan khususnya pada penurunan titik beku dan kenaikan titik didih
harus dihitung dan ditentukan dari molalitasnya melalui tahapan yang cukup
panjang. Dalam ilmu kimia perlu diketahui tentang(Rusdiani et al., 2019)

sifat-sifat suatu larutan. Pengetahuan ini sangat penting mengingat sebagian


besar reaksi yang terjadi dalam bentuk larutan dengan pelarut air. Oleh
pengetahuan mengenai sifat koligatif larutan sangat diperlukan. Selama ini
kita ketahui dalam sifat koligatif larutan khususnya pada penurunan titik beku
dan kenaikan titik didih harus dihitung dan ditentukan dari molalitasnya
melalui tahapan yang cukup panjang.(Rusdiani et al., 2019)

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa itu sifat koligatif larutan?


2. Apa macam-macam sifat koligatif larutan?
3. Apa itu konsentrasi?
4. Apa itu kenaikan titik didih?

1
5. Apa itu penurunan titik beku?
6. Apa hukum hukum yang mendasari kenaikan titik beku dan penurunan
titik didih?
7. Apa itu larutan?
8. Apa saja jenis jenis larutan?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui apa itu sifat koligatif larutan.


2. Untuk mengatahui macam-macam sifat koligatif larutan.
3. Umtuk mengetahui apa itu konsentrasi.
4. Untuk mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi sifat koligatif.
5. Untuk mengetahui apa itu penurunan titik beku.
6. Untuk mengetahui hukum hukum yang mendasari kenaikan titik beku dan
penurunan titik didih.
7. Untuk mengetahui apa itu larutan.
8. Untuk mengetahu apa saja jenis larutan.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Larutan

Larutan adalah suatu campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat
dalam komposisi yang berbeda beda. Zat yang jumlahnya lebih sedikit di
dalam larutan disebut zat terlarut,sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak
daripada zat-zat lain dalam larutan disebut pelarut. Untuk jumlah terlarut yang
berbeda pada setiap larutan, maka dibutuhkan energi panas yang berbeda pula,
yang nantinya akan mempengaruhi titik didih larutan tersebut(Putri et al.,
2015)

2.2 Jenis jenis larutan

2.2.1 Larutan Ideal dan Non ideal

Larutan ideal merupakan larutan yang ion-ionnya bergerak bebas satu


sama lain, dan baku tarik hanya terjadi dengan molekul pelarut.
Komponen komponen yang ada dalam larutan ideal berperan dalam
suatu konsentrasi larutan.Contoh dari larutan ideal antara lain
campuran benzena, toluena, xilena, campuran alkohol sebagai
contoh etanol dengan propanol.(Khaerunnisa, 2017)

Larutan non ideal merupakan larutan yang gaya antar atom-atom, ion-
ion atau molekulmolekul harus dipertimbangkan dalam perhitungan.
Contoh dari larutan ideal yaitu campuran etanol dan siklohekasana,
campuran aseton dengan air(Khaerunnisa, 2017)

2.2.2 Larutan elektrolit dan non elektrolit

Larutan elektrolit merupakan larutan yang zat zatnya dapat membentuk


ion-ion di dalam air. Dan larutan elektrolit merupakan larutan yang

3
dapat mengahantaran arus listrik. Di dalam larutan elektrolit dibagi
menjadi 2 macam yaitu : larutan elektrolit kuat dan elektrolit lemah.
Larutan elektrolit kuat merupakan larutan elektrolit yang dapat
menghantarkan listrik secara sempurnya, contohnya yaiu : air, dan asam
sulfat. Sedangkan larutan elektrolit lemah yaitu larutan yang
mengandung ion ion terlarut cenderung terionisasi sebagian dalam
proses serah terima elektron, contoh larutan elektrolit lemah yaitu :
CH3COOH dan H2CO3.(Khaerunnisa, 2017)

Larutan non-elektrolit merupakan larutan yang yang di dalamnya


membentuk . molekuler dan tidak ada peristiwa serah terima elektron,
contoh larutan non elektrolit yaitu : urea,metanol, dan etanol(Marheni,
2014)

2.2.3 Larutan jenuh,tak jenuh, dan lewat jenuh.

Larutan jenuh merupakan larutan yang di dalamnya terdapat zat terlarut


berada dalam kesetimbangan dengan zat yang tidak larut. Contoh
larutan jenuh yaitu : soda, garam yang ditambah ke dalam mentega.
(Khaerunnisa, 2017)

Larutan tak jenuh yaitu larutan yang zat terlarutnya dengan


konsentrasinya lebih kecil daripada larutan jenuh. Contoh dari larutan
tak jenuh yaitu : es teh, kopi.(Khaerunnisa, 2017)

Larutan lewat jenuh yaitu larutan yang menunjukkan keadaan yang tidak
stabil, sebab larutan mengandung zat terlarut yang jumlahnya melebihi
konsentrasi kesetimbangannya. Contoh larutan lewat jenuh yaitu :
natirum asetat,CH3COONa. (Khaerunnisa, 2017)

2.2.4 Larutan Berdasarkan Wujud Pelarutnya

4
Larutan Cair merupakan larutan yang terbentuk dari zat cair dan cair
atau cair dan padat, contohnya adalah larutan gula yang merupakan
campuran air dan gula, larutan garam yang dapat dibuat dari campuran
air dan garam.

Larutan Padat merupakan larutan yang terbentuk dari zat padat dengan
zat padat, contohnya logam emas 22 karat yang merupakan campuran
homogen antara emas dan perak atau logam lain. Logam kuningan
adalah contoh sistem larutan padat yang terdiri dari campuran tembaga
dan seng.

Larutan Gas merupakan larutan yang terdiri dari campuran gas.


Contohnya adalah udara di atmosfir yang terdiri dari gas oksigen dan
nitrogen.(Khaerunnisa, 2017)

2.2 Sifat Koligatif

Sifat koligatif merupakan sifan dari suatu larutan dimana larutan tersebut
tidak bergantung pada jenis zat terlarut tetapi bergantung pada banyaknya
partikel zat terlarut yang ada dalam larutan. Sifat koligatif larutan terdapat dua
jenis yaitu sifat koligatif larutan elektrolit dan non elektrolit. Sifat koligatif
larutan non elektrolit lebih rendah dari pada sifat koligatif larutan elektrolit,
hal itu terjadi karena zat terlarut dalam larutan elektrolit bartambah jumlahnya
dikarenakan terurai menjadi ion-ion.(Rusdiani et al., 2019)

2.3 Jenis Jenis Sifat Koligatif

2.3.1 Penurunan Tekanan Uap Jenuh.

Tekanan yang disebabkan oleh uap jenuh dinamakan tekanan uap jenuh.
Besarnya tekanan uap jenuh dipengaruhi oleh jumlah zat dan suhu.

5
Makin besar tekanan uap suatu cairan, makin mudah molekul-molekul
cairan itu berubah menjadi uap. Jika jumlah partikel pelarut pada pelarut
murni di permukaan lebih banyak dibandingkan pada larutan akan
menyebabkan tekanan uap larutan lebih kecil daripada pelarut murni.
Selisih antara tekanan uap murni dengan tekanan uap larutan jenuh dapat
dituliskan secara matematis seperti berikut(Sukmawati, 2013)

Δ P = Po – P dimana,

ΔP = penurunan tekanan uap

Po = tekanan uap pelarut murni

P= tekanan uap jenuh larutan

2.3.2 Kenaikan Titik Didih

Cairan akan mendidih ketika tekanan uapnya menjadi sama dengan


tekanan udara luar. Titik didih cairan pada tekanan udara 760 mmHg
disebut titik didih standar atau titik didih normal(Tofninas, 2013). Jadi
yang dimaksud dengan titik didih adalah suhu pada saat tekanan uap
jenuh cairan itu sama dengan tekanan udara luar.

Gambar 1

6
Selisih titik didih larutan dengan titik didih pelarut disebut kenaikan titik
didih (ΔTb )

ΔTb = titik didih larutan – titik didih pelarut

Menurut hukum Raoult, besarnya kenaikan titik didih larutan sebanding


dengan hasil kali dari molalitas larutan (m) dengan kenaikan titik didih
molal (Kb)(Khaerunnisa, 2017).

Oleh karena itu, kenaikan titik didih dapat dirumuskan seperti berikut:

ΔTb = Kb ⋅ m dimana,

ΔTb = kenaikan titik didih molal

Kb = tetapan kenaikan titik didih molal

m = molalitas larutan Contoh

2.3.3 Penurunan titik beku

Selisih antara titik beku pelarut dengan titik beku larutan dinamakan
penurunan titik beku larutan ( ΔTf = freezing point). Dalam arti lain titik
beku adalah titik perubahan fase larutan dari fase cair menjadi fase
padat(Khaerunnisa, 2017).

ΔTf = Titik beku pelarut – titik beku larutan

Menurut hukum Raoult penurunan titik beku larutan dirumuskan seperti


berikut:

ΔTf = m. Kf dimana,

ΔTf = penurunan titik beku

m = molalitas larutan

Kf = tetapan penurunan titik beku molal Latihan

7
2.3.4 Tekanan Osmotik

Osmosis adalah peristiwa pindahnya pelarut dari larutan yang


konsentrasinya lebih kecil ke larutan yang konsentrasinya lebih besar
melalui selaput permiabel. Sedangkan tekanan osmotik adalah besarnya
tekanan yang harus diberikan pada suatu larutan untuk mencegah
mengalirnya molekul pelarut ke dalam larutan melalui selaput.

Tekanan osmotik termasuk dalam sifat-sifat koligatif karena besarnya


hanya tergantung pada jumlah partikel zat terlarut(Khaerunnisa, 2017).
J.H. Vant Hoff menemukan hubungan antara tekanan osmotik larutan-
larutan encer dengan persamaan gas ideal, yang dituliskan seperti
berikut :

πV = nRT dimana,

π = tekanan osmotik

V = volume larutan (L)

n = jumlah mol zat terlarut

R = tetapan gas (0,082 L atm mol-1K-1 )

T = suhu mutlak (K)

2.4 Hukum Hukum yang Mendasari penurunan titik beku dan kenaikan titik didih

2.4.1 Hukum Raoult

Raoult adalah seorang ahli kimia dari Perancis, ia mengamati bahwa


pada larutan ideal yang dalam keadaan seimbang antara larutan dan
uapnya, maka perbandingan antara tekanan uap salah satu komponennya
( misal A) PA/PAosebanding dengan fraksi mol komponen (XA) yang
menguap dalam larutan pada suhu yang sama(Widjajanti, 2010b).

8
Misalkan suatu larutan yang terdiri dari komponen A dan B menguap,
maka tekanan uap A (PA) dinyatakan sebagai :

PA = PAo . XA dimana,

PA = tekanan uap di atas larutan

XA = Fraksi mol komponen A

PAo = tekanan uap A murni

2.4.2 Hukum Backman dan Raoult


Hukum backman dan raoult menyatakan bahwa penurunan titik beku
dan kenaikan titik didih berbanding lurus dengan molalitas yang terlarut
di dalamnya(Widjajanti, 2010b). Hukum tersebut dapat dirumuskan
sebagai berikut:

∆ Tb=m. Kf ∆ Tf =m. Kf

Dimana,

𝛥Tb = kenaikan titik didih molal

Kb = tetapan kenaikan titik didih molal

𝛥Tf = penurunan titik beku

Kf = tetapan titik beku molal

m = molalitas

2.4.3 Hukum Asas Black

Bunyi asas black ialah sebagai berikut : “pada pencampuran dua


zat,banyaknya kalor yang dilepas zat yang suhunya lebih tinggi sama

9
dengan banyaknya kalor yang diterima oleh zat yang suhu lebih rendah”
(Widjajanti, 2010b) yang dapat dinyatakan dengan rumus :

Qlepas = Qterima

Q = m . c . 𝛥T

Dimana,

Q = banyaknya kalor yang dilepas atau diterima (J)

m = massa benda yang melepas atau menerima kalor (kg)

C = kalor jenis zat (J/KgoC)

𝛥T = Perubahan suhu (oC)

2.4.4 Hukum Vant Hoff

Vant Hoff dapat dihitung dari besarnya konsentrasi sesungguhnya zar


terlarut yang ada di dalam larutan dibanding dengan konsentrasi zat
terlarut hasil perhitungan dan massanya(Sukmawati, 2013). Pernyataan itu
dapat di rumuskan menjadi :

I = 1 + (n-1) a dimana

a = derajat ionisasi zat terlarut

n = jumlah ion yang terbentuk ketika suatu zat berada di dalam larutan

2.5 Satuan Konsentrasi

2.5.1 Fraksi Mol (x)

Fraksi mol menyatakan perbandingan antara jumlah mol salah satu


komponen larutan dengan jumlah mol total. Yang dapat dituliskan
dengan rumus :

10
x= ¿
n

n merupakan jumlah mol komponen i dan n menyatakan jumlah mol i


pada semua komponen dalam larutan. Fraksi mol tidak mempunyai
satuan.(Khaerunnisa, 2017)

2.5.2 Kemolalan (m)

Kemolaran merupakan jumlah zat terlarut dalam tiap 1000 gram


pelarut(Khaerunnisa, 2017). Yang dapat sdirumuskan menjadi :

gramterlarut .1000
m=
Mr . gram pelarut

2.5.3 Kemolaran (M)

Kemolaran merupakan jumlah mol zat terlarut dalam tiap liter


larutan(Khaerunnisa, 2017). Yang dapan dirumuskan menjadi:

gramterlarut .1000
M=
Mr .Volume pelarut (ml)

2.5.3 Persen Massa

Persen massa merupakan jumlah zat terlarut dalam tiap 100 gram
larutan(Khaerunnisa, 2017). Yang dapat dirumuskan menjadi :

massa terlarut
%= X 100 %
massa terlarut+ massa pelarut

(Khaerunnisa, 2017)

2.5.4 Normalitas

11
Normalitas merupakan suatu besaran yang menyatakan jumlah ekivalen
zat terlarut(Sukmawati, 2013). Yang dapat dirumuskan menjadi :

N=m× a

2.5.5 Part per Million

Ppm didefinisikan sebagai massa zat terlarut (dalam mg) dalam 1000
mL larutan(Sukmawati, 2013). Yang dapat dirumuskan :

massa zat terlarut


ppm= ×100 %
100 mL larutan

2.5.6 Pengenceran

Pengenceran adalah penambahan zat terlarut ke dalam suatu larutan


sehingga konsentrasi larutan lebih kecil dengan penambahan
pelarut(Sukmawati, 2013). Yang dapat dirumuskan menjadi :

Molaritas 1 .Volume 1=Molaritas 2 . Volume 2

2.6 Pelarut.

Pelarut adalah benda cair atau gas yang melarutkan benda padat, cair atau gas,
yang menghasilkan sebuah larutan(Anugerah et al., 2015). Berikut adalah
jenis jenis pelarut

2.6.1 Pelarut Polar

Pelarut yang memiliki tingkat kepolaran yang tinggi, pelarut ini cocok
untuk mengekstrak senyawa- senyawa yang polar dari tanaman. Pelarut
polar cenderung universal digunakan karena biasanya walaupun polar,
tetap dapat menyari senyawa-senyawa dengan tingkat kepolaran lebih
rendah. Salah satu contoh pelarut polar adalah: air, metanol, etanol,
asam asetat(Khopkhar & Pudjaatmaka, 2012)

12
2.6.2 Pelarut Semipolar

Pelarut semipolar adalah pelarut yang memiliki tingkat kepolaran yang


lebih rendah dibandingkan dengan pelarut polar. Pelarut ini baik untuk
mendapatkan senyawa-senyawa semipolar dari tumbuhan. Contoh
pelarut ini adalah: aseton, etil asetat, kloroform(Khopkhar &
Pudjaatmaka, 2012).

2.6.3 Pelarut Nonpolar

Pelarut nonpolar yaitu pelarut hampir sama sekali tidak polar. Pelarut ini
baik untuk mengekstrak senyawa-senyawa yang sama sekali tidak larut
dalam pelarut polar. Senyawa ini baik untuk mengekstrak berbagai jenis
minyak. Contoh: heksana, dan eter(Khopkhar & Pudjaatmaka, 2012)

2.7 Penerapan Sifat Koligatif dalam Kehidupan Sehari-hari

2.7.1 Penurunan Titik Beku

Di daerah yang beriklim dingin,kedalam air radiator biasanya di


tambahkan etilen glikol. Di daerah beriklim dingin, air radiator mudah
membeku. Jika keadaan ini di biarkan, maka radiator kendaraan akan
cepat rusak. Dengan penambahan etilen glukol kedalam air radiator
diharapkan titik bekuair dalam radiator menurun,dengan kata lain tidak
mudah membeku.(Selviani, Ade; Putri, 2012)

Cairan pendingin adalah larutan berair yang memiliki titik beku jauh di
bawah 0 derajat Celsius. Cairan pendingin digunakan pada pabrik es,
juga di gunakan untuk membuat es putar. Cairan pendingin dibuat
dengan melarutkan berbagai jenis garam ke dalam air. Peristiwa ini
memiliki prinsip penurunan titik beku larutan. Yaitu dalam pembuatan
es putar, dingin dari esbatu akan berpindah ke larutan es putar sehingga

13
menjadikan es putar akan mengalami pembekuan(Selviani, Ade; Putri,
2012)

2.7.2 Penurunan Tekanan Uap

Laut mati adalah contoh dari terjadinya penurunan tekanan uap pelarut
oleh zat terlarut yang tidak mudah menguap. Air berkadar garam sangat
tinggi ini terletak di daerah gurun yang sangat panas dan kering, serta
tidak berhubungan dengan laut bebas, sehingga konsetrasi zat
terlarutnya semakin tinggi. Pada saat kita berenang di laut mati kita tidak
akan tenggelam karena konsentrasi zat terlarutnya yang sangat tinggi.
Berkaitan dengan penurunan tekanan uap(Selviani, Ade; Putri, 2012)

2.7.3 Kenaikan Titik Didih

Penerapan kenaikan titik didih sifat koligatif adalah ketika memasak air
di kompor maka air akan mendidih dan suhu akan naik. Apabila pelarut
murni ditambahkan zat terlarut maka larutan akan mendidih di atas
100°C lebih tinggi dari titik didih air karena terdapat ion ion yang terurai
dari zat terlarut(Selviani, Ade; Putri, 2012)

2.7.4 Tekanan Osmotik

Pasien penderita gagal ginjal harus menjalani terapi cuci darah. Proses
ini menggunakan proses dialysis, yaitu proses perpindahan molekul
kecil-kecil seperti urea melalui membrane semipermiabel dan masuk ke
cairan lain, kemudian di buang. Membran tak dapat di tembus oleh
molekul besar seperti protein sehingga akan tetap berada di dalam darah.
(Selviani, Ade; Putri, 2012)

Desalinasi adalah proses pengolahan air laut menjadi air tawar. Pada
proses ini digunakan prinsip osmotic balik yaitu pelarut bergerak dari

14
konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah dengan memberikan tekanan
sebesar tekanan pada air laut(Selviani, Ade; Putri, 2012)

Garam dapat membasmi hewan lunak seperti lintah. Hal ini karena
garam yang di taburkan pada permukaan tubuh lintah mampu menyerap
air yang ada dalam tubuh sehingga lintah akan kekurangan air dalam
tubuhnya. Peristiwa ini berkaitan dengan proses osmotic.(Selviani, Ade;
Putri, 2012)

Garam dapur di gunakan untuk mengawetkan makanan. Garam dapat


membunuh mikroba penyebab makanan busukyang berada di
permukaan makanan. Hal ini berkaitan dengan proses osmosis. Yaitu
dengan adanya garam menjadikan makanan bersifat hipertonis, sehingga
menjadikan kuman mengalami dehidrasi lalu mati, karena cairan tubuh
kuman lebih hipertonik di bandingkan dengan sifat makanan.(Selviani,
Ade; Putri, 2012)

Pada proses desalinasi ( mengolah air laut menjai air tawar ) Pada proses
ini digunakan prinsip osmotic balik yaitu pelarut ergerak dari
konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah dengan memberikan tekanan
sebesar tekanan pada air laut.(Selviani, Ade; Putri, 2012)

2.8 Konsentrasi

Konsentrasi larutan cara untuk menunjukkan banyaknya zat terlarut dalam


suatu larutan atau dalam sejumlah pelarut. Secara kuantitatif, konsentrasi
larutan dapat digambarkan dalam berbagai cara, seperti yang kita akan bahas
dalam kegiatan belajar ini. Di antara banyak cara menyatakan konsentrasi,
yang akan kita bahas dalam kegiatan belajar ini adalah persen massa, fraksi
mol, molaritas, molalitas, dan part per million (ppm) atau bagian per juta
(bpj). Agar bisa menyatakan konsentrasi dalam berbagai cara maka kita akan
mempelajari cara mengubah satuan konsentrasi ke satuan konsentrasi lainnya

15
dan mengubah besarnya konsentrasi melalui pengenceran atau penambahan
pelarut.(Yahmin, 2017)

2.9 Diagram Fasa

Diagram fasa adalah diagram yang menggambarkan keadaan sistem


(komponen dan fasa) yang dinyatakan dalam 2 dimensi. Dalam diagram ini
tergambar sifat- sifat zat seperti titik didih, titik leleh, titik tripel. Sebagai
contoh adalah diagram fasa 1 komponen adalah diagram fasa air.

Gambar 2

Pada diagram fasa tersebut terdapat tiga kurva yang membagi diagram ke
dalam daerah padat, cair, dan gas. Pada setiap daerah, menunjukkan keadaan
wujud zat yang stabil. Setiap titik pada kurva menunjukkan hubungan tekanan
dan suhu. Kurva AB yang membagi wilayah padat dan cair, menyatakan
keadaan padat dan cair berada dalam keadaan setimbang: Padat  Cair
Kurva tersebut memberikan informasi tentang titik leleh padatan atau titik
beku cairan pada suhu dan tekanan tertentu. Umumnya peleburan (padat →

16
cair) atau pembekuan (cair → padat) tidak dipengaruhi oleh tekanan sehingga
kurva AB cenderung membentuk garis lurus.

Kurva AB untuk air agak miring ke kiri karena pembentukan es pada tekanan
tinggi suhunya turun sebesar 1 °C dari keadaan normal (1 atm). Hal ini
disebabkan pada keadaan cair kurang rapat dibandingkan pada keadaan padat.

Kurva AC yang membagi wilayah cair dan gas memberikan informasi tentang
tekanan uap air pada berbagai suhu. Kurva tersebut menunjukkan garis
kesetimbangan fasa antara cair dan gas. Titik leleh dan titik didih air pada
tekanan 1 atm ditunjukkan dengan garis putus-putus, berada pada suhu 0 °C
dan 100 °C.

Kurva AD yang membagi wilayah padat dan gas memberikan informasi


tentang tekanan uap padatan pada berbagai suhu. Kurva tersebut menunjukkan
garis kesetimbangan fasa antara padat dan gas. Kurva ini berpotongan dengan
kurva yang lain pada titik A. Titik A dinamakan titik tripel, yaitu titik di mana
pada suhu dan tekanan tersebut terjadi kesetimbangan fasa antara gas, cair,
dan padat secara bersama-sama. Titik tripel untuk air terjadi pada suhu 0,01
°C dan tekanan 0,006 atm (4,58 mmHg).(Anugerah et al., 2015)

Dan yang kedua adalah contoh diagram fasa larutan - koligatif

17
Gambar 3

a. Garis didih
Titik BC disebut garis didih. Garis didih merupakan transisi fasa cair-gas.
Setiap titik pada garis itu menyatakan suhu dan tekanan di mana air akan
mendidih.

b. Garis Beku
Titik BD disebut garis beku. Garis beku merupakan transisi fasa cair ke padat.
Setiap titik pada garis itu menyatakan suhu dan tekanan di mana air dapat
membeku (es mencair).

c. Garis sublimasi
Titik AB disebut garis sublimasi. Garis sublimasi merupakan transisi fasa
padat-gas. Setiap titik pada garis sublimasi menyatakan suhu dan tekanan di
mana zat padat atau uapnya dapat menyublim.

d. Titik riple
Perpotongan antara garis didih, garis beku, dan garis sublimasi disebut titik
tripel. Koordinat titik tripel air adalah (0,0098°C; 4,58 mmHg). Pada titik

18
tripelnya, ketiga bentuk fasa zat (padat, cair, dan gas), berada dalam
kesetimbangan.(Widjajanti, 2010)

2.10 Pengaruh bahan terhadap Vapor Pressure Larutan dan Pelarut


Murni

Apabila zat cair disimpan di ruangan tertutup yang hampa udara, maka
sebagian partikel akan menguap dan uap tersebut akan kembali ke
bentuk semula (zat cair) atau biasa disebut dengan pengembunan.
Contoh sederhana adalah saat kita memasak air dalam panci yang
ditutup. Setelah mendidih dan kita angkat tutupnya, maka akan terlihat
titik-titik air di balik penutup panci. Saat mencapai titik didihnya, maka
air akan berubah menjadi uap air yang berwujud gas, karena ruangan
dalam panci tertutup, maka uap-uap air tersebut akan kembali ke bentuk
semula berupa tetes-tetes air.

Tekanan uap saat kondisi setimbang disebut tekanan uap jenuh. Seperti
pada diagram fase larutan yang telah dijelaskan sebelumnya, tekanan
uap jenuh larutan lebih rendah dibanding tekanan uap jenuh air. Hal inii
dikarenakan dalam larutan terdapat partikel zat terlarut yang
menghambat gerak molekul pelarut untuk menguap. Pemanasan air akan
lebih cepat mencapai titik didihnya dibandingkan dengan pemanasan
larutan garam karena terdapat partikel garam yang menghalangi partikel
air untuk menguap. Semakin banyak partikel dalam zat cair maka
semakin banyak pula gaya tarik-menarik molekul zat cair, begitu juga
sebaliknya. Semakin kecil gaya tarik-menarik molekul zat cair, maka
semakin tinggi tekanan uap jenuhnya yang berarti semakin mudah zat
cair tersebut untuk menguap(Septiyani, 2013)

19
Tekanan ini tekanan uap jenuhnya pada suhu tertentu. Penambahan
suatu zat akan menyebabkan penurunan tekanan uap karena zat yang
terlarut tersebut mengurangi bagian dari pelarut, sehingga kecepatan
penguapan berkurang. Pada tahun 1878, Marie Francois Roult seorng
kimiawan asal Prancis melakukan percobaan mengenai tekanan uap
jenuh larutan, sehingga ia menyimpulkan tekanan uap jenuh larutan
sama dengan fraksi mol pelarut di kalikan dengan tekanan uap jenuh
pelarut murni(Selviani, Ade; Putri, 2012)

20
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Larutan adalah suatu campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat
dalam komposisi yang berbeda beda. Larutan ideal merupakan larutan yang
ion-ionnya bergerak bebas satu sama lain, dan baku tarik hanya terjadi dengan
molekul pelarut. Jenis larutan yaitu antara lain larutan polar dan nonpolar,
larutan elektrolit dan non elektrolit, dan larutan jenuh,tak jenuh, dan lewat
jenuh. Sifat koligatif merupakan sifan dari suatu larutab dimana larutan
tersebut tidak bergantung pada jenis zat terlarut tetapi bergantung pada
banyaknya partikel zat terlarut yang ada dalam larutan. Jenis jenis sifat
koligatif antara lain tekanan uap jenuh, Tekanan Osmotik,Penurunan titik
beku, Kenaikan Titik Didih. Hukum Hukum yang Mendasari penurunan titik
beku dan kenaikan titik didih antara lain hukum raoult,huum blackman dan
raoult, hukum asas black, hukum Vant Hoff. Komposisi Larutan antara lain
Molaritas, molalitas, normalitas, persen massa, pengenceran, dan ppm. Pelarut
adalah benda cair atau gas yang melarutkan benda padat, cair atau gas, yang
menghasilkan sebuah larutan. Penerapan sifat koligatif pada kehidupan sehari
hari antara lain Membuat Campuran Pendingin, proses cuci darah, desalinasi,
proses penyerapan air. Konsentrasi larutan cara untuk menunjukkan
banyaknya zat terlarut dalam suatu larutan atau dalam sejumlah pelarut.
Diagram fasa adalah diagram yang menggambarkan keadaan sistem
(komponen dan fasa) yang dinyatakan dalam 2 dimensi. tekanan uap jenuh
larutan lebih rendah daripada tekanan uap jenuh pelarut murni. Semakin
lemah gaya tarik-menarik molekul zat cair maka semakin mudah zat cair
tersebut menguap dan semakin besar pula tekanan uap jenuhnya

21
DAFTAR PUSTAKA

Anugerah, S., Effendy, E., & Suharti, S. (2015). Analisis Kesalahan Konsep Sifat
Koligatif Larutan Pada Mahasiswa Kimia Universitas Negeri Malang Dan
Eliminasinya Menggunakan Media Visualisasi Statik. Jurnal Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Malang, 21(2), 114818.
Khaerunnisa, F. (2017). Larutan. Kimia Fisika 2, 1–56.
http://repository.ut.ac.id/4650/2/PEKI4310-M1.pdf
Khopkhar, S., & Pudjaatmaka, A. H. (2012). Jenis-Jenis Pelarut. Pelarut.
Marheni. (2014). Modul 1 Modul 1. http://repository.ut.ac.id/3891/1/EKSI4417-
M1.pdf
Putri, L. M. A., Prihandono, T., & Supriadi, B. (2015). Pengaruh Konsentrasi Larutan
Terhadap Laju Kenaikan Suhu Larutan. Jurnal Pembelajaran Fisika, 6(2), 147–
153.
Rusdiani, S., Suhendar, D., & Sudiarti, T. (2019). Perbandingan Sifat Koligatif
Campuran Larutan Garam (NaCl, KCl, dan Na-Benzoat) dengan Air Zamzam
Berdasarkan Berat Jenisnya. Al-Kimiya, 4(1), 9–16.
https://doi.org/10.15575/ak.v4i1.5078
Selviani, Ade; Putri, A. A. A. A. K. (2012). sifat koligatif. November, 1–11.
Septiyani. (2013). RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP). Journal
of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689–1699.
https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004
Sukmawati, W. (2013). KIMIA. In PT. Sekawan Cipta Karya (Vol. 53, Issue 9).
https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004
Tofninas, P. (2013). PERHITUNGAN KOEFISIEN PERPINDAHAN PANAS.
Widjajanti, E. (2010a). Kesetimbangan fasa.
Widjajanti, E. (2010b). Sifat larutan biner non elektrolit 1). 1–6.
Yahmin. (2017). Larutan Modul 1. Larutan, 1–65.
http://www.pustaka.ut.ac.id/lib/wp-content/uploads/pdfmk/PEKI420202-M1.pdf

22
HALAMAN PENGESAHAN
Makalah Praktikum Kimia-Fisika Materi Kenaikan Titik Didih dan Penurunan
Titik Beku dengan Judul “Kenaikan Titik Didih dan Penurunan Titik Beku” telah
diperiksa dan disetujui,
Semarang,31 Maret 2020

Mengetahui Praktikan I
Asisten Laboratorium

Anggraito Putra T Desy Sonya Putri


NIM.40040117060031 NIM.40040119650028

Praktikan II Praktikan III

M Iqbal Setya W Salsabila


NIM.40040119650074 NIM.40040119650096

23

Anda mungkin juga menyukai