Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH

AKUNTANSI TRANSAKSI IJARAH DAN IMBT


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah “Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah”
Dosen Pengampu :
Eka Nur Rofik, M.Ak

Disusun oleh Kelompok 10 AKS - 4B :

1. Via Arrosyida (12403183056)


2. Anas Sabilul Muttaqin (12403183063)
3. Fahmi Cesar Alfarizi (12403183082)
4. Octavia Saputri (12403183101)

JURUSAN AKUNTANSI SYARIAH


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERITULUNGAGUNG
2019 / 2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang mana atas limpahan rahmat, nikmat, taufiq
dan hidayah-Nya sehingga makalah ini mampu diselesaikan untuk memenuhi tugas
mata kuliah Bahasa Indonesia.

Tidak lupa sholawat serta salam tetap tercurah limpahkan kepada Nabi Agung
Muhammad SAW. Nabi yang telah memberikan pedoman serta tuntunan ke jalan yang
benar yakni agama islam.Sebagai rasa hormat atas bantuan dan bimbingan serta
dorongan dari semua pihak, diucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Dr. Maftukhim, M.Ag selaku Rektor IAIN Tulungagung.


2. Bapak Dr.H. Dede Nurohman, M. Ag selaku Dekan FEBI.
3. Bapak Eka Nur Rofik, M.Ak selaku pengampu mata kuliah Akuntansi Lembaga
Keuangan Syariah.
4. Serta teman-teman yang telah memberikan dukungan dalam penulisan makalah
ini.

Semoga Allah SWT senantiasa membalas segala budi kebaikan mereka semua dan
selalu memberikan berkahnya.
Menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kata sempurna.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun diharapkan demi kesempurnaan
makalah ini dan untuk perbaikan pada makalah berikutnya, berharap semoga makalah
ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Tulungagung, 22 Maret 2020

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

COVER

KATA PENGANTAR.................................................................................................................ii
DAFTAR ISI................................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang..............................................................................................................................1
Rumusan Masalah.........................................................................................................................1
Tujuan Pembahasan......................................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN

Definisi..........................................................................................................................................3
Ketentuan Syar’i, Rukun Transaksi, Pengawasan Syariah Transaksi Ijarah dan IMBT...............3
Alur Transaksi Ijarah dan IMBT...................................................................................................6
Teknis Perhitungan dan Penjurnalan Transaksi Ijarah bagi Bank Syariah....................................7
Perlakuan Akuntansi Beban Perbaikan dan Pemeliharaan..........................................................13
Penyajian pada Laporan Laba Rugi dan Laporan Perhitungan...................................................13
Variasi Transaksi Ijarah...............................................................................................................14
Teknis Perhitungan dan Penjurnalan Transaksi IMBT bagi Bank Syariah.................................17
Pelepasan Melalui Penjualan Objek Sewa Sebelum Berakhirnya Masa Sewa...........................20
Pelepasan Melalui Penjualan Objek Sewa Setelah Berakhirnya Masa Sewa..............................21
Pelepasan Melalui Penjualan Objek Sewa secara Bertahap........................................................22
Penyajian Transaksi Ijarah atas Aset Berwujud..........................................................................22
Pengungkapan Transaksi Ijarah atas Aset Berwujud..................................................................23
Teknis Perhitungan dan Penjurnalan Transaksi Ijarah untuk Multi Jasa....................................23
Penyajian Transaksi Ijarah atas Jasa............................................................................................27
Pengungkapan Transaksi Ijarah atas Jasa....................................................................................27
BAB III PENUTUP

Kesimpulan.................................................................................................................................29

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas barang dan jasa, melalui
pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan (ownership
atau milkiyyah) atas barang itu sendiri. Dalam konteks perbankan syariah, ijarah
adalah lease contract di mana suatu bank atau lembaga keuangan menyewakan
peralatan (equipment) kepada salah satu nasabahnya berdasarkan pembebanan
biaya yang sudah ditentukan secara pasti sebelumnya (fixed charge).
Dalam hal ini kita akan membahas proses akuntansi transaksi ijarah dan IMBT
yang dimulai dari identifikasi kejadian dan transaksi hingga penyajian dalam laporan
keuangan. Dari bagaimana perhitungan, penjurnalan, pelepasan, penyajian, dan
pengungkapannya. Transaksi ijarah dilandasi adanya perpindahan manfaat atau
sewa. Transaksi ini dapat menjadi transaksi leasing sebagai pilihan kepada
penyewa/nasabah untuk membeli aset tersebut pada akhir masa penyewaan,
meskipun hal ini tidak selalu dibutuhkan. Dalam perbankan syariah transaksi ini
dikenal dengan ijarah muntahhiyah bittamlik (sewa yang diikuti dengan
berpindahnya kepemilikan). Bank mendapatkan imbalan atas jasa sewa tersebut.
Harga sewa dan harga jual pada akhir masa sewa disepakati pada awal
perjanjian.
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi ijarah dan IMBT ?
2. Apa saja ketentuan syar’i, rukun transaksi, pengawasan syariah transaksi ijarah
dan IMBT ?
3. Bagaimana alur transaksi ijarah dan IMBT ?
4. Bagaimana teknis perhitungan dan penjurnalan transaksi ijarah dan IMBT bagi
bank syariah serta jasa ?
5. Bagaimana perlakuan akuntansi beban perbaikan dan pemeliharaan ?
6. Bagaimana penyajian pada laporan laba rugi dan laporan perhitungan, penyajian
serta pengungkapan dalam transaksi ijarah atas aset berwujud dan jasa?
7. Apa saja variasi transaksi ijarah ?
8. Bagaimana pelepasan terhadap objek sewa ?

1
C. Tujuan Pembahasan
1. Untuk memahami apa itu ijarah dan IMBT
2. Untuk memahami ketentuan syar’i, rukun transaksi, pengawasan syariah
transaksi ijarah dan IMBT
3. Untuk memahami alur transaksi ijarah dan IMBT
4. Untuk memahami teknis perhitungan dan penjurnalan transaksi ijarah dan IMBT
bagi bank syariah serta jasa
5. Untuk mengetahui perlakuan akuntansi beban perbaikan dan pemeliharaan
6. Untuk memahami penyajian pada laporan laba rugi dan laporan perhitungan,
penyajian serta pengungkapan dalam transaksi ijarah atas aset berwujud dan jasa
7. Untuk mengetahui apa saja variasi dalam transaksi ijarah
8. Untuk mengetahui bagaimana pelepasan terhadap objek sewa

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. DEFINISI

Akad ijarah merupakan akad yang memfasilitasi transaksi pemindahan hak guna
atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa / upah tanpa
diikuti pemindahan kepemilikan barang. Akad IMBT merupakan akad yang
memfasilitasi transaksi ijarah, yang pada akhir sewa, penyewa diberi hak pilih untuk
memiliki barang yang disewa dengan cara yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.
Dalam lembaga keuangan syariah akad ijarah digunakan untuk transaksi penyewaan
suatu barang maupun penggunaan suatu jasa yang dibutuhkan oleh nasabah.

Bagi bank syariah, transaksi ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan


dengan jenis akad lain, yaitu:

1) Dibandingkan akad murabahah, akad ijarah lebih fleksibel dalam hal objek
transaksi. Pada akad murabahah objek transaksi berupa barang sedangkan akad
ijarah berupa jasa seperti jasa kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan,
pariwisata, dan lainnya.
2) Dibandingkan investasi, akad ijarah mengandung risiko usaha yang lebih
rendah, yaitu adanya pendapatan ijarah yang relatif tetap.
B. KETENTUAN SYAR’I, RUKUN TRANSAKSI, DAN PENGAWASAN
SYARIAH TRANSAKSI IJARAH DAN TRANSAKSI IMBT
1) Ketentuan Syar’I Transaksi dan Transaksi IMBT
Penyewaan dalam sudut pandang islam meliputi dua hal, yaitu: Pertama,
penyewaan terhadap potensi atau sumber daya manusia. Kedua, penyewaan
terhadap suatu fasilitas. Penyewaan terhadap potensi manusia, misalnya adalah
menyewa seseorang untuk membantu pekerjaan dalam waktu tertentu. Selain itu,
penyewaan untuk fasilitas antara lain penyewaan tempat tinggal, tanah garapan
atau mobil angkutan.
Ketentuan syar’i transaksi ijarah diatur dalam fatwa DSN Nomor 09
Tahun 2000. Ketentuan syar’i transaksi ijarah untuk penggunaan jasa diatur

3
dalam fatwa DSN Nomor 44 tahun 2004. Ketentuan syar’i IMBT diatur dalam
fatwa DSN Nomor 27 Tahun 2000.1
2) Rukun Transaksi Ijarah
a. Transaktor
Transaktor terdiri atas penyewa (nasabah) dan pemberi sewa (Bank
Syariah). Kedua transaktor tersebut disyaratkan memiliki kompetensi
berupa akil baligh dan kemampuan memilih yang optimal seperti tidak gila,
tidak sedang dipaksa dan lain-lain. Untuk transaksi dengan anak kecil, dapat
dilakukan dengan izin dan pantuan dari walinya. Perjanjian sewa menyewa
antara bank syariah dengan nasabah harus memiliki implikasi kepada dua
belah pihak. Implikasi tersebut adalah :
 Menyediakan asset yang disewakan.
 Menanggung biaya pemeliharaan asset.
 Menjamin bila terdapat cacat pada asset yang disewakan.

Adapun kewajiban nasabah sebagai penyewa adalah :

 Membayar sewa dan bertanggungjawab untuk menjaga keutuhan asset


yang disewa serta menggunakannya sesuai kontrak.
 Menanggung biaya pemeliharaan yang sifatnya ringan (tidak materil)
 Jika asset yang disewakan rusak, bukan karena pelanggan dari
penggunaan yang dibolehkan, juga bukan karena kelalaian pihak
penyewa dalam menjaganya, ia tidak bertanggungjawab atas kerusakan.
b. Objek ijarah
 Objek ijarah adalah manfaat dari penggunaan barang atau jasa.
 Manfaat barang harus bisa dinilai dan dapat dilaksanakan dalam kontrak.2
 Fasilitasnya mubah (dibolehkan). Dalam hal ini, menyewa tenaga atau
fasilitas untuk maksiat atau sesuatu yang diharamkan adalah haram.
 Kesanggupan memenuhi manfaat harus nyata dan sesuai dengan syariah.
 Manfaat harus dikenali secara spesifik sedemikian rupa untuk
menghilangkan ketidaktahuan yang akan mengakibatkan sengketa.

1
Rizal Yaya,dkk, Akuntansi Perbankan Syariah.(Jakarta: Salemba Empat, 2016), hlm. 266.
2
Ibid., hlm. 263.

4
 Spesifikasi manfaat harus dinyatakan dengan jelas termasuk jangka
waktunya. Atau bisa juga dengan spesifikasi atau identifikasi fisik.
 Ketentuan dalam menentukan sewa dapat diwujudkan dalam ukuran
waktu, tempat dan jarak.
c. Ijab dan Kabul
Ijab dan Kabul dalam akad ijarah merupakan pernyataan dari kedua belah
pihak yang berkontrak, dengan cara penawaran dari pemilik asset dan
penerimaan yang dinyatakan oleh penyewa.3
3) RukunTransaksi IMBT
Berdasarkan fatwa DSN Nomor 27 Tahun 2002, disebutkan bahwa pihak
yang melakukan transaksi IMBT harus melaksanakan akad ijarah terlebih
dahulu. Dengan demikian, pada akad IMBT juga berlaku semua rukun dan
syarat transaksi ijarah. Berdasarkan fatwa DSN Nomor 27 tersebut janji
pemindahan kepemilikan yang disepakati di awal akad ijarah hukumnya bersifat
tidak mengikat. Oleh karena itu, apabila janji tersebut ingin dilaksanakan, maka
harus ada akad pemindahan kepemilikan yang dilakukan setelah masa ijarah
selesai.
4) Pengawasan Syariah Transaksi Ijarah dan IMBT
Untuk menguji kesesuaian transaksi ijarah dan IMBT yang dilakukan
bank dengan fatwa dewan DSN, DPS suatu bank syariah akan melakukan
pengawasan syariah. Pengawasan tersebut adalah:
a. Memastikan penyaluran dana berdasarkan prinsip ijarah tidak dipergunakan
untuk kegiatan yang bertentangan dengan prinsip syariah.
b. Memastikan bahwa akad pengalihan kepemilikan dalam IMBT dilakukan
setelah akad ijarah selesai, dan dalam akad ijarah, janji untuk pengalihan
kepemilikan harus dilakukan pada saat berakhirnya akad ijarah.
c. Meneliti pembiayaan berdasarkan prinsip ijarah untuk multi jasa
menggunakan perjanjian sebagaimana diatur dalam fatwa yang berlaku
tentang multi jasa dan ketentuan lainnya antara lain ketentuan standar akad.
C. ALUR TRANSAKSI IJARAH DAN IMBT

3
Ibid., hlm. 264.

5
Negoisasi dan Akad
Ijarah

Bank Syariah
Nasabah sebagai
sebagai
penyewa
pemberi sewa
H barang / jasa 4. Membayar sewa pada

3. Menggunakan

2. Membeli objek ijarah

barang / jasa pada


Objek Ijarah
pemasok.
(barang / jasa)
5. Mengalihkan
hak milik barang ijarah
pada akhir masa sewa
(khusus IMBT).

Pertama, nasabah mengajukan permohonan ijarah dengan mengis iformulir


permohonan. Berbagai informasi yang diberikan selanjutnya diverifikasi kebenarannya
dan dianalisis kelayakannya oleh Bank Syariah.

Kedua, sebagaimana difatwakan oleh DSN, bank selanjutnya menyediakan


objek sewa yang akan digunakan kepada nasabah. Bank dapat mewakilkan kepada
nasabah untuk mencarikan barang atau jasa yang akan disewa kemudian diberi / dibayar
oleh bank syariah.

6
Ketiga, nasabah menggunakan barang atau jasa yang disewakan sebagaimana
yang telah disepakati dalam kontrak.4

Keempat, nasabah penyewa membayar fee sewa kepada bank syariah sesuai
dengan kesepakatan akad sewa.

Kelima, pada transaksi IMBT, setelah masa ijarah selesai, bank sebagai pemilik
barang dapat melakukan pengalihan hak milik kepada yang menyewa.

D. TEKNIS PERHITUNGAN DAN PENJURNALAN TRANSAKSI IJARAH


BAGI BANK SYARIAH

Kasus Transaksi Ijarah

PT Namira membutuhkan sebuah mesin untuk keperluan produksi usahanya. Pada bulan
Januari 20XA, PT Namira mengajukan permohonan ijarah kepada Bank Syariah. Adapun
informasi tentang penyewaan tersebut sebagai berikut :

Biaya perolehan barang : Rp120.000.000


Umur ekonomis barang : 5 tahun (60 bulan)
Masa sewa : 24 bulan
Nilai sisa umur ekonomis : Rp0
Sewa per bulan : Rp2.400.000
Biaya Administrasi : Rp480.000

1) Teknis Perhitungan Transaksi Ijarah


a. Perhitungan Penyusutan dan Pendapatan Ijarah
Misalkan kebijakan bank syariah adalah memperoleh keuntungan 20%
dari modal penyewaan (beban penyusutan) :
Penyusutan per bulan : Harga perolehan – Nilai sisa
Jumlah bulan umur ekonomis

Penyusutan per bulan : Rp120.000.000 – Rp0


60

: Rp2.000.000

Pendapatan ijarah per bulan: Modal penyewaan + n% modal penyewaan


4
Ibid., hlm. 265.

7
: Rp2.000.000 + (20% x Rp2.000.000)

: Rp2.400.000

b. Perhitungan Biaya Administrasi Ijarah


Misalkan dalam kasus diatas, bank syariah menggunakan kebijakan 1%
dari modal persewaan. Maka biaya administrasinya adalah sebagai berikut :

Biaya administrasi ijarah : n% x modal penyewaan per bulan x jumlah bulan

: 1% x Rp2.000.000 x 24 bulan

: 1% x Rp48.000.000

: Rp480.000

2) Penjurnalan Transaksi Ijarah


a. Transaksi Pengadaan Aset Ijarah
Misalkan untuk keperluan transaksi ijarah PT Namira diatas, pada
tanggal 5 Juni 20XA Bank Syariah membeli aset kepada perusahaan yang
menyuplai barang yang diperlukan. Pembelian dilakukan via rekening
pemasok tersebut. Jurnal terhadap transaksi tersebut adalah sebagai berikut :

Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

05/06/XA Persediaan Ijarah 120.000.000

Kas/Rekening pemasok 120.000.000

b. Transaksi pada Saat Akad Disepakati


Terdapat beberapa transaksi yang harus diakui oleh Bank Syariah, yaitu
(1) konversi persediaan ijarah menjadi aset, sebagai bentuk pengakuan atas
adanya pengalihan hak guna kepada penyewa, (2) penerimaan biaya
administrasi.
Misalkan pada tanggal 10 Juni, PT Namira menandatangani akad ijarah
ats sebuah mobil, maka jurnalnya :

Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

8
10/06/XA Aset yang diperoleh untuk ijarah 120.000.000

Persediaan ijarah 120.000.000

10/06/XA Rekening nasabah – PT Namira 480.000

Pendapatan administrasi 480.000

c. Transaksi Pengakuan Penerimaan Pendapatan Ijarah


Berdasarkan PSAK 107 pendapatan ijarah selama masa akad diakui pada
saat manfaat atas aset telah diserahkan kepada penyewa. Piutang pendapatan
ijarah diukur sebesar nilai yang dapat direalisasikan pada akhir periode
pelaporan.5
Misalkan rencana dan realisasi pembayaran sewa oleh PT Namira adalah
sebagai berikut :

Tanggal
Sewa per Porsi pokok Porsi ujrah Tanggal Jumlah
No Jatuh
bulan (Rp) (Rp) (Rp) pembayaran dibayar
Tempo

1 10 Juli XA 2.400.000 2.000.000 400.000 10 Juli XA 2.400.000

2 10 Agt XA 2.400.000 2.000.000 400.000 10 Agt XA 2.400.000

3 10 Sep XA 2.400.000 2.000.000 400.000 10 Sep XA 2.400.000

4 10 Okt XA 2.400.000 2.000.000 400.000 10 Okt XA 2.400.000

5 10 Nov XA 2.400.000 2.000.000 400.000 5 Des XA 2.400.000

10 Des XA 1.400.000
6 10 Des XA 2.400.000 2.000.000 400.000
3 Jan XA 1.000.000

 Pembayaran sewa oleh nasabah dilakukan saat jatuh tempo

Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

10/07/XA Kas/Rekening nasabah 2.400.000

5
Ibid., hlm. 268.

9
Pendapatan ijarah 2.400.000

10/08/XA Kas/Rekening nasabah 2.400.000

Pendapatan ijarah 2.400.000

10/09/XA Kas/Rekening nasabah 2.400.000

Pendapatan ijarah 2.400.000

10/10/XA Kas/Rekening nasabah 2.400.000

Pendapatan ijarah 2.400.000

 Pembayaran sewa oleh nasabah dilakukan setelah tanggal jatuh tempo

Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

10/10/XA Piutang sewa (porsi pokok) 2.000.000

Piutang pendapatan sewa (porsi ujrah) 400.000

Pendapatan ijarah - akrual 2.400.000

05/12/XA Kas/ Rekening nasabah 2.400.000

Piutang sewa (porsi pokok) 2.000.000

Piutang pendapatan sewa (porsi


ujrah) 400.000

Pendapatan ijarah – akrual 2.400.000

Pendapatan ijarah 2.400.000

Penambahan istilah akrual pada pendapatan ijarah adalah untuk


keperluan praktis membedakannya dengan pendaptan ijarah yang telah
berwujud kas.6

 Pembayaran sewa oleh nasabah dilakukan sebagian pada saat jatuh


tempo dan sebagian lagi setelah tanggal jatuh tempo

Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

6
Ibid., hlm. 270.

10
10/12/XA Kas/Rekening nasabah 1.400.000

Piutang pendapatan sewa (porsi ujrah)* 166.667

Piutang sewa (porsi pokok)** 833.333

Pendapatan ijarah 1.400.000

Pendapatan ijarah - akrual 1.000.000


*(Rp1.000.000/Rp2.400.000) x Rp400.000 =
Rp166.667

**Rp1.000.000 - Rp166.667 = Rp833.333

03/01/XB Kas/Rekening nasabah 1.000.000

Piutang pendapatan sewa (porsi


ujrah) 833.333

Piutang sewa (porsi pokok) 166.667

Pendapatan ijarah 1.000.000

Pendapatan ijarah - akrual 1.000.000

d. Pengakuan Penyusutan Aset yang Diperoleh untuk Ijarah


Berdasarkan PSAK 107 objek ijarah, jika berupa aset yang dapat
disusutkan atau diamortisasi, sesuai kebijakan penyusutan untuk aset sejenis
selama umur manfaatnya.
Jurnal untuk mengakui penyusutan aset yang diperoleh ijarah untuk
enam bulan pertama adalah sebagai berikut :

Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

10/07/XA Beban penyusutan aset ijarah 2.000.000

Akumulasi penyusutan aset ijarah 2.000.000

10/08/XA Beban penyusutan aset ijarah 2.000.000

Akumulasi penyusutan aset ijarah 2.000.000

10/09/XA Beban penyusutan aset ijarah 2.000.000

Akumulasi penyusutan aset ijarah 2.000.000

11
10/10/XA Beban penyusutan aset ijarah 2.000.000

Akumulasi penyusutan aset ijarah 2.000.000

10/11/XA Beban penyusutan aset ijarah 2.000.000

Akumulasi penyusutan aset ijarah 2.000.000

10/12/XA Beban penyusutan aset ijarah 2.000.000

Akumulasi penyusutan aset ijarah 2.000.000

E. PERLAKUAN AKUNTANSI BEBAN PERBAIKAN DAN PEMELIHARAAN

Berdasarkan PSAK 107, biaya perolehan objek ijarah merupakan tanggungan


pemilik. Perbaikan tersebut dapat dilakukan oleh pemilik secara langsung atau
dilakukan oleh penyewa atas persetujuan pemilik. Pengakuan biaya perbaikan objek
ijarah adalah sebagai berikut :

1) Biaya perbaikan tidak rutin objek ijkarah diakui pada saat terjadinya
2) Jika penyewa melakukan perbaikan rutin objek ijarah dengan persetujuan
pemilik, maka biaya tersebut dibebankan kepada pemilik dan diakui sebagai
beban pada saat terjadinya
3) Dalam ijarah muntahiyah bittamlik melalui penjualan secara bertahap, biaya
perbaikan objek ijarah yang dimaksud dalam (a) dan (b) ditanggung pemilik
maupun penyewa sebanding dengan bagian kepemilikan masing – masing atas
objek ijarah.7
F. PENYAJIAN PADA LAPORAN LABA RUGI DAN LAPORAN
PERHITUNGAN

Pendapatan ijarah dilaporkan, baik pada laporan laba rugi maupun laporan
perhitungn bagi hasil. Pada kedua laporan, pendapatan yang disajikan adlah pendapatan
bersih, yaiu pendapatan ijarah dikurangi dengan beban – beban yang terkait dengan
ijarah, antara lain beban penyusutan dan beban perbaikan dan pemeliharaan. Pada
laporan laba rugi biasanya dibuat pada akhir tahun, sedangkan laporan perhitungan bagi
hasil di sajikan setiap bulan untuk keperluan perhitungan bagi hasil dengan pemilik
dana pihak ketiga. Laporan laba rugi memasukan pendapatan ijarah yang memang
7
Ibid., hlm. 271.

12
terjadi pada periode terkait, tetapi laporan untuk perhitungan bagi hasil hanya
memasukkan pendapatan ijarah yang sudah berwujud kas pada periode terkait.

1) Laporan laba rugi

Juli Agustus September Oktober November Desember Total

Pendapatan 2.400.000 2.400.000 2.400.000 2.400.000 2.400.000 2.400.000 14.400.000


ijarah (saldo
kas + akrual)

(beban (2.000.000) (2.000.000) (2.000.000) (2.000.000) (2.000.000) (2.000.000) (12.000.000)


penyusutan)

(beban - - - - - (500.000) (500.000)


perbaikan)

(beban lain) - - - - - - -

Pendapatan 400.000 400.000 400.000 400.000 400.000 (100.000) (1.900.000)


ijarah bersih

2) Laporan perhitungan bagi hasil

Juli Agustus September Oktober November Desember Total

Pendapatan 2.400.000 2.400.000 2.400.000 2.400.000 - 3.800.000 13.400.000


ijarah – kas

(beban (2.000.000) (2.000.000) (2.000.000) (2.000.000) (2.000.000) (2.000.000) (12.000.000)


penyusutan)

(beban - - - - - (500.000) (500.000)


perbaikan)

(beban lain) - - - - - - -

Pendapatan 400.000 400.000 400.000 400.000 (2.000.000) 1.300.000 900.000


ijarah neto

G. VARIASI TRANSAKSI IJARAH


Dalam praktik, perbankan sering menerapkan transaksi sewa atas sewa, yaitu
menyewakan barang sewaan. Dalam hal ini objek ijarah yang disewakan tidak mesti
menjadi milik bank.

13
Kasus 12.2 transaksi ijarah dengan skema sewa atas sewa

Misalkan PT Yasmina menyewa sebuah ruko untuk usaha pakaian muslim.


Pemilik tempat sepakat untuk menyewakan ruko dengan harga sewa rp 150 juta untuk 2
tahun(24 bulan). Karena PT yasmina hanya memiliki uang tunai untuk sewa RP 50 juta,
PT Yasmina mengajukan permohonan pembiayaan kepada bank syariah. Skim yang
disepaati adalah skim ijarah dan agunan yang disepakato adalah kendaraan milik PT
yasmina, toyota kijang innova tahun 2006. Setela dilakukan proses analisis, maka bank
memberikan persetujuan pembiayaan demham keterangan sebagai berikut:

1. Tujuan pembiayaan : pembiayaan modal kerja untuk usaha ruko


2. Jangka waktu : 24 bulan
3. Ujjroh bank (margin sewa ) : Rp 12.976.333,34 (perhitungan margin annuity
12% untuk 24 bulan
4. Total harga sewa : Rp 162.976.333,34
5. Uang muka nasabah : 50 juta
6. Jumlah pembiayaan : 100 juta
7. Sewa yang diangsur : 112.976.333,34 (pembiayaan bank 100 juta + keuntungan
bank)
8. Angsuran pembiayaan : 4.707.347,22 (112.976.333,34 : 24 bulan)
9. Amortisasi perbulan : 4.166.666,67 ( 100.000.000:24 bulan)

Bentuk jurnal terhadap transaksi diatas adalah sebagai berikut :

1) Jurnal saat pencarian

Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

Aset yang diperoleh untuk ijarah 100.000.000

Kas/rekening nasabah 100.000.000

2) Jurnal saat angsuran

Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

Kas/rekening nasabah 4.707.347,22

14
Pendapatan ijarah ijarah 4.707.347,22

3) Jurnal saat penyusutan per bulan


Oleh karena menggunakan sewa atas sewa, maka aset ijarah yang
dimiliki adalah aset tidak berwujud. Hal ini tidak bertentangan dengan syariah
karena seseorang boleh menyewakan kepada orang lain suau objek yang
disewanya dari pemilik objek sewa sepanjang tidak ada larangan dalam
kesepakatan dengan pemilik objek sewa.
Dalam hal ini, istilah yang diamortisasi dan bukan depresiasi. Di PSAK
107, suatu entitas syariah dibenarkan menggunakan istilah penyusutan atas
amotisasi untuk transaksi sayriah.

Jurnal untuk pengakuan amortisasi:

Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

Beban amortisasi 4.166.666,67

Akumulasi amortisasi 4.166.666,67

4.a Jurnal saat angsuran berakhir dan pembiayaan lunas

Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

Akumulasi amortisasi 100.000.000

Aset yang diperoleh untuk ijarah 100.000.000

4.b Jurnal jika nasabah melunasi sebelum masa sewa berakhir


Apabila nasabah bermaksud melunasi setelah pembayaran angsuran ke 20.
Penyajian di neraca sebelum pelunasan
Aset yang diperoleh untuk ijarah 100.000.000,00
Akumulasi amortisasi (83.333.333,33)
Nilai bersih 16.666.666,67
 Sisa aset yang diperoleh saat ijarah 16.666.666,67

15
 Sisa sewa yang masih harus dibayar 18.829.388,89 (112.796.333,34 –
(20 x 4.707.347,22))
 Sewa bersih yang akan diterima 2.162.722,22

Maka jurnal saat pelunasan sebelum masa sewa berakhir adalah sebagai
berikut :

Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

Kas / rekening nasabah 18.829.388,89

Akumulasi amortisasi 83.333.333,33

Pendapatan ijarah 2.162.722,22

Aset yang diperoleh untuk ijarah 100.000.000,00

Dalam jurnal pelunasan diatas, rekening nasabah di debit sebesar jumlah


sisa sewa yang harus dibayarkan nasabah, akumulasi penyusutan didebit sebesar
nilai akumulasi penyusutan yang tercantum dalam neraca, keuntungan ijarah
dibagihasilkan dikredit sebesar selisih sisa aset ijarah dengan sisa sewa yang
masih harus dibayar, adapun aset ijarah di kredit sebesar biaya perolehan aset
sehingga set ijarah terhapus dari neraca.

H. TEKNIS PERHITUNGAN DAN PENJURNALAN TRANSAKSI IMBT BAGI


BANK SYARIAH
Pembahasan teknis perhitungan dan penjualan transaksi IMBT akan dilakukan
dengan mengacu pada kasus 12.2 berikut.

Kasus 12.3 transaksi IMBT

Dengan mengacu pada transaksi kasus 12.1 PT Namira yang telah dibahas pada
bagian terdahulu, misalkan akad yang disepakati adalah IMBT dengan informasi
tentang penyewaan sebagai berikut :

Biaya perolehan barang : 120.000.000

Umur barang : 5 tahun (60 bulan)

16
Masa sewa (umur ekonomi) : 24 bulan

Waktu pembelian barang : setelah bulan ke – 24

1) Teknis perhitungan transaksi IMBT


Teknis perhitungan transaksi IMBT pada dasarnya sama dengan
transaksi ijarah. Perbedaan teknis perhitungan terletak pada [enentuan
penyusutan aset ijarah.
a. Perhitungan penyusutan aset IMBT
Berdasarkan PSAK 107 disebutkan bahwa kebikalan penyusutan atau
amortisasi yang dipilih harus mencerminkan pola konsumsi yang diharapkan
dari manfaat ekonomi di masa depan dari objek ijarah. Umur ekonomis dapat
berbeda dengan umur teknis. Misalnya, mobil yang dapat dipakai selama 5
tahun diijarahkan dengan akad ijarah muntahiya bittamlik selama 2 tahun.
Dengan demikian umur ekonominya adalah 2 tahun.

Berdasarkankasus diatas maka beban penyusutan perbulan barang IMBT


adalah :

Penyusutan IMBT perbulan = = = 5.000.000

b. Penentuan pendapatan IMBT


Selanjutnya dengan kebijakan keuntungan sewa 20% dari modal barang
yang disewakan, pendapatan IMBT per bulan adalah sebgai berikut:

Pendapatan IMBT perbulan = modal penyewaan + n % modal


penyewaan

= 5.000.000 + (20% x 5.000.000)

= 5.000.000 + 1.000.000

= 6.000.000

Total pendatan IMBT selama masa sewa = 24 x 6.000.000 = 144.000.000

17
Adapun untuk free IMBT, mengingat penyewa memiliki hak pilih untuk
memiliki barang yang disewakn, modal barang persewaan dapat diperlakukan
sama denganharga perolehan barang.

2) Penjurnalan transaksi IMBT


Penjurnalan transaksi IMBT pada dasarnya sama dengan penjurnalan
pada transaksi ijarah. Perbedaan mendasar hanya terdapt pada konsep
perhitungan penyusutan yang tidak dikaitkan dengan umur ekonomis, melainkan
dikaitkan dengan masa sewa sebagaimana telah dibahas pada sub-bab 12.6.1.
dengan demikian, pembahsan IMBT langsung ditujukan pada transaksi
pemindahan kepemilikan aset kepada penyewa.

Pemindahan hak milik IMBT dapat dilakukan dengan beberapa


alternatif, yaitu melalui (1) hadiah, (2) pembayaran sisa sewa sebelum
berakhirnya masa sewa, dan (3) pembayran sekadarnya.

a. Pelepasan sebagai hadiah


Berdasarkan PSAK 107, perpindahan kepemilikan objek ijarah dari
pemilik kepada penyewa dalam ijarah muntahiya bittamlik dengan cara :
 Hibah
 Penjualan sebelum berakhirnya masa, sebesar cicilan sewa atau jumlah
yang disepakati,
 Penjualan setelah masa akad.

Pada perpindahan hak milik sewa dalam IMBT melalui hibah, maka
jumlah tercatat objek ijarah diakui sebagai beban.

Dalam kasus transaksi IMBT, PT namira diatas, sebenarnya pada akhir


masa sewa(setelah bulan ke -24) dilakukan pelepasan aset ijarah oleh bank
syariah dengan menghadiahkan aset tersebut kepada PT Namira. Adapun nilai
buku aset di neraca pada bulan ke – 24 adalah :

Penyajian di neraca (bulan ke 24)

Aset yang diperoleh untuk ijarah 120.000.000

18
Akumulasi penyusutan (120.000.000)

Nilai bersih 0

Maka jurnal atas transaksi pelepasan dengan menghadiahkan tersebut


adalah sebagai berikut :

Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

Akumulasi penyusutan aset ijarah 120.000.000

Aset yang diperoleh untuk ijarah 120.000.000

I. PELEPASAN MELALUI PENJUALAN OBJEK SEWA SEBELUM


BERAKHIRNYA MASA SEWA
1) Jika harga jual diatas nilai buku aset ijarah
Misalkan setelah penerimaan pendapatan ijarah bulan ke – 20, bank
syariah menjual mesin yang menjadi aset ijarah tersebut sebesar sisa cicilan
sewa kepada nasbah penyewa yaitu Rp24.000.000 (4 x Rp6.000.000). Adapun
nilai buku aset di neraca pada bulan ke – 20 adalah :
Penyajian di neraca (bulan ke - 20)
Aset yang diperoleh untuk ijarah 120.000.000,00
Akumulasi amortisasi (100.000.000,00)
Nilai bersih 20.000.000,00
Maka jurnal atas transaksi tersebut adalah :

Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

Kas 24.000.000

Akumulasi penyusutan aset ijarah 100.000.000

Aset yang diperoleh untuk ijarah 120.000.000

Keuntungan penjualan aset ijarah 4.000.000

2) Jika harga jual dibawah nilai buku aset ijarah

19
Misalkan setelah penerimaan pendapatan ijarah bulan ke-20, bank
syariah menjual mesin yang menjadi aset ijarah tersebut sebesar Rp 15.000.000.
Adapun nilai buku aset di neraca apda bulan ke-20 adalah sebagai berikut :

Penyajian di neraca (bulan ke-20)

Aset yang diperoleh untuk ijarah 120.000.000

Akumulasi penyusutan (100.000.000)

Nilai bersih 20.000.000

Maka jurnal untuk transaksi tersebut adalah :

Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

Kas 15.000.000

Akumulasi penyusutan aset ijarah 100.000.000

Kerugian penjualan aset ijarah 5.000.000

Aset ijarah 120.000.000

J. PELEPASAN MELALUI PENJUALAN OBJEK SEWA SETELAH


BERAKHIRNYA MASA SEWA
Berdasarkan PSAK 107 disebutkan bahwa pada penjualan setelah selesai masa
akad, maka selisih antara harga jual dan jumlah tercatat objek ijarah diakui sebagai
keuntungan atau kerugian. Dalam hal ini pemilik objek sewa mengakui keuntungan
atau kerugian atas penjualan tersebut sebesar selisih antara harga jual dan nilai buku
bersih objek sewa.
Misalkan setelah berakhirnya masa sewa, bank syariah menjual mesin yang
menjadi aset ijarah senilai Rp2.000.000. Adapun nilai buku aset dineraca pada bulan
ke-24 adalah:

Penyajian di neraca (bulan ke-24)

Aset yang diperoleh untuk ijarah 120.000.000

Akumulasi penyusutan (120.000.000)

20
Nilai bersih 0

Maka jurnal atas transaksi tersebut sebagi berikut :

Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

Kas 2.000.000

Akum. Penyusutan aset ijarah 120.000.000

Aset yang diperoleh untuk ijarah 120.000.000

Keuntungan penjualan aset ijarah 2.000.000

K. PELEPASAN MELALUI PENJUALAN OBJEK SEWA SECARA


BERTAHAP
Berdasarkan PSAK 107, disebutkan bahwa penjualan objek ijarah secara
bertahap, maka ; (i) selisih antara harga jual dan jumlah tercatat sebagian objek ijarah
yang telah dijual diakui sebagai keuntungan atau kerugian; sedangkan (ii) bagian
objek ijarah yang tidak dibeli penyewa diakui sebagai aset tidak lancar atau aset
lancar sesuai dengan tujuan penggunaan aset tersebut.8
L. PENYAJIAN TRANSAKSI IJARAH ATAS ASET BERWUJUD
Berdasarkan PAPSO 2013 (h. 6.4) terdapat beberapa ketentuan penyajian di
laporan keuangan terhadap akun yang berkaitan dengan transaksi ijarah dengan aset
berwujud.
1) Objek sewa yang diperoleh bank disajikan sebagai aset ijarah.
2) Akumulasi penyusutan/amortisasi dan cadangan kerugian penurunan nilai dan
aset ijarah disajikan sebagai pos lawan aset ijarah.
3) Porsi pokok atas pendapatan sewa yang belum dibayar disajikan sebagai piutang
sewa.
4) Porsi ujrah atas pendapatan sewa yang belum dibayar disajikan sebagai
pendapatan sewa yang akan diterima yang merupakan bagian dari aset lainnya
pada saat nasabah tergolong performing. Sedangkan, apabila nasabah tergolong
non-performing maka pendapatan sewa yang akan diterima disajikan pada
rekening administratif.

8
Ibid., hlm. 279.

21
5) Cadangan kerugian penurunan nilai atas piutang sewa disajikan sebagai pos
lawan (Contra account) piutang ijarah.
6) Beban penyusutan/amortisasi aset ijarah disajikan sebagai pengurang
pendapatan ijarah pada laporan laba rugi. 9
M. PENGUNGKAPAN TRANSAKSI IJARAH ATAS ASET BERWUJUD
Berdasarkan PAPSI 2013 (h. 6.6-7), hal hal yang harus diungkapkan terkait
transaksi ijarah dengan menggunakan aset berwujud antara lain :
1) Sumber dana yang digunakan dalam pembiayaan ijarah;
2) Jumlah piutang cicilan ijarah yang akan jatuh tempo hingga dua tahun terakhir;
3) Jumlah objek sewa berdasarkan jenis transaksi (ijarah ijarah dan ijarah
muntahiyah bittamlik), jenis aset dan akuntansi penyusutannya serta cadangan
kerugian penurunan nilai jika ada, apabila bank sebagai pemilik objek sewa;
4) Komitmen yang berhubungan dengan perjanjian ijarah mutahiyah bittamlik yang
berlaku efektif pada periode laporan keuangan berikutnya;
5) Kebijakan akuntansi yang digunakan atas transaksi ijarah dan ijarah mutahiyah
bittamlik;
6) Transaksi dan saldo dengan pihak-pihak yang berelasi.
N. TEKNIS PERHITUNGAN DAN PENJURNALAN TRANSAKSI IJARAH
UNTUK MULTI JASA
Praktik perhitungan dan penjurnalan transaksi ijarah untuk jasa pada dasarnya
sama perhitungan dan penjurnalan transaksi ijarah untuk barang. Perbedaannya
adalah pada ijarah untuk jasa tidak terdapat kegiatan pemeliharaan dan perbaikan
aset ijarah. Berikut adalah salah satu contoh kasus transaksi ijarah untuk multijasa.

Kasus 12.4 transaksi ijarah untuk multijasa

Ibu Ulli melakukan transaksi ijarah dengan BPRS Anugerah Sejahtera untuk
keperluan biaya sekolah anaknya selama 1 semester di Universitas Gadjah Mada
(UGM). Adapun informasi tentang transaksi untuk penyediaan jasa tersebut adalah
sebagai berikut;

Harga perolehan jasa : Rp9.000.000 (dibayar ke UGM tanggal 1 Februari 20XA)

9
Ibid.

22
Masa sewa : 6 bulan (mulai 1 Februari 20XA s.d. 1 Agustus 20XA)

Sewa per bulan : Rp1.700.000 (setiap tanggal 1 mulai bulan Maret)

Penyusutan per bulan : Rp1.500.000 (setiap tanggal 1 mulai bulan Maret)

Biaya administrasi 0,5% : Rp45.000 (diterima tanggal 1 Februari 20XA)

Jurnal untuk transaksi diatas meliputi jurnal pengadaan aset ijarah, jurnal
pada saat akad, jurnal penyusutan aset ijarah, dan jurnal penerimaan pendapatan
ijarah ijarah.

1) Pengadaan aset ijarah

Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

01/02/XA Aset yang diperoleh untuk ijarah 9.000.000

Rekening UGM 9.000.000

Ket. Pengadaan aset ijarah

2) Saat Akad Disepakati

Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

01/02/XA Rekening Nasabah/Kas 45.000

Pendapatan administrasi 45.000

Ket. Penerimaan biaya administrasi


pembiayaan

3) Saat pengakuan penyusutan aset ijarah dan pembayaran sewa ijarah


Berikut adalah tabel penyusutan aset ijarah dan pembayaran sewa :

No Beban Amortisasi Pembayaran Sewa Keterangan tanggal


(Rp) (Rp) penyusutan dan
pembayaran

1 1.500.000 1.700.000 1 Maret 20XA

23
2 1.500.000 1.700.000 1 April 20XA

3 1.500.000 1.700.000 1 Mei 20XA

4 1.500.000 1.700.000 1 Juni 20XA

5 1.500.000 1.700.000 1 Juli 20XA

6 1.500.000 1.700.000 1 Agustus 20XA

Jurnalnya :
Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

01/03/XA Beban Amortisasi aset ijarah 1.500.000

Akum. Amortisasi aset ijarah 1.500.000

Ket : Pengakuan amortisasi aset


ijarah

01/03/XA Kas/Rekening nasabah 1.700.000

Pendapatan ijarah 1.700.000

Ket : pengakuan penerimaan


pendapatan sewa

01/04/XA Beban Amortisasi aset ijarah 1.500.000

Akum. Amortisasi aset ijarah 1.500.000

01/04/XA Kas/Rekening nasabah 1.700.000

Pendapatan Ijarah 1.700.000

01/05/XA Beban Amortisasi aset ijarah 1.500.000

Akum. Amortisasi aset ijarah 1.500.000

01/05/XA Kas/Rekeking nasabah 1.700.000

Pendapatan ijarah 1.700.000

01/06/XA Beban amortisasi aset ijarah 1.500.000

Akum. Amortisasi aset ijarah 1.500.000

01/06/XA Kas/Rekening nasabah 1.700.000

Pendapatan ijarah 1.700.000

24
01/07/XA Beban amortisasi aset ijarah 1.500.000

Akum. Amortisasi aset ijarah 1.500.000

01/07/XA Kas/Rekening nasabah 1.700.000

Pendapatan ijarah 1.700.000

01/08/XA Beban Amortisasi aset ijarah 1.500.000

Akum. Amortisasi aset ijarah 1.500.000

01/08/XA Kas/Rekeking nasabah 1.700.000

Pendapatan ijarah 1.700.000

01/08/XA Akumulasi amortisasi aset ijarah 9.000.000

Aset yang diperoleh untuk 9.000.000


ijarah

Ket: untuk mengakhiri siklus


transaksi ijarah multijasa dengan
menutup akumulasi amortisasi aset
ijarah dan menutup aset tak
berwujud yang diperoleh untuk
ijarah.

O. PENYAJIAN TRANSAKSI IJARAH ATAS JASA


Berdasarkan PAPSI 2013 (h. 6.8) terdapat beberapa ketentuan penyajian di
laporan keuangan terhadap akun yang berkaitan dengan transaksi ijarah dengan jasa
1) Perolehan atas jasa disajikan sebagai bagian aset ijarah dan disajikan terpisah
dengan aset ijarah lain.
2) Amortisasi atas perolehan ijarah disajikan sebagai pos lawan dari aset ijarah.
3) Porsi pokok atas pendapatan sewa multijasa yang belum dibayar disajikan
sebagai piutang sewa.
4) Porsi ujrah atas pendapatan sewa multijasa yang belum dibayar disajikan sebagai
pendapatan sewa multijasa yang akan diterima yang merupakan bagian dari aset
lainnnya pada saat nasabah tergolong performing. Sedangkan, apabila nasabah

25
tergolong non-performing maka pendapatan sewa multijasa yang akan diterima
disajikan pada rekening administratif.
5) Cadangan kerugian penurunan nilai atas piutang sewa disajikan sebagai pos
lawan (Contra account).
6) Beban amortisasi aset ijarah disajikan sebagai pengurangan pendapatan ijarah
pada laporan laba rugi.

P. PENGUNGKAPAN TRANSAKSI IJARAH ATAS JASA


Berdasarkan PAPSI 2013 (h. 6.10), hal-hal yang harus diungkapkan terkait
transaksi ijarah dengan jasa antara lain:
1) Sumber dana yang digunakan dalam pembiayaan ijarah.
2) Rincian perolehan atas jasa berdasarkan jenis.
3) Jumlah piutang cicilan ijarah yang akan jatuh tempo hingga dua tahun terakhir.
4) Transaksi dan saldo dengan pihak-pihak yang berelasi. 10

10
Ibid., hlm. 282.

26
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Akuntansi dikembangkan untuk mendukung ekonomi sehingga setiap lembaga


keuangan pasti memerlukannya untuk penyusunan laporan keungan dan pencatatan
transaksi. Dalam pencatatan transaksi ijarah dan IMBT di lembaga keuangan syariah,
akuntansi diperlukan untuk mencatat perhitungan, penjurnalan, penyajian,
pengungkapan, dan pelepasan terhadap aset atau objek ijarah. Penting untuk
memahami hal – hal tersebut sehingga akan memudahkan bagi pihak yang mencatat
dan pihak yang membutuhkan pencatatan tersebut.

27
DAFTAR PUSTAKA

Yaya Rizal, Aji Erlangg Martawireja, dan Ahim Abdurohim. (2016). Akuntansi
Perbankan Syariah. Jakarta : Salemba Empat.

28