Anda di halaman 1dari 22

RANGKUMAN MATERI

Materi 1 : peran interpersonal tenaga kesehatan dalam


melaksanakan kebijakan pemerintah di Indonesia.

Pemateri : Dr. dr. Maxi R. Rondonuwu, DHSM, MARS


Moderator : Henry S. Imbar, S.pd, M.kes

A. Penyebab Malaria
Penyebab Malaria adalah parasit Plasmodium yangditularkan melalui
gigitan nyamuk anopheles betina.Dikenal 5 (lima) macam spesies yaitu:
Plasmodiumfalciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium
ovale,Plasmodium malariae dan Plasmodium knowlesi.Parasit yang
terakhir disebutkan ini belum banyakdilaporkan di Indonesia.

B. Jenis Malaria
 Malaria FalsiparumDisebabkan oleh Plasmodium falciparum.
Gejalademam timbul intermiten dan dapat kontinyu. Jenismalaria
ini paling sering menjadi malaria berat yangmenyebabkan
kematian.
 Malaria VivaksDisebabkan oleh Plasmodium vivax. Gejala
demamberulang dengan interval bebas demam 2 hari.Telah
ditemukan juga kasus malaria berat yangdisebabkan oleh
Plasmodium vivax.
 Malaria OvaleDisebabkan oleh Plasmodium ovale.
Manifestasiklinis biasanya bersifatringan. Pola demam sepertipada
malaria vivaks.
 Malaria MalariaeDisebabkan oleh Plasmodium malariae.
Gejalademam berulang denganinterval bebas demam3 hari.
 Malaria KnowlesiDisebabkan oleh Plasmodium knowlesi. Gejala
demam menyerupai malaria falsiparum.

C. Gejala Malaria
Gejala demam tergantung jenis malaria. Sifat demamakut (paroksismal)
yang didahului oleh stadium dingin(menggigil) diikuti demam tinggi
kemudian berkeringatbanyak. Gejala klasik inibiasanya ditemukan
padapenderita non imun (berasal dari daerah non endemis).Selain gejala
klasik di atas, dapat ditemukan gejala lain
seperti nyeri kepala, mual, muntah, diare, pegal-pegal,dan nyeri otot .
Gejala tersebut biasanya terdapat padaorang-orang yang tinggal di
daerah endemis (imun).

D. Bahaya Malaria
 Jika tidak ditangani segera dapat menjadi malariaberat yang
menyebabkan kematian
 Malaria dapat menyebabkan anemia yangmengakibatkan
penurunan kualitas sumber dayamanusia.
 Malaria pada wanita hamil jika tidak diobati dapatmenyebabkan
keguguran, lahir kurang bulan(prematur) dan berat badan lahir
rendah (BBLR) serta lahir mati.

E. Pencegahan Malaria
Upaya pencegahan malaria adalah denganmeningkatkan kewaspadaan
terhadaprisiko malaria,mencegahgigitan nyamuk, pengendalian vector
dankemoprofilaksis. Pencegahan gigitan nyamukdapat dilakukan
denganmenggunakan kelambuberinsektisida, repelen, kawat kasa
nyamuk dan lainlain.Obat yang digunakan untuk kemoprofilaksis
adalahoksisiklin dengan dosis100mg/hari. Obat ini diberikan1-2 hari
sebelum bepergian, selama berada didaerahtersebut sampai 4 minggu
setelah kembali. Tidak bolehdiberikan pada ibuhamil dan anak dibawah
umur 8tahun dan tidak boleh diberikan lebih dari 6 bulan.

DIAGNOSIS MALARIA
Manifestasi klinis malaria dapat bervariasi dari ringansampai
membahayakan jiwa. Gejala utama demam seringdidiagnosis dengan
infeksi lain: seperti demam typhoid,demam dengue, leptospirosis,
chikungunya, dan infeksi
saluran nafas. Adanya thrombositopenia sering didiagnosis
dengan leptospirosis, demam dengue atau typhoid. Apabila
ada demam dengan ikterikbahkan sering diintepretasikan
dengan diagnosa hepatitis dan leptospirosis. Penurunan
kesadaran dengan demam sering juga didiagnosis sebagai
infeksi otak atau bahkan stroke.
Mengingat bervariasinya manifestasi klinis malaria maka
anamnesis riwayat perjalanan ke daerah endemis malaria
pada setiap penderita dengan demam harus dilakukan.
Diagnosis malaria ditegakkan seperti diagnosis penyakit
lainnya berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan laboratorium. Untuk malaria berat diagnosis
ditegakkan berdasarkan kriteria WHO ( lihat Bab IV).
Untuk anak <5 tahun diagnosis menggunakan MTBS
namun pada daerah endemis rendah dan sedang
ditambahkan riwayat perjalanan ke daerah endemis dan
transfusi sebelumnya.
Pada MTBS diperhatikan gejala demam dan atau pucat
untuk dilakukan pemeriksaan sediaan darah.
Diagnosis pasti malaria harus ditegakkan dengan
pemeriksaan sediaan darah secara mikroskopis atau uji
diagnostik cepat (Rapid Diagnostic Test=RDT).
A. Anamnesis
Pada anamnesis sangat penting diperhatikan:

a. Keluhan : demam, menggigil, berkeringat dan dapat disertai sakit


kepala, mual, muntah, diare dan nyeri otot atau pegal-pegal.
b. Riwayat sakit malaria dan riwayat minum obat malaria.
c. Riwayat berkunjung ke daerah endemis malaria.
d. Riwayat tinggal di daerah endemis malaria.
B. Pemeriksaan fisik
a. Suhu tubuh aksiler ≥ 37,5 °C
b. Konjungtiva atau telapak tangan pucat
c. Sklera ikterik
d. Pembesaran Limpa (splenomegali)
e. Pembesaran hati (hepatomegali)

C. Pemeriksaan laboratorium
a. Pemeriksaan dengan mikroskop Pemeriksaan sediaan darah (SD) tebal
dan tipis di Puskesmas/lapangan/ rumah sakit/laboratorium klinik untuk
menentukan:
a) Ada tidaknya parasit malaria (positif atau negatif).
b) Spesies dan stadium plasmodium.
c) Kepadatan parasit.
b. Pemeriksaan dengan uji diagnostik cepat (Rapid Diagnostic Test)
Mekanisme kerja tes ini berdasarkan deteksi antigen parasit malaria,
dengan menggunakan metoda imunokromatografi. Sebelum
menggunakan RDT perlu dibaca petunjuk penggunaan dan tanggal
kadaluarsanya. Pemeriksaan dengan RDT tidak
digunakan untuk mengevaluasi pengobatan.
MALARIA BERAT
Malaria berat adalah : ditemukannya Plasmodium falciparum stadium
aseksual dengan minimal satu dari manifestasi klinis atau didapatkan
temuan hasil laboratorium (WHO, 2015):
1. Perubahan kesadaran (GCS<11, Blantyre <3)
2. Kelemahan otot (tak bisa duduk/berjalan)
3. Kejang berulang-lebih dari dua episode dalam 24 jam
4. Distres pernafasan
5. Gagal sirkulasi atau syok: pengisian kapiler > 3 detik,
tekanan sistolik <80 mm Hg (pada anak: <70 mmHg)
6. Jaundice (bilirubin>3mg/dL dan kepadatan parasit
>100.000)
7. Hemoglobinuria
8. Perdarahan spontan abnormal
9. Edema paru (radiologi, saturasi Oksigen <92%
Gambaran laboratorium :
1. Hipoglikemi (gula darah <40 mg%)
2. Asidosis metabolik (bikarbonat plasma <15 mmol/L).
3. Anemia berat (Hb <5 gr% untuk endemis tinggi,
<7gr% untuk endemis sedang-rendah), pada dewasa
Hb<7gr% atau hematokrit <15%)
4. Hiperparasitemia (parasit >2 % eritrosit atau 100.000
parasit /μL di daerah endemis rendah atau > 5% eritrosit
atau 100.0000 parasit /μl di daerah endemis tinggi)
5. Hiperlaktemia (asam laktat >5 mmol/L)
6. Hemoglobinuria
7. Gangguan fungsi ginjal (kreatinin serum >3 mg%)
RDT
PENGOBATAN MALARIA TANPA KOMPLIKASI
Pengobatan malaria yang dianjurkan saat ini dengan pemberian ACT.
Pemberian kombinasi ini untuk meningkatkan efektifitas dan mencegah
resistensi. Malaria tanpa komplikasi diobati dengan pemberian ACT
secara oral. Malaria berat diobati dengan injeksi Artesunat dilanjutkan
dengan ACT oral. Di samping itu diberikan primakuin sebagai
gametosidal dan hipnozoidal.
A. PENGOBATAN MALARIA TANPA KOMPLIKASI
1) Malaria falsiparum dan Malaria vivaks
Pengobatan malaria falsiparum dan vivaks saat ini
menggunakan ACT ditambah primakuin. Dosis ACT untuk malaria
falsiparum sama dengan malaria vivaks, Primakuin untuk malaria
falsiparum hanya diberikan pada hari pertama saja dengan dosis 0,25
mg/kgBB, dan untuk malaria vivaks selama 14 hari dengan dosis 0,25
mg /kgBB. Primakuin tidak boleh diberikan pada bayi usia < 6 bulan.
Pengobatan malaria falsiparum dan malaria vivaks adalah seperti yang
tertera di bawah ini:
Dihidroartemisinin-Piperakuin(DHP) + Primakuin
Pengobatan Malaria falsiparum menurut berat badan dengan DHP dan
Primakuin
Pengobatan Malaria vivaks menurut berat badan dengan DHP dan
Primakuin

Catatan :
Sebaiknya dosis pemberian DHP berdasarkan berat badan, apabila
penimbangan berat badan tidak dapat dilakukan maka pemberian
obat dapat berdasarkan kelompok umur.
a. Apabila ada ketidaksesuaian antara umur dan berat badan
(pada tabel pengobatan), maka dosis yang dipakai adalah
berdasarkan berat badan.
b. Apabila pasien P.falciparum dengan BB >80 kg datang kembali
dalam waktu 2 bulan setelah pemberian obat dan pemeriksaan
Sediaan Darah masih positif P.falciparum, maka diberikan DHP
dengan dosis ditingkatkan menjadi 5 tablet/hari selama 3 hari.

Hari Jenis obat Jumlah tablet per hari menurut berat badan
<4 kg 4-6kg >6-10 kg 11-17 kg 18-30 kg 31-40 kg 41-59 kg ≥60kg 0-1
Bulan 2-5
Bulan <6-11
Bulan 1-4
Tahun 5-9
Tahun 10-14
Tahun ≥15
Tahun ≥15
Tahun 1-3 DHP ⅓ ½ ½ 1 1½ 2 3 4
1 Primakuin - - ¼ ¼ ½ ¾ 1 1

Hari Jenis obat Jumlah tablet per hari menurut berat badan
<4 kg 4-6kg >6-10 kg 11-17 kg 18-30 kg 31-40 kg 41-59 kg ≥60kg 0-1

Bulan 2-5
Bulan <6-11
Bulan 1-4
Tahun 5-9
Tahun 10-14
Tahun ≥15
Tahun ≥15
Tahun 1-3 DHP ⅓ ½ ½ 1 1½ 2 3 4 1-14 Primakuin - - ¼ ¼ ½ ¾

2) Pengobatan malaria vivaks yang relaps


Pengobatan kasus malaria vivaks relaps (kambuh) diberikan dengan
regimen ACT yang sama tapi dosis Primakuin ditingkatkan menjadi 0,5
mg/kgBB/hari.

3) Pengobatan malaria ovale


Pengobatan malaria ovale saat ini menggunakan ACT yaitu DHP
ditambah dengan Primakuin selama 14 hari. Dosis pemberian obatnya
sama dengan untuk malaria vivaks.

4) Pengobatan malaria malariae


Pengobatan P. malariae cukup diberikan ACT 1 kali perhari selama 3
hari, dengan dosis sama dengan pengobatan malaria lainnya dan tidak
diberikan primakuin

5) Pengobatan infeksi campur P. falciparum + P. vivax/P.ovale


Pada penderita dengan infeksi campur diberikan ACT
selama 3 hari serta primakuin dengan dosis 0,25
mg/kgBB/hari selama 14 hari. P. engobatan infeksi campur P.falciparum
P.vivax/P.ovale dengan DHP + Primakuin
Hari Jenis obat Jumlah tablet per hari menurut berat badan
<4 kg 4-6kg >6-10 kg 11-17 kg 18-30 kg 31-40 kg 41-59 kg ≥60kg 0-1
Bulan 2-5
Bulan <6-11
Bulan 1-4
Tahun 5-9
Tahun 10-14
Tahun ≥15
Tahun ≥15
Tahun 1-3 DHP ⅓ ½ ½ 1 1½ 2 3 4 1-14 Primakuin - - ¼ ¼ ½ ¾ 1 1 12

Catatan :
 Sebaiknya dosis pemberian obat berdasarkan berat badan, apabila
penimbangan berat badan tidak dapat dilakukan maka pemberian
obat dapat berdasarkan kelompok umur.
 b. Apabila ada ketidaksesuaian antara umur dan berat badan (pada
tabel pengobatan), maka dosis yang dipakai adalah berdasarkan
berat badan.
 c. Untuk anak dengan obesitas gunakan dosis berdasarkan berat
badan ideal.
 Primakuin tidak boleh diberikan pada ibu hamil.

B. PENGOBATAN MALARIA PADA IBU HAMIL


Pada prinsipnya pengobatan malaria pada ibu hamil sama dengan
pengobatan pada orang dewasa lainnya. Pada ibu hamil tidak diberikan
Primakuin. Pengobatan malaria falsiparum dan malaria vivaks pada ibu
hamil

UMUR KEHAMILAN PENGOBATAN


Trimester I-III (0-9 bulan) ACT tablet selama 3 hari 13
Semua penderita malaria berat harus ditangani di Rumah Sakit (RS) atau
puskesmas perawatan. Bila fasilitas maupun tenaga kurang memadai,
misalnya jika dibutuhkan fasilitas dialisis, maka penderita harus dirujuk
ke RS dengan fasilitas yang lebih lengkap. Prognosis malaria berat
tergantung kecepatan dan ketepatan diagnosis serta pengobatan.

A. Pengobatan malaria berat di Puskesmas/Klinik non Perawatan


Jika puskesmas/klinik tidak memiliki fasilitas rawat inap, pasien malaria
berat harus langsung dirujuk ke fasilitas yang lebih lengkap. Sebelum
dirujuk berikan artesunat intramuskular (dosis 2,4mg/kgbb)

B. Pengobatan malaria berat di Puskesmas/Klinik Perawatan atau


Rumah Sakit

Artesunat intravena merupakan pilihan utama. Jika tidak tersedia dapat


diberikan kina drip. Kemasan dan cara pemberian artesunat
Artesunat parenteral tersedia dalam vial yang berisi 60 mg serbuk kering
asam artesunik dan pelarut dalam ampul yang berisi natrium bikarbonat
5%. Keduanya dicampur untuk membuat 1 ml larutan sodium artesunat.
Kemudian diencerkan dengan Dextrose 5% atau NaCL 0,9% sebanyak 5
ml sehingga didapat konsentrasi 60 mg/6ml (10mg/ml). Obat diberikan
secara bolus perlahan-lahan. Artesunat diberikan dengan dosis 2,4
mg/kgbb intravena sebanyak 3 kali jam ke 0, 12, 24. Selanjutnya
PENGOBATAN MALARIA BERAT
2,4 mg/kgbb intravena setiap 24 jam sehari sampai penderita mampu
minum obat. Contoh perhitungan dosis : Penderita dengan BB = 50 kg.
Dosis yang diperlukan : 2,4 mg x 50 = 120 mg Penderita tersebut
membutuhkan 2 vial artesunat perkali pemberian. Bila penderita sudah
dapat minum obat, maka pengobatan dilanjutkan dengan regimen DHP
atau ACT lainnya (3 hari) + primakuin (sesuai dengan jenis
plasmodiumnya).Kemasan dan cara pemberian kina drip Kina drip
bukan merupakan obat pilihan utama untuk malaria berat. Obat ini
diberikan pada daerah yang tidak tersedia artesunat
intramuskular/intravena. Obat ini dikemas dalam bentuk ampul kina
dihidroklorida 25%. Satu ampul berisi 500 mg / 2 ml. Pemberian kina
pada dewasa :
 1). loading dose : 20 mg garam/kgbb dilarutkan dalam 500 ml
(hati-hati overload cairan) dextrose 5% atau NaCl 0,9% diberikan
selama 4 jam pertama.
 4 jam kedua hanya diberikan cairan dextrose 5% atau NaCl 0,9%.
 4 jam berikutnya berikan kina dengan dosis rumatan 10 mg/kgbb
dalam larutan 500 ml (hati-hati overload cairan) dekstrose 5 % atau
NaCl.
 4 jam selanjutnya, hanya diberikan cairan Dextrose 5% atau NaCl
0,9%.
 Setelah itu diberikan lagi dosis rumatan seperti di atas sampai
penderita dapat minum kina per-oral.

 Bila sudah dapat minum obat pemberian kina iv diganti dengan


kina tablet per-oral dengan dosis 10 mg/kgbb/kali diberikan tiap 8
jam. Kina oral diberikan bersama doksisiklin atau tetrasiklin pada
orang dewasa atau klindamisin pada ibu hamil. Dosis total kina
selama 7 hari dihitung sejak pemberian kina perinfus yang pertama.
Pemberian kina pada anak : Kina HCl 25 % (per-infus) dosis 10
mg/kgbb (bila umur < 2 bulan : 6 - 8 mg/kg bb) diencerkan dengan
Dekstrosa 5 % atau NaCl 0,9 % sebanyak 5 - 10 cc/kgbb diberikan
selama 4 jam, diulang setiap 8 jam sampai penderita dapat minum
obat.

Catatan :
 Kina tidak boleh diberikan secara bolus intra vena, karena toksik
bagi jantung dan dapat menimbulkan kematian.
 Dosis kina maksimum dewasa : 2.000 mg/hari.
C. Pengobatan malaria berat pada ibu hamil
Pengobatan malaria berat untuk ibu hamil dilakukan dengan memberikan
artesunat injeksi atau kina HCl drip intravena.

PEMANTAUAN PENGOBATAN
A. Rawat Jalan
Pada penderita rawat jalan evaluasi pengobatan dilakukan pada hari ke 3,
7, 14, 21 dan 28 dengan pemeriksaan klinis dan sediaan darah secara
mikroskopis. Apabila terdapat perburukan gejala klinis selama masa
pengobatan dan evaluasi, penderita segera dianjurkan datang kembali
tanpa menunggu jadwal tersebut di atas.

B. Rawat Inap
Pada penderita rawat inap evaluasi pengobatan dilakukan setiap hari
dengan pemeriksaan klinis dan darah malaria hingga klinis membaik dan
hasil mikroskopis negatif. Evaluasi pengobatan dilanjutkan pada hari ke
7, 14, 21 dan 28 dengan pemeriksaan
klinis dan sediaan darah secara mikroskopis.
Materi 2 : Epidemiologi, kaateristik plasmodium dan vector
penularan penyakit malaria

Pemateri : prof. DR. dr. josef sem berth tuda, M.Kes,SpPar(K)


Moderator : Elne Vieke Rambi, S.pd M.si

keberadaan dan fluktuasi populasi vector (penular yaitu nyamuk


Anopheles spp), yang salah satunya dipengaruhi oleh intensitas
curah hujan, serta sumber parasit Plasmodium spp. atau penderita5 di
samping adanya host yang rentan.6 Sumber parasit Plasmodium spp.
adalah host yang menjadi penderita positif malaria7 Tapi di daerah
endemis malaria tinggi, seringkali gejala klinis pada penderita
tidak muncul (tidak ada gejala klinis) meskipun parasit terus hidup di
dalam tubuhnya. Ini disebabkan adanya perubahan tingkat resistensi
manusia terhadap parasit malaria sebagai akibat tingginya frekuensi
kontak dengan parasit, bahkan di beberapa negara terjadinya kekebalan
ada yang diturunkan melalui mutasi genetik. 8 Keadaan ini akan
mengakibatkan penderita carrier (pembawa penyakit)
atau penderita malaria tanpa gejala klinis (asymptomatic), setiap saat bisa
menularkan parasit kepada orang lain, sehingga
kasus baru bahkan kejadian luar biasa (KLB) malaria bisa terjadi pada
waktu yang tidak terduga.7 Selain penularan secara alamiah, malaria
juga bisa ditularkan melalui transfusi darah atau transplasenta dari ibu
hamil ke bayi yang
dikandungnya. Kejadian luar biasa (KLB) ditandai
dengan peningkatan kasus yang disebabkan adanya peningkatan populasi
vektor
sehingga transmisi malaria meningkat dam jumlah kesakitan malaria
juga meningkat. Sebelum peningkatan populasi vektor, selalu didahului
perubahan lingkungan yang berkaitan dengan tempat perindukan
potensial seperti luas perairan, flora serta karakteristik lingkungan
yang mengakibatkan meningatya kepompong (pupa) yang merupakan
stadium istirahat dan tidak makan.
Pada tingkatan ini akan dibentuk alatalat
tubuh nyamuk dewasa serta alat
kelamin. Tingkatan kepompong ini
memakan waktu sampai dua hari.
Setelah itu nyamuk akan menjadi dewasa
untuk hidup di darat dan udara.
Materi 3 : Aspek klinis dan penatalaksanaan pengolahan
malaria

Pemateri : dr. Stephanus Agung Nugruho SpPD-KPTI


Moderator : Dionysius sumenge, S.pd, M.kes

Dalam rangka program pengendalian malaria perlu meningkatkan


kerjasama lintas sektor. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh
Soekidjo Notoatmodjo (2003), bahwa kerjasama antar sektor ini penting
karena masalah kesehatan masyarakat itu dihasilkan oleh berbagai sektor
pembangunan seperti industri, transportasi, dan sebagainya. Sehingga
masalah kesehatan adalah tanggung jawab bersama semua pihak.
Berkaitan dengan hal diatas, Kementerian Kesehatan telah membuat
beberapa isu strategis dalam buku pedoman Rencana Operasional
Promosi Kesehatan untuk Eliminasi Malaria, antara lain : kurangnya
dukungan dari Pemerintah Daerah setempat, kurangnya kerjasama lintas
program, sektor dan mitra terkait dalam Gebrak Malaria, kurangnya
kemampuan petugas dalam pengendalian Malaria termasuk dalam
pemberdayaan masyarakat, kurangnya pemahaman masyarakat tentang
pencegahan dan pencarian pengobatan Malaria, kurangnya pemanfaatan
media lokal untuk penyebarluasan informasi, dan kurangnya gerakan
masyarakat dalam pengendalian vektor Malaria.
Kegiatan Eliminasi Malaria harus dilaksanakan secara terpadu dan
terintegrasi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan lintas
sektor sebagai mitra kerja. Dari berbagai pengalaman Eliminasi Malaria
pada masa lalu, telah terbukti bahwa tanpa keterlibatan dan dukungan
legislatif, pemerintah daerah, masyarakat termasuk organisasi sosial,
keagamaan dan pihak swasta, maka hasil yang dicapai belum optimal.
(disitir dari
http://www.promkes.depkes.go.id/bahan/rencana_promkes_malaria.pd)
Hasil penelitian memberikan informasi bahwa eliminasi malaria di
Batam tidak dapat tercapai sesuai dengan program pengendalian malaria
dan pemerintah Batam tentang eliminasi malaria, namun diperlukan
integrasi lintas sektor terkait, sebab malaria merupakan penyakit berbasis
lingkungan yang kompleks. Mengingat Batam sebagai daerah yang
berbatasan dengan Singapore, dan sedang dikembangkan sebagai
pembangunan kawasan terpadu, maka strategi eliminasi harus disusun
dengan mengacu kepada data dan informasi serta dilakukan dengan tepat
(Sukowati S, 2008).
Berkaitan dengan peran sektor, Idahwati dalam penelitian di Kabupaten
Padang Lawas tahun 2012, menyatakan bahwa keterlibatan lintas sektor
sangat dibutuhkan. Peran tersebut antara lain adalah pelaksanaan
pengendalian malaria, seperti mendeteksi kewaspadaan dini dalam
peningkatan kasus malaria di desa, yang dilakukan oleh pemerintah
kecamatan, lurah, kepala desa dan bidan desa pada umumnya (disitir dari
http://bangkapos.com/).
Mengingat malaria berbasis lingkungan yang cukup kompleks dan
bersifat spesifik lokal, maka pengendaliannya tidak mungkin dapat
berhasil dengan baik jika hanya dilakukan oleh pendekatan kesehatan.
Oleh sebab itu perlu diterapkan pengendalian terpadu, yaitu kombinasi
beberapa metode yang bersinergi dan terintegrasi dalam program
pengendalian malaria. Hal ini di sebabkan karena penularan malaria
merupakan rangkaian kejadian yang disebabkan oleh adanya parasit,
nyamuk sebagai vektor, lingkungan Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 13
No 1, Maret 2014 : 50 – 58
fisik dan manusia sebagai hospes. Dengan metode tersebut para
pemangku kepentingan yaitu lintas sektor terkait termasuk masyarakat
harus secara aktif berperan melalui kemitraan. Selain kemitraan,
advokasi, sosialisasi dan penyuluhan masih diperlukan untuk
meningkatkan daya ungkit keberhasilan program pengendalian malaria
(Sukowati S, 2008).
Demikian pendapat lain mengatakan bahwa kasus malaria umumnya
dijumpai di lokasi endemis malaria seperti di desa-desa yang terpencil
dengan kondisi lingkungan yang tidak baik, seperti adanya galian pasir,
penebangan hutan mangroef yang mempermudah berkembang biaknya
jentik nyamuk malaria, hal ini sulit di atasi karena sebagian masyarakat
di daerah penelitian masih menggantungkan harapan pada galian pasir
sebagai sumber mata pencaharian. Hal lain yang menjadi masalah adalah
sarana transportasi dan komunikasi yang sulit, akses pelayanan
kesehatan kurang, tingkat pendidikan dan sosial ekonomi masyarakat
yang rendah, serta perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang kurang
baik berpengaruh terhadap kebutuhan hidup, termasuk kebutuhan
kesehatan. (disitir dari http
://www.promkes.depkes.go.id/bahan/rencana_promkes_malaria.pd) .
Selanjutnya dari kegiatan Global Malaria Programme (GMP) yang
dikutip oleh Idahwati, mengatakan bahwa malaria merupakan penyakit
yang harus terus menerus dilakukan pengamatan, monitoring dan
evaluasi, serta diperlukan formulasi kebijakan dan strategi yang tepat.
(disitir dari http://www.bangkapos.com/).
Oleh karena itu dalam pengaturan kerjasama kegiatan lintas sektor, perlu
menunjukkan suatu komitmen untuk menanggulangi kejadian malaria,
agar efektifitas dan produktifitas dari kegiatan-kegiatan tersebut tidak
terganggu. Bahkan diusahakan kerjasama tersebut saling menunjang
untuk keberhasilan usaha masing-masing. Dengan demikian kegiatan
tersebut dapat dilaksanakan dengan sukarela dan penuh pengertian serta
kesadaran bahwa kerjasama tersebut memang diperlukan dalam rangka
mencapai tujuan bersama menuju kesejahtraan rakyat (Sukowati S,
2008).
Dengan melihat situasi di lapangan terhadap kondisi lingkungan di Kota
Batam maka perlu meningkatkan kewaspadaan dini KLB di daerah
berisiko tinggi seperti kecamatan Nongsa, Galang dan Belakang Padang,
dimana sampai saat penelitian berlangsung masih merupakan daerah
endemis malaria (Manalu H, 2011).
Materi 4 : Update pemeriksaan malaria dan pemantapan mutu
pemeriksaan malaria

Pemateri : Hermawan lianto


Moderator : Allan Andaria, S.Tr. Kes

Pemantapan Mutu Internal


Pemantapan Mutu Internal (PMI) adalah kegiatan pencegahan dan
pengawasan yang dilaksanakan oleh masing-masing laboratorium secara
terus menerus agar tidak terjadi atau mengurangi kejadian
error/penyimpangan sehingga diperoleh hasil pemeriksaan yang tepat.
PMI sangat penting dan harus dilaksanakan oleh petugas
laboratorium untuk memeriksa kinerja mereka dan untuk memastikan
kemampuan pemeriksaan serta sensitivitas dan spesifisitas diagnosis
laboratorium.
Kegiatan ini tidak dapat dipisahkan dari aspek kualitas pemeriksaan
laboratorium, oleh karena itu setiap laboratorium wajib meningkatkan
dan mempertahankan mutu kinerja dengan melaksanakan PMI yang
berkesinambungan.
B. Pemantapan Mutu Eksternal
Pemantapan Mutu (PME) merupakan kegiatan yang diselenggarakan
secara periodik oleh pihak lain di luar laboratorium yang bersangkutan
untuk memantau dan menilai penampilan suatu laboratorium dalam
bidang pemeriksaan tertentu. Penyelenggaraan kegiatan PME
dilaksanakan oleh pihak pemerintah, swasta atau internasional.
Tujuan PME Laboratorium Malaria:
1. Memperoleh informasi tentang kinerja petugas laboratorium yang
dapat dimanfaatkan sebagai data untuk melakukan pembinaan.
2. Meningkatkan kualitas hasil pemeriksaan malaria untuk
mendapatkan diagnosis dini yang tepat dan follow up pengobatan.
3. Sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kinerja laboratorium.
Tiga metode yang dipakai untuk melaksanakan PME Laboratorium
Malaria, terdiri dari:
1. Uji Silang Mikroskopis (Cross Check)
Uji silang dilaksanakan sebagai salah satu cara pemantapan
mutu eksteranal untuk pemeriksaan mikroskopis malaria. Uji silang
adalah kegiatan pemeriksaan ulang terhadap sediaan darah malaria
yang dilakukan oleh laboratorium rujukan uji silang jenjang di
atasnya untuk menilai ketepatan hasil pemeriksaan mikroskopis
www.peraturan.go.id
-24- 2015, No.1858
malaria dan menilai kinerja laboratorium. Ketidaktepatan dalam
pemeriksaan dapat disebabkan oleh petugas yang kurang terampil,
peralatan yang kurang memadai, bahan dan reagen tidak sesuai
standar, atau jumlah sediaan yang diperiksa melebihi beban kerja.
a) Prinsip Uji Silang
Dalam melakukan uji silang harus memperhatikan hal-hal
berikut:
1) Uji silang dilakukan oleh laboratorium di tingkat lebih tinggi
2) Uji silang dilakukan oleh tenaga terlatih yang ditunjuk
sebagai tenaga pelaksana uji silang (cross-checker).
3) Uji silang dilakukan secara blinded artinya tenaga
pelaksana uji silang pada laboratorium rujukan uji silang
tidak mengetahui hasil pembacaan dari laboratorium
pelayanan mikroskopis malaria yang diuji.
4) Metode uji silang dalam pedoman ini menggunakan metode
konvensional atau Lot Quality Assurance System (LQAS).
Pada daerah dengan beban kerja uji silang yang tinggi,
metode uji silang yang digunakan adalah metode LQAS.
b) Indikator Keberhasilan Uji Silang Mikroskopis Malaria di,
Kabupaten/Kota
1) Cakupan ≥ 90%
Jumlah laboratorium pelayanan yang mengikuti uji
silang di kabupaten/kota dibandingkan dengan jumlah
seluruh laboratorium pelayanan yang memeriksa
mikroskopik malaria di kabupaten/kota ≥ 90%
Materi 5 : asuhan keperawatan pada ibu hamil yang menderita
malaria

Pemateri : Samuel Tambuwun, SKM, M.Kes


Moderator : Ketrina Konaralma, SKM, M.Kes

Keadaan patologi pada ibu hamil


a. Demam
Demam akibat malaria pada ibu hamil biasanya terjadi pada
primigravida yang belum mempunyai kekebalan terhadap malaria. Pada
ibu hamil multigravida dan berasal dari daerah endemisitas tinggi jarang
terjadi gejala demam walaupun mempunyai derajat parasitemia yang
tinggi. Klinis demam ini sangat berhubungan dengan proses skizogoni
(pecahnya merozoit/ skizon) dan terbentuknya sitokin dan atau toksin
lainnya.(2,5)
b. Anemia
Berdasarkan defenisi WHO, seorang wanita hamil dikatakan anemia
apabila kadar hemoglobin (Hb) kurang dari 11 gram/dl. Anemia yang
terjadi pada trimester pertama kehamilan sangat berhubungan
dengan kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Hal ini disebabkan
karena Pertumbuhan janin terjadi sangat pesat terjadi
pada usia kehamilan sebelum 20 minggu. Anemia akibat malaria terjadi
karena pecahnya eritrosit yang terinfeksi dan yang tidak
terinfeksi. Pecahnya eritrosit yang tidak terinfeksi terjadi
akibat meningkatnya fragilitas osmotik sehingga mengakibatkan
autohemolisis. Pada malaria falciparum dapat terjadi anemia yang berat
karena semua umur eritrosit dapat diserang.(2,5)

c. Hipoglikemia
Komplikasi malaria berupa
hipoglikemia lebih sering terjadi pada wanita hamil dibandingkan
dengan individu yang tidak hamil. Keadaan hipoglikemia ini
sering tidak terdeteksi karena gejala hipoglikemia itu sendiri
mirip dengan gejala malaria. Gangguan susunan saraf pusat akibat
hipoglikemi sering diragukan dengan malaria serebral.
Hipoglikemia yang tidak diatasi segera dapat jatuh ke keadaan
asidosis laktat yang dapat mengakibatkan fetal
distress.(2,11) Hipoglikemia akibat malaria pada wanita hamil
terjadi karena beberapa hal antara lain; adanya perubahan
metabolisme karbohidrat terutama pada trimester akhir
kehamilan, kebutuhan glukosa dari eritrosit yang terinfeksi
lebih tinggi dibandingkan dengan eritrosit yang tidak
terinfeksi, peningkatan fungsi sel beta pankreas, peningkatan
sekresi adrenalin dan disfunsi susunan saraf pusat.(2,11)

d. Edema paru akut


Edema paru akut sering terjadi pada trimester kedua dan ketiga. Kondisi
ini terjadi karena beberapa sebab yaitu peningkatan
permeabilitasvaskuler sekunder terhadap emboli dan Disseminated
Intravascular Coagulation (DIC), disfungsi berat mikrosirkulasi, proses
alergi, terapi cairan yang berlebihan bersamaan dengan gangguan fungsi
kapiler alveoli, malaria serebral, tingkat parasitemi yang
Majalah Kedokteran Andalas No.2. Vol.36. Juli-Desember 2012
176 tinggi, hipotensi, asidosis dan uremia.(11)

e. Malaria serebral
Keadaan malaria serebral antara lain disebabkan oleh obstruksi
mekanis pembuluh darah otak akibat berkurangnya deformabilitas
eritrosit yang terinfeksi parasit dan terjadinya adhesi eritroit yang
mengandung parasit di endotel vaskuler yang menimbulkan peningkatan
permeabilitas sehingga menimbulkan perubahan sawar darah otak
dan udem.(2,5) Keadaan patologi pada janin Ibu hamil yang menderita
malaria dapat berakibat buruk pada janin yang dikandungnya. Pengaruh
pada janin yang paling sering terjadi adalah Berat Badan Lahir Rendah
(BBLR). Bayi yang lahir dengan berat badan rendah dapat disebabkan
oleh kelahiran prematur dan gangguan pertumbuhan janin. Kondisi ini
dapat terjadi akibat malaria di masa kehamilan karena adanya gangguan
suplai nutrisi dan oksigen dari ibu ke janin yang dikandungnya.
Gangguan sirkulasi uteroplasenta terjadi akibat adanya sekuestrasi
eritrosit terinfeksi yang terus mengkonsumsi glukosa dan
oksigen eritrosit, terjadinya penebalan membran sitotropoblas dan
kondisi anemia pada ibu. Selain itu, proses inflamasi yang diperantarai
oleh sitokin Th1 akibat infeksi parasit malaria ini juga mempengaruhi
secara langsung proses tumbuh kembang janin. Apabila infeksi yang
terjadi cukup berat, malaria di masa kehamilan dapat mengakibatkan
abortus atau stillbirth.(6,12) Mekanisme terjadinya kelahiran prematur
dan gangguan pertumbuhan janin akibat malaria pada
kehamilan.(Rogerson, 2007)
Perubahan Patologis Plasenta
Pada infeksi P.falciparum terjadi akumulasi eritrosit terinfeksi yang
lebih banyak di daerah intervillus plasenta dibandingkan dengan
sirkulasi perifer. Eritrosit yang mengandung parasit ini
lebih banyak dijumpai pada sisi maternal plasenta dibandingkan dengan
sirkulasi fetal. Pada infeksi aktif, plasenta terlihat hitam atau abu-abu
dan sinusoid padat dengan eritrosit terinfeksi.
Secara histologis ditandai oleh sel eritrosit berparasit dan pigmen
malaria dalam ruang intervilli plasenta, monosit mengandung pigmen,
infiltrasi mononuklear, simpul sinsitial (syncitial
Selfi Renita Rusjdi, MALARIA PADA MASA KEHAMILAN 177
knotting), nekrosis fibrinoid, deposit hemozoin hasil penghancuran
eritrosit, kerusakan trofoblas, penebalan membrana basalis trofoblas.
Keadaan nekrosis sinsitiotrofoblas, kehilangan mikrovilli dan penebalan
membrane basalis trofoblas akan menyebabkan aliran darah ke janin
berkurang dan akan terjadi gangguan nutrisi pada janin. Lesi bermakna
yang ditemukan adalah penebalan membrana basalis trofoblas,
pengecilan mikrovilli fokal menahun. Bila villi plasenta dan sinus
venosum mengalami kongesti dan terisi eritrosit terinfeksi dan
makrofag, maka aliran darah plasenta akan berkurang dan ini dapat
menyebabkan abortus,
lahir prematur, lahir mati ataupun berat badan lahir rendah. Berbeda
dengan P.falciparum, P.vivax tidak mengalami sekuestrasi di plasenta.
Keadaan ini mengindikasikan bahwa kejadian berat badan lahir rendah
yang diakibatkannya disebabkan oleh perubahan sistemik dan bukan
oleh perubahan lokal pada plasenta.(5,6,13) Proses sekuestrasi eritrosit
terinfeksi pada plasenta sangat berbeda dengan proses sekuestrasi yang
terjadi pada otak atau organ lain yang diperantarai oleh reseptor CD36
and ICAM-1. Proses sekuetrasi pada plasenta terjadi karena adanya
molekul adhesi chondroitin sulphate A (CSA) dan hyaluronic acid (HA).
Chondroitin sulphate A dan hyaluronic acid ini
diekspresikan oleh sinstiotropoblas yang membatasi ruang intervilli
plasenta.(6,14)
Sekuestrasi terjadi karena adanya ikatan antigen spesifik yang
diekspresikan oleh eritrosit terinfeksi dengan molekul adhesi CSA dan
HA. Sekuestrasi dapat dicegah oleh antibody yang dapat menghambat
terjadinya ikatan antara eritrosit terinfeksi dengan molekul adhesi
tersebut (CSA- binding parasite). Ibu primigravida yang terpapar dengan
CSA- binding parasite untuk pertama kalinya akan mengalami
parasitemia yang tinggi pada plasenta dikarenakan belum terbentuknya
system imun yang efektif. Pada ibu hamil yang mengalami malaria
plasenta dengan derajat parasitemia yang tinggi bisa saja tidak
mengandung parasit di sirkulasi perifernya.(14)
Peranan Protein Parasit terhadap Infeksi Plasenta
Eritrosit terinfeksi yang berada di plasenta mengekspresikan variant
survace antigen (VSA) yang unik, yang memegang peranan dalam
proses adhesi di runag intervilli plasenta. Ligand yang berperan penting
dalam proses adhesi dan variasi antigen tersebut adalah P. falciparum
Erythrocyte Membrane Protein-1 (PfEMP1). Protein polimorfik ini
dikode oleh famili multi gen yang disebut var. Setiap individu parasit
P.falciparum akan mengekpresikan satu gen var dalam satu waktu. Pada
saat antibodi terhadap suatu PfEMP1 terbentuk, parasit telah membentuk
varian PfEMP1 yang lain, sehingga parasit dapat bertahan dari serangan