Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH

MANAJEMEN MENGHADAPI RESPON SAKIT DAN


PENYAKIT (SIMPATI, EMPATI DAN PENGUATAN)
Dosen :

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 2
1. Arintina Herawati NIM : 2019.C.11a.1000
2. Arthur Jimmi Amabel NIM : 2019.C.11a.1001
3. Cindy Masdy NIM : 2019.C.11a.1002
4. David Elison NIM : 2019.C.11a.1003
5. Desri Handayani NIM : 2019.C.11a.1004
6. Dhea Shintya Putri NIM : 2019.C.11a.1040
7. Diki Wahyudi NIM : 2019.C.11a.1041
8. Dina Febrianti NIM : 2019.C.11a.1042
9. Edina NIM : 2019.C.11a.1074
10. Era NIM : 2019.C.11a.1043

YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PRODI S1 KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2019
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur bagi Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kami
kemudahan sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan tepat waktu. Tanpa
pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup menyelesaikan makalah ini dengan baik.

Kami mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan nikmat sehat-
Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun pikiran, sehingga kami mampu untuk menyelesaikan
pembuatan makalah sebagai tugas dari mata kuliah Falsafah dan Teori Keperawatan dengan
judul “Teori Keperawatan Menurut Friedman”

Kami tentunya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih
banyak terdapat kesalahan serta kekurangan didalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan
kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi
makalah yang lebih baik lagi. Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini
kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Kami juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak khusus nya kepada dosen
pengajar Falsafah dan Teori Keperawatan yang telah membimbing kami dalam menulis
makalah ini.

Demikian, semoga makalah ini bermanfaat.

Palangka Raya, 14 Desember 2019

Kelompok 2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan

BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Manajemen Menghadapi Respon Sakit dan Penyakit dalam Islam
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Empati merupakan respon afektif yang berasal dari pemahaman kondisi emosional
orang lain, perasaan yang sama dengan apa yang dirasakan orang lain. Empati adalah alat
integral untuk mengetahui dan berhubungan dengan orang lain dan menambah kualitas
hidup dan kekayaan interaksi sosial. Empati memiliki peran penting pada
perkembangan pemahaman sosial dan perilaku social positif dan berfungsi sebagai
fondasi hubungan dan menjadi dasar koping dengan stress dan penyelesaian konflik
(Barr dan Higgins, 2009). Kepekaan sosial atau empati pada setiap orang bisa
berbeda-beda. Empati biasanya tumbuh dari masa anak-anak, mengikuti orang tua.
Menurut Arsenio dan Lemerise (dalam Constantinos, 2011). Empati merupakan
kemampuan untuk menghargai konsekuensi dari perilaku manusia terhadap perasaan
orang lain dan berbagi serta berempati dengan perasaan orang lain. Orang yang enggan
berbagi akan tumbuh menjadi pribadi yang individualistis dan egosentris. Sementara
mereka yang sejak kecil sering dilibatkan untuk memahami kesulitan orang lain,
biasanya akan lebih peka dan mudah tergerak hatinya untuk menolong sesama.
Pendidikan empati sebagai inti dari pendidikan moral atau budi pekerti akan
mampu menyentuh perkembangan perilaku remaja secara mendasar, apabila pendidikan
empati tersebut ditanamkan pada anak sejak usia dini. Jika pendidikan empati tersebut
diberikan pada anak setelah menginjak dewasa maka tidak akan begitu berpengaruh
secara mendasar terhadap karakter dan pembentukan pribadi anak. Dasar
kemampuan untuk berempati pada orang lain adalah adanya sikap hati terbuka,
terbuka artinya mau mengerti perasaan orang lain dan mau dimengerti oleh orang lain.
Goleman (1997) menjelaskan bahwa dalam sikap empati yang terus-menerus
diasah akan berpengaruh pada perkembangan moral. Seorang remaja yang memiliki
empati tinggi akan lebih mudah untuk ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang
lain dan tanggap terhadap lingkungan sosial sehingga mampu mengendalikan
perilakunya (Jalaluddin Rakhmat, 2001).
Seseorang mengasah rasa empati dalam kehidupan yang dijalaninya sehingga dapat
berbelas kasihan kepada orang lain yang membutuhkan bantuan. Misalkan saat
menemui anak-anak yang kelaparan, seorang remaja yang memiliki empati tinggi akan
memberi bantuan kepada anak tersebutdengan ikhlas. Dengan begitu, maka rasa empati
akan semakin bertambah dan seorang remaja akan semakin peka apabila menemui
contoh seperti yang dijumpainya. Sedangkan apabila seorang remaja memiliki rasa
empati yang rendah maka hubungannya dengan orang lain akan gagal, artinya tidak
mampu memahami perasaan orang lain dan tidak mampu merasakan posisi dan
kondisi yang sedang dialami orang lain. Akibatnya akan sering terjadi salah persepsi
dan konflik dengan orang lain. Contohnya seorang remaja tidak mempunyai rasa belas
kasihan bahkan terkesan tidak peduli ketika menyaksikan sesamanya mengalami
kesusahan. Seorang remaja tidak akan merasa terpanggil untuk memberikan bantuan
kepada sesama.
Situasi psikologis yang kondusif di lingkungan tidak selamanya dapat terjadi
sesuai dengan yang diharapkan. Dalam situasi psikologis yang kondusif, anggota keluarga
mempersepsikan lingkungannya dengan keadaan yang dinamis, tenang, nyaman, damai,
saling percaya, penuh kehangatan, dan terjadi interaksi yang aktif dalam relasi sosial
antaranggota keluarga (Moordiningsih, Prastiti, dan Hertinjung, 2010). Hal tersebut sesuai
dengan pengertian sakinah dalam konsep Islam. Sakinah menurut bahasa arab berarti
kedamaian, ketenteraman, ketenangan, dan kebahagiaan. Dalam sebuah pernikahan,
pengertian sakinah dapat dikatakan membina atau membangun sebuah rumah tangga
yang penuh dengan kedamaian, ketentraman, ketenangan dan selalu berbahagia (Al-Qur’an,
30:21).
1.2 Rumusan Masalah
 Manajemen menghadapi respon sakit dan penyakit dalam Islam?
1.3 Tujuan Makalah
 Untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam.
 Untuk mengetahui manajemen menghadapi respon sakit dan penyakit dalam Islam.
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Manajemen Menghadapi Respon Sakit dan Penyakit dalam Islam


A. Simpati
Dari 'Aisyah ra ia mengatakan: Telah bersabda Rasulullah saw:

"Sesungguhnya Allah Maha Ramah (Rafiq), dan Ia menyukai keramahan dalam


segala perkara." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kelembutan terhadap keluarga, sudah terurai dalam wasiat sebelumnya. Dan
pesan kali ini, adalah kelembutan secara umum dalam semua urusan.
Kenapa kelembutan diperintahkan? Sebab Allah Maha Lembut. Dan "Rifq"
(kelembutan) adalah kumpulan perasaan halus, sayang dan simpati. Dan Allah sendiri
mempunyai sifat ar-Rafiiq al-A'la (Maha Ramah lagi Maha Tinggi), sebagaimana
Rasul mengabarkan kepada kita.
Kalian saat menyebut kata rafiiq, pasti punya pandangan sepadan dengan zamiil
(kawan) atau shahib (kawan). Tahukah kalian makna yang lebih luas dan kandungan
yang lebih dalam dari kata Rnfiicj? Tidak semua kawan atau teman bisa disebut rafiiq.
Sebab kawan, tidaklah mengkaitkanmu ter-kecuali sekedar "perkawanan" di sekolah,
misalnya. Dan teman, adalah orang yang sekedar menemanimu saat berjalan atau
pergi ke suatu tempat. Entah ke tempat kebaikan atau ke tempat yang buruk. Yang
demikian berbeda dengan kata-kata ash-Shiddiq (kawan yang selalu berbakti dan
mempercayai).
Kata ash-Shiddiq dan Ar-Rafiiq, maknanya berdekatan. Namun kata Rafiiq jauh
lebih tinggi maknanya. Sebab kata Rafiiq punya arti menyertaimu dan selalu simpati
kepadamu. Sehingga kedudukannya berada pada level "ketertinggian". Sedangkan
Shiddiq], kemuliaannya hampir sepadan dengan Raffiiq. Seseorang bisa dikatakan
Shiddiq jika ia membenarkan dengan perka-taan, sekaligus dengan perbuatan nyata.
Karena Allah Ta'ala Maha Ramah lagi menaruh simpati (Rafiiq), lantas Ia
menurunkan kepada kita keramahan-Nya, kelembutan-Nya. Pengawasan-Nya meliputi
kita, rasa belas kasih dan simpati-Nya melingkari kita dalam semua urusan. Semenjak
partikel terkecil dalam eksistensi manusia dan seluruh benda ciptaan-Nya, semenjak
dahulu yang tiada permulaan (alam azli) hingga esok yang tiada penghabisan. Karena
Allah mewajibkan kita untuk bergaul dan berinteraksi dengan sesama manusia,
hewan, dan segala sesuatu, dengan kelem-butan dan keramahan.
Kita juga harus bersikap ramah (tidak memaksakan diri) dalam urusan yang kita
kerjakan atau kita tinggalkan. Sebab Allah sendiri berfirman:
"Allah tidak membebani seorang jiwa pun, terkecuali sebatas kemampuannya."
(QS. Al- An'am: 152.)
Kita bersikap ramah terhadap semua orang, dari berbagai ras dan warna kulit, dan
berbagai usia. Juga marilah kita bersikap ramah terhadap seluruh ciptaan Allah yang
telah Ia anugerahkan untuk kita semua. Atau segala yang Ia mudahkan untuk
kehidupan kita. Juga kepada hewan-hewan.
Dan kita dalam mengukur ar-Rifqu (keramahan, kesantunan) ini, harus dengan
ukuran-ukuran dan kaidah-kaidah yang telah Allah syariatkan kepada kita dalam ki-
tab-Nya al-'Aziz dan sesuai dengan sunnah Nabi mulia kita. Jangan kita terlalu
longgar atau berlebihan. Atau kita terlalu pelit dan mengurangi. Di samping itu kita
timbang dengan akal dan logika dalam semua perbuatan dan pekerjaan.

B. Empati
Empati adalah keadaan mental yang membuat orang merasa dirinya dalam
keadaan, perasaan atau pikiran yang sama dengan orang lain. Dalam istilah lain,
empati dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menyadari diri sendiri atas perasaan
seseorang, lalu bertindak untuk membantunya.
Empati merupakan sifat terpuji Islam menganjurkan hambanya memiliki sifat ini.
Empati sama dengan rasa iba atau kasihan kepada orang lain yang terkena musibah.
Islam sangat menganjurkan sikap empati, sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS.
an-Nisa 4:8.
"Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir beberapa kerabat, anak-anak yatim,
dan orang-orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan
ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik." (QS. an-Nisa 4:8).
Ayat tersebut menjelaskan apabila ada kerabat, anak yatim, dan orang miskin
yang ikut menyaksikan pembagian warisan, maka mereka diberi bagian sekadarnya
sebagai atau tali kasih. Kepedulian terhadap mereka perlu ditumbuhkan. Sikap empati
ini akan timbul apabila:
1. Dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain,
2. Mampu menempatkan diri sebagai orang lain, dan
3. Menjadi orang lain yang merasakan.
Terkait sikap empati ini, Rasulullah Saw. bersabda.
“Dari Abi Musa r.a. dia berkata, Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang mukmin yang
satu dengan yang lain bagai satu bangunan yang bagian-bagiannya saling
mengokohkan." (HR. Bukhari)
Hadits di atas, secara tidak langsung mengajarkan kepada kita untuk bisa
merasakan apa yang dirasakan orang mukmin yang lain. Apabila ia sakit, kita pun
merasa sakit. Apabila ia gembira, kita pun merasa gembira.
Allah Swt. menyuruh umat manusia untuk berempati terhadap sesamanya. Peduli
dan membantu antar sesama yang membutuhkan. Allah Swt. sangat murka kepada
orang-orang yang egois dan sombong.
Perilaku empati terhadap sesama dalam kehidupan sehari-hari dapat diwujudkan
dengan cara:
1. Peka terhadap perasaan orang lain,
2. Membayangkan seandainya aku adalah dia,
3. Berlatih mengorbankan milik sendiri, dan
4. Membahagiakan orang lain.
C. Penguatan