Anda di halaman 1dari 13

KONSEP DASAR VARISELA

A. Definisi
 Varisela adalah infeksi primer dengan virus varisela zoster (VVZ) menimbulkan
varisela (cacar air). Virus membentuk infeksi laten di akar ganglia dorsal, reaktivasi
menyebabkan herpes zoster (shingles = penyakit ruam saraf). (Ann M. Arvin)

 Varisela adalah penyakit akut, menular yang ditandai oleh vesikel dikulit dan
selaput lendir yang disebabkan oleh virus varisela. (Perawatan Anak Sakit,
Ngastiyah)

 Varisela adalah suatu penyakit infeksi akut primer menular yang disebabkan oleh
varisela zoster virus (VZV) yang menyerang kulit dan mukosa dengan ditandai oleh
adanya vesikel- vesikel. (Penyakit infeksi Tropik pada Anak, dr. T.H.
Rampengan,DSAK, dr. I.R. Laurentz,DSA)

B. Etiologi
Varisela disebabkan oleh varisela zoster virus (VZV) yang termasuk kelompok
Herpes Virus, virus tersebut dapat pula menyebabkan herpes zoster. Kedua penyakit ini
mempunyai manifestasi klinis yang berbeda. Diperkirakan bahwa setelah ada kontak
dengan virus varisela zoster akan terjadi varisela, oleh karena itu varisela dikatakan
infeksi akut primer, kemudian setelah penderita varisela tersebut sembuh, mungkin virus
itu tetap ada dalam bentuk laten (tanpa ada manifestasi klinis) dan kemudian virus
varisela zoster diaktivasi oleh trauma sehingga menyebabkan herpes zoster.
Virus varisela zoster dapat ditemukan dalam cairan vesikel dan dalam darah penderita
varisela, dapat dilihat dengan mikroskop electron dan dapat diisolasi dengan
menggunakan biakan yang terdiri dari fibroblas paru embrio manusia.
D. Epidemiologi
Sangat mudah menular, yaitu melalui percikan ludah dan kontak. Dapat mengenai
semua golongan umur, termasuk neonatus (varisela congenital), tetapi tersering pada
masa anak. Penderita dapat menularkan penyakit selama 24 jam sebelum kelainan kulit
(erupsi) timbul sampai 6 atau 7 hari kemudian. (Perawatan Anak Sakit, Ngastiyah)
Di Amerika Serikat dan daerah beriklim sedang lain, 90-95% individu mendapat
VVZ pada masa anak. Epidemi varisela tahunan terjadi pada musim dingin dan musim
semi. Angka penularan rumah tangga adalah 80-90%, lebih banyak kontak secara
kebetulan. Varisela menular dari 24-48 jam sebelum ruam muncul dan sementara vesikel
belum berkrusta yang biasanya 3-7 hari. (Ann M. Arvin)

C. Gambaran Klinis
Masa inkubasi virus varisela berkisar antara 10-21 hari, timbul penyakit biasanya
mulai dari 14-16 hari.
Perjalanan penyakit dibagi menjadi 2 stadium, yaitu :
Stadium prodromal : 24 jam sebelum kelainan kulit timbul, terdapat gejala demam,
malaise, anoreksia dan nyeri kepala. Kenaikan suhu biasanya sedang, berkisar antara 100-
102ºF.
Stadium erupsi : dimulai dengan terjadinya papula merah, kecil, yang berubah menjadi
vesikel yang berisi cairan jernih dan mempunyai dasar eritematous. Permukaan vesikel
tidak memperlihatkan cekungan di tengah. Isi vesikel berubah menjadi keruh dalam
waktu 24 jam. Biasanya vesikel akan menjadi kering sebelum isinya menjadi keruh.
Dalam 3-4 hari erupsi tersebar, mula-mula di dada lalu ke muka, bahu dan anggota gerak.
Erupsi ini disertai perasaan gatal.

D. Komplikasi
Komplikasi varisela pada anak biasanya jarang dan lebih sering terjadi pada orang
dewasa.
1. Infeksi sekunder
Infeksi sekunder disebabkan oleh streptococcus atau stapilococcus yang
menyebabkan selulitis dan furunkel.
Guess (1984) melaporkan infeksi sekunder pada kulit karena koplikasi varisela
kebanyakan di bawah umur 5 tahun.
2. Ensefalitis
Komplikasi ini lebih sering karena adanya gangguan imunitas. Ensefalitis dijumpai 1
dari 1000 kasus varisela dan memberi gejala ataksia serebellar dan biasanya timbul antara
hari ke-3 sampai hari ke-8 setelah timbulnya rash.
3. Pneumonitis
Komplikasi ini lebih sering dijumpai pada penderita keganasan, neonatus,
imunodefisiensi, dan orang dewasa.
Gejala pneumonitis adalah panas yang tetap tinggi, batuk-batuk, sesak nafas, takhipnu
dan kadang-kadang sianosis serta hemoptoe.
4. Sindroma Reye
Komplikasi ini lebih jarang dijumpai. Dengan gejala-gejala nausea dan vomitus,
hepatomegali dan pada pemeriksaan laboratorium didapatkan pe  SGPT dan SGOT serta
amonia.
5. Hepatitis
Dapat terjadi komplikasi walaupun jarang.
6. Komplikasi lain yang jarang
Atritis, sindrom nefrotik, miokarditis, perikarditis, pankreatitis, nefritis dsb.

E. Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaa darah tidak memberikan gambaran spesifik. Nilai laboratorium
abnormal sering ada selama varisela. Leukopenia khas selama 72 jam pertama, disertai
dengan limfositosis relatif dan absolut.
Untuk pemeriksaan varisela bahan diambil dari dasar vesikel dengan cara kerokan
atau apusan dan dicat dengan Giemsa dan Hematoksilin Eosin (HE), maka akan terlihat
sel-sel raksasa yang multinukleus dan epitel sel berisi Acidophilic Inclusion Bodies atau
dapat juga dilakukan pengecatan dengan pewarnaan imunofluresen, sehingga terlihat
antigen virus intrasel.

F. Pengobatan
 Asiklovir-9-[(2-hidroksietoksi) metil] guanin- adalah obat pilihan untuk varisela
dan herpes zoster bila terapi spesifik merupakan indikasi setiap penderita yang
mempunyai tanda-tanda VVZ tersebar termasuk pneumonia, hepatitis,
trombositopenia atau ensefalitis harus mendapat pengobatan segera dengan
asiklovir intravena. Terapi asiklovir diberikan dalam 72 jam untuk mencegah
varisela progresif dan penyebaran visceral pada penderita resiko tinggi, dosis 500
mg/m² setiap 8 jam, diberikan secara intravena selama 7 hari atau sampai tidak
ada lesi baru yang tampak selama 48 jam.

 Simtomatik local dengan bedak salisilat 1% dan mencegah infeksi sekunder,


misal: kuku digunting agar pendek, mengganti pakaian dan alas tempat tidur
sesering mungkin.

G. Pencegahan
 Aktif: Diberikan pada anak-anak sehat maupun penderita leukemia
imunodefisiensi. Dapat diberikan dengan vaksin hidup yang dilemahkan. Dosis
yang dianjurkan ialah 0,5 cc subkutan. Pemberian vaksin ini ternyata cukup aman
dan efektif dan dapat memberikan perlindungan 96%.

 Pasif: Dilakukan dengan memberikan zoster imun globulin (ZIG) dan zoster imun
plasma (ZIP). ZIG adalah suatu globulin –gama dengan titer antibodi yang tinggi
dan yang didapatkan dari penderita yang telah sembuh dari infeksi herpes zoster.
Pemberiannya sebanyak 5 ml dalam 72 jam setelah kontak dengan penderita
varisela. ZIP adalah plasma yang berasal dari penderita yang baru sembuh dari
herpes zoster dan berikan secara intravena sebanyak 3- 14,3 ml/Kg BB.
Pemberian ZIP dalam 1-7 hari setelah kontak dengan penderita varisela.
LANDASAN ASUHAN KEPERAWATAN ANAK
DENGAN VARISELA

1. PENGKAJIAN
1.1 Biodata
Menyerang umur < 10 tahun. Serangan tertinggi umur 2-6 tahun. Namun dapat
juga menyerang orang dewasa dan bayi baru lahir.

1.2 Keluhan utama


Panas

1.3 Riwayat penyakit sekarang


- Kenaikan suhu biasanya sedang, berkisar dari 100- 102ºF tetapi
mungkin setinggi 106ºF.
- Demam dan gejala sistemik lain menetap selama 2-4 hari pertama
sesudah mulai ruam.

1.4 Riwayat penyakit dahulu


1.4.1 Antenatal
Bila ibu pernah menderita varisela pada umur kehamilan 3-4 bulan.
1.4.2 Natal
1.4.3 Post Natal
- Bayi kontak dengan ibu yang menderita varisela pada hari ke-8 setelah
melahirkan dan bayi tersebut akan hidup.
- Riwayat imunisasi
Pencegahan terhadap infeksi varisela ini dilakukan dengan 2 cara yaitu
imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Imunisasi aktif dengan pemberian
vaksin hidup yang dilemahkan. Imunisasi pasif dengan pemberian zoster
imun globulin (ZIG) dan zoster imun plasma (ZIP).

1.5 Riwayat penyakit keluarga


Penyakit cacar air (varisela) ini sangat mudah menular. Angka penularan rumah
tangga adalah 80-90%. Lebih banyak karena kontak langsung melalui percikan
ludah. Dengan kontak keluarga akan mendapatkan penyakit ini.

1.6 Kebutuhan nutrisi


Selama periode demam biasanya disertai dengan anoreksia.

1.7 Kebutuhan aktivitas sehari- hari


Selama periode demam biasanya disertai malaise, meningkatnya ketergantungan
pemenuhan kebutuhan perawatan diri serta menurunnya aktifitas bermain.

1.8 Pemeriksaan Fisik


a. Keadaan umum
Suhu tubuh 100-102ºF, malaise dan kelemahan.
b. Kulit
- Lesi varisela tampak mula-mula pada kulit kepala, muka/
batang tubuh. Lesi mulai timbul sebagai macula eritematosa
yang sangat gatal yang berkembang membentuk vesikel berisi
cairan jernih.
- Isi vesikel berubah menjadi keruh dalam waktu 24 jam.
- Dalam 3-4 hari erupsi mulai menyebar mula-mula di dada
kemudian ke muka, bahu dan anggota gerak.
c. Kepala
Pada wajah didapatkan adanya lesi.
d. Leher
Didapatkan lesi pada leher.
e. Dada
- Paru : suara paru sonor, suara nafas vesikuler
- Jantung : terdengar suara jantung I dan II
f. Abdomen
Didapatkan lesi pada abdomen.

g. Genetalia
Tidak terkaji.
h. Extremitas atas dan bawah
Pada extrimitas atas dan bawah ditemukan lesi.

1.9 Pemeriksaan Penunjang


Pada hasil laboratorium ditemukan leukopenia khas selama 72 jam pertama yang
disertai dengan limfositosis relatif dan absolut.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
2.1 Hipertermi s/d proses penyakit.
2.2 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan s/d mual, muntah dan anoreksia.
2.3 Gangguan rasa nyaman s/d keletihan malaise sekunder akibat penyakit menular.
2.4 Kurangnya pengetahuan keluarga s/d:
- Interpretasi yang salah terhadap informasi
- Tidak adanya sumber informasi
2.5 Resiko terjadinya injuri s/d dampak peradangan umum pada kulit.
2.6 Resiko terjadinya infeksi s/d tidak adekuatnya pertahanan sekunder tubuh.

3. RENCANA TINDAKAN
3.1 Dx I
Hipertermi s/d proses penyakit
Tujuan : Klien menunjukkan suhu tubuh dalam batas normal.
Kriteria Hasil : - Suhu tubuh 36,5 –37,5ºC (bayi)
36 –37,5ºC (anak)
- Frekuensi RR :
 Bayi : 30 –60 x/ mnt
 Anak : 15 –30 x/ mnt
- Frekuensi N :
 Anak : 100 –120 x/ mnt
 Bayi : 120 –140 x / mnt

Rencana Tindakan
a. Monitor temperatur tubuh.
R/ perubahan temperatur dapat terjadi pada proses infeksi akut.
b. Monitor suhu lingkungan.
R/ temperatur lingkungan dipertahankan mendekati suhu normal.
c. Berikan kompres dingin.
R/ menurunkan panas lewat konduksi.
d. Berikan antipiretik sesuai program tim medis.
R/ menurunkan panas pada pusat hipotalamus.

3.2 Dx II
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh s/d mual, muntah dan anoreksia.
Tujuan : Klien dapat menunjukan dan mempertahankan BB yang
normal.
Kriteria hasil:
- Adanya minat / selera makan
- Porsi makan sesuai kebutuhan
- BB dipertahankan sesuai usia
- BB meningkat sesuai usia

Rencana Tindakan
a. Monitor intake makanan.
R/ memonitor intake kalori dan insufisiensi kualitas konsumsi makanan.
b. Berikan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan.
R/ mengurangi rasa tidak nyaman dan meningkatkan selera makan.
c. Sajikan makanan yang menarik ,merangsang selera dan dalam suasana yang
menyenangkan.
R/ meningkatkan selera makan sehingga meningkatkan intake makanan.
d. Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering.
R/ makanan dalam porsi besar banyak lebih sulit dikonsumsi saat pasien
anoreksia.

e. Timbang BB setiap hari.


R/ memonitor kurangnya berat badan dan efektifitas intervensi nutrisi yang
diberikan.
f. Konsul ke ahli gizi.
R/ memberikan bantuan untuk menetapkan diit dan merencanakan pertemuan
secara individual bila diperlukan.
g. Berikan terapi sesuai program tim medis.
R/ dibutuhkan sejak intake nutrisi oral sudah tidak mencukupi.

3.3 Dx III
Ganguan rasa nyaman b/d keletihan malaise sekunder akibat penyakit menular.
Tujuan : Rasa nyaman pasien dapat terpenuhi dengan kriteria nyeri berkurang /
hilang.

Rencana Tindakan
a. Kaji tingkat nyeri yang dialami oleh pasien dengan memberikan rentang
nyeri (0 –10).
R/ mengetahui seberapa berat nyeri yang dialami pasien sehingga perawat
dapat menentukan cara mengatasinya.
b. Kaji faktor –faktor yang mempengaruhi reaksi pasien terhadap nyeri.
R/ dengan mengetahui faktor-faktor tersebut maka perawat dapat melakukan
intervensi yang sesuai dengan masalah klien.
c. Berikan posisi yang nyaman dan situasi yang tenang.
R/ posisi yang nyaman dan situasi yang tenang dapat membuat perasaan yang
nyaman pada pasien.
d. Berikan suasana gembira bagi pasien. Alihkan perhatian pasien dari rasa nyeri
dengan mainan , membaca buku cerita.
R/ dengan melakukan aktivitas lain pasien dapat sedikit mengalihkan
perhatiannya terhadap nyeri.
e. Kolaborasi pemberian obat-obat analgetik.
R/ dapat menurunkan rasa nyeri.

3.4 Dx IV
Kurangnya pengetahuan keluarga b/d interpretasi yang salah terhadap informasi,
tidak adanya sumber informasi.
Tujuan : Secara verbal keluarga dapat mengungkapkan atau
menjelaskan proses penyakit menular dan pencegahannya.
Kriteria hasil :
- Keluarga dapat mengidentifikasikan proses penularan ,penyakit dan
pecegahan.
- Adanya perubahan lingkungan /gaya hidup.

Rencana tindakan
a. Berikan informasi tentang varisela secar spesifik.
R/ memberikan pengetahuan dasar , mengurangi kecemasan dan
meningkatkan sikap kooperatif keluarga terhadap tindakan yang akan
dilakukan.
b. Diskusikan tentang penularan varisela termasuk teknik isolasi.
R/ menghindari infeksi silang dari anak kepada keluarga.
c. Review pengetahuan tentang imunisasi dan jelaskan imunisasi secara spesifik.
R/ varisela merupakan penyakit menular yang dapat dicegah dengan
imunisasi.
d. Diskusikan kemungkinan infeksi sekunder adanya tanda dan gejalanya.
R/ menurunnya leukosit mempunyai potensi infeksi.
e. Diskusikan cara oral hygiene dan perawatan kulit yang baik.
R/ pada fase prodomal dan erupsi perawatan kebersihan diri sangat penting
untuk dikerjakan.

3.5 Dx V
Resiko terjadinya injuri s/d dampak peradangan umum pada kulit.
Tujuan : Klien tidak mengalami injuri selama terjadi peradangan pada
kulit
Kriteria hasil : Tidak terjadi injuri pada kulit pasien.

Rencana tindakan
a. Jauhkan klien dari benda-benda tajam dan mudah pecah.
R/ mencegah terjadinya perlukaan.
b. Lakukan perawatan kulit secara teratur.
R/ membersihkan kulit dan mencegah terjadinya infeksi sekunder.
c. Beri papan pengaman tempat tidur.
R/ memberikan perlindungan pada pasien.

3.6 Dx VI
Resiko terjadinya infeksi s/d tidak adekuatnya pertahanan sekunder tubuh.
Tujuan : Didapatkan kondisi lingkungan yang dapat mencegah/
menurunkan resiko terjadinya infeksi.
Kriteria hasil :
- Klien mencapai kesembuhan
- Tidak ada drainage yang purulent
- Suhu tubuh dalam batas normal

Rencana tindakan
d. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
R/ mencegah kontaminasi silang.
e. Pertahankan teknik aseptic.
R/ menurunkan resiko kolonisasi bakteri.
f. Meningkatkan perubahan posisi/ ambulasi, latih nafas dalam dan batuk efektif.
R/ meningkatkan ventilasi semua segmen paru dan membantu mobilisasi secret
dan mencegah pneumonia.
g. Meningkatkan intake cairan secara adekuat.
R/ membantu melancarkan sekresi pernafasan dan mencegah statis cairan tubuh.
h. Batasi pengunjung, berikan isolasi pernafasan.
R/ membatasi terpajan dengan bakteri dan membatasi infeksi silang virus mobili
pada perawat.
i. Berikan perawatan diri secara teratur: mandi, BAK, BAB, berpakaian.
R/ kulit yang kotor merupakan media yang baik bagi pertumbuhan
mikroorganisme.
4. IMPLEMENTASI
Prinsip - prinsip pelaksanaan rencana asuhan keperawatan pada anak dengan varisela :
1) Mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal.
2) Mempertahankan kebutuhan cairan dan nutrisi.
3) Memberikan informasi pada keluarga tentang proses penyakit, penularan dan
pencegahan.
4) Memberikan pemenuhan rasa nyaman.
5) Memperhatikan tumbuh kembang anak terhadap dampak hospitalisasi

5. EVALUASI
1) Setelah tindakan keperawatan dilakukan, evaluasi proses dan hasil mengacu pada
kriteria evaluasi yang telah ditentukan pada masing- masing keperawatan sehingga :
a. Masalah teratasi/ tujuan tercapai.
b. Masalah teratasi sebagian/ tujuan teratasi sebagian.
c. Masalah tidak teratasi/ tujuan tidak tercapai.
2) Mengukur pencapaian tujuan.
DAFTAR PUSTAKA

Rampengan, T.H, Laurent, IR, 1997, PENYAKIT INFEKSI TROPIK PADA ANAK, EGC,

Jakarta.

Ngastiyah, 1997, PERAWATAN ANAK SAKIT, EGC, Jakarta.

Doegoes, Marlyne, 1999, RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN, EGC, Jakarta.