Anda di halaman 1dari 28

1.

Prosedur Identifikasi korban

Proses Identifikasi

Dalam proses identifikasi tersebut Musyafak menyatakan tingkat kesulitan didasari kondisi korban itu
sendiri. Korban yang dibawa ke RS Polri dalam keadaan bagian-bagian tubuh yang sudah terpisah,
katanya, memiliki tingkat kesulitan identifikasi lebih berat.

"Kesulitannya adalah apabila korban ini tidak utuh dan bahkan serpihan-serpihan. Beberapa potong.
Ini memang harus diambil sampel DNA untuk diperiksa. Jadi bisa saja hanya teridentifikasi sebagian,"
kata Musyafak.

Data antemortem itu kemudian dibandingkan dengan data postmortem dari korban yang telah
ditemukan untuk diidentifikasi identitasnya. Proses pencocokkan data antemortem dan postmortem
yang sudah cocok ini berguna untuk mengenali data diri korban

Langkah pertama proses identifikasi adalah mengecek sidik jari korban. Musyafak menyatakan
apabila sidik jari tersebut cocok dengan data yang diberikan keluarga korban seperti yang terdapat di
ijazah atau pun KTP, maka akan dinyatakan teridentifikasi.

"Prinsip primer adalah sidik jari. Kalau sudah cocok, itu berarti sudah teridentifikasi," kata Musyafak.

Jika sidik jari sulit diidentifikasi, proses pengidentifikasian dilanjutkan pada gigi korban data fisik
juga benda yang melekat pada korban, hingga sampel DNA. Untuk melakukan uji DNA melalui
darah, tim forensik harus memiliki sampel dari keluarga kandung. Yang terbaik adalah sampel dari
orang tua, atau keluarga sedarah seperti kakak atau adik.

1. Menurut panduan Interpol, cara identifikasi jenazah ada dua jenis yaitu primer dan
sekunder. Salah satu cara primer adalah menggunakan sidik jari. ‘Kan sidik jari setiap
orang berbeda-beda
2. Selain dengan sidik jari, ternyata struktur gigi dan rahang yang unik pada tiap orang
bisa jadi cara untuk mengidentifikasi jenazah lho

3. Identifikasi jenazah juga bisa dilakukan dengan tes DNA. Ini dianggap salah satu cara
paling akurat, bahkan ketika jenazah kondisinya buruk sekalipun

4Jenis sekunder dari identifikasi postmortem salah satunya dengan memanfaatkan


informasi medis saat masih hidup dan membandingkan dengan kondisi jenazahnya
5. Nggak hanya itu, identifikasi sekunder juga bisa dilakukan dengan cara patologi yaitu
mempelajari kelainan pada jenazah lalu mencocokkannya dengan data medis

Tindik dan tato termasuk dalam identifikasi secara patologi via  www.meetdoctor.com

6. Selain itu, ada juga cara antropologi forensik yang bisa mengecek kondisi rangka
tubuh misalnya tulang yang patah lalu menghubungkan dengan kejadiannya

7. Jenazah juga bisa diidentifikasi dari benda apa saja yang melekat di badannya seperti
dari perhiasan dan baju. Sayangnya cara ini masih kurang akurat
Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu penyidik untuk
menentukan identitas seseorang.6-8 Penentuan identitas korban seperti halnya penentuan identitas
tersangka pelaku kejahatan merupakan bagian terpenting dalam penyidikan. 7,9 Identifikasi tersebut penting
sekali dilakukan terhadap korban meninggal karena merupakan perwujudan HAM dan penghormatan
terhadap orang yang sudah meninggal.10 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Pasal
133 ayat tiga tertulis “Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah
sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi
label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki
atau bagian lain badan mayat ”.11 Dengan demikian, dapat dipahami bahwa proses identifikasi
merupakan hal yang penting untuk dilaksanakan sebelum proses selanjutnya yaitu pemeriksaan mayat
(otopsi).12,13
Identifikasi dapat dilakukan dalam tiga cara:

 visual (kerabat atau kenalan melihat jenazah);


 data secara rinci (misalnya, data ante-mortem yang cocok dengan informasi yang dikumpulkan
selama autopsy dan informasi situasional lainnya);
 dan secara ilmiah atau objektif (misalnya, pemeriksaan gigi, sidik jari, atau DNA).
Identifikasi tidak mutlak berdasarkan urutan diatas; jika perlangsungan proses identifikasi menjadi lebih
sulit, cara selanjutnya yang dilakukan. Bila memungkinkan, identifikasi visual harus dilengkapi dengan
salah satu dari dua metode lain.14
Pada dasarnya, identifikasi terdiri dari dua metode utama, yaitu:
1) identifikasi komparatif, yaitu bila selain data post mortem juga tersedia data ante mortem, dalam
suatu komunitas yang terbatas, dan
2) identifikasi rekonstruktif, yaitu bila tidak tersedia data ante mortem dan komunitas tidak
terbatas.12 Penentuan identitas personal dapat menggunakan metode identifikasi visual, doukumen,
properti, pemeriksaan medik, gigi, serologik, sidik jari, analisis DNA, dan secara eksklusi. Identitas
seseorang dapat dipastikan bila paling sedikit dua metode yang digunakan memberikan hasil positif (tidak
meragukan).6,15 Prosedur identifikasi pada korban bencana massal mengacu pada prosedur Disaster
Victim Identification (DVI) yang dikeluarkan oleh Interpol.
Proses DVI yang terdiri dari lima fase, yaitu: the scene, post mortem examination, ante mortem
information retrieval, reconciliation, dan debriefing.4,15,16
Proses identifikasi tidak jarang diperhadapkan dengan berbagai kendala sehingga dapat memperlambat
penyidikan identitas dari jenazah tersebut.17 Terdapatnya kendala dalam proses identifikasi, antara lain
karena tidak konsistennya pengumpulan data ante mortem (misalanya pendataan gigi)
sehingga identifikasi jenazah tersebut menjadi sulit dan membutuhkan waktu lama untuk
dikonfirmasi walaupun sudah mendapatkan pengelolaan professional yang baik dalam proses
identifikasi.18,19 Proses identifikasi pada korban bencana massal juga mengalami banyak hambatan di
penyidikan lapangan dalam menerapkan prosedur DVI. 4 Masyarakat Indonesia memiliki keterbatasan
dalam data ante mortem. Tidak lebih dari 10% penduduk Indonesia yang diketahui sidik jarinya, dan hal
inipun tidak mudah diakses. Golongan darah yang diketahui biasanya hanya golongan ABO yang
memiliki nilai eksklusi rendah. Di Indonesia hampir tidak ditemukan data gigi yang baik kecuali pada
kelompok masyarakat tertentu seperti penerbang dan TNI, namun data giginya juga tidak mengikuti
ketentuan internasional (Interpol).12
Berdasarkan penelitian Smith dan Hanzlick20 pada 100 jenazah tanpa identitas, metode yang paling
menunjang identifikasi ialah visual (52%), sidik jari (31%), gigi (10%), sinar-X (4%), dan metode
lainnya (6%).20 Penelitian Cavard et al.21 memperoleh hasil yang berbeda yaitu dari 134 kasus diperoleh
bahwa hampir 28% telah diidentifikasi dengan biologi molekuler (DNA), 23% dengan pemeriksaan
odontologi, 7,5% dengan sidik jari, dan 6,7% dengan data otopsi.

Prosedur:
Pada saat jenazah diminta untuk dilakukan otopsi, pihak kepolisian akan membuat surat yang berisi
permintaan otopsi dengan merujuk pada pasal 133, 134 dan 136 KUHAP serta Undang-undang No. 2
tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Selain itu, surat tersebut memuat identitas dari
jenazah, yaitu: nama, jenis kelamin, umur, kewarganegaraan, agama, pekerjaan, dan alamat. Jika data
tersedia, kondisi saat mayat ditemukan beserta tempat ditemukan mayat tersebut juga dicantumkan dalam
laporan. Dokter ahli forensik akan melakukan pemeriksaan terhadap mayat tersebut. Proses identifikasi di
BLU RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou dilakukan oleh dokter ahli Forensik dibantu oleh staf bagian Ilmu
Kedokteran Forensik dan Instalasi Pemulasaran
Jenazah.
Hasil pemeriksaan jenazah dimasukkan dalam laporan deduksi yang memuat data jenazah seperti
nama, alamat, kematian menurut polisi, jenis kelamin, dan pekerjaan. Selain data jenazah, juga
dicantumkan waktu pemeriksaan yaitu: hari, tanggal, serta jam dilaksanakan pemeriksaan tersebut.
Penanggung jawab, pembantu, pelaksana dan penulis laporan juga dicantumkan

setelah data jenazah. Selanjutnya, dituliskan data-data hasil pemeriksaan luar, yaitu berupa
keterangan label pada jenazah, bungkus mayat dan apa yang menutupi mayat, catatan-catatan mengenai
identifikasi, tanda kematian, patah tulang, dan tanda kekerasan. Bila pemeriksaan dalam (otopsi)
dilakukan, hasilnya juga dimasukkan dalam laporan deduksi. Setelah kedua pemeriksaan atau salah satu
dari pemeriksaan itu dilakukan, ditarik simpulan yang tertulis di bagian akhir dari laporan tersebut.
Identifikasi personal di BLU RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado dilakukan pada semua jenazah,
baik yang sudah diketahui identitasnya maupun yang belum. Laporan hasil identifikasi tercakup dalam
pemeriksaan luar pada laporan deduksi, yaitu: pakaian dan perhiasan yang dikenakan mayat, benda
disamping mayat, jenis kelamin, status gizi, suku bangsa, warna kulit, berat badan, identifikasi khusus,
rambut kepala beserta alis, kumis dan janggut, mata kanan dan mata kiri, hidung telinga dan mulut, patah
tulang, serta tanda kekerasan yang ditemukan.
Hasil pemeriksaan luar akan dicantumkan dalam Visum et Repertum dan ditandatangani oleh dokter
yang melakukan pemeriksaan. Pada 10 jenazah yang menjadi korban dari kecelakan lintas udara jatuhnya
helikopter di Bitung (2011), proses identifikasi dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah dibahas di
atas. Semua data hasil identifikasi korban bencana dimasukan dalam laporan deduksi sama seperti
perlakuan pada jenazah personal. Selain itu, data hasil identifikasi korban juga dimasukkan dalam
formulir post mortem yang memenuhi standar Interpol (Pink form).16

IDENTIFIKASI

Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantupenyidik untuk
menentukan identitas seseorang. Identifikasi personal sering merupakan suatumasalah dalam kasus pidana
maupun perdata. Menentukan identitas personal dengan tepatamat penting dalam penyidikan karena
adanya kekeliruan dapat berakibat fatal dalam prosesperadilan. Peran ilmu kedokteran forensik dalam
identifikasi terutama pada jenazah tidakdikenal, jenazah yang rusak , membusuk, hangus terbakar dan
kecelakaan masal, bencanaalam, huru hara yang mengakibatkan banyak korban meninggal, serta
potongan tubuhmanusia atau kerangka. Selain itu identifikasi forensik juga berperan dalam berbagai
kasuslain seperti penculikan anak, bayi tertukar, atau diragukan orang tuanya. Identitas seseorangyang
dapat dipastikan bila paling sedikit dua metode yang digunakan memberikan hasilpositif (tidak
meragukan).
Pada dasarnya prinsip identifikasi adalah membandingkan data antemortem (datasemasa hidup) dan data
postmortem (data setelah kematian) pada orang yang tidak dikenal.Data yang diduga sebagai orang hilang
terkadang kurang lengkap, bahkan tidak ada.Identifikasi dilakukan melalui berbagai metode, seperti sidik
jari, medik, odontologi (ilmugigi dan mulut), anthropologi sampai dengan pemeriksaan biomolekuler.
Pada kasus bencanamassal dengan potongan tubuh yang sulit dikenal, memerlukan keahlian kedokteran
forensikyang meliputi berbagai bidang keilmuan dan bidang keahlian penunjang untuk dapatmelakukan
identifikasi. Identifikasi korban tak dikenal dalam pelaksanaannya dapat bekerjasama dengan berbagai
disiplin ilmu, antara lain keahlian bidang forensik patologi, forensikodontologi, forensik anthropologi,
ahli sidik jari, ahli DNA, radiologi dan fotografer.
Bencana dapat diakibatkan baik oleh alam maupunmanusia. Kondisi alam memegang peran pentingakan
timbulnya suatu bencana, termasukIndonesia. Indonesia merupakan negara kepulauanyang sangat luas
dengan luas keseluruhan lima jutakilometer persegi. Terletak pada pertemuan tigalempeng tektonik utama
dunia yang memilikisetidaknya 400 gunung berapi dengan 150diantaranya adalah gunung berapi aktif.
Disampingitu iklim tropis membuat beberapa bagian daerahbasah oleh curah hujan yang melimpah
sehinggaberesiko timbul bencana banjir dan longsor.Sebaliknya pada daerah lain dapat
mengalamikekeringan. Faktor manusia juga turut berperanmenimbulkan bencana. Hal ini sering
menyebabkanbanjir ataupun longsor akibat penggundulan hutan,kecelakaan lalu lintas dan
terorisme.Berbagai kejadian yang memakan banyak korbanjiwa, terutama sejak kejadian Bom Bali I
membuatkegiatan identifikasi korban bencana massal(Disaster Victim Identification ) menjadi
kegiatanyang penting dan dilaksanakan hampir pada setiapkejadian yang menimbulkan korban jiwa
dalamjumlah yang banyak. Tujuan utama pemeriksaanidentifikasi pada kasus musibah bencana
massaladalah untuk mengenali korban. Dengan identifikasiyang tepat selanjutnya dapat dilakukan
upayamerawat, mendoakan serta akhirnya menyerahkanDisaster Victim Identificationkepada
keluarganya. Proses identifikasi ini sangatpenting bukan hanya untuk menganalisis penyebabbencana,
tetapi memberikan ketenangan psikologisbagi keluarga dengan adanya kepastian identitaskorban.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi DVI (Disaster Victim Identification)
Identifikasi forensik adalah sebuah upaya kerjasama dan koordinasi aparat penegak hukum, patologi
forensik, dokter gigi forensik, antropologi forensik, ahlu ilmu hukum pidana dan spesialisasi terkait
lainnya. Identifikasi korban yang tidak diketahui identitasnya wajib dilakukan sebagaimana yang telah
diamanatkan di dalam Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 .Prosedur identifikasi yang
dilakukan terhadapkorban bencana alam banjir dan tanah longgsor, kecelakaan lalu lintas, terorisme,
kebakaran, kecelakaan kerja.Identifikasi penting untuk dilakukan terkait pelaksanaan penyelidikan kasus
kriminal, penentuan tatacara prosesi pemakaman, pembayaran asuransi kematian.
Disaster Victim Identification (DVI) adalahsuatu definisi yang diberikan sebagai sebuahprosedur untuk
mengidentifikasi korban mati akibatbencana massal secara ilmiah yang dapatdipertanggungjawabkan dan
mengacu pada standar baku Interpol. Proses DVI meliputi 5 faseyang pada setiap fase memiliki
keterkaitan antarasatu dengan yang lain. Proses DVI menggunakanbermacam-macam metode dan teknik.
Interpoltelah menentukan adanyaPrimary Identifier yangterdiri dari fingerprint (FP), dental records DR)
danDNA sertaSecondary Identifiers yang terdiri darimedical(M), property (P) dan photography
(PG),dengan prinsip identifikasi adalah membandingkandata antemortem dan
postmortem.Primaryidentifiers mempunyai nilai yang sangat tinggi biladibandingkan dengan secondary
identifiers.
Setiap bencana massal yang menimbulkan banyakkorban jiwa, baik akibatNatural Disaster ataupunMan
Made Disaster, memiliki spesifikasi tertentuyang berbeda antara kasus yang satu dengan yanglain.
Perbedaan ini menyebabkan tindakanpemeriksaan identifikasi dengan skala prioritasbahan yang akan
diperiksa sesuai dengan keadaanjenazah yang ditemukan. Kejadian bencanamassal tersebut akan
menghasilkan keadaanjenazah yang mungkin dapat intak, separuh intak,membusuk, tepisah berfragmen-
fragmen, terbakarmenjadi abu, separuh terbakar, terkubur ataupunkombinasi dari bermacam-macam
keadaan. Masalah akan timbul dengan berbagai variasitingkat kesulitan dimana tindakan
identifikasitermudah dan sederhana yaitu secara visual tidaklagi dapat digunakan. Demikian juga pada
jenazahyang mengalami pembusukan lanjut, pemeriksaanidentifikasi primer berdasarkan sidik jari akan
sulitdilakukan, maka dapat digantikan denganpemeriksaan gigi geligi karena gigi bersifat lebih tahan
lama terhadap proses pembusukan. Namunkeadaan gigi tersebut juga dipengaruhi faktorlingkungan
tempat jenazah itu berada. Faktapengalaman di lapangan menunjukkan bahwaidentifikasi korban
meninggal massal melalui gigigeligimempunyai kontribusi yang tinggi dalammenentukan identitas
seseorang.
Tuags DVI (Disaster Victim Identification)

- Tugas utama DVI secara umum adalah sebagai berikut :


- Melakukan koordinasi dengan tim medis dan aparat keamanan untuk melakukan evakuasi korban
meninggal dan tempat kejadian
- Malakukan koordinasi dengan rumah sakit setempat atau rumah sakit tempat rujukan korban
meninggal
- Melakukan identifikasi terhadap korban meninggal dengan sumber daya yang ada
- Membuat kesimpulan sementara terhadap hasil pemeriksaan
- Melaporkan hasil identifikasi kepada badan pemerintahan terkait.
Tahap – tahap DVI (Disaster Victim Identification)
Tahap DVI
Proses DVI tersebut mempunyai lima fase, dimana setiap fasenya mempunyai keterkaitan satu dengan
yang lainnya. Fase-fase tersebut yaitu :

 Fase I – TKP (The Scene)


Merupakan tindakan awal yang dilakukan di tempat kejadian peristiwa (TKP) bencana.Ketika suatu
bencana terjadi, prioritas yang paling utama adalah untuk mengetahui seberapa luas jangkauan
bencana.Sebuah organisasi resmi harus mengasumsikan komando operasi secara keseluruhan untuk
memastikan koordinasi personil dan sumber daya material yang efektif dalam penanganan
bencana.Dalam kebanyakan kasus, polisi memikul tanggung jawab komando untuk operasi secara
keseluruhan. Sebuah tim pendahulu (kepala tim DVI, ahli patologi forensik dan petugas polisi) harus
sedini mungkin dikirim ke TKP untuk mengevaluasi situasi berikut :
1. Keluasan TKP : pemetaan jangkauan bencana dan pemberian koordinat untuk area bencana
2. Perkiraan jumlah korban
3. Keadaan mayat
4. Evaluasi durasi yang dibutuhkan untuk melakukan DVI
5. Institusi medikolegal yang mampu merespon dan membantu proses DVI
6. Metode untuk menangani mayat
7. Transportasi mayat
8. Penyimpanan mayat
9. Kerusakan properti yang terjadi
Pada prinsipnya untuk fase tindakan awal yang dilakukan di situs bencana, ada tiga langkah utama.
Langkah pertama adalah to secure atau untuk mengamankan, langkah kedua adalah to collect atau untuk
mengumpulkan dan langkah ketiga adalah documentation atau pelabelan.
Pada langkah to secure organisasi yang memimpin komando DVI harus mengambil langkah untuk
mengamankan TKP agar TKP tidak menjadi rusak. Langkah – langkah tersebut antara lain adalah :
1. Memblokir pandangan situs bencana untuk orang yang tidak berkepentingan (penonton yang
penasaran, wakil – wakil pers, dll), misalnya dengan memasang police line.
2. Menandai gerbang untuk masuk ke lokasi bencana.
3. Menyediakan jalur akses yang terlihat dan mudah bagi yang berkepentingan.
4. Menyediakan petugas yang bertanggung jawab untuk mengontrol siapa saja yang memiliki akses
untuk masuk ke lokasi bencana.
5. Periksa semua individu yang hadir di lokasi untuk menentukan tujuan kehaditan dan otorisasi.
6. Data terkait harus dicatat dan orang yang tidak berwenang harus meninggalkan area bencana
Pada langkah to collect organisasi yang memimpin komando DVI harus mengumpulkan korban –
korban bencana dan mengumpulkan properti yang terkait dengan korban yang mungkin dapat digunakan
untuk kepentingan identifikasi korban.
Pada langkah documentation organisasi yang memimpin komando DVI mendokumentasikan kejadian
bencana dengan cara memfoto area bencana dan korban kemudian memberikan nomor dan label pada
korban.
Setelah ketiga langkah tersebut dilakukan maka korban yang sudah diberi nomor dan label dimasukkan ke
dalam kantung mayat untuk kemudian dievakuasi.
Fase II – Kamar Mayat/Post Mortem (The Mortuary)
Pengumpulan data post-mortem atau data yang diperoleh paska kematian dilakukan oleh post-mortem
unit yang diberi wewenang oleh organisasi yang memimpin komando DVI.Pada fase ini dilakukan
berbagai pemeriksaan yang kesemuanya dilakukan untuk memperoleh dan mencatat data selengkap–
lengkapnya mengenai korban. Pemeriksaan dan pencatatan data jenazah yang dilakukan diantaranya
meliputi :
1. Dokumentasi korban dengan mengabadikan foto kondisi jenazah korban
2. Pemeriksaan fisik, baik pemeriksaan luar maupun pemeriksaan dalam jika diperlukan
3. Pemeriksaan sidik jari
4. Pemeriksaan rontgen
5. Pemeriksaan odontologi forensik : bentuk gigi dan rahang merupakan ciri khusus tiap orang ;
tidak ada profil gigi yang identik pada 2 orang yang berbeda
6. Pemeriksaan DNA
7. Pemeriksaan antropologi forensik : pemeriksaan fisik secara keseluruhan, dari bentuk tubuh,
tinggi badan, berat badan, tatto hingga cacat tubuh dan bekas luka yang ada di tubuh korban.
Data – data hasil pemeriksaan tersebut kemudian digolongkan ke dalam data primer dan data sekunder
sebagai berikut :
1. Primer (sidik jari, profil gigi, DNA)
2. Sekunder (visual, fotografi, properti jenazah, antropologi medis)
Di dalam menentukan identifikasi seseorang secara positif, Badan Identifikasi DVI Indonesia mempunyai
aturan-aturan, yaitu minimal apabila salah satu identifikasi primer dan atau didukung dengan minimal dua
dari identifikasi sekunder.
Selain mengumpulkan data pasca kematian, pada fase ini juga sekaligus dilakukan tindakan untuk
mencegah perubahan–perubahan paska kematian pada jenazah, misalnya dengan meletakkan jenazah
pada lingkungan dingin untuk memperlambat pembusukan.
Fase III – Ante Mortem
Pada fase ini dilakukan pengumpulan data mengenai jenazah sebelum kematian.Data ini biasanya
diperoleh dari keluarga jenazah maupun orang yang terdekat dengan jenazah. Data yang diperoleh dapat
berupa foto korban semasa hidup, interpretasi ciri – ciri spesifik jenazah (tattoo, tindikan, bekas luka, dll),
rekaman pemeriksaan gigi korban, data sidik jari korban semasa hidup, sampel DNA orang tua maupun
kerabat korban, serta informasi – informasi lain yang relevan dan dapat digunakan untuk kepentingan
identifikasi, misalnya informasi mengenai pakaian terakhir yang dikenakan korban.

Fase IV – Rekonsiliasi
Pada fase ini dilakukan pembandingan data post mortem dengan data ante mortem. Ahli forensik dan
profesional lain yang terkait dalam proses identifikasi menentukan apakah temuan post mortem pada
jenazah sesuai dengan data ante mortem milik korban yang dicurigai sebagai jenazah. Apabila data yang
dibandingkan terbukti cocok maka dikatakan identifikasi positif atau telah tegak. Apabila data yang
dibandingkan ternyata tidak cocok maka identifikasi dianggap negatif dan data post mortem jenazah tetap
disimpan sampai ditemukan data ante mortem yang sesuai dengan temuan post mortem jenazah.
Fase V – Debriefing
Korban yang telah diidentifikasi direkonstruksi hingga didapatkan kondisi kosmetik terbaik kemudian
dikembalikan pada keluarganya untuk dimakamkan. Apabila korban tidak teridentifikasi maka data post
mortem jenazah tetap disimpan sampai ditemukan data ante mortem yang sesuai dengan temuan post
mortem jenazah, dan pemakaman jenazah menjadi tanggung jawab organisasi yang memimpin komando
DVI. Sertifikasi jenazah dan kepentingan mediko-legal serta administrative untuk penguburan menjadi
tanggung jawab pihak yang menguburkan jenazah.

Metodologi Identifikasi
Metode identifikasi forensik dibagi menjadi metode identifikasi primer dan sekunder.Identifikasi primer
(DNA, sidik jari dan odontologi) adalah metode identifikasi ilmiah yang mampu bertahan secara global
dan telah terbukti sebagai metode identifikasi yang efektif.DNA dan sidik jari seringkali tidak dapat
digunakan apabila telah terjadi kerusakan berat dan meluas terhadap jaringan lunak korbanseperti pada
kasus terbakar, skeletonisasi dan dekomposisi.Jaringan pada tubuh yang kerasseperti gigi sangat
dibutuhkan terkait kendala
tersebut.Jaringan gigi dilapisi oleh materi anorganik kristal hidroksiapatit sehingga resisten terhadap
beragam jenis pengaruh eksternal, iritasi mekanik, termal dan kimia.
Untuk metode ilmiah biasa disebut dengan identifikasi primer yaitu :
Pemeriksaan DNA
Pemeriksaan identifikasi forensik merupakan pemeriksaan yang pertama kali dilakukan, terutama pada
kasus tindak kejahatan yang korbannya tidak dikenal walaupun identifikasi juga bisa dilakukan pada
kasus non kriminal seperti kecelakaan, korban bencana alam dan perang, serta kasus paternitas
(menentukan orang tua).DNA merupakan gambaran pola potongan DNA dari setiap individu.
Para ahli menggunakan daerah yang berbeda ini untuk menghasilkan profil DNA dari seseorang individu,
menggunakan sampel dari darah, tulang, rambut atau jaringan tubuh yang lain. Pada kasus kriminal,
biasanya melibatkan sampel dari barang bukti dan tersangka, mengekstrak DNAnya, dan menganalisanya
untuk melihat suatu daerah khusus pada DNA (marker).
Para ilmuwan telah menemukan marker di dalam sampel DNA dengan mendesain sepotong kecil DNA
(probe) yang masing-masing akan mencari dan berikatan dengan sekuen DNA
pasangan/komplementernya pada sampel DNA. Satu seri probe akan berikatan dengan DNA sampel dan
menghasilkan pola yang berbeda antara satu individu dengan individu yang lain. Para ahli forensik
membandingkan profil DNA ini untuk menentukan apakah sampel dari tersangka cocok dengan sampel
pada bukti. Marker sendiri biasanya tidak bersifat khusus untuk setiap individu, jika dua sampel DNA
mirip pada empat atau lima daerah, sampel tersebut mungkin berasal dari individu yang sama. jika profil
sampel tidak sama, berarti seseorang tersebut bukan pemilik DNA yang ditemukan pada lokasi
kriminalitas. Jika pola yang ditemukan sama, tersangka tersebut kemungkinan memiliki DNA pada
sampel bukti. DNA yang biasa digunakan dalam tes adalah DNA mitokondria dan DNA inti sel. DNA
yang paling akurat untuk tes adalah DNA inti sel karena inti sel tidak bisa berubah sedangkan DNA
dalam mitokondria dapat berubah karena berasal dari garis keturunan ibu, yang dapat berubah seiring
dengan perkawinan keturunannya. Kasus-kasus kriminal, penggunaan kedua tes DNA di atas, bergantung
pada barang bukti apa yang ditemukan di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Seperti jika ditemukan
puntung rokok, maka yang diperiksa adalah DNA inti sel yang terdapat dalam epitel bibir karena ketika
rokok dihisap dalam mulut, epitel dalam bibir ada yang tertinggal di puntung rokok.Epitel ini masih
menggandung unsur DNA yang dapat dilacak.Misalnya dalam kasus korban ledakan bom, serpihan tubuh
para korban yang sulit dikenali diambil sekuens genetikanya.Bentuk sidik DNA berupa garis-garis yang
mirip seperti bar-code di kemasan makanan atau minuman. Membandingkan kode garis-garis DNA,
antara 30 sampai 100 sekuens rantai kode genetika, dengan DNA anggota keluarga terdekatnya, biasanya
ayah atau saudara kandungnya, maka identifikasi korban forensik atau kecelakaan yang hancur masih
dapat dilacak. Untuk kasus pemerkosaan diperiksa spermanya tetapi yang lebih utama adalah kepala
spermatozoanya yang terdapat DNA inti sel di dalamnya.Jika di TKP ditemukan satu helai rambut maka
sampel ini dapat diperiksa asal ada akarnya. Namun untuk DNA mitokondria tidak harus ada akar, cukup
potongan rambut karena diketahui bahwa pada ujung rambut terdapat DNA mitokondria sedangkan akar
rambut terdapat DNA inti sel. Teknologi DNA memiliki keunggulan mencolok dalam hal potensi
diskriminasinya dan sensitifitasnya maka tes sidik DNA menjadi pilihan dalam penyelidikan kasus-kasus
forensik dibanding teknologi konvensional seperti serologi dan elektroforesis.
Pemeriksaan Odontologi
Gigi merupakan suatu cara identifikasi yang dapat dipercaya, khususnya bila rekam dan foto gigi pada
waktu masih hidup yang pernah dibuat masih tersimpan dengan baik. Pemeriksaan gigi ini menjadi amat
penting apabila mayat sudah membusuk atau rusak.
Adapun dalam melaksanakan identifikasi manusia melalui gigi, kita dapatkan 2 kemungkinan:
Memperoleh informasi melalui data gigi dan mulut untuk membatasi atau menyempitkan identifikasi.
Informasi ini dapat diperoleh antara lain mengenai:

 Umur
 Jenis kelamin
 Ras
 Golongan darah
 Bentuk wajah
 DNA
Dengan adanya informasi mengenai perkiraan batas-batas umur korban misalnya, maka pencarian dapat
dibatasi pada data-data orang hilang yang berada di sekitar umur korban. Dengan demikian penyidikan
akan menjadi lebih terarah.
Mencari ciri-ciri yang merupakan tanda khusus pada korban tersebutDi sini dicatat ciri-ciri yang
diharapkan dapat menentukan identifikasi secara lebih akurat dari pada sekedar mencari informasi
tentang umur atau jenis kelamin. Ciri-ciridemikian antara lain:misalnya adanya gigi yang dibungkus
logam,gigi yang ompong atau patah, lubang pada bagian depanbiasanya dapat lebih mudah dikenali oleh
kenalan atau teman dekat ataukeluarga korban. Disamping ciri-ciri di atas, juga dapat
dilakukanpencocokan antara tengkorak korban dengan foto korban semasahidupnya. Metode
yang digunakan dikenal sebagai SuperimposedTechnique yaitu untuk membandingkan antara
tengkorak korban dengan foto semasa hidupnya.
Pemeriksaan Sidik jari
mengidentifikasi pada pola-pola garis sidik jari seseorang (garis papiler) yang secara genetik permanen
melekat pada seseorang.3 Pola atau gambaran sidik jari terdiri dari 3, yaitu arch, whorl, dan loop. Masing-
masing pola terbagi beberapa subgroup dan yang membedakan adalah pada keberadaan core dan delta
pada lukisan sidik jarinya. Populasi sidik jari terbesar adalah loop, lalu whorl dan paling sedikit arch.
Cara atau teknik pengambilan sidik jari mayat tergantung keadaan mayat yang bersangkutan. Masing-
masing keadaan membutuhkan cara atau teknik penanganan yang berbeda

 pada jenasah yang baru


 Pada jenazah dengan jari-jari yang bisa digerakkan :
- Telungkupkan mayat
- Jari seperti biasa

 Pada jenazah dengan jari-jari yang sulit digerakkan


- Gunting Formulir AK-23 pada batas kolom tangan kiri dan kanan tangan kiri dan kanan.
- Jepit potongan formulir tersebut pada kedua sisi sendok mayat bagian cekung dengan
kolom sidik jari menghadap ke luar (dapat juga pada bagian cembung).
- Bersihkan jari mayat dengan hati-hati, kemudian bubuhkan tinta dengan alat pembubuh
tinta atau dengan roller setelah tintanya diratakan
- Capkan jari mayat tersebut dengan menekannya pada kolom sidik jari dari formulir yang
terjepit di sendok mayat. Geser formulir menurut kolom sidik jarinya sehingga semua jari
terekam.
- Rekatkan hasil pengambilan tersebut pada sehelai formulir AK-23 dan rumuslah sidik jari
tersebut
 Mayat telah kaku dan mulai membusuk
- Tarik jari-jari mayat tersebut sehingga menjadi lurus; bila jari-jari sulit diluruskan,
sayatlah pada bagian dalam jari pada ruas kedua sehingga jari dapat diluruskan. Untuk
ibu jari sayatan antara ibu jari dan telunjuk.
- Ambilah sidik jari mayat tersebut dengan menggunakan sendok mayat seperti dijelaskan
pada di atas
- Ujung-ujung jari mayat sudah lembek (belum rusak tetapi sudah mengkerut):
- Suntiklah jari tersebut dengan cairan pengembang (tissue builder) atau air panas
sehingga kulit jari mengembang. Jarum suntik ditusuk pada ujung jari atau pada bagian
dalam jari antara ruas pertama dan kedua.
- Ambil sidik jari mayat tersebut denga menggunakan sendok mayat seperti dijelaskan di
atas.
 Mayat mulai membusuk/awal dekomposisi (kulit ari mulai terlepas):
- Periksa kulit jari tersebut apakah masih baik atau ada bagian yang rusak. Bersihkan kulit
jari tersebut dengan hati-hati.

- Kulit dipasang kembali pada jari mayat atau dimasukkan dalam jari terugas sehingga
pengambilan dapat dilakukan.
 Jika kulit jari sudah terlepas sama sekali:
- Kulit ari diolesi tinta
- Kulit jari yang bertinta tersebut dijepit diantara 2 (dua) lembar kaca kemudian di
potret/direproduksi.
- Tempelkan potret sidik jari tersebut pada formulir AK-23 sesuai kolomnya dan rumuslah
sidik jari mayat tersebut.
Setelah dilakukan pengambilan sidik jari, maka dilakukan perbandingan antara sidik jari yang
dicurigai dan sidik jari yang diketahui dengan melihat pola sidik jari dan galton detail yang ada.
Galton detail atau karakteristik adalah garis-garis papiler yang terdapat pada tapak jari, telapak
tangan dan telapa kaki yang bentuknya berupa garis membelah, garis pendek, garis
berhenti,pulau, jembatan, taji dan titik.
2.CARA MENGUMPULKAN DATA ANTEMORTEM

Menengok Cara Identifikasi Korban di Posko Antemortem RS Polri

Suara.com - Post Antemortem Rumah Sakit Polri Kramat Jati bersiaga selama
24 jam untuk menampung data-data yang diberikan keluarga korban insiden
jatuhnya pesawat Lion Air  JT 610
Ketua Tim Antemortem RS Polri  Komisaris Besar Saljiayana menjelaskan,
tahapan yang awal akan dilakukan di posko antemortem  yakni akan
menanyakan kepada keluarga seputar jenis kelamin dan profil korban yang
dinyatakan hilang.
"Kita menerima keluaraga akan diperiksa dan apa hubungan dengan
penumpang (korban). kemudian dari pelapor itu, kita ketahui alamat dan kita
tanyakan jenis kelamin, umur dan lain-lain yang sangat umum. Itu juga sangat
penting karena data itu akan dibawa ke rekonsisiliasi," kata Saljiayana di
Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (6/11/2018).

Menurutnya, keluarga diminta untuk membawa data antemortem yang akan


diperlukan di antaranya tanda-tanda yang melekat sebagai ciri khas korban di
antaranya, tato, tahi lalat dan rekam gigi korban.

"Kita minta keluaraga korban untuk membawa ijazah yang ada sidik jari.
Kemudian data gigi, data ini kita telusuri dengan menanyakan apakah yang
bersangkutan pernah ke dokter gigi atau tidak," kata dia.

Setelah itu, pihak RS Polri akan mengambil DNA sampel dari keluarga korban.
DNA yang diambil berasal dari salah satu anggota kerga yang satu garis
keturunan dengan korban.

Setelah proses DNA selesai, masuklah kedalam proses wawancara. Dalam


proses wawancara ini, salah satu keluarga korban akan ditanyakan terkait ciri
fisik korban.

"Pewawancara akan menanyakan ciri-ciri medis korban. Itu semua sedetail-


detailnya akan menceritakan. kemudian ciri-ciri di wajah akan ditanya sepeti
tahi lalat, atau tanda lahir atau bahkan tato, yang keluaraga dekat pasti tahu
dengan itu," rincinya.
Ciri fisik korban saat terakhir kali juga ditanyakan oleh pihak Rumah Sakit
Polri. Diantaranya pakaian yang dipakai seperti baju, sepatu dan lainya.
Namun jika saat itu keluarga tidak bisa menjelaskan ciri fisik, pihaknya
menyediakan call center untuk wawancara lebih detail.

"Kemudian kita seleksi berapa jumlah penumpang perempuan, laki-laki atau


anak-anak. Itu yang kita dalami untuk pertandingan sidang rekonsiliasi,"
jelasnya.

Data postmortem dan antemortem  akan dicocokan dalam sidang rekonsiliasi.


Dari hasil rekonsiliasi tersebutlah data jenazah sudah bisa teridentifikasi.

"Kalau ada pihak keluaraga yang kerap dihubungi berarti ini sudah mendekati
(hasil Identifikasi)," pungkasnya.

Sejauh berjalannya proses identifikasi jenazah, keluarga selalu responsif


ketika diminta untuk memberikan data, sampel DNA dan sebagainya. Semua
pihak keluarga pun selalu berkomunikasi RS Polri terkait kelanjutan
pemeriksaan tersebut.

"Dari semua keluarga tidak ada yang tidak bisa dihubungi. Bahakan lebih
proaktif untuk menanyakan sudah sampai masa proses yang dilakuakan,"
bebernya.

Prosedur:
Fase ketiga dari DVI adalah fase antemortem atau fase pencarian data korban saat hidup. Dalam rangka
mengumpulkan data orang yang hilang untuk dicocokkan dengan data korban, proses pengumpulan data
antemortem perlu dilakukan. Proses ini dapat melibatkan banyak dimensi kompleks dimana yang
termasuk dalam tugas ini seperti mewawancarai keluarga atau teman untuk mendapatkan fakta-fakta yang
cukup dari orang-orang tercinta korban. Disamping tugas yang sulit dan menantang ini, representatif
dalam fase ini perlu mengkoordinasikan aktivitas mereka dengan badan-badan lainnya, yurisdiksi atau
negara, untuk mengamankan data ante-mortem dari lokasi terpencil. (Interpol, 2014)

Awalnya fase antemortem akan memfokuskan aktivitasnya pada pengembangan daftar orang hilang yang
akan dibuat dari laporan-laporan dari keluarga yang atau melalui mekanisme lain seperti manifes
penumpang. Mengikuti laporan orang hilang tersebut, tim wawancara dan/atau investigasi akan dibentuk.
Fungsi mereka termasuk mengumpulkan deskripsi detil dari setiap orang hilang/korban potensial,
termasuk detil spesifik seperti perhiasan, baju, atau benda-benda lain seperti rekam medis dan rekam gigi,
radiografi, foto, DNA, sidik jari dan hal-hal identifikasi khusus lainnya. Informasi ini dicatat pada
formulir antemortem Interpol DVI. (Interpol, 2014)
Setelah terkumpul data antemortem yang cukup dan terpercaya pada orang hilang tertentu, data terkait
akan diperiksa dengan cermat dan jika batas yang diperlukan dalam mencocokkan data postmortem, data
kemudian ditransfer ke Pusat Rekonsiliasi untuk ditinjau proses identifikasinya. (Interpol, 2014)

Agar proses identifikasi mencakup seluruh cakupan bencana, sangat krusial untuk sesegera mungkin
mengumpulkan, merekam, dan memproses informasi mengenai korban yang terluka, hilang atau
meninggal, begitu pula dengan individu yang terpengaruh oleh bencana ini. Hal ini menjadi lebih penting
lagi jika bencana tersebut dapat meluas. Dengan melakukan ini, proses pengumpulan
data antemortem (AM) dapat dimulai dengan cepat dan cukup diperlengkapi. (Interpol, 2014)

Tim AM bersama dengan rantai komando pada awalnya ditugaskan untuk mengumpulkan dan mencatat
semua informasi yang berkaitan dengan individu yang mungkin dianggap sebagai korban bencana
potensial. Pengalaman yang diperoleh dari operasi responsi bencana sebelumnya telah menunjukkan
bahwa laporan jumlah terduga korban bervariasi dan seringkali melampaui jumlah korban yang
sesungguhnya. Hal ini penting dikarenakan langkah selanjutnya mungkin dilakukan berdasarkan data
terduga korban untuk tujuan verifikasi atau menyangkal jumlah total orang hilang yang sebenarnya.
Perbandingan yang berlanjut dengan daftar orang selamat yang terluka maupun tidak, dapat mengurangi
jumlah terduga korban. Capaian dari pendekatan ini ada dua, yaitu untuk memastikan kasus sebenarnya
dari orang hilang tidak terabaikan dan untuk mendata orang hilang yang sebenarnya untuk memfasilitasi
pengumpulan data AM dari keluarga berdasarkan daftar korban. (Interpol, 2014)

A. Sistem Manajemen Dokumentasi

Semua data yang diperoleh oleh tim AM harus didokumentasikan. Dengan cara ini, memungkinkan untuk
menentukan data apa yang telah diperoleh oleh tim mana, dari keluarga atau teman yang mana, dan lain-
lain. Data personal yang sesuai, harus dipersiapkan untuk setiap potensi orang hilang untuk digunakan
dalam mendokumentasikan semua informasi yang masuk dan keluar terkait dengan individu yang
dipertanyakan. Data personal ini harus memiliki lembar pembungkus dengan checklist semua penilaian
yang dibutuhkan untuk memperoleh data AM. Pada checklist ini, tim AM yang ditunjuk tetap menjaga
data progresif dari langkah yang telah dilakukan, langkah yang akan diambil, dan informasi yang tidak
bisa diperoleh disamping usaha investigatif intensif. (Interpol, 2014)

B. Pengumpulan Data Antemortem

Tim AM harus memastikan bahwa semua data identifikasi korban yang dikumpulkan sesuai dengan
kebutuhan yang terkandung dalam Formulir Antemortem INTERPOL DVI (kuning). Hal ini juga penting
untuk memastikan bahwa data AM dikumpulkan oleh ahli yang telah ditunjuk selengkap mungkin. Data
AM spesifik yang tidak tersedia harus dicatat juga. Untuk tujuan pengumpulan data identifikasi primer,
tempat tinggal dan tempat kerja dari setiap orang hilang, juga area lainnya dimana orang terduga hilang
berada, harus diperlakukan sebagai tempat kejadian perkara dan dilakukan pencarian bukti yang
komprehensif dan lengkap. Jaminan kualitas langkah harus dipastikan untuk mempertahankan standar
dari data AM yang dibutuhkan untuk perbandingan. (Interpol, 2014)

C. Wawancara Pengumpulan Data Antemortem


Personel pengumpul data AM harus sudah berpengalaman dalam mendapatkan laporan detil dan harus
mempunyai wawasan yang seksama dari rancangan dan tujuan formulir terkait. Anggota polisi yang tidak
akrab dengan Formulir kuning Antemortem INTERPOL DVI dibutuhkan pengarahan yang
menyeluruh. Dimanapun jika memungkinkan, wawancara personal (tatap muka) harus dilakukan.
Walaupun demikian, terdapat keadaan-keadaan pengecualian yang mungkin butuh wawancara via
telepon. Lokasi dan waktu wawancara tergantung pada lokasi keluarga orang hilang berada, begitu pula
dengan fasilitas yang tersedia. (Interpol, 2014)

3. CARA MENGUMPULKAN DATA POST MORTEM


Data Postmortem
Pengumpulan data post-mortem atau data yang diperoleh paska kematian dilakukan oleh post-mortem
unit yang diberi wewenang oleh organisasi yang memimpin komando DVI. Pada fase ini dilakukan
berbagai pemeriksaan yang kesemuanya dilakukan untuk memperoleh dan mencatat data selengkap –
lengkapnya mengenai korban.
Prinsipnya adalah pemeriksaan identitas seseorang memerlukan berbagai metode dari yang sederhana
sampai yang rumit. a. Metode sederhana

• Cara visual, dapat bermanfaat bila kondisi mayat masih baik, cara ini mudah karena identitas
dikenal melalui penampakan luar baik berupa profil tubuh atau muka. Cara ini tidak dapat
diterapkan bila mayat telah busuk, terbakar, mutilasi serta harus mempertimbangkan factor
psikologi keluarga korban (sedang berduka, stress, sedih, dll)

• Melalui kepemilikan (property) identititas cukup dapat dipercaya terutama bila kepemilikan
tersebut (pakaian, perhiasan, surat jati diri) masih melekat pada tubuh korban.

• Dokumentasi, foto diri, foto keluarga, foto sekolah, KTP atau SIM dan lain sebagainya.

b. Metode ilmiah,
Prosedur identifikasi korban terdiri dari 4 utama tahap, yaitu:
• penandaan dan mengantongi tubuh,
• sidik jari,
• patologi forensic,
• kedokteran gigi forensik. Mayat-mayat itu, tentu saja, didinginkan baik sebelum dan setelah
prosedur, dan kemudian dibalsemkan setalah itu dipulangkan.
Body Tagging and Bagging
Pelabelan tubuh masing-masing dengan nomor identifikasi yang unik, diikuti oleh penempatan di dalam
kantong kedap air tubuh dilakukan oleh tim DIV. DVI merancang system pelabelan yang terdiri urutan
angka berikut: telepon kode negara internasional-situs nomor - (5digit) tubuh nomor (misalnya 65-1-
00123) .

Fingerprinting
Sidik jari dari tubuh yang sangat membusuk atau mengalami lebam mayat( post mortem), yang hampir
selalu menunjukkan deskuamasi (mengelupas) kulit yang meluas, menimbulkan tantangan yang cukup
untuk petugas polisi yang ditugaskan untuk tugas itu. Identifikasi fingerprinting mengunakan "teknik
bubuk", yang memerlukan aplikasi hati-hati dan lembut, dimana prosesnya menabur bedak kering ke
ujung jari dengan kuas, disertai permukanan dari kulit longgar di bagian distal dari jari-jari yang berisi
lipatan kulit yang unik, teknik ini bekerja dengan cukup sukses

Forensic Pathology
Setiap tubuh berlabel dan sidik jarinya diperiksa oleh tim 4-anggota DVI, yang terdiri dari ahli patologi
forensik, seorang teknisi anatomis, seorang penulis (biasanya seorang perwira polisi atau penyidik
forensik kematian), dan seorang fotografer (biasanya adegan-of-kejahatan atau petugas FMB). Dalam
bencana massal hebat, tujuan dari pemeriksaan post-mortem (AM) adalah untuk mendapatkan petunjuk
yang mungkin menyebabkan identifikasi positif dari para korban yang meninggal, bukan untuk
menetapkan penyebab kematian (yang sebagian besar akan terjadi karena tenggelam atau beberapa luka-
luka yang ditimbulkan oleh bencana alam). Sebuah prosedur yang disederhanakan karena itu didirikan
untuk mempercepat pemeriksaan apa yang ribuan tubuh yang sangat busuk. Prosedur ini terdiri langkah-
langkah berikut: a) Tubuh dikirm ke kamar mayat oleh bagian sidik jari.

b) Penulis menerima dan menandatangani formulir pelacakan.


c) Ahli patologi dan juru tulis mengkomfirmasikan nomor tubuh, menggunakan formulir PM merah
muda DVI (seperti yang ditentukan oleh Interpol).

d) Nomor tubuh difoto.


e) Teknisi mengangkat dan mencuci pakaian korban(jika ada) untuk menampilkan masingmasing merek,
ukuran, warna dan desain, pakaian itu kemudian difoto dan dicatat.
f) Semua efek perhiasan dicuci, difoto dengan tubuh tempat terpasangnya perhiasan, dijelaskan dan
direkam; mereka kemudian ditempatkan dalam kantong tertutup yang, pada gilirannya, ditempatkan
dalam kantong mayat.

g) Sebuah pemeriksaan luar tubuh dilakukan antara lain untuk menentukan jenis kelamin, tinggi, usia
diperkirakan (kebanyakan mustahil), melihat tato, bekas luka (trauma dan terapi), fisik kelainan dan
karakteristik lainnya dicatat.
h) Membuat sayatan pada garis tengah untuk memeriksa ada/tidaknya kantong empedu, usus buntu,
genitalia interna wanita, dan bukti visum lain. Dalam hal ini,

i) Penulis pertama ditemui kasus laparotomi sebelumnya, laparoskopi kolesistektomi dan histerektomi
total halaman dan bilateral salpingo-ooforektomi. Kadang-kadang, degradsi postmortem yang cepat
menjadikan sulit untuk menetapkan adanya tindak kekerasan, meskipun bekas luka apendisektomi
akan membantu. Dibuat sayatan lain, di mana diperlukan, misalnya, di mana ada bekas luka
sternotomy garis tengah, yang menunjukkan sebelumnya bedah kardiotoraks, atau bekas luka bedah
terkait dengan pinggul total atau operasi penggantian lutut.

j) Bukti dari setiap penyakit lain diidentifikasi, dicari dan dicatat.


k) Pembersihan mandibula untuk memfasilitasi selanjutnya pemeriksaan gigi forensik. Tubuh akhirnya
disampaikan ke bagian gigi.

Forensic Dentistry
Ilmu gigi forensik terdiri 2 bagian: pemeriksaan gigi dan radiologi gigi. Tim dari odontologists diawasi
oleh seorang odontologist senior ("dokter gigi super"), bekerja di bagian ini. Untuk memudahkan
pemeriksaan gigi. Untuk memudahkan pemerikasaan dilakukan insisi bilateral dari leher anterior atas ke
bagian belakang telinga. Kulit dan jaringan di bawahnya kemudian terdorong ke atas seluruh wajah untuk
mengekspos rahang atas dan rahang bawah.

Pada bagian pemeriksaan gigi, 1 dokter gigi (pemeriksa) memeriksa gigi tetap, sementara yang lain (juru
tulis) mendokumentasikan hasil. Jumlah tim bisa sampai dengan 4 orang yang bisa bekerja di bagian ini
pada waktu itu.
Pertama gigi-gigi disikat bersih untuk dokumentasi fotografi. Foto Three Polaroid diambil, yang terdiri
dari pandangan frontal gigi anterior, dan pandangan oklusal rahang atas dan bawah. Foto-foto ini diberi
label dengan nomor tubuh.
Tim penguji-juru tulis gigi kemudian mulai untuk menulis catatan post-mortem gigi. Dokter gigi
melakukan pemeriksaan gigi dan melaporkannya dengan berseru sedikit keras untuk setiap jenis gigi,
sedangkan juru tulis dokter gigi memetakan mereka dalam bentuk DVI merah muda menggunakan
interpol dental charting system.
Interpol dental charting system dipekerjakan oleh World Dental Federation (FDI) yang memberikan
penomoran gigi, yang membagi menjadi 4 kuadran dentitions, nomor 1 sampai 4. Kuadran kanan atas
adalah 1, 2 kiri atas, kiri bawah dan kanan bawah 3, 4. Gigi diberi nomor dari garis tengah ke posterior,
misalnya, gigi seri tengah adalah # 1, # 3 dan taring molar ketiga # 8. Gigi dilambangkan dengan kode 2-
digit (kuadran dan gigi). Rincian sistem post-mortem charting Interpol dirangkum dalam Lampiran.
Selama pemeriksaan gigi, gigi-gigi tersebut akan dicocokan dan dikembalikan atau disambung dengan
saluran akarnya untuk diidentifikasi untuk penyelidikan lebih lanjut mengunakan radiografi. Gigi yang
tak disambung ke akarnya kemudian dipilih untuk ekstraksi. Gigi-gigi ini akan menyediakan sumber
DNA genom untuk profil DNA. Gigi yang dipilih untuk di ekstraksi adalah gigi geraham, karena pulp
mereka lebih besar, gigi utuh lainnya juga bisa dipilih. Jika gigi seperti itu tidak tersedia, seperti pada
orang tua atau bayi, segmen poros tulang femur akan digunakan walaupun ada gangguan patologis
ataupun ada gangguan nonpotologis.
Pada bagian radiologi gigi, odontologists juga bekerja berpasangan. Satu dokter gigi akan melakukan
prosedur x-ray gigi tetap, sementara yang lain, setiap film berlabel terkena dengan jumlah tubuh sebelum
mengirimkan mereka untuk diproses. Dua sayap gigitan radiografi, untuk setiap sisi rahang, dan
radiografi tambahan lainnya diambil.
Setelah film telah selesai diproses, mereka diperiksa untuk kualitas. Setiap informasi lebih lanjut
mengungkapkan dengan radiografi akan direkam dalam bentuk DVI merah muda. Jika perlu, radiografi
diulang. Setelah radiograf dianggap memuaskan, gigi yang diidentifikasi sebelumnya untuk profil DNA
akan diekstraksi, ditempatkan dalam wadah plastik steril, dan dikirim ke area pengumpulan DNA. Para,
dokter gigi, akan melaksanakan pemeriksaan final dari dokumen dan radiografi, sebelum mengembalikan
tubuh kedalam wadah pendingin.
Meskipun ilmu gigi forensik adalah proses melelahkan dan memakan waktu, itu menghasilkan informasi
yang mengarah pada identifikasi yang relatif cepat dari sejumlah korban di tahap awal proses DVI.
Data – data hasil pemeriksaan tersebut kemudian digolongkan ke dalam data primer dan data sekunder
sebagai berikut :
· Primer : Sidik Jari, Profil Gigi, DNA.
· Secondary : Visual, Fotografi, Properti Jenazah, Medik-Antropologi (Tinggi Badan, Ras,dll).
Selain mengumpulkan data paska kematian, pada fase ini juga ekaligus dilakukan tindakan untuk
mencegah perubahan – perubahan paska kematian pada jenazah, misalnya dengan meletakkan jenazah
pada lingkungan dingin untuk memperlambat pembusukan.

4. BITE MARK
A. Definisi
Bite mark merupakan pola dalam suatu objek atau jaringan dengan struktur gigi hewan atau
manusia. Menggigit tanda lebih lanjut digambarkan sebagai cedera melingkar atau oval bermotif
terdiri dua menentang U-berbentuk lengkungan di pangkalan mereka dipisahkan oleh ruang terbuka
bahwa, dalam kehidupan, mewakili tenggorokan atau bagian posterior mulut. Bersama tepi luar atau
pinggiran tayangan dari lengkungan biasanya ada serangkaian lecet, atau memar, dengan atau tanpa
laserasi, yang mencerminkan ukuran, bentuk dan susunan karakteristik kelas insisal atau oklusal
permukaan gigi yang membuat menandai. Variasi akan ditemukan dalam banyak bekas gigitan. Pusat
ecchymosis (atau kontusio), ketika ditemukan, dapat disebabkan oleh tekanan pada gigi, dengan
distorsi, kebocoran, atau pecahnya kecil pembuluh kapiler dan sekarang. Hal ini juga dapat disebabkan
oleh aplikasi tekanan negatif yang disebabkan oleh menghisap atau tekanan negatif yang dihasilkan
oleh penggigit pada saat menggigit. Linear lecet, striations, dan kontusio dapat disebabkan oleh
pergerakan gigi atas kulit, atau dengan pencetakan bagian dalam permukaan gigi terhadap kulit (tanda
bahasa).ini telah juga disebut tarik tanda. Kadang-kadang pola gigitan ganda terlihat, di mana dua
gigitan dilakukan dengan cepat di lokasi yang sama atau slip kulit dan gigi cepat kontak kedua kalinya.
Pola gigitan yang paling sering terdapat pada buah buahan yaitu buah apel,pear,dan
bengkuang yang sangat terkenal dengan istilah Apple Bite mark. Pola gigitan yang ditimbulkan oleh
hewan berbeda dengan manusia oleh karena perbedaan morfologi dan anatomi, gigi geligi, serta
bentuk rahangnya.

B. Kegunaan Analisis Bite mark


Dalam kasus sehari-hari penggunaan analisis bite mark kerapkali digunakan untuk
mengidentifikasi pelaku khususnya dalam tindakan kriminal.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Bite mark

Pola gigitan ialah bekas gigitan dari pelaku yang tertera pada kulit korban dalam bentuk
luka, jaringan kulit maupun jaringan ikat di bawah kulit sebagai akibat dari pola permukaan gigitan
dari gigi-gigi pelaku dengan perkataan lain pola gigitan merupakan suatu produksi dari gigi-gigi
pelaku melalui kulit korban (Eckert, 2008).
Menurut Levine (1977), pola gigitan baik pola permukaan kunyah maupun permukaan hasil
gigitan yang mengakibatkan putusnya jaringan kulit dan dibawahnya baik pada jaringan tubuh
manusia maupun pada buah-buahan tertentu misalnya buah apel dapat ditemukan baik korban hidup
maupun yang sudah meninggal.

Analisis pola gigitan pada buah hanyalah buah tertentu saja misalnya pada apel yang dikenal
dengan Apple Bite mark, dapat pula dengan buah pear dan bengkuang. Pola gigitan ini adalah
penapakan dari hasil gigtan yang putus akibat gigi atas yang beradu dengan gigi bawah, sehingga
terlihat hasil dari gigitan permukaan bukalis dari gigi atas dengan gigi bawah (Lukman, 2006).
Menurut Bowers (2004), analisis pola gigitan berdasarkan pada dua konsep, yakni:
1. Karakteristik gigi anterior pada gigitan setiap individu unik atau khas.
2. Keunikan tersebut dapat tercatat pada luka yang ditinggalkan.
Gigi-geligi setiap manusia berbeda antara satu dengan yang lain karena masing-masing
memiliki ciri khas. Ciri khas ini dapat berupa ada tidaknya malposisi, bentuk lengkung gigi,
lebar/besar gigi, jumlah gigi, dan lain sebagainya Pola gigitan yang terbentuk pada objek
dibandingkan dengan kontur, bentuk, ukuran, dan susunan gigi yang ada pada model gigi..
Pemeriksaan pola gigitan juga dapat dilakukan analisis terhadap: gigi yang hilang, ruang antar gigi,
rotasi gigi, adanya kondisi spesifik seperti gigi supernumerari, fraktur. Teknik analisis ini dapat
dimanfaatkan dalam bidang kedokteran gigi forensik. Analisis dan perbandingan bitemark
merupakan hal yang rumit. (Stimson, 1997; Van der Velden et al, 2006).
Untuk membedakan gigitan dewasa dengan anak di bawah 8 tahun harus diingat bahwa jarak
intercaninus (jarak antara kedua gigi taring kiri dan kanan) lebih besar dari 3 cm pada dewasa atau
anak yang sudah dewasa dan kurang dari 3 cm pada anak dengan gigi susu. Perbedaan jarak
intercaninus di rahang atas baik pada orang dewasa dan anak-anak adalah 4.4 mm. Sedangkan
perbedaan jarak tersebut pada rahang bawah pada keduanya adalah 2.5 mm (Brogon, 1998).

B. Keuntungan Gigi Sebagai Objek Pemeriksaan


Keuntungan gigi sebagai objek pemeriksaan antara lain:
a. Gigi-geligi merupakan rangkaian lengkungan secara anatomis, antropologis dan morfologis
mempunyai letak yang terlindung dari otot-otot bibir dan pipi.
b. Gigi-geligi sukar untuk membusuk kecuali gigi tersebut sudah mengalami
c. nekrotik atau ganggren, meskipun dikubur, umumnya organ-organ tubuh lain bahkan tulang telah
hancur tetapi gigi tidak (masih utuh).
d. Gigi-geligi di dunia ini tidak ada yang sama karena menurut SIMS dan Furnes bahwa gigi manusia
kemungkinan sama ada alh satu dibanding dua milyar.
e. Gigi-geligi mempunyai ciri-ciri khusus apabila ciri-ciri gigi tersebut rusak atau berubah maka sesuai
dengan pekerjaan dan kebiasaan menggunakan gigi bahkan setiap ras mempunyai ciri yang berbeda.
f. Gigi-geligi tahan asam keras.
g. Gigi-geligi tahan panas, apabila terbakar sampai dengan suhu 400 oC gigi tidak akan hancur. Gigi
menjadi abu sekitar suhu lebih dari 649oC. Apabila gigi tersebut ditambal menggunakan amalgam
maka bila terbakar akan menjadi abu sekitar di atas 871oC, sedangkan bila gigi tersebut memakai
mahkota logam atau inlay alloy emas maka bila terbakar akan menjadi abu sekitar suhu yang sangat
tinggi.
h. Gigi-geligi dan tulang rahang pada rontgenogramnya dapat dilihat kadangkadang terdapat anomali
dari gigi dan komposisi tulang rahang yang khas. 8. Apabila korban telah dilakukan pencabutan gigi
umumnya ia memakia gigi palsu dengan brbagai macam model gigi palsu dan gigi palsu tersebut
dapat ditelusuri atau diidentifikasi.
i. Gigi-geligi merupakan sarana terakhir di dalam identifikasi apabila sarana lain atau organ tubuh lain
tidak ditemukan.

C. Karakteristik dan Klasifikasi Bite mark


Menurut Bowers (2004), karakteristik fisik pola catatan gigitan adalah:
1. Lebar gigi
Merupakan jarak mesial-distal terlebar dari suatu gigi.
2. Tebal gigi
Adalah jarak dari labial ke lingual suatu gigi.
3. Lebar rahang
Ialah jarak pada rahang yang sama dari satu sisi ke sisi lainnya (antartonjol).

Karakteristik gigi pada catatan gigitan:


1. Gigi anterior adalah gigi yang umumnya tercatat pada pola catatan gigitan.
 Gigi anterior rahang: Incisivus sentral lebar, incisivus lateral lebih sempit, kaninus berbentuk
konus.
 Gigi anterior rahang bawah: Lebar incisivus sentral dan incisivus lateral hampir sama, kaninus
berbentuk konus.
2. Rahang atas lebih lebar dibandingkan rahang bawah.
3. Jumlah gigi pada bekas gigitan biasanya berjumlah 12 sebanyak jumlah gigi anterior kedua
rahang (6 anterior rahang atas dan 6 anterior rahang bawah).

Lukman (2006) mengatakan bahwa karakteristik catatan gigitan meliputi:


1. Bentuk empat gigi anterior rahang atas adalah segi empat dengan gigi sentral memiliki bentuk
yang lebih lebar.
2. Bentuk kaninus atas adalah bulat atau oval.
3. Bentuk gigi anterior rahang bawah adalah segi empat dengan lebar gigi yang hampir sama.
4. Bentuk kaninus bawah adalah bulat atau oval.
5. Adanya jarak kemungkinan disebabkan oleh:
 Pelaku tidak memiliki gigi.
 Gigi lebih pendek dari ukuran normal.
 Terdapat benda yang menghalangi gigitan.
 Obyek yang digigit bergerak.

Karakteristik pola gigitan dibagi menjadi dua kelompok besar yakni:


a. Karakteristik kelompok
Karakteristik kelompok adalah fitur, pola, atau sifat yang biasanya terlihat, atau
mencerminkan diberikan kelompok. Temuan biasa kotak persegi panjang atau kecil seperti bentuk
atau linier memar di bagian tengah bekas gigitan merupakan karakteristik kelompok manusia Gigi
atas akan menciptakan pola-pola yang lebih besar, karena ukuran mereka. Nilai ini adalah bahwa
ketika terlihat di foto, tayangan atau pada kulit individu yang hidup atau meninggal mereka
memungkinkan kita untuk mengidentifikasi kelompok (gigi sini atas atau bawah) dari mana mereka
berasal.

b. Karakteristik individu
Karakteristik individu adalah fitur, pola, atau sifat yang merupakan variasi dari diharapkan
menemukan dalam sebuah kelompok tertentu. Contoh ini akan menjadi diputar gigi, atau mungkin
gigi cacat, rusak, atau pecah yang akan membantu untuk membedakan antara dua dentitions berbeda
untuk membantu dalam menentukan gigi yang menyebabkan cedera atau tanda gigitan. Ini adalah
penjumlahan dari individu karakteristik yang menentukan, ketika mereka hadir dalam bekas gigitan,
gigi yang paling cocok ini tanda yang unik atau berbeda ketika hadir di gigi seorang tersangka, jika
dibandingkan dengan tersangka lain dalam kasus ini.

D. Klasifikasi Pola Gigitan


Pola gigitan mempunyai derajat perlakuan permukaan sesuai dengan kerasnya gigitan, pada pola
gigitan manusia terdapat 6 kelas (Lukman, 2006), yaitu:
a. Kelas I : pola gigitan terdapat jarak dari gigi incisivus dan kaninus.
b. Kelas II : menyerupai pola gigitan kelas I tetapi terlihat pola gigitan cusp bukal dan palatal
maupun cusp bukal dan cusp lingual gigi P1, tetapi derajat pola gigitannya masih sedikit.

c. Kelas III : derajat luka lebih parah dari kelas II, yaitu permukaan gigit incisivus telah menyatu
akan tetapi dalamnya luka gigitan mempunyai derajat lebih parah dari pola gigitan kelas II.

d. Kelas IV : terdapat luka pada kulit dan otot di bawah kulit yang sedikit terlepas atau rupture
sehingga terlihat pola gigitannya irreguler.
e. Kelas V : terlihat luka yang menyatu pola gigitan incisivus, kaninus, dan premolar baik pada
rahang atas maupun rahang bawah.

f. Kelas VI : memperlihatkan luka dari seluruh gigitan dari gigi rahang atas dan bawah, serta
jaringan kulit dan otot terlepas sesuai dengan kekerasan oklusi dan pembukaan mulut

III. CARA KERJA ANALISA BITE MARK

A. Cara Kerja
Studi analisis bite mark ini dilakukan oleh subkelompok yang terdiri dari empat orang
anggota, dengan tahap-tahap kerja sebagai berikut :
a. Model gigi rahang atas (RA) dan rahang bawah (RB) masing-masing anggota dikumpulkan
terkebih dahulu pada pembimbing.
b. Salah satu anggota kelompok melakukan gigitan (gigitan dangkal dan gigitan dalam) pada apel
hijau yang telah disediakan.
c. Hasil gigitan dicetak dengan alginate dengan perluasan tepi area gigitan 1 cm. cetakan kemudian
diisi gips stone.
d. Identifikasi pola gigitan dan cirri spesifik gigi-gigi yang terlihat pada cetakan bite mark.
e. Dilakukan penapakan (tracing) pada cetakan bite mark menggunakan plastic transparan dan
kemudian dihitung lebar mesiodistal gigi yang teridentifikasi pada bite mark.
f. Membandingkan ciri spesifik yang telah diidentifikasi pada cetakan bite mark dengan model gigi
RA dan RB milik masing-masing anggota kelompok.
g. Menentukan satu anggota kelompok sebagai pelaku gigitan sesuai dengan hasil perbandingan
yang telah dilakukan.
h. Dilakukan hasil perhitungan lebar mesiodistal dari model gigi orang yang dianggap sebagai
pelaku gigitan.
i. Membandingkan hasil pengukuran lebar mesiodistal gigi dari hasil penapakan bite mark dan dari
model gigi, kemudian distorsi yang diperoleh dicatat dalam tabel.

B. Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan yaitu :
a. Dua buah apel hijau untuk satu kelompok
b. Model gigi RA dan RB milik masing – masing anggota kelompok
c. Spatula, rubber bowl, alginate, dan gips stone
d. Wadah untuk mencetak apel
e. Plastic transparan dan spidol marker
f. Plat kaca
g. Sliding caliper
IV PEMBAHASAN

A. Analisis Bite mark


− Pada bite mark gigitan dangkal RA terdapat 4 catatan gigitan sempurna, yaitu gigi 2 1 1 2
sedangkan pada gigitan dalam RA terdapat 5 catatan gigitan sempurna, yaitu gigi 3 2 1 1 2 dan 1
catatan gigitan tidak sempurna, yaitu gigi 3.
− Pada bite mark gigitan dangkal RB terdapat 6 catatan gigitan sempurna, yaitu gigi 3 2 1 1 2 3
sedangkan pada gigitan dalam RB terdapat 6 catatan gigitan sempurna, yaitu gigi 3 2 1 1 2 3.
− Pada gigitan dalam cukup sulit membedakan antara gigi yang satu dengan yang lainnya karena
bite mark yang terbentuk kurang terlihat dengan jelas.
− Gigitan dangkal lebih mudah diidentifikasi karena batasnya masih cukup terlihat, hal ini mungkin
disebabkan oleh kulit apel yang belum terlalu rusak.
− Cetakan gigitan RA pada gigitan dalam terlihat sama kurang jelasnya dengan RB. Hal ini
kemungkinan disebabkan oleh tekanan gigitan yang kurang seimbang antara gigi-gigi RA dengan
gigi-gigi RB. Batas incisal gigi RA dan RB tampak sedikit kurang jelas.
− Pada bite mark RA, pada gigitan dalam, tampak adanya daerah gigitan yang lebih dalam pada sisi
distal gigi 1 . Gigi-gigi RA tidak tampak berjejal, disertai 1 gigi yang malposisi.
− Pada bite mark RA, pada gigitan dangkal, tampak adanya malposisi pada gigi 1, di mana gigi
tersebut tampak tidak berada di luar lengkung gigi RA. Gigi 1 tampak distolabiotorsiversi.
− Pada bite mark RB, pada gigitan dalam, tampak daerah gigitan yang sama dalamnya pada gigi
21│12.
− ‌Pada bite mark RB, pada gigitan dangkal, tampak daerah gigitan yang sama jelas.