Anda di halaman 1dari 84

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN


KESEHATAN MASYARAKAT PERKOTAAN PADA
PASIEN SPINA BIFIDA DI RUANG BEDAH ANAK LANTAI
III UTARA RSUP FATMAWATI

KARYA ILMIAH AKHIR NERS

DEWANTI
0806456991

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM PROFESI
KEPERAWATAN DEPOK
JULI 2013
UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN


KESEHATAN MASYARAKAT PERKOTAAN PADA
PASIEN SPINA BIFIDA DI RUANG BEDAH ANAK LANTAI
III UTARA RSUP FATMAWATI

KARYA ILMIAH AKHIR NERS

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ners

DEWANTI
0806456991

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM PROFESI KEPERAWATAN
DEPOK
JULI 2013
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Karya ilmiah akhir ini adalah hasil karya saya sendiri,

dan semua sumber baik yang= dikutip maupun dirujuk

telah saya nyatakan denq=an benar.

: 08

Tanda Ta

Tan li 2012

11
HALAMAN PENGESAHAN

Karya ilmiah akhir ini diajukan oleh :


Nama : Dewanti, S. Kep
NPM 0806456991
Program Studi : Profesi llmu Keperawatan
Judul Karya ilmiah akhir Analisis Praktik Klinik Keperawatan
Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada
Pasien Spina Bifida di Ruang Bedah Anak
i III Utara RSUP Fatmawati

Telah be an diterima
sebagai elar Ners
pad awatan,

Pe i Ch

Pel uji I : Dessie W

Penguji 11 ayati. pKe

Ditetapkan Depok
Tanggal : 12 Juli 2012

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena berkat rahmat dan
hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah akhir ini dengan baik.
Dengan mengucap rasa syukur alhamdulillah akhirnya penulis dapat
menyelesaikan karya ilmiah akhir yang berjudul “Analisis Praktik Klinik
Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Spina Bifida di

gelar Ners Keperawatan di Universitas Indonesia. Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pih
ga, dan pikiran untuk mengarahkan penulis hingga selesainya karya ilmiah akhir ini;
watan Universitas Indonesia yang memberi motivasi dan mendoakan hingga terselesaikannya perjalanan profesi ini;
emotivasi pelaksanaan praktik KKMP di ruangan;

5. Sahabat-sahabatku BEDUK (Harumi, Tiara, Sintha, Kiki, Imam, Asrovi,


Dimas, Ardimas, Iqbal, Aul, Pyong, Bayu, Dian, Farhan) yang Subhanallah
memberikan doa dan tanpa lelah mengingatkan penulis untuk menyelesaikan
karya ilmiah akhir ini tepat pada waktunya;
6. Laskar Pembinaan FARIS 14 (Yudhi, Azul, Halimah, Ayu, Rizki, Bima,
Niroh, Hafsahah, Wendi, Adlan, Nida, Yulia, Dimas, Izzuddiin, Harumi,

iv
Haura, Vina, Dita, Fathanah, Islamia) dan BPH FARIS 14 (Reza, Fitri,
Fahmi, Nimas, Normand, Fandi, Annisa) yang mengajarkan tentang arti
keseimbangan dalam organisasi dan akademis, yang begitu banyak
mendoakan dan memberi dukungan selama penyusunan karya ilmiah akhir
ini;
7. Laskar Bunga dan Syi’ra yang tidak henti-hentinya mendoakan dan
menyemangati ketika penulis menyusun karya ilmiah akhir ini;
a mengirimkan doa dan limpahan semangat yang luar biasa;
rniah, Titis Tolada, Aditya Wijayanti, Hafidzah Fitriyah, yang sama-sama berjuang mulai dari bimbingan, penyusunan propo
insipirasi dan penyemangat dalam melakukan segala aktivitas perkuliahan dari awal hingga

u, penulis mohon maaf apabila dalam pembuatan karya ilmiah ini terdapat kesalahan dan kekurangan. Kritik dan saran yang

Depok, 12 Juli 2012

Penulis

v
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda


tangan di bawah ini:

Nama . Dewanti, S. Kep


NPM 080645699
Program Studi : Pr
Fakultas Jenis Kary er

demi kepada
ne Beba ya ilmia one
ep ay
Bifida
tik ese asya otaan RSUP
Anak L Bebas
sie
ikan). yimpan,
Fa serta p
Ro neksklusif esiaberh
mengalihmedia/ foiinatkai lTlerawat, dan inenipublik ik pangkalan data (clcitciba› e),
nama saya sa teta encantunikan

Dernikian pernyatar aha bar

Dibuat di : Depok
Pada Tanggal : 12 Juli
2012
Yang menyatakan

(Dewanti, S. Kep)

Vi
ABSTRAK

Nama : Dewanti, S. Kep


Program Studi : Ilmu Keperawatan
Judul : Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat
Perkotaan Pada Pasien Spina Bifida di Ruang Bedah Anak
Lantai III Utara RSUP Fatmawati

Spina bifida merupakan salah satu penyakit kongenital pada anak berupa kegagalan
penutupan tulang belakang. Salah satu tindakan dalam mengatasi spina bifida adalah
pembedahan. Masalah utama yang muncul pada anak dengan pembedahan adalah nyeri
akut. Karya ilmiah akhir ini bertujuan untuk memberikan gambaran asuhan keperawatan
pada anak spina bifida dengan menerapkan teknik guided imagery dalam mengatasi nyeri
paska pembedahan. Penerapan teknik guided imagery yang telah dilakukan pada anak
post op rekonstruksi meningokel (spina bifida) selama 4 hari diperoleh hasil penurunan
skala nyeri dari 7 menjadi 1. Pemberian teknik guded imagery pada anak dengan spina
bifida menjadi upaya untuk menghilangkan atau menurunkan skala nyeri yang diderita
oleh anak pasca pembedahan rekonstruksi meningokel.

Kata kunci : anak, guided imagery, nyeri, spina bifida


46 + x halaman : 0 tabel
Daftar Pustaka : 32 (2000-2013)

ABSTRACT

Name : Dewanti, S.
Kep Study Program : Nursing
Science
Title : Analysis of Urban Health Nursing Clinic Practice in Children
with Spina Bifida in Surgery Room North 3 Fatmawati Hospital

Spina bifida is one of the congenital diseases in children in the form of failure of closure
of the spine. One of the interventions in dealing with spina bifida is surgery. Acute pain
often becomes a major problem on the children after surgery. The aim of this paper was
to describe nursing care in children with spina bifida by applying guided imagery
technique to decrease pain after surgery. Implementation of guided imagery technique
that have been conducted in children after meningocele reconstruction surgery for 4 days
showed the reduction of pain scale from 7 to 1. Giving guided imagery technique for
children with spina bifida should be addressed to eliminate or decrease pain scale
suffered by the children with spina bifida after meningocele reconstruction surgery.

Keywords : children, guided imagery, pain, spina


bifida x + 46 pages : 0 table
Bibliography : 32 (2000-2013)

vii Universitas Indonesia


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i


HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ............................................. ii
HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... iii
KATA PENGANTAR .................................................................................... iv
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA
ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS.......................................... vi
ABSTRAK ..................................................................................................... vii
DAFTAR ISI .................................................................................................. viii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... x

1. PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................ 4
1.3 Tujuan Penelitian.................................................................................. 5
1.3.1 Tujuan Umum............................................................................. 5
1.3.2 Tujuan Khusus ............................................................................ 5
1.4 Manfaat Penulisan ................................................................................ 6
1.4.1 Manfaat Bagi Masyarakat ........................................................... 6
1.4.2 Manfaat Bagi Perawat ................................................................. 6
1.4.3 Manfaat Bagi Penidikan .............................................................. 6

2. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 7


2.1 Spina Bifida.......................................................................................... 7
2.1.1 Pengertian Spina Bifida ............................................................. 7
2.1.2 Penyebab Spina Bifida ............................................................... 7
2.1.3 Klasifikasi Spina Bifida ............................................................. 8
2.1.4 Manifestasi Klinik Spina Bifida ................................................. 9
2.1.5 Patofisiologi Spina Bifida .......................................................... 9
2.1.6 Pemeriksaan Diagnostik Spina Bifida ........................................ 10
2.1.7 Penatalaksanaan Spina Bifida..................................................... 10
2.2 Nyeri .................................................................................................... 11
2.2.1 Pengertian Nyeri ........................................................................ 11
2.2.2 Klasifikasi Nyeri........................................................... ............... 11
2.2.3 Mekanisme Nyeri ...................................................................... 13
2.2.4 Teori Pengontrolan Nyeri........................................................... 14
2.2.5 Efek Nyeri ................................................................................. 15
2.2.6 Penatalaksanaan Nyeri ............................................................... 15
2.2.7 Skala Penilaian Nyeri................................................................. 17
2.3 Konsep Perkembangan Sakit dan Nyeri pada Anak .............................. 20
2.4 Konsep Guided Imagery ...................................................................... 21
2.5 Konsep Nyeri Paska Operasi................................................................ 27

3. TINJAUAN KASUS.................................................................................. 29
3.1 Pengkajian ............................................................................................ 29
3.2 Analisis Data ........................................................................................ 31

viii Universitas Indonesia


3.3 Implementasi dan Evaluasi Tindakan Keperawatan............................... 32

4. ANALISIS SITUASI ................................................................................. 34


4.1 Profil Lahan Praktik.............................................................................. 34
4.2 Analisis Masalah Keperawatan dengan Konsep terkait KKMP dan
Konsep Kasus terkait .............................................................................. 35
4.3 Analisis Intervensi dengan Konsep Aplikasi ........................................ 38
4.4 Alternatif Pemecahan Masalah.............................................................. 41

5. PENUTUP ................................................................................................. 42
5.1 Simpulan .............................................................................................. 42
5.2 Saran .................................................................................................... 42

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 44

ix Universitas Indonesia
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 – Asuhan Keperawatan Anak T dengan Spina Bifida

Lampiran 2 – WOC Spina Bifida

x Universitas Indonesia
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Berkembangnya zaman berbanding lurus dengan perkembangan diberbagai
sektor. Seperti di kota-kota besar saat ini, limbah dari hasil industri, asap
kendaraan, dan bangunan menambah polusi air dan udara dan menambah
g gundul akan menambah bencana alam. Di samping itu, iklim dan tanah yang gundul juga menambah polusi air dan udara

paru dan mengganggu fungsi organ tersebut. Hasil studi di Amerika Serikat yang dipublikasikan dalam Jurnal Epidemiologi d

Kelainan kongenital merupakan suatu kelainan pada struktur, fungsi maupun


metabolisme tubuh yang ditemukan pada bayi ketika dilahirkan. Sekitar 2-3
% bayi baru lahir memiliki kelainan kongenital yang berat (American
Pediatric Surgical Nurses Association, 2008). Di Rumah Sakit Dr. Cipto
Mangunkusumo (I975-1979), secara klinis ditemukan angka kejadian
kelainan kongenital sebanyak 225 bayi diantara 19.832 kelahiran hidup atau
sebesar 11,6I per 1000 kelahiran hidup, sedangkan di Rumah Sakit Dr.

1 Universitas Indonesia
2

Pirngadi, Medan (1977-1980) sebesar 48 bayi (0,33%) di antara 14.504


kelahiran bayi dan di Rumah Sakit Universitas Gadjah Mada (1974-1979)
sebesar 164 dari 4625 kelahiran bayi. Di Ruang Perinatologi RSAB ”Harapan
kita” Jakarta dari tahun 1994 – 2005 kelainan bawaan terdapat pada 2,55%
dari seluruh bayi yang lahir (Effendi, 2006 dalam Neonatologi IDAI 2008)
.
Kelainan kongenital dapat dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor
u penyakit yang banyak terjadi pada bayi (Hockenberry & Wilson, 2009). Sebanyak 65% bayi baru lahir terkena spina bifida.

Menurut Wong (2009) spina bifida merupakan penutupan salah satu kolumna vertebralis tanpa tingkatan protusi jaringan m

bayi,ditambah lagi penyebab utama dari penyakit ini masih belum jelas. Hal
ini jelas akan menyebabkan gangguan pada sistem saraf karena medula
spinalis termasuk sistem saraf pusat yang tentunya memiliki peranan yang
sangat penting dalam sistem saraf manusia. Jika medulla spinalis mengalami
gangguan, sistem-sistem lain yang diatur oleh medulla spinalis pasti juga
akan terpengaruh dan akan mengalami gangguan pula. Hal ini akan semakin
Universitas Indonesia
memperburuk kerja organ dalam tubuh manusia, apalagi pada bayi yang
sistem tubuhnya belum berfungsi secara maksimal.

Penyebab spesifik dari spina bifida tidak diketahui, tetapi menurut beberapa
sumber menyebutkan bahwa spina bifida muncul akibat dari faktor genetik
(keturunan) dan kekurangan asam folat pada masa kehamilan. Berdasarkan
hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2010, masalah kekurangan
enunjukan masih rendahnya konsumsi nutrisi yang optimal untuk ibu hamil. Asam folat berfungsi untuk metabolisme norm

pada anak, khususnya bayi memerlukan pengetahuan khusus tentang patofisiologi dan pelayanan keperawatan bayi, kemam

luka, dan nutrisi pendukung (American Pediatric Surgical Nurses


Association, 2008).

Permasalahan yang muncul pada anak yang dilakukan pembedahan adalah


gangguan rasa nyaman berupa nyeri pada bagian paska operasi. Terdapat
berbagai tindakan yang dapat dilakukan seorang perawat untuk mengurangi
nyeri yang diderita anak baik sebelum maupun setelah proses pembedahan.
Tindakan tersebut mencakup tindakan nonfarmakologi dan tindakan
farmakologi (Wong, 2009). Tindakan nonfarmakologi antara lain
membangun hubungan terapeutik perawat dan pasien, relaksasi, imajinasi
terbimbing (Wong, 2009). Sedangkan tindakan farmakologi yang digunakan
untuk mengurangi nyeri yaitu memberikan analgetik, anestesi lokal atau
regional, dan analgesia epidural (Potter & Perry, 2006).

m hal ini penulis melakukan aplikasi dari tesis yang dibuat oleh Mariyam (2011) berjudul “Pengaruh Guided Imagery Terhad

1.2 Rumusan Masalah


Padatnya populasi penduduk di Indonesia menimbulkan berbagai polusi yang
mengancam kesehatan manusia tanpa terkecuali seorang ibu yang sedang
mengandung. Dampak polusi tersebut dapat mempengaruhi janin dalam
kandungan sehingga dapat terjadi kelainan kongenital pada saat bayi lahir.
Salah satu masalah kongenital yang terjadi adalah spina bifida. Sebanyak
65% bayi baru lahir terkena spina bifida. Di RSUP Fatmawati 9 orang dari
100 orang selama 3 bulan terakhir menderita spina bifida. Penyebab spina
bifida antara lain karena kekurangan asam folat selama kehamilan.
Pembedahan merupakan salah satu cara untuk mengangkat meningokel pada
tubuh anak. Hal ini dapat menimbulkan gangguan rasa nyaman paska
pembedahan berupa sensasi nyeri. Untuk itu perlu dilakukan penanganan
kan konsep atraumatic care berupa guided imagery. Diharapkan dengan pengaplikasian konsep tersebut dapat menyelesaik

itian
m
bertujuan untuk mengetahui pengaruh guided imagery pada anak dengan gangguan pemenuhan kebutuhan rasa nyaman p

Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu mengidentifikasikan masalah gangguan rasa nyaman pada anak paska pembedahan.
Mahasiswa mampu membuat perencanaan asuhan keperawatan yang tepat pada anak paska pembedahan.
Mahasiswa mampu mengaplikasikan guided imagery dalam mengurangi gangguan rasa nyaman pada anak paska pembeda
Mahasiswa mampu menganalisis keefektifan guided imagery dalam

mengurangi gangguan rasa nyaman pada anak spina bifida paska


pembedahan.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Bagi Masyarakat
Karya ilmiah ini dapat menambah pengetahuan keluarga pasien tentang
spina bifida dan dapat menerapkan konsep guided imagery dalam
melakukan perawatan kepada anak paska pembedahan dengan masalah
gangguan pemenuhan rasa nyaman.
1.4.2 Manfaat Bagi Perawat
pat untuk menangani masalah gangguan pemenuhan rasa nyaman pada anak paska pembedahan.

yang dapat memperkaya wawasan dan pengetahuan terkait konsep guided imagery yang dapat digunakan untuk memberik
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Landasan teori pada bab ini akan menguraikan beberapa konsep yang mendasari
pengaplikasian teori pada kasus yang diangkat. Adapun uraian konsep dan teori
dalam landasan teori mencakup tentang uraian penyakit spina bifida, konsep
nyeri, konsep perkembangan nyeri pada anak, konsep guided imagery, dan konsep
nyeri paska operasi.

h tulang (Hockenberry & Wilson, 2009). Spina bifida (sumbing tulang belakang) adalah suatu celah pada tulang belakang (ve

n), kekurangan asam folat, dan ibu dengan epilepsi yang menderita panas tinggi dalam kehamilannya mengkonsumsi obat-o

Diperkirakan bahwa hampir 50 % defek tabung saraf dapat dicegah jika


wanita yang bersangkutan meminum vitamin-vitamin prakonsepsi termasuk
asam folat (Betz dan Sowden, 2002).

7 Universitas Indonesia
8

2.1.3 Klasifikasi Spina Bifida


Spina bifida memiliki beberapa klasifikasi antara lain (Wong, Hockenberry-
Eaton, Wilson, Winkelstein, & Schwartz, 2009):
2.1.3.1 Spina Bifida Okulta
Kegagalan penyatuan arkus vertebralis posterior tanpa menyertai herniasi
medulla spinalis atau meninges, tidak dapat dilihat secara eksternal,
kadang merupakan penemuan sinar-X kebetulan yang tidak bermakna.
t adanya spina jenis ini adalah dengan melihat manifestasi kutaseus yang berhubungan atau adanya gangguan neuromusku

an fontanella menonjol. Spina Bifida Kistik dapat terjadi pada dua keadaan :

a kelainan neurologik dan anak tidak mengalami paralise dan mampu untuk mengembangkan kontrol kandung kemih dan u

Mielomeningokel ditandai dengan protrusi hernia dan kista meninges


seperti kantong cairan spinal dengan sarafnya keluar melalui defek
tulang pada kolumna vertebralis.

Universitas Indonesia
2.1.4 Manifestasi Klinik Spina Bifida
Tanda dan gejala spina bifida bervariasi tergantung kepada beratnya
kerusakan pada korda spinalis dan akar saraf yang terkena. Beberapa anak
memiliki gejala ringan atau tanpa gejala, sedangkan yang lainnya
mengalami kelumpuhan pada daerah yang dipersarafi oleh korda spinalis
maupun nakar saraf yang terkena. Gejalanya dapat berupa penonjolan
seperti kantung di punggung tengah sampai bawah pada bayi baru lahir,
pinggul, tungkai atau kaki, penurunan sensasi, inkontinensia urin maupun inkontinansia alvi, korda spinalis yang terkena re

akan terjadi. Obat seperti beberapa Antikonvulsan, diabetes, setelah seorang kerabat dengan spina bifida, obesitas, dan pen

spina bifida prevalensi dalam populasi manusia yang berbeda dan bukti luas
dari strain tikus dengan spina bifida menunjukkan dasar genetik untuk
kondisi. Seperti manusia lainnya penyakit seperti kanker, hipertensi dan
aterosklerosis (penyakit arteri koroner), spina bifida kemungkinan hasil dari
interaksi dari beberapa gen dan faktor lingkungan. Penelitian telah
menunjukkan bahwa kekurangan asam folat (folat) adalah faktor dalam
patogenesis cacat tabung saraf, termasuk spina bifida (Smeltzer & Bare,
2002).

2.1.6 Pemeriksaan Diagnostik Spina Bifida


Pemeriksaan diagnosis spina bifida ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil
pemeriksaan fisik. Pada trimester pertama wanita hamil menjalani
pemeriksaan darah yang disebut Triple Screen. Tes ini merupakan tes
ki kadar serum alfa feytoprotein yang tinggi. Tes ini memiliki angka positif palsu yang tinggi, karena itu jika hasilnya positif,

enentukan luas dan lokasi kelainan, USG tulang belakang bisa menunjukkan adanya kelainan pada korda spinalis maupun v

periode neonatal untuk mencegah ruptur. Perbaikan dengan pembedahan pada lesi spinal dan pirau CSS pada bayi hidros
mbedahan dilakukan untuk

menutup lubang yang terbentuk dan untuk mengobati hidrosefalus. Kelainan


ginjal dan kandung kemih serta kelainan bentuk fisik yang sering menyertai
spina bifida. Terapi fisik dilakukan agar pergerakan sendi tetap terjaga dan
untuk memperkuat fungsi otot. Untuk mengobati atau mencegah meningitis,
infeksi saluran kemih dan infeksi lainnya diberikan antibiotik. Sedangkan
untuk mengatasi gejala muskuloskeletal (otot dan kerangka tubuh) perlu
campur tangan dari ortopedi (bedah tulang) maupun terapi fisik. Kelainan
saraf lainnya diobati sesuai dengan jenis dan luasnya gangguan fungsi yang
terjadi (Wong, Hockenberry-Eaton, Wilson, Winkelstein, & Schwartz,
2009).

2.2 Nyeri
2.2.1 Pengertian Nyeri
faktor utama yang menghambat kemampuan dan keinginan individu untuk pulih dari suatu penyakit (Potter & Perry, 2006).

Menurut Kozier, et al. (2004), nyeri adalah sensasi yang tidak menyenangkan dan sangat individual dan tidak dapat diungka

tidak dapat diserahterimakan kepada orang lain.

2.2.2 Klasifikasi Nyeri


Nyeri merupakan sensasi bagi tubuh ketika mengalami sesuatu. Nyeri
menimbulkan respon seperti ketidaknyamanan, distress, dan penderitaan
pada individu yang mengalaminya (Potter & Perry, 2006; Black & Hawks,
2009; Kozier, Erb, Berman, Snyder, 2010). Nyeri dapat dibedakan menjadi
nyeri akut dan nyeri kronik, keduanya mempunyai mekanisme fisiologis
yang berbeda sehingga memerlukan tindakan yang berbeda (Helms &
Barone, 2008).
2.2.2.1 Nyeri akut
Nyeri akut didefinisikan sebagai nyeri yang berlangsung beberapa detik
hingga enam bulan (Smeltzer & Bare, 2002). Nyeri akut memberikan
kuensi jantung dan pernapasan, berkeringat, pupil melebar, gelisah, dan khawatir. Jenis nyeri akut meliputi somatik, viseral

n rendah (menarik diri dari hubungan sosial), perilaku mengerang, menangis, raut wajah kesakitan, perubahan tonus otot,

2.2.2.2 Nyeri kronik


Nyeri kronis sering didefenisikan sebagai nyeri yang berlangsung selama

enam bulan atau lebih (Smeltzer & Bare, 2002). Nyeri kronik diartikan
sebagai nyeri yang menetap melebihi proses yang terjadi akibat
penyakitnya atau melebihi waktu yang dibutuhkan untuk penyembuhan,
biasanya 1 atau 6 bulan setelah onset, dengan kesulitan ditemukannya
patologi yang dapat menjelaskan tentang adanya nyeri atau tentang
mengapa nyeri tersebut masih dirasakan setelah proses penyembuhan
selesai. Nyeri kronik berlangsung lama, intensitas bervariasi, dan biasanya
berlangsung lebih dari enam bulan (Perry & Potter, 2006). Klien yang
mengalami nyeri kronik seringkali mengalami periode remisi (gejala
hilang sebagian atau keseluruhan) dan eksaserbasi (keparahan meningkat).
Sifat nyeri kronik yang tidak dapat diprediksi ini membuat klien frustasi
dan seringkali mengarah menjadi depresi psikologis (Perry & Potter,
2006). Anak-anak yang mengalami nyeri kronik atau berulang, sering kali
entuk strategi koping perilaku yang efektif, seperti meremas tangan, berbicara, menghitung, santai atau berfikir tentang kej
nangkan (Hockenberry & Wilson, 2009).

ai reseptor nyeri adalah ujung saraf bebas dalam kulit yang berseppn hanya terhadap stimulus kuat yang secara potensial m

dan kimiawi. Nosiseptor ditemukan di sepanjang seluruh jaringan kecuali otak. Persepsi nyeri terjadi jika stimulus ini ditrans

dan kemudian naik ke otak. Sensasi dasar nyeri terjadi di thalamus, dan
berlanjut ke sistem limbik dan korteks serebri, dimana nyeri diterima dan
diinterpretasikan (Helms & Barone, 2008).

Ada 2 (dua) tipe serabut saraf yang terlibat dalam transmisi nyeri. Serabut
delta A yang besar menghasilkan nyeri yang didefinisikan dengan tajam,
disebut “fast pain” atau “first pain”, yang secara khusus distimulus oleh
luka potong, getaran listrik, atau karena pukulan fisik. Transmisi di
sepanjang serabut A berlangsung sangat cepat dimana reflek tubuh
dapatberespon dengan lebih cepat dari stimulus nyerinya, menghasilkan
reaksi berupa penarikan bagian tubuh yang terkena stimulus sebelum
seseorang merasa nyeri. Setelah nyeri pertama ini, serabut saraf C yang
lebih kecil mengirimkan luka bakar atau sensasi rasa sakit, disebut sebagai
an nyeri lebih lambat daripada serabut A karena serabut C lebih kecil dan tidak memiliki selubung myelin. Serabut C merup
, 2008).

ulasi, mereka mendominasi dan menutup pintu. Kemampuannya untuk memblok impuls nyeri merupakan alasan seseorang

engontrolan Nyeri
control dari Melzack dan Wall (1965 dalamMorrison &
9) menyatakan bahwa impuls nyeri dapat diatur atau dihambat oleh mekanisme pertahanan di sepanjang sistem saraf pus

ini saraf perifer membawa nyeri ke spinal cord dan inputnya dimodifikasi
pada tingkat spinal cord sebelum ditransmisikan ke otak. Sensasi nyeri akan
dirasakan apabila impuls atau rangsangan nyeri dari sumber nyeri berhasil
dihantarkan oleh serabut saraf ke pusat nyeri di sistem saraf pusat (otak)
melalui gerebang nyeri (pain gate). Gerebang nyeri dapat ditutup dengan
cara mengaktifkan serabut saraf alfabeta melalui rangsangan raba, tekanan,
sentuhan, atau getaran pada sumber nyeri, sehingga impuls nyeri tidak
diteruskan ke medula spinalis dan juga ke otak. Akhirnya seseorang tidak
merasakan sensasi nyeri. Saat gerebang nyeri terbuka, rangsangan nyeri
dapat dihantarkan ke otak sehingga timbul rasa nyeri (Kozier, 2000).

2.2.5 Efek Nyeri


Efek nyeri yang dialami setiap individu hampir sama pada orang dewasa

peningkatan keringat, tekanan darah, nadi, dan pernafasan, gelisah, dan dilatasi pupil. Jika nyeri menetap, tubuh mulai bera

onverbal. Anak biasanya akan menangis, mengerutkan dahi, menggigit bibir, gelisah, immobilisasi, mengalami ketegangan o

2.2.6 Penatalaksanaan Nyeri


Penatalaksanaan nyeri dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu
farmakologi dan nonfarmakologi (Hockenberry & Wilson, 2009).
2.2.6.1 Penatalaksanaan Non Farmakologi
Beberapa penelitian menyebutkan teknik non farmakologi yang dapat
digunakan pada anak untuk mengurangi nyeri antara lain distraksi,
relaksasi, guided imagery, dan stimulasi kutaneus memberikan strategi
koping yang dapat membantu mengurangi persepsi nyeri, membuat nyeri
lebih dapat ditoleransi, menurunkan kecemasan, dan meningkatkan
efektivitas analgesik (American Pain Society, 2003; Gimbler-Berglund et
al, 2008; William & Zempsky, 2008). Teknik-teknik ini juga dapat
menurunkan persepsi ancaman nyeri, memberikan istirahat dan tidur
(Huether & Leo, 2002; Gimbler-Berglund, Lyon, & Mackway, 2005).
Strategi nonfarmakologi bersifat aman, tidak invasif, dan tidak mahal serta
sebagian besar merupakan fungsi keperawatan yang mandiri.

nyeri akut dengan menggunakan intervensi nonfarmakologi sesuai untuk klien dengan kriteria sebagai berikut: klien meras

2.2.6.2 Penatalaksanaan Farmakologi


Penggunaanmetodefarmakologiuntukmengendalikannyeri membutuhkan perhatian terhadap enam benar yaitu benar obat,

dosis, benar jalur, benar waktu, benar pasien, dan benar


pendokumentasian. Selain itu observasi terhadap efek samping obat
merupakan tindakan keperawatan yang sangat penting (Hockenberry &
Wilson, 2009). Nonopioid mencakup asetaminofen dan obat antiinflamasi
nonsteroid sesuai untuk mengatasi nyeri ringan sampai sedang. Opioid
diperlukan untuk mengatasi nyeri sedang sampai berat (Hockenberry &
Wilson, 2009).

2.2.7 Skala Penilaian Nyeri


Skala (alat) penilaian nyeri merupakan tindakan pelaporan nyeri yang
bersifat kuantitatif (Hockenberry & Wilson, 2009). Untuk mendapatkan
penilaian intensitas nyeri yang paling valid dan dapat dipercaya maka skala
yang dipilih disesuaikan dengan usia, kemampuan, dan kesukaan anak (Hokenberry & Wilson, 2009
2.2.7.1 Wong-Baker FACES Pain Rating Scale
Wong-Baker FACES Pain Rating Scale atau biasa disebut skala wajah, terdiri atas enam wajah kartun
kata-kata singkat dianjurkan (Hockenberry & Wilson, 2009).

Schwartz, P. (2001). Wong’s essentials of pediatric nursing (7th ed.). St. Louis: Mosby,
Inc.

2.2.7.2 Oucher
Oucher merupakan skala pengukuran nyeri yang terdiri atas dua skala
yang terpisah. Terdiri atas enam foto wajah anak yang menggambarkan
“tidak nyeri” sampai “nyeri terberat yang pernah kamu rasakan”. Sebuah
skala numerik dengan nilai 0-100 pada sisi sebelah kiri untuk anak yang
lebih besar dan skala fotografik enam gambar untuk anak yang lebih kecil.
Foto wajah seorang anak (dengan peningkatan rasa tidak nyaman)
dirancang sebagai petunjuk untuk memberi anak-anak pengertian sehingga
dapat memahami makna dan tingkat keparahan nyeri. Skala Oucher
dianjurkan digunakan untuk anak-anak usia 3-13 tahun (Hockenberry &
Wilson, 2009).

i dapat digunakan untuk anak- anak minimal 4 tahun. Pengukuran skala ini dengan menjelaskan kegunaan keping-keping ny

menjelaskan pada anak bahwa ini adalah sebuah garis yang menerangkan seberapa nyeri yang dialami. Perawat menyelusu

2009).

Tidak
Sedikit Nyeri Nyeri Nyeri
Nyeri
Nyeri Sedang Berat Hebat

Sumber: Wong, D. L., Hockenberry-Eaton, M., Wilson, D., Winkelstein, M. L., &
Schwartz, P. (2001). Wong’s essentials of pediatric nursing (7th ed.). St. Louis: Mosby,
Inc.
2.2.7.5 Skala Numerik (Numerical Rating Scale)
Skala numerik merupakan skala yang menggunakan garis di bagian
tengahnya, pembagian di sepanjang garis tersebut ditandai dengan unit
dari 0 sampai 5 atau 10 (banyaknya nomor bervariasi). Skala ini dapat
digunakan secara horizontal atau vertikal. Skala ini dianjurkan untuk
digunalan pada anak yang berusia minimal 5 tahun, selama mereka dapat
menghitung dan memiliki beberapa konsep angka dan nilai-nilai dalam
kaitannya dengan angka yang lain (Hockenberry & Wilson, 2009).

Tidak Nyeri Nyeri Hebat

0 1 2 3 4 5

mena subyektif yang ekstrem misalnya nyeri yang diukur. Penggunaan skala ini dapat dilakukan dengan meminta anak mene

ini memberi klien kebebasan penuh untuk mengidentifikasi


ahan nyeri. VAS dapat merupakan pengukur tingkat nyeri yang lebih sensitif karena klien dapat mengidentifikasi setiap titik

pada dipaksa memilih satu kata atau satu angka (McGuire, 1984 dalam
Perry & Potter, 2006). VAS dianjurkan untuk anak-anak yang berusia
minimal 4 ½ tahun, lebih baik setidaknya pada usia 7 tahun (Hockenberry
& Wilson, 2009). Namun perlu diantisipasi bahwa anak akan kesulitan
dalam mengidentifikasi titik mana pada garis yang mewakili nyeri anak
(Grove & Luffy, 2003).
Skala VAS sangat sensitif terhadap perubahan tingkat nyeri yang dialami
oleh pasien, yang dapat membuat skala VAS sulit untuk digunakan.
Meskipun skala ini umumnya cepat dan mudah digunakan, sekitar 20%
pasien tidak dapat dikaji atau menemukan kebingungan (Wood, 2004,
dalam McLafferty & Farley, 2008).

th
Sumber: (Potter, P.A., & Perry, A.G. (2006). Fundamental of nursing, (6 ed), USA: Mosby Company).

Wilson, 2009). Penggunaan skala ini dengan menyediakan delapan krayon kemudian anak diminta mengambil warna krayon

2.3 Konsep Perkembangan Sakit dan Nyeri pada Anak


Nyeri adalah apa pun yang dikatakan oleh orang yang mengalaminya, ada

pada saat orang tersebut mengatakan bahwa itu terjadi (McCaffery & Pasero,
2010). Takut akan cidera tubuh dan nyeri sering terjadi diantara anak-anak.
Dalam merawat anak, perawat harus menghormati kekhawatiran anak
terhadap cidera tubuh dan reaksi terhadap nyeri sesuai dengan periode
perkembangannya (Hockenberry & Wilson, 2009). Berikut ini perkembangan
sakit dan nyeri pada berbagai usia:
2.3.1 Anak usia 2-7 tahun (Pemikiran Pra Operasional)
Konsep nyeri pada usia 2-7 tahun berhubungan dengan nyeri terutama
sebagai pengalaman fisik dan konkret, anak berfikir tentang hilangnya nyeri
secara ajaib, anak dapat menganggap nyeri sebagai hukuman akibat
kesalahan dan cenderung menganggap seseorang yang bertanggung jawab
untuk nyeri yang dialaminya dan dapat menyerang orang tersebut.

ecara fisik (misalnya sakit kepala, sakit perut). Pada usia ini anak mampu menerima nyeri psikologis (misal kematian seseora

sal jatuh dan terbentur). Pada usia ini anak mampu menerima beberapa nyeripsikologis,memilikipengalamanhidup yangterb

uided Imagery
n Guided Imagery
merupakan pembentukan representasi mental dari suatu objek, tempat, peristiwa, atau situasi yang dirasakan melalui indra

Saat berimajinasi individu dapat membayangkan melihat sesuatu,


mendengar, merasakan, mencium, dan atau menyentuh sesuatu (Snyder,
2006). Istilah guide imagery merujuk pada berbagai teknik termasuk
visualisasi sederhana, saran yang menggunakan imaginasi langsung,
metafora dan bercerita, eksplorasi fantasi dan bermain “game”, penafsiran
mimpi, gambar, dan imajinasi yang aktif dimana unsur-unsur
ketidaksadaran dihadirkan untuk ditampilkan sebagai gambaran yang dapat
berkomunikasi dengan pikiran sadar (Academic for Guide Imagery, 2010).
Kamus Meeriam-Webster (2001) mendefinisikan guided imagery sebagai
salah satu dari berbagai teknik (sebagai rangkaian kata-kata sugesti) yang
digunakan untuk menuntun orang lain atau diri sendiri dalam
membayangkan sensasi dan terutama dalam memvisualisasikan gambar
dalam pikiran untuk membawa respon fisik yang diinginkan (sebagai
pengurang stres, kecemasan, dan sakit).

kognitif dimana seseorang dipandu untuk membayangkan kondisi yang santai atau tentang pengalaman yang menyenangka

2.4.2 Manfaat Guided Imagery


Guided imagery merupakan salah satu jenis teknik relaksasi sehingga

manfaat dari teknik ini pada umumnya sama dengan manfaat dari teknik
relaksasi yang lain. Para ahli dalam bidang teknik guided imagery
berpendapat bahwa imajinasi merupakan penyembuh yang efektif yang
dapat mengurangi nyeri, mempercepat penyembuhan dan membantu tubuh
mengurangi berbagai macam penyakit seperti depresi, alergi, dan asma.
Menurut Snyder (2006), guided imagery telah menjadi terapi standar untuk
mengurangi kecemasan dan memberikan relaksasi pada orang dewasa atau
anak-anak, dapat juga untuk mengurangi nyeri kronis, tindakan prosedural
yang menimbulkan nyeri, susah tidur, mencegah reaksi alergi, dan
menurunkan tekanan darah (Snyder, 2006). Guided imagery dapat
membangkitkan perubahan neurohormonal dalam tubuh yang menyerupai
perubahan yang terjadi ketika sebuah peristiwa yang sebenarnya terjadi
(Hart, 2008). Hal ini bertujuan untuk membangkitkan keadaan relaksasi psikologisdanfisiologisuntukmeningkatkanperuba
menyembuhkan ke seluruh tubuh (Jacobson, 2006).

n, 2006). Olness dan Kohen (1996) menyatakan bahwa manfaat penggunaan imagery sebagai pereda nyeri adalah mengura

pat yang tenang), physiologically focused imagery (imajinasi fokus fisiologis misalnya berfokus pada fungsi fisiologis yang me

langsung) (Hart, 2008).

2.4.4 Proses Guide Imagery


Telah disebutkan bahwa guided imagery merupakan salah satu strategi
nonfarmakologi penatalaksanaan nyeri untuk anak (Hockenberry & Wilson,
2009). Namun guided imagery tidak selalu sesuai untuk semua anak-anak.
Kemampuan kognitif anak harus dipertimbangkan sebelum dilakukan
guided imagery. Anak-anak perlu mencapai tahap Piaget pra operasional
(umur 2-7 tahun) untuk mendapatkan keuntungan dari guided imagery
sebagai terapi penatalaksanaan nyeri (Whitaker & McArthut, 1998 dalam
Hart, 2008).

Menurut Hart (2008), jika seseorang membayangkan suatu hal negatif atau
ositif atau menenangkan. Pikiran dapat dilatih untuk berfokus pada imajinasi penyembuhan. Jika imajinasi menakutkan atau

esejahteraan emosional atau tuntunan dari sebuah situasi melebihi kemampuan seseorang, sehingga dengan imajinasi diha

Mekanisme imajinasi positif dapat melemahkan psikoneuroimmunologi


yang mempengaruhi respon stres, hal ini berkaitan dengan teori Gate
Control yang menyatakan bahwa “hanya satu impuls yang dapat berjalan
sampai sumsum tulang belakang ke otak pada satu waktu “ dan “ jika ini
terisi dengan pikiran lain maka sensasi rasa sakit tidak dapat dikirim ke otak
oleh karena itu rasa sakit berkurang”. Guided imagery juga dapat
melepaskan endorphin yang melemahkan respon rasa sakit dan dapat
mengurangi rasa sakit atau meningkatkan ambang nyeri (Hart, 2008).

2.2.5 Pelaksanaan Guided Imagery


Menurut Snyder (2006) teknik guided imagery secara umum antara lain:
2.2.5.1 Membuat individu dalam keadaan santai yaitu dengan cara:
1) Mengatur posisi yang nyaman (duduk atau berbaring).
uatu titik atau suatu benda di dalam ruangan.
napas dalam dan pelan, napas berikutnya biarkan sedikit lebih dalam dan lama dan tetap fokus pada pernapasan dan tetap
gat dari ujung kepala sampai ujung kaki.
pasan dalam dan pelan.

Sugesti khusus untuk imajinasi yaitu:


Pikirkan bahwa seolah-olah pergi ke suatu tempat yang menyenangkan dan merasa senang ditempat tersebut
Sebutkan apa yang bisa dilihat, dengar, cium, dan apa yang dirasakan
Ambil napas panjang beberapa kali dan nikmati berada ditempat tersebut
Sekarang, bayangkan diri anda seperti yang anda inginkan (uraikan
sesuai tujuan yang akan dicapai/ diinginkan)

2.2.5.3 Beri kesimpulan dan perkuat hasil praktek yaitu:


1) Mengingat bahwa anda dapat kembali ke tempat ini, perasaan ini,
cara ini kapan saja anda menginginkan
2) Anda bisa seperti ini lagi dengan berfokus pada pernapasan anda,
santai, dan membayangkan diri anda berada pada tempat yang anda
senangi
2.2.5.4 Kembali ke keadaan semula yaitu:
1) Ketika anda telah siap kembali ke ruang dimana anda berada
2) Anda merasa segar dan siap untuk melanjutkan kegiatan anda
3) Anda dapat membuka mata anda dan dan ceritakan pengalaman anda
ketika anda telah siap (Snyder, 2006).

Asmadi (2008) juga menjelaskan tentang teknik dalam melakukan guided


asikan tubuhnya. Teknik pelaksanaan guided imagery pada anak perlu dimodiifikasi sesuai dengan tahap pekembangan ana

majinasi atau membayangkan hal-hal yang menyenangkan bagi anak terkait dengan tempat yang menyenangkan misalnya p

informasi baru yang diberikan (Benson, 1993 dalam Snyder, 2006). Untuk
selanjutnya anak dipandu untuk membayangkan hal yang paling
menyenangkan dan membayangkan tiap detail hal yang bisa dirasakan
oleh semua indera. Anak dipandu untuk membayangkan apa yang dapat
dilihat, dirasakan, dibau, dipegang atau disentuh. Rekaman audio ini dapat
dimodifikasi dengan latar belakang musik relaksasi (Snyder, 2006).
Bersamaan dengan anak dilakukan imajinasi terbimbing ini, prosedur
pemasangan infus dilakukan.

2.5 Konsep Nyeri Paska Operasi


Operasi (elektif atau kedaruratan) pada umumnya merupakan peristiwa
kompleks yang menegangkan (Smeltzer & Bare, 2002). Pembedahan atau
operasi adalah semua tindakan pengobatan yang menggunakan cara invasif
yang berhubungan dengan kerusakan jaringan potensial atau nyata atau menggambarkan terminologi suatu kerusakan (Alex

i post operasi merupakan nyeri akut yang terjadi setelah intervensi bedah
memiliki awitan yang cepat. Ketika suatu jaringan mengalami cedera ataukerusakanmengakibatkan dilepaskanyabahan-b

menstimulus reseptor nyeri seperti serotonin, histamine, ion kalium,


bradikinin, prostaglandin, dan substansi P yang mengakibatkan adanya respon
nyeri (Potter & Perry, 2006). Nyeri juga dapat disebabkan oleh stimulus
mekanik seperti pembengkakan jaringan yang menekan pada reseptor nyeri.
Pada umumnya pasien postoperasi merasakan nyeri yang sangat hebat akibat
dari tindakan operasi yang merusak jaringan dan saraf sekitar, oleh karena
kerusakan saraf-saraf itu, maka ujung-ujung saraf menyampaikan stimulusnya
ke sistem saraf pusat, dan timbulah persepsi nyeri (Sjamsuhidajat & Jong,
2005).
BAB 3
TINJAUAN KASUS

3.1 Pengkajian
Tanggal 15 Mei 2013 pukul 10.15 Anak T berusia 16 tahun diantar orang tua
ke poli bedah syaraf datang dengan keluhan bila BAK dan BAB tidak terasa.
Tampak benjolan di daerah tulang ekor dengan lebar 8 cm dan ketebalan
ilan tidak teratur mengkonsumsi vitamin yang diberikan dari puskesmas karena mual. Ibu Anak T juga mengatakan tidak su

Mei 2013 An.A kembali ke ruang perawatan bedah. Keluhan yang mucul setelah operasi hari ke 3 antara lain Anak T menga

fungsi (-), jahitan menyatu dengan baik, dan balutan paten, terpasang DC dan
drain sejak Anak T dioperasi tanggal 17 Mei 2013. Keluarga mengatakan
Anak T tidak bisa tidur karena menahan sakit. Anak T tampak menjaga area
luka. Wajah Anak T meringis menahan sakit saat diajak berbicara. Tampak
Anak T gelisah. Keluar keringat mengucur. Anak T dalam posisi miring

29 Universitas Indonesia
30

kanan. Anak T mengatakan pegal dengan posisi miring karena biasa


berbaring.

Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik tanggal 20 Mei 2013 pukul 17.15


didapatkan keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, GCS 15
(E4M6V5). TB 145,5 cm , BB 47 kg. Mata tampak simetris, isokhor +/+. Tidak
ada sumbatan pada hidung An.T. Mukosa bibir lembab, tidak ada lesi.
op. Pada auskultasi dada terdengar suara vesikuler +/+, tidak ada ronchi, tidak ada wheezing. Bising usus baik . Tidak ada n

cairan NaCl 0,9 % 500 cc, Ikaneuron 1 ampul, dan Tramadol 100 mg/ 24 jam. Obat-obatan yang diberikan berupa Ceftriaxon

Hasil laboratorium tanggal 17 Mei 2013 pukul 19.34: Hemoglobin 11,4 g/dL
(N:12,8-16,8 g/dL), Hematokrit 34% (N: 33%- 45%), Leukosit 11.700/ul (N:
4.500-13.000/ul), Trombosit 209.000/ul (N: 150.000-440.000/ul), Eritrosit
3,87 juta/ul (N: 3,8-5,2 juta/ul).
Hemostasis: APTT 29 detik (N: 27,4-39,3 detik), PT 12,9 detik (N: 12,7-16,1
detik). Kimia Klinik: SGOT 21 U/I (N:0-34 U/I), SGPT 7 U/I (N: 0-40 U/I),
Albumin 4,6 g/dl (N: 3,4-4,8 g/dl), Ureum 30 mg/dl (N: 0-48 mg/dl),

Universitas Indonesia
Kreatinin 0,6 mg/dl (0.0-0.9 mg/dl), GDS 100 mg/dl (70-140 mg/dl), Natrium
144 mmol/l (135-147 mmol/l), Kalium 3,91 mmol/l (3.1-5,1 mmol/l), Klorida
110 mmol/l (N: 95-108 mmol/l).

Hasil pemeriksaan radiologi berupa foto toraks dihasilkan cor dan pulmo
dalam batas normal (mediastinum superior tak melebar, ukuran dan bentuk
jantung normal, CTR <50%, aorta baik, pulmo kedua hilus tak menebal,
kedua sinus dan diafragma baik, tulang-tulang costae dan soft tissue baik).

iagnostik klien di diagnosa spina bifida lumbal 5 dan sacrum, tethered cord lumbal 5, sacralisasi lumbal 5 dengan unstable l
e screw.

ncul setiap saat, bertambah nyeri apabila digerakkan, nyeri seperti tertusuk- tusuk, nyeri terasa di sekitar luka operasi. Anak

Masalah kedua adalah risiko infeksi diperoleh dari Anak T yang mengatakan
setiap hari luka dibersihkan, mengatakan nyeri saat luka dibersihkan,
mengatakan tidak ada rembesan pada balutan luka. Risiko infeksi dapat
terjadi pada Anak T dengan post op rekonstruksi meningokel hari ke 3. Saat
ini suhu tubuh Anak T 36.8o C, tampak balutan luka pada daerah sakrum, pus
(-), bau (-), kemerahan (-), bengkak (-), panas (-), penurunan fungsi (-),
jahitan menyatu dengan baik, dan balutan paten, terpasang DC dan drain
sejak Anak T dioperasi tanggal 17 Mei 2013. Selain itu dari hasil
laboratorium diperoleh: hemoglobin 11,4 g/dL (N:12,8-16,8 g/dL), leukosit
11,7 ribu/ul (N: 4.5 – 13.0 ribu/ul).

Masalah ketiga adalah hambatan mobilitas fisik yang diperoleh dari Anak T
yang mengatakan nyeri jika melakukan pergerakkan, klien mengatakan pegal
dengan posisi miring karena biasa berbaring. Anak T tampak menjaga area
erasi, tampak balutan luka pada daerah sakrum post op rekonstruksi meningokel hari ke 3, tampak miring kiri kanan dan ten
egala kebutuhannya dipenuhi oleh keluarga dan perawat.

dak lupa perawat melibatkan keluarga dalam setiap tindakan yang dilakukan untuk mengurangi kecemasan pada klien dan k

berkurang dari tanggal 20 Mei 2013 hingga 24 Mei 2013 . Keluarga tampak
mendampingi Anak T dan memotivasi Anak T saat nyeri.

Intervensi yang dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya infeksi, perawat


melakukan beberapa tindakan antara lain: melakukan pengukuran TTV setiap
8 jam, melakukan tindakan aseptik sebelum dan sesudah kontak dengan Anak
T, mengganti balutan luka setiap hari, mengobservasi tanda-tanda infeksi,
melibatkan orang tua atau keluarga dalam setiap tindakan, serta memberikan
terapi antibiotik ceftriaxone 2x1 gr sehari. Hasil yang diperoleh dari tindakan
tersebut Anak T mengatakan sering mengusap-usap daerah sekitar balutan
tanpa cuci tangan, TTV: TD 120/80 mmHg; suhu 36,4 o C ; nadi 80 x/menit ;
RR 20 kali/ menit, perawat selalu menerapkan tindakan aseptik sebelum dan
sesudah kontak dengan pasien, kondisi luka membaik dari hari ke hari
dengan tidak adanya pus, granulasi baik, jahitan bagus, tidak ada rembes, pemberian antibiotik sesuai jadwal. Keluarga me
ndampingi saat dilakukan pembersihan luka.

tkan anggota keluarga dalam melakukan tindakan. Hasil yang diperoleh dari intervensi tersebut adalah Anak T mengatakan
BAB 4
ANALISIS SITUASI

Bab ini menguraikan profil lahan praktik tempat penulis mengambil kasus yang
dibahas pada karya ilmiah ini, analisis masalah keperawatan dengan konsep
terkait KKMP dan konsep kasus terkait. Selain itu dibahas pula analisis salah satu
intervensi dengan konsep dan penelitian terkait serta alternatif pemecahan yang
dapat dilakukan.

ng sebagai rumah sakit pendidikan. RSUP Fatmawati terletak di Jalan RS Fatmawati, Cilandak, Jakarta Selatan. RSUP Fatmaw

ang ada di RSUP Fatmawati. Ruang bedah anak IRNA A Lantai III Utara terdiri dari 12 kamar dengan kapasits tempat tidur se

bakar, dan 4 kamar kelas III.

Berdasarkan catatan kepegawaian di ruang anak lantai III utara diperoleh data
bahwa pegawai di ruang ini terdiri dari perawat, pekarya, dan Cleaning
Service. Jumlah tenaga perawat di rungan sebanyak 23 orang yang terdiri dari
7 orang S1 keperawatan, 14 orang DIII keperawatan, 2 orang SPK, dan 2

34 Universitas Indonesia
35

orang pekarya SLTA. Ruangan di lantai III Utara dikepalai oleh seorang
kepala ruangan yaitu Ibu Ns. Yuminah S.Kep, dibantu wakil kepala ruangan
Ibu Fenty Sahara, AMK, dan dua orang PN yaitu PN 1 Ibu Yanti, AMK dan
Bapak Ns. Dedi Lisman, S.Kep, serta dilengkapi 17 orang perawat pelaksana.

Ruang bedah anak IRNA A Lantai III Utara memiliki beberapa fasilitas
dalam pelayanan keperawatan untuk para pasien, seperti tabung oksigen
utan, perlengkapan universal precaution (handscoon) yang belum cukup memadai, alat tenun, suction, Nebulizer, syringe P

dah yang ada di ruangan teratai lantai III Utara bervariasi, seperti hipospadia, atresia ani, hidrosefalus, fraktur, spina bifida,
, kista, dan lain sebagainya.

kolumna vertebralis dengan atau tanpa tingkatan protusi jaringan melalui celah tulang (Hockenberry & Wilson, 2009). Selam

tetapi menurut beberapa sumber menyebutkan bahwa spina bifida muncul


akibat dari faktor genetik (keturunan), kekurangan asam folat, dan ibu dengan
epilepsi yang menderita panas tinggi dalam kehamilannya mengkonsumsi
obat-obat asam volproic, anti konvulsan, klomifen. Kekurangan asam folat
akan menyebabkan bayi menderita spina bifida dan kecacatan lainnya. Asam
folat juga diketahui sebagai koenzim untuk produksi DNA serta

Universitas Indonesia
meningkatkan replikasi sel. Asam folat sangat dibutuhkan pada minggu kedua
sampai keempat pertumbuhan janin. Penelitian telah menunjukkan bahwa
kekurangan asam folat (folat) adalah faktor dalam patogenesis cacat tabung
saraf, termasuk spina bifida (Brunner & Suddart, 2002).

Pada kasus anak T yang mengalami spina bifida, Ibu Anak T mengatakan
selama hamil ia jarang mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan oleh
am folat dan dalam bentuk apa yang harus dikonsumsi. Anak T merupakan anak pertama, sehingga Ibu Anak A belum menge

li pada ibu yang sedang mengandung. Polusi udara yang disebabkan oleh lalu lintas, industri hingga debu selama masa keha

di Amerika Serikat yang dipublikasikan dalam Jurnal Epidemiologi dan


Kesehatan Komunitas sebagaimana dikutip situs BBC menyebutkan,
tingginya paparan polusi dari asap kendaraan bermotor pada ibu pada awal
dan akhir kehamilan bisa menyebabkan janin tidak tumbuh baik sehingga
bayi lahir dengan berat badan rendah. Hal ini dapat menyebabkan bayi lahir
dengan kelainan kongenital. Pancaran radiasi pada ibu hamil juga dapat
menimbulkan kelainan kongenital pada janin. Adanya riwayat radiasi yang
cukup besar pada orang tua dikhawatirkan akan dapat mengakibatkan mutasi
pada gen yang mungkin sekali dapat menyebabkan kelainan kongenital pada
bayi yang dilahirkannya (Judarwanto, 2013).

Faktor lingkungan lain yang mempengaruhi kesehatan janin adalah asap


rokok. Bukan hanya merokok langsung secara aktif, perokok pasif atau
mer satu dalam lahirnya bayi dengan kondisi buruk, seperti lahir prematur, bayi yang lahir terlalu kecil pertumbuhan terlam

ah senyawa penyebab kanker. Jika seorang ibu hamil merokok, maka semua zat-zat kimia tersebut akan mengalir dalam da

berakibat gangguan janin karena dapat mengurangi pasokan oksigen lewat tali
pusat. Nikotin berkerja seperti kolesterol yang menyebabkab penyempitan
pembuluh darah ibu hamil dan menyumbat aliran oksigen di seluruh
pembuluh darah termasuk tali pusat. Keadaan akan semakin memburuk
karena sel-sel darah merah yang membawa oksigen pada akhirnya juga bisa
membawa molekul karbon monoksida dan menyalurkannya ke janin.
Kelainan spina bifida pada Anak T tidak diketahui oleh orang tua selama
kehamilan. Orang tua baru mengetahui hal ini ketika Anak T lahir. Ibu Anak
T mengatakan tanda yang muncul berupa penonjolan pada bagian tulang
belakang dekat dengan bokong. Awalnya benjolan itu kecil namun lama
kelamaan semakin membesar. Bahkan menyebabkan Anak T hingga usia 16
tahun tidak dapat menahan BAK dan BAB. Saat ditanyakan tentang penyakit
engetahui jika dapat berdampak pada BAB dan BAK anaknya. Anak T mengatakan malu jika sampai saat ini masih menggun

plikasi teknik ini diambil dari tesis yang dibuat oleh Mariyam (2011) berjudul “Pengaruh Guided Imagery Terhadap Tingkat

Pengaruh guided imagery juga telah dirasakan manfaatnya pada berbagai


kondisi klien dalam menurunkan nyeri. Menurut Anggarini (2012) dalam
penelitiannya yang berjudul “Penggunaan Audio Recorded Guided Imagery
Therapy Untuk Mengurangi Nyeri Abdominal Fungsional Pada Anak”
membuktikan bahwa teknik guided imagery dapat mengurangi nyeri pada
anak dengan masalah abdominal fungsional. Penelitian terkait dilakukan pula
oleh Rahayu, Nursiswati, dan Sriati (2010) dalam penelitiannya berjudul
“Pengaruh Guided Imagery Relaksasi Terhadap Nyeri Kepala Pada Pasien
Cedera Kepala Ringan”, penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh guided
imagery yang signifikan terhadap penurunan nyeri pada pasien cedera kepala
ringan walaupun pasien masih belum terbebas dari rangsang nyeri. Tetapi
penelitian ini telah membuktikan keefektifan teknik tersebut untuk
mengurangi nyeri.

engalami adaptasi terhadap lingkungan rumah sakit yang baru untuknya. Ditambah dengan kondisi pasca operasi, sehingga

ningokel disebabkan oleh perubahan neurokimia meliputi depolarisasi syaraf, pengeluaran asam amino pada neurotrasmit

yang terjadi setelah intervensi bedah yang memiliki awitan yang cepat. Ketika
suatu jaringan mengalami cedera atau kerusakan mengakibatkan dilepaskanya
bahan-bahan yang dapat menstimulus reseptor nyeri seperti serotonin,
histamine, ion kalium, bradikinin, prostaglandin, dan substansi P yang
mengakibatkan adanya respon nyeri (Potter & Perry, 2005). Pada umumnya
pasien post operasi merasakan nyeri yang sangat hebat akibat dari tindakan
operasi yang merusak jaringan dan saraf sekitar, oleh karena kerusakan saraf-
saraf itu, maka ujung-ujung saraf menyampaikan stimulusnya ke sistem saraf
pusat, dan timbulah persepsi nyeri (Sjamsuhidajat & Jong, 2005).

Penerapan guided imagery pada Anak T dilakukan dengan memerintahkan


anak untuk membayangkan hal-hal yang menyenangkan. Pertama anak
diminta untuk memposisikan diri senyaman mungkin, kemudian anak
diperbolehkan memejamkan matanya. Sambil menarik nafas dalam anak
disugestidenganpikiranseolah-olahsedangmelakukanhalyang

menyenangkanatau berada padatempatyangia sukai.Dengan


membayangkan hal yang menurutnya menyenangkan makadapat
maka sensasi rasa sakit tidak dapat dikirim ke otak oleh karena itu rasa sakit berkurang”. Guided imagery juga dapat melepa

mukakan oleh Hart (2008), jika seseorang membayangkan suatu hal negatif atau menakutkan dapat meningkatkan rasa sakit
n. Pikiran dapat dilatih untuk

berfokus pada imajinasi penyembuhan. Jika imajinasi menakutkan atau


negatif memiliki kemampuan untuk meningkatkan rasa sakit dan gejala lain
yang tidak diinginkan, maka imajinasi positif atau menenangkan dapat
mengurangi gejala sakit (Hart, 2008).
4.4 Alternatif Pemecahan Masalah
Walaupun hasil penerapan guided imagery pada pasien dengan luka operasi
meningokel berhasil menurunkan nyeri. Terdapat beberapa tantangan yang
dihadapi pada saat pelaksanaan guided imagery. Pertama, guided imagery
hanya dapat digunakan pada anak usia di atas 7 tahun dan memerlukan
ruangan yang nyaman dan tenang. Alternatif pemecahan masalah terkait
kondisi lingkungan dapat dimodifikasi dengan penggunaan terapi musik di
n yang disesuaikan dengan kondisi anak. Dengan gabungan teknik nafas dalam, guided imagery, dan musik dapat membuat
ngurangi waktu penurunan nyeri.

na itu pelibatan anggota keluarga sangat dibutuhkan. Sesuai dengan konsep family centered care yang menyatakan bahwa k
BAB 5
PENUTUP

Bab ini menjelaskan kesimpulan dari pengamatan dan aplikasi tindakan


keperawatan yang berkaitan dengan upaya menjawab tujuan penulisan. Bab ini
juga memaparkan saran atau rekomendasi untuk memperbaiki karya ilmiah akhir
selanjutnya.

ahui keefektifan guided imagery dalam mengurangi gangguan rasa nyaman pada anak spina bifida paska pembedahan, dipe
asa nyaman berupa nyeri.
ual Analog Scele) pada anak paska pembedahan setelah dilakukan guided imagery selama empat hari (kurang lebih 10 meni
ided imagery
magery.

n
kan hasil penelitian terkait keefektifan pada pemberian guided
dalam menangani nyeri, diharapkan institusi pelayanan dapat menerapkan teknik ini sebagai terapi komplementer y

bersama dengan penatalaksanaan terapi farmakologi.

5.2.2 Pendidikan
Bedasarkan hasil penelitian yang menunjukkan terjadi penurunan nyeri pada
anak paska pembedahan yang diberikan guided imagery, diharapkan hasil
ini dapat menjadi pertimbangan untuk institusi pendidikan dalam

42 Universitas Indonesia
43

memberikan informasi lebih selama proses perkuliahan terkait penerapan


guided imagery dalam asuhan keperawatan.

5.2.3 Penelitian
Aplikasi guided imagery ini baru diberikan kepada seorang pasien dengan
paska pembedahan dengan usia diatas 10 tahun. Oleh karena itu, diharapkan
penerapan aplikasi guided imagery ini dapat diterapkan bukan hanya pada
n tetapi pada kasus lainnya dengan rentang usia berbeda. Sehingga dapat lebih meyakinkan bahwa teknik ini efektif diguna

Universitas Indonesia
DAFTAR PUSTAKA

Anggarini. (2012). Penggunaan audio recorded guided imagery therapy untuk


mengurangi nyeri abdominal fungsional pada anak. Tesis. Tidak
Dipublikasikan.
Asmadi. (2008). Tehnik prosedural keperawatan: Konsep dan aplikasi
kebutuhan dasar klien. Jakarta: EGC.
.R., Kliegman, R., & Arvin, A.M. (2000). Ilmu kesehatan anak. Vol 1.
enerjemah: Wahab, S., dkk). Jakarta: EGC
& Sowden, L. A. (2002). Buku saku keperawatan pediatri, halaman
a: EGC.
& Hawks, H.J. (2009). Medical surgical nursing clinical management for positive outcomes. 8 th Edition. St Louis Missouri: E
Dewi, R.H. (2010). Asuhan keperawatan anak spina bifida den

000). Nursing care plans: Guidelines for planning and documenting patient care. (3 Eds.) (Kariasa, M.I. & Sumarwati, M.N
mentary therapies for healthcare professionals. Chapter 7: CAM therapies in practice: art therapy, music therapy and relax
rd
INC, 14(6), 295-299.

Helms, J.E., & Barone, C.P. (2008). Physiology and treatment of pain.
Critical care nurse, 28 (6), 38-48.
Herdman, T.H. (2012). NANDA: Diagnosis keperawatan definisi dan klasifikasi
2012-2014. Jakarta: EGC.
Hockenberry, M.J., & Wilson, D. (2009). Wong’s essentials of pediatric nursing
8th ed. Missouri: Mosby Elsevier.

44 Universitas Indonesia
45

IASP. (2007). IASP pain terminology. Juni 28, 2013. http://www.iasp-pain.org.


Jacobson, A.F. (2006). Cognitive-behavioral interventions for IV insertion pain.
AORN JOURNAL, 84(6), 1031-1045.
Judarwanto, W. (2013). Waspadai 10 kondisi kehamilan penyebab gangguan
Janin. Juni 21, 2013. http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan
anak/2013/04/09/waspadai-10-kondisi-kehamilan-penyebab-gangguan-
janin-549318.html
M.A. (2005). Comfort theory and its application to pediatric nursing. Pediatrc Nursing, 31(3).
Fundamentals of nursing 1 seventh edition. Philadelphia: Mosby Company.
aruh guided imagery terhadap tingkat nyeri anak usia 7-
pemasangan infus di RSUD Kota Semarang. Tesis. Depok: Tidak dipublikasikan.
onary. (2001). Merriam-Webster’s collegiate dictionary
MA: Merriam-Webster.
G. (2006). Clinical nursing skills & techniques (6th ed).
y.
Kelainan kongenital.Juni 28, 2013.
dan Sriati, A. (2010). Pengaruh Guided Imagery Relaksasi Terhadap Nyeri Kepala Pada Pasien Cedera Kepala Ringan”. Tesis.
magery therapy. Juli 1, 2013.
uman physiology: From cell to systems. (2 nd Eds).

(Pendit, B.U, alih bahasa). West, a Division of International Thomson


Publishing Inc.
Smeltzer, S.,C. & Bare, B.,G. (2002). Brunner & Suddarth’s textbook of medical-
surgical. (Waluyo,A. …[et al], penerjemah). Philadelphia: Lippincott-
Raven Publishers. (Sumber asli diterbitkan 1996).
Snyder, M., & Lindquist, R. (2002). Complementary/alternaive therapies in
Universitas Indonesia
nursing (4th ed). New York: Springer publishing company.
Sjamsuhidajat, R., & Jong., W. (2005). Buku ajar ilmu bedah, edisi 2. Jakarta:
EGC.
Tamsuri, A. (2007). Konsep penatalaksanaan nyeri. Jakarta: EGC
Wilkinson, J. M., & Ahern, N. M. (2012). Buku saku diagnosa keperawatan:
diagnosa NANDA, intervensi NIC, kriteria hasil NOC. Jakarta: EGC.
Wong, D. L., Hockenberry-Eaton, M., Wilson, D., Winkelstein, M. L., &
ng’s essentials of pediatric nursing (7th ed.). St. Louis: Mosby, Inc.
ry-Eaton, M., Wilson, D., Winkelstein, M. L., & Schwartz, P. (2009). Wong: Buku ajar keperawatan pediatrik, volume 2. Jakar
tion. (2009). Pelayanan kesehatan anak di rumah sakit: Pedoman bagi rumah sakit rujukan tingkat pertama di kabupaten/ko
WOC SPINA BIFIDA
Jenis Spina Bifida: Genetik Kekurangan Asam folat Faktor Risiko:
1. Spina Bifida Okulta Lingkungan (Polusi Udara, Radiasi, Asap roko)
(Defek tidak terlihat) Konsumsi obat-obatan
Pengertian:
2. Spina Bifida Kistik (DefekKegagalan penutupan tulang spina (defek midline) (Smeltzer & Bare, 2002).
terlihat berupa SPINA BIFIDA Hidrosefalus
penonjolan)
a.Meningokel (Menutupi
meninges dan cairan Peningkatan cairan Risiko Infeksi
spinal) Cairan spinal mengisi bagian defek serebrospinal
b. Mielomeningokel (Berisi Gangguan rasa nyaman
cairan spinal, meninges,
Operasi Terdapat luka operasi
Benjolan di vetebra (lumbal/ sakral)
Pemeriksaan Diagnostik:
Gangguan Body Image
1. MRI (Magnetic
Resonance Imaging) Nyeri Nyeri Akut
Menekan sistem saraf (medulla spinalis)
2. Ultrasuara
3. CT Scan
4. Mielografi Keterbatasan gerak
Gangguan fungsi otot
5. Triple Screen Gangguan fungsi otot springter
6. Pemeriksaan Laboratorium
- Urinalisis Kerusakan Mobilitas Fisik
- Kultur Kelemahan Panggul Kelemahan Tungkai atau kaki
BAK tidak terasa
- BUN
- Kreatinin
Mengompol

Tujuan: nyeri dapat berkurang atau menghilang. Kriteria Hasil


Skala nyeri berkurang / klien mampu melaporkan pengurangan rasa nyeri (skala nyeri turun menjadi sekitar 2-3, intensitas berkurang, dapat melakukan teknik relaksasi nonfarmakologis untuk mengura
Tujuan: menunjukkan kemampuan mobilisasi optimal.
Tujuan:Tidak
Kriteria Hasil:
terjadi infeksi. Kriteria Hasil:Klien tampak tenang / tidak menyeringai kesakitan
Tujuan: gangguan citra tubuh berkurang.
Kriteria Hasil: Tidak ditemukan tanda dan gejala infeksi Klien
Mempertahankan mobilitas optimal yang dapat ditoleransi. mampu
seperti demam berpartisipasi dalamsuhu,
atau peningkatan aktifitas dan istirahat
kemerahan, bengkak, pus pada luka.
Klien mampu menunjukkan penggunaan ketrampilan relaksasi
- Mengidentifikasi kekuatan Melakukan
personal pergerakan dan perpindahan secara perlahan.
TTV dalam batas normal.
Mempertahankan atau meningkatkan kekuatan danPasien
fungsidan
bagian
keluarga
tubuh memelihara
yang sakit. higiene Klien mampu
personal dengan beristirahat
mencusi dengansebelum
tangan nyaman.dan sesudah bersentuhan dengan balutan, cairan tubuh klien.
- Menunjukan penerimaan penampilan
- Mengenali perubahan aktual penampilan tubuh Pasien dan keluarga mampu melaporkan tanda dan gejala infeksi
- Menyatakan kepuasan terhadap penampilan tubuh
Intervensi Keperawatan:
- Bersikap realistik mengenaiIntervensi
hubunganKeperawatan:
antara
Kaji nyeri meliputi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas (0-10), dan faktor presipitasi.
tubuh dan lingkungan Memfasilitasi penggunaan postur dan pergerakan dalam
Intervensi
melakukan
Keperawatan:
aktivitas.
- Memelihara interaksi sosialMengatur
yang dekatposisi
dan pasien secara periodik (tengkurap atau
Memantau
miring TTV,
selama
perhatikan
2 jam sekali)
peningktan Pantau
dan dorong
suhu. TTV
untuk latihan nafas dalam.
hubungan personal dan pasif. tindakan aseptik sebelum danPertahahankan
Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktifMelakukan sesudah kontakimobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring.
dengan klien.
Memberikan perawatan kulit yang baik, masase titikMelakukan
yang tertekan
perawatan
setelahluka
perubahan
aseptik.posisi.Jelaskan prosedur sebelum memulai setiap tindakan.
Intervensi Keperawatan: Kolaborasi dengan ahli terapi Mengobservasi tanda-tanda infeksi. Dorong pasien untuk mendiskusikan masalah yang dialaminya.
- Kaji dan dokumentasikan respons verbal Berikan antibiotik sesuai indikasi. Berikan posisi nyaman.
dan nonverbal pasien terhadap tubuh pasien. Dorong pasien dalam menggunakan teknik manajemen nyeri, seperti relaksasi napas dalam, imajinasi visualisasidan sentuhan terapeutik.
- Identifikasi mekanisme koping yang biasa digunakan. Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi.
- Dengarkan pasien dan keluarga secara aktif dan
akui realitas.
- Beri dorongan ke pasien dan keluarga
untuk mengungkapkan perasaannya.
- Dukung mekanisme koping yang biasa dilakukan.

Hockenberry, M.J., & Wilson, D. (2009). Wong’s essentials of pediatric nursing 8th ed. Missouri: Mosby Elsevier.
Sumber: Smeltzer, S.,C. & Bare, B.,G. (2002). Brunner & Suddarth’s textbook of medical-surgical. (Waluyo,A. …[et al], penerjemah). Philadelphia: Lippincott-Raven Publishers. (Sumber asli diterbitkan 1996).
Wilkinson, J. M., & Ahern, N. M. (2012). Buku saku diagnosa keperawatan: diagnosa NANDA, intervensi NIC, kriteria hasil NOC. Jakarta: EGC.
Wong, D. L., Hockenberry-Eaton, M., Wilson, D., Winkelstein, M. L., & Schwartz, P. (2009). Wong: Buku ajar keperawatan pediatrik, volume 2. Jakarta: EGC.
Universitas Indonesia
LAPORAN PENGKAJIAN KEPERAWATAN ANAK
PRAKTIK KEPERAWATAN KESEHATAN MASYARAKAT
PERKOTAAN (KKMP)

Nama Mahasiswa : Dewanti


NPM 0806456991
Tanggal Praktik : 15-24 Mei 2013
Ruang/ RS : Teratai Lt.3 Ruang Bedah RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan

I. Identitas
A. Identitas Klien
1. Nama/Nama panggilan : An. T
2. Tempat tgl lahir/usia : Bogor, 20 Februari 1997
3. Jenis kelamin : Perempuan
4. A g a m a : Islam
5. Alamat : Jl. Lebak Wangi RT 03/02 Parung, Bogor, Jawa Barat
6. Tgl masuk : 13 Mei 2013 pukul 11.00
7. Tgl pengkajian : 20 Mei 2013
8. Diagnosa medik : Spina Bifida

B. Identitas Orang tua

1. Nama Ayah/ Ibu : Bapak K/ Ibu T


2. Usia Ayah/ Ibu : 40 tahun/ 36 tahun
3. Pekerjaan ayah : Buruh
4. Pekerjaan ibu : Ibu rumah tangga
5. Alamat : Kp. Kali Putih RT 05/ 03 Citayam, Bogor, Jawa Barat
6. Agama : Islam
7. Suku bangsa : Sunda
8. Pendidikan ayah : SMA
9. Pendidikan ibu : SMP

C. Identitas Saudara Kandung


Anak T adalah anak pertama dari 4 bersaudara. Anak ke dua bernama An. A, seorang
perempuan berusia 12 tahun, saat ini duduk di kelas VI SD. Anak ke tiga bernama An. K, seorang
perempuan berusia 7 tahun, saat ini duduk di kelas 1 SD. Anak terakhir bernama An. M, seorang
laki-laki berusia 1 tahun. Dari keempat anak Ibu T, hanya An. T yang mengalami kelainan sejak
lahir. Anak-anaknya yang lahir lahir dengan normal.

II. Riwayat Kesehatan


A. Riwayat Kesehatan Sekarang :
Keluhan Utama : Klien datang ke poli bedah saraf untuk melakukan pemeriksaan dengan
keluhan benjolan di tulang belakang, benjolan semakin besar sejak An.T lahir. An. T mengeluh
tidak dapat menahan BAB dam BAK hingga usia 16 tahun.
Riwayat Keluhan Utama :
Benjolan muncul sejak lahir.
Keluhan Pada Saat Pengkajian :
An.T mengeluh benjolan pada bagian belakang tubuh anaknya semakin membesar. Sampai usia
saat ini An.T tidak bisa menahan BAB dan BAK sehingga ia selalu menggunakan diapers. An. T
merasa malu karena masih mengompol dan menggunakan diapers.

Riwayat Kesehatan Keluarga


¤ Genogram

Tn. K Ib. K
40 th

An.A An. M
An.T An.I
12 th 1 th
16 th 7 th

Ket :
: Klien

: Sumber Informasi

: Tinggal serumah

IV. Riwayat Immunisasi (imunisasi lengkap)


BCG (+), DPT (+), Polio (+), Campak (+), Hepatitis (+)

V. Riwayat Tumbuh
Kembang Pertumbuhan
Fisik
1. Berat badan : 40 kg
2. Tinggi badan : 148 cm

VI. Riwayat Nutrisi


A. Pemberian ASI
Sejak lahir hingga usia 1 tahun.
B. Pemberian susu formula
1. Alasan pemberian : produksi ASI yang kurang.
2. Jumlah pemberian : 3 x Sehari
3. Cara pemberian : Botol susu

VII. Riwayat Psikososial


¤ Anak tinggal bersama : orang tua di rumah
¤ Lingkungan berada di : perumahan penduduk
¤ Rumah dekat dengan : jalan raya, tempat bermain tersedia
kamar klien : tidur bersama orang tua
¤ Rumah ada tangga : tidak ada
¤ Hubungan antar anggota keluarga : baik
¤ Pengasuh anak : tidak ada

VIII. Riwayat Spiritual


¤ Support sistem dalam keluarga : ayahnya bekerja di luar kota, jarang pulang
¤ Kegiatan keagamaan : -

IX. Reaksi Hospitalisasi


A. Pengalaman keluarga tentang sakit dan rawat inap
- Ibu membawa anaknya ke RS karena : ada benjolan di dekat bokong
- Apakah dokter menceritakan tentang kondisi anak : ya
- Perasaan orang tua saat ini : cemas
- Orang tua selalu berkunjung ke RS : ya
B. Pemahaman anak tentang sakit dan rawat inap
Tidak pernah dirawat sebelumnya

X. Aktivitas sehari-hari
A. Nutrisi
Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit
1. Selera makan Baik Baik

B. Cairan
Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit
1. Jenis minuman Air Putih Air Putih
2. Frekuensi minum > 5 kali > 5 kali
3. Kebutuhan cairan 1000 cc 1000 cc
4. Cara pemenuhan Baik Baik
C. Eliminasi (BAB&BAK)
Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit
1. Tempat pembuangan Normal Normal
2. Frekuensi (waktu) 4x/hr (BAK), 1-2x/ hr (BAB) 4x/hr (BAK), 1-2x/ hr (BAB)
3. Konsistensi Cair (BAK), Lunak (BAB) Cair (BAK), Lunak (BAB)
4. Kesulitan Tidak terasa saat BAB dan BAK Tidak terasa saat BAB dan BAK
5. Obat pencahar Tidak menggunakan Tidak menggunakan
D. Istirahat tidur
Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit
1. Jam tidur
- Siang 2 jam/ hari 1 jam/ hari
- Malam 8 jam/ hari 6 jam/ hari
2. Pola tidur Normal Normal
3. Kebiasaan sebelum tidur Tidak ada Tidak Ada
4. Kesulitan tidur Tidak ada Tidak ada

E. Olah Raga
Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit
1. Program olah raga - -
2. Jenis dan frekuensi
3. Kondisi setelah olah raga
F. Personal Hygiene
Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit
1. Mandi
- Cara Mandi sendiri Di usap dengan handuk
- Frekuensi 2xsehari 2x/hari
- Alat mandi Sabun, sikat gigi, pasta gigi Sabun, sikat gigi, pasta gigi
2. Cuci rambut
- Frekuensi 2x/hari 2xsehari
- Cara Diusap-usap Diusap-usap
3. Gunting kuku
- Frekuensi 1 pekan sekali Tidak pernah digunting
- Cara Digunting menggunakan -
guntung kuku sendiri.
4. Gosok gigi
- Frekuensi Setiap mandi Setiap mandi
- Cara Sikat gigi Sikat gigi

G. Aktifitas/Mobilitas Fisik
Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit
1. Kegiatan sehari-hari Suka bermain, aktif Suka bermain, aktif
2. Pengaturan jadwal harian Tidak ada Tidak ada
3. Penggunaan alat Bantu aktifitas Tidak Tidak
4. Kesulitan pergerakan tubuh Tidak Ya

H. Rekreasi
Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit
1. Perasaan saat sekolah - -
2. Waktu luang Setiap saat Setiap saat
3. Perasaan setelah rekreasi Senang Senang
4. Waktu senggang klg Setiap hari Setiap hari
5. Kegiatan hari libur Tidak terjadwalkan Tidak terjadwalkan

XI. Pemeriksaan Fisik


1. Keadaan umum : baik
2. Kesadaran : compos mentis
3. Tanda – tanda vital :
a. Tekanan darah : 110/80 mmHg
b. Denyut nadi : 100 x/ menit
c. Suhu : 36,8 o C
d. Pernapasan : 24 x/ menit
4. Berat Badan : 55 kg
5. Tinggi Badan : 148 cm
6. Kepala
Inspeksi
Keadaan rambut & Hygiene kepala :
a. Warna rambut : Hitam
b. Penyebaran : Merata
c. Mudah rontok : Tidak
d. Kebersihan rambut : Bersih
Palpasi
Benjolan : ada / tidak ada : tidak ada
Nyeri tekan : ada / tidak ada : tidak ada
Tekstur rambut : kasar/halus : halus
7. Muka
Inspeksi
a. Simetris / tidak : Simetris
b. Bentuk wajah : Bulat
c. Gerakan abnormal : Tidak ada
d. Ekspresi wajah : Ceria
Palpasi
Nyeri tekan / tidak : tidak ada
8. Mata
Inspeksi
a. Pelpebra : Edema (-)
Radang (-)
b. Sclera : Ikteris (-)
c. Conjungtiva : Radang (-)
Anemis (-)
d. Pupil : Isokor
- Refleks pupil terhadap cahaya : (+)
e. Posisi mata :
Simetris / tidak : simetris
f. Gerakan bola mata : normal
g. Penutupan kelopak mata : normal
h. Keadaan bulu mata : normal
i. Penglihatan : - Kabur (-)
- Diplopia (-)
9. Hidung & Sinus
Inspeksi
a. Posisi hidung : Ditengah
b. Bentuk hidung : simetris
c. Keadaan septum : normal
d. Secret / cairan : tidak ada
10. Telinga
Inspeksi
a. Posisi telinga : normal
b. Ukuran / bentuk telinga : normal
c. Aurikel : normal
d. Lubang telinga : bersih
e. Pemakaian alat bantu : tidak
Palpasi
Nyeri tekan / tidak : tidak
11. Mulut
Inspeksi
a. Gigi
- Keadaan gigi : baik
- Karang gigi / karies : tidak ada
- Pemakaian gigi palsu : tidak
b. Gusi
Merah / radang / tidak : pink
c. Lidah
Kotor / tidak : tidak
d. Bibir
- Cianosis / pucat / tidak : tidak
- Basah / kering / pecah : lembab
- Mulut berbau / tidak : tidak
- Kemampuan bicara : normal
12. Tenggorokan
a. Warna mukosa : pink
b. Nyeri tekan : tidak ada
c. Nyeri menelan : tidak ada
13. Leher
Inspeksi
Kelenjar thyroid : tidak terjadi pembesaran
Palpasi
a. Kelenjar thyroid : tidak teraba
b. Kaku kuduk / tidak : tidak
c. Kelenjar limfe : tidak ada pembesaran
14. Thorax dan pernapasan
a. Bentuk dada : simetris
b. Irama pernafasan : teratur
c. Pengembangan di waktu bernapas : normal
d. Tipe pernapasan : spontan
Palpasi
a. Vokal fremitus : tidak ada
b. Massa / nyeri : tidak ada
Auskultasi
a. Suara nafas : Vesikuler
b. Suara tambahan : Ronchi (-) / Wheezing (-) / Rales (-)
Perkusi
Redup / pekak / hypersonor / tympani : timpani
15. Jantung
Palpasi
Pembesaran jantung : tidak ada
Auskultasi
a. BJ I : normal
b. BJ II : normal
c. BJ III : tidak terdengar
d. Bunyi jantung tambahan : murmur (-), gallop (-)
16. Abdomen : supel, tidak ada luka, tidak ada nyeri tekan,
BU(+)N
17. Genitalia dan Anus : normal
18. Ekstremitas
Ekstremitas atas
a. Motorik
- Pergerakan kanan / kiri : aktif
- Pergerakan abnormal : tidak ada
- Kekuatan otot kanan / kiri : baik
- Tonus otot kanan / kiri : baik
- Koordinasi gerak : baik
b. Refleks
- Biceps kanan / kiri : normal
- Triceps kanan / kiri : normal
c. Sensori
- Nyeri : tidak ada
- Rangsang suhu : normal

Ekstremitas bawah
a. Motorik
- Gaya berjalan : normal
- Kekuatan kanan / kiri : baik
- Tonus otot kanan / kiri : baik
b. Refleks
- KPR kanan / kiri : normal
- APR kanan / kiri : normal
- Babinsky kanan / kiri : ada
c. Sensori
- Nyeri : tidak ada
- Rangsang suhu : baik
19. Status Neurologi.
Saraf – saraf cranial
a. Nervus I (Olfactorius) : penghidu : normal
b. Nervus II (Opticus) : Penglihatan : normal
c. Nervus III, IV, VI (Oculomotorius, Trochlearis, Abducens)
- Konstriksi pupil : normal
- Gerakan kelopak mata : normal
- Pergerakan bola mata : normal
- Pergerakan mata ke bawah & dalam: normal
d. Nervus V (Trigeminus)
- Sensibilitas / sensori : normal
- Refleks dagu : normal
- Refleks cornea : normal
e. Nervus VII (Facialis)
- Gerakan mimik : normal
- Pengecapan 2 / 3 lidah bagian depan : normal
f. Nervus VIII (Acusticus)
Fungsi pendengaran : normal
g. Nervus IX dan X (Glosopharingeus dan
Vagus)
- Refleks menelan : baik
- Refleks muntah : baik
h. Nervus XI (Assesorius)
- Memalingkan kepala ke kiri dan ke kanan : normal
- Mengangkat bahu : normal
i. Nervus XII (Hypoglossus)
- Deviasi lidah : normal
Tanda – tanda perangsangan selaput otak
a. Kaku kuduk : tidak ada
b. Kernig Sign : normal
c. Refleks Brudzinski : normal

XI. Pemeriksaan Tingkat Perkembangan (0 – 6 Tahun


) Dengan menggunakan DDST
1. Motorik kasar : Normal
2. Motorik halus : Normal
3. Bahasa : Normal
4. Personal social : baik
XII. Test Diagnostik
No Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan
1 Laboratorium Hemoglobin 11,4 g/dL (N:12,8-16,8 g/dL), Hematokrit 34%
Tanggal 17 Mei 2013 (N: 33%- 45%), Leukosit 11.700/ul (N: 4.500-13.000/ul),
Trombosit 209.000/ul (N: 150.000-440.000/ul), Eritrosit 3,87
juta/ul (N: 3,8-5,2 juta/ul).
Hemostasis: APTT 29 detik (N: 27,4-39,3 detik), PT 12,9
detik (N: 12,7-16,1 detik). Kimia Klinik: SGOT 21 U/I (N:0-
34 U/I), SGPT 7 U/I (N: 0-40 U/I), Albumin 4,6 g/dl (N: 3,4-
4,8 g/dl), Ureum 30 mg/dl (N: 0-48 mg/dl), Kreatinin 0,6
mg/dl (0.0-0.9 mg/dl), GDS 100 mg/dl (70-140 mg/dl),
Natrium 144 mmol/l (135-147 mmol/l), Kalium 3,91 mmol/l
(3.1-5,1 mmol/l), Klorida 110 mmol/l (N: 95-108 mmol/l).
2 Radiologi berupa foto toraks cor dan pulmo dalam batas normal (mediastinum superior
tak melebar, ukuran dan bentuk jantung normal, CTR <50%,
aorta baik, pulmo kedua hilus tak menebal, kedua sinus dan
diafragma baik, tulang-tulang costae dan soft tissue baik).

XIII. Terapi saat ini


- Terapi cairan NaCl 0,9 % 500 cc - Gentamicin 2x80 mg
- Ikaneuron 1x1 ampul - Dexametason 3x5 mg
- Tramadol 1x100 mg - Ranitidin 2x50 mg,
- Ceftriaxone 2x1 gr - Ketorolac 2 x 10 mg.
IX. Analisa Data

DATA YANG DIPEROLEH MASALAH KEPERAWATAN


DS: Nyeri Akut
Klien mengatakan nyeri skala 7 dari 10 (Visual Analog Scale),
frekuensi setiap saat, bertambah nyeri apabila digerakkan, nyeri
seperti tertusuk- tusuk, nyeri terasa di sekitar luka operasi. Anak T
mengatakan tidak bisa tidur sejak semalam.

DO:
- Anak T tampak meringis menahan sakit saat diajak berbicara.
- Diaforesis (+)
- Tampak melindungi area luka.
- Terdapat luka post op di daerah tulang belakang sepanjang 15
cm ditutup oleh kassa.
- Hasil TTV: TD 110/80 mmHg; Suhu 36,8o C ; Nadi 100 x/menit
; RR 24 kali/ menit.
- Tampak gelisah
- Wajah tampak layu

DS: Risiko Infeksi


- Klien mengatakan setiap hari luka dibersihkan
- Klien mengatakan nyeri saat dibersihkan
- Klien mengatakan tidak ada rembesan luka

DO:
- Post op rekonstruksi meningokel
- Tampak balutan luka pada daerah sarkum
- Tidak ditemukan tanda-tanda infeksi seperti pus (-), bau (-),
kemerahan (-), bengkak (-), panas (-), penurunan fungsi (-),
jahitan menyatu dengan baik, dan balutan paten.
- Terpasang DC dan drain sejak tanggal 17 Mei 2013
- Suhu tubuh klien: 36.80 C
- Hasil lab (17 Mei 2013; 19.34) hemoglobin 11,4 g/dL (N:12,8-
16,8 g/dL), leukosit : 11,7 ribu/ul (nilai normal (4.5 – 13.0
ribu/ul)
DS: Hambatan Mobilitas Fisik
- Klien mengatakan nyeri jika melakukan pergerakkan
- Klien mengatakan pegal dengan posisi miring karena
biasa berbaring

DO:
- Klien menjaga area luka agar tidak bergesek.
- Kesulitan membolak-balikan posisi.
- Tampak balutan luka pada daerah sakrum.
- Post op rekonstruksi meningokel.
- Klien tirah baring.
- Keterbatasan melakukan pergerakan sendi
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
KLIEN DENGAN POST OP REKONSTRUKSI MENINGOKEL PADA ANAK T

No Diangnosa Keperawatan Kriteria Evaluasi Intervensi Rasional


1. Nyeri Akut Setelah dilakukan tindakan MANDIRI
keperawatan selama 4 hari, 1. Kaji nyeri meliputi lokasi, 1. Berguna untuk mengetahui keefektifan terapi.
Pada hari ke 3 post op rekonstruksi nyeri klien dapat berkurang atau karakteristik, durasi, frekuensi, Perubahan karakteristik nyeri menunjukkan
meningokel data yang diperoleh: menghilang. kualitas, intensitas (0-10), dan faktor terjadinya masalah sehingga perlu dilakukan
presipitasi. intervensi yang sesuai.
DS: Kriteria Hasil:
Klien mengatakan nyeri skala 7 dari 10 - Skala nyeri berkurang / klien 2. Pantau TTV 2. Respon autonomik meliputi perubahan
(Visual Analog Scale), frekuensi setiap mampu melaporkan tekanan darah, nadi, dan pernafasan, yang
saat, bertambah nyeri apabila digerakkan, pengurangan rasa nyeri (skala berhubungan dengan keluhan/ penghilang
nyeri seperti tertusuk- tusuk, nyeri terasa di nyeri turun menjadi sekitar 2- nyeri.
sekitar luka operasi. Anak T mengatakan 3, intensitas berkurang, dapat
tidak bisa tidur sejak semalam. melakukan teknik relaksasi 3. Pertahahankan imobilisasi 3. Tirah baring dalam posisi yang nyaman
nonfarmakologis untuk bagian yang sakit dengan tirah memungkinkan pasien untuk menurunkan
DO: mengurangi nyeri ) baring. spasme otot, menurunkan penekanan bagian
- Anak T tampak meringis - Klien tampak tenang / tidak tubuh tertentu.
menahan sakit saat diajak menyeringai kesakitan
berbicara. - Klien mampu berpartisipasi 4. Jelaskan prosedur sebelum memulai 4. Memungkinkan pasien untuk siap secara
- Diaforesis (+) dalam aktifitas dan istirahat setiap tindakan. mental untuk setiap aktifitas, juga
- Tampak melindungi area luka. - Klien mampu menunjukkan berpartisipasi dalam mengontrol tingkat
- Terdapat luka post op di daerah tulang penggunaan ketrampilan ketidaknyamanan.
belakang sepanjang 15 cm ditutup oleh relaksasi
kassa. - Klien mampu beristirahat 5. Dorong pasien untuk mendiskusikan 5. Membantu untuk menghilangkan ansietas
- Hasil TTV: TD 110/80 mmHg; Suhu dengan nyaman. masalah yang dialaminya. yang dapat meningkatkan nyeri.
36,8o C ; Nadi 100 x/menit ; RR 24
kali/ menit. 6. Berikan posisi nyaman. 6. Meningkatkan sirkulasi umum, menurunkan
- Tampak gelisah ketegangan otot, meningkatkan relaksasi.
- Wajah tampak layu
7. Dorong pasien dalam menggunakan 7. Memfokuskan kembali perhatian,

Universitas Indonesia
teknik manajemen nyeri, seperti meningkatkan rasa kontrol dan dapat
relaksasi napas dalam, imajinasi meningkatkan kempuan koping dalam
visualisasidan sentuhan terapeutik. mananjemen nyeri.

KOLABORASI
1. Kolaborasi pemberian analgesik 1. Merupakan tindakan dependent perawatan,
sesuai indikasi. dimana analgesik berfungsi untuk memblok
stimulus nyeri.
2. Risiko Infeksi Setelah dilakukan tindakan MANDIRI
keperawatan selama 4 hari, 1. Memantau TTV, 1. Demam 38oC segera setelah pembedahan
Pada hari ke 3 post op rekonstruksi klien tidak mengalami infeksi. perhatikan peningktan dapat menandakan infeksi luka atau
meningokel data yang diperoleh: suhu. pembentukan tromboflebitis.
Kriteria Hasil:
DS: 1. Tidak ditemukan tanda dan 2. Menurunkan risiko pasien terkena infeksi
- Klien mengatakan setiap hari luka gejala infeksi seperti demam 2. Melakukan tindakan aseptik sekunder. Mengontrol penyebaran infeksi.
dibersihkan atau peningkatan suhu, sebelum dan sesudah kontak
- Klien mengatakan nyeri saat kemerahan, bengkak, pus dengan klien.
dibersihkan pada luka. 3. Melindungi pasien dari terkontaminasi bakteri
- Klien mengatakan tidak ada 3. Melakukan perawatan luka aseptik. dan membantu dalam penyembuhan luka.
rembesan luka 2. TTV dalam batas normal.
4. Mencegah terjadinya infeksi dan sebagai
DO: 3. Pasien dan keluarga 4. Mengobservasi tanda-tanda infeksi. dasar melakukan intervensi.
- Post op rekonstruksi meningokel memelihara higiene personal
- Tampak balutan luka pada daerah dengan mencusi tangan
sarkum sebelum dan sesudah KOLABORASI 1. Mencegah infeksi.
- Tidak ditemukan tanda-tanda infeksi bersentuhan dengan balutan, 1. Berikan antibiotik sesuai indikasi.
seperti pus (-), bau (-), kemerahan (-), cairan tubuh klien.
bengkak (-), panas (-), penurunan
fungsi (-), jahitan menyatu dengan 4. Pasien dan keluarga mampu
baik, dan balutan paten. melaporkan tanda dan gejala
- Terpasang DC dan drain sejak tanggal infeksi
17 Mei 2013
- Suhu tubuh klien: 36.80 C
- Hasil lab (17 Mei 2013; 19.34)

Universitas Indonesia
hemoglobin 11,4 g/dL (N:12,8-16,8
g/dL), leukosit : 11,7 ribu/ul (nilai
normal (4.5 – 13.0 ribu/ul)
3. Hambatan Mobilitas Fisik Setelah dilakukan intervensi MANDIRI
selama 4 hari, klien akan 1. Memfasilitasi penggunaan postur 1. Mencegah keletihan dan ketegangan atau
Pada hari ke 3 post op rekonstruksi menunjukkan kemampuan dan pergerakan dalam cedera muskuloskeletal.
meningokel data yang diperoleh: mobilisasi optimal. melakukan aktivitas.

DS: Kriteria Hasil: 2. Mengatur posisi pasien secara 2. Mencegah insiden komplikasi kulit atau
- Klien mengatakan nyeri jika Klien akan: periodik (tengkurap atau miring pernafasan.
melakukan pergerakkan 1. Mempertahankan mobilitas selama 2 jam sekali) dan dorong
- Klien mengatakan pegal dengan posisi optimal yang dapat untuk latihan nafas dalam.
miring karena biasa berbaring ditoleransi.
2. Melakukan pergerakan dan 3. Ajarkan dan dukung pasien dalam 3. Mempertahankan dan meningkatkan kekuatan
DO: perpindahan secara latihan ROM aktif dan pasif. otot.
- Klien menjaga area luka agar tidak perlahan.
bergesek. 3. Mempertahankan atau 4. Memberikan perawatan kulit yang 4. Menurunkan risiko iritasi atau kerusakan
- Kesulitan membolak-balikan posisi. meningkatkan kekuatan dan baik, masase titik yang tertekan kulit.
- Tampak balutan luka pada daerah fungsi bagian tubuh yang setelah perubahan posisi.
sakrum. sakit.
- Post op rekonstruksi meningokel. KOLABORASI
- Klien tirah baring. 1. Kolaborasi dengan ahli terapi 1. Sebagai suatu sumber untuk mengembangkan
- Keterbatasan melakukan perencanaan dan mempertahankan mobilitas
pergerakan sendi pasien.

Universitas Indonesia
CATATAN PERKEMBANGAN

Nama Klien : Anak T (16 Tahun)


Diagnosis Medis : Spina Bifida
Ruang Rawat : Teratai lantai III Utara RSUP Fatmawati

Tgl Diagnosis Implementasi Evaluasi SOAP Tanda


Keperawatan Tangan
21/05/2013 Nyeri Akut - Mengkaji nyeri meliputi lokasi, S:
karakteristik, durasi, frekuensi, - Klien mengatakan nyeri di bagian tulang
06.00 Pada hari ke 3 (20 Mei 2013) post kualitas, intensitas (0-10), dan belakang bawah, nyeri seperti tertusuk,
- op rekonstruksi meningokel data faktor presipitasi menggunakan muncul terutama ketika melakukan
12.00 yang diperoleh: bantuan skala visual analogi pergerakan atau tergesek, kualitas
setiap 8 jam.. tumpul, skala berkurang dari 7 menjadi 4.
DS: - Memantau TTV setiap 8 jam - Klien mengatakan nyeri berkurang setelah
Klien mengatakan nyeri skala 7 - Mertahahankan imobilisasi bagian melakukan nafas dalam dan
dari 10 (Visual Analog Scale), yang sakit dengan tirah baring. membayangkan hal-hal yang
frekuensi setiap saat, bertambah - Memberikan posisi nyaman. menyenangkan ketika terasa nyeri
nyeri apabila digerakkan, nyeri - Mengajarkan teknik relaksasi muncul.
seperti tertusuk- tusuk, nyeri nafas dalam (pukul 09.00). O:
terasa di sekitar luka operasi. - Mengajarkan teknik guided - Klien terlihat lebih rileks dan tersenyum
Anak T mengatakan tidak bisa imagery (Pukul 09.00). saat ditanyakan perasaannya setelah
tidur sejak semalam. - Kolaborasi pemberian terapi melakukan teknik nafas dalam dan
obat ketorolac 2x10 mg (Pukul guided imagery.
DO: 08.00 dan 20.00) - Hasil pengukuran TTV: TD 110/70 mmHg,
- Anak T tampak meringis N 90X/menit, RR 18X/menit; Suhu 36,6oC.
menahan sakit saat diajak - Klien tampak dalam posisi tengkurap.
berbicara. - Klien diberikan ketorolac 10 mg pada pukul
- Diaforesis (+) 08.00
- Tampak melindungi area luka. A : Masalah nyeri teratasi sebagian
- Terdapat luka post op di P:
daerah tulang belakang - Motivasi klien untuk melakukan
sepanjang 15 cm ditutup oleh teknik relaksasi apabila terasa nyeri
- Lanjutkan pemberian ketorolac 2x10 mg
kassa. - Pantau TTV setiap 8 jam
- Hasil TTV: TD 110/80 - Mengobservasi nyeri
mmHg; Suhu 36,8o C ; Nadi
100 x/menit ; RR 24 kali/
menit.
- Tampak gelisah
- Wajah tampak layu
21/05/2013 Risiko Infeksi - Mengukur TTV pukul 06.00 S:
- Melakukan tindakan aseptik - Klien mengatakan suka mengusap-usap
06.00 Pada hari ke 3 post op sebelum dan sesudah kontak daerah sekitar balutan tanpa cuci
- (20/05/2013) rekonstruksi dengan klien tangan.
10.00 meningokel data yang diperoleh: - Melakukan ganti balutan - Klien akan mencuci tangan sebelum
luka pukul 09.00 mengusap-usap sekitar bagian luka
DS: - Mengobservasi tanda dan apabila gatal.
- Klien mengatakan setiap hari gejala infeksi pukul 09.00 O:
luka dibersihkan - Kolaborasi pemberian - Hasil pengukuran TTV pukul 06.00
- Klien mengatakan nyeri antibiotik ceftriaxone 2x1 gr TD 110/70 mmHg, N 90X/menit, RR
saat dibersihkan (Pukul 08.00 dan 20.00) 18X/menit; Suhu 36,6oC.
- Klien mengatakan tidak ada - Perawat selalu menerapkan tindakan
rembesan luka aseptik sebelum dan sesudah kontak
dengan pasien.
DO: - Kondisi luka baik, pus (-), bau (-),
- Post op rekonstruksi kemerahan (-), bengkak (-), panas (-),
meningokel penurunan fungsi (-), jahitan menyatu
- Tampak balutan luka pada dengan baik, dan balutan paten.
daerah sarkum - Pemberian antibiotik sesuai jadwal
- Tidak ditemukan tanda-tanda
infeksi seperti pus (-), bau (-), A: Masalah risiko infeksi tidak terjadi
kemerahan (-), bengkak (-), P:
panas (-), penurunan fungsi (- - Motivasi klien dan keluarga untuk
), jahitan menyatu dengan tindakan aseptik sebelum dan sesudah
baik, dan balutan paten. kontak dengan klien (menyentuh
- Terpasang DC dan drain sejak balutan luka).
- Pantau tanda dan gejala infeksi
tanggal 17 Mei 2013 - Ukur TTV setiap 8 jam
- Suhu tubuh klien: 36.80 - Melakukan perawatan luka setiap hari
- Hasil lab (17 Mei 2013; 19.34) - Lanjutkan pemberian terapi
hemoglobin 11,4 g/dL
(N:12,8-16,8 g/dL), leukosit :
11,7 ribu/ul (nilai normal (4.5
– 13.0 ribu/ul)
21/05/2013 Hambatan Mobilitas Fisik - Melakukan ROM aktif asistif S:Klien mengatakan kebutuhan sehari-hari
setiap hari pada pukul 10.30 dipenuhi oleh keluarga, setelah dilakukan
Pada hari ke 3 post op - Meminimalkan pergerakan dengan masase lebih nyaman.
10.00 (20052013) rekonstruksi memposisikan tengkurap atau O:
- meningokel data yang diperoleh: miring selama 2 jam sekali - Klien tampak melakukan latihan
13.00 - Memberikan perawatan kulit yang ROM dibantu oleh perawat dan
DS: baik, masase titik yang tertekan keluarga.
- Klien mengatakan nyeri jika setelah perubahan posisi pada - Klien tampak memenuhi
melakukan pergerakkan pukul 11.00. kebutuhan dibantu oleh keluarga.
- Klien mengatakan pegal - Klien masih melakukan segala aktivitas di
dengan posisi miring karena tempat tidur
biasa berbaring - Klien dalam posisi miring kiri
- Klien tampak rileks setelah
DO: dilakukan masase, tidak ada luka
- Klien menjaga area luka agar tekan.
tidak bergesek.
- Kesulitan membolak-balikan A: Masalah gangguan mobilisasi fisik belum
posisi. teratasi
- Tampak balutan luka pada
daerah sakrum. P:
- Post op rekonstruksi - Memberikan pendidikan kesehatan untuk
meningokel. latihan pergerakan sedikit demi sedikit
- Klien tirah baring. hingga kondisi tubuh kembali pulih.
- Keterbatasan melakukan - Motivasi melakukan ROM aktif
pergerakan sendi asisif setiap hari
- Reposisi setiap 2 jam sekali
Tgl Diagnosis Implementasi Evaluasi SOAP Tanda
Keperawatan Tangan
22/05/2013 Nyeri Akut - Mengobservasi nyeri meliputi S:
lokasi, karakteristik, durasi, - Klien mengatakan nyeri masih terasa di
14.00 DS : frekuensi, kualitas, intensitas (0- bagian tulang belakang bawah, nyeri seperti
- - Klien mengatakan nyeri di 10), dan faktor presipitasi tertusuk, muncul terutama ketika
20.00 bagian tulang belakang menggunakan bantuan skala melakukan pergerakan atau tergesek,
bawah, nyeri seperti tertusuk, visual analogi setiap 8 jam.. kualitas tumpul, skala 3.
muncul terutama ketika - Memantau TTV setiap 8 jam - Klien mengatakan nyeri berkurang setelah
melakukan pergerakan atau - Mertahahankan imobilisasi bagian melakukan nafas dalam dan
tergesek, kualitas tumpul, yang sakit dengan tirah baring. membayangkan hal-hal yang
skala berkurang dari 7 - Memberikan posisi nyaman. menyenangkan ketika terasa nyeri
menjadi 4. - Motivasi dan mengevaluasi klien muncul.
- Klien mengatakan nyeri dalam menggunakan teknik - Klien mengatakan lebih nyaman hari ini.
berkurang setelah melakukan relaksasi nafas dalam dan O:
nafas dalam dan guided imagery. - Klien terlihat lebih rileks dan tersenyum
membayangkan hal-hal yang - Kolaborasi pemberian terapi saat ditanyakan perasaannya setelah
menyenangkan ketika terasa obat ketorolac 2x10 mg (Pukul melakukan teknik nafas dalam dan
nyeri muncul. 08.00 dan 20.00). guided imagery.
DO : - Hasil pengukuran TTV: TD 120/80 mmHg,
- Klien terlihat lebih rileks dan N 86X/menit, RR 18X/menit; Suhu 36,8oC.
tersenyum saat ditanyakan - Klien tampak dalam posisi miring kanan.
perasaannya setelah melakukan - Klien diberikan ketorolac 10 mg pada pukul
teknik nafas dalam dan guided 20.00
imagery. A : Masalah nyeri teratasi sebagian
- Hasil pengukuran TTV: TD P:
110/70 mmHg, N 90X/menit, - Motivasi klien untuk melakukan
RR 18X/menit; Suhu 36,6oC. teknik relaksasi apabila terasa nyeri
- Klien tampak dalam posisi - Lanjutkan pemberian ketorolac 2x10 mg
tengkurap. - Pantau TTV setiap 8 jam
- Klien diberikan ketorolac 10 - Mengobservasi nyeri
mg pada pukul 08.00
22/05/2013 Risiko Infeksi - Mengukur TTV pukul 20.00 S:
- Melakukan tindakan aseptik - Klien sudah menerapkan cuci tangan
14.00 DS: sebelum dan sesudah kontak sebelum mengusap-usap sekitar bagian
- - Klien mengatakan suka dengan klien. luka apabila gatal.
20.00 mengusap-usap daerah - Motivasi klien dan keluarga untuk O:
sekitar balutan tanpa cuci tindakan aseptik sebelum dan - Hasil pengukuran TTV pukul 20.00
tangan. sesudah kontak dengan klien TD 110/80 mmHg, N 88X/menit, RR
- Klien akan mencuci tangan (menyentuh balutan luka). 20X/menit; Suhu 37oC.
sebelum mengusap-usap - Mengobservasi tanda dan - Perawat selalu menerapkan tindakan
sekitar bagian luka apabila gejala infeksi pukul 14.00 aseptik sebelum dan sesudah kontak
gatal. - Kolaborasi pemberian dengan pasien.
DO: antibiotik ceftriaxone 2x1 gr - Kondisi luka baik, rembes (-), bau (-),
- Hasil pengukuran TTV pukul (Pukul 08.00 dan 20.00) kemerahan (-), bengkak (-), panas (-).
06.00 - Pemberian antibiotik pukul 20.00
TD 110/70 mmHg, N
90X/menit, RR 18X/menit; A: Masalah risiko infeksi tidak terjadi
Suhu 36,6oC. P:
- Perawat selalu menerapkan - Motivasi klien dan keluarga untuk
tindakan aseptik sebelum dan tindakan aseptik sebelum dan sesudah
sesudah kontak dengan kontak dengan klien (menyentuh
pasien. balutan luka).
- Kondisi luka baik, pus (-), - Pantau tanda dan gejala infeksi
bau (-), kemerahan (-), - Ukur TTV setiap 8 jam
bengkak (-), panas (-), - Melakukan perawatan luka setiap hari
penurunan fungsi (-), jahitan - Lanjutkan pemberian terapi
menyatu dengan baik, dan
balutan paten.
- Pemberian antibiotik sesuai
jadwal
22/05/2013 Hambatan Mobilitas Fisik - Melakukan ROM aktif asistif S:Klien mengatakan setelah dilakukan masase
setiap hari pada pukul 14.30 saat mandi sore lebih nyaman.
14.00 DS:Klien mengatakan kebutuhan - Meminimalkan pergerakan dengan Klien mengatakan tangan dan kakinya lebih
- sehari-hari dipenuhi oleh memposisikan tengkurap atau enak digerakan setelah melakukan ROM.
20.00 keluarga, setelah dilakukan miring selama 2 jam sekali O:
masase lebih nyaman. - Memberikan perawatan kulit yang - Klien tampak melakukan latihan
DO: baik, masase titik yang tertekan ROM secara mandiri.
- Klien tampak melakukan setelah perubahan posisi pada - Klien tampak memenuhi
latihan ROM dibantu pukul 16.00. kebutuhan dibantu oleh keluarga.
oleh perawat dan - Memberikan pendidikan - Klien masih melakukan segala aktivitas di
keluarga. kesehatan untuk latihan tempat tidur.
- Klien tampak pergerakan sedikit demi - Klien dalam posisi miring kanan
memenuhi kebutuhan sedikit hingga kondisi tubuh - Klien tampak rileks setelah
dibantu oleh keluarga. kembali pulih. dilakukan masase, tidak ada luka
- Klien masih melakukan tekan.
segala aktivitas di tempat
tidur A: Masalah gangguan mobilisasi fisik teratasi
- Klien dalam posisi miring kiri sebagian.
- Klien tampak rileks setelah
dilakukan masase, tidak ada P:
luka tekan. - Memberikan pendidikan kesehatan untuk
latihan pergerakan sedikit demi sedikit
hingga kondisi tubuh kembali pulih.
- Motivasi melakukan ROM aktif
asisif setiap hari
- Reposisi setiap 2 jam sekali
Tgl Diagnosis Implementasi Evaluasi SOAP Tanda
Keperawatan Tangan
23/05/2013- Nyeri Akut - Mengobservasi nyeri meliputi S:
24/05/2013 lokasi, karakteristik, durasi, - Klien mengatakan nyeri jarang
DS : frekuensi, kualitas, intensitas dirasakan sekarang, skala 1-2.
20.00 - Klien mengatakan nyeri masih (0- 10), dan faktor presipitasi - Klien mengatakan nyeri teratasi
- terasa di bagian tulang menggunakan bantuan skala setelah melakukan nafas dalam dan
09.00 belakang bawah, nyeri seperti visual analogi setiap 8 jam.. membayangkan hal-hal yang
tertusuk, muncul terutama - Memantau TTV setiap 8 jam menyenangkan.
ketika melakukan pergerakan - Mertahahankan imobilisasi - Klien mengatakan lebih nyaman dari
atau tergesek, kualitas tumpul, bagian yang sakit dengan tirah hari ke hari.
skala 3. baring. O:
- Klien mengatakan nyeri - Memberikan posisi nyaman. - Klien terlihat lebih rileks dan tersenyum
berkurang setelah melakukan - Motivasi dan mengevaluasi klien saat ditanyakan perasaannya setelah
nafas dalam dan dalam menggunakan teknik melakukan teknik nafas dalam dan
membayangkan hal-hal yang relaksasi nafas dalam dan guided imagery.
menyenangkan ketika terasa guided imagery. - Hasil pengukuran TTV: TD 110/80 mmHg,
nyeri muncul. - Kolaborasi pemberian terapi N 80X/menit, RR 18X/menit; Suhu 36,5oC.
- Klien mengatakan lebih obat ketorolac 2x10 mg (Pukul - Klien tampak dalam posisi miring kanan.
nyaman hari ini. 08.00 dan 20.00). - Klien diberikan ketorolac 10 mg pada
DO : pukul 20.00
- Klien terlihat lebih rileks dan A : Masalah nyeri teratasi
tersenyum saat ditanyakan P:
perasaannya setelah - Motivasi klien untuk melakukan
melakukan teknik nafas dalam teknik relaksasi apabila terasa nyeri
dan guided imagery. - Lanjutkan pemberian ketorolac 2x10 mg
- Hasil pengukuran TTV: TD - Pantau TTV setiap 8 jam
120/80 mmHg, N 86X/menit, - Mengobservasi nyeri
RR 18X/menit; Suhu 36,8oC.
- Klien tampak dalam posisi
miring kanan.
- Klien diberikan ketorolac 10
mg pada pukul 20.00
23/05/2013- Risiko Infeksi - Mengukur TTV pukul 20.00 S:
24/05/2013 - Melakukan tindakan aseptik - Klien sudah menerapkan cuci tangan
DS: sebelum dan sesudah kontak sebelum mengusap-usap sekitar bagian
20.00 - Klien sudah menerapkan cuci dengan klien. luka apabila gatal.
- tangan sebelum mengusap- - Motivasi klien dan keluarga untuk O:
09.00 usap sekitar bagian luka tindakan aseptik sebelum dan - Hasil pengukuran TTV pukul 20.00
apabila gatal. sesudah kontak dengan klien TD 110/80 mmHg, N 80X/menit, RR
DO: (menyentuh balutan luka). 18X/menit; Suhu 36,5oC.
- Hasil pengukuran TTV pukul - Mengobservasi tanda dan - Perawat selalu menerapkan tindakan
20.00 gejala infeksi pukul 14.00 aseptik sebelum dan sesudah kontak
TD 110/80 mmHg, N - Kolaborasi pemberian dengan pasien.
88X/menit, RR 20X/menit; antibiotik ceftriaxone 2x1 gr - Kondisi luka baik, rembes (-), bau (-),
Suhu 37oC. (Pukul 08.00 dan 20.00) kemerahan (-), bengkak (-), panas (-).
- Perawat selalu menerapkan - Pemberian antibiotik pukul 20.00
tindakan aseptik sebelum dan
sesudah kontak dengan A: Masalah risiko infeksi tidak terjadi
pasien. P:
- Kondisi luka baik, rembes (- - Motivasi klien dan keluarga untuk
), bau (-), kemerahan (-), tindakan aseptik sebelum dan sesudah
bengkak (-), panas (-). kontak dengan klien (menyentuh
- Pemberian antibiotik pukul balutan luka).
20.00 - Pantau tanda dan gejala infeksi
- Ukur TTV setiap 8 jam
- Melakukan perawatan luka setiap hari
- Lanjutkan pemberian terapi
23/05/2013- Hambatan Mobilitas Fisik - Melakukan ROM aktif asistif S:Klien mengatakan senang sudah bisa
24/05/2013 setiap hari pada pukul 07.00 bangun dan berjalan sedikit demi sedikit
DS:Klien mengatakan setelah - Meminimalkan pergerakan dengan dibantu nenek.
20.00 dilakukan masase saat mandi sore memposisikan tengkurap atau O:
- lebih nyaman. miring selama 2 jam sekali - Klien tampak sudah mampu
09.00 Klien mengatakan tangan dan - Memberikan perawatan kulit yang berjalan merambat tembok..
kakinya lebih enak digerakan baik, masase titik yang tertekan - Klien tampak memenuhi
setelah melakukan ROM. setelah perubahan posisi pada kebutuhan sendiri dan dipantau
keluarga.
DO: pukul 06.00. - Klien sudah mampu ke kamar
- Klien tampak melakukan - Memberikan pendidikan mandi didampingi keluarga.
latihan ROM secara mandiri. kesehatan untuk latihan - Klien tampak duduk di tempat tidur
- Klien tampak pergerakan sedikit demi - Klien tampak rileks setelah
memenuhi kebutuhan sedikit hingga kondisi tubuh dilakukan masase, tidak ada luka
dibantu oleh keluarga. kembali pulih. tekan.
- Klien masih melakukan
segala aktivitas di tempat A: Masalah gangguan mobilisasi fisik teratasi
tidur.
- Klien dalam posisi P:
miring kanan - Memberikan pendidikan kesehatan untuk
- Klien tampak rileks setelah latihan pergerakan sedikit demi sedikit
dilakukan masase, tidak hingga kondisi tubuh kembali pulih.
ada
luka tekan.
BIODATA PENULIS

Nama : Dewanti, S. Kep


Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Tempat, tanggal lahir : Jakarta, 12 Juli 1990
Alamat : Jalan D.I Panjaitan Rt 015/ 02 No. 23
Cip.Besar Selatan, Jatinegara, Jakarta Timur
13410
No.Hp 08998084598
Email : dewa.120790@gmail.com
Facebook/ Twitter : Dewa Dewanti/ @dd_dewa
Golongan Darah :B
Kewarganegaraan : Indonesia
Riwayat Pendidikan Formal
2012–2013 : Profesi Keperawatan, Fakultas Ilmu Keperawatan,
Universitas Indonesia
2008 – 2012 : S1 Keperawatan, Fakultas Ilmu Keperawatan,
Universitas Indonesia
2005– 2008 : SMA N 14 Jakarta, Jakarta Timur
2002– 2005 : SMP N 268 Jakarta, Jakarta Timur
1999– 2002 : SD N Kebon Pala 10 petang, Jakarta Timur
1996– 1999 : SD N Rawa Badak 17 pagi, Jakarta Utara