Anda di halaman 1dari 5

ROBOHNYA BUDAYA KAMI

Oleh M. Yunis

Hanya desiran angin yang tersisa, walau seperti kelihatannya rinai mash enggan berhenti
membasuh luka-luka ibu pertriwi. Ya aku tau, hari ini ujung Desember yang semakin tua,
kata orang pada tahun ini segala puncak kejenuhan dilampiaskan, sebagian bilang tempat
perhentian terakhir pernak-perniknya dunia, dan bermacam kisah banyak terlahir di ujung
Desember, dulu pernah terkenal dengan Desemeber kelabu, atau huajan di awal
Desember, aku kira mempunyai makna yang kurang lebih sama.
Ya! di Ujung Desmber ini gemuruh rintih-rintihan memanggil pasukannya untuk
segera pulang kandang, suatu petanda bahwa hujan akan berhenti atau sekurang-
kurangnya istirahat sejenak.
Di ujung Desember ini suara burung geraja itu tidak lagi tedengar, dua hari yang
lalu selalu bertengger dekat bangunan tua itu, sebab burung geraja sangat senang
membuat sarang pada puncak-puncak pepohonan yang mati, di samping bangunan tua itu
tertancap dua batang pohon ampalan dan satu pohon jambu yang baru saja mati pucuk,
hidup segan mati tidak bisa, kemaren aku melihat petir menyambar ketiga pohon itu
tepatnya jam satu lewat lima meniti jumat siang. Setahuku, selama sarang-sarangnya
masih ada, burung gereja itu senang sekali berputar-putar di sekitar bangunan. Tapi aku
tidak tau pasti penyebab sarang-sarang itu berserakan 10 meter dari pepohonan. Aku terus
berpikir, mungkin burung-burung itu berpindah sarang.
Sesaat rasa penasaran memboyongku masuk ke dalam bangunan itu, ku
perhatikan tonggak-tonggak yang dipenuhi ukiran kaluak paku, agak ke dalam terlihat
ukiran tan tandu bararak juga dilengkapi dengan pucuak rabuang, tapi sayangnya
ukiran-ukiran itu tidak seperti aslinya semenjak dipenuhi lubang-lubang kecil di sana-
sini, namun kelihatannya masih mampu menahan gonjong-gonjong runcing di atas.
Bangunan itu bisa dibilang tidak terawat, atapnya saja sudah diakari lumut-lumut liar,
tapi gambaran kokoh gonjong-gonjong itu masih sisakan hidup seribu tahun lagi walau
segunduk beban melekat dan tidak mau sirna. Setelah igau tersadarkan, rasa takjub
seketika datang, detik-detik selanjutnya aku memilih mengelilingi gangunan itu. Pada
bagian belakang bangunan tercermin apik seniman terdahulu, 20 tonggak menjadi sendi
berdiri kekokohan, mungkin tonggak-tonggak itu terbuat dari pohon jati atau mahoni,
bagian bahawahnya dilengkapi dengan batu landasan, memang bentuknya agak kasar tapi
sepertinya telah menyatu dengan tonggak-tonggak itu. Wah sungguh megahnya bangunan
ini dulu, seandainya aku hidup lebih awal tentunya aku tidak mau ketinggalan belajar
membuat ukiran sehingga aku dapat mengukir sejarah kebudayaan ini. Ya! aku ingat apa
yang dibilang Amak, ‘’di kampung kita ini adat basandi syarak, syarak basandi
kitabullah’’. Apakah mungkin ini yang dimaksud Amak. Rumah dan ruangannya bisa jadi
perumpamaan dari adat, tapi sekarang mulai reot. Sementara 20 tonggak ini
perumpamaan dari syarak dan batu-batu itu sebagai perumpamaan kitabullalh. Antara
tonggak dengan batu seakan menyatu, mungkin sudah terlalu lama dibiarkan membatu,
antara batu dan tonggak sudah sejenis, tonggak seperti batu dan batu seperti tonggak. Aku
jadi bingung sendiri, kuberusaha mencari kesimpulan dadakan sambil ngomong sendiri
dan berputar-putar. Ya! aku ngerti sekarang, adat seperti yang dimaksud Amak itu
ditopang oleh agama dan Alquraan sebagai kunci. Oh..bukan! yang dimaksud Amak
kitabullah, tidak mungkin Alquraan sebab setahuku kitabullah ada 4 buah atau kitab yang
empat sepertu taurat, zabur, injil sudah terdapat di dalam Alquraan, jadi kitabullah yang
dijadikan perumpamaan. Ya! mungkin itu makasudnya. Tapi kok aneh, tonggak dan
landasannya masih kokoh tapi bangunnannya semakin renta ditutup sejarah, jika
kuperhatikan tidak ada kerja sama yang baik antara atap dengan bangunan apa lagi
antara bangunan dengan tonggak-tonggak itu. Mungkin lebih baik atap langsung saja
berada di atas tonggak-tonggak tanpa bangunan dengan begitu kelihatan satu cita-cita,
tapi apa jadinya?
Ah..aku pikir lebih baik memasuki ruangan-ruangan di dalam bangunan itu
terlebih dahulu sehingga tanda tanya-tanda tanya yang ada dibena ini terjawab. Tidak
lamam kemudian kudapati diriku sudah berada di dalam, seketika tercium aroma alam,
sebab sedari tadi perhatianku tidak luput dari keagungan seni yang terdapat di dinding
ruangan yang kukira tidak jauh berbeda dengan 2 tongak besar yang berada di pintu
masuk tadi. Aku semakin takjub saja, di saat menyaksikan 9 bilik besar melengkapai
ruangan tengah. Tapi ruangan-ruangan itu untuk apa dan menyimpan apa? Sepertinya
pintu-pintu bilik itu sudah lama tidak dibuka, debu yanresal dari serpihan-serpian kayu
membuatku lebih yakin. Pada pagian langit-langit tergantung sebuah benda sebesar nyiru,
ya aku tahu itu tabuhan sejenis serangga setengah mematikan, jika kita digigit badan bisa
gemuk dalam sehari. Di sudut rungan terlihat sepasukan kalong bergantungan, rasa letih
dimalam hari membuatnya kehilangan umur di siang hari dan raja-raja malam itu tidak
sadar dengan kehadiraku kalau saja kalong itu terbangun mungkin serangan-serangan
fajar akan merobek-robek kesempatan ini. Tapi aku berusaha lebih-hati hati, karena
pengalamam mengendap-endap sudah kuwarisi di waktu kecil, saat itu aku berusia 10
tahun, Amak memarahi aku karena aku memecahkan piring nasi, sudah sifatku jika Amak
marah pergi dari rumah, siang itu jam 12 siang, kata Amak sedang tengah hari jangan
kejar-kejaran di dalam rumah, tapi aku tidak mengacuhkan peringan Amak hingga aku
menginjak piring, pecah tiga sama besar, belum sempat membilang kata ‘aduh’
mendaratlah ikat pinggang di punggungku yang sepertiga telanjang. Sejak kejadian itu
aku selalu murung dan malas makan nasi, padahal Amak sudah membujukku akan
dibelikan baju baru. Saat malam hari tiba, mata tidak terpejam, jam 10 malam aku pergi
dari rumah dengan ilmu mengendap yang telah kupelajari saat main lakon, Surau adalah
tempat pelarianku, di Surau banyak teman-teman sejawat sedang belajar silat setelah usai
mengaji Alquran. Rupanya kemarahan Amak membuatku absen dari keseharian surau.
Harus ku akui memang asyik suasana surau kami, di surau kami belajar silat,
pasambahan dan mamangan adat, setelah itu kami bermain lakon sampai main galah.
Sekarang, kegiatan ini tidak ada lagi di kampungku, surau-surau sekarang hanya dihuni
oleh pemuda-pemuda yang pulang dari acara orgen tunggal, tapi aku kurang suka dengan
pemuda-pemuda itu sebab di pagi hari aku terpaksa membenci Surau itu, muntah-muntah
itu mebuatku muak. Aku jadi malas menjenguk kampung halaman yang satu ini, di saat
libur kulah pun aku lebih memilih di kosan atau cari kesibukan dalam oragnisasi
Mahasiswa di Padang, jika tidak karenan terpakas atau disuruh Amak pulang, aku tidak
akan mau pulang kampung. Persoalan biaya tambahan harian kurasas terpenuhi oleh
honor tulisan-tulisanku di koran-koran lokal yang terbit di Padang, lumayan buat jajan
pacaran.
Oh ya! aku juga ingat dulu kami pernah main umpat-umpatan dalam bangunan
ini, namanya sepak tekong, aku sembunyi di rungan tengah dan tertidur dalam ayunan
suasananya yang masih nyaman dilantai papan tempat ku berdiri sekarang, kalau tidak
salah jam 5 sore si Andi membangunkan aku, kutahu dia teman baikku sudah pasti Andi
mencariku jika aku tidak dijumpainya di rumah, katanya Amak cemas sejak lonceng
sekolah berbunyi, ya aku lupa mengganti pakaian sekolah, susah mencari teman sejatinya
Andi zaman sekarang, sekarang Andi sudah jadi anak rantau yang berhasil membantu
orangtuanya, wajar saja sejak selesai SMP dia sudah mulai mencium keberhasilan itu di
Kota dumai, jika ada gunjingan atau cerita juragan besi tua yang sukses dialah temanku si
Andi. Berbeda dengan aku, sikap keras kepala menuntunku ke bangku kuliah seperti
sekarang. Tapi aku tidak seberuntung teman-temanku yang lain, di waktu aku lulus
SPMB Amak sedang susah, dan terjadilah dosa itu, Amak terpaksa menggadai pusako
untuk keperluan pendidikan aku, sekarang aku tahu bahwa kegiatan mengadai itu tidak
diperbolehkan di Ranah Minang, pusako hanya boleh digadai jika ada 3 perkara: Pertama
rumah gadang katirisan, kedua gadih gadang alun balaki, dan ketiga mayat tabujua di
ateh rumah. Jadi tindakan Amak ketika itu tidak termasuk salah kategori dari yang tiga di
atas. Kupikir tidak terlalu berdosa menggadai pusaka karena pendidikan, kuyakin dosa itu
terhapuskan jika Amak mampu menebus gadai itu kembali. Mungkin lebih baik dari pada
menjual habis. Tapi aku heran, bangunan ini sudah lama ketirisan, kenapa belum juga
diperbaiki, ah..itu tidak mungkin kukira, bangunan itu kepunyaan kaum suku jambak,
pusako-nya sudah habis terjual untuk pembangunan Bandara Internasional dua tahun
yang lalu.
Sejurus kemudian aku semakin penasaran sebab sejak kecil hingga sekarang, aku
belum pernah tahu apa isi dalam 9 bilik itu, kuperhatikan pintu-pintunya selalu tertutup
rapat hingga anginpun tidak bisa lewat, kunci gembok yang terpasang dibibir pintu
mampu menutup sejarah apalagi dengan karakarat yang sudah membasi mempersatukan
2 bibir pintu. Aku terpasaka melakukan tindakan anarkis, kupukul saja gembok usang itu
sampai lepas dari bibir pintu bilik terdekat dengan ruang tengah, sekali pukul gemboknya
lepas disertainya dengan robohnya pintu dan konsen, aku terkejut, cemas bercampur
kaget, rasa ingin tahulah yang membuatku sekejam ini, tanpa menunggu detik kedua dari
jam 4 lewat 10 menit, aku mulai daratkan langkah kaki perdana ke dalam bilik itu.
Astaga, rongsokan dan Alquran berserakan di lantai bilik, kira-kira 10 Alquran, bukan 12
Alquran, kupungut, kulihat, kubaca, ternyata bukan Alquran tapi sebuah kitab atau sejenis
catatatan bertulis tangan menggunakan huruf arab berbahasa Minang. Aku pernah belajar
membaca huruf ini di semster 2, mata kuliah itu dinamakan dengan filologi. Ya! aku
mengerti, ini adalah naskah-naskah kuno yang dimakasud dalam filologi itu. Dengan
langkah tergopoh-gopoh aku berpindah ke bilik sebelah, kurasakan suasananya sama
dengan bilik pertama tadi, kali ini kutemukan 13,5 naskah kuno sebab sebagian dari satu
naskah hangus seperti baru saja dibakar, 2 di antaranya bertuliskan huruf arab asli. Pada
empat bilik yang lain juga aku temukan puluhan-puluhan naskah. Dau bilik yang tersisa
disambut dengan suara azan magrib, sesegera mungkin kualihkan perhatian menyususn
naskah-naskah tersebut, kubaca permasing-masing judul diantaranya terdapat ajaran
tarekat, ilmu mantik dan pengobatan-pengobatan, 2 naskah di antaranya berisi ranji entah
ranji siapa tidak begitu jelas terbaca dan kerusakan yang diderita naskah itu tidak
memungkinkan dibaca dengan mata fisik. Serta satu naskah bersisi petunjuk-petunjuk
hari.
Dua jam lebih kuhabiskan waktu memungut ceceran naskah tadi, kuperbaiki
pintu-pintu yang roboh walau tidak seperti sedia kala. Selesai dari itu, rasa letih seketika
mampir namun tetap kupaksakan dua tunjang ini melngkah, kuberharap tenaga ini masih
tersisa hingga ke rumah, sesaat suara gemuruh kembali terdengar, sekarang kampung tua
ini diguyur hujan lebat, petir bersahutan, setengah delapan kurang seperempat sampai
juga di rumah Amak.
**
Waktu isya merangkak naik, namun lamunan membuatku hanyut, detak jantung
ini rasanya semakinkeras, suara berisisknya membuat mata sulit dipejamkan, aku sedih,
gundang bercampur bimbang, nasib naskah-naskah tadi, awalnya mau kubawa tapi niat
itu terpaksa aku urungkan kembali saat petir pertama terjadi, entahlah saat itu sifat
pengecutku tumbuh, takut terjadi yang Tuhan inginkan. Firasatku mengatakan bahwa
bangunan tua itu tinggal menghitung hari, mungkin seminggu atau sebulan tidak lagi
dijumpai, siapa peduli! Kabarnya tanah tempat berdiri bangunan itu akan disulap menjadi
saluran irigasi, dua hari yang lalu aku saksikan pegawai pemrintahan sudah mengukur
perkubik dari tanah-tanah itu, katanya mau diganti rugi permeter tanah yang terpakai.
Tapi bangunan itu? naskah-naskah itu? adat itu? Syarak itu? kitabullah itu?