Anda di halaman 1dari 12

“TASAWUF AKHLAKI, AMALI, DAN NAZHARI”

Nama Kelompok 7 :
Aulia Rahmah 170101060641
Iin Syaraswati 170101060927
Saudah 170101060061

A. PENDAHULUAN
Tasawuf merupakan suatu pengetahuan pada diri kita yang mana bisa
membedakan yang baik dan buruk, yang benar dan jelas. Sedangkan secara lughowi
adalah membersihkan. Tujuan dari mempelajari tasawuf adalah untuk mendekatkan diri
keada Allah SWT.
Pada abad ke I dan II difase itu tasawuf belum disebut sebagai tasawuf
sepenuhnya tetapi lebih tepatnya disebut dengan fase kezuhudan, tasawuf pada fase ini
lebih bersifat amaliah daripada bersifat pemikiran. Pada abad III dan IV disebut sebagai
fase tasawuf. Pada permulaan abad ke-III mendapat sebutan shufi, hal itu dikarenakan
tujuan untuk kegiatan rohani mereka tidak semata-mata kebahagiaan akhirat yang
ditandai dengan pencapaian pahala dan penghindaran siksa, akan tetapi untuk
menikmati hubungan langsung dengan Tuhan yang didasari dengan cinta. Kemudian
muncullah pembagian ilmu tasawuf. Pokok-pokok ajaran tasawuf itu meliputi Tasawuf
Akhlaki, Tasawuf Amali dan Tasawuf Falsafi (Nazhari).
Tasawuf Akhlaki adalah ajaran tasawuf yang membahas tentang kesempurnaan
dan kesucian jiwa yang diformulasikan pada pengaturan sikap mental dan pendisiplinan
tingkah laku yang ketat untuk mencapai kebahagiaan yang optimal. Tasawuf Amali
adalah adalah tasawuf yang membahas tentang bagaimana cara mendekatkan diri
kepada Allah. Tasawuf Falsafi (Nazhari) adalah tasawuf yang menekankan pada
masalah-masalah pemikiran mendalam/metafisik.

Page | 1
B. PEMBAHASAN
1. TASAWUF AKHLAKI
a. Pengertian Tasawuf Akhlaki
Tasawuf Akhlaki adalah ajaran tasawuf yang membahas tentang
kesempurnaan dan kesucian jiwa yang diformulasikan pada pengaturan sikap
mental dan pendisiplinan tingkah laku yang ketat, guna mencapai kebahagiaan
yang optimal, manusia harus lebih dahulu mengidentifikasikan eksistensi dirinya
dengan ciri-ciri keutuhan melalui penyucian jiwa raga yang bermula dari
pembentukan pribadi yang bermoral paripurna, dan berakhlak mulia.1
Tahapan-tahapan itu dalam ilmu tasawuf dikenal dengan takhalli
(pengosongan diri dari sifa-sifat tercela), tahalli (menghiasi diri dengan sifat-sifat
terpuji), dan tajali (terungkapnya nur ghaib bagi hati yang telah bersih sehingga
mampu menangkap cahaya ketuhanan).
Semua sufi berpendapat bahwa satu-satunya jalan yang dapat mengantarkan
seseorang kehadirat Allah hanyalah dengan kesucian jiwa. Karena jiwa manusia
merupakan refleksi atau pancaran dari Dzat Allah Yang Suci. Segala sesuatu itu
harus sempurna dan suci, sekalipun tingkat kesempurnaan dan kesucian itu
bervariasi menurut dekat atau jauhnya dari sumber asli.2
Tasawuf Akhlaki adalah tasawuf yang sangat menekankan nilai-nilai etis
(moral) atau tasawuf yang berkonsentrasi pada perbaikan akhlak. Ajaran tasawuf
akhlaki membahas tentang kesempurnaan dan kesucian jiwa yang di formulasikan
pada pengaturan sikap mental dan pendisiplinan tingkah laku yang ketat, guna
mencapai kebahagiaan yang optimal. Dengan metode-metode tertentu yang telah
dirumuskan,tasawuf bentuk ini berkonsentrasi pada upaya-upaya menghindarkan
diri dari akhlak yang tercela (Mazmumah) sekaligus mewujudkan akhlak yang
terpuji (Mahmudah) didalam diri para sufi.
Dalam diri manusia ada potensi untuk menjadi baik dan potensi untuk menjadi
buruk. Potensi untuk menjadi baik adalah al-‘Aql dan al-Qalb. Sementara potensi
untuk menjadi buruk adalah an-Nafs (nafsu) yang dibantu oleh syaithan.3

1
Zaprulkhan, Ilmu Tasawuf : Sebuah Kajian Temati, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2016), hlm.97
2
Said Aqil Siradj, Ilmu Tasawuf, (Jakarta: AMZAH, 2014), hlm. 209-210
3
Phil.Kamaruddin Amin, Akidah Akhlak/Kementrian Agama, (Jakarta: Kementrian Agama, 2015), hlm.136

Page | 2
Dalam pandangan kaum sufi, manusia cenderung mengikuti hawa nafsu. Ia
cenderung ingin menguasai dunia atau berusaha agar berkuasa di dunia. Menurut
Al-Gazali, cara hidup seperti ini akan membawa manusia ke jurang kehancuran
moral. Kenikmatan hidup di dunia telah menjadi tujuan umat pada umumnya.
Pandangan hidup seperti ini menyebabkan manusia lupa akan wujudnya sebagai
hamba Allah yang harus berjalan di atas aturan-aturan-Nya.
Untuk memperbaiki keadaan mental yang tidak baik tersebut, seseorang yang
ingin memasuki kehidupan tasawuf harus melalui beberapa tahapan yang cukup
berat. Tujuannya adalah untuk menguasai hawa nafsu, menekan hawa nafsu sampai
ketitik terendah dan bila mungkin mematikan hawa nafsu itu sama sekali.4
Tasawuf Akhlaki mempunyai tahap sistem pembinaan akhlak disusun sebagai
berikut :
1) Takhalli
Takhalli adalah usaha mengosongkan diri dari perilaku dan akhlak
tercela. Salah satu dari akhlak tercela yang paling banyak menyebabkan
akhlak jelek antara lain adalah kecintaan yang berlebihan kepada urusan
duniawi.Dalam hal ini manusia tidak diminta secara total melarikan diri dari
masalah dunia dan tidak pula menyuruh menghilangkan hawa nafsu. Tetapi,
tetap memanfaatkan duniawi sekedar sebagai kebutuhan saja dengan menekan
dorongan nafsu yangdapat mengganggu stabilitas akal dan perasaan.
2) Tahalli
Tahalli adalah upaya mengisi dan menghiasi diri dengan jalan
membiasakan diri dengan sikap, perilaku, dan akhlak terpuji. Tahapan tahalli
dilakukan kaum sufisetelah mengosongkan jiwa dari akhlak-akhlak tercela.
Dengan menjalankan ketentuan agama baik yang bersifat eksternal (luar)
seperti sholat, puasa, haji, maupun internal (dalam) seperti keimanan, ketaatan
dan kecintaan kepada Allah.
3) Tajalli
Kata tajalli bermakna terungkapnya nur ghaib. Agar hasil yang telah
diperoleh jiwa yang telah membiasakan melakukan perbuatan-perbuatan yang
luhur, maka rasa ketuhanan perlu dihayati lebih lanjut. Kebiasaan yang
dilakukan dengan kesadaran optimum dan rasa kecintaan yang mendalam
dengan sendirinya akan menumbuhkan rasa rindu kepada-Nya. Sebagai
4
Ismail Hasan, TASAWUF: JALAN RUMPIL MENUJU TUHAN, An-Nuha. Vol. 1. No. 1, 2014, hlm.53

Page | 3
tahapberikutnyaadalah upaya pengisian hati yang telah dikosongkan dengan isi
yang lain, yaitu Allah SWT.
Para sufi yang mengembangkan Tasawuf Akhlaki antara lain : Hasan
al-Basri (21 H – 110 H), al-Muhasibi (165 H – 243 H), al-Qusyairi (376 H –
465 H), Syaikh al-Islam Sultan al-Aulia Abdul Qadir al-Jilani (470 – 561 H),
Hujjatul Islam Abu Hamid al-Gajali (450 H – 505 H), Ibnu Atoilah as-
Sakandari dan lain-lain.5
b. Metode Tasawuf Akhlaki
1) Tobat
Menurut Qamar Kailani dalam bukunya Fi Al-Tashawwuf Al-Islami,
yangdimaksud dengan tobat adalah rasa penyesalan sungguh-sungguh
dalam hati yang disertai permohonan ampun serta berusaha meninggalkan
segala perbuatan yang menimbulkan dosa.Sementara itu, Al-Ghazali
mengklarifikasikan tobat itu kepada tiga tingkatan, yaitu :
a) Meninggalkan kejahatan dalam segala bentuknya dan beralih pada
kebaikan kerena takut kepada siksa Allah.
b) Beralih dari satu situasi yang sudah baik menuju ke situasi yang lebih
baik lagi. Dalam tasawuf, keadaan ini sering disebut “inabah”.
c) Rasa penyesalan yang dilakukan semata-mata karena ketaatan dan
kecintaan kepada Allah, hal ini disebut “aubah”.
2) Cemas dan harap (khauf dan raja’)
Sikap mental rasa cemas (khauf) dan harap (raja’), merupakan salah
satu ajaran tasawuf yang selalu dikaitkan kepada Hasan Al-Bashri (wafat
tahun 110 H). Karena, secara historis dialah yang pertama kali
memunculkan ajaran ini sebagai ciri kehidupan sufi. Menurut Al-Bashri,
yang dimaksud dengan cemas atau takut adalah suatu perasaan yang timbul
karena banyak berbuat salah dan sering lalai kepada Allah. Karena sering
menyadari kekurangsempurnaannya dalam mengabdi kepada Allah,
timbullah rasa takut dan khawatir apabila Allah akan murka kepadanya.
Rasa takut dapat mendorong seseorang untuk mempertinggi nilai dan
kadar pengabdiannya dengan harap (raja’), ampunan dan anugerah Allah.
Oleh karena itu, ajaran khauf danraja’ merupakan sikap mental yang

5
Ibid., hlm.54-57

Page | 4
bersifat introspeksi, mawas diri, dan selalu memikirkan kehidupan yang
akan datang, yaitu kehidupan abadi.
3) Zuhud
Telah terjadi pemahaman dan penafsiran yang beragam terhadap
zuhud.Namun, secara umum zuhud dapat diartikan sebagai suatu sikap
melepaskan diri dari rasa ketergantungan terhadap kehidupan duniawi
dengan mengutamakan kehidupan akhirat. Mengenai batas pelepasan diri
dari rasa ketergantungan itu, para sufi berlainan pendapat. Al-Ghazali,
mengertikan zuhud sebagai sikap mengurangi keterikatan kepada dunia
untuk kemudian menjauhinya dengan penuh kesadaran.Al-Qusyairi
mengertikan zuhud sebagai suatu sikap menerima rezeri yang diterimanya.
Jika makmur, ia tidak merasa bangga dan gembira. Sebaliknya, bila
miskin, ia pun tidak bersedih karenanya. Hasan Al-Bashri mengatakan
bahwa zuhud itu meninggalkan kehidupan dunia, karena dunia ini tidak
ubahnya, seperti ular yang licin dipegang, tetapi racunnya dapat
membunuh.
4) Al-Faqr (merasa puas apa yang telah dimiliki)
Al-Faqr bermakna tidak menuntut lebih banyak dari apa yang telah
dipunyai dan merasa puas dengan apa yang sudah dimiliki sehingga tidak
meminta sesuatu yang lain. Sikap mental fakir merupakan benteng
pertahanan yang kuat dalam menghadapi pengaruh kehidupan materi.Hal
ini karena sikap fakir dapat menghindarkan seseorang dari
keserakahan.Dengan demikian, pada prinsipnya sikap mental fakir
merupakan rentetan sikap zuhud.Hanya saja, zuhud lebih keras
menghadapi kehidupan diniawi, sedangkan fakir hanya sekedar
pendisiplinan diri dalam mencari dan memanfaatkan fasilitas hidup.
5) Al-Shabru (sabar)
Salah satu sikap mental yang fundamental bagi seorang sufi adalah
sabar. Sabar diartikan sebagai suatu keadaan jiwa yang kokoh, stabil, dan
konsekuen dalam pendirian.Jiwanya tidak tergonyahkan; pendiriannya
tidak berubah bagaimanapun berat tantangan yang dihadapi; pantang
mundur dan tak kenal menyerah.Sikap sabar dilandasi oleh anggapan
bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan kehendak (iradah) Tuhan.
6) Ridha

Page | 5
Sikap mental ridha merupakan kelanjutan rasa cinta atau perpaduan
dari mahabbah dan sabar.Ridha mengandung pengertian menerima dengan
lapang dada dan hati terbuka terhadap apa saja yang datang dari Allah,
baik dalam menerima serta melaksankan ketentuan-ketentuan agama
maupun yang berkenaan dengan masalah nasib dirinya.
Rasa cinta yang diperkuat dengan ketabahan akan menimbulkan
kelapangan hati dan kesediaan yang tulus untuk berkorban dan berbuat apa
saja yang diperintahkan oleh yang dicintai. Rela menuruti apa yang
dikehendaki Allah tanpa ada merasa dipaksa, tidak dibarengi sikap oposisi
dan tidak pula terlintas rasa menyesali nasib yang dialami.
7) Muraqabah
Seorang calon sufi sejak awal sudah diajarkan bahwa dirinya tidak
pernah lepas dari pengawasan Allah. Seluruh aktivitas hidupnya ditujukan
untuk berada sedekat mungkin dengan Allahia tahu dan sadar bahwa Allah
“memandang” kepada-Nya. Kesadaran itu membawanya pada satu sikap
mawas diri atau muraqabah.Kata ini mempunyai arti yang mirip dengan
introspeksi atau self correction.Dengan kalimat yang lebih populer dapat
dikatakan bahwa muraqabah adalah siap siaga setiap saat untuk meneliti
keadaan diri sendiri.6

2. TASAWUF AMALI
Tasawuf Amali adalah tasawuf yang lebih mengutamakan kebiasaan beribadah,
tujuannya agar diperoleh penghayatan spiritual dalam setiap melakukan ibadah.
Keseluruhan rangkaian amalan lahiriah dan latihan olah batiniah dalam usaha untuk
mendekatkan diri kepada Allah, yaitu dengan melakukan macam-macam amalan yang
terbaik serta cara-cara beramal yang paling sempurna. Tasawuf Amali berkonotasi
dengan tarekat. Tokoh tasawuf ini antara lain, Rabiah Al Adawiyah dan Dzun Nun Al
Misri.7
Apabila dilihat dari sudut tingkatan amalan dan fasenya serta jenis ilmu yang
dipelajari, maka terdapat beberapa istilah yang khas dalam dunia tasawuf, yaitu ilmu
lahir dan ilmu batin. Menurut mereka, ajaran agama itu mengandung dua aspek makna,
makna lahiriah dan makna batiniyah, makna terakhir ini merupakan inti dari setiap

6
Rosihon Anwar dan Mukhtar Solihin, Ilmu Tasawuf (Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2004), hlm. 58-62
7
Phil.Kamaruddin Amin, Op.cit. hlm.137

Page | 6
ajaran itu.Oleh karenanya, untuk mengetahui dan mengamalkannya harus secara
bersamaan dan tidak boleh mengabaikan aspek yang satu dari aspek lainnya. Secara
terinci, pengalaman tasawuf amali dibagi kedalam 4 bidang, sebagai berikut :
a. Syari’at
Syari’at adalah hukum-hukum formal yang dijadikan sandaran amalan lahir
yang ditetapkan dalam ajaran agama Islam melalui Al-Qur’an dan Sunnah.
Seseorang yang ingin memasuki dunia tasawuf, harus lebih dahulu mengetahui dan
menguasai aspek-aspek syari’at secara mendalam tentang Al-Qur’an dan Hadits
dan harus terus mengamalkannya dimulai dengan amalan zhahir, baik yang wajib
maupun yang sunnah. Sehingga seorang pengamal sufi tidak mungkin memperoleh
ilmu batin tanpa mengamalkan secara sempurna amalan lahiriahnya.
Al-Thusi dalam al-Luma’ mengatakan, syariat adalah suatu ilmu yang
mengandung dua pengertian, yaitu riwayah dan diroyah yang berisikan amalan-
amalan lahir dan batin. Apabila syari’at diartikan sebagai ilmu riwayah, maka yang
dimaksud adalah ilmu teoritis tentang segala macam hukum sebagaimana terurai
dalam ilmu fiqh atau ilmu lahiriah. Sedangkan, syari’at dalam konotasi diroyah
adalah makna bathiniyah dari ilmu lahiriyah atau makna hakiki (hakikat) dari ilmu
fiqh. Syari’at dalam konotasi diroyah ini kemudian lebih dikenal dengan nama
ilmu tasawuf. Dalam perkembangan selanjutnya, apabila disebut syari’ah maka
yang mereka maksudkan adalah hukum-hukum formal atau amalan lahiriyah yang
berkaitan dengan anggota jasmaniah manusia, sedangkan syari’at sebagai fiqh dan
syari’at sebagai tasawuf tidak dapat dipisahkan karena yang pertama adalah
sebagai wadahnya dan yang kedua sebagai isinya.
b. Thariqat
Kalangan sufi mengartikan thariqat sebagai seperangkat serial moral yang
menjadi pegangan pengikut tasawuf dan dijadikan metode pengarahan jiwa dan
moral.Dalam melaksanakan amalan lahiriah ini harus berdasarkan sistem yang
telah ditetapkan agama dan dilakukan hanya karena penghambaan diri kepada
Allah SWT dan karena ingin berjumpa dengan-Nya Perjalanan menuju kepada
Allah SWT itulah yang dimaksud dengan Thariqat, yaitu thariqat tasawuf.
Perjalanan ini sudah mulai bersifat bathiniyah, yaitu amalan zahir yang disertai
amalan bathin. Keseluruhan rangkaian amalan lahiriah dan latihan olah batiniyah
itulah yang dimaksud dengan tasawuf amali, yaitu macam-macam amalan yang
terbaik serta cara-cara beramal yang paling sempurna.

Page | 7
c. Hakikat
Al-Qusyairi mengatakan, apabila syari’at berkonotasi kepada konsistensi
seorang hamba Allah maka hakikatadalah kemampuan seseorang dalam merasakan
dan melihat kehadirat Allah di dalam syari’at itu. Dengan demikian, setiap amalan
akhir yang tidak diisi hakikat tidak ada artinya dan demikian juga sebaliknya,
hakikat berarti inti sesuatu atau sumber asal dari sesuatu.
Secara lughawi, hakikat berarti inti sesuatu, puncak atau sumber asal dari
sesuatu. Dalam ilmu sufi, hakikat diartikan sebagai aspek lain dari syariat yang
bersifat lahiriyah, yaitu aspek bathiniyah. Dengan demikian, dalam dunia sufi
hakikat diartikan sebagai aspek batin yang paling dalam dari segala amal atau inti
dan rahasia dari syariat, yang merupakan tujuan perjalanan dan akhir dari
perjalanan yang ditempuh oleh seorang sufi menuju Allah SWT.8
d. Ma’rifat
Dari segi bahasa, ma’rifat berarti pengetahuan atau pengalaman, sedangkan
dalam istilah sufi, ma’rifat itu diartikan sebagai pengetahuan mengenai Tuhan
melalui hati sanubari. Dalam istilah tasawuf,diartikan sebagai pengenalan langsung
tentang Tuhan yang diperoleh melalui hati sanubari sebagai hikmah langsung dari
ilmu hakikat.Nampaknya ma’rifat lebih mengacu kepada tingkatan kondisi mental,
sedangkan hakikat mengarah kepada kualitas pengetahuan atau pengalaman.
Kualitas pengetahuan ini sedemikian sempurna dan terang sehingga jiwanya
merasa menyatu dengan yang diketahuinya itu, untuk mencapai kualitas tertinggi
itu, seorang kandidat sufi harus melakukan serial latihan keras dan sungguh-
sungguh yang disebut sebagai tasawuf amali, sedangkan serial amalan itu disebut
Al-Maqomat atau jenjang menuju hadirat Tuhan.9

3. TASAWUF FALSAFI (NAZHARI)


a. Masa Falsafi
Setelah tasawuf semi falsafi mendapat hambatan dari tasawuf Sunni
tersebut, maka pada abad VI Hijriyah, tampillah tasawuf falsafi, yaitu tasawuf
yang bercampur dengan ajaran filsafat, kompromi dalam pemakaian term-term
filsafat yang maknanya disesuaikan dengan tasawuf. Oleh karena itu, tasawuf
yang berbau filsafat ini tidak sepenuhnya bisa dikatakan tasawuf, dan juga
8
Rivay Siregar, Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme (Jakarta: PT RajaGrafindo, 2000), 109-112
9
Usman Said dkk, Pengantar Ilmu Tasawuf (Sumatera Utara: Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama,
1981/1982), hlm.123

Page | 8
tidak bisa dikatakan sebagai filsafat.Karena itu disebut saja tasawuf falsafi,
karena di satu pihak memakai term-term filsafat, namun secara epistimologis
memakai dzauq/intuisi/wujdan (rasa).
Ibn Khaldun dalam Muqaddimahnyamenyimpulkan, bahwa tasawuf falsafi
mempunyai empat obyek utama, dan menurut Abu al-Wafa bisa dijadikan
karakter sufi falsafi, yaitu:
1) Latihan rohaniah dengan rasa, intuisi serta introspeksi yang timbul
darinya,
2) Illuminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam ghaib,
3) Peristiwa-peristiwa dalam alam maupun kosmos berpengaruh terhadap
berbagai bentuk kekeramatan atau keluar biasaan,
4) Penciptaan ungkapan-ungkapan yang pengertiannya sepintas samar-samar
(syathahiyat) (Ibn Khaldun, tt).
Adapun metode pencapai tujuan tasawuf sama dengan
tasawufsebelumnya, baik mengenai maqamat, ahwal, riyadhah, mujahadah,
dzikir, mematikan kekuatan syahwat, maupun yang lainnya.Tokoh-tokohnya
ialah Ibnu Araby dengan teori Wahdat al-Wujud, Suhrawardi al-Maqtul (yang
terbunuh) dengan teori Isyraqiyah (pancaran), Ibn Sabi’in dengan teori
Ittihad, Ibn Faridh dengan teori Cinta, Fana’ dan Wahdat al-Syuhudnya.
Pada abad VI dan (dilanjutkan)abad VII Hijriyah, muncul cikal-bakal
orde-orde (thariqah) sufi kenamaan. Hingga dewasa ini, pondok-pondok
tersebut merupakan oasis-oasis di tengah-tengah gurun pasir kehidupan
duniawi. Kemudian tibalah saat mereka berjalan dalam suatu kekerabatan para
sufi yang tersebar luas, yang mengakui seorang guru, dan menerapkan disiplin
dan ritus yang lazim (A.J Arberry 1978). Thariqah terkenal yang lahir dan
berkembang sampai dengan sekarang antara lain, thariqah Qadariyah yang
diciptakan oleh Abd. al-Qadir al-Jailani (471-561 H), thariqah Suhrawardiyah
yang dicetuskan oleh Syihab al-din Umar ibn Abdillah al-Suhrawardy (539-
631 H), thariqah Rifa’iyah, yang dicetuskan oleh Ahmad Rifa’i (512 H),
thariqah Syadziliyah, yang dirintis oleh Abu al-Hasan al-Syadzily (592-656
H), thariqah Badawiyah, yang dicetuskan oleh Ahmad al-Badawy (596-675
H), thariqah Naqasyabandiyah, dirintis olehMuhammad ibn Baha’ al-Din al-
Uwaisi al-Bukhary (717-791 H), dan lain sebagainya.10
10
Amin Syukur, Tasawuf, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 1999), hlm.39-41.

Page | 9
b. Pengertian Tasawuf Falsafi (Nazhari)
Tasawuf Falsafi (Nazhari) yaitu tasawuf yang menekankan pada masalah-
masalah pemikiran mendalam/metafisik. Dalam upaya mengungkapkan
pengalaman rohaninya, para-para sufi falsafi sering menggunakan ungkapan-
ungkapan yang samar-samar, yang dikenal dengan syathahat yaitu suatu
ungkapan yang sulit di pahami, yang sering mengakibatkan kesalahpahaman.
Tokoh tasawuf ini antara lain, Abu Yazid Al Bustami, Al Hallaj, Ibnu Arabi,
Suhrawardi.
Dalam tasawuf falsafi (nazhari), tentang bersatunya Tuhan dengan
makhluknya,setidaknya terdapat beberapa term yang telah masyhur beserta
para tokohnya yaitu : Hulul, Wadah Al-Wujud dan Ittihad.
1) Hulul
Hulul merupakan salah satu konsep didalam tasawuf falsafi yang
meyakini terjadinya kesatuan antara kholiq dengan makhluk.Paham hulul
ini disusun oleh Al-Hallaj.Kata hulul berimplikasi kepada bahwa Tuhan
akan menempati dan memilih tubuh manusia untuk ditempati, bila manusia
dapat menghilangkan sifat nasut (kemanusiaannya) dengan cara fana
(menghilangkan sifat-sifat tercela melalui meniadakan alam duniawi
menuju kesadaran ketuhanan).
2) Wahdah Al-Wujud.
Istilah wahdah Al-wujud adalah paham yang mengatakan bahwa
manusia dapat bersatu padu dengan Tuhan, akan tetapi Tuhan disini
bukanlah tapi yang dimaksud Tuhan bersatu padu disini bukanalah
DzatTuhan yang sesungguhnya, melainkan sifat-sifat Tuhan yang
memancar pada manusia ketika manusia sudah melakukan proses fana’.
3) Ittihad
Pembawa faham ittihad adalah Abu Yazid Al-Busthami. Menurutnya
manusia adalah pancaran Nur Ilahi,oleh karena itu manusia hilang
kesadarannya (sebagai manusia) maka padadasarnya ia telah menemukan
asal mula yang sebenarnya, yaitu nur ilahi atau dengan kata lain ia
menyatu dengan Tuhan.11

C. SIMPULAN
11
Phil.Kamaruddin Amin, Op.cit. hlm.138.

Page | 10
Tasawuf ialah kesadaran murni yang mengarahkan jiwa pada kesungguhan
amal untuk menjauhkan keduniaan/zuhud untuk melakukan pendekatan diri kepada
Allah SWT. Posisi Tasawuf terhadap ilmu-ilmu Islam lainnya sangat jelas dan
gamblang. Tasawuf merupakan bagian tak terpisahkan dari keseluruhan bangunan
syari’ah; bahkan ia merupakan ruh/hakikat/inti dari syariah.
Tasawuf menurut para ahli terbagi dalam Tasawuf Akhlaki, Tasawuf Amali
dan Tasawuf Falsafi (Nazhari). Tasawuf Akhlaki adalah tasawuf yang sangat
menekankan nilai-nilai etis (moral) atau tasawuf yang berkonsentrasi pada perbaikan
akhlak dan mempunyai tiga tahap sistem pembinaan akhlak, yakni : Takhalli, Tajalli
dan Tahalli.Tasawuf Amali adalah tasawuf yang lebih mengutamakan kebiasaan
beribadah, tujuannya agar diperoleh penghayatan spiritual dalam setiap melakukan
ibadah. Tasawuf Amali dibagi kedalam empat bidang, yakni : Syari’at, Thariqot,
Hakikat dan Ma’rifat. Tasawuf Falsafi (Nazhari) yaitu tasawuf yang menekankan
pada masalah-masalah pemikiran mendalam/metafisik, yang diantaranya dilakukan
dengan Hulul, Wahdah Al-Wujud dan Ittihad.

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Phil.Kamaruddin. Akidah Akhlak/Kementrian Agama. Jakarta: Kementrian Agama.


2015

Page | 11
Anwar, Rosihon dan Mukhtar Solihin.Ilmu Tasawuf. Bandung: CV PUSTAKA SETIA. 2004
Hasan, Ismail.TASAWUF: JALAN RUMPIL MENUJU TUHAN, An-Nuha. Vol.1.No. 1. 2014
Said, Usmandkk.Pengantar Ilmu Tasawuf. Sumatera Utara: Proyek Pembinaan Perguruan
Tinggi Agama. 1981/1982
Siradj, Said Aqil.Ilmu Tasawuf. Jakarta: AMZAH. 2014
Siregar, Rivay. Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme.Jakarta: PT RajaGrafindo. 2000
Syukur,Amin. Tasawuf. Yogyakarta: Pustaka Belajar. 1999
Zaprulkhan.Ilmu Tasawuf :Sebuah Kajian Tematik. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 2016

Page | 12