Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam suatu sistem kelistrikan, pengukuran merupakan kegiatan yang
penting. Pengukuran ini dilakukan untuk mengetahui besaran-besaran listrik
seperti tegangan, arus, hambatan, faktor daya, daya, dll. Dari hasil
pengukuran ini, orang yang mengukur dapat menganalisis keadaan,
keandalan, kerusakan, dan kerugian yang terdapat pada sistem kelistrikan.
Secara garis besar, alat ukur besaran kelistrikan dapat dibagi menjadi 2
kelompok, yaitu alat ukur analog dan alat ukur digital. Alat ukur analog
adalah alat ukur yang bersifat kontinu. Artinya, setiap perubahan dari variabel
yang diukur ditampilkan dalam bentuk lain yang bukan listrik, misalkan saja
jarum penunjuk, contoh alat ukur ini adalah amperemeter analog, voltmeter
analog, ohmmeter analog, dan lain-lain. Sedangkan alat ukur digital adalah
alat ukur yang bersifat diskrit ( 0 dan 1). Biasanya hasil keluarannya
ditampilkan pada layar LCD yang terdapat pada alat ukur tersebut. Contoh
dari alat ukur ini adalah tangampere, tangmeter, dan lain-lain.
Rangkaian listrik terdiri dari alat-alat elektronika salah satunya resistor
atau dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai hambatan. Hambatan
terdiri dari gelang-gelang warna setiap warna memiliki nilai tersendiri,
hambatan banyak dipakai dalam rangkaian elektronika karena fungsinya yang
menghambat arus listrik.
Menurut persamaan pada hukum ohm, nilai arus listrik berbanding
terbalik dengan nilai hambatannya apabila nilai hambatannya besar maka
nilai arus yang dialirkan pada rangkaian elektronika akan kecil begitu juga
sebaliknya. Selain itu jika penyusunan rangkaian dilakukan secara seri maka
nilai arus yang mengalir pada rangkaian tersebut akan sama, namun jika
hambatannya disusun secara paralel maka nilai arus yang mengalir akan
berbeda, karena peranan resistoratau hambatan pada rangkaian banyak
digunakan maka perlu dilakukan adanya pemahaman pengukuran nilai
hambatan.
Pengukuan resistansi dapat dilakukan dengan mudah, tapi
kelemahannya adalah kurang akurat. Pentingnya dalam
membaca resistansi juga tergantung pada komponen yang diuji, ketahanan
dari salah satu komponen bervariasi, dari waktu ke waktu serta dari
komponen- komponen. Perubahan Resistansi sedikit biasanya tidak penting
tetapi mungkin menunjukkan pola yang harus diperhatikan. Maka dari itu
dilakukan praktikum dengan judul pengukuran resistansi, untuk mengetahui
nilai resistansi dari sebuah resistor dengan menggunakan cara yang lain,
selain cara yang telah disebutkan di atas, yaitu dengan menggunakan metode
voltmeter-amperemeter.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana memahami prinsip dasar pegukuran resistansi dengan metode
Voltmeter-Amperemeter pada sistem rangkaian sederhana?
2. Bagaimana mengetahui efek posisi voltmeter pada pengukuran resistansi
dengan metode Voltmeter-Amperemeter pada sistem rangkaian
sederhana?
C. Tujuan Praktikum
Mahasiswa dapat :
1. Memahami prinsip dasar pegukuran resistansi dengan metode Voltmeter-
Amperemeter pada sistem rangkaian sederhana.
2. Mengetahui efek posisi voltmeter pada pengukuran resistansi dengan
metode Voltmeter-Amperemeter pada sistem rangkaian sederhana.
BAB II
LANDASAN TEORI

Resistansi atau biasa disebut dengan hambatan adalah penahan aliran listrik.
Kemampuan menghambat aliran listrik disebut resistivitas. Komponen atau bahan
yang berfungsi atau digunakan untuk menghambat aliran listrik disebut resistor.
Satuan internasional untuk hambatan adalah ohm ( Ω ) dan alat yang digunakan
untuk mengukur hambatan adalah ohmmeter (Giancoli, 2001).
Nilai resistansi suatu material dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
panjang material, luas penampan potongannya, bahan yang digunakan dan
temperatur. Perubahan nilai resistansi dari suatu material akibat perubahan
temperatur disebut dengan koefisien temperatur resistansi (Yohandri, 2016).
Resistor tetap mempunyai nilai resistansi yang tidak dituliskan pada badan
komponen tetapi dikonversikan dalam bentuk kode-kode gelang warna dengan
ketentuan tertentu dan bagi pengguna yang mempunyai cacat mata tertentu (buta
warna primer dan buta warna sekunder) akan mempunyai kesulitan untuk dapat
menghitung nilai resistansinya. Resistor dapat berbentuk fixed resistor (nilai
resistansi tetap) atau variable resistor (nilai resistansi dapat diubah) dengan nilai
resistansi yang diekspresikan Ohm atau Ω (Djatmiko, 2017).
Salah satu cara pengukuran tahanan yaitu dengan menggunakan metode
voltmeter-amperemeter. Apabila tegangan V antara ujung-ujung tahanan dan arus
I mengalir melalui tahanan tersebut diukur maka tahanan Rx yang tidak diketahui
nilainya dapat ditentukan berdasarkan hukum Ohm berikut:
v
Rx= .................. (1)
I
Persamaan di atas mempunyai arti bahwa tahanan amperemeter adalah nol serta
tahanan voltmeter yang tak terhingga sehingga kondisi dalam rangkaian tersebut
tidak terganggu (Cooper, 1985).
Resistansi atau hambatan listrik (Ohm atau Ω), menyatakan besaran nilai
yang menghambat sebuah muatan listrik berpindah ke bidang pengantaran
lainnya. Untuk pengukuran resistansi, multitester diatur ke skala hambatan (Ohm )
yang telah terbagi dalam beberapa skala pengukuran. Nilai resistansi merupakan
bentuk perlawanan dari sebuah materi terhadap arus listrik yang melintasi bidang
pengantaran. Nilai resistansi sebuah materi memiliki nilai besar apabila arus yang
melewati materi tersebut kecil ( LPTTI, 2012).
Salah satu cara untuk mengukur resistansi menggunakan metode ammeter
dan voltmeter adalah dengan rangkaian sebagai berikut .

Gambar 1. Voltmeter dihubung paralel dengan beban


Menggunakan rangkaian di atas, maka nilai resistansi dapat diperoleh
dengan rumusan:

.......................... (2) E
R = I + Iv
Oleh karena besarnya R sama dengan E/I, maka adanya I v menimbulkan eror pada
perhitungan besarnya R. Namun jika I >>> Iv, maka eror ini dapat diabaikan.
Rangkaian yang pertama ini akan mengukur besarnya secara akurat jika R tersebut
mempunyai nilai yang jauh lebih kecil daripada resistansi voltmeter, sehingga
dapat dikatakan bahwaIv <<< I (Suhedi, 2015).

(a) (b)
Gambar 2. Efek penempatan voltmeter dam ampermeter
Menurut Cooper, bahwa Pada gambar 2(a) di atas arus sebenarnya yang
disalurkan ke beban diukur oleh amperemeter tetapi voltmeter lebih tepat
mengukur tegangan sumber daripada tegangan beban nyata. Untuk mendapatkan
tegangan yang sebnarnya pada beban, penurunan tegangan di dalam amperemeter
harus dikurangkan dari penunjukan voltmeter. Apabila voltmeter dihubungkan
langsung di antara ujung-ujung tahanan seperti di dalam gambar 2(b), maka
voltmeter mengukur tegangan beban yang sebenarnya tetapi amperemeter
menghasilkan kesalahan (error) sebesar arus yang melalui voltmeter. Pada kedua
cara pengukuran Rx ini kesalahan tetap dihasilkan. Cara yang benar untuk
menghubungkan voltmeter bergantung pada nilai Rx beserta tahanan voltmeter
dan amperemeter. Pada umumnya tahanan amperemeter rendah sedangkan
tahanan voltmeter tinggi.
Pengukuran resistansi dapat dilakukan meskipun jarum ohmmeter terbalik
(merah dengan hitam). Namun, hal ini tidak akan merusak multitester. Hal ini
terjadi karena pada saat pengukuran nilai resistansi,jarum hitam (-) multitester
mengeluarkan arus untuk membaca nilai hambatan (LPTTI, 2012).

(a) (b)
Gambar 3. Efek penempatan voltmeter dam ampermeter
Pada gambar 3(a) amperemeter membaca arus beban (Ix) yang sebenarnya
dan voltmeter mengukur tegangan sumber (Vt). Apabila Rx besar dibandingkan
dengan tahanan dalam amperemeter, kesalahan yang diakibatkan oleh penurunan
tegangan di dalam amperemeter dapat diabaikan dan Vt sangat mendekati
tegangan beban yang sebenarnya (Vx). Oleh karena itu, rangkaian pada gambar
3(a) adalah yang paling baik untuk pengukuran nilai-nilai tahanan yang tinggi
(high resistance values). Pada gambar 3(b) diatas voltmeter membaca tegangan
beban yang sebenarnya (Vx) dan amperemeter membaca arus sumber (It). Apabila
Rx kecil dibandingkan tahanan dalam voltmeter, arus yang dialirkan ke voltmeter
tidak begitu mempengaruhi arus sumber dan (It) sangat mendekati arus beban
sebenarnya (Ix). Oleh karena itu rangkaian pada gambar 3(b) merupakan
rangkaian yang paling baik untuk pengukuran nilai tahanan rendah (low
resistance values) (Cooper, 1985).

Gambar 4. Efek posisi voltmeter dalam pengukuran cara voltmeter-


amperemeter
Cara mengetahui voltmeter telah dihubungkan dengan tepat bila besar
tahanan Rx tidak diketahui adalah menghubungkan voltmeter pada Rx dengan
saklar di posisi 1 dan mengamati pembacaan amperemeter. Lalu memindahkan
saklar ke posisi 2. Bila pembacaan amperemeter tidak berubah, saklar
dikembalikan ke posisi 1. Gejala ini menunjukkan pengukuran tahanan rendah.
Catat pembacaan arus dan tegangan kemudian hitung nilai Rx menurut persamaan
1 di atas. Apabila pembacaan amperemeter berkurang sewaktu memindahkan
saklar dari posisi 1 ke posisi 2, maka biarkan voltmeter pada posisi 2. Gejala ini
menunjukkan pengukuran tahanan tinggi (Cooper, 1985).
DAFTAR PUSTAKA

Cooper, William D. 1985. Instrumentasi Elektonik dan Teknik Pengukuran.


Jakarta: Erlangga.
Djatmiko,Wisnu. 2017. Prototipe Resistansi Meter Digital. Jurnal UMJ. 1(1): 1-
2.
Giancoli. 2001. Fisika. Jakarta: Erlangga.
LPTTI. 2012. Panduan menjadi teknisi handphone. Jakarta:Kawan Pustaka
Suhedi, Fefen. 2015. Pengukuran Resistansi. Jurnal Pengukuran Besaran Listrik
(TC22082).
Yohandri, Asrizal. 2016. Elektronika Dasar 1 Komponen, Rangkaian, dan
Aplikasi. Edisi Pertama. Jakarta : Kencana’
BAB III
METODE PERCOBAAN

A. Identifikasi Variabel
1. Variabel kontrol : Resistansi resistor (R), Ohm (Ω)
2. Variabel manipulasi : Tegangan sumber (VT ), Volt (V)
3. Variabel respon : Tegangan, Volt V (V)
Kuat arus, Ampere I (A)
B. Definisi Operasional Variabel
1. Resistansi resistor sebagai variabel kontrol adalah kemampuan hambatan
yang dimiliki oleh sebuah resistor dalam melewatkan arus ke dalam
rangkaian listrik yang terterah pada badan resistor dengan nilai resistansi
resistor yang digunakan adalah 100 Ω dan 100 kΩ dengan satuan dari
resistansi adalah ohm (Ω) dan simbol R.
2. Tegangan sumber adalah besar beda potensial listrik yang mengalir dari
power supply ke rangkaian diukur menggunakan voltmeter, dimana nilai
dari tegangan tersebut dimanipuasi dari nilai sebesar 2 Volt serta
dinaikkan dengan menggunakan rentang 1 Volt, dengan satuan volt, dan
simbol VT.
3. Kuat arus sebagai variabel respon adalah besarnya arus listrik yang
dialirkan ke dalam, dimana nilainya berubah sesuai dengan perubahan
tegangan yang diberikan pada rangkaian dan diukur kuat arus yang
mengalir dengan menggunakan multimeter digital dengan simbol I serta
satuan Ampere (A).
4. Tegangan sebagai variabel respon adalah besarnya beda potensial dari
rangkaian yang diukur menggunakan multimeter yang berperan sebagai
voltmeter , dengan satuan volt, dan simbol V.
C. Alat dan Bahan
1. Variabel Power Supply 1 buah
2. Multimeter Digital 2 buah
3. Resistor 100 Ω 1 buah
4. Resistor 100 kΩ 1 buah
5. Komutator 1 buah
6. Kabel penghubung 10 buah
D. Prosedur kerja
1. Menyiapkan alat – alat yang digunakan.
2. Merakit alat sesuai skema dasar seperti dibawah ini

3. Mengarahkan komutator pada posisi 1 dan memastikan Power Supply


masih dalam keadaan nol.
4. Menaikkan tegangan sumber secara perlahan hinggs voltmeter
menunjukkan tegangan 2 V.
5. Mencatat nilai tegangan tersebut dan nilai arus pada amperemeter
6. Mengambil data kembali dengan rentang 1 V hingga memperoleh 7
(tujuh) trial data atau bergantung pada batas maksimum Power Supply
yang digunakan.
7. Mengulang kembali kegiatan (3) hingga (6) dengan arah komutator pada
posisi 2.
8. Mengulang kembali kegiatan (3) hingga (6) dengan arah komutator
dengan hambatan kedua pada posisi 1 dan 2.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN

A. Hasil Pengamatan
ketelitian Voltmeter DMM (SANWA CD771) =± (0.9%+2 digit)
ketelitian Ammeter DMM (SANWA CD771) =± (1.4%+3 digit)

Resistansi Posisi Komutator


1 2
Resistor Tengangan Kuat Arus Tengangan Kuat Arus
(Ω) (V) (A) (V) (A)
|2.00±0.04| |16.5±0.03|10-3 |2.00±0.04| |16.9±0.04|10-3
|3.00±0.06| |25.6±0.06|10-3 |3.00±0.06| |26.3±0.06|10-3
|4.00±0.08| |34.8±0.08|10-3 |4.00±0.08| |36.3±0.09|10-3
110.3Ω |5.00±0.10| |44.1±0.11|10-3 |5.00±0.10| |45.2±0.11|10-3
|6.00±0.11| |53.6±0.13|10-3 |6.00±0.11| |54.6±0.13|10-3
|7.00±0.13| |62.3±0.15|10-3 |7.00±0.13| |64.0±0.15|10-3
|8.00±0.15| |71.3±0.17|10-3 |8.00±0.15| |73.5±0.18|10-3

Posisi Komutator
Resistansi 1 2
Tengangan Kuat Arus Tengangan Kuat Arus
Resistor (Ω)
(V) (A) (V) (A)
|2.00±0.04| |20.7±0.01|10-5 |2.00±0.04| |20.7±0.01|10-5
|3.00±0.06| |30.0±0.01|10-5 |3.00±0.06| |31.2±0.01|10-5
|4.00±0.08| |40.1±0.01|10-5 |4.00±0.08| |41.1±0.01|10-5
100 kΩ |5.00±0.10| |50.0±0.01|10-5 |5.00±0.10| |51.1±0.01|10-5
|6.00±0.11| |60.0±0.01|10-5 |6.00±0.11| |61.0±0.01|10-5
|7.00±0.13| |70.0±0.01|10-5 |7.00±0.13| |71.4±0.01|10-5
|8.00±0.15| |80.1±0.01|10-5 |8.00±0.15| |81.6±0.01|10-5
B. Analisis Data
Analisis Grafik
1. Untuk resistor R1 = │110.3 ± 5│
a. Untuk posisi komutator 1
y = mx +c
y = 0.1091 x +0.1961
R2 = 0.9999
v = mI +c
V
=m
I
V
R =
I
R =m
0,01
nst∆ I = = 0.002
5
1 0.002
∆I = nst = = 0.001
2 2
1
nst∆ V = = 0.2
5
1 0.2
∆V = nst = = 0.1
2 2
Ketidakpastian :
∆V ∆ I
∆R =│ + │R
V I
0.1 0.001
∆R =│ + │0.1091
2.00 16.5
∆ R=¿ 0.05+0.0006 │0.1091
∆ R=¿ |0.0506| 0.1091
∆ R=¿ 0.00552046
∆R
KR = x 100%
R
0.00552046
KR = x 100%
0.1091
KR = 5.06 % ( 2 AB )
R = | R ± ∆ R|
R = |0.11±0.01|

110.3−0.1091
¿ ∨¿
%diff = 110.3+ 0.1091 x 100%
2
110,1909
¿ ∨¿
%diff = 110.4091 x 100%
2
110,1909
%diff =¿ ∨¿ x 100%
55.20455
%diff =¿ 1,996047∨¿ x 100%
%diff =199,60 %

b. Untuk posisi komutator 2


y = mx +c
y = 0.1063 x + 0.1914
R2 = 0.9999
v = mI +c
V
=m
I
V
R =
I
R =m
0,01
nst∆ I = = 0.002
5
1 0.002
∆I = nst = = 0.001
2 2
1
nst∆ V = = 0.2
5
1 0.2
∆V = nst = = 0.1
2 2
Ketidakpastian :
∆V ∆ I
∆R =│ + │R
V I
0.1 0.001
∆R =│ + │ 0.1063
2.00 16.9
∆ R=¿ 0.05+0.0006 │ 0.1063
∆ R=¿ |0.0506| 0.1063
∆ R=¿ 0.00537878
∆R
KR = x 100%
R
0.00537878
KR = x 100%
0.1063
KR = 5.06 % ( 2 AB )
R = | R ± ∆ R|
R = |0.11±0.01|
110.3−0.1063
¿ ∨¿
%diff = 110.3+ 0.1063 x 100%
2
110,1937
¿ ∨¿
%diff = 110.4063 x 100%
2
110,1909
%diff =¿ ∨¿ x 100%
55.20315
%diff =¿ 1,996098∨¿ x 100%
%diff =199,60 %

Tabel 1.1 Hasil Perhitungan pada Komutator posisi 1


Tegangan Kuat Arus
∆R KR
(V) (mA)
|3.00±0.06| |2.56±0.06| 0.003679 3.372396
|4.00±0.08| |3.48±0.08| 0.002759 2.528736
|5.00±0.10| |4.41±0.11| 0.002207 2.022676
|6.00±0.11| |5.36±0.13| 0.001839 1.685323
|7.00±0.13| |6.23±0.15| 0.001576 1.444623
|8.00±0.15| |7.13±0.17| 0.001379 1.264025

Tabel 1.2 Hasil Perhitungan pada Komutator posisi 2


Tegangan Kuat Arus
∆R KR
(V) (mA)
|3.00±0.06| |2.63±0.06| 0.003584 3.371356
|4.00±0.08| |3.63±0.09| 0.002687 2.527548
|5.00±0.10| |4.52±0.11| 0.002150 2.022124
|6.00±0.11| |5.46±0.13| 0.001791 1.684982
|7.00±0.13| |6.40±0.15| 0.001535 1.444196
|8.00±0.15| |7.35±0.18| 0.001343 1.263605

2. Untuk resistor R2 = │100000 ± 5│


a. Untuk posisi komutator 1
y = mx +c
y =100,67x+0,0466
R2 = 0.9999

v = mI +c
V
=m
I
V
R =
I
R =m
0,01
nst∆ I = = 0.002
5
1 0.002
∆I = nst = = 0.001
2 2
1
nst∆ V = = 0.2
5
1 0.2
∆V = nst = = 0.1
2 2
Ketidakpastian :
∆V ∆ I
∆R =│ + │R
V I
0.1 0.001
∆R =│ + │100.67
2.00 0.0207
∆ R=¿ 0.05+0.0483091 │100.67
∆ R=¿ |0.0983091| 100.67
∆ R=¿ 9.8967771
∆R
KR = x 100%
R
9.8967771
KR = x 100%
100.67
KR = 9.83 % ( 4 AB )
R = | R ± ∆ R|
R = | 100.7± 9.9 |

100000−100.67
¿ ∨¿
%diff = 100000+100.67 x 100%
2
99899.33
¿ ∨¿
%diff = 100100.67 x 100%
2
99899.33
%diff =¿ ∨¿ x 100%
50050,335
%diff =¿ 1,996098∨¿ x 100%
%diff =199,59 %

b. Untuk posisi komutator 2


y = mx +c
y = 98,934 x - 0,0612
R2 = 0.9999
v = mI +c
V
=m
I
V
R =
I
R =m
0,01
nst∆ I = = 0.002
5
1 0.002
∆I = nst = = 0.001
2 2
1
nst∆ V = = 0.2
5
1 0.2
∆V = nst = = 0.1
2 2
Ketidakpastian :
∆V ∆ I
∆R =│ + │R
V I
0.1 0.001
∆R =│ + │ 98.934
2.00 0.0207
∆ R=¿ 0.05+0.0483091 │ 98.934
∆ R=¿ |0.0983091| 98.934
∆ R=¿ 9.7261124
∆R
KR = x 100%
R
9.7261124
KR = x 100%
98,934
KR = 9.83 % ( 4 AB )
R = | R ± ∆ R|
R = |98.9± 9.7 |
R Ref −R meas
%diff = ¿ ∨¿
R averg
100000−98,934
¿ ∨¿
%diff = 100000+98,934 x 100%
2
99901.066
¿ ∨¿
%diff = 100098.934 x 100%
2
99901.066
%diff =¿ ∨¿ x 100%
50049.467
%diff =¿ 1,996046∨¿ x 100%
%diff =199.60 %
9.8967771
Tabel 2.1 Hasil Perhitungan pada Komutator posisi 1
Teganga
Kuat Arus (A) ∆R KR
n (V)
|3.00±0.06| |3.00±0.01|10-5 6.711333 6.666667
|4.00±0.08| |4.01±0.01|10-5 5.027224 4.993766
|5.00±0.10| |5.00±0.01|10-5 4.026800 4
|6.00±0.11| |6.00±0.01|10-5 3.355667 3.333333
|7.00±0.13| |7.00±0.01|10-5 2.876286 2.857143
|8.00±0.15| |8.01±0.01|10-5 2.515179 2.498439

Tabel 2.2 Hasil Perhitungan pada Komutator posisi 1


Tegangan
Kuat Arus (A) ∆R KR
(V)
|3.00±0.06| |3.12±0.01|10-5 6.468762 6.538462
-5
|4.00±0.08| |4.11±0.01|10 4.880503 4.933090
-5
|5.00±0.10| |5.11±0.01|10 3.914766 3.956947
-5
|6.00±0.11| |6.10±0.01|10 3.270769 3.306011
|7.00±0.13| |7.14±0.01|10-5 2.798973 2.829132
-5
|8.00±0.15| |8.16±0.01|10 2.449101 2.475490

BAB V
PEMBAHASAN
Resistansi atau hambatan merupakan perbandingan antara tegangan listrik
dari suatu komponen elektroniknya (misalnya resistor) dengan arus listrik yang
melewatinya. Alat yang digunakan untuk menghambat arus listrik adalah resistor.
Adapun variable yang diperoleh dari hasil praktikum, yakni variable kontrol
adalah resistansi resistor, R dengan satuan ohm (Ω), variabel manipulasi adalah
tenagan sumber, VS dengan satuan volt (V), dan variabel respon adalah tengan
(Volt) dan kuat arus dengan satuan ampere (A). Adapun tujuan praktikum ini
adalah untuk memahami prinsip dasar pengukuran resistansi dengan metode
voltmeter-amperemeter pada system rangkaian sederhana, serta mengetahui efek
posisi voltmeter pada pengukuran resistansi dengan metode voltmeter-
amperemeter pada system rangkaian sederhana. Pada praktikum ini resistor yang
digunakan sebanyak dua resistor yakni resistor 1 │110.3±5│Ω dan resistor 2
yakni │100000 ±5│.
Pada resistor pertama sebesar │110.3±5│Ω, terlebih dahulu yang
dihitung adalah tegangannya, yakni tegangan awalnya sebesar 2 volt. Pada posisi
komutator 1 tegangan yang diperoleh secara berturut-turut adalah 2 volt, 3 volt, 4
volt, 5 volt, 6 volt, 7 volt, 8 volt.Adapun kuat arus yang dihasilakan dari hasil
pengukuran secara berturut-turut adalag 16.5 mA, 25.6 mA, 34.8 mA, 44.1
mA,62.30 mA, serta 71.30 mA. Sedangkan untuk posisi komutator 2 yang
diperoleh secara berturut-turut sebesar 2 volt, 3 volt, 4 volt, 5 volt, 6 volt, 7 volt, 8
volt. Adapun kuat arus yang dihasilakan dari hasil pengukuran secara berturut-
turut adalah 16.9 mA,26.3 mA, 36.3 mA, 45.2 mA, 54.6 mA, 64.0 mA,73.5 mA.
Dari hasil analisis grafik yakni perbandingan antara arus dan tegangan untuk
komutator pada posisi 1, diperoleh nilai resistansi terhitung sebesar 0.1091Ω.
Sedangkan nilai resistansi yang tertera sebesar 110.3 Ω. Dari hasil tersebut
diperoleh kesalahan sebesar 199.60 %. Dan hasil analisis grafik untuk posisi
komutator 2, diperoleh nilai resistansi terhitung sebesar 0.1063 Ω, sedangkan nilai
resistansi terukur sebesar 110.3 Ω. Dari hasil tersebut diperoleh kesalahan sebesar
199,60 %. Dari analisis hasil yang diperoleh bahwa adanya perbedaan hasil dari
nilai resistansi terukur dan nilai resistansi terukur sangat jauh, hal ini disebabkan
karena alat ukur yang digunakan dalam keadaan tidak baik, serta kurangnya
ketelitian praktikan saat pengambilan data.
Pada resistor 2 sebesar │100000 ± 5│, pada posisis komutator 1 tegangan
yang didapatkan secara berturut-turut adalah 2 volt, 3 volt, 4 volt, 5 volt, 6 volt, 7
volt, serta 8 volt. Adapun nilai kuat arus yang dihasilkan secara berturut-turut
adalah 0.0207 mA, 0.30 mA,0.0401 mA, 0.05 mA, 0.06 mA, 0.07 mA serta
0.0801 mA. Sedangkan pada posisi komutator 2 tegangan yang didapatkan secara
berturut-turut adalah 2 volt, 3 volt, 4 volt, 5 volt, 6 volt, 7 volt, serta 8 volt.
Adapun kuat araus yang dihasilkan sebesar 0.0207mA, 0.0312 mA, 0.0411 mA,
0.0511 mA, 0.061 mA, 0.0714 mA, 0.0816 mA. Dari hasil analisis grafik yakni
perbandingan antara arus dan tegangan untuk komutator pada posisi 1, diperoleh
nilai resistansi terhitung sebesar 100,67 Ω. Sedangkan nilai resistansi yang tertera
sebesar 100000 Ω. Dari hasil tersebut diperoleh kesalahan sebesar 199.59 %. Dan
hasil analisis grafik untuk posisi komutator 2, diperoleh nilai resistansi terhitung
sebesar 98.934 Ω, sedangkan nilai resistansi terukur sebesar 100000 Ω. Dari hasil
tersebut diperoleh kesalahan sebesar 199.60 %. Adanya perbedaan hasil dari nilai
resistansi terukur dan nilai resistansi tertera sangat jauh, hal ini disebabkan karena
alat ukur yang digunakan dalam keadaan tidak baik, serta kurangnya ketelitian
praktikan saat pengambilan data dengan melihat persentasi perbandingan sangat
jauh berbeda.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Prinsip dasar pengukuran resistansi dengan metode voltmeter yakni
rangkaian disusun secara paralel sedangkan pengukuran resistansi dengan
metode ampere meter rangkaiannya disusun secara seri pada suatu
rangkaian sederhana
2. Efek posisi voltmeter dalam pengukuran resistansi yaitu ketika voltmeter
dipasang sebelum titik percabangan maka arus disalurkan ke beban Rx
sepenuhnya akan mengalir ke amperemeter. Sedangkan pada saat
voltmeter dipasang setelah percabangan maka arus akan mengalir ke
resistor juga ke voltmeter maka voltmeter mengukur tegangan beban yang
sebenarnya. Namun, karena tahanan dalam voltmeter yang sangat besar
maka arus yang mengalir padanya sangat kecil. Sehingga arus yang
mengalir ke resistor hampir sama dengan jumlah arus yang mengalir ke
amperemeter dimana Rx ini kesalahan tetap dihasilkan.
B. Saran
1. Kepada praktikan, saat melakukan kegiatan praktikum sebaiknya telah
mempelajari rangkaian yang dipercobaan agar lebih mengefisien waktu
dalam pengambilan data serta praktikan sebaiknya lebih teliti dalam
pengambilan data agar data yang diperoleh mendekati dengan teori.
2. Kepada asisten, agar meningkatkan pembimbingan pada saat praktikum
agar praktikan dapat lebih fokus dalam pengambilan data serta lebih
memahami praktikum yang dilakukan .
3. Kepada laboran, agar lebih memperhatikan alat yang digunakan dalam
praktikum jika dapat diganti yang lebih baik, agar waktu pengambilan
data dapat lebih efisien dan tepat waktu dan tidak terkendala oleh alat.