Anda di halaman 1dari 3

PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Sering dengan perkembangan keperawatan di dunia,dunia keperawatan di indonesia juga mengalami


perkembangan. Tahap-tahap perkembangan tersebut sebagai berikut.

Penjaga orang sakit (zieken oppasser)

Sebelum VOC datang ke indonesia (1602-1799),keperawatan di indonesia masih bersifat tradisional


(berdasarkan naluri dan berhubungan dengan dukun dan roh).
Setelah VOC masuk ke indonesia,didirikan sebuah rumah sakit pertama yang disebut Binnen
Hospital(1799).Tenaga perawat diambil dari penduduk pribumi yang bertanggung jawab atas perawatan
kustodialpasen (bed-side-care),dan dibagi menjadi 2 bagian berdasarkan pekerjaan yang
dilakukannya,yaitu kepala rumah tangga/kepada bangsal (binnen vaders/zieken vaders)dan penjaga
orang sakit/juru perawat(zieken oppassers).Tugas penjaga orang sakit meliputi kegiatan
domestik,seperti membersihkan bangsal dan memasak,mengontrol pasien,mencegah agar pasien tidak
melarikan diri,dan menjaga pasien yang mengalami gangguan jiwa.perawat pada masa ini bukan
merupakan suatu pekerjaan yang bersifat sukarela atau yang memerlukan kemampuan
intelektual,melainkan dianggap sebagai pekerjaan yang hanya pantas dilakukan oleh individu yang
memiliki derajat sosial rendah,sedangkan tugas pelayanan kesehatan sendiri dilakukan oleh seorang
dokter bedah dan pelayanan ini hanya diberikan kepada awak kapal,pegawai,dan orang-orang VOC.
Pada tahun 1800 dengan dibubarkannya VOC dan diambil alihnya pemerintahan oleh
Belanda,kondisi kesehatan di indonesia menjadi merosot tajam.Namun,pada tahun 1808 di bawah
pemerintahan Gubernur Jendral HW Daendels (1762-1818)dibangun beberapa rumah sakit di kota
Bandung,Semarang,Surabaya,dan beberapa rumah sakit kecil di gatnizun.pada zaman ini sudah mulai
diterapakan sistem rujukan,pengelompokan pasien sesuai dengan penyakit,dan sanitasi rumah
sakit.Tenaga kesehatan pada periode ini dibagi dalam tig kelas yaitu kelas satu,kelas dua,dan kelas
tiga,serta diberi pangkat militer.selama penjajahan Inggris (1811-1817),usaha untuk mendidik tenaga
kesehatan terutama bagi kaum pribumi menjadi perhatian yang besar.pada tahun 1851 didirikan
sekolah kedokteran untuk pribumi (School Voor Inlandsche Gameiskundigen) yang kemudian berubah
nama menjadi stovia,dan sekolah bidan pribumi(School Voor Inlandsche Vroedruuven).Lulusan Stovia
disebut “dokter jawa “ yang bertugas untuk membantu dokter Belanda.Bidan-bidan bertugas untuk
menggantikan dukun bayi yang dipandang pemerintah Belanda sebagai individu yang sangat bodoh.

Model keperawatan Vokasional (awal abad 19)


Dengan datangnya misi kedokteran,dimulailah pekerjaan vokasional bagi tenaga perawat pada
rumah sakit misionaris yang diawali dengan memberikan pelatihan sebagai bagian dari pendidikan
keperawatan non-formal.

Model keperawatan kuratif

Model keperawatan vokasional berkembang menjadi model kuratif pada tahun1920 dan sangat
didukung oleh pemerintahan pada waktu itu di bawah kepemimpinan Gubernur Rafles.Ia mendukung
pemberian vaksinasi cacar air dan pengobatan penyakit seksual bagi pribumi.Rafles juga mengadakan
pelatihan untuk para ulama dan tokoh masyarakat di tingkat kabupaten,untuk dilibatkan dalam kegiatan
pengobatan dan vaksinasi.kemudian dibentuk dapartemen khusus untuk menangani vaksinasi cacar
yang berskala nasional.dan untuk lebih mendukung pelaksanaan vaksinasi,pemerintahan melatih tenaga
perawat untuk ditugaskan di daerah pedesaan yang biasa disebut sebagai mantri cacar.
Di rumah sakit,biasanya para mantri adalah seseorang yang telah cukup berpengalaman yang
disebut sebagai verpleger.mereka ini dianggap mampu untuk melaksanakan berbagai tindakan dan
pengobatan terhadap penyakit tertentu,dan pada kasus yang sulit mereka diperbolehkan merunjuk
pasien ke rumah sakit yang lebih besar yang dilayani oleh dokter-dokter yang saring disebut “ Dokter
Belanda”.

Keperawatan Semi Profesional

Pendidikan khusus keperawatan dengan sistem magang bagi lulusan sekolah dasar selama 4
tahun,mulai diselenggarakan.Para siswa yang berhasil menyelesaikan pendidikan khusus ini akan
mendapatkan gelar sebagai berikut.

1.Diploma AL :Perawat umum atau,

2.Diploma BI :Perawat jiwa.

Mantri laki-laki yang berpengalaman minimal 2 tahun dapat melanjutkan pendidikannya ke


sekolah mantri,juru perawat,atau mantri Verpleger kelas satu selama 2 tahun.khusus untuk mantri
perempuan,mereka dapat melanjutkan pendidikannya ke pendididkan kebidanan (diploma C).

Pendidikan perawat /Verpleger dengn dasar sekolah menengah pertama diberikan kepada siswa
berkebangsaan Belanda dan Indo Eropa dengan gelar diploma A untuk keperawatan umum dan diploma
B untuk keperawatan jiwa.

Pembagian kerja perawat berdasarkan gelar yang mereka peroleh sebagai berikut.

1.Mantri Verpleger ditugaskan untuk memberikan perawatan kustodial di rumah sakit atau
menjadi asisten laboratorium.

2.Mantri Verpleger kelas 1 ditugaskan untuk bekerja sebagai spesialis pengobatan di poliklinik.

3.Perawat/Verpleger ditugaskan untuk merawat pasien berkebangsaan asing.

Keperawatan Preventif

Pada tahun 1952,seiring dengan perkembangan teknologi yang terjadi di Eropa,fokus utama
keperawatan ditujukan pada upaya preventif.pemerintahan Belanda pada waktu itu menganggap bahwa
sanitasi dan penyuluhan kesehatan sangat penting untuk mencegah terjadinya wabah suatu penyakit. Di
samping itu,telah muncul kesadaran bahwa tindakan kuratif hanya bersifat sementara dan dampaknya
terhadap kesehatan masyarat pada umumnya