Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

“METODE EKSTRAKSI PERKOLASI”

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fitokimia

Disusun Oleh:
Muhammad Rikza Kirana (P2.06.30.1.18.016)
Muhammad Taufiq Anwari (P2.06.30.1.18.017)
Muhammad Yudi Pratama (P2.06.30.1.18.018)
Nefi Nurhudayah (P2.06.30.1.18.019)
Nissa Ramdian Azzahrah (P2.06.30.1.18.020)

JURUSAN FARMASI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES TASIKMALAYA
2019/2020
2

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat, nikmat,
serta karunia-NYA kepada penulis sehingga penulis bisa menyusun dan
menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Makalah ini dibuat untuk
memenuhi tugas dari mata kuliah Fitokimia.

Penulis menghaturkan terima kasih kepada Bapak Irvan Herdian , M. .,Apt.,


Bapak Nur Aji, M. ., Apt., dan Ibu Rani Rubiyanyi, M.Farm., Apt. selaku dosen mata
kuliah Fitokimia yang telah membimbing penulisan makalah ini. Tanpa adanya
bimbingan beliau, penulis kiranya tidak mampu menyelesaikan makalah ini.

Makalah yang berjudul ‘Metode Ekstraksi Perkolasi’ membahas persoalan


pengertian, prinsip, bagian-bagian alat, prosedur kerja, hasil ekstraksi.

Apabila terdapat kesalahan dalam makalah ini, izinkan penulis


menghaturkan permohonan maaf. Sebab, makalah ini tidak sempurna dan masih
memiliki banyak kelemahan.

Besar harapan penulis, makalah ini bisa menjadi patokan atau tolak ukur
pembuatan makalah Metode Ekstraksi Perkolasi. Adapun, penulis juga berharap
semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembacanya.

Tasikmalaya, Maret 2020

Penyusun
3

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................................2

DAFTAR ISI...........................................................................................................................3

BAB I ( PENDAHULUAN ).............................................................................................5

Latar belakang...........................................................................................................5

Rumusan Masalah....................................................................................................6

Tujuan Makalah........................................................................................................6

BAB II ( DASAR TEORI )................................................................................................7

Pengertian Ekstraksi................................................................................................7

Macam-macam Ekstraksi.......................................................................................7

Tujuan Ekstraksi.......................................................................................................12

Ekstrak.........................................................................................................................13

Pelarut..........................................................................................................................15

BAB III ( METODE )..........................................................................................................18

Alat Dan Bahan.........................................................................................................18

Prosedur Kerja...........................................................................................................18

BAB IV ( HASIL DAN PEMBAHASAN ).................................................................19

Hasil Pengamatan.....................................................................................................19

Pembahasan................................................................................................................20

BAB V ( KESIMPULAN )................................................................................................23


4

Simpulan......................................................................................................................23

Saran.............................................................................................................................23

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................24
5

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki tumbuhan
sebagai sumber kekayaan yang luar biasa. Banyak tanaman yang tumbuh
dengan subur dan penuh dengan potensi, dari segi penggunaan bahan
makanan, minuman dan beberapa pengobatan tradisional. Sejarah telah
membuktikan bahwa tanaman memberikan kontribusi tidak terbatas dalam
pengadaan sumber bahan alam yang banyak memiliki khasiat (Schmidt et
al., 2008).
Berbagai khasiat yang dapat dihasilkan oleh tanaman merupakan
efek dan khasiat dari berbagai zat metabolit sekunder yang terkandung
dalam tanaman tersebut. Sebagai contoh zat metabolit sekunder yang
terkandung dalam tanaman yaitu alkaloid, flavonoid, glikosida,terpenoid,
saponin, tanin dan polifenol sehingga biasanya dijadikan obat tradisional
yang memiliki efek terhadap kesehatan
Suatu tumbuhan dapat berfungsi sebagai obat tradisional karena
kandungan metabolit sekunder. Fungsi metabolit sekunder ini jarang
diketahui oleh banyak orang, sehingga seringkali terlupakan akan khasiat
yang dikandung di dalamnya. Untuk pemeriksaan metabolit sekunder ini di
dapatkan dari tumbuhan dengan dengan metode fitokimia (Raina, 2011).
Fitokimia merupakan suatu teknik analisis kandungan kimia di
dalam tumbuhan yang memiliki sifat kualitatif sehingga data yang
dihasilkan adalah data kualitatif. Oleh karena itu dengan metode fitokimia
dapat diketahui secara kualitatif kandungan kimia dalam suatu jenis
tumbuhan.
Dalam pengambilan komponen zat aktif pada tumbuhan dapat
dilakukan ekstraksi. Ekstraksi merupakan suatu proses penarikan senyawa
6

metabolit sekunder dengan bantuan pelarut. Adapun beberapa teknik yang


dapat dilakukan seperti maserasi, perkolasi, ekstraksi kontinu, dan lain
sebagainya. Tanaman yang akan diekstraksi harus dijadikan simplisia
terlebih dahulu. Simplisia adalah bahan alamiah yang belum mengalami
pengolahan apapun juga dan kecuali dikatakan lain, berupa bahan yang
telah dikeringkan.
Maka dari itu pada makalah kali ini membahas tentang ekstraksi
dan metode yang digunakannya dan dilakukan terhadap simplisia yang
telah ditentukan oleh dosen sebagai aspek untuk menyelesaikan praktikum
mata kuliah ini.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis merumuskan masalah


berikut:

1. Apa itu metode perkolasi?

2. Bagaimana prinsip metode perkolasi?

3. Jenis-jenis metode perkolasi

4. Bagian-bagian alat perkolasi?

5. Keuntungan dan kerugian dari metode perkolasi?

C. Tujuan Makalah

Berasarkan rumusan masalah tersebut,maka tujuan makalah ‘Metode


ekstraksi infusa adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui metode ekstraksi perkolasi


2. Mengetahui salah satu metode ekstraksi
7

BAB II

DASAR TEORI

A. Ekstraksi
Ekstraksi merupakan suatu proses penarikan senyawa metabolit
sekunder dengan bantuan pelarut. Ekstraksi akan lebih cepat dilakukan
pada suhu tinggi, tetapi hal ini dapat mengakibatkan beberapa komponen
mengalami kerusakan (Harbone, 1987).
Ekstraksi merupakan proses suatu zat atau beberapa dari suatu
padatan atau cairan dengan bantuan pelarut. Pemisahan terjadi atas dasar
kemampuan larutan yang berbeda dari komponen-komponen tersebut.
Ekstraksi biasa digunakan untuk memisahkan dua zat berdasarkan
perbedaankelarutan. Bahan diperiksa untuk menemukan kelompok
senyawa kimia tertentu, misalnyaalkaloid, flavonoid atau saponin,
meskipun struktur kimia sebetulnya dari senyawa ini
bahkankeberadaannya belum diketahui (Mandiri, 2013).
B. Perkolasi
Menurut Guenther dalam Irawan (2010) Perkolasi adalah cara
penyarian dengan mengalirkan penyari melalui bahan yang telah dibasahi.
Perkolasi adalah metoda ekstraksi cara dingin yang menggunakan pelarut
mengalir yang selalu baru. Perkolasi banyak digunakan untuk ekstraksi
metabolit sekunder dari bahan alam, terutama untuk senyawa yang tidak
tahan panas (Agutina, 2013).
C. Tujuan Ekstraksi
Tujuan ekstraksi adalah untuk menarik semua komponen kimia yang
terdapat dalam simplisia. Ekstraksi ini didasarkan pada perpindahan massa
komponen zat padat ke dalam pelarut dimana perpindahan mulai terjadi pada
lapisan antar muka, kemudian berdifusi masuk ke dalam pelarut.
Secara umum, terdapat empat situasi dalam menentukan tujuan
ekstraksi :
1) Senyawa kimia telah diketahui identitasnya untuk diekstraksi dari
organisme. Dalam kasus ini, prosedur yang telah dipublikasikan dapat
diikuti dan dibuat modifikasi yang sesuai untuk mengembangkan
proses atau menyesuaikan dengan kebutuhan pemakai.
2) Bahan diperiksa untuk menemukan kelompok senyawa kimia tertentu,
misalnya alkaloid, flavanoid atau saponin, meskipun struktur kimia
sebetulnya dari senyawa ini bahkan keberadaannya belum diketahui.
Dalam situasi seperti ini, metode umum yang dapat digunakan untuk
senyawa kimia yang diminati dapat diperoleh dari pustaka. Hal ini
diikuti dengan uji kimia atau kromatografik yang sesuai untuk
kelompok senyawa kimia tertentu.
3) Organisme (tanaman atau hewan) digunakan dalam pengobatan
tradisional, dan biasanya dibuat dengan cara, misalnya Tradisional
Chinese medicine (TCM) seringkali membutuhkan herba yang
dididihkan dalam air dan dekok dalam air untuk diberikan sebagai
obat. Proses ini harus ditiru sedekat mungkin jika ekstrak akan melalui
kajian ilmiah biologi atau kimia lebih lanjut, khususnya jika tujuannya
untuk memvalidasi penggunaan obat tradisional.
4) Sifat senyawa yang akan diisolasi belum ditentukan sebelumnya
dengan cara apapun. Situasi ini (utamanya dalam program skrining)
dapat timbul jika tujuannya adalah untuk menguji organisme, baik
yang dipilih secara acak atau didasarkan pada penggunaan tradisional
untuk mengetahui adanya senyawa dengan aktivitas biologi khusus.
D. Ekstrak
1. Pengertian Ekstrak
Ekstrak adalah suatu produk hasil pengambilan zat aktif melalui
proses ekstraksi menggunakan pelarut, dimana pelarut yang digunakan
diuapkan kembali sehingga zat aktif ekstrak menjadi pekat. Bentuk dari
ekstrak yang dihasilkan dapat berpa ekstrak kental atau ekstrak kering,
tergantung jumlah pelarut yang diuapkan.
2. Pembagian Ekstrak
a. Menurut Farmakope Indonesia
1) Ekstrak Cair
Adalah ekstrak hasil penyarian bahan alam dan masih
menggandung pelarut
2) Ekstrak Kental
Adalah ekstrak yang telah mengalami proses penguapan dan
sudah tidak mengandung cairan pelarut lagi, tetapi
konsistensinya tetap cair pada suhu kamar
3) Ekstrak Kering
Adalah ekstrak yang telah mengalami proses penguapan dan
tidak lagi mengandung pelarut dan berbentuk padat (kering)
b. Berdasarkan Kandungan Ekstrak
1) Ekstrak Alami
Adalah ekstrak murni yang mengandung bahan obat herbal
alami kering, berminyak, tidak mengandung solvent dan
eksipien
2) Ekstrak non alami
Sediaan bahan herbal yang tidak mengandung bahan alami.
c. Berdasarkan Komposisi yang ada di dalam Ekstrak
1) Ekstrak Murni

Merupakan ekstrak yang tidak mengandung pelarut


maupun bahan tambahan lainnya, dan biasanya merupakan
produk antara, bersifat hidroskopis serta memerlukan proses
selanjutnya, untuk menjadi sediaan ekstrak.
2) Sediaan Ekstrak

Merupakan sediaan ekstrak herbal hasil pengolahan lebih


lanjut dari ekstrak murni. Sediaan ekstrak baik berbentuk kental
maupun serbuk kering untuk selanjutnya dapat dibuat menjadi
sediaan obat seperti kapsul, tablet, cairan dan lain-lainnya.

d. Berdasarkan Kandungan Senyawa Aktif

1) Standardised extracts

Merupakan ekstrak yang diperoleh dengan cara


menambahkan zat aktif yang aktifitas terapeutiknya telah
diketahui untuk mencapai komposisi yang disaratkan.Contoh;
Ekstrak kering daun belladona (mengandung alkaloid
hyoscyamin 0,95-1,05%)

2) Quantified extract

Merupakan ekstrak yang diperoleh dengan cara mengatur


kadar senyawa yang telah diketahui aktifitas farmakologisnya
agar memiliki khasiat yang sama. Quantified extract memiliki
kandungan zat aktif yang mempunyai aktifitas yang sudah
diketahui. Tetapi senyawa yang bertanggung jawab terhadap
aktivitas tersebut tidak diketahui.
E. Pelarut
Pelarut merupakan cairan yang mampu melarutkan zat lain yang
umumnya berbentuk padatan tanpa mengalami perubahan kimia.
Dalam bentuk cairan dan padatan, tiap molekul saling terikat akibat
adanya gaya tarik menarik antar molekul, gaya tarik menarik tersebut
akan mempengaruhi pembentukan larutan. Apabila terdapat zat terlarut
dalam suatu pelarut, maka partikel zat terlarut tersebut akan menyebar
ke seluruh pelarut. Hal ini menyebabkan bentuk zat terlarut
menyesuaikan dengan bentuk pelarutnya.
Pelarut organik merupakan pelarut yang umumnya mengandung
atom karbon dalam molekulnya. Dalam pelarut organik, zat terlarut
didasarkan pada kemampuan koordinasi dan konstanta dielektriknya.
Pelarut organik dapat bersifat polar dan non-polar bergantung pada
gugus kepolaran yang dimilikinya. Pada proses kelarutan dalam
pelarut organik, biasanya reaksi yang terjadi berjalan lambat sehingga
perlu energi yang didapat dengan cara pemanasan untuk
mengoptimumkan kondisi kelarutan. Larutan yang dihasilkan bukan
merupakan konduktor elektrik. Contoh pelarut organik adalah alkohol,
eter, ester, etil asetat, keton, dan sebagainya.
Pelarut anorganik merupakan pelarut selain air yang tidak memiliki
komponen organik di dalamnya. Dalam pelarut anorganik, zat terlarut
dihubungkan dengan konsep sistem pelarut yang mampu
mengautoionisasi pelarut tersebut. Biasanya pelarut anorganik
merupakan pelarut yang bersifat polar sehingga tidak larut dalam
pelarut organik dan non-polar. Larutan yang dihasilkan merupakan
konduktor elektrik yang baik.[1] Contoh dari pelarut anorganik adalah
ammonia, asam sulfat dan sulfuril klorid fluorid.
Berkaitan dengan polaritas dari pelarut, terdapat tiga golongan
pelarut
yaitu : pelarut polar memiliki tingkat kepolaran yang tinggi, cocok
untuk mengekstrak senyawa-senyawa yang polar dari tanaman..
Pelarut polar adalah senyawa yang memiliki rumus umum R-OH
dan menunjukan adanya atom hidrogen yang menarik atom
elektronegatif (Oksigen). Pelarut yang cocok untuk semua zat aktif
(universal). Contohnya; air, etanol, metanol dan asam asetat.
Pelarut Semipolar adalah pelarut yang memiliki molekul yang tidak
mengandung ikatan O-H. Pelarut dalam kategori ini, semua memiliki
ikatan dipol yang besar. Ikatan dipol ini biasanya merupakan ikatan
rangkap. Contoh; aseton, etil asetat, DMSO, dan diklorometan.
Pelarut nonpolar merupakan senyawa yang memiliki konstanta
dielektrik yang rendah dan tidak larut dalam air. Contoh pelarut
nonpolar; heksana, kloroform dan eter.
Berdasarkan polaritas ini maka pelarut-pelarut yang ada di alam
juga dapat digolongkan. Hal ini dapat membantu dalam memilih jenis
pelarut yang akan digunakan saat akan melarutkan bahan.
BAB III

PEMBAHASAN

Perkolasi adalah cara penyarian dengan mengalirkan penyari melalui


bahan yang telah dibasahi. Perkolasi adalah metoda ekstraksi cara dingin
yang menggunakan pelarut mengalir yang selalu baru (Guenther dalam
Irawan, 2010). Menurut Agustina (2013), perkolasi banyak digunakan untuk
ekstraksi metabolit sekunder dari bahan alam, terutama untuk senyawa yang
tidak tahan panas. Perkolasi juga diketahui memiliki prinsip kerja penyarian
zat aktif yang dilakukan dengan cara mengalirkan suatu pelarut melaluli
serbuk simplisia yang terlebih dahulu dibasahi selama waktu tertentu,
kemudian ditempatkan dalam suatu wadah berbentuk silinder yang diberi
sekat berpori pada bagian bawahnya. Pelarut dialirkan secara pertikal dari
atas kebawah melalui serbuk simplisia dan pelarut akan melarutkan zat aktif
dalam sel-sel simplisia yang dilaluinya sampai mencapai keadaan jenuh.
Menurut Zam-zam, dkk (2016) perkolasi dapat dilakukan dengan
berbagai cara, diantaranta dengan perkolasi biasa, repekolasi, perkolasi
dengan tekanan, dan perkolasi bertingkat. Perkolasi biasa dilakukan dengan
cara simplisia yang telah ditentukan derajat halusnya direndam dengan cairan
penyari, lalu dimasukkan kedalam perkolator dan diperkolasi sampai didapat
perkolat tertentu. Reperkolasi merupakan suatu cara perkolasi biasa, tetapi
dipakai beberapa perkolator. Biasanya pada reperkolasi simplisia dibagi
dalam tiga perkolator, perkolat-perkolat dari tiap perkolator diambil dalam
jumlah yang sudah ditetapkan dan nantinya dipergunakan sebagai cairan
penyari untuk perkolasi berikutnya pada perkolator yang kedua dan ketiga.
Perkolasi dengan tekanan sendiri digunakan jika simplisia mempunyai
derajathalus yang sangat kecil sehingga cara perkolasi biasa tidak dapat
dilakukan. Untuk itu perlu ditambah alat penghisap supaya perkolat dapat
turun ke bawah. Alat yang digunakan pada perkolasi dengan tekanan adalah
diacolator. Sementara itu, perkolasi bertingkat digunakan untuk tujuan
memperbaiki perkolat yang dihasilkan dari perkolasi biasa. Perkolasi ini
dilakukan dengan cara serbuk simplisia yang hampir tersari sempurna,
sebelum dibuang, disari dengan cairan penyari yang baru. Penyarian serbuk
simplisia dengan menggunakan cairan penyari yang baru dilakukan agar
serbuk simplisia tersebut dapat tersari sempurna. Sebaliknya, serbuk
simplisia uang baru disari denggan perkolat akhir yang jenuh . Dengan
demikian akan diperoleh perkolat akhir yang jenuh . Perkolat ini kemudian
dipisahkan dan dipekatkan.
23

BAB IV

PENUTUP

A. Simpulan

B. Saran

Penulis menyadari bahwa makalah diatas banyak sekali kesalahan


dan jauh dari kesempurnaan. Penulis akan memperbaiki makalah tersebut
dengan berpedoman pada banyak sumber yang dapat
dipertanggungjawabkan. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan
saran mengenai pembahasan makalah dalam kesimpulan di atas.
24

DAFTAR PUSTAKA

Dirjen POM. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat.


Cetakan pertama Jakarta : depkes RI.
Harborne. J.B. 1987. Metode Fitokimia. ITB Press. Bandung
Zam-zam, M.Y dkk. 2016. Farmakognosi. Jakarta: Buku Kedokteran
EGC.