Anda di halaman 1dari 9

TINJAUAN PUSTAKA

A.     Definisi Efusi Pleura


     Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan dalam rongga pleura ( Sylvia, A.
Price, 1995 Hal. 704 )
Efusi pleura adalah jumlah cairan nonpurulen yang berlebihan dalam rongga pleural; antara lapisan
viseral dan parietal ( Susan Martin Tucker, 1998 Hal.265)

B.     Etiologi
     Secara umum penyebab efusi pleura adalah sebagai berikut :
a.       Pleuritis karena bakteri piogenik
b.      Pleuritis tuberkulosa
c.       Efusi pleura karena kelainan intra abdominal, seperti : sirosis hati, pankretitis, abses ginjal, abses hati, dll.
d.      Efusi pleura karena gangguan sirkulasi, seperti pada decompensasi kordis, emboli pulmonal dan
hipoalbuminemia.
e.       Efusi pleura karena neoplasma, seperti : mesolioma, karsinoma bronkhus, neoplasma metastati, dan limfoma
malignum,
f.       Efusi pleura karena trauma, yakni trauma tumpul, laserasi, luka tusuk pada dada, ruptur esophagus (Sarwono
Waspadji, 2000 Hal. 931-935)

Berdasarkan jenis cairan yang terbentuk, cairan pleura terbagi lagi menjadi transudat, eksudat, dan
hemoragi.
a.       Transudat dapat disebabkan oleh kegagalan jantung kongestif (gagal jantung kiri) sindrom nefrotik, asites (oleh
karena sirosis hepatis), sindrom vena kava superior, tumor, dan sindrom meias.
b.      Eksudat  dapat disebabkan oleh infeksi, TB, pnemonia, tumor, infrak paru, radiasi, dan penyakit kolagen.
c.       Efusi hemoragi dapat disebabkan oleh adanya tumor, trauma, infrak paru, dan tuberkolosis
Berdasarkan lokasi cairan yang terbentuk, efusi dibagi menjadi unilateral dan bilateral. Efusi unilateral
tidak mempunyai kaitan yang spesifik dengan penyakit penyebabnya akan tetapi efusi bilateral diteukan pada
kegagalan jantung kongestif, sindrom nefrotik, asites, infrak paru, lupus eritematosus sistemis, tumor, dan
tuberkolosis.

C.     Manifestasi klinik
Kebanyakan efusi pleura bersifat asimtomatik, timbul gejala sesuai dengan penyakit yang
mendasarinya. Pneumonia akan menyebabkan demam, menggigil, dan nyeri dada pleuritik. Ketika efusi sudah
membesar dan menyebar, kemungkinan timbul dispnea dan batuk. Efusi pleura yang besar akan megakibatkan
nafas pendek. Tanda fisik meliputi deviasi trakea menjauhi sisi yang terkena, dullnes pada perkusi dan
penurunan bunyi pernapasan pada sisi yang terkena. (Irman Soemantri, 2007 Hal. 98)
Manifestasi klinik yang muncul ( Tierney, 2002 dan Tucker , 1998 ) adalah:
a.       Sesak nafas
b.      Nyeri dada
c.       Kesulitan bernafas
d.      Peningkatan suhu tubuh jika ada infeksi
e.       Keletihan
f.       Batuk

D.     Tanda dan gejala


Tanda dan gejala yang muncul adalah
a.       Sesak nafas
b.      Nyeri dada
c.       Pleuritik
d.      Deviasi trakea
e.       Nyeri perut
f.       Batuk
g.       Cegukan
h.      Pernafasan yang cepat
i.        Rasa Berat pada dada
Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam, menggigil, dan nyeri dada, pleuritis
( Pneumonia), panas tinggi, subfebril ( Tuberkulosis), banyak keringat, batuk, dan banyak riak.

E.      Patofisiologi penyakit
Normalnya hanya terdapat 10-20ml cairan pada rongga pleura, jumlah cairan di rongga pleura tetap.
Karena adanya tekanan hidrostatis pleura parientalis sebesar 9cm H 2O. Akumulasi  cairan pleura dapat terjadi
apabila tekanan osmotik koloid menurun (misalnya pada penderita hipoalbuminemia dan bertambahnya
permeabilitas kapiler akibat adanya proses peradangan atau neoplasma. Bertambahnya tekanan hidrostatis akibat
kegagalan jantung dan tekanan negativ intrapleura apabila terjadi atelektasis paru (Alsogaf, 1995).
Efusi pleura berarti terjadi penumpukan sejumlah besar cairan dalam cavum pleura. kemungkinan
proses akumulasi cairan di rongga pleura terjadi akibat beberapa proses yang meliputi (Guyton dan Hall, 1997) :
a.       Adanya hambatan drainase limpatik dari rongga pleura
b.      Gagal jantung yang menyebabkan tekanan kapiler paru dan tekanan perifer menjadi sangat tinggi sehingga
menimbulkan transudasi cairan yang berlebihan ke dalam rongga pleura
b.      Menurunnya tekanan osmotik koloid plasma juga memungkinkan terjadinya transudasi cairan yang berlebihan
c.       Adanya proses infeksi atau setiap penyebab peradangan apapun pada permukaan pleura dan rongga pleura dapat
menyebabkan pecahnya membran kapiler dan memungkinkan pengaliran protein plasma dan cairan ke dalam
rongga secara cepat.
Infeksi pada tuberkulosis paru disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis yang masuk
melalui saluran pernafasan menuju alveoli, sehingga terjadilah infeksi primer. dari infeksi ini akan timbul
peradangan saluran getah bening menuju hilus (Limfangitis lokal ) dan diikuti dengan pembesaran kelenjar
getah bening hilus ( Limfangitis regional ).
Peradangan pada saluran getah bening akan mempengaruhi permeabilitas membran. Permeabilitas
membran akan meningkan dan akhirnya menimbulkan akumulasi cairan dalam rongga pleura. Kebanyakan
terjadinya efusi pleura akibat dari tuberkulosis paru melalui fokus subpleura yang robek atau melalui aliran
getah bening. Sebab lain juga dapat diakibatkan dari robeknya perkejuan kearah saluran getah bening yang
menuju rongga pleura, iga, atau kolumna vertebralis.
Adapun bentuk cairan efusi akibat tuberkulosis paru adalah eksudat yang berisi protein dan terdapat
pada cairan pleura akibat kegagalan aliran protein getah bening. Cairan ini biasanya serosa, namun kadang-
kadang bisa juga hemarogi.

F.      Penatalaksanaan medis
1.      Terapi
a.       Pleuritis tuberkulosis
Pengobatan dengan obat-obat anti tuberkulosis paru (Rifampisim, INH, Pirozinamid atau etambutol).
b.      Efusi pleura karena neoplasma
Pengobatan dengan kemoterapi dan mengurangi timbulnya cairan dengan pleurodesis memakai zat-zat
tetrasuklin.
c.       Efusi karena prankreatitis
Pengobatannya dengan cara memberikan terapi peritoneo sentesis disamping terapi dengan diuretic terapi
terhadap penyakit asalnya.
2.      Tindakan Medis
a.       WSD (Water Sealed Drainage )
Merupakan suatu tindakan yang memungkinkan cairan atau udara keluar dari rongga pleura dn mencegah
aliran balik kerongga pleura, sisi pemasangan untuk drainage dekat dengan intracosca kelima atau keenam pada
garis midklavikula.
b.      Torakosintesis
Merupakan aspirasi cairan pleura sebagai sarana untuk diagnosis maupun teurapeutik. Aspirasi dilakukan
pada bagian bawah paru disela iga lX garis askila posterior dengan memakai jarum abbocath no 14 atau 16.
Torakosintesis dilakukan untuk membuang cairan, untuk mendapatkan spesimen guna keperluan analisa dan
untuk menghilangkan dispnea. Namun, bila penyebab dasar adalah malignasi, efusi dapat terjadi kembali dalam
beberapa hari atau minggu. Torakosintesis berulang mengakibatkan nyeri, penipisan protein, dan kadang
pneumotoraks.
c.       Pemberian antibiotik, Jika ada infeksi
d.      Pleurodesis
Pada efusi karena keganasan dan efusi rekuren lain, diberikan obat ( tetrasiklin, kalk, dan biomisin ) melalui
selang interkostalis untuk melekatkan kedua lapisan pleura dan mencegah cairan terakumulasi kembali.
e.       Biopsi pleura : untuk mengetahui adanya keganasan
G.     Pemeriksaan penunjang
1.      Sinar Tembus Dada
Permukaan cairan yang terdapat dalam rongga pleura akan membentuk bayangan seperti kurva, dengan
permukaan lateral lebih tinggi dan pada bagian medial. Bila permukaannya horizontal dan lateral ke medial,
pasti terdapat udara dalam rongga tersebut yang dapat berasal dari luar atau dari dalam paru-paru itu sendiri.
Hal ini yang dapat terlihat dalam foto dada efusi pleura adalah terdorongnya mediastinum pada sisi yang
berlawanan dengan cairan. Namun, bila terdapat atelektasis pada sisi yang bersamaan dengan cairan.
Mediastinum akan tetap pada tempatnya.

2.      Torakosentesis
Aspirasi cairan pleura berguna sebagai sarana untuk diagnosis maupun teropeutik. Pelaksanaan dilakukan
sebaiknya pasa posisi duduk. Aspirasi dilakukan pada bagian bawah paru di sela iga lX garis aksila posterior
dengan memakai jarum Abbocath no 14 atau 16. Pengeluaran cairan sebaiknya tidak lebih dari 1000-1500cc
pada setiap kali aspirasi. Aspirasi sekaligus banyak akan menimbulkan pleura shock ( hipertensi ) atau edema
paru-paru. Edema paru-paru terjadi karena paru-paru terlalu cepat mengembang.
3.      Biopsi Pleura
Pemeriksaan histologis satu atau beberapa contoh jaringan pleura dapat menunjukan 50-75% diagnosis
kasus pleuritis tuberkulosis dan tumor pleura. Bila hasil biopsi pertama tidak memuaskan dapat dilakukan biopsi
ulangan. Komplikasi biopsi adalah pneumotoraks, hemotoraks dan penyebaran infeksi atau tumor pada dinding
dada.
4.      Pendekatan pada efusi yang tidak terdiagosis
Pemeriksaan tambahan :
a.       Bronkoskopi  : Pada kasus-kasus neoplasma, korpus alienum, dan abses paru-paru.
b.      Scaning isotop : Pada kasus-kasus dengan emboli paru-paru
c.       Torokoskopi ( Fiber-optic pleuroscopy) : Pada kasus-kasus dengan neoplasma atau TBC

H.     Pengobatan Efusi Pleura


Pengobatan terhadap pasien dengan efusi pleura adalah dengan mengatasi penyakit yang mendasarinya,
mencegah penumpakan kembali cairan, serta untuk mengurangi ketidak nyamanan dan dispnea. (Irman
Samontri, 2007 Hal. 100)
a.       Jika caranya sedikit, hanya perlu dilakukan pengobatan terhadap penyebabnya. Jika caranya banyak, sehingga
menyebabkan penekanan maupun sesak napas, maka perlu dilakukan tindakan drainase (pengeluaran cairan
yang terkumpul).
b.      Pada tuberkulosis atau koksidioidomikosis diberikan terapi antibiotik jangka panjang.
c.       Jika pengumpulan cairan terus berlanjut, bila dilakukan penutupan rongga pleura. seluruh cairan dibuang
melalui selang, lalu dimasukan bahan iritan (misalnya larutan atau serbuk doxicycline) ke dalam rongga pleura.
Bahan iritan ini akan menyatukan kedua lapisan pleura sehingga tidak lagi terdapat ruang tempat cairan
tambahan.
d.      Pengobatan untuk kilotoraks dilakukan untuk memperbaiki kerusakan saluran getah bening. Bila dilakukan
pembedahan atau pemberian obat anti kanker untuk tumor yang menyumbat aliran getah bening.

I.        Komplikasi yang dapat terjadi


a.       Infeksi dan fibrosis paru (Mansjoer, 2001)
b.      Fibrotoraks
Efusi pleura yang berupa eksudat yang tidak ditangani dengan drainase yang baik akan terjadi perlekatan
fibrosa antara pleura parientalis dan viseralis. Keadaan ini disebut dengan fibrotoraks.
c.       Atalektasis
Atalektasis adalah pengembangan paru yang tidak sempurna yang disebabkan oleh penekanan akibat efusi
pleura.
d.      Kolaps Paru
Pada efusi pleura, atalektasis tekanan yang disebabkan oleh tekanan ektrinsik pada sebagian / semua
bagian paru akan mendorong udara keluar dan mengakibatkan kolaps paru.

Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Efusi Pleura


I. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. PENGUMPULAN DATA
a. Identitas Klien
Nama                                  :  Tn. D
Jenis kelamin                      : Laki-Laki
Umur                                  : 45 tahun
Status Pernikahan                : Menikah
Suku/Bangsa                       : Indonesia
Pekerjaan                            : Pegawai Swasta
Pendidikan terakhir                         : SMA
Alamat                                : Jl DR. Sitanala no. 235 Tangerang Banten
Nomor Register                   : -
Tanggal MRS                      : -
Tanggal Pengkajian             : -
Diagnosa Medis                  : Efusi Pleura
b. Identitas Penanggung Jawab
Nama                                  : Ny. M
Jenis kelamin                      : Perempuan
Umur                                  : 40 tahun
Status Pernikahan                : Menikah
Suku/Bangsa                       : Indonesia
Pekerjaan                            : Pegawai swasta
Pendidikan terakhir             : SMK
Alamat                                : Jl DR. Sitanala no. 235 Tangerang Banten

2. RIWAYAT KEPERAWATAN
a. Keluhan utama
Nyeri Dada dan Sesak
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
Tn.D  berumur 45thn datang ke poliklinik umum RSUD Kab. Tangerang. Saat datang klien batuk, sesak
nafas, nyeri dada, rasa berat pada dada, berat badan menurun. Saat dikaji oleh perawat, klien mengeluh nyeri
bagian dada dengan skala nyeri 5 (skala 0-10), nyeri seperti tertindih beban berat, nyeri bertambah saat
beraktifitas berat dan berkurang saat beristirahat.
c. Riwayat Kesehatan Dahulu
Imunisasi         : Klien mengatakan terakhir imunisasi saat masih kecil.
Alergi               : Klien mengatakan tidak ada riwayat alergi.
Penyakit yang pernah diderita : Klien mengatakan mempunyai penyakit TB paru
Obat-obatan yang pernah di digunakan : Rifampicin
Riwayat masuk RS : Klien mengatakan masuk RS. G pada tahun 2013
Riwayat kecelakan : -
Riwayat tindakan operasi : -

d. Riwayat Kesehatan Keluarga


Pasien mengatakan bahwa keluarga tidak mempunyai penyakit keturunan yang berat atau menular.

3. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum
Pasien tampak sesak nafas, Kesadaran Umum Compos Mentis
2. Tanda-Tanda Vital
• Tekanan Darah          : 90/70 mmHg
• Nadi                           : 87x Permenit
• Suhu                          : 37,6ºC
• RR                             : 35x Permenit
3. Antropometri
• Tinggi Badan             : 164cm
• BB                             : 46kg
• Indeks Masa Tubuh   :  BB    =          44        =          44        =  16,3
                                                   TB²             (1,64)²             2,6896
4. Kepala
            Bentuk kepala simetris, rambut dan kulit kepala klien bersih, distribusi rambut merata, tidak rontok,
tidak mudah dicabut, tidak ada benjolan, tidak ada keluhan.
5. Mata
            Letak bola mata simetris, gerakan bola mata simetris, kelopak mata tidak ada oedema, konjungtiva
anemis, sclera tidak ikterik, Tekanan Intra Okuler (TIO) sama, pupil dan refleks cahaya normal, ketajaman mata
normal OD = 4/5 OS 5/5
6. Telinga
            Kebersihan telinga bersih, tidak ada oedema dan secret, letak telinga simetris, fungsi pendengaran
baik
7. Hidung
            Terdapat cuping hidung, kebersihan lubang hidung bersih, tidak ada oedema dan secret, letak
hidung simetris, tidak ada peradangan membran mukosa hidung, tidak terdapat polip, fungsi penciuman baik.
8. Mulut dan Faring
• Mulut bersih, tidak ada bau mulut, terdapat mukosa pada mulut
• Bibir  : Warna pucat, tidak ada stomatitis, tidak ada kelainan bentuk
• Gusi   : Warna merah muda, tidak ada gingivitis, tidak ada perdarahan
• Gigi    : Jumlah gigi 33, ada caries gigi pada gigi molar, tidak ada perdarahan, abses, dan benda asing (gigi
palsu)
• Lidah : Warna pucat dan pergerakan lidah normal
• Faring            : Warna merah muda, tidak ada peradangan, tidak ada eksudat, tonsil tidak ada pembesaran
9. Leher
            Bentuk leher normal, tidak ada oedema dan jaringan parut, tidak ada tekanan vena jugularis, tidak
ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar limfe, tidak ada kaku kuduk dan mobilitas leher normal.
10. Thorax dan Dada
• Bentuk dada normal, tidak ada kelainan tulang belakang, ada retraksi intercostal, tidak ada oedema dan
jaringan parut, vocal premitus menurun, neyri dada, pemasangan kateter thorax
• Suara nafas menghilang pada bagian terinfeksi, suara ucapan (vocal resonans) normal, saat perkusi terdengar
pekak
• Pada jantung ada ictus cordis, perkusi jantung normal, bunyi jantung normal
• Pada payudara ukuran, bentuk, dan kesimetrisan payudara normal, warna aerola coklat, puting susu tidak ada
ulcus dan pembengkakan, tidak ada secret.
11. Abdomen
            Bentuk abdomen datar dan simetris, tidak ada jaringan parut dan lesi, tidak ada oedema, bising usus
10x permenit, tidak ada nyeri tekan.
12. Ekstremitas atas
Bentuk simetris, kekuatan otot 3 dari 0-5, tidak terdapat oedema, lesi dan jaringan parut, kuku jari bersih,
refleks biceps dan trisep +
13. Ekstremitas bawah
            Bentuk simetris, kekuatan otot 3 dari 0-5, tidak terdapat oedema, lesi dan jaringan parut, kuku jari
bersih, tidak ada varices, dan refleks babinski +

4. DATA BIOLOGIS
1. Pola Nutrisi
  Makan
a.       Frekuensi    : 3x Sehari
b.      Jenis                        : Nasi + Lauk + Sayur + Buah
c.       Porsi/Jumlah            : 1 Piring kecil
d.      Keluhan      : Tidak nafsu makan
e.       Makanan yang dipantang : Tidak Ada
f.       Alergi terhadap makanan : Tidak Ada
g.       Suplemen yang dikonsumsi : Vit. C
  Minum
a.       Jenis                        : Air putih
b.      Jumlah                    : ± 8 Gelas

2. Pola Eliminasi
  Buang Air Besar (BAB)
Klien mengatakan BAB tidak teratur
  Buang Air Kecil (BAK)
a.       Input           : 480cc
b.      Output         : 300cc
c.       Balance       : Input – Output = 180cc
d.      Warna         : Kuning Jernih
e.       Keluhan      : Tidak ada
3. Pola Istirahat/Tidur
a.       Tidur Siang  : ± 2 jam
b.      Tidur Malam           : ± 7 Jam
c.       Keluhan Tidur : Klien mengatakan terkadang terbangun saat malam hari karena tidak nyaman tidur
4. Personal Hygiene
a.       Mandi                      : 1x Sehari
b.      Jenis Pakaian           : Kaos dan daster
c.       Perawatan Gigi        : Tidak terlalu rutin
d.      Penis Hygiene         : Dibersihkan 1x sehari

5. DATA PSIKOLOGIS
a.       Status Perkawinan   : Menikah
b.      Status Emosi            : Terkadang sedikit Cemas
c.       Pola Koping            : Positif ( Klien selalu menceritakan masalah yang dihadapinya
d.      Pola Komunikatif    : Klien Koperatif
e.       Konsep Diri :
         Gambaran Diri : Klien terbuka dalam semua pertanyaan
         Peran Diri :
Klien mengakui dirinya sebagai suami yang baik bagi istrinya
Klien mengakui dirinya sebagai ayah yang baik bagi anaknya
         Harga Diri :
Klien mengakui tidak merasa tersisihkan
Klien mengakui merasa dibutuhkan
Klien mengakui senang menjadi seorang ayah

6. DATA SOSIAL
Klien mengatakan berhubungan baik dengan keluarga dan lingkungan sekitar

7. DATA SPIRITUAL
Klien mengatakan selalu solat 5 waktu dan menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim.

8. THERAPHY

9. DATA PENUNJANG
a.       Foto rotgen thorax
b.      Torakosentesis
c.       Laboratorium

II. ANALISA DATA

NO. DATA INTERPRETASI DATA MASALAH

1. DS : Klien mengatakan Penurunan ekspansi paru-paru Pola nafas tidak efektif


sesak  
DO : Klien terlihat
kelelahan, RR=35x
permenit, terdapat
cuping hidung Sesak

Pola nafas tidak efektif


2. DS : Klien mengatakan Iritasi pleura Nyeri
nyeri dada
DO : Klien terlihat Terangsangnya saraf intra thorax
menyeringis, skala nyeri
5 (skala 0-10) Nyeri

3. DS : Klien mengatakan Drainase thorax Rasiko trauma


tidak nyaman dengan Pemasangan kateter thorax
pemasangan kateter  
thorax
DO : klien terlihat
bergerak tidak nyaman
Ketidak nyamnan
 

Resiko Trauma

III. DIAGNOSA KEPERAWATAN


a.       Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru-paru (akumulasi dari udara/cairan).
b.      Nyeri akut berhubungan dengan terangsangnya saraf intra thoraks sekunder terhadap iritasi pleura.
c.       Resiko tinggi terhadap trauma/henti nafas berhubungan dengan proses cidera dan sistem drainase thorax

IV. PERENCANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN


Diagnosa Perencanaan
No.
Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional
1. Diagnosa 1 Setelah dilakukan Mandiri :
intervensi selama 3x24 1.      Identifikasi etiologi / 1.      Pemahaman penyebab kolaps
jam diharapkan pasien faktor pencetus, contoh paru perlu untuk pemasangan
menunjukan pola nafas kolaps spontan, trauma, selang dada yang tepat dan
yang efektif dengan keganasan, infeksi, memilih tindakan terapeutik.
kriteria hasil : komplikasi ventilasi
a.       Pasien menunjukan tidak mekanik. 2.      Distres pernapasan dan
adanya gangguan status 2.      Evaluasi fungsi perubahan pada tanda vital
pernafasan pernapasan, catat dapat terjadi sebagai akibat
b.      Pernafasan pasien kecepatan / pernapasan stres fisiologis dan nyeri atau
menunjukan kecepatan serak,dispnea, dan dapat menunjukkan terjadinya
dan irama pernafasan perubahan tanda vital. syok sehubungan dengan
dalam batas normal hipoksia/perdarahan.
c.       Tidak ada pernafasan 3.      Mengoptimalkan fungsi paru
cuping hidung 3.      Ajarkan napas dalam sesuai dengan kemampuan
aktivitas individu
4.      Meningkatkan inspirasi
4.      Latih individu bernapas maksimal, meningkatkan
berlahan dan efektif ekspansi paru dan ventilasi
pada sisi yang tak sakit.

Kolaborasi : 1.      Alat dalam menurunkan kerja


1.      Berikan oksigen tambahan napas; meningkatkan
melalui kanula/masker penghilangan distres respirasi
sesuai indikasi. dan sianosis sehubungan
dengan hipoksemia.
2.      Ahli terapi pernapasan adalah
spesialis dalam perawatan
2.      Konsultasi dengan ahli pernapasan dan biasanya
terapi pengobatan dan dilakukan sesuai dengan hasil
dokter jika terjadi gagal pemeriksaan fungsi paru dan
bernapas dalam proses fasilitas pengobatan yg ada.
pengobatan
2. Diagnosa 2 Setelah dilakukan 1.      Kaji perkembangan nyeri.1.      Untuk mengetahui tingkat
intervensi selama 3x24 nyeri yang dialami.
jam diharapkan nyeri klien2.      Ajarkan klien teknik 2.      Meningkatkan inspirasi
dapat berkurang dengan relaksasi, Beri posisi yang maksimal, meningkatkan
kriteria hasil : nyaman dan nafas dalam. ekspansi paru, ventilasi pada
a.       Keluhan nyeri berkurang3.        sisi yang tak sakit dan
b.      Wajah klien terlihat lebih kenyamanan klien .
tenang
c.       Skala nyeri menurun Kolaborasi: 1.      Menggunakan agen-agen
1.      Kolaborasi dengan dokter farmakologi ntuk mengurangi
untuk pemberian analgetik rasa sakit.

3. Diagnosa 3 Setelah dilakukan 1.      Kaji dengan pasien 1.      Informasi tentang bagaimana


intervensi selama 2x24 tujuan/fungsi unit drainase sistem bekerja memberikan
jam diharapkan tidak dada, catat gambaran keyakinan, menurunkan
terjadi trauma atau henti keamanan. ansietas pasien.
nafas dengan kriteria 2.      Mempertahankan posisi duduk
hasil : 2.      Amankan unit drainage tinggi dan menurunkan risiko
a.       Memperbaiki/menghindari pada tempat tidur pasien kecelakaan jatuh/unit pecah.
lingkungan dan bahaya atau pada sangkutan/
fisik. tempat tertentu pada area
b.      Mengenal kebutuhan dengan lalu lintas rendah.3.      Menurunkan resiko obstruksi
/mencari bantuan untuk 3.      Anjurkan pasien untuk drainase/terlepasnya selang.
mencegah komplikasi menghindari 4.      Pneumotorak dapat
berbaring/menarik selang. terulang/memburuk, karena
4.      Observasi tanda distres mempengaruhi fungsi
pernapasan bila kateter pernapasan dan memerlukan
torak lepas/tercabut. intervensi darurat.

V. EVALUASI

a.       Pasien menunjukan tidak adanya gangguan status pernafasan


b.      Pernafasan pasien menunjukan kecepatan dan irama pernafasan dalam batas normal
c.       Tidak ada pernafasan cuping hidung
d.      Keluhan nyeri berkurang
e.       Skala nyeri menurun
f.       Wajah klien terlihat lebih tenang
g.       Memperbaiki/menghindari lingkungan dan bahaya fisik.
h.      Mengenal kebutuhan /mencari bantuan untuk mencegah komplikasi
BAB III
PENUTUP

A.       Kesimpulan
Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan dalam rongga pleura. Berdasarkan
lokasi cairan yang terbentuk, efusi dibagi menjadi unilateral dan bilateral. Tanda dan gejala yang mungkin
muncul adalah Sesak nafas, Nyeri dada, Pleuritik, Deviasi trakea, Nyeri perut, Batuk, Cegukan, Pernafasan yang
cepat, Rasa Berat pada dada. Pengobatan terhadap pasien dengan efusi pleura adalah dengan mengatasi penyakit
yang mendasarinya, mencegah penumpakan kembali cairan, serta untuk mengurangi ketidak nyamanan dan
dispnea. Komplikasi yang dapat terjadi adalah Infeksi paru dan fibrosis paru.

B.       Saran
1.      Diharapkan kepada perawat, dokter, dan tim kesehatan untuk meningkatkan kesadaran tentang adanya hubungan
komunikasi terapeutik yang baik kepada pasien dan keluarga pasien.
2.      Diharapkan kepada perawat, dokter, dan tim kesehatan untuk memberikan penkes tentang penyakit kepada
pasien dan keluarga pasien untuk menambah pengetahuan tentang penyakit dan pengobatannya.
3.      Pada semua orang yang mengalami sesak nafas, nyeri daerah dada, pernafasan cepat yang sifatnya masih ringan
sebaiknya langsung periksakan ke pelayanan kesehatan agar memperoleh tindakan keperawatan dan pengobatan
yang cepat dan tepat sedini mungkin.

DAFTAR PUSTAKA

Soemantri, Irman, 2007. “Askep Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pernafasan”, Salemba Medika: Jakarta

Muttaqin, Arif, 2008. “Buku Ajar Askep Klien dengan Gangguan Sistem Pernafasan”, Salemba Medika: Jakarta

Gleadle, Jonathan, 2005. “At a Glance Anamnesis Dan Pemeriksaan Fisik”, Erlangga: Jakrta

Donges, Marilynn E, 1999. “Rencana Asuhan Keperawatan”, EGC: Jakarta

Smeltzer, Suzanna C, 2001. “Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol.

1”,  EGC: Jakarta