Anda di halaman 1dari 22

PENJELASAN PELAKSANAAN PEKERJAAN

BANGUNAN KONSTRUKSI BETON

SPESIFIKASI UMUM

Pasal 1
LINGKUP PEMBANGUNAN

1. Pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh Panitia Renovasi Sekolah (PRS) adalah
“PEKERJAAN REHABILITAS RUANG KELAS DAN PEMBANGUNAN BARU”, yaitu

Rehabilitasi Ruang Kelas yang terdiri dari :


- Ruang Kelas 8B
- Ruang Kelas 7F
- Ruang Kelas 7E
- Ruang Kelas 7D
- Ruang Kelas 9E
- Ruang Kelas 9F

Pembangunan Baru yangterdiri dari :


- Ruang Kelas 9A
- Ruang Kelas 8A
- Laboratorium Komputer

Termasuk didalamnya meliputi pekerjaan:


a Pekerjaan Persiapan.
b Pekerjaan konstruksi unit-unit gedung
c Pekerjaan Perawatan, selama jangka waktu pemeliharaan. Termasuk pembersihan
umum pada waktu penyerahan pertama, seperti bahan-bahan bangunan yang
tidak terpakai, sampah, kerusakan-kerusakan atau ahal-hal yang merupakan
akibat dari pekerjaan Panitia Renovasi Sekolah (PRS)
d Pekerjaan lain yang tercantum ataupun yang dimaksudkan dalam gambar-gambar,
Spesifikasi Teknis .

Perincian bagian pekerjaan yang dilaksanakan didasarkan pada gambar rencana,


BQ dan RKS yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari rencana kerja dan syarat-
syarat ini.

2. Pekerjaan meliputi :
Pengelolaan pekerjaan yang dilakukan oleh pihak Komite Pembangunan Sekolah
(Panitia Renovasi Sekolah (PRS)) antara lain mendatangkan semua bahan,
pengerahan tenaga kerja, mengadakan alat bantu dan sebagainya. Baik
pengadaannya langsung atau tidak langsung termasuk dalam usaha penyelesaian
dan penyerahan pekerjaan dalam keadaan sempurna dan lengkap.
Termasuk pekerjaan yang tidak ditentukan dengan jelas dalam persyaratan teknis
dan gambar, tetapi masih dalam lingkup pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai
dengan petunjuk Konsultan Lapangan / CM.

3. Lahan pembangunan sekolah, termasuk segala sesuatu yang berada di dalamnya


diserahkan sebagai tanggung jawab Komite Pembangunan Sekolah Panitia
Renovasi Sekolah (PRS)).

1
4. Panitia Renovasi Sekolah (PRS) harus menyerahkan pekerjaan dalam keadaan
selesai dan sempurna, termasuk pembersihan lokasi pekerjaan dan sebagainya

5. Untuk keperluan persiapan dan perlengkapan pelaksanaan pekerjaan utama, Panitia


Renovasi Sekolah (PRS) berkewajiban antara lain:
a Mempersiapkan dan membersihkan lahan/lokasi pembangunan dari hal-hal yang
dapat menganggu jalanya pekerjaan.
b Pengamanan lokasi pekerjaan sehingga para pekerja dapat melaksanakan
pekerjaan dengan nyaman dan aman, demikian pula bahan dan alat dalam
keadaan aman.
c Mengadakan segala sesuatu yang diperlukan sebagai penunjang pelaksanaan
pekerjaan.

6. Panitia Renovasi Sekolah (PRS) di bantu oleh Konsultan Lapangan wajib membuat
gambar detail pelaksanaan (shop drawing) berdasarkan pada dokumen kontrak yang
telah disesuaikan dengan lapangan. Gambar ini sebagai penjelas secara detail
mengenai pekerjaan khusus/spesifik yang belum tercakup lengkap dalam gambar
kerja/dokumen kontrak.

7. Semua gambar shop-drawing sebelum dilaksanakan harus mendapat persetujuan


terlebih dahulu dari Konsultan Lapangan (KL).

8. Pekerjaan yang harus dikerjakan, sesuai dengan ketentuan-ketentuan di dalam


Spesifikasi Teknis, gambar-gambar yang ada, Berita Acara Penjelasan, Perintah
Pejabat Pembuat Komitmen dan atau pihak yang ditunjuk serta petunjuk-petunjuk
teknis Konsultan Lapangan selama pekerjaan berlangsung.

9. Ukuran-Ukuran :
a. Ukuran-ukuran patokan dan ukuran tinggi telah ditetapkan seperti dalam
gambar.
b. Jika terdapat perbedaan antara ukuran yang tertera didalam gambar
utama dengan ukuran yang tertera di dalam gambar detail, maka yang
mengikat adalah ukuran yang berada di dalam gambar skala besar. Namun
kejadian tersebut harus dilaporkan segera kepada Konsultan lapangan untuk
mendapat persetujuan yang akan dilaksanakan.
c. Pengambilan dan Pemakaian ukuran-ukuran yang keliru sebelum dan
selama pelaksanaan pekerjaan ini adalah menjadi tanggung jawab Panitia
Renovasi Sekolah (PRS)sepenuhnya.
d. Sebagai Patokan/Ukuran pokok + 0.00 diambil petunjuk yang diadakan di
lapangan, yaitu pada ketinggian lantai dari muka tanah.
e. Penetapan ukuran dan sudut-sudut siku senantiasa dijaga dan
diperhatikan ketelitiannya dengan mempergunakan waterpass dan alat ukur
lainnya yang diperlukan.

Pasal 2
PERATURAN TEKNIS BANGUNAN YANG DIGUNAKAN

Kecuali ditentukan lain dalam RKS ini, berlaku dan mengikat ketentuan-ketentuan
tersebut dibawah ini termasuk segala perubahan dan tambahannya.
2.1. Peraturan-peraturan umum mengenai pelaksanaan pembangunan di Indonesia
atau Algemene voor warden voor de uitvoering bijaanneming van openbare
werken ( AV ) 1941

2
2.2. Keputusan Dirjen Dikdasmen Nomor 541/C.C3/Kep/MN/2004, tanggal 30
Desember 2004, tenang Pembakuan Tipe Sekolah Menengah Pertama
2.3. Pedoman Perencanaan Gedung Sekolah Menengah Umum SNI 03-1730-
2002
2.4. Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI 1991) SK SNI T-15.1991.03
2.5. Tata cara pengadukan dan pengecoran beton SNI 03-3976-1995
2.6. Peraturan Muatan Indonesia NI.8 dan Indonesian Loading Code 1987 (SKBI-
1.2.53.1987)
2.7. Ubin lantai keramik, mutu dan cara uji SNI 03-0106-1987
2.8. Ubin semen polos SNI 03-0028-1987
2.9. Peraturan Konstruksi Kayu di Indonesia (PKKI) NI 5
2.10. Mutu Kayu Bangunan SNI 03-3527-1994
2.11. Peraturan Umum instalasi listrik (PUIL) SNI 04-0225-1987
2.12. Peraturan Umum Keselamatan Kerja dari Departemen Tenaga Kerja
2.13. Peraturan Semen Portland Indonesia NI 8 tahun1972.
2.14. Peraturan Plumbing Indonesia.
2.15. Tata Cara Pengecatan Kayu Untuk Rumah dan Gedung SNI 03-2407-1991.
2.16. Tata Cara Pengecatan Dinding Tembok dengan Cat Emulsi SNI 03-2410-
1991
2.17. Pedoman Perencanaan Penanggulangan Longsoran SNI 03-1962-1990.
2.18 Peraturan dan ketentuan yang dikeluarkan Pemerintah Daerah setempat yang
bersangkutan dengan permasalahan bangunan.

Apabila penjelasan dalam Penjelasan Pelaksanaan Pekerjaan Bangunan Konstruksi


Beton ini tidak sempurna atau belum lengkap sebagaimana ketentuan dan syarat
dalam peraturan di atas, maka Panitia Renovasi Sekolah (PRS)wajib mengikuti
ketentuan peraturan-peraturan yang disebutkan di atas.

Pasal 3
PEKERJAAN PERSIAPAN

3.1. Lingkup Pekerjaan


3.1.1. Pembersihan lokasi sekeliling bangunan
3.1.2. Pengadaan air untuk pelaksanaan pekerjaan
3.1.3. Pembuatan papan nama kegiatan
3.1.4. Pemasangan bouwplank
3.1.5. Pengadaan alat-alat kerja yang dibutuhkan

3.2. Persyaratan bahan


3.2.1. Untuk penampungan air kerja disiapkan drum / bak penampung air
yang dapat menjamin agar kualitas air tetap terjaga.
3.2.2. Untuk papan nama kegiatan digunakan tiang dari kayu dan triplek dicat
putih.
3.2.3. Bahan bouwplank dipakai tiang kayu meranti atau sengon 5/7 dan
papan meranti atau sengon ukuran 2/20 cm.
3.2.4. Untuk lalat-alat kerja berupa kotak adukan, kotak takaran, gerobak
dorong dan lain-lain digunakan bahan kayu setempat.

3.3. Pedoman Pelaksanaan


3.3.1. Pembersihan lokasi lahan pekerjaan .
Meliputi pembersihan semua tanaman termasuk pembongkaran akar-
akar pohon yang terkena bangunan dan lahan pekerjaan, termasuk

3
perataan tanah/pembuatan terasering jika diperlukan. Hasil bongkaran
tersebut diatas dibuang ke luar lokasi pekerjaan.
3.3.2. Pengadaan air untuk pelaksanan pekerjaan
Pengadaan air untuk pelaksanaan pekerjaan diambil dari sumber air
terdekat, kemudian ditampung dalam drum-drum yang telah
disediakan. Kebutuhan air ini harus disediakan dalam jumlah yang
cukup selama pelaksanaan pekerjaan. Air harus memenuhi syarat
yang tercantum dalam PBI 71.
3.3.3. Pembuatan papan nama program
Membuat papan nama program dari papan dengan ukuran sesuai
dengan gambar kerja. Didirikan tegak diatas kayu 5/7 cm setinggi 200
cm. Diletakkan pada tempat yang mudah dilihat umum.
3.3.4. Pemasangan Bouwplank
Tiang Bouwplank harus terpasang kuat. Papan diketam halus dan
lurus pada sisi atasnya dan dipasang waterpass (timbang air) dengan
sudut-sudutnya harus siku.

B. SPESIFIKASI TEKNIS
Pasal 4
PEKERJAAN TANAH/URUGAN

4.1. Lingkup Pekerjaan


Lingkup pekerjaan yang akan dilaksanakan pada pekerjaan ini sudah harus
diperhitungkan jenis tanah yang dijumpai dilapangan seperti tanah pasir,
gambut, tanah keras (batuan), tanah liat dan lain sebagainya, yaitu:
4.1.1. Galian tanah untuk pekerjaan substruktur (pondasi, saluran keliling
bangunan).
4.1.2. Timbunan kembali galian tanah pondasi
4.1.3. Timbunan tanah dan pasir bawah lantai, pondasi dan saluran termasuk
pemadatannya.
4.1.4. Perataan tanah sekelilling bangunan
4.1.5. Galian tanah diluar bangunan untuk mendapatkan peil lantai yang di
syaratkan.
4.1.6. Pekerjaan galian dan timbunan (bila ada)

4.2. Persyaratan Bahan


Untuk timbunan bekas galian pondasi, digunakan tanah bekas galian pondasi.
Untuk timbunan bawah lantai digunakan tanah atau pasir kualitas baik.

4.3. Pedoman Pelaksanaan


4.3.1. Galian pondasi
- Dilaksanakan setelah bouwplank dengan penandaan sumbu
ke sumbu selesai diperiksa dan disetujui konsultan lapangan.
Bentuk galian dilaksanakan sesuai dengan ukuran yang tertera
dalam gambar. Apabila ditempat galian ditemukan pipa-pipa
pembuangan, kabel listrik, telepon atau lainnya yang masih
berfungsi, maka Panitia Renovasi Sekolah (PRS) secepatnya
memberitahukan kepada konsultan lapangan/CM atau kepada
instansi yang berwenang untuk mendapat petunjuk seperlunya.
Panitia Renovasi Sekolah (PRS) bertanggung jawab sepenuhnya
atas segala kerusakan yang diakibatkan pekerjaan galian tersebut.

4
- Apabila pada waktu penggalian ditemukan benda-benda
purbakala, maka Panitia Renovasi Sekolah (PRS) wajib
melaporkannya kepada Pemerintah.
- Galian tanah untuk pondasi harus sesuai dengan ukuran dalam
gambar pelaksanaan dan kedalamannya sampai tanah asli/keras.
Apabila diperlukan untuk mencapai daya dukung yang baik, maka
diperlukan perbaikan tanah .
- Jika galian melampau batas kedalaman, maka harus ditimbun
kembali dan dipadatkan sampai pada kepadatan maksimum.
- Dasar dari semua galian harus rata, bilamana pada dasar setiap
galian masih terdapat akar-akar atau bagian-bagian gembur, maka
ini harus digali keluar sedangkan lubang lubang tadi diisi kembali
dengan tanah yang baik, pasir, disiram dan dipadatkan sehingga
mendapatkan kembali dasar yang rata (waterpass).
- Untuk kondisi tanah yang mudah longsor Panitia Renovasi Sekolah
(PRS)harus memasang turap pengaman yang cukup kuat. Turap di
dalam bangunan harus dibongkar setelah pondasi selesai.

4.3.2. Pengurugan
- Pengurugan bekas galian pondasi, galian septictank, galian saluran
air hujan, saluran air bersih dan saluran air kotor diurug lapis demi
lapis dengan ketebalan tiap lapis maksimum 15 cm. Setiap lapisan
dipadatkan dengan menumbuk, menggunakan alat tumbuk yang
baik. Setelah lapisan pertama padat kembali seperti diatas.
Demikian seterusnya dilakukan sampai semua lubang bekas galian
pondasi tertutup kembali.
- Pengurugan dengan tanah timbunan di bawah lantai dilakukan
lapis demi lapis hingga ketebalan 10 cm, ditumbuk hingga padat.
Lapisan- urugan maksimal 10 cm, dan ditumbuk 5 kali tiap bidang
tumbukan pada tiap-tiap lapis. Tanah urugan yang dipakai yaitu
tanah yang baik, memenuhi syarat teknis, bebas dari akar-akar,
bahan-bahan organik/unorganik, serta barang-barang
bekas/sampah.
- Dibawah lantai diurug dengan pasir dan dipadatkan. Pemadatan
dilakukan dengan menyiram air hingga jenuh. Hasil akhir harus
mendapat persetujuan Konsultan lapangan atas kesempurnaan
pengurugan dan pemadatan.
- Dibawah pondasi, diurug dengan pasir setebal 10 cm dan
dipadatkan.

Pasal 5
PEKERJAAN PONDASI

5.1. Lingkup Pekerjaan


Meliputi pengerjaan seluruh bangunan, terdiri dari :
5.1.1. Pondasi plat tapak beton bertulang
5.1.2. Pondasi pasangan batu kali/batu belah

5.2. Persyaratan Bahan


5.2.1. Untuk pondasi plat beton bertulang digunakan bahan yang memenuhi
persyaratan yang diuraikan dalam pasal beton bertulang.
5.2.2. Untuk pondasi batu bata digunakan jenis batu setempat yang

5
berkualitas baik.
5.2.3. Pondasi batu belah dengan menggunakan spesi 1 PC : 4 Psr, bagian
bawah pondasi dibuat aanstamping dari batu belah kosong yang
dipasang berdiri rapat, setebal 10 cm dengan tidak terdapat batu-batu
bertumpuk.

5.3. Pedoman Pelaksanaan


5.3.1. Sebelum pondasi dipasang terlebih dahulu diadakan pengukuran-
pengukuran untuk as pondasi sesuai dengan gambar konstruksi dan
dimintakan persetujuan Konsultan lapangan tentang kesempurnaan
galian.
5.3.2. Dibawah dasar pondasi didasari dengan pasir pasang dan dipadatkan,
sebagai lantai kerja. Diatas pasir dipasang aanstamping, untuk
pondasi plat tapak beton bertulang, cyclopen beton dan pondasi batu
kali/batu belah, terdiri dari batu kali dan pasir pasang (pasangan batu
kosong). Lapisan ini juga harus dipadatkan, dengan menyiram air
diatasnya, sehingga pasir akan mengisi rongga-rongga batu kali
tersebut. Tebal lapisan dibuat sesuai dengan gambar detail pondasi.
5.3.3. Untuk tanah yang berdaya dukung lebih kecil 0,5 kg/cm2, dibawah
pondasi dipasang cerucuk kayu gelam/kelukup yang ditumbuk hingga
mencapai kedalaman tanah keras.
5.3.4. Untuk pondasi beton atau batu kali dilaksanakan dengan ukuran
sesuai gambar kerja dan gambar detail. Campuran yang digunakan:
- Plat tapak beton adukan 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr. Untuk pondasi plat
tapak beton bertulang Pedoman pelaksanaan, adukan dan
pembesian harus memenuhi pedoman pada pasal beton
bertulang.
- Pondasi beton cyclopen dibuat dengan adukan 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr
yang diisi 30% batu kali.
- Pondasi batu kali/belah dipasang dengan perekat 1 Pc : 4 Ps.
- Pondasi batu bata dipasang dengan perekat 1 Ps : 4 Ps dan
pada bagian sisi diplester kasar/brappen adukan 1 Pc : 2 Ps.

Pasal 6
PEKERJAAN BETON BERTULANG

6.1. Lingkup Pekerjaan


Beton bertulang dengan perbandingan 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr harus dibuat untuk :
6.1.1. Sloof
6.1.2. Kolom-kolom induk
6.1.3. Kolom-kolom praktis
6.1.4. Balok, Ring balok
6.1.5. Tapak Beton
6.1.6. Tempat-tempat lain yang mempergunakan beton bertulang sesuai
dengan gambar rencana

6.2. Bahan
6.2.1. Semen
- Digunakan Portland Cement jenis I menurut NI-8 tahun 1972 dan
memenuhi S-400 menurut Standart Cement Portlandia yang
digariskan oleh Asosiasi Semen Indonesia (NI 8 tahun 1972).
- Semen yang telah mengeras sebagian maupun seluruhnya
dalam satu zak semen, tidak diperkenankan pemakaiannya

6
sebagai bahan campuran.
- Penyimpanan harus sedemikian rupa sehingga terhindar dari
tempat yang lembab agar semen tidak mengeras. Tempat
penyimpanan semen harus ditinggikan 30 cm dan tumpukan
paling tinggi 15 lapis. Setiap semen baru yang masuk harus
dipisahkan dari semen yang telah ada agar pemakaian semen
dapat dilakukan menurut urutan pengiriman.

6.2.2. Pasir Beton


Pasir beton harus berupa butir-butir tajam dan keras, bebas dari
bahan-bahan organis, lumpur dan sejenisnya, mempunyai kadar air
yang merata dan stabil serta memenuhi komposisi butir serta
kekerasan sesuai dengan syarat-syarat yang tercantum dalam PBI-
1971.
6.2.3. Kerikil
- Kerikil yang digunakan harus bersih dan bermutu baik, serta
mempunyai gradasi dan kekerasan sesuai yang disyaratkan
dalam PBI 1971.
- Penimbunan kerikil dengan pasir harus dipisahkan agar kedua
jenis material tersebut tidak tercampur untuk menjamin adukan
beton dengan komposisi material yang tepat.
6.2.4. Air
Air yang digunakan harus air tawar yang bersih, tidak berwarna, tidak
berbau, tidak berasa dan tidak mengandung bahan-bahan yang
berbahaya bagi penggunaannya seperti minyak, alkali, sulfat, bahan
organis, garam, silt (lanau). Tidak diperkenankan menggunakan air
dari rawa, sumber air yang berlumpur, ataupun air laut.

6.2.5. Besi Beton


Besi beton yang digunakan adalah baja dengan mutu U-24 (tegangan
leleh karakteristik minimum 2400kg/cm2).
- Besi beton harus bersih dari kotoran, lemak, minyak, karat
lepas dan bahan lainnya.
- Besi beton disimpan dengan menggunakan bantalanbantalan kayu
sehingga bebas dari tanah (minimal 20 cm).
-
- Jika Panitia Renovasi Sekolah (PRS) tidak berhasil memperoleh
diameter besi sesuai dengan yang ditetapkan dalam gambar, maka
dapat dilakukan penukaran dengan diameter yang terdekat dengan
catatan:
 Harus ada persetujuan Konsultan Lapangan
 Jumlah besi persatuan panjang atau jumlah besi ditempat
tersebut tidak boleh kurang dari yang tertera dalam gambar
(dalam hal ini yang dimaksud adalah jumlah luas). Biaya
tambahan yang diakibatkan oleh penukaran diameter besi
menjadi tanggungjawab Panitia Renovasi Sekolah (PRS)
- Besi beton harus dipasang sebagaimana pada gambar rencana
atau seperti yang diinstruksikan Konsultan Lapangan. Pengukuran
pada pemasangan besi tulangan harus dilakukan terhadap as dari
besi tulangan. Besi tulangan yang terpasang harus sesuai ukuran,
bentuk, panjang, posisi, dan banyaknya, dan akan diperiksa setelah
kondisi terpasang.

7
- Besi tulangan tidak boleh dibengkokkan dengan cara yang dapat
menyebabkan kerusakan pada besi beton. Besi tulangan dengan
kondisi yang tidak lurus atau dibengkok dengan tidak sesuai
gambar tidak diperkenankan dipakai.
- Tulangan harus ditempatkan dengan teliti pada posisi sesuai
rencana, dan harus dijaga agar jarak antara tulangan dengan
bekisting untuk mendapatkan tebal selimut beton (beton
deking/beton tahu) minimal 2.50 cm sebagaimana pada gambar
rencana. Dalam segala hal tebal selimut beton tidak boleh diambil
kurang dari 2.50 cm.
- Khususnya untuk sambungan pada elemen struktur, harus ada
overlap pembesian sepanjang 40D (40x diameter besi), atau seperti
yang disyaratkan dalam gambar kerja.
- Prinsip penulangan mengacu pada gambar kerja, dan sesuai seperti
yang diatur dalam PBI atau SNI.

6.2.6. Pekerjaan Bekisting


- Bahan yang digunakan untuk bekisting harus bermutu baik
sehingga hasil akhir konstruksi mempunyai bentuk, ukuran dan
batas-batas yang sesuai gambar rencana dan uraian pekerjaan.
- Bekisting harus dipasang sedemikian rupa dengan perkuatan-
perkuatan cukup kokoh dan dijamin tidak berubah bentuk dan tetap
pada kedudukan selama pengecoran. Bekisting harus rapat dan
tidak bocor permukaanya, bebas dari kotoran seperti serbuk gergaji,
potongan-potongan kayu, tanah dan sebagainya, agar mudah pada
saat dibongkar tanpa merusak permukaan beton.
- Ujung tiang-tiang yang menempel bekisting harus dipasang papan,
agar mudah dipindahkan.. Tiang-tiang tidak boleh disambung lebih
dari satu, tiang-tiang dari dolken / kaso 5/7 cm, antara tiang satu
dengan lain harus diikat dengan palang papan/balok secara
menyilang.
- Pembukaan bekisting baru dilakukan setelah memenuhi syarat-
syarat yang dicantumkan dalam PBI-1971.yaitu kurang lebih 21
hari.

6.2.7. Mutu Beton


Kualitas beton yang digunakan adalah dengan campuran /
perbandingan 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr sehingga mempunyai kekuatan tekan
setara dengan mutu beton K 175 dan harus memenuhi ketentuan-
ketentuan lain sesuai dengan PBI-1971.

6.2.8. Dimensi Beton


- Sloof Utama 20/25 cm, sloof selasar 15/20 cm
- Kolom induk 20/25 cm, kolom selasar 20/20, kolom praktis 13/13
- Ring balok 15/20 cm, balok latai/lintel 12/15cm, balok konsol 15/20.

Dimensi dilaksanakan sesuai gambar kerja. Untuk mendapatkan


dimensi balok yang disyaratkan, harus dicor secara penuh, tidak boleh
ditambah/ditambal dengan material lain seperti plester atau grouting.

6.3. Pedoman Pelaksanaan


6.3.1. Kecuali ditentukan lain dalam Rencana Kerja dan syarat-syarat ini,
maka sebagai pedoman dipakai acuan seperti disebutkan pada pasal
2: Peraturan teknis bangunan yang digunakan.

8
6.3.2. Panitia Renovasi Sekolah (PRS) wajib melaporkan secara tertulis pada
Konsultan Lapangan apabila ada perbedaan yang didapat didalam
gambar dengan Rencana Anggaran Biaya.

6.3.3. Adukan beton


Pengangkutan adukan beton dari tempat pengadukan ketempat
pengecoran harus dilakukan dengan cara yang disetujui oleh
Konsultan Lapangan, yaitu:
- Tidak berakibat pemisahan dan kehilangan bahan-bahan.
- Tidak terjadi perbedaan waktu pengikatan yang menyolok antara
beton yang sudah dicor dan yang akan dicor.
6.3.4. Pengecoran
- Pengecoran beton hanya dapat dilaksanakan atas persetujuan
konsultan lapangan. Selama pengecoran berlangsung pekerja
dilarang berdiri dan berjalan-jalan diatas penuangan. Untuk dapat
sampai ketempat-tempat yang sulit dicapai harus digunakan papan-
papan berkaki yang tidak membebani tulangan. Kaki-kaki tersebut
dipindahkan pada saat beton dicor.
- Pengecoran harus dilakukan dengan sebaik mungkin dengan
memadatkan menggunakan alat penggetar atau ditusuk-tusuk
secara manual untuk menjamin beton cukup padat dan harus
dihindarkan terjadinya cacat pada beton seperti keropos dan
sarang-sarang koral/split yang memperlemah konstruksi.
- Apabila pengecoran beton harus dihentikan, maka tempat
penghentiannya harus disetujui oleh konsultan lapangan. Untuk
melanjutkan bagian pekerjaan yang diputus tersebut, bagian
permukaan yang mengeras harus dibersihkan dan dibuat kasar
disiram dengan air semen. Pada pengecoran kolom, adukan tidak
boleh dicurahkan dari ketinggian yang lebih tinggi dari 1,5 m.
- Bila penyelesaian pekerjaan, bahan yang digunakan atau keahlian
dalam pengerjaan setiap bagian pekerjaan tidak memenuhi
persyaratan-persyaratan yang tercantum dalam Persyaratan Teknis,
maka bagian pekerjaan tersebut harus digolongkan sebagai cacat
pekerjaan, misalnya susunan yang tidak teratur, pecah, retak, ada
gelembung udara, keropos, berlubang, benjolan dan yang lain yang
tidak sesuai dengan bentuk yang diharapkan/diinginkan. Semua
pekerjaan yang digolongkan demikian harus dibongkar dan diganti
sesuai dengan yang disyaratkan dan disetujui oleh konsultan
lapangan. Resiko dari biaya perbaikan menjadi tanggung jawab
Panitia Renovasi Sekolah (PRS)

6.3.5. Perawatan Beton


Beton yang sudah dicor harus dijaga agar tidak kehilangan
kelembaban selama paling sedikit 14 (empat belas) hari dan
kerusakan lainnya. Untuk keperluan tersebut ditetapkan cara sebagai
berikut :
- Dipergunakan karung-karung goni yang senantiasa basah sebagai
penutup beton.
- Beton yang telah di cor dihindarkan dari benturan benda keras
selama 3 x 24 jam setelah pengecoran.
- Beton harus dijaga dari kemungkinan cacat yang diakibatkan dari
pekerjaan lain.
- Hasil pekerjaan beton yang tidak baik seperti sarang kerikil,

9
permukaan tidak mengikuti bentuk yang diinginkan, munculnya
pembesian pada permukaan beton, dan lain-lain yang tidak
memenuhi syarat, harus dibongkar kembali sebagian atau
seluruhnya. Untuk selanjutnya diganti atau diperbaiki segera atas
resiko Panitia Renovasi Sekolah (PRS)

6.3.6. Faktor air semen


Untuk mengendalikan kualitas beton maka factor air semen dalam
campuran ( mortel ) harus dikendalikan.

Pasal 7
PEKERJAAN DINDING
7.1. Lingkup Pekerjaan
7.1.1. Dinding Papan dan Beton
Pemasangan dinding papan dan bata merah/Batako setebal ½ bata
dilakukan untuk seluruh pembatas ruangan, bagian saluran keliling
emperan bangunan dan septicktank, seperti tertera dalam gambar dan
dijelaskan dalam gambar detail.
7.2. Persyaratan Bahan
7.2.1. Bata
Persyaratan bata merah harus melalui persyaratan seperti tertera
dalam NI-10 atau dengan persyaratan-persyaratan sebagai berikut :
- Bata merah harus satu pabrik, satu ukuran, satu warna, satu
kualitas.
- Ukuran yang digunakan :
Panjang 20 cm, lebar 10 cm, tebal 4 cm.
Penyimpangan terbesar dari ukuran seperti tersebut diatas adalah
panjang maksimal 3%, lebar maksimal 4% tebal maksimal 5% dengan
selisih maksimal ukuran antara bata terkecil.
Warna satu sama lain harus sama, dan apabila dipatahkan warna
penampang harus sama merata kemerah-merahan.
Bentuk bidang-bidang harus rata atau rusuk-rusuknya harus siku atau
bersudut 90 derajat. Bidangnya tidak boleh retak-retak.
Berat satu sama lain harus sama, yang berarti ukuran, pembakaran
dan pengadukan sama dan sempurna.
Suara apabila dipukul oleh benda keras suaranya nyaring.
7.2.2. Batako
Batako press dibuat dari campuran semen PC dan pasir atau abu
batu.
Dimensi ukuran panjang 36-40 cm, tebal 8–10 cm, dan tinggi 18-20
cm.
7.2.3. Pasir
Pasir untuk adukan pasangan, adukan plesteran dan beton bitumen,
harus memenuhi syarat-syarat pelaksanaan yang ditentukan dalam
PBI-1971/ NI-2. Butiran-butiran harus tajam dan keras, tidak dapat
dihancurkan dengan jari. Kadar lumpur tidak boleh melebihi 5%.
Butiran butirannya harus dapat melalui ayakan berlubang 3 mm
persegi. Pasir laut tidak boleh digunakan.
7.2.4. Semen dan Air
Untuk persyaratan kedua bahan tersebut, mengikuti persyaratan yang
telah digariskan pada pasal beton bertulang.

10
7.2.5. Papan digunakan bahan kayu kelas II yang tidak cacat, dan untuk
triplek digunakan produksi dalam negeri.

7.3. Pedoman Pelaksanaan


7.3.1. Pekerjaan dinding mempunyai dua macam pasangan, yaitu:
- Pasangan kedap air/ trasraam (1 PC : 2 PS)
 Semua pasangan bata dimulai diatas sloof sampai setinggi 20
cm diatas lantai
 Pasangan dinding saluran keliling bangunan
- Pasangan adukan 1 PC : 4 PSR berada diatas pasangan kedap air
tersebut.
7.3.2. Persyaratan Adukan
Adukan pasangan harus dibuat secara hati-hati, diaduk didalam bak
kayu yang memenuhi syarat. Mencampur semen dengan pasir harus
dalam keadaan kering yang kemudian diberi air sampai didapat
campuran yang plastis. Adukan yang telah mengering akibat tidak
habis digunakan sebelumnya, tidak boleh dicampur lagi dengan
adukan yang baru.
7.3.3. Pengukuran (Uit-zet) harus dilakukan oleh Panitia Renovasi Sekolah
(PRS)dibantu oleh secara teliti dan sesuai gambar, dengan syarat:
- Semua pasangan dinding harus rata (horizontal), dan pengukuran
harus dilakukan dengan benang.
- Pengukuran pasangan benang antara satu kali menaikkan benang
tidak boleh melebihi 30 cm, dari pasangan bata yang telah selesai.
7.3.4. Lapisan bata yang satu dengan lapisan bata diatasnya harus berbeda
setengah panjang bata. Bata setengah tidak dibenarkan digunakan
ditengah pasangan bata, kecuali pasangan pada sudut.
7.3.5. Pengakhiran sambungan pada satu hari kerja harus dibuat bertangga
menurun dan tidak tegak bergigi untuk menghindari retak dikemudian
hari. Pada tempat-tempat tertentu sesuai gambar diberi kolom–kolom
praktis yang ukurannya disesuaikan dengan tebal dinding.
7.3.6. Pasangan tembok setiap harinya terpasang maksimal 1 meter.
7.3.7. Lubang untuk alat-alat listrik dan pipa yang ditanam didalam dinding,
harus dibuat pahatan secukupnya pada pasangan bata (sebelum
diplester). Pahatan tersebut setelah dipasang pipa/alat, harus ditutup
dengan adukan plesteran yang dilaksanakan secara sempurna,
dikerjakan bersama-sama dengan plesteran seluruh bidang tembok.
7.3.8. Pasangan dinding yang kena udara terbuka, selama waktu hujan lebat
harus diberi perhitungan dengan sesuatu penutup yang sesuai
(plastik). Dinding yang telah terpasang harus diberi perawatan dengan
cara membasahi secara terus menerus paling sedikit 7 hari setelah
pemasangannya.
7.3.9. Bidang dinding ½ bata yang luasnya lebih besar 9 m2 = (3m x 3m)
maksimal 12 m2 = (3m x 4m) harus ditambahkan kolom dan balok
penguat (kolom praktis) dengan ukuran 12x15 cm dengan tulangan
pokok 4 Ø 10 mm, begel Ø6 – 15 mm, jarak antara kolom 3-3,5 m.
Bagian pasangan bata yang berhubungan dengan setiap bagian
pekerjaan beton (kolom) harus diberi penguat stek-stek besi beton Ø8
mm, panjang 40 cm, yang terlebih dahulu ditanam dengan baik pada
bagian pekerjaan beton dan bagian yang terlebih dahulu ditanam
dalam pasangan bata sekurang-kurangnya 30 cm. Pasangan batu
bata merah untuk dinding ½ batu harus menghasilkan dinding finish
setebal 15 cm. Pelaksanaan pasangan harus cermat rapi dan benar-
benar tegak lurus.

11
Pasal 8
PEKERJAAN PLESTERAN DAN ACIAN

8.1. Lingkup Pekerjaan


Pekerjaan plesteran dilakukan pada seluruh pasangan bata/batako, beton
bertulang, saluran keliling bangunan dan septictank.

8.2. Persyaratan Bahan


Bahan pasir, semen dan air mengikuti persyaratan yang telah digariskan dalam
pasal beton bertulang.

8.3. Pedoman Pelaksanaan


8.3.1. Sebelum plesteran dilakukan, maka :
- Dinding dibersihkan dari semua kotoran
- Dinding dibasahi dengan air
- Semua siar permukaan dinding batu bata dikorek sedalam 0,5 cm
- Permukaan beton yang akan diplester dibuat kasar agar bahan
plesteran dapat merekat dengan baik.
8.3.2. Adukan plesteran pasangan bata kedap air dipakai campuran 1 PC: 2
PS, sedangkan plesteran bata lainnya dipergunakan campuran 1 PC: 4
PS.
8.3.3. Ketebalan plesteran pada semua bidang permukaan harus sama
tebalnya dan berkisar antara 1,00 cm sampai 1,50 cm. Untuk mencapai
tebal plesteran yang rata sebaiknya diadakan pemeriksaan secara
silang dengan menggunakan mistar kayu panjang yang digerakan
secara horisontal dan vertikal.
8.3.4. Semua bidang plesteran harus dipelihara kelembabannya selama
seminggu sejak pekerjaan plesteran selesai
8.3.5. Pekerjaan plesteran baru boleh dilaksanakan setelah pekerjaan penutup
atap selesai dipasang dan setelah pipa-pipa listrik selesai dipasang.
8.3.6. Pekerjaan selanjutnya berupa acian semen (PC) pada permukaan
plesteran.

Pasal 10
PEKERJAAN LANTAI

9.1. Lingkup Pekerjaan


Pemasangan lantai dibuat untuk semua bagian lantai ruangan, KM/WC,
Selasar depan dan keliling bangunan sesuai yang ditunjukkan dalam gambar.
Pekerjaan lantai terdiri dari :
9.1.1. Lantai beton tumbuk atau beton rabat atau rabat kerikil dipasang pada
emperan samping kiri kanan, belakang dan depan bangunan.
9.1.2. Keramik polos/bermotif pada seluruh ruang dan selasar bangunan.
9.1.3. Keramik kulit jeruk/ anti slip atau tegel wafel/galar pada WC/KM serta
teras/selasar

9.2. Bahan Yang digunakan


9.2.1. Keramik 40 X 40 Produksi Dalam Negeri dengan kualitas KW 1. Warna
ditentukan kemudian.
9.2.2. Beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr
9.2.3. Sement portland

12
9.2.4. Pasir dan air

9.3. Pedoman Pelaksanaan


9.3.1. Pemeriksaan
Sebelum lantai dipasang, Panitia Renovasi Sekolah (PRS)harus
memeriksa semua pasangan pipa-pipa, saluran-saluran dan lain
sebagainya yang harus sudah terpasang dengan baik sebelum
pemasangan lantai dimulai.
9.3.2. Dasar lantai
Dilapisi pasir pasangan setebal 10 cm dan dipadatkan
9.3.3. Adukan
- Adukan untuk lantai 1 Pc : 2 Pc
- Untuk beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr
- Pasta semen (campuran semen dengan air) untuk menempelkan
keramik pada adukan lantai.
9.3.4. Pemasangan
- Lantai beton tumbuk dipasang dengan ketebalan sesuai gambar .
Adukan perekat lantai dipakai 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr.
- Alas dari lantai keramik adalah beton tumbuk dengan ketebalan 5
cm, dan dibawahnya adalah pasir setebal 10 cm.
- Lantai keramik yang terpasang harus datar dan waterpass. Pola
pemasangan keramik harus sesuai dengan gambar dan petunjuk
konsultan lapangan.
- Pemotongan keramik harus menggunakan alat potong khusus
sesuai dengan petunjuk konsultan lapangan.
- Adukan perekat untuk lantai harus betul-betul padat/penuh agar
tidak terdapat rongga-rongga dibawah lantai keramik yang dapat
melemahkan konstruksi. Sambungan antara keramik dengan
keramik harus sama lebarnya, lurus dan harus diisi bahan pengisi
berwarna/grout semen. Hasil pasangan akhir harus rata tidak
bergelombang dan waterpass.
- Pekerjaan yang telah selesai tidak boleh ada yang retak, noda dan
cacat-cacat lainnya. Apabila terjadi cacat pada lantai, maka bagian
cacat tersebut harus dibongkar dan di ganti dengan keramik yang
sama.
- Selama 7 hari setelah pekerjaan dilaksanakan, lantai harus
dilindungi dari lalu lintas orang dan barang.

Pasal 10
PEKERJAAN RANGKA ATAP DAN KUSEN

10.1. Lingkup Pekerjaan


- Lingkup Pekerjaan Rangka Atap meliputi pengiriman material ke lokasi
pekerjaan penyediaan tenaga kerja, bahan, alat –alat bantu yang
diperlukan, sehingga konstruksi rangka atap selesai dilaksanakan. Bagian
Pekerjaannya adalah :
10.1.1 Rangka Atap
10.1.2 Gording
10.2 Persyaratan Bahan
10.2.1. Semua  ukuran kayu yang tercantum dalam gambar adalah ukuran
bersih, dan kayu dipakai yang bermutu baik, tidak  cacat dan tidak
ada mata kayu yang terlepas.
10.3 Pedoman Pelaksanaan

13
10.3.1 Rangka Atap
Semua rangka atap dilaksanakan sesuai dengan gambar rencana.
Konstruksi harus dibuat sesuai gambar detail, dan ukuran.
10.3.2 Lisplank dibuat dari papan ukuran 2/20 yang diserut halus.
Pemasangannya dipaku langsung pada usuk atau kaso. Pemasangan
harus rapi dan lurus. Apabila dijumpai pemasangan yang tidak lurus,
maka bagian tersebut harus dibongkar dan diperbaiki kembali atas
beban Panitia Renovasi Sekolah (PRS)
10.3.3 Kusen pintu dan jendela
- Ukuran dan dimensi kayu untuk kusen pintu yaitu 6/13 atau
mengacu pada gambar.
- Konstruksi sambungan kayu harus rapi, tidak longgar ikatan
perkuatan harus menggunakan pen kayu keras yang sebelumnya
bidang sambungan ini harus dilumuri dengan lem kayu, agar
sambungannya dapat melekat dengan baik.
- Setiap kusen pintu harus dilengkapi angker minimal 3 buah untuk
kiri kanan kusen yang melekat ke tembok. Untuk kusen jendela 2
buah di kiri kanan kusen yang melekat ke tembok. Khusus untuk
kusen pintu, dibawah kusen dilengkapi dengan besi dook yang
diangkur ke dalam neut beton ( locis ).
- Semua bidang kusen yang bersinggungan dengan dinding/beton
dibuat alur-alur kapur, kemudian bidang tersebut diawetkan dengan
cat meni 2 (dua) lapis.
10.3.4 Daun pintu / jendela dan ventilasi
- Daun pintu disararankan agar Panitia Renovasi Sekolah
(PRS)memesan langsung pada tempat khusus pembuat pintu atau
pada toko. Panitia Renovasi Sekolah (PRS) bisa membuat sendiri
dilapangan pekerjaan apabila memungkinkan.
- Jendela dibuat model sesuai dengan gambar detail. Kaca untuk
jendela dipasang kaca polos tebal 5 mm. Pasangan kaca harus
memperhatikan muai susut baik dari kusen, maupun bahan kaca
tersebut.
- Ventilasi jalusi dibuat dari papan yang diketam halus serta dipasang
dengan rapi.

Pasal 12
PEKERJAAN LANGIT-LANGIT

11.1 Lingkup Pekerjaan


Pekerjaan yang dilaksanakan untuk menutup langit-langit pada Ruang kelas
dan Laboratorium Termasuk dalam lingkup pekerjaan ini adalah semua
pekerjaan rangka langit-langit dan list langit-langit ukuran 3 cm.

11.2 Persyaratan Bahan


12.2.1 Rangka langit-langit dipakai kayu kelas II kualitas baik ukuran 5/7.
12.2.2. Langit-langit menggunakan tripleks tebal 4 mm kualitas baik dengan
ukuran 60 X 120 cm, produksi dalam negeri.
12.2.3. Spesifikasi bahan yang digunakan seperti tercantum dalam syarat-
syarat teknis bahan tentang kayu.

11.3 Pedoman pelaksanaan

14
11.3.1. Sebelum dilaksanakannya pemasangan langit-langit ini, semua
pekerjaan lain yang terletak diatas langit-langit harus sudah terpasang
secara sempurna.
11.3.2 Sebelum pekerjaan pemasangan langit-langit dimulai, diwajibkan
mengadakan pengecekan/pemeriksaan kembali terhadap pekerjaan
yang erat hubungannya dengan pekerjaan langit-langit ini, untuk
diwajibkan adanya kerja sama (koordinasi) yang baik dengan semua
unsur Pelaksana Lapangan.
11.3.3 Rangka langit-langit dipasang dengan urutan pertama, yang dipakukan
pada balok tarik kuda-kuda. Rangka ini kemudian dipakai penggantung
dari kayu ke kuda-kuda dan gording.
11.3.4 Pemasangan rangka ini harus rapi dan datar (waterpass) Panitia
Renovasi Sekolah (PRS) bertanggung jawab atas kerapian
pemasangan rangka ini.
11.3.5 Tripleks dipasang pada rangka plafon, dengan menggunakan paku
plafon. Hasil akhir harus waterpass. Apabila ada plat tripleks yang
retak (cacat), pecah harus diganti tripleks yang baru.
11.3.6 Pertemuan antara dinding dengan plafon dipasang list dengan ukuran
3 cm.
11.3.7 Pola pemasangan harus sesuai dengan gambar dan arahan dari
Konsultan lapangan.

Pasal 13
PEKERJAAN PENUTUP ATAP

12.1. Lingkup Pekerjaan


Bagian pekerjaan yang dilaksanakan adalah menutup semua bidang atap
bangunan dan sesuai dengan gambar.

12.2. Bahan yang digunakan


12.2.1 Penutup atap menggunakan atap jenis Zyncalum/corrugated sheet
atau tile dimana ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan lapangan.
Ketebalan bahan minimal 0,3 mm termasuk pelapis terluarnya.
12.2.2. Untuk atap yang menggunakan bahan genteng keramik/gerabah,
ketebalan cukup, tidak mudah retak, pembakarannya sudah matang
dengan warna merah kehitaman dan berbunyi nyaring bila diketuk,
serta kuat menahan injakan kaki.
12.2.3. Untuk atap genteng metal berwarna atau granulasi, bahan
penyusunnya adalah pelat baja tipis, lapis alumunium. Ukuran
tergantung pada pabrik pembuatnya.
12.2.4. Penggunaan bahan atap ini dilengkapi dengan semua asesoris
(nok/bubungan, flashing, baut dll) yang disyaratkan oleh pabrik
pembuatnya.

13.3. Pedoman Pelaksanaan


13.3.1 Perletakan lembaran atap yang pertama harus dipasang berlawanan
arah angin. Maksud dari berlawanan arah angin adalah tepi
gelombang yang mempunyai kaki atap harus dipasang berlawanan
arah angin, kemudian baru ditimpa dengan atap yang bertepi

15
gelombang tanpa kaki atap dan seterusnya diikuti oleh lembaran –
lembaran berikutnya.
13.3.2 Apabila dalam 1 (satu) span terdapat 2 (dua) lembar atau lebih tata
peletakan /penyusunan atap selalu harus dipasang mulai dengan
pemasangan lajur bawah hingga selesai baru dilanjutkan kejalur atas.
13.3.3 Pemasangan sekrup pada atap harus selalu pada puncak gelombang
dan dikunci hingga puncak gelombang tersebut tidak dapat bergerak.
13.3.4 Pada saat pemasangan dianjurkan agar tukang yang sedang bekerja
harus mengalaskan papan yang dibuat seperti tangga yang diletakkan
diatas gording untuk menghindari atap diinjak langsung yang dapat
mengakibatkan atap tersebut rusak.
13.3.5 Bubungan ditutup dengan bahan yang sama multiroof 0,3 mm Tindisan
antar satu lembar bubungan dengan lembaran bubungan yang lainnya
harus sesuai dengan persyaratan pabrik.
13.3.6 Pemasangan harus rapi dan memenuhi syarat –syarat sehingga tidak
mengakibatkan kebocoran setelah pemasangannya, maka bagian
yang bocor tersebut harus dibongkar dan dipasang baru.

Pasal 14
PEKERJAAN PENGUNCI DAN PENGGANTUNG

14.1. Lingkup Pekerjaan


Pekerjaan pengunci dan penggantung dipasang pada semua daun pintu dan
jendela, sedangkan pada jendela dipasang grendel, tarikan jendela (handle)
dan hak angin.

14.2. Persyaratan Bahan


14.2.1. Engsel pintu memakai engsel kupu-kupu, berkualitas baik, dipasang
sekurang-kurangnya 3 (tiga) buah untuk setiap daun pintu dengan
menggunakan sekrup kembang dengan warna yang sama, jumlah
engsel yang dipasang harus diperhitungkan menurut beban dan berat
daun pintu, setiap engsel memikul beban maximum 20 kg.
14.2.2. Kunci pintu menggunakan sloot tanam 2 slaag (dua kali putar) dengan
kualitas baik.
14.2.3 Grendel, dan hak angin berkualitas baik.
14.2.4. Expanyolet berkualitas baik.
14.2.5. Kunci, engsel dan grendel untuk lemari laboratorium

14.3. Pedoman pelaksanaan


14.3.1. Setiap daun pintu dipasang kunci tanam 2 (dua) slaag, yang
berkualitas baik.
14.3.2 Engsel pintu dipasang 3 (tiga) buah setiap lembaran daun pintu.
Engsel untuk pintu kayu dipasang 30 cm dari tepi atas dan tepi bawah,
sedang untuk engsel ke 3 (tiga) dipasang ditengah. Pemasangan
dilakukan dengan mur khusus untuk pintu yang dipasang lengkap,
tidak dibenarkan memasang engsel ke pintu dan kusen dengan
menggunakan paku. Penguncian mur harus dilakukan dengan
memutarnya dengan obeng, sehingga seluruh batang masuk dan
menempel kuat ke kayu yang dipasang
14.3.3 Semua kunci tanam harus terpasang dengan kuat pada rangka daun
pintu, dipasang setinggi 90 cm dari lantai atau sesuai gambar.
14.3.4 Untuk alat-alat tersebut diatas sebelum dipasang, Panitia Renovasi

16
Sekolah (PRS) wajib memperlihatkan contoh terlebih dahulu untuk
dimintakan persetujuan Konsultan Lapangan
14.3.5 Apabila pada waktu pemasangan alat-alat tersebut tidak sesuai
dengan yang disyaratkan, maka Konsultan Lapangan berhak meminta
bongkar kembali dan diganti dengan alat-alat yang disyaratkan atas
biaya Panitia Renovasi Sekolah (PRS)
14.3.6 Grendel dan hak angin dipasang dua buah untuk setiap daun jendela.
Pemasangan grendel dan hak angin tersebut harus rapi dan dapat
bekerja dengan baik dan pemasangannya menggunakan sekrup .
14.3.7. Expanyolet dipasang pada daun pintu buka dua (dua lembar daun
pintu pada satu pintu).
14.3.8 Untuk lemari laboratorium, dipasang handle dan kunci khusus .

Pasal 15
PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK

15.1. Lingkup Pekerjaan


15.1.1 Pekejaan listrik termasuk pekerjaan instalasinya, merupakan pekerjaan
seluruh sistem listrik secara lengkap, sehingga instalasi ini dapat
bekerja dengan sempurna dan aman.
15.1.2. Pekerjaan tersebut harus dapat menjamin bahwa pada saat
penyerahan pertama (serah terima pekerjaan pertama), instalasi
tersebut sudah dapat dipergunakan.
15.1.2 Komite Pembangunan Sekolah Panitia Renovasi Sekolah (PRS))
dengan dibantu oleh Konsultan Lapangan harus mengurus
penyambungan daya listrik ke PLN termasuk pengurusan
administrasinya.,,Generator Set (genset), penyediaan bola lampu,
kabel-kabel, pipa PVC dan tiang listrik. Bila jaringan PLN berjarak 200
m dari lokasi Sekolah maka Panitia Renovasi Sekolah (PRS)) wajib
menambah tiang listrik, semua biaya resmi akan dibayar oleh Komite
Pembangunan Sekolah Panitia Renovasi Sekolah (PRS)).

15.2. Persyaratan Bahan


15.2.1 Kabel NYA
Kabel berinti tunggal, berlapis bahan isolasi PVC, untuk instalasi
luar/kabel udara. Kode warna isolasi ada warna merah, kuning, biru
dan hitam, lapisan isolasinya hanya 1 lapis sehingga mudah cacat,
tidak tahan air (NYA adalah tipe kabel udara) dan mudah digigit tikus.
Agar aman memakai kabel tipe ini, kabel harus dipasang dalam
pipa/conduit jenis PVC atau saluran tertutup. Sehingga tidak mudah
menjadi sasaran gigitan tikus, dan apabila ada isolasi yang terkelupas
tidak tersentuh langsung oleh orang. (untuk stop kontak minimal yang
boleh digunakan 2,5 mm2 dan sambungan lampu minimal yang boleh
digunakan 1,5 mm2)
15.2.2 Kabel NYM
Kabel memiliki lapisan isolasi PVC (biasanya warna putih atau abu-
abu), ada yang berinti 2, 3 atau 4. Kabel NYM memiliki lapisan isolasi
dua lapis, sehingga tingkat keamanannya lebih baik dari kabel NYA.
(untuk stop kontak minimal yang boleh digunakan 3x2,5 mm 2 dan
sambungan lampu minimal yang boleh digunakan 2x1,5 mm2).
15.2.3 Kabel NYWGBY

17
kabel berinti 4 yang dilapisi PVC dengan lapisan metal yang
menyelubungi secara keseluruhan sebagai earting conductor
(biasanya warna hitam). Kabel NYWGBY dipergunakan untuk instalasi
tertanam (kabel tanah), dan memiliki lapisan isolasi yang lebih kuat
dari kabel NYM. Kabel NYWGBY memiliki isolasi yang terbuat dari
bahan yang tidak disukai tikus.
15.2.4 Stop Kontak in-bow (dipermukaan tembok)
Stop kontak biasa yang dipakai untuk pemasangan di dinding adalah
stop kontak satu phasa, ranting 250 volt, 13 ampere, untuk
pemasangan ketinggian 120 cm diatas lantai, harus mempunyai
terminal phasa, netral / pentanahan.
15.2.5 Stop Kontak in-low (ditanam dalam tembok).
Stop kontak biasa yang dipakai untuk pemasangan di dinding adalah
stop kontak satu phasa, ranting 250 volt, 13 ampere, untuk
pemasangan ketinggian 120 cm diatas lantai, harus mempunyai
terminal phasa, netral / pentanahan, pemasangan diberi landasan
kayu.
15.2.6 Saklar in-low (ditanam dalam tembok)
Saklar harus dari tipe ini dengan rating 250 volt, 10 ampere, single
gang, double gang, untuk pemasangan ketinggian 120 cm diatas
lantai.
15.2.7 Saklar in-bow (dipermukaan tembok)
Saklar harus dari tipe ini dengan rating 250 volt, 10 ampere, single
gang, double gang, untuk pemasangan ketinggian 120 cm diatas
lantai, pemasangan diberi landasan kayu.
15.2.8 Bola lampu pijar, TL (Tube Lamp) dan armaturnya adalah produksi
dalam negeri yang baik, dengan syarat-syarat berikut :
Lampu TL
 Body dari plat besi, tebal minium 0.9 mm, dicat putih didepan,
abu-abu dibelakang.
 Balast produksi dalam negeri atau sejenisnya
 Stater produksi dalam negeri atau sejenisnya
Fitting
 Bagi TL 20 W/220 V besarnya 2,5 micro F + 10 %
 Pengkabelan didalam harus disolder
 Kap produksi lokal atau sekualitas
15.2.9 Sekering BOX yang dilengkapi fuse, switch untuk pembagian group
pemasangan instalasi listrik, Produksi dalam negeri (nasional) atau
sekualitas, dengan arde (pentanahan) dari kabel B.C.
Macam-macam switch/oulet yang digunakan untuk tegangan 220
volt adalah :
 Plug dan socket 1 phase untuk power
Pole : 1 Phase + Neutral + Earth
Tegangan : 220 volt, 1 phase, 50 hz
Rating arus : minimum 25 ampere
Proteksi : soket dengan tutup dan plug locking
Type : Pemasangan di luar diberi landasan kayu
 Sekering BOX
Main Panel terdapat pada panel pertama menerima daya dari
gardu induk PLN ataupun Genset.
Bahan : Rangka profil 30 mm
Cover : Besi plat 2 mm
Module : Minimum (30 x 40) tinggi maksimum 175 cm
Potongan : Puc Standing kuat tdak bergetar

18
Warna : Abu-abu
15.2.10 Pipa instalasi pelindung kabel.
 Pipa instalasi pelindung kabek feeder yang dipakai adalah
pipa PVC klas AW atau GIP.
 Pipa, elbow, socket, junction box, klem dan accessories
lainnya harus sesuai antara satu dengan yang lainnya, yaitu
dengan diameter minimal ¾“.
 Pipa fleksible harus dipasang untuk melindungi kabel antara
kontak sambung (junction box) dan armature lampu.
15.2.11 Pengujian (Testing).
Pengujian (testing) dilakukan dengan disaksikan olek Konsultan
Lapangan yang disyahkan oleh lembaga yang berwenang,
pengujian tersebut meliputi :
 Test ketahanan isolasi.
 Test kekuatan tegangan impuls.
 Test kenaikan temperature.
 Test kontinuitas.

15.3. Pedoman Penggunaan


15.3.1. Kabel NFGBY dipergunakan sebagai penghubung antara main panel
di gardu induk ke distribution panel ditiap-tiap bangunan. Di luar
bangunan dipasang sebagai kabel tanah dengan memperhatikan
peraturan-peratuan yang berlaku.
15.3.2 Kabel NYM dipergunakan sebagai kabel instalasi penerangan di dalam
dinding.
15.3.3.. Kabel NYA dipergunakan sebagai kabel instalasi penerangan.

15.4. Pedoman Pelaksanaan


15.4.1. Pemasangan instalasi listrik dan tata letak titik lampu/stop kontak serta
jenis armatur lampu yang dipakai harus dikerjakan sesuai dengan
gambar instalasi listrik. Sedangkan sistim pemasangan pipa-pipa listrik
pada dinding maupun beton harus ditanam (sistem inbouw) dan
penarikan kabel (jaringan kabel) diatas plafond diikat (klem) khusus
dengan jarak 1,00m atau 1,20 m, atau jaringan kabel diatas plafond
tersebut dimasukkan dalam pipa PVC. Khusus untuk instalasi stop
kontak harus dilengkapi kabel arde (pentanahan) sesuai dengan
peraturan yang berlaku (mencapai dan terendam air tanah).
15.4.2. Pemasangan instalasi listrik berikut penggunaan bahan/
komponen-komponennya harus disesuaikan dengan sistem tegangan
lokal 220 Volt. Daya yang digunakan sebagai berikut:
 Ruang Kantor 6 Ampere
 Ruang Perpustakaan 6 Ampere
 (tiga) RKB 8 Ampere
 KM/WC murid 2 Ampere
15.4.3. Untuk pekerjaan instalasi listrik, atas persetujuan Direktorat PSMP,
Panitia Renovasi Sekolah (PRS)boleh menunjuk pihak ketiga
(instalatur) yang telah memiliki izin usaha instalasi listrik atau izin
sebagai instalatur yang masih berlaku dari Perum Listrik Negara (PLN).
Panitia Renovasi Sekolah (PRS)tetap bertanggung jawab penuh atas
pekerjaan ini sampai listrik tersebut menyala (siap digunakan),
termasuk biaya pengujian dengan pihak PLN.
15.4.4 Penyambungan kabel.
 Semua penyambungan kabel harus dilakukan dalam kotak-kotak
penyambungan yang sudah ditentukan (misalnya junction box).

19
 Komite Pembangunan Panitia Pembangunan Sekolah (P2S)
 harus memberikan brosur-brosur mengenai cara penyambungan
yang dinyatakan oleh pabrik kepada Konsultan Lapangan.
 Kabel-kabel disambung sesuai dengan warna atau nama masing-
masing, serta sebelum dan sesudah penyambungan harus
dilakukan pengetesan tahanan isolasi
 Penyambungan kabel tembaga harus mempergunakan dan
dilapisi dengan timah putih dan kuat.
 Penyambungan kabel yang berisolasi PVC harus diisolasi dengan
pipa PVC/protolen yang khusus untuk listrik.
15.4.5 Kode warna insulasi kabel harus mengikuti ketentuan PUIL
sebagaiberikut :
 Fasa 1 : Merah
 Fasa 2 : Kuning
 Fasa 3 : Hitam
 Netral : Biru
 Tanah (ground) : hijau – kuning
15.4.6. Pengujian instalasi listrik harus dilakukan Panitia Renovasi Sekolah
(PRS) pada beban penuh selama 1 x 24 jam secara terus menerus.
Semua biaya yang timbul akibat pengujian ini menjadi tanggung jawab
Panitia Renovasi Sekolah (PRS)

Pasal 16
PEKERJAAN PENGECATAN
Pasal 16
PEKERJAAN PENGECATAN

16.1. Lingkup Pekerjaan


16.1.1 Meni kayu untuk bidang kusen yang melekat ke tembok,
sambungan-sambungan konstruksi kayu pada kuda-kuda dan lain-
lain.
16.1.2 Meni besi untuk baut-baut dan besi strip.
16.1.3 Cat kayu untuk bidang-bidang kayu kusen yang nampak, daun
pintu panel dan ventilasi kayu, listplank, dan list plafon, serta
dinding papan yang dapat dibuka.
16.1.4 Cat tembok untuk dinding yang diplester, bidang-bidang beton dan
plafond.
16.1.5 Residu/Teer untuk kayu kuda-kuda, gording dan rangka atap.

16.2. Bahan-bahan yang digunakan harus berkualitas baik, seperti :


16.2.1 Meni kayu dan besi yang berkualitas baik.
16.2.2 Cat kayu yang berkualitas baik.
16.2.3 Cat tembok yang berkualitas baik.
16.2.4 Residu kualitas baik tidak luntur.
16.2.5 Politur berkualitas baik
16.2.6 Plamur kayu dan dinding berkualitas baik

20
16.3 Pedoman Pelaksanaan
16.3.1 Pekerjaan pengecatan dilaksanakan setelah pemasangan plafond.
16.3.2 Pekerjaan meni, residu harus betul-betul rata, berwarna sama,
pengecatan minimal 2 (dua) kali.
16.3.3 Pekejaan cat kayu harus dilakukan lapis demi lapis dengan
memperhatikan waktu pengeringan jenis bahan yang digunakan.
- 1 (satu) kali pengerjaan meni kayu/cat dasar.
- 1 (satu) kali lapis pengisi dengan plamur kayu.
- Penghalusan dengan amplas
- Finishing dengan cat kayu sampai rata minimal 2 (dua) kali.
16.3.4 Pengecatan dinding harus dilakukan menurut proses sebagai
berikut:
- Penggosokan dinding dengan batu gosok sampai rata dan halus,
setelah itu dilap dengan kain basah hingga bersih.
- Melapis dinding dengan plamur tembok, dipoles sampai rata.
Setelah betul-betul kering digosok dengan amplas halus dan
dilap dengan kain kering yang bersih.
- Pengecatan dengan cat tembok emulsi sampai rata, minimal 2
(dua) kali.
- Pekerjaan cat tembok harus menghasilkan warna merata sama
dan tidak terdapat belang-belang atau noda-noda mengelupas.

16.3.5 Pengecatan plafond harus dilakukan menurut proses berikut :


- Membersihkan bidang plafond yang akan dicat.
- Mengecat plafond 2 (dua) kali, sehingga menghasilkan bidang
pengecatan yang merata sama dan tidak terdapat belang-belang
atau noda-noda mengelupas.
16.3.6 Warna yang digunakan ditentukan oleh Panitia Renovasi Sekolah
(PRS) dikordinasikan dengan konsultan lapangan

Disetujui Oleh : Mengetahui :


Dikerjakan Oleh :
Kepala Sekolah
Perencana
Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan
Sarana dan Prasarana

MUHAMMAD SYAFRUDIN, S.Pd,MMPd


NIP. 19690504 199703 1 003
CEPY LUKMAN RUSDIANA,S.Kom
21
RUDI SUSANTO, ST

22