Anda di halaman 1dari 32

FARMASETIKA DASAR

Deny Puriyani Azhary, M.Si., Apt.


Materi Sesi UAS:
1. Sediaan padat (serbuk, kapsul, supositoria)
2. Sediaan cair (larutan, suspensi dan emulsi)
3. Sediaan semisolid (salep, krim, pasta, gel)
Pustaka:
1. Churchill, M. Aulton., Pharmaceutics: the Science of Dosage Form Design, 2nd ed,
Livingstone, 2013.
2. Ansel,C., Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, 2008.
3. Kemenkes RI, Farmakope Indonesia edisi 3, 4 dan 5.
4. Moh. Anief, Ilmu Meracik Obat, Teori dan Praktek, Gajah Mada University Press,
Yogyakarta.
5. A., Goeswin, Pengembangan Sediaan Farmasi, Penerbit ITB, 2006.
6. Weller, P.J., Handbook of Pharmaceutical Exipients, 4th ed, The American Pharmaceutical
Association, Washington, 2003.
7. Remington: The Science and Practice of Pharmacy, 20th ed, A. Gennaro, Lippincott, 2000.
1) Sediaan Padat (solid)
contoh: serbuk, tablet, granul, kapsul, suppositoria, dll
2) Sediaan Cair (liquid)
contoh: larutan, suspensi, emulsi
3) Sediaan Setengah Padat (semi solid)
contoh: krim, salep, gel, pasta
Serbuk (FI V) adalah campuran kering bahan obat atau zat kimia yg dihaluskan,
ditujukan utk pemakaian oral atau utk pemakaian luar.
 Karena mempunyai luas permukaan yg besar, serbuk lebih mudah terdispersi
dan lebih larut daripada bentuk sediaan yg dipadatkan.
 Anak2 atau orang dewasa yg sukar menelan kapsul atau tablet lebih mudah
menggunakan obat dalam bentuk serbuk.
 Obat yg terlalu besar volumenya untuk dibuat tablet atau kapsul dlm ukuran
yg lazim, dapat dibuat dlm bentuk serbuk.
 Masalah stabilitas yg seringkali ada pd sediaan bentuk cair, tdk ditemukan
dlm sediaan bentuk serbuk.
 Sebelum digunakan, biasanya serbuk oral dapat dicampur
dengan air minum.

 Obat yg tidak stabil dalam suspensi atau larutan air, dibuat jd


sediaan serbuk atau granul. Konstitusi sediaan dpt dilakukan
oleh apoteker, dgn cara menambahkan sejumlah air sebelum
diserahkan kpd pasien.

 Karena sediaan yg sudah dikonstitusi ini mempunyai stabilitas


yg terbatas, harus dicantumkan waktu kadaluarsa setelah
dikonstitusi & dapat jg dipersyaratkan utk disimpan dlm lemari
pendingin.
 Serbuk oral dpt diserahkan dalam bentuk:
 Terbagi (Pulveres)

 Pada umumnya serbuk terbagi (pulveres) dibungkus dengan kertas


perkamen.
 Tapi apoteker dpt melindungi serbuk dari pengaruh lingkungan dgn
melapisi tiap bungkus dengan kertas selofan (waterproof) atau sampul
polietilen (plastik).
Suatu tingkat keterampilan tertentu
diperlukan utk melipat kertas
pembungkus serbuk & para
mahasiswa harus melakukan praktek
agar mendapatkan keahlian dlm
menyiapkan pulveres yg bersih &
seragam.
 Serbuk oral dpt jg diserahkan dalam bentuk:

 Tidak terbagi (Pulvis)


 Serbuk oral tidak terbagi (pulvis) hanya terbatas pd obat yg relatif tdk
poten, seperti laksansia, antasida dan suplemen makanan.
 Serbuk tidak terbagi lainnya, digunakan secara eksternal seperti serbuk
tabur.
 Serbuk tidak terbagi disimpan dlm wadah gelas bermulut lebar (pot),
tertutup rapat, utk melindungi pengaruh atmosfer dan mencegah
penguapan senyawa yg mudah menguap.
 Serbuk tabur adalah serbuk untuk penggunaan topikal (di
permukaan kulit) dapat dikemas dlm wadah yg bagian atasnya
berlubang halus utk memudahkan penggunaan pd kulit.
 Pada umumnya serbuk tabur harus melewati ayakan dengan
derajat halus 100 mesh seperti tertera pada Derajat Halus Serbuk
(<1141>) di FI V, agar tidak menimbulkan iritasi.
 Saat ini sudah tersedia alat2 peracikan yg memungkinkan
penyiapan sediaan serbuk (puyer)/pulveres dalam waktu cepat,
dengan menggunakan kantong puyer yg tahan air.
 Dapat dilihat pd link di bawah ini:

https://www.youtube.com/watch?v=6EqXtJgGkug

Menggunakan alat2:
1. Blender obat

2. Kantong puyer

3. Alat sealer (press) kantong puyer


 obat yg berbentuk kristal besar dihaluskan dulu sebelum ditimbang.
 obat dgn kerapatan (bobot jenis/BJ) berbeda dicampur dgn memasukkan
bahan obat yg BJ lebih besar dulu.
 jika bahan obat berkhasiat keras & jumlah sedikit akan dicampurkan dgn
bahan lain dengan jumlah besar, maka pencampuran dilakukan dengan
cara pengenceran geometrik (dicampur dlm jumlah yg hampir sama banyak).
 mencampur dua bahan dlm jumlah sedikit & warna sama, sebaiknya diberi
pewarna utk melihat ke-homogen-an campuran.
1. Tanpa “dtd” 2. Ada “dtd”
Dokter menuliskan jumlah obat utk Dokter menuliskan jumlah obat utk tiap
seluruh serbuk dengan menyebutkan bungkus dan jumlah bungkus yg
jumlah bungkus yg dikehendakinya. dikehendakinya.
Contoh:
Contoh:
R/ Parasetamol tablet No.X
R/ Parasetamol tablet No.I
Vitamin C 100 mg tab. No.XX
Vitamin C 100 mg tab. No.II

m.f.pulv.No.X m.f.pulv. dtd.No.X


S.t.dd.p.I S.t.dd.p.I
 Resep Tanpa “dtd”
R/ Parasetamol tablet No.X
Vitamin C 100 mg tab. No.XX

m.f.pulv.No.X
S.t.dd.p.I

 Parasetamol tablet diambil sebanyak 10 tablet.


 Vitamin C 100 mg diambil sebanyak 20 tablet.
 Kemudian kedua nya dicampurkan, digerus sampai homogen, selanjutnya dibagi
menjadi 10 bungkus.
2. Resep Ada “dtd”
Dokter menuliskan jumlah obat untuk tiap bungkus dan jumlah bungkus yg
dikehendakinya.
R/ Parasetamol tablet No.I
Vitamin C 100 mg tab. No.II

m.f.pulv. dtd.No.X
S.t.dd.p.I

Perhatikan pengambilan jumlah bahan!


 Parasetamol diambil sebanyak: 10 (bungkus) x 1 tablet = 10 tablet,
 Vitamin C 100 mg diambil sebanyak: 10 (bungkus) x 2 tablet = 20 tablet
 Kemudian kedua nya dicampurkan, digerus sampai homogen, selanjutnya
dibagi menjadi 10 bungkus
 Jika dokter salah atau lupa menuliskan dtd dapat
diketahui dgn adanya penyimpangan yg besar dari
dosis lazim obat tersebut
 Pembagian serbuk dgn perkiraaan mata, maksimum
dilakukan untuk 20 bungkus.
 Kapsul adalah sediaan padat yg terdiri dari obat dlm cangkang keras atau lunak yg dapat
larut.
 Cangkang terbuat dari gelatin atau pati dgn kadar air ± 12 – 16%.
 Cangkang kapsul gelatin bisa KERAS atau LUNAK, tergantung pada komposisinya.

KAPSUL KERAS (hard gelatin capsules)

o Cangkang kapsul keras digunakan di sebagian besar kapsul obat komersial.


o Apoteker komunitas juga menggunakan kapsul gelatin keras dalam pembuatan resep racikan
(extemporaneous compounding) .
o Cangkang kapsul yang kosong terbuat dari gelatin, gula, dan air.
o Cangkang bisa transparan/jernih, tidak berwarna atau dapat diwarnai dengan berbagai pewarna
FD&C dan D&C dan dibuat buram (opaque) dengan menambahkan zat seperti titanium dioksida.
Kebanyakan kapsul obat yang tersedia secara komersial dengan tutup dan wadah/badan dengan
warna yang berbeda.
 Gelatin diperoleh dengan cara hidrolisis kolagen dari kulit, jaringan ikat, dan tulang hewan.
 Gelatin stabil di udara yg kering tetapi mengalami penguraian oleh mikroba saat menjadi lembab.
 Biasanya kapsul gelatin keras mengandung 13% - 16% air.
 Jika disimpan di tempat dengan kelembaban udara yg tinggi, maka kadar air kapsul akan
bertambah karena diserap oleh kapsul, dan mengakibatkan kapsul menjadi lembek.
 Di tempat yang sangat kering, kadar air yang biasanya ada dalam kapsul gelatin akan hilang, dan
kapsul bisa menjadi rapuh dan hancur (brittle).
 Oleh karena itu, kapsul gelatin keras disimpan di tempat yang bebas dari kelembaban atau
kekeringan yang berlebihan.
 Cangkang kapsul biasanya dikemas dengan bahan pengering untuk melindungi terhadap
penyerapan kelembaban atmosfer. Bahan pengering yang paling sering digunakan adalah gel
silika kering, dan karbo adsorben.
 Paparan kelembaban yang tinggi dalam waktu lama dapat mengubah tampilan kapsul seperti
kapsul yang mengandung tetrasiklin, kloramfenikol, dan nitrofurantoin.Perubahan tersebut
kemungkinan dapat mempengaruhi bioavailabilitas nya.
 Meskipun gelatin tidak larut dalam air dingin, tapi bisa melunak
dalam air dingin karena dapat menyerap air hingga 10 kali berat.
 Beberapa pasien lebih suka menelan kapsul yang dibasahi
dengan air minum karena kapsul yang dibasahi akan lebih
mudah ditelan.
 Gelatin larut dalam air panas dan dalam cairan lambung; setelah
melarut kapsul gelatin akan membebaskan isinya.
 Gelatin kemudian akan dicerna oleh enzim proteolitik dan
diserap oleh tubuh.
o Cangkang kapsul keras dilengkapi
dengan lekukan, untuk mencegah
cangkang terbuka tanpa sengaja.
o Adanya lekukan akan mengunci
kedua bagian dari cangkang
 Ukuran cangkang kapsul:
 5 (no terkecil), 4, 3, 2, 1, 0, 00, 000 (no terbesar)

Tabel: Volume & kapasitas (daya tampung) kapsul


Ukuran Volume (mL) Berat isi kapsul (gram)
Untuk serbuk dengan BJ 0,8 g/cm3
000 1.37 1,096
00 0,95 0,760
0 0,68 0,544
1 0,50 0,400
2 0,37 0,296
3 0,30 0,240
4 0,21 0,168
5 0,13 0,104
 Beberapa keuntungan bentuk kapsul, diantaranya adalah:
1. Menutupi rasa dan bau obat yg tdk enak.
2. Bentuknya menarik.
3. Jika basah menjadi licin shg mudah ditelan.
4. Tidak memerlukan banyak zat tambahan seperti halnya pada tablet.
5. Karena tanpa atau sedikit zat tambahan, maka memberikan pelepasan yg
cepat dan seragam dlm saluran pencernaan.
6. Cangkang kapsul bersifat inert dan cepat dicerna.
 Serbuk dalam kapsul
 Serbuk yg akan dimasukkan ke dalam kapsul, terlebih dahulu dihaluskan,
dicampur homogen lalu dibagi sejumlah kapsul yg dikehendaki.
 Setiap bagian dimasukkan ke dalam cangkang wadah; setelah semua campuran
serbuk masuk, wadah ditutup.
 Untuk menghilangkan sisa2 serbuk di bagian luar kapsul, maka dibersihkan
dengan kapas atau kain bersih.
 Di apotek, kapsul cangkang keras diisi dengan tangan sehingga membutuhkan
waktu yg lama dlm penyiapannya.
 Saat ini sudah terdapat alat pengisi kapsul secara manual, yg bisa digunakan di
apotek, klinik atau rumah sakit; yg dapat mempercepat penyiapan obat kapsul.
Supositoria
PENGERTIAN

 Supositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang
diberikan melalui rektal, vagina atau uretral (jarang digunakan).

 Istilah Supositoria berasal dari bahasa Latin supponere yang artinya “to
place under,” (ditempatkan di belakang tubuh (rektum/dubur/anus).

 Supositoria rektal & uretral umumnya menggunakan pembawa (basis) yg


meleleh, melunak atau melarut pd suhu tubuh.

 Supositoria vagina (pessaries), dibuat sbg tablet kompresi yg hancur dlm


cairan tubuh.
 Alasan pemberian obat melalui rektal, karena:
 Pasien tidak dapat menggunakan obat secara oral, karena:
 Pasien memiliki masalah pd saluran pencernaannya (mual).
 Bayi (belum bisa menelan obat).
 Pasien tdk sadar (koma), gangguan mental.

 Obat tidak dapat diberikan melalui oral, karena:


 Obat terurai dalam cairan lambung.
 Aktivitas terapetiknya diubah oleh organ hati. Pada obat oral, sesudah
diabsorpsi di usus, obat akan dibawa ke organ hati. Organ hati akan
mengubah sebagian besar obat secara kimiawi (di metabolisme) shg
khasiatnya berkurang.
• Secara anatomi, rektal/rektum adalah bagian akhir dari
usus besar, sepanjang 15 cm dan berakhir di anus.
• Sediaan rektal masuk ke dalam tubuh melalui anus,
kemudian masuk ke bagian bawah dari saluran cerna,
yaitu rektal.
• Dinding rektal terdiri dari sel2 yg men-sekresikan
mukus dgn volume ± 3 mL tersebar di area seluas
±300 cm2 dengan pH sekitar 7.
• Secara normal, rektal kosong, jika ada isi akan
mendorong timbulnya defekasi (keinginan BAB) yg dpt
dikontrol.
• Vena hemoroid yg lebih bawah (inferior & tengah)
mengelilingi kolon & rektal, masuk ke dlm vena kafa
inferior, jadi menghindari hati.
• Vena hemoroid yg lebih atas (superior) tdk
berhubungan dgn vena porta yg menuju ke hati.
• Obat2 rektal akan terabsorpsi sekitar 50 – 70% .
 Kekurangan sediaan supositoria:
 Absorpsi obat yg tdk sempurna setelah diberikan (obat bisa keluar lagi).
 Masalah dlm produksi skala besar (jumlah banyak), karena kondisi
penyimpanan yg harus ditaati secara ketat (misalnya suhu penyimpanan).
Produksi supositoria dengan alat semi otomatis sampai 20.000 suppositoria
per jam.

 Dosis
 Umumnya dosis untuk pemberian obat secara rektal adalah1,5x – 2x atau
lebih, dari dosis oral yang diberikan untuk semua obat.
 Lokal:
 Pengobatan haemorrhoid (wasir), (vasokonstriktor,
antiinflamasi).
 Pengobatan konstipasi (laxative), menjadikan lunak
pada daerah feses dan merangsang buang air besar.
 Antiseptik
 Anestesi lokal

 Sistemik
 Antiasma
 Antimuntah
 Analgesik
BASIS SUPOSITORIA:

o Basis berlemak yg dirancang untuk melebur/meleleh pada suhu tubuh. Contohnya


minyak kelapa sawit (cocoa butter) dan minyak coklat (Theobroma oil/ Oleum cacao).
Supositoria dengan basis lemak coklat harus disimpan dalam wadah tertutup baik,
(suhu dibawah 30°C (suhu kamar terkendali).

o Basis larut air atau tercampur air dirancang untuk melarut dalam rektal. Contohnya
gelatin tergliserinasi (Glisero-gelatin). Basis ini terdiri dari 70 bagian gliserin, 20 bagian
gelatin dan 10 bagian air).
Supositoria dengan basis ini harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, pada suhu di
bawah 35°C)

 Contoh lain adalah PEG (polietilen glikol). Supositoria dengan basis PEG harus tertera
petunjuk “basahi dengan air sebelum digunakan”.
Supositoria dengan basis ini harus dikemas dalam wadah tertutup rapat.
 Bilangan pengganti adalah jumlah bagian berat obat yg menggantikan satu bagian berat
basis supositoria.
 Volume supositoria dari suatu cetakan akan selalu tetap, tetapi berat akan bervariasi krn
bobot jenis (BJ) obat berbeda dari bobot jenis basis supositoria.

 BJ obat akan mempengaruhi berapa jumlah basis


yg digunakan utk tiap supositoria.
 Satu bagian berat obat dgn BJ yg sama dgn basis
akan mengganti (displace) volume ekivalen basis.
 Jika BJ obat = 2x BJ basis akan mengganti ½ volume.
 Jika BJ obat = 5x BJ basis akan mengganti 1/5 volume.