Anda di halaman 1dari 43

MAKALAH TUTORIAL

BLOK FUNGSI NORMAL REPRODUKSI DAN UROGENITAL

SKENARIO 2

OLEH:

Nama : M. Nizar Antoni

NIM : 1910911310032

Kelompok : 3

DOSEN TUTOR :

Dra. Lia Yulia Budiarti A, M.kes

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

BANJARMASIN

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah pengganti
tutorial ini tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini juga bertujuan untuk
menambah wawasan  bagi para pembaca dan juga bagi penulis. Saya juga
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi
sebagian pengetahuannya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini.
Saya menyadari, makalah yang saya tulis ini masih jauh dari kata sempurna.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan saya nantikan demi
kesempurnaan makalah ini

Banjarmasin, 28 Maret 2020


Penulis

M. Nizar Antoni
Nim 1910911310032
DAFTAR ISI

SKENARIO

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ………………………………………………...... 1

1.2 Tujuan…………………………………………………………… 2

1.3 Alasan Penulisan.............................................................................2

BAB II METODE PENULISAN

2.1 Metode Penulisan...........................................................................2

BAB III ISI

3.1 Anatomi sistem urinaria………………….....................................3

3.2 Fisiologi sistem urinaria ……………………….……………… 13

3.3 Embriologi sistem urinaria …….………………………...........

20

3.4 Biokimia sistem urinaria ……..………………………………..

24

3.5 Histologi sistem urinaria ……..……………………………...... 26

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan…………………………………………………….. 34

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………. 35

LAMPIRAN……………………………………………………………… 36
SKENARIO 2

Tahan dulu aja……

Rian sedang mengikuti ujian blok sistem reproduksi di dalam ruangan


ber-AC dan terasa dingin. Ditengah-tengah berlangsungnya ujian Rian
merasa ingin buang air kecil. Karena merasa harus memanfaatkan waktu
dengan baik dan serius menyelesaikan soal-soal ujian, maka Rian berusaha
menahan rasa ingin kencingnya. Selama sisa waktu ujian Rian merasakan
perut bagian bawahnya terasa penuh. Begitu ujian berakhir Rian bergegas ke
kamar kecil untuk buang air kecil, setelah itu perutnya terasa nyaman.
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 latar belakang

Manusia, seperti makhluk hidup lainnya, berusaha untuk


mempertahankan homeostasis, yang berarti keseimbangan. Otak dan organ
tubuh lainnya bekerja sama untuk mengatur suhu tubuh, keasaman darah,
ketersediaan oksigen dan variabel lainnya. Mengingat bahwa organisme
hidup harus mengambil nutrisi dan air, satu fungsi homeostatis penting
adalah eliminasi, atau kemampuan untuk mengeluarkan bahan kimia dan
cairan, sehingga dapat menjaga keseimbangan internal. Sistem kemih
memainkan peran ekskretoris dan homeostatik penting.

Sistem urin adalah bagian penting dari tubuh manusia yang


terutama bertanggung jawab untuk menyeimbangkan air dan elektrolit
tertentu seperti kalium dan natrium, membantu mengatur tekanan darah
dan melepaskan produk limbah yang disebut urea dari darah.

Sistem urin terdiri terutama pada ginjal, yang menyaring darah,


sedangkan ureter, yang bergerak urin dari ginjal ke kandung kemih,
kandung kemih, yang menyimpan urin, dan saluran kencing, urin keluar
melalui tubuh.

Peran dari sistem urin dengan yang biasa bagi kebanyakan orang
adalah bahwa ekskresi; melalui air seni, manusia membebaskan diri dari
air tambahan dan bahan kimia dari aliran darah. . Aspek penting lain dari
sistem urin adalah kemampuannya untuk membedakan antara senyawa
dalam darah yang bermanfaat untuk tubuh dan harus dijaga, seperti gula,
dan senyawa dalam darah yang beracun dan harus dihilangkan.
Pada kesempatan ini akan membahas lebih jauh mengenai sistem
urinarius pada tubuh kita dan di harapkan mampu dalam mengetahui dan
memahami yang telah di susun oleh penulis agar dapat di aplikasikan
dalam kehidupan sehari – hari.

1.2 Tujuan

1. Mengetahui serta dapat menjelaskan mengenai anatomi sistem


urinaria
2. Mengetahui serta dapat menjelaskan mengenai fisiologi sistem
urinaria
3. Mengetahui serta dapat menjelaskan mengenai embriologi
sistem urinaria
4. Mengetahui serta dapat menjelaskan mengenai biokimia sistem
urinaria
5. Mengetahui serta dapat menjelaskan mengenai histologi sistem
urinaria
1.3 Alasan Penulisan
Makalah ini ditulis agar penulis bisa meninjau lebih jauh mengenai
sistem urinarius. Diharapkan dengan mengetahui dan memahami sistem
urinarius, penulis mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-
hari selaku menjalankan profesi dokter.

BAB II
METODE PENULISAN

Metode penulisan yang digunakan dalam penyusunan makalah ini


yaitu dengan metode pustaka ‘’Literature review’’.  Literature review adalah
uraian tentang teori, temuan, dan bahan penelitian lainnya yang diperoleh
dari bahan acuan untuk dijadikan landasan kegiatan penelitian. Uraian
dalam literature review ini diarahkan untuk menyusun kerangka pemikiran
yang jelas tentang pemecahan masalah yang sudah diuraikan pada
perumusan masalah yang ingin diteliti.
Literature review berisi ulasan, rangkuman, dan pemikiran penulis
tentang beberapa sumber pustaka (artikel, buku, slide, informasi dari
internet, dll) tentang topik yang dibahas. Literature review yang baik harus
bersifat relevan, mutakhir, dan memadai.
BAB III
ISI
3.1 Anatomi sistem urinaria

Saluran kemih adalah sistem drainase tubuh untuk membuang limbah


dan air tambahan. Saluran kemih terdiri dari kandung kemih, dua ginjal, dua
ureter, dan uretra. Ginjal adalah dua organ berbentuk kacang, masing-
masing seukuran kepalan tangan. Mereka terletak dekat tengah punggung,
tepat di bawah tulang rusuk, satu di setiap sisi tulang belakang. Setiap hari,
keduanya ginjal memproses sekitar 200 liter (satu unit kapasitas cairan sama
dengan seperempat galon atau dua gelas, setara di Inggris sekitar 1,13 liter
dan di AS sekitar 0,94 liter.) Darah menghasilkan sekitar 1 sampai 2 liter
urin, terdiri dari limbah dan air tambahan.[1]

A. Ren
Kedua ren berwama coklat kemerahan dan terletak di belakang
peritoneum, pada dinding postedor abdomen di samping kanan dan kiri
columna vertebralis; dan sebagian besar tertutup oleh arcus costalis . Ren
dexter terletak sedikit lebih rendah dibandingkan ren sinister, karena adanya
lobus hepatis dexter yang besar. Bila diaphragma berkontraksi pada waktu
respirasi, kedua ren turun dengan arah vertikal sampai sejauh 1 inci (2,5
cm). Pada margo medialis masing-masing ren yang cekung/ terdapat celah
vertikal yang dibatasi oleh pinggir-pinggir substansi ren yang tebal dan
disebut hilus renalis . Hilus renalis meluas ke rongga yang besar disebut
sinus renalis. Hilus renalis dilalui dari depan ke belakang oleh vena renalis,
dua cabang arteria renalis, ureter, dan cabang ketiga arteria renalis
(V.A.U.A.). Pembuluh-pembuluh limfatik dan serabut-serabut simpatik juga
melalui hilus ini.
Ren mempunyai selubung sebagai berikut ;
 Capsula fibrosa: Meliputi ren dan melekat dengan erat pada permukaan luar
ren.
 Capsula adiposa: Lemak ini meliputi capsula fibrosa.
 Fascia renalis: Merupakan kondensasi dari jaringan ikat yang terletak di luar
capsula ad-iposa dan meliputi ren serta glandula suprarenaiis. Di laterai
fascia ini melanjutkan diri sebagai fascia transversalis.
 Corpus adiposum pararenale: Terletak di luar fascia renalis dan sering
didapatkan dalam jumlah besar. Lemak ini membentuk sebagian iemak
retroperitoneal.
 Capsula adiposa, fascia renalis, dan corpus adiposum pararenale menyokong
dan menfiksasi ren pada posisinya di dinding posterior abdomen.

Fungsi Ren

Kedua ren berfungsi mensekresikan sebagian besar produk sisa


metabolisme. Ren mempunyai peran penting mengatur keseimbangan air
dan elektrolit di dalam tubuh dan mempertahankan keseimbangan asam-
basa darah. Produk sisa meninggalkan ren sebagai urin, yang mengalir ke
bawah di dalam ureter menuju ke vesica urinaria (kandung kemih), yang
terletak di dalam pelvis.Urin keluar dari tubuh melalui urethra.

Struktur Ren

Masing-masing ren mempunyai cortex renalis di bagian 1uar, yang


berwarna coklat gelap , dan medula renalis di bagian dalam yang lebih
terang. Medula renalis terdiri atas kira-kira selusin pyramis medullae
renalis, yang masing-masing mempLrnyai basis menghadap ke cortex
renalis dan apex, papilla renalis yang menonjol ke medial. Bagian cortex
yang menonjol ke medula di antara pyramis medullae yang berdekatan
disebut columnarenalis. Bagianbergaris-garis yangmembentang daribasis
pyramidis renalis menuju ke cortex disebut radii medullares. Sinus renalis
merupakan ruangan di dalam hilus renalis, berisi pelebaran ke atas dari
ureter, disebut pelvis renalis. Pelvis renalis terbagi menjadi dua atau tiga
calices renales majores, yang masing-masing akan bercabang menjadi dua
atau tiga calices renales minores . Setiap calyx minor diinvaginasi oleh apex
pyramidis renalis yang disebut papilla renalis.

Batas-Batas Penting: Ren Dexter

Ke anterior: Glandula suprarenalis, hepar, bagian kedua duodenum, dan


flexura coli dextra.

Ke posterior: Diaphragma, recessus costodiaphrgamatlcus, costa XII,


musculus psoas, musculus quadratus lumborum, ' dan musculus transversus
abdominis. nervus subcostalis .(T12), nervus iliohypogastricus, dan nervus
ilioinguinalis (L1) berjalan ke bawah dan lateral.

Batas-Batas Penting: Ren Sinister

Ke anterior: Clandula suprarenalis, lien, gaster, pancreas, flexura coli


slnistra, dan lengkung-lengkung jejunum.
 Ke posterior: Diaphragma, recessus costodiaphragmaticus pleurae, costa XI
(ren sinister lebih tinggi dari ren dexter) dan costa XII, musculus psoas,
musculus quadrafus lumborum, dan musculus transversus abdominis, nervus
subcostalis (T12), nervus iliohypogastricus, dan nervus ilioinguinalis (L1)
berjalan ke bawah dan lateral.

PERDARAHAN

Arteria renalis berasal dari aorta setinggi vertebra lumbalis II. Masing-
masing arteria renalis biasanya bercabang menjadi lima Arteria segmentalis
yang masuk ke dalam hilus renalis, empat di depan dan satu di belakang
pelvis renalis. Arteri-arteri ini mendarahi segmen-segmen atau area yang
berbeda. Arteriae lobares berasal dari masing-masing arteria segmentalis,
masingmasing satu buah untuk satu pyramis medullae renalis. Sebelum
masuk substansia renalis setiap arteria lobaris mencabangkan dua atau tiga
arteria interlobaris. Arteriae interlobares berjalan menuju cortex di antara
pyramis medullae renalis. Pada perbatasan cortex dan medulla renalis,
arteriae interlobares mencabangkan arteriae atcuatae yang melengkung di
atas basis pyramidis medullae. Arteriae arcuatae mencabangkan sejumlah
arteriae interlobulares yang berjalan ke atas di dalam cortex. Arteriolae
aferen glomerulus merupakan cabang-cabang arteriae interlobulares. Vena
renalis keluar dari hilus di depan arteria renalis danbermuara ke vena cava
inferior. Persarafan Plexus sympathicus renalis. Serabut-serabut aferen yang
berjalan melalui plexus renalis masuk medula spinalis melalui nervus
thoracicus X, XI, dan XII.

b. ureter

Kedua ureter merupakan saluran muskular yang terbentang dari ren ke


facies posterior vesica urinaria . Setiap ureter mempunyai panjang sekitar 10
inci (25 cm) dengan diameter kurang dari 0,5 inci (1.25 cm). Ureter
mempunyai tiga penyempitan sepanjang perjalanannya:

 Tempat keluarnya Ureter dari Pelvis renalis ("leher uretra"),


 Persilangan Vasa iliaca externa atau communia dengan Ureter,
 Tempat Ureter menembus masuk ke dinding Vesica urinaria.
Terkadang dapat ditemukan tempat penyempitan keempat, yaitu pada saat
Ureter menyilang di bawah A. dan V.testicularis atau ovarica.[2]

Pada ujung atasnya, ureter melebar membenfuk corong disebut pelvis


renalis. Bagian ini terletak di dalam hilus renalis dan menerima calices
renales majores . Ureter keluar dari hilus renalis dan berjalan vertikal ke
bawah di belakang peritoneum parietale (melekat padanya) pada musculus
psoas, yang memisahkanlya dari ujung processus transversus vertebrae
lumbalis. Ureter masuk ke pelvis dengan menyilang bifurcatio arteria iliaca
communis di depan articulatio sacroiliaca. Kemudian ureter berjalan ke
bawah pada dinding lateral pelvis menuju ke daerah spina ishiadica dan
berbelok ke depan unfuk masuk ke angulus lateralis vesica urinaria.
Pengeluaran Urin didorong sepanjang ureter oleh kontraksi peristaltik
selubung otot, dibantu oleh tekanan flltrast glomeruli.

Batas-Batas Ureter di Dalam Abdomen Ureter Dexter

 Ke anterior: Duodenum, pars terminalis ileum, vasa colica dextra dan vasa
ileocolica" vasa testicularis dextra atau vasa ovarica dextra, dan radix
mesenterii intestinum tenue.
 Ke posterior: musculus psoas dextra, yang memisahkan ureter dari
processus transversus vertebrae lumbalis, dan bifurcatio arteria iliaca
communis.

Ureter Sinister

 Ke anterior: colon sigmoideum dan mesocolon sigmoideum, vasa colica


sinistra, dan vasa testicularis sinistra atau vasa ovarica sinistra.
 Ke Posterior: musculus psoas sinistr4 yang memisahkan ureter dari
processus transversus vertebrae lumbalis, dan bifurcatio arteria iliaca
communis. Vena mesenterica inferior terletak sepanjang sisi media ureter
sinister

Perjalanan Ureter di Dalam Pelvis Masing-masing ureter berjalan turun


di dinding lateral pelvis ke regio spina ischiadica dan membelok ke depan
untuk masuk ke angu lus lateraiis vesica urinaria Fungsi Ureter Seperti
Katup Saat Menembus Dinding Vesica Urinaria , ureter menembus dinding
vesica urinaria secara miring, dan ini menimbulkan fungsi seperti katup
yang mencegah aliran balik urin ke arah ren pada saat vesica urinaria terisi.
Pada laki-laki, ureter menyilang ductus deferens di dekat ujung
terminalnya . Pada perempuan, ureter meninggalkan region spina ischiadica
dengan membelok ke depan dan medial di bawah dasar ligamentum latum.
Di sini ureter menyilang arteria uterina.

Pendarahan Arteri yang mendarahi ureter adalah sebagai berikut:

Ujung atas: arteria renalis , Bagian tengah: arteria testicularis atau arteria
ovarica, Ujung bawah: arteria vesicalis superior Darah vena dialirkan ke
dalam vena yang sesuai dengan arterinya. Persarafan Plexus renalis,
testicularis (atau ovaricus), dan plexus hypogastricus (di dalam pelvis).
Serabut-serabut aferen berjalan bersama dengan saraf simpatik dan masuk
medulla spinalis setinggi segmen lumbalis I dan II.
c. vesica urinaria

Kandung kemih pada laki-laki(a) dan perempuan(b), dilihat dari kiri.


Kandung kemih (Vesica urinaria) adalah sebuah organ berongga, yang
mengumpulkan urin yang dibentuk oleh ginjal dan pada waktu-waktu yang
sesuai mengalirkan urin ke Urethra. Pengisian maksimal kandung kemih
berkisar antara 500 dan 700 ml (perempuan > laki-laki). Namun, keinginan
buang air kecil sudah muncul mulai dari pengisian kandung kemih sebesar
150-200 ml, pada perempuan yang gravid (hamil) bahkan sudah muncul
pada pengisian yang sedikit saja karena tekanan Uterus.

M.dilatator urethrae berorigo seperti kipas pada Symphysis serta berjalan


juga di sepanjang Arcus tendineus fasciae pelvis , menyebrangi Ostium
urethrae internum di sebelah ventral dan berjalan di sisi depan Urethra ke
arah kaudal, Sebuah kandung kemih yang sehat dapat dikosongkan tanpa
sisa urin. Pada kandung kemih. dapat dibedakan badan kandung kemih
(Corpus vesicae), dasar kandung kemih kaudal (Fundus vesicae), dan
puncak kandung kemih (Apex vesicae) yang terletak di depan atas, yang
beralih menjadi Plica umbilicalis mediana (rudimen Urachus) pada sisi
sebelah dalam dinding tubuh depan. Kedua Ureter masing-masing bermuara
di sebelah dorsolateral ke dalam Fundus, Urethra dimulai pada leher
kandung kemih (Cervix vesicae) yang teretak ventrokaudal.

Otot-otot kandung kemih dan Urethra Kandung kemih pada laki-laki, dilihat
dari kiri. Otot kandung kemih pada prinsipnya terdiri dari • M.detrusor
vesicae (pengosong kandung kemih) dan • M.sphincter vesicae (otot
penutup kandung kemih, juga disebut sebagai "internus"); Otot Urethra
terdiri dari • M.dilatator urethrae (pelebar Urethra) dan • Msphincter
urethrae (otot penutup Urethra, juga disebut sebagai "externus") Menurut
Dorschner et al. (2001), M.detrusor vesicae dan M.sphincter vesicae adalah
satuan morfologis yang sama sekali terpisah: M.detrusor vesicae memiliki
tiga lapisan dan sangat membantu menautkan kandung kemih ke arah dorsal
dan ventral di dalam Pelvis. Untuk melakukan hal itu, serabut luar
longitudinal (Stratum longitudinale externum) berjalan ke arah dorsal ke
M.vesicoprostaticus (atau vaginalis) dan serabut di daerah Nodus vesicae ke
arah ventral ke M.pubovesicalis, yang merupakan bagian penting pada pe-
rangkat suspensi ventral. Lapisan tengah dan dalam (Stratum circulare/
longitudinale internum) berujung dorsal di atas Plica interureterica .
M.sphincter vesicae ("internus") pada laki-laki memiliki bentuk elips, pada
perempuan otot ini cenderung berjalan seperti lingkaran. Otot sfingter ini
secara eksklusif berfungsi menutup kandung kemih. Di lingkar dorsalnya,
M. sphincter vesicae "internus'' membentuk landasan morfologis untuk
Trigonum vesicae.[2]

Batas-BatasVesicae Pada Laki-Laki


 Ke anterior: symphisis pubica, iemak retropubik, dan dinding anterior
abdomen.
 Ke posterior: vesica rectovesicalis peritonei, ducfus deferens, vesicula
seminalis, fascia rectovesicalis, dan rectum. Ke lateral: di atas musculus
obturator internus dan di bawah muscults levator ani.
 Ke superior: cavitas peritonealis, lengkung ileum, dan colon sigmoideum.
 Ke inferior: prostata.
Pada Perempuan
Karena tidak ada prostata, vesica urinaria terletak lebih rendah di dalam
pelvis perempuan dibandingkan dengan pelvis laki -laki, dan collum vesicae
terletak langsung di atas diaphragm urogenitaie. Batas-batas antara vesica
urinaria dengan uterus dan vagina penting dipikirkan di klinik .
 Ke anterior: symphisis pubica, lemak retropubica, dan dinding anterior
abdomen. .
 Ke posterior: dipisahkan dari rectum oleh vagina.
 Ke lateral: di atas musculus obturator intemus dan di bawah musculus
levator ani. I Ke superior: excavatio uterovesicalis dan corpus uteri.
 Ke inferior: diaphragma urogenitale.
Perdarahannya Arteria vesicalis superior dan inferior, cabang-cabang
arteria iliaca interna. Vena-vena membentuk plexus venosus vesicalis, di
bawah berhubungan dengan plexus prostaticus; dan bermuara ke vena iliaca
interna. Persarafan vesica urinaria berasal dari plexushypogastricus inferior.
Serabut posganglionlk simpatik berasal dari ganglion lumbale pertama dan
kedua dan berjalan turun ke vesica urinaria melalui plexus hypogastricus.[3]

d. Urethra
Sistem urogenital laki-laki di Pelvis, dilihat dari kanan. Berbeda dengan
Urethra pada perempuan, Urethra laki-laki adalah saluran urin dan seksual.
Panjang Urethra pada laki-laki adalah sekitar 20 cm dan dapat dibagi
menjadi empat ruas, tiga tempat menyempit, serta tiga tempat melebar. Pars
intramuralis urethrae yang berjalan di dalam dinding kandung kemih tidak
diperlihatkan di sini. Berlainan dengan Urethra perempuan yang lurus,
Urethra laki-laki menunjukkan dua lengkungan, yaitu Curvatura infrapubica
dan Curvatura prepubica. Hal ini sangat penting untuk diketahui pada
kateterisasi kandung kemih transuretral. Sepanjang Urethra dibelah dan
ditampilkan tanpa Curvaturae. Dapat dikenali empat ruas Urethra masculina
di sini. Ruas yang terpanjang adalah Pars spongiosa. Urethra masculina
bersama Corpus spongiosum yang mencapai Ostium urethrae externum
pada Gians penis. Pars prostatica dapat benar-benar menyempit pada
pembesaran prostat yang benigna (hiperplasia prostat) . Kemudian, kandung
kemih sulit dikosongkan dengan baik. Pada akhir proses mikturasi, terjadi
penetesan urin, seringkali urin-sisa masih tertinggai di kandung kemih. Urin
sisa seringkali dapat menyebabkan peradangan (sering bakterial) pada
kandung kemih (cistitis).[2]

Muara uretra luar wanita (Ostium urethrae externum femininum)


Dilihat dari kaudal; untuk orientasi, Os pubis diperlihatkan (samar-samar).
Ostium urethrae externum terletak di antara Labia minora di sebelah ventral
Vagina. Meski letaknya yang begitu dekat dengan organ genital luar
perempuan, Urethra feminina secara eksklusif hanya merupakan saluran
urin. Namun, hubungan topografis yang erat antara Urethra dan organ
genital luar juga memiliki arti yang penting dalam rangka perkembangan
embrional: baik Urethra maupun Vagina pada awalnya berkembang dari
muara yang sama di daerah Sinus urogenitalis dan baru dipisahkan secara
sekunder. Bila pemisahan ini salah, dapat terjadi hubungan saluran non-
fisiologis (fistula) antara Vagina dan Urethra, yang dinamai sebagai Fistula
urethrovaginal. Meski perkembangan embriologisnya normal, kedekatan
Urethra (yang secara fisiologis steril) dengan Vagina (yang secara fisiologis
terkolonisasi bakteri) mempermudah peradangan Urethra (yang dicetuskan
oleh bakteri; uretritis), dan justru Urethra feminina yang pendek akan
memudahkan terjadinya peradangan kandung kemih (cystitis) secara
ascendens.[2]

3.2 Fisiologi sistem urinaria


Kebanyakan orang telah mengenal salah satu fungsi ginjal yang
penting untuk membersihkan tubuh dari bahan-bahan sisa makanan atau
yang diproduksi oleh metabolisme. Fungsi kedua merupakan fungsi yang
sangat penting, yaitu untuk mengontrol volume dan komposisi cairan tubuh.
Untuk air dan hampir semua elektrolit dalam tubuh, keseimbangan antara
asupan (hasil dari makanan atau produksi metabolik) serta keluaran (hasil
dari ekskresi atau konsumsi metabolik) sebagian besar dipertahankan oleh
ginjal. Fungsi pengaturan oleh ginjal ini mempertahankan kestabilan
lingkungan dalam yang diperlukan sel untuk melakukan berbagai
aktivitasnya. Ginjal melakukan fungsinya yang paling penting dengan cara
menyaring plasma dan memisahkan zat dari filtrat dengan kecepatan yang
bervariasi, bergantung pada kebutuhan tubuh. Akhirnya, ginjal "membuang"
zat-zat yang tidak diinginkan dari filtrat (dan karena itu dari darah) dengan
cara mengekskresikannya ke dalam urine, sementara zat yang dibutuhkan
dikembalikan ke dalam darah.
Ginjal melakukan fungsi-fungsi spesifik berikut, yang sebagian besar di
antaranya membantu mempertahankan stabilitas lingkungan cairan internal:
1.Mempertahankan keseimbangan air (H20) di tubuh.
2. Mempertahankan osmolaritas cairan tubuh yang sesuai, terutama melalui
regulasi keseimbangan H20. Fungsi ini penting untuk mencegah fluks-fluks
osmotik masuk atau keluar sel, yang masing-masing dapat menyebabkan
pembengkakan atau penciutan sel yang merugikan.
3. Mengatur jumlah dan konsentrasi sebagian besar ion CES, termasuk
natrium (Na+), ldorida (C1-), kallum (K+), kalsium (Ca2+), ion hidrogen
(H+), bikarbonat (HCO3-), fosfat (P043-), sulfat (S042-), dan magnesium
(Mg2+). Fluktuasi kecil konsentrasi sebagian elektrolit ini dalam CES
bahkan dapat berpengaruh besar. Sebagai contoh, perubahan konsentrasi K+
CES dapat menyebabkan disfungsi jantung yang dapat mematikan .
4. Mempertahankan volume plasma yang tepat, yang penting dalam
pengaturan jangka-panjang tekanan darah arteri. Fungsi ini dilaksanakan
melalui peran regulatorik ginjal dalam keseimbangan garam (NaC1) dan
H20.
5. Membantu mempertahankan keseimbangan asam-basa tubuh yang tepat
dengan menyesuaikan pengeluaran H+ dan HCO3- di urine.
6. Mengeluarkan (mengekskresikan) produk-produk akhir (sisa)
metabolisme tubuh, misalnya urea (dari protein), asam urat (dari asam
nuldeat), kreatinin (dari kreatin otot), bilirubin (dari hemoglobin), dan
hormon metabolit. Jika dibiarkan menumpuk, banyak bahan-bahan sisa ini
bersifat toksik, terutama bagi otak.
7.Mengekskresikan banyak senyawa asing, misalnya obat, aditif makanan,
pestisida, dan bahan eksogen non-nutritif lain yang masuk ke tubuh.
8. Menghasilkan eritropoietin, suatu hormon yang merangsang produksi sel
darah merah.
9. Menghasilkan renin, suatu hormon enzimatik yang memicu suatu reaksi
berantai yang penting dalam konservasi garam oleh ginjal
10.Mengubah vitamin D menjadi bentuk aktifnya.[4]

Transpor Urine dari Ginjal melalui Ureter Menuju Kandung Kemih


Urine yang dikeluarkan dari kandung kemih pada dasarnya
memiliki komposisi yang sama dengan cairan yang mengalir keluar dari
duktus koligens; tidak ada perbedaan komposisi urine yang bermakna
selama urine mengalir melalui kalises ginjal dan ureter menuju ke kandung
kemih. Urine mengalir dari duktus koligens menuju kalises ginjal. Urine
meregangkan kalises dan meningkatkan aktivitas pacemaker yang ada, yang
kemudian akan memicu kontraksi peristaltik yang menyebar ke pelvis ginjal
dan ke arah bawah di sepanjang ureter, dengan demikian memaksa urine
mengalir dari pelvis ginjal ke arah kandung kemih. Pada orang dewasa,
ureter normal panjangnya 25 sampai 35 cm (10 sampai 14 inci). Dinding
ureter terdiri atas otot polos yang dipersarafi oleh saraf simpatis dan
parasimpatis serta pleksus neuron dan serat saraf intramural sepanjang
ureter. Seperti otot polos viseral lainnya, kontraksi peristaltik pada ureter
diperkuat oleh rangsang parasimpatis dan dihambat oleh rangsang simpatis.
Ureter memasuki kandung kemih melalui otot detrusor di dalam area
trigonum kandung kemih. Biasanya, ureter berjalan miring sepanjang
beberapa sentimeter ketika melewati dinding kandung kemih. Tonus normal
otot detrusor di dalam kandung kemih cenderung akan menekan ureter,
dengan demikian mencegah aliran balik (refluks) urine dan kandung kemih
ketika tekanan di dalam kandung kemih meningkat selama miksi atau
selama kompresi kandung kemih. Setiap gelombang peristaltik di sepanjang
ureter meningkatkan tekanan di dalam ureter sehingga daerah yang menuju
kandung kemih membuka dan memungkinkan aliran urine ke dalam
kandung kemih. Pada beberapa orang, jarak yang ditempuh ureter di dalam
dinding kandung kemih lebih pendek dari normal, sehingga kontraksi
kandung kemih selama miksi tidak selalu menyebabkan oklusi ureter yang
lengkap. Sebagai akibatnya, sebagian urine dalam kandung kemih didorong
ke belakang ke arah ureter, kondisi ini disebut refluks vesikoureter. Refluks
semacam ini dapat menyebabkan pembesaran ureter dan, jika berat, dapat
meningkatkan tekanan dalam kalises ginjal dan struktur medula ginjal,
menyebabkan kerusakan di daerah ini. engisian Kandung Kemih dan Tonus
Dinding Kandung Kemih; Sistometrogram memperlihatkan perkiraan
perubahan tekanan intravesikular sewaktu kandung kemih terisi dengan
urine. Pada saat tidak ada urine di dalam kandung kemih, tekanan
intravesikularnya sekitar 0, tetapi setelah terisi urine sebanyak 30 sampai 50
ml, tekanan meningkat menjadi 5 sampai 10 cm H2O. Tambahan urine
sebanyak 200 sampai 300 ml hanya sedikit menambah peningkatan tekanan;
nilai tekanan yang konstan ini disebabkan oleh tonus intrinsik pada dinding
kandung kemih sendiri. Bila urine yang terkumpul di dalam kandung kemih
lebih banyak dari 300 sampai 400 ml, baru menyebabkan peningkatan
tekanan secara cepat. Tumpang tindih pada kurva perubahan tekanan tonik
selama pengisian kandung kemih adalah peningkatan tekanan akut periodik
yang terjadi selama beberapa detik hingga lebih dari semenit. Puncak
tekanan dapat meningkat hanya beberapa cm H2O, atau mungkin meningkat
hingga lebih dari 100 cm H2O. Puncak tekanan ini disebut gelombang miksi
pada sistometogram dan disebabkan oleh refleks miksi.
Refleks Miksi
Lihat kembali Gambar 26-8, seiring dengan pengisian kandung kemih,
tampak tumpang tindih kurva peningkatan kontraksi miksi, seperti yang
ditunjukkan oleh kurva berbentuk runcing terputus-putus. Kontraksi ini
dihasilkan dari refleks regang yang dipicu oleh reseptor regang sensorik di
dalam dinding kandung kemih, terutama oleh reseptor di uretra posterior
ketika daerah ini mulai terisi dengan urine pada tekanan kandung kemih
yang lebih tinggi. Sinyal sensorik dari reseptor regang kandung kemih
dikirimkan ke segmen sakralis dari medula spinalis melalui nervus pelvikus,
dan kemudian dikembalikan secara refleks ke kandung kemih melalui serat
saraf parasimpatis dengan menggunakan persarafan yang sama. Bila
kandung kemih hanya terisi sebagian, kontraksi miksi ini biasanya akan
berelaksasi secara spontan dalam waktu kurang dari semenit, otot detrusor
berhenti berkontraksi, dan tekanan turun kembali ke nilai dasar. Ketika
kandung kemih terus terisi, refleks miksi menjadi semakin sering dan
menyebabkan kontraksi otot detrusor yang lebih kuat. Sekali refleks miksi
dimulai, refleks ini bersifat regenerasi sendiri." Artinya, kontraksi awal
kandung kemih akan mengaktifkan reseptor regang yang menyebabkan
peningkatan impuls sensorik yang lebih banyak dari kandung kemih dan
uretra posterior, sehingga menyebabkan peningkatan refleks kontraksi
kandung kemih selanjutnya; jadi, siklus ini akan berulang terus-menerus
sampai kandung kemih mencapai derajat kontraksi yang cukup kuat.
Kemudian, setelah beberapa detik sampai lebih dari semenit, refleks yang
beregenerasi sendiri ini mulai kelelahan dan siklus regeneratif pada refleks
miksi menjadi terhenti, memungkinkan kandung kemih berelaksasi. Jadi,
refleks miksi merupakan siklus yang lengkar; yang terdiri atas (1) kenaikan
tekanan secara cepat dan progresif, (2) periode tekanan menetap, dan (3)
kembalinya tekanan kandung kemih ke nilai tonus basal. Bila refleks miksi
yang telah terjadi tidak mampu mengosongkan kandung kemih, persarafan
pada refleks ini biasanya akan tetap dalam keadaan terinhibisi selama
beberapa menit hingga 1 jam atau lebih,sebelum terjadi refleks miksi
berikutnya. Bila kandung kemih terus-menerus diisi, akan terjadi refleks
miksi yang semakin sering dan semakin kuat. Bila refleks miksi sudah
cukup kuat, akan memicu refleks lain yang berjalan melalui nervus
pudendus ke sfingter eksterna untuk menghambatnya. Jika inhibisi ini lebih
kuat di dalam otak daripada sinyal konstriktor volunter ke sfingter eksterna,
maka akan terjadi pengeluaran urine. Jika tidak, pengeluaran urine tidak
akan terjadi hingga kandung kemih terus terisi dan refleks miksi menjadi
lebih kuat lagi.

Fasilitasi atau Inhibisi Proses Miksi oleh Otak Refleks


miksi adalah refleks medula spinalis yang bersifat otonom, tetapi dapat
dihambat atau difasilitasi oleh pusat di otak. Pusat ini meliputi (1) pusat
fasilitasi dan inhibisi kuat di batang otak, terutama terletak di pons, dan (2)
beberapa pusat yang terletak di korteks serebri yang terutama bersifat
inhibisi tetapi dapat berubah menjadi eksitasi. Refleks miksi merupakan
penyebab dasar berkemih, tetapi biasanya pusat yang lebih tinggi yang akan
melakukan kendali akhir untuk proses miksi sebagai berikut. 1. Pusat yang
lebih tinggi menjaga agar refleks miksi tetap terhambat sebagian, kecuali
bila miksi diinginkan. 2. Pusat yang lebih tinggi dapat mencegah miksi,
bahkan jika terjadi refleks miksi, dengan cara sfingter kandung kemih
eksterna melakukan kontraksi tonik hingga saat yang tepat datang. 3. Jika
waktu berkemih tiba, pusat kortikal dapat memfasilitasi pusat miksi sakral
untuk membantu memulai refleks miksi dan pada saat yang sama
menghambat sfingter eksterna sehingga pengeluaran urine dapat terjadi.
Pengeluaran urine secara volunter biasanya dimulai dengan cara berikut:
Mula-mula, orang tersebut secara volunter mengontraksikan otot perutnya,
yang akan meningkatkan tekanan di dalam kandung kemih dan
memungkinkan urine tambahan memasuki leher kandung kemih dan uretra
posterior akibat tekanan, sehingga meregangkan dindingnya. Hal ini
memicu reseptor regang, yang mencetuskan refleks miksi dan sekaligus
menghambat sfingter uretra eksterna. Biasanya, seluruh urine akan
dikeluarkan, dan menyisakan tidak lebih dari 5 sampai 10 ml urine di dalam
kandung kemih.[5] Selama berkemih, refleks penyimpanan tulang belakang
ini ditekan oleh input dari otak, sementara jalur parasimpatis di otak
diaktifkan untuk menghasilkan kontraksi kandung kemih dan relaksasi
uretra. Komponen utama dari rangkaian switching miksi adalah jalur
parasimpatis spinobulbospinal yang terdiri dari sirkuit relai esensial di pusat
miksi berkisi abu-abu dan pontine periaqueductal. Sirkuit ini di batang otak
rostral, pada gilirannya, diatur oleh input dari otak depan yang memediasi
kontrol sukarela berkemih. Dengan demikian kontrol saraf terhadap miksi
diatur sebagai sistem hierarkis di mana refleks penyimpanan tulang
belakang dan refleks supraspinal diatur secara sukarela oleh pusat yang
lebih tinggi di otak.[6]

Kontrol volunter berkemih


pengisian kandung kemih juga menyadarkan yang bersangkutan
akan keinginan untuk berkemih. Persepsi penuhnya kandung kemih
muncui sebelum sfingter eksternus secara refleks melemas, memberi
peringatan bahwa miksi akan segera terjadi. Jika waktu refleks miksi
tersebut dimulai kurang sesuai untuk berkemih, maka yang
bersangkutan dapat dengan sengaja mencegah pengosongan kandung
kemih dengan mengencangkan sfingter eksternus dan diafragma pelvis.
Impuls eksitatorik volunter dari korteks serebri mengalahkan sinyal
inhibitorik refleks dari reseptor regang ke neuron-neuron motorik yang
terlibat (keseimbangan relative PPE dan PPI) sehingga otot-otot ini
tetap berkontraksi dan tidak ada urin yang keluar. Berkemih tidak dapat
ditahan selamanya. Karena kandung kemih terus terisi maka sinyal
refleks dari reseptor regang meningkat seiring waktu. Akhirnya, sinyal
inhibitorik refleks ke neuron motorik sfingter eksternus menjadi
sedemikian kuat sehingga tidak lagi dapat diatasi oleh sinyal eksitatorik
volunter sehingga sfingter melemas dan kandung kemih secara tak
terkontrol mengosongkan isinya.

Tiga proses dasar di ginjal adalah filtrasi glomerulus, reabsorpsi


tubulus, dan sekresi tubulus.
Tiga proses dasar terlibat dalam pembentukan urine: filtrasi
glomerulus, reabsorpsi tubulus, dan sekresi tubulus.
FILTRASI GLOMERULUS Sewaktu darah mengalir melalui glomerulus,
plasma bebas-protein tersaring melalui kapiler glomerulus ke dalam kapsula
Bowman. Dalam keadaan normal, 20% plasma yang masuk ke glomerulus
tersaring. Proses ini, dikenal sebagai filtrasi glomerulus, adalah langkah
pertama dalam pembentukan urine. Secara rerata, 125 mL filtrat glomerulus
(cairan yang difiltrasi) terbentuk secara kolektif melalui seluruh glomerulus
setiap menit. Jumlah ini sama dengan 180 liter (sekitar 47,5 galon) setiap
hari. Dengan mempertimbangkan bahwa volume rerata plasma pada orang
dewasa adalah 2,75 liter, hal ini berarti bahwa ginjal menyaring keseluruhan
volume plasma sekitar 65 kali sehari. Jika semua yang difiltrasi keluar
sebagai urine, semua plasma akan menjadi urine dalam waktu kurang dari
setengah jam! Namun, hal ini tidak terjadi karena tubulus ginjal dan kapiler
peritubulus berhubungan erat di seluruh panjangnya, sehingga bahan-bahan
dapat dipertukarkan antara cairan di dalam tubulus dan darah di dalam
kapiler peritubulus.
REABSORPSI TUBULUS
Sewaktu filtrat mengalir melalui tubulus, bahan-bahan yang bermanfaat
bagi tubuh dikembalikan ke plasma kapiler peritubulus. Perpindahan selektif
bahan-bahan dari bagian dalam tubulus (lumen tubulus) ke dalam darah ini
disebut reabsorpsi tubulus. Bahan-bahan yang direabsorpsi tidak keluar dari
tubuh melalui urine tetapi dibawa oleh kapiler peritubulus ke sistem vena
dan kemudian ke jantung untuk diresirkulasi. Dari 180 liter plasma yang
disaring per hari, 178,5 liter, secara rerata, direabsorpsi. Sisa 1,5 liter di
tubulus mengalir ke dalam pelvis ginjal untuk dikeluarkan sebagai urine.
Secara umum, bahan-bahan yang perlu dikonservasi oleh tubuh secara
selektif direabsorpsi, sementara bahan-bahan yang tidak dibutuhkan yang
harus dikeluarkan tetap berada di urine. karenanya dipertahankan di dalam
tubuh dan tidak diekskresikan di urine, meskipun mengalir melewati ginjal.
SEKRESI TUBULUS Proses ginjal ketiga, sekresi tubulus, adalah
pemindahan selektif bahan-bahan dari kapiler peritubulus ke dalam lumen
tubulus. Proses ini adalah rute kedua bagi bagi masdifiltrasi sama sekali,
masuk ke darah vena dari kapiler peritubulus dan karenanya dipertahankan
di dalam tubuh dan tidak diekskresikan di urine, meskipun mengalir
melewati ginjal[5] .

3.3 embriologi sistem urinaria


Sistem Ginjal Selama kehidupan intrauterin, pada manusia terbentuk tiga
sistem ginjal yang sedikit tumpangtindih dalam urutan dari kranial-ke-
kaudal: pronefros, mesonefros dan metanefros. Pronefros bersifat
rudimenter dan non-fungsional; mesonefros mungkin berfungsi dalam
jangka pendek selama awal kehidupan janin; metanefros membentuk ginjal
permanen.
Pronefros
Diawal minggu keempat, pronefros terdiri dari 7-10 kelompok sel
padat di regio servika. Kelompok ini membentuk unit ekskretorik vestigial,
nefrotom, yang mengalami regresi sebelum kelompok yang terletak lebih ke
kaudal terbentuk. Pada akhir minggu keempat, semua tanda adanya sistem
pronefros telah lenyap.
Mesonefros
Mesonefros dan duktus mesonefrikus berasal dari mesoderm
intermediet dari segmen atas toraks hingga segmen atas lumbal (L3) . Di
awal minggu keempat perkembangan, selama regresi sistem pronefros,
muncul tubulus ekskretorik pertama pada sistem mesonefros. Tubulus-
tubulus ini memanjang dengan cepat, membentuk lengkung berbentuk S,
dan mendapat berkas kapiler yang akan membentuk sebuah glomerulus di
ekstremitas medialnya . Di sekitar glomerulus, tubulus membentuk kapsula
Bowman, dan bersama-sama, struktur ini membentuk korpuskulum renis.
Di lateral, tubulus masuk ke duktus koligens (collecting duct) longitudinal
yang dikenal sebagai duktus mesonefrikus atau duktus Wolffii. Di
pertengahan bulan kedua, mesonefros membentuk organ ovoid besar di
kedua sisi garis tengah. Karena gonad yang sedang berkembang terletak di
sisi medial, bubungan yang terbentuk oleh kedua organ dikenal sebagai
urogenital ridge (bubungan urogenital). Sementara tubulus kaudal masih
berdiferensiasi, tubulus kranial dan glomerulus menunjukkan perubahan
degeneratif, dan pada akhir bulan kedua, sebagian besar telah lenyap. Pada
pria, beberapa tubulus kaudal dan duktus mesonefrikus menetap dan ikut
dalam pembentukan sistem genitalia, tetapi strukturstruktur ini menghilang
pada wanita.
Metanefros: Ginjal Definitif
Organ urinarium ketiga, metanefros atau ginjal permanen, muncul
di minggu kelima. Unit ekskretoriknya dibentuk dari mesoderm metanefros
dengan cara yang sama seperti pada sistem mesonefros. Perkembangan
sistem duktusnya berbeda dengan sistem ginjal lainnya.

b. Sistem Ureter
Sistem Pengumpul Duktus koligens pada ginjal permanen dibentuk dari
tunas ureter, suatu pertumbuhan keluar dari duktus mesonefrikus di dekat
muaranya ke kloaka. Tunas ini menembus jaringan metanefros, yang ujung
distalnya terbentuk seperti topi. Kemudian, tunas ini melebar, membentuk
pelvis renalis primitif, dan terbelah menjadi bagian kranial dan kaudal, yaitu
bakal kaliks mayor. Setiap kaliks membentuk dua tunas baru sambil
menembus jaringan metanefros. Tunas ini terus membelah hingga terbentuk
12 generasi tubulus atau lebih. Sementara itu, di perifer, lebih banyak
tubulus yang terbentuk hingga akhir bulan kelima. Tubulus-tubulus ordo
kedua membesar dan menyerap tubulus generasi ketiga dan keempat,
membentuk kaliks minor pelvis renalis. Selama perkembangan selanjutnya,
tubuli koligentes (collecting tubules) pada generasi kelima dan berikutnya
memanjang dan berkumpul di kaliks minor, membentuk piramis renalis.
Tunas ureter membentuk ureter, pelvis renalis, kaliks mayor dan minor, dan
sekitar 1-3 juta tubuli koligentes.

C Kandung Kemih dan Uretra


Selama minggu keempat hingga ketujuh perkembangan, kloaka
terbagi menjadi sinus urogenitalis di anterior dan kanalis analis di posterior.
Septum urorektale adalah lapisan mesoderm di antara kanalis analis primitif
dan sinus urogenitalis. Ujung septum akan membentuk korpus perineale.
Dapat dikenali adanya tiga bagian sinus urogenitalis: bagian atas dan
terbesar adalah kandung kemih. Pada awalnya, kandung kemih
bersambungan dengan alantois, tetapi ketika lumen muara duktus-duktus
mesonefrikus bergerak saling mendekat untuk masuk ke uretra pars
prostatika dan pada pria menjadi duktus ejakulatorius. Karena duktus
mesonefrikus dan ureter berasal dari mesoderm, mukosa kandung kemih
yang dibentuk oleh penyatuan duktusduktus ini (trigonum kandung kemih)
juga berasal dari mesoderm. Seiring dengan waktu, lapisan mesoderm
trigonum digantikan oleh epitel endoderm, sehingga pada akhirnya, bagian
dalam kandung kemih sepenuhnya dilapisi dengan epitel endoderm. alantois
mengalami obliterasi, sebuah korda fibrosa yang tebal, urakus, menetap dan
menghubungkan apeks kandung kemih dengan umbilikus. Pada orang
dewasa, urakus membentuk ligamentum umbilikale medianum. Bagian
selanjutnya adalah saluran yang agak sempit, bagian pelvis sinus
urogenitalis, yang pada pria membentuk uretra pars prostatika dan pars
membranasea. Bagian terakhir adalah bagian phallus sinus urogenitalis.
Bagian ini memipih dari satu ke sisi lainnya, dan seiring dengan
pertumbuhan tuberkulum genitale, bagian sinus ini akan tertarik ke ventral.
(Perkembangan bagian phallus sinus urogenitalis sangat berbeda pada kedua
jenis kelamin). Selama diferensiasi kloaka, bagian kaudal duktus
mesonefrikus terserap ke dalam dinding kandung kemih. Akibatnya, kedua
ureter, yang pada awalnya tumbuh keluar dari duktus mesonefrikus, masuk
ke kandung kemih secara terpisah. Akibat naiknya ginjal, muara ureter
bergerak lebih jauh ke arah kranial; Epitel uretra pada kedua jenis kelamin
berasal dari endoderm; jaringan ikat dan otot polos di sekitarnya berasal dari
mesoderm viseral. Di akhir bulan ketiga, epitel uretra pars prostatika mulai
berproliferasi dan membentuk sejumlah pertumbuhan keluar yang
menembus mesenkim di sekitar. Pada pria, tunas-tunas ini membentuk
kelenjar prostat Pada wanita, bagian kranial uretra membentuk kelenjar
uretra dan parauretra.[7]
3.4 Biokimia sistem urinaria
Pengaturan keseimbangan air tergantung pada mekanisme
hipotalamus yang mengatur haus, pada hormon antidiuretik (ADH).
Hormon antidiuretik (ADH) adalah hormon yang dikeluarkan oleh lobus
posterior hipofisis kelenjar, di otak. ADH bergerak dalam darah dan
mencapai organ targetnya, ginjal. Dan itu adalah hormon kunci dalam tubuh
manusia yang melayani fungsi fisiologis penting seperti homeostasis
keseimbangan cairan dan regulasi respons stres endokrin. Dua dasar fungsi
ADH, yang pertama, adalah untuk meningkatkan jumlah air bebas zat
terlarut yang diserap kembalike dalam sirkulasi dari filtrat di tubulus ginjal
nefron. Kedua, fungsinya adalah bahwa ADH mempersempit arteri, yang
meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan meningkatkan tekanan
darah arteri.[8]
Fungsi homeostasis ginjal melalui 3 proses pembentukan urin
yaitu:
1. Filtrasi plasma oleh Glomerulus.
2. Reabsorpsi selektif zat : garam, air, gula sederhana dan asam amino
lingkungan internal atau mempertahankan proses metabolisme.
3. Sekresi :
a. Zat-zat dari darah ke dalam lumen tubulus untuk diekskresi dalam
urin
b. Pembentukan H+ dan NH4+ untuk menahan basa (mempertahankan
buffer darah).
c. Penahanan kalium, asam urat, anion organik, ion hidrogen.
Struktur nefron meliputi 3 unit proses filtrasi yaitu melalui
mekanisme darah dari aorta ke arteria renalis ke arteriole afferen selanjutnya
bergabung membentuk arteriole efferen (mampu mengubah diameter
lumennya) menuju jaringan kapiler yang mengelilingi nefro. Kapsula
Bowman terdapat jumbai glomerulus ke tubulus kontortus proksimal ke
tubulus rektus proksimal dan lengkung Henle (pars descendens, pars
ascendens tipis dan pars ascendens tebal), yang terletak di medula dan
kortek ginjal. Pars ascendens tebal ke tubulus kontortus distal, tubulus
koligens kortikal dan tubulus koligen medula dan papila.
Proses filtrasi plasma darah, diketahui volume darah masuk ke ginjal
+1L/menit 20- 25% Curah jantung istirahat dengan waktu 4-5 menit seluruh
darah melalui ginjal, bersirkulasi ginjal secara luas sehingga menyebabkan
ginjal mudah rusak. Tenaga filtrasi diperoleh melalui tekanan hidrostatik
jantung serta tekanan intratubuler dan tekanan onkotik yang berasal dari
tekanan ginjal yang sifatnya berlawanan.
Bila terjadi perubahan tekanan darah akan terjadi perubahan tonus arteriole
fferent dan tekanan hidrostatik kapiler tetap normal hal ini merupakan reaksi
autoregulasi. Autoregulasi diatur oleh sistem saraf intrinsic dan faktor-faktor
hormonal yaitu angiotensin II, prostaglandin intrarenal (Pg) dan vasopresin
dari hipofisa posterior. Bila tekanan darah rendah sekali maka tekanan
filtrasi (berhenti sama sekali) menyebabkan anuria. Bila tekanan darah naik
lagi akan terjadi filtrasi lagi dan pembentukan urin.[9]
3.5 Histologi sistem urinaria
GINJAL
Sistem urinarius terdiri atas dua ren (ginjal), dua ureter yang menuju ke satu
kandung kemih ( vesica urinaria), dan satu uretra (urethra). Ginjal adalah
organ besar bentuk kacang yang letaknya retroperitoneal pada dinding
posterior tubuh. Di atas setiap ginjal terdapat kelenjar adrenal (glandula
suprarenalis ) yang terbenam di dalam lemak dan jaringan ikat ginjal. Batas
medial ginjal yang cekung adalah hilum, yang terdiri atas 3 bangunan besar,
yaitu Arteri renalis , vena renalis dan pelvis renalis bentuk corong. Struktur
ini dikelilingi oleh jaringan ikat longgar dan rongga berisi lemak yang di
sebut sinus renalis .
Setiap ginjal dilapisi oleh kapsul jaringan ikat padat tidak teratur.
Irisan sagital ginjal menunjukkan korteks yang lebih gelap di bagian luar,
dan medula yang lebih terang di bagian dalam, yang terdiri atas banyak
pyramid renales bentuk kerucut. Basis setiap piramid menghadap ke kor
teks dan membentuk batas kortikomedularis. Apeks setiap piramid yang
bulat meluas ke arah pelvis renalis untuk membentuk papilla renales
Sebagian korteks juga meluas ke masing-masing sisi piramid ginjal untuk
membentuk kolumna renalis
Setiap papila renalis dikelilingi oleh calyx minor bentuk corong, yang
mengumpulkan urin dari papila. Kaliks minor bergabung di sinus renalis
membentuk calyx major , Kaliks mayor, selanjutnya, bergabung membentuk
pelvis renalis bentuk corong yang lebih besar. Pelvis renalis keluar dari
ginjal melalui hilum, menyempit menjadi ureter yang berotot, dan turun ke
arah kandung kemih di masing-masing sisi dinding tubuh posterior.

Tubulus Uriniferus Dan Nefron Ginjal


Unit fungsional setiap ginjal adalah tubulus uriniferus mikroskopik.
Tubulus ini terdiri atas nefron (nephronum) dan duktus koligens (ductus
colligens) yang menampung curahan dari nefron. Jutaan nefron terdapat
disetiap korteks ginjal. Nefron, selanjutnya, terbagi lagi menjadi dua
komponen, korpuskulum ginjal (corpusculum renale) dan tubulus ginjal
(tubulus renalis). Terdapat dua jenis nefron. Nefron kortikal (nephonum
corticale ) terletak di korteks ginjal, nefron jukstamedularis (nephronum
juxtamedullare) terdapat di dekat perbatasan korteks dan medula ginjal.
Meskipun semua nefron berperan dalam pembentukan urin, namun
nefron jukstamedularis membuat kondisi hipertonik di interstisium
medula ginjal yang menyebabkan produksi urin yang pekat (hipertonik).
Korpuskulum ginjal
Korpuskulum ginjal terdiri atas suatu kumpulan kapiler yang
disebut glomerulus, dikelilingi oleh dua lapis sel epitel, yaitu kapsul
glomerulus, stratum viscerale atau lapisan dalam (paries internus) kapsul
terdiri atas sel epitel khusus bercabang, yaitu padosit (podocytus) , Podosit
berbatasan dan membungkus kapiler glomerulus. Srtatum parietale atau
lapisan luar (paries externus) kapsul glomerulus terdiri atas epitel selapis
gepeng.
Korpuskulum ginjal adalah segmen awal setiap nefron. Darah
disaring di korpuskulum ginjal melalui kapiler-kapiler di glomerulus, dan
filtrat masuk ke spatium capsulare ( urinarium ) yang terletak di antara
stratum parietale dan viscerale kapsul glomerulus. Setiap korpuskulum
ginjal mempunyai polus vascularis, tempat masuknya arteriol aferen dan
keluarnya arteriol eferen dari korpuskulum. Di ujung berlawanan dari
korpuskulum ginjal yaitu polus urinarius. Filtrat dihasilkan oleh glomerulus
yang masuk ke spatium capsulare meninggalkan korpuskulum ginjal di
polus urinarius , tempat tubulus kontortus proksimal berawal. Filtrasi darah
di korpuskulum ginjal difasilitasi oleh endotel glomerulus. Endotel di
kapiler glomerulus adalah berpori (berfenestra) dan sangat permeabel
terhadap banyak substansi di dalam darah, kecuali elemen darah yang
terbentuk atau protein plasma. Karena itu, filtrat glomerulus yang masuk ke
spatium capsulare bukanlah urin, melainkan ultrafiltrat yang mirip dengan
plasma, kecuali tidak mengandung protein.
Tubulus Ginjal
Filtrasi glomerulus keluar dari korpuskulum ginjal di polus
urinarius dan mengalir melalui berbagai bagian nefron sebelum sampai di
tubulus ginjal yaitu tubulus koligens dan duktus koligens. Filtrat glomerulus
mulamula masuk ke tubulus ginjal, yang terbentang dari kapsul glomerulus
sampai tubulus koligens. Tubulus ginjal ini memiliki beberapa bagian
histologik dan fungsional yang berbeda. Bagian tubulus ginjal yang berawal
di korpuskulum ginjal sangat berkelok atau melengkung dan oleh karena itu
disebut tubulus kontortus proksimal ( tubulus proximalis pars convulata )
Awalnya, tubulus ini terletak di korteks, tetapi selanjutnya turun ke dalam
medula untuk menjadi ansa Henle. Ansa henle ( tubulus distalis pars
convolata )terdiri dari beberapa bagian: bagian desendens yang tebal di
tubulus kontortus proksimal; segmen asendens dan desenden yang tipis; dan
bagian asendens yang tebal yang disebut tubulus kontortus distal ( tubulus
distalis pars convulata ). Tubulus kontortus distal lebih pendek dan tidak
begitu berkelok dibandingkan tubulus kontortus proksimal, dan tubulus ini
naik ke dalam korteks ginjal. Karena tubulus kontortus proksimal lebih
panjang daripada tubulus kontortus distal, tubulus ini lebih sering terlihat di
dekat korpuskulum ginjal dan korteks ginjal. Filtrat glomerulus kemudian
mengalir dari tubulus kontortus distal tubulus koligens. Di nefron
jukstamedularis, ansa Henle sangat panjang; saluran ini turun dari korteks
ginjal jauh ke dalam medula dan kemudian melengkung balik untuk naik ke
korteks . Tubulus koligens bukan merupakan bagian nefron. Sejumlah
tubulus koligens pendek bergabung membentuk beberapa duktus koligens
yang lebih besar. Sewaktu duktus koligens semakin besar danturun ke arah
papilla medula, duktus ini disebut duktus papilaris (ductus papillaris).
Duktus koligens yang lebih kecil dilapisi oleh epitel kuboid terpulas-pucat.
Jauh di dalam medula, epiteldi duktus ini berubah menjadi silindris. Di
ujung setiap papila, duktus papilaris mengalirkan isinya ke dalam kaliks
minor. Daerah di papila yang memperlihatkan lubang di duktus papilaris
yaitu area kribrosa. Korteks ginjal juga memperlihatkan banyak radius
medullaris (medullary ray) terpulas-pucat yang berjalan vertikal dari basis
piramid (basis pyramidis) menuju korteks. Radius medullaris terutama
terdiri dari duktus koligens, pembuluh darah, dan bagian lurus dari sejumlah
nefron yang menembus korteks dari basis piramid.
Aliran Darah Ginjal
Untuk memahami korelasi fungsional ginjal, aliran darah ke organ
ini perlu dipahami. Setiap ginjal dipasok oleh arteri renalis yang bercabang
di hilus menjadi beberapa cabang segmental, yang bercabang menjadi
beberapa arteri interlobaris. Arteri interlobaris berlanjut di ginjal di antara
piramid ke arah korteks. Di taut kortikomedular, arteri interlobaris
bercabang menjadi arteri arkuata, yang melengkung di basis piramid dan
membentuk arteri interlobularis. Pembuluh darah ini bercabang lagi menjadi
arteriol aferen, yang membentuk kapiler di glomeruli korpuskulum ginjal.
Arteriol eferen meninggalkan korpuskulum ginjal dan membentuk kompleks
anyaman kapiler peritubular di sekitar tubulus di korteks dan pembuluh
kapiler lurus yang panjang atau vasa rekta di medula yang melengkung balik
ke daerah kortikomedular. Vasa rekta membentuk lengkung yang sejajar
dengan ansa Henle. Interstisium dialiari oleh vena interlobularis yang
berlanjut ke vena arkuata.

Ginjal adalah organ vital untuk mempertahankan lingkungan internal tubuh


yang stabil, atau homeostasis. Fungsi ini dilakukan dengan mengatur
tekanan darah, komposisi dan pH darah, volume cairan, dan keseimbangan
asam-basa. Ginjal juga menghasilkan urine, yang terbentuk di ginjal sebagai
akibat dari tiga fungsi utama: filtrasi darah diglomeruli, reabsorpsi nutrien
dan zat bermanfaat lainnya dari filtrat yang masuk ke tubulus kontortus
proksimal dan distal, dan sekresi atau ekskresi prosuk sisa metabolik aau
bahan kimiawi atau zat yang tidak dibutuhkan ke dalam filtrat. Sekitar 99%
filtrat glomerulus dihasilkan oleh ginjalyng masuk ke tubulus direabsorpsi
ke dalam sistem di nefron; 1% filtrat yang tersisa masuk ke kandung kemih
dan dikeluarkan sebagai urine. Selain itu, sel-sel ginjal menghasilkan dua
bahan penting, enzim renin dan glikoprotein eritropoietin. Renin
mengatur tekanan darah untuk mempertahankan tekanan filtrasi yang sesuai
di glomeruli ginjal. Eritropoietin dianggap dihasilkan dan dikeluarkan oleh
sel endotel anyaman kapiler peritubular, merangsang pembentukan eritrosit
di sumsum tulang merah.[10]
URETER, KANDUNG KEMIH, & URETHRA
Urine diangkut oleh ureter dari pelvis ginjal ke kandung kemih
disimpan sampai dikeluarkan selama miksi melalui uretra. Kaliks, pelvis
renalis, ureter dan kandung kemih memiliki struktur dasar histologis yang
sama dengan dinding yang semakin tebal saat mendekati kandung kemih.
Mukosa organ-organ ini dilapisi oleh epitel transisional unik berlapis atau
urothelium. Sel-sel epitel ini diselenggarakan sebagai tiga lapisan: Selapis
sel basal yang terletak pada membran basal yang sangat tipis, Regio
peralihan yang terdiri atas satu atau beberapa lapis sel yang lebih kolumnar ,
Sebuah lapisan superfisial sel bulbosa polihedral yang sangat besar yang
disebut umbellocytus (umbrella cell) yang terkadang berinti dua atau
multinuklear dan sangat terdiferensiasi melindungi sel-sel di bawahnya dari
efek sitotoksik urine hipertonik. Umbellocytus khususnya berkembang baik
dalam kandung kemih di mana kontak dengan urine paling mencolok. Sel-
sel tersebut, berdiameter hingga 100 μm, memiliki kompleks taut antarsel
yang luas dan mengelilingi membran apikal yang unik. Sebagian besar
permukaan apikal terdiri atas membran unit asimetris dengan area lapisan
lipid luar yang tampak dua kali lebih tebal daripada lapisan di dalam. Regio
tersebut merupakan rakit lipid (lipid rafts) yang mengandung sebagian besar
protein membran integral yang disebut uroplakin yang terkait menjadi
susunan parakristalin plak kaku berdiameter 16 nm. Plak membran yang
permeabel air dan melindungi sitoplasma dan sel-sel di bawahnya dari efek
hiperosmotik.
Plak dihubungkan bersama-sama oleh area membran khusus yang
lebih sempit. Bila kandung kemih kosong, bukan hanya mukosa yan sangat
terlipat, melainkan juga setiap umbellocytus mengurangi luas permukaan
apikalnya dengan melipat membran di domain hubungannya dan
menginternalisasi plak yang terlipat berupa vesikel diskoid. Sewaktu
kandung kemih terisi lagi, vesikel diskoid menyatukan lagi membran
apikalnya, yang meningkatkan luas permukaannya sewaktu sel berubah
bentuk dari bulat menjadi pipih. Urothelium menjadi lebih tipis, tampaknya
akibat sel-sel intermedia yang terdorong dan tertarik ke arah lateral untuk
mengakomodasikan peningkatan volume urin. Urothelium dikelilingi oleh
lamina propria dilipat dan submukosa, diikuti oleh selubung padat lapisan
otot polos terjalin dan adventisia. Urine dipindahkan dari pelvises ginjal ke
kandung kemih oleh kontraksi peristaltik ureter. Lamina propria kandung
kemih dan jaringan ikat iregular padat submukosa banyak vaskularisasi.
Kandung kemih pada orang dewasa rata-rata dapat menahan 400 sampai
600 ml urin, dengan dorongan untuk mengosongkan muncul pada sekitar
150 sampai 200 ml. Muskularis terdiri atas tiga lapisan yang tidak berbatas
tegas, secara kolektif disebut otot detrusor yang berkontraksi mengosongkan
kandung kemih . Ketiga lapisan otot terlihat paling jelas di leher kandung
kemih dekat urethra . Ureter melintas melalui dinding kandung kemih secara
oblik, yang membentuk satu katup yang mencegah aliran balik urine ke
dalam ureter. Semua saluran urine dilapisi tunika adventisia di luar, kecuali
bagian atas kandung kemih yang dilapisi peritoneum serosa.
Urethra
merupakan suatu saluran yang membawa urine dari kandung
kemih ke luar. Mukosa urethra memiliki lipatan longitudinal yang besar,
yang memberikannya tampilan khusus dalam potongan melintang. Pada
pria, dua duktus untuk transpor sperma selama ejakulasi menyatukan urethra
di kelenjar prostat . Urethra pria lebih panjang dan terdiri atas tiga segmen:
Urethra prostatica dengan panjang 3-4 cm, terbentang melalui kelenjar
prostat dan dilapisi oleh urothelium, Urethra membranosa, suatu segmen,
berjalan melalui suatu sfingter eksternal otot rangka dan dilapisi oleh
kolumnar bertingkat dan epitel berlapis ,Urethra spongiosa, dengan panjang
15 cm, terbenam dalam jaringan erektil penis (lihat Bab 21) dan dilapisi
oleh epitel kolumnar bertingkat dan kolumnar berlapis (Gambar 19–18),
dengan epitel skuamosa berlapis di distal.
Pada wanita, urethra hanyalah organ perkemihan. Urethra wanita
adalah saluran dengan panjang 4 sampai 5 cm, yang awalnya dilapisi epitel
transisional, lalu oleh epitel skuamosa berlapis dan sejumlah area epitel
kolumnar semu. Bagian tengah urethra wanita dikelilingi oleh otot rangka
eksternal sfingter[11].

BAB III
PENUTUPAN
4.1 kesimpulan
Berdasarkan penjelasan diatas sistem urinaria merupakan sistem
yang paling penting untuk membuang sisa metabolisme makanan yang
dihasilkan oleh tubuh terutama senyawa nitrogen seperti urea. Sistem
urinaria terdiri atas kedua ginjal (Ren, Kidney), Ureter, Kandung
Kemih(Vesica urinaria/urinary bladder) dan Uretra.
Dalam pemenuhan kebutuhan eleminasi urine terjadi proses
berkemih. Sedangkah berkemih merupakan proses pengosongan vesika
urinaria(kandung kemih).
Tahap pembentukan urin yaitu pertama, proses Filtrasi, di
glomerulus terjadi penyerapan darah, yang tersaring adalah bagian
cairan darah kecuali protein. Kedua, proses Reabsorbsi. Pada proses ini
terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glikosa, sodium,
klorida, fospat dan beberapa ion bikarbonat. Ketiga, proses sekresi. Sisa
dari penyerapan kembali yang terjadi di tubulus distal dialirkan ke
papilla renalis selanjutnya diteruskan ke luar.

DAFTAR PUSTAKA
1. Abu-Naser, S. S., & Shaath, M. Z. Expert system urination problems
diagnosis. World Wide Journal of Multidisciplinary Research and
Development. 2016; 2(5): 9-19
2. Schunke M, Schulter E, Schumacher U. 2013. Thieme Atlas Anatomi
Manusia Organ Dalam.Jakarta: EGC.
3. Snell, R. S. 2012. Anatomi Klinis Berdasarkan Sistem. Jakarta: EGC.
4. Sherwood, L. 2014 Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi 8.
Jakarta : EGC.
5. Guyton A.C, dan Hall, J.E. 2014. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.
Edisi 12. Jakarta: Elsevier
6. Beckel, J. M., & de Groat, W. C. Neural Control of Lower Urinary
Tract Function. In Oxford Research Encyclopedia of Neuroscience.
(2019) : 1 – 38.
7. Sadler TW. 2014. Embriologi Kedokteran Langman Edisi 12.
Jakarta: EGC.
8. Al-Taiee, T. A. K. Study of the Anti-Diuretic Hormone (ADH) on
End Stage Renal Failure Disease (ESRD) Pre-Hemodialysis in Iraqi
Patients. Ibn AL-Haitham Journal For Pure and Applied Science.
2019 ; 32(2) : 30-37.
9. Rodwell, V. W. Et all. 2015. Harper’s Illustrated Biochemistry
Thirtieth edition. New York: The McGraw-Hill Education
10. Eroschenko, V.P. 2010 Atlas Histologi di Fiore. Edisi 11. Jakarta:
EGC.
11. Mascher Al. 2013. junqueira’s Basic Histology Thirtieth edition.
New york : The McGraw-Hill medical.

RUBRIK PENILAIAN UNTUK PENULISAN LAPORAN

(UNTUK MAHASISWA SEMESTER II)

NAMA Mahasiswa : M. Nizar Antoni

NIM : 1910911310032

NO ASPEK PENILAIAN BOBOT SKOR (1-4)* BOBOT x SKOR


1 Format 10
 Halaman Judul
 Daftar Isi
 Pendahuluan
 Isi
 Kesimpulan
 Daftar Pustaka
 Lampiran (jika ada)
2 Pendahuluan 15
 Menyebutkan alasan
penulisan makalah
 Menyebutkan tujuan
penulisan makalah

3 Metode Penulisan 5
 Menyebutkan teknik
penulisan makalah

4 Isi 45
 Sesuai dengan sasaran belajar
(seperti tercantum untuk
setiap skenario dalam buku
blok)

5 Kesimpulan 15
6 Daftar Pustaka 10
 Referensi relevan dengan
masalah yang diteliti (jumlah
minimal 10 buah, dan
minimal 30%-nya harus
bersumber pada jurnal
ilmiah)
 Menggunakan sistem rujukan
pustaka yang baku yang
dianut secara konsisten
(Sistem Vancouver)
 Menggunakan sumber
rujukan pustaka terbaru (10
tahun terakhir)

100 NILAI AKHIR =


[(Bobot x Skor)] :
4

Banjarmasin, ..... Maret 2020

TUTOR
(....................................................)

*Catatan:

Skor 1 : jika memuat <50% aspek yang dinilai

Skor 2 : jika memuat minimal 50% aspek yang dinilai

Skor 3 : jika memuat minimal 80% aspek yang dinilai

Skor 4 : jika memuat semua aspek yang dinilai