Anda di halaman 1dari 61

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam tubuh manusia banyak terdapat system yang saling kerja sama dalam

mempertahnkan kehidupan. Sistem pencernaan merupakan salh satu system yang penting

dalam tubuh karena hasilnya nanti berupa energi yang sangat pentinng dalam proses

metabolisme dan kelangsungan hidu setiap sel di tubuh.

Dalam system pencernaan banyak organ-organ yang penting, salah satunya adalah

lambung. Di Lambung nantinya terjadi pemecahan dan penyerapan karbohidrat dan

lapisan ukosa lambung menghasilkan asam lambung (HCL) yang dalam kadar normalnya

fungsinya sangat penting.

Lambung (gaster) bisa mengalami kelainan seperti peradangan pada dinding

lambung (gastritis) jika pola hidup seperti pola makan dan diet yang tidak normal attau

mengkonsumsi jenis obat-obatan bisa mengakibatkan gastritis atau maag.

Dari berbagai penelitian berbasis populasi (systematic review of population-based

study) menyimpulkan angka bervariasi dari 11-41%. Jika keluhan terbakar di ulu hati

dikeluarkan maka angkanya berkisar 4-14%. Keluhan dispepsia merupakan keadaan

klinis yang sering dijumpai dalam praktek sehari – hari. Diperkirakan hampir 30% kasus

pada praktek umum dan 60% pada praktek gastroenterologis merupakan kasus dispepsia.

(Farida, 2010 ).

Di Indonesia menunjukkan prevalensi 36-41% dengan usia termuda adalah 5 bulan.

Pada kelompok usia muda dibawah 5 tahun, 5,3-15,4% telah terinfeksi, dan diduga

infeksi pada usia dini berperan sebagai faktor resiko timbulnya degenerasi maligna pada

usia yang lebih lanjut. Asumsi ini perlu diamati lebih lanjut, karena kenyataannya

prevalensi kanker lambung di Indonesia relatif rendah, demikian pula prevalensi tukak
peptik. Selain faktor bakteri, faktor pejamu dan faktor lingkungan yang berbeda akan

menentukan terjadinya kelainan patologis akibat infeksi (Farida, 2010 ).

Secara umum telah diketahui bahwa infeksi Helicobacter pylori merupakan

masalah global, tetapi mekanisme transmisi apakah oral atau fekal oral belum diketahui

dengan pasti. Studi di Indonesia menunjukkan adanya hubungan antara tingkat sanitasi

lingkungan dengan prevalensi infeksi Helicobacter pylori, sedangkan data diluar negeri

menunjukkan hubungan antara infeksi dengan penyediaan atau sumber air minum

(Farida, 2010 a).

Data penelitian klinis di Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi tukak peptik

pada pasien dispepsia di Jakarta yang telah diendoskopi berkisar antara 5,78%.

Sedangkan di Medan sekitar 16,91%. Pada kelompok pasien dispepsia non ulkus,

prevalensi dari infeksi H.pylori yang dilaporkan berkisar antara 20 – 40% , dengan

metoda diagnostik yang berbeda yaitu serologi, kultur dan histopatologi. Angka tersebut

memberi gambaran bahwa pada infeksi di Indonesia tidak terjadi pada usia dini tetapi

pada usia yang lebih lanjut tidak sama dengan pola negara berkembang lain seperti di

Afrika. Tingginya prevalensi infeksi dalam masyarakat tidak sesuai dengan prevalensi

penyakit saluran cerna bagian atas ( SCBA ) seperti tukak peptik ataupun karsinoma

lambung. Diperkirakan hanya sekitar 10 -20% saja yang kemudian menimbulkan

penyakit gastroduodenal (Farida, 2010 ).

Gastritis adalah radang pada jaringan dinding lambung paling sering diakibatkan

oleh ketidakadekuatan diet, misalnya makan terlalu banyak, terlalu cepat, makan

makanan terlalu banyak bumbu atau makanan yang terinfeksi penyebab lain termasuk

alkohol, aspirin, refluks empedu atau terapi radiasi (Smeltzer & Bare, 2002).

Manifestasi klinis pada gastitis akut yaitu sindrom dispepsia berupa nyeri

epigastrium, mual, kembung, muntah, merupakan salah satu keluhan yang sering
muncul. Demikian pula perdarahan saluran cerna berupa hematemesis dan melena,

kemudian disusul dengan tanda-tanda anemia pasca perdarahan. Biasanya, jika dilakukan

anamnesis lebih dalam, terdapat riwayat penggunaan obat-obatan atau bahan kimia

tertentu. Sedangkan pada kasus gastritis kronik kebanyakan pasien tidak mempunyai

keluhan. Hanya sebagian kecil mengeluh nyeri ulu hati, anoreksia, nausea, dan pada

pemeriksaan fisik tidak dijumpai kelainan (Mansjoer, 2000).

Nyeri yang timbul pada gastritis ini secara makroskopik disebabkan oleh adanya

lesi erosi mukosa dengan lokasi berbeda. Jika ditemukan pada korpus dan fundus,

biasanya disebabkan stress. Jika disebabkan karena obat-obatan AINS, terutama

ditemukan di daerah antrum, namun dapat juga menyeluruh. Sedangkan secara

mikroskopik, terdapat erosi dengan regenerasi epitel, dan ditemukan reaksi sel inflamasi

neutrofil yang minimal (Mansjoer, 2000).

Pada setiap kasus ambang dan toleransi nyeri setiap orang berbeda-beda. Ambang

nyeri yaitu titik saat suatu stimulus yang dirasakan sebagai nyeri. Ambang ini secara

minimal bervariasi dari orang ke orang. Salah satu faktor yang mempengaruhi ambang

nyeri adalah dominasi perseptual, yang menjelaskan situasi klinis nyeri yang dirasakan di

salah satu bagian tubuh mengurangi atau menghilangkan nyeri yang dirasakan di bagian

lain. Sebelum nyeri yang paling parah hilang pasien merasakan atau mengakui adanya

nyeri lain. Sedangkan toleransi nyeri mengacu kepada lama atau intensitas nyeri yang

masih dapat ditahan oleh pasien sampai secara eksplisit pasien tersebut mengaku dan

mencari pengobatan. Respon perilaku pasien terhadap nyeri dipengaruhi oleh faktor,

termasuk tipe kepribadian, status kejiwaan pada saat nyeri, pengalaman terdahulu, latar

belakang sosio kultural, dan arti nyeri. Faktor yang menurunkan toleransi nyeri antara

lain adalah pajanan berulang ke nyeri, kelelahan, kekurangan tidur, rasa cemas dan

ketakutan. Keadaan hangat , dingin, adanya pengalihan, kansumsi alkohol, hipnosis, dan
keercayaan keagamaan yang kuat bekerja meningkatkan toleransi nyeri (Price & Wilson,

2005).

Nyeri dapat digambarkan sebagai “suatu pengalaman sensorik dan emosional yang

tidak menyenangkan yang berkaitan dengan kerusakan jaringan yang sudah atau

berpotensi terjadi, atau dijelaskan berdasarkan kerusakan tersebut” (Price & Wilson,

2005).

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Melaporkan asuhan keperawatan gangguan nyeri pada pasien gastritis kronik

2. Tujuan Khusus

a. Menggambarkan biodata klien pada pasien nyeri pada Ny. S dengan gastritis

diruang bima RSWN Kota Semarang.

b. Mengambarkan pengkajian, mencakup riwayat kesehatan, review sistem, hasil

pemeriksaan data fokus, dan pemeriksaan penunjang pada pasien nyeri pada Ny. S

dengan gastritis diruang bima RSWN Kota Semarang.

c. Mengambarkan masalah keperawatan yang ditemukan pada pasien nyeri pada Ny. S

dengan gastritis diruang Bima RSWN Kota Semarang.

d. Mengambarkan perencanaan untuk memecahkan masalah yang ditemukan pada

pasien nyeri pada Ny. S dengan gastritis diruang bima RSWN Kota Semarang.

e. Mengambarkan tindakan dan penilaian pada pasien nyeri pada Ny. S dengan gastritis

diruang bima RSWN Kota Semarang.

f. Membahas kesenjangan antara teori dan kondisi riil pada kasus nyeri pada gastritis

diruang bima RSWN Kota Semarang.


C. Manfaat

1. Bagi ilmu keperawatan

Hasil laporan kasus ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis dalam

keperawatan yaitu sebagai panduan perawat dalam pengelolaan kasus nyeri pada pasien

gastritis. Juga diharapkan menjadi informasi bagi tenaga kesehatan lain. Terutama dalam

pengelolaan kasus yang bersangkutan.

2. Bagi Penulis

Laporan kasus ini untuk mengimplementasikan mata kuliah yang didapat selama kuliah,

memperluas wawasan dalam bidang pendidikan khususnya tentang nyeri pada pasien

gastritis.

3. Bagi Penulis Selanjutnya

Sebagai perbandingan untuk melakukan pembuatan laporan kasus selanjutnya.


BAB II

TINJAUN PUSTAKA

A. Definisi

Gastritis adalah inflamasi mukosa lambung yang diakibatkan oleh diet yang

tidak benar atau makanan yang berbumbu atau mengandung mikroorganisme

penyebab penyakit. (Brunnee an suddarth 2001).

Gastritis akut adalah lesi mukosa akut berupa erosi atau perdarahan akibat

faktor-faktor agresif atau akibat gangguan sirkulasi akut mukosa berupa erosi atau

perdarahan akibat faktor-faktor agresif atau akibat gangguan sirkulasi akut mukosa

lambung.

Gastritis adalah proses inflamasi pada mukosa dan submukosa lambung.

Secara histopatologi dapat dibuktikan dengan adanya infiltrasi sel-sel radang pada

daerah tersebuh (Suyono Slamet 2001).

Gastritis adalah episode berulang nyeri epigastrium, gejala sementara atau

cepat hilang, dapat berhubungan dengan diet, memiliki respon yang baik dengan

antasid atau supresi asam (Grace, Pierce A.dkk 2006).

Dari beberapa pengertian tentang gastritis menurut para ahli, dapat

disimpulkan bahwa gastritis adalah inflamasi yang terjadi pada mukosa lambung

ditandai dengan adanya radang pada daerah tersebut yang disebabkan karena

mengkonsumsi makanan yang dapat meningkatkan mukosa lambung (seperti


makanan asam atau pedas) atau bisa disebabkan oleh kebiasaan merokok dan minum

alkohol.

Gastritis dibagi menjadi dua yaitu gastritis akut dan gastritis kronik. Gastritis

akut adalah kelainan klinis akut yang jelas penyebabnya dengan tanda dan gejala yang

khas, biasanya ditemukan sel inflamasi akut dan neutrofil. Sedangkan gastritis kronik

merupakan suatu peradangan bagian permukaan mukosa lambung yang menahun,

yang disebabkan oleh ulkus dan berhubungan dengan Hellicobacter Pylori.

B. Anatomi dan Fisiologi Lambung (Gaster)

Lambung dalam bahasa inggris (stomach) dan dalam bahasa belanda (maag) atau

ventrikulus atau gaster. Berupa suatu kantong yang terletak dibawah sekat rongga badan.

Lambung menerima persediaan darah yang melimpah dari arteri gastrika dan arteri

lienalis, persyarafan diambil dari vagus dan dari pleksus seliaka sistema simpatis.

Makanan masuk kedalam lambung dari kerongkongan melalui otot berbentuk cincin

(sfingter), yang bisa membuka dan menutup. Dalam keadaan normal, sfingter

menghalangi masuknya kembali isi lambung kedalam kerongkongan.

Lambung berfungsi sebagai gudang makanan, yang berkontraksi secara ritmik untuk

mencampur makanan dengan enzim-enzim. Sel-sel yang melapisi lambung menghasilkan

3 zat penting yaitu :

1. Lendir berfungsi untuk melindungi sel-sel lambung dari kerusakan oleh asam

lambung. Setiap kelainan pada lapisan lendir ini, bisa menyebabkan kerusakan yang

mengarah kepada terbentuknya tukak lambung.

2. Asam klorida (HCL) berfungsi untuk menciptakan suasana yang sangat asam, yang

diperlukan oleh pepsin guna memecah protein. Keasaman lambung yang tinggi juga
berperan sebagai penghalang terhadap infeksi dengan cara membunuh berbagai

bakteri.

3. Perkursor pepsin merupakan enzim yang memecahkan protein.

C. Klasifikasi Gastritis

Gastritis menurut jenisanya terbagi menjadi dua yaitu (David Overdorf 2002)

1. Gastritis akut

Disebabkan oleh mencerna asam atau alkali kuat yang dapat ,enyebabkan mukosa

menjadi gangren atau perforasi. Gastritis akut dibagi menjadi dua garis besar yaitu :

1) Gastritis eksogen akut (biasanya disebabkan oleh faktor –faktor dari luar, seperti

bahan kimia misal : lisol, alkohol, merokok, kafein lada, steroid, mekanis iritasi

bakterial, obat analgetik, anti inflamasi terutama aspirin (aspirin yang dosis rendah

sudah dapat menyebabkan erosi mukosa lambung) ).

2) Gastritis endogen akut adalah gastritis yang disebabkan oleh kelainan badan.

2. Gastritis kronik

Inflamasi lambung yang lama dapat disebabkan oleh ulkus benigna atau

maligna dari lambung, atau oleh bakteri Helicobacter Pylori. Gastritis kronik

dikelompokkan dalam dua tipe yaitu tipe A dan tipe B. Dikatakan gastritis kronik tipe

A jika mampu menghasilkan imun sendiri. Tipe ini dikaitkan dengan atropi dari

kelenjar lambung dan penurunan mukosa. Penurunan pada sekresi gastrik

mempengaruhi produksi antibodi. Anemia pernisinosa berkembang pada proses ini.

Gastritis kronik tipe B lebih lazim. Tipe ini dikaitkan dengan infeksi Helicobaxter

pylori yang menimbulkan ulkus pada dinding lambung.


D. Etiologi

Lambung adalah sebuah kantung otot yang kosong, terletak pada bagian kiri

atas perut tepat dibawah tulang iga. Lambung orang dewasa mempunyai panjang

berkisar antara 10 inci dan dapat mengembang untuk menampung makanan atau

minuman sebanyak 1 galon. Bila lambung damlam keadaan kosong, maka ia akan

melipat mirip seperti sebuah akordion. Ketika lambung mulai terisi akan

mengembang, lipatan-lipatan tersebut secara bertahap membuka.

Lambung memproses dan menyimpan makanan dan secara bertahap

melepaskannya kedalam usus kecil. Kerika makanan masuk kedalam esopagus,

sebuah cincin otot yang berada pada sambungan antara esopagus dan lambung

(asophageal sphincter) akan membukan dan membiarkan makanan masuk ke

lambung. Setelah masuk kelambung cincin ini menutup. Dinding lambung terdiri dari

lapisan-lapisan otot yang kuat. Ketika makanan berada dilambung, dinding lambung

akan mulai menghancurkan makanan tersebut. Pada saat yang sama, kelenjar-kelenjar

yang berada dimukosa pada dinding lambung mulai mengeluarkan cairan lambung

(termasuk enzim-enzim dan asam lambung) untuk lebih menghancurkan makanan

tersebut.

Salah satu komponen cairan lambung adalah asam hidroklorida. Asam ini

sangat korosif sehingga paku besi pun larut dalam cairan ini. Dinding lambung

dilindungi oleh mukosa-mukosa bicarbonate (sebuah lapisan penyangga yang

mengeluarkan ion bikarbonat secara regular sehingga menyeimbangkan keasaman

dalam lambung) sehingga terhindar dari sifat korosif asam hidroklorida.

Gastritis biasanya terjadi ketika mekanisme pelindung ini kewalahan dan

mengakibatkan rusak dan meradangnya dinding lambung. Beberapa penyebab yang

dapat mengakibatkan terjadinya gastritis antara lain :

1. Infeksi bakteri.
Sebagian besar populasi di dunia terinfeksi oleh bakteri H. Pylori

yang hidup di bagian dalam lapisan mukosa yang melapisi dinding

lambung. Walaupun tidak sepenuhnya dimengerti bagaimana bakteri

tersebut dapat ditularkan, namun diperkirakan penularan tersebut terjadi

melalui jalur oral atau akibat memakan makanan atau minuman yang

terkontaminasi oleh bakteri ini. Infeksi H. Pylori sering terjadi pada masa

kanak-kanak dan dapat bertahan seumur hidup jika tidak dilakukan

perawatan. Infeksi H. Pylori ini sekarang diketahui sebagai penyebab

utama terjadinya peptic ulcer dan penyebab tersering terjadinya gastritis.

Infeksi dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan peradangan

menyebar yang kemudian mengakibatkan perubahan pada lapisan

pelindung dinding lambung.

Salah satu perubahan itu adalah atrophic gastritis, sebuah keadaan

dimana kelenjar-kelenjar penghasil asam lambung secara perlahan rusak.

Peneliti menyimpulkan bahwa tingkat asam lambung yang rendah dapat

mengakibatkan racun-racun yang dihasilkan oleh kanker tidak dapat

dihancurkan atau dikeluarkan secara sempurna dari lambung sehingga

meningkatkan resiko (tingkat bahaya) dari kanker lambung. Tapi sebagian

besar orang yang terkena infeksi H. Pylori kronis tidak mempunyai kanker

dan tidak mempunyai gejala gastritis, hal ini mengindikasikan bahwa ada

penyebab lain yang membuat sebagian orang rentan terhadap bakteri ini

sedangkan yang lain tidak.

2. Pemakaian obat penghilang nyeri secara terus menerus. Obat analgesik

anti inflamasi nonsteroid (AINS) seperti aspirin, ibuprofen dan naproxen


dapat menyebabkan peradangan pada lambung dengan cara mengurangi

prostaglandin yang bertugas melindungi dinding lambung. Jika pemakaian

obat-obat tersebut hanya sesekali maka kemungkinan terjadinya masalah

lambung akan kecil. Tapi jika pemakaiannya dilakukan secara terus

menerus atau pemakaian yang berlebihan dapat mengakibatkan gastritis

dan peptic ulcer.

3. Penggunaan alkohol secara berlebihan

Alkohol dapat mengiritasi dan mengikis mukosa pada dinding

lambung dan membuat dinding lambung lebih rentan terhadap asam

lambung walaupun pada kondisi normal.

4. Penggunaan kokain

Kokain dapat merusak lambung dan menyebabkan pendarahan dan

gastritis.

5. Stress fisik

Stress fisik akibat pembedahan besar, luka trauma, luka bakar atau

infeksi berat dapat menyebabkan gastritis dan juga borok serta pendarahan

pada lambung.

6. Kelainan autoimmune

Autoimmune atrophic gastritis terjadi ketika sistem kekebalan

tubuh menyerang sel-sel sehat yang berada dalam dinding lambung. Hal

ini mengakibatkan peradangan dan secara bertahap menipiskan dinding

lambung, menghancurkan kelenjar-kelenjar penghasil asam lambung dan


menganggu produksi faktor intrinsic (yaitu sebuah zat yang membantu

tubuh mengabsorbsi vitamin B12).  

7. Crohn’s disease

Walaupun penyakit ini biasanya menyebabkan peradangan kronis

pada dinding saluran cerna, namun kadang-kadang dapat juga

menyebabkan peradangan pada dinding lambung. Ketika lambung terkena

penyakit ini, gejala-gejala dari Crohn’s disease (yaitu sakit perut dan diare

dalam bentuk cairan) tampak lebih menyolok daripada gejala-gejala

gastritis.

8. Radiasi and kemoterapi

Perawatan terhadap kanker seperti kemoterapi dan radiasi dapat

mengakibatkan peradangan pada dinding lambung yang selanjutnya dapat

berkembang menjadi gastritis dan peptic ulcer. Ketika tubuh terkena

sejumlah kecil radiasi, kerusakan yang terjadi biasanya sementara, tapi

dalam dosis besar akan mengakibatkan kerusakan tersebut menjadi

permanen dan dapat mengikis dinding lambung serta merusak kelenjar-

kelenjar penghasil asam lambung.

9. Penyakit bile reflux

Bile (empedu) adalah cairan yang membantu mencerna lemak-

lemak dalam tubuh. Cairan ini diproduksi oleh hati. Ketika dilepaskan,

empedu akan melewati serangkaian saluran kecil dan menuju ke usus

kecil. Dalam kondisi normal, sebuah otot sphincter yang berbentuk seperti

cincin (pyloric valve) akan mencegah empedu mengalir balik ke dalam


lambung. Tapi jika katup ini tidak bekerja dengan benar, maka empedu

akan masuk ke dalam lambung dan mengakibatkan peradangan dan

gastritis.

10. Faktor-faktor lain

Gastritis sering juga dikaitkan dengan konsisi kesehatan lainnya

seperti HIV/AIDS, infeksi oleh parasit, dan gagal hati atau ginjal.

Menurut Mansjoer, 2001 penyebab gastritis adalah :

a. Gastritis akut

1) Penggunaan obat-obatan

Penggunaan obat-obatan seperti aspirin dan pbat anti inflamasi non steroid

dalam dosis rendah sudah dapat menyebabkan erosi mukosa lambung.

2) Alkohol

Alkohol dapat mengiritasi dan mengikis mukosa pada dinding lambung dan

membuat dinding lambung lebih rentan terhadap asam lambung walaupun

pada kondisi normal.

3) Gangguan mikrosirkulasi mukosa lambung : trauma, luka bakar.

4) Stress

Stress fisik akibat pembedahan besar, luka trauma, luka bakar atau infeksi

berat dapat menyebabkan gastritis dan perdarahan pada lambung.

b. Gastritis kronik

Pada gastritis kronik penyabab tidak jelas, tetapi berhubungan dengan

Hellicobacter Pylori, apalagi ditemukan ulkus pada pemeriksaan penunjang.

Menurut Brunner & Suddarth, 2001 penyebab gastritis adalah :


1. Gastritis akut

Sering disebabkan akibat diet yang tidak benar. Penyebab lain dari gastritis

akut mencakup alkohol, aspirin, refluks empedu atau terapi radiasi.

2. Gastritis kronik

Inflamasi lambung yang lama dapat disebabkan oleh ulkus benigna atau

maligna dari lambung, atau oleh bakteri Hellicobacter Pylori.

E. Patofisiologi

Pengaruh

efek

samping

obat-obat

NSAIDs

atau Non-

Steroidal

Anti

Inflamatory

Drug seperti

aspirin juga

dapat

menimbulkan gastritis. Obat analgesik anti inflamasi nonsteroid (AINS) seperti

aspirin, ibuprofen dan naproxen dapat menyebabkan peradangan pada lambung


dengan cara mengurangi prostaglandin yang bertugas melindungi dinding lambung.

Jika pemakaian obat-obat tersebut hanya sesekali maka kemungkinan terjadinya

masalah lambung akan kecil.

Tapi jika pemakaiannya dilakukan secara terus menerus atau pemakaian yang

berlebihan dapat mengakibatkan gastritis dan peptic ulcer. Pemberian aspirin juga

dapat menurunkan sekresi bikarbonat dan mukus oleh lambung, sehingga kemampuan

faktor defensif terganggu.

Alkohol berlebih, terlalu sering memakan makanan yang mengandung nitrat

(bahan pengawet) atau terlalu asam (cuka), kafein seperti pada teh dan kopi serta

kebiasaan merokok dapat memicu terjadinya gastritis. Karena bahan-bahan tersebut

bila terlalu sering kontak dengan dinding lambung akan memicu sekresi asam

lambung berlebih sehingga dapat mengikis lapisan mukosa lambung.

Kemudian stress psikologis maupun fisiologis yang lama dapat menyebabkan

gastritis. Stress seperti syok, sepsis, dan trauma menyebabkan iskemia mukosa

lambung. Iskemia mukosa lambung mengakibatkan peningkatan permeabilitas

mukosa akibatnya terjadi difusi balik H+ ke dalam mukosa. Mukosa tidak mampu lagi

menahan asam berlebih menyebabkan edema lalu rusak.

Gastritis kronis dapat diklasifikasikan tipe A atau tipe B. Tipe A (sering

disebut sebagai gastritis autoimun) diakibatkan dari perubahan sel parietal, yang

menimbulkan atropi dan infiltrasi sel. Hal ini dihubungkan dengan penyakit autoimun,

seperti anemia pernisiosa dan terjadi pada fundus atau korpus dari lambung.

Tipe B (kadang disebut sebagai gastritis H. pylori) Ini dihubungkan dengan

bakteri H. Pylori, faktor diet seperti minum panas atau pedas, penggunaan obat-obatan

dan alkohol, merokok atau refluks isi usus kedalam lambung. H. Pylori termasuk

bakteri yang tidak tahan asam, namun bakteri jenis ini dapat mengamankan dirinya

pada lapisan mukosa lambung.


Keberadaan bakteri ini dalam mukosa lambung menyebabkan lapisan lambung

melemah dan rapuh sehingga asam lambung dapat menembus lapisan tersebut.

Dengan demikian baik asam lambung maupun bakteri menyebabkan luka atau tukak.

Sistem kekebalan tubuh akan merespon infeksi bakteri H. Pylori tersebut dengan

mengirimkan butir-butir leukosit, sel T-killer, dan pelawan infeksi lainnya.

Namun demikian semuanya tidak mampu melawan infeksi H. Pylori tersebut

sebab tidak bisa menembus lapisan lambung. Akan tetapi juga tidak bisa dibuang

sehingga respons kekebalan terus meningkat dan tumbuh. Polymorph mati dan

mengeluarkan senyawa perusak radikal superoksida pada sel lapisan lambung. Nutrisi

ekstra dikirim untuk menguatkan sel leukosit, namun nutrisi itu juga merupakan

sumber nutrisi bagi H. Pylori. Akhirnya, keadaan epitel lambung semakin rusak

sehingga terbentuk ulserasi superfisial dan bisa menyebabkan hemoragi (perdarahan).

Dalam beberapa hari gastritis dan bahkan tukak lambung akan terbentuk.

F. Manifestasi Klinis

Gastritis akut sangat bervariasi, mulai dari yang sangat ringan asimtomatik sampai

sangat berat yang dapat membawa kematian. Pada kasus yang sangat berat, gejala yang

sangat mencolok adalah :

1. Hematemetis dan melena yang dapat berlangsung sangat hebat sampai terjadi renjatan

karena kehilangan darah.

2. Pada sebagian besar kasus, gejalanya amat ringan bahkan asimtomatis. Keluhan-

keluhan itu misalnya nyeri timbul pada uluhati, biasanya ringan dan tidak dapat

ditunjuk dengan tepat lokasinya.

3. Kadang-kadang disertai dengan mual- mual dan muntah.

4. Perdarahan saluran cerna sering merupakan satu-satunya gejala.


5. Pada kasus yang amat ringan perdarahan bermanifestasi sebagai darah samar pada

tinja dan secara fisik akan dijumpai tanda-tanda anemia defisiensi dengan etiologi

yang tidak jelas.

6. Pada pemeriksaan fisik biasanya tidak ditemukan kelainan kecuali mereka yang

mengalami perdarahan yang hebat sehingga menimbulkan tanda dan gejala gangguan

hemodinamik yang nyata seperti hipotensi, pucat, keringat dingin, takikardia sampai

gangguan kesadaran.

Gastritis kronis

1. Bervariasi dan tidak jelas.

2. Perasaan penuh, anoreksia.

3. Distress epigastrik yang tidak nyata.

4. Cepat kenyang.

Menurut Mansjoer, 2001 tanda dan gejala pada gastritis adalah :

1. Gastritis Akut

1) Nyeri epigastrium, hal ini terjadi karena adanya peradangan pada mukosa

lambung.

2) Mual, kembung, muntah merupakan salah satu keluhan yangs ering muncul.

Hal ini dikarenakan adanya regenerasi mukosa lambung sehingga terjadi

peningkatan asam lambung yang meningkatkan mual hingga muntah.

3) Ditemukan pula perdarahan saluran cerna berupa hematemesis dan melena.

Kemudian disusul dengan tanda-tanda anemia pasca perdarahan.

Gastritis akut :
1) Gastritis Akute Eksogen Simple

 Nyeri epigastrik mendadak.

 Nausea yang disusul dengan vomitus.

 Saat serangan pasien kelihatan berkeringat, gelisah, sakit perut, dan

kadang disertai panas serta takikardi.

 Biasanya dalam 1-2 hari sembuh kembali.

2) Gastritis Akute Eksogen Korosiva

 Pasien kolaps dengan kulit dingin.

 Takikardi dengan sianosis.

 Perasaan seperti terbakar pada epigastrium.

 Nyeri hebat (kolik).

3) Gastritis Infeksiosa Akute

 Anoreksia.

 Perasaan tertekan pada epigastrium.

 Vomitus.

 Hematemesis.

4) Gastritis Hegmonos Akute

 Nyeri hebat mendadak di epigastrium, Neusia.

 Rasa tegang pada epigastrium, vomitus.

 Panas tinggi dan lemas, takipnea.

 Lidah kering sedikit ektrik, takikardi.

 Sianosis pada ektermitas.

 Abdomen lembek, leukositosis.

2. Gastritis Kronik

1) Pada pasien gastritis kronik umumnya tidak mempunyai keluhan. Hanya

sebagian kecil mengeluh nyeri ulu hati, anoreksia, nauesa dan pada

pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan.


Gastritis kronik :

1) Gastritis superfisialis

 Rasa tertekan yang samar pada epigastrium.

 Penurunan BB.

 Kembung atau rasa penuh pada epigastrium.

 Nousea.

 Rasa perih sebelum dan sesduah makan.

 Terasa pusing.

 Vomitus.

2) Gastritis Atropikan

 Rasa tertekan pada epigastrium, anoreksia.

 Rasa penuh pada perut, nousea.

 Keluar angin pada mulut, vomitus.

 Mudah tersinggung, gelisah.

 Mulut dan tenggorokan terasa kering.

3) Gastritis Hypertropik Kronik

 Nyeri pada epigastrium yang tidak selalu berkurang setelah minum

susu.

 Nyeri biasanya timbul pada malam hari.

 Kadang disertai melena.

G. Komplikasi

Pada gastritis. Perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) berupa hematemesis

dan melena, dapat berakhir sebagai syak hemoragik yang bisa mengakibatkan kematian.

Khusus untuk perdarahan SCBA, perlu dibedakan dengan tukak peptik. Gambaran klinis

yang diperhatikan hampir sama namun pada tukak peptik penyebab utamanya adalah
infeksi Helicobacter Pylori, sebesar 100% tukak duodenum dan 60-90% pada tukak

lambung. Hal ini dapat ditegakkan dengan pemeriksaan endoskopi.

Pada gastritis kronik adalah inflamasi lambung yang lama yang disebabkan oleh

ulkus benigna dan maligna dari lambung atau oleh Helicobater Pylori.

1) Atrofi lambung dapat menyebabkan ganggguan penyerapan terhadap vitamin.

2) Anemia pernisinosa yang mempunyai antibodi terhadap faktor intrinsik dalam

serum atau cairan gasternya akibat gangguan penyerapan terhadap vitamin

B12.

3) Gangguan penyerapan zat besi.

H. Penatalaksanaan Medis

Penatalaksanaan gastritis secara umum adalah menghilangkan faktor utama yaitu

etiologinya, diet lambung dengan porsi kecil dan sering, serta Obat-obatan. Namun secara

spesifik dapat dibedakan sebagai berikut :

1.  Gastritis Akut

a. Kurangi minum alkohol dan makan sampai gejala-gejala  menghilang, ubah

menjadi diet yang tidak mengiritasi.

b. Jika gejala-gejala menetap, mungkin diperlukan cairan intravena.

c. Jika gastritis terjadi akibat menelan asam kuat atau alkali, encerkan dan

netralkan asam dengan antasida umum, misalnya aluminium hidroksida,

antagonis reseptor H2, inhibitor pompa proton, antikolinergik dan sukralfat

(untuk sitoprotektor).

d. Jika gastritis terjadi akibat menelan basa kuat, gunakan sari buah jeruk yang

encer atau cuka yang di encerkan.


e. Jika korosi parah, hindari emetik dan bilas lambung karena bahaya perforasi.

f. Antasida

Antasida merupakan obat bebas yang dapat berbentuk cairan atau

tablet dan merupakan obat yang umum dipakai untuk mengatasi gastritis

ringan. Antasida menetralisir asam lambung dan dapat menghilangkan rasa

sakit akibat asam lambung dengan cepat.

g. Penghambat asam

Ketika antasida sudah tidak dapat lagi mengatasi rasa sakit tersebut,

dokter kemungkinan akan merekomendasikan obat seperti cimetidin, ranitidin,

nizatidin atau famotidin untuk mengurangi jumlah asam lambung yang

diproduksi.

2. Gastritis Kronis

Modifikasi diet, reduksi stress, dan farmakoterapi.

a. Cytoprotective agents

Obat-obat golongan ini membantu untuk melindungi jaringan-jaringan

yang melapisi lambung dan usus kecil. Yang termasuk ke dalamnya adalah

sucraflate dan misoprostol.

Jika meminum obat-obat AINS secara teratur (karena suatu sebab),

dokter biasanya menganjurkan untuk meminum obat-obat golongan ini.

Cytoprotective agents yang lainnya adalah bismuth subsalicylate yang juga

menghambat aktivitas H. Pylori.

b. Penghambat pompa proton


Cara yang lebih efektif untuk mengurangi asam lambung adalah

dengan cara menutup “pompa” asam dalam sel-sel lambung penghasil asam.

Penghambat pompa proton mengurangi asam dengan cara menutup kerja dari

“pompa-pompa” ini.

Yang termasuk obat golongan ini adalah omeprazole, lansoprazole,

rabeprazole dan esomeprazole. Obat-obat golongan ini juga menghambat kerja

H. pylori.

c. H. phylory mungkin diatasi dengan antibiotik (mis, tetrasiklin atau

amoxicillin) dan garam bismuth (pepto bismol) atau terapi H.Phylory.

Terapi terhadap H. Pylori. Terdapat beberapa regimen dalam

mengatasi infeksi H. pylori. Yang paling sering digunakan adalah kombinasi

dari antibiotik dan penghambat pompa proton. Terkadang ditambahkan pula

bismuth subsalycilate. Antibiotik berfungsi untuk membunuh bakteri,

penghambat pompa proton berfungsi untuk meringankan rasa sakit, mual,

menyembuhkan inflamasi dan meningkatkan efektifitas antibiotik. Terapi

terhadap infeksi H. pylori tidak selalu berhasil, kecepatan untuk membunuh

H. pylori sangat beragam, bergantung pada regimen yang digunakan.

Akan tetapi kombinasi dari tiga obat tampaknya lebih efektif daripada

kombinasi dua obat. Terapi dalam jangka waktu yang lama (terapi selama 2

minggu dibandingkan dengan 10 hari) juga tampaknya meningkatkan

efektifitas. Untuk memastikan H. pylori sudah hilang, dapat dilakukan

pemeriksaan kembali setelah terapi dilaksanakan. Pemeriksaan pernapasan dan

pemeriksaan feces adalah dua jenis pemeriksaan yang sering dipakai untuk

memastikan sudah tidak adanya H. pylori. Pemeriksaan darah akan


menunjukkan hasil yang positif selama beberapa bulan atau bahkan lebih

walaupun pada kenyataanya bakteri tersebut sudah hilang.

H. Farmakologi

Obat yang dipergunakan untuk gastritis adalah Obat yang mengandung bahan-

bahan yang efektif menetralkan asam dilambung dan tidak diserap ke dalam tubuh

sehingga cukup aman digunakan (sesuai anjuran pakai tentunya). Semakin banyak kadar

antasida di dalam obat maag maka semakin banyak asam yang dapat dinetralkan sehingga

lebih efektif mengatasi gejala sakit gastritis dengan baik.

Pengobatan gastritis tergantung pada penyebabnya. Gastritis akut akibat konsumsi

alkohol dan kopi berlebihan, obat-obat NSAID dan kebiasaan merokok dapat sembuh

dengan menghentikan konsumsi bahan tersebut.

Gastritis kronis akibat infeksi bakteri H. pylori dapat diobati dengan terapi

eradikasi H. pylori. Terapi eradikasi ini terdiri dari pemberian 2 macam antibiotik dan 1

macam penghambat produksi asam lambung, yaitu PPI (proton pump inhibitor).

Untuk mengurangi gejala iritasi dinding lambung oleh asam lambung, penderita

gastritis lazim diberi obat yang menetralkan atau mengurangi asam lambung, misalnya

(Mayo Clinic,2007) :

1. Antasid

Obat bebas yang dapat berbentuk cairan atau tablet dan merupakan obat

yang umum dipakai untuk mengatasi gastritis ringan.  Antasida menetralkan

asam lambung sehingga cepat mengobati gejala antara lain promag, mylanta, dll.

2. Penghambat asam (acid blocker)


Jika antasid tidak cukup untuk mengobati gejala, dokter biasanya

meresepkan obat penghambat asam antara lain simetidin, ranitidin, atau

famotidin.

3. Proton pump inhibitor (penghambat pompa proton)

Obat ini bekerja mengurangi asam lambung dengan cara menghambat

pompa kecil dalam sel penghasil asam. Jenis obat yang tergolong dalam

kelompok ini adalah omeprazole, lanzoprazole, esomeparazol, rabeprazole, dll.

Untuk mengatasi infeksi bakteri H. pylori, biasanya digunakan obat dari golongan

penghambat pompa proton, dikombinasikan dengan antibiotika

I. Asuhan Keperawatan

a. Pengkajian

1) Anamnesa meliputi :

1. Identitas Pasien

1. Nama

2. Usia

3. Jenis kelamin : Tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin

4. Jenis pekerjaan : Tidak dipengaruhi jenis pekerjaan

5. Alamat

6. Suku/bangsa

7. Agama

8. Tingkat pendidikan : Bagi orang yang tingkat pendidikan rendah atau minim

mendapatkan pengetahuan tentang gastritis, maka akan menganggap remeh

penyakit ini, bahkan hanya menganggap gastritis sebagai sakit perut biasa dan
akan memakan makanan yang dapat menimbulkan serta memperparah penyakit

ini.

9. Riwayat sakit dan kesehatan

1. Keluhan utama

2. Riwayat penyakit saat ini

3. Riwayat penyakit dahulu

2) Pemeriksaan fisik : Review of System

1. B1 (breath) : Takhipnea

2. B2 (blood) : Takikardi, hipotensi, disritmia, nadi perifer lemah, pengisian

perifer lambat, warna kulit pucat.

3. B3 (brain) : Sakit kepala, kelemahan, tingkat kesadaran dapat terganggu,

disorientasi, nyeri epigastrum.

4. B4 (bladder) : Oliguri, gangguan keseimbangan cairan.

5. B5 (bowel) : Anemia, anorexia, mual, muntah, nyeri ulu hati, tidak toleran

terhadap makanan pedas.

6. B6 (bone) : Kelelahan, kelemahan.

3) Pemeriksaan Diagnostik

1. Pemeriksaan darah

Tes ini digunakan untuk memeriksa apakah terdapat H. Pylori dalam

darah. Hasil tes yang positif menunujukkan bahwa pasien pernah kontak dengan

bakteri pada suatu waktu dalam hidupnya tapi itu tidak menunjukkan bahwa

pasien tersebut terkena infeksi. Tes darah dapat juga dilakukan untuk memeriksa

anemia yang terjadi akibat perdarahan lambung karena gastritis.

2. Uji napas urea

Suatu metode diagnostik berdasarkan prinsip bahwa urea diubah oleh

urease H. Pylori dalam lambung menjadi amoniak dan karbondioksida (CO2).


CO2 cepat diabsorbsi melalui dinding lambung dan dapat terdeteksi dalam udara

ekspirasi.

3. Pemeriksaan feces

Tes ini memeriksa apakah terdapat bakteri H. Pylori dalam feses atau

tidak. Hasil yang positif dapat mengindikasikan terjadinya infeksi. Pemeriksaan

juga dilakukan terhadap adanya darah dalam feses. Hal ini menunjukkan adanya

pendarahan dalam lambung.

4. Endoskopi saluran cerna bagian atas

Dengan tes ini dapat terlihat adanya ketidaknormalan pada saluran cerna

bagian atas yang mungkin tidak terlihat dari sinar-X. Tes ini dilakukan dengan

cara memasukkan sebuah selang kecil yang fleksibel (endoskop) melalui mulut

dan masuk ke dalam esofagus, lambung dan bagian atas usus kecil. Tenggorokan

akan terlebih dahulu dianestesi sebelum endoskop dimasukkan untuk memastikan

pasien merasa nyaman menjalani tes ini. Jika ada jaringan dalam saluran cerna

yang terlihat mencurigakan, dokter akan mengambil sedikit sampel (biopsy) dari

jaringan tersebut. Sampel itu kemudian akan dibawa ke laboratorium untuk

diperiksa. Tes ini memakan waktu kurang lebih 20 sampai 30 menit. Pasien

biasanya tidak langsung disuruh pulang ketika tes ini selesai, tetapi harus

menunggu sampai efek dari anestesi menghilang kurang lebih satu atau dua jam.

Hampir tidak ada resioko akibat tes ini. Komplikasi yang sering terjadi adalah

rasa tidak nyaman pada tenggorokan akibat menelan endoskop.

5. Rontgen saluran cerna bagian atas


Tes ini akan melihat adanya tanda-tanda gastritis atau penyakit

pencernaan lainnya. Biasanya akan diminta menelan cairan barium terlebih

dahulu sebelum dirontgen. Cairan ini akan melapisi saluran cerna dan akan

terlihat lebih jelas ketika di rontgen.

6. Analisis Lambung

Tes ini untuk mengetahui sekresi asam dan merupakan tekhnik penting

untuk menegakkan diagnosis penyakit lambung. Suatu tabung nasogastrik

dimasukkan ke dalam lambung dan dilakukan aspirasi isi lambung puasa untuk

dianalisis. Analisis basal mengukur BAO (Basal Acid Output) tanpa

perangsangan.

Ini bermanfaat untuk menegakkan diagnosis sindrom Zolinger- Elison

(suatu tumor pankreas yang menyekresi gastrin dalam jumlah besar yang

selanjutnya akan menyebabkan asiditas nyata).

7. Analisis stimulasi

Dapat dilakukan dengan mengukur pengeluaran asam maksimal (MAO,

Maximum Acid Output) setelah pemberian obat yang merangsang sekresi asam

seperti histamin atau pentagastrin. Tes ini untuk mengetahui teradinya aklorhidria

atau tidak.

4) Psikososial

Meliputi perasaan pasien terhadap penyakitnya, bagaimana cara mengatasinya

serta bagaimana perilaku pasien terhadap tindakan yang dilakukan terhadap dirinya,

kecemasan terhadap penyakit.


Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis ( peradangan pada mukosa

lambung)

2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan factor

biologis

3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif (muntah), intake

tidak adekuat

4. Hipertermi berhubungan dengan penyakit

5. Insomnia berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik

L. Perencanaan

NIC NOC
Pain Control : Pain Management :

1. Mengenali faktor penyebab 1.Observasi reaksi nonverbal dari

ketidaknyamanan
2. Mengenali onset (lamanya sakit)

2.Kaji nyeri secara komprehensif meliputi


3. Menggunakan metode pencegahan untuk
( lokasi, karakteristik, dan onset, durasi,
mengurangi nyeri
frekuensi, kualitas, intensitas nyeri )
4. Menggunakan metode nonanalgetik untuk
3. Kaji skala nyeri
mengurangi nyeri

4.Gunakan komunikasi terapeutik agar klien


5. Mengunakan analgesik sesuai dengan
dapat mengekspresikan nyeri
kebutuhan
6. Mencari bantuan tenaga kesehatan 5. Kaji factor yang dapat menyebabkan nyeri

timbul
7. Melaporkan gejala pada petugas kesehatan

6. Anjurkan pada pasien untuk cukup


8. Mengenali gejala gejala nyeri
istirahat
9. Melaporkan nyeri yang sudah terkontrol
7.Control lingkungan yang dapat

mempengaruhi nyeri

8. Monitor tanda tanda vital

9.Ajarkan tentang teknik nonfarmakologi

(relaksasi) untuk mengurangi nyeri, gueided

imagenery

10.Jelaskan factor factor yang dapat

mempengaruhi nyeri

11.Kolaborasi dengan dokter dalam

pemberian obat
Nutritional Status Nutrion Management

1. Intake nutrisi baik 1. Monitor catatan masukan

kandungan nutrisi dan kalori.


2. Intake makanan baik

2. Anjurkan masukan kalori yang


3. Asupan cairan cukup
tepat sesui dengan tipe tubuh dan gaya hidup.
4. Peristaltic usus normal
3. Berikan makanan pilihan.
5. Berat badan meningkat
4. Anjurkan penyiapan dan penyajian
makanan dengan teknik yang aman.

5. Berikan informasi yang tepat

tentang kebutuhan nutrisi dan bagaimana cara

memperolehnya

6. Kaji adanya alergi makanan

7. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk

menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang

dibutuhkan pasien

8. Yakinkan diet yang dimakan

mengandungtinggi serat untuk mencegah

konstipasi

9. Ajarkan pasien bagaimana membuat

catatan makanan harian

10. Monitor adanya penurunan BB dan

guladarah

11. Monitor lingkungan selama makan

12. Jadwalkan pengobatan dan tindakan

tidakselama jam makan

13. Monitor turgor kulit

14. Monitor kekeringan, rambut kusam,


totalprotein, Hb dan kadar Ht

15. Monitor mual dan muntah

16. Monitor pucat, kemerahan, dan

kekeringan jaringan konjungtiva

17. Monitor intake nuntrisi


BAB III

METODE PENULISAN

A. Rancangan Solusi yang Ditawarkan

Dalam mengatasi masalah klien NY. S dengan Gastritis masalah keperawatan nyeri

yang dialami klien dimana diberikan cara untuk mengalihkan rasa nyeri yang dialaminya

dengan cara relaksasi napas dalam, guided imaginary atau klien dipandu untuk berimajinasi,

dan dengan menggunakan musik kemudian akan dievaluasi tingkat nyerinya berkurang atau

tidak terhadap yang dirasakan oleh klien.

B. Target dan Luaran

Target yang akan mendapatkan perlakuan intervensi pada deskripsi ini yaitu klien dengan

rasa nyeri akibat penyakit gastritis kronis. Pemberian pengalihan rasa nyeri seperti napas

dalam, guided imaginary, dengan musik. Luaran dari deskrisp kasus ini untuk menetahui

perlakuan yang dilakukan berdasarkan evidance based praticce, selanjutnya dilakukan

observasi hasil dari pengalihan rasa nyeri terhadap frekuensi skala nyeri.

Prosedur Pelaksanaan

Prosedur teknik relaksasi napas dalam menurut Priharjo (2003)

Bentuk pernapasan yang digunakan pada prosedur ini adalah pernapasan diafragma yang

mengacu pada pendataran kubah diagfragma selama inspirasi yang mengakibatkan


pembesaran abdomen bagian atas sejalan dengan desakan udara masuk selama inspirasi.

Adapun langkah-langkah teknik relaksasi napas dalam adalah sebagai berikut :

1. Ciptakan lingkungan yang tenang

2. Usahakan tetap rileks dan tenang

3. Menarik nafas dalam dari hidung dan mengisi paru-paru dengan udara melalui

hitungan 1,2,3

4. Perlahan-lahan udara dihembuskan melalui mulut sambil merasakan ekstrimitas atas

dan bawah rileks

5. Anjurkan bernafas dengan irama normal 3 kali

6. Menarik nafas lagi melalui hidung dan menghembuskan melalui mulut secara

perlahan-lahan

7. Membiarkan telapak tangan dan kaki rileks

8. Usahakan agar tetap konsentrasi / mata sambil terpejam

9. Pada saat konsentrasi pusatkan pada daerah yang nyeri

10. Anjurkan untuk mengulangi prosedur hingga nyeri terasa berkurang

11. Ulangi sampai 15 kali, dengan selingi istirahat singkat setiap 5 kali.

12. Bila nyeri menjadi hebat, seseorang dapat bernafas secara dangkal dan cepat.

TEKNIK IMAJINASI TERPIMPIN (GUIDED IMAGERY)

1.Langkah Kerja

a.Persiapan lingkungan yang nyaman dan tenang.

b.Jelaskan tujuan prosedur.

c.Berikan privasi pada klien.

d.Bantu klien ke posisi yang nyaman yaitu posisi bersandar dan minta klien untuk

menutup matanya selama prosedur.

e.Meminta klien untuk menarik napas dalam dan perlahan sebanyak 3 kali untuk

merelaksasikan semua otot dengan mata tetap terpejam.


f.Meminta klien untuk memikirkan hal-hal yang menyenangkan atau pengalaman

dengan mata terpejam yang membantu penggunaan semua indra dengan suara yang

lembut.

g.Saat klien membayangkan dengan mata tetap terpejam, klien dipandu untuk

menjelaskan bayangannya dengan ditanya :

1)Apa yang dibayangkan

2)Dilakukan bersama siapa bayangan menyenangkan tersebut

3) Kapan bayangan menyenangkan dilakukan

4) Dimana bayangan menyenangkan itu terjadi

5) Seberapa sering hal menyenangkan dilakukan.

h.Jika klien menunjukkan tanda-tanda gelisah atau tidak nyaman, hentikan latihan dan

memulainya lagi ketika klien telah siap.

i.Relaksasi akan mengenai seluruh tubuh. Setelah 15 menit klien dipandu keluar dari

bayangnnya.

j.Catat hal-hal yang digambarkan klien untuk digunakan pada latihan selanjutnya

dengan menggunakan informasi spesifik yang diberikan klien dan tidak membuat

perubahan pernyataan klien.

BAB IV
LAPORAN KASUS

Tanggal Pengkajian/Jam: 19 Agustus 2019/14.30 WIB Ruang/RS : Bima/RSWN Kota Semarang

A. BIODATA

1. Biodata Pasien

a. Nama : Ny. S

b. Umur : 33 tahun

c. Alamat :-

d. Pendidikan : SMA

e. Pekerjaan : IRT

f. Tanggal Masuk : 19 Agustus 2019

g. Diagnosa Medis : Hematoe, Tumor coli dextra

2. Biodata Penanggungjawab

a. Nama : Tn. S

b. Umur : 60 tahun

h. Alamat :-

c. Pendidikan : SMA

d. Pekerjaan : Wirausaha

e. Hubungan dengan pasien : Suami

B. KELUHAN UTAMA

Pasien mengatakan sakit pada ulu hati.

P : nyeri muncul/bertambah saat pasien menggerakkan tubunya

Q : nyeri terasa seperti tertusuk-tusuk

R : nyeri terasa di ulu hati

S : skala nyeri yang dirasakan 4 (nyeri yang mengganggu)

T: nyeri terasa setiap saat

C. RIWAYAT KESEHATAN
1. Riwayat kesehatan sekarang

Pasien mengatakan sering bersendawa dan muntah setiap hari serta perut tersa

nyeri melilit. Dansudah dirawat di RS Colombia Asia sela tiga tidak ada perubahan

dan ditambah dengan sesak napas kemudian klien dibawa keluarganya atau di

rujuk di RSWN Kota Semarang dan sekarang dirawat di ruang bima.

2. Riwayat kesehatan dahulu

Pasien mengatakan sejak dulu sering terkena maag dan mium obat yang ada di

apotik atau setelah berobat.

3. Riwayat kesehatan keluarga

Pasien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit sama

dengan pasien.

D. PENGKAJIAN POLA FUNGSIONAL

1. Pola manajemen dan persepsi kesehatan

Pasien mengatakan setiap kali dia merasakan sakit, dia langsung berobat ke

puskesmas, apabila sakitnya tidak tertahan dan takut kambung penyakit yang dulu

dia langsung datang ke igd rumah sakit tempat dimana dulu dia pernah dirawat

2. Pola nutrisi dan metabolisme

Pasien mengatakan makan nasi lunak 3 kali sehari dengan porsi penuh dan minum

susu dari rumah sakit.

3. Pola eliminasi

a. BAB : 1 kali sehari

Konsistensi : lunak

Warna : normal

Peristaltik usus : 11 kali/menit

b. BAK : 5-6 kali/hari

Jumlah : 5-6 aqua gelas/hari (1200-1440ml/hari)

Warna : jernih
4. Pola istirahat dan tidur

Pasien mengatakan mengalami gangguan tidur, tidak bisa tidur karena sakit dileher

dan sesak nafas.

5. Pola aktifitas dan latihan

Pasien mengatakan ketika berada dirumah pasien biasa mengajak cucu bermain

setiap hari, tetapi sekarang semenjak di rumah sakit pasien lebih banyak tidur dan

duduk.

6. Pola peran dan hubungan

Pasien mengatakan dia seorang ibu rumah tangga yang biasanya mengurus rumah,

anak dan suami, tetapi semenjak dirawat di rumah sakit pasien tidak bisa berperan

sebagai ibu maupun sebagai istri dan hubungan pasien dengan anak dan suami

pasien sangat baik.

7. Pola persepsi kognitif dan sensori

Pasien mengatakan dia hanya mengerti harus bisa sembuh dan berkumpul dengan

keluarganya.

8. Pola persepsi diri/konsep diri

Pasien merasa sekarang dirinya hanya mengalami sakit biasa yang apabila minum

obat sudah sembuh, dan selalu optimis dengan kondisi tubuhnya serta menerima

keadaan dirinya yang sekarang

9. Pola seksual dan reproduksi

Pasien mengatakan mempunyai 1 anak laki – laki dan 1 suami.

10. Pola mekanisme koping

Pasien mengatakan dukungan keluarga merupakan hal yang sangat penting karena

dengan dukungan keluarga pasien merasa semua yang dialaminya akan baik-baik

saja dan pasien selalu mendiskusinya setiap masalah yang dialaminya bersama

keluarga.
11. Pola nilai dan kepercayaan

Pasien mengatakan selalu menjalani ibadah sholat 5 waktu secara teratur, dan

pasien mengatakan yakin dengan beribadah dapat mempercepat penyembuhannya.

E. PEMERIKSAAAN FISIK (mengacu pada topik)

1. Keadaan Umum :

Kesadaran : Komposmentis

-GCS : E: 4 , V: 5, M: 6

- Penampilan : Klien tampak lemah, pucat dan sesak

- TTV

N : 90 kali/menit

RR : 26 kali/menit

TD : 79/43 mmHg

T : 36,6 ° C

2. Head to toe

a. Kepala

Inspeksi : Bentuk simetris, rambut hitam, tidak ada benjolan

Palpasi : Tidak ada nyeri tekan dan tidak ada benjolan

b. Mata

Inspeksi : Simetris, conjungtiva anemis, sklera jernih bersih, pupil isokor dan

bermiosis bila diberi rangsangan cahaya.

c. Hidung

Inspeksi : Simetris, tidak ada sekret, tidak ada polip, fungsi penciuman baik

d. Mulut

Inspeksi : Bibir kering, gigi agak kotor, mulut bau dan tidak ada gigi palsu

e. Telinga
Inspeksi : Simetris, tidak ada serumen, tidak ada gangguan pendengaran, tidak

ada alat bantu pendengaran.

f. Leher

Inspeksi : Adanya benjolan di leher samping kanan / lateral dextra

Palpasi : Terdapat benjolan keras yang menetap sebesar 5,5 cm pada leher

kanan yang terletak di kelenjer limfe jugularis diantara bifurkasio karotis dan

persilangan m.omohioid dengan m.sternokleidomastoid dan batas posterior

m.sternokleidomastoid, apabila diberi tekanan akan terasa nyeri, benjolan

tidak melebar atau bermetastase ke daerah lain yang dekat dengan leher.

g. Abdomen

Inspeksi : Tidak ada benjolan, tidak ada lesi (luka)

Auskultasi : Bising usus normal ( 11 kali/menit)

Palpasi : tidak teraba massa, tidak ada nyeri tekan

Perkusi : tympani

h. Integumen

Inspeksi : tidak pucat, kering, bersih

Palpasi : Tidak ada odema, turgor kulit < 2detik

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK (disesuaikan dengan topik yang diambil)

PEMERIKSAAN HASIL SATUAN NILAI NORMAL METODE


Hematologi EDTA (B)
Hema Lengkap (WB EDTA)
Analyser
Leukosit H 10,57 10^3/ul 3.6-11
Focused flow

Eritrosit 4,48 10^6/uL 3.8-5.2 impedance


Haemoglobin L 11,60 g/dL 11.7-15.5

Hematokrit 35,70 % 35-47

MCV L 79,70 fL 80-100


MCH L 25,90 Pg 26-34
MCHC 32,50 g/dL 32-36
Trombosit 383 10^3/ul 150-440
RDW 12,50 % 11.5-14.5
PLCR 13,5 %
Diff Count Focused flow
Eosinofil Absolute H 0,80 10^3/ul 0.045-0.44
impedance
Basofil Absoute 0,04 10^3/ul 10-0.2
Netrofil Absolute 6,56 10^3/ul 1.8-8 Cyanide free
Limfosit Absolute 2,34 10^3/ul 0.9-5.2
haemoglobine
Monosit Absolute 0,83 10^3/ul 0.16-1
Eosinofil H 7,60 % 2-4 Spe
Basofil 0,40 % 0-1 Focused flow
Neutrofil 62,00 % 50-70
Limfosit L 22,10 % 25-40 impedance

Monosit H 7,90 % 2-8


Kimia Klinik
Ureum 19,5 mg/dl 10.0 – 50.0 Enzimatik uv
Kreatinin L 0,49 mg/dl 0.60 – 0.90 enzimatik

DAFTAR MASALAH

No Tanggal/jam Data fokus Etiologi Masalah

keperawatan

1. 28/08/2018 DS : Agen cidera biologis Nyeri Akut

10.30 WIB Pasien mengatakan : (peradangan pada

mukosa lambung)
-Nyeri pada leher
-Tidak bisa tidur

-Tidak nyaman dengan

keadaannya sekarang

-Pengkajian Nyeri :

P : nyeri muncul/

bertambah saat pasien

menggerakkan lehernya,

tetapi saat tiduran pun

leher terasa sakit

Q : nyeri terasa seperti

tertusuk-tusuk

R : nyeri terasa di leher

sebelah kanan

S : skala nyeri yang

dirasakan 4 (nyeri yang

mengganggu)

T: nyeri terasa setiap

saat

DO :

  - Pasien tampak meringis

- Terdapat benjolan keras

yang menetap sebesar

5,5 cm pada leher kanan

yang terletak di kelenjer


limfe jugularis diantara

bifurkasio karotis dan

persilangan m.omohioid

dengan

m.sternokleidomastoid

dan batas posterior

m.sternokleidomastoid
RENCANA KEPERAWATAN

Tanggal/j No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasionalisasi TTD

am Keperawatan Perawat

19 1. Nyeri akut Setelah dilakukan asuhan - Lakukan pengkajian nyeri secara - untuk   mengetahui   intensitas   

Agustus berhubungan keperawatan selama komprehensif termasuk lokasi, nyeri  dan   untuk  Pengawasan

2019 dengan Agen 3x24jam diharapkan karakteristik, durasi frekuensi, keefektifan   obat,   kemajuan   p

cedera (mis, kualitas dan faktor presipitasi enyembuhan,   perubahan   akan


pemenuhan kebutuhan
15.00 biologis, zat - Observasi reaksi nonverbal dan karakteristik menunjukkan
pasien tercukupi dengan
kimia, fisik, ketidaknyamanan terjadinya abses, memerlukan
kriteria hasil:
psikologis) - Gunakan teknik komunikasi upaya evaluasi medik dan
- Mampu mengontrol terapeutik untuk mengetahui intervensi
nyeri (tahu penyebab pengalaman nyeri pasien - Kebutuhan rasa nyaman dapat

nyeri, mampu - Bantu pasien dan keluarga untuk terpenuhi.

menggunakan tehnik mencari dan menemukan dukungan - Meyakinkan  klien  untuk 

nonfarmakologi untuk - Kontrol lingkungan yang dapat mendapatkan   perawatan yang

mengurangi nyeri, mempengaruhi nyeri seperti suhu intensif


ruangan, pencahayaan dan - Meningkatkan psikologis dan
kebisingan motifasi keingin sembuhan
mencari bantuan)
- Kurangi faktor presipitasi nyeri - Menurunkan faktor-faktor yang
- Melaporkan bahwa
- Ajarkan tentang teknik non menmpengaruhi nyeri
nyeri berkurang dengan
farmakologi - Nyeri dapat diatasi sedini
menggunakan
- Berikan analgetik untuk mungkin denan menemukan
manajemen nyeri
mengurangi nyeri faktor presipitari
- Mampu mengenali
- Evaluasi keefektifan kontrol nyeri - Menurunkan terjadinya
nyeri (skala, intensitas,
- Tingkatkan istirahat keracunan obat yang
frekuensi dan tanda - Kolaborasikan dengan dokter jika
mengandung bahan kimia
nyeri) ada keluhan dan tindakan nyeri - Untuk membantu mengurangi
- Menyatakan rasa
tidak berhasil rasa nyeri
nyaman setelah nyeri - Monitor penerimaan pasien tentang - Untuk mengetahui seberapa
berkurang manajemen nyeri efektif teknik kontrol nyeri yang

diajarkan

- Mencegah nyeri dan

meningkatkan penyembuhan

- Menurunkan rasa nyeri sebelum


terjadi nyeri kronis

- Untuk mengetahui seberapa

banyak pasien dapat mengontrol

nyeri.
TINDAKAN KEPERAWATAN

Tanggal/jam Kode diagnosa Jam Tindakan Keperawatan Respon TTD

keperawatan Perawat

19 Agustus Dx. 1 14.30 - Melakukan pengkajian nyeri secara S : pasien mengatakan nyeri pada leher sebelah kanan

2019 komprehensif termasuk lokasi, O:

14.30 karakteristik, durasi frekuensi,


- P : nyeri setiap saat
kualitas dan faktor presipitasi
- Q : nyeri terasa seperti tertusuk-tusuk

- R : nyeri terasa di ulu hati

- S : skala nyeri yang dirasakan 4 (nyeri yang

mengganggu)

- T: nyeri terasa setiap saat

S: pasien mengatakan nyeri pada ulu hati

O:

- pasien tampak menahan nyeri


14.40
- pasien tampak meringis

- Mengobservasi reaksi nonverbal

dan ketidaknyamanan

S : pasien mengatakan tidak bisa tidur karena tidak

nyaman dengan nyeri yang dideritanya

O:

- pasien tampak meringis saat menceritakan sakit


15.00 dilehernya
- Menggunakan teknik komunikasi

terapeutik untuk mengetahui


S : pasien mengatakan dengan kehadiran anak dan suami
pengalaman nyeri pasien
nya disni dia merasa lebih baik

O:

15.20 - pasien tampak tersenyum

- pasien tampak mengobrol dengan anak-anaknya


- Membantu pasien dan keluarga

untuk mencari dan menemukan


S : pasien mengatakan cukup istirahat dan bisa tidur.
O:
dukungan

- pasien tampak tertidur

- pasien tampak nyaman dengan ruangannya


15.40

S : pasien mengatakan nyeri bertambah ketika banyak


- Mengkontrol lingkungan yang
pergerakan
dapat mempengaruhi nyeri seperti
O:
suhu ruangan, pencahayaan dan
16.00
kebisingan - Pasien tampak kesakitan ketika bergerak dari tidur

untuk bangun

- Pasien tampak bergerak dengan berhati-hati

- Mengurangi faktor presipitasi nyeri


S : pasien mengatakan mengerti dengan terknik yang

diajarkan

16.10 O : Pasien tampak mencoba melakukan teknik yang

diajarkan
S : pasien mengatakan lebih baik setelah diberikan obat

pengurang rasa nyeri


- Mengajarkan tentang teknik non
O:
farmakologi
16.20
- Klien tampak lebih nyaman

S : pasien mengatakan sudah cukup tidur

O:
16.30
- pasien tampak lebih fokus

- Memberikan analgetik untuk - pasien tampak lebih segar

mengurangi nyeri
S : pasien mengatakan nyeri sudah berkurang

O:

-skala nyeri 3

- Mengevaluasi keefektifan kontrol S : pasien mengatakan sudah paham apa yang harus

nyeri dilakukan kalau nyeri muncul


O:

- pasien tampak mempraktekkan teknik relaksasi

10.00 S : pasien mengatakan nyeri berkurang

O : pengkajian nyeri :

21 Agustus Dx. 1 - Memonitor penerimaan pasien


- P : nyeri ketika ditekan
2019 tentang manajemen nyeri
- Q : seperti ditusuk-tusuk

- R : du ulu hati

- S : 1 (nyeri ringan)

- T : hilang timbul

- Melakukan pengkajian nyeri secara

komprehensif termasuk lokasi,

karakteristik, durasi frekuensi,

kualitas
CATATAN PERKEMBANGAN
Tanggal/jam Kode diagnosa Subjektif, Obyektif, Assasment, Planning TTD
keperawatan Perawat
SOAP

19 Agustus Dx. 1 S : Pasien mengatakan nyeri pada ulu hati


2019 O:

- Pasien tampak meringis


- P : nyeri bertambah saat pasien terlentang
- Q : nyeri terasa seperti tertusuk-tusuk
- R : nyeri terasa di leher sebelah kanan
- S : skala nyeri yang dirasakan 4 (nyeri yang
mengganggu)
- T: nyeri terasa setiap saat

A: Masalah belum teratasi


P : Lanjut Intervensi

- Lakukan pengkajian nyeri secara


komprehensif termasuk lokasi, karakteristik,
durasi frekuensi, kualitas dan faktor
presipitasi
- Observasi reaksi nonverbal dan
ketidaknyamanan
- Kurangi faktor presipitasi nyeri
- Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
- Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
- Monitor penerimaan pasien tentang
manajemen nyeri
- Anjurkan teknik napas dalam, guided
imagery, dan mengunakan musik

S:
21 Agustus Dx. I
- Pasien mengatakan nyeri sudah berkurang
2019
- Pasien mengatakan bahwa teknik relaksasi
yang diajarkan telah dipraktekkan

O: - Pasien tampak lebih bersemangat

- TD : 121/90 mmHg
- N : 90 kali/menit
- RR : 23 kali/menit
- T : 36,4oC
- Pengkajian nyeri :
- P : nyeri ketika berubah posisi tidur
- Q : seperti ditusuk-tusuk
- R : diulu hati
-S:3
- T : terkadang

A: Masalah teratasi sebagian


P : Lanjut Intervensi

- Lakukan pengkajian nyeri secara


komprehensif termasuk lokasi, karakteristik,
durasi frekuensi, kualitas dan faktor
presipitasi
- Kurangi faktor presipitasi nyeri
- Anjurkan mererapkan teknik napas dalam
- Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil yang diperoleh dari intervensi pengalihan rasa nyeri dengan menggunakan
teknik relaksasi napas dalam, guided imegery dan menggunakan musik. Klien yang pertama
lebih suka dengan teknik relaksai napas dalam saat dilakukan teknik relaksasi napas dalam
klien sangat konsentrasi dan setelah dilakukan rasa nyeri berkurang dan disaat melakukan
rasa nyeri menghilang sesaat. Hasil ini didukung oleh hasil penelitian Dewi dkk, 2009. Hal
ini sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh Bruner & Suddart (2013), bahwa tehnik
relaksasi napas dalam efektif untuk mengatasi nyeri, termasuk pada pasien dengan abdominal
pain. Manajemen nyeri untuk mengendalikan nyeri pada pasien dengan abdominal pain yang
dilakukan secara multidisiplin sangat perlu dilakukan mengingat manajemen nyeri termasuk
indikator mutu pelayanan institusi rumah sakit. Pengendalian rasa nyeri pada pasien dengan
abdominal pain sangat penting dalam tatanan pelayanan keperawatan.

Perawat berperan penting dalam menurunkan skala nyeri pasien dengan abdominal
pain, Teori self-care dari Orem’s self-care deficit theory of nursing menjelaskan bagaimana
tindakan self-care membantu individu untuk menghilangkan nyeri; 1) totally compensatory,
perawat menggantikan klien dalam perawatan diri (membantu sepenuhnya), 2) partly
compensatory, adalah perawat dan klien bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan klien, dan
3) supportive-educative; klien sebagai agens self-care tetapi memerlukan bantuan dalam
mengambil keputusan, modifikasi perilaku dan meningkatkan pengetahuan dan keahlian,
Perawat bertindak sebagai pendukung dan pemberi pendidikan ketika menggunakan relaksasi
untuk menghilangkan nyeri pada Abdominal Pain.

Tehnik relaksasi untuk mengatasi nyeri ini dapat dilakukan dengan cara yang
sederhana, biaya yang relative murah dan dapat dilakukan secara mandiri oleh pasien.
Peneliti mencoba melakukannya dengan cara membimbing pasien secara lisan berdasarkan
prosedur tehnik relaksasi yang sudah disusun. Pasien yang diterapi hanya mendengarkan
perkataan perawat hingga akhirnya pasien fokus pada kata-kata perawat dan mau melakukan
apa yang dicontohkan oleh perawat, dalam hal ini perawat terlibat langsung untuk member
contoh kepada pasien dan selanjutnya melatih pasien untuk melakukannya secara mandiri
untuk mengantisipasi nyeri yang sewaktuwaktu dapat terjadi.

Pada saat dilakukan guided imagery klien suka karena klien membayangkan
berwisata bersama keluarganya di pegunungan, karena klien suka dengan suasana
pegunungan. Teknik guided imagery yang dilakukan pada saat tahap kerja klien tersenyun
dan merasa senang, klien mengatakan rasa nyerinya berkurang dan pada saat dilakukan
guided imagery klien sangat berkonsentrasi mengikuti segala arahan yang saya pandu untuk
melakukan guided imagery. Hal tersebut terjadi karena guided imagery merupakan metode
relaksasi yaitu klien diinstruksikan untuk mengkhayalkan di dalam tempat yang berhubungan
dengan rasa relaksasi yang menyenangkan.

Khayalan memungkinkan klien memasuki keadaan atau pengalaman relaksasi


sehingga dengan menerapkan guided imagery secara terus menerus akan mengurangi
intensitas nyeri (Kaplan & Sadock, 2010). Guided imagery merupakan imajinasi yang
dirancang secara khusus untuk mencapai efek positif. Dengan membayangkan hal-hal yang
menyenangkan maka akan terjadi perubahan aktifitas motorik sehingga otot-otot yang tegang
menjadi relaks, respon terhadap bayangan menjadi semakin jelas. Hal tersebut terjadi karena
rangsangan imajinasi berupa hal-hal yang menyenangkan akan dijalankan kebatang otak
menuju sensor thalamus untuk diformat. Sebagian kecil rangsangan itu ditransmisikan ke
amigdala dan hipokampus, sebagian lagi dikirim ke korteks serebi. Sehingga pada korteks
serebi akan terjadi asosiasi pengindraan. Pada hipokampus hal-hal yang menyenangkan akan
diproses menjadi sebuah memori. Ketika terdapat rangsangan berupa imajinasi yang
menyenangkan memori yang tersimpan akan muncul kembali dan menimbulkan suatu
persepsi. Dari hipokampus rangsangan yang telah mempunyai makna dikirim ke amigdala
yang akan membentuk pola respon yang sesuai dengan makna rangsangan yang diterima.
Sehingga subjek akan lebih mudah untuk mengasosiasikan dirinya dalam menurunkan sensasi
nyeri yang di alami. Hal tersebut bisa dijelaskan melalui konsep pengkondisian klasik berupa
imajinasi tentang pengalaman yang menyenangkan, sehingga menimbulkan reaksi terhadap
stimulus (Feldman, 2012).

Pemasangan satu stimulus dengan stimulus lainnya akan menimbulkan efek


pengkondisian (Atkinson, Smith, dan Bem, 2006). Ketika individu mengalami nyeri maka
respon yang muncul adalah sensasi nyeri. Tetapi ketika individu mengalami nyeri dan
stimulus yang dimunculkan adalah perasaan menyenangkan maka reaksi yang muncul adalah
perasaan senang. Sehingga lama kelamaan dengan memberikan stimulus perasaan yang
menyenangkan rasa nyeri akan berangsur-angsur menghilang dan tergantikan menjadi
perasaan senang. Seperti halnya bila individu memiliki informasi yang salah mengenai suatu
situasi maka respon terhadap situasi tersebut juga akan salah (Semium, 2006). Sehingga
dengan memberikan pengkondisian individu diajarkan untuk mengurangi reaksi kepada
stimulus untuk merubah sensasi nyeri yang dialami.
Teknik yang terakhir menggunakan terapi musik untuk menghilangkan nyeri, klien
merasa tidak ada perubahan yang terjadi dan masih merasakan nyeri. Pada saat tahap kerja
klien mendengarkan musik dengan sungguh – sungguh dan pada saat melakukannya dengan
kondisi yang sepi serta nyaman bagi klien. Penelitian yang dilakukan McCaffery menemukan
bahwa intensitas nyeri menurun sebanyak 33% setelah terapi musik dengan menggunakan
music klasik Mozart terhadap pasien osteoarthritis selama 20 menit dengan music
Mozart(Dian Novita, 2012). Pemberian Analgestik merupakan prosedur standart pasien
fraktur. Good,et.al 2005, Nilssons 2008, mengemukakkan penggunaan analgestik untuk
mengatasi nyeri merupakan protokol yang seharusnya(Dian Novita,2012). Menurut yang saya
terapkan di klien tidak sejalan karena tidak ada pengaruh.

BAB VI

PENUTUP
A. Kesimpulan
Gastritis adalah inflamasi mukosa lambung yang diakibatkan oleh diet yang
tidak benar atau makanan yang berbumbu atau mengandung mikroorganisme
penyebab penyakit.

Gastritis dibagi menjadi dua yaitu gastritis akut dan gastritis kronik. Gastritis
akut adalah kelainan klinis akut yang jelas penyebabnya dengan tanda dan gejala yang
khas, biasanya ditemukan sel inflamasi akut dan neutrofil. Sedangkan gastritis kronik
merupakan suatu peradangan bagian permukaan mukosa lambung yang menahun,
yang disebabkan oleh ulkus dan berhubungan dengan Hellicobacter Pylori.

Gejala gastritis akut sangat bervariasi, mulai dari yang sangat ringan
asimtomatik sampai sangat berat yang dapat membawa kematian. Gejala gastritis
kronis :

1. Bervariasi dan tidak jelas.


2. Perasaan penuh, anoreksia.
3. Distress epigastrik yang tidak nyata.
4. Cepat kenyang.

Kesimpulan dari intervensi yang saya lakukan lebih efektif menggunakan relaksasi
napas dalan kemudian guidedd imagery, sedangkan terapi menggunakan musik klien tidak
ada pengaruhnya .

B. Saran
Pentingnya menjaga kesehatan dalam sistem pencernaan itu baik, karena dapat
mengganggu kerusakan organ dalam sehingga memberikan dampak negatif bagi
kesehatan tubuh. Menghindari makanan yang asam, pedas dan minuman yang
beralkohol, kafein. Dapat memicu cepatnya terjadi gastritis karena asam lambung tidak
bisa menjaga dinding lambung. Mengakibatkan nyeri di epigastrium. Maka dari itu
jagalah organ organ penting dan kesehatan dalam tubuh kita ini.

Daftar Pustaka
1. Doengoes,Marilyn.E.dkk.2006.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI
2. Bruner & Sudart, (2002), Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Vol. 2, Edisi 8, EGC,
Jakarta
3. http://en.wikipedia.org, Gastritis
4. Price, Sylvia A. Wilson, L. M. (1994). Patofisiologi Konsep Proses Penyakit, edisi 4, Alih
Bahasa Peter Anugrah. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran  EGC.