Anda di halaman 1dari 31

KONSEP DASAR KEPERAWATAN

“ASUHAN KEPERAWATAN APPENDISITIS”

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah konsep dasar
keperawatan

Dosen :

Ibu Kiki Deniati,S.kep.,M.Keep

Disusun oleh :

DIAH AYU SAPUTRI

NPM: 18.156.01.11.076

KELAS 1 C KEPERAWATAN

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

STIKes MEDISTRA INDONESIA

BEKASI
KATA PENGANTAR

Rasa syukur yang dalam saya sampaikan ke hadiran Tuhan Yang Maha Esa .
karena berkat rahmatnya laporan pendahuluan ini dapat saya selesaikan sesuai
dengan yang diharapkan. Dalam laporan ini saya membahas tentang kasus
penyakit APENDISITIS ini merupakan salah satu tugas untuk memenuhi nilai
ujian akhir smester 2 . Dan disusun dengan tujuan untuk membantu
memperdalam ilmu pengetahuan tentang asuhan keperawatan pada kasus
apendisitis . Meskipun saya berharap isi dari laporan ini bebas dari kekurangan
dan kesalahan, namun, selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, saya
mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar laporan ini dapat lebih
baik lagi. Demikian laporan ppendahuluan ini saya buat semoga bermanfaat
bagi pembaca `
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................1

DAFTAR ISI...............................................................................................2

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang..................................................................................3

1.2 Tujuan..............................................................................................4

1.3 Manfaat penulisan............................................................................4

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Definisi............................................................................................5

2.2 Klasifikasi........................................................................................5

2.3 Etiologi.............................................................................................6

2.4 Manifestasi klinis..............................................................................6

2.5 Patofisiologis...........................................................................................6

2.6 Diagnosa keperawatan..........................................................................7

2.7 Penatalaksanaan medis......................................................................7

2.8 Penatalaksanaan keperawatan...........................................................8

2.9 Komplikasi.......................................................................................8

2.10 Diagnosa keperawatan yang munkin muncul...................................10

2.11 Intervensi.........................................................................................10

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN......................................................................13

BAB IV PENUTUP..................................................................................................25

2.13 Kesimpulan......................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Apendisitis merupakan suatu kondisi  dimana infeksi terjadi di umbai cacing.  Dalam
kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi
dengan penyingkiran umbai  cacing yang terinfeksi.Sebagai penyakit yang paling sering
memerlukan tindakan bedah kedaruratan, apendisitis merupakan keadaan inflamasi dan
obstruksi pada apendiks vermiformis. Apendiks vermiformis yang disebut pula umbai
cacing atau lebih dikenal dengan nama usus buntu, merupakan kantung kecil yang buntu
dan melekat pada sekum. Apendisitis dapat terjadi pada segala usia dan megenai laki –
laki serta perempuan sama banyak. Akan tetapi pada usia antara pubertas dan 25 tahun,
prevalensi apendisitis lebih tinggi pada laki – laki. Sejak terdapat kemajuan dalam terapi
antibiotik, insidensi dan angka kematian karena apendisitis mengalami penurunan.
Apabila tidak ditangani dengan benar, penyakit ini hampir selalu berkibat fatal
(Kowalak,  2011).
Pada umumnya post operasi appendiktomi mengalami nyeri akibat bedah luka operasi.
Menurut Maslow bahwa kebutuhan rasa nyaman merupakan kebutuhan dasar setelah
kebutuhan fisiologis yang harus terpenuhi.  Seorang yang mengalami nyeri akan
berdampak pada aktivitas sehari-hari. Seorang tersebut akan terganggu pemenuhan
kebutuhan istirahat tidur, pemenuhan individu, juga aspek interaksi sosialnya yang dapat
berupa menghindari percakapan, menarik diri dan menghindari kontak. Selain itu seorang
yang mengalami nyeri hebat akan berkelanjutan, apabila tidak ditangani pada akhirnya
dapat mengakibatkan syok neurogenic pada orang tersebut (Gannong, 2010).
Angka kejadian appendicitis cukup tinggi di dunia. Berdasarkan  Word Health
Organisation (2010) yang dikutip oleh Naulibasa (2011), angka mortalitas akibat
appendicitis adalah 21.000 jiwa, di mana populasi laki-laki lebih banyak dibandingkan
perempuan. Angka mortalitas appendicitis sekitar 12.000 jiwa pada laki-laki dan sekitar
10.000 jiwa pada perempuan.
Di Amerika Serikat terdapat 70.000 kasus appendicitis setiap tahnnya. Kejadian
appendicitis di Amerika memiliki insiden 1-2 kasus per 10.000 anak pertahunya antara
kelahiran sampai umur 4 tahun. Kejadian appendicitis meningkat 25 kasus per 10.000
anak pertahunnya antara umur 10-17 tahun di Amerika Serikat. Apabila dirata-rata
appedisitis 1,1 kasus per 1000 orang pertahun di Amerika Serikat.
Insiden appendicitis cukup tinggi termasuk Indonesia merupakan penyakit urutan
keempat setelah dyspepsia, gastritis dan duodenitis dan system cerna lainnya (Stefanus
Satrio.2009). Secara umum di Indonesia, appendicitis masih merupakan penyokong
terbesar untuk pasien operasi setiap tahunnya.hasil laporan dari RS Gatot Soebroto,
Jakarta tahun 2006  sebabkan oleh pola makan pasien yang rendah akan serat setiap
harinya (Depkes RI ,2007).

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan umum


Laporan ini ditunjukan utuk mahasiswa/i dapat memahami asuhan keperawatan
pada klien dengan gangguan Apendisitis.
1.2.2 Tujuan khusus
a. Agar dapat memahami pengertian dari appendisitis
b. Agar dapat memahami etiologi dari appendisitis
c. Agar dapat memahami patofisiologi apendisitis
d. Agar dapat memahami manifestasi klinis dari appendisitis
e. Agar dapat memahami pemeriksaan penunjang dari appendisitis
f. Agar dapat memhami penatalaksanaan dari appendisitis
g. Agar dapat memahami komplikasi dari appendisitis
h. Agar mengetahui prognosis penyakit appendisitis
i. Agar dapat memahami dan menerapkan asuhan keperawatandengan
gangguan appendisitis.

1.3 Manfaat Penulisan

Dengan adanya laporan pendahuluan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan


pembaca tentang asuhan keperawatan dengan ganguuan apendisitis (usus buntu).
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing
(apendiks). Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa adanya perawatan, tetapi
banyak juga kasus yang memerlukan laparotomi dengan penyingkiran umbai
cacing yang terinfeksi. Infeksi ini bisa mengakibatkan pernanahan. Bila infeksi
bertambah parah, usus buntu itu bisa pecah. Usus buntu merupakan saluran usus
yang ujungnya buntu dan menonjol dari bagian awal usus besar atau sekum
(cecum). Usus buntu besarnya sekitar kelingking tangan dan terletak di perut
kanan bawah. Strukturnya seperti bagian usus lainnya. Namun, lendirnya banyak
mengandung kelenjar yang senantiasa mengeluarkan lendir. (Anonim, Apendisitis,
2007).Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki-laki maupun
perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki-laki berusia 10-30 tahun
(Mansjoer, 2010).

2.2 Klasifikasi Apendisitis

Klasifikasi apendisitis terbagi menjadi dua yaitu, apendisitis akut dan apendisitis kronik
(Sjamsuhidayat, 2005).

1. Apendisitis akut
Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh radang
mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat, disertai maupun tidak
disertai rangsang peritonieum lokal. Gajala apendisitis akut ialah nyeri samar-samar
dan tumpul yang merupakan nyeri viseral didaerah epigastrium disekitar umbilikus.
Keluhan ini sering disertai mual dan kadang muntah. Umumnya nafsu makan
menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ketitik mc Burney. Disini nyeri
dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatik
setempat.
2. Apendisitis kronik
Diagnosis apendisitis kronis baru dapat ditegakkan jika ditemukan adanya :
riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari 2 minggu, radang kronik apendiks secara
makroskopik dan mikroskopik. Kriteria mikroskopik apendisitis kronik adalah
fibrosis menyeluruh dinding apendiks, sumbatan parsial atau total lumen apendiks,
adanya jaringan parut dan ulkus lama dimukosa , dan adanya sel inflamasi kronik.
Insiden apendisitis kronik antara 1-5%.

2.3 Etiologi

Appendisitis merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri.


Beberapa faktor yang menyebabkan appendisitis yaitu sumbatan lumen appendiks
yang dianggap sebagai pencetus selain hiperplasia jaringan limfe,fekalit,tumor
apendiks dan dapat disebabkan oleh cacing askaris yang dapat menimbulkan
sumbatan. Selain faktor diatas juga ada faktor lain yang menjadi penyebab dari
appendisitis yaitu erosi mukosa appendiks karena adanya parasit seperti
E.histolitica. Appendik juga dapat disebabkan karena kebiasaan makan makanan
yang rendah serat sehingga dapat menimbulkan konstipasi sehingga dapat
memepengaruhi terhadap timbulnya appendisitis.

2.4 Manifestasi klinis

1. Adanya nyeri pada kuadran kanan bawah terasa & umumnya disertai dengan demam
ringan, mual, muntah & hilangnya sebuah nafsu makan.
2. Adanya nyeri tekan local pada titik McBurney apabila dilakukan suatu tekanan.
3. Adanya nyeri tekan lepas.
4. Adanya gangguan konstipasi atau diare.
5. Adanya nyeri lumbal, apabila appendiks melingkar di belakang sekum.
6. Adanya nyeri defekasi, apabila appendiks berada dekat rektal.
7. Adanya nyeri kemih, apabila ujung appendiks berada didekat kandung kemih/ureter.
8. Pemeriksaan rektal positif apabila ujung appendiks berada di ujung pelvis
9. Adanya tanda Rovsing dengan melakukan palpasi kuadran kiri bawah dengan secara
paradoksial menyebabkan nyeri kuadran kanan.
10. Jika appendiks sudah ruptur, rasa nyeri menjadi menyebar, disertai abdomen terjadi
akibat ileus paralitik
11. Pada pasien dengan lanjut usia tanda & gejala appendiks sangat bervariasi. Pasien
mungkin tidak mengalami gejala sampai terjadi ruptur appendiks.
2.5 Patway

2.6 Patofisiologi

Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh


hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat
peradangan sebelumnya, atau neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus
yang diproduksi mukosa mengalami  bendungan. Makin lama mukus tersebut
makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan
sehingga menyebabkan penekanan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat
tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis
bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi terjadi apendisitis akut fokal
yang ditandai oleh nyeri epigastrium. Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan
akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema
bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas
dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah kanan
bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut. Bila kemudian
aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan
gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang
telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi. Bila semua proses di atas
berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak ke arah
apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrat apendikularis.
Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang. Pada anak-
anak, karena omentum lebih pendek dan apediks lebih panjang, dinding apendiks
lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih
kurang memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi
mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah (Mansjoer, 2007).

2.7 Diagnosis apendisitis


Diagnosa apendisitis didasarkan pada anamnesa tentang perjalanan penyakit
dan pemeriksaan fisik terutama pemeriksaan abdomen. Sakit perut yang menjadi
gejala utama pada apendisitis akut bermula di daerah sekitar umbilikus yang
kemudian setelah beberapa jam akan berpindah ke daerah perut kanan bawah
Selain itu, Anoreksia menjadi tanda pertama pada pasien apendisitis  Pasien juga
mengalami mual, muntah dan demam. Tanda yang terpenting adalah nyeri tekan
yang progresif dengan rigiditas setempat difosa iliaka kanan). Pemeriksaan
laboratorium minimal (hitung darah lengkap dengan hitung jenis, analisis urin)
atau pemeriksaan radiografis (radiogram dada dan/atau abdomen) diperlukan
untuk mendukung atau menyingkirkan diagnosis apendisitis akut.

2.8 Penatalaksanaan medis


Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada penderita Apendisitis meliputi
penanggulangan konservatif dan operasi.
1.   Penanggulangan konservatif
Penanggulangan konservatif terutama diberikan pada penderita yang tidak
mempunyai akses ke pelayanan bedah berupa pemberian antibiotik. Pemberian
antibiotik berguna untuk mencegah infeksi. Pada penderita Apendisitis perforasi,
sebelum operasi dilakukan penggantian cairan dan elektrolit, serta pemberian
antibiotik sistemik.
2.      Operasi
Bila diagnosa sudah tepat dan jelas ditemukan Apendisitis maka tindakan yang
dilakukan adalah operasi membuang appendiks (appendektomi). Penundaan
appendektomi dengan pemberian antibiotik dapat mengakibatkan abses dan
perforasi. Pada abses appendiks dilakukan drainage (mengeluarkan nanah).
3.      Pencegahan Tersier.
Tujuan utama dari pencegahan tersier yaitu mencegah terjadinya komplikasi yang
lebih berat seperti komplikasi intra-abdomen. Komplikasi utama adalah infeksi
luka dan abses intraperitonium. Bila diperkirakan terjadi perforasi maka abdomen
dicuci dengan garam fisiologis atau antibiotik. Pasca appendektomi diperlukan
perawatan intensif dan pemberian antibiotik dengan lama terapi disesuaikan
dengan besar infeksi intra-abdomen.

2.9 Penatalaksanaan keperawatan

1. Monitor gejala cardinal/ tanda-tanda vital


2. Kaji adanya infeksi atau peradangan di sekitar nyeri
3. Beri rasa aman
4. Sentuhan therapeutic Teori ini mengatakan bahwa individu yang sehat
mempunyai keseimbangan energy antara tubuh dengan lingkungan luar. Orang
sakit berarti ada ketidakseimbangan energi, dengan memberikan sentuhan pada
pasien, diharapkan ada transfer energy.
5. Aku pressure Pemberian tekanan pada pusat-pusat nyeri
6. Guided imagery
Meminta pasien berimajinasi membayangkan hal-hal yang menyenangkan,
tindakan ini memerlukan suasana dan ruangan yang terang, serta konsentrasi dari
pasien.
7. Distraksi
Mengalihkan perhatian terhadap nyeri, efektif untuk nyeri ringan sampai sedang.
Distraksi visual (melihat TV atau ertandingan bola), distraksi audio (mendengar
musik), distraksi sentuhan massage, memegang mainan), distraksi intelektual
(merangkai puzzle).
8. Anticipatory guidance
9. Memodifikasi secara langsung cemas yang berhubungan dengan nyeri.
10. Hipnotis Membantu persepsi nyeri melalui pengaruh sugesti positif.
11. Biofeedback
Terapi prilaku yang dilakukan dengan memberikan individu informasi tentang
respon nyeri fisiologis dan cara untuk melatih control volunter terhadap respon.
Terapi ini efektif untuk mengatasi ketegangan otot dan migren dengan cara
memasang elektroda pada pelipi.

2.10 Komplikasi

Komplikasi yang terjadi akibat keterlambatan penanganan Apendisitis. Factor


keterlambatan bisa dipengaruhi oleh penderita & tenaga medis. Factor penderita
meliputi pengetahuan & biaya, sedangkan tenaga medis meliputi kesalahan dalam
menentukan diagnosa, menunda diagnosa, terlambat merujuk ke rumah sakit, &
terlambat melakukan penanggulangan. Keadaan ini mengakibatkan adanya
peningkatan angka morbiditas & mortalitas. Proporsi komplikasi Apendisitis 10-
32 %, paling sering terjadi pada anak kecil & orang tua. Komplikasi 93 % terjadi
pada anak-anak < 2 tahun & 40-75% pada orang tua. CFR komplikasi 2-5 %, 10 –
15 % terjadi pada anak-anak dan orang tua. Anak-anak memiliki dinding
appendiks yg masih tipis, omentum lebih pendek & belum berkembang sempurna
sehingga memudahkan terjadinya perforasi, sedangkan pada orang tua akan terjadi
gangguan pembuluh darah. Adapun jenis komplikasi yg terjadi:
1. Abses
Abses ialah sebuah peradangan appendiks yg berisi pus. Pada saat di palpasi
teraba massa lunak di kuadran kanan bawah/pada daerah pelvis. Massa ini
awalnya berupa flegmon & berkembang menjadi rongga yg di dalamnya
mengandung pus. Hal ini akan terjadi apabila Apendisitis gangren/mikroperforasi
ditutupi oleh omentum
2. Perforasi
Perforasi ialah pecahnya appendiks yg berisi pus sehingga bakteri dapat
menyebar ke rongga perut. Perforasi jarang terjadi dalam waktu 12 jam pertama
sejak awal sakit, tetapi meningkat sesudah 24 jam. Perforasi dapat diketahui
praoperatif pada 70 % kasus dengan gambaran klinis yag timbul lebih dari waktu
36 jam sejak sakit, panas lebih dari 38,50C, tampak adanya  toksik, nyeri tekan
seluruh perut, & adanya leukositosis terutama polymorphonuclear ( PMN ).
Perforasi, baik berupa perforasi bebas maupun mikroperforasi bisa menyebabkan
peritonitis.
3. Peritononitis
Peritonitis ialah suatu peradangan peritoneum, merupakan komplikasi
berbahaya yg bisa saja  terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. Apabila infeksi
tersebar luas pada permukaan peritoneum maka akan menyebabkan timbulnya
peritonitis umum. Aktivitas peristaltik akan berkurang sampai timbul ileus
paralitik, usus meregang, & hilangnya cairan elektrolit dapat mengakibatkan
dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi, & oligouria. Peritonitis disertai adanya rasa
sakit perut yg semakin hebat, muntah, nyeri abdomen, demam, & leukositosis.

2.11 Pengkajian Keperawatan

Wawancara untuk mendapatkan riwayat kesehatan dengan cermat khususnya


mengenai:
a) Keluhan utama klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium menjalar ke
perut kanan bawah. Timbul keluhan Nyeri perut kanan bawah mungkin beberapa
jam kemudian setelah nyeri di pusat atau di epigastrium dirasakan dalam beberapa
waktu lalu.Sifat keluhan nyeri dirasakan terus-menerus, dapat hilang atau timbul
nyeri dalam waktu yang lama. Keluhan yang menyertai biasanya klien mengeluh
rasa mual dan muntah, panas.b
b) Riwayat kesehatan masa lalu biasanya berhubungan dengan masalah. kesehatan
klien sekarang.
c) Diet,kebiasaan makan makanan rendah serat.
d) Kebiasaan eliminasi.
e) Pemeriksaan Fisik
i. Pemeriksaan fisik keadaan umum klien tampak sakit ringan/sedang/berat.
ii.Sirkulasi : Takikardia.
iii.Respirasi : Takipnoe, pernapasan dangkal.
f) Aktivitas/istirahat : Malaise.
g) Eliminasi : Konstipasi pada awitan awal, diare kadang-kadang.
h) Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak ada
bising usus.
i) Nyeri/kenyamanan, nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus, yang
meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Burney, meningkat karena
berjalan, bersin, batuk, atau napas dalam. Nyeri pada kuadran kanan bawah karena
posisi ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak.
j) Demam lebih dari 38◦C.
k) Data psikologis klien nampak gelisah.
l) Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan.
m) Pada pemeriksaan rektal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri
pada daerah prolitotomi.
n) Berat badan sebagai indicator untuk menentukan pemberian obat.

2.11 Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul


 
a. Pra operasi
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi (distensi jaringan intestinal
oleh inflamasi)
2. Perubahan pola eliminasi (konstipasi) berhubungan dengan penurunan  peritaltik.
3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual muntah.
4. Cemas berhubungan dengan akan dilaksanakan operasi.

b. Post operasi
1. Nyeri akut berhubungan dengan Agen pencedera fisik (post apendiktomi)
ditandai dengan pasien mengeluh nyeri pada luka post operasi, tampak
meringis saat dipalapsi
2. Resiko infeksi ditandai dengan Ketidak adekuatan pertahanan tubuh primer :
kerusakan integritas kulit (luka insisi post op. Apendisitis), luka berwarna
coklat kemerahan
3. Defisit self care berhubungan dengan nyeri
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

Kasus

Ny.B berusia 22 tahun dirawat di RS Medistra indonesia, pasien mengeluh nyeri pada perut
bagian kanan bawah (luka post op), pasien tampak memegangi perut kanan bawah ( luka
post.op), nyeri seperti di tusuk – tusuk, pasien mengatakan nyeri timbul terus menerus,
Setelah dilakukan pemeriksaaan didapatkan data: pasien tampak meringis saat dipalpasi,
Tampak ada luka insisi 6 cm diperut kuadran kanan bawah dengan balutan kasa luka bewarna
coklat kemerahan. N: 88x/mnt , TD:110/70 mmhg , S: 36,8◦c , RR:20x/mnt. Hasil
pemeriksaan lab didapatkan data: leukosit: 15.300/mm3 . Pasien mendapat therapy : ketorolac
30 mg 2x1.

Asuhan keperawatan pada ny “B” dengan Post Op Apendisitis

I. DATA DEMOGRAFI
1. Biodata
Nama : Ny.B
Usia : 22 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Ttl : bekasi 16 mei 1997
Alamat : Bekasi
Suku : Sunda
Status pernikahan : Belum kawin
Agama : islam
Pekerjaan :-
Diagnosa medis apendisitis
No. RM : 0021
Tanggal masuk : 12 mei 2019
Tanggal pengkajian : 14 mei 2019
Therapy medik : ketorolac 30 mg 2x1
2. Penanggung jawab
Nama : ny.D
Usia : 42 tahun
Jenis kelamin : perempuan
Pekerjaan : wiraswasta
Hubungan dengan klien: ibu kandung

II. KELUHAN UTAMA


Klien merasakan nyeri pada abdomen kanan bawah ( luka post op)

III. RIWAYAT KESEHATAN


1. Riwayat kesehatan sekarang
Pasien dioperasi pada 12 mei 2019 pukul 13.00 WIB di RS Medistra indonesia,
operasi apendiktomi. Kondisi umum ny.B setalah dilakukan operasi sebagai
berikut:
Ny.B meringis, pasien memegangi perut, ada luka inisiasi diperut kuadran kanan
bawah. Luka 6 cm terbalut kasa dan luka coklat kemerhan. Nadi pasien 88x/mnt
Hasil lab leukosit: 15.300/mm3 . Pasien diberikan therapy : ketorolac 30 mg 2x1.
Dua hari sebelum mengeluh nyeri pasien melakukan operasi apendiktomi.

2. Riwayat penyakit dahulu


Saat remaja, pasien hanya sakit flu dan demam biasa
3. Riwayat kesehatan keluarga
Dalam anggota kelurga tidak ada yang mendirta penyakit serupa dengan pasien
serta tidak ada yang mengalami penyakit yang menular.

IV. RIWAYAT PISIKOLOGIS

V. RIWAYAT SPIRITUAL

VI. PEMERIKSAAN FISIK

1. Keadaan umum
 Kondisi ny.B meringis kesakitan memegangi luka post op.
2. Tanda – tanda vital
 Suhu 36,8 ºc
 Nadi : 88 x/mnt
 TD : 110/70 mmhg
 Pernafasan : 20 x/mnt
3. Sistem pernafasan
 Hidung : bentuk simetris, kondisi bersih, tidak terdapat gangguan pada
indra penciuman
 Leher : tiadak terdapat JVP
 Dada :
o Inpeksi : bentuk dada normal, simetris kiri dan kanan
o Palpasi : fremitus kanan dan kiri simetris
o Perkusi : sonor disemua lapangan paru
o Auskultasi : terdengar suara reguler dan tidak ada suara tambahan

4. Sistem kardiovaskuler
 Inpeksi : iktus kordis tidak tampak
 Palpasi : iktuskordis teraba di Ic5
 Perkusi : pekak
 Auskultrasi Bj.1 dan Bj.2 murni

5. Sistem pencernaan
 Bibir dan mulut tidak kering, lidah tidak kotor, fungsi pengecapan bagus,
tidak ada peradangan, tidak terdapat karies gigi
 Abdomen
o Inspeksi : bentuk simetris, terdapat luka post operasi apendiktomi
dengan jahitan rapi, luka bersih, luka berwarna kemerahan, tidak
bengkak, panjang luka 6 cm
o Auskultrasi : peristaltik 12x/menit
o Palpasi : terdapat nyeri tekan pada kuadran kanan bawah, tidak ada
pembesaran hati, ginjal maupun limfa.
o Perkusi : timpani
6. Sistem indra
 Mata : konjungtiva tanpa anemis, fungsi penglihatan baik
 Hidung : fungsi penghidungan normal dan tidak terdapat penumpukan
sekret
 Telinga : fungsi pendengaran baik tidak terdapat penumpukan srumen

7. Sistem muskuloskeletal
 Kepala : bentuk kepala mesosepal
 Tidak ada keterbatasan gerak sendi maupun otot

8. Sistem integumen
 Turgor elastis tidak terdapat edema

VII. AKTIVITAS SEHARI – HARI


 Nutrisi : pasien makan dengan diit rumah sakit dengan bubur , makannya
habis ½ porsi rumah sakit.
 Cairan : pasien mengatakan sehari minum air putih kurang lebih 300ml
 Eliminasi : pasien mengatakan BAK lancar dan tidak teras sakit , pasien
juga mengatakan belum BAB namun sebelum oprasi pasien BAB 1 kali
 Istirahat : orangtua pasien mengatakan selama sakit pasien tertidur selama
7 jam dan sering meringis kesakitan saat tertidur.

VIII. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Hasil Normal


Hematologi :
1. Leukosit 15.300/mm3 Dewasa: 4000-10.000/mm3
2. Hemoglobin 12,7 11,7-15,5
3. Hematokrit 38 35-47 %
4. Trombosit 276.000 150.000-440.000/ul

IX. TERAPI SAAT INI

Tanggal : 13 mei 2019


 Pasien mendapat therapy : obat ketorolac 30 mg 2x1.
 DIIT : bubur

I. DATA FOKUS
Nama pasien : ny.”B”
No RM : 0021
Ttl : Bekasi , 16 mei 1997

Data objektif Data subjektif


1. Pasien tampak meringis kesakitan 1. Pasien mengeluh nyeri pada
2. Pasien memegangi abdomen kuadran perut bagian kanan bawah
kanan bawah (luka post op) (luka post op)
3. Tampak ada luka insisi diperut 2. Seperti di tusuk – tusuk,
kuadran kanan bawah 3. Pasien mengatakan nyeri
4. Tampak Luka 6 cm timbul terus menerus
5. Tampak Luka dibalut kasa
6. Tampak luka berwarna coklat
kemerahan
7. Tampak Luka terasa hangat
8. Nadi :88x/mnt
9. Suhu : 36,8 ºc
10. TD : 110/70 mmhg
11. RR : 20x/mnt
12. Hasil lab: leukosit 15.300/mm3 .
13. Pasien mendapat therapy : ketorolac
30 mg 2x1.
II. ANALISA DATA

Nama pasien : ny.”B”


No RM : 0021
Ttl : Bekasi , 16 mei 1997

No Data Problem Etiologi


1 DO :
1. Pasien tampak meringis Nyeri akut Agen pencedera fisik
kesakitan (post apendiktomi)
2. Tampak ada luka insisi diperut
kuadran kanan bawah
3. Nadi : 88x/mnt
4. Suhu : 36,8 ºc
5. TD : 110/70 mmhg
6. RR : 20x/mnt
7. Pasien memegangi abdomen
kuadran kanan bawah (luka
post op)
8. Therapy : ket0orolac 30 mg
2x1
DS :
9. Pasien mengeluh nyeri pada
perut bagian kanan bawah
(luka post op)
10. Seperti ditusuk – tusuk
11. Pasien mengatakan nyeri
timbul terus menerus
2 DO :
1. Tampak ada luka insisi diperut Risiko infeksi Ketidak adekuatan
kuadran kanan bawah pertahanan tubuh
2. Luka 6 cm primer : kerusakan
3. Hasil lab: leukosit 15.300/ integritas kulit
mm3 ,
4. Luka dibalut kasa
5. Luka bewarna coklat
kemerahan
DS :
Pasien mengeluh nyeri pada abdomen
kuadran kanan bawah (luka post op)

III. DIAGNOSA KEPERAWATAN


Nama pasien : ny.”B”
No RM : 0021
Ttl : Bekasi , 16 mei 1997

No Diagnosa keperawatan Tanggal Tanggal teratasi


ditemukan
1. Nyeri akut b.d Agen pencedera fisik 12 mei 2019 13 Mei 2019
(post apendiktomi) d.d pasien
mengeluh nyeri pada luka post
operasi, tampak meringis saat
dipalapsi
2. Resiko infeksi ditandai dengan 12 mei 13 mei 2019
Ketidak adekuatan pertahanan tubuh 2019
primer : kerusakan integritas kulit
(luka insisi post op. Apendisitis),
luka berwarna coklat kemerahan

IV. INTERVENSI
Nama pasien : ny.”B”
No RM : 0021
Ttl : Bekasi , 16 mei 1997
No Dx. Kep Tujuan dan Intervensi Rasional T
kriteria hasil td
1 Nyeri akut b.d Setelah dilakukan 1. Kaji tingkat 1. Berguna dalam
Agen pencedera tindakan nyeri, catat pengawasan
fisik (post perawatan selama lokasi, keefektifan obat,
apendiktomi) d.d 1x24 jam karakteristik kemajuan
pasien mengeluh diharapkan nyeri penyembuhan
nyeri pada luka yang dialami pada karakteristik
post operasi, pasien berkurang 2. Observasi nyeri
tampak meringis atau hilang. TTV menunjukkan
saat dipalapsi . Dengan KH: 3. Berikan terjadi abses,
 Klien tidak lingkunga memerlukan upaya
mengeluh n yang evaluasi medik
nyeri tenang dan dan intervensi.
 Klien tampak kurangi
tenang rangsanga
 Klien tidak n stres
meringis
kesakitan 2. Dapat membantu
4. Pertahankan mengevaluasi
istirahat pernyataan verbal
dengan posisi dan keefektifan
semi Fowler intervensi

3. Meningkatkan
istirahat

5. Ajarkan
teknik nafas
dalam bila
rasa nyeri 4. Gravitasi
datang melokalisasi
eksudat inflamasi
dalam abdomen
bawah atau pelvis,
menghilangkan
tegangan abdomen
yang bertambah
dengan posisi
telentang

6.  Kolaborasi 5. Teknik nafas


dengan dalam
pemberian menurunkan
analgetik konsumsi
sesuai indikasi abdomen akan O2,
menurunkan
frekuensi
pernafasan,
frekuensi jantung
dan ketegangan
otot yang
menghentikan
siklus nyeri

6. Menghilangkan
nyeri,
mempermudah
kerjasama dengan
intervensi lain,
contoh ambulasi,
batuk.
2 Resiko infeksi Setelah dilakuakn 1. Awasi tanda- 1. Dugaan adanya
ditandai dengan tindakan tanda vital. infeksi/terjadinya
Ketidak keperawatan sepsis, abses,
adekuatan diharapkan pasien peritonitis
pertahanan tubuh dapat terhindari
primer : dari infeksi dan
kerusakan tidak terjadi 2. Lakukan 2. Menurunkan risiko
integritas kulit infeksi. pencucian penurunan bakteri
(luka insisi post Dengan : tangan yang
op. Apendisitis), baik dan
luka berwarna  Meningkatkan perawatan
coklat kemerahan. penyembuhan luka yang
luka dengan aseptik
benar
 Bebas dari
tanda-tanda 3. Observasi 3. Memberikan
infeksi keadaan luka deteksi dini
dan insisi. terjadinya proses
infeksi dan
pengawasan
penyembuhan
peritonitis yang
tidak ada
sebelumnya

IV. IMPLEMENTASI
Nama pasien : ny.”B”
No RM : 0021
Ttl : Bekasi , 16 mei 1997

Tgl/jam No.dx.kep Implementasi Respon pasien Ttd


14 mei 1. Nyeri akut b.d 1. Mengkaji tingkat nyeri, 10.10
2019/ Agen lokasi dan karakteristik S:
10.00 pencedera  Pasien mengatakan nyeri
fisik (post pada perut kanan bawah
apendiktomi) (luka post op)
d.d pasien  Pasien mengatakan nyeri
mengeluh seperti ditusuk – tusuk
nyeri pada dan terus – menerus
luka post
operasi, O:
tampak  Pasien tampak meringis
meringis saat  Pasien memegangi
dipalapsi. abdomen kuadran kanan
bawah (luka post op)
 Luka 6 cm
 Luka dibalut kasa

10.45
S:
O:
10.15 2. Mengobservasi TTV  Suhu 36,8 ºc
 Nadi : 88 x/mnt
 TD : 110/70 mmhg
 Pernafasan : 20 x/mnt

10.50
S:
Ibu pasien mengatakan
10.45 3. Memberikan lingkungan ruangan menjadi lebih tenang
yang tenang dan dan pasien mudah
mengurangi rangsangan beristirahat
stress O:
 Pasien tampak berbaring
di atas tempat tidur,
dengan posisi
 Ruangan lebih tenang
dan nyaman

S: 11.05
Pasien mengatakan akan
mencoba menahan sakit
dengan mengatur
11.00 4. Mengajarkan teknik pernafasannya.
nafas bila rasa nyeri O:
datang Klien nampak tarik nafas
lebih dalam melalui hidung
dan mengeluarkannya
melalui mulut.

11.15
S:
Pasien mengatakan sakit
O:
Injeksi ketorolac 30 mg
11.10 5. Mengkolaborasikan
dengan pemberian
analgetik sesuai indikasi
(ketorolac 30 mg/12
jam)
11.20 2. Resiko infeksi 1. Mengawasi tanda-tanda 11.30
ditandai dengan vital S:
Ketidak O:
adekuatan  Suhu 37 ºc
pertahanan tubuh  Nadi : 84 x/mnt
primer :  TD : 110/70 mmhg
kerusakan  Pernafasan : 20 x/mnt
integritas kulit
(luka insisi post 11.50
op. Apendisitis), S:
11.35 luka berwarna 2. Mengobservasi keadaan Ibu pasien mengatakan kasa
kemerahan dan luka balutan dan belum diganti sejak
terasa hangat. mengganti balutan. semalam.
O:
 Tampak luka insisi
dibalut dengan kasa.
 Luka berwarna coklat
kemerahan
 Luka 6 cm
 Jahitan rapih
12.10
S:
11.55 3. Mengkaji tanda-tanda O:
infeksi  suhu : 37◦C
 Luka tidak bau
 Udema (-)
 Pus (-)
 Eritema (-)

V. EVALUASI

Nama pasien : ny.”B”


No RM : 0021
Ttl : Bekasi , 16 mei 1997

Tgl/jam No.dx.kep Evaluasi (SOAP) Ttd


14 mei 1. Nyeri akut b.d S:
2019 / Agen pencedera  Pasien mengatakan nyerinya sudah
13.00 fisik (post berkurang
apendiktomi) d.d  Ibu pasien mengatakan pasien lebih
pasien mengeluh tenang dalam mengatur nyeri
nyeri pada luka
post operasi, O : 
tampak meringis  Psien menarik nafas dalam
saat dipalapsi mengatur rasa nyeri
 Tanda – tanda vital
o S : 37 ºc
o TD : 100/70 mmhg
o P : 20 x/mnt
o ND: 82 x/mnt

A : 
 Masalah belum teratasi
 Pasien dapat mengontrol pernafasan
untuk menahan nyeri.
 Nadi menurun

P :  
 Pertahankan intervensi

14 mei 2. Resiko infeksi S :


2019/ ditandai dengan  Ibu pasien mengatakan perban lebih
13.10 Ketidak adekuatan terlihat bersih. 
pertahanan tubuh
primer : kerusakan O :  
integritas kulit (luka  Tidak tampak adanya tanda-tanda
insisi post op. infeksi
Apendisitis), luka  Luka jahitan bersih
berwarna kemerahan  Perban balutan bersih dan rapih
dan terasa hangat.  Warna coklat kemerahan mulai
pudar (berkurang)
A :  
 Masalah risiko infeksi teratasi

P :  
 Pertahankan intervensi

BAB IV

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Apendisitis merupakan suatu kondisi  dimana infeksi terjadi di umbai cacing.  Dalam
kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi
dengan penyingkiran umbai  cacing yang terinfeksi.
Apendiitis terbagi menjadi dua yaitu, apendisitis akut dan apendisitis kronik.
faktor yang menyebabkan appendisitis yaitu sumbatan lumen appendiks yang dianggap
sebagai pencetus selain hiperplasia jaringan limfe,fekalit,tumor apendiks dan dapat
disebabkan oleh cacing askaris yang dapat menimbulkan sumbatan.Salah satu tanda gejala
klinisnya adalah Adanya nyeri pada kuadran kanan bawah terasa & umumnya disertai dengan
demam ringan, mual, muntah & hilangnya sebuah nafsu makan.
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada penderita Apendisitis meliputi penanggulangan
konservatif dan operasi.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/31440140/LAPORAN_PENDAHULUAN_APENDISITIS

https://www.academia.edu/38114622/LAPORAN_PENDAHULUAN_APPENDISITIS_DA
N_APPENDIKTOMI

http://auhankeperawatan.blogspot.com/2018/07/laporan-pendahuluan-apendisitis.html

https://www.academia.edu/9140893/LAPORAN_PENDAHULUAN_APENDISITIS

http://lpkeperawatan.blogspot.com/2014/01/laporan-pendahuluan-
apendisitis.html#.XMlHzvTakfI
https://www.academia.edu/8880393/Laporan_Pendahuluan_dan_Asuhan_Keperawatan_pada
_Pasien_dengan_Masalah_Nyeri
http://auhankeperawatan.blogspot.com/2018/07/laporan-pendahuluan-apendisitis.html

Anda mungkin juga menyukai