Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM KLINIK SANITASI

KUNJUNGAN RUMAH DAN PENEMUAN PENDERITA SECARA AKTIF

DOSEN PEMBIMBING:
AT Diana Nerawati, SKM., M.Kes
Imam Thohari, ST, M.Mkes

DISUSUN OLEH:
Kelompok C Sub 4
Regita Ardania P27833116008
Lailul Fitriani P27833116027
Amalia Mei Sandi P27833116032
Dinda Sartika Dewi P27833116033

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA


JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN SURABAYA
DIPLOMA III SEMESTER 5
TAHUN AJARAN 2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan bertujuan meningkatkan kesedaran, kemauan, dan
kemampuan hidup setiap pendududkagar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang
optimal. Derajat kesehatan merupakan faktor yang sangat berpengaruh pada kualitas
sumberdaya manusia. Sumberdaya manusia yag sehat akan lebih produktif akan lebih
meningkatkan daya saing manusia.
Menurut H.L Blum (1974) derajat kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor
yaitu lingkungan, perilaku pelayanan kesehan dan keturunan. Pengaruh yang sangat
besar adalah keadaan lingkungan yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan dan
perilaku masyarakat yang merugkan kesehatan, baik masyarakat di pedesaan maupun di
perkotaan yang disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan kemampuan masyarakat
di bidang kesehatan, ekonomi maupun teknologi.
Masalah kesehatan yang berbasis lingkungan disebabkan oleh kondisi lingkungan
yang tidak memadai, baik kualitas maupun kuantitasnya serta perilaku hidup bersih dan
sehat yang masih rendah yang mengakibatkan timbulnya penyakit-penyakit seperti
diare, ISPA, malaria, DBD, TB paru penyakit kulit, kecacingan, keracunan makanan
dan lainya yang merupakan 10 besar penyakit di puskesmas dan merupakan pola
penyakit utama di Indonesia. Sehingga dengan adanya hal tersebut perlu dilakukan
tindakan survey dan pengambilan data penyakit di suatu lingkungan masyarakat.
Klinik sanitasi dilakukan pada dua kegiatan , yaitu didalam gedung dan diluar
gedung. Kegiatan didalam gedung mencakup konseling antar petugas puskesmas
dengan pasien/klien , sedangkan untuk kegiatan di luar gedung puskesmas meliputi
kunjungan rumah, pencatatan, pelaporan, pemantauan dan penilaian. Maka dari itu,
kami sebagai calon sanitarian melakukan praktikum kunjungan ke rumah warga dengan
tujuan dapat memantau kondisi lingkungan rumah penderita penyakit berbasis
lingkungan. Praktikum ini dilakukan di daerah Jojoran I, Kota Surabaya dengan
bantuan formulir konseling dan buku panduan klinik sanitasi.
Penanggulangan penyakit akibat faktor lingkungan masih mengalami kendala.
Salah satu masalahnya yaitu belum terpadunya upaya pemberantasan penyakit berbasis
lingkungan dengan upaya penyehatan lingkungan. Klinik Sanitasi merupakan bentuk
integrasi upaya pelayanan kesehatan yaitu promotif, preventif dan kuratif yang
dilaksanakan secara integrative dalam pelayanan kesehatan di dalam maupun di luar
gedung Puskesmas.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana keadaan lingkungan penderita penyakit berbasis lingkungan ?
2. Bagaimana etiologi penyakit yang diderita oleh penderita ?
3. Bagaimana cara melakukan konseling di luar gedung ?
C. Tujuan
1. Umum
Mahasiswa mampu menganalisis faktor risiko lingkungan perumahan yang
berhubungan dengan penyakit-penyakit yang berbasis lingkungan dan mampu
melakukan interfensi terhadap permasalahan yang ditemukan.
2. Khusus
a. Mahasiswa mampu bekerja sama dengan para medis dan para medis untuk
menangani penyakit-penyakit yang berbasis lingkungan di masyarakat
b. Mahasiswa mampu menganalisis faktor risiko lingkungan rumah yang
berhubungan dengan penyakit pasien
c. Mahasiswa mampu memberdayakan mayarakat dalam menghadapai
permasalahan kesehatan lingkungan di desa
d. Mahasiswa mampu menjadi konsultan terhadap permasalahan-permasalahan
lingkungan yang dihadapi masyarakat.
D. Manfaat
1. Meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam memecahkan masalah – masalah
yang terkait dengan lingkungan
2. Meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam berperan sebagai petugas klinik
sanitasi
3. Mahasiswa dapat memahami pentingnya prosedur klinik sanitasi bagi masyarakat
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Klinik Sanitasi
Klinik Sanitasi merupakan upaya atau kegiatan yang mengintegrasikan pelayanan
kesehatan antara promotif, preventif, dan kuratif yang difokuskan pada penduduk yang
beresiko tinggi untuk mengatasi masalah penyakit berbasis lingkungan dan masalah
kesehatan lingkungan pemukiman yang dilaksanakan oleh petugas puskesmas bersama
masyarakat yang dapat dilaksanakan secara pasif dan aktif di dalam dan luar gedung
puskesmas.
Klinik Sanitasi bukan sebagai kegiatan pokok yang berdiri sendiri, tetapi sebagian
integral dari kegiatan puskesmas yang dilaksanakan secara lintas program dan lintas
sektor di wilayah kerja puskesmas. Dalam pelaksanaan kegiatan Klinik Sanitasi
difasilitasi oleh petugas puskesmas.
Petugas klinik sanitasi adalah tenaga kesehatan lingkungan/tenaga kesehatan
lainnya/tenaga pelaksana yang ditunjuk oleh pimpinan puskesmas untuk melaksanakan
kegiatan Klinik Sanitasi.
Pasien adalah penderita penyakit yang diduga berkaitan dengan kesehatan lingkungan
yang dirujuk oleh petugas medis ke Ruang Klinik Sanitasi atau yang ditemukan di
lapangan baik oleh petugas medis/paramedis maupun petugas survey.
Klien adalah masyarakat yang berkunjung ke puskesmas atau yang menemui petugas
Klinik Sanitasi bukan sebagai penderita penyakit tetapi untuk berkonsultasi tentang
masalah yang berkaitan dengan kesehatan lingkungan.
B. Kegiatan Klinik Sanitasi
Kegiatan klinik sanitasi dilaksanakan didalam gedung dan diluar gedung Puskesmas.
a. Dalam gedung Puskesmas
Semua pasien yang berkunjung ke Puskesmas mendaftar ke bagian
pendaftaran (loket), sedangkan untuk pengunjung masyarakat umum/klien yang
akan berkonsultasi dapat secara langsung mendatangi petugas klinik sanitasi
atau mendaftar dahulu ke loket Puskesmas disesuaikan dengan kondisi daerah.
Seyogyanya orang yang datang ke petugas klinik sanitasi tanpa melalui loket
pendaftaran tetap didaftarkan dan dilaporkan petugas klinik sanitasi sebagai
kunjungan Puskesmas.
Apabila pasien menderita penyakit yang berhubungan erat dengan faktor
lingkungan, maka petugas medis / paramedis di Poliklinik merujuk pasien ke
petugas klinik sanitasi. Kriteria utama penderita penyakit berbasis lingkungan
yang dirujuk perugas klinik sanitasi antara lain sebagai berikut:
 Pasien penderita penyakit yang diduga kuat berkaitan dengan faktor
lingkungan.
 Pada kunjungan sebelumnya pasien pernah menderita penyakit yang
sama (berulang).
 Dalam satu keluarga terdapat 2 orang atau lebih penderita penyakit yang
sama. Khususnya untuk penderita TB paru BTA+ harus dirujuk ke
petugas klinik sanitasi.
 Adanya kecenderungan jumlah penderita meningkat atau potensial KLB.
Diruang petugas klinik sanitasi, petugas klinik sanitasi melakukan
wawancara atau memberikan konseling untuk mengetahui dan membantu
mebemukan permasalahan lingkungan dan perilaku yang diduga berkaitan erat
dengan kejadian penyakit yang diderita dengan faktor lingkungan atau perilaku ,
petugas klinik sanitasi dapat mengkonsultasikan ulang dengan dokter atau
petugas yang memeriksa.
Setelah memberikan saran tindak lanjut, petugas klinik sanitasi membuat
kesepakatan waktu dengan pasien/klien untuk dilakukan kunjungan rumah atau
lapangan. Kriteria pasien/klien yang perlu ditindak lanjuti dengan kunjungan
rumah/lapangan adalah sama dengan kriteria pasien yang dirujuk, ditambah
dengan kriteria lain terutama:
 Bila pasien/klien yang hendak dikunjungi disuatu wilayah jumlahnya
relatif banyak, atau
 Alamat pasien/klien berada di lokasi daerah endemis.
Untuk pasien penderita penyakit berbasis lingkungan setelah dilakukan
wawancara/konseling pasien pergi mengambil obat ke bagian obat/apotik dan
selanjutnya pulang ke rumah. Sedangkan untuk klien/masyarakat umum yang
berkonsultasi, setelah dilakukan wawancara konseling langsung pulang ke
rumah.
Hasil kegiatan dan temuan petugas klinik sanitasi selanjutnya
disampaikan pada forum lokakarya mini Puskesmas untuk dibahas dan
dicarikan jalan penyelesaiannya sehingga permasalahannya dapat diselesaikan
secara terintegrasi dan komprehensif, terutama dalam pelaksanaan tindak
lanjutnya.
b. Luar gedung Puskesmas
Kegiatan luar gedung dilakukan sebagai tindak lanjut dari hasil
wawancara/konseling didalam gedung (puskesmas). Tujuan kunjungan lapangan
pada dasarnya untuk lebih memastikan faktor lingkungan atau perilaku yang
sebelumnya diduga kuat sebagai faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit
dengan cara melakukan pengamatan dan pemeriksaan langsung.
Dalam melakukan kunjungan lapangan, petugas sanitasi seyogyanya
memberitahukan kunjungannya kepada perangkat desa/kelurahan atau tokoh
masyarakat setempat, serta sedapat mungkin mengikutsertakan kader kesehatan
lingkungan dan petugas kesehatan di desa/kelurahan. Disamping untuk
keterpaduan kegiatan, keterlibatan petugas kesehatan didesa/ kelurahan
bermanfaat untuk tindak lanjut keadaan penyakit penderita.
Petugas klinik sanitasi selanjutnya menyimpulkan permasalahan
lingkungan dan perilaku yang berkaitan dengan kejadian penyakit atau masalah
yang dihadapi klien dan memberikan saran tindak lanjut penyelesaian masalah.
Disamping memberikan saran tindak lanjut , petugas sanitasi juga memberikan
bimbingan teknis kepada masyarakat yang membutuhkan.
Bila permasalahan kesehatan lingkungan tersebut menyangkut
sekelompok keluarga atau kampung maka hasil temuan tersebut juga
disampaikan kepada perangkat desa dan tokoh masyarakat , serta kader
kesehatan lingkungan dan petugas kesehatan didesa agar mereka turut berperan
aktif menyelesaikan permasalahan kesehatan lingkungan yang dirasakan
masyarakat. Disamping itu petugas klinik sanitasi dapat membawa
permasalahan tersebut ke forum pertemuan masyarakat desa dan pertemuan
lintas sektor ditingkat kecamatan untuk dapat dukungan penyelesaiannya.
C. Standar Prosedur Operasional Klinik Sanitasi
a. Dalam gedung
Didalam gedung puskesmas, petugas klinik sanitasi diharuskan melakukan langkah-
langkah kegiatan terhadap penderita/pasien dan klien.
1. Penderita
Terhadap penderita, petugas klinik sanitasi diharuskan melakukan langkah-
langkah sebagai berikut:
i. Menerima kartu rujukan status dari petugas poliklinik.
ii. Mempelajari kartu status dari petugas poliklinik.
iii. Menyalin dan mencatat nama penderita atau keluarganya, karakteristik
penderita yang meliputi umur, jenis kelamin, pekerjaan dan alamat,
serta diagnosis penyakitnya ke dalam buku register.
iv. Melakukan wawancara atau konseling dengan penderita/keluarga
penderita tentang kejadian penyakit, keadaan lingkungan, dan perilaku
yang diduga berkaitan dengan kejadian penyakit dengan mengacu pada
buku ‘Pedoman Teknis Klinik Sanitasi di Puskesmas’.
v. Membantu menyimpulkan permasalahan lingkungan atau perulaku
yang berkaitan dengan kejadian penyakit yang diderita.
vi. Memberikan saran tindak lanjut sesuai permasalahan.
vii. Bila diperluka, membuat kesepakatan dengan penderita atau
keluarganya tentang jadwal kunjungan lapangan.
2. Klien
Terhadap klien , petugas klinik sanitasi diharuskan melakukan langkah-
langkah sebagai berikut:
i. Menanyakan permasalahan yang dihadapi klien dan mencatan naman,
karakteristik klien seperti umur, jenis kelamin, pekerjaan , dan alamat
serta mencatatnya ke dalam buku register.
ii. Melakukan wawancara atau konseling dengan klien sesuai
permasalahan yang dihadapi dengan mengacu pada buku ‘Pedoman
Teknis Klinik Sanitasi untuk Puskesmas’ dan ‘Panduan Konseling
Bagi Petugas Klinik Sanitasi di Puskesmas’.
iii. Membantu menyimpulkan permasalahan lingkungan atau perilaku
yang diduga berkaitan dengan permasalahan yang ada.
iv. Memberikan saran pemecahan masalah yang sederhana, murah, dan
mudah untuk dilaksanakan klien.
v. Bila diperlukan dapat dibuat kesempatan jadwal pertemuan berikutnya
atau jadwal kunjungan lapangan/rumah klien.
b. Luar gedung
Sesuai dengan jadwal yang telah disepakati antara penderita/klien atau keluarganya
dengan petugas, petugas klinik sanitasi melakukan kunjungan rumah dan diharuskan
melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
i. Mempelajari hasil wawancara atau konseling didalam gedung (puskesmas).
ii. Menyiapkan dan membawa berbagai peralatan dan kelengkapan lapangan
yang diperlukan seperti formulir kunjungan lapangan, media penyuluhan, dan
alat sesuai dengan jenis penyakitnya.
iii. Memberitahu atau menginformasikan kedatangan kepada perangkat
desa/kelurahan dan petugas kesehatan/bidan desa.
iv. Melakukan pemeriksaan dan pengamatan lingkungan dan perilaku dengan
mengacu pada buku Pedoman Teknis Klinik Sanitasi untuk Puskesmas, sesuai
dengan penyakit/masalah yang ada.
v. Membantu menyimpulkan hasil kunjungan lapangan.
vi. Memberikan saran tindak lanjut kepada sasaran (keluarga penderita / keluarga
sekitar)
vii. Apabila permasalahan yang ditemukan menyangkut sekelompok keluarga atau
kampung, informasikan hasilnya kepada petugas kesehatan didesa/kelurahan,
perangkat desa/kelurahan , kader kesehatan lingkungan, serta lintas sektor
terkait ditingkat kecamatan untuk dapat ditindak lanjuti secara bersama.

D. Tindah Lanjut dan Penyelesaian Masalah


a) Tindak lanjut
Tujuan tindak lanjut adalah untuk mengetahui perkembangan penyelesaian
permasalahan kesehatan lingkungan sesuai dengan rencana dan saran. Kegiatan tindak
lanjut diarahkan untuk:
 Mengetahui realisasi atau kesesuaian anatara rencana tindak ;anjut
penyelesaian masalah kesehatan lingkungan dengan kenyataan.
 Keterlibatan masyarakat , lintas program, dan lintas sektor dalam
perbaikan/penyelsaian masalah kesehatan lingkungan.
 Perkembangan kejadian penyakit dan permasalahan kesehatan lingkungan.
b) Pencatatan dan Pelaporan
Data kegiatan klinik sanitasi dicatat ke dalam buku register untuk kemudian dioleh
dan dianalisis. Selain berguna untuk bahan tindak lanjut kunjungan lapangan serta
keperluan monitoring dan evaluasi, data yang ada dapat digunakan bahan perencanaan
kegiatan selanjutnya.
Seluruh kegiatan klinik sanitasi dan hasilnya dilaporkan secara berkala kepada Kepala
Dinas Kesehatan Kab/Kota sesuai dengan format laporan yang ada.
c) Penyelesaian Masalah
Penyelesaian masalah kesehatan lingkungan , terutama masalah yang menimpa
sekelompok keluarga atau kampung dapat dilaksanakan secara musyawarah dan
gotong royong oleh masyarakat dengan bimbingan teknis dan petugas sanitasi dan
lintas sektor terkait. Apabila dengan cara demikian tidak tuntas dan atau untuk
perbaikannya memerlukan pembiayaan yang cukup besar, maka penyelesaiannya
dianjurkan untuk mengikuti mekanisme perencanaan yang ada, mulai perencanaan
ditingkat desa, perencanaan tingkat kecamatan, perencanaan tingkat Kab/Kota.
Petugas sanitasi juga dapat membantu mengusulkan kegiatan perbaikan kesehatan
lingkungan tersebut kepada sektor terkait.
E. Penyakit Berbasis Lingkungan
Penyakit berbasis lingkungan adalah ilmu yang mempelajari proses kejadian atau
fenomena penyakit yang terjadi pada sebuah kelompok masyarakat yang berhubungan,
berakar (bounded) atau memiliki keterkaitan erat dengan satu atau lebih komponen
lingkungan pada sebuah ruang dalam mana masyarakat tersebut bertempat tinggal atau
beraktivitas dalam jangka waktu tertentu. Penyakit tersebut bisa dicegah atau
dikendalikan, kalau kondisi lingkungan yang berhubungan atau diduga berhubungan
dengan penyakit tersebut dihilangkan (Achmadi, 2013).
Kejadian penyakit pada dasarnya berbasis lingkungan. Munculnya
gejala-gejala penyakit pada kelompok tertentu merupakan resultante hubungan antara
manusia ketika bertemu atau berinteraksi dengan komponen lingkungan yang memiliki
potensi bahaya kejadian penyakit atau munculnya sekumpulan gejala penyakit (Achmadi,
2013). Beberapa contoh penyakit berbasis lingkungan adalah seperti: kolera, diare,
pneumonia, tuberculosis, ispa dan lain-lain.
1. ISPA
Infeksi saluran pernafasan akut adalah infeksi saluran pernafasan yang
disebabkan oleh virus atau bakteri dan berlangsung selama 14 hari. ISPA
merupakan penyakit infeksi akut yang menyerang saluran pernafasan bagian atas
dan bagian bawah. ISPA dapat menimbulkan gejala ringan (batuk, pilek), gejala
sedang (sesak) bahkan sampai gejala yang berat. ISPA yang berat jika mengenai
jaringan paruparu dapat menyebabkan terjadinya pneumonia.mPneumonia
merupakan penyakit infeksi penyebab kematian nomor satu pada balita.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penyakit ISPA di antaranya seperti :
status ekonomi, lingkungan di dalam rumah yang kurang memadai berupa kurang
hygienisnya lantai yang masih dalam kondisi berupa tanah atau tidak terbuat dari
keramik, ventilasi udara yang bertolak belakang dengan kesesuaian dimana luas
ventilasi udara dibawah standar ukuran luas area tiap ruangan, jumlah hunian yang
melebihi standar kapasitas ruangan sehingga menimbulkan kelembaban udara
tinggi, adanya binatang peliharaan di dalam rumah serta status merokok dalam
rumah.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan rumah tinggal menyebutkan bahwa
jenis dinding tidak tembus pandang, terbuat dari bahan yang tahan terhadap cuaca,
rata dan dilengkapi dengan ventilasi untuk sirkulasi udara. Dinding rumah yang
baik menggunakan tembok, rumah yang berdinding tidak rapat seperti papan, kayu
dan bambu dapat menyebabkan penyakit pernapasan yang berkelanjutan seperti
ISPA, karena angin malam yang langsung masuk kedalam rumah.
2. Diare
Menurut WHO (2008), dikatakan diare bila keluarnya tinja yang lunak atau
cair dengan frekuensi tiga kali atau lebih sehari semalam dengan atau tanpa darah atau
lendir dalam tinja. Sedangkan menurut Depkes (2000), diare adalah buang air besar
lembek atau cair bahkan dapat berupa air saja yang frekuensinya lebih dari tiga kali
atau lebih dalam sehari. Jenis diare dibagi menjadi tiga yaitu:
a. Disentri yaitu diare yang disertai darah dalam tinja.
b. Diare persisten yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari secara terus
menerus.
c. Diare dengan masalah lain yaitu diare yang disertai penyakit lain, seperti:
demam dan gangguan gizi.
Berdasarkan waktunya, diare dibagi menjadi dua yaitu dare akut dan diare
kronis. Diare yang berlangsung kurang dari 14 hari disebut diare akut, sedangkan
diare yang lebih dari 14 hari disebut diare kronis (Widjaja, 2002).
Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan. Dua
faktor yang dominan yaitu sarana air bersih dan pembuagan tinja. Kedua faktor ini
akan berinteraksi bersama dengan perilaku manusia. Apabila faktor lingkungan tidak
sehat karena tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku manusia yang
tidak sehat, seperti makanan dan minuman maka dapat menimbulkan kejadian diare
(Depkes RI, 2000).
3. Kecacingan
Kebiasaan hidup kurang higienis menyebabkan angka terjadinya penyakit
masih cukup tinggi. Infeksi parasit terutama parasit cacing merupakan masalah
kesehatan masyarakat. Penyakit infeksi ini bisa menyebabkan morbiditas. Salah
satunya banyak terjadi pada anak usia anak sekolah yang berpengaruh negatif
terhadap pertumbuhan dan perkembangan mereka. Infeksi cacingan yang sering
adalah “Soil Transmitted Helminths”(STH) yang merupakan infeksi cacing usus yang
ditularkan melalui tanah atau dikenal sebagai penyakit cacingan. Spesies cacingan
STH antara lain Ascaris lumbricoides (cacing gelang), Trichuris trichiura (cacing
cambuk), Ancylostoma duodenale dan Necator americanus (cacing tambang) (Srisasi
Ganda Husada, 2000:8).
Usaha pencegahan penyakit cacingan yaitu sebagai berikut: hati-hati bila maka
makanan mentah atau setengah matang terutama pada tempat-tempat dimana sanitasi
masih kurang, masak bahan makanan sampai matang, selalu mencuci tangan setelah
dari kamar mandi/WC, selalu mencuci tangan dengan sabun setelah bermain, sebelum
memegang makanan, infeksi cacing tambang bisa dihindari dengan selalu
mengenakan alas kaki, gunakan desinfektan setiap hari di tempat mandi dan tempat
buang air besar. Kebersihan perorangan penting untuk pencegahan. Kuku sebaiknya
selalu dipotong pendek untuk menghindari penularan cacing dari tangan ke mulut
(Srisasi Gandahusada, 2000:30).
Demikian juga kebiasaan makan masyarakat, menyebakan terjadinya
penularan penyakit cacing tertentu. Misalnya, kebiasaan makan secara mentah atau
setengah matang, ikan, kerang, daging dan sayuran. Bila dalam makanan tersebut
terdapat kista atau larva cacing, maka siklus hidup cacingnya menjadi lengkap,
sehingga terjadi infeksi pada manusia (Indan Entjang, 2003:229).
4. Demam Berdarah
Penyakit demam berdarah dengue (DBD) diebabkan oleh virus dengue yang
sampai sekarang dikenal 4 serotipe (Dengue-1, Dengue-2, Dengue-3 dan Dengue-4),
termasuk dalam grup B Arthropod Borne Virus (Arbovirus). Ke-empat serotipe virus
ini telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Hasil penelitian di Indonesia
menunjukkan bahwa Dengue-3 sangat berkaitan dengan kasus DBD berat dan
merupakan serotipe yang paling luas distribusinya disusul oleh Dengue-2, Dengue-1
dan Dengue-4 (Depkes RI, 2005).
Demam berdarah dengue (DBD) adalah salah satu penyakit menular yang
dipengaruhi lingkungan dan perilaku masyarakat. DBD masih merupakan masalah
kesehatan yang penting karena sifat penyebaran wabah pada saat-saat tertentu,
patofisiologi renjatan masih belum jelas, belum ditemukan vaksin yang ampuh, belum
diketahui faktor-faktor risiko yang mempengaruhi suatu daerah terhadap terjadinya
suatu ledakan wabah dan masih kurangnya partisipasi masyarakat dalam
pemberantasan sarang nyamuk Aedes aegypti.
Metode pemberantasan penyakit ini adalah dengan membasmi vektornya, baik
masih dalam stadium jentik maupun nyamuk dewasa. Kegiatan ini dikenal dengan
pemberantasana sarang nyamuk demam berdarah dengue atau PSN-DBD (Depkes,
1996).Mengingat nyamuk Aedes aegyti tersebar diseluruh tanah air maka
pemberantasannya diperlukan peran serta seluruh masyarakat (Depkes, 1999).
BAB III
METODELOGI PRAKTIKUM

A. Lokasi dan Waktu Praktikum


Lokasi : Jojoran I, Surabaya, Jawa Timur
Hari / Tanggal : Hari Rabu / 17 Oktober 2018
Waktu : 09.10 – 15.00 WIB

B. Sasaran: Masyarakat Jojoran 1, Surabaya


C. Alat dan Bahan:
a) Alat tulis
b) Formulir konseling
c) Buku panduan klinik sanitasi
d) Kamera untuk dokumentasi
D. Prosedur Pelaksanaan:
1. Menyiapkan formulir wawancara yang telah dibuat (sesuai dengan pedoman klinik
sanitasi)
2. Menginformasikan kedatangan Mahasiswa kepada perangkat desa serta meminta izin
untuk melakukan survey terhadap warga
3. Membantu dan mengumpulkan hasil kunjungan lapangan.
4. Memberikan saran atau tindak lanjut kepada sasaran atau pasien.
5. Apabila pemecahan yang ditemukan menyangkut warga atau kampung,
menginformasikan hasilnya pada sektor terkait untuk mendapat hasil tindak lanjut.
6. Mengolah dan menyimpulkan data dari hasil formulir wawancara yang telah diperoleh
menjadi laporan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan survey lapangan yang kami lakukan, maka kami mendapatkan 4 penyakit
berbasis lingkungan. Berikut adalah hasil dan analisa penyakit dari praktikum yang kami
lakukan:
A. Data Umum Pasien 1 (Diare):
Nama : Ibu Siti Mahmudah
Umur : 42 tahun
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan Terakhir : SMA
Alamat : Jl. Kalitengah Selatan RT 03/03 Tanggulangin, Sidoarjo
a. Identifikasi Masalah Pasien 1:
No Pertanyaan Jawaban Keterangan
.
1. Sumber air bersih yang Sumur Kondisi sumur pada saat musim
digunakan untuk keperluan kemarau tidak memenuhi syarat
sehari-hari fisik, dikarenakan warna air yang
kekuningan dan keruh
2. Bila menggunakan Kurang dari 10 Hal ini dikarenakan ukuran rumah
SGL/SPT, jaraknya dengan meter yang agak sempit sehingga jarak
jamban keluarga antara jamban dan sumur kurang dari
10 meter
3. Apakah air minum yang Ya Keluarga bapak Sholikin lebih sering
digunakan sehari-hari membeli air minum dalam kemasan
dimasak terlebih dahulu? daripada membeli air bersih
kemudian dimasak terlebih dahulu
untuk diminum
4. Apakah air yang sudah Ya Disimpan dalam botol yang tertutup
dimasak tersimpan didalam
wadah tertutup?
5. Apakah wadah tersebut Ya Dibersihkan selama 2 hari sekali
dalam keadaan bersih?
6. Apakah dirumah memiliki Ya Memiliki jamban leher angsa
jamban?
7. Bila memiliki jamban, Ya Memiliki septic tank disetiap rumah
apakah jamban tersebut
memenuhi syarat
(mempunyai tempat
penampungan kotoran seperti
septic tank)?
8. Dimanakah anggota keluarga Kakus/WC sendiri Sudah memiliki WC pribadi dirumah
biasanya berak?
9. Bagaimana kebiasaan Dikemas lalu Tinja bayi selalu langsung dibuang
membuang tinja bayi/anak dibuang dalam ke jamban
kecil? kakus (WC)
10. Apakah anggota keluarga Tidak Keluarga bapak Sholikin terbiasa
biasa melakukan cuci tangan dengan tidak mencuci tangan
dengan sabun sesudah berak? menggunakan sabun setelah berak
atau membuang sampah

b. Analisis
Dari observasi dan wawancara yang dilakukan pada pasien kedua , ibu Siti
Mahmudah memiliki riwayat penyakit yaitu Diare. Setelah dianalisa, memiliki 2
kemungkinan penyebab penyakit diare. Pertama, jarak antara jamban dan sumber air
yang terlalu dekat dengan jarak kurang dari 10 meter. Hal ini dapat menyebabkan
kekeruhan dan terkontaminasinya air sumur oleh kotoran pada jamban, sehingga
dapat menyebabkan kontaminasi pada alat makan yang dicuci dengan air sumur yang
tercemar. Kedua, perilaku hidup yang tidak higienis yaitu tidak mencuci tangan
menggunakan sabun setelah berak atau membuang sampah.

c. Kesimpulan
1. Air sumur menjadi tercemar oleh kotoran manusia karena jarak jamban dan sumur
yang kurang dari 10 meter.
2. Alat makan yang terkontaminasi akibat air sumur yang tercemar.
3. Kebiasaan perilaku tidak higienis yaitu tidak mencuci tangan dengan sabun setelah
buang air besar dan setelah membuang sampah
d. Saran
1. Sebaiknya perlu dilakukan perbaikan jarak antara jamban dan air sumur agar tidak
terjadi kontaminasi. Jarak jamban dan sumur yang sesuai yaitu lebih dari 10 meter.
2. Sebaiknya mencuci alat makan menggunakan air bersih yang terlindungi.
3. Mengubah perilaku menjadi lebih higienis dengan cara mencuci tangan
menggunakan sabun setelah buang air besar dan setelah membuang sampah.
B. Data umum pasien 2 (ISPA) :
Nama : Dirgantara
Umur : 5 Tahun
Pekerjaan :-
Pendidikan terakhir : PAUD
Alamat : Dsn.Talun Ds. Trutup Kec.Plumpang, Tuban
a. Identifikasi Masalah
No Pertanyaan Jawaban Keterangan
.
1. Apakah terdapat batuk dan Ya Terdapat keluhan dari pasien berupa
atau kesulitan bernafas? batuk serta kesulitan bernafas
terutama pada malam hari.
2. Berapa orang yang sakit 1 Hanya penderita yang diwawancara
seperti ini dalam keluarga? saja yang menderita penyakit ISPA
3. Apakah pada siang hari di Sedang Kurangnya ventilasi pada konstruksi
dalam rumah dalam keadaan rumah untuk masuknya sinar
gelap? matahari karena hanya ada satu
jendela berbahan kaca yang dapat
menjadi sumber cahaya.
4. Apakah di rumah terdapat Tidak Tidak ada
atap tembus cahaya (kaca,
fiber atau plastic tembus
cahaya, dan lainnya) yang
memungkinkan sinar
matahati masuk ke dalam
rumah?
5. Apakah di rumah Ya Terdapat jendela yang tembus cahaya
terdapat pintu atau namun tidak dapat dibuka, pintu
jendela yang tembus terbuat dari kayu.
cahaya (kaca, fiber,
plastik, dan lainnya)?
6. Apakah penderita berada Ya Kurangnya ventilasi yang terbuka di
di dalam rumah dalam dalam rumah penderita.
keadaan panas
(sumuk/gerah) terutama
pada siang hari?
7. Apakah rumah penderita Tidak ada Tidak terdapat lubang angin di dalam
terdapat lubang hawa rumah penderita.
atau lubang angin?
8. Bahan bakar apa yang Gas Bahan bakar yang digunakan yaitu
digunakan untuk memasak? gas karena keluarga penderita
menggunakan kompor.
9. Apakah di dapur terdapat Tidak ada Tidak adanya cerobong asap di
cerobong asap atau lubang dapur, hanya ada lubang kecil untuk
tempat keluar asap? keluarnya asap namun sangat kecil
10. Apakah penderita tidur Ya Penderita tidur bersama ayah dan
setempat tidur atau ibunya.
sekamar dengan orang
lain (istri/suami, anak,
dan lainnya)?
11. Jika batuk kemanakah Sembarang Penderita membuang ludah/riak
ludah/riak batuk Tempat batuk pada semmbarang tempat
dibuang? karena tidak bisa memprediksi kapan
ludah/riak keluar dan terlalu lama
apabila harus ke kamar mandi.
12. Apakah stiap kali batuk Tidak Penderita tidak menutup mulutnya
penderita menutup saat batuk ataupun bersin dengan
mulut? alasan lupa serta tidak terbiasa.

b. Analisa
Dari observasi dan wawancara yang dilakukan pada pasien An.Dirgantara
memiliki riwayat penyakit yaitu ISPA. Setelah dianalisa, memiliki beberapa
kemungkinan. Pertama, kurangnya ventilasi atau lubang pertukaran udara di dalam
rumah, sehingga kurangnya udara atau oksigen yang masuk. Kedua, kurangnya
ventilasi untuk masuknya sinar matahari, sehingga menyebabkab kondisi rumah
merasa gelap dan lembab. Ketiga,perilaku dan kebiasaan pasien yang sering tidak
menutup mulut saat batuk ataupun bersin serta tidak membuang ludah/riak batunya
pada Kamar Mandi atau tempat khusus, sehingga dapat menularkan virus kepada
anggota keluarga yang lain.
c. Kesimpulan
1. Kurangnya ventilasi pertukaran udara.
2. Kurangnya ventilasi untuk masuknya sinar matahari.
3. Kebiasaan serta perilaku yang tidak menutup mulut saat batuk ataupun bersin dan
tidak membuang ludah/riak batuk ke tempatnya.
d. Saran
1. Memperluas ventilasi pertukaran udara.
2. Memperbanyak ventilasi untuk masuknya sinar matahari atau menambah jendela
yang dapat dibuka serta ditutup
3. Membuat lubang asap atau cerobong asap di dapur.
Mengubah kebiasaan perilaku agar menutup mulut saat batuk ataupun bersin.
C. Data Umum Pasien 3 (Kecacingan):
Nama Responden/Narasumber : Yoga Saputra A/Ibu Gayatri
Umur : 8 tahun
Pekerjaan :-
Pendidikan : SD (Sekolah Dasar)
Alamat : Jojoran I No. 98 Surabaya
Identifikasi Masalah Pasien 3:
No Pertanyaan Jawaban Keterangan
.
1. Apakah memiliki jamban Ya Memiliki jamban, namun jamban
keluarga ? tidak terawat dan menimbulkan bau.
2. Kebiasaan membuang Jamban Anak sudah dilatih mandiri untuk
kotoran anak kecil di ? menggunakan jamban, anak tersebut
duduk di bangku Sekolah Dasar
Kelas 3.

3. Apakah lantai rumah terbuat Ya Lantai rumah Pak Supeno


dari bahan kedap air, seperti menggunakan keramik warna putih
keramik dan semen ? sehingga lantai tersebut kedap air.
4. Apakah anak bermain Tidak Karena dlingkungan rumah tidak ada
ditanah ? tanah atau pasir, dilingkungan rumah
tanahnya sudah di tutupi paving.
5. Bagaimanakah keadaan kuku Kotor Kuku pada anak tersebut panjang dan
anggota keluarga ? kotor, dan berwarna hitam. Dan pada
anggota keluarga lainnya kuku juga
jarang dirawat dan tidak dibersihkan
secara rutin.
6. Apakah keluarga dirumah Ya Anggota keluarga selalu
memakai alas kaki ? menggunakan alas kaki.
7. Apakah tidak terlihat kotoran Tidak Tidak terlihat kotoran manusia
manusia diatas tanah ? berada diatas tanah dilingkungan
rumah.
Analisis 3:
Dari observasi dan wawancara yang dilakukan, Yoga memiliki riwayat penyakit
yaitu Kecacingan. Setelah dianalisa, memiliki beberapa kemungkinan penyebab penyakit
Kecacingan. Pertama, kuku Yoga tidak dirawat dengan baik, sehingga kuku kotor dan
panjang. Dan pada anggota keluarga lainnya beberapa memiliki kuku panjang dan
kurang bersih. Hal ini dapat menyebabkan Cacing bersarang pada kuku dan dapat masuk
melalui oral saat makan. Kedua, kemungkinan Yoga sering makan tanpa menggunakan
peralatan makan seperti Sendok dan Garpu. Ketiga, Lingkungan sekitar juga tidak bersih
dan tidak terawat. Penularan cacingan melalui tanah pun bisa saja terjadi karena cacing
yang hidupnya didalam tanah dapat menembus kulit dan akan mengkuti aliran darah dan
dapat masuk ke paru-paru serta kedalam usus dan akan menjadi cacing dewasa. Perilaku
hidup yang tidak higienis yaitu tidak mencuci tangan menggunakan sabun setelah berak
atau membuang sampah juga dapat menyebabkan terjadinya kecacingan.

Kesimpulan 3 :
1. Kuku beberapa anggota keluarga yang tidak dirawat dengan baik dapat
menyebabkan penyakit kecacingan dan dapat masuk kedalam kuku bahkan melalui
oral.
2. Lingkungan sekitar rumah tidak bersih dan terawat.
3. Kebiasaan perilaku tidak higienis yaitu tidak mencuci tangan dengan sabun setelah
buang air besar dan setelah membuang sampah
Saran 3 :
1. Sebaiknya orang tua lebih tegas terhadap kesehatan anaknya.
2. Kebiasaan yang buruk harus diubah agar derajad kesehatan semakin meningkat.
3. Menerima saran atau masukan mengenai kesehatan diri muapun bersama.
4. Mengubah perilaku menjadi PHBS dengan cara mencuci tangan menggunakan
sabun setelah buang air besar dan setelah membuang sampah.
D. Data Umum Pasien 4 (DBD):
Nama : ayyun
Umur : 39tahun
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Pendidikan Terakhir : SMA
Alamat : Jojoran I No. 90, Surabaya
Identifikasi Masalah Pasien 4:
No Pertanyaan Jawaban Keterangan
.
1. Apakah ventilasi dirumah Tidak Keluarga ibu yiyin tidak memasang
menggunakan kawat kasa ? kawat kasa
2. Cahaya matahari masuk ke Ya Rumah dari ibu yiyin jendela atau
dalam rumah ? pintu sering dibuka agar cahaya
matahari pagi bisa masuk ke dalam
rumah
3. Tempat-tempat Tidak Karena di rumah ibu yiyin rutin
penampungan air (gentong, untuk membersihkan bak mandi
tempayan, bak mandi, vas
bunga, tempat minum
burung, talang) apakah ada
jentik nyamuk ?
4. Adakah barang-barang bekas Ya Karena di sekitaran rumah ibu yiyin
seperti botol/gelas bekas, sangat kotor dengan gelas atau
kaleng-kaleng, ban, dan lain- dengan botol-botol plastik
lain berserakan ?
5. Banyak baju bergantungan di Tidak Karena kebiasaan dari keluarga ibu
dalam rumah ? yiyin yang menyimpan baju yang
telah di pakai di bak sebelum di cuci
6. Banyak pepohonan yang Tidak Di sekitaran ruma ibu indri tidak ada
dapat menampung air sekitar pohon-pohon untuk menampung air
rumah ?
7. Barang-barang bekas seperti Ya Karena di sekitaran rumah ibu yiyin
botol/gelas bekas, kaleng- terdapat botol-botol atau gelas plastik
kaleng, ban, dan lain-lain ada
jentik nyamuk ?
Analisis 4 :
Dari observasi dan wawancara yang dilakukan pada pasien pertama, ibu yiyin
memiliki riwayat penyakit yaitu DBD. Setelah dianalisa, memiliki 2 kemungkinan
penyebab penyakit DBD. Pertama, keluarga ibu indri tidak memasang kawat kasa. Hal
ini dapat menyebabkan nyamuk masuk ke dalam rumah sehingga dapat menyebabkan
nyamuk berkembangbiak di dalam rumah. Kedua, terdapat sampah sisa-sisa botol atau
gelas plastik di sekitar rumah ibu yiyin. Hal ini dikarenakan kebiasaan membuang
sampah sembarang sehingga dapat mengundang nyamuk untuk bersarang di tempat
itu.

Kesimpulan 4 :
1. Tidak memasang kawat kasa
2. Sampah gelas atau botol-botol plastik yang berserakan di sekitar rumah

Saran 4 :
1. Sebaiknya perlu dilakukan pemasangan kawat kasa gara nyamuk tidak masuk ke
dalam rumah
2. Sebaiknya membiasakan diri untuk membuang sampah pada tempatnya agar tidak
menjadi sarang nyamuk.
E. Data Umum Pasien 5 (Penyakit Kulit):
Nama :
Umur : tahun
Pekerjaan :
Pendidikan Terakhir :
Alamat : Jojoran I No. 90, Surabaya
DAFTAR PUSTAKA

Anonimous, 2009. Rumah Sehat Dalam Lingkungan Sehat. Dinas Cipta Karya. Departemen
Pekerjaan Umum RI. Jakarta
Blum, Hendrik L. 1974. Planning for Health, Development and Aplication of Social Changes
Theory. New York: Human Sciences Press.
Departemen Kesehatan RI. 2005.Pencegahan dan Pemberantasan Demam Berdarah
Depkes RI, 2000. Buku Pedoman Pelaksanaan Program P2 Diare. Jakarta : Depkes RI
Depkes, RI, 1996. Menggerakkan Masyarakat dalam Pemberantasan Nyamuk Demam
Berdarah dengue (PSN-DBD), Jakarta.
Depkes, RI, 1999. Petunjuk Teknik Pemberantasan Nyamuk Penular Penyakit Demam
Berdarah Dengue, Jakarta.
Indan Entjang, 2000, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.
Nelson. 1992. Ilmu Kesehatan Anak Bagian 2. Penerjemah Moelia Radja Siregar. Jakarta :
EGC
Srisasi Gandahusada, 2000, Parasitologi Kedokteran edisi ke 3, Jakarta: EGC
Sutjipto, Suprapto, dkk. 2002. Standart Prosedur Operasional Klinik Sanitasi Untuk
Puskesmas. Depkes RI No. 363-72
Widjaja. M, 2002. Mengatasi Diare dan Keracunan pada Balita. Kawan Pustaka. Jakarta.
World Health Organization. 2013. Epidemiologi Lingkungan teoridan aplikasinya, Surabaya:
Penerbit Bintang.
LAMPIRAN

No. Gambar Penyakit Keterangan


Diare
1.

ISPA
2.

Ibu Gayatri orang tua Yoga


Saputra, anak yang
terjangkit cacingan
Kecacingan
3.

Wawancara dengan Ibu


ayyun

4. DBD

Kulit
5.