Anda di halaman 1dari 6

BAB 1

PENDAHULUAN

1.2 Latar Belakang


Kepuasan pasien merupakan salah satu indikator penting yang harus diperhatikan dalam
pelayanan kesehatan. Kepuasan pasien adalah hasil penilaian dari pasien terhadap
pelayanan kesehatan dengan membandingkan apa yang diharapkan sesuai dengan
kenyataan pelayanan kesehatan yang diterima disuatu tatanan kesehatan rumah sakit
(Hardiyansyah, 2011). Kepuasan pasien merupakan salah satu hal yang sangat penting
dalam meninjau mutu pelayanan khususnya pelayanan suatu rumah sakit (Suryawati,
2010).

Salah satu sumber daya manusia di rumah sakit adalah perawat, Oleh karena itu perawat
rumah sakit harus mencakup profesionalisme yang bersifat mandiri, sejajar dan menjadi
mitra profesi lain (Yani, 2011). Sebagai perwujudan sikap profesional dari asuhan
keperawatan, Departemen Kesehatan RI telah memberlakukan adanya standar
operasional prosedur (SOP), apabila pelayanan rumah sakit sudah memberikan pelayanan
sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam standar, maka pelayanan kesehatan
sudah dapat dipertanggung jawabkan (Kemenkes 2012).

Standar kepuasan pasien di pelayanan kesehatan ditetapkan secara nasional oleh


Departemen Kesehatan. Menurut Peraturan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia
Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Minimal untuk kepuasan pasien yaitu diatas 95%.
Bila ditemukan pelayanan kesehatan dengan tingkat kepuasaan pasien berada dibawah
95%, maka dianggap pelayanan kesehatan yang diberikan tidak memenuhi standar
minimal atau tidak berkualitas (Kemenkes, 2016). SOP merupakan langkah-langkah yang
dilakukan untuk menyelesaikan suatu proses kerja rutin tertentu. Saat ini masih banyak
kasus tentang kinerja perawat yang melakukan perawatan luka tidak sesuai SOP. Luka
sendiri merupakan suatu bentuk kerusakan jaringan pada kulit yang disebabkan kontak
dengan sumber panas (seperti bahan kimia, air panas, api, radiasi, dan listrik), hasil
tindakan medis, maupun perubahan kondisi fisiologis (Purnama H, Sriwidodo,
Ratnawulan S, 2017).

Masing-masing luka memiliki proses penyembuhan yang rumit karena adanya kegiatan
bioseluler dan biokimia yang terjadi secara berkesinambungan. Dalam proses
penyembuhan luka pascaoperasi akan memiliki risiko terkena infeksi pada luka, jika
perawatan luka operasi yang diterapkan tidak sesuai dengan standar operasional prosedur
(SOP). Risiko tersebut mengharuskan perawat untuk patuh dalam melakukan tindakan
perawatan luka post operasi sesuai dengan SOP (Anggraeni Z, 2016). Oleh kaena itu
Devi dan Wijayanti 2013, menyebutkan penyebab infeksi diperkirakan masih banyaknya
perawat yang mengabaikan standar operasional prosedur khususnya dalam perawatan
luka.

1.1 Tujuan Penulisan


Untuk mengetahui kepuasan pasien rawat inap tentang pelayanan dalam memberikan
tindakan perawatan luka sesuai SOP
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Kasus
Saya menemukan kasus Ny. A, di Rumah Sakit T (Tegal) umur 40 tahun pada tanggal 5
April 2020, pasien di rawat di ruangan kamboja Rs. T tegal dengan diagnosa Diabetes
mellitus. Didapatkan hasil pengkajian terdapat luka pada kaki kanan dengan luas luka
panjang ±32cm, lebar ±20cm, pasien mengalami demam, luka berwarna kemerahan,luka
tampak lembab, tidak bengkak. Sesuai perintah dokter pasien diinfus dan diberikan obat
sanmol 3x500mg, ketorolac 2x1mg, omeprazole 1x4mg dan dilakukan perawatan luka.
Setelah itu perawat langsung melakukan perawatan luka tanpa menggunakan Nacl.
keesokan hari pasien mengeluh pada bagian luka nya yang terasa nyeri,panas, gatal dan
bengkak. Kemudian keluarga pasien cepat melaporkan kejadian ini sehingga tidak
menjadi tambah parah.

2.2 Cara Penyelesaian Masalah

Dalam kasus ini cara penyelesaian masalah yang dapat dilakukan oleh perawat adalah
langsung melakukan perawatan luka ulang sesuai SOP yang ada dirumah sakit, untuk
mencegah terjadinya infeksi atau kejadian serupa kembali. Semua perawat seharusnya
mengetahuin tentang SOP yang ada di rumah sakit

Berdasarkan kasus diatas seharusnya semua perawat mengikuti SOP yang sudah
ditentukan untuk mencegah terjadinya resiko infeksi. Sebagai perwujudan sikap
profesional dari asuhan keperawatan, Departemen Kesehatan RI telah memberlakukan
adanya standar operasional prosedur (SOP), apabila pelayanan rumah sakit sudah
memberikan pelayanan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam standar, maka
pelayanan kesehatan sudah dapat dipertanggung jawabkan (Kemenkes 2012).

Perawat harus mengetahui standar kepuasan pasien sesuai dengan uraian Menurut
Zeitham dan Berry 2011, sebagai berikut :

a. Keistimewaan, yaitu dimana pasien merasa diperlakukan secara istimewa oleh perawat
selama proses pelayanan.
b. Kesesuaian, yaitu sejauhmana pelayanan yang diberikan perawat sesuai dengan
keinginan pasien, selain itu ada ketepatan waktu dan harga.

c. Keajegan dalam memberikan pelayanan, artinya pelayanan yang diberikan selalu sama
pada setiap kesempatan dengan kata lain pelayanan yang diberikan selalu konsisten.

d. Estetika, estetika dalam pelayanan berhubungan dengan kesesuaian tata letak barang
maupun keindahan ruangan.

Pada kasus ini seharusnya perawat melihat menggunakan SOP yang ada di RS untuk
melakukan perawatan luka kepada pasien dan menjalankan prinsip perawatan luka.
Menurut Mansjoer (2010), Ada dua prinsip utama dalam perawatan luka, sebagai berikut

1. Prinsip pertama menyangkut pembersihan/ pencucian luka.


a) Luka kering (tidak mengeluarkan cairan) dibersihkan dengan teknik
swabbing, yaitu ditekan dan digosok pelan-pelan menggunakan kasa steril atau
kain bersih yang dibasahi dengan air steril atau NaCl 0,9 %.
b) Luka basah dan mudah berdarah dibersihkan dengan teknik irrigasi, yaitu
disemprot lembut dengan air steril (kalau tidak ada bisa diganti air matang) atau
NaCl 0,9 %. Cairan antiseptik sebaiknya tidak digunakan, kecuali jika terdapat
infeksi, karena dapat merusak fibriblast yang sangat penting dalam proses
penyembuhan luka, menimbulkan alergi, bahkan menimbulkan luka di kulit
sekitarnya. Jika dibutuhkan antiseptik, yang cukup aman adalah feracrylum 1%
karena tidak menimbulkan bekas warna, bau, dan tidak menimbulkan reaksi
alergi.
2. Prinsip kedua menyangkut pemilihan balutan.
a) Pembalut luka merupakan sarana vital untuk mengatur kelembaban kulit,
menyerap cairan yang berlebih, mencegah infeksi, dan membuang jaringan mati.

2.3 Pembahasan
Berdasarkan kasus diatas sebagai seorang kepala ruangan hal yang harus dilakukan
dalam pemecahan masalah ini adalah menegur perawat yang bersangkutan terhadap
kelalaian tindakan yang dilakukan. Selalu mengobservasi setiap tindakan yang sudah
perawat lakukan, agar tidak terjadi kesalahan lagi. Sebagai seorang kepala ruangan
menjelaskan kepada keluarga tindakan yang akan dilakukan yaitu perawatan luka
sesuai SOP yang ada di rumah sakit tersebut.

Dan jika perawat yang bersangkutan berulang kali lalai dalam melakukan perawatan
luka, Tidak cuman perawat yang bersangkutan saja tapi untuk semuaperawat yang
ada diruangan kamboja. maka kepala ruangan akan melakukan pemecahan masalah
dengan gaya kepemimpinan Demokratis. Dimana gaya kepemimpinan demokratis ini
dalam proses pengambilan keputusan dilakukan secara bersama-sama baik oleh
pimpinan maupun bawahan dan hasil keputusan akhir diambil dari keputusan
bersama. Kepala ruangan akan memintai saran dari masing masing perawat untuk
memberikan pendapat mengenai sanksi untuk perawat yang bersangkutan.
BAB 3

KESIMPULAN DAN SARAN


3.1 Kesimpulan
kepuasan pasien adalah hasil penilaian dalam bentuk respon emosional (perasaan
senang dan puas) pada pasien karena terpenuhinya harapan atau keinginan dalam
menggunakan dan menerima pelayanan perawat. perawat mematuhi standar
pelayanan dan SOP yang telah ditetapkan; menerapkan prinsip-prinsip etik dalam
pemberian pelayanan keperawatan; menerapkan kerjasama tim kesehatan yang
handal dalam pemberian pelayanan kesehatan; menerapkan komunikasi yang baik
terhadap pasien dan keluarganya, peka, proaktif dan melakukan penyelesaian
masalah terhadap kejadian tidak diharapkan; serta mendokumentasikan dengan benar
semua asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien dan keluarga.

3.2 Saran
Adapun saran untuk para perawat yang mengaplikasikannya di lingkungan rumah
sakit agar selalu mematuhi Standar Operasional Prosedur yang sudah di tentukan di
rumah sakit masing-masing.