Anda di halaman 1dari 40

Kolektor E-Book adalah sebuah wadah nirlaba bagi para

pecinta Ebook untuk belajar, berdiskusi, berbagi


pengetahuan dan pengalaman.

Ebook ini dibuat sebagai salah satu upaya untuk


melestarikan buku-buku yang sudah sulit didapatkan di
pasaran dari kepunahan, dengan cara mengalih mediakan
dalam bentuk digital.

Proses pemilihan buku yang dijadikan objek alih media


diklasifikasikan berdasarkan kriteria kelangkaan, usia,
maupun kondisi fisik.

Sumber pustaka dan ketersediaan buku diperoleh dari


kontribusi para donatur dalam bentuk image/citra objek
buku yang bersangkutan, yang selanjutnya dikonversikan
kedalam bentuk teks dan dikompilasi dalam format digital
sesuai kebutuhan.

Tidak ada upaya untuk meraih keuntungan finansial dari


buku-buku yang dialih mediakan dalam bentuk digital ini.

Salam pustaka!

Team Kolektor E-Book


SILUMAN ULAR

Jilid 6

Karya : LAUW HA DI

Pustaka Koleksi : Aditya Indra Jaya

Image Source : Awie Dermawan

Kontributor : Yons/Yon Setiyono

Nopember 2019, Kolektor - Ebook


SILUMAN ULAR
Oleh : LAUW HA DI
Jilid 6

BETAPA geramnya Heng Nio Siocia melihat kerugian nyawa dipihaknya,


apalagi tuan besarnya dan gurunya telah menghilang meninggalkan dirinya.

Tiba2 ia menjerit mundur kira-kira tiga langkah kebelakang menghindari


tendangan Pang Cu yang malam itu benar2 kelihatan sengit melihat tindakan
Heng Nio yang ber-maksud membunuh secara masal pada murid2 yang
dianggap penghalang.

Tetapi tidak urungan kaki Pang Cu yang tersalur tenaga dalam „,Hian-men
pan-yo-san kang" atau tenaga ajaib menggempur dan membuat serangan
lawan" dapat membuat sempoyongan dan memuntahkan darah Heng Nio
Siocia. Akibat pukulan Pang Cu itu pengikat kepala dan jenggotnya terlepas
sehingga wajah asli Heng Nio yang cantik dan sama benar dengan Heng Na
kelihatan jelas kewanitaannya seperti semla.

Untuk menghilangkan kejengkelannya, Heng Nio menudingkan telunjuk yang


tumbuh kepala Ular pada kelima Hweesio2 gundul sambil membentak:

„Mampuslah kalian Imam2 Siauw Llm" Akibatnya lmam2 itu tersedot seperti
kena pantulan Magnit ajaib dan kertas dibawa Angin Puyuh.

Apa yang terjadi ???.

Kelima Hweesio gundul yang rata2 tinggi silatnya hancur berubah menjadi
tetesan darah . . . . sungguh tragis dan mengerikan sehingga bulu kuduk
merinding.

,Hi .. . . .Hi . . . Hiiiii lebih baik kalian berdua ikut aku saja untuk kujadikan
pelayanku" Heng Nio cekikikan penuh pengaruh sihir.

1
Pang Cu dan Sun Kui terkesiap melihat keganasan ilmu sihir Heng Nio
melalui telunjuknya yang tumbuh kepala Ular itu.

Lebih2 Sun Kui— . . . . hatinya sedikit gentar melihat kelihayan gadis cantik
yang berhati ganas dan sadis.
Melihat perubahan wajah2 pemuda tampan itu Heng Nio mulai menjerat
dengan gerak tipu silat Ngo tok bie bun sie suatu gerakan silat ciptaannya
sendiri yang dapat membuat hati laki2 terangsang, karena dalam pandangan
musuh seolah olah Heng Nio sedang menari menggeliat dalam keadaan
telanjang bulat".
Setiap gerakkannya seakan akan tubuh montok menanti urat kelaki lakian
yang menjadi lawan.

Angin gerakkannya menimbulkan bau barum yang betul2 membawa hati


laki2 menghayal sorga.
Pang Cu cepat berpikir melihat situasi yang keritis menimpa Sun Kui yang
sudah melemparkan pedangnya tertarik akan gerakkan gerakan Heng Nio itu.

Sekalipun waktu malam seluruh badan pemuda berusia 20 tahunan itu


basah kuyup dan napas Sun Kui terputus putus memburu kearah Heng Nio
yang berdiri dihadapannya. . . Dengan tidak diduga oleh Pang Cu, Heng Nio
dengan ujung tangannya yang putih menotok tulang punggung Sun Kui sambil
tersenyum kemenangan.

„Hi . . . hi . . . . hi i i i . . . " Heng Nio cekikikan sambil memeluk pinggang


pemuda yang sudah dikuasai ilmu sihirnya.

Pang Cu mengerahkan seluruh tenaga dalam nya untuk mengusir hawa


rangsangan yang di salurkan murid Patulu dan murid yang telah melupakan
gurunya Siluman Ular dari Lembah Coa Mo Kok.
Namun oleh Heng Nio tidak dibiarkan lawannya berbuat itu dengan
gerakkan menggiurkan Hong Nio menghancurkan pemusatan napas pada perut
Pang Cu.
„Duaakkk !" . . . tidak ampun lagi tubuh Pang Cu menggeloso terpental lima
tombak membentur tiang podium . . . yang telah kosong.

2
Akibatnya lampu2 sekitar itu padam sehingga keadaan yang terang
benderang menjadi gelap gulita. Bersamaan dengan itu sayup2 kedengaran
suara ringkikan kuda dan mengkelebat bayangan merah menerjang Heng Nio
yang masih memeluk tubuh Sun Kui berdiri seperti patung hidup nampaknya.

Baru saja Heng Nio akan berdiri nemperbaiki posisi satu tendangan dahsyat
nyelonong kemuka.

Dengan gerakan indah Heng Nio bergulingan seperti Ular melatah ditanah,
suatu tipu “Liong hitam sedang bercumbu."

„Binatang keparat ! Sebentar kukirim nyawamu keneraka mengikuti


tuanmu" Heng Nio memaki sangat geram.

Tetapi . . . . . Ha, ha, haaaaa. Tidak semudah itu kau membunuhku." Teriak
Pang Cu sambil tertawa mengejek pada Heng Nio yang masih terlentang
dilantai.

Kembali hati Heng Nio geram penasaran melihat pemuda lawannya masih
sanggup menandingi ilmunya yang paling dahsyat, ilmu gabungan dari Hun
beng ciang kang dan ilmu Ngo tok bie hun sie. Kalau saja gunung baja yang
dijotosnya akan hancur lumeerrr menjadi uap dibawa angin !

Kembali Heng Nio menggunakan telunjuknya „Wessssss . . . . " Tenaga Ajaib


berdesis menggulung tubuh Pang Cu. Seluruh tubuhnya digulung sinar putih,
namun tiba tiba „Brroootttt!" si Kuda Merah menyemburkan air liurnya
ketubuh Pang Cu , sekejap saja asap putih itu lenyap.

Sambil melompat Pang Cu menyerang Heng Nio dengan tendangan


mengarah kerusuk kiri „Duaakkkk 1" Heng Nio jumpalitan.
Pang Cu dengan geram kembali akan menghancurkan perempuan Iblis
dengan menyalurkan„Tai-im kie kang" melalui telapak kakinya, suatu tenaga
dalam yang dapat menghancurkan bukit Baja Tiongkok Sungai Jambrut. Namun
entah darimana datangnya satu bayangan hitam menyambar tubuh Heng Nio
yang tergeletak hampir pingsan, kemudian bayangan hitam itu lenyap
menghilang dikegelapan malam dengan menyambitkan belasan senjata rahasia
„Ngo tok piauw" ke tubuh Pang Cu yang sudah menyalurkan Iweekang nya . . .

3
.

„ “Srrrrrrrrr !" Piauw2 beracun itu hancur tidak mempan.

Betapa dahsyatnya pengaruh injakan kaki Pang Cu, lantai ubin yang sangat
tebal hancur, suaranya gemuruh memecah kesunyian malam yang hening
sunyi digedung Pek Kiu Kiu. Heng Nio nyaris dari kematian karena ditolong
Bayangan Hitam . . . .

Pertarungan sengit yang memakan waktu lama selama lima jam berakhir
dengan di bawanya Heng Nio Iblis wanita yang ganas itu.

Keadaan gedung Pek Kiu Kiu yang megah itu hancur berantakan, bangkai2
manusia bergelimpangan disana sini, darah berceceran disertai bau anyir yang
tidak menyedepkan
Lampu lampu yang beraneka warna bekas pajangan hancur porak poranda,
akibat pertarungan sengit tadi.

Pang Cu celingukan, matanya yang tajam memandang kesekeliling Gedung


Pek Kiu Kiu yang sejak tadi menghilang dibawa Patulu.

Pengawal2nya tidak kelihatan seorang pun, mereka ngacir ketakutan akan


kelihayan pemuda Pang Cu yang berjuluk (Siauw Hiap) atau Pendekar Muda
dari Goa sungai Jambrut sebelah Timur Ceng Sia San.

Benar2 keadaan Gedung Megah itu gelap dan sunyi, seolah olah sang
rembulan tidak mau menyinari dunia bagian ini.

Baru saja Pang Cu melangkah, menghampiri Kuda Ajaibnya yang berdiri


beringas ia teringat pada Sun Kui pemuda yang telah dipengaruhi sihir Heng
Nio.

Ternyata Sun Kui menggeletak diantara bangkai2 lainnya dalam keadaan


dingin, dari mulutnya darah berbusa mengalir membasahi pakaiannya.

„Sangat patal akibat hawa pukulan Si Iblis itu, sekalipun kelihatannya lemah
gemulai seperti tarian Mongolia Barat. . " Pikir Pang Cu sambil menempelkan

4
kupingnya kedada Sun Kui untuk mengetahui denyutan jantung pemuda yang
malang itu
,,Masih ada harapan" Desisnya lagi.

Segera saja Siauw hiap itu mengeluarkan benda kocil dari kantongnya yang
berwarna merah dan memasukkan kemulut Sun Kui. dengan bantuan tenaga
dalam melalui ujung jari Pang Cu detik demi detik pemuda itu mulai kelihatan
bernapas lancar dan sudah bergerak bangun sekalipun masih lemah. . . .
„Siauw hiap! Dengan apa boanpwee membalas budi Siauw hiap” Ujar Sun
Kui perlahan bersujud dikaki Pang Cu yang masih juga jongkok.

„Heng Tee! Janganlah.. . . .engkau terlalu memuji dan merendahkan diri ,


panggil saja diriku dengan sebutan lain. Karena kita sebaya... dan sedikit usisku
lebih tua darimu jangan menyebut aku Pahlawan" Ujar Pang Cu memapah Sun
Kui.
„Ang Ma! Bawalah dia ketempat asalmu di Sungai Jambrut, dan segera susul
aku ke tempat penginapan Pangeran Muda" Perintah Pang Cu setelah Sun Kui
berada dipunggung Kuda ajaib.

Kira kentongan dipukul orang sembilan kali Ang Ma melesat keudara seperti
kuda semberani, dan tidak lama lagi melesat Pang Cu menuju arah yang
berlawanan dari binatang ajaib itu.

___________________________

———————————— 19 —————————

YANG menjadi perhatian Pangeran Bu-cong atas undangan Pok Kiu Kiu
itu bukanlah se mata2 pestanya, tetapi pertemuannya kembali dengan Siocia
Heng Nio dalam sepengetahuannya putri hartawan terkenal bekas pembantu
ayahnya.

la masih terbayang betapa empuk dan hangatnya tubuh Siocia yang


menggiurkan dan merangsang sewaktu tubuh gempal montok di gumuli
5
ditempat tidur.

Maka sewaktu dipodium Heng Na membisikkan mengajak untuk beristirahat


betapa gembiranya hati sang Pangeran Bu-cong yang masih berdarah muda.
Dalam pikirannya inilah saat2 yang dinanti nantikannya ia datang kepesta itu
karena di sangkanya perempuan itu benar2 asli Heng Nio yang pernah ia
„Sikat” waktu yang lalu.

Tanpa alasan lagi pangeran yang „Bermata Loa" menerimanya untuk segera
meninggalkan tempat pesta yang sedang berlangsung meriah.

Padahal rencana itu adi yang mengaturnya sejak semula.

Siapa dia ??.

„Tentu pembaca pun sudah tahu bukan ?"

Mari kita lihat keadaan dipenginapan.

o
oo

DIKAMAR HOTEL tingkat atas „Pek Kiu Hotel " tampak duduk Pangeran
Bucong berhadapan dengan Heng Na sambil meneguk arak wangi yang
tersedla dimeja marmer (pualam) dari Kotaraja.

Sepuluh cangkir kecil habis sudah diteguk nya kedalam perut Bucong, tetapi
kelihatan Heng Na sedikit sekali minum arak itu karena baru kali ini ia minum.

Keadaan pangeran sudah kelihatan agak mabok, karena mukanya tampak


merah di rangsang nepsong . . . . Heng Na yang mempunyai wajah yang mirip
sekali dengan Heng Nio kelihatan tambah cantik karena berdandan rapih,
malah melebihi kecantikan Heng Nio yang berhati Iblis . . . makin gila saja
Bucong dibuatnya.

6
„Acchhh . . . 1" Hang Na menjerit kaget.

„Mengapa sayang I?" Desis sang Pangeran sambil meremas remas bahu Heng
Na yang montok padat itu.

„Ti . . . tidak apa2 tuan I" Katanya membohong.

Sekalipun malam itu hawanya terlalu dingin, namun kelihatan sekujur badan
Heng Na keringatan berhadapan dengan laki2 yang rakus itu.

Napas sang pangeran memburu cepat karena sudah dirangsang „Nepsong".

Heng Na menggeliat kegelisahan sewaktu mulut laki2 buas itu menciumi


lehernya yang jenjang dan terus . . . . terusss ... terus tangan laki2 terhormat
itu menyusuri .... menggerayangi dan singgap dibuah dada gadis yang masih
„Mengkal" padat belum dijamah laki2 secara sadar.

Wajah Heng Na kelihatan gelisah . . agak pucat. Bibirnya gemetaran


menahan gejolak kemarahan karena kekurang ajaran Pangeran Bucong yang
rakus.
„Sialan ! Raja muda ini” Heng Na memaki dalam hatinya, tetapi ia tidak
berani untuk berbuat sesuatu yang mencurigakan laki2 terhormat itu.

Badannya ia bungkukan . . , pada waktu tangan ahli itu menyelusuri pakaian


bawah nya untuk meremas remas „Benda Kramat" yang masih suci.

Tetapi karena dirangsang napsu syetan laki laki itu semakin pula nampaknya,
terus saja tangan memaksa untuk menjamah, sekalipun Heng Na merapatkan
tubuhnya ke paha sehingga bangku yang diduduki bergerak gerak karena saling
dorong.

„Benar biadab ! . . " Pikir Heng

„Sabar tuanku yang mulia . . . , .waktu masih panjang” Ujar Heng Na sedikit
gemetar menahan kemarahan setelah ia dapat melepaskan diri.

Kiranya diam2 Heng Na menyentil urat nadi tangan Bucong dengan sedikit

7
mengerahkan tenaga dalam „Bruk.... Gcdebuukkk !" tubuh sang pangeran
terpental ketempat tidur, betapa kecewanya sang pangeran Bucong menerima
perlakuan sedikit kasJr. .

„Maaf tuanku yang mulia " Ujar Heng Na merendah karena ia lihat
perubahan muka laki2 ttu sedikit kecut.

Pangeranpun sedikit heran „Mengapa gadis Itu seperti takut pada laki2 ??

Padahal waktu yang lalu dialah yang mendahului, dan memberi service
memuaskan" Pikirnya lagi.

Para Thaykam To Jin yang mengawalnya diluar kamar sedikit curiga, tetapi
mereka tidak berani berbuat sesuatu tanpa dipanggil dan diminta masuk.

Perbuatan Heng Na sengaja mengulur2 waktu saja, karena ia ingin


mendengar berita keadaan dari Gedung Pek Kiu Kiu.

Tiba2 ia teringat pada surat yang diselipkan dikantong bajunya, kemudian


kertas yang berwarna merah ditaruh pada tempat tidur dimana pangeran
Bucong rebah, tidak bisa bergerak karena tertotok tadi.

„Selamat berpisah tuan muda" Seru Heng Na sambil melesat keluar melalui
jendela ”Srrrr . . . . tubuhnya yang langsing padat turun sangat ringannya dari
gedung Hotel yang bertingkat dua puluh . . . . meninggalkan Pangeran Bucong
dalam keadaan ter totok.

„Thaykam! Cepat tolong aku" Teriak Pangeran dari dalam kamar.

Mendengar teriakan tuannya secepat kilat para Thaykam mendorong pintu


dengan paksa karena dikunci Heng Na.

Thaykam yang bertubuh tinggi tegap selaku pengawal pribadi menepuk


pergelangan tangan Bu yang tertotok itu.

„Perempuan sundel itu akan memperdayakan diriku.” kata sang Pangeran


sambil memegang kertas yang sengaja diiniggalkan Heng Na.

8
„Malam ini juga kita segera meninggalkan kota Hoakon, dan besok pagi
perempuan sundel dan bapaknya Pek Kiu Kiu tangkap penjarakan. Semua
kekayaannya sita untuk negara”

Semua pengawalnya terkejut dengan perubahan rajanya itu„

„Ada apa dengan mereka tuanku ?" tanya Khasim kepala

„Mereka akan memberontak !" jawab Bucong tega.

„Ha, ha, haaaa." para pengawal terkejut. Maka malam itu juga rombongan
Kaisar berangkat meninggalkan Hotel Pek Kiu.

____________________________

———————————— 20 —————————

BARU saja Heng Na melangkah lima tindak kupingnya yang tajam


mendengar suara dengkuran orang tidur di dekat tepian telaga yang banjak
ditumbuhi pohon2 bunga.

Padahal biasanya telaga indah itu banjak dikunjungi orang untuk ngobrol2,
kaum remaja yang kebetulan nginap di Hotel terkenal.

Tetapi malam itu rupanya mereka tahu gelagat , karena kericuhan digedung
Pek Klu Kiu sehingga terjadi pertempuran yang mengerikan tidak seorangpun
pengunjung yang berada ditelaga indah yang berada didalam lingkungan Hotel
Pek Kiu.
Dengan jalan berjingkat Heng Na penasaran ingin mengetahui, sekalipun
keadaan gelap namun matanya yang terlatih dapat menembus malam pekat
itu,

9
Semakin dekat ia berjalan semakin keras suara dengkuran orang yang tidur
di semak2 pohon bunga.

Tiba2 telinganya mendengar siuran angin dari belakang . . . . . Heng Na cepat


menjatubkan diri ke semak2 dimana suara dengkuran tadi.

———————————— 19 —————————

Ceraassss ! Ceraasss ! Beberapa Piauw menancap pada pohon raksasa yang


tumbuh ber tahun2 fisekitar itu.

.Krokookkk l" Bruaakkk !" Akibat piauw itu pohon raksasa itu sempal patah
dua seperti disambea petir. Dan tumbang menggelegar menggetarkan bumi
digelap yang pekat gulita.

„Bangsat ! aku dibokong orang." Teriak Heng Na yang berguling dirumput

Balum sempat ia bertindak apa2 tubuhnya menyentuh sosok tubuh yang


menggeletak didekatnya" Hah ! . . . . siapa kau!" Tanya Heng Na kaget.

”Sssssttt !" orang itu memberi kode diam dengan telunjuknya.

„Pang Koko ! Apakah mataku tidak salah lihat ''" Serunya setelah wajah
orang itu lihat tegas.

Orang itu menganggukkan kepala sambil tersenyum.

„Mengapa kau berada disini ??" Heng Na terus saja bertanya.

„Jangan banyak bertanya, kita dalam intaian orang2 lihay" Tukas Pang Cu
menarik tangan Heng Na untuk menyelinap dibekas runtuhan pohon yang
rubuh.

Barulah sang gadis sadar akan bahaya yang hampir menimpa dirinya tadi.

Dari tempat persembunyiannya Pang Cu mekuhat kesebelah Timur,


10
dilihatnya seorang perempuan dengan rambut diriap kelihatan aneh dan
menyeramkan.

Wajahnya nampak bengis bermata belo . . . . se-kali2 lidah perempuan itu


menjulur bercabang dua merah warnanya.

Kedua matanya yang tidak berkelopak dan berhalis mata merah seperti
barah api memantulkan hawa panas, nyenyorot liar kearah ke duanya.

Dibelakang manusia menyeramkan itu ber diri dua orang laki laki, seorang
bertubuh tinggi tegap dan seorang bertubub pendek, dan berkulit merah rebus
kepiting memegang tongkat Liong Hitam.

„Celaka Heng Moay! si Pek Kiu Kui dan Patulu telah mengundang Coa Mo
Pak Hoa (Siluman Ular) yang sudah lama menghilang. Kini mereka berkomplot
untuk menangkap kita" Kata Pang Cu.

„Rupanya Si Ular jahat itu telah lama di kandangi digedung tuabangka


keparat" Pang Cu berkata dengan geramnya.

Melihat situasi gawat Pang Cu mengeluarkan dua buah pel „Leng tan" atau
pel mujijat dari kantong kecil dibalik bajunya.

„Awas! Hati hati Heng Mony. . . mereka berilmu tinggi juga, SiIuman Ular itu
tentunya sudah memperdalam ilmunya sekalipun ekor yang dibuat kaki pernah
kau buntungi oleh pedang tipismu" Pang Cu memperingati Heng Na sambil
memberikan Leng Tan untuk ditelannya.

Kemudian tidak luput juga Pang Cu ber siul nyaring memanggil Ang Ma si
Kuda Ajaib dari Goa Sungai Jambrut digunung Ceng Sia San.

„Hei Pang Cul . . . Anak pemberontak Lauw King Gis, lebih baik kau
menyerah saja, jangan keenakan meniduri perempuan sundel dirumput, Ejek
Pek Kiu Kiu.

Terasa dibakar hati Hang Na mendengar teriakan itu.

11
„Sabar Heng Moay! mereka sengaja memancing kita supaya keluar” Pang Cu
mencegah Heng Na yang hampir melesat keluar.

„Aku tidak sabarar, Pang koko!-'. Usulnya ketus.

Tiba2 „Wuuu ssss.. ..” dari tongkat Patulu menyembur api kearah tempat
persembunyian keduanya.

Namun Pang Cu tidak tingpal diam ia mengerahkan „Leng ke ciu beng" Hawa
dingin penhembuh Jiwa digabung dengan „Hian Men it Goan Kang Kie" atau
Tenaga dalam dahsyat melumpuhkan lawan dari jarak jauh

Sekejap saja api buatan Putulu hilang lenyap dibawa angin, diiringi
gedebuknya ketiga biang keladi penghianat Negara Beng Tiauw.

Disaat mereka bertiga bergulingan ditanah yangg agak tinggi, kedua


Pendekar remaja melesat keatas wuwungan Hotel, untuk mengetahui apakah
mereka hanya bertiga datang menyatroni.

Dari atas kembali Pang Cu melepaskan pukulan jarak jauh, kali ini ia
menyalurkan tenaga pukulen „Hwee Leng Kang" (pukulan panas dingin) dari
ilmu silat Toa pan yo hian kang {Ilmu silat Ajaib yang paling dahsyat di kolong
langit)

„Glaar.rrrrr., ! akibatnya tanah yang di injak ketiga orang itu berubah


menjadi Iumer encer mengeluarkan hawa panas dingin dari bawah tanah.

Tampaknya berlubang seperti telaga yang memancarkan air panas bergolak


golak Melihat itu Heng Na terkesiap kesima, karena baru kali ini Pang Cu
berbuat atau melakukan pukulan yang amat dahsyat. . . .

Demikian juga ketiga begundal2 mereka tidak mengira, bahwa pemuda yang
masih ber usia muda sudah memiliki ilmu begitu mengerihkan.

Tetapi mereka sempat melesat keudara kemudian berdiri diatas wuwungan


tak jauh dari kedua pendekar remaja.

12
Pang Cu menbisikan sesuatu pada Heng Na yang telah bersiap dengan
pedang tipisnya. Setelah itu keduanya serempak menyerang ke tiga lawannya.

Sambil melompat Heng Na memburu Pek Kiu Kiu yang kelihatannya sudah
mulai ciut nyalinya, sedang Pang Cu yang bergelar „Siauw Hiap" mengkelebat
menghadang Patulu dan Coa Mo Pek Hua yang akan membantu rekannya.

„Ha . . . .. ha . . .. haaaa, biarkan mereka ber dua berurusan Ular Sawah- Ejek
Pang Cu sambil tertawa.

„Jangan sombong anak ingusan" Sejurus kemudian keduanya telah


bertempur dengan sengit, tetapi tampaknya Siluman Ular kewalahan melawan
kelincahan Pang Cu.

Melihat kawannya terdesak Patulu cepat menyodorkan tongkat bertangkai


Liong Hitam keulu hati Siauw Hiap „Srrrrr . . . . .” ber puluh2 jarum beracun
mengenai tepat badan Pang Cu, namun Patulu kecewa karena piauw2 nya itu
lumer tiada berbekas, semua itu berkat „Pil Leng Tan" yang mujijat.

Tiba2 berdesing suara mendesis bagai suara ular yang beracun. Kiranya betul
dugaan itu , dari balik bajunya yang gombraug . . . Si luman telah meelepaskan
ular2nya yang ber bentuk aneh.

Kepalanya bulat seperti kepala manusia ber wana hitam belang, namun
bibirnya lancip seperti mulut ikan Hiu dilautan.

„Inilah upah kelancangan mulutmu bang satt !"Teriak Siluman Ular.

Karena penghuni Lembah Coa mo kok yakin binatangnya itu dapat me


robek2 perut Pang Cu. Suaranya menderu bagai angin memecah ombak di
samudera.

Siauw Hiap berputar putar menghindari serangan gencar dari binatang Ular
yang aneh itu, namun „Taapp ! . . . taap ! . . Ular ular itu dengan susah payah
ditangkapinya. Tak lama kelihatan binatang aneh itu menggeleper gelepar
ditangan Pang Cu seperti kepanasan tubuhnya kering ngelinting seperti
kerupuk kulit melembung.

13
„Nah ini! Kukembalikan piaraanmu" Dengan suatu lemparan dibarengi
lweekang dahsyat „Hwee leng kaug"

„Srrr . . Dauakkk !" . . Tubuh Siluman Ular itu melayang menggelinding dari
wuwungan. Namun tiba2 tubuh Siluman Ular itu kembali melambung keudara,
karena diam2, Patulu si ahli sihir menyedot tubuh temannya itu melalui
tongkat wasiatnya bertangkai Liong Hitam.

Tetapi keadaannya sudah agak parah, seluruh tubuh Coa mo Pek Hoa
bermandikan darah. Namun dengan sisa tenaganya Coa Mo Pek Hoa alias
Siluman Ular menerkam Pang Cu musuh buyutannya sejak dua tahun yang lalu.

Kedua tangannya mencekik leher Pang Cu sangat ketat, sedang ekornya yang
digunakan menjadi kaki menjulur melihat tubun Pang Cu erat sekali.
Sang perdekar kewalahan. Napasnya terasa sesak akibatnya libatan yang
ketat itu. Tiba-tiba dari araj lain ”Achhh. . . . . " Suara jeritan melengking
dahsyat.
0
0 0

Tersirap juga Patulu melihat tubuh Pek Kiu Kiu melayang dari atas
wuwungan dan lebih kaget lagi ia setelah melihat kepala rekannya terbelah
dua.

„Perempuan Sundel f kau harus bayar nyawa Pek Loya dengan nyawamu."

Seketika Patulu melesat menyerang Heng Na yang tampak masih bengong


melihat terkaparnya mayat ditanah berkubang becek.

Bersamaan dengan itu pula Coa Mo Pek Hoa mengge!oso tanpa sedikitpun
suara keluar dari mulutnya. Seluruh tubuhnya yang ber sisik itu pecah2
darahnya muncrat berserakan. Se olah2 tubuh Siluman UIar berubah menjadi
dagIng-daging kornet dan tamatlah riwajat Siluman Ular yang ganas.

14
Pang Cu bermaksud menghalangi bokongan si Patulu terhadap Heng namun.
. . . .Wussss . . !" asap kuning telah mendahului menggulung tubuh Heng Ha
yang berdiri lengah.
Melihat usahanya berhasil tampak wajah ahli sihir itu tambah seram
mengerikan. Liku-liku mukanya yang merah seperti kepiting rebus kelihatan
jelas . . . . dan dalam pandangan Heng Na Patulu berubah seperti Raksasa yang
bertaring giginya.

Pang Cu yang merasakan kaget atas dirinya gadis itu.

„Celaka ! Aku terlambat." Desisnya.

„Ha . . . . ha . . . ha . . sebentar lagi sumoay mu akan berubah menjadi


patung hidup dan . . . .
„Dan apa ? ?" Potong Pang Cu.

Kalau saja waktu itu ada geledek menyambar Pang Cu tidak sedikitpun
merasa kaget. namun dengan ia melihat perubahan si gadis betapa hatinya
luluh dengan ke khawatiran yang mendalam . . . .

„Ia akan buas terhadap siapa pun karena „Sex maniac” selalu menyelimuti si
sumoay mu itu." Patulu bicara terus sambil ketawa gelak2 seperti suara guntur
memecah kesunyian malam . . .. .

Mendengar itu betapa geramnya hati Pang Cu dengan menotolkan ujung


jempo kakinya tubuhnya mengkelebat menyerang kerusuk kiri Patulu. namun
ahli sihir itu bukanlah jago sembarang jagoan. Dua puluh tahun ia malang
melintang di dunia Kang Ouw dan tersohor di negaranya Mongolia.

Dengan mengegoskan sedikit badannya ke samping Pang Cu menendang


angin, kemudian ia membalas dengan suatu sodokkan tongkat „Liong Hitam"
ke Ulu hati lawannya yang mempunyai gerakan lincah dan gesit.

Pang Cu merasakan betapa kuatnya angin tongkat si Patulu, sehingga


dadanya sesak. Terpaksa Pang Cu mengeluarkan tipu „Sun go kong" dalam
perang Go mo ong melambung setinggi2nya kemudian menukik mengirimkan
pukulan kerantai dari Toa pan yo hian kang silat nomor satu dikolong langit

15
waktu itu . ..... Melihat gelagat kurang baik Patulu cepat menarik tongkat
wasiatnya me lintangkan kedada untuk melindungi serangan dari udara yang
dilancarkan oleh Pang Cu ………„Duaaakkkk !" Patulu kelihatan sempoyongan
dari mulutnya menyembur darah segar Pang Cu pun tidak luput dari akibat
benturan tadi.

Kepalanya terasa sedikit pusing tetapi tidak membahayakan. hal ini karena
Pang Cu yang di juluki orang Siauwhiap darahnya telah diisi „Leng tan" pil ajaib
yang tahan racun.

„Cu kie may l" Kalau benar dirimu jantan jangan kau hindarkan pukulan
tongkat ku kali ini" Seru Patulu geram.

„Jangan takabur bandot tua ! Sudah kewajibanku untuk melenyapkan


manusia kotor dari kolong langit ini" Katanya berdiri tegak.

Keduanya kembali bersiap untuk saling mengeluarkan kepandaiannya dan


ilmu andalannya yang terahir.

Malam yang sepi itu angin berhembus kencang, sehingga pohon raksasa
disekitar halaman Pak Kiu Kiu Hotel yang kini pemilik nya telah hijerah ke
achirat berliuk liuk suaranya mengguruh bagaikan Guntur se akan menjadi
saksi atas pertarungan yang sebentar lagi terjadi.

Diatas wuwungan mereka sama2 memusatkan pikirannya untuk menyalurkan


seluruh ke kuatan lweekang dan Ginkang nya melalui tangannya masing2.

Tiba tiba . . . .. kedengaran suara mendesing nyaring dahsyat sekali, pohon


pohon sekelilingnya pada tumbang gedebrukkan seperti gunung akan runtuh.

Suara apa itu ? ?

Kiranya Patulu ahli siWr sedang menciptakan kekuatannya melalui tangkai


tongkatnya yang bertangkai „Liong Hitam".

Tampak kepala itu berubah seperti hidup, kedua mata menyala merah
membara mengeluarkan asap berwarna hijau kemilauan.

16
Pang Cu sadar akan perbuatan lawannya yang bukan jago sembarang jagoan.
ia adalah manusia „Ambisi" yang ingin menakluk seluruh jago2 silat diatas
penjuru angin.

Untuk menglmbangi kekuatan lawannya Pang Cu terpaksa menyalurkan


lweekang yang belum pernah ia pergunakan kepada lawan selama ia pelajari di
Kitab ,,Toa pan yo hian kong" suatu kitab „Silat Ajaib" yang waktu itu oleh
kaum rimba persilatan sedang diselidiki dimana tersimpan kitab dari pende kar
yang tiga ratus tahun menghilang dari keramaian dunia.

Pang Cu telah dengan „Thian kong shin cit" salah satu tenaga dahsyat yang di
tulis di kitab oleh pendekar Thian Kie Cin Jin dan isterinya Sam Im Shin Nio
yang di juluki pendekar wanita nomor satu dikolong langit.

Secepat kilat Patulu melesat dengan tongkat ditangannya. sementara Pang Cu


masih memejamkan mata mengonstrasikan pikiran nya berdiri tegak
menantikan apa yang terjadi.
,,Wuuss . . . Glegeerrr . . Jeguurr. . ...." Dua kekuatan raksasa beradu sangat
dahsyat suaranya bagai gempa bumi melanda gunung merapi, keadaan malam
yang gelap itu sebentar terang seperti cahala kilat menyambar menggulung
kedua manusia yang ber tempur hebat.

Akibat benturan kedua tenaga raksasa itu, sebagian gedung Pek Kiu Kiu
Hotel hancur berkeping menjadi runtuhan puing2.

Pohon2 sekitarnya pada tumbang pagar tembok sekelilingnya ambruk


karena tanahnya amblesse.

Penghuni penginapan yang sedang nyenyak tidur hiruk pikuk suaranya


jeritan perempuan dan anak2 melengking dan menyayat hati menambah
keseraman malam.

Lari pontang panting menghindari runtuhan2 dari gedung hotel itu.

Pang Cu tampak berdiri ter huyung2 pandangannya ber kunang2, akibat


bentrokan tadi. Badannya basah oleh keringat dan seluruh pakaiannya kotor

17
karena tanah becek yang muncrat dari bawah sedang dari mulutnya
menyembur darah segar kehitaman.

Tidak jauh dari padanya terkapar .. . . . .mayat Patulu mengerikan kulitnya


terkelupas seperti kodok dibeset kulitnya.

Perlu diketahui bahwa kekuatan Patulu ter letak di tongkat Liong hitamnya,
sedang tongkat itu sendiri patah menjadi bubuk sekali pun benda wasiat itu
terbuat dari baja murni.

Tamatlah riwajat Patulu ahli sihir dari Mongolia.

Sejenak Pang Cu memandang kearah mayat lawannya bergumam sendirian


„Sungguh luar biasa manusia ini . . . Thianlah yang menghendakinya" Terus ia
melangkah kearah Heng Na yang tertentang membujur ditanah kubangan
becek.

,Oh ! Thian, lindungi nasib gadis ini" Seru Pang Cu setelah ia ketahui bahwa
Heng Na masih bernapas normal.

Dengan badan lesu tubuh Heng Na dipondongnya. Baru satu langkah ia


berjalan kupingnya yang tajam mendengar suara ringkikkan kuda dari Udara.

„Tepat sungguh kedatanganmu Ang Ma" Katanya perlahan.

Binatang itu sungguh aneh, seperti mengetahui dan mengerti dengan


kesukaran Pang Cu yang dialami.
Kuda merah itu cepat saja menekukkan badannya agar mudah Pang Cu
menunggangi dirinya sambil membopong Heng Na yang terlena pingsan.

„Srrrrrrrr ...." Kuda ajaib itu melesat keudara menembus malam yang pekat
meninggalkan mayat2 orang yang takabur.

———————————— 21 —————————

18
SEMENJAK kematian Pek Kiu Kiu dan kedua begundalnya Coa
Mo Pek Hoa Siluman Ular yang ganas serta Patulu jago sihir dari Mongolia
tewas, ditangan Pang Cu. Sejak itulah nama Pang Cu termashur dan kesohor
didunia Kang ouw seluruh penjuru angin. Mereka angkat topl dan salut serta
menghormat didalam hatinya. Juga dikalangan Istana Beng Cauw nama Pang
Cu yang bergelar Siauw Hiap menjadi bibir kebanggaan.

Mengapa demikian ??

Karena dialah yang menggagalkan rencana pengkhianatan yang didalangi


Pek Kiu Kiu pensiun pegawai Kaisar Kotaraja.
Dengan terbongkarnya rencana penghianatan Pek Kiu Kiu dan menjadinya
kemashuran Pang Cu Siauw Hiap sudah tentu ada yang tidak senang serta
penasaran.
Sudah tentu hal ini bagi Pang Cu tidak tahu menahu bahwa dirinya sedang
ramai di bicarakan orang, serta dibuat penasaran oleh manusia 2 yang selalu
kurang puas.
o
o o

SEBAGAIMANA PEMBACA ketahui setelah Pang Cu dapat


menewaskan musuh2nya Dengan menunggang si Ang Ma (Kuda Merah Ajaib)
ia pergi membawa Heng Na dalam keadaan pingsan terkena pukulan sihir
Patulu.

Akibat itu sang gadis menderita suatu penyakit ,,Sex Maniac" dan berubah
ingatan nya Kiranya si K uda Ajaib membawanya mereka ketampat tinggalnyaa
mendiang Giok Cu di Puncak Gunung Ceng Sia San, karena disanapun
disembunyikan seorang pemuda Sun Kui dari Kun Lun Pay oleh si Ang Ma
seekor Kuda Ajaib berbulu merah yang selalu membantu Pang Cu dalam
kesukaran. Datang dan perginya sukar diketahui manusia.

Sekalipun hari sudah siang, sang Matahari telah terik menyinarkan bumi,

19
kicau burung riuh berterbangan mencari makanan. Para petani sibuk
menyiapkan Kerbau2nya untuk bekerja disawah pematang. Namun keadaan di
Gunung Ceng Sia San tidak berubah keadaan yang menyolok siang dengan
keadaan malam hari.

Tetap hawanya sejuk serta nyaman, bahkan kalau pagi2 hari hawa sangat
dingin karena halimun masih menyelimuti gundukan tanah raksasa yaitu
Gunung Ceng Sia San dimana pendekar perempuan Giok Cu di kuburkan.

Diantara pohon besar dan semak belukar tampak sebuah rumah kecil yang
didirikan dekat anak sungai Jambrut yang airnya mengalir kebiruan satu tanda
air sangat jenih dan bening. Asap api mengelun untuk menghangatkan tubuh
agar tidak dingin. Seorang pemuda berpakaian biru selalu membawa kayu2
pada apinya agar tidak padam.

Tidak jauh dari pemuda itu berdiri seorang gadis berwajah rupawan sedang
merintih dalam keadaan terikat di tiang tonggak yang kuat dan kokoh . . . . .
dilain pihak duduk seorang permuda di cadas bata ditepian anak sungai sambiI
termenung seperti ada sesuatu yang menyulitkan dirinya.

Tiba2 pemuda yang menyender itu melompat kedaratan menghampiri si


gadis yang ber teriak2 histeris sambil ketawa2 serak.

„Heng Na ! Padamkan api unggun itu" Perintahnya tiba2 pada pemuda yang
menyulut kan kayu2 ranting.

„Tentu aku kedinginan Pang koko" Jawab ia

„Itu sengaja Sun Kui, agar Heng Na selala kedinginan. Karena bila ia tubuhnya
terasa hangat penyakitnya akan kumat" Kata Pang Cu menerangkan.

Kiranya ketiga remaja itu adalah Pang Cu, Heng Na dan Sun kui pemuda dari
Kun Lun Pay suheng dari Heng Na.

„Hi . . . hi . . . hiiiii . .. … kemarilah kalian berdua, peluklah tubuhku ini"


katanya sambil menggeliat geliat menggoyangken pinggulnya yang montok.

20
„Byurrrr !" Sun Kui menyiramkan air pada tubuh Hang Na.

„Bangsat kau ! Beranl mengganggu kesenanganku, hah ? . ." Heng Na


membentak sewaktu tubuhnya terkena air.

Perlu diketahui „SEX MANIAK" membawa si penderita selalu terbayang


bahwa dirinya sedang melakukan persetubuhan kepuncak terakhirr.
Maka oleh Pang Cu Heng Na diikat. Karena pada sewaktu hari sewaktu Pang
Cu tidur di jerami ia sangat terkejut dilihatnya Heng Na sedang membuka
seluruh pakaiannya di hadapan, kemudian tanpa malu2 ia menggeluti diri Pang
Cu yang terlentang di jerami. Secara buas Na, merobek dengan paksa pakaian
Pang Cu.

Tubuhnya yang gempal padat dirapatkan ketubuh Pang Cu yang gelagapan


karena mulut nya disumbat oleh bibirnya yang mungil itu.

Sekalipun bagaimana Pang Cu adalah seorang pemuda yang belum pernah


beristeri. Hampir2 saja Pang Cu tidak dapat menguasai dirinya, pada saat si
gadis merapatkan barang pitalnya ke selangkangan perruda. Namun achirnya
terpaksa Pang Cu menyalurkan „Leng Kie Ciu Beng" Hawa dingin penyembuh
sukma.

Badannya Heng Na terpental keudara ber gulingan menjerit.

Tiba2 Sun Kui menerobos sambil berkata:

„Apa yang kau lakukan Pang Koko" Karena melihat mereka dalam keadaan
kurang sopan. Lebih2 tubuh Heng Na yang sudah telanjang bulat.

„Jangan kau curiga, sang sumoy tersereng penyakit pukulan dan pengaruh
sihir. „kata Pang Cu sedikit tersinggung teguran Sun Kui".
Barulah pemuda itu puas dengan keterangan Siaouw Hiap Pang Cu, juga ia
percaya bahwa tidak mungkin Pang Cu akan berbuat serupa itu.

Dalam keadaan tidak sadar akibat pukulan Leng Kui Ciu Beng Heng Na diikat
ditonggak sepati itu.

21
„Byuuurrrr! . . . ByuuJurrrr►" Sudah lepek pakaian Heng Na disirami oleh
Sun Ku.

„Hi. . .hi.. . . hiii, dasar pemuda2 tolol. Akan diberikan kesenangan malah
tidak mau hi hiiii. Ayo cepat! peluklah tubuhku ini. Mengapa diriku kalian
ikat?? Bangsat"

Heng Na terus menyumpah sambil tertawa menggeliatkan badannya,


terangsang napsu yang tak pernah padam. . . ,ditubuhnya.

Begitulah seterusnya tiap2 hari Heng Na disirami air untuk menghilangkan


kumatnya serangan SEX MANIAC yang dideritanya, namun keadaannya tidak
ada perubahan.

„Pang koko! Apakah kau tidak dapat mencari jalan lain??" Tanya Sua Kui
karena pemuda itu sangat khawatir dengan keselamatan suteenya.

Bahkan diam2 dalam lubuk hatinya tersimpan suatu benih cinta yang sudah
lama terpendam sejak sama2 mereka berdua di Kun Lun .
Ditanya itu Pang Cu diam saja tidak memberikan jawaban apa2. Namun
pikirannya mengingat ingat sesuatu untuk menyembuhkan sang gadis.

Tiba2 ia teringat pada waktu Heng Na terkena pukulan Si Jari Beracun cara
apa ia menyembuhkan racun ganas di Goa Jambrut, tetapi sekarang ini Pang Cu
merasa malu melakukannya karena kehadirannya, Sun Kui. Kalau2 ia
menyangka yang bukan2. Apa lagi pemuda itu menaruh cinta pada diri Heng
Na.

„Apa boleh buat aku harus berani menanggung resikonya demi keselamatan
nyawa Hang Na dan kebahagiannya muridku."

„Bagaimana Pang Koko! Sudahkah kau menemukan jalan untuk


menyembuhkan si sumoay" Tanya lagi Sun Kui ketika melihat Pang Cu
termenung lama lama.

„Akan kucoba melakukannya! Dan sekarang bawalah ke balik Cadas Batu.

22
Disana ada kulihat sebuah tanah berlubang merupakan Goa dibawah tanah
ujar Pang Cu menerangkan pada Sun Kui.

Kemudiaa Pang Cu meninggalkan Sun Kui yang masih diikat ditonggak,


menuju kedalam gubuk.

Sun Kui yang sudah tergila2 akan kecantikan sang Sutee. Sepeninggal Panc
Cu lantas saja ia mendekati tubuh gadis yang benar2 menggiurkan hati
kelakiannya.

Apa lagi dilihatnya tubuh gadis itu pakaiannya basah. Tampak jelas
tubuhnya yang montok tercetak menggiurkan.

„Oh Sumoay! Kalau saja tidak begitu dirimu. Tentu aku akan memintanya
pada suhu, untuk kubawa kedesaku sebagai teman hidup setelah kita kembali
ke pegunungan Kun Lun kelak.” Gumamnya sendirian.

Sun Kui benar kepalanya menjadi pusing semua yang dikatakan gurunya
sama sekali tidak ia ketahui dan mengerti.

„Kalau begitu Pang Cu telah menipuku, pura2 saja ia menolong aku”, pikir
Sun Kui dalam hati.

„Atau memang sang sumoay telah lama berkomplotan dan berbuat


keonaran bersama Pang Cu itu” Pikir Sun Kui lagi.

„Ayo! Kau terangkan siapa yang membukamu ketempat ini” Sun Kui terkejut
dari lamunannya.

Baru saja Sun Kui akan membuka mulut

„Srrrrr! Srrrr !” Suara desiran angin dari ketiga orang berlompatan dari atas
pohon.

„It Ceng To tiang ! kami menghaturkan selamat bertemu" Kata salah


seorang Hweesio yang tadi melompat.

23
„Oh Kiranya . . . . ketiga pemimpin Siauw lim sampai juga kesini" Ujar It Ceng
To Jin.

„Omitohud ! Kebetulan sekali kami bertemu disini dengan Totiang, agar


urusan kita dapat diselesaikan secara damai, dan tidak berat sepihak." Kata
Hweesio yang bertubuh kerempeng sedikit menyindir.

„Urusan apa Sam Tek Hosiang ! ? ?" to jin bertanya Iagi pada ketiga
pemimpin Siauw lim itu.
„Ha. ha, haaaaaa, rupanya pemimpin2 Kun Lun Pay sudah pikun, atau
memang pura2 tidak mau tahu, bahwa muridnya tercantik telah dua kali
mengobrak gabrik markas kami," Kata Sam Tek Hosiang sambil menunjuk
kearah Heng Na yang terikat itu.

„Jangan Hosiang sekasar itu, Kami datang untuk menghukum murid2


membuat keonaran diluaran, tetapi kami tidak rela orang lain turut campur ."
kata It Ceng mendongkol.
Tampaknya kedua pemimpin itu sudah mulai panas. Tiba2 Samtek Hosiang
melompat akan menjotos si gadia yang terikat di tonggak.
Tetapi bersamaan dengan Itu It Ceng To Jin meIesat menghadangnya dengan
suatu kibasan lengan jubahnya yang lebar.

Wuuuutt ! Sam Tek merasakan angin pukulan penuh tenaga dalam, sehingga
ia terhuyung kebelakang.

Dilain pihak Ouw Lam Peng, sutee It Ceng dan Sun Kui menghadapi kedua
pemimpin Sieuwlim lainnya.

Karena masing2 mempertahankan pendirian nya mengenai Heng Na yang


disangka membuat keonaran. Terjadilah suatu perkelahian yang tidak dapat
dihindarkan.

Sudah tentu Sun Kui sebagai murid Kun Lun Pry membantu It Ceng To Jin dan
Ouw Lam Peng selaku guru2nya.

Demikian Sam Tek Hosiang, dengan kedua suteenya mereka memaksa untuk

24
membawa Heng Na untuk dibawa kemarkasnya guna mempertanggung
jawabkan segala yang dituduhkan itu . . . .. juga It Ceng Tojiu selaku pemimpin
yang ditugaskan oleh markas besarnya tidak mau melihat muridnya dibuat
sembarangan sekalipun disangka bersalah. Kira nya kedua belah pihak itu ada
orang ketiga yang mengadu dombakan untuk saling ber musuhan dengan
menuduh Heng Na berbuat keonaran.
Sam Tek Hosiang selaku pemimpin utama Siauw Lim dari cabang, mendapat
gempuran dari It Ceng To Jin cepat mendusin maka dengan tipu „Lang
menembus awan” ia melesat keudara, sebelum kakinya menjejak tanah tangan
kanannya menyodok kerusuk lawannia, tetapi dengan sigap It Ceng To Jin
menjatuhkan diri seraya kakinya menendang kantong menyan. K alau saja
Ouw tidak keburu meyilangkan membantu tentu Sam Tek Tek Hosiang akan
kelojotan.

Sementara mereka bertempur sangat seru nya tiba2 terdengar suara


nyaring ketawa perempuan, akibatnya keenam orang yang sedang bertempur
tubuhnyaa melayang keudara seperti tenaga raksasa menyedotnya ke ats.
Dengan begitu saja betapa tingginya Iweekang perempuan. Seketika melesat
dua orang yang berselubung hitam diantaranyaa seorang perempuan hal ini
ketahuan dari bentuk tubuhnya yang menonjol.

Bertepatan dengan bergedebukoja tubuh2 dari udara.


Kalau saja keenam orang itu bukan orarrg orang lihay dan berkepandaian
Silat nomor satu diperkumpulannya niscaya tubuh mereka akan ringsek
berbenturan dengan Batu Cadas yang banyak disekitar itu.

It Ceng To Jin yang banyak pengalaman menyadari bahwa gadis yang bediri
dihadapannya adalah bukan orang sembarangan.

Lain dengan Sam Tek Hosiang ia merasa penasaran dan mendongkol karena
merasa dirinya dipermainkan dengan mudah.

Dengan hati masih panas ia bertanya „Siapa kalian berdua ini. Turut campur
urusan kami, dan mengapa orang yang bermaksud baikk menutup muka”
Suara Sam Tek Hosiang kedengaran agak kasar bahna sangat mendongkol.

„Bangsat Gundul ! Jangan knrang ajar berkata dihadapan Siauwhiap Pang Cu


25
penghuni Goa Jawbrut hah. Siapa yang berani merentang kemauannya berarti
kepala berpisah dari badan hi . . . hi . " Kembali perempuan itu mendengarkan
ketawanya sangat dahsyat.

„Kraakk . . . Bruukk! Suara kayu patah dan gedebuknya tubuh manusia.

Bersamaan dengan itu kedengaran Heng Na merintih sangat lirih, rupanya


tonggak kayu yang diikatkan pada tubuh Heng Na patah dan jatuh ter:entaug
ditanah.

Melihat sumoaynya terpelanting dalam ke adaan terikat Sun Kin menjadi


marah dan ia merasa curiga pada perempuan berselubung hitam karena
mengaku dirinya Pang Cu pendekar kecil.

Tanpa pikir panjang terus saja ia membentak „Manusia durjana ! lebih baik
kau berterus terang dihadapan kami, dan perlihat kan muka busukmu" Belum
habis Sun Kui berkata berdesiran beberapa senjata rabasia dilepaskan oleh
laki2 berselubung.

Tetapi heran sungguh mengherankan piauw2 itu tidak bergerak, malah


berbalik pada diri yang melepaskan Itu sendiri.

„Bangsat ! Ada orang yang mempermainkan kita" Gumam laki2 berselubung.

Bukan saja orang itu yang keheranan, tetapi pemimpin Kun Lun dan Siauw
Lim juga melongo melihat Piauw2 beracun tidak bisa bergerak.

„Rupanya telah kedatangan orang2 lihay ke gunung Ceng Sia San" Pikir
mereka dalam hatinya.

„Akulab orangnya yang kau makud pengacau!" Mereka serempak menoleh


kearah suara oreng yang berdiri dekat dimana Heng Na terlentang.

Sungguh mengherankan mereka kedatangan Pang Cu, tidsk srorangpun


mengetahuinya tahu2 sudah berdiri saja, sekalipun It Ceng To Jiin dan Sam Tek
Hosiang tidak mendengar orang yang berdiri dibelakangnya.

26
„Sun Kui ! bawalah sumoay itu ketempat yang telah kutunjuki tadi .!”
Perintah Pang Cu. Tadinya Sam Tek Hosiang akan mencegah kepergian Sun Kui
yang membopong tubuh Heng Na, tetapi sekarang ia tidak mau berbuat
serampangan.

It Ceng To Jin pun merasa heran, melihat muridnya menurut perintah Siauw
hiap seperti sudah lama mengenal. PadahaI orang itu sebaya dengan umur Sun
Kui.

Karena melihat sendiri bagaimana pemuda itu menahan piauw2 yang akan
mencelakakan mauridnya ia tidak berbuat apa apa.

Malah pemimpin Kun Lun Pay itu merasa kagum pada Pang Cu.

„Tentu kedatangan Leocianpwee mengagetkan To tiang dari, Siauwlim dan


pemimpin Kun Lun Pay, harap jangan heran. Bwan pwee bernama Pang Cu dari
she Lauw. Kalau ada orang mengaku2 nama bwanpwee, itulah orangnya yang
pernah mengacau di Siauwlim dan Kun Lun" Belum habis Pang Cu bicara
kedengaran suara membentak.

„Bangsaaat ! Rupanya ini orang nya yang di juluki Siauw Hiap.”

„Tidak salah ! Bahkan akulah orangnya yang suka 'mengadu domba dan
membuat keonaran dikalangan persilatan." Jawab Pang Cu menyindir pada
orang berselubung.
Tanpa diduga oleh mereka Pang Cu melesat seperti kilat membuka
selubung kedua orang Misterius itu.

„Byaaar …….-!"

„Kau ! Hoalim!” Teriak Sam Tek Hosiang kaget setelah diketahui wajah orang
yang berselubung.

„Hah! Mengapa wajahmu serupa dengan Heng Na!” Keheranan pemimpin


Kun Lun Pay tidak kalah dengan pemimpin Siauwlim pay.

„Hi, hi.. hiiiiii. Sekarang kalian sudah tahu siapa kami berdua bukan,”

27
„Ayo cepat! Cium telapak kami berdua,” Teriak Heng Nio menyeringai.

Kiranya kedua orang berselubung itu Heng Nio dan Hoalim.

„Dan engkau Pang Cu harus mati ditangan ku, agar arwah Pek Kiu Kiu Loya
dan guru ku tidak penasaran di akherat, „ Kata Heng Nio sambil mendelik.

Betapa geramnya Sam Tek Hosiang melihat Hoalim berkomplotan dengan


murid Coa mo Pek Hoa.

„Murid murtad ! kau harus dihukum gantung.” Seru ia.

”Dahulu aku murid Siauwlim, namun kini berbalik keadaannya. Seluruh


Siauwlim pay harus tunduk kepadaku."

Bersamaan dengan itu Hoalim mengibaskan lengannya „Srmr, . . .Srrrrrrr!"


beberapa Ngo tok piauw yang terkenal sangat beracun dilepaskan.

„Hayaaa 1!" . . .Samtek Hosiang nyaris dari serangan Ngo tok piauw, karena
melesat ke udara menghindarkan sambil mengebutkan lengan jubahnya.
Namun Ouw Lam Peng yang sedang lengah menjerit. . . ,dengan tubuh kering
seperti dibakar akibat racun yang dilepaskan Hoalim tadi.

Melihat tubuh Ouw Lam Peng mati mengerikan Samtek Hosiang, mukanya
berubah pucat. Kerena ia tahu bahwa suteenya hanya beda se tingkat dengan
kepandaiannya tampak ia ragu2. Hal ini terlihat oleh It Ceng ToTiang, maka
segera ia datang membantunya. Hoalim dikeroyok oleh kedua pemimpin yang
berkepandaian tinggi, namun pemuda bekas Siauwlim masih bisa tersenyum.

Dianggapnya kedua orang Itu sangat remeh sekalipun mereka adalah


tingkatan kaum tua dikalangan Kang Ouw.

Dipihak lain Heng Nio menari nari menyambuti serangan dari pemimpin
kedua Siauwlim dan Kun Lun Pay dengan lincahnya tampak keduanya terdesak
hebat dipermainkan Heng Nio puteri Siluman Ular darri Lembah Coa mo kok.

28
Tiba2 Heng Nio mengulurkan telunjuknya yang ditumbuhi kepala ular kecil
„Puuhh !".. ....keduanya melayang tersedot seperti ada kekuatan Hipnotys dan
„Krokokk !" suara batok kepala hancur berbamburan.

Darah dan otak Hweesio itu bermuncratan gemarcik kemana mana.

„Hiii…… Hi i i …… Hiiiii. mending mampus kau imam gundul" Teriak Heng


Nio cekikikan sambil tolak pinggang.

„Ayo Lim koko ! Cepat bikin mampus imam2 sialan itu" Heng Nio
memberikan semangat pada Hoalim yang sedikit kerepotan melawan Sam Tek
Hosiang dan It Ceng To Tiang.

Heng Nio matanya liar mencari sesuatu yang sejak tadi menghilang.

„Bangsat ! Dimana kedua pemuda itu bersembunyi" Desis Heng Nio.

Baru saja ia akan melangkah telinganya mendengar Hoalim menjerit


melengking se waktu murid murtad itu akan menginjak Sam Tek Hosiang dan lt
Ceng To Jin yang terjengkang tidak berdaya.

Sungguh mengherankan . . .. . .

Rupanya kedua Hweesio itu ada yang membantu sacara diam2, karena
dengan tiba2 saja Hoalim terpental kena pukulan jarak jauh.

Melihat Hoalim muntah darah Heng No sangat marah. Mukanya yang putih
halus bagaikan salju berubah kemerahan seperti terkena terik Matahari.

„Bangsat kalian harus mampus imam2 sialan . . ." Bersamaan dengan itu
Heng Nio melepaskan pukulan jarak jauh „Hun beng ciang kang"

Namun sedetik lebih cepat mengkelebat bayangan menyambar kedua


tubuh yang sudah tak berdaya.
„Duarrr . . . . Hawa pukulan Heng Nio meughantam batu cadas . . .

Akibat hawa pukulan itu batu2 cadas sebesar badan Gajah, berubah menjadi

29
„Cair" hitam seperti aspal.

Sam Tek Hosiang dan It Ceng Ta Jin yang terhindar dari bahay, sempat pula
melihat kehebatan hawa pukulan si gadis yang wajahnya serupa dengan wajah
Heng Na.

Melihat itu mereka bergidik. . .Begaimana kalau tubuhnya yang terkena??

„Tentu! Tentu!. . . jadi Es Sirop" Dalam pikirnya.

„Terima kasih. . ! Siaouw Hiap" Kata ke dua orang tua memberi hormat
pada Pang Cu yang telah menolongnya.

Belum sempat Pang Cu menjawab tiba tiba Heng Nio melesat menerjang
ketiganya. Secepat itu juga Pang Cu mendorong tubuh kedua orang yang baru
ditolongnya mengelinding ditanah. Padahal hanya didorong oleh telunjuk
kirinya.

Maka selamatlah nyawa mereka untuk kedua kali dari pukulan maut Heng
Nio.

Namun pukulan itu menghantam dada Pang Cu sebagai sasarannya,


akibatnya tubuh Heng Nio terjengkang tiga tombak bergulingan.

Pang Cu pun merasakan dadanya panas seperti dibakar, kalau tidak cepat ia
menyalurkan hawa murni „Leng Kie Ciu Beng" Hawa dingin penyembuh sukma,
sudah dipastikan akan muntah darah dan akan putus seluruh urat didalam
tubuhnya.

Heng Nio telah berdiri kembali, Mukanya kelihatan bengis dan menyeramkan.
Matanya melotot sehingga tampak urat2nya kelihatan merah. Giginya yang
berderet putih yang menyeringai se olah2 haus darah napasnya mendengus
seperti napas binatang. Suatu tanda bahwa Heng Nio sedang menyalurkan
kekuatan sihirnya yang ia pelajari dari mendiang Patulu.

„To cang ! Harap lekas bersembunyi ditempat yang aman" Bisik Pang Cu
pada Sam tek Hosiang dan It Ceng Totiang melihat perubahan Heng Nio itu.

30
Terus saja Pang Cu berdiri tegak menyalurkan „Hian men it goan kong kie
suatu tenaga dalam dahsyat melumpukan lawan salah satu Iweekang dari Toa
pan yan hian atau Ilmu silat Ajaib.

Seketika Heng Nio menjerit menerkam Pang Cu yang berdiri tegak kokoh
bagaikan gunung Ceng Sia San yang bertengger menyaksikan kedua remaja
yang sedang melangsungkan pertarungan menentukan.

Namun apa yang terjadi ? ?

Kedua tangan Heng Nio yang telah berisi ilmu sihir yang dipusatkan di
telunjuk yang tumbuh kepala ular .,bergetarrrr . . . ! mencekik leher Pang Cu.
62 ====
Dari telunjuknya mengepul asap kuning . . .. merah . . hijau. seperti sinar
pelangi (Kutumiri kata orang Jakarte) se olah2 ke dua remaja kelihatan sedang
berpelukan mesra, padahal masing2 saling mempertabankan nyawanya dari
renggutan maut

Perlu kalau kalau saja Pang Cu menghendaki diri Heng Nio tewas, seketika
dapat saja ia melakukannya, namun hatinya tidak sampai hati pada gadis itu.

Tiba tiba Heng Nio menjerit histeris.... badannya menggeloso ditanah


menggeliat geliat seperti ular kena pukul dikepalanya atau kata lain seperti
cacing kepanasan . . . . .. , mukanya pucat pasi seperti tidak ada darahnya.

Yang sangat mengherankan telunjuk Heng Nio yang tumbuh Ular putus
darahnya menyembur seperti mata air dilobang batu . . . . . . . mengeluarkan
darah hitam kebiruan. Dilain pihak tampak Pang Cu yang bergelar Siauw hiap
masih berdiri, napasnya kelihatan megap megap kepayahan Dari badannya
mengatel keringat sebesar biji kacang tanah berjatuhan . . . . .,Ahhhhhh . . . .
kedengaran Pang Cu menghela napas panjang sambil berseru pelan sekali . . .
„Kalau saja aku . . . . tidak menelan pil Leng Tan" rasanya akan mati kering
kepanasan."
„Selamat atas kemenanganmu Siunwhiap.. . . . ! Ujar It Ceng Tojin diikuti dari
belakang oleh Sam Tek Hosiang keluar dari tempat persembunyiannya.

31
Pang Cu tidak berkata sedikitpan matanya masih menatap pada tubuh Heng
Nio yang terlentang pucat menjadi mayat.

„Semoga Thian mengampuni dosamu” Gumam Pang Cu sambil mendoakan.

Tiba2 .Ha . . . Ha . ..Haaaaaaa," Suara orang ketawa diatas bukit batu cadas.

Ketiganya memalingkan kepala keatas di maua suara ketawa itu datang.

Tiba2 Pang Cu teringat pada Heng Na dan Sun Kui di Goa tanah, bagaikan
angin tubuhnya melesat diikuti Sam Tek Hosiaug dan It Ceng Tojin.

Namun baru saja kaki Pang Cu menginjakkan kakinya dibukit ia terkesiap


kaget.

Mengapa ??.

Kiranya Hoalim telah lari membawa Heng Na kejurusan Utara, setelah


melukai Sun Kit dengan piauwnyaa yang beracun.

„Bangsat ! Manusia itu harus dipecahkan batok kepalanya" Sam Tak Hosiang
menyerapah giginya hemeretuk menahan kemarahan.

„To tiang bawalah segera Sun Kui itu, ia terkena racun ganas, terlambat saja
nyawanya tidak ketolongan. Dan Sam Tek totiang segera kembali kemarkas
besar. Esok lusa aku akan membawa mayatnya Hoalim yang telah membuat
malu Siauwlim pay didunia Kang ouw.”

„Dan Siauw Hiap akan kemana ??" Tanya keduanya.

„Aku akan menyusul Hoalim sekalipun hari sudah sore" Jawab Pang Cu.

„OH ... ini berikan pada Sun Kui" Pang Cu memberikan Leng tan.

Pada waktu mereha memasukkan pil ke mulut Sun Kui.

32
Pang Cu bersiul nyaring „Suiiittt" Tiba2 dari udara turun Si Ang Ma meringkik
meng gelengkan kepalanya.

„Apa ?? kau lihat sesuatu ??" Tanya Pang Cu pada Kuda Ajaibnya.
„HIIEEMMM . . . . . " Si Kuda meringkik sambil menganggukkan kepalanya.

„Wah ! Totiang kuda melihat Hoalim lari belum jauh. Kita bertemu lagi di Kun
Lua” setelah berkata demikian Pang Cu melesat keatas kudanya.

„Srrrrrr . . , . . Kuda Ajaib itu melesat keudara bagai panah lepas dari
busurnya, sekejab saja telah menghilang meningalkan mereka.
___________________________

———————————— 22 —————————

HARI sudah agak gelap . . . ; . dari udara Pang Cu melihat cahaya


lampu kelap kelip disebuah gubuk yang agak terpencil dari rumah lainnya.

Tanpa diperintah kuda Ajaib itu menukik turun setelah ber putar2
mengelilingi kampung yang disebut desa Gak yo.

Dan turunnya si Ang Ma tidak jauh dari rumah yang terpencil itu.

“Mengapa kau berhenti disini Ang Ma ??” Kata Pang Cu pada Kudanya.

Kuda Ajaib itu mengangkat kakinya berdiri seperti menunjukkan sesuatu di


dalam rumah.
„Sialan perutku berbunyi keroncongan" Gumam Pang Cu dalam hatinya.

Pang Cu menyelinap mengendap ngendap mendekati rumah gubuk yang


tampak suram seperti tidak terurus oleh orang.
33
Kupingnya yang tajam mendengar suara perempuan cekikiken dari dalam
rumah itu. Pang Cu hatinya gedebak gedebuk, karena kenal benar dengan
suara perempuan itu. „Busettt ! lagi diapain . . . Heng Sumoay itu” Pikir Pang
Cu yang sudah tidak ragu lagi.

Pang Cu melesat diatas atap gubuk itu menggunakan langkah ajaib.

„Haayaaa !" Ia berteriak melihat dari atas.

Mengapa ?? Karena dilihatnya Heng Na tidur terlentang sedang dipereteli


seluruh bajunya oleh Hoalim yang duduk disisinya di bale bale bambu.

„Byaaarrr!” ……. tubuh Heng Na sudah polos tidak sehelaipun kain melekat
ditubuhnya.
o
0 0

Melihat tubuh montok terlentang di hadapan Hoalim sibuk meraba kian


kemari penuh napsu yang meluap luap.

Namun gadis itu tidak dapat bergerak hanya merintih. . . .. menguak


nguakan kedua pahanya yang putih kuning.

„Rupanya Heng Na telah ditotok dahulu agar tidak jalang." Pikir Pang Cu
yang darahnya mendidih menahan gejolak darah mudanya.

„Apa akalku, manusia semacarn Hoalim tidax segan2 membunuh


perempuan, kalau terdesak " Tiba2 ia teringat pada si Ang Ma yang berdiri
dekat pintu.

„Pang Cu bersiul . . . . memberi isyarat pada Kudunya. Seketika si Ang Ma


mengetok pintu dengan kakinya.

34
„Hoalim tersentak kaget, ia terpaksa melepaskan dekapannya pada tubuh
Heng Na yang sudah merintih ingin cepat selesai.
Pada waktu Hoalim mendekati pintu „Srrr . . . . .Pang Cu turun menerobos
atap gubuk. „Duaaakk ! Dengan pukulan miring ke tulang Ieher Hoalim.

„Bruaakk ! Tubuh Hoelim terpental, sehingga pintu gubuk itu terlempar


hancur kena benturan tubuhnya.

Baru saja Hoalim akan berdiri membalik kan badan „Krookook" suara batok
kepala pecah, karena si Kuda Ajaib telah menginjaknya dengan kekuatan
tenaga seribu kati seperti telur digilas Boldozer Sakay.

Darah berkubang bercampur otak dari Hoalim yang menemui ajalnya secara
mengerikan didekat gubuk desa Gakyo.

„Tidak perlu kubawa mayat murid murtad itu, untuk bukti cukuplah Hang Na
yang telah diketemukan kembali dengan selamat" Pang Cu berkata sendirian.

Kemudian tubuh Heng Na ia pondong dan bersama sama menunggangi Kuda


Ajaib yang selalu memberikan bantuan yang tepat pada sesuatu keadaan
keritis.

Malam2 yang menyeramkan Pang Cu kembali kepuncak Ceng sia san,


membawa tubuh Heng Na yang nyaris diserobot „Mutiaranya" oleh Hoalim.

Dengan tekun Pang Cu yang bergelar Siauw Hiap, merawat Heng Na, dan
akhirnya . . . . . . .

____________________________________

———————————— 23 —————————

35
PADA suatu hari yang cerah hawa pegunungan Ceng sia san yang
ber riwayat menghembuskan hawa sejuk. Seolah-olah mengetahui bahwa
kedua remaja yang duduk dijerami menghadapi sungai kecil yang bening itu
juga menghirup hawa baru.

Mereka duduk berhempitan disaksikan kuda Ajaib yang berbulu merah


mulus.

Sambil tertawa kecil Heng Na berkata :

„Pang Koko bukankah besok di Kotaraja diadakan sayembara untuk menjadi


pengawal Kerajaan ?? Tidak kau akan turut sayembara itu ??" „

„ Tak useh yeeeh. mendingan kita rekreasi ke puncak gunung Kua Lun. Dari
sana kita menuju ke Kuil Toa Ciok Sie menghadap Gook Im.

„Bagaimana?? Akur ?" tanya Pang Cu.

Heng Na menganggukkan kepalanya tanda setuju.

Maka kedua remaja yang sedang dilanda asmara berangkat , menuju


ketujuannya menunggangi Si Ang Ma kuda Ajaib yang setia.

Tampak kelihatan semakin jauh semakin kecil titik larinya kuda yang
membawa Pang Cu Siaouw Hiap dan Heng Na achirnya.....
Mereka mengucapkan pepatah :

Berakit-rakit kehulu,
Berenang-renang ketepian.
Bersakit-sakit dahulu,
Bersenang-senang kemudian.

TAMAT
EZ

36