Anda di halaman 1dari 103

PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

NANDAR HIDAYAT
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA
JILID 1

Hati nuraninya menentang. Walaupun tak pernah mendapat


ajaran tentang kehidupan, baik dan buruk, benar dan salah.

Memberontak untuk menjadi baik adalah caranya untuk


menemukan jati diri.

Atau, jika bisa harus menjadi seteru sang ayah sendiri. Akan
dihadapinya demi kebenaran. Dengan begitu, setidaknya dia
berada di jalur kebenaran.

Mencari penghidupan dengan jalan yang benar. Mencari


pengetahuan dengan jalan yang benar. Menjalani hidup
dengan cara yang benar.

Bahkan jika mampu, membela kebenaran.

1
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

PROLOG

Dua lelaki tinggi besar saling berhadapan menyampingi sang


surya yang berwarna jingga di ujung barat. Lelaki hampir tua
yang rambutnya di gelung sebagiannya sudah putih dan
berwajah lebar tampak menghadang jalannya lelaki paruh
baya berkepala botak.

“Rupanya harus menantu raja yang turun tangan!” dengus


lelaki botak megejek. Badannya kekar mengenakan baju hitam
tanpa lengan yang tampak “ngetat” di badan. Celana pangsi
yang dipakainya juga warna hitam.

“Aku bukan hendak menangkapmu,” kata si muka lebar sambil


tersenyum. Walaupun sudah hampir tua dan jelas lebih tua
dari si botak, tapi badannya masih kelihatan tegap. Dia
mengenakan setelan pangsi warna abu-abu.

“Apapun tujuanmu aku rasa kau tak akan berhasil…”

2
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

“Dengar!” sela si muka lebar. “Sudah saatnya kau


mendapatkan yang lebih besar dari apa yang telah kau
dapatkan sebelumnya.”

“Apa maksudmu?” si botak menatap tajam ke wajah lawan


bicaranya yang masih menyunggingkan senyum namun sorot
matanya memancarkan sifat licik.

“Kekuatanmu dibutuhkan…”

“Oh, aku tahu rencanamu!” kini si botak yang menyela.

“Bagus, kalau begitu kau sudah bisa membayangkan apa


yang akan kau dapat nanti.”

Si botak berpikir tapi dia menunjukan wajah angkuh untuk


menyamarkannya. Berarti si muka lebar ini membutuhkannya
untuk menjalankan rencananya. Rencana besar.

“Aku tidak bisa.” kata si botak kemudian sambil memutar


badan hendak pergi namun si muka lebar bergerak cepat

3
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

menghadangnya. Kemanapun si botak melangkah, gerakan si


muka lebar selalu lebih cepat menghalangi jalannya.

Si muka lebar tahu bahwa si botak hanya menguji saja,


pura-pura jual mahal. Tapi ternyata si botak mempercepat
gerakannya lagi entah sengaja mempermainkan atau
benar-benar hendak pergi.

Tapi si muka lebar tak ingin kehilangan kesempatan. Orang


seperti si botak ini harus didapatkannya. Maka selain
menghalangi langkah, dia juga memancing kemarahan si
botak yang akhirnya membuahkan hasil.

Si botak mulai mengeluarkan jurusnya, cakar kanannya


meluncur ke arah dada kiri si muka lebar yang ternyata hanya
mengenai angin karena lawannya sudah mengelak bergeser
ke samping. Namun cakar itu segera mengibas memburu
sasaran baru. Tapi lagi-lagi si muka lebar cepat merunduk
sehingga serangan itu kembali mengenai tempat kosong.

Kejap berikutnya kembali si botak menyerang, memperagakan


jurus yang jari-jarinya membentuk cakar seperti harimau.

4
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Tujuannya hanyalah membuka jalan agar dia bisa pergi. Akan


tetapi si muka lebar seperti tak mengijinkannya. Maka
terjadilah perkelahian dengan jurus-jurus indah tangan
kosong. Jurus-jurus yang masih menggunakan tenaga luar.
Sepertinya si muka lebar sudah mengenal jurus lawannya
namun tak sempat memikirkan karena dia harus melayaninya.
Keduanya tampak berimbang walau ada perbedaan. Gerakan
si botak terlihat kaku namun kuat dan cepat, sedangkan si
muka lebar gerakannya lembut. Jurus-jurusnya memang kasar
atau hanya mengandalkan tenaga luar, tapi gerakannya sudah
memcapai tahap sempurna sehingga pukulan atau hantaman
yang dihasilkan juga cukup dashyat jika mencapai sasaran.

Hingga sepuluh jurus berlalu belum ada yang unggul salah


satunya. Keadaan ini membuat si botak terpancing lagi. Kali ini
gerakan jurusnya disertai tenaga dalam dimana setiap
gerakan menimbulkan hempasan angin padat yang terasa
panas bila menyambar. Tidak tanggung-tanggung dia
kerahkan lebih dari setengah kekuatannya, dia bermaksud
menguji lawan yang katanya membutuhkan tenaganya. Si
botak tahu kalau lawannya ini adalah anak dari tokoh paling

5
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

sakti di tatar Sunda, tapi dia belum tahu seberapa hebat si


muka lebar itu.

Sementara si muka lebar yang tadi disebut menantu raja


tampak tenang dalam menghadapi lawannya. Seringai licik
masih tersungging di bibirnya. Dia sudah menakar kekuatan si
botak, memang tenaganya dibutuhkan untuk membantu
rencananya.

Pertarungan seru jika ada yang menyaksikan. Dua sosok


tinggi besar ini bergerak cepat seperti bayang-bayang.
Sebenarnya si muka lebar sudah bisa melumpuhkan
lawannya, namun dia menunggu waktu yang tepat. Dan si
botak juga sebenarnya menunggu lawannya mengakhiri
pertarungan ini, namun dia tak ingin terlihat rendah harga
dirinya.

Hingga akhirnya! Entah sengaja atau tidak dua tinju bertenaga


sakti beradu.

Blarrr!

6
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Si botak mental lalu jatuh terduduk sedangkan si muka lebar


hanya terdorong sedikit saja lalu segera mendekat ke si botak
sambil tangannya menekan bahu lawannya.

“Bagaimana?” si muka lebar tersenyum lebih lebar seakan


menunjukan dialah yang lebih unggul. Dan memang demikian
adanya.

Si botak masih menahan napas mengatur jalan darahnya yang


tak karuan. Dadanya terasa panas dan sedikit sesak seperti
habis dihantam gunung. Dia mengakui, si muka lebar memang
tangguh beberapa tingkat di atasnya. Tekanan tangan di
bahunya terasa mengalirkan hawa sejuk.

“Baiklah.”

Ketika semburat jingga hampir ditelan gelap, dua sosok tinggi


besar itu telah berlalu.

***

7
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

SEBELUMNYA

Kepala botak tanpa ikat adalah salah satu cirinya, wajah


lonjong tampan menawan dihiasi kumis tipis melengkung
menyambung dengan jenggot yang juga tipis semuanya
berwarna hitam.

Semakin gagah dengan badan yang tinggi besar dan


tegap menonjolkan otot-otot pertanda kekuatannya. Tapi dia
bukan seorang perwira kerajaan atau pendekar pembela
kebenaran.

Bagi yang belum kenal atau cuma melihat sekilas


mungkin akan menyangka demikian. Tapi bagi yang sudah
tahu siapa dia, orang berharta yang tidak memiliki
kemampuan kewiraan akan lari terbirit-birit. Seorang pendekar
akan menantangnya, dan seorang perwira petugas keamanan
kerajaan akan berusaha meringkusnya.

8
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Dibalik ketampanan dan kegagahannya ternyata dia


adalah seorang pemimpin rampok, julukannya Raja Begal dari
Cibaringkeng. Nama Cibaringkeng bukan sebuah nama
daerah tapi nama sebuah bukit di wilayah utara kerajaan
Indraprahasta.

Sampai saat ini, Kuntawala si Raja Begal ini bersama


lima anak buahnya sudah sangat meresahkan warga di sekitar
bukit Cibaringkeng bahkan meluas hingga kerajaan Wanagiri
di sebelah utara. Terutama bagi saudagar-saudagar kaya
mereka akan berpikir matang-matang jika hendak mengirim
barang ke ibukota Galuh.

Sampai saat ini juga belum ada seorang pendekar yang


mampu menundukannya. Pihak berwenang juga belum
mengupayakan untuk meringkus mereka.

Tidak tahu, apakah Kuntawala sangat hebat untuk


dilawan?

9
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Kuntawala berdiri di depan rumahnya yang terbuat dari


kayu di puncak bukit Cibaringkeng. Berulang kali dia
menghela napas. Dia sedang menunggu ke lima anak
buahnya yang sedang mencari Santana, anaknya.

Sudah ketiga kalinya Santana kabur dari rumah. Bocah


berumur tiga belas tahun ini sering mengungkapkan
keinginannya untuk pergi.

"Aku tidak mau ikut bapak lagi," terngiang di telinga


ucapan anaknya.

"Kenapa?"

"Aku tidak mau jadi perampok lagi, aku ingin jadi orang
baik..."

"Terus mau jadi apa kau? Hidup kita sudah cukup


senang, bahkan sangat senang. Banyak harta, tidak kurang
makan..."

"Tapi itu hasil merampas hak orang lain!"

10
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

"Hanya orang-orang kaya yang kita rampok, kita tidak


menyusahkan warga miskin. Bahkan seringkali kita bantu
orang yang kesusahan..."

Lamunan Kuntawala dikejutkan dengan munculnya lima


sosok dari berbagai arah. Mereka adalah anak buahnya.
Penampilan merekalah yang cocok disebut begal atau
perampok, rambut sama-sama gondrong, kumis tebal
melintang dan wajah sangar.

"Bagaimana?" tanya sang pimpinan.

Kelima anak buahnya menunduk hormat lalu sama-sama


menggelengkan kepala sambil menghela napas.

"Tujuh hari kedepan kita akan bergerak, jadi sebelum


tujuh hari, anak itu harus segera ditemukan. Aku juga akan
turun tangan mencarinya."

"Siap, tuan!" serentak ke limanya menyahut.

11
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Tanpa diperintah lagi mereka segera pergi ke berbagai


arah, juga Kuntawala yang melesat ke arah lainnya.

Setelah keadaan aman, muncullah Santana dari balik


semak belukar yang tak disangka akan menjadi tempat
persembunyiannya.

Anak lelaki yang bongsor, di usianya yang ketiga belas


tinggi badannya melebihi anak seumurannya. Mungkin
menurun dari bapaknya, wajahnya juga tampan.

Tanpa pikir panjang lagi dia juga pergi ke arah yang


berbeda.

***

Tanpa membawa bekal apapun, pakaian pun hanya yang


dikenakan di badannya. Santana bertekad bulat meninggalkan
ayahnya, keluarga satu-satunya yang dia miliki. Semua ini
karena hati nuraninya yang bertentangan dengan pekerjaan
sang ayah yaitu perampok.

12
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Pemuda tanggung ini melangkah menyusuri jalan


setapak yang jauh dari keramaian, entah sudah berapa jauh
dia meninggalkan bukit tempat tinggalnya.

Santana tidak ingat sejak kapan ayahnya jadi perampok,


mungkin sejak masih kecil. Dia teringat kepada ibunya yang
sudah lama meninggal, saat itu dia masih berumur tujuh
tahun.

Lebih jauh lagi dia mengingat-ingat saat masih kecil.


Saat ibunya masih hidup, waktu itu dia tidak tinggal di puncak
bukit Cibaringkeng, tapi di sebuah kampung kecil yang damai.
Santana kecil yang selalu ceria sering bermain-main dengan
teman sebayanya.

Sang ayah yang walaupun jarang pulang -setidaknya


sebulan sekali pulang- dia tidak terlalu memikirkan. Mungkin
karena masih anak-anak. Kata ibunya, ayahnya bekerja
kepada seorang saudagar yang selalu kirim-kirim barang ke
kota raja, makanya jarang pulang.
Namun setelah ibunya meninggal karena penyakit yang
sudah lama diidapnya, Kuntawala mengajak Santana pindah

13
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

rumah ke bukit Cibaringkeng. Di sana dia tidak lagi mendapati


sang ayah yang pulang sebulan sekali. Hampir setiap hari
selalu ada di rumah bersama teman-temannya yang kini tahu
mereka adalah anak buahnya.

Hanya selama satu hari saja Santana ditinggal di rumah,


besoknya sang ayah sudah kembali membawa barang-barang
berharga. Belakangan diketahui bahwa satu hari itu adalah
saat beraksinya melakukan pembegalan.

Sekarang, di umurnya yang masih hijau pikirannya


seolah sudah melangkah lebih maju. Ya, dia tidak ingin
mengikuti jejak ayahnya.

Mulai dari sekarang, hidupnya akan berubah!

***

Sampai di perkampungan perutnya mulai terasa lapar.


Santana menyapukan pandangan. Banyak orang lalu lalang
yang baru pulang dari sawah dan ladang mereka, ada juga

14
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

yang membawa sisa-sisa dagangan. Anak ini mendongak,


semburat jingga berpijar di ufuk barat.

Hatinya girang sekarang, di salah satu sudut perempatan


jalan dia melihat sebuah kedai makan yang masih ramai.
Segera saja Santana menghampirinya namun bukan ke
bagian depannya melainkan ke belakang.

"Permisi, Bi!" sapa Santana kepada seorang wanita


paruh baya yang sedang memasak.

Si Bibi ini menatap sejenak, menyelidiki, barangkali dia


mengenali Santana. Ternyata tidak.

"Ada apa, jang?"

"Saya lapar, bi!" Santana terus terang. Polos.

Si bibi kembali menatap, dia berpikir anak ini pasti


hendak minta makanan karena tidak punya uang. Melihat dari
penampilannya jelas sekali anak ini habis menempuh

15
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

perjalanan jauh. Jangan ditanya soal orang tuanya, karena


dilihat dia cuma sendirian.

"Saya tidak akan meminta cuma-cuma, bi," ujar Santana


seolah mengetahui isi hati si pemilik kedai. "Bibi boleh
menyuruh saya mengerjakan apa saja dulu, saya mau!"

"Oh...!" si bibi angguk-angguk kepala. "Baiklah, kamu


cuci saja peralatan makan di sana!"

"Baik, bi!"

Segera Santana mengerjakan apa yang di suruh si bibi


pemilik kedai. Setumpuk tempat makan yang terbuat dari
anyaman bambu, tanah liat dan juga bumbung bambu yang
dibuat seperti gelas sudah berpindah ke tempat cucian yang
berada di samping kedai sebelah dalam.

Dari tempat ini, Santana bisa mendengarkan percakapan


orang-orang di dalam kedai.

16
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

"Kau sudah dengar tentang pasukan siluman, Jarkawi?"


tanya seseorang kepada temannya.

"Pasukan siluman, apa lagi tuh, Wirya?" si Jarkawi malah


balik tanya, dasarnya memang dia tidak tahu.

"Iya, siluman apa?" timpal yang lain.

"Dengarkan saja dulu," ujar yang lain lagi. " Si Wirya kan
tempatnya segala berita, ha ha ha..."

"Ya...ya...ya... betul!"

Seketika suasana kedai jadi hening menunggu orang


bernama Wirya buka suara lagi.

"Mereka menamakan dirinya Pasukan Siluman Laskar


Dewawarman, mungkin bagi rakyat kecil seperti kita tidak
begitu meresahkan. Karena sepak terjang mereka hanya
merampas harta milik para saudagar atau pejabat,"

17
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

"Berarti sama saja dengan kelompoknya Kuntawala si


Raja Begal," sela Jarkawi.

"Hmmh, iya juga" yang lain ikut menimpali.

"Tapi mereka hanya merampas harta, tidak sampai


membunuh orangnya," jelas Wirya kemudian. "Sedangkan kita
tahu si Raja Begal lebih sadis. Selain merampas juga
membunuh, bahkan orang biasa juga bisa kena begal
mereka,"

"Ya, ya, ya, terus selain itu apalagi?"

"Selain merampas harta, mereka pernah menghancurkan


sebuah padepokan sampai rata dengan tanah. Kalau yang ini
mereka membunuh semua murid padepokan termasuk
gurunya..."

"Wah, ini kejam dan juga pastinya mereka mempunyai


ilmu silat yang tinggi..."

18
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

"Tunggu, tunggu..!" sela seseorang sehabis meminum


tehnya. "Bukankah Dewawarman adalah leluhur para raja di
tanah Sunda ini?"

"Iya, betul!"

"Bagaimana bisa jadi pasukan siluman yang kejam, apa


tujuan mereka?" tanya Jarkawi.

Setelah menyeruput kopinya Wirya menjawab lagi.


"Kalau tujuannya akupun tidak tahu apa, tapi kabarnya mereka
adalah keturunan dari para pengikut Dewawarman dahulu."

Yang lain tampak menggumam tak jelas sambil


menikmati hidangan yang tinggal sedikit lagi.

"Mendengar dari namanya, kurasa mereka bukan dari


Indraprahasta ini," pikir seseorang namun suaranya cukup
terdengar seantero kedai. Yang lain merasa sepikiran maka
terdengar gumaman mengiyakan.

19
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

"Benar, mereka tidak hanya bergerak di sini tapi di


kerajaan-kerajaan lain. Jumlah mereka sangat banyak,
tentunya di setiap wilayah ada cabangnya," jelas Wirya lagi.

"Aku rasa ini hanyalah permainan kotor para petinggi


kerajaan," duga seseorang.

"Maksudmu?"

"Kita tahu di Indraprahasta, walau tidak tampak tapi


terjadi perang pengaruh antara Raden Wiratara dan Raden
Purbasora, mereka sama-sama mengincar kedudukan raja.
Raden Wiratara merasa berhak karena dia anak lelaki
satu-satunya, sedangkan Raden Purbasora walaupun cuma
menantu, tapi dia adalah suami putri sulung sang raja. Kakak
ipar raden Wiratara. Dan kebiasaan di setiap kerajaan adalah
anak sulung yang menjadi pewaris tahta."

"Benar, apalagi Raden Purbasora pasti didukung oleh


ayahnya, resi Sempakwaja tokoh paling sakti di tanah Sunda
dan juga keturunan dari Prabu Wretikandayun pendiri Galuh,"
Wirya menimpali.

20
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

"Satu lagi jangan lupa!" ujar Jarkawi.

"Apa lagi?"

"Siapa yang jadi raja di pusat pemerintahan Galuh?"

Seketika orang-orang saling bergumam sendiri-sendiri


seakan mengerti dengan jawaban Jarkawi tadi.

"Pada akhirnya akan bertujuan kesana,"

"Eh, apa maksudmu?"

"Sudahlah, kita tidak perlu ikut memikirkan apalagi


khawatir tentang semua itu, yang penting saat ini dan
seterusnya kita masih bisa hidup tenang, makan enak dan
tidur nyenyak, hahaha...."

"Ya, ya, ya...!"

21
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Semua orang jadi riuh dan tertawa-tawa lalu


menghabiskan hidangannya.

Selesai juga Santana melakukan tugasnya, rasanya lega


kalau bisa makan hasil dari keringat sendiri, tenang dan juga
nikmat. Setelah cukup kenyang, bocah tiga belas tahun ini
pamit melanjutkan perjalanan.

***

22
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Selesai makan, Santana lanjutkan perjalanan.


Sebenarnya bisa saja dia meminta untuk bekerja di kedai tadi
untuk menjalani kehidupan barunya. Namun tempat kedai itu
masih dekat ke bukit Cibaringkeng. Dia takut ayah dan anak
buahnya menemukannya. Maka dia memutuskan untuk
mencari tempat yang lebih jauh dari rumahnya, walaupun
harus ke ibukota Galuh sekalian.

Santana sampai di suatu tempat yang ramai. Banyak


penjual berbagai macam dagangan dan banyak juga orang
yang sedang melihat-lihat, memilih, menawar dan membeli
barang. Sebuah pasar.

Namun anak tiga belas tahun ini selalu waspada.


Kalau-kalau ada salah satu anak buah ayahnya, dia akan
menghindar sebisa mungkin. Walaupun dia bisa sedikit
jurus-jurus bela diri yang pernah diajarkan ayahnya, tapi itu
belum seberapa dibanding kepandaian anak buah ayahnya.

23
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Mereka sudah bisa dibilang jagoan dalam ilmu silat.


Sayangnya kepandaian itu digunakan untuk kejahatan.

Kekhawatiran Santana menjadi nyata saat jauh di depan


sana tampak seorang laki-laki tegap berbaju serba hitam,
wajahnya berewokan dan rambut gondrong terurai
acak-acakan tanpa ikat kepala.

"Mamang Darpa!" desis Santana sembari tengak-tengok


mencari tempat untuk sembunyi.

Namun sesuatu terjadi di sana. Seorang lelaki gagah


menghadang langkah Darpa. Lelaki tinggi telanjang dada, di
leher menggantung perhiasan kecil seperti lencana, di kedua
lengan bagian atasnya juga melingkar gelang berwarna emas.
Di bawahnya memakai celana sontog hitam yang ujungnya
ada hiasan sulaman, di bagian pinggang hingga paha dilapis
dengan kain bercorak yang diikat dengan sabuk yang terlihat
mewah. Seorang prajurit, mungkin berpangkat perwira.

"Mau apa kau?" sentak Darpa sambil melotot membuat


wajahnya tambah seram.

24
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Si perwira berkumis tipis ini tersenyum, "Kau harus ikut


aku," jawabnya.

"Siapa kau berani memerintahku?"

"Kau dan pemimpinmu itu adalah orang-orang yang


dicari kerajaan, sudah mengerti?"

"Oh, begitu!" suara Darpa mengejek. "Sekarang pihak


kerajaan sudah mulai turun tangan, ha ha ha, tapi aku tidak
takut!"

"Kau tidak takut kalau bersama-sama dengan yang


lainnya, tapi bagaimana kalau sendirian?"

"Kau meremehkanku!" teriak Darpa seraya menghambur


menghantamkan tinjunya yang mantap penuh tenaga ke
wajah si perwira.

Dengan tenang si perwira miringkan kepala sambil


menangkis. Serangan susulan dari Darpa berupa sodokan ke

25
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

arah perut datang. Si perwira bungkukkan badan lalu


menangkis lagi dengan tangan satunya. Kejap berikutnya
terjadi pertarungan yang mengakibatkan ketakutan
orang-orang yang sedang berjual-beli. Mereka segera
menjauhi tempat perkelahian. Sementara dari jauh Santana
memperhatikan pertarungan itu.

Santana sudah hapal betul jurus-jurus yang dikeluarkan


Darpa yang tampak kaku namun mantap dalam serangan.
Tapi Santana terpukau dengan gerakan jurus si perwira yang
tampak indah. Gerakannya lembut namun bertenaga. Seperti
orang menari tapi gerakannya cepat dan terarah dan juga
lebih unggul dari lawannya.

Buktinya sekarang Darpa terdesak, beberapa kali dia


terkena pukulan dan tendangan. Tampaknya dia ingin
mencabut senjatanya, namun tak ada kesempatan sama
sekali. Benar kata si perwira, kalau sendirian, anak buah si
Raja Begal ini bukan lawan yang tangguh. Mereka hebat
karena bersama-sama ditambah dengan kepandaian
Kuntawala yang tidak bisa dianggap sembarangan. Makanya
sampai saat ini belum ada yang bisa meringkus mereka.

26
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Suatu keberuntungan bagi si perwira yang memang


ditugaskan untuk menumpas kawanan begal pimpinan
Kuntawala ini. Secara kebetulan dia berjumpa dengan salah
seorang anak buahnya.

Melihat keadaan Darpa yang semakin terdesak, si


perwira tak mau berlama-lama lagi. Dia bersalto di atas kepala
Darpa diakhiri dengan menjejakkan satu kaki ke kepala dan
satunya ke punggung.

Duk! Duk!

Darpa jatuh tersungkur wajahnya menghantam tanah.


Kepala dan punggungnya sakit bukan main seperti habis
dihantam sebongkah batu. Belum sempat menyadari
keadaannya tiba-tiba beberapa orang prajurit menodongnya
dengan tombak.

"Ikat dan bawa dia!" perintah sang perwira yang segera


dikerjakan bawahannya.

27
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Di tempatnya Santana, dia merasa lega akhirnya Darpa


bisa diringkus. Tapi dia terkejut ketika tiba-tiba ada yang
menepuk bahunya. Santana menoleh. Seorang kakek
berpakaian selempang warna putih, berambut putih campur
hitam sedikit digelung ke atas, berkumis dan jenggot juga dua
warna tidak tebal tidak tipis. Si kakek tersenyum.

"Kau mau seperti dia?" tanya si kakek mengerti kalau


Santana mengagumi jurus silat si perwira.

Sasaat anak Kuntawala ini bengong. Belum sempat


menjawab, si kakek sudah menarik tangannya.

"Ikut aku!"

Santana dibawa ke tempat yang cukup sepi, sebuah


kebun kosong yang sepertinya belum ditanami atau mungkin
sudah dipanen.

"Siapa namamu?" tanya si kakek.

"Santana, Ki."

28
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

"Baiklah, Santana. Sekarang kau lihat baik-baik!"

Kemudian si kakek yang aneh ini memperagakan


beberapa gerakan sebuah jurus. Tidak banyak gerakannya
sehingga Santana bisa melihatnya dengan jelas.

"Nah, coba kau ikuti gerakan tadi dan ulangi terus


sampai mantap."

Masih diliputi perasaan aneh, Santana mau juga


melakukannya. Sampai beberapa kali mengulang baru sadar
kalau si kakek aneh itu sudah tidak ada.

"Aneh, siapa aki itu?"

Namun dia juga merasa senang karena mendapatkan


sebuah pelajaran jurus yang belum tahu namanya. Dia akan
melatih terus jurus barunya itu. Santana mengulangi sekali lagi
sebelum dia meninggalkan tempat itu.

***

29
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Semula Santana ingin berlari sejauh mungkin


menghindari kejaran ayah dan anak buahnya. Namun kejadian
beberapa saat lalu membuatnya penasaran. Salah seorang
anak buah ayahnya berhasil dibekuk prajurit perwira
Indraprahasta. Dia jadi ingin mengetahui lebih lanjut
bagaimana nasib anak buah yang lain termasuk ayahnya
sendiri.

Setelah mengulang gerakan jurus yang didapat dari


kakek misterius terakhir kalinya, Santana bergegas pergi
melalui jalan lebar yang sepi. Tapi baru beberapa langkah saja
dia mendengar suara ribut-ribut. Segera saja dia mencari tahu
ada kejadian apa.

Di ujung belokan jalan terlihat sebuah kereta kuda yang


besar ditarik oleh dua kuda sekaligus dan dikawal oleh tujuh
orang yang tampaknya memiliki kepandaian berkelahi, tengah
dihadang oleh sekelompok orang berseragam hitam-hitam
yang wajahnya juga ditutup kain hitam sebatas hidung
kebawah. Jumlah mereka lebih banyak dari pengawal kereta
yang ternyata membawa barang dagangan.

30
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Di atas kereta ada dua orang yang menunjukan muka


ketakutan. Seorang ayah dan putrinya yang cantik kira-kira
berumur delapan belas tahun.

"Kami laskar siluman Dewawarman!" teriak lantang salah


seorang dari penghadang, tapi tidak tahu mana yang berteriak
tadi. Seolah-olah datang dari tempat lain.

Si pedagang, putrinya dan para pengawalnya tentu saja


terkejut mendengar nama yang saat ini sedang banyak
dibicarakan orang. Sementara di tempat persembunyiannya,
Santana tampak angguk-angguk kepala. "Jadi mereka..."
gumamnya.

"Jadi, kami harap kalian sudi menyerahkan barang


bawaan kalian secara baik-baik, kami tidak akan menyakiti!"

"Bangsat!" maki si pedagang tapi suaranya terdengar


gemetar. "Aku tidak sudi!"

31
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Baru saja selesai mengumpat tiba-tiba ketujuh


pengawalnya roboh seperti pohon tumbang terhempas angin.
Mereka hanya pingsan. Belum hilang kagetnya tahu-tahu dua
orang dari laskar siluman Dewawarman sudah berada di atas
kereta. Lebih parah lagi tanpa terlihat kapan melakukannya,
dua tangan si pedagang dan putrinya sudah terikat tali dengan
kuat.

"Bapak...!" sang putri menjerit ketakutan, sementara si


ayah tak bisa berbuat apa-apa.

"Kalian tidak akan dilukai, sebaiknya kalian ikuti kami!"

Kemudian salah seorang dari mereka memegang tali


kendali kuda lalu menggebrak sehingga kereta melaju agak
cepat. Anggota laskar yang lain mengikuti dari belakang.
Termasuk Santana melakukannya secara diam-diam.

Kereta dagang yang sudah berganti pengawal itu tidak


melalui jalan umum tapi malah masuk ke jalan hutan yang
agak sempit untuk ukuran kereta kuda.

32
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Saat senja tiba, keadaan di dalam hutan tampak gelap.


Rombongan laskar siluman Dewawarman berhenti di suatu
tempat yang cukup lapang. Sepasang ayah dan anak sudah
tidak terikat lagi kedua tangannya. Sepanjang jalan tak sedikit
pun mereka diperlakukan tidak baik.

"Kita menunggu pimpinan di sini, turunkan dua tawanan


itu!"

"Baik!"

Walaupun tidak disakiti namun hati mereka tetap merasa


takut dan was-was. Kabar dari orang-orang, Laskar siluman ini
hanya merampas harta orang tidak sampai membunuh. Tapi
tetap saja kalau jadi tawanan seperti ini tak bisa merasa
tenang.

Hari semakin gelap, suara serangga malam terdengar


semakin ramai pertanda malam sudah tiba. Belasan anggota
laskar siluman Dewawarman tampak berbaris rapi di depan
kereta barang sedang menanti kedatangan seseorang.

33
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Sementara si pedagang dan putrinya dibiarkan di tempatnya


seolah-olah mereka tidak penting.

Bahkan ketika Santana berhasil mendekati tawanan itu,


pasukan berseragam hitam ini tetap tak bergeming seperti
tidak sadar akan kehadiran orang lain.

"Mamang, ayo kita tinggalkan tempat ini!" bisik Santana


sambil menarik tangan ayah dan anak itu.

Entah kenapa seperti kena gendam, si pedagang dan


putrinya menurut saja, dan anehnya kejadian itu seperti
dibiarkan saja atau tidak disadari laskar siluman itu. Hingga
akhirnya Santana berhasil membawa mereka jauh dari tempat
itu dengan tenang tanpa takut dikejar.

"Terima kasih, anak muda." ucap si pedagang.

"Sama-sama. Sebaiknya mamang berdua langsung


pulang atau istirahat dulu sejenak?"

"Kita pulang saja. Oh ya, siapa namamu, nak?

34
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

"Santana,"

"Aku Garda Salira, dan ini putri semata wayangku.


Namanya Kemala,"

Santana menoleh, walau keadaan gelap tapi masih bisa


memandang wajah si gadis yang begitu mempesona. Ini
pertama kalinya dia berjumpa seorang gadis. Seketika
jantungnya berdegup kencang, dia tahu si gadis usianya jauh
lebih tua.

"Terima kasih." ucap Kemala terdengar lembut suaranya.


Santana hanya mengangguk.

"Masih jauhkah tempat tinggal mamang?"

"Tidak begitu jauh, sebelum tengah malam juga sudah


sampai. Bagaimana kau bisa tahu kami ditawan?

"Kebetulan aku menyaksikan sejak mamang dan para


pengawal dihadang,"

35
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

"Oh, begitu. Kamu sendiri dari mana dan mau kemana?


Siapa orang tuamu?"

Sebelum menjawab Santana melirik Kemala, "Aku...


sebenarnya aku kabur dari rumah. Maaf, mengenai rumah dan
orang tuaku belum bisa aku jelaskan sekarang."

Tentu saja Santana tak ingin diketahui bahwa dia anak


perampok, dan tampaknya Garda Salira juga tak begitu
mempedulikannya. Mungkin hal itu bersifat sangat pribadi.

"Kurasa pasukan siluman itu tidak mengejar kita," kata


Santana mengalihkan pembicaraan. "mamang berdua sudah
aman, sebaiknya aku pamit."

"Tunggu Santana, kau mampir saja dulu ke rumah.


Mungkin kau butuh tumpangan menginap, itung-itung rasa
terima kasih kami,"

"Baiklah, mamang."

36
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

***

Tiga orang ini menelusuri jalan yang semula dilewati.


Sampai di tempat ketika mereka dihadang Laskar Siluman
Dewawarman, ternyata tujuh orang pengawal dagang mereka
sudah tidak ada. Mungkin sudah siuman lalu pulang ke rumah
masing-masing.

Garda Salira tidak memusingkan ketujuh pengawalnya


karena dia sudah membayarnya di muka. Mereka adalah
orang-orang yang memiliki kepandaian bela diri yang disewa
untuk mengawal barang dagangan yang akan dikirim ke kota
raja.

Sekarang barang dagangannya sudah jatuh ke tangan


orang-orang laskar siluman yang sudah sering ia dengar
sepak terjangnya. Ternyata dia juga mengalaminya sebagai

37
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

seorang pedagang besar. Tapi itu tidak jadi soal, yang penting
dia bersama Kemala selamat tak kurang suatu apapun.
Untung juga ada Santana, kalau tidak mungkin dia masih
pasrah jadi tawanan laskar siluman. Walaupun tidak disakiti
tapi tidak tahu nantinya akan diapakan.

Sebelum tengah malam mereka sampai di rumah kayu


yang cukup besar. Rumah yang cukup mencolok di antara
rumah-rumah penduduk lain di sebuah desa. Suasana sepi,
hanya damar-damar yang berada di luar saja yang menyala.
Kemala dan ayahnya tinggal di rumah sebesar itu berserta tiga
orang pembantu, itu juga hanya untuk urusan perdagangan.
Sedangkan untuk pekerjaan rumah dilakukan oleh Kemala
sendiri karena sang ibu sudah meninggal.

Sebenarnya hati Santana sangat senang diajak singgah


ke rumah ini. Senang karena bisa berdekatan lebih lama
dengan Kemala. Inikah yang namanya 'berag'? Pertama
kalinya dia menyukai seorang gadis. Namun ia tidak
menunjukkannya lewat sikap, malah seolah-olah dia anak
pemalu saat berbicara dengan Kemala. Wajahnya sering

38
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

menunduk hanya sesekali melirik untuk menyelami cantiknya


wajah si gadis yang sudah matang.

Kemala, gadis umur delapan belas tahun jelas sudah


tampak keindahan lekuk tubuhnya dan pasti memikat lawan
jenis. Apalagi Santana yang seolah-olah baru pertama kali
melihat perempuan. Yang tadinya hanya berniat sekedar
menumpang tidur sementara malah menjadi keterusan karena
semakin hari semakin akrab dengan si gadis. Sebagai balas
jasanya, Santana dengan suka rela membantu pekerjaan ayah
Kemala sebagai pedagang besar.

Namun masalah selalu ada di setiap sisi kehidupan.


Keakraban Santana dan Kemala ternyata ada yang tidak
menyukainya. Suatu hari ketika Santana sedang
membersihkan ladang milik Garda Salira dari rumput-rumput
dan tanaman liar, tiba-tiba dia didatangi seseorang.

"Oh, rupanya ini si tukang kebun yang cari-cari muka dan


kesempatan!" suara besar dan agak kasar keluar dari seorang
lelaki yang badannya setinggi Santana namun lebih kekar,

39
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

wajahnya tampan tapi terkesan sangar. Dia berumur dua


puluh tahun.

"Siapa kau?" tanya Santana walau tahu pemuda


dihadapannya pasti mempunyai tujuan kurang baik tapi dia
tetap bicara pelan.

"Aku Gumara calon suami Kemala,"

"Oh, begitu!" gumam Santana tapi hanya dalam hati.


"Kenapa Kemala tidak pernah cerita?"

"Aku tidak suka kau dekat-dekat dengan Kemala.


Sebaiknya kau jauhi dia dan jangan lagi jadi pegawainya
juragan Garda!"

Santana menatap tajam ke arah Gumara. Kenapa


Kemala mau dengan laki-laki angkuh seperti ini? Pikirnya.

"Aku tidak suka diperintah, kau bukan juraganku!"

40
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

"Kurang ajar, beraninya kau membantah!" belum selesai


bicara, Gumara sudah bergerak melayangkan tinjunya yang
kekar disertai gerakan jurus yang memukau.

Mau tak mau Santana melayani pertarungan yang tak


diinginkannya, mengingat dia belum menguasai jurus atau
ilmu yang ampuh. Ini pertama kalinya dia bertarung melawan
musuh yang baru dikenal. Dengan kemampuan yang masih
rendah, Santana menggunakan jurus-jurus yang diajarkan
ayahnya dan juga dari kakek misterius beberapa hari yang
lalu. Namun gerakannya masih mentah.

Gumara sendiri tampak lebih sigap terlihat sudah


berpengalaman jelas dia berada di atas angin. Lawannya
dibuat jadi bulan-bulanan sehingga senyum angkuh dan
sombongnya selalu tersungging di bibirnya.

Beberapa pukulan mentah bersarang di tubuh Santana


membuatnya hilang keseimbangan. Di beberapa anggota
badannya banyak keluar darah dan memar. Hingga dia tak
kuat lagi menahan dan tubuhnya roboh ke tanah. Beruntung

41
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

tiba-tiba saja Kemala datang menghentikan kebengisan


Gumara akibat rasa cemburunya.

"Apa yang kau lakukan?" Kemala menghampiri Santana


yang tergeletak di tanah lalu berusaha membangunkannya.

"Santana, kau terluka!"

Melihat hal itu hati Gumara semakin cemburu, gadis


calon istrinya malah menolong Santana.

"Kenapa kau malah menolongnya?" bentak Gumara.

"Kenapa kau melukainya?" Kemala malah balik tanya.

"Aku tidak suka dia dekat denganmu, kau calon istriku,"

"Aku tidak suka caramu yang kasar!" bentak Kemala.

"Kenapa kau jadi begini, Kemala. Jangan-jangan kau


sudah jatuh hati pada anak ingusan itu?"

42
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

"Terserah kamu!"

Lalu dengan susah payah Kemala merangkul Santana


yang kelelahan membawanya pulang. Sementara Gumara
tampak murka di tempatnya.

Sampai di rumah Santana diobati oleh salah seorang


pembantu Garda Salira yang kebetulan ahli dalam
pengobatan. Sekujur tubuh Santana yang luka dan lebam
dibalur dengan ramuan tanaman obat. Tak menyangka akan
seperti ini, ternyata kepandaian bela dirinya belum seberapa.
Beberapa jurus ajaran ayahnya ditambah satu jurus dari kakek
misterius ternyata masih mentah.

Namun dibalik rasa sakit yang dideritanya sekarang ada


satu kegembiraan hati yang tak dapat digambarkan. Kemala
selalu menemani dan merawatnya. Semakin dekat semakin
akrab.

Di suatu malam ketika semua penghuni rumah sudah


terlelap kecuali Santana. Tiba-tiba remaja yang mulai berag ini
dikejutkan dengan kedatangan seseorang.

43
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

"Bangunlah, ikut aku!"

Dari suaranya Santana dapat mengenali orang itu.

"Aki!"

Dengan susah payah Santana bangkit. Seluruh tubuhnya


masih terasa sakit, tapi dengan tergopoh-gopoh dia berjalan
bahkan bila perlu sampai merangkak mengikuti kakek
misterius itu. Sampai di sebuah tempat yang lapang agak jauh
dari rumah besar itu barulah si kakek misterius berhenti.

Suasana tampak temaram oleh sinar bulan separuh yang


menggantung dilangit. Dengan keadaan memprihatinkan
Santana berdiri tidak tegak karena menahan ngilu di belakang
si kakek.

"Lihatlah, lalu lakukan terus menerus sampai terasa


hasilnya." ujar si kakek tanpa basa basi lalu dia menggerakkan
tangan dan kakinya membentuk sebuah jurus.

44
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Santana pun memperhatikannya dengan seksama.


Mengingat setiap gerakan tangan maupun kaki. Di mana saat
mengeluarkan tenaga kecil atau besar. Sedangkan telinganya
mendengarkan setiap tarikan napas, seberapa kuat suara
injakan kaki ke tanah dan juga seberapa keras kibasan angin
dari gerakan tangan.

"Yang paling utamanya adalah mengatur napas sebaik


mungkin," si kakek menjelaskan setelah selesai gerakannya.
"Dan jangan lupa, kokohkan kuda-kuda, nah lakukanlah!"

Akhirnya walaupun harus menahan rasa sakit Santana


melakukan perintah si kakek yang sama sekali belum tahu
namanya. Awalnya tampak meringis-ringis dan gerakannya
sangat lambat, tapi semakin lama semakin cepat rasa sakit di
tubuhnya perlahan menghilang. Santana terus melakukannya
sesuai petunjuk sampai berpuluh-puluh kali mengulang
gerakan yang merupakan sebuah jurus itu. Dia lupa luka-luka
di badannya, lupa rasa sakitnya bahkan baru sadar ketika dia
menghentikan gerakannya.

45
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

"Oh, aku tidak merasa sakit lagi. Tubuhku terasa ringan


dan segar, aki...!"

Ternyata si kakek sudah menghilang lagi. Santana


menghela napas lega, senang hatinya. Luka-luka di tubuhnya
tak terasa sakit lagi.

"Aku sembuh!" serunya sumringah. "Terima kasih aki,


aku belum tahu siapa kau sebenarnya. Tapi kau sudah seperti
guruku, sekali lagi terima kasih banyak!" Ia berkata
seolah-olah si kakek masih berada di dekatnya dan dia yakin
si kakek pasti mendengarnya.

Untuk meyakinkan diri, pemuda tiga belas tahun ini


mengulang lagi jurus barunya yang merupakan lanjutan dari
jurus sebelumnya sampai beberapa kali. Lalu segera mungkin
dia kembali ke kamarnya.

***

Pagi hari yang cerah dan sejuk harus dikejutkan dengan


suara gaduh di halaman rumah yang cukup luas itu. Secara

46
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

kebetulan Santana dan Kemala berpapasan di pintu utama


rumah.

"Ada apa?" tanya Santana.

"Tidak tahu, kedengarannya ada orang berteriak-teriak,"


jawab Kemala. "Santana, kau..." gadis ini tiba-tiba heran
melihat Santana tampak sehat.

"A.. aku sudah mendingan..."

Kemudian mereka segera ke sumber kegaduhan.


Ternyata Gumara datang sambil teriak-teriak lantang.

"Mamang Garda, mana anak ingusan itu! Usir dia dari


rumah ini! Aku tidak sudi dia dekat-dekat calon istriku!"

Santana dan Kemala saling pandang, "Di mana


mamang?" tanya Santana.

"Sejak hari gelap dia sudah ke ladang,"

47
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

"Laki-laki itu datang lagi mencariku,"

"Biar aku yang bicara padanya, Santana."

Kemala segera menghampiri Gumara yang terlihat


marah besar. Wajahnya tampak menyeramkan, kedua
matanya melotot lebar.

"Kau tak punya hak mengatur bapakku," hardik Kemala.


"Aku tidak menyangka ternyata seperti ini sifatmu,"

"Apa maksudmu, Kemala? Sudah jelas kau calon istriku,


lelaki mana pun tidak berhak mendekatimu. Hanya aku yang
berhak!"

"Kau belum berhak apapun karena kau belum jadi


suamiku, sikapmu telah membukakan mata hatiku, telah
menunjukan siapa kau sebenarnya. Aku tak sudi jadi istrimu!"

"Apa..!" Gumara semakin murka, pandangannya


menghujam ke arah Santana. Sangat marah.

48
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

"Dia tamuku dan juga penolong kami," ujar Kemala, yang


dimaksud adalah Santana.

"Bedebah! Wanita murahan, kubunuh kau..!"

Kecewa karena sang pujaan hati membela laki-laki lain,


maka amarah semakin memuncak, kalap, gelap mata. Dengan
jeritan melengking, Gumara mengangkat tangan kanan
melancarkan pukulan kuat ke wajah Kemala. Gerakannya
cepat sehingga si gadis tak sempat menghindar, hanya
sempat memejamkan mata.

Dukk!

Kemala terkejut mendengar benturan di depan muka.


Saat membuka mata, ternyata tangan Santana yang
menghalau pukulan Gumara.

"Bocah ingusan, kau masih berani padaku?"

"Lelaki bengis sepertimu tak pantas jadi suaminya!"

49
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Kali ini dengan penuh kayakinan Santana akan


menghadapi lawannya, apalagi Gumara dalam keadaan
marah. Tak banyak basa basi lagi dia langsung menerjang
mengeluarkan jurusnya namun tetap dengan ketenganan.

Pertarungan sengit pun terjadi. Gumara yang merasa


yakin karena pernah mengalahkan Santana sebelumnya
menganggap remeh lawannya. Tapi setelah beberapa jurus
berlalu dia jadi heran melihat Santana yang tiba-tiba saja
menjadi lebih hebat. Gerakan jurusnya mantap dan kuat
bahkan mampu mengimbangi diri.

Hal ini membuat Gumara semakin geram, dia tingkatkan


kekuatan mantapkan jurus namun terlalu membabi-buta
karena amarahnya. Sedangkan Santana melayaninya dengan
tenang sehingga dia mudah melihat celah kelemahan lawan
ditambah kekuatan tubuhnya yang terasa meningkat dan
ringan dalam bergerak.

Akhirnya beberapa pukulan telak pun bersarang di tubuh


Gumara yang membuat tenaganya berkurang gerakannya

50
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

melambat dan tak karuan hingga sekarang giliran dia yang jadi
bulan-bulanan lalu tersungkur penuh luka dan memar.

Melihat lawannya sudah tak berdaya, Santana


menghentikan serangannya. Dia melihat Gumara
tergopoh-gopoh melarikan diri, tapi tiba-tiba dia terkejut
mendengar teriakan Kemala.

***

51
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

"Tolooong...!"

Santana melihat seseorang membawa lari Kemala


sangat cepat. Tanpa pikir panjang segera saja dia mengejar.

Gerakan penculik itu lumayan cepat, walau sambil


memanggul tubuh Kemala di pundak kanannya tapi Santana
tak mampu menyusul.

"Ah, dia menggunakan ilmu meringankan tubuh," keluh


Santana. Sedangkan dia berlari dengan tenaga biasa saja.
Pantas saja tak mampu mengejar. Ia menyesali dirinya yang
bisa meringankan tubuh.

52
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Bagaimana nasib Kemala? Kenapa dia seperti tak


berkutik di atas pundak orang itu? Siapa juga penculik itu?
Sosoknya tak jelas laki-laki atau perempuan. Di saat pikiran
kalut seperti itu tiba-tiba dia mendengar suara di sebelah
kanan, jauh tapi jelas.

"Lihat aku!"

Santana menoleh ke kanan. Ternyata si kakek misterius


sedang berlari sejajar dengannya namun terpaut sejauh lima
tombak. Kakek itu memperagakan cara berlari yang aneh
disertai gerakan badan yang lain sebagai penyeimbang atau
penunjang agar lebih cepat larinya.

Santana tahu maksud si kakek, maka segera dia ikuti


apa yang dilakukan si kakek. Anak ini cukup cerdas, tak butuh
waktu lama untuk memahami ajaran si kakek yang sampai
saat ini belum tahu namanya, berasal dari mana dan siapakah
dia sebenarnya?

Saat memperagakan ajaran si kakek kali ini, remaja baru


beger ini merasakan ada perubahan dalam dirinya. Mulai dari

53
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

terasa lebih ringan tubuhnya, tambah cepat gerakannya,


bahkan dia bisa melompat cukup jauh. Inikah ilmu
meringankan tubuh? Semakin semangat Santana
melakukannya semakin bertambah kepandaiannya sementara
si kakek misterius sudah tak terlihat lagi di sana. Sekarang
lebih memusatkan pada pengejaran.

Semakin lama semakin dekat jarak dengan si penculik.


Dengan mengatur napas yang benar dia tidak merasa lelah
malah terasa segar badannya. Sekitar dua tombak lagi
jaraknya, Santana meloncat ke atas bersalto di atas kepala si
penculik satu kali, lalu!

Jlekk!

Mantap! Dengan sempurna Santana berhasil mendarat


tepat di depan si penculik dan langsung berhadapan muka.
Ada rasa senang di hatinya karena pertama kali melakukan
gerakan seperti ini langsung bisa.

Yang menjadi heran kemudian ternyata si penculik


adalah seorang perempuan muda tapi lebih dewasa dari

54
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Kemala, kira-kira berumur dua puluh tigaan. Parasnya cukup


cantik dengan rambut panjang lurus tergerai tanpa ikat kepala.
Tubuhnya lebih sintal dan padat.

"Lepaskan Kemala!" suruh Santana.

"Siapa kau?" si penculik malah balik tanya.

"Kau yang siapa? Kenapa menculik Kemala?"

"Aku bibinya!"

"Bibinya?" Santana tak percaya, kalau bibinya kenapa


harus menculik Kemala?

Lalu si penculik yang mengaku bibinya ini menurunkan


Kemala dari pundaknya. Ternyata gadis ini masih sadar.

"Kemala, jelaskan padanya!" perintah si bibi.

Kemala menatap Santana, menarik napas lalu


menjelaskan. "Ya, Santana, dia bibiku namanya Sriwuni,"

55
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

"Tapi, kenapa seperti ini?" Santana masih bingung.

"Aku terpaksa melakukannya karena takut dikejar


Gumara," jawab Sriwuni.

"Gumara sudah kalah," jelas Santana. "Lalu mau dibawa


kemana Kemala?"

"Aku mau membawa Kemala kepada guruku, Nyi


Gandalaras. Dia akan diangkat jadi muridnya."

"Oh, begitu."

Kemala mendekat ke Santana, menatap dalam-dalam


pemuda tampan itu sampai-sampai terpesona dengan
kecantikannya.

"Santana, sampaikan kepada ayah bahwa aku ikut


bibiku." Suaranya yang lembut terasa sejuk di hati.

56
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

"Baiklah, Kemala." kata Santana pelan. Yang disesalkan


nantinya dia tidak bersama lagi dengan gadis pujaan hatinya
ini.

"Suatu saat kita akan bertemu lagi." ujar Kemala

Santana balas menatap tajam tepat ke dua mata si gadis


seakan menjelaskan bahwa dia akan merindukannya.

"Ayo berangkat!" ajak Sriwuni.

Setelah berpegangan tangan sejenak, Kemala


melangkah mengikuti bibinya. Perpisahan yang berat, tapi
mengisyaratkan bahwa si gadis juga memiliki perasaan yang
sama. Senang karena hal perasaan tapi sedih karena harus
berpisah.

Semoga benar, akan berjumpa lagi.

Santana terus memandang kepergian dua wanita cantik


itu sampai sosoknya tak terlihat lagi bagai ditelan bumi.
Namun begitu sadar, pemuda ini bingung.

57
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

"Hah, di mana aku?"

Remaja yang baru kasmaran ini mengitarkan matanya.


Yang dilihat di sekelilingnya adalah perkebunan yang luas,
sebagian hasilnya tampak sudah dipanen. Dia bingung karena
tidak tahu tempat yang dipijaknya. Sebelumnya dia mengejar
Sriwuni yang menculik Kemala sambil belajar ilmu
meringankan tubuh langsung dari kakek misterius dari jarak
jauh. Dia tidak memperhatikan tempat-tempat yang ia lewati,
makanya sekarang dia seperti orang kesasar. Santana
garuk-garuk kepala yang tak gatal.

"Kalau begitu, aku cari jalan saja." ujarnya sambil


melangkahkan kakinya menelusuri kebun-kebun.

Tak berapa lama ia berhasil menemukan jalan yang


cukup lebar. Santana menarik napas lega.

"Aku rasa ke arah kiri." gumamnya memperkirakan jalan


pulang.

58
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Tapi sebelum kakinya menginjak tanah jalan yang


berbatu itu, ia mendengar suara derap kaki kuda. Dari
suaranya seperti ada banyak. Santana urungkan langkah,
sembunyi di balik rimbunan tanaman jagung.

Ternyata benar, ada sebelas kuda yang ditunggangi oleh


orang-orang berseragam hitam-hitam dan wajahnya dari
hidung ke bawah ditutupi kain hitam.

"Laskar siluman Dewawarman!" desis Santana terkejut.


Hatinya jadi penasaran, lupa kalau dia punya tugas memberi
tahu Garda Salira tentang kepergian Kemala bersama Sriwuni,
bibinya.

Selain itu juga dia ingin menjajal lagi ilmu meringankan


tubuh yang baru didapatnya. Segera saja Santana mengejar
rombongan laskar siluman itu. Ternyata mereka sudah cukup
jauh, namun semangat Santana menggebu-gebu. Dia
kerahkan tenaga, memperagakan ilmu meringankan tubuh
dengan lebih dari yang sebelumnya sambil matanya terus
memperhatikan ke depan, melihat kepulan debu yang
menandakan keberadaan pasukan laskar siluman.

59
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Samakin sering dilatih semakin sempurna ilmu yang


dimilikinya. Begitulah yang dipikirkannya. Sambil menyelam
minum air. Ya, sambil mengejar pasukan siluman yang bikin
geger di kerajaan Indraprahasta, sambil menyempurnakan
ilmunya.

Usaha Santana memang berhasil. Laskar Siluman


Dewawarman berhasil ia kejar ketika pasukan berkuda itu
menaiki sebuah bukit.

Tapi apa yang dilihat Santana kemudian di atas bukit


yang tanahnya datar? Sebuah padepokan kecil tampak porak
poranda, mayat-mayat murid padepokan yang semuanya
laki-laki bergelimpangan penuh darah.

Di salah satu sudut tempat yang sudah rata dengan


tanah itu terlihat pertarungan yang tidak seimbang, seorang
kakek renta melawan belasan anggota Laskar Siluman.
Tubuhnya penuh luka bermandi darah. Santana hanya
mengelus dada melihat kejadian mengerikan itu. Ia tak bisa
berbuat apa-apa mengingat kemampuannya yang masih

60
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

cetek, apalagi melawan belasan orang sama saja mengantar


nyawa. Si kakek yang dipastikan ketua dan juga guru besar di
padepokan itu saja sudah tak berdaya.

Beberapa sabetan senjata tajam bersarang di tubuhnya


hingga akhirnya si kakek ketua perguruan pun ambruk.
Dengan sikap dingin tanpa belas kasihan, pasukan laskar
siluman itu bergerak meninggalkan padepokan yang tinggal
nama.

Santana menghampiri si kakek, ingin melihat keadaan.


Orang tua yang ubannya kini warna merah karena darah itu
terlentang di tanah, napasnya masih tersengal-sengal.

"Aki, apa yang bisa saya bantu?" tanya Santana sambil


jongkok di samping si kakek.

"Terima kasih anak muda," suara si kakek serak


tersendat-sendat. "Maafkan jika aku merepotkanmu..."

"Tidak apa-apa, ki, katakanlah!"

61
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

"Kau hanya harus mengantarkan ini kepada muridku," si


kakek mengeluarkan sebuah gulungan kulit binatang dari balik
ikat pinggangnya, lalu diserahkan ke Santana.

"Siapa dia, ki?" tanya Santana sambil memegang


gulungan yang diikat tali kain itu.

"Namanya Ardaya, dia adalah senopati muda di kerajaan


Indraprahasta, katakan bahwa kau diutus oleh Ki Ranggaguna
dari padepokan Sugalih." setelah berkata demikian si kakek
terkulai menghembuskan napas terakhirnya.

Santana bangkit, menyapukan pandangan.


Pemandangan mengerikan di sekelilingnya. Segera saja dia
tinggalakan tempat itu.

***

62
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Apakah ini kebetulan atau memang sudah diatur Sang


Maha Kuasa, ketika Santana menemukan sebuah jalan besar
ada sebuah kereta kuda kecil. Seorang lelaki setengah baya
sendirian di atas kereta mengendali kuda.

"Maaf, mamang!" Santana menghadang laju kereta kuda


yang berjalan sedang.

"Ada apa, anak muda?"

"Mamang hendak kemana?"

"Kota raja Indraphasta,"

"Kebetulan saya juga hendak ke sana, bolehkah saya


numpang?"

63
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

"Kebetulan juga kereta ini kosong karena hendak


mengambil barang ke kota raja, silahkan, nak!"

"Terima kasih, mamang!"

Santana pun dapat tumpangan, kereta kuda kembali


melaju tidak kencang.

"Siapa namamu, nak?"

"Santana,"

"Aku Suwirya, ada keperluan apa kau ke kota raja?"

"Saya membawa surat dari aki untuk saudara saya yang


tinggal di sana,"

"Oh, begitu,"

"Kota raja Indraprahasta itu letaknya di mana, mamang?"

"Kau belum pernah kesana?"

64
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Santana menggeleng.

"Di kaki gunung Indrakilla sebelah timur, saudaramu itu


siapa?"

"Dia jadi senopati muda di sana,"

"Ho ho ho, hebat sekali saudaramu, apa kau juga ingin


menjadi prajurit Indraprahasta?"

"Saya, saya tidak tertarik, mamang. Saya tidak punya


kepandaian apa-apa,"

Tentu saja yang dibicarakan Santana tentang kakek dan


saudaranya di kota raja adalah bohong belaka, ini hanya agar
aman saja. Dia tahu dusta itu perbuatan jelek, tapi untuk hal
ini tidak apalah, toh tidak merugikan juga.

"Prajurit Indraprahasta itu terkenal hebat," ujar Suwirya


bertutur tanpa diminta. "Dulu, prajurit Indraprahasta adalah
pasukan khusus, pasukan belamati maharaja Tarumanagara,"

65
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

"Tarumanagara?" sela Santana.

"Ya, dulu Galuh dan Sunda itu satu yaitu


Tarumanagara..."

Santana mulai menyimak penuturan Suwirya karena hal


ini baru mendengarnya.

"Awal mula prajurit Indraprahasta diangkat menjadi


pasukan belamati Tarumanagara adalah ketika berhasil
menumpas pemberontakan Cakrawarman,"

"Siapa Cakrawarman?"

"Panglima perang Tarumanagara, adiknya sang


maharaja Purnawarman,"

"Kenapa dia memberontak?"

"Karena dia merasa berhak menjadi raja atas


jasa-jasanya melebarkan kekuasaan wilayah Tarumanagara.

66
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Sedangkan maharaja Purnawarman mewariskan tahta kepada


putranya, Whisnuwarman."

"Oh, begitu. Terus kenapa sekarang menjadi Sunda dan


Galuh, mamang?"

"Aku juga tidak tahu, nak. Tarumanagara pecah saat


Prabu Tarusbawa mewarisi tahta kemudian memindahkan
ibukota ke Sunda Sembawa. Tak lama kemudian Prabu
Wretikandayun menyatakan diri bahwa Galuh merdeka
dengan batas wilayahnya, sungai Citarum."

"Lalu Indraprahasta?"

"Indraprahasta jadi bawahan Galuh sekarang,"

"Bukankah prajuritnya hebat, kenapa tidak Indraprahasta


yang menjadi pusat kekuasaan?"

"Itulah, semua orang juga berpikiran begitu."

67
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Percakapan berhenti sejenak, kereta kuda terus melaju,


sementara sang surya mulai menjorok ke tempat
terbenamnya. Terdengar Suwirya kembali bertutur.

"Kabarnya, Raden Purbasora menikahi putri sulung raja


Indraprahasta karena berambisi ingin mewarisi tahta.
Kemungkinan besar dia akan manfaatkan Indraprahasta untuk
memberontak terhadap Galuh,"

"Saya tidak mengerti, mamang."

Suwirya melirik sejenak ke arah Santana kemudian


melanjutkan. "Raden Purbasora adalah anaknya resi
Sempakwaja, resi yang bertempat di Galunggung itu adalah
putra tertua Prabu Wretikandayun. Raden Purbasora merasa
berhak atas tahta Galuh yang sekarang diemban oleh Prabu
Sena, karena Prabu Sena adalah anak hasil hubungan gelap
mamangnya raden Purbasora dengan ibunya. Dengan kata
lain, Prabu Sena adalah saudara satu ibu lain ayah dengan
raden Purbasora..."

"Rumit sekali, mamang," sela Santana lagi

68
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Suwirya tertawa mengekeh, "Kau memang belum


saatnya untuk mengerti. Tapi itu hanya baru kabar burung,
belum tentu kebenarannya. Malah kabar yang paling santer
sekarang adalah rebutan pengaruh raden Purbasora dengan
raden Wiratara,"

"Siapa Raden Wiratara?"

"Adik iparnya, dia juga berambisi jadi raja."

Santana hanya menghela napas. "Ternyata kehidupan


para bangsawan tidak seperti yang saya pikirkan. Hidup serba
enak. Tapi suka rebutan kekuasaan..."

"Hahahaha..!"

Senja pun tak terasa datang menjemput. Suwirya


mengajak Santana beristirahat di sebuah kedai yang ada
tempat penginapannya.

69
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Sesuai dengan petunjuk dari mamang Suwirya, Santana


akhirnya berhasil ke pusat kota raja. Sesampainya di sebuah
gapura terbuat dari susunan batu yang rapih yang dijaga oleh
dua orang prajurit, Santana berhenti menatap kedua penjaga
itu.

"Mungkin ini pintu gerbang istana," gumam Santana.

Dua penjaga itu tampak heran dengan kedatangan anak


kecil berbadan bongsor itu.

"Anak kecil, mau apa kau?" salah seorang dari penjaga


menegur.

Santana mendekat seraya membungkuk hormat, dia asal


saja membungkuk karena tidak tahu bagaimana caranya
menghormat kepada prajurit.

"Saya hendak bertemu dengan senopati muda Ardaya,"


jawab Santana jelas.

"Siapa dan dari mana kamu?"

70
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

"Katakan saja, saya membawa pesan dari Ki


Ranggaguna,"

"Tunggu di sini," perintahnya kepada Santana lalu dia


menyuruh temannya untuk melapor.

Kenapa disuruh menunggu? Padahal Santana ingin


melihat-lihat seperti apa istana kerajaan. Mungkin untuk
mencegah sesuatu yang tidak diinginkan. Apa terhadap anak
kecil saja harus curiga? Padahal dia hanya mengantarkan
pesan.

Kira-kira sepeminuman teh lamanya, barulah teman si


penjaga yang satunya telah kembali kali ini bersama seorang
pemuda yang tampan dan gagah mengenakan pakaian
keperwiraannya. Wajahnya memancarkan kewibawaan, tegas.
Inikah senopati muda Ardaya?

"Anak kecil, siapa kau?" tanya si pemuda gagah dengan


sorot mata tajam.

71
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Gemetar hati Santana saat bertatapan dengan sang


senopati muda itu, namun dia coba beranikan diri.

"Saya Santana, apakah mamang yang bernama


Ardaya?"

"Ya, katanya kau membawa pesan dari guruku, apakah


kau murid padepokan Sugalih?"

Kemudian Santana menceritakan kejadian yang


menimpa padepokan tempat Ardaya menimba ilmu dan juga
gurunya, lalu memberikan sebuah gulungan kulit yang
dititipkan Ki Ranggaguna untuk Ardaya.

Mendengar penuturan Santana, senopati muda ini


tampak kaget dan sedih seakan tak percaya dengan kejadian
itu. Namun setelah membaca pesan dari gurunya dia percaya.
Tapi tetap saja hatinya terpukul berat. Padepokan tempat ia
belajar hingga berhasil menjadi senopati muda di
Indraprahasta, juga sang guru yang sudah seperti orang tua
sendiri kini telah tiada.

72
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Benar-benar tak percaya dan tak menyangka. Kabar


tentang pasukan siluman itu ternyata benar. Melihat kepolosan
Santana dari tatapan matanya dia percaya yang dituturkannya
bukanlah bualan.

"Terima kasih, Santana. Atas kesudianmu mengantarkan


pesan ini," kini suara Ardaya terdengar gemetar sambil
meneteskan air mata.

"Ya, mamang. Saya turut berduka dengan kejadian ini.


Semoga mamang bisa tabah,"

Sebagai ungkapan terima kasih, Ardaya mengajak


Santana makan di kedai yang cukup mewah dan memberikan
bekal untuk perjalanan pulang. Anak bongsor ini cukup
senang juga dengan semua itu walaupun tidak diajak masuk
ke wilayah istana. Setelah selesai tugasnya, Santana kembali
ke tempat mamang Suwirya yang katanya hendak membeli
barang-barang untuk dibawa ke desa.

Kereta kuda yang semula kosong kini sudah terisi


dengan barang-barang, tapi Santana masih bisa numpang.

73
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

***

Dari mamang Suwirya, Santana mendapat pengetahuan


tentang jalan dan wilayah sehingga tanpa menumpang kereta
kudanya lagi dia bisa berjalan sendiri menelusuri setiap
tempat yang ia singgahi. Remaja tanggung ini hendak kembali
ke rumah Kemala untuk memberitahukan perihal kepergian si
gadis bersama bibinya kepada ayahnya.

Mengingat Kemala, Santana jadi senyum-senyum


sendiri. Inikah yang namanya cinta pada pandangan pertama?
Ya, cinta. Remaja bongsor ini sudah berag alias kasmaran.
Hanya gadis yang dicintainya berumur lebih tua darinya,
sekitar lima tahun. Tapi itulah cinta, buta. Tak memandang
umur atau lainnya. Kalau sudah cinta, ya cinta saja.

Sampai-sampai tak terasa hari sudah senja, semburat


jingga memancar di sebelah barat. Perlahan gelap
menyelimuti dari arah timur. Khayalan Santana tentang
Kemala harus terhenti ketika tak sengaja melihat sesuatu di
kejauhan sana.

74
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

“Sepasukan orang berbaris rapi,” gumam Santana.


“Pakaiannya, barisannya, tidak salah mereka laskar siluman
Dewawarman sedang menunggu kedatangan seseorang.”
Santana ingat ketika menyelamatkan Kemala dan ayahnya,
dia belum sempat melihat pemimpin laskar itu karena
cepat-cepat kabur. Sekarang dia ingin melihatnya, maka
dengan mengendap-endap dia bersembunyi di jarak yang
agak dekat.

Beberapa saat kemudian angin mendadak bertiup


kencang dan berputar-putar namun barisan laskar siluman itu
tak bergeming. Rupanya ini adalah tanda kehadiran
seseorang. Seperti terbang, satu sosok melayang turun dari
langit dan mendarat tepat di hadapan barisan yang sedang
menunggu itu.

Dari persembunyiannya Santana terkejut melihat siapa


yang datang. Walaupun hari sudah gelap tapi dia masih bisa
melihat jelas sosok itu.

“Dia..?” suara Santana seperti tersedak.

75
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

“Bagaimana?” sosok di hadapan barisan laskar bertanya.

Lalu terdengar jawaban yang cukup lantang tapi tidak


bisa ditebak yang mana yang bicara, “Padepokan Sugalih
menolak bekerja sama, terpaksa kami bantai. Tapi, kami tak
menemukan kitab pusakanya!”

“Ranggaguna?”

“Kami bunuh!”

“Muridnya yang bernama Ardaya menjadi senopati muda


di Indraprahasta, pastikan dia jangan sampai tahu!”

“Baik!”

Sosok yang diduga pemimpin Laskar Siluman


Dewawarman ini kembali melesat ke atas dan lenyap disertai
tiupuan angin kencang seperti kedatangannya semula.

76
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Tapi sang murid sudah mengetahui hal itu, ternyata


sehebat-hebatnya pasukan siluman masih ada celanya, begitu
kata dalam pikiran Santana yang segera meninggalkan
persembunyiannya. Namun ada yang lebih mengganjal dalam
hatinya. Ternyata pemimpin laskar siluman itu….!

***

77
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Perasaan tak enak menyelimuti hati, Santana bergegas


menuju rumah Garda Salira, ayah Kemala. Ternyata benar, di
halaman rumah yang luas itu terlihat Garda Salira tengah
disiksa sedemikian rupa oleh Gumara yang tidak sendirian.
Dia bersama lelaki paruh baya yang perawakannya kekar dan
wajahnya beringas kasar.

Segera saja Santana meluruk menyambar tubuh Garda


Salira yang sudah berlumuran darah lalu membawanya ke
teras rumah.

“Mamang, bertahanlah!” ujar Santana lalu dia


menghambur menghadang langkah dua orang yang
mengejarnya.

“Bapak, dialah yang melukaiku!” tunjuk Gumara ke arah


Santana. Ternyata dia bersama ayahnya.

78
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

“Hmh, budak bau cikur! Biar bapak yang


membereskannya…” teriak ayahnya Gumara.

“Biar aku bantu, aku sangat dendam padanya, bapak!”


Gumara menimpali seraya menerjang menghantamkan
tinjunya menyasar ke bagian perut. Begitu pula sang ayah
mengirimkan sepakan kakinya yang kekar.

Menghadapi dua serangam sekaligus, Santana tetap


tenang. Yang dia lakukan adalah pada saat sepakan kaki si
ayah Gumara hampir mengenainya dia meloncat miring
dengan ilmu meringankan tubuh tepat di atas sodokan tangan
Gumara yang mengenai sasaran kosong, lalu dengan cepat
tinju kanannya menghantam wajah Gumara.

Dukk!!!

Gumara tak sempat menghindar karena gerakan lawan


begitu cepat. Pukulan Santana mengenai hidungnya,
tubuhnya sendiri sampai mental lalu jatuh bergulingan
menghantam gundukan tanah yang keras.

79
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Namun Santana lengah, saat dua kakinya mendarat satu


tendangan menghantam punggungnya.

“Auhk!!!”

Terasa seperti dihantam batu, Santana terpaksa


berguling untuk menyeimbangkan tubuh lalu cepat berdiri lagi.
Tapi pada saat itulah tinju kekar milik ayah Gumara
menghantam dadanya.

Duggh!!!

Santana terjengkang, sebelum jatuh satu tendangan


bersarang lagi. Selanjutnya pemuda ini jadi bulan-bulanan
lawannya, sampai Santana tergeletak tak berdaya baru lelaki
paruh baya ini menghentikan serangannya yang ganas. Itu
juga karena melihat anaknya yang masih tergeletak di tanah.

Si ayah menghampiri anaknya, dia heran sekali pukul


saja pemuda itu sudah bikin anaknya tak berdaya. Hebat juga!
Kemudian dia membopong Gumara, meletakannya di pundak
lalu pergi.

80
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Sedangkan Santana yang juga tergeletak tak berdaya tak


berkutik walau masih bernapas terengah-engah. Badannya
serasa dihimpit gunung yang penuh batu-batu tajam. Antara
sadar dan tidak, satu sosok tiba-tiba datang memanggul
tubuhnya lalu berkelebat pergi.

Di sisi lain terdengar suara tangisan menyayat hati.

“Raka Garda, tidak! Apa yang terjadi?”

Seorang gadis sedang merangkul tubuh Garda Salira


yang ternyata sudah tidak bernapas lagi. Dia adalah Sriwuni.
Gadis ini berteriak memanggil pembantunya Garda Salira.

“Ada apa ini? Kenapa rakaku mati dalam keadaan


begini…? Tanya Sriwuni sambil menangis tersedu-sedu.

“Dia disiksa Gumara dan ayahnya, Raksana.” jawab


seorang pembantu yang langsung datang saat dipanggil tadi.

“Kenapa kamu diam saja?”

81
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

“Saya tidak sanggup melawan mereka, bahkan Den


Santana juga terluka…”

“Santana, di mana dia?”

“Ada orang yang membawanya lari.”

Sriwuni menghela napas. Dia datang kembali ke rumah


Kemala karena hendak mengambil beberapa pakaian Kemala
untuk di bawa, namun sesampainya di sini dia sudah
mendapati kakaknya tergeletak berlumuran darah bahkan
sudah tak bernyawa.

Gumara, Raksana. Anak dan ayah itu pasti soal Kemala,


tebak Sriwuni dalam hati. Dia bertekad akan membalas
dendam. Sebelum kembali ke tempat gurunya dia
menguburkan jasad kakaknya dibantu oleh dua orang
kepercayaan Garda Salira, dan rumahnya untuk sementara
dititipkan kepada pembantunya itu.

82
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Sedangkan untuk Santana dia tak terlalu memikirkan


walau ada rasa cemas tapi dia yakin orang yang membawa
lari Santana adalah orang baik yang akan menolongnya.

***

Santana terbangun dari tidurnya, dia mendapati dirinya


terbaring di atas bale bambu. Tubuhnya terasa pegal, ada
olesan ramuan obat di beberapa bagian tubuhnya. Remaja ini
mengingat-ingat kejadian yang menimpanya.

Beberapa saat termenung akhirnya dia sadar, dia terluka


akibat bertarung dengan Raksana ayahnya Gumara lalu
antara sadar dan tidak dia merasa ada orang yang
membopongnya. Dan sekarang dia terbaring di atas sebuah
bale bambu. Siapa yang menolongnya?

“Kau sudah bangun, nak?”

Satu suara yang dikenalnya terdengar di dekatnya.


Santana bangunkan badannya walau masih terasa ngilu. Dia

83
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

duduk bersila. Tidak salah lagi yang bicara tadi adalah kakek
misterius yang sudah seperti gurunya.

“Bagaimana keadaan mamang Garda, ki?” tanya


Santana ingat ayahnya Kemala.

“Dia sudah mati,”

“Apa?” Santana terkejut.

“Tenanglah, adiknya sudah mengurusi jenazahnya,”

Santana berpikir sejenak, “Bibi Sriwuni?”

“Ya, dia,”

“Aku harus ke sana, ki!”

“Lukamu belum pulih, tunggu saja sampai kau


benar-benar sehat. Sambil menunggu lukamu sembuh, aku
akan memberikan pelajaran tambahan. Pelajaran ke tingkat
yang lebih tinggi.”

84
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Santana tertegun. Benar juga dia masih merasakan sakit


di beberapa bagian, terasa lemah tenaganya. Kabar tentang
ayahnya Kemala sudah jelas. Ada baiknya memang dia
memulihkan kekuatan dan menambah ilmu dari kakek
misterius yang sampai saat ini belum tahu namanya, selain itu
juga ada satu hal yang ingin diketahuinya. Kali ini mungkin dia
akan lebih lama bersama kakek itu. Inilah saatnya dia akan
ajukan banyak pertanyaan.

“Sekarang makan dulu, habis itu aku akan ajarkan cara


memulihkan tenaga.” suruh si kakek.

Santana menurut saja, dia segera makan yang sudah di


sediakan gurunya di dalam rumah yang terbuat dari anyaman
bambu itu.

Hari ini dia diajarkan cara memulihkan tenaga,


tambahannya adalah cara meramu obat untuk luka baik
dengan cara dibalurkan ke bagian yang luka atau dengan
membuat godokan jamu untuk di minum. Tentu saja si kakek
memberitahuan beberapa tanaman obat untuk ramuan itu.

85
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Dua hari Santana melakukan pemulihan badan dan


tenaganya hingga ia benar-benar sehat lagi. Hari berikutnya
mulailah sang kakek misterius mengajarinya jurus baru. Jurus
yang tingkatnya lebih tinggi dari jurus sebelumnya.

“Sebelumnya aku sudah mengajarimu jurus ini sampai


tingkat ke empat, dan sekarang kau akan melatih jurus tingkat
ke lima sampai ke tujuh,” tutur si kakek.

“Jurus apa ini namanya, ki?”

“Biar orang lain yang melihat jurusmu yang


menyebutkannya,” begitu jawaban si kakek. Aneh dia tak mau
memberitahu nama jurus yang diajarkannya.

“Kenapa begitu?”

“Asal kau tahu, Santana. Jurus ini sudah dikatakan hilang


dari dunia persilatan. Jurus yang langka. Hanya orang-orang
tertentu yang mengenalnya, dan orang-orang yang pernah
memiliki jurus ini sudah tidak ada lagi di dunia kecuali aku,”

86
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

“Kenapa aku bisa kalah oleh orang bernama Raksana


itu?”

“Pertama tingkatnya masih rendah, kedua kau belum


sempurna menguasainya. Makanya hari ini, selain menambah
tingkatan jurus ini kau juga harus menyempurnakan tingkat
sebelumnya.”

Maka dimulailah si kakek mengajari jurus tingkat lima.


Pertama dia memperagakan gerakannya lalu diulang oleh
Santana. Sampai tujuh hari lamanya pemuda tanggung ini
kerja keras penuh semangat mempelajari jurus yang masih di
rahasiakan namanya hingga sempurna menguasainya.

Yang dirasakan setelah menguasai jurus ini adalah


bertambahnya tenaga, lebih ringan tubuhnya, lebih cepat
gerakannya. Selain itu juga Santana diajarkan cara untuk
membangkitkan, mengeluarkan dan menggunakan tenaga
dalam. Beruntung bagi dirinya karena di dalam tubuhnya
mempunyai bakat dan kemampuan untuk melakukannya,

87
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

ditambah otak anak bongsor ini yang cerdas jadi lebih mudah
memahami dan menguasai.

Di suatu sore setelah berlatih jurus tingkat ke tujuh.


Sesuatu yang mengganjal di hati Santana mencoba
diutarakan kepada gurunya.

“Ki, aku ingin bertanya.”

“Tanyalah,”

“Maaf sebelumnya, apakah kakek adalah pemimpin


laskar siluman Dewawarman?” saat bertanya itu wajah
Santana menunduk.

Tiba-tiba si kakek malah tertawa terbahak-bahak


memaksa Santana melihat ke arah si kakek yang tertawa
sambil merentangkan tangannya. Saking terbahaknya sampai
terlihat barisan giginya yang tidak teratur dan warnanya yang
sudah kekuning-kuningan.

88
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

“Itu tugas kamu untuk menyelidikinya!” seru si kakek


setelah hentikan tawanya.

“Maksud aki?” Santana bingung tak mengerti.

Namun si kakek misterius ini sudah berkelebat lenyap


dari hadapan Santana.

“Yah, baru satu pertanyaan sudah hilang. Padahal masih


banyak tanya dalam benakku ini…” gerutu Santana agak
kecewa sambil menghempaskan napasnya.

***

89
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Rumah kayu kecil milik si kakek misterius ini berada di


puncak sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi. Santana tidak
tahu bukit apa namanya dan berada di mana tempat ini? Tapi
dia tak peduli karena sebentar lagi dia akan meninggalkan
tempat itu. Dia mengenakan setelan pangsi warna biru
pemberian si kakek. Pakaian ini terasa nyaman dan pas di
badan tidak kelonggaran ataupun kekecilan. Kepalanya diikat
dengan kain bercorak batik yang warna dasarnya putih.

Di pagi yang cerah dan segar udaranya ini, Santana


sudah bersiap walaupun tanpa membawa bekal. Karena dia
yakin dalam perjalanan juga bisa mencari makan seperti yang
pernah dilakukannya dulu sewaktu kabur dari bukit
Cibaringkeng. Dia juga tidak membawa pakaian pengganti, dia
tak memikirkannya.

Selama sepeminuman teh Santana sudah agak jauh dari


bukit itu. Dia memasuki sebuah jalan lebar yang di sebelah

90
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

kanan membentang sawah dan ladang yang sudah habis


dipanen. Dan di kirinya berupa hutan yang pepohonannya
kecil-kecil dan jarang.

Dia ingat tugas dari gurunya adalah menyelidiki pimpinan


laskar siluman Dewawarman. Ini yang selalu dipikirkannya.
Beberapa waktu lalu dia melihat rombongan laskar siluman itu
menemui pimpinannya yang ternyata kakek misterius atau
gurunya itu.

Tapi, apa mungkin dia hanya mirip saja? Santana


menyesal melihatnya hanya sekilas saja. Atau jangan-jangan
mereka kembar. Kalau dia membayangkan kembali pimpinan
laskar siluman itu, mencari perbedaan dengan gurunya. Tapi
tidak bisa karena waktu itu dia hanya melihat sekilas.

Biarlah, nanti juga akan tahu yang sebenarnya.

Selain itu dia juga memikirkan Garda Salira, ayahnya


Kemala. Jika dia sudah tewas, bagaimana dengan Kemala,
apakah dia sudah mengetahuinya? Tentunya sudah karena

91
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

bibi Sriwuni pasti memberitahukannya. Diam-diam dia ingin


segerea bertemu gadis yang telah mengisi hatinya itu.

Lalu Gumara dan ayahnya. Saat teringat mereka,


dadanya bergemuruh kencang. Apakah mereka masih
mengejar-ngejar Kemala? Persoalan ini juga harus
dituntaskan karena ini juga menyangkut dendam kematian
Garda Salira.

Dendam? Sejak kapan dia memendam dendam?


Pantaskah dia mendendam? Oh, mungkin inilah liku-liku
kehidupan dunia. Semakin menantang semakin menarik.
Apalagi remaja seusia dia memang butuh pengalaman yang
menantang. Bagaimana kalau suatu saat ia berhadapan
dengan ayahnya? Kemanakah sang ayah? Apakah ia akan
bertemu lagi? Apakah sudah tertangkap pihak kerajaan seperti
anak buahnya beberapa waktu yang lalu?

Setumpuk pertanyaan itu terbuyarkan oleh suara


bentakan beradunya dua tangan. Sebuah pertarungan.
Santana segera mencari sumber asal suara. Ternyata berada
agak jauh ke tengah hutan. Santana menyelinap naik ke atas

92
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

dahan pohon untuk menyaksikan pertarungan itu dari jarak


sepuluh tombak.

Dua lelaki, yang satu tinggi besar namun agak tua.


Rambutnya yang dua warna digelung ke atas, mukanya lebar
kelimis. Dia mengenakan setelan pangsi warna abu-abu.
Sedangkan yang satunya berbadan tegap lebih pendek sedikit
dari lawannya. Wajahnya lonjong dihiasi kumis dan janggut
hitam tipis dan lebih muda. Orang ini berpakaian mewah
layaknya pejabat istana kerajaan.

"Kita bisa bicara baik-baik, rai Wiratara!" ujar si tinggi


besar di sela-sela pertarungan. Dimana dia hanya berusaha
menghindari serangan saja.

"Tidak ada waktu untuk melayanimu bicara, raka Sora!"


balas Wiratara yang tampak bernapsu ingin melumpuhkan
lawannya namun belum ada hasil sesudah melewati sepuluh
jurus lebih.

"Yang berbaju bagus Wiratara, yang tinggi Sora," gumam


Santana di persembunyiannya. Dia memerhatikan gerak jurus

93
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

mereka yang sudah tingkat tinggi. Cepat bagai bayangan tapi


bisa diikuti berkat ajaran sang kakek misterius.

Gerakan Wiratara tampak kasar namun ganas,


sambaran anginnya saja mengeluarkan suara gemuruh.
Sementara gerakan Sora begitu lembut namun kesiur
anginnya tak kalah ganas dari lawan.

Santana lebih tertarik dengan gerakan lembut Sora.


Dalam otaknya dia menghafal gerakan serta memperhatikan
tarikan napas karena itu yang membuat gerakan ini berisi.
Tapi tak luput juga memperhatikan gerakan Wiratara ketika
ada suatu gerakan yang indah walaupun kaku. Tak peduli apa
yang dua orang itu permasalahkan, Santana hanya menikmati
keindahan pertarungan silat. Yang satu menyerang bernapsu
ingin mengalahkan, dan yang satunya hanya bertahan saja.

"Rai, sampai tujuh hari tujuh malam pun kau tak mampu
mengalahkanku!"

"Jangan sombong!"

94
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

"Sebaiknya kita berunding membuat kesepakatan!"

"Tidak ada perundingan!"

"Haduuh... jangan banyak bicara, kalau bertarung,


bertarung saja!" umpat Santana dalam hati. "Jadi kurang enak
dilihatnya."

Begitulah, berpuluh jurus sudah Wiratara keluarkan baik


yang bertenaga kasar ataupun tenaga dalam. Nyatanya dia
belum mampu melukai kakaknya, begitu karena tadi dia
memanggilnya raka.

"Tapi wajahnya tidak mirip." ujar Santana. Si Wiratara itu


pasti seorang pejabat istana. Si Sora, kakaknya mungkin juga
sama hanya dia sedang berpakaian rakyat biasa. Begitu yang
ada dalam pikiran pemuda tampan ini.

Suatu saat Wiratara tampak mundur empat tombak.


Kedua kakinya merenggang lebar menginjak kuat ke tanah.
Dua tangan mengepal digerak-gerakkan membentuk jurus

95
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

sambil menahan napas. Dari gerakan ini timbul suara angin


seperti ratusan tawon.

"Aji Gelang Sangkala!" ujar Sora seraya dia kuatkan


kedua kaki bagai menancap ke tanah lalu alirkan tenaga ke
sekitar dada dan perut.

"Hiaaa...!!!"

Wusss!!!

Blarrr!!!

Santana terbengong melihat apa yang terjadi. Dia


melihat sepasang sinar merah gelap melesat dari kepalan
tangan Wiratara menghantam tubuh Sora. Tapi yang terjadi
justru Wiratara yang terpental jatuh bergulingan hingga
muntah darah. Sementara Sora masih kokoh berdiri di
tempatnya.

"Hebat!" puji Santana tapi dalam hati.

96
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Wiratara duduk bersila memusatkan pikiran mengatur


napas dan aliran hawa murni untuk mengobati luka dalamnya.

"Sudahlah, rai!"

Tiba-tiba angin si sekitar tempat itu bertiup kencang


bagai badai. Santana ingat sesuatu. Ya, peristiwa angin
kencang ini menandakan kemunculan seseorang. Benar saja,
entah dari mana arahnya tahu-tahu seperti burung dari atas
langit turun satu sosok serba putih yang mengingatkan
Santana kepada seseorang. Ya, pertama kali melihatnya
adalah ketika serombongan laskar siluman Dewawarman
kedatangan pemimpinnya. Dan sekarang orang itu datang
lagi.

Ya, dialah pemimpin laskar siluman Dewawarman yang


sedang diselidikinya sesuai perintah gurunya. Pucuk di cinta
ulam pun tiba, inilah yang dicari-cari pemuda ini. Begitu
mudah atau cuma kebetulan saja? Kali ini Santana
benar-benar memperhatikan orang itu dengan seksama.

97
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

Melihat kedatangan seseorang yang dikenalnya,


Wiratara jadi tambah ciut nyali. Melawan Sora saja tak mampu
apalagi kini datang orang itu. Tanpa basa basi lagi dia bangkit
lalu pergi.

"Aku yakin setelah ini dia akan mau diajak berunding."


kata orang yang baru datang.

"Ya, aku juga yakin begitu, bapak."

Oh, bapaknya. Santana angguk-angguk. Dia sudah


menarik kesimpulan dengan memperhatikan sosok serba putih
itu. Pakaiannya sama dengan gurunya, pakaian resi.
Wajahnya mirip tapi lebih banyak keriputnya orang ini dari
pada gurunya jelas lebih tua. Juga rambutnya yang sebagian
digelung keatas sebagian lagi terurai ke pundak sudah berupa
uban semua. Sedangkan gurunya masih ada sedikit rambut
hitamnya dan digelung semua ke atas.

Apakah dia saudara gurunya? Karena wajahnya mirip.


Lalu dia ingat ketika gurunya tertawa lebar hingga terlihat gigi
kuningnya sambil merentangkan tangan.

98
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

"Gigi orang ini belum kelihatan." ujar Santana. "Tapi jelas


dia beda, tapi... Apakah aki merubah penampilan? Oh tidak!
Aki lebih pendek dari dia. Sedangkan dia dan anaknya itu
sama tingginya."

Selain sebagai pemimpin laskar siluman Dewawarman,


siapakah orang itu?

“Sesuai rencana, kau akan segera naik tahta,” kata si


kakek serba putih.

Sora mengangguk sambil tersenyum.

“Tapi kau harus masih mengumpulkan orang-orang


persilatan untuk membantumu,” lanjut si kakek lagi.

“Aku sudah menundukan Raja Begal dari Cibaringkeng,


dia bersedia membantuku.”

Apa? Santana sangat terkejut mendengarnya, hampir


saja dia terjatuh dari pohon tempatnya sembunyi.

99
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

“Bapakku!” gumam Santana.

Siapa orang bernama Sora ini sebenarnya? Naik tahta?


Berarti dia akan jadi raja. Penasaran dengan apa yang dilihat
sekarang, hatinya semakin berhasrat untuk mengetahui
semuanya.

Tiba-tiba Santana ingat penuturan paman Suwirya, saat


perjalanan menuju kota raja.

“Wiratara, ya, mungkin dia yang dimaksud raden


Wiratara itu. Dan, Sora. Apakah dia raden Purbasora? Lalu
bapaknya, dia pasti resi… aduh aku lupa namanya. Yah,
mereka orang-orang kerajaan Indraprahasta. Lalu bapakku?”

Ah! Dua orang itu sudah lenyap. Tapi kenapa tidak ada
angin kencang lagi seperti yang dulu? Santana turun dari
pohon itu. Pikirannya diliputi kebingungan.

Kemana dia harus memulai? Kemala, oh Kemala. Atau


menelusuri jejak ayahnya. Sementara tugas dari guru

100
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

dianggap selesai tentang pemimpin laskar siluman


Dewawarman.

Di saat bingung seperti itu, tiba-tiba tengkuknya


merasakan kesiur angin lembut. Sigap dia menoleh namun tak
ada apa-apa. Lalu terasa lagi dibelakangnya, saat menoleh
juga tak ada apa-apa.

“Pasti ada orang!” pikirnya sambil celingak-celinguk


matanya menyapu ke setiap semak belukar dan pohon-pohon
yang dicurigai menyembunyikan sesuatu. Namun tetap sepi.

Tapi, berhembus lagi angin halus ditengkuknya lebih


keras.

Santana menoleh.

BERSAMBUNG ke Jilid 2
Segera!!!

101
JILID 1
PRAHARA DI INDRAPRAHASTA

102
JILID 1