Anda di halaman 1dari 26

CONTOH KASUS PAJAK DAN PENYELESAIANNYA

“SENGKETA PAJAK PT ASIAN AGRI GROUP”

Disusun oleh :
Indah Sundari
041702503125068

UNIVERSITAS SATYA NEGARA INDONESIA FAKULTAS

EKONOMI JAKARTA
KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis panjatkan kepada Allah SWT karena atas berkat dan
rahmat-Nya Penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Contoh Kasus Pajak
dan Penyelesaiannya. Sengketa Pajak PT Asian Agri Group”. Makalah ini dibuat untuk
memenuhi tugas mata kuliah perpajakan.

Penulis sangat berharap makalah ini dapat berguna untuk menambah wawasan
serta menambah pengetahuan kita tentang kasus perpajakan. Penulis juga menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan jauh
dari kata sempurna. Untuk itu Penulis berharap adanya saran dan kritikan yang
membangun demi perbaikan makalah ini untuk masa yang akan datang.

Demikianlah kata pengantar dari Penulis, semoga makalah ini dapat berguna
dan dapat dipahami bagi siapa pun yang membacanya. Penulis mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata di dalam makalah ini.

Sekian dan terimakasih.

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................i

DAFTAR ISI..........................................................................................ii

ABSTRAK............................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang..............................................................1


1.2 Rumusan Masalah........................................................2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pajak dan Sengketa Pajak........................3


2.2 Undang-undang Sengketa Pajak.................................7
2.3 Sanksi Pidana Dalam Hukum Pajak............................7

BAB III ANALISA KASUS

3.1 PT Asian Agri Group..................................................12


3.2 Awal Mula Kasus.......................................................12
3.3 Penyelesaian Kasus PT Asian Agri Group................16

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan.................................................................19

4.2 Saran..........................................................................19

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................20

FOOTNOTE.......................................................................................21

ii
ABSTRAK

Penggelapan pajak merupakan pelanggaran terhadap Undang-undang


dengan maksud melepaskan diri dari pajak/mengurangi dasar penetapan pajak
dengan cara menyembunyikan sebagian penghasilannya. Kemudian,
penghindaran pajak juga merupakan tindakan ilegal, dapat dibenarkan karena
tidak melanggar Undang-undang. Dalam hal ini sama sekali tidak ada suatu
pelanggaran hukum yang dilakukan. Kedua tindakan ini dapat mempengaruhi
tingkat penerimaan Pajak Pertambahan Nilai karena PPN merupakan pajak
yang dikenakan terhadap pertambahan nilai yang timbul akibat dipakainya
faktor-faktor produksi disetiap jalur perusahaan dalam menyiapkan,
menghasilkan, menyalurkan, dan memperdagangkan barang atau pemberian
pelayanan jasa kepada konsumen.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh
Penggelapan Pajak dan Penghindaran Pajak (Studi Kasus PT Asian Agri
Group). Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif dan verifikatif. Untuk mengetahui pengaruh Penggelapan Pajak dan
Penghindaran Pajak digunakan pengujian statistik. Hasil dari penelitian ini
menunjukkan bahwa Penggelapan Pajak dan Penghindaran Pajak mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap penerimaan Pajak Pertambahan Nilai yaitu
jika tingkat Penggelapan dan Penghindaran meningkat maka secara otomatis
penerimaan Pajak Pertambahan Nilai pun akan menurun.

Kata kunci : Penggelapan Pajak, Penghindaran Pajak dan Pajak Pertambahan


Niai.

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Pajak merupakan sumber penerimaan terbesar negara, disamping


penerimaan dari sumber migas dan non migas. Dengan posisi yang sedemikian
penting itu pajak merupakan penerimaan strategis yang harus dikelola dengan baik
oleh negara. Dalam struktur keuangan negara tugas dan fungsi penerimaan pajak
dijalankan oleh Direktorat Jenderal Pajak dibawah Departemen Keuangan Republik
Indonesia.

Dari tahun ke tahun telah banyak dilakukan berbagai kebijakan untuk


meningkatkan penerimaan pajak sebagai sumber penerimaan negara. Kebijakan
tersebut dapat dilakukan melalui penyempurnaan undang-undang, penerbitan
perundang-undangan yang baru dibidang perpajakana, pajak maupun menggali
sumber hukum pajak. Pada umumnya di negaraberkembang, penerimaan pajaknya
yang terbesar berasal dari pajak tidak langsung. Hal ini disebabkan negara
berkembang golongan berpenghasilan tinggi lebih rendah presentasenya.

Namun dalam hal ini masih saja banyak terjadi pengusaha yang
menghindarkan diri dari pajak atau dalam arti lainnya melakukan penyelewengan
pajak dimana penghindaran diri dari pajak ini bisa saja disebut dengan pelanggaran
undang-undang dan resikonya dapat merugikan negara selain itu juga masih
banyak terjadi kasus penggelapan pajak yang masih bisa lolos dari jerat hukum dan
mengambang kasusnya dikarenakan aparat penegak hukum kita tidak tegas dan
sungguh-sungguh dalam menegakkan keadilan malah berusaha menyiasati hukum
dengan degala cara tidak lain tujuannya adalah untuk melindungi tersangka mafia
pajak.

1
Dalam hal ini kami akan membahas mengenai salah satu kasus
penggelapan pajak yang dilakukan oleh PT Asian Group yang telah terungkap
namun belum jelas mengenai tuntutan hukum dan proses pengadilan tersangkanya.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apa yang dimaksud sengketa pajak?


2. Apa undang-undang sengketa pajak?
3. Bagimana sanksi pidana dalam hukum pajak?
4. Siapakah PT Asian Agri Group?
5. Bagaimana awal mula kasus penggelapan dana oleh PT Asian Agri Group?
6. Bagaimana penyelesaian kasus penggelapan pajak tersebut?

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN PAJAK DAN SENGKETA PAJAK


Pengertian pajak

Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-


undang (sehingga dapat dpaksakan) dengan tidak mendapat balas jasa secara
langsung. Pajak dipungut berdasarkan norma-norma hukum guna menutup
biaya produksi barang-barang dan jasa kolektif untuk mencapai kesejahteraan
umum.
Jadi pajak merupakan hak prerogratif pemerintah, iuran wajib yang
dipungut oleh pemerintah dari masyarakat (wajib pajak) untuk menutupi
pengeluaran rutin negara dan biaya yang dapat ditunjuk secara langsung
berdasarkan undang-undang.
Lima unsur pokok dalam definisi pajak adalah :

 Iuran/pungutan dari rajyat kepada negara


 Dipungut berdasarkan undang-undang
 Pajak dapat dipaksakan
 Tanpa jasa timbal atau kontraprestasi
 Digunakan untuk membiayai rumah tangga negara (pengeluaran umum
pemerintah)
Ciri-ciri pajak antara lain sebagai berikut :

 Pajak dipungut oleh negara, baik oleh pemerintah pusat maupun oleh
pemerintah pusat maupun oleh pemerintah daerah berdasrakan atas
undang-undang serta aturan pelaksanaannya.
 Pemungutan pajak mengisyaratkan adanya alih dana (sumber daya) dari
sektor swasta (wajib pajak membayar pajak) ke sektor negara
(pemungut pajak/administrator pajak)
 Pemungutan pajak diperuntukan bagi keperluan pembiayaan umum
pemeritah dalam rangka menjalankan fungsi pemerintahan, baik rutin
maupun pembangunan
3

 Tidak dapat ditunjukan adanya imbalan (kontraprestasi) individual oleh


pemerintah terhadap pembayaran pajak yang dilakukan oleh para wajib
pajak
 Berfungsi sebagai budgeter atau mengisi kas negara/anggaran negara
yang diperlukan untuk menutup pembiayaan penyelenggaraan
pemerintahan, pajak juga berfungsi sebagai alat untuk mengatur atau
melaksanakan kebijakan negara dalam lapangan ekonomi dan sosial.

Pengertian Sengketa Pajak


Takala menelusuri UU KUP tidak ada ketentuan yang mengatur pengertian sengketa
pajak. Sebaliknya, Pasal 25 ayat (1) UU KUP mengatur hak wajib pajak untuk
mengajukan keberatan kepada pejabat pajak. Dalam arti ini, keberatan dapat diajukan
bila ada sengketa pajak dan Pasal 25 ayat (1) UU KUP hanya menentukan secara
liminatif objek yang dapat diajukan sengketa pajak.
Pengertian sengketa pajak hanya diatur dalam Pasal 1 angka 5 UU DILJAK adalah
sebagai berikut “Sengketa pajak adalah sengketa yang timbul dalam bidang perpajakan
antara wajib pajak dan penanggung pajak dengan pejabat yang berwenang sebagai
akibat dikeluarkannya keputusan yang dapat diajukan banding atau gugatan kepada
pengadilan pajak berdasarkan undang-undang penagihan pajak dengan surat paksa”.
Berdasarkan pengertian sengketa pajak tersebut, ternyata sengketa pajak hanya tertuju
kepada banding dan gugatan hanya merupakan sengketa pajak dalam arti sempit,
dikarenakan masih ada sengketa pajak yang tidak termasuk didalamnya. Sedangkan
sengketa pajak dalam arti luas adalah sengketa yang diajukan keberatan, banding dan
gugatan peradilan pajak.
Timbulnya Sengketa Pajak
Timbulnya sengketa pajak ada pada dua hal yang sangat prinsipal yaitu pertama,
tidak melakukan perbuatan hukum sebagaimana yang diperintahkan oleh norma hukum
pajak. Kedua, melakukan perbatan hukum pajak. Selanjutnya disebutkan pihak-pihak
yang menimbulkan sengketa pajak yaitu pihak wajib pajak, pemotong, penanggung
pajak, pemungut pajak dan pejabat pajak. Mengapa wajib pajak dikatakan sumber
timbulnya sengketa pajak karena tidak melakukan perbuatan hukum sebagaimana
yang diperintahkan oleh norma hukum pajak, misalnya tidak menyampaikan suraat
pemberitahuan dalam jangka waktu yang ditentukan.

4
Sementara itu, dalam melakukan perbuatan hukum tersebut bertentangan
dengan norma hukum pajak, misalnya membayar pajak yang terutang tidak secara
lunas dan jangka waktu pelunasan telah berakhir. Pemotongan atau pemungut pajak
dikatakan sumber timbulnya sengketa pajak karena tidak melakukan perbuatan hukum
sebagaimana yang diperintahkan norma hukum pajak, misalnya tidak menyetor jumlah
pajak yang dipotong atau dipungut ke kas negara, sedangkan dalam melakukan
perbuatan hukum, tetapi bertentangan dengan norma hukum,
Misalnya salah menerapkan tarif pajak dalam rangka melakukan pemotongan
atau pemungutan pajak. Penanggung pajak dikatakan sebagai sumber timbulnya
sengketa pajak karena tidak melakukan perbuataan hukum sebagaimana yang
diperintahkan oleh norma hukum pajak, misalnya tidak memenuhi kewajiban
sebagaimana yang tercantum dalam surat pajak tersebut, sedangkan dalam melakukan
perbuatan hukum, tetapi bertentangan dengan norma hukum pajak, misalnya
mengalang-halangi justru sita pajak dalam melakukan penyitaan atas barang-barang
yang dikenakan penyitaan. Pejabat pajak dikatakan sebagai sumber timbulnya
sengketa pajak karena tidak melakukan perbuataan hukum sebagaimana yang
diperintahkan norma hukum pajak, misalnya tidak menerbitkan surat ketetapan pajak
kurang bayar untuk menagih jumlah pajak yang masih kurang dibayar, sedangkan
dalam melakukan perbuataan hukum tetapi bertengtangan dengan norma hukum pajak,
misalnya menerbitkan keputusan penagihan pajak secara seketika dan sekaligus
kepada wajib pajak yang tidak berhak menerimanya.
Berakhirnya Sengketa Pajak
Mengenai waktu berakhirnya sengketa pajak merupakan kajian hukum pajak
sebagai hukum positif. Dalam arti, hukum lainnya (selain hukum pajak) tidak boleh
melibatkan diri untuk mengkaji mengenai kapan berakhirnya sengketa pajak, walaupun
sebenernya sengketa pajak ada diatur oleh instrument hukum lain yang terdapat dalam
hukum pajak, tetapi berdasarkan hasil penelitian ternyata sengeketa pajak berakhir
karena penyelesaian di luar lingkungan peradilan maupun di dalam lembaga peradilan
pajak. Berakhirnya sengketa pajak selama dalam pemeriksaan melalui peradilan pajak
bukan merupakan pelanggaran hukum pajak bahkan menguntungkan dari aspek
penegakan hukum pajak karena tujuan penegakan hukum adalah meyelesaikan
sengketa pajak tanpa melakukan pelanggaran hukum pajak dan memberikan
perlindungan hukum wajib pajak.

5
Sistem keadilan didalamnya pajak mempunyai peranan penting dalam
kehidupan bernegara, tidak hanya berfungsi sebagai sumber pendapatan negara
namun juga memiliki fungsi distribusi pendapatan. Pajak penghasilan oran pribadi
merupakan salah satu instrumen untuk mengatasi ketimpangan distribusi pendapatan
antara masyarakat yang berpenghasilan tinggi dan yang berpenghasilan rendah.
Kemiskinan, baik relatif dan mutlak, menimbulkan beberapa kendala bagi peningkatan
kesejahteraan masyarakat suatu negara. Kesenjangan sosial di antara anggota
masyarakat yang paling miskin dapat menyebabkan ketidakstabilan politik dan ekonomi
bagi bangsa secara keseluruhan.

Sehingga kesulitan yang di alami oleh anggota masyarakat termiskin pada


akhirnya dirasakan oleh seleuruh masyarakat. Untuk mewujudkan fungsi distribusi
pendapatan, tarif pajak penghasilan pribadi di Indonesia mengenakan tarif pajak
progresif dimana masyarakat yang berpenghasilan tinggi akan dikenakan tarif pajak
yang lebih tinggi. Pengenaan tarif pajak progresif ini sekaligus merupakan wujud teori
daya pikul dimana pajak dibebankan kepada masyarakat sesuai dengan kemampuan
ekonominya. Tarif pajak penghasilan orang pribadi yang berlaku saat ini di Indonesia
adalah sebagai berikut :

 Penghasilan sampai dengan Rp 50 juta 5%


 Di atas Rp 50 juta s.d Rp 250 juta 15%
 Di atas Rp 250 juta s.d Rp 500 juta 25%
 Di atas Rp 500 juta 30%

Tarif pajak penghasilan orang pribadi meningkat seiring dengan meningkatnya


penghasilan. Prinsip yang mendasari pajak progresif adalah bahwa mereka yang
memiliki kemampuan lebih (kaya) harus menanggung beban yang lebih besar dari total
penerimaan pajak negara dari mereka yang kurang mampu. Jadi orang pribadi
berpenghasilan rendah tidak hanya membayar pajak lebih sedikit, mereka membayar
pajak lebih sedikit, tetapi mereka membayar presentase yang lebih kecil dari
pendapatan mereka dalam bentuk pajak.

6
Dari berbagai jenis pajak, pajak penghasilan progresif inilah yang paling sejalan
dengan tujuan meningkatkan kesetaraan pendapatan.

2.2 UNDANG-UNDANG SENGKETA PAJAK


Dasar hukum sengketa pajak adalah :
 Undang-undang No. 14 tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak
 Undang-undang No. 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan
 Undang-undang No. 16 tahun 2000, No. 28 tahun 2007, dan Peraturan
Pelaksanaan terkait
 Pasal 1 angka 5 UU PP : Sengketa Pajak adalah sengketa yang timbul dalam
bidang perpajakan antara wajib pajak atau penanggung pajak dengan pejabat
yang berwenang sebagai akibat dikeluarkannya keputusan yang dapat
diajukan Banding atau Gugatan kepada Pengadilan Pajak berdasarkan
peraturan perundang-undangan perpajakan, termasuk Gugatan atas
pelaksanaan penagihan berdasarkan Undang-undang Penagihan Pajak
dengan Surat Paksa
 Pasal 31 UU PP: Pengadilan Pajak mempunyai tugas dan wewenang
memeriksa dan memutus Sengketa pajak; Pengadilanpa Pajak dalam hal
Banding hanya memeriksa dan memutus sengketa atas keputusan keberatan,
kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundabg-undangan yang berlaku.
 Pasal 32 PP; Selain tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud dalam
pasal 31, Pengadilan Pajak menguasai kuasa hukum yang memberikan
bantuan hukum kepada pihak-pihak yang bersengketa dalam sidang-sidang
Pengadilan Pajak

2.3 SANKSI PIDANA DALAM HUKUM PAJAK


Menurut ketentuan dalam undang-undang Perpajakan, ada 3 macam sanksi
pidana yang dikenal yaitu :
7

 Denda pidana
 Pidana kurungan
 Pidana penjara

Denda Pidana

Berbeda dengan sanksi berupa administrasi yang hanya diancam/dikenakan


kepada wajib pajak yang melanggar ketentuan peraturan perpajakan, sanksi berupa
denda pidaba selain dikenakan kepada wajib pajak ada juga yang diancam kepada
pejabat pajak atau kepada pihak ketiga berdasarkan KUHP. Denda pidana dikenakan
terhadap tindak pinana yang bersifat kejahatan. Apabila denda pidana tidak dapat
dilunasi oleh yang bersangkutan maka sebagai gantinya, harus menjalani hukuman
kurungan.

Pidana Kurungan

Pidana kurungan hanya diamcam kepada tindak pidana yang bersifat pelanggaran.
Dapat ditujukan kepada Wajib Pajak, Pejabat, dan Pihak Ketiga. Pidana kurungan yang
diancam kepada si pelanggar, sifatnya lebih ringan dibandingkan dengann pidana
penjara, karena tindak pindana tersebut dilakukan tidak dengan sengaja atau karena
kealpaan.

Pidana Penjara

Pidana penjara prinsipnya sama halnya dengan pidana kurungan yang merupakan
hukuman perampasan badan seorang. Jenis pidana ini merupakan kejahatan.
Ancaman hukuman pidana penjara dapat ditujukan pada wajib pajak, pejabat pajak,
atau pihak ketiga.

Upaya Penanggulangan Tindak Pidana Perpajakan

Upaya dilakukan untuk menanggulangi tindak pidana secara optimal, pendekatan


yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan pendekatan sistem pertanggung
jawaban pidana sebagai salah satu kebijakan kriminalitas.
8

Kebijakan kriminalitas sebagai usaha-usaha yang rasional untuk mengendalikan


kejahatan problem sosial yang dinamakan kejahatan dapat dilakukan dengan berbagai
cara. Sudah barang tentu tidak hanya dengan menggunakan sarana penal (hukum
pidana) tetapi dapat juga dengan menggunakan sarana-sarana non penal.
Penanggulangan kejahatan dengan sarana hukum pidana berarti mengadakan
pemilihan untuk pencapaian hasil perundangan pidana yang paling baik dalam arti
memenuhi syarat keadilan dan daya guna.

Salah satu upaya menanggulangi kejahatan dengan menggunakan sarana hukum


termasuk hukum pidana merupakan bidang kebijakan penegakan hukum yang
bertujuan untuk pencapaian kesejahteraan masyarakat. Upaya penanggulangan
kejahatan pada hakekatnya merupakan bagian integral dari upaya perlindungan
masyarakat (social wifare).

Oleh karenanya dapat dikatakan bahwa tujuan utama dari politik kriminal ialah
perlindungan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Pendekatan
penanggulangan tindak pidana salam pembahasan ini terkait tindak pidana perpajakan
dengan menerapkan rezim anti money laundering (pencucian uang) didasarkan bahwa
pentingnya pajak bagi penyelenggaraan negara, dalam upaya mencegah berbagai
rekayasa meminimalisasi beban pajak. Penanggulangan tindak perpajakan dan akses
negatif pada penyelenggaraan negara dapat dibandingkan diberbagai negara dalam
kerangka penanggulangan tindak pidana perpajakan seperti Belanda, terdapat doktrin
fraus legis (distorsi hukum) dan richtige heffing (penetapan kemudian) sebagai dasar
untuk mengabaikan berbagai mekanisme rekayasa yang dimanfaatkan wajib pajak
untuk meminimalisir beban pajak dan selanjutnya secara sederhana menetapkan
jumlah pajak terutang dengan menganggap rekayasa transaksi itu tidak pernah ada.

Secara psikologis dan ekonomis, seseorang yang melakukan rekayasa penggelapan


pajak mengetahui secara pasti bahwa ia telah bertindak melawan hukum dengan
implikasi sosial dan psikologis, seperti adanya stigma merasa bersalah dan
mengundang risiko terbongkar dengan sanksi hukum pidana badan dan denda.
9

Sebaliknya, hal seperti ini tidak terdapat dalam praktik penghindaran pajak karena
tidak adanya tindakan melawan hukum yang dilakukan. Prinsip pertanggung jawaban
pelaku kejahatan didalam hukum pidana pada sistem hukum di Indonesia dilandasi
oleh adanya kesalahan (shuld) didalam perbuatan melawan hukum (wederechtelijk)
sebagi syarat untuk pengenaan pidana, sehingga untuk pertanggung jawaban suatu
perbuatan pidana didalam paham KUHP Pidana diperlukan beberapa syarat yaitu :

Adanya suatu tindak pidana yang dilakukan oleh kealpaan. Adanya pembuatan
yang mampu bertanggung jawab dan tidak ada alasan pemaaf. Kesalahan (schuld)
sangat kaitannya dengan suatu kejahatan yang dilakukan oleh subjek hukum manusia
alamiah yang mengandung arti bahwa dapat di pidananya seseorang tidaklah cukup
apabila orang itu telah melakukan perbuataan yang bertentangan dengan hukum atau
sifat melawan hukum. Meskipun perbuatannya memenuhi rumusan tindk pidana dalam
undang-undang dan tidak dapat dibenarkan, namun hal tersebut belum memenuhi
syarat untuk penjatuhan pidana karena memerlukan adanya syarat bahwa orang yang
melakukan perbuatan itu mempunyai kesalahan atau bersalah (subjectife guilt).

Hal ini tentunya mengambarkan bahwa perbuatan melawan hukum


berhubungan dengan kesalahan sebagai syarat penjatuhan pidana dalam rangka
meminta pertanggung jawaban pelaku sesuai dengan geen starf zonder schuld didalam
hukum pidana, untuk menentukan kesalahan sebagai dasar penjatuhan pidana
tentunya didasarkan kepada perbuatan yang di lakukan bertentangan dengan hukum
atau bersifat dengan hukum. Selanjutnya pendekatan menyangkut penanggulangan
tindak pidana tentunya didasarkan kepada perbuatan yang dilakukan bertentangan
dengan hukum atau bersifat melawan hukum.

Selanjutnya pendekatan menyangkut penanggulangan tindak pidana


perpajakan melalui rezim anti money laundering didasarkan modus opzet pelaku
dengan maksud untuk meminimalkan risiko terdeteksi biasanya para pelaku
penggelapan pajak berusaha menyembunyikan atau mengaburkan asal-usul hasil
kejahatan (proceeds of crime) dengan melakukan tindak kejahatan lanjutannya yaitu
praktik pencucian uang,
10

Agar dapat memaksimalkan utilitas ekspektasi pendapatan dari penggelapan


pajak tersebut. Untuk itu diperlukan prinsip-prinsip transaksi keuangan sebagaimana
diatur dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pencucian Uang.

Transaksi keuangan yang menjadi unsur pencucian uang adalah transaksi


keuangan yang dilakukan secara tunai yang belum dilaporkan dan mendapat
persetujuan dari Kepala PPATK. Definisi Transaksi Keuangan Mencurigakan adalah
(Pasal 1 angka 5 UU No.8 Tahun 2010) :

 Transaksi keuangan yang menyimpang dari profil, karateristik atau kebiasaan


pola transaksi dari pengguna jasa yang bersangkutan
 Transaksi keuangan oleh pengguna jasa yang patut diduga dilakukan dengan
tujuan untuk menghindari pelaporan transaksi yang bersangkutan yang wajib
dilakukan oleh pihak pelapor sesuai dengan ketentuang Undang-undang ini
 Transaksi keuangan yang dilakukan atau batal dilakukan dengan menggunakan
harta kekayaan yang diduga berasal dari hasil tindak pidana
 Transaksi keuangan yang diminta oleh PPATK untuk dilaporkan oleh pihak
pelapor karena melibatkan harta kekayaan yang diduga berasal dari hasil tindak
pidana.

11
BAB III

ANALISA KASUS

3.1 PT ASIAN AGRI GROUP

PT Asian Agri Group (AAG) adalah salah satu induk usaha terbesar
kedua di Grup Raja Garuda Mas, perusahaan milik Sukanto Tanoto. Menurut
majalah Forbes, pada tahun 2006 Tanoto adalah keluarga yang paling kaya di
Indonesia, dengan mencapai US$ 2,8 miliar (sekitar 25,5 triliun). Selain PT
AAG, terdapat perusahaan lain yang berada di bawah naungan Grup Raja
Garuda Mas, di antaranya: Asia Pacific Resources Internasional Holdings
Limited (APRIL), indorayon, dan Pacific Oil & Gas. Secara khusus, PT AAG
memiliki 200 ribu hektar lahan sawit, karet, kakao di Indonesia, Filipina,
Malayasia dan Thailand. Di asia, PT AAG merupakan salah satu penghasil
minyak sawit mentah terbesar, yaitu memiliki 19 pabrik yang menghasilkan 1
juta ton minyak sawit mentah selain tuga pabrik minyak goreng.

3.2 AWAL MULA KASUS

Terungkapnya dugaan penggelapan pajak oleh PT AAG, bermula dari


aksi Vincentius Amin Sutanto (Vincent) membobol brankas PT AAG di Bank
Fortis Singapura senilaiUS$ 3,1 juta pada tanggal 13 November 2006. Vincent
saat itu menjabat sebagai group finansial controller di PT AAG yang mengetahui
selu-beluk keuangannya. Perbuatan Vincent ini terendus oleh perusahaan dan
dilaporkan ke Polda Metro Jaya. Vincent diburu bahkan diancam akan dibunuh.
Vincent kabur ke Singapura sambil membawa sejumlah dokumen penting
perusahaan tersebut. Dalam pelariannya inilah terjadi jalinan komunikasi antara
Vincent dan wartawan Tempo.
12

Pelarian Vincent berakhir setelah pada tanggal 11 Desember 2006, ia


menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya. Namun sebelum itu, pada tanggal 1
Desember 2006 Vincent sengaja datang ke KPK untuk membeberkan
permasalahan keuangan PT AAG yang dilengkapi dengan sejumlah dokumen
keuangan dan data digital. Salah satu dokumen tersebut adalah dokumen yang
berjudul “AAA Cross Border Tax Planning (Under Pricing of Export Sales)”,
disusun pada sekitar 2002. Dokumen ini memuat semua persiapan transfer
pricing PT AAG secara terperinci.
Modusnya dilakukan dengan cara menjual produk minyak sawiit mentah
(Crude Palm Oil) keluaran PT AAG ke perusahaan afiliasi di luar negeri dengan
harga pasar untuk kemudian dijual kembali ke pembeli riil dengan harga tinggi.
Dengan begitu, beban pajak didalam negeri bisa ditekan. Selain itu, rupanya
perusahaan-perusahaan luar negeri yang menjadi rekanan PT AAG sebagian
adalah perusahaan fiktif.
Pembeberan Vincent ini kemudian ditindaklanjuti oleh KPK dengan
menyerahkan permasalahan tersebut ke Direktorat Jenderal Pajak, Darmin
Nasution. Kemudian membentuk tim khusus yang terdiri atas pemeriksa,
penyidik dan intelijen. Tim ini bekerja sama dengan Pusat Pelaporan dan
Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dan Kejaksaan Agung. Tim khusus
tersebut melakukan serangkaian penyelidikan termasuk penggeledahan
terhadap kantor PT AAG, baik yang di Jakarta maupun di Medan.
Berdasarkan hasil penyelidikan tersebut (14 perusahaan diperiksa),
ditemukan terjadinya penggelapan pajak yang berupa penggelapan pajak
penghasilan (PPh) dan pajak pertambahan nilai (PPN). Selain itu juga bahwa
dalam tahun pajak 2002-2005, terdapat Rp 2,62 triliun penyimpangan
pencatatan transaksi. Yang berupa menggelembungkan biaya perusahaan
hingga Rp 1,5 trilun mendongkrak kerugian transaksi ekspor Rp 232
miliar,mengecilkan hasil penjualan Rp 889 miliar.
13

Lewat modus ini, PT AAG diduga telah menggelapkan pajak


penghasilan untuk badan usaha senilai total Rp 2,6 triliun. Perhitungan SPT PT
AAG yang digelapkan berasal dari SEPERTI periode 2002-2005. Hitungan
terakhir menyebutkan penggelapan pajak itu diduga berpotensi merugikan
keuangan negara hingga Rp 1,3 triliun.
Dari rangkaian investigasi dan penyelidikan, pada bulan Desember 2007
telah ditetapkan 8 orang tersangka yang masing-masing berinisial SR, WT, LA,
TBK, AN, EL, LBH dan SL. kedelapan orang tersangka tersebut merupakan
pengurus, direktur dan penanggung jawab perusahaan. Disamping itu, pihak
Departemen Hukum dan HAM juga telah mencekal 8 orang tersangka tersebut.

Kajian Hukum Sebuah Kasus

Dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, ternyata


dikeahui bahwa Majelis Hakim Pengadilan menolak eksepsi dari Manajer PT
AAG yang diwakili oleh Pengacaranya. Eksepsi yang disampaikan Pengacara
PT AAG pada dasarnya menegaskan bahwa penyelesaian kasus dugaan
penyelewengan pajak merupakan kewenangan Pengadilan Pajak karena
merupakan persoalan atau sengketa pajak yang sudah diatur dalam undang-
undang pajak.

Sengketa pajak yang muncul sebagai akibat dikeluarkannya keputusan


yang tidak memuaskan wajib pajak harus diupayakan penyelesaiannya secara
baik, sederhana, murah dan cepat. Artinya, ada jalan penyelesaian secara
kekeluargaan dengan musyawarah antara kedua belah pihak yang bersengketa
dan tetap memperhatikan peraturan perpajakan.

Namun, Majelis Hakim menolak eksepsi Pengacara PT AAG dan


berpendapat bahwa kasus PT AAG bukan merupakan sengketa pajak karena
tidak adanya surat ketetapan pajak yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal
Pajak. Kalau sengketa pajak akan ada upaya hukum untuk menyelesaikannya,
yaitu melalui upaya hukum keberatan. Oleh karenanya, kasus PT AAG bisa
diadili oleh Pengadilan Negeri.
14

Penolakan eksepsi inilah yang perlu mendapat kajian apakah benar


argumentasi hukum yang dibangun Majelis Hakim hingga kasus dugaan
penggelapan pajak bisa dipidana karena tidak adanya surat ketetapan pajak
yang diterbitkan Direktorat Jenderal Pajak sebagai dasar adanya sengketa
pajak. Kalau permasalahan pajak dibawa dalam ranah hukum pidana, tentu
menjadi kontradiktif terkait proses administrasi pajak yang tujuan utamanya
mengumpulkan uang pajak. Pilihan memidanakan wajib pajak atau
memprioritaskan penerimaan tentu menjadi politik kepentingan pemerintah.

Untuk itu, kajian komperehemsif pemidanaan atas pajak, patut menjadi


perhatian serius agar tidak terjai keresahan terus menerus dikalangan dunia
usaha dan pegawai pajak. Seperti diuraikan diatas, dalam banyak literatur
disebutkan bahwa hukum publik, termasuk hukum administrasi/tata usaha
negara. Jalur hukum administrasi (hukum pajak) mempunyai cara
penyelesaiannya sendiri sesuai dengan aturan yang sudah ditegaskan dalam
undang-undangpajak yang mengaturnya. Jika seperti itu, menyelesaikan
persoalan adminitrasi pajak dengan cara pidana menjadi kontradiktif ketika
negara membutuhkan dana pajak sebagai sumber pembiayaan pembangunan
yang tiap tahun jumlahnya terus naik (meningkat). Persoalan memidana wajib
pajak jelas membawa keresahan tersendiri bagi pelaku dunia usaha. Artinya,
pelaku usaha menjadi takut dipidana ketika persoalan perhitungan pajak yang
cukup rumit akan dipersoalkan menjadi persoalan berindikasikan tindak pidana.

Pendapat pakar hukum dalam kasus PT AAG diatas, menarik untuk


dikaji dam dipahami dengan baik oleh semua aparat penegak hukum terutama
aparat Kepolisian, Kejaksaan, maupun Hakim. Kesamaan visi memandang
pajak tidak boleh dipidana karena merupakan bagian dari hukum administrasi,
harus menjadi perhatian bersama. Hukum pajak sebagai bagian hukum tata
usaha negara memang bersumber pada peristiwa perdata, yang apabila
dilanggae dapat diancam dengan pelanggaran pidana.
15

Dalam hukum pajak memuat unsur-unsur :

 Hukum tata negara dan hukum tata usaha negara


 Hukum perdata
 Hukum pidana. Menyamakan persepsi demikian memang tidak mudah.
Diperlukan satu koordinasi yang kuat. Presiden selaku pimpinan
eksekutif sebaiknya memimpin proses koordinasi demikian.

3.3 PENYELESAIAN KASUS PT ASIAN AGRI GROUP

PT Asian Agri Group (AAG) telah diduga melakukan penggelapan pajak


(tax evasion) selama beberapa tahun terakhir sehingga menimbulkan kerugian
negara senilai trilyunan rupiah. Belum lagi kelar penyidikan, berkembang
wacana mengenai penyelesaian kasus itu di luar pengadilan (out of court
settlement). Hal ini sangat menggelisahkan kalangan yang menginginkan
tegaknya hukum dan terwujudnya keadilan, tanpa pandang bulu. Sangat ironis
jika para penjahat kelas teri ditangkapi, ditembaki, disidangkan, dan dimasukkan
bui, sementara itu penjahat kerah putih (white collar criminal) yang
mengakibatkan kerugian besar pada negara justru dibiarkan melenggang
karena kekuatan kapital nya.
Meski peraturan perundangan mengancam pelaku tindak pidana
perpajakan dengan sanksi pidana penjara dan denda yang cukup berat,
nyatanya masih ada celah hukum untuk meloloskan para penggelap pajak dari
ketok palu hakim di pengadilan. Pasal 44B UU No.28/2007 membuka peluang
out of court settlement bagi tindak pidana di bidang perpajakan. Ketentuan itu
mengatur bahwa atas permintaan Menteri Keuangan, Jaksa Agung dapat
menghentikan penyidikan. Dengan demikian, kasus berakhir (case closed) jika
wajib pajak yang telah melunasi beban pajak beserta sanksi administratif
berupa denda.
16

Ketentuan hukum nyatanya begitu lunak dalam mengatur tindak pidana


perpajakan. Peluang out of court settlement dimungkinkan bagi segala jenis
tindak pidana perpajakan. Peluang itu tidak hanya berlaku untuk “Perlawanan
Pasif terhadap Pajak”, yaitu perlawanan yang tidak dilakukan secara sadar atau
disertai niat dari warga masyarakat untuk merintangi aparat pajak dalam
melakukan tugasnya. Penghentian penyidikan dan penyelesaian diluar sidang
juga berlaku untuk “Perlawanan Aktif terhadap Pajak” yang perbuatannya
dilakukan lewat cara-cara ilegal dan langsung ditujukan pada fiskus/pemerintah.
Jadi, penyelesaian kasus tindak pidana perpajakan oleh PT Asian Agri
Group meski masuk kategori “Perlawanan Aktif terhadap Pajak” sekalipun tetap
dapat diselesaikan diluar sidang pengadilan. Dengan demikian, harapan kita
bergantung pada Menteri Keuangan dan Jaksa Agung sebagai pihak yang
paling menentukan dalam proses penyelesaian tindak pidana perpajakan ini.
PT Asian Agri Group akhirnya benar-benar melayangkan surat
keberatan kepada Direktorat Jenderal Pajak (DJP) terkait Surat Ketetapan
Pajak (SKP) kepada 14 anak perusahaannya. Perusahaan perkebunan sawit
milik taipan Sukanto Tanoto ini melayangkan surat keberatan setelah membayar
senilai Rp 969,675 miliar atau 49% dari total pajak terutang yakni mencapai Rp
1,95 triliun. Sedari awal PT Asian Agri Group memang berniat banding atas
penetapan SKP yang ditetapkan DJP. Namun mereka harus terlebih dahulu
membayar setengah dari total utang pajak. PT Asian Agri Group melayangkan
keberatan karena menganggap SKP yang mencapai Rp 1,95 triliun tidak sesuai,
sebab melebihi total keuntungan perusahaannya yang pada 2002-2005 hanya
Rp 1,24 triliun. Total utang pajak plus denda PT Asian Agri Group sendiri
mencapai Rp 1,959 triliun.
General Manajer Grup PT Asian Agri , Freddy Widjaya mengatakan,
surat keberatan SKP telah disampaikan ke Kantor Pelayanan Pajak tempat
wajib pajak terdaftar. “Sesuai dengan jangka waktu tiga bulan sejak tanggal
penerbitan SKP”. Ujarnya kepada KONTAN di Jakarta, Rabu (4/9)

17

Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas DJP, Kismantoro Petrus


mengakui telah menerima surat keberatan PT Asian Agri Group pada Agustus
2013. DJP wajib memberikan keputusan atas keberatan itu paling lambat 12
bulan.
Meski keberatan, PT Asian Agri Group harus membayar sisa utang
pajak seperti dalam SKP. Jika PT Asian Agri Group tidak melunasi seluruh
tagihan SKP setelah jatuh tempo, DJP dapat melakukan penagihan aktif berupa
teguran, penerbitan surat paksa, penyitaan dan blokir rekening hingga
pelelangan aset.
18

BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Berdasarkan hasil kasus analisis di atas apabila sudah terjadi suatu kasus
sengketa pajak antara wajib pajak dengan fiskus, maka otomatis wajib pajak
mempunyai Hak dan kewajiban daN menangani sengketa pajak tersebut. Hak
dari wajib pajak sendiri ialah dapat mengajukan keberatan kepada surat
keputusan pajak yang di buat oleh DJP sesuai pasal 25 UU no 28 tahun 2007,
serta dapat mengajukan banding ke peradilan pajak apabila tidak puas dengan
surat ketetapan pajak yang di jatuhkan oleh fiskus sesuai pasal 27 UU No. 28
tahun 2007.
Namun yang menjadi kewajiban wajib pajak sebelum mengajukan keberatan
maupun banding ialah wajib pajak terlebih dahulu harus melunasi pajak yang
disetujui dalam keputusan keberatan maupun banding tersebut. Dalam kasus
sengketa pajak Asian Agri, dijelaskan bahwa Asian Agri melakukan penggelapan
pajak yang mengarah kepada kerugian negara. Maka dari itu peradilan pajak
dituntut untuk bijaksana dalam menyelidiki dan menyelesaikan permasalahan
kasus tersebut sesuai dengan ketentuan undang undang yang berlaku.

4.1 SARAN

PT Asian Agri Group (AAG) telah diduga melakukan penggelapan pajak (tax
evasion) selama beberapa tahun terakhir sehingga menimbulkan kerugian negara
senilai trilyunan rupiah. Dengan demikian, kasus berakhir (case closed) jika wajib
pajak yang telah melunasi beban pajak beserta sanksi administratif berupa
denda. Jadi, penyelesaian kasus tindak pidana perpajakan oleh PT Asian Agri
Group meski masuk kategori “Perlawanan Aktif terhadap Pajak” sekalipun tetap
dapat diselesaikan diluar sidang pengadilan. Dengan demikian, harapan kita
bergantung pada Menteri Keuangan dan Jaksa Agung sebagai pihak yang paling
menentukan dalam proses penyelesaian tindak pidana perpajakan ini.

19
DAFTAR PUSTAKA

http://tulusramdhani.blogspot.com/2016/09/contoh-kasus-pajak-dan-
penyelesainnya.html?m=1 (diunduh pada 9 Desember 2018)

20
FOOTNOTE

1Tulus ramdhani, “kasus pajak dan penyelesaiannya: sengketa pajak PT Asian Agri
Grup”, di akses dari hhtp://tulusramdhani.blogspot.com/2016/09/contoh-kasus-pajak-
dan-penyelesaianya.html?m=1, pada tanggal 9 desember 2018 pukul 19.58

21

Anda mungkin juga menyukai